0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
121 tayangan8 halaman

RDS pada Bayi Prematur: Penanganan dan Pencegahan

Laporan ini membahas Respiratory Distress Syndrome (RDS) pada bayi baru lahir. RDS terjadi karena kekurangan surfaktan pada paru-paru bayi prematur yang menyebabkan kesulitan bernapas. Gejala klinisnya meliputi nafas cepat, retaksi dada, dan suara mengerang saat menghembuskan napas. Penatalaksanaannya meliputi pemberian oksigen, cairan, dan surfaktan untuk menstabilkan pernapasan dan mencegah ko

Diunggah oleh

hanifa nur afifah
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
121 tayangan8 halaman

RDS pada Bayi Prematur: Penanganan dan Pencegahan

Laporan ini membahas Respiratory Distress Syndrome (RDS) pada bayi baru lahir. RDS terjadi karena kekurangan surfaktan pada paru-paru bayi prematur yang menyebabkan kesulitan bernapas. Gejala klinisnya meliputi nafas cepat, retaksi dada, dan suara mengerang saat menghembuskan napas. Penatalaksanaannya meliputi pemberian oksigen, cairan, dan surfaktan untuk menstabilkan pernapasan dan mencegah ko

Diunggah oleh

hanifa nur afifah
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

LAPORAN PENDAHULUAN

RESPIRATORY DISTRESS SYNDROME (RDS)

DI RUANG PERINATOLOGI RUMAH SAKIT AL ISLAM BANDUNG

Disusun oleh

Hanifa Nur Afifah

(032016045)

PROGRAM STUDI SARJANA KEPERAWATAN


SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN AISYIYAH BANDUNG

2018/2019
RESPIRATORY DISTRESS SYNDROME (RDS)

A. Definisi
Respiratory Distress Syndrom (RDS) atau Sindrom Distres
Pernapasan merupakan sindrom gawat napas yang disebabkan defisiensi
surfaktan terutama pada bayi yang baru lahir dengan masa gestasi kurang
(Suriadi dan Yulianni, 2006) Secara klinis bayi dengan RDS menunjukkan
takipnea, pernapasan cuping hidung, retraksi interkosta dan subkosta,
expiratory grunting (merintih) dalam beberapa jam pertama kehidupan.
Sindrom gangguan napas ataupun sering disebut sindrom gawat
napas (Respiratory Distress Syndrome/RDS) adalah istilah yang
digunakan untuk disfungsi pernapasan pada neonatus. Gangguan ini
merupakan penyakit yang berhubungan dengan keterlambatan
perkembangan maturitas paru (Whalley dan Wong, 1995). Gangguan ini
biasanya juga dikenal dengan nama Hyaline membrane disease (HMD)
atau penyakit membrane hialin, karena pada penyakit ini selalu ditemukan
membran hialin yang melapisi alveoli. Sindrom gangguan pernapasan
adalah kumpulan gejala yang terdiri dari dispnea atau hiperapnea dengan
frekuensi pernapasan lebih dari 60 kali/menit, sianosis, rintihan pada
ekspirasi dan kelainan otot-otot pernapasan pada inspirasi.
RDS sering ditemukan pada bayi prematur. Insidens berbanding
terbalik dengan usia kehamilan dan berat badan. Artinya semakin muda
usia kehamilan ibu, semakin tinggi kejadian RDS pada bayi tersebut.
Sebaliknya semakin tua usia kehamilan, semakin rendah pula kejadian
RDS atau sindrome gangguan napas.
B. Etiologi
RDS terjadi pada bayi prematur atau kurang bulan, karena
kurangnya produksi surfaktan. Produksi surfaktan ini dimulai sejak
kehamilan minggu ke-22, makin muda usia kehamilan, makin besar pula
kemungkinan terjadi RDS. Ada 4 faktor penting penyebab defisiensi
surfaktan pada RDS yaitu prematur, asfiksia perinatal, maternal diabetes,
seksual sesaria..Surfaktan biasanya didapatkan pada paru yang matur.
Fungsi surfaktan untuk menjaga agar kantong alveoli tetap berkembang
dan berisi udara, sehingga pada bayi prematur dimana surfaktan masih
belum berkembang menyebabkan daya berkembang paru kurang dan bayi
akan mengalami sesak nafas. Gejala tersebut biasanya muncul segera
setelah bayi lahir dan akan bertambah berat.
RDS merupakan penyebab utama kematian bayi prematur.
Sindrom ini dapat terjadi karena ada kelainan di dalam atau diluar paru,
sehingga tindakan disesuaikan dengan penyebab sindrom [Link]
dalam paru yang menunjukan sindrom ini adalah
pneumothoraks/pneumomediastinum, penyakit membran hialin (PMH),
pneumonia,[Link]-faktornya antara lain :
1. Faktor ibu
Faktor ibu meliputi hipoksia pada ibu, gravida emmpat atau lebih,
sosial ekonomi rendah maupun penyakit pembuluh darah ibu yang
mengganggu pertukaran gas janin seperti hipertensi, penyakit diabetes
mellitus, dan lain-lain.
2. Faktor plasenta
Faktor plasenta meliputi sulosio plasenta, pendarahan plasenta,
plasenta kecil, plasenta tipis, plasenta tidak menempel pada tempatnya.
3. Faktor janin
Faktor janin atau neonatus meliputi tali pusat menumbung, tali pusat
melilit leher, kompresi tali pusat antara janin dan jalan lahir, kelainan
kongenital pada neonaatus dan lain-lain.
4. Faktor persalinan
Faktor persalinan meliputi partus lama, partus dengan tindakan dan
lain-lain.
C. Manifestasi Klinis
1. Manifestasi klinis respirasi
a. Takipnea (lebih dari 60 x/menit)
b. Dispnea
c. Retraksi interkostal dan/atau substernal yang jelas
d. Krepitasi inspirasi halus
e. Grunt ekspirasi yang keras
f. Cuping hidung eksternal
g. Sianosis dan/atau palor
2. Manifestasi ketika penyakit berkembang
a. Apnea
b. Flaksiditas
c. Tidak bergerak
d. Tidak berespons
e. Suara nafas berkurang
f. Bercak-bercak
3. Manifestasi berhubungan dengan penyakit berat
a. Keadaan seperti syok
b. Penurunan retum jantung dan bradikardia
c. Tekanan darah sistemik rendah
D. Patofisiologi
Faktor-faktor yang memudahkan terjadinya RDS pada bayi
prematur disebabkan oleh alveolimasih kecil sehingga kesulitan
berkembang, pengembangan kurang sempurna karena dinding thorax
masih lemah, produksi surfaktan kurang sempurna. Kekurangan surfaktan
mengakibatkan kolaps pada alveolus sehingga paru-paru menjadi kaku.
Hal tersebut menyebabkan perubahanfisiologi paru sehingga daya
pengembangan paru (compliance) menurun 25% dari normal, pernafasan
menjadi berat, shunting intrapulmonal meningkat dan terjadi hipoksemia
berat, hipoventilasi yang menyebabkan asidosis respiratorik. Telah
diketahui bahwa surfaktan mengandung 90% fosfolipid dan 10% protein,
lipoprotein ini berfungsi menurunkan tegangan permukaan dan menjaga
agar alveoli tetap mengembang. Secara makroskopik, paru-paru
nampak tidak berisi udara dan berwarna kemerahan seperti hati, oleh sebab
itu paru-paru memerlukan tekanan pembukaan yang tinggi untuk
mengembang. Secara histologi, adanya atelektasis yang luas dari rongga
udara bagian distal menyebabkan edema interstisial dan kongesti dinding
alveoli sehingga menyebabkan desquamasi dari epithel sel alveoli type II.
Dilatasi duktus alveoli, tetapi alveoli menjadi tertarik karena adanya
defisiensi surfaktan ini. Dengan adanya atelektasis yang progresif dengan
barotrauma atau volutrauma dan keracunan oksigen, menyebabkan
kerusakan pada endothelial dan epithelial sel jalan pernafasan bagian distal
sehingga menyebabkan eksudasi matriks fibrin yang berasal dari darah.
Membran hyaline yang meliputi alveoli dibentuk dalam satu setengah jam
setelah lahir. Epithelium mulai membaik dan surfaktan mulai
dibentuk pada 36 – 72 jam setelah lahir. Proses penyembuhan ini adalah
komplek; pada bayi yang immaturdan mengalami sakit yang berat dan
bayi yang dilahirkan dari ibu dengan chorioamnionitis sering berlanjut
menjadi Bronchopulmonal Displasia (BPD).
E. Komplikasi
1. Komplikasi jangka pendek
a. Ruptur alveoli
Bila dicurigai terjadi kebocoran udara (pneumothorak,
pneumomediastinum, pneumopericardium, emfisema intersisiel)
pada bayi dengan RDS yang tiba-tiba memburuk dengan gejala
klinis hipotensi, apnea, atau bradikardia.
b. Infeksi
Infeksi disebabkan perubahan jumlah leukosit dan thrombositopeni
yang dapat timbul karena tindakan invasif.
c. Perdarahan intrakranial dan leukomalicia periventrikular
Perdarahan intraventrikuler terjadi oada 20-40% bayi prematur
dengan frekuensi terbanyak pada bayi RDS dengan ventilasi
mekanik.
d. Patent Ductus Arteriosus (PDA)
Disebabkan karena penghentian terapi surfaktan.
2. Komplikasi jangka panjang
a. Bronchuspolmonary Dysplasia (BPD)
Disebabkan pemakaian oksigen pada bayi dengan masa gestasi 36
[Link] berhubungan dengan tingginya volume dan tekanan
yang digunakan pada wakyi menggunakan ventilasi mekanik,
adanya infeksi, inflamasi, dan defisiensi vitamin A.
b. Retinopathy premature
Kegagalan fungsi neurologi terjadi sekitar 10-70% bayi yang
berhubungan dengan masa gestasi, adanya hipoksiam komplikasi
intrakranial, dan infeksi.
F. Penatalaksanaan
Bidan sebagai tenaga medis di lini terdepan diharapkan peka
terhadap pertolongan persalinan sehingga dapat mencapai well born baby
dan well health mother. Oleh karena itu bekal utama sebagai Bidan adalah :
1. Melakukan pengawasan selama hamil
2. Melakukan pertolongan hamil resiko rendah dengan memsnfaatkan
partograf WHO
3. Melakukan perawatan Ibu dan janin baru lahir
Berdasarkan kriteria nilai APGAR maka bidan dapat melakukan
penilaian untuk mengambil tindakan yang tepat diantaranya melakukan
rujukan medik sehingga keselamatan bayi dapat ditingkatkan.
Penatalaksanaan RDS atau Sindrom gangguan napas adalah sebagai
berikut :
1. Bersihkan jalan nafas dengan menggunakan penghisap lendir dan kasa
steril
2. Pertahankan suhu tubuh bayi dengan membungkus bayi dengan kaki
hangat
3. Atur posisi bayi dengan kepala ekstensi agar bayi dapat bernafas
dengan leluasa
4. Apabila terjadi apnue lakukan nafas buatan dari mulut ke mulut
5. Longgarkan pakaian bayi
6. Beri penjelasan pada keluarga bahwa bayi harus dirujuk ke rumah
sakit
7. Bayi rujuk segera ke rumah sakit
Penatalaksanaan medik maka tindakan yang perlu dilakukan adalah
sebagsai berikut :
1. Memberikan lingkungan yang optimal
2. Pemberian oksigen, tidak lebih dari 40% sampai gejala sianosis
menghilang
3. Pemberian cairan dan elektrolit (glukosa 5% atau 10%) disesuaikan
dengan berat badan (60-125 ml/kgBB/hari) sangat diperlukan untuk
mempertahankan homeostatis dan menghindarkan dehidrasi
4. Pemberian antibiotik untuk mencegah infeksi sekunder
5. Pemberian surfaktan oksigen
G. Pencegahan
Faktor yang dapat menimbulkan kelainan ini adalah pertumbuhan
paru yang belum sempurna. Karena itu salah satu cara untuk
menghindarkan penyakit ini ialah mencegah kelahiran bayi yang maturitas
parunya belu sempurna. Maturasi paru dapat dikatakan sempurna bila
produksi dan fungsi surfaktan telah berlangsung baik (Gluck, 1971)
memperkenalkan suatu cara untuk mengetahui maturitas paru dengan
menghitung perbandingan antara lesitin dan sfigomielin dalam cairan
amnion.
Bila perbandingan lesitin/sfingomielin sama atau lebih dari dua,
bayi yangakan lahir tidak akan menderita penyakit membrane hialin,
sedangkan bila perbandingan tadi kurang dari tiga berati paru-paru bayi
belum matang dan akan mengalami penyakit membrane hialin. Pemberian
kortikosteroid dianggap dapat merangsang terbentuknya surfaktan pada
janin. Cara yang paling efektif untuk menghindarkan penyakit ini ialah
mencegah prematuritas.
Untuk mencegah sindrom gangguan pernapasan juga dapat
dilakukan dengan segera melakukan resusitasi pada bayi baru lahir,
apabila bayi :
1. Tidak bernapas sama sekali/bernapas dengan mengap-mengap
2. Bernapas kurang dari 20 kali/menit
H. Diagnosa Keperawatan Yang Mungkin Muncul
1. Gangguan pertukaran gas berhubungan dengan imatur paru dan
dinding dada atau kurangnya jumlah cairan surfaktan
2. Ketidakefektifan bersihan jalan nafas berhubungan dengan obstruksi
atau pemasangan intubasitrakea yang kurang tepat dan adanya secret
pada jalan napas
3. Ketidakefektifan pola napas berhubungan dengan ketidaksamaan
nafas bayi dan ventilator, dan posisi bantuan ventilator yang kurang
tepat
4. Resiko kekurangan volume cairan berhubungan dengan hilangnya
cairan yang tanpa disadari (IWL)
5. Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan
dengan ketidakmampuan menelan,motilitas gastrik menurun, dan
penyerapan.

Anda mungkin juga menyukai