0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
383 tayangan7 halaman

Prototipe Produk: Definisi dan Kegunaan

Dokumen tersebut membahas tentang perancangan dan pengembangan prototipe produk. Secara garis besar dibahas mengenai pengertian prototipe, jenis-jenis prototipe, kegunaan prototipe, dan prinsip pembuatan prototipe. Prototipe digunakan untuk menguji konsep produk, memperbaiki desain, dan memastikan komponen bekerja sesuai harapan sebelum produksi massal.

Diunggah oleh

Wenny Dwi K
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
383 tayangan7 halaman

Prototipe Produk: Definisi dan Kegunaan

Dokumen tersebut membahas tentang perancangan dan pengembangan prototipe produk. Secara garis besar dibahas mengenai pengertian prototipe, jenis-jenis prototipe, kegunaan prototipe, dan prinsip pembuatan prototipe. Prototipe digunakan untuk menguji konsep produk, memperbaiki desain, dan memastikan komponen bekerja sesuai harapan sebelum produksi massal.

Diunggah oleh

Wenny Dwi K
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

PERANCANGAN DAN PENGEMBANGAN

PRODUK:
Prototype Produk
Nur Hidayat.
Jur. Tek. Industri Pertanian, Fak. Teknologi Pertanian, Universitas Brawijaya
Email : nhidayat@[Link]

1. PENDAHULUAN 6. TEKNOLOGI PEMBUATAN PROTOTIPE


- Pengantar 7. MERENCANAKAN PROTOTIPE
- Tujuan 7.1. Menetapkan tujuan MODUL
- Definisi 72. menetapkan tingkat perkiraan
2. TIPE TIPE PROTOTIPE 7.3. Menggariskan rencana

9
3. PENGELOMPOKAN PROTOTIPE 7.4. membuat jadwal
4. KEGUNAAN PROTOTIPE
5. PEMBUATAN PROTOTIPE

1. PENDAHULUAN Minggu 09
1.1 Pengantar
 Prototipe atau bentuk dasar suatu produk bisa digunakan

SELF-PROPAGATING ENTREPRENEURIAL EDUCATION DEVELOPMENT


untuk menyampaikan berbagai macam informasi gambaran
produk itu. Kalau untuk mendesain furniture misalnya, maka
bentuk adalah hal penting yang perlu dimiliki oleh 1rototype
itu. Tetapi untuk mendesain suatu aplikasi software atau
website, penting untuk menggunakan 1rototype yang
mampu mengkomunikasikan sistem interaksi antara
pengguna dan teknologi produk tersebut.
 Prototipe bisa ditampilkan secara hi-fi (high fidelity), di
mana programmer dan desainer visual sudah ikut bekerja
menampilkan produk tersebut, dan pengguna bisa
melakukan pengujian produk yang sudah hampir jadi.
Namun, pengujian produk bisa dilakukan sebelum produk
(SPEED)

tersebut diimplementasikan, untuk melibatkan pengguna


lebih awal di masa pengembangan produk. Di sinilah
Prototype ditampilkan secara low-fi (low fidelity), dan
desainer interaksi berperan
 Esensi dasar prototype dapat berupa merancang industry
dari konsep, membuat prototype rancangan ataupun
pengembangkan software.
Perancangan dan Pengembang Produk/ Prototipe Brawijaya University 2012

Gambar 1. Contoh prototype produk keramik


([Link]
[Link] )

1.2 Tujuan
1.2.1 Tujuan Instruksional Umum (TIU)
Setelah menguasai materi dalam modul ini mahasiswa mampu
membuat prototype produk.
1.2.1 Tujuan Instruksional Khusus (TIK)
Penguasaan materi dalam modul ini, yang dirancang sebagai
landasan dasar prototype Produk, akan dapat
 Menghasilkan prototype dari konsep
 Membuat protipe sebuah rancangan

1.3 Definisi
 Prototipe adalah sebuah penaksiran produk melalui satu atau lebih dimensi yang
menjadi perhatian.

2. Tipe-tipe Prototype
 Prototype dapat diklasifikasikan diantara dua dimensi. Dimensi yang
pertama adalah tingkat dimana sebuah prototype merupakan bentuk
fisik dan kebalikannya adalah bentuk analitik. Prototipe fisik merupakan
benda nyata yang dibuat untuk memperkirakan produk. Aspek-aspek
dari produk yang diminati oleh tim pengembang secara nyata dibuat
menjadi suatu benda untuk pengujian dan percobaan. Prototype analitik
merupakan prototype yang bersifat nontangible seperti model
matematik,simulai, dan lain-lain.
 Prototype fisik dibutuhkan untuk mendeteksi fenomena-fenomena yang
tidak terantisipasi. Bila dijalankan maka prtotipe fisik akan menjalankan
fungsi sesuai dengn produk asli. Maka jika terjadi ketidakseuiaian
seperti dalam rancangan, akan mudah terdeteksi.
 Prototype analitik lebih fleksibel daripada prototype fisik. Hal ini terjadi
karena biaya yang dikeluarkan pada prototype analitik lebih murah
dibandingkan fisik yang sudah mulai dibuat dengan proses manufaktur.

Page 2 of 7
Perancangan dan Pengembang Produk/ Prototipe Brawijaya University 2012

Sumber: [Link]

 Dimensi kedua adalah tingkatan dimana sebuah prototype merupakan


prototype yang menyeluruh sebagai lawan dari terfokus. Prototype yang
menyeluruh mengimplementasikan sebagian besar atau semua atribut
dari produk. Prototype menyeluruh dapat disamakan dengan pemakaian
sehari-hari. Prototipe terfokus menggambarkan hanya sebagian dari
produk, untuk memenuhi kepentingan tertentu.

Sumber: [Link]

3. Pengelompokan prototype
Prototype dapat dibagi dalam enam kelompok:

1. Prototype pembuktian konsep, Digunakan untuk menjawab


kelayakan produk. Fokus pembahasan dalam prototipe ini adalah
komponen atau subsistem. Kegiatan ini dilakukan setelah
pengembangan konsep atau dalam pemilihan konsep.

2. Prototype rancangan industry, digunakan untuk memperlihatkan


tampilan dan kesan dari produk. Biasanya prototype ini

Page 3 of 7
Perancangan dan Pengembang Produk/ Prototipe Brawijaya University 2012
menggunakan bahan sederhana seperti foam sehingga dapat
digunakan untuk memperlihatkan beberapa variasi dengan proses
pembuatan prototipe yang tepat.

3. Prototype rancangan percobaan, focus prototype ini adalah


untuk memodelkan suatu subsistem dari suatu produk dalam
rangka mencapai tergaet performansi yang ditetapkan.

4. Alfa prototype, proptotipe yang dibuat untuk melihat


komponendari produk yang diharapkan. Komponen memiliki bentuk
geometrid an material yang identik dengan produk yang akan
diproduksi. Prototype ini merupakan sistem konstruksi pertama dari
subsistem. Yang secara individual telah dibuktikan performansinya
dalamprototipe sebelumnya.

5. Beta prototype, prototype yang dibuat sesuai dengan proses


sesungguhnya, tetapi munkin tidak dirakit dengan proses perakitan
sesungguhnya. Tujuannya adalah untuk melihat performansi dan
reliability dalam rangka mengidentifikasi perubahan-perubahan
yang perlu dilakukan untuk produk akhir

6. Prototype praproduksi, adalah percobaan produksi untuk


kapasitas terbatas.

4. Kegunaan prototype

 Pembelajaran. Prototype sering digunakan untuk penjawab dua


tipe pertanya; “Akankah dapat bekerja/” dan “sejauh mana dapat
memenuhi kebutuhan pelanggan?” saat menjawab pertanyaan
tersebut, prototipe diperlukan sebagai alat pembelajaran.

Gambar 2. Prototype Kit Mesin Produksi Bioethanol dari Eceng Gondok sebagai media
pembelajaran. ([Link]
Page 4 of 7
Perancangan dan Pengembang Produk/ Prototipe Brawijaya University 2012
[Link])

 Komunikasi. Prototype memperkaya komunikasi dengan manajemen


puncak, penjual, mitra, keseluruhan anggota tim, pelanggan dan
investor. Hal ini disebabkan prototype bukan lagi gambar sketsa
tapiwujud sebenarnya.

Gambar 3. Prototype produk dibuat sesuai aslinya untuk dikenalkan


([Link]

 Penggabungan. Prototype digunakan untuk memastikan bahwa


komponen-komponen dan subsistem-subsistem dari produk bekerja
bersamaan seperti yang diharapkan. Prototipe fisik menyeluruh

5. Prinsip Pembuatan Prototype


 Beberapa prinsip berguna sebagai pemandu keputusan tentan prototype
selama pengembangan produk. Prinsip-prinsip ini menunjukkan
keputusan terhadap tipe prototype mana yang harus dibuat dan
bagaimana memasukkan prototype dalam rencana pengembangan
 Prototipe analitik umumnya lebih fleksibel karena merupakan perkiraan
matematis dari produk, maka secara umum akan menampilkan
rancangan alternative. Pengubahan parameter dalam prototipe ini lebih
mudah. Perubahan besar juga lebih dimungkinkan. Prototype
analitikdigunakan untuk mempersempit jarak parameter kemungkinan
dan kemudian prototype fisik digunakan untukmenyesuaikan atau
menegaskan rancangan.
 Prototipe fisik dibutuhkan untuk menemukan fenomena yang tidak
dapat diduga yang sama sekali tidak berhubungan dengan tujuan
semula. Prototipe fisik tidak hanya melihat bentuk geometrisnya tetapi
juga hal-hal yang mempengaruhinya serta ergonomis alat.
 Prototipe dapat mengurangi resiko yang merugikan dalam
pengembangan produk. Hasil sebuah pengujian mungkin mengharuskan
pengulangan karena ketidaksesuaian fungsi.
 Keuntungan yang dapat diperkirakan dari prototype dalam mengurangi
resiko harus dipertimbangkan dengan waktu dan uang yang dibutuhkan
Page 5 of 7
Perancangan dan Pengembang Produk/ Prototipe Brawijaya University 2012
untuk membuat dan mengevaluasi prototype. Produk dengan resiko
tinggi atau yang tidak pasti, produkdengan biaya kegagalan tinggi,
teknologi baru, atau produk yang bersifat revolusioner akan
diuntungkan dengan adanya prototype. Sebaliknya, produk dengan
biaya kegagalan rendah dan dengan teknologi yang sudah ada tidak
memperoleh keuntungan pengurangan resiko daripembuatan prototype.
 Kadangkala penambahan tahap singkat pembuatan prototype dapat
membuat kegiatan selanjutnya selesai lebih cepat dibandingkan jika
tidak membuat prototype.

6. Teknologi Pembuatan prototype


Prototype dapat dibuat melalui berbagai cara tergantung dari produk
yang akan dibuat
 Model Komputer 3D. Cara ini kini paling banyak digunakan untuk
pembuatan prototype peralatan ataupun fasilitas. Gambar-gambar
dibuat dengan computer model tiga dimensi. Model ini menampilkan
rancangan sebagia bentuk 3D. Software yang ada telah dilengkapi
dengan pengukuran setiap bagian dan kemungkian jika dilakukan
perubahan. Banyak perusahaan mengembangkan software inisesuai
keperuntukannya. Prototype ini dikenal sebagai prototype digital atau
virtual prototype.
 Model prototype konvensional adalah membuat bentuk tiga dimensi.
Teknologi ini disebut dengan stereolithografi atau pencetak tiga
dimensi. Bagian-bagian dibuat dengan bahan yang dapat dibentuk
namun cukup kuat. Bagian-bagian akan disatukan sesuai dengan
harapan dan dilihat keseusian. Perubahan mudah dilakukan karena
bahan mudah diubah dan disesuaikan. Jika kondisi yang diharapkan
telah nampak maka prototype siap untuk dikembangkan lebih lanjut

7. Merencanakan prototype
 Kesukaran potensial yang sering terjadi dalam pengembangan produk
adalah pembuatan prototype yang salah yaitu pembuatan dan
pencarian serta pemindahan prototype (fisik ataupun analitik) yang
pada pokoknya tidak menyumbang pada tujuan proyek pengembangan
secara keseluruhan.
 Penetapan secara hati-hati setiap prototype sebelum memulai tahap
usaha untuk membuat dan mengujinya perlu dilakukan. Terdapat empat
tahap yang harus dilakukan.
7.1. Menetapkan tujuan prototype
 Tujuan prototipe yaitu pembelajaran, komunikasi, penggabungan dan
milestone. Dalam memnetapkan tujuan sebuah prototype, tim
mendaftar khususnya pembelajaran dan kebutuhan komunikasi.
Anggota timjuga mendaftar beberapa kebutuhan penggabungan baik
yang jadi ataupun tidak. Prototype diharapkan untukmenjadi satu dari
beberapa tinggak utama dari proyek pengembangan produk
keseluruhan.
7.2. Menetapkan tingkat perkiraan konsep
 Merencanakan sebuah prototype membutuhkan tingkatan dimana prduk
akhir diperkirakan akan ditetapkan. Tim harus mempertimbangkan
apakah prototype fisik diperlukan ataukah cukup analitik.

Page 6 of 7
Perancangan dan Pengembang Produk/ Prototipe Brawijaya University 2012
7.3. Menggariskan rencana percobaan
 Penggunaan prototype daampengembangan produk dapat dianggap
sebagai sebuah percobaan. Praktek percobaan yang baik membantu
untuk menjamin penggalian nilai maksimum dari kegiatan pembuatan
prototype. Rencana percobaan meliputi identifikasi variabel percobaan
(jika ada), protocol pengujian, sebuah identifikasi pengenai pengukuran
apa yang akan ditampilkan, dan sebuah rencana untuk menganalisis
data hasil.
7.4. Membuat jadwal untuk perolehan, pembuatan dan
pengujian
 Pembuatan danpengujian prottipe mempertimbangkan subproyek
dalamkeseluruhan proyek pengembangan. Tim sangat memerlukan
jadwal kegiatan pembuatan prototype. Jadwal yang penting adalah:
kapan bagian-bagian akan disiapkan untuk dirakit, kapan prototype
akan diuji petama kali, dan kapan protipe selesai.

REFERENSI
Shahab, Q. 2011. Prototipe: Mengkomunikasikan Interaksi Pengguna
dan Produk. [Link]
mengkomunikasikan-interaksi-pengguna-dan-produk/ diakses tanggal
27 Juni 2012.

Ulrich, K.T. dan Steven D.P. 2001. Perancangan dan Pengembangan


Produk. Penerbit Salemba Teknika. Jakarta.
Widodo, I.D. 2002. Perencanaan dan pengembangan Produk. UII press.
Yogyakarta.

PROPAGASI

A. Pertanyaan (Evaluasi mandiri)


1. Apakah produk jasa seperti polis asuransi misalnya memerlukan
prototype ?
2. Apakah variasi produk diperoleh melalui prototype?
3. Apa manfaat prototipe produk?
4. Bagaimana langkah-langkah pembuatan prototype?
5. Bagaimana mengidentifikasi kekurangan prototype?
B. Latihan
Buatlah sebuah prototype dari produk terkait agroindustri, baik produk
utama ataupun pendukung.

Page 7 of 7

Common questions

Didukung oleh AI

A team might develop a focused prototype to explore specific components or subsystems of a product without the need for a full-scale implementation. This approach is cost-effective and allows for in-depth testing and troubleshooting of critical functional areas, leading to optimized solutions before integrating them into a comprehensive model .

Structured planning and scheduling ensure that prototype development is efficient and meets project timelines. It aids in resource allocation, minimizes delays, and allows the team to manage the sequence of development activities effectively. This planning is crucial for aligning different sub-project components and ensuring that each prototype version meets evaluation goals before progressing .

Physical prototypes are less flexible compared to analytical prototypes because they involve tangible materials and manufacturing processes, making them costly and less adaptable to changes. Analytical prototypes, being mathematical models or simulations, are more flexible and cost-effective because they allow for easy parameter changes and adjustments without physical constraints .

Prototypes enhance communication within a project team by providing a tangible representation of a product that everyone can visualize and discuss. This aids in aligning understanding across management, sellers, partners, team members, customers, and investors, ensuring that all stakeholders have a clear and consistent view of the product being developed .

A prototype helps mitigate risks by allowing the team to test and validate the product’s design and functionality early in the development process. This early validation helps identify design flaws or performance issues, reducing the risk of costly failures later in the production phase. It is especially beneficial for high-risk or technologically novel products, where errors can be highly costly .

A virtual prototype is created using 3D computer models, which allow easy alterations and assessments without the need for physical materials. This contrasts with conventional prototypes, which use physical materials and often require stereolithography or other 3D printing techniques to create tangible forms. Virtual prototypes are beneficial for iterative testing and cost-effective adjustments before physical production .

Prototypes serve as milestones by marking critical phases in product development where essential features and functions are tested and validated. Achieving each milestone can indicate readiness to progress to the next stage of development, ensuring comprehensive testing and refinement of subsystems before full-scale production .

Prototypes can educate development teams by demonstrating how different components interact and function. They provide a platform for testing hypotheses and exploring the feasibility of design concepts, thereby enhancing the team's understanding of the product's potential and limitations .

Creating the wrong type of prototype can lead to wasted resources and delay project timelines because the prototype may not contribute effectively to the project’s goals or trial phases. Selecting an inappropriate prototype can result in insufficient testing of crucial attributes and features, leading to potential oversights in product functionality or performance .

The choice between a physical and analytical prototype depends on the project goals, the need for interaction testing, cost implications, and the precision required in performance testing. Physical prototypes are necessary when real-world interactions or unexpected phenomena need testing, while analytical prototypes suffice for mathematical analyses or when changes and iterations are frequent .

Anda mungkin juga menyukai