0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
165 tayangan83 halaman

Laporan Praktikum Penilaian Formasi: Disusun Oleh

Laporan ini membahas analisis data log dari sumur bor di Formasi Cibulakan untuk mengidentifikasi litologi, zona hidrokarbon, dan karakteristik reservoir."
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
165 tayangan83 halaman

Laporan Praktikum Penilaian Formasi: Disusun Oleh

Laporan ini membahas analisis data log dari sumur bor di Formasi Cibulakan untuk mengidentifikasi litologi, zona hidrokarbon, dan karakteristik reservoir."
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

LAPORAN PRAKTIKUM

PENILAIAN FORMASI

DISUSUN OLEH :

Nama : Baiq Maulinda Ulfah

NIM : 1601203

Kelompok : 1 (Satu)

i
JURUSAN S1 TEKNIK PERMINYAKAN KONSENTRASI TEKNIK GEOLOGI

SEKOLAH TINGGI TEKNOLOGI MINYAK DAN GAS BUMI BALIKPAPAN

2018

LEMBAR PENGESAHAN

LAPORAN RESMI PRAKTIKUM

PENILAIAN FORMASI

Diajukan untuk memenuhi persyaratan praktikum Penilaian Formasi

Tahun Akademik 2018/2019

Jurusan S1 Teknik Perminyakan

Sekolah Tinggi Tekonologi Minyak Dan Gas Bumi Balikpapan

Disusun oleh :

Nama : Baiq Maulinda Ulfah

NIM : 1601203

Kelompok : 1 (Satu)

Hasil Penilaian :

ii
Balikpapan,
2018

Disetujui oleh :

Dosen Pembimbing Asisten Praktikum

Kukuh Jalu Waskita,ST.,[Link] Indra Pratama

NIDN 1117128503 NIM 1501433

KATA PENGANTAR

Segala puja dan puji tercurah hanyalah ke hadirat Allah SWT sang pemilik ilmu
yang telah memberikan limpahan karunia- Nya sehingga saya dapat merampungkan
penulisan Laporan Resmi Praktikum Penilaian Formasi sebagai bentuk Tugas Akhir
Praktikum Penilaian Formasi, Semester Ganjil S1 teknik Perminyakan Konsentrasi
Teknik Geologi, Sekolah Tinggi Teknologi Minyak dan Gas Bumi Balikpapan.

Ungkapan rasa terimakasih kepada kedua orangtua saya berkat doa-doa yang
selalu dipanjatkan demi kemudahan langkah anak-anaknya. Kepada Bapak Kukuh
Djalu Waskita selaku dosen pengampu mata kuliah Penilaian Formasi, kepada asisten

iii
praktikum penilaian formasi, saudara Indra Pratama, Puguh Eko Laksono, Laurencius
Yanuar Aditya, M. Iqbal Reza, dan saudari Delviani Pasang yang telah membimbing
selama praktikum hingga penyelesaian laporan ini. Tak lupa kepada rekan rekan
kelompok satu ( 1 ) yang selalu membantu dalam pengerjaan tugas praktikum sehingga
menjadi sempurna lah lampiran pada laporan ini. Serta rekan rekan kelas Teknik
Geologi 2016 yang memberikan inspirasi melalui perbedaan pendapat dalam setiap
materinya dan bantuan lainnya yang tak bisa saya sebutkan.

Ucapan maaf saya sampaikan atas kesalahan maupun kekurangan yang terdapat
dalam laporan ini, baik dalam pemilihan kata maupun bahasa. Saran dan kritik yang
mebangun dari semua pihak sangat saya harapkan demi kemajuan penulisan laporan
saya berikutnya. Semoga laporan ini dapat bermanfaat bagi semua pihak yang
membacanya. Selamat membaca dan selamat menambah wawasan.

Balikpapan, November 2018

Baiq Maulinda Ulfah

LEMBAR PERSEMBAHAN

iv
v
DAFTAR ISI

Halaman Judul

Lembar Pengesahan

Kata pengantar

Lembar Persembahan

Daftar isi

Daftar Gambar

Daftar Tabel

Bab I Pendahuluan

1.1 Tujuan

Bab II Tinjauan Pustaka

2.1 Mud Log

2.1.1 Deskripsi Cutting

2.1.2 Analisa Coring

vi
[Link] Metode Coring

[Link].1 Bottom Hole Coring

[Link].2 SideWall Coring

2.2 Metode Log

2.2.1 Log Radioaktif

[Link] Log Gamma Ray

[Link] Log Density

[Link] Log Neutron

2.2.2 Log Listrik

[Link] Log Spontaneous Potential

[Link] Log Resistivitas

2.2.3 Log Akustik

[Link] Log Sonic

2.2.4 Log Mekanik

2.3 Interpretasi Kualitatif

2.4 Interpretasi Kuantitatif

2.4.1 Volume Shale

2.4.2 Porositas

2.4.3 Saturasi Water

Bab III Pembahasan

3.1 Tugas Individu

3.1.1 Analisa Vshale, porositas, dan penentuan lithologi

3.1.2 Analisa SW ( Saturasi Water dan penentuan jenis fluida

vii
3.2 Tugas Kelompok

3.2.1 Analisa Final Exercise

viii
DAFTAR GAMBAR

Gambar 2.1 bottom hole core

Gambar 2.2 side wall core

Gambar 2.3 Defleksi log GR

Gambar 2.4 log densitas

Gambar 2.5 log neutron

Gambar 2.6 combinasi log neutron & log densitas

Gambar 2.7 log

Gambar 2.8 lateral log

Gambar 2.9 induksi log

Gambar 2.10 pembacaan log

Gambar 2.11 format khas log

Gambar 2.12 profil sumur bor terinvasi lumpur

Gambar 2.13 log sonic

Gambar 2.14 log caliper

Gambar 3.1 Formasi Cibulakan Depth 1050-1100

ix
Gambar 3.2 Formasi Cibulakan Depth 1200-1300
Gambar 3.3 Formasi Cibulakan Depth 1300-1400
Gambar 3.4 Formasi Cibulakan Depth 1400-1500
Gambar 3.5 Formasi Cibulakan Depth 1500-1600
Gambar 3.6 Formasi Cibulakan Depth 1600-1700
Gambar 2.7 Formasi Cibulakan Depth 1700-1800
Gambar 3.8 Formasi Cibulakan Depth 1800-1900
Gambar 3.9 Formasi Cibulakan Depth 1900-2000
Gambar 3.10 Formasi Cibulakan Depth 2000-2100
Gambar 3.11 Formasi Cibulakan Depth 2100-2200
Gambar 3.12 Formasi Cibulakan Depth 2200-2300
Gambar 3.13 Lithologi Formasi Cibulakan Atas
Gambar 3.14 Lithologi Formasi Cibulakan Bawah dan Baturaja
Gambar 3.15 Lithologi Formasi Talang Akar
Gambar 3.16 Jenis Fluida Pada Formasi Cibulakan
Gambar 3.17 Jenis Fluida Pada Formasi Cibulakan Bawah dan
Formasi Baturaja
Gambar 3.18 Jenis Fluida Pada Formasi Talang Akar

x
xi
DAFTAR TABEL

Tabel 2.1 densitas

Tabel 2.2 Klasifikasi Porositas

xii
BAB I

PENDAHULUAN

Minyak dan gas bumi merupakan sumber daya energi terpenting di dunia.
Industri minyak dan gas di Indonesia pun mengalami perkembangan yang
sangat maju dari tahun ke tahun untuk mencukupi kebutuhan dalam negeri
akan bahan bakar yang semakin meningkat. Sektor minyak dan gas bumi
merupakan penghasil devisa terbesar yang merupakan tulang punggung
pembangunan nasional.

Keterdapatan minyak bumi dan gas di alam di tunjang dengan sistem


pembentuknya. Dimana minyak dan gas ini terperangkap dalam batuan
berpori yang disebut dengan batuan reservoir. Untuk memprediksi cadangan
minyak dan gas ini diperlukan evaluasi terhadap terhadap kondisi dari suatu
resrvoir reservoir, mengingat pentingnya minyak dan gas ini bagi
keberlangsungan sistem kehidupan. Selain itu, besarnya dana dan resiko dalam
operasional minyak dan gas gas menjadi faktor penting untuk keakuratan data
dari reservoir.

Sejarah penelitian di bidang evaluasi formasi menunjukkan banyaknya


usaha dan pendekatan yang telah di lakukan untuk menciptakan suatu metode
yang handal dengan tujuan mendapatkan informasi model reservoir seperti
distribusi porositas dan saturasi fluida. Para ahli minyak menyatakan bahwa
metode logging dapat mendukung perkembangan eksplorasi hidrokarbon dan
dapat mengetahui gambaran yang lengkap dari lingkungan bawah permukaan
tanah, tepatnya dapat mengetahui dan menilai batuan - batuan yang
mengelilingi lubang bor tersebut. Selain itu, metode ini juga dapat memberikan
keterangan ke dalam lapisan yang mengandung hidrokarbon serta sejauh mana
penyebaran hidrokarbon pada suatu lapisan dengan tujuan supaya dapat
melakukan interpretasidan analisis hasil rekaman log ( Dewanto, 2008).

1
Analisa petrofisika sangat penting dilakukan untuk mengetahui kualitas
reservoir, jenis fluida, porositas dan permeabilitas dari suatu batuan atau
formasi,karena hal ini hanya dapat diketahui berdaserkan sifat fisik dari batuan
tersebut serta dapat diketahui geometri reservoir suatu zona sehingga dapat
dihitung cadangan migas yang ada ( Iqbal, 2009 ).

1.1 Tujuan

[Link] litologi berdasarkan analisa data log

[Link] zona prospekhidrokarbon berdasarkan data log, core maupun


cutting

[Link] karakterisasi reservoir pada cekungan Jawa Barat Utara

2
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Mud Log

Mud logging merupakan proses menstimulasikan dan memantau perpindahan


mud dan cutting pada sumur selama pemboran. Menurut Darling (2005) terdapat
dua tugas utama dari seorang mud logger yaitu :

1. Memantau parameter pengeboran dan memantau sirkulasi gas/cairan/padatan


dari sumur agar pengeboran dapat berjalan dengan aman dan lancar.

2. Menyediakan informasi sebagai bahan evaluasi bagi petroleum engineering


department.

Mud-logging unit akan menghasilkan mud log yang akan dikirim ke kantor
pusat perusahaan minyak. Menurut Darling (2005), mud log tersebut meliputi:

1. Pembacaan gas yang diperoleh dari detektor gas atau kromatograf

2. Pengecekan terhadap ketidakhadiran gas beracun (H2S, SO2)

3. Laporan analisis cutting yang telah dideskripsi secara lengkap

4. Rate of Penetration (ROP)

3
5. Indikasi keberadaan hidrokarbon yang terdapat di dalam sampel

Mud log merupakan alat yang berharga untuk petrofisis dan geolog di
dalam mengambilkeputusan dan melakukan evaluasi. Darling (2005) menyatakan
bahwa mud log digunakan untuk hal – hal berikut ini:

1. Identifikasi tipe formasi dan litologi yang dibor

2. Identifikasi zona yang porous dan permeabel

3. Picking of coring, casing, atau batas kedalaman pengeboran akhir

4. Memastikan keberadaan hidrokarbon sampai pada tahap membedakan jenis


hidrokarbon tersebut apakah minyak atau gas

2.1.1 Deskripsi cutting

Cutting merupakan material hasil hancuran batuan oleh mata bor yang
dibawa oleh lumpur pemboran ke permukaan (Bateman,1985). Sampel akan
dibagi menjadi dua yaitu sampel basah dan sampel kering (sampel yang telah
dicuci dan dikeringkan). Sampel yang telah dibersihkan diamati di bawah
mikroskop yang ada di mudlogging unit. Hasil deskripsi kemudian diserahkan
ke kantor pusat pengolahan data.

Agar informasi tersebut berguna maka ada standar deskripsi baku yang harus
dilakukan. Darling (2005) menyatakan bahwa deskripsi tersebut harus meliputi:

1. Sifat butir

2. Tekstur

3. Tipe

4. Warna

5. Roundness dan sphericity

4
6. Sortasi

7. Kekerasan

8. Ukuran

9. Kehadiran mineral jejak (misalnya pirit, kalsit, dolomit, siderit)

10. Tipe partikel karbonat

11. Partikel skeletal (fosil, foraminifera)

12. Partikel non-skeletal (lithoclast, agregat, rounded particles).

2.1.2 Analisis Coring

Coring merupakan metode yang digunakan untuk mengambil batu inti (core)
dari dalam lubang bor (Bateman,1985). Coring penting untuk mengkalibrasi
model petrofisik dan mendapat informasi yang tidak diperoleh melalui log.

Informasi penting yang bisa didapat oleh seorang petrofisis dari data core
tersebut menurut Darling (2005) antara lain:

1. Homogenitas reservoar

2. Tipe sementasi dan distribusi dari porositas dan permeabilitas

3. Kehadiran hidrokarbon dari bau dan pengujian dengan sinar ultraviolet

4. Tipe mineral

5. Kehadiran fracture dan orientasinya

6. Kenampakan dip

[Link] Metode Coring

5
Coring merupakan suatu metode pengambilan sampel batuan
reservoir yang relatif besar, baik dari bawah permukaan selama pengeboran,
atau dari sisi dinding lubang bor setelah pemboran. Ada dua dasar metode
coring yang diterapkan yaitu coring pada saat pemboran (bottom hole
coring) dan coring setelah pengeboran (sidewall coring).

[Link].1 Bottom Hole Coring

Bottom hole coring adalah metode pengambilan core yang


dilakukan secara bersamaan ketika pemboran pada sumur sedang
dilakukan. Sesuai dengan alat yang digunakan maka bottom core
dibedakan menjadi, conventional coring yaitu coring yang
menggunakan core bit biasa atau diamond bit. Ukuran core yang
didapat adaloah diameter antara 3 – 5 inch dan panjang. Wire-line
Retrievable coring dimana pada cara ini alat diturunkan kedasar
sumur tanpa mengangkat drill string. Ukuran core yang diperoleh
dengan cara ini lebih kecil yaitu 1 1/8 - 1 ¾ inch dan panjang 10 -
20 ft.

gambar 2.1 bottom hole core

6
[Link].2 Sidewall Coring

Metode ini sering dilakukan untuk mendapatkan sampel core


dari sebuah zona tertentu atau zona yang sudah dibor. Metode ini
biasanya dicapai dengan menggunakan perangkat seperti yang
ditunjukkan pada (Gambar 2.2). Adapun mekanisme dari
pengambilan sampel dengan metode ini yaitu dengan menggunakan
sebuah peluru hampa yang ditanamkan didalam dinding formasi lalu
ditembak dengan menggunakan control panel electrik di permukaan.

Sebuah kabel baja yang fleksibel akan mengambil peluru


yang mengandung core. Sampel jenis ini biasanya diameternya
sekitar 3/4 atau 13/16 inchi dan panjang 3/4 sampai 1 in. Sidewall
coring diterapkan secara luas di daerah batuan lunak di mana kondisi
lubang yang tidak kondusif untuk drill steam test. Zona yang akan
dijadikan sampel biasanya dipilih dari elektrik log.

7
gambar 2.2 side wall core

2.2 Metode Log

Log merupakan suatu grafik kedalaman/waktu dari suatu set data yang
menunjukkan parameter diukur secara berkesinambungan di dalam sebuah sumur
pemboran (Harsono, 1997). Prinsip dasar log adalah mengukur parameter sifat-sifat
fisik dari suatu formasi pada setiap kedalaman secara kontinyu dari sumur
pemboran.

Secara kualitatif dengan data sifat-sifat fisik tersebut kita dapat menentukan
jenis litologi dan jenis fluida pada formasi yang tertembus sumur. Sedangkan
secara kuantitatif dapat memberikan data-data untuk menentukan ketebalan,
porositas, permeabilitas, kejenuhan fluida, dan densitas hidrokarbon.

Well Logging dapat dilakukan dengan dua cara dan bertahap yaitu:

1. Openhole Logging

8
Openhole logging ini merupakan kegiatan logging yang dilakukan
pada sumur/lubang bor yang belum dilakukan pemasangan casing. Pada
umumnya pada tahap ini semua jenis log dapat dilakukan.

2. Casedhole Logging

Casedhole logging merupakan kegiatan logging yang dilakukan


pada sumur/ lubang bor yang sudah dilakukan pemasangan casing. Pada
tahapan ini hanya log tertentu yang dapat dilakukan antara lain adalah log
Gamma ray, Caliper, NMR, dan CBL.

2.2.1 Log Radioaktif

log radioaktif terdiri atas 3 (tiga) jenis log yaitu log gamma ray, log
densitiy, dan log neutron. log radioaktif juga sering disebut log triple
combo. Pada log gamma ray bekerja secara pasif dimana log gamma ray
hanya dapat menerima besar nilai radioaktif yang terkandung pada batuan,
sedangkan log neutron dan log density bersifat aktif dimana log density dan
neoturon akan menembakkan radioaktif ke formasi.

[Link] Log Gamma Ray

Log gamma ray atau log GR termasuk kedalam log


Radioaktif dimana tools akan mereka pancaran radioaktif dari
formasi. Log gamma ray merekam unsur radio aktif dalam skala API
(American Petroleum Institute). Pancaran radioaktif yang direkam
adalah uranium, thronium, dan potassium. Log gamma ray
merupaka log radiokatif yang bersifat pasif dimana log gamma ray
hanya menerimana pancaran radioaktif dari formasi.

Tool yang berupa detector akan dimasukkan ke dalam


lubang bor. Formasi yang mengandung unsur radioaktif akan

9
memancarkan radiasi radioaktif dimana intensitasnya akan diterima
oleh detector dan dicatat di permukaan. Unsur-unsur radioaktif yang
ada dalam suatu batuan cenderung untuk terkonsentrasi di dalam
batuan yang memiliki kadar radioaktif tinggi, defleksi kurva sinar
gamma pada batuan jenis ini akan relatif besar seperti pada shale.
Batuan yang hanya mengandung sedikit unsur radioaktif dan akan
memberikan defleksi kurva sinar gamma yang relatif kecil pada non
shale.

Gambar 2.3 Defleksi log GR

[Link] Log Densitiy

Density Log adalah kurva yang menunjukkan besarnya


densitas (bulk density) dari batuan yang ditembus lubang bor. Dari
besaran densitas batuan ini sangat berguna untuk menentukan
besarnya porositas.

Prinsip pengukuran log densitas adalah menembakan sinar


gamma yang membawa partikel foton ke dalam formasi batuan,
partikel-partikel foton akan bertumbukan dengan elektron yang ada
dalam formasi. Banyaknya energi sinar gamma yang hilang setiap
kali bertumbukan menunjukkan densitas elektron dalam formasi
yang mengindikasikan densitas formasi.

10
Masuknya sinar gamma ke dalam batuan akan menyebabkan
benturan antara sinar gamma dan elektron sehingga terjadi
pengurangan energi pada sinar gamma tersebut. Sisa energi sinar
gamma ini direkam detektor sinar gamma. Semakin lemah energi
yang diterima detektor, maka semakin banyak jumlah elektron di
dalam batuan yang berarti semakin padat butiran penyusun batuan
per satuan volume yang menjadi indikasi densitas batuan.

Harga densitas dari batuan tergantung dari karakteristik


batuan setempat, dan untuk meyakinkan adanya zona-zona air asin,
minyak, dan gas masih perlu ditunjang dengan data-data lain seperti
kurva SP, resistivitas, dan kurva neutron. Terkecuali lapisan
batubara yang mempunyai harga densitas yang khas yaitu sangat
rendah, berikut ini adalah table variasi harga densitas ( Harsono
1997).

Tabel 2.1 densitas

11
Gambar 2.4. Log density

[Link] Log Neutron

Log neutron merekam Hidrogen index (HI) dari formasi. HI


merupakan indikator kelimpahan kandungan hidrogen dalam
formasi. Satuan pengukuran dinyatakan dalam satuan PU (Porosity
Unit).

Prinsip kerja dari log ini adalah menembakan partikel


neutron berenergi tinggi ke dalam formasi, tumbukan neutron
dengan atom H (dengan asumsi atom H berasal dari HC atau air)
akan menyebabkan energi neutron melemah, kemudian detektor
akan mengukur jumlah partikel neutron yang kembali dari formasi.

12
Semakin banyak atom H dalam formasi, maka partikel neutron yang
kembali akan semakin sedikit.

gambar 2.5 log neutron

Kandungan air akan memperbesar harga porositas neutron.


Jika pori-pori didominasi oleh minyak dan air harga porositas neutron
kecil. Apabila formasi terisi oleh gas, maka nilai log netron kecil
mendekati batuan sangat kompak (2– 6%), karena konsentrasi atom
hidrogen pada gas lebih kecil daripada minyak dan air. Batuan yang
kompak dimana porositas mendekati nol akan menurunkan harga
neutron. Lapisan serpih mempunyai porositas besar antara 30–50%
dalam kurva log, tetapi permeabilitas mendekati nol. Pengaruh serpih
dalam lapisan permeabel akan memperbesar harga porositas neutron.
Kandungan air asin atau air tawar dalam batuan akan memperbesar
harga porositas neutron. Kurva log neutron ini tidak dapat untuk
korelasi karena tidak mewakili litologi suatu batuan.

13
Log neutron dalam perekamannya langsung menunjukkan
porositas batuan dengan menggunakan standar matrik batugamping.
Untuk batuan selain batugamping, harga porositasnya dinyatakan
dalam porositas neutron atau porositas formasi (𝜑𝑁). Untuk
mendapatkan harga porositas sebenarnya harus digunakan gabungan
kurva log yang lain seperti log densitas ( D).

Berdasarkan sifat – sifat defleksi kurva 𝜌𝑏 dan 𝜑𝑁 maka dapat


memberikan keuntungan tersendiri pada lapisan – lapisan yang
mengandung hidrokarbon. Pada lapisan hidrokarbon, kurva densitas
akan cenderung mempunyai defleksi ke kiri (makin kecil harga
nya), sedangkan pada log neutron, harga porositasnya akan cenderung
makin ke kanan (makin kecil harga 𝜑𝑁 nya), dan pada lapisan shale
kedua jenis kurva akan memperlihatkan gejala yang sebaliknya.

Dengan demikian, pada lapisan hidrokarbon akan terjadi


separasi antara kedua kurva, dimana separasi disebut positif,
sebaliknya pada lapisan shale terjadi separasi negative.

14
gambar 2.6 combinasi log neutron & log densitas

2.2.2 Log Listrik

Log listrik merupakan log yang paling tua dalam dunia perminyakan.
Log listrik berguna untuk menginterpretasi litologi dan dapat juga
digunakan untuk mendeteksi zona yang mengandung minyak atau tidak.
Log ini juga dapat digunakan sebagai dasar dalam korelasi bawah
permukaan.

[Link] Log Spontaneous Potential

Log SP adalah rekaman perbedaan potensial listrik antara


elektroda di permukaan dengan elektroda yang terdapat di lubang
bor yang bergerak naik turun. Log SP hanya dapat menunjukkan
lapisan permeable, namun tidak dapat mengukur harga absolute dari
permeabilitas maupun porositas dari suatu [Link] SP sangat
dipengaruhi oleh beberapa parameter seperti resistivitas formasi, air
lumpur pemboran, ketebalan formasi dan parameter lainnya.

Log SP dapat berkerja dengan bak jika pada luvang bor terisi
lumpur koduktif. 1) Id entifikasi lapisan permeabel 2) Mencari
batas-batas lapisan permeabel dan korelasi antar sumur berdasarkan

15
lapisan itu. 3) Menentukan nilai resistivitas air formasi (Rw) 4)
Memberikan indikasi kualitatif lapisan serpih.

gambar 2.7 log SP

[Link] Log Resistivitas

Resistivitas atau tahanan jenis suatu batuan adalah suatu


kemampuan batuan untuk menghambat jalannya arus listrik yang
mengalir melalui batuan tersebut (Darling, 2005).Nilai resistivitas
rendah apabila batuan mudah untuk mengalirkan arus listrik,
sedangkan nilai resistivitas tinggi apabila batuan sulit untuk
mengalirkan arus listrik.

Log Resistivity digunakan untuk mendeterminasi zona


hidrokarbon dan zona air, mengindikasikan zona permeabel dengan

16
mendeteminasi porositas resistivitas, karena batuan dan matrik tidak
konduktif, maka kemampuan batuan untuk menghantarkan arus
listrik tergantung pada fluida dan pori .

Alat-alat yang digunakan untuk mencari nilai resistivitas


(Rt) terdiri dari dua kelompok yaitu Laterolog dan Induksi. Yang
umum dikenal sebagai log Rt adalah LLd (Deep Laterelog
Resistivity), LLs (Shallow Laterelog Resisitivity), ILd ( Deep
Induction Resisitivity), ILm (Medium Induction Resistivity), dan
SFL.

 Lateral Log
Prinsip kerja dari laterelog ini adalah mengirimkan arus
bolak- balik langsung ke formasi dengan frekuensi yang berbeda.
Alat laterolog (DLT) memfokuskan arus listrik secara lateral ke
dalam formasi dalam bentuk lembaran tipis. Ini dicapai dengan
menggunakan arus pengawal (bucking current), yang fungsinya
untuk mengawal arus utama (measured current) masuk ke dalam
formasi sedalam-dalamnya. Dengan mengukur tegangan listrik
yang diperlukan untuk menghasilkan arus listrik utama yang
besarnya tetap, resistivitas dapat dihitung dengan hukum
[Link] ini biasanya digunakan untuk resistivitas
menengah-tinggi.

17
gambar 2.8 lateral log

 Induksi
Prinsip kerja dari induksi yaitu dengan menginduksikan arus
listrik ke formasi. Pada alat memanfaatkan arus bolak-balik yang
dikenai pada kumparan, sehingga menghasilkan medan magnet,
dan sebaliknya medan magnet akan menghasilkan arus listrik pada
kumparan.
Secara umum, kegunaan dari log induksi ini antara lain
mengukur konduktivitas pada formasi, mengukur resistivitas
formasi dengan lubang pemboran yang menggunakan lumpur
pemboran jenis “oil base mud” atau “fresh water base mud”.

18
Penggunaan Lumpur pemboran berfungsi untuk memperkecil
pengaruh formasi pada zona batulempung/shale yang besar.
Penggunaan Log Induksi menguntungkan apabila :
a) Cairan lubang bor adalah insulator misal udara, gas, air
tawar,atauoil base mud.
b) Resistivity formasi tidak terlalu besar Rt < 100 Ω
c) Diameter lubang tidak terlalu besar.

gambar 2.9 induksi log

Alat- alat mikro-resistivitas yang mampu memberikan resolusi


lapisan yang sangat baik, yang terbaik dari semua alat
[Link] kemampuan yang digunakan dalam dipmeter dan
alat pencitraan [Link] skala yang berbeda, alat induksi hanya
memberikan gambaran dari lapisan- lapisan itu sendiri, dan
batas-batas lapisan sedikit diinterpretasikan.

19
gambar 2.10 pembacaan log

Untuk tujuan geologi, log resistivitas yang digunakan harus


diketahui kemampuan [Link] microtool memberikan
resolusi sangat baik untuk dapat digunakan dalam interpretasi
lapisan geologi Log microtool ini paling baik digunakan untuk
menginterpretasikan karakteristik lapisan. Para-laterologs mampu
menggambarkan lapisan pada skala yang tepat untuk indikasi batas
lapisan, tetapi penggunaannya harus digunakan dan dikorelasikan
dengan log lainnya. Log induksi memberikan resolusi batas lapisan
sangat buruk, tetapi pada saat yang sama semua efek lapisan dirata-
rata sedemikian rupa untuk membuat tren litologi menonjol.

20
gambar 2.11 format khas log
resistivity
Ketika suatu formasi di bor, air lumpur pemboran akan masuk
ke dalam formasi sehingga membentuk 3 zona yang terinvasidan
mempengaruhi pembacaan log resistivitas, yaitu :
a. Flushed Zone Merupakan zona infiltrasi yang terletak paling
dekat dengan lubang bor serta terisi oleh air filtrat lumpur yang
mendesak Komposisi semula (gas, minyak ataupun air
tawar).Meskipun demikian mungkin saja tidak seluruh
Komposisi semula terdesak ke dalam zona yang lebih dalam.
b. Transition Zone Merupakan zona infiltrasi yang lebih dalam
keterangan zona ini ditempati oleh campuran dari air filtrat
lumpur dengan Komposisi semula.

21
c. Uninvaded Zone Merupakan zona yang tidak mengalami
infiltrasi dan terletak paling jauh
d. dari lubang bor, serta seluruh pori-pori batuan terisi oleh
Komposisi semula.

gambar 2.12 profil sumur bor terinvasi lumpur

2.2.3 Log Akustik

Log akustk adalah jenis log yang menggunakan media suara untuk
mengetahui besar porositas yang ada pada formasi.

[Link] Log Sonic

Log sonic adalah log yang digunakan untuk mendapatkan


harga porositas batuan sama seperti lod density dan log neutron. log
sinic menggunakan media suara untuk mendapat nilai porositas
dimana log ini menggambarkan waktu kecepatan suara yang

22
dikirimkan kedalam formasi yang akan terpantukan dan diterima
oleh receiver.

Alat sonic yang biasa digunakan adalah BHC (Bore Hole


Compensated), alat tersebut terdiri dari 1 (satu) transmitter dibagian
atas dan satu lagi dibagian bawah dengan masing-masing dengan
dua buah receiver. Suara dikirimkan dari trasmitter masuk kedalam
formasi, kemudian pencatatan dilakukan pada saat pantulan suara
pertama kali sampai direceiver. Transmitter mengirimkan suara
secara bergantian, harga .t dicatat pada pasangan-pasangan receiver
yang menerima pantulan suara secara bergantian.

gambar 2.13 log sonic

2.2.4 Log Mekanik

Log mekanik adalah jenis log yang bekerja secara mekanik. Contohnya
seperti log calliper.

23
[Link] Log Calliper

Log caliper digunakan untuk mengetahui seberapa besar


lubang bor, log ini dapat membantu pada saat penentuan volume
sement, waktu pengangkatan cutting, penempatan packer, dan
membantu mengkorelasi batuan.

Alat log caliper memiliki 3 (tiga) buah pegas yang fleksibel.


Ketiga pegas ini akan terbuka ketika alat sampai di dasar sumur bor
dan akan di tark perlahan sampai keluar sumur bor. Ketiga pegas
inilah yang mengirimkan data ke permukaan seberapa besar
diameter lubang bor.

gambar 2.14 log caliper

24
2.3 Interpretasi Kualitatif

Interpretasi secara kualitatif bertujuan untuk identifikasi lapisan batuan


cadangan, lapisan hidrokarbon, serta perkiraaan jenis hidrokarbon. Untuk suatu
interpretasi yang baik, maka harus dilakukan dengan cara menggabungkan
beberapa log.

Untuk mengidentifikasi litologi, maka dapat dilakukan interpretasi dari log GR


atau log SP. Apabila defleksi kurva GRnya ke kiri atau minimum, kemungkinan
litologinya menunjukkan batupasir, batugamping atau batubara, sedangkan untuk
litologi shale atau organic shale, maka defleksi kurva GRnya ke kanan atau
[Link] mempunyai porositas yang kecil, sehingga pembacaan
nya besar, dan harga 𝜑𝑁nya kecil, sedangkan untuk litologi batubara
menunjukkan pembacaan sebaliknya. Untuk membedakan jenis fluida yang
terdapat di dalam formasi, air,minyak atau gas, ditentukan dengan melihat log
resistivitas dan gabungan log DensitasNeutron.

Zona hidrokarbon ditunjukkan oleh adanya separasi antara harga tahanan jenis
zona terinvasi (Rxo) dengan harga resistivitassebenarnya formasi pada zona tidak
terinvasi (Rt). Separasi tersebut dapat positif atau negatif tergantung pada harga
Rmf/Rw > 1, harga perbandingan Rxo dengan Rt akan maksimum dan hampir sama
dengan harga Rmf/Rw di dalam zona air. Nilai Rxo/Rt yang lebih rendah dari harga
maksimum menunjukkan adanya hidrokarbon dalam formasi.

Pada lubang bor keterangan harga Rmf lebih kecil daripada Rw (Rmf/Rw
kecil), zona hidrokarbon ditunjukkan harga Rxo/Rt lebih kecil dari satu. Untuk
membedakan gas atau minyak yang terdapat di dalam formasi dapat dilihat pada
gabungan log neutron- densitas. Zona gas ditandai dengan harga porositas neutron
yang jauh lebih kecil dari harga porositas densitas, sehingga akan ditunjukkan oleh
separasi kurva log neutron- densitas yang lebih besar. Dalam zona minyak, kurva
neutron atau kurva densitas membentuk separasi positif yang lebih sempit daripada
zona gas (dalam formasi bersih).

25
2.4 Interpretasi kuantitatif

Interpretasi data wireline log secara kuantitatif dengan menggunakan rumus


perhitungan. Metode ini dapat digunakan untuk menentukan porositas batuan,
permeabilitas batuan, saturasi hidrokarbon maupun kandungan shale dalam
reservoar. Parameter yang dihitung dalam analisis ini berupa Volume Shale,
Porositas (Ø), Saturasi air (Sw), Permeabilitas (K).

2.4.1 Volume Shale

Volume shale dapat diperoleh dari log gamma ray, log SP dan Log
Neutron.

 Perhitungan Vshale menggunakan Log Gamma Ray:

GRlog-GRmin
______________
Vshale= GR-GRmin
GRmax-GRmin

Dimana :

GRlog : nilai GR pada lapisan tersebut

GRmax : nilai GR paling maksimum, sama dengan shale base line

GRmin : nilai GR saat defleksi paling minimum

 Perhitungan Vshale menggunakan Log SP:

SPlog-SPmin

26
______________
V
Vsh= SPmax-SPmin

Dimana :
SPlog : nilai SP pada lapisan tersebut
SPmax : nilai SP paling maksimum, sama dengan shale base line
SPmin : nilai SP saat defleksi paling minimum

 Perhitungan Vshale menggunakan Log Neutron:

ØN - ØNmin
______________
Vshale=
ØNmax- Ø Nmin

Dimana :
ØN : Porositas Neutron pada kedalaman Interpretasi
Ø NShale : Porositas rata rata zona 100% Lempung
ØNmin : nilai Porositas Neutron saat defleksi paling minimum

2.4.2 Porositas
Porositas suatu medium adalah bagian dari volume batuan yang tidak
terisi oleh benda padat (Harsono, 1997). Ada beberapa macam porositas
batuan :

a. Porositas Total
Porositas total merupakan perbandingan antara ruang kosong
total yang tidak terisi oleh benda padat yang ada diantara
elemen-elemen mineral dari batuan dengan volume total batuan.
Porositas total meliputi :

27
 Porositas primer, yaitu ruang antar butir atau antar kristal yang
tergantung pada bentuk dan ukuran butir serta pemilahan butirnya.
 Porositas gerowong, terbentuk secara dissolusi dan porositas rekah
yang diperoleh secara mekanik dan membentuk porositas
sekunder. Porositas ini dikenal sebagai vuggy pada batugamping.
b. Porositas Efektif
Merupakan perbandingan volume pori-pori yang saling
berhubungan dengan volume total batuan. Porositas efektif bisa jauh
lebih kecil dibandingkan dengan porositas total jika pori-porinya tidak
saling berhubungan. Penentuan harga porositas pada lapisan reservoar
menggunakan gabungan harga porositas dari dua kurva yang berbeda,
yaitu porositas densitas (ØD) yang merupakan hasil perhitungan dari
kurva RHOB dan porositas neutron (ØN) yang dibaca dari kurva NPHI.
Kurva RHOB yang mengukur berat jenis matriks batuan reservoar
biasanya dikalibrasikan pada berat jenis matriks batuan (batugamping =
2.71 dan batupasir = 2.65) serta diukur pada lumpur pemboran yang
digunakan dalam pemboran (ρf), setelah itu kurva ini baru bisa
menunjukkan harga porositas.
 Porositas Densitas

Dimana :
ØD = porositas densitas
ρma = densitas matriks batuan, batupasir 2.65; batugamping
2.71
ρb = densitas bulk batuan, dari pembacaan kurva log
RHOB
ρf = Densitas Fluida (Fresh water 1.0 ; Salt water 1.1)

28
Kemudian Nilai porositas dikoreksi terhadap pengaruh Shale

ØDcorr= ØD-(ØDsh x Vsh)

Dimana :

ØDcorr = porositas densitas terkoreksi

ØD = porositas densitas

ØDsh = nilai porositas densitas pada shale


(GRmax) Vsh = volume shale

 Porositas Neutron

. ØN = (1.02 x ØNlog) + 0,0425

Dimana :

ØNlog = Porositas Neutron dari pembacaan Kurva

Kemudian nilai porositas dikoreksi terhadap


pengaruh Shale

ØNcorr = ØN - ( Nsh x Vsh)

Dimana :

ØNcorr= porositas neutron terkoreksi

ØN = porositas neutron, dari pembacaan kurva log NPHI

29
Nsh = porositas neutron pada shale, dari harga NPHI pada
GRmax Vsh = volume shale

Kemudian pendekatan harga porositas batuan dilakukan


melalui gabungan antara porositas densitas dan porositas neutron
dengan menggunakan persamaan:

ØDCorr 2 - ØNCorr 2
Øe 
2

Dimana :

Øe = porositas efective

ØDCorr = porositas densitas koreksi

ØNCorr = porositas neutron koreksi

 Porositas Sonic

Perhitungan Porositas menggunakan Sonic Log memerlukan tf


dan [Link] fluida yang diselidiki adalah mud [Link],
Porositas dapat dihitung sbb:

Dimana :

t = travel time batuan (nilai Log sonic)

30
tf = travel time fluida (Freshwater189 usec/ft; Saltwater185
usec/ft) tma = travel time matriks batuan

Prosentase

Porositas Keterangan

0% - 5% Dapat diabaikan ( Negligible)

5% - 10% Buruk ( poor )

10% - 15% Cukup ( Fair )

15% - 20% Baik ( Good )

20% - 25% Sangat Baik ( very Good )

> 25% Istimewa ( Excellent )

Tabel 2.2 Klasifikasi Porositas

2.4.3 Saturasi Water


Saturasi atau kejenuhan air formasi adalah rasio dari volume pori yang
terisi oleh air dengan volume porositas total (Adi Harsono, 1997). Tujuan
menentukan saturasi air adalah untuk menentukan zona yang mengandung
hidrokarbon, jika air merupakan satu-satunya fluida yang terkandung dalam
pori-pori batuan, maka nilai Sw = 1, tetapi apabila pori-pori batuan
mengandung fluida hidrokarbon maka nilai Sw< 1.
Archie menyusun persamaannya, yang kemudian kita kenal dengan Archie
Formula

31
Rumus ini dipakai sebagai dasar interpretasi data Log sampai sekarang
.Persamaan Archie tersebut biasanya digunakan pada cleansand formation.
.Dari persamaan Archie tersebut, diturunkan menjadi beberapa persamaan
yang cocok digunakan pada Shalysand formation, antara lain :

Simandoux Equation

Indonesian Equation

Dimana :
Sw = Saturasi air formasi
F = Faktor formasi
Rw = Resistivitas air formasi
Rt = Resistivitas formasi, dibaca dari kurva resistivitas
Rsh = Resistivitas pada shale
C = Untuk batupasir 0.4 dan untuk batugamping 0.45
Penentuan jenis kandungan di dalam reservoar (gas, minyak dan air)
didapat dari hasil perhitungan kejenuhan air formasi (Sw) dalam hasil
batasan umum harga Sw untuk lapangan yang “belum dikenal” seperti di
bawah ini :
Gas = Jika harga Sw adalah 0 – 35%

32
Minyak = Jika harga Sw adalah 35 – 65%
Air = Jika harga Sw adalah >65%

BAB III

PEMBAHASAN

3.1 Tugas Individu


 Cibulakan – Depth 1050 Feet
Batuan Formasi Cibulakan Atas itu sendiri tersingkap dipermukaan,
di Pasir Cibulakan sebagai Lokasitipe yang terletak di daerah Loji, selatan
Kota Karawang, Jawa Barat. Oleh karena itu yang disebut "Formasi
Cibulakan Atas" oleh Sutrisno dan Benyamin (2003) selanjutnya disebut
sebagai Formasi Cibulakan. Beberapa lapisan batupasir dan batugamping

33
didalam Formasi Cibulakan yang berada di bawah-permukaan merupakan
lapisan-lapisan produksi hidrokarbon.
Formasi Cibulakan Atas terdiri dari perselingan antara serpih dengan
batupasir dan batugamping, baik yang berupa batugamping klastik maupun
batugamping terumbu Mid Main Carbonate (MMC) yang berkebang secara
setempat setempat dan batupasir kuarsa untuk MMS. Diendapkan pada
lingkungan inner – outer Shelf.

 Depth 1050-1100 Feet


Tidak terjadi perubahan ROP yang signifikan. Nilai ROP hanya
berkisar 0-10 ft/hr. WOB yang relative konstan, tidak terjadi perubahan.
RPM berubah dari 180 rpm menjadi 90 rpm. Presentase cutting shale diikuti
silt dan sedikit gamping. Tidak ada Oil Show atau Gas Show. Dengan
kandungan propane, ethane, methane. Komposit kalsit menurun, komposisi
dolomit konstan. Deskripsi lithology, shale berwana abu-abu terang, kadang
kasar, agak kasar, subblocky-blocky. Kadang silty (berlumpur). Terdapat
jejak fosil feraminifera.

Gambar 3.1 Formasi Cibulakan Depth 1050-1100


 Depth 1200-1300
Tidak terjadi perubahan ROP yang signifikan. Nilai ROP konstan.
WOB yang relative konstan, tidak terjadi perubahan. RPM berubah dari

34
180 rpm menjadi 90 rpm. Presentase cutting shale diikuti silt dan
sedikit gamping. Tidak ada Oil Show atau Gas Show. Dengan
kandungan propane, ethane, methane. Komposit kalsit menurun,
komposisi dolomit konstan. Deskripsi lithology, shale berwana
abu-abu terang, kadang kasar, agak kasar, subblocky-blocky. Kadang
silty (berlumpur). Terdapat jejak fosil pirite, loose quartz, medium
sorted,terlihat adanya porositas, semen kalsit.

Gambar 3.2 Formasi Cibulakan Depth 1200-1300

 Depth 1300-1400
Nilai ROP hanya berkisar 0-6 ft/hr. Nilai WOB mengalami
perubahan. RPM yang relative konstan. Presentase cutting didominasi oleh
shale, silt, dan pasir sehingga nilainya sama. Terdapat oil show namun
trace. Dengan kandungan gas ethane, methane, propane, isobutene.
Terdapat kalsit yang konstan dan dolomit yang rendah. Deskripsi
lithology, shale berwarna abu-abu terang dan abu-abu gelap. Terdapat
jejak fosil. Sandstone (batu pasir) bersih, transparan.

35
Gambar 3.3 Formasi Cibulakan Depth 1300-1400

 Depth 1400-1500
Nilai ROP yang rendah dan konstan. WOB mengalami perubahan
setiap kedalamannya. RPM relative konstan. Presentasi cutting shale, silt,
pasir. Tidak ada oil gas show. Kandungan gas ethane, methane, propane.
Komposit kalsit tinggi dan dolomit rendah. Deskripsi lithology, sandstone
dominan clear, transparent, putih-putih abu. Sublocky-blocky. Gradasi ke
silty.

Gambar 3.4 Formasi Cibulakan Depth 1400-1500

36
 Depth 1500-1600
Nilai ROP relative rendah dan konstan. WOB berkisar 7-18 lbs.
RPM relative konstan. Presentase cutting shale, sand, silt dan gamping.
Tidak ada oil gas show. Dengan kandungan gas ethane, methane, propane.
Kalsit cukup dan dolomite rendah. Deskripsi lithology shale berwana
abu-abu putih. Terdapat jejak fosil feraminifera.

Gambar 3.5 Formasi Cibulakan Depth 1500-1600

 Depth 1600-1700
Nilai ROP yang relative rendah dan konstan. WOB dengan
perubahan yang sangat signifikan. RPM relative konstan. Presentase
cutting shale, sand, silt dan gamping. Tidak ada oil gas show. Dengan
kandungan gas ethane, methane, propane. Kalsit cukup dan dolomite
rendah. Deskripsi lithology shale berwana abu-abu putih. Terdapat jejak
fosil feraminifera.

37
Gambar 3.6 Formasi Cibulakan Depth 1600-1700

 Depth 1700-1800
Nilai ROP yang relative rendah dan konstan. WOB dengan
perubahan yang sangat signifikan. RPM relative konstan. Presentase
cutting shale, sand, silt dan gamping. Tidak ada oil gas show. Dengan
kandungan gas ethane, methane, propane. Kalsit cukup dan dolomite
rendah. Deskripsi lithology shale berwana abu-abu putih. Terdapat jejak
fosil feraminifera.

Gambar 3.7 Formasi Cibulakan Depth 1700-1800

38
 Depth 1800-1900
Nilai ROP yang relative rendah dan konstan. WOB dengan
perubahan yang sangat drastic pada kedalaman 1895. RPM relative
konstan. Presentase cutting shale, sand, silt dan gamping. Tidak ada oil
gas show. Dengan kandungan gas ethane, methane, propane. Kalsit cukup
dan dolomite rendah. Deskripsi lithology shale berwana abu-abu putih.
Sub-angular-aubrended. Medium sorted. Terdapat jejak fosil feraminifera.

Gambar 3.8 Formasi Cibulakan Depth 1800-1900

 Depth 1900-2000
Nilai ROP yang relative rendah dan konstan. WOB dengan
perubahan yang sangat drastic pada kedalaman 1895. RPM relative
konstan. Presentase cutting shale, sand, silt dan gamping. Tidak ada oil
gas show. Dengan kandungan gas ethane, methane, propane. Kalsit cukup
dan dolomite rendah. Deskripsi lithology shale berwana abu-abu putih.
Sub-angular-aubrended. Medium sorted. Terdapat jejak fosil feraminifera.

39
Gambar 3.9 Formasi Cibulakan Depth 1900-2000

 Depth 2000-2100
Nilai ROP yang relative rendah dan konstan. WOB dengan
perubahan yang sangat drastic pada kedalaman 1895. RPM relative
konstan. Presentase cutting shale, sand, silt dan gamping. Tidak ada oil
gas show. Dengan kandungan gas ethane, methane, propane. Kalsit cukup
dan dolomite rendah. Deskripsi lithology shale berwana abu-abu putih.
Sub-angular-aubrended. Medium sorted. Terdapat jejak fosil feraminifera.
Material Carbonate, tryce pirite, gradasi ke silty.

Gambar 3.10 Formasi Cibulakan Depth 2000-2100

40
 Depth 2100-2200
Nilai ROP yang relative rendah dan konstan. WOB dengan
perubahan yang sangat drastic pada kedalaman 1895. RPM relative
konstan. Presentase cutting shale, sand, silt dan gamping. Tidak ada oil
gas show. Dengan kandungan gas ethane, methane, propane. Kalsit cukup
dan dolomite rendah. Deskripsi lithology shale berwana abu-abu putih.
Sub-angular-aubrended, free grain, dominan consolidated, trace shell
fragmen, medium sorted. Terdapat jejak fosil feraminifera. Material
Carbonate, tryce pirite, gradasi ke silty.

Gambar 3.11 Formasi Cibulakan Depth 2100-2200

 Depth 2200-2300
ROP yang mengalami perubahan signifikan dari 2270-2300, kisaran pada
depth ini kurang lebih 0-20 ft/hr. WOB pun mengalami perubahan disetiap
kedalamannya. Nilai RPM berada pada interval 30-60 rpm. Presentase
cutting shale, sand, silt dan gamping. Tidak ada oil gas show. Dengan
kandungan gas ethane, methane, propane. Kalsit cukup dan dolomite
rendah. Deskripsi lithology, limestone dominan light cream, white of

41
white, soft, chalky, dominan mudstone, Shale dominan darkgrey-grey,
moderated hard, silty.

Gambar 3.12 Formasi Cibulakan Depth 2200-2300

3.1.1 Analisa Vshale, Porositas Dan Penentuan Lithologi


[Link] Perhitungan Vshale
Unsur-unsur radioaktif banyak terkandung dalam lapisan shale/clay,
maka gamma ray log sangat berguna untuk mengetahui besar kecilnya
kandungan shale/clay dalam lapisan permeabel. Disampinhg itu gamma ray
log sangat efektif untuk membedakan lapisan pemeabel dan yang tidak
permeabel. Serta perhitungan Vshale ini sangat berguna untuk mengetahui
seberapa besar volume dari shale terhadap formasi permeabel yang kita miliki.
Untuk memperkirakan kandungan clay ditunjukkan dalam persamaan
berikut :

Dimana :
GR = Radioaktivitas yang dibaca pada log
Grmin = Radioaktivitas yang dibaca pad clean formation

42
GRmax = Radioaktivitas yang dibaca pada shale atau clay

Berikut adalah perhitungan Vshale yang telah dilakukan di 3 formasi yag


telah ditentukan, yaitu :

Cibulakan
𝐺𝑟𝑙𝑜𝑔 − 𝐺𝑟𝑚𝑖𝑛
Vshale =
𝐺𝑟𝑚𝑎𝑥 − 𝐺𝑟𝑚𝑖𝑛
70 − 58
Vshale =
149 − 58
= 0.13 v/v
Baturaja
𝐺𝑟𝑙𝑜𝑔 − 𝐺𝑟𝑚𝑖𝑛
Vshale =
𝐺𝑟𝑚𝑎𝑥 − 𝐺𝑟𝑚𝑖𝑛
66 − 42
Vshale =
165 − 42
= 0.19v/v

Talang Akar
𝐺𝑟𝑙𝑜𝑔 − 𝐺𝑟𝑚𝑖𝑛
Vshale =
𝐺𝑟𝑚𝑎𝑥 − 𝐺𝑟𝑚𝑖𝑛
110 − 36
Vshale =
225 − 36
= 0.39 v/v

[Link] Perhitungan Porositas


Penentuan porositas batuan berkaitan dengan jenis formasi dari suatu
sumur. Formasi yang umum dijumpai adalah formasi clean sand, batugamping
dan formasi shally sand.

Berikut adalah perhitungan untuk mengetahui nilai porositas disuatu


formasi yang telah ditentukan, yaitu:
 Cibulakan

43
ƿmatrix − ƿbulk
∅D = 𝑥 100%
ƿmatrix − ƿfluid
2.65 − 1.85
∅D = 𝑥 100%
2.65 − 0.85
= 0,4

∅DC = ∅D − (Vshale x ∅Dshale)


∅DC = 0.4 − (0.52 x 0.15)
= 0,32

∅NC = ∅D − (Vshale x ∅Nshale)


∅NC = 0.4 − (0.52 x 0.342)
= 0.22
∅Dc + ∅Nc
∅Eff = 𝑥 100%
2

0.32 + 0.22
∅Eff = 𝑥 100%
2

= 0.27 x 100%
= 27%

 Baturaja
ƿmatrix − ƿbulk
∅D = 𝑥 100%
ƿmatrix − ƿfluid
2.7 − 2.65
∅D = 𝑥 100%
2.7 − 0.85
= 0,03

∅DC = ∅D − (Vshale x ∅Dshale)


∅DC = 0.03 − (0.07 x 0.04)

44
= 3%

∅NC = ∅D − (Vshale x ∅Nshale)


∅NC = 0.03 − (0.07 x 0.2)
= 1.6%

∅Dc + ∅Nc
∅Eff = 𝑥 100%
2
0.03 + 0.016
∅Eff = 𝑥 100%
2
= 0.023 x 100%
= 2.3%

 Talang Akar
ƿmatrix − ƿbulk
∅D = 𝑥 100%
ƿmatrix − ƿfluid
2.65 − 2.45
∅D = 𝑥 100%
2.65 − 0.85
= 0.11%

∅DC = ФD − (Vshale x ФDshale)


∅DC = 0.11 − (0.39 x 0.03)
= 0.09

∅NC = ФD − (Vshale x ФNshale)


∅NC = 0.11 − (0.39 x 0.09)
= 0.07

45
ФDc + ФNc
∅Eff = 𝑥 100%
2
0.09 + 0.07
∅Eff = 𝑥 100%
2
= 0.08 x 100%
= 8%

[Link] Penentuan Lithologi


Penentuan lithologi yang dilakukan kali ini merupakan penentuan
lithologi yang menggunakan data dari data log exercise 3, penentuan lithologi
ini berdasarkan dari tiap-tiap formasi, sama seperti sebelumnya yaitu formasi
Cibulakan, Baturaja, dan Talang Akar;

46
Gambar 3.13 Lithologi Formasi Cibulakan Atas

47
Gambar 3.14 Lithologi Formasi Cibulakan Bawah dan Baturaja

48
Gambar 3.15 Lithologi Formasi Talang Akar

3.1.2 Analisa SW (saturasi water) Dan Penentuan Jenis Fluida


[Link] Perhitungan Saturasi Water (SW)
Permasalahan akan menjadi lebih rumit apabila kita akan menentukan
nili saturasi air pada suatu reservoar dimana pada daerah tersebut belum pernah
ada penelitian yang dilakukan baik berupa pemboran ataupun penelitian

49
lainnya. Dalam kasus ini, untuk menentukan nilai saturasi air perlu dilakukan
penelitian secara bertahap. Dimulai dari penentuan jenis formasi, apakah
berupa shaly-sand formation atau berupa clean sand formation. Jika yang
dijumpai berupa clean sand formation maka penentuan metode saturasi air
akan menjadi lebih mudah karena pada formasi jenis ini tidak terdapat
kandungan shale yang dapat menganggu nilai perhitungan. Apabila reservoar
yang kita teliti memiliki kandungan shale atau bahkan terdiri dari batuan
karbonat, maka penelitian masih harus berlanjut hingga dapat diketahui
bagaimana dampak dari kehadiran shale ataupun rongga - rongga yang
terbentuk pada batuan karbonat terhadap nilai saturasi air yang akan dicari.
Pada reservoar yang mengandung shale, perlu dilakukan berbagai penelitian
lanjutan seperti menentukan volume shale yang ada pada suatu reservoar.
Setelah itu kita perlu menentukan bagaimana jenis persebaran shale pada
reservoar tersebut, apakah termasuk structural shale atau laminate shale atau
jenis shale lainnya. Setelah itu barulah kita bisa mengetahui metode water
saturation air manakah yang akan cocok pada reservoar yang akan kita teliti.
Pada mulanya Archie berhasilkan membuat 2 hubungan empiris yang
dinamakan index resistivitas (RI) dan faktor formasi (F). Persamaan yang
pertama menjelaskan tentang hubungan antara index resistivitas (RI) dengan
saturasi air (Sw) dapat dituli skan sebagai berikut (Archie, G. E., 1941)

Persamaan kedua yang dibuat oleh Archie menunjukkan hubungan


antara faktor formasi (F) dengan porositas (Φ) yang ditunjukkan pada
persamaan di bawah ini (Archie, G. E.,1941).

Dengan menggabungkan persamaan pertama dan keduanya terbentuklah


persamaan yang paling dikenal dengan nama persamaan saturasi air Archie
seperti yang terlihat di bawah ini (Archie, G. E., 1941).

50
Metode Archie ini memiliki kelebihan diantaranya dapat dengan baik
menentukan nilai saturasi air pada reservoar yang tidak memiliki kandungan
shale atau clean sand formation. Pada beberapa kasus metode archie juga dapat
dengan baik menentukan nilai saturasi air pada reservoar yang memiliki
kandungan batuan karbonat. Persamaan Archie merupakan dasar dari berbagai
metode yang muncul setelahnya.
Metode Archie ini selain memiliki beberapa kelebihan tentu masih
memiliki beberapa kekurangan diantaranya adalah bahwa metode ini tidak
dapat menentukan nilai saturasi air dengan baik pada reservoar yang memiliki
kandungan shale. Selain itu, persamaan ini juga tidak menganggap bahwa
shale yang berada pada suatu formasi dapat meningkatkan pengukuran
kondukti vitas sehingga akan membuat nilai perhitungan menjadi kurang tepat.
Untuk perhitungan Sw kali ini, kami akan menggunakan persamaan dari
Archie (1941). Terdapat 3 formasi yang akan dihitung SW nya antara lain
adalah:
 Cibulakan
Archie
𝜋
√𝐹. 𝑅𝑊
𝑆𝑊 =
RT
α
𝐹= 𝑚

0.62
𝐹 =
30.75%2.15
= 0.000239
2.0
√0.000239 𝑥 10
𝑆𝑊 =
7
= 0.023

 Baturaja

51
1.0
𝐹 =
3.8%2.
= 0.06
𝑛
√0.06 𝑥 100
𝑆𝑊 =
80
= 0.027
 Talang Akar
0.81
𝐹 =
10.5%2
= 0.0073

2.0
√0.0073 𝑥 13
𝑆𝑊 =
9
= 0.010

[Link] Penentuan Jenis Fluida


Penentuan jenis fluida ini dilakukan dengan cara membaca nilai dari
Resistivity, setelah dilakukannya penentuan jenis fluida ini maka dapat dengan
mudah menentukan zona atau formasi yang memiliki kandungan hidrocarbon,
sehingga dapat menjadikan data logging kita menjadi lebih detail.
Berikut adalah hasil dari analisa jenis fluida yang terdapat formasi
Cibulakan, Baturaja, Talang Akar dan Jati Barang:

52
Gambar 3.16 Jenis Fluida Pada Formasi Cibulakan

53
.
Gambar 3.17 Jenis Fluida Pada Formasi Cibulakan Bawah dan
Formasi Baturaja

54
[
Gambar 3.18 Jenis Fluida Pada Formasi Talang Akar

55
3.2 Analisa Final Presentasi

3.2.1 Analisa Kualitatif dan Validasi

Dengan pendekatan atau interpretasi kualitatif dengan tujuan untuk


mengidentifikasi lapisan batuan yang prosepek dengan memperkirakan jenis
lapisan dan jenis fluida hidrokarbon yang terdapat pada satu lapisan. Untuk
interpretasi kualitatif yang baik maka digunakan beberapa parameter -
parameter untuk seperti log, mud log, dan data pendukung lainnya yang akan
kami gunakan pada pembahasan kali ini.

Dalam pembahasan kali ini, sesuai dengan pembahasan sebelumnya


tentang zona reservoir kelompok kami memilih menentukan zona reservoir
diformasi Baturaja dengan interval kedalaman 2320 - 2324 m dengan melihat
beberapa parameter data seperti dari data IP ( Interactive Petrophyics ) yang
memiliki crossover yang mengindikasikan adanya lapisan yang memiliki pori
serta nilai resistivity dari LLD ( Lateral Log Dip ) yang tinggi. Sama halnya
dengan data mud log yang menunjukan pada kedalaman yang sama
mengindikasikan adanya trace oil show.

56
Reservoir

Gambar 3.19 Penentuan Zona Reservoir berdasarkan data interactive


Petrophyics

57
Gambar 3.20 Hasil Perhitungan dari zona Reservoir

Gambar 3.21 Validasi Data berdasarkan data Mud Log

Dari perhitungan Vshale dan Porositas efektif dapat di jebarkan bahwa lapisan
ini memiliki nilai Vshale sebesar 0.043 v/v dan porositas efektif sebesar 0.214 atau
21.4% yang bahwasanya dapat dikatakan sebagai zona yang cukup prospek karena

58
memiliki kandungan Vshale yang kecil dan nilai porositas yang cinderung baik.
Lalu data tersebut di validasi dengan beberapa data pendukung seperti data mud log
yang memang mengindikasikan adanya hidrokarbon yang dibuktikan dengan
besarnya nilai gas kromatografi khususnya keterdapatan gas iso - pentana pada
kedalaman 2320 - 2324 m.

59
Gambar 3.22 Validasi data Sw dan Vshale

Gambar 3.23 Validasi data Rcal

60
Gambar 3.24 Validasi Data Pressure Point

Validasi indikasi ini pertama kami lakukan pada data data log pada IP dengan
nilai Sw Dan Vshale didapatkan data nilai Sw pada kedalaman 2320 m sebesar 0.38
dan Vshale sebesar 0.059, sedangkan pada kedalaman 2324 m nilai Sw sebesar
0.055 dan Vshale sebesar 0.768. Data dari Log ini dapat di Validasi kembali pada
data Rcal (routine core analysis) dengan melihat besaran Sw yang ada pada dua
data diatas tidak terlalu jauh perbedaan nilainya serta nilai porositas yang tidak jauh
berbeda dengan nilai perhitungan porositas efektif.

Data terakhir yang kami validasi adalah data dari pressure point yang kami
anggap juga sebagai data pendukung untuk menentukan zona perforasi, data
pressure point mengindikasikan adanya fluida berupa oil dan menjadi dasar kami
untuk menentukan zona perforasi di interval 2320 - 2324 m pada formasi Baturaja.

61
3.2.2 Penempatan Casing

Dengan menempatkan zona perforasi pada kedalaman 2320 - 2324 m


pada formasi batu raja, data yang kami jadikan acuan adalah data pressure
test.

62
Gambar 3.25 Setting casing depth berdasarkan

Probe type

Pada gambar diatas, kami memberikan gambaran adanya perubahan


tipe casing x ke casing y karena adanya perubahan tekanan yang cukup
signifikan pada kedalaman 2508 m ke 2684 m dari 3637 psi ke 4596 psi.
Hal itu membuat casing diubah menjadi tipe VD ke Tipe XLD.

Casing tipe XLD adalah jenis casing yang ukuran diameternya lebih
tebal dibandingkan dengan casing konvensional. Ketebalan casing ini akan
mempengaruhi kemampuan atau performa casing untuk menjalankan
fungsinya, karena semakin tinggi tekanan maka semakin tinggi pula grade
dan kemampuan casing yang dibutuhkan.

63
BAB IV

KESIMPULAN

64
Penilaian formasi atau evaluasi formasi merupakan salah satu cabang ilmu dari
teknik perminyakan yang mempelajari tentang formasi/batuan serta permasalahan
yang berhubungan dengan keberhasilan dalam penemuan cadangan hidrokarbon,
antara lain: memperkirakan dimana terdapat kandungan hidrokarbon serta
menghitung besarnya cadangan hidrokarbon. Untuk mengetahui permasalahan
tersebut perlu dilakukan beberapa proses pengambilan data yaitu mud logging,
wireline well logging, dan pengambilan sampel batuan (coring).

Dari data penilaian formasi ini dapat diketahui kedalaman formasi produktif
serta batasan-batasannya dengan formasi di atas atau di bawahnya, jenis reservoir
dengan mengetahui sifat fisik batuan dan fluida reservoir, gangguan pada sumur
yang disebabkan oleh kerusakan formasi disekitar lubang bor pada formasi
produktif sebagai akibat dari aktivitas pemboran, serta dari data ini dapat juga
untuk penentuan atau perkiraan cadangan reservoir serta produktivitas
reservoirnya, dan dapat juga untuk penentuan kelakuan (performance) reservoir
tersebut.

Mud Logging merupakan proses mensirkulasikan dan memantau perpindahan


mud dan cutting pada sumur selama pemboran (Bateman, 1985). Metode logging
merupakan suatu operasi perekaman data secara kontinyu yang bertujuan untuk
mendapatkan sifat-sifat fisik batuan reservoir sebagai fungsi kedalaman lubang bor
yang dinyatakan dalam bentuk grafik. Data hasil perekaman ini dinamakan log.

Log merupakan suatu grafik kedalaman/waktu dari suatu set data yang
menunjukkan parameter diukur secara berkesinambungan di dalam sebuah sumur
pemboran (Harsono, 1997). Metode logging tersebut antara lain: log listrik, log
radioaktif, log akustik dan log-log lainnya.

Log listrik adalah salah satu cabang yang sangat penting dalam logging
sumur. Biasanya jenis log ini merekam data pada lubang sumur yang tidak di
casing, yaitu resistivitas dari formasi. Resistivitas dari formasi ini merupakan
petunjuk penting untuk mengenali litologi formasi dan kandungan fluidanya. Log
listrik ini terdiri dari log SP dan log resistivitas.

65
Log SP (Spontanieous Potential) mengukur perbedaan potensial listrik antara
elektroda yang bergerak sepanjang lubang bor dengan elektroda tetap
dipermukaan. Prinsip dari SP log ini adalah mengukur tegangan lapisan dengan
fungsi kedalaman. Tegangan lapisan dihasilkan dari respon suatu aliran arus kecil
yang menembus rangkaian sirkuit pada saat elektroda di dalam sumur bergerak ke
atas. Resistivitas atau tahanan jenis suatu batuan adalah suatu kemampuan batuan
untuk menghambat jalannya arus listrik yang mengalir melalui batuan tersebut
(Darling, 2005).Nilai resistivitas rendah apabila batuan mudah untuk
mengalirkan arus listrik, sedangkan nilai resistivitas tinggi apabila batuan sulit
untuk mengalirkan arus [Link] Resistivity digunakan untuk mendeterminasi
zona hidrokarbon dan zona air, mengindikasikan zona permeabel dengan
mendeteminasi porositas resistivitas, karena batuan dan matrik tidak konduktif,
maka kemampuan batuan untuk menghantarkan arus listrik tergantung pada
fluida dan pori

Radioaktif log dapat dioperasikan dalam keadan cased hole (sesudah


casing dipasang) maupun open hole (lubang terbuka). Ada tiga macam jenis log
radioaktif yaitu, Gamma Ray log , Density log, Neutron log.

Gamma ray log adalah suatu kurva yang menunjukkan besaran intensitas
radioaktif yang ada dalam formasi. Prinsip dasar dari gamma ray log adalah
mencatat radioaktif alamiah yang dipancarkan oleh 3 unsur radioaktif yang ada
dalam batuan yaitu : Uranium (U), Thorium (Th), Potasium (K). Neutron adalah
suatu partikel listrik yang netral dan mempunyai massa yang hampir sama dengan
massa atom hidrogen. Density log adalah log porositas yang mengukur elektron
density dari formasi.

Pada log akustik hanya terdiri dari sonic log. Sonic log merupakan rekaman
waktu yang diperlukan oleh gelombang suara untuk merambat melalui formasi.
Pada log mekanik hanya terdiri dari log caliper, log ini digunakan untuk mengukur
diameter lubang bor yang sesungguhnya untuk keperluan perencanaan atau
melakukan [Link] dapat merefleksikan lapisan permeable dan lapisan
yang impermeable. Pada lapisan yang permeable diameter lubang bor akan

66
semakin kecil karena terbentukya kerak lumpur (mud cake) pada dinding lubang
bor. Sedangkan padalapisan yang impermeable diameter lubang bor akan
bertambah besar karena ada dinding yang runtuh (vug).

Interpretasi secara kualitatif bertujuan untuk identifikasi lapisan batuan


cadangan, lapisan hidrokarbon, serta perkiraaan jenis hidrokarbon. Untuk suatu
interpretasi yang baik, maka harus dilakukan dengan cara menggabungkan
beberapa log.

Untuk mengidentifikasi litologi, maka dapat dilakukan interpretasi dari log


GR atau log SP. Apabila defleksi kurva GRnya ke kiri atau minimum,
kemungkinan litologinya menunjukkan batupasir, batugamping atau batubara,
sedangkan untuk litologi shale atau organic shale, maka defleksi kurva GRnya ke
kanan atau maksimum. Batugamping mempunyai porositas yang kecil, sehingga
pembacaan 𝜌𝑏nya besar, dan harga 𝜑𝑁 nya kecil, sedangkan untuk litologi
batubara menunjukkan pembacaan sebaliknya.

Untuk membedakan jenis fluida yang terdapat di dalam formasi, air,minyak


atau gas, ditentukan dengan melihat log resistivitas dan gabungan log Densitas-
Neutron. Zona hidrokarbon ditunjukkan oleh adanya separasi antara harga tahanan
jenis zona terinvasi (Rxo) dengan harga resistivitas sebenarnya formasi pada zona
tidak terinvasi (Rt).

Interpretasi data wireline log secara kuantitatif dengan menggunakan rumus


perhitungan. Metode ini dapat digunakan untuk menentukan porositas batuan,
permeabilitas batuan, saturasi hidrokarbon maupun kandungan shale dalam
reservoir. Parameter yang dihitung dalam analisis ini berupa Volume Shale,
Porositas, Saturasi air (Sw), Permeabilitas (K)

Coring adalah pemboran khusus untuk mendapatkan besaran-besaran fisik


dari batuan reservoir. Pemboran khusus ini sangat mahal biayanya karena
membutuhkan peralatan khusus dan memakan waktu lebih lama dari pemboran
biasa ( pemboran sumur keseluruhan). Coring dilakukan pada interval tertentu
yang diperlukan data-data petrofisiknya terutama pada zone produktif. Hasil dari

67
coring diharapkan merupakan data yang valid sehingga perlu penanganan yang
cermat.

Ada dua macam cara pengambilan contoh batuan (coring) yaitu :

1. Coring yang dilakukan bersamaan dengan pemboran dikenal sebagai


Bottom coring. Sesuai dengan alat yang digunakan maka bottom core
dibedakan menjadi:

 Conventional coring yaitu coring yang menggunakan core bit biasa


atau diamond bit. Ukuran core yang didapat adaloah diameter antara 3
– 5 inch dan panjang

 Wire-line Retrievable coring dimana pada cara ini alat diturunkan


kedasar sumur tanpa mengangkat drill string. Ukuran core yang
diperoleh dengan cara ini lebih kecil yaitu 1 1/8 - 1 ¾ inch dan
panjang 10 - 20 ft.

2. Sidewall Coring yaitu coring yang dilakukan setelah pemboran


umumnya digunakan untuk mengambil sample/contoh pada interval
tertentu (yang dipilih ) yang telah dibor. Sample diambil dari dinding
lubang bor dengan diameter ¾ - 1 3/16 inch dan panjang ¾ - 1 inch.

Pada pembahasan final presentasi, kami mengindikasikan adanya zona


hidrokarbon pada kedalaman 2320-2324 m pada formasi Baturaja berupa oil dan di
dukung oleh beberapa data yang mendukung seperti mud log yang
mengindikasikan dari data gas kromatografi dan adanya trace oil show pada
kedalaman tersebut. Hal ini didukung oleh data stratigrafi seperti yang telah di
jelaskan.

68
DAFTAR PUSTAKA

Ayu Listia. 2013. [Link] pada 11 November 2018)

Azmi Tufiqurrahman. 2017. [Link] pada 11


november 2018)

Joe. 2014. [Link] (Diakses pada 12 November 2018)

Putra Pamungkas. 2008. [Link] (diakses pada 12 november


2018)

Tony Martono. 2013. [Link] (diakses pada 11


November 2018)

69
70
LAMPIRAN

71

Common questions

Didukung oleh AI

Vshale dihitung menggunakan persamaan Vshale = (GRlog - GRmin) / (GRmax - GRmin), di mana GRlog adalah radioaktivitas yang dibaca pada log, GRmin adalah radioaktivitas pada formasi bersih, dan GRmax adalah radioaktivitas pada shale atau clay. Tujuan menghitung Vshale adalah untuk memperkirakan kandungan clay dalam formasi yang bersifat permeabel sehingga dapat membantu dalam menilai kualitas reservoir dan memprediksi produksi hidrokarbon .

Coring konvensional menggunakan core bit atau diamond bit untuk mengambil sampel batuan dengan diameter antara 3-5 inci dan panjang 10-20 ft. Coring ini dilakukan bersamaan dengan pemboran. Sebaliknya, wire-line retrievable coring dilakukan tanpa mengangkat drill string, menggunakan alat yang diturunkan ke dasar sumur, menghasilkan sampel berukuran lebih kecil, antara 1 1/8 – 1 ¾ inci dan panjang 10-20 ft. Kedua metode ini digunakan untuk mendapatkan data petrofisik yang valid terutama pada zona produktif .

Log SP dipengaruhi oleh parameter seperti resistivitas formasi, jenis air lumpur pemboran yang digunakan, ketebalan formasi, dan parameter lainnya. Jenis air lumpur yang konduktif akan meningkatkan kontras potensial listrik yang dapat diukur sehingga log SP bekerja dengan lebih baik. Resistivitas formasi serta ketebalan formasi juga akan mengubah intensitas sinyal yang diperoleh, yang pada gilirannya memengaruhi interpretasi mengenai batasan lapisan permeabel .

Porositas efektif ditentukan dengan mengkombinasikan nilai porositas dari log densitas dan neutron. Rumus yang digunakan adalah ØEff = (ØD + ØN)/2, di mana ØD adalah porositas dari log densitas yang telah dikoreksi terhadap kandungan shale, dan ØN adalah porositas dari log neutron yang juga dikoreksi. Koreksi ini penting karena nilai awal dari masing-masing log terkena pengaruh shale dan memerlukan penyesuaian agar menghasilkan porositas efektif yang akurat .

Hukum Archie digunakan untuk memprediksi saturasi air (Sw) dalam reservoir melalui parameter resistivitas formasi (Rt), resistivitas air formasi (Rw), dan faktor formasi (F). Archie Formula memberikan dasar untuk interpretasi data porositas dan saturasi air dengan menghubungkan resistivitas listrik dengan saturasi air. Pada formasi yang belum dikenal, batasan Sw digunakan untuk mengklasifikasikan konten reservoir sebagai gas (Sw = 0-35%), minyak (Sw = 35-65%), atau air (Sw > 65%). Ini membantu dalam mengevaluasi potensi produksi hidrokarbon berdasarkan analisis resistivitas .

Kurva log Gamma Ray mengukur intensitas radioaktif alamiah dari uranium, thorium, dan potasium yang ada dalam batuan, sehingga berfungsi baik untuk mendeteksi kandungan shale atau clay. Kurva ini memberi indikasi tentang sifat litologi dari lapisan batuan berdasarkan intensitas radioaktif. Sementara itu, log Neutron mengukur porositas dari formasi dengan mendeteksi interaksi neutron dengan atom hidrogen. Log Neutron lebih fokus pada menentukan kandungan fluida dalam pori-pori batuan .

Log sonic mengukur waktu yang diperlukan oleh gelombang suara untuk merambat melalui formasi, yang secara langsung berkaitan dengan kepadatan batubara serta kualitas porosity dari batuan. Waktu perambatan ini penting karena dapat digunakan untuk menghitung porositas dan karakteristik elastis dari batuan. Persaingan antara waktu perambatan suara yang lambat dan cepat dapat mengindikasikan perubahan densitas dan kekompakan formasi yang mengarah pada identifikasi cadangan hidrokarbon .

Dalam formasi yang mengandung hidrokarbon, kurva densitas akan menunjukkan defleksi ke kiri, sedangkan kurva log neutron akan menunjukkan defleksi ke kanan. Hal ini mengakibatkan terjadinya separasi positif antara kedua kurva. Sebaliknya, pada lapisan serpih (shale), kedua kurva akan mengalami defleksi yang sebaliknya dengan separasi negatif. Keberadaan separasi positif ini disebabkan oleh perbedaan densitas dan kandungan hidrogen yang terkait dengan fluida hidrokarbon di dalam formasi .

Log resistivitas mendeterminasi zona hidrokarbon dengan mengukur kemampuan batuan untuk menghambat arus listrik. Pada area yang mengandung air, resistivitas cenderung rendah karena air bersifat konduktif, sementara pada zona yang mengandung hidrokarbon, resistivitasnya lebih tinggi karena hidrokarbon tidak menghantarkan listrik. Oleh karena itu, resistivitas yang tinggi dapat mengindikasikan zona hidrokarbon potensial dalam formasi .

Keberadaan air dalam pori-pori batuan akan memperbesar harga porositas neutron karena air memiliki konsentrasi atom hidrogen yang tinggi. Sementara itu, pori-pori yang diisi minyak akan menghasilkan harga porositas neutron yang lebih rendah dibandingkan air, tetapi tetap lebih tinggi daripada gas. Hal ini karena minyak juga mengandung atom hidrogen, meskipun dalam konsentrasi yang lebih kecil dibandingkan air. Ketika formasi terisi gas, nilai log netron akan mendekati batuan yang sangat kompak (2–6%), karena konsentrasi atom hidrogen pada gas lebih kecil dari minyak dan air .

Anda mungkin juga menyukai