BAB II
LANDASAN TEORI
2.1 Tinjauan Pustaka
Setelah penulis mempelajari referensi yang ada, terdapat keterkaitan
antara sumber referensi dengan perancangan alat yang penulis lakukan.
Tugas Akhir Rancang Bangun Pengasutan Star Delta Pada Motor Induksi
Tiga Fasa Berbasis Sensor Kecepatan Menggunakan Mikrokontroler
Atmega 16 ini membahas tentang pendeteksian lonjakan arus starting motor
induksi tiga fasa dan cara menurunkan lonjakan arus yang tadinya tujuh kali
arus nominal menjadi hanya tiga sampai empat kali dari arus nominalnya
dan juga merubah konfigurasi dari star menjadi delta berdasarkan kecepatan
putar motor induksi itu sendiri. Pengukuran arus dan tegangan pada alat ini
dilakukan dengan menggunakan metering yang terpasang secara lokal dan
analog pada alat tersebut. Selain itu karya tugas akhir sebelumnya ini
menggunakan AT Mega 16 sebagai pusat kendali dari input berupa sensor
optocoupler. Optocoupler digunakan untuk mendeteksi putaran kecepatan
motor induksi tiga fasa untuk merubah konfigurasi dan ditampilkan pada
LCD.[6]
Perbedaan tugas akhir yang akan dikerjakan penulis dengan
referensi diatas adalah penulis akan menggunakan Arduino Mega 2560
10
11
sebagai pusat kendali dari modul starting star delta. Selain itu tugas akhir
yang penulis buat menggunakan rangkaian interlock relay sebagai pusat
control selain Arduino untuk menjalankan motor secara dol star, dol
delta, ataupun star delta secara manual apabila Arduino yang dipakai
mengalami sedikit masalah. Alat yang penulis buat juga akan dilengkapi
dengan Current Transformer sebagai sensor arus serta rangkaian
pembagi tegangan sebagai sensor tegangan penggunaan sensor tersebut
diperuntukan agar besarnya arus serta tegangan dapat di monitor secara
jarak jauh dan real time.
2.2 Dasar Teori
2.2.1 Arduino Mega 2560
Gambar 2.1 Arduino Mega 2560[1]
Arduino Mega 2560 adalah papan pengembangan mikrokontroller
yang berbasis Arduino dengan menggunakan chip ATmega2560. Board ini
12
memiliki pin I/O yang cukup banyak, sejumlah 54 buah digital I/O pin (15
pin diantaranya adalah PWM), 16 pin analog input, 4 pin UART (serial port
hardware). Arduino Mega 2560 dilengkapi dengan sebuah oscillator 16
Mhz, sebuah port USB, power jack DC, ICSP header, dan tombol reset.
Board ini sudah sangat lengkap, sudah memiliki segala sesuatu yang
dibuthkan untuk sebuah mikrokontroller. Dengan penggunaan yang cukup
sederhana, kita hanya tinggal menghubungkan power dari USB ke PC anda
atau melalui adaptor AC/DC ke jack DC.[1]
Tabel 2.1 Spesifikasi Arduino Mega 2560
Chip mikrokontroller ATmega2560
Tegangan operasi 5V
Tegangan input (yang
7V - 12V
direkomendasikan, via jack DC)
Tegangan input (limit, via jack
6V - 20V
DC)
Digital I/O pin 54 buah, 6 PWM
Analog Input pin 16 buah
Arus DC per pin I/O 20 mA
Arus DC pin 3.3V 50 mA
256 KB, 8 KB telah digunakan
Memori Flash
untuk bootloader
SRAM 8 KB
EEPROM 4 KB
13
Clock speed 16 Mhz
Dimensi 101.5 mm x 53.4 mm
Berat 37 g
Arduino Mega dapat diaktifkan melalui koneksi USB atau dengan catu
daya eksternal. Sumber daya dipilih secara otomatis. Sumber daya eksternal
(non-USB) dapat berasal dari adaptor AC-DC atau baterai. Papan Arduino
Atmega 2560 dapat beroperasi dengan daya eksternal 6 V sampai 20 V. Jika
tegangan kurang dari 7 V, maka pin 5 V mungkin akan menghasilkan
tegangan kurang dari 5 V dan ini akan membuat papan menjadi tidak stabil.
Jika sumber tegangan menggunakan lebih dari 12 V, regulator tegangan
akan mengalami panas berlebihan dan bisa merusak papan. Rentang sumber
tegangan yang dianjurkan adalah 7 V sampai 12 V.[1] Pin tegangan yang
tersedia pada papan Arduino adalah sebagai berikut:
1) VIN
Input tegangan untuk papan Arduino ketika menggunakan sumber daya
eksternal.
2) 5 Volt
Sebuah pin yang mengeluarkan tegangan ter-regulator 5 V, dari pin ini
tegangan sudah diatur (ter-regulator) dari regulator yang tersedia.
14
3) GND
Pin Ground.
4) 3 V3
Sebuah pin yang menghasilkan tegangan 3,3 V. Tegangan ini
dihasilkan oleh regulator yang terdapat pada papan (on-board). Arus
maksimum yang dihasilkan adalah 50 mA.
5) IOREF
Pin ini berfungsi untuk memberikan referensi tegangan yang beroperasi
pada mikrokontroler. Sebuah perisai (shield) dikonfigurasi dengan
benar untuk dapat membaca pin tegangan IOREF dan memilih sumber
daya yang tepat atau mengaktifkan penerjemah tegangan (Vage
translator) pada output untuk bekerja pada tegangan 5 V atau 3,3 V.
A. Memori
Arduino ATmega2560 memiliki 256 KB flash memory untuk
menyimpan kode (yang 8 KB digunakan untuk bootloader), 8 KB SRAM
dan 4 KB EEPROM (yang dapat dibaca dan ditulis dengan perpustakaan
EEPROM).
B. Input dan Output
Arduino Mega 2560 memiliki 54 digital pin pada Arduino Mega dapat
digunakan sebagai input atau output, menggunakan fungsi pinMode(),
digitalWrite(), dan digitalRead(). Beberapa pin memiliki fungsi khusus,
antara lain:
15
1) Serial
Terdiri atas pin 0 (RX) dan 1 (TX), pin Serial 19 (RX) dan 18 (TX), pin
Serial17 (RX) dan 16 (TX), pin Serial15 (RX) dan 14 (TX). Digunakan
untuk menerima (RX) dan mengirimkan (TX) data serial TTL. Pins 0
dan 1 juga terhubung ke pin chip ATmega16U2 Serial USB-to-TTL.
2) Eksternal interupsi
Berupa pin 2 (interrupt 0), pin 3 (interrupt 1), pin 18 (interrupt 5), pin
19 (interrupt 4), pin 20 (interrupt 3), dan pin 21 (interrupt 2). Pin ini
dapat dikonfigurasi untuk memicu sebuah interupsi pada nilai yang
rendah, meningkat atau menurun, atau perubah nilai.
3) SPI
Terdiri dari pin 50 (MISO), pin 51 (MOSI), pin 52 (SCK), pin 53 (SS).
Pin ini mendukung komunikasi SPI menggunakan perpustakaan SPI.
Pin SPI juga terhubung dengan header ICSP, yang secara fisik
kompatibel dengan Arduino Uno, Arduino Duemilanove dan Arduino
Diecimila.
4) LED
Berupa pin 13. Tersedia secara built-in pada papan Arduino
ATmega2560. LED terhubung ke pin digital 13. Ketika pin diset
bernilai HIGH, maka LED menyala (ON), dan ketika pin diset bernilai
LOW, maka LED padam (OFF).
16
5) TWI
Terdiri atas pin 20 (SDA) dan pin 21 (SCL). Yang mendukung
komunikasi TWI menggunakan perpustakaan Wire. Perhatikan bahwa
pin ini tidak di lokasi yang sama dengan pin TWI pada Arduino
Duemilanove atau Arduino Diecimila.
Arduino Mega2560 memiliki 16 pin sebagai analog input, yang
masing-masing menyediakan resolusi 10 bit (yaitu 1024 nilai yang
berbeda). Secara default pin ini dapat diukur/diatur dari mulai Ground
sampai dengan 5 V, juga memungkinkan untuk mengubah titik jangkauan
tertinggi atau terendah mereka menggunakan pin AREF dan fungsi
analogReference.
Ada beberapa pin lainnya yang tersedia, antara lain:
1) AREF
Merupakan referensi tegangan untuk input analog. Digunakan dengan
fungsi analogReference().
2) RESET
Merupakan jalur LOW ini digunakan untuk me-reset (menghidupkan
ulang) mikrokontroler. Jalur ini biasanya digunakan untuk
menambahkan tombol reset pada shield yang menghalangi papan
utama Arduino.
17
C. Komunikasi
Arduino Mega 2560 memiliki sejumlah fasilitas untuk berkomunikasi
dengan komputer, Arduino lain, bahkan mikrokontroler lain. ATmega 2560
menyediakan empat UART hardware untuk TTL (5V) komunikasi serial.
Sebuah chip ATmega16U2 yang terdapat pada papan digunakan sebagai
media komunikasi serial melalui USB dan muncul sebagai COM Port
Virtual (pada Device komputer) untuk berkomunikasi dengan perangkat
lunak pada komputer. Perangkat lunak Arduino termasuk di dalamnya serial
monitor memungkinkan data tekstual sederhana dikirim ke dan dari papan
Arduino. LED RX dan TX (pada pin 13) akan berkedip ketika data sedang
dikirim atau diterima melalui chip USB-to-serial yang terhubung melalui
USB komputer (tetapi tidak berlaku untuk komunikasi serial seperti pada
pin 0 dan 1).
2.2.2 Relay
Relay adalah Saklar (Switch) yang dioperasikan secara listrik dan
merupakan komponen Electromechanical (Elektromekanikal) yang terdiri
dari 2 bagian utama yakni Elektromagnet (Coil) dan Mekanikal
(seperangkat Kontak Saklar/Switch). Relay menggunakan Prinsip
Elektromagnetik untuk menggerakkan Kontak Saklar sehingga dengan arus
listrik yang kecil (low power) dapat menghantarkan listrik yang bertegangan
lebih tinggi. Sebagai contoh, dengan Relay yang menggunakan
18
Elektromagnet 5V dan 50 mA mampu menggerakan Armature Relay (yang
berfungsi sebagai saklarnya) untuk menghantarkan listrik 220V 2A. [6]
Gambar 2.2 Relay 12VDC 250VAC dan bagian-bagiannya [6]
2.2.3 Transformator
Transformator adalah suatu alat listrik yang dapat memindahkan dan
mengubah energi listrik dari satu atau lebih rangkaian listrik ke rangkaian
listrik yang lain, melalui suatu gandengan magnet dan berdasarkan prinsip
induksi-elektromagnet. Transformator digunakan secara luas, baik dalam
bidang tenaga listrik maupun elektronika. Penggunaan transformator dalam
sistem tenaga memungkinkan terpilihnya tegangan yang sesuai, dan
ekonomis untuk tiap-tiap keperluan misalnya kebutuhan akan tegangan
tinggi dalam pengiriman daya listrik jarak jauh. Dalam bidang elektronika,
transformator digunakan antara lain sebagai gandengan impedansi antara
sumber dan beban, untuk memisahkan satu rangkain dari rangkaian yang
lain, dan untuk menghambat arus searah atau mengalirkan arus bolak-
balik.[1] Adapun rumus untuk menghitung tegangan dan arus pada masing-
masing sisi primer dan sekunder yaitu :
19
E1 = 4,44.N1.f1....................................................................Persamaan (2-1)
E2 = 4,44.N2.f2. ..................................................................Persamaan (2-2)
Sehingga
𝐸1 𝑁1
= 𝑁2 ...............................................................................Persamaan (2-3)
𝐸2
Dengan mengabaikan rugi tahanan dan adanya fluks bocor, maka
perbandingan transformasi menjadi:
𝐸1 𝑉1 𝑁1
𝑎 = 𝐸2 = 𝑉2 = 𝑁2 .............................................................Persamaan (2-4)
Karena rugi rugi daripada lilitan ini diabaikan maka dapat dikatakan bahwa
transformator ini dalam kondisi ideal sehingga berlaku persamaan:
P1 = P2 .................................................................................Persamaan (2-5)
V1.I1 = P2.I2 …...................................................................Persamaan (2-6)
𝑉1 𝑉2
.....................................................................Persamaan (2-7)
=
𝐼2 𝐼1
Ketika kumparan sekunder dihubungkan dengan beban L, maka pada
belitan sekunder akan mengalir arus I2 sebesar I2 = V2/L. Pada transfomator
keadaan berbeban berlaku hubungan:
𝐼2 𝑁1
= 𝑁2 ................................................................................Persamaan (2-8)
𝐼1
20
Trafo catu daya dibedakan menjadi dua, yaitu trafo engkel dan trafo
center tab (CT). Pada pembuatan realisasi ini yang digunakan adalah Trafo
CT. Trafo CT Adalah trafo yang mempunyai besar keluaran yang bejumlah
dua atau bepasangan (6 dgn 6) selain itu trafo ini punya ujung CT. CT ini
digunakan sebagai arus negatif. Selain itu trafo CT keluarannya dapat di
pararel (keluarannya dapat digabungkan tapi syaratnya harus pasangannya
yaitu 6 dengan 6 atau 12 dengan 12). Inti besi pada trafo sengaja dibuat
berkeping-keping, karena dengan bentuk kepingan terdapat rongga udara,
ini juga digunakan sebagai pendingin trafo serta untuk mengurangi arus
pusar yang menyebabkan rugi-rugi daya.[6]
Gambar 2.3 Konstruksi transformator [6]
Dimana :
V1 = Tegangan primer (Volt)
N1 = Jumlah belitan primer
V2 = Tegangan sekunder (Volt)
N2 = Jumlah belitan sekunder
21
E1 = Gaya gerak listrik pada belitan primer (Volt)
E2 = Gaya gerak listrik pada belitan sekunder (Volt)
I0 = Arus beban nol
= fluks magnetik pada inti (Weber)
2.2.4 IC LM 7812 Voltage Regulator
Regulator tegangan diperlukan untuk menyetabilkan tegangan hasil
dari penyearahan. Voltage regulator merupakan suatu komponen yang
mengambil tegangan input tak teregulasi yang bisa berflukturasi dari waktu
ke waktu, dan menghasilkan tegangan konstan yang teregulasi yaitu
tegangan stabil yang tidak terpengaruh oleh perubahan input, perubahan
beban , dan perubahan arus. Regulator tegangan dengan keluaran bervariasi
berarti tegangan yang dihasilkan dapat diatur dengan range tertentu.
Gambar 2.4 Rangkaian IC Voltage Regulator [1]
22
Komponen elektronika yang digunakan sebagai regulator tegangan
adalah dioda zener. Ciri khas dioda zener yakni bila dibias forward, maka
dioda zener akan bertindak sebagai dioda pada umumnya, sedangkan bila
dibias reverse dioda zener akan mengalirkan arus dari katoda ke anoda
dengan syarat diberi catu tegangan yang lebih besar dari tegangan
spesifikasi dioda tersebut.
Oleh karena itu, meski mendapatkan catu secara reverse, apabila
tegangan catu kurang dari tegangan tembus maka arus dari katoda tidak
akan mengalir menuju anoda. Dioda zener akan memberikan tegangan
output yang relatif tetap sesuai dengan spesifikasi tegangan zener tersebut.
Misalnya dioda zener memiliki spesifikasi tegangan 5 Volt, maka ketika
dilewati sebuah tegangan 6,5 Volt, tegangan output dioda akan tetap pada
batas 5 Volt. Namun ketika tegangan yang melewati dioda zener sudah
melewati batas toleransi yang dijinkan, maka dioda zener sudah tidak
mampu lagi menahan tegangan spesifikasi 5 Volt tersebut. Akibatnya,
kondisi dioda zener akan mengalami kerusakan.[1]
Batasan nilai tegangan masukan IC regulator yang terdapat dalam
tabel adalah nilai DC, bukan tegangan sekunder dari trafo. Berdasarkan
tabel 2-1 diatas, diambil kesimpulan bahwa nilai tegangan output akan tetap
konstan meskipun tegangan input bervariasi, namun dalam range tertentu.
23
Tabel 2.1 Tegangan Input IC L7805 dan IC L7812
Tipe Vin min Vin maks Vout
Regulator
7805 8V 20 V 5V
7808 11,5 V 23 V 8V
7812 15,5 V 27 V 12 V
7824 28 V 38 V 24 V
2.2.5 Driver Relay
Driver relay adalah rangkaian elektronika yang biasanya digunakan
untuk mengendalikan serta pengoperasian sesuatu dari jarak jauh atau
semacam remote. Tentunya rangkaian ini bisa mempermudah dan juga
memperlancar pekerjaan yang memang kadang membutuhkan rangkaian
dari relay ini. Dengan menggunakan rangkaian relay tersebut, anda bisa
melakukan kontrol dan juga mengoperasikan perangkat elektronik yang
anda miliki dari jarak jauh dan tentu saja anda tidak perlu bergeser serta
berpindah tempat duduk.[1]
Komponen inti dari driver relay adalah transistor. Cara yang
termudah untuk menggunakan sebuah transistor adalah sebagai sebuah
switch artinya bahwa kita mengoperasikan transistor pada salah satu dari
saturasi atau titik sumbat, tetapi tidak di tempat-tempat sepanjang garis
beban. Jika sebuah transistor berada dalam keadaan saturasi, transistor
24
tersebut seperti sebuah switch yang tertutup dari kolektor emiter. Jika
transistor tersumbat (cutoff), transistor seperti sebuah switch yang
terbuka.[6]
Gambar 2.5 Rangkaian Driver Relay [6]
Gambar 2.29 merupakan gambar rangkaian driver relay dimana
rangkaian tersebut merupakan rangkaian switching transistor yang
digerakkan oleh tegangan step yang berasal dari power supply. Jika
tegangan input (dari mikrokontroller) nol, transistor tersumbat (cutoff).
Dalam hal ini, transistor kelihatannya seperti sebuah switch yang terbuka.
2.2.6 Power Supply
Peralatan kecil portabel kebanyakan menggunakan baterai sebagai
sumber dayanya,namun sebagian besar peralatan menggunakan sember
daya AC 220 volt - 50Hz. Didalam peralatan tersebut terdapat rangkaian
yang sering disebut sebagai adaptor atau penyearah yang mengubah sumber
AC menjadi DC. Di Bagian terpenting dari adaptor adalah berfungsinya
25
diode sebagai penyearah (rectifier). Pada bagian ini dipelajari bagaimana
rangkaia dasar adaptor tersebut bekerja.[9]
Penyearah gelombang (rectifier) adalah bagian dari power supply /
catu daya yang berfungsi untuk mengubah sinyal tegangan AC (Alternating
Current) menjadi tegangan DC (Direct Current). Komponen utama dalam
penyearah gelombang adalah dioda yang dikonfiguarsikan secara forward
bias. Dalam sebuah power supply tegangan rendah, sebelum tegangan AC
tersebut di ubah menjadi tegangan DC maka tegangan AC tersebut perlu di
turunkan menggunakan transformator stepdown. Ada 3 bagian utama dalam
penyearah gelombang pada suatu power supply yaitu, penyearah gelombang
/ rectifier (dioda), penurun tegangan (transformer), dan filter (kapasitor).[9]
Pada dasarnya konsep penyearah gelombang dibagi dalam 2 jenis
yaitu, Penyearah setengah gelombang dan penyearah gelombang penuh.
Namun selain dua konsep penyearah tersebut, terdapat pula rangkaian
penyearah dengan filter untuk menyaring arus yang masuk pada
rangkaian.[9]
[Link] Power Supply setengah gelombang
Penyearah setengah gelombang (half wave rectifier) adalah sistem
penyearah yang menggunakan satu blok dioda tunggal (bisa satu dioda atau
banyak dioda yang diparalel) untuk mengubah tegangan dengan arus bolak-
balik (AC) menjadi tegangan dengan arus searah (DC). sinyal. Prinsip kerja
penyearah setengah gelombang memanfaatkan karakteristik dioda yang
26
hanya bisa dilalui arus satu arah saja. Disebut penyearah setengah
gelombang karena penyearah ini hanya melewatkan siklus positif dari sinyal
AC.[10]
Rangkaian penyearah setengah gelombang banyak dipakai pada
power supply dengan frekuensi tinggi seperti pada power supply SMPS dan
keluaran transformator Flyback Televisi. Sistem penyearah setengah
gelombang kurang baik diaplikasikan pada frekuensi rendah seperti jala-jala
listrik rumah tangga dengan frekuensi 50Hz karena membuang satu siklus
sinyal AC dan mempunyai riak (rippe) yang besar pada keluaran tegangan
DC-nya sehingga membutuhkan kapasitor yang besar. Berikut gambar
rangkaian penyearah setengah gelombang:
Gambar 2.6 Power Supply setengah gelombang[10]
Penyearah setengah gelombang (half wave rectifer) hanya
menggunakan 1 buah dioda sebagai komponen utama dalam menyearahkan
gelombang AC.
27
Prinsip kerja dari penyearah setengah gelombang ini adalah
mengambil sisi sinyal positif dari gelombang AC dari transformator. Pada
saat transformator memberikan output sisi positif dari gelombang AC maka
dioda dalam keadaan forward bias sehingga sisi positif dari gelombang AC
tersebut dilewatkan dan pada saat transformator memberikan sinyal sisi
negatif gelombang AC maka dioda dalam posisi reverse bias, sehingga
sinyal sisi negatif tegangan AC tersebut ditahan atau tidak dilewatkan
seperti terlihat pada gambar sinyal output penyearah setengah gelombang
berikut:
Gambar 2.7 Gelombang Output power supply setengah gelombang[10]
Formulasi yang digunakan pada penyearah setengah gelombang
sebagai berikut.
𝑉𝑚
𝑉𝑎𝑣𝑔 = ………………..………………...(2-9)
√2
Dimana :
Vavg = Tegangan rata-rata
Vm = Tegangan puncak
28
Perhitungan tegangan DC keluaran dari penyearah setengah
gelombang mengacu pada kondisi saat fasa on dan OFF pada gelombang
output. Pada saat fase positif, dioda menghantar sehingga tegangan keluaran
saat itu sama dengan Vmax dari sinyal input. Kemudian saat fase negatif,
dioda tidak menghantar sehingga tegangan keluaran pada fase ini sama
dengan nol.[10]
Gambar 2.8 Output Penyearah Setengah Gelombang[10]
Berdasarkan kondisi diatas maka dapat dirumuskan bahwa besarnya
tegangan output dari penyearah setengah gelombang adalah Vmax dibagi
dengan π (pi). Dimana besarnya Vmax adalah tegangan puncak (V-peak)
dari salah satu siklus sinyal AC. Atau sebesar 0.318Vmax. Dan jika dihitung
dengan nilai RMS menjadi 0.318 kali √2 sama dengan 0.45Vrms.[10]
𝑉𝑚𝑎𝑥
𝑉𝑑𝑐 = = 0,318𝑉𝑚𝑎𝑥 = 0,45𝑉𝑚𝑠……..………(2-10)
𝜋
Dimana:
Vdc = Tegangan DC
Vmax = tegangan maksimum
Rangkaian penyearah setengah gelombang ini memiliki kelemahan
pada kualitas arus DC yang dihasilkan. Arus DC rata-rata yang dihasilkan
29
dari rangkaian ini hanya 0,318 dari arus maksimum-nya, jika dituliskan
dalam persaman matematika adalah sebagai berikut;
IAV = 0,[Link]……………………………………………………(2-11)
Ket:
Iav = Arus Rata-Rata
Imax = Arus maksimum
Oleh sebab itu rangkaian penyearah setengah gelombang lebih sering
digunakan sebagai rangkaian yang berfungsi untuk menurunkan daya pada
suatu rangkaian elektronika sederhana dan digunakan juga sebagai
demodulator pada radio penerima AM.
Penyearah setengah gelombang memiliki kelebihan dari segi
rangkaian yang sangat simpel dan sederhana. Karena menggunakan satu
dioda maka biaya yang dibutuhkan untuk rangkain lebih murah.
Kelemahan dari penyearah setengah gelombang adalah keluarannya
memiliki riak (rippe) yang sangat besar sehingga tidak halus dan
membutuhkan kapasitor besar pada aplikasi frekuensi rendah seperti listrik
PLN 50Hz. Kelemahan ini tidak berlaku pada aplikasi power supply
frekuensi tinggi seperti pada rangkaian SMPS yang mempunyai duty cycle
diatas 90%.
Kelemahan penyearah setengah gelombang lainnnya adalah kurang
efisien karena hanya mengambil satu siklus sinyal saja. Artinya siklus yang
30
lain tidak diambil alias dibuang. Ini mengakibatkan keluaran dari penyearah
setengah gelombang memiliki daya yang lebih kecil.
[Link] Power Supply Gelombang Penuh
Penyearah Gelombang Penuh (Full wave Rectifier) Penyearah
gelombang penuh dapat dibuat dengan 2 macam yaitu, menggunakan 4
dioda dan 2 dioda. Untuk membuat penyearah gelombang penuh dengan 4
dioda menggunakan transformator non-CT seperti terlihat pada gambar
berikut:
Gambar 2.9 Rangkaian Pemyearah Gelombang Penuh 4 Dioda[10]
Prinsip kerja dari penyearah gelombang penuh dengan 4 dioda diatas
dimulai pada saat output transformator memberikan level tegangan sisi
positif, maka D1, D4 pada posisi forward bias dan D2, D3 pada posisi
reverse bias sehingga level tegangan sisi puncak positif tersebut akan di
leawatkan melalui D1 ke D4.[10]
Kemudian pada saat output transformator memberikan level tegangan
sisi puncak negatif maka D2, D4 pada posisi forward bias dan D1, D2 pada
posisi reverse bias sehingan level tegangan sisi negatif tersebut dialirkan
31
melalui D2, D4. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada grafik output
berikut.
Gambar 2.10 Output Penyearah Gelombang Penuh[10]
[Link] Penyearah Gelombang Penuh dengan Trafo CT
Penyearah gelombang dengan 2 dioda menggunakan tranformator
dengan CT (Center Tap). Rangkaian penyearah gelombang penuh dengan 2
dioda dapat dilihat pada gambar berikut :
Gambar 2.11 Rangkaian Penyearah Gelombang Penuh 2 Dioda[10]
Prinsip kerja rangkaian penyearah gelombang penuh dengan 2 dioda
ini dapat bekerja karena menggunakan transformator dengan CT.
Transformator dengan CT seperti pada gambar diatas dapat memberikan
32
output tegangan AC pada kedua terminal output sekunder terhadap terminal
CT dengan level tegangan yang berbeda fasa 180°. Pada saat terminal output
transformator pada D1 memberikan sinyal puncak positif maka terminal
output pada D2 memberikan sinyal puncak negatif, pada kondisi ini D1 pada
posisi forward dan D2 pada posisi reverse. Sehingga sisi puncak positif
dilewatkan melalui D1. Kemnudian pada saat terminal output transformator
pada D1 memberikan sinyal puncak negatif maka terminal output pada D2
memberikan sinyal puncak positif, pada kondisi ini D1 posisi reverse dan
D2 pada posisi forward. Sehingga sinyal puncak positif dilewatkan melalui
D2. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada gambar output penyearah
gelombang penuh berikut.[9]
Gambar 2.12 Output Penyearah Gelombang Penuh[10]
33
2.2.7 MCB (Mini Circuit Breaker)
Adalah saklar atau perangkat elektromekanis yang berfungsi
sebagai pelindung rangkaian instalasi listrik dari arus lebih (over
current). Terjadinya arus lebih ini, mungkin disebabkan oleh beberapa
gejala, seperti: hubung singkat (short circuit) dan beban lebih (overload).
MCB sebenarnya memiliki fungsi yang sama dengan sekring
(fuse), yaitu akan memutus aliran arus listrik circuit ketika terjadi
gangguan arus lebih. Yang membedakan keduanya adalah saat terjadi
gangguan, MCB akan trip dan ketika rangkaian sudah normal, MCB bisa
di ON-kan lagi (reset) secara manual, sedangkan fuse akan terputus dan
tidak bisa digunakan lagi.[6]
Gambar 2.13 Miniature circuit breaker[6]
34
Pada rangkaian daya motor induksi tiga fasa, MCB digunakan
untuk melindungi motor dari gangguan arus lebih sehingga motor dapat
diamankan apabila terjadi gangguan.
2.2.8 Kontaktor Magnetik Tiga Fasa
Kontaktor magnet atau saklar magnet merupakan saklar yang
bekerja berdasarkan prinsip kemagnetan. Artinya sakelar ini bekerja jika
ada gaya kemagnetan pada penarik kontaknya. Magnet berfungsi sebagai
penarik dan dan sebagai pelepas kontak-kontaknya dengan bantuan pegas
pendorong. Sebuahkontaktor harus mampu mengalirkan dan memutuskan
arus dalam keadaan kerja normal. Arus kerja normal ialah arus yang
mengalir selama pemutusan tidak terjadi. [6]
Gambar 2.14 Kontaktor magnetik tiga fasa[6]
Kontaktor magnetik berfungsi untuk mengoperasika motor listrik
berdaya besar agar tidak menimbulkan loncatan bunga api pada alat
penghubungnya. Kontaktor magnet yaitu suatu alat penghubung listrik
yang bekerja atas dasar magnet yang dapat menghubungkan antara
sumber arus dengan muatan. Bila inti koil pada kontaktor diberikan arus,
35
maka koil akan menjadi magnet dan menarik kontak sehingga kontaknya
menjadi terhubung dan dapat mengalirkan arus listrik.
2.2.9 Thermal Overload Relay
Thermal relay atau overload relay adalah peralatan switching
yang peka terhadap suhu dan akan membuka atau menutup kontaktor
pada saat suhu yang terjadi melebihi batas yang ditentukan atau peralatan
kontrol listrik yang berfungsi untuk memutuskan jaringan listrik jika
terjadi beban lebih. [6]
Gambar 2.15 Thermal Overload Relay[6]
Karakteristik:
1. Terdapat konstruksi yang berhubungan langsung
dengan terminal kontaktor magnit.
2. Full automatic function, Manual reset, dan memiliki
pengaturan batas arus yang dikehendaki untuk
digunakan.
3. Tombol trip dan tombol reset trip, dan semua sekerup
terminal berada di bagian depan Indikator trip
36
4. Mampu bekerja pada suhu -25 °C hingga +55 °C atau (-
13 °F hingga +131 °F)
Thermal overload relay (TOR) mempunyai tingkat proteksi yang
lebih efektif dan ekonomis, yaitu:
1. Pelindung beban lebih / Overload
2. Melindungi dari ketidakseimbangan phasa / Phase failure
imbalance
3. Melindungi dari kerugian / kehilangan tegangan phasa /
Phase Loss.
2.2.10 Motor Induksi Tiga Fasa
Motor induksi adalah suatu mesin listrik yang mengubah energi
listrik menjadi energi gerak dengan menggunakan gandengan listrik dan
mempunyai slip antara medan stator dan medan rotor. Stator adalah bagian
dari mesin yang tidak berputar dan terletak pada bagian luar. Stator terbuat
dari besi bundar berlaminasi dan mempunyai alur-alur sebagai tempat
meletakan kumparan. Rotor adalah bagian dari mesin yang berputar bebas
dan letaknya di bagian dalam. Rotor terbuat dari besi laminasi yang
mempunyai slot dengan batang aluminium / tembaga yang terhubung
singkat pada ujungnya. Motor induksi merupakan salah satu mesin
asinkronous (asynchronous motor) karena mesin ini beroperasi pada
kecepatan di bawah kecepatan sinkron. [3]
37
Gambar 2.16 Motor Induksi Tiga Fasa 380/660[6]
Kecepatan sinkron ini dipengaruhi oleh frekuensi mesin dan
banyaknya kutub pada mesin. Motor induksi selalu berputar dibawah
kecepatan sinkron karena medan magnet yang terbangkitkan pada stator
akan menghasilkan fluks pada rotor sehingga rotor tersebut dapat
berputar.[5]
Namun fluks yang terbangkitkan pada rotor mengalami lagging
dibandingkan fluks yang terbangkitkan pada stator sehingga kecepatan rotor
tidak akan secepat kecepatan putaran medan magnet.
Motor AC 3 phase bekerja dengan memanfaatkan perbedaan fasa
sumber untuk menimbulkan gaya putar pada rotornya. Apabila sumber
tegangan 3 fase dipasang pada kumparan stator, akan timbul medan putar
dengan kecepatan seperti rumus berikut :
38
Ns = 120 f/p
dimana Ns merupakan Kecepatan medan putar, f yaitu Frekuensi
Sumber. dan P adalah Kutub motor. Medan putar stator tersebut akan
memotong batang konduktor pada rotor. Akibatnya pada batang konduktor
dari rotor akan timbul GGL induksi. Karena batang konduktor merupakan
rangkaian yang tertutup maka GGL akan menghasilkan arus (I). Adanya
arus (I) di d alam medan magnet akan menimbulkan gaya (F) pada rotor.
Bila kopel mula yang dihasilkan oleh gaya (F) pada rotor cukup besar
untuk memikul kopel beban, rotor akan berputar searah dengan medan
putar stator. GGL induksi timbul karena terpotongnya batang konduktor
(rotor) oleh medan putar stator. Artinya agar GGL induksi tersebut timbul,
diperlukan adanya perbedaan relatif antara kecepatan medan putar stator
(ns) dengan kecepatan berputar rotor (nr). [3]
[Link] Bagian – Bagian Motor Induksi 3 Fasa
Secara umum motor induksi terdiri dari rotor dan stator. Rotor
merupakan bagian yang bergerak, sedangkan stator yang diam. Diantara
stator dengan rotor ada celah udara (gap) yang jaraknya sangat kecil. [5]
Komponen stator adalah bagian terluar dari motor yang merupakan
bagian yang diam dan mengalirkan arus fasa. Stator terdiri dari susunan
laminasi inti yang memiliki alur (slot) yang menjadi tempat dudukan
kumparan yang dililitkan dan berbentuk silindris. [5]
39
Motor induksi memiliki dua komponen yang utama, kedua
komponen tersebut adalah :
1. Stator, merupakan suatu bagian dari motor yang diam. Stator
terdiri dari tiga buah kumparan, ujung-ujung belitan kumparan
dihubungkan melalui terminal untuk memudahkan
penyambungan dengan sumber tegangan. Masing-masing
kumparan memiliki kutub. Banyaknya kutub tersebut
mempengaruhi kecepatan motor induksi. [5]
Gambar 2.17 Stator[5]
2. Rotor, merupakan bagian dari motor yang bergerak. Rotor dapat
dikategorikan menjadi dua kategori yaitu :
a. Rotor Sangkar, motor induksi jenis rotor sangkar lebih
banyak digunakan daripada jenis rotor lilit, sebab rotor
sangkar mempunyai bentuk yang sederhana. Belitan rotor
terdiri atas batang-batang penghantar yang ditempatkan di
40
dalam alur rotor. Batang penghantar ini terbuat dari tembaga,
alloy atau alumunium. Ujung-ujung batang penghantar
dihubung singkat oleh cincin penghubung singkat, sehingga
berbentuk sangkar tupai. Motor induksi yang menggunakan
rotor ini disebut motor induksi rotor sangkar. Karena batang
penghantar rotor yang telah dihubung singkat, maka tidak
dibutuhkan tahanan luar yang dihubungkan seri dengan
rangkaian rotor pada saat awal berputar. Alur-alur rotor
biasanya tidak dihubungkan sejajar dengan sumbu tetapi
sedikit miring. [5]
Gambar 2.18 Rotor Sangkar[5]
b. Rotor Lilit, rotor lilit terdiri atas belitan fasa banyak, belitan
ini dimasukkan ke dalam alur-alur inti rotor. Belitan ini sama
dengan belitan dan stator, tetapi belitan selalu dihubungkan
secara bintang. Tiga buah ujung-ujung belitan dihubungkan
ke terminal-terminal sikat/cincin seret yang terletak pada
poros rotor. Pada jenis rotor lilit dapat mengatur kecepatan
motor dengan cara mengatur tahanan belitan rotor tersebut.
41
Pada keadaan kerja normal sikat karbon yang berhubungan
dengan cincin seret tadi dihubung singkat. Motor induksi
rotor lilit dikenal dengan sebutan Motor Induksi Slipring
atau Motor Induksi Rotor Lilit. [5]
Gambar 2.19 Rotor Lilit[5]
[Link] Prinsip Kerja Motor Induksi 3 Fasa
Ada beberapa prinsip kerja motor induksi :
1. Apabila sumber tegangan 3 fasa dipasang pada kumparan
medan (stator), timbulah medan putar dengan kecepatan, ns =
120𝑓 [3]
. …………………………………………………………………………..(2-12)
𝑝
2. Medan putar stator tersebut akan memotong batang konduktor
pada rotor. [3]
3. Akibatnya pada kumparan jangkar (rotor) timbul tegangan
induksi (ggl). [3]
4. E2s adalah tegangan induksi pada saat rotor berputar. [3]
42
Karena kumparan jangkar merupakan rangkaian yang tertutup,
ggl (E) akan menghasilkan arus (I). Adanya arus di dalam
medan magnet menimbulkan gaya (F) pada rotor. [3]
5. Bila kopel mula yang dihasilkan oleh gaya (F) pada rotor
cukup besar untuk memikul kopel poros, rotor akan berputar
searah dengan medan putar stator. [3]
6. Seperti telah dijelaskan pada poin 3 bahwa tegangan induksi
timbul karena terpotongnya batang konduktor (rotor) oleh
medan putar stator. Artinya agar tegangan terinduksi
diperlukan adanya perbedaan relatif antara kecepatan medan
putar stator (ns) dengan kecepatan berputar rotor (nr). [3]
7. Perbedaan kecepatan antara nr dan ns disebut slip[3]
8. Bila nr = ns tegangan tidak akan terinduksi dan arus tidak
mengalir pada kumparan jangkar rotor, dengan demikian tidak
dihasilkan kopel. Kopel motor akan ditimbulkan apabila nr
lebih kecil dari ns. [3]
9. Dilihat dari cara kerjanya, motor induksi disebut juga sebagai
motor tak serempak atau asinkron. [5]
43
2.2.11 Hubungan Bintang Segitiga (Star-Delta)
Pada sistem tenaga listrik 3 fase, idealnya daya listrik yang
dibangkitkan, disalurkan dan diserap oleh beban semuanya seimbang, P
pembangkitan = P pemakain, dan juga pada tegangan yang seimbang. Pada
tegangan yang seimbang terdiri dari tegangan 1 fase yang mempunyai
magnitude dan frekuensi yang sama tetapi antara 1 fase dengan yang lainnya
mempunyai beda fase sebesar 120°listrik, sedangkan secara fisik
mempunyai perbedaan sebesar 60°, dan dapat dihubungkan secara bintang
(Y, wye) atau segitiga (delta, Δ, D). [2]
Gambar 2.20 Sistem Tiga Fasa[8]
Gambar 2.20 menunjukkan fasor diagram dari tegangan fase. Bila
fasor-fasor tegangan tersebut berputar dengan kecepatan sudut dan dengan
arah berlawanan jarum jam (arah positif), maka nilai maksimum positif dari
fase terjadi berturut-turut untuk fase R, S dan T. sistem 3 fase ini dikenal
44
sebagai sistem yang mempunyai urutan fasa R – S – T . sistem tegangan 3
fase dibangkitkan oleh generator sinkron 3 fase.[8]
Tegangan tiga fasa sering digambarkan dengan tiga buah garis
dengan satu ujung saling bertemu, sehingga setiap garis membentuk sudut
120 derajat. Sudut itulah yang disebut sudut perbedaan fasa antara satu fasa
dengan fasa lainnya sebesar 120 derajat. Seperti diperlihatkan pada gambar
2.20. Dari gambar diatas Vrs merupakan tegangan antara phasa R dan phasa
S, sedangkan Vrn merupakan tegangan antara phasa R dengan netral Vrn =
Vsn =Vtn. Sudut antara garis RN dan SN sebesar 120˚. [8] Untuk mencari
nilai RT maka kita gunakan rumus penjumlahan vektor yang berbeda
sudut 120˚.Sehungga diperoleh persamaan sebagai berikut:
(VRS) 2 = (VRN)2 + (VSN)2 - 2 x VRN x VSN x cos (120˚)………………..(2-13)
= (VRN)2 + (VRN)2 - 2 x VRN x VSN x (-0,5) ……………… ……..(2-14)
= (VRN)2 + (VRN)2 + (VRN)2 …………………………………………..……..(2-15)
= 3 x (VRN)2…………………………………………..……………………………...(2-16)
VRS = √3 x VRN …………………………………………..…………………………….....(2-17)
VRN = VRS : √3 …………………………………………..………………………………..(2-18)
45
[Link] Hubungan Bintang
Pada hubungan bintang (Y, wye), ujung-ujung tiap fase
dihubungkan menjadi satu dan menjadi titik netral atau titik bintang.
Tegangan antara dua terminal dari tiga terminal a – b – c mempunyai besar
magnitude dan beda fasa yang berbeda dengan tegangan tiap terminal
terhadapa titik netral. Tegangan Va, Vb dan Vc disebut tegangan “fase”
atau Vf. [8]
Gambar 2.21 Hubungan Bintang[8]
Dengan adanya saluran / titik netral maka besaran tegangan fase
dihitung terhadap saluran / titik netralnya, juga membentuk sistem tegangan
3 fase yang seimbang dengan magnitudenya (akar 3 dikali magnitude dari
tegangan fase). [8]
Vline = √3Vfase = 1,73Vfase…………………………………………………………(2-19)
Sedangkan untuk arus yang mengalir pada semua fase bernilai sama
ILine =Ifase………………………………………………………………………………………..(2-20)
46
[Link] Hubungan Delta
Pada hubungan segitiga (delta, Δ, D) ketiga fase saling
dihubungkan sehingga membentuk hubungan segitiga 3 fase. [8]
Gambar 2.22 Hubungan Segitiga[8]
Dengan tidak adanya titik netral, maka besarnya tegangan saluran
dihitung antar fase, karena tegangan saluran dan tegangan fasa mempunyai
besar magnitude yang sama, maka:
Vline = Vfase…………………………………………………………………………………...(2-21)
Tetapi arus saluran dan arus fasa tidak sama dan hubungan antara
kedua arus tersebut dapat diperoleh dengan menggunakan hukum kirchoff,
sehingga:
Iline = √3Ifase = 1,73Ifase………………………………………………………………….(2-22)
[Link] Daya Pada Hubungan Tiga Fasa
Jumlah daya yang diberikan oleh suatu generator 3 fase atau daya
yang diserap oleh beban 3 fase, diperoleh dengan menjumlahkan daya dari
tiap-tiap fase. Pada sistem yang seimbang, daya total tersebut sama dengan
47
tiga kali daya fase, karena daya pada tiap-tiap fasenya sama. [8] Sehingga
diperoleh persamaan:
Pfase = Vfase . [Link] θ …………………………………..……………………………...(2-23)
sedangkan besarnya total daya adalah penjumlahan dari besarnya daya tiap
fase, dan dapat dituliskan dengan,
P(nyata) = [Link] θ……………………………………..……………………………............(2-24)
Pada hubungan bintang, karena besarnya tegangan saluran adalah 1,73V
fase maka tegangan perfasanya menjadi Vline/1,73, dengan nilai arus
saluran sama dengan arus fase, IL = If, maka daya total (Pnyata) pada
rangkaian hubung bintang (Y) adalah:
P(nyata) = [Link]/1,[Link] θ = 1,[Link] θ………………………………….(2-25)
Dan pada hubung segitiga, dengan besaran tegangan line yang sama dengan
tegangan fasanya, VL = Vfasa, dan besaran arusnya Iline = 1,73Ifase,
sehingga arus perfasanya menjadi IL/1,73, maka daya total (Ptotal) pada
rangkaian segitiga adalah:
P(nyata) = [Link]/1,[Link] θ = 1,[Link] θ…..……………………………...(2-26)
Dari persamaan total daya pada kedua jenis hubungan terlihat bahwa
besarnya daya pada kedua jenis hubungan adalah sama, yang membedakan
48
hanya pada tegangan kerja dan arus yang mengalirinya saja, dan berlaku
pada kondisi beban yang seimbang.[8]
2.2.12 Sensor Kecepatan (Optocoupler)
Optocoupler adalah suatu piranti yang terdiri dari 2 bagian yaitu
transmitter dan receiver, yaitu antara bagian cahaya dengan bagian
deteksi sumber cahaya terpisah. Biasanya optocoupler digunakan sebagai
saklar elektrik, yang bekerja secara otomatis. Optocoupler adalah suatu
komponen penghubung (coupling) yang bekerja berdasarkan picu cahaya
optic.[1]
Optocoupler terdiri dari dua bagian yaitu :
1. Pada transmitter dibangun dari sebuah LED infra merah.
LED infra merah memiliki ketahanan yang lebih baik
terhadap sinyal tampak. Cahaya yang dipancarkan oleh
LED infra merah tidak terlihat oleh mata telanjang.
2. Pada bagian receiver dibangun dengan dasar komponen
phototransistor. Phototransistor merupakan suatu
transistor yang peka terhadap tenaga cahaya unruk
menagkap radiasi dari sinar infra merah.
49
Gambar 2.23 Encoder[6]
Penerapan optocoupler pada tugas akhir ini adalah sebagai rotary
encoder yang digunakan untuk mendeteksi kecepatan putaran motor yang
nantinya akan digunakan untuk pemindahan konfigurasi dari star ke
delta. Rotary encoder tersebut memanfaatkan sebuah piringan yang
diseluruh tepinya diberi lubang. Dan dari lubang jika berputar akan
memiliki pola „1‟ dan „0‟ (high dan low). Rumus menghitung RPM pada
motor menggunakan sensor optocoupler sebagai sensor kecepatan :
Gambar 2.24 Piringan Yang Digunakan[6]
50
Dari gambar di atas menggunakan 16 lubang dan berikut cara
mencari putaran atau RPM pada motor :
Misal diketahui jumlah pulsa yang masuk mikrokontroler = 200
Rumus yang digunakan adalah :
Jumlah pulsa * 60 detik / jumlah lubang………………………………….(2-27)
Maka :
200* 60/16 = 750
Maka dari rumus dia atas langsung diperoleh Rpm motor = 750
2.2.13 Trafo Arus (Current Transformer)
Trafo arus (Current Transformator-CT) yaitu perlatan yang
digunakan untuk melakuan pengukuran besaran arus pada instalasi tenaga
listrik di sisi primer yang berskala besar dengan melakukan transformasi
dari besaran arus yang besar menjadi besaran arus yang keil secara akurat
dan teliti untuk keperluan pengukuran.[7]
Pada dasarnya prinsip kerja dari trafo arus sama dengan trafo tenaga.
Jika ada arus I1 mengalir pada kumparan primer maka akan timbul gaya
gerak magnet N1I1 yang mengakibatkan terbentuknya fluks pada inti besi.
Fluks tersebut menginduksi kumparan sekunder sehingga timbul gaya gerak
listrik pada kumparan sekunder. Pada saat kumparan sekunder dalam
51
kondisi tertutup maka akan mengalir arus I2. Arus ini menimbulkan gaya
gerak magnet N2I2 pada kumparan sekunder. [7]
Gambar 2.25 Rangkaian pada CT[7]
Untuk trafo yang dihubung singkat :
I1 . N1 = I2 . N2 ………………………………………………………………...(2-28)
Untuk trafo pada kondisi tidak berbeban:
𝐸1 𝑁1
= ………………………………………………………………………………….(2-29)
𝐸2 𝑁2
Dimana
I1 > I2 sehingga N1 < N2
N1 = Jumlah lilitan primer
N2 = jumlah lilitan sekunder.
2.2.14 Sensor Tegangan
Sensor tegangan ini digunakan untuk mendapatkan parameter
tegangan antar fasa dengan mengukur tegangan tiap fasa menggunakan
rangkaian sensor tegangan yang telah dirancang berjumlah tiga buah dan
kemudian diproses oleh mikrokontroler Arduino mega 2560 sehingga dapat
mengetahui besar tegangan antar fasa yang ditampilkan pada display
HMI.[1]
52
Rangkaian ini pada intinya terdiri dari transformator step down yang
berfungsi untuk menurunkan tegangan, rangkaian penyearah, filter
kapasitor, serta rangkaian pembagi tegangan. Pada sensor tegangan ini
terdapat dua buah resistor yang digunakan sebagai rangkaian pembagi
tegangan yang akan menurunkan tegangan dari tegangan sumber menjadi
tegangan yang dikehendaki. Nilai tegangan awal antar fasa adalah 380 volt.
Sensor tegangan ini tidak langsung terhubung dengan sumber tegangan 380
volt, Karena tegangan tersebut dirasa terlalu bahaya untuk langsung diolah,
baik bagi alat maupun bagi pengguna. Untuk mengatasi hal tersebut maka
dibutuhkan transformator step down yang digunakan untuk menurunkan
tegangan tersebut menjadi tegangan yang diinginkan. Kemudian tegangan
tersebut disearahkan menggunakan diode penyearah gelombang penuh
sehingga didapatkan tegangan keluaran volt DC yang bervariasi karena
tegangan sumber antar fasanya pun juga bervariasi. [1]
Penyearah yang dihasilkan oleh diode tersebut belum benar benar
rata seperti tegangan DC pada umumnya, oleh Karena itu diperlukan
kapasitor yang berfungsi sebagai filter (penyaring) untuk menekan ripple
yang terjadi pada proses penyearahan gelombang AC. Kemudian tegangan
DC yang sudah melewati proses penyaringan dengan kapasitor tersebut
akan melewati rangkaian pembagi tegangan yang bertujuan untuk membagi
tegangan yg keluar dengan tegangan yang diinginkan untuk selanjutnya di
proses pada mikrokontroler Arduino Mega 2560. [1]