ANTENA ARRAY
Nama Kelompok :
Rachmad subiantoro 41415310011
Athif Rizki H 41415310023
M Annas Alifii 41415310019
M Sanusi 41415310018
Adhy Prasetyo 41415310021
PENGERTIAN
Antena array adalah antena yang dibentuk dari beberapa elemen yang
tersusun secara array dengan tujuan tertentu. Jenis antena ini ada bermacam-
macam, tergantung bagaimana mengkonstruksi susunan antena arraynya sehingga
diperoleh bentuk pola radiasi yang diinginkan. Umumnya antena yang tersusun
secara array merupakan antena yang identik.
Beberapa tujuan pembentukan antena array adalah :
a. Meningkatkan “daya” radiasi
b. Meningkatkan “gain” dan direktifitas antena
c. Memungkinkan antena bekerja pada band yang lebar
d. Memungkinkan diterapkannya “diversity”, misalnya “space diversity”.
Beberapa faktor terpenting dari antena ini adalah :
a. Konfigurasi geometris dari seluruh antena (linear, circular, rectangular)
b. Jarak individual antena terhadap lainnya
c. Amplitudo dari masing-masing elemen
d. Fase dari masing-masing elemen
e. Pola radiasi relatif dari masing-masing elemen
Konfigurasi elemen dari antena array dapat disusun dalam berbagai bentuk. Untuk
konfigurasi yang berbentuk suatu garis lurus disebut array linier (linear array),
konfigurasi yang berbentuk bidang datar disebut array planar, dan konfigurasi
yang berbentuk lingkaran disebut array lingkaran (circular array). Sedangkan
ANTENA DAN PROPAGASI 2
jenis array yang lain adalah array konformal (conformal array), dimana elemen-
elemennya terletak pada bidang tak datar.
Diagram radiasi dari sebuah antena secara sendiri (single antenna)
biasannya relative lebar, misalnya dipole setengah panjang gelombang (1/2 λ)
memiliki beamwidth 780 ,atau dipole dengan panjang lambda 480 . Antena yang
memiliki beamwidth lebar akan memiliki direktivitas dan gain yang relative
rendah.
Pada komunikasi jarak jauh digunakan antenna yang memiliki gain yang
tinggi. Dengan gain yang tinggi ini, bisa didapatkan nilai Equivalent Isoltrop
Radiated Power (EIRP) yang juga tinggi,yang akan menjamin jangkauan (range)
yang lebih besar.
Pada aplikasi radar digunakan antenna yang memiliki beamwidth yang
sangat sempit, yang akan menentukan resolusi sudut dari radar tersebut, sehingga
bis mendeteksi objek-objek yang berdekatan sebagai objek deteksi yang terpisah.
Medan listrik/magnet total dari array adalah superposisi secara vektorial
medan yang dihasilkan dari masing-masing [Link] menghasilkan suatu
diagram radiasi tertentu,kea rah pancar yang diprioritaskan untuk mendapatkan
direktivitas yang tinggi,diupayakan medan vektornya saling bersuperposisi
diupayakan berlangsung kontruktif (saling menjumlahkan ),sedangkan kearah
pancar lain yang diinginkan memiliki direktifitas rendah,superposisinya
diupayakan berlangsung secara destruktif (saling mengurangi/menghilangkan).
Ada lima parameter yang bisa digunakan untuk mengontrol diagram
radiasi dari array :
1. Konfigurasi geometris array
a. Linier : antenna disusun pada suatu garis tertentu
b. Circular : disusun di atas suatu lingkungan
c. Planar : tersusun pada suatu bidang dua dimensi
d. Secara tiga dimensi di ruang
ANTENA DAN PROPAGASI 3
2. Jarak dari satu elemen antena ke elemen yang lain.
3. Amplitudo arus atau tegangan yang dipasangkan pada feeding element
antenna
4. Phase arus atau tegangan pada feeding
5. Diagram radiasi dari masing-masing elemen.
B. ARRAY DUA ANTENA
Pengamatan kita mulai dengan struktur yang paling sederhana,yaitu array
yang tersusun dari dua antenna dipole Hertz dengan panjang l,yang terletak di atas
sumbu z (gambar 5.1). Kedua antena tersebut diorentasikan secara vertikal,satu
sama lainnya terpisah oleh jarak sejauh d, dan diletakkan simetris terhadap sumbu
y,sehingga posisi antena tersebut 1 di z = d/2 dan antenna 2 di z = -d/2.
Antena 1 dicatu dengan arus I 1 = I. e j𝛽2 sedang antenna 2 dengan
𝛽
I2 = I.e -j 2 (I : amplitude arus,dan β : phasa arus).
Akan dilakukan pengamatan pada titik P, yang terletak pada jarak r,dengan
sudut 𝜗 dari sumbu z. Pada perhitungannya nanti,titik P ini diandaikan berada di
medan jauh dari kedua antenna tersebut,sehingga bias dilakukan pendekatan –
pendekatan yang akan mempermudah perhitungannya.
Gambar 1.1 Dua dipole Hertz yang membentuk array.
ANTENA DAN PROPAGASI 4
Dengan medan listrik dari dipol Hertz untuk kondisi medan jauh yang
diberikan pada persamaan
𝑗𝑘 𝑒−𝑗𝑘𝑟
Ē dipole Hertz = 4𝜋 Z.I.L. 𝑟
. sin 𝜗.ā 𝜗
Maka medan listrik total di titik P seperti ditunjukan di gambar 1.1
𝛽 𝛽
−𝑗(𝑘𝑟1− ) −𝑗(𝑘𝑟2− )
𝑗𝑘 𝑒 2 𝑒 2
Ē= 4𝜋
Z.I.L.𝑥 = [ r1
+ r2
] sin 𝜗.ā 𝜗
Untuk jarak dari antenna ke titik P kembali digunakan pendekatan medan
jauh, yang menghasilkan,masing – masing untuk variasi phasa
𝑑
𝑟1 ≈ r - 2 cos 𝜗
𝑑
𝑟2 ≈ r - 2 cos 𝜗
Dan untuk varisi amplitude
𝑟1 ≈ 𝑟2 ≈ 𝑟
Contoh :
Sekarang kita akan mengorientasikan dipol Hertz ke arah horizontal
seperti ditampilkan digambar berikut. Analisa diagram radiasi array.
Jawab :
Maka dengan acuan sudut 𝜗 ,dipol Hertz memiliki diagram pancar dengan
fungsi cos𝜗.
Sedangkan AF memiliki bentuk yang sama seperti contoh
sebelumnya,karena taka da perubahaan parameter pada fungsi tersebut.
ANTENA DAN PROPAGASI 5
Gambar berikut ini menampilkan diagram radiasi array. Pada 𝛽 = −𝜋 / 2,
antenna 1 berfungsi sebagai reflector,sehingga arah pancaran utama akan ke –
1800 , sedangkan untuk 𝛽 = −𝜋 / 2 terbentuk kondisi sebaliknya.
C. ARRAY LINIER N ANTENA
Sekarang kita akan lakukan pengamatan pada array yang secara umum
terdiri dari N buah elemen antenna. Gambar 1.2 .di susun secara vertical di
sepanjang sumbu z. Jarak antara antenna yang berdekatan sama,yaitu d, sehingga
besar total antenna adalah (N-1)d.
Gambar 1.2 Array linier yang terdiri dari N buah antenna di sepanjang
sumbu z
Kepada masing-masing elemen diberikan arus pencatu yang memiliki
amplitude yang sama tetapi phasa yang berbeda,yaitu phasa yang membesar
secara linier dengan,
I1 ≈ I
I2 ≈ [Link]𝛽
I3 ≈ I .e j2 𝛽
atau secara umum
In≈I.j(n-1) 𝛽
ANTENA DAN PROPAGASI 6
Jarak dari setiap antenna ke titik pengamatan P di medan jauh adalah
r1 ≈ r
r1 ≈r – d cos 𝜗
r3 ≈ r – 2.d cos 𝜗
atau secara umum
rn ≈ r – (n-1) . d cos 𝜗
Dengan analogi perhitungan seperti pada array dua elemen array untuk
struktur array di gambar 1.2 menjadi
AF = 1+e j(kd cos 𝜗+𝛽) + e j2(kd cos 𝜗+𝛽) + e j3(kd cos 𝜗+𝛽)+…+ e j(N-1)(kd cos 𝜗+𝛽)
dengan
𝛹 = kd cos 𝜗 + 𝛽
menjadi
AF= 1 + ej 𝛹 +ej2 𝛹+ej3 𝛹+…+ejN-1) 𝛹
Cari alternatif yang penulisannya lebih kompak akan diturunkan sini,yaitu
dengan mengalikan rumus ini dengan ej 𝛹,sehingga
AF . ej 𝛹 = ej 𝛹 +ej2 𝛹+ej3 𝛹+ ej4𝛹 +…+ejN𝛹
Dengan mengurangi persamaan
AF . ej 𝛹 – AF = ejN𝛹 – 1
AF . (ej 𝛹 − 1) = ejN𝛹 – 1
𝑁𝛹 𝑁𝛹 𝑁𝛹
ej 𝛹−1 ej ej −𝑒−j
2 2 2
AF = ej 𝛹−1 = 𝛹 = 𝛹 𝑁𝛹 𝑁𝛹
ej ej j −𝑒−j
2 2 2 2
𝑁𝛹
𝛹 sin( 2 )
AF = e j(N-1)2 𝛹
sin( )
2
Dengan mengambil titik refrensi di tengah-tengah array ini, maka eksponsial di
atas bisa dihilangkan ,sehingga
𝑁𝛹
sin( )
2
AF = 𝛹
sin( )
2
ANTENA DAN PROPAGASI 7
Faktor array mempunyai nilai maksimal AFmax = N. atau dengan me-norm factor
array diatas,kita dapatkan
𝑁𝛹
1 sin( 2 )
AFn = 𝑁 𝛹
sin( )
2
ANTENA DAN PROPAGASI 8