0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
181 tayangan16 halaman

Formulasi Infus Natrium Klorida

(1) Dokumen tersebut merangkum praktikum pembuatan infus ringer yang meliputi preformulasi zat aktif, perhitungan tonisitas dan osmolaritas, pendekatan formula, preformulasi eksipien, dan persiapan alat/wadah/bahan. (2) Zat aktif yang digunakan adalah NaCl, KCl, CaCl2 dalam bentuk larutan. (3) Sediaan bersifat hipertonis karena osmolaritasnya lebih dari 350.

Diunggah oleh

DEVIA
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
181 tayangan16 halaman

Formulasi Infus Natrium Klorida

(1) Dokumen tersebut merangkum praktikum pembuatan infus ringer yang meliputi preformulasi zat aktif, perhitungan tonisitas dan osmolaritas, pendekatan formula, preformulasi eksipien, dan persiapan alat/wadah/bahan. (2) Zat aktif yang digunakan adalah NaCl, KCl, CaCl2 dalam bentuk larutan. (3) Sediaan bersifat hipertonis karena osmolaritasnya lebih dari 350.

Diunggah oleh

DEVIA
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

JURNAL PRAKTIKUM PEMBEKALAN STERIL

KELOMPOK : 4 SHIFT : A1

SOAL : INFUS RINGER

I. Preformulasi Zat Aktif


I.1 NaCl (HOPE, 2009)
Nama zat aktif Natrium Klorida
Struktur Kimia Na-Cl
Pemerian Natrium klorida merupakan bubuk kristal putih atau
tidak berwarna. Kristal ini memiliki rasa garam. Struktur
Kristal kubik. Natrium klorida padat tidak mengandung
air. kristalisasi meski, di bawah 0℃, garam dapat
mengkristal sebagai dihidrat.
Kelarutan Agak larut dalam etanol, larut dalam 250 bagian etanol
95%, larut dalam 10 bagian gliserin, larut dalam 2,8
bagian air.
Titik Leleh 141,3 oC.
Inkompatibilitas Larutan natrium klorida yang berair bersifat korosif
terhadap zat besi dan juga
bereaksi membentuk endapan dengan garam perak,
timbal, dan [Link] kuat
membebaskan klorin dari larutan natrium yang diasamkan
khlorida. Kelarutan antimikroba metilparaben menurun
dalam larutan natrium klorida berair (23) dan
viskositas gel karbomer dan larutan hidroksietil
selulosa atau hidroksipropil selulosa berkurang dengan
penambahan natrium klorida.
Stabilitas
 Panas Tahan terhadap panas
 Hidrolisis/oksidasi Tidak mudah mengalami hidrolisis.
 Cahaya
Kesimpulan :
Bentuk zat aktif yang digunakan (basa/asam/garam/ester) : garam.
Bentuk sediaan(lar/susp/emulsi/serbuk rekonstitusi) : Larutan
Cara sterilisasi sediaan : autoklaf suhu 121oC (15 menit) atau 115 oC (30menit)
Kemasan : Botol Infus
I.2. KCl

Nama zat aktif Kalium Klorida


Struktur Kimia K-Cl
Pemerian Kristal atau serbuk atau tidak berwarna atau tidak berbau,
tidak berasa atau berasa asam (FI IV, 1995).
Kelarutan Larut dalam air, sangat mudah larut dalam air panas,larut
dalam air panas, praktis tidak larut dalam eter ( FI IV,
1995)
pH 4-8,7 (FI IV, 1995)

Titik Leleh 170oC (FI IV, 1995).


Inkompatibilitas Larutan Karbonat, phospat, sulfat dan tartrat
(HOPE,2009)
Stabilitas Stabil dan harus disimpan dalam wadah tertutup rapat, di
tempat sejuk dan kering (FI IV, 1995)
Kesimpulan :
Bentuk zat aktif yang digunakan (basa/asam/garam/ester) : garam.
Bentuk sediaan(lar/susp/emulsi/serbuk rekonstitusi) : Larutan
Cara sterilisasi sediaan : autoklaf suhu 121oC (15 menit) atau 115 oC (30menit)
(formularium Nasional, 1966).
Kemasan : Botol Infus
I.3 CaCl2

Nama zat aktif Kalsium Klorida


Struktur Kimia Cl-Ca-Cl
Pemerian Granul atau serpihan putih, keras ,tidak berbau (FI IV,
1995).
Kelarutan Mudah larut dalam air, dalam etanol dan dalam etanol
mendidih, sangat mudah larut dalam air panas ( FI IV,
1995)
pH 4,5-9,2 (FI IV, 1995)

Titik Leleh 772 oC (FI IV, 1995).


Inkompatibilitas Larutan Sodium klorida korosif terhadap besi, bereaksi
terhadap presipitasi perak dan garam merkuri
(ROWE,2009)
Stabilitas Zat kimia yang stabil, harus terlindung dari lembab
(HOPE, 2009)
Kesimpulan :
Bentuk zat aktif yang digunakan (basa/asam/garam/ester) : garam.
Bentuk sediaan(lar/susp/emulsi/serbuk rekonstitusi) : Larutan
Cara sterilisasi sediaan : autoklaf suhu 121oC (15 menit) atau 115 oC (30menit)
(formularium Nasional, 1966).
Kemasan : Botol Infus
II. Perhitungan Tonisitas/Osmilaritas dan Dapar
a. Tonisitas
Metode : Penurunan Titik Beku
Perhitungan :

TONISITAS
BAHAN JUMLAH KONSENTRASI E
(E x %)
NaCl 0,946 g 0,946 % 3,4 3,2164
KCl 0,033 g 0,033 % 3,4 0,1122
CaCl2 0,528 g 0,528 % 4,8 2,5344
Aqua Pro Injeksi Add 100 ml Add 100 ml
Total 5,863

Larutan bersifat hipertonis sehingga tidak perlu ditambah NaCl

b. Osmolaritas
𝐺𝑟𝑎𝑚/𝑙
Perhitungan : Osmolaritas : x 1000 jumlah ion
𝐵𝑀

9,46 𝑔𝑟/𝑙
Nacl = x 1000 x 2 = 323,6
58,44
0,33 𝑔𝑟/𝑙
Kcl = x 1000 x 2 = 8,85
74,55
5,28 𝑔𝑟/𝑙
Cacl = x 1000x 3 =142,72
110,98
+
475, 17

Kesimpulan :
Sediaan bersifat hipo-iso-Hipertonis : Karena >350 maka sediaan bersifat hipertonis
(FI V,1995)
Perhatian yang harus dicantumkan dalam informasi obat :
c. Dapar
Jenis Dapar/Kombinasi
Target pH
Kapasitas Dapar
Perhitungan :

III. Pendekatan Formula


Jumlah
No Bahan Fungsi/Alasan penambahan Bahan
(%)
1. Natrium klorida 0,946 Zat aktif
2. Kalium klroida 0,033 Zat aktif
3. Kalsium klorida 0,528 Zat aktif
Add 100
4. Aqua pi Pelarut
ml

Formula yang akan dibuat adalah 100 ml :

Formula infus ringer dari fornas (untuk 500 ml ) : NaCl 4,3 gram

KCl 0,15 gram

CaCl2 2,4 gram

Maka, untuk 100 ml : NaCl 4,3 gram/ 5 = 0,85 gr/100ml

KCl 0,15 gram/5 = 0,03 gr/100ml

CaCl 2,4 gram/5 = 0,48 gr/100ml


Untuk pembuatan infus, dilebihkan 10% maka, NaCl : 0,86+0,086 = 0,946 gr/100ml

KCl : 0,03+0,003 = 0,033 gr/100ml

CaCl : 0,48+0,048 = 0,528 gr/100ml


IV. Preformulasi Eksipien

IV.1 Aqua Pro injeksi (HOPE, 2009)

Nama Kimia Aqua pro injeksi


Struktur Kimia
H–O–H
Rumus Molekul
H2O
Berat Molekul 18,02
Pemerian Cairan, jernih, tidak berwarna, tidak berbau.

Kelarutan Larut dalam pelarut polar


pH
Titik Leleh 0 oC
Inkompatibilitas Dapat bereaksi dengan obat-obatan dan eksipien lain yang
rentan terhadap hidrolisis dan suhu tinggi. Dapat bereaksi
dengan logam alkali, garam anhidrat.
Kegunaan Pelarut
Stabilitas Stabil di lingkungan es, cair, dan uap dilindungi oleh ion
dan kontaminasi organik yang dapat menyebabkan
konduktivitas dan jumlah karbon organik meningkat.
Penyimpanan Wadah tertutup rapat.
V. Persiapan Alat/Wadah/Bahan
a. Alat
No Nama Alat Jumlah Cara Sterilisasi (Lengkap)
1. Batang pengaduk 1 Oven, 170oC, 1 Jam
2. Corong 1 Oven, 170oC, 1 Jam
3. Erlenmeyer 2 Autoklaf 121 oC , 15 Menit
4. Gelas ukur 1 Autoklaf 115oC , 15 Menit
5. Kaca arloji 4 Oven, 170oC, 1 Jam
6. Kertas saring 2 Autoklaf 121oC, 15 Menit

b. Wadah
No Nama Wadah Jumlah Cara Sterilisasi (Lengkap)
1. Botol Infus 1 Oven, 170oC, 1 Jam
2 Tutup Karet 1 Etanol 70%, 24 Jam
Botol Infus
3 Tali Pengikat 1 Autoklaf 121oC, 15 Menit
Infus

c. Bahan (hanya untuk cara aseptik)


No Nama Bahan Jumlah Cara Sterilisasi (Lengkap)
1. Natrium Klorida 0,946 Autoklaf 121 oC , 15 Menit (Diakhir)
2. Kalium klorida 0,033 Autoklaf 121 oC , 15 Menit (Diakhir)
3. Kalsium Klorida 0,528 Autoklaf 121 oC , 15 Menit (Diakhir)
4. Add
Aqua Pi
100ml

VI. Penimbangan Bahan


Jumlah sediaan yang dibuat:
No Nama Bahan Jumlah yang ditimbang
1. Natrium Klorida 0,946g
2. Kalium klorida 0,033g
3. Kalsium klorida 0,528 g
4. Aqua Pi Add 100 ml
VII. Prosedur Pembuatan
Ruang Prosedur
Disiapkan alat, wadah dan bahan yang diperlukan.
- Disterilkan sesuai prosedur :
Dicuci alat, wadah dan bahan, dikeringkan, dan dibungkus
dengan kertas merang.
- Sebelum disterilkan, dikalibrasi gelas beaker 100 ml menjadi
50 ml.
- Disterilkan wadah dengan metode
Grey area
 Panas Basah (Autoklaf 121 oC , 15 Menit) : Gelas
(ruang
Ukur,Erlenmeyer, gelas ukur dan kertas saring
sterilisasi)
 Panas Kering (Oven, 170oC, 1 Jam : Batang pengaduk,
corong gelas, botol infus , kaca arloji, pinset
 Kimia ( Etanol 70%, 24 jam) : Tutup Karet botol infus
 Setelah disterilkan, semua alat dan wadah dimasukkan
ke dalam white area, transfer box.

Grey Area - Ditimbang bahan-bahan sesuai kebutuhan menggunakan kaca


(Ruang arloji.
penimbangan) - Diaddkan aqua proinjeksi dengan gelas ukur sampai 100 mL.
- Disiapkan aqua proinjeksi.
- Dilarutkan zat aktif(Kalium klorida,kalsium klorida dan
natrium klorida secara terpisah) dengan aqua p.i dan aduk
hingga homogen
- Dicampurkan ketiga zat aktif tersebut dalam gelas beaker
White area
- Disaring larutan menggunakan kertas saring
(Grade C)
- Diukur pH sediaan
- Diaddkan dengan aquadest hingga 105 ml
- Dimasukan ke dalam botol sediaan
- Dibungkus sediaan menggunakan kertas merang dan plastic
wayang untuk disterilisasi autoklaf
- Disterilkan sediaan menggunakan autoklaf, 121 oC, 15 menit.
Grey area
- Botol yang sudah diserilisasi dibawa ke ruang evaluasi untuk
(ruang
dilakukan evaluasi sediaan.
sterilisasi)
Grey area - Dilakukan evaluasi sediaan.
(ruang - Diberikan etiket dan brosur.
evaluasi) - Dikemas dalam wadah sekunder.
VIII. Evaluasi Sediaan

Jumlah Hasil
No Jenis Evalausi Prinsip Evaluasi Syarat
Sampel Pengamatan
Cek pH larutan
Nilai ph
dengan
dalam darah
menggunakan pH
1. Penetapan pH 100 pH =7 normal 7,35
meter atau kertas
– 7,45 (FI
indikator universal.
IV, 1995).
(FI IV, 1995).
Menggunakan spuit
yang bisa Volume
menampung isi 3 injeksinya
Penetapan
buah ampul dan harus
2. volume injeksi - -
dipindahkan ke dilebihkan
dalam wadah
dalam sediaan (FI IV,
semula (FI IV, 1995)
1995).
Bebas dari partikel
yang dapat diamati
pada pemeriksaan
scara visual Tidak boleh
bertujuan untuk ada bahan
Bahan partikulat memeriksa partikulat
3. - -
dalam injeksi keutuhan kemasan pada sediaan
untuk menjaga injeksi (FI
sterilisasi dan IV, 1995).
volume serta
kestabilan sediaan
(FI IV, 1995).
Volume
Bertujuan untuk
pada sediaan
memeriksa
injeksi harus
keutuhan kemasan
sesuai
untuk menjaga
4. Uji kebocoran 100 ml 92 ml dengan
sterilitas dan
volume pada
volume serta
etiket yang
kestabilan sediaan
tertera (FI
(FI IV, 1995).
IV, 1995).
Dilakukan dibawah Setiap
cahaya yang sediaan
terdifusi, tegak injeksi yang
lurus ke arah dibuat harus
Uji kejernihan bawah tabung. terlihat
5. 100 ml Jernih
larutan Setiap larutan obat jernih (tidak
suntik harus jernih ada zat atau
dan bebas dari bahan
kotoran sehingga pengotor
perlu dilakkan uji lain pada
kejernihan secara sediaan
visual (FI IV, injeksi). (FI
1995). 1V, 1995).
Menimbang 10 vial
Uji keseragaman satu persatu dan
6. - -
sediaan ditetapkan sesuai
dengan monografi.
Tidak lebih
dari 357,0
unit
Uji endotoksin
7. - - endoksin FI
bakteri
per mg
epinefrin (FI
IV, 1995).

Kesimpulan :
Sediaan memenuhi syarat/tidak memenuhi syarat
IX. Hasil dan Pembahasan

IX.1 Hasil

No Perlakuan Pengamatan
1 Disterilisasi semua alat dan bahan sesuai Gelas ukur,gelas beaker, Erlenmeyer dan botol infus
tempat sterilisasi di autoklaf 121 oC , 15 Menit
Corong, batang pengaduk,gelas arloji di Oven,
170oC, 1 Jam
2 Ditimbang bahan-bahan yang telah Nacl : 0,946 gr
dihitung Cacl2 : 0,528 gr
Kcl : 0,033 gr
3 Dilarutkan Cacl2 di aquades pro injeksi Larut
4 Dilarutkan Kcl di aquades hingga larut lalu Larut dan homogen
tambahkan ke larutan Cacl2
5 Dilarutkan Nacl di gelas arloji lalu Larut dan homogen
tambahkan ke larutan Cacl2 dan Kcl yang
telah larut
6 Disaring larutan menggunakan kertas
saring
7 Diukur pH sediaan pH = 6 (belum sesuai pH tubuh)
8 Di Adjust pH menggunakan NaOH 1 tetes pH sesuai pH tubuh yaitu 7
9 Diadd kan aquadest hinggal 100 ml Add hingga 100 ml
10 Dimasukan ke dalam botol sediaan
11 Dibungkus menggunakan kertas merang Sterilisasi dengan autoklaf 121 oC , 15 Menit
dan plastic wayang untuk sterilisasi
autoklaf
12 Evaluasi
 Penetapan pH pH = 7
 Kejernihan Sediaan tampak jernih
 Kebocoran Tutup botol tidak rapat
 Volume terpindahkan Ada volume terpindahkan ( Sediaan trsisa 92 ml)
IX.2 Pembahasan

Percobaan yang dilakukan kali ini adalah menmbuat sediaan parenteral volume besar
yaitu infus. Infus merupakan sediaan larutan dalam jumlah besar, yang diberikan melalui
rute intravena secara tetes demi tetes dengan kecepatan aliran tetes diatur secara konstan
dengan bantuan alat cocok. Sediaan Infus yang dibuat pada percobaan ini adalah infus ringer
atau infus NaCl majemuk. Infus ringer merupakan salah satu infus yang diindikasikan
sebagai pengganti cairan elekrolit yang dibutuhkan pada penderita diare berat. Kandungan
utama dari infus ini sangat dibutuhkan oleh tubuh sebagai pengganti elektrolit tubuh yang
hilang karena dehidrasi akibat diare yang diderita. Larutan Ringer sering digunakan untuk
mengisi cairan yang hilang setelah kehilangan darah akibat trauma, operasi, atau
cedera kebakaran.

Pembuatan sediaan infus ringer hal yang pertama dilakukan adalah mengecek
apakah larutan ini isotonis atau tidak. Pemberian intravena dalam volume kecil, isotonis
bukanlah suatu syarat yang mutlak. Hal ini karena jumlah cairan tubuh jauh lebih besar
dibandingkan jumlah cairan yang dimasukkan sehingga terjadi pengenceran yang cepat,
tetapi tidak demikian jika larutan intravena volume besar yang diberikan tidak isotonis.
Larutan yang dibuat jika hipertonis (tekanan osmotiknya lebih besar dari pada darah)
maka dapat terjadi plasmolisis yaitu hilangnya air dari sel darah sehingga sel darah akan
mengkerut tapi jika larutan yang dibuat hipotonis (tekanan osmotik lebih kecil daripada
darah) maka dapat terjadi hemolisis yaitu eritrosit akan pecah. Pengecekan isotonis larutan
dilakukan dengan perhitungan menggunakan rumus sebagai berikut : Osmolaritas =
gram/l/ BM X 1000x jumlah ion Sehingga didapat bahwa larutan infus ringer yang akan
dibuat bersifat hipertonis yang bernilai 475, 17 osmole/liter

Sediaan Infus, tidak perlu pengawet karena volume sediaan besar jika
ditambahkan pengawet maka jumlah pengawet yang dibutuhkan besar sehingga dapat
memberikan efek toksik yang mungkin disebabkan oleh pengawet itu sendiri.
Sediaan infus diberikan secara intravena untuk segera dapat memberikan efek. Pelarut
yang digunakan adalah Air Pro Injection bebas pirogen. Sediaan infus yang dibuat sebanyak
100 ml dimana seharusnya dilakukan penambahan volume pada saat pembuatan sediaan
sebanyak 10% sehingga menjadi 275 ml. Sedangkan untuk sediaannya volume
ditambahkan sebanyak 2% sehingga volume yang akan dimasukkan ke wadah menjadi
102 ml akan tetapi pada percobaan yang dilakukan hanya dibuat 100 ml sehingga volume
akhir setelah evaluasi tersisa 92 ml .

Pembuatan sediaan infus ringer dilakukan dengan cara bahan-bahan yang ada dalam
formula dilarutkan didalam aquadest bebas pirogen. Ion natrium (Na+) dalam infus berupa
natrium klorida dapat digunakan untuk mengobati hiponatremia, karena kekurangan ion
tersebut dapat mencegah retensi air sehingga dapat menyebabkan dehidrasi. NaCl
digunakan sebagai larutan pengisotonis agar sediaan infus setara dengan 0,9% larutan
NaCl, dimana larutan tersebut mempunyai tekanan osmosis yang sama dengan cairan
tubuh. Kalium klorida (KCl), kalium merupakan kation (positif) yang terpenting dalam
cairan intraseluler dan sangat esensial untuk mengatur keseimbangan asam-basa serta
isotonis sel. Ion kalsium (Ca2+), bekerja membentuk tulang dan gigi, berperan dalam proses
penyembuhan luka pada rangsangan neuromuskuler. Jumlah ion kalsium di bawah
konsentrasi normal dapat menyebabkan iritabilitas dan konvulsi. Kalsium yang dipakai
dalam bentuk CaCl2 yang lebih mudah larut dalam air. Bahan –bahan yang telah larut
sempurna kemudian dicampurkan di dalam backer glass yang telah ditara dan ditambahkan
dengan aquadest bebas pirogen di bawah batas tanda tara. Langkah selanjutnya dilakukan
pengecekan pH. Hal ini dimaksudkan agar sediaan tidak menyebabkan phlebesetis (inflamasi
pada pembuluh darah) dan throbosis (timbulnya gumpalan darah yang dapat menyumbat
pembuluh darah). Tujuan lain dari pengaturan pH ini adalah agar sediaan yang dibuat tetap
stabil pada penyimpanan namun jika dalam uji ini belum memenuhi persyaratan pH maka
perlu dilakukan penyesuaian pH agar memenuhi syarat. Larutan jika terlalu asam, maka bisa
ditambah larutan NaOH 0,1 N dan jika terlalu basa dapat ditambah larutan HCl 0,1 N. Obat
suntik sebaiknya mempunyai pH yang mendekati pH fisiologis yang artinya isohidris dengan
darah dan cairan tubuh lainnya. Sediaan yang dibuat , didapat pH yaitu 6, ini berarti pH
pada sediaan yang dibuat tidak memenuhi syarat pH cairan infus harus sesuai dengan pH
darah normal 7,35-7,45 ( FI IV ,1995) sehingga pH pada larutan yang dibuat kurang dari 7,35
maka perlu ditambah larutan NaOH untuk mengurangi ke asamannya ,larutan NaOH yang
ditambahkan sebanyak 1,2 gram sehingga dihasilkan pH 7 ,pH 7 telah sesuai dengan syarat
pH darah normal .

pH larutan infus ringer yang berubah bisa menyebabkan degradasi senyawa obat
dalam larutan. Nilai pH yang di luar rentang syarat pH larutan yang sesuai dengan darah
normal dan jika sediaan berada ditemperatur yang tinggi maka hal tersebut dapat
mengkibatkan efek klinik dari obat secara signifikan, dimana hal tersebut akibat dari reaksi
hidrolisis dan oksidasi. Larutan obat atau suspensi obat dapat stabil dalam beberapa hari,
beberapa minggu, atau bertahun-tahun pada formulasi aslinya, tetapi ketika dicampurkan
dengan larutan lain yg dapat mempengaruhi nilai pH nya, senyawa aktif dapat terdegradasi
dalam hitungan menit. Sistem pH dapar yang biasanya terdegradasi dari asam atau basa
lemah dan garamnya biasanya ditambahkan ke dalam sediaan cair untuk mempertahankan
pHnya pada rentang dimana terjadinya degradasi obat minimum. Tujuan utama pengaturan
pH dalam sediaan infus ini adalah untuk mempertinggi stabilitas obat, misalnya perubahan
warna, efek terapi optimal obat, menghindari kemungkinan terjadinya reaksi dari obat
tersebut, sehingga obat tersebut mempunyai aktivitas dan potensi yang maksimal. Tujuan
lainnya untuk mencegah terjadinya rangsangan atau rasa sakit seaktu disuntikkan. pH yang
terlalu tinggi akan menyebabkan nekrosis jaringan sedangkan pH yang terlalu rendah
menyebabkan rasa sakit jika disuntikkan sehingga dilakukannya penambahn NaOH untuk
mendapatkan pH yang memenuhi persyaratan pH optimal .

Larutan infus harus bebas pirogen karena pirogen menyebabkan kenaikan suhu tubuh
yang nyata,demam, sakit badan, kenaikan tekanan darah arteri, kira-kira 1 jam setelah injeksi.
Pirogen dapat dihilangkan larutan dilakukan dengan penambahan 0,1% karbon aktif
dihitung terhadap volume total larutan, kemudian dihangatkan pada suhu 60-70°C selama
15 menit sambil sesekali diaduk. Langkah selanjutnya larutan disaring menggunakan
penyaring partikel dan pirogen ,namun hal tidak dilakukan karena keterbatasan alat, bahan
serta waktu sehingga hasilnya dimasukkan kedalam wadah berupa botol gelas dengan volume
yang sesuai.

Sterilisasi yang dilakukan untuk larutan infus Ringer termasuk sterilisai akhir dimana
sterilisasi dilakukan setelah larutan dimasukan ke dalam wadah. Metode sterilisasi untuk
larutan ini adalah sterilisasi uap (panas basah atau autoklaf). Metode sterilisasi ini digunakan
untuk sediaan farmasi dengan bahan-bahan yang tahan terhadap temperatur yang digunakan
serta tahan terhadap penembusan uap air dimana sediaan tidak menimbulkan efek yang tidak
dikehendaki akibat uap air tersebut. Sterilisasi uap air ini lebih efektif dibandingkan sterilisasi
panas kering. Sterilisasi larutan ringer dilakukan dengan autoclave pada suhu 121° C selama
15 menit.

Sedian yang telah disterilisasi kemudian dilakukan evaluasi . Evaluasi yang


dilakukan, uji ph sediaan, uji kejernihan, uji kebocoran, dan uji volume terpindahkan. Uji ph
untuk mengukur ph sediaan sesuai atau tidak dengan syarat ph sediaan tetes telinga. Uji
kejernihan untuk mengetahui kejernihan pada sediaan. Uji kebocoran dilakukan dengan
membalikkan wadah, apakah terjadi kebocoran atau tidak. Uji ini berhubungan dengan uji
volume terpindahkan. Apabila terjadi kebocoran, maka volume sediaan akan berkurang. Hasil
yang diperoleh, ph sediaan 7(sesuai), sediaan jernih, tidak ada kebocoran wadah, akan tetapi
tutup dari wadah sediaan kurang rapat sehingga ada volume yang terpindahkan dimana
volume sediaan yang tersisa yaitu 92 ml.
X. Daftar Pustaka
Departemen Kesehatan Republik Indonesia. 1995. Farmakope Indonesia Edisi IV.
Jakarta : Departemen Kesehatan Republik Indonesia.

Departemen Kesehatan Republik Indonesia. 1978. Formularium Nasional edisi 2.


Jakarta; Departemen Kesehatan Republik Indonesia

Rowe, R. C, et al. 2009. Handbook of Pharmaceutical Excipient 6th Edition.


London: Pharmaceutical Press

Anda mungkin juga menyukai