0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
80 tayangan26 halaman

Terapi Lingkungan untuk Penyembuhan

Dokumen tersebut membahas tentang terapi lingkungan dengan menanam bunga pada pot. Terapi lingkungan adalah pengobatan pasien dengan gangguan jiwa melalui manipulasi lingkungan untuk mendukung penyembuhan. Peran perawat dalam terapi lingkungan antara lain menciptakan lingkungan yang aman dan nyaman, memfasilitasi sosialisasi, dan mengelola terapi lingkungan.

Diunggah oleh

Lisnasari Putri
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
80 tayangan26 halaman

Terapi Lingkungan untuk Penyembuhan

Dokumen tersebut membahas tentang terapi lingkungan dengan menanam bunga pada pot. Terapi lingkungan adalah pengobatan pasien dengan gangguan jiwa melalui manipulasi lingkungan untuk mendukung penyembuhan. Peran perawat dalam terapi lingkungan antara lain menciptakan lingkungan yang aman dan nyaman, memfasilitasi sosialisasi, dan mengelola terapi lingkungan.

Diunggah oleh

Lisnasari Putri
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

TERAPI LINGKUNGAN

MENANAM BUNGA PADA POT

Dosen: Imam Abidin, S. Kep., Ners


Disusun:
Kelas b Kecil

A. Helmi Kurniawan AK.1.16.001 Ismi Latifah Martin AK.1.16.026


Aaz Miraj Abdul Wahid AK.1.16.002 Lisna Widiyanti AK.1.16.031
Dalilatul Mufarihah A AK.1.16.010 Lisnasari AK.1.16.032
Dapid Arian AK.1.16.011 Mia Aminah AK.1.16.037
Elih Nurrul Hasanah AK.1.16.016 Siska Komariyah AK.1.16.048
Ghina Nur Maulida AK.1.16.022 Tirta Budiman AK.1.16.051
Hasa Amaniah AK.1.16.024 Triana AK.1.16.052

PROGRAM STUDI S1 KEPERAWATAN


SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN BHAKTI KENCANA
BANDUNG
2018
BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar belakang

B. Tujuan

C. Manfaat
BAB II
TINJAUAN TEORI

2.1 Konsep Terapi Lingkungan

2.1.1 Definisi
Terapi atau pengobatan merupakan cara proses penyembuhan
suatu gangguan yang disebabkan oleh sumber-sumber gangguan.
Sumber-sumber yang bersifat terapeutik (dapat memberikan
penyembuhan) dapat berupa orang-orang lingkungan atau benda-benda
dan kegiatan-kegiatan yang membawa penyembuhan. Terapi lingkungan
berasal dari bahasa Prancis yang artinya perencanaan ilmiah dari
lingkungan dengan tujuan yang bersifat terapeutik atau kegiatan yang
mendukung kesembuhan (Yosep, 2011).
Pengertian lainnya adalah tindakan dengan memanipulasi dan
memodifikasi unsur yang sudah ada pada lingkungan yang sangat
berpengaruh positif pada fisik dan psikis seseorang dan dapat
mendukung proses penyembuhan pada pasien (Kusumawati &Hartono,
2011).
Terapi lingkungan adalah suatu tindakan penyembuhan pasien
dengan gangguan jiwa melalui manipulasi unsur yang ada di lingkungan
dan berpengaruh terhadap penyembuhan pasien ganguan jiwa (Yosep,
2011). Terapi Lingkungan adalah tindakan penyembuhan pasien melalui
manipulasi dan modifikasi unsur-unsur yang ada pada lingkungan dan
berpengaruh positif terhadap fisik dan psikis individu serta mendukung
proses penyembuhan (Kusumawati & Yudi, 2011).
Lingkungan fisik dan psikologis merupakan suatu kondisi yang
memiliki pengaruh besar terhadap proses penyembuhan terutama pada
pasien gangguan mental. Secara teori diidentifikasikan bahwa sistem
lingkungan sendiri terdiri dari sistem internal dan sistem eksternal.
Sistem internal manusia terdiri atas jenis – jenis sub sistem yang meliputi
biological, psycological, sosiological, dan spiritual. Sedangkan
lingkungan eksternal meliputi ; sesuatu di luar batas internal seperti
udara, iklim, air, bangunan termasuk diantaranya hal yang tidak dapat
diraba seperti : sosial, budaya, politik, dan ekonomi (Yosep, 2011).
Terapi lingkungan dikembangkan oleh Sullivan (1892-1949)
tujuan terapi tersebut sebagai terbinanya hubungan interpersonal yang
memuaskan. Ahli terapi mengupayakan hubungan interpersonal korektif
untuk klien. Sullivan (1892-1949) mengungkapkan istilah pengamat
partisipan untuk peran ahli terapi, yang berarti bahwa ahli terapi
berpartisipasi dalam hubungan dan mengobservasi kemajuan hubungan.
Sullivan juga mengembangkan teori interpersonal dengan terapi
lingkungan (Videbeck, 2012).

2.1.2 Tujuan Terapi Lingkungan


Tujuan terapi lingkungan menurut Stuart ( 2007) adalah :
a. Meningkatkan pengalaman positif pasien khususnya yang mengalami
gangguan mental, dengan cara membantu individu dalam mengembangkan
harga diri
b. Meningkatkan kemampuan untuk berhubungan denagan orang lain
c. Menumbuhkan sikap percaya pada orang lain
d. Mempersiapkan diri kembali ke masyarakat,
Tujuan terapi lingkungan menurut Kusumawati &Hartono (2011)
yaitu :
a. Membantu Individu untuk mengembangkan rasa harga diri.
b. Mengembangkan kemampuan untuk berhubungan dengan orang lain
c. Membantu belajar mempercayai orang lain.
d. Mempersiapkan diri untuk kembali ke masyarakat.

2.1.3 Karakteristik Terapi Lingkungan


Untuk mencapai tujuan yang diharapkan, maka lingkungan harus
bersifat terapeutik yaitu mendorong terjadinya proses penyembuhan,
lingkungan tersebet memiliki karakteristik sebagai berikut, Yosep
(2011):
a. Pasien merasa akrab dengan lingkungan yang diharapkannya.
b. Pasien merasa senang / [Link] tidak merawsa takut dengan
lingkungannya.
c. Kebutuhan-kebutuhan fisik pasien mudah dipenuh.
d. Lingkungan rumah sakit/bangsal yang bersih.
e. Lingkungan menciptakan rasa aman dari terjadinya luka akibat impuls-
impuls pasien.
f. Personal dari lingkungan rumah sakit/bangsal menghargai pasien sebagai
individu yang memiliki hak, kebutuhan dan pendapat serta menerima perilaku
pasien sebagai respon adanya stress.
g. Lingkungan yang dapat mengurangi pembatasan-pembatasan atau
larangan dan memberikan kesempatan kepada pasien untuk
menentukan pilihannya dan membentuk perilaku yang baru.

Nightingale (dalam Yosep, 2011) terapi lingkungan harus memilki

karakteristik :

a. Memudahkan perhatian terhadap apa yang terjadi pada individu dan


kelompok selama 24 jam.
b. Adanya proses pertukaran informasi.
c. Pasien merasakan keakraban dengan lingkungan.
d. Pasien merasa senang, nyaman, aman, dan tidak meraswa takut
baik dari ancaman psikologis maupun ancaman fisik.
e. Penekanan pada sosialisasi dan interaksi kelompok dengan focus
komunikasi terapeutik.
f. Staf membagi tanggung jawab bersama pasien.
g. Personal dari lingkungan manghargai pasien sebagai individu yang
memiliki hak, kebutuhan, dan tanggung jawab.
h. Kebutuhan fisik pasien mudah terpenuhi.

2.1.4 Peran perawat dalam terapi lingkungan

Peran perawat dalam menyelenggarakan terapi lingkungan adalah


sebagai berikut, Yosep (2011) :
1. Pencipta lingkungan yang aman dan nyaman
a. perawat menciptakan dan mempertahankan iklim/suana yang
akrab, menyenangkan, saling menghargai di antara sesama
perawat, petugas kesehatan, dan pasien.
b. Perawat yang menciptakan suasana yang aman dari benda-
benda atau keadaan-keadaan yang menimbulkan terjadinya
kecelakaan/luka terhadap pasien atau perawat.
c. Menciptakan suasana yang nyaman, yaitu mengatur tatanan
ruangan dimana memungkinkan pasien betah, serta pasien dapat
menjalankan tugas sehari – hari sesuai dengan kebutuhannya.
d. Pasien diminta berpartisipasi melakukan kegiatan bagi dirinya
sendiri dan orang lain seperti yang biasa dilakukan di rumahnya.
Misalnya membereskan kamar.

2. Penyelenggaraan proses sosialisasi


a. Membantu pasien belajar berinteraksi dengan orang lain,
mempercayai orang lain sehingga meningkatkan harga diri dan
berguna bagi orang lain
b. Mendorong pasien untuk berkomunikasi tentang ide-ide,
perasaan dan perilakunya secara terbuka sesuai dengan aturan
di dalam kegiatan-kegiatan tertentu
c. Melalui sosialisasi pasien belajar tentang kegiatan-kegiatan atau
kemampuan yang baru, dan dapat dilakukannya sesuai dengan
kemampuan dan minatnya pada waktu yang luang.
3. Sebagai teknis perawatan
Fungsi perawat adalah memberikan/memenuhi kebutuhan dari
pasien, memberikan obat-obatan yang telah ditetapkan, mengamati
efek obat dan perilaku-perilaku yang menonjol / menyimpang serta
mengidentifikasi masalah-masalah yang timbul dalam terapi
tersebut.

4. Sebagai leader atau pengelola


Perawat harus mampu mengelola sehingga tercipta lingkungan
terapeutik yang mendukung penyembuhan dan memberikan dampak
baik secara fisik maupun secara psikologis kepada pasien.

2.1.5 Konsep dan Prinsip Terapi Lingkungan


Gundeson (dalam Yosep, 2011) mengatakan ada 5 variabel yaitu
keamanan, dukungan, validitas, struktur dan keterlibatan. Kemudian
gunderson menambahka 2 variabel yaitu komunikasi terbuka dan
lingkungan fisik.
a. Keamanan
Keamanan meliputi lingkungan yang aman, makanan, tempat
tinggal dan pelayanan yan aman yang meliputi kunnci pintu,ruang
isolasi dan pengikatan serta pelayanan yang di beikan tidak
menyakiti pasien.
b. Dukungan
Meliputi keterlibatan pasien,intervensi yang adekuat, memberi
semangat, perhatian, penghargaan, pendidikan, pengarahan dan
tehnik-tehnik lain yang dapat meningkatkan harga diri dan martabat
pasien.
c. Validasi
Pelayanan yang diberikan tetap memperhatikan individualistic dan
menghargai, toleransi dan martabat pasien. Perawat memberi waktu
pasien sendii,bicara empat mata dan memperhatikan tanda dan
gejala dengan komunikasi terbuka (Le-Cuyer,1992).
d. Struktur
Meliputi jadwal, peraturan, proses orientasi pasien baru, hubungan
kerja staf-staf dan staf-pasien, rapat-rapay rutin dan rapat kasus
pasien.
e. Keterlibatan
Pasien dilibatkan dalam proses pengambilan keputusan, kegiatan,
proses pengobatan. Pasien diajarkan untuk bernegosiasi dan
menyusun rencana.
f. Komunikasi terbuka
Tim kesehatan dan pasien saling memahami bahwa kejujuran,
keterbukaan dan juga selektif dalam memberikan informasi
sehingga kerahasiaan dan privacy pasien tetap terjaga.
g. Lingkungan Fisik
Lingkungan fisik harus mampu memberikan proses pemulihan,
psikoterapi, peningkatan harga dan nilai diri pasien, dan juga bisa
meningkatkan interaksi pasien dengan orang lain.

Lingkungan fisik meliputi :

a) Lingkungan fisik tetap


2.2 Analisis Jurnal

1. Hasil Pencarian Jurnal

Pencarian jurnal dilakukan secara online pada mesin pencarian


Google Scholar dengan menggunakan keyword “Terapi Lingkungan Plant
thrapy”.

Hasil pemcarian jurnal yang di dapat adalah 254 jurnal dan jurnal
yang diambil sebanyak 1 jurnal dengan kriteria inklusi dan ekslusi pencarian
jurnal yang diinginkan diantaranya: Kriteria Inklusi:

1. Jurnal yang dipublikasikan dalam rentang waktu Januari 2008 –


Desember 2018

2. Jurnal yang diambil adalah jurnal yang membahas terapi lingkungan


tentang bercocok tanam pada klien dengan gangguan jiwa.

3. Jurnal yang diambil adalah terapi Lingkungan untuk mengatasi atau


depresi pada lansia.

Kriteria Ekslusi:

1. Jurnal yang membahas terapi Terapi Lingkungan untuk mengatasi nyeri

2. Jurnal yang membahas terapi Terapi Lingkungan untuk meningkatkan


kualitas tidur

3. Jurnal yang membahas terapi Terapi Lingkungan untuk menurunkan


kecemasan

2. Analisa Jurnal
N Author & Publisher Aim Study Participants Methods Main
O Title Design Results
1. Rochmani - Menjel Preexperim Pasien Analisa Hasil
eka askan ental lansia yang data dalam penelitia
Design mengalami penelitian n
mardiyanti terjadin ya
dengan depresi. ini menunju
1
& yoyok penuru menggunak mengguna kan
bekti nan an kan uji terjadi
pendekatan Chi penuruna
praseyto. depresi Pretest- Square. n tingkat
Depresi pada posttest depresi
pada Usia pasien design (One pada
Lanjut: Group Pra lansia
Post Tes setelah
Implement
Design). dilakuka
asi Terapi n Plant
Lingkunga thrapy.
n di Panti
Werdha.

3. Kekurangan dan Kelebihan Jurnal

Kelebihan Kekurangan
Rochmani eka mardiyanti1 & - Terdapat SOP yang - Tidak disebutkan kriteria
yoyok bekti praseyto. digunakan kondisi fisik lansia yang
- Bersifat bisa dilakukan plant
Depresi pada Usia Lanjut:
preexperimental therapy
Implementasi Terapi design dengan
Lingkungan di Panti menggunakan
pendekatan post-tes
Werdha.
dan pre-tes
DEPRESI PADA USIA LANJUT: IMPLEMENTASI TERAPI
LINGKUNGAN DI PANTI WERDHA
Depression in Elderly: Milleu Therapy in “Panti Werdha”
Rochmani Eka Mardiyanti1 & Yoyok Bekti Praseyto2

1
Guru SMK jurusan Keperawatan di Probolinggo
Departemen Keperawatan Komunitas Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Muhammadiyah Malang

ABSTRAK

Terapi lingkungan merupakan salah satu bentuk upaya kuratif yang dapat
dilakukan untuk membantu proses penyembuhan penyakit karena lingkungan
berkaitan erat dengan stimulasi psikologis seseorang yang berdampak pada
kesembuhan seseorang. Plant therapy merupakan salah satu terapi penting untuk
menangani masalah klien dengan gangguan alam perasaan seperti depresi. Tujuan
penelitian ini mengidentifikasi dampak perubahan tingkat depresi usia lanjut
dengan terapi lingkungan. Desain yang digunakan adalah Pre Experiment dengan
metode pengambilan data pre dan post test one group, Kesimpulan penelitian ini
adalah bahwa terapi lingkungan plant therapy efektif terhadap tingkat depresi pada
usia lanjut di Panti Werdha.

Kata kunci: Terapi Lingkungan, Depresi, Usia Lanjut

ABSTRACT

Environmental Therapy is a form of curative efforts that can be done to help the healing
process of the disease because the environment is closely related to one’s psychological stimulation
that affects a person’s recovery. Plant therapy is one of the important therapy to deal with clients
with a feeling of natural disturbance such as depression. Purpose the studi is identify change of
deprresion level with Environmental therapy on the elderly. The research which is used is Pre-
experiment with pre and post test one group. Conclusions of this study is that environmental
therapeutics plant therapy is not effective against depression on the elderly in Werdha Nursing-
home.

Key word: environmental therapy, elderly


LATAR BELAKANG

Terapi lingkungan merupakan salah satu bentuk upaya kuratif yang dapat dilakukan
untuk membantu proses penyembuhan penyakit karena lingkungan berkaitan erat
dengan stimulasi psikologis seseorang yang berdampak pada kesembuhan seseorang,
lingkungan tersebut akan memberikan dampak yang baik pada kondisi fisik maupun
kondisi psikologis seseorang. Salah satu jenis kegiatan terapi lingkungan untuk pasien
dengan depresi yaitu Plant therapy di mana tujuan dari terapi ini mengajarkan pasien
untuk memelihara segala sesuatu/makhluk hidup, dan membantu hubungan yang akrab
antara satu pribadi dengan pribadi yang lainnya ( Yosep, 2009). Plant therapy
merupakan salah satu terapi penting untuk menangani masalah klien dengan gangguan
alam perasaan seperti depresi. Depresi merupakan salah satu bentuk gangguan pada
alam perasaan (afektif, mood) yang ditandai kemurungan, kesedihan, kelesuan,
kehilangan gairah hidup, tidak ada semangat, dan merasa tidak berdaya, perasaan
bersalah atau berdosa, tidak berguna dan putus asa sehingga menimbulkan rasa/ide
bunuh diri (suicide) atau perilaku bunuh diri, sebanyak 40 % penderita depresi
mempunyai ide untuk bunuh diri, dan hanya lebih kurang 15% saja yang sukses
melakukannya (Yosep, 2009).
Usia lanjut yang mengalami depresi membutuhkan terapi tambahan yang bersifat
komprehensif, holistik, dan multidisipliner dengan mengupayakan optimalisasi aspek
lingkungan melalui penerapan konsep psikologi lingkungan, karena lingkungan secara
umum akan berkaitan erat dengan tujuan keperawatan dan menyangkut status
kesehatan seseorang, maka salah satu terapi yang mulai dan akan diperkenalkan yaitu
adalah terapi lingkungan yang merupakan suatu tindakan penyembuhan pasien dengan
depresi melalui manipulasi unsur yang ada di lingkungan dan terpengaruh terhadap
proses penyembuhan, hal ini sesuai dengan teori keperawatan yang dikemukan oleh
Florence Nightingale dalam Fundamental keperawatan (Kozier 2007) bahwa konsep
utama dalam model keperawatannya adalah pasien dipandang dalam konteks
lingkungan secara keseluruhan. Lingkungan dipandang sebagai segala kondisi
eksternal dan mempengaruhi kehidupan dan perkembangan organisme dan mempunyai
kemampuan untuk mencegah, menekan atau mendukung penyakit atau kematian.
Lingkungan fisik (ventilasi, suhu, bau, kebisingan dan cahaya) merupakan faktor dasar
yang mempengaruhi keadaan pasien dimanapun berada.
Penggunaan lingkungan tersebut untuk tujuan terapeutik, sehingga setiap interaksi
dengan pasien dipandang dapat memberikan hasil yang menguntungkan dalam
meningkatkan fungsi yang optimal, hal ini sesuai dengan hasil penelitian Bloom yang
menyatakan bahwa 60 % faktor yang menentukan status kesehatan seseorang adalah
kondisi lingkungannya, karena lingkungan tersebut akan memberikan dampak yang
baik pada kondisi fisik maupun kondisi psikologis seseorang. Yosep (2009)
mengatalam bahwa di RSHS menunjukkan bahwa terdapat pengaruh yang kuat antara
terapi lingkungan yang dimodifikasi dengan kemampuan adaptasi pada pasien selama
perawatan menyebabkan rata-rata hari perawatan menjadi menurun. Lingkungan
tersebut akan berpengaruh pula pada proses perawatan di rumah sakit ataupun di panti
tempat lansia tinggal, hal ini pada akhirnya akan menentukan keberhasilan perawatan
dan pengobatan, dimana suatu pengharapan yang cukup besar untuk meminimalkan
depresi yang terjadi pada pasien secara simultan, dari depresi tingkat berat menjadi
sedang, depresi sedang menjadi ringan dan ringan menjadi mampu mengendalikan
faktorfaktor yang dapat memicu terjadinya depresi dan pada akhirnya depresi dapat
dihilangkan secara parsial atau menyeluruh.

Konsep Terapi Lingkungan

Terapi Lingkungan adalah sebuah perencanaan lingkungan perawatan dimana kejadian


dan interaksi setiap hari dirancang secara terapeutik dengan tujuan meningkatkan
keterampilan sosial dan membangun rasa percaya diri pasien. Sedangkan menurut
Wilson (1992) Milieu Therapy adalah penggunaan lingkungan untuk tujuan terapeutik.
Setiap interaksi dengan pasien dipandang dapat memberikan hasil yang
menguntungkan dalam meningkatkan fungsi yang optimal. Pengertian lainnya adalah
tindakan penyembuhan pasien melalui manipulasi dan modifikasi unsur-unsur yang
ada pada lingkungan dan berpengaruh positif terhadap fisik dan psikis individu serta
mendukung proses penyembuhan. Terapi lingkungan ini dilakukan disesuaikan dengan
situasi dan kondisi pasien. Terapi ini tidak akan diberikan apabila akan semakin
memperburuk kondisi kesehatan pasien. Yosep (2009) menyatakan bahwa untuk
mencapai tujuan yang diharapkan, maka lingkungan harus bersifat terapeutik yaitu
mendorong terjadinya proses penyembuhan, lingkungan tersebut harus memiliki
karakteristik yaitu sebagai berikut (a) Pasien merasa akrab dengan lingkungan yang
diharapkannya (b) Pasien merasa senang/ nyaman dan tidak merasa takut
dilingkungannya (c) Kebutuhan fisik pasien terpenuhi (d) Lingkungan rumah
sakit/bangsal yang bersih (e) Lingkungan menciptakan rasa aman dari terjadinya luka
akibat impuls-impuls pasien (f) Personal dari lingkungan rumah sakit/bangsal
menghargai pasien sebagai individu yang memiliki hak, kebutuhan dan pendapat serta
menerima perilaku pasien sebagai respon adanya stress.

Komponen Yang Harus Diperhatikan Dalam Terapi Lingkungan

Beberapa komponen yang harus diperhatikan dalam terapi lingkungan antara lain 1).
Fisik yang terkait dengan desain dan renovasi, 2). Intelektual yaitu aspek intelektual
dari lingkungan yang meliputi warna, sinar, suara,suhu, bau, dan rasa, 3). Komponen
Sosial yang meliputi peran serta pasien dengan pola komunikasinya serta perbandingan
antara pasien dengan staf, 4).Emosional yaitu suatu keadaan atau kondisi psikis
seseorang yang akan turut berpengaruh dan saling dipengaruhi oleh faktor fisik, sosial
dan intelektual misalnya seorang pasien dengan kondisi psikisnya dalam keadaan
senang, santai, mampu bekerjasama dengan baik, dan di dukung oleh peran seorang
terapis yang tidak defensive, empati dan mampu menciptakan keamanan.

Jenis-Jenis Terapi Lingkungan

Yosep (2009) menyatakan terdapat beberapa jenis kegiatan yang berhubungan dengan
terapi lingkungan yaitu di antaranya (1) Terapi rekreasi yaitu terapi yang menggunakan
salah satu kegiatan yang dilakukan pada waktu luang, dengan tujuan pasien dapat
melakukan kegiatan secara konsturktif dan menyenangkan serta mengembangkan
kemampuan hubungan sosial (2) Terapi Kreasi seni dalam terapi ini perawat sebagai
leader atau bekerja sama dengan orang lain yang ahli dalam bidangnya karena harus
sesuai dengan bakat dan minat, di antaranya adalah (a) Dance terapi/menari yaitu suatu
terapi yang menggunakan bentuk ekspresi non verbal dengan menggunakan gerakan
tubuh dimana mengkomunkasikan tentang perasaan-perasaan dan kebutuhan (b) Terapi
musik, Terapi ini dilakukan melalui musik. Dengan musik memberikan kesempatan
kepada pasien untuk mengekspresikan perasaan-perasaannya seperti marah, sedih, dan
kesepian. Pelaksanaan terapi ini dapat dilakukan bersama (berkelompok) atau
individual (c) Terapi melukis, dengan menggambar atau melukis akan memberikan
kesempatan kepada dirinya untuk mengekspresikan perasaan, selain itu juga akan
menurunkan ketegangan dan memustkan pikiran pada kegiatan. Kegiatan ini dapat
dilakukan secara individu atau berkelompok (d) Bibliotherapy/ terapi membaca, terapi
dengan kegiatan membaca seperti novel, majalah, dan kemudian mendiskusikan di
antara pasien tentang pendapatnya terhadap topik yang dibaca. Terapi ini bertujuan
untuk mengembangkan wawasan diri dan bagaimana mengekspresikan perasaan/
pikiran dan perilaku yang sesuai dengan norma yang ada. (3) Pettherapy, terapi ini
bertujuan untuk menstimulasi respon pasien yang tidak mampu mengadakan hubungan
interaksi dengan orang-orang dan pasien biasanya merasa kesepian, menyendiri.
Sarana yang dipergunakan dalam terapi ini adalah binatang-binatang dimana dapat
memberikan respon menyenangkan kepada pasien. (4) Planttherapy, terapi ini
bertujuan untuk mengajar pasien untuk memelihara segala sesuatu/makhluk hidup, dan
membantu hubungan yang akrab antara satu pribadi kepada pribadi lainnya. Kegiatan
ini mempergunakan tanaman/tumbuhan sebagai objek dalam mencapai tujuan terapi.
Menanam tumbuhan mulai dari biji sampai menjadi bunga atau buah dan pasien
diperbolehkan untuk memetiknya.

Standart Operating Prosedur (SOP) Terapi Lingkungan ’Plant therapy’

Pada prosedur kerja beberapa hal yang harus diperhatikan dan dipersiapkan yaitu
Persiapan alat dan Lingkungan serta persiapan pasien. Persiapan alat dan lingkungan
terdiri dari (1) Bibit tanaman (2) Peralatan bercocok tanam sederhana (3) Lahan yang
bisa di olah dan dimanfaatkan, Sedangkan Persiapan Pasien meliputi (1) Memilih
pasien sesuai dengan indikasi dan tidak sedang masa perawatan karena penyakit
tertentu (2) Membuat kontrak dengan pasien tersebut (3) Menandatangani lembar
persetujuan untuk mengikuti terapi.
Pada prosedur kerja terdapat fase-fase yang harus dilakukan (a) Fase Orientasi (b) fase
Kerja dan (c) fase terminasi. Fase orientasi meliputi (1) Membina Hubungan Saling
Percaya dengan pasien dengan mengucapkan salam terapeutik dan memperkenalkan
diri (2) Memberikan motivasi kepada pasien yaitu terapis dapat memberikan kegiatan
pendahuluan yang dapat memotivasi peserta untuk terlibat secara aktif dalam kegiatan
terapi. Fase Kerja meliputi (1) Menjelaskan tujuan, manfaat, dan prosedur lembar
persetujuan untuk mengikuti terapi (2) Menjelaskan kepada pasien waktu berkebun,
pagi/sore hari selama 30 menit tiap harinya (3) Tanyakan apakah pasien sudah siap
untuk mengikuti terapi yang sebenarnya (4) Menjelaskan prosedur pelaksanaan dengan
benar seperti (a) Pasien dijelaskan bagaimana mengolah tanah sebelum di beri tanaman
(b) Pasien dijelaskan bagaimana menanam biji-bijian (c) Pasien dijelaskan setelah biji
tumbuh, hal apa saja yang harus dilakukan untuk menjaga agar tetap subur, menyiram,
menyiangi, memberikan pupuk dan lain-lain (prosedur merawat tanaman) (d) Pasien
dijelaskan agar memperhatikan pertumbuhan dan perkembangan tanamannya setiap
hari. (5) Dampingi pasien saat memulai terapi dan bantu sampai bisa melakukan terapi
lingkungan plant therapy (6) Menjelaskan kepada pasien bahwa akan dilakukan
penilaian terhadap peserta yang mampu merawat tanamannya dengan baik. Fase
Terminasi meliputi (1) Menanyakan perasaan pasien setelah merawat tanamannya (
dilakukan setiap hari sebelum dan sesudah kegiatan) (2) Memberikan evaluasi (3)
Memberikan reward atas pencapaiannya (4) Membuat kontrak untuk hari selanjutnya.
Dari kegiatan di atas diharapkan juga memperhatikan beberapa kriteria evaluasi seperti
(1) Pastikan selama interaksi, pasien tidak mengalami cedera (2) Tanyakan pada pasien
bagaimana perasaannya setelah melakukan kegiatan (3) Kaji tingkat depresi pasien
setelah melakukan kegiatan (4) Pantau perilaku maladaptif pasien setelah melakukan
kegiatan, misalnya pasien menjadi semakin murung dari sebelumnya (5) Pasien merasa
senang dan tenang setelah terapi dilakukan (6) Terapi yang dilakukan bisa optimal.
Depresi Pada lansia

Secara epidemologi, di negara barat depresi dapat dikatakan terdapat pada 1520 %
lanjut usia (Darmojo, 2000). Depresi merupakan problem kesehatan masyarakat yang
cukup serius. WHO menyatakan bahwa depresi berada pada urutan ke empat penyakit
dunia. Depresi mengenai sekitar 20% wanita dan 12% laki-laki dalam kehidupan
(Nurmiati, 2005) . Depresi digunakan dalam arti yang luas untuk menggambarkan
suatu sindrom yang mencakup kumpulan dari manifestasi fisiologis, afektif dan
kognitif. Depresi bisa berkisar pada tingkat keparahan dari gejala ringan sampai bentuk
yang ebih parah yang mencakup berfikir delusi, perhatian somatik yang berlebihan dan
keinginan bunuh diri sepanjang hidup. Depresi adalah gangguan kejiwaan yag paling
umum pada usia lanjut, tetapi sering salah didiagnosa dan diobati. Depresi yang tidak
diobati pada lansia memiliki dampak klinis dan sosial yang signifikan seperti
penurunan kualitas hidup individu dan meningkatkan ketergantungan pada orang lain
(Khaw, Teo & . K. Rashid, 2010). Van der cammed (1991) dalam Darmojo dan
Martono (2000 : 474) menjelaskan bahwa depresi bukan merupakan suatu keadaan
yang disebabkan oleh patologi tunggal, tetapi biasanya bersifat multifaktoral. Pada usia
lanjut, dimana stres lingkungan sering menyebabkan depresi dan kemampuan
beradaptasi sudah menurun, akibat depresi pada usia lanjut seringkali tidak sebaik pada
usia muda.

Resiko yang Ditimbulkan oleh Depresi

Resiko-resiko yang dapat ditimbulkan oleh depresi menurut Lubis (2009) adalah
sebagai berikut: 1) Bunuh diri, Depresi yang tidak ditangani dapat meningkatkan resiko
percobaan bunuh diri. Sangat sering bagi individu yang mengalami depresi memiliki
pikiran bunuh diri. Perasaan kesepian dan ketidakberdayaan adalah faktor yang sangat
besar bagi seseorang untuk melakukan bunuh diri. Lansia merupakan populasi yang
paling sering kesepian. Orang yang menderita depresi kadang-kadang merasa putus asa
sehingga mereka benar-benar mempertimbangkan membunuh diri sendiri; 2)
Gangguan tidur (Insomnia dan Hipersomnia), Siapa saja pernah mengalami susah tidur
dari waktu ke waktu, tetapi penderita depresi umumnya juga mengalami kondisi susah
tidur. Gangguan tidur dan depresi cenderung muncul bersamaan. Kesulitan tidur
dianggap sebagai gejala gangguan mood, setidaknya 80% dari penderita depresi
mengalami gangguan insomnia, atau kesulitan tidur. Hipersomnia adalah perasaan
mengantuk berlebihan. Hipersomnia adalah tanda untuk gangguan bipolar atau manik
depresi; 3) Gangguan dalam hubungan, Sebagai akibat dari depresi, seseorang
cenderung mudah tersinggung, sedih sehingga lebih banyak menjauhkan diri dari orang
lain atau dalam situasi lain menyalahkan orang lain, hal ini menebabkan hubungan
dengan orang lan menjadi kurang baik; 4) Gangguan dalam pekerjaan, Pengaruh
depresi sangat terasa dalam kehidupan pekerjaan seseorang. Depresi meningkatkan
kemungkinan untuk kehilangan pekerjaan dan pendapatan lebih rendah, hal ini
dikarenakan akibat performa dan masalah hubungan di tempat kerja; 5) Gangguan pola
makan, Pada orang yang menderita depresi terdapat dua kecenderungan umum
mengenai pola makan yang secara nyata mempengaruhi berat tubuh yaitu tidak selera
makan dan keinginan makanmakanan yang manis bertambah. Beberapa gangguan pola
makan yang diakibatkan oleh depresi adalah bulimia nervosa, anoreksia nervosa, dan
obesitas; 6) Perilaku-perilaku merusak, beberapa perilaku yang merusak yang
disebabkan oleh depresi adalah: (1) Agresivitas dan kekerasan, pada individu yang
terkena depresi perilaku yang ditimbulkan bukan hanya berbentuk kesedihan, namun
bisa juga dalam bentuk mudah tersinggung dan agresif. Perilaku agresif lebih
cenderung ditunjukkan oleh individu pria yang mengalami depresi. Hal ini kerena
pengaruh hormon. Jika pada wanita hormon yang berpengaruh adalah hormon estrogen
dan progesteron yang dapat mempengaruhi perilaku, sedangkan testosteron
mempengaruhi perilaku pria; (2) Penggunaan alkohol dan obat-obatan terlarang,
diketahui bahwa pengguanaan alkohol dan obat-obatan terlarang pada remaja selain
karena pengaruh teman, kelompok, motivasi dari diri individu untuk menggunakan
alkohol dan obat-obatan terlarang dapat disebabkan oleh keadaan depresi sebagai cara
untuk mencari pelepasan sementara keadaan yang tidak menyenangkan diri; (3)
Perilaku merokok, penelitian merupakan bahwa ada hubungan antara emosi negatif
yang ditimbulkan oleh depresi dengan frekuensi merokok. Seseorang yanng
mengalami depresi merokok lebih banyak dari biasanya. Telah diketahui bahwa
beberapa zat kimia dari rokok dapat meredakan stres untuk sementara waktu, sehingga
merokok bagi beberapa orang dianggap dapat menanggulangi stres.
Teori terapi lingkungan dalam model keperawatan

Konsep utama tentang terapi lingkungan dalam model keperawatan di kemukakan oleh
Florence Nightingale (1820). Konsep utamanya adalah pasien dipandang dalam
konteks lingkngan secara keseluruhan. Lingkungan dipandang sebagai segala kondisi
eksternal dan mempengaruhi kehidupan dan perkembangan organisme dan mempunyai
kemampuan untuk mencegah, menekan atau mendukung penyakit atau kematian.
Lingkungan terdiri dari lingkungan fisik, psikologis dan sosial. Tiga komponen
lingkungan tersebut dibutuhkan sebagai penghubung bukan pemisah, misalnya
kebersihan lingkungan fisik secara langsung dapat mendorong pencegahan penyakit
dan rata-rata kematian dalam lingkungan sosial pada kematian.
Menurut Nightingale komponen dasar lingkungan fisik dalam alam adalah
berhubungan dengan ventilasi dan suhu linkungan fisik merupakan faktor dasar yang
mempengaruhi semua aspek lingkungan. Kebersihan akan dapat mempengaruhi
keadaan pasien dimanapun berada, sehingga dnding dan seluruh ruangan haruslah
bebas debu, asap, dan bau-bauan dan tempat tidur harus bersih, dijemur, hangat, tidak
lembab, dan bebas dari bau. Lingkungan dibuat sedemikian rupa dengan tujuan agar
pasien mudah dirawat baik oleh petugas kesehatan maupun merawat diri sendiri.
Lingkungan psikologis dapat mempunyai efek terhadap tubuh. Apabila lingkungan
negatif maka dapat menyebabkan strss fisik dan mempengaruhi emosi klien. Sehingga
disarankan bagi pasien untuk tetap melakukan aktivitas dengan tujuan merangsang
pikiran atau emosi klien. Melakukan aktivitas manual dapat membantu klien untuk
hidup secara emosional atau berarti.

Pengaruh Plant therapy terhadap depresi pada lansia


Plant therapy telah menjadi bagian penting dari perawatan pasien karena dapat
meningkatkan kesehatan tubuh, pikiran dan semangat serta kualitas hidup. Plant
therapy sangat erat dengan terapi lingkungan karena memang pada terapi ini
memanipulasi atau memodifikasi unsur yang ada di lingkungan. Plant therapy adalah
therapy yang unik karena therapy ini membuat pasien berhubungan dengan makhluk
hidup yaitu tumbuh-tumbuhan yang memerlukan perawatan yang tidak boleh
diskriminatif. Plant therapy memberikan keuntungan bagi empat area dasar yaitu
kognitif, sosial, perkembangan psikologis dan fisik (Friends Hospital, 2005). Plant
therapy akan mempengaruhi pusat emosi seseorang yang berada di otak karena dapat
menimbulkan perasaan tenang dalam situasi keakraban dengan lingkungan. Terapi ini
akan menekan dan mengurangi stressor yang dialami oleh pasien karena terdapat
perasaan senang, gembira, sehingga hormon Hipothalamic Pituitary Adrenal (HPA)
akan menurun dan tidak akan mempengaruhi peningkatan kadar glukokortikoid yang
mampu menghentikan siklus sel sehingga volume hipokampus tetap dan kemampuan
kontrol emosi dan konsentrasi tentunya tidak akan terganggu.
Diharapkan dengan diberikannya terapi lingkungan ’plant therapy’ dapat mengurangi
tingkat depresi pada lansia dengan depresi sehingga status kesehatan mental lansia
dapat mengalami perubahan, hal ini sesuai dengan teori model keperawatan yang
dikemukakan oleh Floerence Nightingale dalam Fundamental keperawatan (Kozier
2007) bahwa konsep utama dalam model keperawatannya adalah pasien dipandang
dalam konteks lingkungan secara keseluruhan. Lingkungan dipandang sebagai segala
kondisi eksternal dan mempengaruhi kehidupan dan perkembangan organisme dan
mempunyai kemampuan untuk mencegah, menekan atau mendukung penyakit atau
kematian. Lingkungan fisik (ventilasi, suhu, bau, kebisingan dan cahaya) merupakan
faktor dasar yang mempengaruhi keadaan pasien dimanapun berada, selain itu
ditunjang dengan adanya hasil penelitian Suryani (1999) di RSHS menunjukkan bahwa
terdapat pengaruh yang kuat antara terapi lingkungan yang dimodifikasi dengan
kemampuan adaptasi pada pasien selama perawatan menyebabkan rata-rata hari
perawatan menjadi menurun. Perubahan yang dapat diamati dan dialami oleh lansia
khususnya dengan gangguan alam perasaan depresi yaitu adanya perubahan pada: 1)
Kognitif, keuntungan kognitif yaitu mempelajari kemampuan dan bahasa baru. Melalui
plant therapy pasien dapat meningkatkan kemampuan membuat keputusan dan
memecahkan masalah, disamping kemampuan untuk mempelajari instruksi yang
kompleks. Klien mampu bekerja secara mandiri sehingga dapat meningkatkan
kewaspadaan terhadap lingkungan di sekitar mereka; 2) Sosial, plant therapy membuat
pasien bekerja di dalam kelompok dengan cara berbagi, berinteraksi dan berkompromi
untuk bekerja sama dalam mencapai tujuan. Berinteraksi sosial di dalam kelompok
membantu pasien lebih baik; 3) Perkembangan Psikologis, perkembangan psikologis
termasuk peningkatan harga diri dan percaya diri. Bekerja dengan tanaman membuat
pasien merasakan rasa tanggung jawab. Mengetahui mereka bertanggung jawab untuk
memelihara dan merawat tumbuhan hidup membuat pasien merasa lebih produktif dan
merasa termotivasi. Klien merasa tenang dan menjadi lebih terbuka untuk berbicara
mengenai masalah meraka; 4) Peningkatan Fisik , peningkatan fisik terjadi karena
pasien bekerja pada udara segar, menggerakkan tubuh dan beradaptsi terhadap
perubahan fisik dan lingkungan. Plant Therapy dapat melatih otot dengan merangsang
perkembangan motorik kasar dan motorik halus untuk membantu klien memperoleh
rasa terhadap warna, tekstur, bentuk dan penciuman. Perawat dapat menggunakan
tanaman dan tumbuhan.
METODE

Penelitian ini bersifat Preexperimental Design dengan menggunakan pendekatan


Pretest-posttest design (One Group Pra Post Tes Design). Dalam penelitian ini
sebelum diberikan perlakuan yaitu berupa Terapi Lingkungan ‘Plant therapy’ maka
pasien dengan depresi diberikan pretest berupa pengukuran skala depresi untuk
mengetahui skala depresi yang di alami lansia tersebut, kemudian dilakukan terapi,
setelah itu dilakukan pengamatan (posttest) atau pengukuran setelah diberikan
perlakuan berupa terapi lingkungan ‘plant therapy’. Populasi dalam penelitian ini
adalah semua pasien lansia yang mengalami depresi berdasarkan keadaan klinis
sebanyak 15 orang. Penentuan jumlah sampel yang akan diambil pada penelitian ini
yaitu sejumlah 10 orang karena peneliti menggunakan teknik sampling purposive
sampling. total populasi 15 orang, tetapi karena kondisi kesehatan yang tidak
memungkinkan hanya 10 orang saja yang sesuai dan memenuhi kriteria sampel.
Variabel independent penelitian ini adalah Terapi Lingkungan sedangkan variabel
dependent adalah penurunan skala depresi. Instrumen untuk mengukur depresi usia
lanjut digunakan Mini-Mental State Exam (MMSE) untuk menguji aspek kognitif
dari fungsi mental terlebih dahulu setelah itu diukur dengan skala depresi Inventory
Depression Beck ( IDB). Analisa data dalam penelitian ini menggunakan uji Chi
Square.
HASIL DAN PEMBAHASAN

Karakteristik Subyek Penelitian

Berdasarkan observasi yang dilakukan pada 10 responden rata-rata usia pada lansia
adalah 72 tahun, sedangkan nilai tengah dari seluruh usia pada 10 lansia adalah 74.5
tahun.
SD pada karakteristik usia responden adalah 1.0121, dan usia minimal pada 10
responden adalah usia 60 tahun, sedangkan usia maksimal yang menjadi responden
adalah 85 tahun (Tabel 1). Usia dapat berpengaruh terhadap perubahan kemampuan
kognitif seseorang karena terjadi penurunan fungsi biologis system organ, sehingga
dari penurunan fungsi tersebut akan mengakibatkan lansia menderita penyakit tertentu,
dan dapat disimpulkan bahwa usia sangat berpengaruh terhadap perubahan status
kesehatan seseorang termasuk kesehatan mental dan psikologinya.
Usia sangat berpengaruh untuk penilaian status depresi, karena usia dapat
mempengaruhi pola pikir seseorang untuk dapat menyelesaikan masalah, usia tua akan
mempengaruhi persepsi seseorang terhadap dirinya. Semakin cukup umur, tingkat
kematangan dan kekuatan seseorang akan lebih matang dalam berfikir dan bekerja.
Dari segi kepercayaan masyarakat seseorang yang lebih dewasa akan lebih mudah
percaya diri dari orang yang belum cukup tinggi kedewasaannya, seharusnya semakin
matang usia seseorang semakin matang pula bagaimana pola pikir seseorang tersebut,
juga akan semakin konstruktif dalam menggunakan koping terhadap masalah yang
dihadapi. Depresi muncul pada siapa saja ketika seseorang tersebut mengalami sebuah
stressor yang tidak dapat dinetralisir oleh pribadi seseorang tersebut, termasuk pada
lansia. Menurut Nugroho (2008) peningkatan usia harapan hidup pada lansia tentunya
mempunyai dampak lebih banyak terhadap terjadinya gangguan penyakit pada lansia.
Dampak terbesar secara individu, karena pengaruh proses menua sering
mengakibatkan terjadi berbagai masalah baik secara fisik biologi, mental maupun yang
lain.
Berdasarkan karakteristik jenis kelamin, suku, riwayat pendidikan dan riwayat
pekerjaan subyek penelitian didapatkan hasil bahwa 7 responden berjenis kelamin
perempuan (70%), dan 3 responden berjenis kelamin Laki-laki (30%), Rata-rata
mereka bersuku Jawa sebanyak 70 % dan sisanya 30 % bersuku Madura, Sebanyak 4
responden (40%) mempunyai riwayat pendidikan Sekolah setara dengan Sekolah Dasar
(SD), 4 respoden (40%) yang lain tidak pernah mengenyam pendidikan, dan
masingmasing 1 responden (10%) pernah mengenyam pendidikan sampai setingkat
SLTA bahkan Perguruan Tinggi. Pada riwayat pekerjaan 3 responden (30%)
merupakan pensiunan, 3 responden (30 %) sebagai ibu rumah tangga, 1 responden (10
%) sebagai petani, 2 responden (20 %) wiraswasta dan tidak bekerja sebanyak 1
responden (Tabel 2).

Tingkat Depresi Pada Lansia Sebelum sesudah Dilakukan Terapi Lingkungan


Plant Therapy

Berdasarkan hasil observasi yang dilakukan pada 10 orang responden di Panti Wisma
Tresna Werdha Muhammadiyah Kota Probolinggo yang diberikan Quisioner yang
berupa pengukuran skala depresi Inventory Depression Beck ( IDB) sebelum diberikan
terapi lingkungan Plant Therapy, maka didapatkan hasil bahwa pengelompokkan
responden dengan depresi berbeda-beda seperti yang tersaji pada tabel 5.4 di atas yaitu
4 responden (40%) tidak mengalami depresi, 5 responden mengalami depresi ringan
(50%) dan sebanyak 1 responden (10%) mengalami depresi sedang (Tabel 3).
Berdasarkan hasil quisioner responden yang dilakukan pada 10 orang responden, maka
dapat dilihat pada tabel 3, bahwa skala depresi yang dialami oleh subyek penelitian
sebanyak 10 responden sesudah dilakukan terapi lingkungan plant therapy yaitu
subyek penelitian yang mengalami gejala depresi sedang sebelumnya sebanyak 1
responden menurun menjadi depresi ringan sehngga responden dengan depresi ringan
sebanyak 4 responden 40%, dan responden yang tidak mengalami gejala depresi
bertambah menjadi 6 responden 60%.
Tabel 1. Karakteristik Subyek Penelitian Berdasarkan Tingkat Usia Lansia Di Panti Wisma
Tresna Werdha Muhammadiyah Probolinggo (n = 10 )
Karakteristik Mean Median SD Min-Max
Usia Lansia 72 74.50 1.0121 60-85

Tabel 2. Karakteristik Subyek Penelitian Berdasarkan jenis Kelamin, suku, Riwayat


Pendidikan dan Riwayat Pekerjaan lansia Di Panti Wisma Tresna Werdha
Muhammadiyah Probolinggo ( n = 10) Januari 2012
No Karakteristik Jumlah Prosentase
1. Jenis Kelamin :
Laki-laki 3 30 %
Perempuan 7 70 %
Suku :
2. Jawa
Madura 7 70 %
Riwayat Pendidikan : 3 30 %
3. SR/SD
SLTA/MA 4 40 %
Perguruan Tinggi 1 10 %
Tidak Sekolah 1 10 %
Riwayat Pekerjaan : 4 40 %
Tani
4. Wiraswasta 1 10 %
Pensiunan / Purnawirawan 2 20 %
Ibu Rumah Tangga 3 30 %
Lain-lain 3 30 %
1 10 %
Tabel 3. Skala Depresi Sebelum-Sesudah Dilakukan Therapi Plant Therapy (n = 10)
Januari 2012

Tingkat Depresi Sebelum Sesudah


Frekuensi Prosentase Frekuensi Prosentase
Tidak Depresi 4 40% 6 60%
Depresi Ringan 5 50% 4 40%
Depresi Sedang 1 10% 0 0%

Tabel 4. Perbandingan Perubahan Skala Depresi akibat Terapi Lingkungan Plant Therapy
(n = 10) Januari 2012
Variabel Mean Median Standar Deviasi Nilai Minimum Nilai Maximum
Sebelum Terapi 12,2 9 3,45 9 21
Sesudah Terapi 11,1 10 2,55 9 18

Perbandingan Perubahan Skala Depresi akibat Terapi Lingkungan Plant


Therapy
Rata-rata nilai skala depresi sebelum melakukan terapi lingkungan Plant Therapy
adalah sebesar 12,2. Nilai tersebut termasuk ke dalam kategori depresi ringan sampai
sedang. Nilai median atau nilai tengah responden adalah sebesar 9. Simpangan baku
atau standar deviasi nilai sebelum terapi adalah sebesar 3,45. Nilai minimum atau nilai
depresi yang paling rendah sebelum terapi adalah 9 dan nilai maksimum atau nilai
depresi tertinggi adalah 21. Sedangkan rata-rata nilai skala depresi sesudah melakukan
terapi lingkungan Plant Therapy adalah sebesar 11,1. Nilai tersebut termasuk ke dalam
kategori depresi yang menurun. Nilai median atau nilai tengah responden adalah
sebesar 10 . Simpangan baku atau standar deviasi nilai sesudah terapi adalah sebesar
2,55. Nilai minimum atau nilai depresi yang paling rendah sebelum terapi adalah 9 dan
nilai maksimum atau nilai depresi tertinggi adalah 18 (Tabel 4).
Pada depresi terjadi gangguan pada sistem neurobiology yang sering dipengaruhi oleh
stressor yaitu pada aksis HPA (Hypotalamic Pituitary Adrenal), sehingga apabila HPA
dipaksa untuk menghadapi stressor-stressor secara berlebihan maka HPA akan
mengalami hiperaktivitas, yang nantinya akan mempengaruhi volume hipokampus
pada seseorang dan akan berdampak pada berkurangnya kemampuan untuk
berkonsentrasi dan ketajaman daya ingat seseorang, selain itu juga akan berdampak
pada meningkatnya kadar Glukokortikoid, yang akan mengakibatkan berhentinya
siklus sel sehingga volume hipokampus berkurang (Bramastyo, 2009).
Berdasarkan hasil pengukuran tingkat depresi pada lansia dengan menggunakan skala
Depresi Inventory Depression Beck (IDB) Depresi berat 31-40, Depresi sedang 21-30,
Depresi ringan 11-20, Tidak depresi atau depresi minimal 0-10 (saryono, 2010), dapat
dilihat pada tabel 3 sebanyak 6 responden yang terdiri dari 5 responden(50%) dengan
depresi ringan dan 1 responden ( 10%) dengan depresi sedang, berarti dalam hal ini
terdapat perbedaan tingkat depresi. Hal ini dimungkinkan karena adanya stressor atau
penyebab depresi yang berbeda pada tiap lansia dan bagaimana cara lansia untuk
merespon dan menyelesaikan masalah. Berbagai faktor yang dicurigai dapat
menyebabkan depresi pada lansia adalah faktor biologi, faktor genetika, faktor
psikososial (Kaplan, 2010) dan tidak kalah pentingnya yaitu faktor resiko yang dapat
menimbulkan depresi antara lain, jenis kelamin, usia, status perkawinan, riwayat
keluarga, kepribadian, stresor sosial (Nurmiati, 2005).
Melihat pada tabel 2 menunjukkan bahwa nilai minimal dan maksimal usia lansia
adalah 60-85 tahun, kejadian depresi pada lansia sering terjadi seiring meningkatnya
usia, karena dengan meningkatnya usia akan terjadi banyak perubahan pada kondisi
fisik lansia yang mengakibatkan lansia tersebut mengalami gangguan pada semua
sistem organ sehingga akan dapat berpengaruh terhadap status kesehatan lansia
sehingga didapatkan gangguan fisik pada lansia secara langsung juga akan berpengaruh
terhadap kondisi psikologisnya.
Faktor resiko lain yang dapat berpengaruh yaitu jenis kelamin, menurut Sadock (2007),
prevalensi depresi pada lansia yang berjenis kelamin wanita jauh lebih tinggi. Alasan
perbedaan ini meliputi perbedaan hormonal, efek-efek dari melahirkan, stressor
psikososial, dan model-model perilaku learned helpplessness. Hal ini dibuktikan
dengan adanya hasil penelitian terdahulu yang dilakukan oleh Schoever et al (2000)
didapati prevalensi depresi pada pria sebesar 6,9 % dan 16,5% pada wanita, karena
terjadi disabilitas fungsional. Hal ini dapat dilihat melalui tabel 3 yang menyatakan
bahwa jumlah responden penelitian yang mengalami depresi sebesar 7 responden 70%
dari 10 responden adalah berjenis kelamin wanita. Depresi sering terjadi pada wanita
karena selain faktor hormonal seperti hormon estrogen yang kerjanya dipengaruhi oleh
sistem kerja neurokimia di otak yaitu ketika jumlah cairan neurotransmitter serotonin
di otak berkurang dapat menyebabkan sel otak bekerja sangat lambat sehingga dapat
mempengaruhi kondisi depresi seseorang, wanita depresi disebabkan adanya
perbedaan karakteristik dengan pria, wanita cenderung lebih cepat dan mudah
merasakan perasaan bersalah, cemas, dan selalu mengedepankan perasaan emosional
daripada rasional. Kondisi hormonal seorang wanita yang sudah menopouse pada
seorang wanita lansia tentunya juga berpengaruh terhadap kondisi depresinya karena
hormon estrogen pada wanita merupakan hormon yang bertanggungjawab sebagai
penyebab depresi.
Pada tabel 3 didapatkan seorang lansia yang berjenis kelamin wanita tidak mengalami
perubahan setelah dilakukan terapi kemungkinan pada saat dilakukan pengukuran dan
proses terapi terdapat faktor lain yang menjadi beban tersendiri bagi lansia ini dan
perubahan hormon tidaklah terlalu berpengaruh karena pada wanita ini hormon
kewanitaan sudah tidak berfungsi dengan baik, sehingga wanita lansia tersebut
mengalami kondisi depresi atau dalam keadaan tertentu lebih mengutamakan perasaan
emosionalnya daripada rasional dalam menyelesaikan permasalahan yang di hadapi,
sehingga dapat disimpulkan karena adanya pola pikir yang lebih mementingkan
perasaan lansia wanita banyak mengalami masa-masa depresi dalam hidupnya
dibandingkan dengan pria.
Berdasarkan tabel 4 menggambarkan bahwa rata-rata nilai skala depresi sebelum
melakukan terapi lingkungan Plant Therapy adalah sebesar 12,2. Nilai tersebut termasuk
ke dalam kategori depresi ringan sampai sedang. Nilai median atau nilai tengah
responden adalah sebesar 9. Simpangan baku atau standar deviasi nilai sebelum terapi
adalah sebesar 3,45. Nilai minimum atau nilai depresi yang paling rendah sebelum
terapi adalah 9 dan nilai maksimum atau nilai depresi tertinggi adalah 21.
Pemberian terapi lingkungan Plant Therapy selama ± 30 menit, 15 menit untuk pagi
hari dan 15 menit untuk sore hari selama ± 3 minggu pada subyek penelitian
memperlihatkan hasil yang tercantum pada tabel 3, dimana terdapat 6 responden yang
tidak mengalami depresi dengan prosentase (60%) yang sebelumnya menderita depresi
ringan dan 4 responden (40%) saat diperiksa setelah terapi mengalami depresi ringan
yang sebelumnya terdapat 1 responden yang menderita depresi sedang berubah
menjadi depresi ringan, Hal ini menunjukkan bahwa penurunan skala depresi pada
lansia berbedabeda, walaupun diberikan perlakuan yang sama yaitu terapi lingkungan
Plant Therapy dan penurunan skala tersebut terjadi secara bertahap tergantung pada
tingkatan depresinya. Hal ini berhubungan dengan respon lansia dalam menetralisir
depresi dan bagaimana lansia tersebut mampu menerima stimulus berupa terapi
lingkungan plant therapy sehingga respon yang terjadi setelah perlakuan tidak dapat
disamakan antara respon lansia yang satu dengan yang lainnya.
Pada tabel 4 digambarkan bahwa ratarata nilai skala depresi sesudah melakukan
terapi lingkungan Plant Therapy adalah sebesar 11,1. Nilai tersebut termasuk ke
dalam kategori depresi yang menurun. Nilai median atau nilai tengah responden
adalah sebesar 10. Simpangan baku atau standar deviasi nilai sesudah terapi adalah
sebesar 2 ,55. Nilai minimum atau nilai depresi yang paling rendah sebelum terapi
adalah 9 dan nilai maksimum atau nilai depresi tertinggi adalah 18. Interpretasi hasil
pada tabel 5.7 tersebut menunjukkan keberhasilan yang signifikan tentang
penurunan skala depresi pada lansia, hal ini sesuai dengan hasil penelitian terdahulu
yang dilakukan oleh Suryani (1999) di RSHS menunjukkan bahwa terdapat
pengaruh yang kuat antara terapi lingkungan yang dimodifikasi dengan kemampuan
adaptasi pada pasien selama perawatan menyebabkan rata-rata hari perawatan
menjadi menurun.

KESIMPULAN DAN SARAN

Kesimpulan

Dalam bab ini peneliti dapat mengambil beberapa kesimpulan. Mayoritas responden
berjenis kelamin perempuan 7 responden (70%), rata-rata berusia 72 tahun, dan
mayoritas tingkat pendidikan adalah setingkat
SD yaitu 4 responden (40%) dan tidak sekolah 4 responden (40%). Dari 10
responden didapatkan hasil sesudah dilakukan terapi responden yang tidak
mengalami depresi sebanyak 6 responden (60%) dan yang mengalami depresi
ringan 4 responden (40%). Faktor yang berpengaruh pada tingkat depresi pada
lansia yang berjenis kelamin wanita adalah factor stressor lingkungan sekitar lansia
yang tidak dapat dinetralisir oleh otak, dan karena seorang lansia wanita lebih
menggunakan perasaan daripada logika, sehinnga perasaan depresi dan tidak
nyaman dapat dengan mudah menumpuk.

Saran

Penelitian ini dapat digunakan sebagai masukan bagi petugas kesehatan, khususnya
bidang keperawatan dalam perannya sebagai educator dan konselor. Selain itu, perawat
juga bisa sebagai kolaborator dengan melakukan kolaborasi dengan tim lain yang
berkompeten di bidangnya masing-masing dan melakukan penelitian ulang terhadap
mengenai pengaruh terapi lingkungan plant therapy sebagai alternatif pengobatan non
farmakologis dengan sampel yang lebih memadai agar dapat diketahui secara jelas dan
signifikan hasil terapi tersebut apakah efektif terhadap tingkat depresi pada lansia.
Penelitian ini dapat digunakan sebagai bahan materi pengkajian ulang terhadap hasil
penelitian sebelumnnya pembinaan atau informasi sehingga dapat dijadikan salah satu
metode pembinaan dalam upaya perbaikan dan peningkatan status kesehatan dalam
kaitannya penurunan tingkat depresi terhadap penghuni Panti.
Diharapkan peneliti mampu mengembangkan hasil penelitiannya untuk kemajuan
bidang yang ditekuni, selain itu mampu menerapkan hasil penelitian yang telah
dilakukan, dan menguji ulang dengan jumlah sampel yang jauh memenuhi. Bagi
peneliti selanjutnya diharapkan lebih mampu untuk menerapkan dan lebih
mengembangkan hasil penelitian yang telah dilakuakn. Diharapkan juga bagi
penelitian selanjutnya dapat menggunakan populasi yang lebih besar dan menggunakan
jenis terapi lingkungan jenis lain dan menggunakan metode yang berbeda berbeda
untuk melihat keefektifitasan lebih lanjut.

DAFTAR PUSTAKA

Alimul, A. Aziz Hidayat. 2007. Metode penelitian keperawatan dan tehnik analisa
data. Jakarta. Salemba Medika.
Bramastyo, Wahyu. 2009. Psikopop remaja depresi no way. Jakarta. Penerbit Andi.
Budiarto, Eko. 2002. Biostatistika untuk kedoketeran dan kesehatan masyarakat.
Jakarta. EGC.
C.R Khaw, [Link], A.K Rashid. 2010. Cognitive impairment and depression among
resident of an elderly care home in penang, Malaysia. The Journal of Psychiatry.
2010 Volume 1 Number 1.
Darmajo, Boedi. 2000. Geriatri ( Ilmu Kesehatan Lanjut Usia). Edisi ke-2. Jakarta:
Balai penerbit FKUI.
Eliopoulous, Charlotte. 2005. Gerontological nursing sevent edition. http://
[Link]. Com/ Gerontologicalnursing-RCN-Charlote.
BAB III

Anda mungkin juga menyukai