0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
105 tayangan34 halaman

Program Rumah Sakit Sayang Ibu dan Bayi

Dokumen tersebut membahas tentang Rumah Sakit Sayang Ibu dan Bayi (RSSIB) sebagai upaya menurunkan angka kematian ibu dan bayi. RSSIB didefinisikan sebagai rumah sakit yang telah menerapkan 10 langkah perlindungan ibu dan bayi secara terpadu dan paripurna. Tujuan RSSIB adalah meningkatkan mutu pelayanan kesehatan ibu dan bayi, termasuk melaksanakan standar pelayanan, meningkatkan kualitas pelayanan

Diunggah oleh

witan pakaya
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
105 tayangan34 halaman

Program Rumah Sakit Sayang Ibu dan Bayi

Dokumen tersebut membahas tentang Rumah Sakit Sayang Ibu dan Bayi (RSSIB) sebagai upaya menurunkan angka kematian ibu dan bayi. RSSIB didefinisikan sebagai rumah sakit yang telah menerapkan 10 langkah perlindungan ibu dan bayi secara terpadu dan paripurna. Tujuan RSSIB adalah meningkatkan mutu pelayanan kesehatan ibu dan bayi, termasuk melaksanakan standar pelayanan, meningkatkan kualitas pelayanan

Diunggah oleh

witan pakaya
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Angka kematian ibu ( AKI ) dan angka kematian bayi ( AKB ) yang
menjadi indikator kualitas kesehatan masyarakat disuatu negara, ternyata
masih tergolong tinggi di indonesia yaitu AKI : 307/100.000 KH ( SDKI
2002-2003) dan AKB : 35/100.000 KH ( SDKI 2002-2003 ). Pemerintah
telah bertekad untuk menurunkan AKI pada tahun 2010 menjadi
125/100.000 KH dan AKB menjadi 25/100.000 KH. Untuk mencapai target
tersebut diperlukan suatu stategis yang handal dan peran serta seluruh
lapisan masyarakat.

Berbagai Program telah dilakukan pemerintah untuk menurunkan


AKI dan AKB di Indonesia seperti safe motherhood, Program Rumah
Sakit Sayang Ibu dan Bayi, Making Pregnancy Safer, Dll. Pelayanan
kesehatan ibu dan bayi merupakan pelayanan yang berkesinambungan
dan saling terkait. Kesehatan bayi di tentukan sejak bayi dalam
kandungan. Disisi lain kesehatan ibu dapat berpengaruh terhadap
kesehatan bayi yang dikandungnya. Berdasarkan hal tersebut di atas,
maka upaya penurunan AKI dan AKB merupakan kegiatan yang saling
terkait oleh karena itu Program Rumah Sakit Sayang Bayi tidak dapat
dipisahkan dengan Program Rumah sakit Sayang Ibu, menjadi satu
Program yaitu Rumah Sakit Sayang Ibu Dan bayi ( RSSIB ).

Salah satu faktor yang berpengaruh terhadap tingginnya AKI dan


AKB adalah proses rujukan yang masih belum mantap, antara lain karena
rujukan yang terlambat dan ketidaksiapan fasilitas kesehatan terutam di
tingkat rujukan primer ( Puskesmas ) untuk melakukan Pelayanan
Obstetrik Neonatal Essensial Dasar ( PONED ) dan ditingkat rujukan
sekunder ( RS Kabupaten / Kota ) untuk melakukan Pelayanan Obstetrik
Neonatal Emergency Komprehensif ( PONEK ) keadaan ini antara lain

1
disebabkan kurang jelasnya tugas dan wewenang masing – masing pihak
yang terkait di berbagai tingkat pelayanan, serta tidak meratanya
kemampuan teknis untuk melakukan fungsi kedaruratan Obstetrik Dan
Neonatal

Di harapkan bahwa dengan di terapkannya Program RSSIB maka


upaya penurunan Aki Dan AKB khususnya angka kematian perinal di
Boalemo dapat di percepat melalui kesiapan Rumah Sakit Umum Daerah
Tani dan Nelayan.

1.2 Dasar Hukum

1. Undang – Undang RI no. 36 tahun 2009 tentang kesehatan


2. Undang – Undang RI no. 44 tahun 2009 tentang Rumah Sakit
3. Undang – Undang RI no. 29 tahun 2004 tentang praktik
kedokteran ( Lembaran negara No. 4431 tahun 2004 /
4. Peraturan pemerintah RI no. 33 tahun 2012 tentang pemberian
Air Susu Ibu eksklusif
5. Keputusan menteri kesehatan RI no. 1333 / menkes / PER / SK
/ II / 1988 tentang standar pelayanan Rumah Sakit
6. Keputusan menteri kesehatan RI no. 450 / menkes / SK / IV /
2004 tentang pemberian Air Susu Ibu ( ASI ) secara eksklusif
pada bayi di Indonesia
7. Keputusan menteri kesehatan RI no. 237 / menkes / SK / IV /
1997 tentang pemasaran pengganti Air Susu Ibu ( ASI )

1.3 Tujuan Pedoman

Umum

Sebagai acuan sebagai acuan bagi pimpinan dan penelola


program kesehatan Ibu Dan Bayi untuk menerapkan 10 langkah
perlindungan ibu dan bayi secara terpadu dan paripurna sebagai
upaya penurunan jumlah kesakitan dan kematian Ibu dan Bayi.

2
Khusus

1. Di dapatkan kesamaan pola pikir / persepsi dalam melaksankan


perlindungan ibu dan bayi secara terpadu paripurna RSUD
Tani dan Nelayan menuju RSSIB
2. Mendapatkan pedoman pelaksanaan Rumah Sakit Sayang Ibu
dan Bayi yang sesuai dengan perkembangan IPTEK saat ini
1.4 Pengertian
a. Angka kematian Ibu ( AKI ) adalah jumlah kematian ibu akibat
proses kehamilan, persalinan dan pasca persalinan / 100.000
kelahiran hidup pada masa tertentu.
b. Angka Kematian Bayi ( AKB ) adalah jumlah kematian bayi di
bawah umur 1 tahun / 1000 Kelahiran Hidup dalam 1 tahun.
c. Pelayanan Ante natal ( Ante natal Care ) adalah pelayan
kesehayan yang di berikan oleh tenaga profesional kepada ibu
selama masa kehamilannya sesuai dengan standar pelayanan
ante natal
d. Rumah Sakit mampu PONEK adalah Rumah Sakit sayang Ibu
dan Bayi yang menyelenggarakan pelayanan kedaruratan
maternal dan neonatal secara komprehensif dan terintegrasi.
Hal ini harus dapat terukur melalui penilaian Kinerja Manejemen
Standar kinerja harus terpenuhi
e. ASI Eksklusif adalah pemberian Air susu ibu saja, tanpa
makanan atau minuman lain kepada bayi sejak lahir sampai
berusia 6 bulan.
f. Inisasi Menyusu Dini ( IMD ) adalah Segera melatakkan bayi di
dada ibunya, kontak kulit dengan kulit ( Skin to skin contact )
segera setelah lahir setidaknya 1 jam atau lebih sampai bayi
menyusu sendiri.
g. Angka menyusui eksklusif adalah proporsi bayi di bawah 6
bulan yang menyusui secara eksklusif.

3
h. Audit Maternal Perinatal ( AMP ) adalah suatu kegiatan untuk
menelusuri sebab kesakitan dan kematian ibu dan perinatal
dengan maksud mencegah kematian dan kesakitan di masa
yang akan datang.
i. Perawatan Metode Kangguru ( PMK ) adalah perawatan untuk
bayi baru lahir yang menggunakan badan ibu ( Skin to skin
contact ) untuk menghangatkan bayinya terutama untuk Bayi
Berat Lahir Rendah ( BBLR ).
j. Bayi Berat lahir Rendah ( BBLR ) adalah Bayi dengan berat
lahir kurang dari 2.500 Gr, yang di timbang pada saat lahir
sampai 24 jam pertama setelah lahir.
k. Kelompok pendukung ASI ( KP-ASI ) adalah kelompok binaan
RS untuk ibu hamil dan ibu baru melahirkan di mana ibu bisa
berkumpul bersama-sama untuk saling memberi informasi dan
saling membantu seputar masalah hamil dan menyusui.

4
BAB II

RUMAH SAKIT SAYANG IBU & BAYI ( RSSIB )

2.1 DEFINISI

Rumah Sakit Sayang Ibu Dan Bayi ( RSSIB ) adalah rumah


sakit pemerintah maupun swasta, umum maupun khusus yang
telah melaksanakan 10 langkah menuju perlindungan ibu dan bayi
secara terpadu dan paripurna.

2.2. TUJUAN

UMUM :

Meningkatkan mutu pelayanan kesehatan ibu dan bayi


secara terpadu dalam upaya menurunkan angka kematian ibu
( AKI ) dan kematian bayi ( AKB ).

KHUSUS :

1. Melaksanakan dan mengembangkan standar pelayanan


perlindungan ibu dan bayi secara terpadu dan paripurna.
2. Meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan ibu dan bayi
termasuk kepedulian terhadap ibu dan bayi.
3. Meningkatkan kesiapan Rumah Sakit dalam melaksanakan
fungsi pelayanan obstertik dan neonatus termasuk pelayanan
kegawatdaruratan ( Rumah sakit mampu PONEK )
4. Meningkatkan fungsi rumah sakit sebagai pusat rujukan
pelayanan kesehatan ibu dan bayi bagi sarana pelayanan
kesehatan lainnya.
5. Meningkatkann fungsi Rumah sakit sebagai model dan
pembina teknis dalam pelaksanaan Inisisasi menyusui Dini,
rawat gabung, dan pembereian ASI ekslusif.

5
6. Meningkatkan fungsi RS dalam perawatan metode kangguru
( PMK ) pada BBL.
7. Melaksanakan sistem monitoring dan evaluasi pada
pelaksanaan program RSSIB.

Sepuluh langkah perlindungan ibu dan bayi secara terpadu


dan paripurna menuju Rumah Sakit Sayang Ibu dan Bayi

1. Ada kebijakan tertulis tentang manajemen yang mendukung


pelayanan kesehatan ibu dan bayi termasuk Inisiasi Menyusui
Dini (IMD), pemberian ASI Eksklusif dan indikasi yang tepat
untuk pemberian susu formula serta perawatan metode
kangguru untuk bayi berat badan lahir rendah.
2. Menyelenggarakan pelayanan antenatal termasuk konseling
kesehatan maternal dan neonatal serta konseling pemberian
ASI.
3. Menyelenggarakan persalinan bersih dan aman serta
penanganan pada bayi baru lahir dengan inisiasi menyusui dini
dan kontak kulit ibu / bayi.
4. Menyelenggarakan pelayanan obstetrik dan neonatal
emergency komprehensif (PONEK) selama 24 jam sesuai
standar minimal berdasarkan tipe Rumah Sakit masing-masing.
5. Menyelenggarakan pelayanan adekuat untuk nifas, Rawat
gabung termasuk membantu ibu menyusui yang benar,
termasuk mengajarkan ibu cara memerah ASI bagi bayi yang
tidak bisa menyusui langsung dari ibu dan tidak memberikan
ASI perah melalui botol serta pelayanan neonatus sakit.
6. Menyelenggarakan pelayanan rujukan dua arah dan membina
jejaring rujuk pelayanan ibu dan bayi dengan sarana kesehatan
lain.
7. Menyelenggarakan pelayanan imunisasi bayi dan tumbuh
kembang.

6
8. Menyelenggarakan pelayanan kesehatan keluarga berencana
termasuk pencegahan dan penangan kehamilan yang tidak
diinginkan serta kesehatan reproduksi lainnya.
9. Menyelenggarakan audit maternal dan perinatal Rumah Sakit
secara periode dan tindak lanjut.
10. Memberdayakan kelompok pendudukung ASI dalam menindak
lanjuti pemberian eksklusif danPMK.

2.3 SASARAN
 RSUD Tani dan Nelayan bagian obstetrik
 RSUD Tani dan Nelayan bagian anak
 RSUD Tani dan Nelayan bagian Unit Gawat Darurat

2.4 TAHAPAN PELAKSANAAN

LANGKAH I

Ada kebijaksanaan tertulis tentang manajemen yang


mendukung pelayanan kesehatan ibu dan bayi, termasuk Inisiasi
Menyusui Dini ( IMD ), pemberian ASI eksklusif dan indikasi yang
tepat untuk pemberian susu formula serta perawatan metode
kangguru ( PMK ) untuk bayi berat badan lahir rendah ( BBLR ).

PELAKSANAAN

a. Direktur Rumah sakit membuat kebijakn tertulis tentang :


1. Pelaksanaan program RSSIB dengan penerapan 10 langkah
perlindungan Ibu dan Bayi secara terpadu dan paripurna di
RSUD Tani dan Nelayan
2. Penetapan POKJA pendukung / pemasaran pemberian ASI
secara eksklusif pada bayi di RSUD Tani dan Nelayan tahun
2018

7
3. Kebijakan mengenai kode pemasaran PASI di RSUD Tani
dan Nelayan
4. Larangan pemberian DOT / compeng kepada bayi yang
masih menyusui di RSUD Tani dan Nelayan
5. Mengajarkan ibu cara menyusui yang benar dan
mempertahankan laktasi walaupun saat harus terpisah dari
banyinya di RSUD Tani dan Nelayan
6. Pemberian bantuan kepada ibu menyusui sedini mungkin
dalam setelah jam pertama di RSUD Tani dan Nelayan
7. Pemberian informasi kepada ibu hamil menenai manfaat dan
keuntungan menyusui di RSUD Tani dan Nelayan
8. Pelaksanaan rawat gabung
9. Kegiatan tidak memberikan makanan / minuman selain ASI
kepada bayi baru lahir kecuali dengan indikasi medis di
RSUD Tani dan Nelayan tahun 2018
10. Semua kebijakan di atas harus di komunikasikan kepada
seluruh petugas RS

b. Direktur Rumah Sakit membuat SK tentang pemberian ASI dan


penerapan kode pemasaran PASI yang secara rutin di
komunikasikan kepada seluruh petugas RS dan di pampangkan.

Susunan keanggotaan tim POKJA pendukung / pemasaran


pemberian ASI di RSUD Tani Dan Nelayan
Pelindung / penasehat : Direktur RSUD Tani dan
Nelayan
Sekertaris RSUD tani dan
Nelayan
Koordinator : Kabid Pelayanan Medik
dan Keperawatan
Ketua : dr. Indah Musdalifah, Sp. A

8
Wakil Ketua : Jamila Gunung, A.M. Keb
Sekertaris : Dian Evelin Nasibu, [Link].
Keb
Anggota :
1. Novriyanti Tui, [Link]. Keb
2. Sri susilawaty Neu, [Link]. Keb
3. Sri Wahyuni Niaty, [Link]. Keb
4. Sri Amelia Kalli, [Link]. Keb

c. Format pelaporan / protab – protab RSUD Tani dan Nelayan


dalam pelaksanaan program RSSIB sebagai berikut :
1. Kegawatdaruratan kebidanan
2. Kegawatdaruratan neonatal
3. Pelayanan antenatal
4. Persalinan bersih dan aman ( APN ) termasuk persalinan
yang di tunggu oleh suami dan keluarga
5. Perawatan bayi baru lahir ( perinatologi ) termasuk
pemberian vitamin K¹ injeksi ( untuk bayi normal setelah
IMD, bayi sakit setelah resusitasi ) dan salep / tetes mata
6. Perawatan nifas dan rawat gabung
7. Perawatan PMK untuk bayi BBLR dan prematur
8. Pencegahan infeksi nosokomial
9. Pelaksanaan 10 langkah keberhasilan menyusui ( termasuk
IMD, membantu ibu dalam masalah peletakkkan dan cara
menyusui yang benar, on demand, ASI eksklusif )
10. Tindakan medis dan operasi sesar
11. Hygiene perineum
12. Pelayanan kebutuhan darah, obat dan cairan untuk pasien
13. Pelayanan penunjang laboratorium dan radiologi
14. Keluarga berencana ( KB )
15. Imunisasi

9
16. Audit maternal dan perinatal

d. Adanya pertemuan berkala untuk melakukan evaluasi program


RSSIB pada RSUD Tani dan Nelayan
LANGKAH 2
Menyelenggarakan pelayanan ante natal termasuk konseling
kesehatan maternal dan neonatal, serta konseling pemberian ASI.

PELAKSANAAN

a. Adanya pelayanan ante natal sesuai standar di poliklinik


kebidanan RSUD Tani dan Nelayan
b. Melakukan penapisan dan pengenalan dini kehamilan resiko
tinggi dan komplikasi kehamilan
c. Memberikan informasi kepada ibu hamil mengenai keuntungan
pemberian ASI, manajemen laktasi termasuk IMD dan rawat
gabung, penyuluhan gizi dan penyuluhan “Perubahan pada Ibu
dan janin serta kebutuhan setai trimester kehamilan, persiapan
persalinan, tanda – tanda bahaya” di poliklinik dan di ruangan
perawatn RSUD Tani dan Nelayan dengan menggunakan
multimedia dan media cetak berupa leafleat
d. Diterapkannya upaya pencegahan infeksi dalam pelayanan ante
natal seperti pemberian imunisasi tetanus toxsoid ( TT )
e. Melibatkan suami pada saat pemeriksaan dan penyuluhan
konseling
f. Memberikan konseling kepada ibu hamil yang terinfeksi HIV
g. Semua petugas di bagian kebidanan dan anak dapat
memberikan informasi kepada ibu- ibu paskah persalinan
mengenai cara menyususi yang benar dan pentingnya ASI

10
LANGKAH 3
Menyelenggarakan persalinan bersih dan aman serta
penangganan pada bayi baru lahir dengan inisiasi menyusui dini dan
kontak kulit ibu bayi
PELAKSANAAN
a. Melakukan penapisan resiko persalinan dan pemantauan
persalinan
b. Diterapkannya standar pelayanan kebidanan pada persalinan
c. Adanya fasilitas kamar bersalin sesuai standar
d. Adanya fasilitan pencegahan infeksi sesuai standar
e. Adanya fasilitas resusitasi dan perawatan bayi baru lahir
f. Adanya fasilitas kamar operasi sesuai standar
g. Inisiasi menyusui dini : skin to skin contact, perhatikan tanda bayi
siap menyusu, bayu mulai mengisap.
h. Perawatan bayi baru lahir termasuk pemberian vitamin K¹ injeksi
dan tetes / salep mata ( tetrasiklin / eritromicyn ) setelah selesai
IMD
i. Adanya pelatihan berkala bagi dokter, bidan dan perawat ( In
house training ) dalam penanganan persalinan aman dan
penanganan pada bayi baru lahir
j. Adanya pelatihan IMD neonatus
k. Adanya pelatihan manajemen laktasi
l. Penanggung jawab program perinatal resiko tinggi dan program
RSSIB berkoordinasi melalui pertemuan lintas sektor maupun
lintas program secara rutin

LANGKAH 4

Menyelenggarakan pelayanan mampu PONEK ( pelayanan


obstetrik dan Neonatal emergency komprehensif ) sesuai dengan
standar minimal RSUD Tani dan Nelayan.

11
PELAKSANAAN

a. Ada dokter jaga yang terlatih di UGD untuk mengatasi kasus


emergency baik secara umum maupun emergency obstertrik –
neonatal
b. Dokter, bidan dan perawat telah mengikuti peletihan tim PONEK
di RS meluputi resusitasi neonatus, kegawatdaruratan obstetrik
dan neonatus
c. Mempunyai standar operating prosedur penerimaan dan
penanganan pasien kegawatdaruratan obstetrik dan neonatal
d. Kebijakan tidak ada uang muka bagi pasien kegawatdaruratan
obstetrik dan neonatal
e. Mempunyai prosedur pendelegasian wewenang tertentu
f. Mempunyai standar respon time di UGD selama 10 menit, di
kamar bersalin kurang dari 30 menit, pelayanan darah kurang
dari 1 jam
g. Tersedia kamar operasi yang siap ( siaga 24 jam ) untuk
melakukan operasi, bila ada kasus emergency obstetrik atau
umum
h. Memiliki kru / awak yang siap melakukan operasi atau
melaksanakan tugas sewaktu – waktu, meskipun on call
i. Adanya dukungan semua pihak dalam tim pelayanan PONEK,
antara lain dokter kebidanan, dokter anak, dokter / petugas
anastesi, dokter penyakit dalam, dokter spesialis lainnya seta
dokter umum, bidan dan perawat
j. Tersedia pelayanan darah yang siap 24 jam
k. Tersedia pelayanan penunjang lain yang berperan dalam
PONEK, seperti laboratorium dan radiologi selama 24 jam, obat
dan alat penunjang yang selalu siap tersedia

12
l. Perlengkapan
 Semua perlengkapan bersih ( bebas debu, kotoran, bercak,
cairan dll )
 Permukaan metal bebas karat dan bercak
 Semua perlengkapan kokoh ( tidak ada bagian yang longgar
atau tidak stabil )
 Permukaan yang di cat utuh dan bebas dari goresan besar
 Roda perlengkapan lengkap dan berfungsi dengan baik
 Instrumen yang sudah di sterilkan
 Semua perlengkapan listrik berfungsi baik ( saklar, kabel
dan stekker menempel kokoh )

Bahan

Semua bahan berkualitas baik dan jumlahnya cukup

LANGKAH 5

Menyelenggarakan pelayanan adekuat untuk nifas, rawat


gabung termasuk membantu ibu menyusui yang benar, termasuk
mengajarkan ibu cara memerah ASI bagi bayi yang tidak bisa
menyusu langsung dari ibu dan tidak memberikan ASI perah melalui
botol serta pelayanan neonatus sakit.

PELAKSANAAN

a. Praktekkan rawat gabung ibu dan bayi bersama 24 jam sehari


b. Adanya pemantauan infeksi nosokomial pada bayi yang di rawat
gabung
c. Melakukan manajemen laktasi dan perawatan bayi
d. Adanya tata tertib / jam kunjugan ibu dan bayi
e. Adanya larangan promosi susu formula di RS dan lingkungannya
f. Melaksanakan pemberian ASI sesuai kebutuhan bayi atau
sesering semau bayi

13
g. Tidak memberikan minuman dan makanan kepada bayi baru
lahir selain ASI, kecuali ada indikasi medis
h. Melaksanaan perawatan metode kangguru untuk bayi kurang
bulan / BBLR ( Kanggaroo mother care )
i. Memberitahu ibu bagaimana cara menyusui yang benar
j. Tidak memberikan dot / compeng pada bayi
k. Tetap mempertahankan laktasi walaupun harus terpisah dari
bayinya dengan memerah ASI
l. Adanya fasilitas ruang nifas sesuai standar
m. Melakukan perawatan nifas
n. Melakukan hygiene perineum
o. Pencegahan infeksi nosokomial pada ibu yang di rawat

LANGKAH 6

Menyelenggarakan pelayanan rujukan dua arah dan membina


jejaring rujukan pelayanan ibu dan bayi dengan sarana lain.

PELAKSANAAN

a. Rumah Sakit sebagai pembina rujukan


b. Menyediakan pelayanan ambulance 24 jam
c. Melaksanakan umpan balik rujukan
d. Menyelenggarakan pelatihan PONEK atau pelatihan YANKES
ibu bayi lainnya bagi semua petugas yang terkait dan bagi
petugas puskesmas / rumah bersalin dan bidan praktek swasta
di wilayah lingkup rujukan
e. Membina jejaring rujukan ibu bayi dengan sarana kesehatan lain
di wilayah binaanya

14
LANGKAH 7

Menyelenggarakan pelayanan imunisasi bayi dan tumbuh


kembang

PELAKSANAAN

a. Menyelenggarakan konseling dan pelayanan imunisasi bayi di


RS sesuai dengan usia
b. Memantau tumbuh kembang bayi sejak lahir ( stimulasi, deteksi
dan interpensi dini tumbuh kembang )
c. Memantau dan mengusahakan pemberian ASI esklusif pada bayi
d. Penanganan penyakit bayi sesuai standar

LANGKAH 8

Menyenggarakan pelayanan kesehatan keluarga berencana,


termasuk pencegahan dan penangganan kehamilan yang tidak di
inginkan serta kesehatan reproduksi lainnya

PELAKSANAAN

a. Menyelenggarakan konseling mengenai KB dan kontrasepsi


termasuk metode amenorhea laktasi ( LAM ) untuk pasien dan
suami sebelum meninggalkan RS
b. Menyelenggarakan pelayanan KB paripurna termasuk
kontraksepsi baik untuk perempuan maupu pria
c. Menyelenggarakan konseling mengenai kesehatan reproduksi
termasuk konseling pra nikah

15
LANGKAH 9

Melaksanakan audit maternal dan perinatal rumah sakit secara


periodik dan tindak lanjut

SUSUNAN KEANGGOTAAN RSUD TANI DAN NELAYAN

Pelindung / penasehat : Direktur RSUD Tani dan Nelayan

Sekertaris RSUD Tani & Nelayan

Ketua : dr. Wahyudin Dangkua, [Link]

Wakil Ketua : dr. Indah Musdalifah, Sp.A

Sekretaris : dr. Zulkarnain Tambunan, [Link]

Anggota : 1. Djariah Abdul Azis, [Link]

2. Yulandi Koem, SKM

3. dr. Ummu Kalsum

4. Witan Pakaya, [Link]. Keb

5. Fitriyanti Thaib, [Link]

6. Sri Sunarti Lasena, [Link]. Keb

7. Fendriyanti Gobel, [Link]. Keb

8. Suyanti Buluati, [Link]. Keb

9. Vita Ekawaty Duna, [Link]. Keb

16
PELAKSANAAN

a. Menyelenggarkan pertemuan di lakukan teratur sesuai


kebutuhan oleh RS dan direktur memimpin acara dan
moderator pembahasan klinisnya adalah dokter ahli
b. Semua kasus ibu / perinatal yang meninggal di RS di audit
dengan mengkaji riwayat penangganan kasus sejak dini;
timbulnya gejala pertama dan penanganan oleh keluarga /
tenaga kesehatan di rumah, proses rujukan yang terjadi, siapa
yang memberikan pertolongan, dan apa saja yg telah di
lakukan, sampai kemudian meninggal atau dapat di
pertahankan hidup
c. Masing – masing tim menbuat rencana pertemuan dan
menyiapkan bahan / data sesuai bidang tugasnya dan
melaporkan hasil pertemuan pelaksanakan audit untuk
menyelesaikan masalah dan rencana tindak lanjut kepada
direktur RSUD Tani dan Nelayan.

17
LANGKAH 10

Memberdayakan kelompok pendukung ASI dan menindaklanjuti


pemberian ASI eksklusif dan PMK

PELAKSANAAN

a. Adanya kelompok binaan RS sebagai pendukung ASI dan


PMK, di mana anggota kelompok ini saling membantu dan
mendukung pemberian ASI eksklusif termasuk pelaksanaan
PMK
b. Adanya fasilitas tempat penitipan anak dan bayi bagi pegawai
RS dan limgkungannya
c. Adanya ruang menyusui
d. Mendokumentasikan kegiatan kelompok pendukung ASI

18
BAB III

SISTEM DAN PROSEDUR PROGRAM RSSIB

3.1 UMUM

RSSIB adalah program kesehatan ibu dan bayi yang


merupakan koordinasi berbagai unit kerja ( multi sektor ) dan di
dukung sebagai kegiatan profesi ( multi disiplin dan multi profesi )
untuk menyelenggarakan perlindungan ibu dan bayi secara terpadu
dan paripurna utamanya di RSUD tani dan Nelayan

3.2 PELAKSANAAN RUMAH SAKIT

Pada pelayanan di rumah sakit di perlukan sarana,


prasarana, UGD, poliklinik, kamar bersalin, ruang nifas, kamar
operasi, kamar rawat intensive ( HCU / ICU / NICU / PICU ), unit –
unit penunjang : Radiologi, laboratorium, farmasi, gizi, ruang rawat
inap, dll.

Pelayanan di UGD adalah pelayanan pertama bagi kasus


gawatdarurat obstetrik dan neonatal yang memerlukan organisasi
yang baik ( Tim PONEK 24 jam ), pembiayaan termasuk sumber
pembiayaan, SDM yang baik dan terlatih, mengikuti perkembangan
teknologi, pada pelayanan medis.

Poliklinik adalah pelayanan rawat jalan bagi ibu hamil dan


menyusui. Di sini tenaga kesehatan ( [Link], bidan, perawat Dll )
dapat memberikan pelayanan dan konseling mengenai kesehatan
kesehatan ibu dan bayi termasuk KB, imunisasi, gizi dan tumbuh
kembang. Tersedia juga pojok laktasi untuk menyusui, tersedia juga
ruang senam hamil dan nifas.

19
Kamar bersalin adalah ruangan tempat ibu melakukan
persalinan, di mana selalu ada bidan jaga 24 jam, yang di lengkapi
dengan perealatan ( forseps, vakum dan resusitasi bayi ) dan depo
obat – obatan gawat darurat kebidanan.

Kamar operasi adalah ruangan tempat di lakukan sesar,


yang di lengkapi peralatan obat – obatan dan unit transfusi darah.

Ruang nifas merupakan ruang perawatan paska oersalinan


yang meliputi pengolahan tentang menyusui, infeksi, perdarahan sisa
plasenta dan epsiotomi. Di sini juga baiknya tersedia ruangan dan
aktivitas senam nifas.

Penunjang diagnostik dan penunjang pengobatan


merupakan pendukung dalam pelaksanaan program Rumah Sakit
Sayang Ibu dan Bayi.

20
ALUR PELAYANAN MATERNAL DAN PERINATAL
DI RUMAH SAKIT TANI DAN NELAYAN

− Laboratorium
− Radiologi
− Dr. OBSGYN
− Dr. Anak/dokter/bidan
KAMAR TINDAKAN
Prosedur tindakan RAWAT
Instalasi UNIT
Kasus rujukan sesuai INAP/NIFAS
GAWAT DARURAT
standar pelayanan
kesehatan maternal
dan perinatal

MATERNAL dan KAMAR OPERASI BANGSAL


PERINATAL Prosedur operasi pada PERINATOLOGI
kasus rujukan
ADMINISTRASI
KEUANGAN KAMAR BERSALIN
Prosedur persalinan
INSTALASI normal kasus rujukan
FARMASI sesuai standar pelayanan

Bank darah
POLIKLINIK
− Antenatal
− Gizi
− KB
− Imunisasi
− Dll

3.3 MEKANISME RUJUKAN

Sistem rujukan ialah sistem jaringan pelayanan kesehatan yang


memungkinkan terjadinya pelimpahan tanggung jawab atas problem
yang timbul baik secara vertikal maupun horizontal kepada yang
lebih mampu. Pelimpahan tanggung jawab tersebut meliputi berbagai
jenis rujukan yang dapat di bedakan sebagai berikut :

21
3.3.1 RUJUKAN MEDIS

 Rujukan pasein :

Adalah pengiriman pasien (dalam hal ini Maternal dan


Parinatal) dilakukan oleh unit pelayanan kesehatan yang
kurang mampu kepada unit kesehatan yang lebih mampu.
Sebaliknya unit kesehatan yang lebih mampu akan
mengembalikan pasien ke unit yang mengirim untuk
pengawasan/melanjutkan yang diperlukan.

Persiapan rujukan pasien :

o Yang menyiapkan petugas yang terampil dan terlatih


dalam penangan maternal dan perinatal
o Bila sarana prasarana tidak memungkinkan dilakukan
pertolongan segera buat surat rujukan dan kartu sehat
ke Rumah Sakit
o Alur PONED , Bila tidak bisa ditangani di rujuk ke Rumah
Sakit
o Mencatat hasil pemeriksaan dan tindakan yang akan
dilaksanakan di dalam penanganan maternal dan
perinatal
o Pasien di dampingi oleh petugas kesehatan berangkat
ke rumah sakit rujukan

Di Rumah Sakit :

Memberikan penjelasan kepada pasien dan keluarganya bahwa


segala tindakan yang di lakukan adalah untuk menyelematkan
ibu dan bayinya

o Persiapan pihak keluarga untuk memberikan darah jika di


butuhkan

22
o Ibu, suami dan keluarga di berikan penjelasan mengenai
akhir perawatan / persalinnya
o Buat pesetujuan tindakan medis dan simpan dalam status

 Rujukan laboratorium
Adalah pengiriman bahan pemeriksaan laboratorium, dari
laboratorium yang kurang mampu ke laboratorium yang
lebih mampu / lengkap

3.3.2 RUJUKAN KESEHATAN


 Rujukan Iptek dan keterampilan
Yaitu pengalihan pengetahuan dan keterampilan,
misalnya :
o Penugasan dokter terutama bedah, penyakit kebidanan
dan kandungan, penyakit dalam, kesehatan anak dari
RS kelas A, B ke RS kelas C ( terutama untuk
melakukan tindakan ) di atur dengan MOU antar RS
dan memerlukan SIP tersendiri. Kunjungan tersebut di
gunakan untuk konsultasi , observasi, pengobatan,
diskusi dan ceramah
o Pengiriman asisten ahli senior ( yang hampir lulus ) ke
RS kelas B, C, yang belum ada dokter ahlinya untuk
jangka waktu tertentu dalam rangka penyelesaian
spesialisnya
o Pengiriman tenaga kesehatan ( dokter, bidan, perawat
Dll ), dari RS kelas C dan kelas B ke RS kelas A untuk
mengikuti pelatihan keterampilan dan tambahan
pengetahuan dalam satu bidang keahlian terutama
bedah, kebidanan dan penyakit kandungan, penyakit
dalam dan kesehatan anak

23
o Alih pengetahuan dan keterampilan melalui pelatihan di
bidang klinik manajeman dan pengoperasian peralatan

3.3.3 RUJUKAN MANAJEMEN


o Pengiriman informasi : guna kepentingan monitoring
semua kegiatan pelayanan kesehatan di perlukan
sistem informasi
o Dapat berupaya biaya, tenaga peralatan dan obat,
dapat berupat permintaan atau bantuan kepada unit
yang kurang / lebih mampu untuk menyelesaikan suatu
masalah tertentu yang tidak dapat diatasi sendiri

24
BAB IV
PERAN PUSAT DAN DAERAH

4.1 KEMENTRIAN KESEHATAN


− Menyusun buku pedoman pelaksanaan program RSSIB di
sahkan melalui kemenkes
− Menyusun instrumen MONEV RSSIB
− Melakukan advokasi dan sosialisasi program kepada pemegang
kebijakan di tingkat nasional
− Melakukan pemantauan dan pengawasan pelaksanaan progran
RSSIB secara berkala
− Melakukan kerja sama koordinasi lintas sektor dan lintas program
dalam rangka optimalisasi program RSSIB
− Mengadakan pelatihan program RSSIB
− Melakukan penilaian RSSIB tingkat nasional
− Melakukan pembinaan pelaksanaan program RSSIB di tingkat
provinsi
− Melakukan promosi RSSIB melalui berbagai media

4.2 DINAS KESEHATAN PROVINSI


− Melakukan advokasi dan sosialisasi program RSSIB kepada
pemegang kebijakan di tingkat provinsi
− Menyusun perda Provinsi tentang RSSIB
− Membentuk tim dan penanggung jawab RS Sayang Ibu dan Bayi
tingkat provinsi
− Melakukan kerja sama koordinasi lintas sektor dan lintas
program dalam rangka optimalisasi program RSSIB di tingkat
provinsi
− Melakukan pembinaan dan pengawasan pelaksanaan program
RSSIB se provinsi secara berkala

25
− Melakukan pencatatan dan pelaporan pelaksanaan program
RSSIB se provinsi
− Melakukan penilaian RSSIB tingkat provinsi

4.3 DINAS KESEHATAN KABUPATEN DAN KOTA


− Melakukan advokasi dan sosialisasi program RSSIB kepada
pemegang kebijakan di tingkat kabupaten / kota
− Menyusun perda kabupaten / kota tentang RSSIB
− Membentuk tim dan penanggung jawab RSSIB tingkat
kabupaten / kota
− Melakukan kerjasama / koordinasi lintas sektor dan lintas
program dalam rangka optimalisasi program RSSIB di tingkat
kabupaten / kota, bersama dinkes provinsi melakukan
pembinaan dan pengawasan pelaksanaan program RSSIB se
wilayah kabupaten / kota secara berkala
− Melakukan penilaian RSSIB tingkat kabupaten kota

26
BAB V

PEMETAAN PELAKSANAAN PROGRAM RSSIB

5.1 SUMBER DAYA MANUSIA

KRITERIA
1. Dokter ahli kebidanan dan kandungan
2. Dokter ahli anak
MEDIS 3. Dokter ahli anastesi
4. Dokter ahli lain
5. Dokter umum
KEPERAWATAN 1. Bidan
2. Perawat
3. Penata anastesi
Tenaga khusus Konselor menyusui
Tenaga kesehatan 1. Penata radiologi
lainnya 2. Ahli gizi
3. Analis laboratorium

5.2 FASILITAS DAN SARANA


FASILITA RUANGA
N KAMAR KAMAR RUANG
S& POLIKLINIK UGD N
O OPERASI BERSALIN NIFAS
SARANA LAINNYA
1 RUANGAN [Link] Terdapat Jumlah Kamar bersalin  Mempun Mempuny
kebidanan ruang kamar minimal 4 buah yai ai ruang
: kamar tindakan operasi tempat tidur ruangan transisi,
periksa, untuk minimal 2 untuk partus rawat perinatolo
tempat kegawatdaru normal dan gabung gi, R.
tidur, kursi, ratan patologis dan TPA, R.

27
tempat cuci obstetrik ruang Laktasi,
tangan neonatal isolasi R. Senam
dengan air  Ruang hamil,
2 mengalir, penyuluh klinik
timbangan an ASI, laktasi
[Link] konselin
anak dan g,
tumbuh perawata
kembang n bayi

ALAT Instrumen
[Link]: operasi 2  Forseps
3  Dopler set  Vakum
 USG  Resusitasi bayi  Gyn set
 CTG  Instrumen  Resusitasi ibu  Breast
 Alkes tindakan 2  Transfusi set feeding
 Lampu set  Disposible konseling
sorot ( partus set, syring kit
 Kulkas curetage e  Baby set
 Breast set, vakum  Urin catether  Infus pump
corset ekstraksi,  Termometer  Kateter
 Stetesko vena seksi suhu rendah
p set)

 Tensi  USG

meter  Resusitasi

[Link] anak ibu dan bayi

 Timbang  Lampu sorot

an  Inkubator

 Meteran  Transfusi set

 Stetesko  Disposible

p syringe

 Kulkas  Infus pump


OBAT
 Kateter
[Link] K1 Inj
[Link] +

28
n +
[Link] +
[Link] + + -
atropin - + +
[Link] + + + + -
[Link]. - + + -
glukonas - + +
e 10 % + + -
g.MgSo4 - +
[Link] + + -
kejang - +
 Luminal + + -
Inj - +
 Dilantin + + -
inj - +
 Diazepa + + -
m inj - +
[Link] : + + -

 Nacl 0,9 -

% + + -

 RL + +

 NaCL 3 - + -

% + +

 KCL 3 + -

% - -
+ + -
 Bicnat
- + _ +
 Dextros
- + - +
e5%
+ + +
 Dextros
- - +
e 10 %
+ +
 Lanjuta
- + - +
n1:4
+
 Larutan
- + - +
KaEn 4
+
B
- - +
 Larutan
+

29
3B - + - +
 Plasma + + +
expand - + -
er + +
- + +
[Link]/sale -
p mata + +
(eriromisi
n/tetrasikl
in)
[Link] + + + +
 Alkohol + + +
70 % + + +
 Alkohol + + + + _
 Betadin - + +

e + + - - -
[Link] -

[Link] + + +

hipertensi + +

[Link] +

(BCG,HE
PATITIS,
POLIO,D
PT,TT & + +
campak) +
[Link] +

ka + +

(metergin + -
,oksitosin + -
,prostagla + -
ndin) +
[Link] + + +
sia + + +
(tranxena + + +
mid acid +

dll) +

[Link]

30
20.000
[Link]
eroid
[Link]
u.02
c. .
d.

31
BAB VI
PENCATATAN DAN PELAPORAN RSSIB
6.1 Pengertian dan azas
Pencatatan dan pelaporan RSSIB adalah keseluruhan
proses pendataan pelaksanaan kegiatan perlindungan ibu secara
terpadu dan paripurna di mana petugas pencatatan dan pelaporan
serta jalur dan terapan telah di tetapkan secara jelas.
Azasnya :
1. Jelas
2. Singkat
3. Bermanfaat

6.2 Mekanisme

Pencatatan dan pelaporan RSSIB menggunakan format


laporan tersendri yang di ambil dari sistem pelaporan rumah sakit
yang ada yaitu RL 1-6. Rumah sakit di minta untuk mengisi format
laporan RSSIB dari data RL RS. Data kemudian di kirim ke dinas
kesehatan kabupaten/kota untuk di teruskan ke dinas kesehatan
provinsi.

6.3 Tujuan

1. Untuk mengetahui hasil dari pelaksanaan perlindungan ibu dan


bayi secara terpadu dan paripurna.
2. Identifikasi masalah dalam pelaksanaan perlindungan ibu dan
bayi secara terpadu dan paripurna.
3. Sebagai dasar pembinaan rumah sakit tersebut menuju RS
sayang Ibu dan Bayi dan mempertahankan serta
mengembangkannya
4.

32
PENUTUP

Pedoman pelaksanaan Rumah Sakit Sayang Ibu dan Bayi ( RSSIB


) dengan 10 langkah menuju perlindungan ibu bayi secara terpadu dan
paripurna, merupakan acuan bagi Rumah Sakit dalam melaksanakan
program RSSIB dalam rangka menurunkan angka kematian ibu dan
angka kematian bayi di Indonesia

Dua indikator tersebut merupakan daya ungkit yang besar terhadap


derajat kesehatan secara menyeluruh. Sesuai dengan konsep dasar
RSSIB yang bersifat dinamis maka di harapkan setiap rumah sakit dapat
melaksanakan terobosan baru sehingga tidak hanya terbatas keberhasilan
pelaksanaan 10 langkah perlindungan ibu dan bayi secara terpadu dan
paripurna.

Di harapkan dengan di terapkannya pedoman pelaksanaan RSSIB


ini dapat memacu rumah sakit – rumah sakit di Indonesia agar semakin
meningkatkan mutu pelayanannya terutama pelayanan kesehatan ibu dan
bayi.

33
PEDOMAN

PELAKSANAAN
PROGRAM RSSIB

RSUD – TANI DAN NELAYAN


KAB. BOALEMO

Pedoman Pelaksanaan Program Rumah Sakit Sayang Ibu dan bayi


RSUD _ Tani Dan Nelayan Kab. Boalemo

34

Anda mungkin juga menyukai