100% menganggap dokumen ini bermanfaat (1 suara)
825 tayangan7 halaman

Etika dalam Profesi Insinyur

Dokumen tersebut membahas tentang etika dalam profesi engineering. Etika engineering diperlukan untuk menjaga tanggung jawab insinyur terhadap kemaslahatan publik dan lingkungan. Etika engineering harus diajarkan dalam pendidikan tinggi teknik agar mahasiswa memahami tanggung jawab profesional mereka sebagai insinyur.

Diunggah oleh

Ananto Gilang
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
100% menganggap dokumen ini bermanfaat (1 suara)
825 tayangan7 halaman

Etika dalam Profesi Insinyur

Dokumen tersebut membahas tentang etika dalam profesi engineering. Etika engineering diperlukan untuk menjaga tanggung jawab insinyur terhadap kemaslahatan publik dan lingkungan. Etika engineering harus diajarkan dalam pendidikan tinggi teknik agar mahasiswa memahami tanggung jawab profesional mereka sebagai insinyur.

Diunggah oleh

Ananto Gilang
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

ETIKA ENGINERING

Ananto Gilang Ardana


061.16.060
PENDAHULUAN
Mengacu pada pengertian dan pemahaman mengenai profesi, (sikap) profesional, dan
(paham) profesionalisme; maka nampak jelas kalau ruang lingkup aktivitas rekayasa Engineering
yang dilakukan oleh profesi insinyur per definisi bisa disejajarkan dengan kegiatan keprofesian
yang lain seperti dokter, pengacara, guru dan sebagainya. Profesionalisme keinsinyuran akan
dapat ditunjukkan melalui penerapan keahlian khusus seperti yang telah dirancang dalam
kurikulum pendidikan ilmu keteknikan (engineering) yang ditopang kuat oleh ilmu matematika,
fisika, kimia dan pengetahuan dasar keteknikan lainnya untuk melakukan perencanaan,
perancangan (design), konstruksi, operasi maupun perawatan produk, proses, maupun sistem
kerja tertentu secara efektif, nyaman, aman, sehat dan efisien guna memberikan kemaslahatan
manusia.

Didalam penerapan kepakaran dan keahliannya, seorang insinyur acapkali akan terlibat
dalam berbagai macam aktivitas yang tidak lepas dari konflik kepentingan yang akhirnya bisa
menggoyahkan nilai-nilai idealisme dan tujuan mulia “for the benefit of mankind” yang telah
dirumuskannya. Sebagai sebuah profesi yang memiliki tanggung jawab besar bagi kemaslahatan
umat manusia, penerapan kepakaran dan keahlian insinyur sudah sepatutnya untuk selalu
mengindahkan norma, budaya, adat, moral dan etika yang berlaku universal. Seperti halnya
dengan profesi-profesi lainnya, profesi insinyur sudah saatnya untuk menata-dirinya didalam
sebuah wadah organisasi profesi (bisa bersifat umum dan/atau spesifik) dan sekaligus
menerapkan norma-norma etika profesi seperti yang teruang dalam kode etik profesi untuk
menjaga martabat, kehormatan dan/atau itikad-itikad etis yang harus ditaati oleh mereka yang
akan menerapkan keahlian serta kepakarannya. Berangkat dari kepentingan ini, maka sudah
sepatutnya pula kalau substansi mengenai etika profesi (keinsinyuran) ini dimasukan dalam
kurikulum pendidikan tinggi keteknikan termasuk dalam hal ini kurikulum Pendidikan Tinggi
Teknik/Teknologi. Tujuan utamanya adalah memberikan pengertian dan pemahaman mengenai
etika, profesi dan etika profesi dengan segala macam permasalahan serta relevansinya
berkenaan dengan penerapan keahlian dan kepakaran dalam praktek-praktek keinsinyuran.
Kita mulai dengan perbedaan yang jelas, namun penting, antara moralitas dan etika. Moral
menggunakan istilah yang mengacu pada aturan perilaku yang berlaku untuk semua orang,
tidak hanya kepada anggota kelompok. Idealnya, aturan ini adalah bahwa setiap orang yang
rasional ingin semua orang lain untuk mengikuti, bahkan jika orang lain maka mereka berarti
bahwa dia harus melakukan hal yang [Link] Kami semua muda kita belajar aturan-aturan
moral yang dasar seperti: Jangan berbohong, jangan membunuh, jangan berbohong; Jaga janji
Anda, jangan mencuri, dan sebagainya. Ketika Kami masih muda kita belajar bahwa aturan
memiliki pengecualian (misalnya, "kecuali dalam membela diri" untuk "tidak membunuh")
.sekarang dan kemudian kita dapat mengubah pikiran kita tentang bagaimana menafsirkan
aturan tertentu atau pengecualian, Misalnya, kita berpikir kita bisa pergi tanpa berkata apa-apa
palsu (misalnya, menghilangkan setiap fakta yang diperlukan untuk memahami apa yang kita
katakan).
Etika engineering adalah etika, sebagai lawan moralitas pribadi. Menetapkan standar
untuk praktek profesional dan hanya dapat dipelajari di sekolah kejuruan atau dalam praktek
profesional. Ini adalah bagian penting dari pendidikan profesional karena membantu siswa
berurusan dengan masalah yang mereka akan hadapi dalam praktek. Cara terbaik untuk
mengajar etika rekayasa adalah dengan menggunakan kasus - bukan bencana hanya yang
membuat berita, tapi jenis kasus yang lebih mungkin daripada seorang insinyur. Banyak kasus
yang tersedia dan ada metode untuk analisis. Etika rekayasa dapat diajarkan di kursus
independen, tetapi ada argumen kuat untuk pengenalan kursus etika dan teknis. Rekayasa
adalah sesuatu yang insinyur lakukan, dan apa yang mereka lakukan memiliki efek mendalam
pada orang lain. Jika subjek etika profesional adalah bagaimana anggota profesi harus, atau
tidak harus, mempengaruhi orang lain dalam perjalanan melaksanakan profesi mereka, etika
rekayasa merupakan aspek penting dari rekayasa sendiri dan pendidikan dalam tanggung jawab
profesional harus menjadi bagian dari pendidikan profesional dalam rekayasa, sama seperti
dalam ilmu hukum dan kedokteran. Mungkin beberapa pendidik rekayasa akan setuju dengan
klaim ini, pelaksanaannya di rekayasa pendidikan adalah masalah lain. Kami ingin membahas
pengenalan etika rekayasa ke pendidikan teknik dalam hal empat pertanyaan: Apa itu etika
engineering? Mengapa harus ditekankan dalam pendidikan teknik? Bagaimana seharusnya hal
itu diajarkan? dan Kapan harus muncul dalam pendidikan mahasiswa?

Seorang Engineer harus memiliki etika dalam kehidupan sehari - hari karena engineer
yang baik adalah engineer yang memiliki etika , karena bagi engineer etika juga memegang
peran penting dalam kesuksesan engineer itu sendiri

Etika berasal dari bahasa yunani yaitu Ethos , yang berarti watak kesusilaan atau adat
kebiasaan , etika berkaitann erat dengan moral yang merupakas istilah dari bahas latin yaitu
mos , yang dalam bentuk jamaknya disebut mores

Etika pada engineering adalah suatu standar yang menjadi acuan seorang engineer
kepada publik , klien , pimpinan dan terhadap profesi nya sebagai seorang engineer , etika akan
menjadi arahan untuk engineer dalam mengembangkan , menyebarluaskan dan meningkatkan
kualitas skill atau keahlian nya dalam bidang pekerjaan yang dia tangani sekaligus bertanggung
jawab terhadap keselamatan dan kesejahteraan masyarakat umum

Dasar dan pedoman engineer yaitu Keselamatan , Integritas dan kompetensi ketiga hal
ini menjadi sangat penting seorang engineering karean seorang engineer dituntut untuk mampu
bertanggung jawab dengan pekerjaannya kemudian Integritas yag tinggi juga harus dimiliki oleh
seorang engineer karena semua proses pekerjaan dari seorang engineer harus berlandaskan
fakta , jujur , terbuka dan mampu dipertanggung jawabkan , dan tidak kalah penting adalah
Kompetensi , seorang engineer harus berkompeten karena dia lah yang akan merangkai atau
menyusun suatu rancangan atau suatu pekerjaan sehingga apabila engineering tidak
berkomptensi maka bisa dipastikan pekerjaannya akan tidak sesuai dengan yang seharusnya
dikerjakan dan tentunya juga tidak dapat dipetanggung jawabkan ke publik karena kurangya
kompetensi atau kemampuan yang benar - benar ahli dari seorang engineer.

Besarnya keinginan untuk memecahkan persoalan-persoalan kehidupan manusia di era


global dan kebutuhan akan penemuan-penemuan yang mampu memberikan manfaat untuk
mencari solusi persoalan tersebut, merupakan kekuatan pendorong menuju ke pengembangan
teknologi modern. Hanya saja satu hal yang patut untuk disadari bahwasanya sebuah temuan
teknologi acapkali justru tidak hanya memberikan solusi positif terhadap persoalan yang
dihadapi, melainkan juga akan memberikan permasalahan baru bagi keseimbangan alam dan
kehidupan manusia. Karena banyak berkaitan dengan kehidupan manusia itulah, maka teknologi
seringkali dipertimbangkan sebagai faktor penentu yang juga dominan didalam proses
perubahan sosial. Teknologi tidak hanya memiliki sifat “akumulatif”, tetapi seringkali pula
bersifat “multiplikatif” khususnya terkait dengan penemuan-penemuan teknologi baru yang
lain. Adakalanya dampak yang ditimbulkan oleh sebuah temuan teknologi seringkali
memerlukan “obat penawar” berupa penemuan-penemuan teknologi selanjutnya.

Revolusi industri yang berlangsung lebih dari dua abad yang lalu banyak membawa
perubahan-perubahan didalam banyak hal. Awal perubahan yang paling menyolok adalah
dalam hal diketemukannya rancang bangun (rekayasa/engineering) mesin uap sebagai sumber
energi untuk berproduksi, sehingga manusia tidak lagi tergantung pada energi ototi ataupun
energi alam; dan yang lebih penting lagi manusia bisa menggunakan sumber energi tersebut
dimanapun lokasi kegiatan produksi akan diselenggarakan. Hal lain yang patut dicatat adalah
diterapkannya rekayasa tentang tata cara kerja (methods engineering) untuk meningkatkan
produktivitas kerja yang lebih efektif-efisien dengan menganalisa kerja sistem manusia-mesin
sebagai sebuah system produksi yang terintegrasi. Apa-apa yang telah dikerjakan oleh Taylor,
Gilbreth, Fayol, Gantt, Shewart, dan sebagainya telah menghasilkan paradigma paradigma baru
yang beranjak dari struktur ekonomi agraris bergerak menuju ke struktur ekonomi produksi
(industri). Demikian pula langkah-langkah yang telah dilakukan oleh Taylor dan para pionir
keilmuan teknik dan manajemen industri lainnya itu (kebanyakan dari mereka justru berlatar -
belakang insinyur) telah membuka cakrawala baru dalam pengembangan dan penerapan sains-
teknologi demi kemaslahatan manusia. Dalam hal ini penerapan sains, teknologi serta ilmu-ilmu
keteknikan (engineering) tidak harus selalu terlibat dalam masalah-masalah yang terkait dengan
perancangan perangkat keras (hardware) berupa teknologi produk maupun teknologi proses;
akan tetapi juga ikut bertanggung-jawab dalam persoalan-persoalan yang berkembang dalam
perancangan perangkat teknologi lainnya (software, organoware dan brainware), maupun
bertanggung-jawab terhadap segala macam dampak (lingkungan, sosial, dll) yang ditimbulkan
sebagai akibat pengembangan teknologi yang tidak hanya memberikan manfaat positif,
melainkan juga memberikan berbagai macam resiko negatif yang merusak lingkungan (Vesilind,
1998). Untuk mengantisipasi problematik industri yang semakin luas dan kompleks tersebut,
maka didalam penyusunan kurikulum pendidikan tinggi sains-teknologi (tidak peduli program
studi ilmu keteknikan macam apa yang ingin ditawarkan) seharusnya tidak lagi semata hanya
memperhatikan arah perkembangan ilmu dan keahlian teknis (engineering); melainkan juga
harus dilengkapi dan diserasikan dengan ilmu-ilmu lain.

KODE ETIK PROFESI ENGINEERING

Dibandingkan dengan profesi-profesi yang lain seperti dokter ataupun pengacara, maka
profesi keinsinyuran mungkin termasuk yang paling ketinggalan didalam membicarakan maupun
merumuskan etika profesi-nya dalam sebuah kode etik insinyur (the code of ethics of engineers).
Ada berbagai macam kode etik yang dibuat oleh berbagai-macam asosiasi profesi keinsinyuran
yang ada, meskipun secara prinsipiil tidak ada perbedaan yang terlalu signifikan dari kode etik
yang satu dibandingkan dengan yang lainnya.

Catur Karsa Sapta Dharma Insinyur Indonesia yang terdiri dari 2 (dua) bagian, yaitu (a)
Prinsip Prinsip Dasar yang terdiri atas 4 (empat) prinsip dasar, dan (b) Tujuh Tuntunan Sikap
(Canon), dan secara lengkapnya dapat ditunjukkan sebagai berikut :

Prinsip-Prinsip Dasar :
1. Mengutamakan keluhuran budi.
2. Menggunakan pengetahuan dan kemampuannya untuk kepentingan kesejahteraan umat
manusia.
3. Bekerja secara sungguh-sungguh untuk kepentingan masyarakat, sesuai dengan tugas
dan tanggung-jawabnya.
4. Meningkatkan kompetensi dan martabat berdasarkan keahlian profesional keinsinyuran.
Tujuh Tuntunan Sikap :

1. Insinyur Indonesia senantiasa mengutamakan keselamatan, kesehatan dan


kesejahteraan masyarakat.
2. Insinyur Indonesia senantiasa bekerja sesuai dengan kompetensinya.
3. Insinyur Indonesia hanya menyatakan pendapat yang dapat dipertanggung-jawabkan.
4. Insinyur Indonesia senantiasa menghindari terjadinya pertentangan kepentingan dalam
tanggung-jawab tugasnya.
5. Insinyur Indonesia senantiasa membangun reputasi profesi berdasarkan kemampuan
masing masing.
6. Insinyur Indonesia senantiasa memegang teguh kehormatan, integritas dan martabat
profesi.
7. Insinyur Indonesia senantiasa mengembangkan kemampuan profesionalnya.
FUNGSI KODE ETIK ENGINEERING
Kode etik Engineering memberikan pedoman bagi setiap anggota Engineering tentang
prinsip Engineeringonalitas yang digariskan. Maksudnya bahwa dengan kode etik Engineering,
pelaksana Engineering mampu mengetahui suatu hal yang boleh dia lakukan dan yang tidak
boleh dilakukan. Kode etik Engineering merupakan sarana control social bagi masyarakat atas
Engineering yang bersangkutan. Maksudnya bahwa etika Engineering dapat memberikan suatu
pengetahuan kepada masyarakat agar jdapat memahami arti pentingnya suatu
Engineering,sehingga memungkinkan pengontrolan terhadap para pelaksana di lapangan kerja.

Permasalahan menjadi menarik pada saat Persatuan Insinyur Indonesia [2000] melakukan
penelitian yang bertujuan untuk memperoleh gambaran mengenai tingkat kesenjangan mutu
dan relevansi Sarjana Teknik (termasuk juga dalam hal ini Sarjana Pertanian) di Industri, dimana
diperoleh hasil yang menunjukkan adanya 6 (enam) kesenjangan yang cukup signifikan antara
harapan serta persepsi masyarakat industri dan bisnis dengan kompetensi lulusan Perguruan
Tinggi Teknik yang memerlukan prioritas untuk diperhatikan dan dicarikan solusi konkritnya,
yaitu
1. Kemampuan untuk berperan/berfungsi dalam tim kerja multi disiplin,
2. Kemampuan mengidentifikasikan, memformulasikan, dan memecah-kan masalah-
masalah engineering,
3. Kesadaran akan kebutuhan untuk memenuhinya dalam proses belajar sepanjang hayat,
4. Kemampuan berkomunikasi dengan efektif,
5. Pemahaman terhadap tanggung jawab dan etika profesional,
6. Kemampuan merancang suatu sistem, komponen, proses dan metode untuk memenuhi
kebutuhan yang diinginkan.
DAFTAR PUSTAKA

Wignjosoebroto, Sritomo Profesi, Profesionalisme dan Etika Profesi. Makalah


disajikan dalam diskusi tentang profesionalisme hukum (notariat) di Fakultas Hukum
Universitas Airlangga – Surabaya, 1999.

Whitbeck, Caroline. Ethics in Engineering Practice and Research. Cambridge :


Cambridge University Press, 1998.

([Link]
[Link]/08/11/18)

([Link]

([Link]

Common questions

Didukung oleh AI

Engineering ethics critically influences technological innovation and societal progress by establishing a moral compass that guides engineers in creating technologies that are beneficial rather than harmful. Ethical guidelines ensure that the development and deployment of new technologies do not infringe on individual rights and environmental sustainability. This promotes social trust and acceptance, which is crucial for technological adoption and progress. Thus, ethical engineering fosters innovation that aligns with societal values and needs, leading to sustainable advancement .

The incorporation of ethical considerations into engineering practice is essential because engineers have a profound impact on society through their work. Ethical considerations ensure that engineers prioritize the welfare and safety of the public, maintain integrity and competence, and contribute positively to society. Without ethics, the solutions engineers create might lead to new problems, potentially causing harm to the environment or society. Moreover, ethical guidelines help resolve conflicts of interest and maintain public trust. Ethical responsibility is a crucial aspect of engineering, similar to other professions like law and medicine .

Historical technological developments have significantly influenced the principles of modern engineering ethics by highlighting the necessity for safety, accountability, and social responsibility in engineering practices. Past incidents and innovations have shown both the potential benefits and risks of technology, leading to the establishment of ethical standards that guide engineers today. The lessons learned from historical advancements and missteps emphasize the importance of rigorous ethical scrutiny, transparency, and consideration of broader societal impacts when developing new technologies .

The principles of engineering ethics can be applied to prevent negative environmental impacts by ensuring that engineers prioritize public safety, health, and welfare in their projects. This includes conducting thorough environmental impact assessments, adhering to sustainable design practices, and considering the long-term effects of their projects on natural ecosystems. Ethical engineers must advocate for solutions that minimize environmental footprints, engage with stakeholders transparently, and continually improve practices to align with current environmental standards and innovations .

There is a complex relationship between technological advancements and ethical engineering challenges. Technological innovations can significantly benefit society by solving existing problems; however, they often introduce new challenges that require ethical consideration. For instance, new technologies can disrupt social norms, impact the environment negatively, or create safety hazards if not managed properly. Therefore, engineers must navigate these ethical challenges by considering the broader implications of their work on society and the environment to ensure that technological progress does not come at an undue cost .

Continual ethical education is necessary for engineers to keep them updated on evolving ethical standards, emerging technologies, and the changing societal expectations regarding technological impacts. This ongoing education helps engineers navigate new ethical dilemmas they may encounter throughout their careers. The anticipated outcomes include a heightened sense of professional responsibility, improved decision-making skills, and the ability to identify and mitigate potential ethical issues, which ultimately leads to a more trustworthy and respected engineering profession .

Engineers may face several ethical challenges due to conflicts of interest, such as prioritizing personal or organizational gain over public welfare. They may encounter situations where business interests clash with ethical standards, potentially leading to compromised safety, integrity, or environmental concerns. Resolving these conflicts requires a strong ethical framework and adherence to professional codes of ethics to maintain transparency, accountability, and public trust .

The Catur Karsa Sapta Dharma Insinyur Indonesia is significant in establishing engineering professional standards as it provides a framework for ethical conduct and attitude among engineers in Indonesia. It emphasizes principles such as prioritizing public welfare and societal needs, maintaining integrity and competence, and promoting the dignity of the engineering profession. This set of principles and canons guides engineers in making decisions that are ethical and beneficial to society, thus ensuring the responsible practice of engineering that can be trusted by the public .

Engineering ethics should be integrated into educational curricula through independent courses and by embedding ethical considerations within technical courses. This dual approach ensures that students learn to address ethical issues alongside technical challenges. The rationale is to prepare students for real-world practice where they will face ethical dilemmas, not just technical problems. Ethical training cultivates a sense of responsibility and prepares engineers to uphold safety, integrity, and societal welfare in their professional practice .

Holistic education plays a crucial role in addressing the challenges presented by emerging engineering problems by integrating technical knowledge with broader skills in ethics, social impact, and interdisciplinary collaboration. This approach prepares engineers to deal with complex, interconnected problems that cannot be solved by technical solutions alone. It fosters critical thinking, adaptability, and a well-rounded understanding of the societal and environmental context of engineering work, enabling engineers to responsibly innovate and implement sustainable solutions .

Anda mungkin juga menyukai