Laporan Praktikum Penilaian Formasi: Disusun Oleh
Laporan Praktikum Penilaian Formasi: Disusun Oleh
PENILAIAN FORMASI
DISUSUN OLEH :
NIM : 1601203
Kelompok : 1 (Satu)
i
JURUSAN S1 TEKNIK PERMINYAKAN KONSENTRASI TEKNIK GEOLOGI
2018
LEMBAR PENGESAHAN
PENILAIAN FORMASI
Disusun oleh :
NIM : 1601203
Kelompok : 1 (Satu)
Hasil Penilaian :
ii
Balikpapan,
2018
Disetujui oleh :
KATA PENGANTAR
Segala puja dan puji tercurah hanyalah ke hadirat Allah SWT sang pemilik ilmu
yang telah memberikan limpahan karunia- Nya sehingga saya dapat merampungkan
penulisan Laporan Resmi Praktikum Penilaian Formasi sebagai bentuk Tugas Akhir
Praktikum Penilaian Formasi, Semester Ganjil S1 teknik Perminyakan Konsentrasi
Teknik Geologi, Sekolah Tinggi Teknologi Minyak dan Gas Bumi Balikpapan.
Ungkapan rasa terimakasih kepada kedua orangtua saya berkat doa-doa yang
selalu dipanjatkan demi kemudahan langkah anak-anaknya. Kepada Bapak Kukuh
Djalu Waskita selaku dosen pengampu mata kuliah Penilaian Formasi, kepada asisten
iii
praktikum penilaian formasi, saudara Indra Pratama, Puguh Eko Laksono, Laurencius
Yanuar Aditya, M. Iqbal Reza, dan saudari Delviani Pasang yang telah membimbing
selama praktikum hingga penyelesaian laporan ini. Tak lupa kepada rekan rekan
kelompok satu ( 1 ) yang selalu membantu dalam pengerjaan tugas praktikum sehingga
menjadi sempurna lah lampiran pada laporan ini. Serta rekan rekan kelas Teknik
Geologi 2016 yang memberikan inspirasi melalui perbedaan pendapat dalam setiap
materinya dan bantuan lainnya yang tak bisa saya sebutkan.
Ucapan maaf saya sampaikan atas kesalahan maupun kekurangan yang terdapat
dalam laporan ini, baik dalam pemilihan kata maupun bahasa. Saran dan kritik yang
mebangun dari semua pihak sangat saya harapkan demi kemajuan penulisan laporan
saya berikutnya. Semoga laporan ini dapat bermanfaat bagi semua pihak yang
membacanya. Selamat membaca dan selamat menambah wawasan.
LEMBAR PERSEMBAHAN
iv
v
DAFTAR ISI
Halaman Judul
Lembar Pengesahan
Kata pengantar
Lembar Persembahan
Daftar isi
Daftar Gambar
Daftar Tabel
Bab I Pendahuluan
1.1 Tujuan
vi
[Link] Metode Coring
2.4.2 Porositas
vii
3.2 Tugas Kelompok
viii
DAFTAR GAMBAR
ix
Gambar 3.2 Formasi Cibulakan Depth 1200-1300
Gambar 3.3 Formasi Cibulakan Depth 1300-1400
Gambar 3.4 Formasi Cibulakan Depth 1400-1500
Gambar 3.5 Formasi Cibulakan Depth 1500-1600
Gambar 3.6 Formasi Cibulakan Depth 1600-1700
Gambar 2.7 Formasi Cibulakan Depth 1700-1800
Gambar 3.8 Formasi Cibulakan Depth 1800-1900
Gambar 3.9 Formasi Cibulakan Depth 1900-2000
Gambar 3.10 Formasi Cibulakan Depth 2000-2100
Gambar 3.11 Formasi Cibulakan Depth 2100-2200
Gambar 3.12 Formasi Cibulakan Depth 2200-2300
Gambar 3.13 Lithologi Formasi Cibulakan Atas
Gambar 3.14 Lithologi Formasi Cibulakan Bawah dan Baturaja
Gambar 3.15 Lithologi Formasi Talang Akar
Gambar 3.16 Jenis Fluida Pada Formasi Cibulakan
Gambar 3.17 Jenis Fluida Pada Formasi Cibulakan Bawah dan
Formasi Baturaja
Gambar 3.18 Jenis Fluida Pada Formasi Talang Akar
x
xi
DAFTAR TABEL
xii
BAB I
PENDAHULUAN
Minyak dan gas bumi merupakan sumber daya energi terpenting di dunia.
Industri minyak dan gas di Indonesia pun mengalami perkembangan yang
sangat maju dari tahun ke tahun untuk mencukupi kebutuhan dalam negeri
akan bahan bakar yang semakin meningkat. Sektor minyak dan gas bumi
merupakan penghasil devisa terbesar yang merupakan tulang punggung
pembangunan nasional.
1
Analisa petrofisika sangat penting dilakukan untuk mengetahui kualitas
reservoir, jenis fluida, porositas dan permeabilitas dari suatu batuan atau
formasi,karena hal ini hanya dapat diketahui berdaserkan sifat fisik dari batuan
tersebut serta dapat diketahui geometri reservoir suatu zona sehingga dapat
dihitung cadangan migas yang ada ( Iqbal, 2009 ).
1.1 Tujuan
2
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
Mud-logging unit akan menghasilkan mud log yang akan dikirim ke kantor
pusat perusahaan minyak. Menurut Darling (2005), mud log tersebut meliputi:
3
5. Indikasi keberadaan hidrokarbon yang terdapat di dalam sampel
Mud log merupakan alat yang berharga untuk petrofisis dan geolog di
dalam mengambilkeputusan dan melakukan evaluasi. Darling (2005) menyatakan
bahwa mud log digunakan untuk hal – hal berikut ini:
Cutting merupakan material hasil hancuran batuan oleh mata bor yang
dibawa oleh lumpur pemboran ke permukaan (Bateman,1985). Sampel akan
dibagi menjadi dua yaitu sampel basah dan sampel kering (sampel yang telah
dicuci dan dikeringkan). Sampel yang telah dibersihkan diamati di bawah
mikroskop yang ada di mudlogging unit. Hasil deskripsi kemudian diserahkan
ke kantor pusat pengolahan data.
Agar informasi tersebut berguna maka ada standar deskripsi baku yang harus
dilakukan. Darling (2005) menyatakan bahwa deskripsi tersebut harus meliputi:
1. Sifat butir
2. Tekstur
3. Tipe
4. Warna
4
6. Sortasi
7. Kekerasan
8. Ukuran
Coring merupakan metode yang digunakan untuk mengambil batu inti (core)
dari dalam lubang bor (Bateman,1985). Coring penting untuk mengkalibrasi
model petrofisik dan mendapat informasi yang tidak diperoleh melalui log.
Informasi penting yang bisa didapat oleh seorang petrofisis dari data core
tersebut menurut Darling (2005) antara lain:
1. Homogenitas reservoar
4. Tipe mineral
6. Kenampakan dip
5
Coring merupakan suatu metode pengambilan sampel batuan
reservoir yang relatif besar, baik dari bawah permukaan selama pengeboran,
atau dari sisi dinding lubang bor setelah pemboran. Ada dua dasar metode
coring yang diterapkan yaitu coring pada saat pemboran (bottom hole
coring) dan coring setelah pengeboran (sidewall coring).
6
[Link].2 Sidewall Coring
7
gambar 2.2 side wall core
Log merupakan suatu grafik kedalaman/waktu dari suatu set data yang
menunjukkan parameter diukur secara berkesinambungan di dalam sebuah sumur
pemboran (Harsono, 1997). Prinsip dasar log adalah mengukur parameter sifat-sifat
fisik dari suatu formasi pada setiap kedalaman secara kontinyu dari sumur
pemboran.
Secara kualitatif dengan data sifat-sifat fisik tersebut kita dapat menentukan
jenis litologi dan jenis fluida pada formasi yang tertembus sumur. Sedangkan
secara kuantitatif dapat memberikan data-data untuk menentukan ketebalan,
porositas, permeabilitas, kejenuhan fluida, dan densitas hidrokarbon.
Well Logging dapat dilakukan dengan dua cara dan bertahap yaitu:
1. Openhole Logging
8
Openhole logging ini merupakan kegiatan logging yang dilakukan
pada sumur/lubang bor yang belum dilakukan pemasangan casing. Pada
umumnya pada tahap ini semua jenis log dapat dilakukan.
2. Casedhole Logging
log radioaktif terdiri atas 3 (tiga) jenis log yaitu log gamma ray, log
densitiy, dan log neutron. log radioaktif juga sering disebut log triple
combo. Pada log gamma ray bekerja secara pasif dimana log gamma ray
hanya dapat menerima besar nilai radioaktif yang terkandung pada batuan,
sedangkan log neutron dan log density bersifat aktif dimana log density dan
neoturon akan menembakkan radioaktif ke formasi.
9
memancarkan radiasi radioaktif dimana intensitasnya akan diterima
oleh detector dan dicatat di permukaan. Unsur-unsur radioaktif yang
ada dalam suatu batuan cenderung untuk terkonsentrasi di dalam
batuan yang memiliki kadar radioaktif tinggi, defleksi kurva sinar
gamma pada batuan jenis ini akan relatif besar seperti pada shale.
Batuan yang hanya mengandung sedikit unsur radioaktif dan akan
memberikan defleksi kurva sinar gamma yang relatif kecil pada non
shale.
10
Masuknya sinar gamma ke dalam batuan akan menyebabkan
benturan antara sinar gamma dan elektron sehingga terjadi
pengurangan energi pada sinar gamma tersebut. Sisa energi sinar
gamma ini direkam detektor sinar gamma. Semakin lemah energi
yang diterima detektor, maka semakin banyak jumlah elektron di
dalam batuan yang berarti semakin padat butiran penyusun batuan
per satuan volume yang menjadi indikasi densitas batuan.
11
Gambar 2.4. Log density
12
Semakin banyak atom H dalam formasi, maka partikel neutron yang
kembali akan semakin sedikit.
13
Log neutron dalam perekamannya langsung menunjukkan
porositas batuan dengan menggunakan standar matrik batugamping.
Untuk batuan selain batugamping, harga porositasnya dinyatakan
dalam porositas neutron atau porositas formasi (𝜑𝑁). Untuk
mendapatkan harga porositas sebenarnya harus digunakan gabungan
kurva log yang lain seperti log densitas ( D).
14
gambar 2.6 combinasi log neutron & log densitas
Log listrik merupakan log yang paling tua dalam dunia perminyakan.
Log listrik berguna untuk menginterpretasi litologi dan dapat juga
digunakan untuk mendeteksi zona yang mengandung minyak atau tidak.
Log ini juga dapat digunakan sebagai dasar dalam korelasi bawah
permukaan.
Log SP dapat berkerja dengan bak jika pada luvang bor terisi
lumpur koduktif. 1) Id entifikasi lapisan permeabel 2) Mencari
batas-batas lapisan permeabel dan korelasi antar sumur berdasarkan
15
lapisan itu. 3) Menentukan nilai resistivitas air formasi (Rw) 4)
Memberikan indikasi kualitatif lapisan serpih.
16
mendeteminasi porositas resistivitas, karena batuan dan matrik tidak
konduktif, maka kemampuan batuan untuk menghantarkan arus
listrik tergantung pada fluida dan pori .
Lateral Log
Prinsip kerja dari laterelog ini adalah mengirimkan arus
bolak- balik langsung ke formasi dengan frekuensi yang berbeda.
Alat laterolog (DLT) memfokuskan arus listrik secara lateral ke
dalam formasi dalam bentuk lembaran tipis. Ini dicapai dengan
menggunakan arus pengawal (bucking current), yang fungsinya
untuk mengawal arus utama (measured current) masuk ke dalam
formasi sedalam-dalamnya. Dengan mengukur tegangan listrik
yang diperlukan untuk menghasilkan arus listrik utama yang
besarnya tetap, resistivitas dapat dihitung dengan hukum
[Link] ini biasanya digunakan untuk resistivitas
menengah-tinggi.
17
gambar 2.8 lateral log
Induksi
Prinsip kerja dari induksi yaitu dengan menginduksikan arus
listrik ke formasi. Pada alat memanfaatkan arus bolak-balik yang
dikenai pada kumparan, sehingga menghasilkan medan magnet,
dan sebaliknya medan magnet akan menghasilkan arus listrik pada
kumparan.
Secara umum, kegunaan dari log induksi ini antara lain
mengukur konduktivitas pada formasi, mengukur resistivitas
formasi dengan lubang pemboran yang menggunakan lumpur
pemboran jenis “oil base mud” atau “fresh water base mud”.
18
Penggunaan Lumpur pemboran berfungsi untuk memperkecil
pengaruh formasi pada zona batulempung/shale yang besar.
Penggunaan Log Induksi menguntungkan apabila :
a) Cairan lubang bor adalah insulator misal udara, gas, air
tawar,atauoil base mud.
b) Resistivity formasi tidak terlalu besar Rt < 100 Ω
c) Diameter lubang tidak terlalu besar.
19
gambar 2.10 pembacaan log
20
gambar 2.11 format khas log
resistivity
Ketika suatu formasi di bor, air lumpur pemboran akan masuk
ke dalam formasi sehingga membentuk 3 zona yang terinvasidan
mempengaruhi pembacaan log resistivitas, yaitu :
a. Flushed Zone Merupakan zona infiltrasi yang terletak paling
dekat dengan lubang bor serta terisi oleh air filtrat lumpur yang
mendesak Komposisi semula (gas, minyak ataupun air
tawar).Meskipun demikian mungkin saja tidak seluruh
Komposisi semula terdesak ke dalam zona yang lebih dalam.
b. Transition Zone Merupakan zona infiltrasi yang lebih dalam
keterangan zona ini ditempati oleh campuran dari air filtrat
lumpur dengan Komposisi semula.
21
c. Uninvaded Zone Merupakan zona yang tidak mengalami
infiltrasi dan terletak paling jauh
d. dari lubang bor, serta seluruh pori-pori batuan terisi oleh
Komposisi semula.
Log akustk adalah jenis log yang menggunakan media suara untuk
mengetahui besar porositas yang ada pada formasi.
22
dikirimkan kedalam formasi yang akan terpantukan dan diterima
oleh receiver.
Log mekanik adalah jenis log yang bekerja secara mekanik. Contohnya
seperti log calliper.
23
[Link] Log Calliper
24
2.3 Interpretasi Kualitatif
Zona hidrokarbon ditunjukkan oleh adanya separasi antara harga tahanan jenis
zona terinvasi (Rxo) dengan harga resistivitassebenarnya formasi pada zona tidak
terinvasi (Rt). Separasi tersebut dapat positif atau negatif tergantung pada harga
Rmf/Rw > 1, harga perbandingan Rxo dengan Rt akan maksimum dan hampir sama
dengan harga Rmf/Rw di dalam zona air. Nilai Rxo/Rt yang lebih rendah dari harga
maksimum menunjukkan adanya hidrokarbon dalam formasi.
Pada lubang bor keterangan harga Rmf lebih kecil daripada Rw (Rmf/Rw
kecil), zona hidrokarbon ditunjukkan harga Rxo/Rt lebih kecil dari satu. Untuk
membedakan gas atau minyak yang terdapat di dalam formasi dapat dilihat pada
gabungan log neutron- densitas. Zona gas ditandai dengan harga porositas neutron
yang jauh lebih kecil dari harga porositas densitas, sehingga akan ditunjukkan oleh
separasi kurva log neutron- densitas yang lebih besar. Dalam zona minyak, kurva
neutron atau kurva densitas membentuk separasi positif yang lebih sempit daripada
zona gas (dalam formasi bersih).
25
2.4 Interpretasi kuantitatif
Volume shale dapat diperoleh dari log gamma ray, log SP dan Log
Neutron.
GRlog-GRmin
______________
Vshale= GR-GRmin
GRmax-GRmin
Dimana :
SPlog-SPmin
26
______________
V
Vsh= SPmax-SPmin
Dimana :
SPlog : nilai SP pada lapisan tersebut
SPmax : nilai SP paling maksimum, sama dengan shale base line
SPmin : nilai SP saat defleksi paling minimum
ØN - ØNmin
______________
Vshale=
ØNmax- Ø Nmin
Dimana :
ØN : Porositas Neutron pada kedalaman Interpretasi
Ø NShale : Porositas rata rata zona 100% Lempung
ØNmin : nilai Porositas Neutron saat defleksi paling minimum
2.4.2 Porositas
Porositas suatu medium adalah bagian dari volume batuan yang tidak
terisi oleh benda padat (Harsono, 1997). Ada beberapa macam porositas
batuan :
a. Porositas Total
Porositas total merupakan perbandingan antara ruang kosong
total yang tidak terisi oleh benda padat yang ada diantara
elemen-elemen mineral dari batuan dengan volume total batuan.
Porositas total meliputi :
27
Porositas primer, yaitu ruang antar butir atau antar kristal yang
tergantung pada bentuk dan ukuran butir serta pemilahan butirnya.
Porositas gerowong, terbentuk secara dissolusi dan porositas rekah
yang diperoleh secara mekanik dan membentuk porositas
sekunder. Porositas ini dikenal sebagai vuggy pada batugamping.
b. Porositas Efektif
Merupakan perbandingan volume pori-pori yang saling
berhubungan dengan volume total batuan. Porositas efektif bisa jauh
lebih kecil dibandingkan dengan porositas total jika pori-porinya tidak
saling berhubungan. Penentuan harga porositas pada lapisan reservoar
menggunakan gabungan harga porositas dari dua kurva yang berbeda,
yaitu porositas densitas (ØD) yang merupakan hasil perhitungan dari
kurva RHOB dan porositas neutron (ØN) yang dibaca dari kurva NPHI.
Kurva RHOB yang mengukur berat jenis matriks batuan reservoar
biasanya dikalibrasikan pada berat jenis matriks batuan (batugamping =
2.71 dan batupasir = 2.65) serta diukur pada lumpur pemboran yang
digunakan dalam pemboran (ρf), setelah itu kurva ini baru bisa
menunjukkan harga porositas.
Porositas Densitas
Dimana :
ØD = porositas densitas
ρma = densitas matriks batuan, batupasir 2.65; batugamping
2.71
ρb = densitas bulk batuan, dari pembacaan kurva log
RHOB
ρf = Densitas Fluida (Fresh water 1.0 ; Salt water 1.1)
28
Kemudian Nilai porositas dikoreksi terhadap pengaruh Shale
Dimana :
ØD = porositas densitas
Porositas Neutron
Dimana :
Dimana :
29
Nsh = porositas neutron pada shale, dari harga NPHI pada
GRmax Vsh = volume shale
ØDCorr 2 - ØNCorr 2
Øe
2
Dimana :
Øe = porositas efective
Porositas Sonic
Dimana :
30
tf = travel time fluida (Freshwater189 usec/ft; Saltwater185
usec/ft) tma = travel time matriks batuan
Prosentase
Porositas Keterangan
31
Rumus ini dipakai sebagai dasar interpretasi data Log sampai sekarang
.Persamaan Archie tersebut biasanya digunakan pada cleansand formation.
.Dari persamaan Archie tersebut, diturunkan menjadi beberapa persamaan
yang cocok digunakan pada Shalysand formation, antara lain :
Simandoux Equation
Indonesian Equation
Dimana :
Sw = Saturasi air formasi
F = Faktor formasi
Rw = Resistivitas air formasi
Rt = Resistivitas formasi, dibaca dari kurva resistivitas
Rsh = Resistivitas pada shale
C = Untuk batupasir 0.4 dan untuk batugamping 0.45
Penentuan jenis kandungan di dalam reservoar (gas, minyak dan air)
didapat dari hasil perhitungan kejenuhan air formasi (Sw) dalam hasil
batasan umum harga Sw untuk lapangan yang “belum dikenal” seperti di
bawah ini :
Gas = Jika harga Sw adalah 0 – 35%
32
Minyak = Jika harga Sw adalah 35 – 65%
Air = Jika harga Sw adalah >65%
BAB III
PEMBAHASAN
33
didalam Formasi Cibulakan yang berada di bawah-permukaan merupakan
lapisan-lapisan produksi hidrokarbon.
Formasi Cibulakan Atas terdiri dari perselingan antara serpih dengan
batupasir dan batugamping, baik yang berupa batugamping klastik maupun
batugamping terumbu Mid Main Carbonate (MMC) yang berkebang secara
setempat setempat dan batupasir kuarsa untuk MMS. Diendapkan pada
lingkungan inner – outer Shelf.
34
180 rpm menjadi 90 rpm. Presentase cutting shale diikuti silt dan
sedikit gamping. Tidak ada Oil Show atau Gas Show. Dengan
kandungan propane, ethane, methane. Komposit kalsit menurun,
komposisi dolomit konstan. Deskripsi lithology, shale berwana
abu-abu terang, kadang kasar, agak kasar, subblocky-blocky. Kadang
silty (berlumpur). Terdapat jejak fosil pirite, loose quartz, medium
sorted,terlihat adanya porositas, semen kalsit.
Depth 1300-1400
Nilai ROP hanya berkisar 0-6 ft/hr. Nilai WOB mengalami
perubahan. RPM yang relative konstan. Presentase cutting didominasi oleh
shale, silt, dan pasir sehingga nilainya sama. Terdapat oil show namun
trace. Dengan kandungan gas ethane, methane, propane, isobutene.
Terdapat kalsit yang konstan dan dolomit yang rendah. Deskripsi
lithology, shale berwarna abu-abu terang dan abu-abu gelap. Terdapat
jejak fosil. Sandstone (batu pasir) bersih, transparan.
35
Gambar 3.3 Formasi Cibulakan Depth 1300-1400
Depth 1400-1500
Nilai ROP yang rendah dan konstan. WOB mengalami perubahan
setiap kedalamannya. RPM relative konstan. Presentasi cutting shale, silt,
pasir. Tidak ada oil gas show. Kandungan gas ethane, methane, propane.
Komposit kalsit tinggi dan dolomit rendah. Deskripsi lithology, sandstone
dominan clear, transparent, putih-putih abu. Sublocky-blocky. Gradasi ke
silty.
36
Depth 1500-1600
Nilai ROP relative rendah dan konstan. WOB berkisar 7-18 lbs.
RPM relative konstan. Presentase cutting shale, sand, silt dan gamping.
Tidak ada oil gas show. Dengan kandungan gas ethane, methane, propane.
Kalsit cukup dan dolomite rendah. Deskripsi lithology shale berwana
abu-abu putih. Terdapat jejak fosil feraminifera.
Depth 1600-1700
Nilai ROP yang relative rendah dan konstan. WOB dengan
perubahan yang sangat signifikan. RPM relative konstan. Presentase
cutting shale, sand, silt dan gamping. Tidak ada oil gas show. Dengan
kandungan gas ethane, methane, propane. Kalsit cukup dan dolomite
rendah. Deskripsi lithology shale berwana abu-abu putih. Terdapat jejak
fosil feraminifera.
37
Gambar 3.6 Formasi Cibulakan Depth 1600-1700
Depth 1700-1800
Nilai ROP yang relative rendah dan konstan. WOB dengan
perubahan yang sangat signifikan. RPM relative konstan. Presentase
cutting shale, sand, silt dan gamping. Tidak ada oil gas show. Dengan
kandungan gas ethane, methane, propane. Kalsit cukup dan dolomite
rendah. Deskripsi lithology shale berwana abu-abu putih. Terdapat jejak
fosil feraminifera.
38
Depth 1800-1900
Nilai ROP yang relative rendah dan konstan. WOB dengan
perubahan yang sangat drastic pada kedalaman 1895. RPM relative
konstan. Presentase cutting shale, sand, silt dan gamping. Tidak ada oil
gas show. Dengan kandungan gas ethane, methane, propane. Kalsit cukup
dan dolomite rendah. Deskripsi lithology shale berwana abu-abu putih.
Sub-angular-aubrended. Medium sorted. Terdapat jejak fosil feraminifera.
Depth 1900-2000
Nilai ROP yang relative rendah dan konstan. WOB dengan
perubahan yang sangat drastic pada kedalaman 1895. RPM relative
konstan. Presentase cutting shale, sand, silt dan gamping. Tidak ada oil
gas show. Dengan kandungan gas ethane, methane, propane. Kalsit cukup
dan dolomite rendah. Deskripsi lithology shale berwana abu-abu putih.
Sub-angular-aubrended. Medium sorted. Terdapat jejak fosil feraminifera.
39
Gambar 3.9 Formasi Cibulakan Depth 1900-2000
Depth 2000-2100
Nilai ROP yang relative rendah dan konstan. WOB dengan
perubahan yang sangat drastic pada kedalaman 1895. RPM relative
konstan. Presentase cutting shale, sand, silt dan gamping. Tidak ada oil
gas show. Dengan kandungan gas ethane, methane, propane. Kalsit cukup
dan dolomite rendah. Deskripsi lithology shale berwana abu-abu putih.
Sub-angular-aubrended. Medium sorted. Terdapat jejak fosil feraminifera.
Material Carbonate, tryce pirite, gradasi ke silty.
40
Depth 2100-2200
Nilai ROP yang relative rendah dan konstan. WOB dengan
perubahan yang sangat drastic pada kedalaman 1895. RPM relative
konstan. Presentase cutting shale, sand, silt dan gamping. Tidak ada oil
gas show. Dengan kandungan gas ethane, methane, propane. Kalsit cukup
dan dolomite rendah. Deskripsi lithology shale berwana abu-abu putih.
Sub-angular-aubrended, free grain, dominan consolidated, trace shell
fragmen, medium sorted. Terdapat jejak fosil feraminifera. Material
Carbonate, tryce pirite, gradasi ke silty.
Depth 2200-2300
ROP yang mengalami perubahan signifikan dari 2270-2300, kisaran pada
depth ini kurang lebih 0-20 ft/hr. WOB pun mengalami perubahan disetiap
kedalamannya. Nilai RPM berada pada interval 30-60 rpm. Presentase
cutting shale, sand, silt dan gamping. Tidak ada oil gas show. Dengan
kandungan gas ethane, methane, propane. Kalsit cukup dan dolomite
rendah. Deskripsi lithology, limestone dominan light cream, white of
41
white, soft, chalky, dominan mudstone, Shale dominan darkgrey-grey,
moderated hard, silty.
Dimana :
GR = Radioaktivitas yang dibaca pada log
Grmin = Radioaktivitas yang dibaca pad clean formation
42
GRmax = Radioaktivitas yang dibaca pada shale atau clay
Cibulakan
𝐺𝑟𝑙𝑜𝑔 − 𝐺𝑟𝑚𝑖𝑛
Vshale =
𝐺𝑟𝑚𝑎𝑥 − 𝐺𝑟𝑚𝑖𝑛
70 − 58
Vshale =
149 − 58
= 0.13 v/v
Baturaja
𝐺𝑟𝑙𝑜𝑔 − 𝐺𝑟𝑚𝑖𝑛
Vshale =
𝐺𝑟𝑚𝑎𝑥 − 𝐺𝑟𝑚𝑖𝑛
66 − 42
Vshale =
165 − 42
= 0.19v/v
Talang Akar
𝐺𝑟𝑙𝑜𝑔 − 𝐺𝑟𝑚𝑖𝑛
Vshale =
𝐺𝑟𝑚𝑎𝑥 − 𝐺𝑟𝑚𝑖𝑛
110 − 36
Vshale =
225 − 36
= 0.39 v/v
43
ƿmatrix − ƿbulk
∅D = 𝑥 100%
ƿmatrix − ƿfluid
2.65 − 1.85
∅D = 𝑥 100%
2.65 − 0.85
= 0,4
0.32 + 0.22
∅Eff = 𝑥 100%
2
= 0.27 x 100%
= 27%
Baturaja
ƿmatrix − ƿbulk
∅D = 𝑥 100%
ƿmatrix − ƿfluid
2.7 − 2.65
∅D = 𝑥 100%
2.7 − 0.85
= 0,03
44
= 3%
∅Dc + ∅Nc
∅Eff = 𝑥 100%
2
0.03 + 0.016
∅Eff = 𝑥 100%
2
= 0.023 x 100%
= 2.3%
Talang Akar
ƿmatrix − ƿbulk
∅D = 𝑥 100%
ƿmatrix − ƿfluid
2.65 − 2.45
∅D = 𝑥 100%
2.65 − 0.85
= 0.11%
45
ФDc + ФNc
∅Eff = 𝑥 100%
2
0.09 + 0.07
∅Eff = 𝑥 100%
2
= 0.08 x 100%
= 8%
46
Gambar 3.13 Lithologi Formasi Cibulakan Atas
47
Gambar 3.14 Lithologi Formasi Cibulakan Bawah dan Baturaja
48
Gambar 3.15 Lithologi Formasi Talang Akar
49
lainnya. Dalam kasus ini, untuk menentukan nilai saturasi air perlu dilakukan
penelitian secara bertahap. Dimulai dari penentuan jenis formasi, apakah
berupa shaly-sand formation atau berupa clean sand formation. Jika yang
dijumpai berupa clean sand formation maka penentuan metode saturasi air
akan menjadi lebih mudah karena pada formasi jenis ini tidak terdapat
kandungan shale yang dapat menganggu nilai perhitungan. Apabila reservoar
yang kita teliti memiliki kandungan shale atau bahkan terdiri dari batuan
karbonat, maka penelitian masih harus berlanjut hingga dapat diketahui
bagaimana dampak dari kehadiran shale ataupun rongga - rongga yang
terbentuk pada batuan karbonat terhadap nilai saturasi air yang akan dicari.
Pada reservoar yang mengandung shale, perlu dilakukan berbagai penelitian
lanjutan seperti menentukan volume shale yang ada pada suatu reservoar.
Setelah itu kita perlu menentukan bagaimana jenis persebaran shale pada
reservoar tersebut, apakah termasuk structural shale atau laminate shale atau
jenis shale lainnya. Setelah itu barulah kita bisa mengetahui metode water
saturation air manakah yang akan cocok pada reservoar yang akan kita teliti.
Pada mulanya Archie berhasilkan membuat 2 hubungan empiris yang
dinamakan index resistivitas (RI) dan faktor formasi (F). Persamaan yang
pertama menjelaskan tentang hubungan antara index resistivitas (RI) dengan
saturasi air (Sw) dapat dituli skan sebagai berikut (Archie, G. E., 1941)
50
Metode Archie ini memiliki kelebihan diantaranya dapat dengan baik
menentukan nilai saturasi air pada reservoar yang tidak memiliki kandungan
shale atau clean sand formation. Pada beberapa kasus metode archie juga dapat
dengan baik menentukan nilai saturasi air pada reservoar yang memiliki
kandungan batuan karbonat. Persamaan Archie merupakan dasar dari berbagai
metode yang muncul setelahnya.
Metode Archie ini selain memiliki beberapa kelebihan tentu masih
memiliki beberapa kekurangan diantaranya adalah bahwa metode ini tidak
dapat menentukan nilai saturasi air dengan baik pada reservoar yang memiliki
kandungan shale. Selain itu, persamaan ini juga tidak menganggap bahwa
shale yang berada pada suatu formasi dapat meningkatkan pengukuran
kondukti vitas sehingga akan membuat nilai perhitungan menjadi kurang tepat.
Untuk perhitungan Sw kali ini, kami akan menggunakan persamaan dari
Archie (1941). Terdapat 3 formasi yang akan dihitung SW nya antara lain
adalah:
Cibulakan
Archie
𝜋
√𝐹. 𝑅𝑊
𝑆𝑊 =
RT
α
𝐹= 𝑚
∅
0.62
𝐹 =
30.75%2.15
= 0.000239
2.0
√0.000239 𝑥 10
𝑆𝑊 =
7
= 0.023
Baturaja
51
1.0
𝐹 =
3.8%2.
= 0.06
𝑛
√0.06 𝑥 100
𝑆𝑊 =
80
= 0.027
Talang Akar
0.81
𝐹 =
10.5%2
= 0.0073
2.0
√0.0073 𝑥 13
𝑆𝑊 =
9
= 0.010
52
Gambar 3.16 Jenis Fluida Pada Formasi Cibulakan
53
.
Gambar 3.17 Jenis Fluida Pada Formasi Cibulakan Bawah dan
Formasi Baturaja
54
[
Gambar 3.18 Jenis Fluida Pada Formasi Talang Akar
55
3.2 Analisa Final Presentasi
56
Reservoir
57
Gambar 3.20 Hasil Perhitungan dari zona Reservoir
Dari perhitungan Vshale dan Porositas efektif dapat di jebarkan bahwa lapisan
ini memiliki nilai Vshale sebesar 0.043 v/v dan porositas efektif sebesar 0.214 atau
21.4% yang bahwasanya dapat dikatakan sebagai zona yang cukup prospek karena
58
memiliki kandungan Vshale yang kecil dan nilai porositas yang cinderung baik.
Lalu data tersebut di validasi dengan beberapa data pendukung seperti data mud log
yang memang mengindikasikan adanya hidrokarbon yang dibuktikan dengan
besarnya nilai gas kromatografi khususnya keterdapatan gas iso - pentana pada
kedalaman 2320 - 2324 m.
59
Gambar 3.22 Validasi data Sw dan Vshale
60
Gambar 3.24 Validasi Data Pressure Point
Validasi indikasi ini pertama kami lakukan pada data data log pada IP dengan
nilai Sw Dan Vshale didapatkan data nilai Sw pada kedalaman 2320 m sebesar 0.38
dan Vshale sebesar 0.059, sedangkan pada kedalaman 2324 m nilai Sw sebesar
0.055 dan Vshale sebesar 0.768. Data dari Log ini dapat di Validasi kembali pada
data Rcal (routine core analysis) dengan melihat besaran Sw yang ada pada dua
data diatas tidak terlalu jauh perbedaan nilainya serta nilai porositas yang tidak jauh
berbeda dengan nilai perhitungan porositas efektif.
Data terakhir yang kami validasi adalah data dari pressure point yang kami
anggap juga sebagai data pendukung untuk menentukan zona perforasi, data
pressure point mengindikasikan adanya fluida berupa oil dan menjadi dasar kami
untuk menentukan zona perforasi di interval 2320 - 2324 m pada formasi Baturaja.
61
3.2.2 Penempatan Casing
62
Gambar 3.25 Setting casing depth berdasarkan
Probe type
Casing tipe XLD adalah jenis casing yang ukuran diameternya lebih
tebal dibandingkan dengan casing konvensional. Ketebalan casing ini akan
mempengaruhi kemampuan atau performa casing untuk menjalankan
fungsinya, karena semakin tinggi tekanan maka semakin tinggi pula grade
dan kemampuan casing yang dibutuhkan.
63
BAB IV
KESIMPULAN
64
Penilaian formasi atau evaluasi formasi merupakan salah satu cabang ilmu dari
teknik perminyakan yang mempelajari tentang formasi/batuan serta permasalahan
yang berhubungan dengan keberhasilan dalam penemuan cadangan hidrokarbon,
antara lain: memperkirakan dimana terdapat kandungan hidrokarbon serta
menghitung besarnya cadangan hidrokarbon. Untuk mengetahui permasalahan
tersebut perlu dilakukan beberapa proses pengambilan data yaitu mud logging,
wireline well logging, dan pengambilan sampel batuan (coring).
Dari data penilaian formasi ini dapat diketahui kedalaman formasi produktif
serta batasan-batasannya dengan formasi di atas atau di bawahnya, jenis reservoir
dengan mengetahui sifat fisik batuan dan fluida reservoir, gangguan pada sumur
yang disebabkan oleh kerusakan formasi disekitar lubang bor pada formasi
produktif sebagai akibat dari aktivitas pemboran, serta dari data ini dapat juga
untuk penentuan atau perkiraan cadangan reservoir serta produktivitas
reservoirnya, dan dapat juga untuk penentuan kelakuan (performance) reservoir
tersebut.
Log merupakan suatu grafik kedalaman/waktu dari suatu set data yang
menunjukkan parameter diukur secara berkesinambungan di dalam sebuah sumur
pemboran (Harsono, 1997). Metode logging tersebut antara lain: log listrik, log
radioaktif, log akustik dan log-log lainnya.
Log listrik adalah salah satu cabang yang sangat penting dalam logging
sumur. Biasanya jenis log ini merekam data pada lubang sumur yang tidak di
casing, yaitu resistivitas dari formasi. Resistivitas dari formasi ini merupakan
petunjuk penting untuk mengenali litologi formasi dan kandungan fluidanya. Log
listrik ini terdiri dari log SP dan log resistivitas.
65
Log SP (Spontanieous Potential) mengukur perbedaan potensial listrik antara
elektroda yang bergerak sepanjang lubang bor dengan elektroda tetap
dipermukaan. Prinsip dari SP log ini adalah mengukur tegangan lapisan dengan
fungsi kedalaman. Tegangan lapisan dihasilkan dari respon suatu aliran arus kecil
yang menembus rangkaian sirkuit pada saat elektroda di dalam sumur bergerak ke
atas. Resistivitas atau tahanan jenis suatu batuan adalah suatu kemampuan batuan
untuk menghambat jalannya arus listrik yang mengalir melalui batuan tersebut
(Darling, 2005).Nilai resistivitas rendah apabila batuan mudah untuk
mengalirkan arus listrik, sedangkan nilai resistivitas tinggi apabila batuan sulit
untuk mengalirkan arus [Link] Resistivity digunakan untuk mendeterminasi
zona hidrokarbon dan zona air, mengindikasikan zona permeabel dengan
mendeteminasi porositas resistivitas, karena batuan dan matrik tidak konduktif,
maka kemampuan batuan untuk menghantarkan arus listrik tergantung pada
fluida dan pori
Gamma ray log adalah suatu kurva yang menunjukkan besaran intensitas
radioaktif yang ada dalam formasi. Prinsip dasar dari gamma ray log adalah
mencatat radioaktif alamiah yang dipancarkan oleh 3 unsur radioaktif yang ada
dalam batuan yaitu : Uranium (U), Thorium (Th), Potasium (K). Neutron adalah
suatu partikel listrik yang netral dan mempunyai massa yang hampir sama dengan
massa atom hidrogen. Density log adalah log porositas yang mengukur elektron
density dari formasi.
Pada log akustik hanya terdiri dari sonic log. Sonic log merupakan rekaman
waktu yang diperlukan oleh gelombang suara untuk merambat melalui formasi.
Pada log mekanik hanya terdiri dari log caliper, log ini digunakan untuk mengukur
diameter lubang bor yang sesungguhnya untuk keperluan perencanaan atau
melakukan [Link] dapat merefleksikan lapisan permeable dan lapisan
yang impermeable. Pada lapisan yang permeable diameter lubang bor akan
66
semakin kecil karena terbentukya kerak lumpur (mud cake) pada dinding lubang
bor. Sedangkan padalapisan yang impermeable diameter lubang bor akan
bertambah besar karena ada dinding yang runtuh (vug).
67
coring diharapkan merupakan data yang valid sehingga perlu penanganan yang
cermat.
68
DAFTAR PUSTAKA
69
70
LAMPIRAN
71
Vshale dihitung menggunakan persamaan Vshale = (GRlog - GRmin) / (GRmax - GRmin), di mana GRlog adalah radioaktivitas yang dibaca pada log, GRmin adalah radioaktivitas pada formasi bersih, dan GRmax adalah radioaktivitas pada shale atau clay. Tujuan menghitung Vshale adalah untuk memperkirakan kandungan clay dalam formasi yang bersifat permeabel sehingga dapat membantu dalam menilai kualitas reservoir dan memprediksi produksi hidrokarbon .
Coring konvensional menggunakan core bit atau diamond bit untuk mengambil sampel batuan dengan diameter antara 3-5 inci dan panjang 10-20 ft. Coring ini dilakukan bersamaan dengan pemboran. Sebaliknya, wire-line retrievable coring dilakukan tanpa mengangkat drill string, menggunakan alat yang diturunkan ke dasar sumur, menghasilkan sampel berukuran lebih kecil, antara 1 1/8 – 1 ¾ inci dan panjang 10-20 ft. Kedua metode ini digunakan untuk mendapatkan data petrofisik yang valid terutama pada zona produktif .
Log SP dipengaruhi oleh parameter seperti resistivitas formasi, jenis air lumpur pemboran yang digunakan, ketebalan formasi, dan parameter lainnya. Jenis air lumpur yang konduktif akan meningkatkan kontras potensial listrik yang dapat diukur sehingga log SP bekerja dengan lebih baik. Resistivitas formasi serta ketebalan formasi juga akan mengubah intensitas sinyal yang diperoleh, yang pada gilirannya memengaruhi interpretasi mengenai batasan lapisan permeabel .
Porositas efektif ditentukan dengan mengkombinasikan nilai porositas dari log densitas dan neutron. Rumus yang digunakan adalah ØEff = (ØD + ØN)/2, di mana ØD adalah porositas dari log densitas yang telah dikoreksi terhadap kandungan shale, dan ØN adalah porositas dari log neutron yang juga dikoreksi. Koreksi ini penting karena nilai awal dari masing-masing log terkena pengaruh shale dan memerlukan penyesuaian agar menghasilkan porositas efektif yang akurat .
Hukum Archie digunakan untuk memprediksi saturasi air (Sw) dalam reservoir melalui parameter resistivitas formasi (Rt), resistivitas air formasi (Rw), dan faktor formasi (F). Archie Formula memberikan dasar untuk interpretasi data porositas dan saturasi air dengan menghubungkan resistivitas listrik dengan saturasi air. Pada formasi yang belum dikenal, batasan Sw digunakan untuk mengklasifikasikan konten reservoir sebagai gas (Sw = 0-35%), minyak (Sw = 35-65%), atau air (Sw > 65%). Ini membantu dalam mengevaluasi potensi produksi hidrokarbon berdasarkan analisis resistivitas .
Kurva log Gamma Ray mengukur intensitas radioaktif alamiah dari uranium, thorium, dan potasium yang ada dalam batuan, sehingga berfungsi baik untuk mendeteksi kandungan shale atau clay. Kurva ini memberi indikasi tentang sifat litologi dari lapisan batuan berdasarkan intensitas radioaktif. Sementara itu, log Neutron mengukur porositas dari formasi dengan mendeteksi interaksi neutron dengan atom hidrogen. Log Neutron lebih fokus pada menentukan kandungan fluida dalam pori-pori batuan .
Log sonic mengukur waktu yang diperlukan oleh gelombang suara untuk merambat melalui formasi, yang secara langsung berkaitan dengan kepadatan batubara serta kualitas porosity dari batuan. Waktu perambatan ini penting karena dapat digunakan untuk menghitung porositas dan karakteristik elastis dari batuan. Persaingan antara waktu perambatan suara yang lambat dan cepat dapat mengindikasikan perubahan densitas dan kekompakan formasi yang mengarah pada identifikasi cadangan hidrokarbon .
Dalam formasi yang mengandung hidrokarbon, kurva densitas akan menunjukkan defleksi ke kiri, sedangkan kurva log neutron akan menunjukkan defleksi ke kanan. Hal ini mengakibatkan terjadinya separasi positif antara kedua kurva. Sebaliknya, pada lapisan serpih (shale), kedua kurva akan mengalami defleksi yang sebaliknya dengan separasi negatif. Keberadaan separasi positif ini disebabkan oleh perbedaan densitas dan kandungan hidrogen yang terkait dengan fluida hidrokarbon di dalam formasi .
Log resistivitas mendeterminasi zona hidrokarbon dengan mengukur kemampuan batuan untuk menghambat arus listrik. Pada area yang mengandung air, resistivitas cenderung rendah karena air bersifat konduktif, sementara pada zona yang mengandung hidrokarbon, resistivitasnya lebih tinggi karena hidrokarbon tidak menghantarkan listrik. Oleh karena itu, resistivitas yang tinggi dapat mengindikasikan zona hidrokarbon potensial dalam formasi .
Keberadaan air dalam pori-pori batuan akan memperbesar harga porositas neutron karena air memiliki konsentrasi atom hidrogen yang tinggi. Sementara itu, pori-pori yang diisi minyak akan menghasilkan harga porositas neutron yang lebih rendah dibandingkan air, tetapi tetap lebih tinggi daripada gas. Hal ini karena minyak juga mengandung atom hidrogen, meskipun dalam konsentrasi yang lebih kecil dibandingkan air. Ketika formasi terisi gas, nilai log netron akan mendekati batuan yang sangat kompak (2–6%), karena konsentrasi atom hidrogen pada gas lebih kecil dari minyak dan air .