Terapi Lingkungan untuk Penyembuhan
Terapi Lingkungan untuk Penyembuhan
PENDAHULUAN
A. Latar belakang
B. Tujuan
C. Manfaat
BAB II
TINJAUAN TEORI
2.1.1 Definisi
Terapi atau pengobatan merupakan cara proses penyembuhan
suatu gangguan yang disebabkan oleh sumber-sumber gangguan.
Sumber-sumber yang bersifat terapeutik (dapat memberikan
penyembuhan) dapat berupa orang-orang lingkungan atau benda-benda
dan kegiatan-kegiatan yang membawa penyembuhan. Terapi lingkungan
berasal dari bahasa Prancis yang artinya perencanaan ilmiah dari
lingkungan dengan tujuan yang bersifat terapeutik atau kegiatan yang
mendukung kesembuhan (Yosep, 2011).
Pengertian lainnya adalah tindakan dengan memanipulasi dan
memodifikasi unsur yang sudah ada pada lingkungan yang sangat
berpengaruh positif pada fisik dan psikis seseorang dan dapat
mendukung proses penyembuhan pada pasien (Kusumawati &Hartono,
2011).
Terapi lingkungan adalah suatu tindakan penyembuhan pasien
dengan gangguan jiwa melalui manipulasi unsur yang ada di lingkungan
dan berpengaruh terhadap penyembuhan pasien ganguan jiwa (Yosep,
2011). Terapi Lingkungan adalah tindakan penyembuhan pasien melalui
manipulasi dan modifikasi unsur-unsur yang ada pada lingkungan dan
berpengaruh positif terhadap fisik dan psikis individu serta mendukung
proses penyembuhan (Kusumawati & Yudi, 2011).
Lingkungan fisik dan psikologis merupakan suatu kondisi yang
memiliki pengaruh besar terhadap proses penyembuhan terutama pada
pasien gangguan mental. Secara teori diidentifikasikan bahwa sistem
lingkungan sendiri terdiri dari sistem internal dan sistem eksternal.
Sistem internal manusia terdiri atas jenis – jenis sub sistem yang meliputi
biological, psycological, sosiological, dan spiritual. Sedangkan
lingkungan eksternal meliputi ; sesuatu di luar batas internal seperti
udara, iklim, air, bangunan termasuk diantaranya hal yang tidak dapat
diraba seperti : sosial, budaya, politik, dan ekonomi (Yosep, 2011).
Terapi lingkungan dikembangkan oleh Sullivan (1892-1949)
tujuan terapi tersebut sebagai terbinanya hubungan interpersonal yang
memuaskan. Ahli terapi mengupayakan hubungan interpersonal korektif
untuk klien. Sullivan (1892-1949) mengungkapkan istilah pengamat
partisipan untuk peran ahli terapi, yang berarti bahwa ahli terapi
berpartisipasi dalam hubungan dan mengobservasi kemajuan hubungan.
Sullivan juga mengembangkan teori interpersonal dengan terapi
lingkungan (Videbeck, 2012).
karakteristik :
Hasil pemcarian jurnal yang di dapat adalah 254 jurnal dan jurnal
yang diambil sebanyak 1 jurnal dengan kriteria inklusi dan ekslusi pencarian
jurnal yang diinginkan diantaranya: Kriteria Inklusi:
Kriteria Ekslusi:
2. Analisa Jurnal
N Author & Publisher Aim Study Participants Methods Main
O Title Design Results
1. Rochmani - Menjel Preexperim Pasien Analisa Hasil
eka askan ental lansia yang data dalam penelitia
Design mengalami penelitian n
mardiyanti terjadin ya
dengan depresi. ini menunju
1
& yoyok penuru menggunak mengguna kan
bekti nan an kan uji terjadi
pendekatan Chi penuruna
praseyto. depresi Pretest- Square. n tingkat
Depresi pada posttest depresi
pada Usia pasien design (One pada
Lanjut: Group Pra lansia
Post Tes setelah
Implement
Design). dilakuka
asi Terapi n Plant
Lingkunga thrapy.
n di Panti
Werdha.
Kelebihan Kekurangan
Rochmani eka mardiyanti1 & - Terdapat SOP yang - Tidak disebutkan kriteria
yoyok bekti praseyto. digunakan kondisi fisik lansia yang
- Bersifat bisa dilakukan plant
Depresi pada Usia Lanjut:
preexperimental therapy
Implementasi Terapi design dengan
Lingkungan di Panti menggunakan
pendekatan post-tes
Werdha.
dan pre-tes
DEPRESI PADA USIA LANJUT: IMPLEMENTASI TERAPI
LINGKUNGAN DI PANTI WERDHA
Depression in Elderly: Milleu Therapy in “Panti Werdha”
Rochmani Eka Mardiyanti1 & Yoyok Bekti Praseyto2
1
Guru SMK jurusan Keperawatan di Probolinggo
Departemen Keperawatan Komunitas Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Muhammadiyah Malang
ABSTRAK
Terapi lingkungan merupakan salah satu bentuk upaya kuratif yang dapat
dilakukan untuk membantu proses penyembuhan penyakit karena lingkungan
berkaitan erat dengan stimulasi psikologis seseorang yang berdampak pada
kesembuhan seseorang. Plant therapy merupakan salah satu terapi penting untuk
menangani masalah klien dengan gangguan alam perasaan seperti depresi. Tujuan
penelitian ini mengidentifikasi dampak perubahan tingkat depresi usia lanjut
dengan terapi lingkungan. Desain yang digunakan adalah Pre Experiment dengan
metode pengambilan data pre dan post test one group, Kesimpulan penelitian ini
adalah bahwa terapi lingkungan plant therapy efektif terhadap tingkat depresi pada
usia lanjut di Panti Werdha.
ABSTRACT
Environmental Therapy is a form of curative efforts that can be done to help the healing
process of the disease because the environment is closely related to one’s psychological stimulation
that affects a person’s recovery. Plant therapy is one of the important therapy to deal with clients
with a feeling of natural disturbance such as depression. Purpose the studi is identify change of
deprresion level with Environmental therapy on the elderly. The research which is used is Pre-
experiment with pre and post test one group. Conclusions of this study is that environmental
therapeutics plant therapy is not effective against depression on the elderly in Werdha Nursing-
home.
Terapi lingkungan merupakan salah satu bentuk upaya kuratif yang dapat dilakukan
untuk membantu proses penyembuhan penyakit karena lingkungan berkaitan erat
dengan stimulasi psikologis seseorang yang berdampak pada kesembuhan seseorang,
lingkungan tersebut akan memberikan dampak yang baik pada kondisi fisik maupun
kondisi psikologis seseorang. Salah satu jenis kegiatan terapi lingkungan untuk pasien
dengan depresi yaitu Plant therapy di mana tujuan dari terapi ini mengajarkan pasien
untuk memelihara segala sesuatu/makhluk hidup, dan membantu hubungan yang akrab
antara satu pribadi dengan pribadi yang lainnya ( Yosep, 2009). Plant therapy
merupakan salah satu terapi penting untuk menangani masalah klien dengan gangguan
alam perasaan seperti depresi. Depresi merupakan salah satu bentuk gangguan pada
alam perasaan (afektif, mood) yang ditandai kemurungan, kesedihan, kelesuan,
kehilangan gairah hidup, tidak ada semangat, dan merasa tidak berdaya, perasaan
bersalah atau berdosa, tidak berguna dan putus asa sehingga menimbulkan rasa/ide
bunuh diri (suicide) atau perilaku bunuh diri, sebanyak 40 % penderita depresi
mempunyai ide untuk bunuh diri, dan hanya lebih kurang 15% saja yang sukses
melakukannya (Yosep, 2009).
Usia lanjut yang mengalami depresi membutuhkan terapi tambahan yang bersifat
komprehensif, holistik, dan multidisipliner dengan mengupayakan optimalisasi aspek
lingkungan melalui penerapan konsep psikologi lingkungan, karena lingkungan secara
umum akan berkaitan erat dengan tujuan keperawatan dan menyangkut status
kesehatan seseorang, maka salah satu terapi yang mulai dan akan diperkenalkan yaitu
adalah terapi lingkungan yang merupakan suatu tindakan penyembuhan pasien dengan
depresi melalui manipulasi unsur yang ada di lingkungan dan terpengaruh terhadap
proses penyembuhan, hal ini sesuai dengan teori keperawatan yang dikemukan oleh
Florence Nightingale dalam Fundamental keperawatan (Kozier 2007) bahwa konsep
utama dalam model keperawatannya adalah pasien dipandang dalam konteks
lingkungan secara keseluruhan. Lingkungan dipandang sebagai segala kondisi
eksternal dan mempengaruhi kehidupan dan perkembangan organisme dan mempunyai
kemampuan untuk mencegah, menekan atau mendukung penyakit atau kematian.
Lingkungan fisik (ventilasi, suhu, bau, kebisingan dan cahaya) merupakan faktor dasar
yang mempengaruhi keadaan pasien dimanapun berada.
Penggunaan lingkungan tersebut untuk tujuan terapeutik, sehingga setiap interaksi
dengan pasien dipandang dapat memberikan hasil yang menguntungkan dalam
meningkatkan fungsi yang optimal, hal ini sesuai dengan hasil penelitian Bloom yang
menyatakan bahwa 60 % faktor yang menentukan status kesehatan seseorang adalah
kondisi lingkungannya, karena lingkungan tersebut akan memberikan dampak yang
baik pada kondisi fisik maupun kondisi psikologis seseorang. Yosep (2009)
mengatalam bahwa di RSHS menunjukkan bahwa terdapat pengaruh yang kuat antara
terapi lingkungan yang dimodifikasi dengan kemampuan adaptasi pada pasien selama
perawatan menyebabkan rata-rata hari perawatan menjadi menurun. Lingkungan
tersebut akan berpengaruh pula pada proses perawatan di rumah sakit ataupun di panti
tempat lansia tinggal, hal ini pada akhirnya akan menentukan keberhasilan perawatan
dan pengobatan, dimana suatu pengharapan yang cukup besar untuk meminimalkan
depresi yang terjadi pada pasien secara simultan, dari depresi tingkat berat menjadi
sedang, depresi sedang menjadi ringan dan ringan menjadi mampu mengendalikan
faktorfaktor yang dapat memicu terjadinya depresi dan pada akhirnya depresi dapat
dihilangkan secara parsial atau menyeluruh.
Beberapa komponen yang harus diperhatikan dalam terapi lingkungan antara lain 1).
Fisik yang terkait dengan desain dan renovasi, 2). Intelektual yaitu aspek intelektual
dari lingkungan yang meliputi warna, sinar, suara,suhu, bau, dan rasa, 3). Komponen
Sosial yang meliputi peran serta pasien dengan pola komunikasinya serta perbandingan
antara pasien dengan staf, 4).Emosional yaitu suatu keadaan atau kondisi psikis
seseorang yang akan turut berpengaruh dan saling dipengaruhi oleh faktor fisik, sosial
dan intelektual misalnya seorang pasien dengan kondisi psikisnya dalam keadaan
senang, santai, mampu bekerjasama dengan baik, dan di dukung oleh peran seorang
terapis yang tidak defensive, empati dan mampu menciptakan keamanan.
Yosep (2009) menyatakan terdapat beberapa jenis kegiatan yang berhubungan dengan
terapi lingkungan yaitu di antaranya (1) Terapi rekreasi yaitu terapi yang menggunakan
salah satu kegiatan yang dilakukan pada waktu luang, dengan tujuan pasien dapat
melakukan kegiatan secara konsturktif dan menyenangkan serta mengembangkan
kemampuan hubungan sosial (2) Terapi Kreasi seni dalam terapi ini perawat sebagai
leader atau bekerja sama dengan orang lain yang ahli dalam bidangnya karena harus
sesuai dengan bakat dan minat, di antaranya adalah (a) Dance terapi/menari yaitu suatu
terapi yang menggunakan bentuk ekspresi non verbal dengan menggunakan gerakan
tubuh dimana mengkomunkasikan tentang perasaan-perasaan dan kebutuhan (b) Terapi
musik, Terapi ini dilakukan melalui musik. Dengan musik memberikan kesempatan
kepada pasien untuk mengekspresikan perasaan-perasaannya seperti marah, sedih, dan
kesepian. Pelaksanaan terapi ini dapat dilakukan bersama (berkelompok) atau
individual (c) Terapi melukis, dengan menggambar atau melukis akan memberikan
kesempatan kepada dirinya untuk mengekspresikan perasaan, selain itu juga akan
menurunkan ketegangan dan memustkan pikiran pada kegiatan. Kegiatan ini dapat
dilakukan secara individu atau berkelompok (d) Bibliotherapy/ terapi membaca, terapi
dengan kegiatan membaca seperti novel, majalah, dan kemudian mendiskusikan di
antara pasien tentang pendapatnya terhadap topik yang dibaca. Terapi ini bertujuan
untuk mengembangkan wawasan diri dan bagaimana mengekspresikan perasaan/
pikiran dan perilaku yang sesuai dengan norma yang ada. (3) Pettherapy, terapi ini
bertujuan untuk menstimulasi respon pasien yang tidak mampu mengadakan hubungan
interaksi dengan orang-orang dan pasien biasanya merasa kesepian, menyendiri.
Sarana yang dipergunakan dalam terapi ini adalah binatang-binatang dimana dapat
memberikan respon menyenangkan kepada pasien. (4) Planttherapy, terapi ini
bertujuan untuk mengajar pasien untuk memelihara segala sesuatu/makhluk hidup, dan
membantu hubungan yang akrab antara satu pribadi kepada pribadi lainnya. Kegiatan
ini mempergunakan tanaman/tumbuhan sebagai objek dalam mencapai tujuan terapi.
Menanam tumbuhan mulai dari biji sampai menjadi bunga atau buah dan pasien
diperbolehkan untuk memetiknya.
Pada prosedur kerja beberapa hal yang harus diperhatikan dan dipersiapkan yaitu
Persiapan alat dan Lingkungan serta persiapan pasien. Persiapan alat dan lingkungan
terdiri dari (1) Bibit tanaman (2) Peralatan bercocok tanam sederhana (3) Lahan yang
bisa di olah dan dimanfaatkan, Sedangkan Persiapan Pasien meliputi (1) Memilih
pasien sesuai dengan indikasi dan tidak sedang masa perawatan karena penyakit
tertentu (2) Membuat kontrak dengan pasien tersebut (3) Menandatangani lembar
persetujuan untuk mengikuti terapi.
Pada prosedur kerja terdapat fase-fase yang harus dilakukan (a) Fase Orientasi (b) fase
Kerja dan (c) fase terminasi. Fase orientasi meliputi (1) Membina Hubungan Saling
Percaya dengan pasien dengan mengucapkan salam terapeutik dan memperkenalkan
diri (2) Memberikan motivasi kepada pasien yaitu terapis dapat memberikan kegiatan
pendahuluan yang dapat memotivasi peserta untuk terlibat secara aktif dalam kegiatan
terapi. Fase Kerja meliputi (1) Menjelaskan tujuan, manfaat, dan prosedur lembar
persetujuan untuk mengikuti terapi (2) Menjelaskan kepada pasien waktu berkebun,
pagi/sore hari selama 30 menit tiap harinya (3) Tanyakan apakah pasien sudah siap
untuk mengikuti terapi yang sebenarnya (4) Menjelaskan prosedur pelaksanaan dengan
benar seperti (a) Pasien dijelaskan bagaimana mengolah tanah sebelum di beri tanaman
(b) Pasien dijelaskan bagaimana menanam biji-bijian (c) Pasien dijelaskan setelah biji
tumbuh, hal apa saja yang harus dilakukan untuk menjaga agar tetap subur, menyiram,
menyiangi, memberikan pupuk dan lain-lain (prosedur merawat tanaman) (d) Pasien
dijelaskan agar memperhatikan pertumbuhan dan perkembangan tanamannya setiap
hari. (5) Dampingi pasien saat memulai terapi dan bantu sampai bisa melakukan terapi
lingkungan plant therapy (6) Menjelaskan kepada pasien bahwa akan dilakukan
penilaian terhadap peserta yang mampu merawat tanamannya dengan baik. Fase
Terminasi meliputi (1) Menanyakan perasaan pasien setelah merawat tanamannya (
dilakukan setiap hari sebelum dan sesudah kegiatan) (2) Memberikan evaluasi (3)
Memberikan reward atas pencapaiannya (4) Membuat kontrak untuk hari selanjutnya.
Dari kegiatan di atas diharapkan juga memperhatikan beberapa kriteria evaluasi seperti
(1) Pastikan selama interaksi, pasien tidak mengalami cedera (2) Tanyakan pada pasien
bagaimana perasaannya setelah melakukan kegiatan (3) Kaji tingkat depresi pasien
setelah melakukan kegiatan (4) Pantau perilaku maladaptif pasien setelah melakukan
kegiatan, misalnya pasien menjadi semakin murung dari sebelumnya (5) Pasien merasa
senang dan tenang setelah terapi dilakukan (6) Terapi yang dilakukan bisa optimal.
Depresi Pada lansia
Secara epidemologi, di negara barat depresi dapat dikatakan terdapat pada 1520 %
lanjut usia (Darmojo, 2000). Depresi merupakan problem kesehatan masyarakat yang
cukup serius. WHO menyatakan bahwa depresi berada pada urutan ke empat penyakit
dunia. Depresi mengenai sekitar 20% wanita dan 12% laki-laki dalam kehidupan
(Nurmiati, 2005) . Depresi digunakan dalam arti yang luas untuk menggambarkan
suatu sindrom yang mencakup kumpulan dari manifestasi fisiologis, afektif dan
kognitif. Depresi bisa berkisar pada tingkat keparahan dari gejala ringan sampai bentuk
yang ebih parah yang mencakup berfikir delusi, perhatian somatik yang berlebihan dan
keinginan bunuh diri sepanjang hidup. Depresi adalah gangguan kejiwaan yag paling
umum pada usia lanjut, tetapi sering salah didiagnosa dan diobati. Depresi yang tidak
diobati pada lansia memiliki dampak klinis dan sosial yang signifikan seperti
penurunan kualitas hidup individu dan meningkatkan ketergantungan pada orang lain
(Khaw, Teo & . K. Rashid, 2010). Van der cammed (1991) dalam Darmojo dan
Martono (2000 : 474) menjelaskan bahwa depresi bukan merupakan suatu keadaan
yang disebabkan oleh patologi tunggal, tetapi biasanya bersifat multifaktoral. Pada usia
lanjut, dimana stres lingkungan sering menyebabkan depresi dan kemampuan
beradaptasi sudah menurun, akibat depresi pada usia lanjut seringkali tidak sebaik pada
usia muda.
Resiko-resiko yang dapat ditimbulkan oleh depresi menurut Lubis (2009) adalah
sebagai berikut: 1) Bunuh diri, Depresi yang tidak ditangani dapat meningkatkan resiko
percobaan bunuh diri. Sangat sering bagi individu yang mengalami depresi memiliki
pikiran bunuh diri. Perasaan kesepian dan ketidakberdayaan adalah faktor yang sangat
besar bagi seseorang untuk melakukan bunuh diri. Lansia merupakan populasi yang
paling sering kesepian. Orang yang menderita depresi kadang-kadang merasa putus asa
sehingga mereka benar-benar mempertimbangkan membunuh diri sendiri; 2)
Gangguan tidur (Insomnia dan Hipersomnia), Siapa saja pernah mengalami susah tidur
dari waktu ke waktu, tetapi penderita depresi umumnya juga mengalami kondisi susah
tidur. Gangguan tidur dan depresi cenderung muncul bersamaan. Kesulitan tidur
dianggap sebagai gejala gangguan mood, setidaknya 80% dari penderita depresi
mengalami gangguan insomnia, atau kesulitan tidur. Hipersomnia adalah perasaan
mengantuk berlebihan. Hipersomnia adalah tanda untuk gangguan bipolar atau manik
depresi; 3) Gangguan dalam hubungan, Sebagai akibat dari depresi, seseorang
cenderung mudah tersinggung, sedih sehingga lebih banyak menjauhkan diri dari orang
lain atau dalam situasi lain menyalahkan orang lain, hal ini menebabkan hubungan
dengan orang lan menjadi kurang baik; 4) Gangguan dalam pekerjaan, Pengaruh
depresi sangat terasa dalam kehidupan pekerjaan seseorang. Depresi meningkatkan
kemungkinan untuk kehilangan pekerjaan dan pendapatan lebih rendah, hal ini
dikarenakan akibat performa dan masalah hubungan di tempat kerja; 5) Gangguan pola
makan, Pada orang yang menderita depresi terdapat dua kecenderungan umum
mengenai pola makan yang secara nyata mempengaruhi berat tubuh yaitu tidak selera
makan dan keinginan makanmakanan yang manis bertambah. Beberapa gangguan pola
makan yang diakibatkan oleh depresi adalah bulimia nervosa, anoreksia nervosa, dan
obesitas; 6) Perilaku-perilaku merusak, beberapa perilaku yang merusak yang
disebabkan oleh depresi adalah: (1) Agresivitas dan kekerasan, pada individu yang
terkena depresi perilaku yang ditimbulkan bukan hanya berbentuk kesedihan, namun
bisa juga dalam bentuk mudah tersinggung dan agresif. Perilaku agresif lebih
cenderung ditunjukkan oleh individu pria yang mengalami depresi. Hal ini kerena
pengaruh hormon. Jika pada wanita hormon yang berpengaruh adalah hormon estrogen
dan progesteron yang dapat mempengaruhi perilaku, sedangkan testosteron
mempengaruhi perilaku pria; (2) Penggunaan alkohol dan obat-obatan terlarang,
diketahui bahwa pengguanaan alkohol dan obat-obatan terlarang pada remaja selain
karena pengaruh teman, kelompok, motivasi dari diri individu untuk menggunakan
alkohol dan obat-obatan terlarang dapat disebabkan oleh keadaan depresi sebagai cara
untuk mencari pelepasan sementara keadaan yang tidak menyenangkan diri; (3)
Perilaku merokok, penelitian merupakan bahwa ada hubungan antara emosi negatif
yang ditimbulkan oleh depresi dengan frekuensi merokok. Seseorang yanng
mengalami depresi merokok lebih banyak dari biasanya. Telah diketahui bahwa
beberapa zat kimia dari rokok dapat meredakan stres untuk sementara waktu, sehingga
merokok bagi beberapa orang dianggap dapat menanggulangi stres.
Teori terapi lingkungan dalam model keperawatan
Konsep utama tentang terapi lingkungan dalam model keperawatan di kemukakan oleh
Florence Nightingale (1820). Konsep utamanya adalah pasien dipandang dalam
konteks lingkngan secara keseluruhan. Lingkungan dipandang sebagai segala kondisi
eksternal dan mempengaruhi kehidupan dan perkembangan organisme dan mempunyai
kemampuan untuk mencegah, menekan atau mendukung penyakit atau kematian.
Lingkungan terdiri dari lingkungan fisik, psikologis dan sosial. Tiga komponen
lingkungan tersebut dibutuhkan sebagai penghubung bukan pemisah, misalnya
kebersihan lingkungan fisik secara langsung dapat mendorong pencegahan penyakit
dan rata-rata kematian dalam lingkungan sosial pada kematian.
Menurut Nightingale komponen dasar lingkungan fisik dalam alam adalah
berhubungan dengan ventilasi dan suhu linkungan fisik merupakan faktor dasar yang
mempengaruhi semua aspek lingkungan. Kebersihan akan dapat mempengaruhi
keadaan pasien dimanapun berada, sehingga dnding dan seluruh ruangan haruslah
bebas debu, asap, dan bau-bauan dan tempat tidur harus bersih, dijemur, hangat, tidak
lembab, dan bebas dari bau. Lingkungan dibuat sedemikian rupa dengan tujuan agar
pasien mudah dirawat baik oleh petugas kesehatan maupun merawat diri sendiri.
Lingkungan psikologis dapat mempunyai efek terhadap tubuh. Apabila lingkungan
negatif maka dapat menyebabkan strss fisik dan mempengaruhi emosi klien. Sehingga
disarankan bagi pasien untuk tetap melakukan aktivitas dengan tujuan merangsang
pikiran atau emosi klien. Melakukan aktivitas manual dapat membantu klien untuk
hidup secara emosional atau berarti.
Berdasarkan observasi yang dilakukan pada 10 responden rata-rata usia pada lansia
adalah 72 tahun, sedangkan nilai tengah dari seluruh usia pada 10 lansia adalah 74.5
tahun.
SD pada karakteristik usia responden adalah 1.0121, dan usia minimal pada 10
responden adalah usia 60 tahun, sedangkan usia maksimal yang menjadi responden
adalah 85 tahun (Tabel 1). Usia dapat berpengaruh terhadap perubahan kemampuan
kognitif seseorang karena terjadi penurunan fungsi biologis system organ, sehingga
dari penurunan fungsi tersebut akan mengakibatkan lansia menderita penyakit tertentu,
dan dapat disimpulkan bahwa usia sangat berpengaruh terhadap perubahan status
kesehatan seseorang termasuk kesehatan mental dan psikologinya.
Usia sangat berpengaruh untuk penilaian status depresi, karena usia dapat
mempengaruhi pola pikir seseorang untuk dapat menyelesaikan masalah, usia tua akan
mempengaruhi persepsi seseorang terhadap dirinya. Semakin cukup umur, tingkat
kematangan dan kekuatan seseorang akan lebih matang dalam berfikir dan bekerja.
Dari segi kepercayaan masyarakat seseorang yang lebih dewasa akan lebih mudah
percaya diri dari orang yang belum cukup tinggi kedewasaannya, seharusnya semakin
matang usia seseorang semakin matang pula bagaimana pola pikir seseorang tersebut,
juga akan semakin konstruktif dalam menggunakan koping terhadap masalah yang
dihadapi. Depresi muncul pada siapa saja ketika seseorang tersebut mengalami sebuah
stressor yang tidak dapat dinetralisir oleh pribadi seseorang tersebut, termasuk pada
lansia. Menurut Nugroho (2008) peningkatan usia harapan hidup pada lansia tentunya
mempunyai dampak lebih banyak terhadap terjadinya gangguan penyakit pada lansia.
Dampak terbesar secara individu, karena pengaruh proses menua sering
mengakibatkan terjadi berbagai masalah baik secara fisik biologi, mental maupun yang
lain.
Berdasarkan karakteristik jenis kelamin, suku, riwayat pendidikan dan riwayat
pekerjaan subyek penelitian didapatkan hasil bahwa 7 responden berjenis kelamin
perempuan (70%), dan 3 responden berjenis kelamin Laki-laki (30%), Rata-rata
mereka bersuku Jawa sebanyak 70 % dan sisanya 30 % bersuku Madura, Sebanyak 4
responden (40%) mempunyai riwayat pendidikan Sekolah setara dengan Sekolah Dasar
(SD), 4 respoden (40%) yang lain tidak pernah mengenyam pendidikan, dan
masingmasing 1 responden (10%) pernah mengenyam pendidikan sampai setingkat
SLTA bahkan Perguruan Tinggi. Pada riwayat pekerjaan 3 responden (30%)
merupakan pensiunan, 3 responden (30 %) sebagai ibu rumah tangga, 1 responden (10
%) sebagai petani, 2 responden (20 %) wiraswasta dan tidak bekerja sebanyak 1
responden (Tabel 2).
Berdasarkan hasil observasi yang dilakukan pada 10 orang responden di Panti Wisma
Tresna Werdha Muhammadiyah Kota Probolinggo yang diberikan Quisioner yang
berupa pengukuran skala depresi Inventory Depression Beck ( IDB) sebelum diberikan
terapi lingkungan Plant Therapy, maka didapatkan hasil bahwa pengelompokkan
responden dengan depresi berbeda-beda seperti yang tersaji pada tabel 5.4 di atas yaitu
4 responden (40%) tidak mengalami depresi, 5 responden mengalami depresi ringan
(50%) dan sebanyak 1 responden (10%) mengalami depresi sedang (Tabel 3).
Berdasarkan hasil quisioner responden yang dilakukan pada 10 orang responden, maka
dapat dilihat pada tabel 3, bahwa skala depresi yang dialami oleh subyek penelitian
sebanyak 10 responden sesudah dilakukan terapi lingkungan plant therapy yaitu
subyek penelitian yang mengalami gejala depresi sedang sebelumnya sebanyak 1
responden menurun menjadi depresi ringan sehngga responden dengan depresi ringan
sebanyak 4 responden 40%, dan responden yang tidak mengalami gejala depresi
bertambah menjadi 6 responden 60%.
Tabel 1. Karakteristik Subyek Penelitian Berdasarkan Tingkat Usia Lansia Di Panti Wisma
Tresna Werdha Muhammadiyah Probolinggo (n = 10 )
Karakteristik Mean Median SD Min-Max
Usia Lansia 72 74.50 1.0121 60-85
Tabel 4. Perbandingan Perubahan Skala Depresi akibat Terapi Lingkungan Plant Therapy
(n = 10) Januari 2012
Variabel Mean Median Standar Deviasi Nilai Minimum Nilai Maximum
Sebelum Terapi 12,2 9 3,45 9 21
Sesudah Terapi 11,1 10 2,55 9 18
Kesimpulan
Dalam bab ini peneliti dapat mengambil beberapa kesimpulan. Mayoritas responden
berjenis kelamin perempuan 7 responden (70%), rata-rata berusia 72 tahun, dan
mayoritas tingkat pendidikan adalah setingkat
SD yaitu 4 responden (40%) dan tidak sekolah 4 responden (40%). Dari 10
responden didapatkan hasil sesudah dilakukan terapi responden yang tidak
mengalami depresi sebanyak 6 responden (60%) dan yang mengalami depresi
ringan 4 responden (40%). Faktor yang berpengaruh pada tingkat depresi pada
lansia yang berjenis kelamin wanita adalah factor stressor lingkungan sekitar lansia
yang tidak dapat dinetralisir oleh otak, dan karena seorang lansia wanita lebih
menggunakan perasaan daripada logika, sehinnga perasaan depresi dan tidak
nyaman dapat dengan mudah menumpuk.
Saran
Penelitian ini dapat digunakan sebagai masukan bagi petugas kesehatan, khususnya
bidang keperawatan dalam perannya sebagai educator dan konselor. Selain itu, perawat
juga bisa sebagai kolaborator dengan melakukan kolaborasi dengan tim lain yang
berkompeten di bidangnya masing-masing dan melakukan penelitian ulang terhadap
mengenai pengaruh terapi lingkungan plant therapy sebagai alternatif pengobatan non
farmakologis dengan sampel yang lebih memadai agar dapat diketahui secara jelas dan
signifikan hasil terapi tersebut apakah efektif terhadap tingkat depresi pada lansia.
Penelitian ini dapat digunakan sebagai bahan materi pengkajian ulang terhadap hasil
penelitian sebelumnnya pembinaan atau informasi sehingga dapat dijadikan salah satu
metode pembinaan dalam upaya perbaikan dan peningkatan status kesehatan dalam
kaitannya penurunan tingkat depresi terhadap penghuni Panti.
Diharapkan peneliti mampu mengembangkan hasil penelitiannya untuk kemajuan
bidang yang ditekuni, selain itu mampu menerapkan hasil penelitian yang telah
dilakukan, dan menguji ulang dengan jumlah sampel yang jauh memenuhi. Bagi
peneliti selanjutnya diharapkan lebih mampu untuk menerapkan dan lebih
mengembangkan hasil penelitian yang telah dilakuakn. Diharapkan juga bagi
penelitian selanjutnya dapat menggunakan populasi yang lebih besar dan menggunakan
jenis terapi lingkungan jenis lain dan menggunakan metode yang berbeda berbeda
untuk melihat keefektifitasan lebih lanjut.
DAFTAR PUSTAKA
Alimul, A. Aziz Hidayat. 2007. Metode penelitian keperawatan dan tehnik analisa
data. Jakarta. Salemba Medika.
Bramastyo, Wahyu. 2009. Psikopop remaja depresi no way. Jakarta. Penerbit Andi.
Budiarto, Eko. 2002. Biostatistika untuk kedoketeran dan kesehatan masyarakat.
Jakarta. EGC.
C.R Khaw, [Link], A.K Rashid. 2010. Cognitive impairment and depression among
resident of an elderly care home in penang, Malaysia. The Journal of Psychiatry.
2010 Volume 1 Number 1.
Darmajo, Boedi. 2000. Geriatri ( Ilmu Kesehatan Lanjut Usia). Edisi ke-2. Jakarta:
Balai penerbit FKUI.
Eliopoulous, Charlotte. 2005. Gerontological nursing sevent edition. http://
[Link]. Com/ Gerontologicalnursing-RCN-Charlote.
BAB III