BAB II
TELAAH PUSTAKA
A. Telaah Pustaka
1. Pengertian dan Fungsi Akuntansi
Akuntansi merupakan suatu system informasi yang memberikan
keterangan-keterangan mengenai data ekonomi untuk pengambilan keputusan
bagi siapa saja yang memerlukannya.
Pengertian akuntansi yang dikeluarkan oleh Komite Terminologi AICPA
(The Committen Terminology of the American Institut of Certified Public
Accountans) Belkaoui (2006:50) sebagai berikut:
Akuntansi adalah seni pencatatan, penggolongan, dan peringkasan
transaksi dan kejadian yang bersifat keuangan dengan cara yang berdaya
guna dan dalam bentuk satuan uang, dan penginterpretasian hasil tersebut.
Menurut Rudianto (2009:4) juga memberikan defenisi akuntansi adalah sebagai
berikut:
Akuntansi dapat didefenisikan sebagai sistem informasi yang
menghasilkan laporan keuangan kepada pihak-pihak yang berkepentingan
mengenai aktivitas ekonomi dan kondisi perusahaan.
Sedangkan menurut Accounting Principle Board (APB) statement No. 4 dikutip
dari Evi Maria (2007:1) adalah sebagai berikut:
Akuntansi adalah suatu kegiatan jasa. Fungsinya adalah memberikan
informasi kuantitatif, umumnya dalam ukuran uang, mengenai suatu badan
9
10
ekonomi yang dimaksudkan untuk digunakan dalam pengambilan
keputusan ekonomi sebagai dasar memilih diantara beberapa alternative.
Dari keseluruhan pengertian akuntansi diatas dapat dilihat bahwa
akuntansi merupakan aktivitas dalam perusahaan yang menghasilkan informasi
akuntansi tentang kondisi keuangan. Informasi akuntansi tersebut didapat melalui
proses pengidentifikasian transaksi, pencatatan, penggolongan, dan laporan-
laporan keuangan yang berguna bagi pihak-pihak yang berkepentingan dalam
membuat pertimbangan dan mengambil keputusan.
Pada dasarnya kehidupan sehari-hari banyak masyarakat menggunakan
fungsi akuntansi. Hal ini terwujud dalam bentuk pencatatan-pencatatan yang
dilakukan dengan maksud untuk mengetahui dan mengendalikan keuangannya.
Jadi, besar kecilnya cakupan pengetahuan dan penerapan akuntansi sangat
bergantung pada tingkat kebutuhannya serta fungsi akuntansi itu sendiri. Dari
pengertian fungsi akuntansi tersebut dapat dilihat bahwa dalam menjalankan suatu
usaha akuntansi sangat dibutuhkan terutama dalam menyediakan informasi
akuntansi sebagai cermin aktivitas usaha untuk mengambil keputusan ekonomi.
Secara umum tujuan utama dari akuntansi adalah menyajikan informasi
ekonomi dari satu kesatuan ekonomi kepada pihak-pihak yang berkepentingan.
Sedangkan hasil dari proses akuntansi yang berbentuk laporan keuangan
diharapkan dapat membantu bagi para pemakai informasi keuangan.
11
2. Konsep dan Prinsip Dasar Akuntansi
Dalam hal menerapkan akuntansi ada hal-hal yang perlu diperhatikan
mengenai konsep dasar akuntansi. Konsep-konsep dasar dalam penerapan
akuntansi adalah sebagai berikut:
a. Konsep kesatuan usaha (business entity concept),yaitu pemisahan transaksi
usaha dengan transaksi non usaha (rumah tangga).
Menurut Soemarso S.R (2008:23) Konsep kesatuan usaha adalah :
Suatu konsep atau asumsi akuntansi bahwa suatu perusahaan adalah
berdiri sendiri, terpisah dan berbeda dari pemilik dan perusahaan lain.
Menurut Wiwin Yadiati dan Ilham Wahyudi (2008:39) konsep kesatuan usaha
adalah:
konsep ini menganggap bahwa perusahaan merupakan suatu usaha bisnis
yang berdiri sendiri dan terpisah dari harta pemilik. Dengan demikian,
transaksi pribadi pemilik tidak boleh dicatat oleh perusahaan.
b. Konsep perusahaan berjalan (going concept)
Menurut Soemarso S.R (2008:23) konsep perusahaan berjalan adalah :
Konsep yang menganggap bahwa suatu kesatuan usaha diharapkan akan
terus beroperasi dengan menguntungkan dalam jangka waktu yang
terbatas.
c. Konsep satuan pengukuran (unit of measure concept)
Menurut Soemarso S.R (2008:23) : Konsep akuntansi yang menyatakan data
ekonomi harus dinyatakan dalam satuan uang.
d. Menurut Rudianto (2009:20) ada dua macam dasar pencatatan dalam
akuntansi yang dipakai dalam mencatat transaksi yaitu:
1. Akuntansi berbasis kas (cash basis accounting) adalah suatu metode
perbandingan antara pendapatan dengan beban, dimana pendapatan
dilaporkan pada saat uang telah diterima dan beban dilaporkan pada saat
uang telah dibayarkan. Misalnya, pendapatan dari penjualan produk
perusahaan baru dicatat setelah pelanggan membayarkan uangnya kepada
perusahaan dan gaji pegawai dicatat setelah uang dibayarkan kepada
pegawai tersebut.
2. Akuntansi berbasis akrual (accrual basis accounting) adalah suatu
metode penandingan antara pendapatan dengan beban, dimana
pendapatan dilaporkan pada saat terjadinya transaksi dan beban
dilaporkan pada saat beban tersebut diperlukan untuk menghasilkan
pendapatan usaha. Misalnya, pendapatan dari penjualan produk
perusahaan dicatat pada saat terjadinya kesepakatan (transaksi) dengan
pelanggan, bukan pada saat pelanggan membayarnya, sedangkan beban
pemakaian perlengkapan dicatat pada saat perlengkapan tersebut
digunakan bukan pada saat perlengkapan tersebut dibayar kepada
pemasok.
12
e. Konsep objektif (objectivity concept)
Menurut Soemarso S.R (2008:23) Konsep objektif adalah Seluruh catatan dan
laporan keuangan lazimnya dibukukan sebesar harga perolehan berdasarkan
bukti-bukti yang objektif.
f. Konsep matrealitas (materiality concept).
Menurut Soemarso S.R (2008:23) Konsep matrealitas: Konsep yang
menyiratkan bahwa kesalahan dapat diperlakukan dengan cara yang semudah
mungkin.
g. Konsep penandingan (matching concept)
Menurut Wiwin Yadiati dan Ilham Wahyudi (2008:39) Konsep penandingan
adalah :
Konsep akuntansi yang mendukung pelaporan pendapatan dan terkait pada
periode yang sama
Menurut Soemarso S.R (2008:23) Konsep penandingan adalah :
Suatu konsep akuntansi, dimana semua pendapatan yang dihasilkan harus
dibandingkan dengan biaya-biaya yang ditimbulkan untuk memperoleh
laba dari pendapatan untuk jangka waktu tertentu.
Empat prinsip dasar akuntansi (principle of accounting) yang digunakan
untuk mencatat transaksi menurut Donald E. Kieso, dkk (2008:45) adalah:
1. Prinsip biaya historis (historical cost)
Secara umum pengguna laporan keuangan lebih memilih
menggunakan biaya historis karena memberikan tolak ulur yang dapat
dipercaya untuk mengukur tren historis. Pada mulanya biaya historis
sama dengan nilai wajar. Dalam periode selanjutnya ketika kondisi
pasar dan ekonomi berubah maka biaya historis dan nilai wajarnya
sering berbeda.
Akibatnya ukuran atau estimasi nilai wajar lebih sering untuk
pencatatan dan pelaporan informasi karena relevan.
2. Prinsip pengakuan pendapatan (revenue recognition principle)
Pendapatan umumnya diakui jika:
a) Telah direalisasi atau dapat direalisasi (realized), jika produk
barang dan jasa atau aktiva lainnya telah ditukarkan dengan kas.
b) Pendapatan telah dihasilkan (earned), apabila sebuah entitas telah
melakukan apa yang harus dilakukan untuk mendapatkan hak atas
manfaat yang direpresentasikan oleh pendapatan.
3. Prinsip penandingan (matching principle)
Prinsip penandingan yaitu prinsip yang menandingkan beban dan
pendapatan sepanjang rasional dan dapat diterapkan.
4. Prinsip pengungkapan penuh (full disclosureprinciple)
Mengakui bahwa sifat dan jumlah informasi yang dimasukkan dalam
laporan keuangan mencerminkan serangkaian trade-off penilaian.
Trade off ini terjadi antara kebutuhan untuk mengungkapkan secara
cukup terinci hal-hal yang akan mempengaruhi keputusan pemakai dan
13
kebutuhan untuk memadatkan penyajian agar informasi dapat
dipahami.
3. Siklus Akuntansi
Laporan keuangan perlu melalui tahapan-tahapan proses akuntansi yang
dikenal dengan siklus akuntansi. Menurut Soemarso S.R (2009:90) siklus
akuntansi adalah:
Tahap-tahap kegiatan mulai dari terjadinya transaksi sampai dengan
penyusunan laporan keuangan sehingga siap untuk pencatatan transaksi
periode berikutnya.
Carl S. Warren, James M. Reeve, dan Philip E. Fess (2008:152) mendefenisikan
siklus akuntansi (accounting cycle) adalah sebagai berikut:
Proses akuntansi yang dimulai dengan menganalisis serta menjurnal
transaksi dan diakhiri dengan mengikhtisarkan dan melaporkan transaksi
tersebut.
Menurut Indra Bastian (2006:57) siklus akuntansi adalah:
Proses penyediaan laporan keuangan organisasi selama suatu periode
tertentu. Siklus akuntansi juga merupakan sistematika pencatatan transaksi
keuangan, peringkasannya, dan pelaporan keuangan.
Pengertian siklus akuntansi diatas menggambarkan bahwa siklus akuntansi
merupakan suatu proses yang sangat penting dan harus dilalui oleh suatu
perusahaan dan dilakukan secara berulang-ulang dalam menghasilkan informasi
mengenai keadaan suatu perusahaan dimana dalam melaksanakan proses tersebut
telah diatur dengan Standar Akuntansi Keuangan.
14
Langkah-langkah dalam prosedur penyusunan laporan keuangan seringkali
disebut dengan siklus akuntansi. Adapun siklus akuntansi meliputi:
a) Transaksi
Menurut Kieso dkk. (2007;93) mendefenisikan transaksi adalah sebagai
berikut : “Suatu kejadian eksternal yang melibatkan transfer atau pertukaran
dimana dua kesatuan atau lebih”.
Sedangkan menurut Bastian (2007:27) mendefenisikan transaksi sebagai
berikut:
Transaksi adalah pertemuan antara dua belah pihak (penjual dan pembeli)
yang saling menguntungkan dengan adanya data/bukti/dokumen
pendukung yang dimasukkan kedalam jurnal setelah melalui pencatatan.
Dari pengertian transaksi tersebut dapat diketahui transaksi merupakan
penyebab awal adanya pencatatan karena yang dilakukan dalam akuntansi
merupakan pencatatan yang didasarkan pada bukti transaksi.
b) Pembuatan atau penerimaan bukti asli
Suatu transaksi dikatakan sah atau benar bila didukung oleh bukti-bukti
yang sah. Bukti transaksi dapat berupa dokumen intern yang dibuat sendiri oleh
perusahaan atau bisa pula berupa dokumen ektern yang dibuat oleh pihak luar.
Yang termasuk bukti transaksi intern menurut Kieso dkk. (2007:93) antara
lain:
15
1) Bukti kas keluar (Cash voucher)
Bukti kas keluar adalah tanda bukti bahwa perusahaan telah dengan tunai atau
mengeluarkan uang tunai seperti pembelian pembayaran gaji, pembayaran
hutang atau pengeluaran-pengeluaran yang lainnya.
2) Bukti kas masuk (Official receipt)
Bukti kas masuk adalah tanda bukti bahwa perusahaan telah menerima uang
secara cash atau tunai.
3) Memo (Voucher)
Fungsi memo sebagai bukti pencatatan antar bagian atau manager atau bagian-
bagian yang ada di lingkungan perusahaan.
Yang termasuk bukti transaksi ektern menurut Kieso dkk. (2007:93) antara
lain:
1) Faktur (Invoice)
Faktur adalah tanda bukti telah terjadi pembelian atau penjualan secara kredit.
2) Nota debit (Debit note)
Nota debit adalah bukti perusahaan telah mendebit perkiraan pemasokannya
disebabkan karena berbagai hal.
3) Nota kredit (Credit note)
Nota kredit adalah bukti bahwa perusahaan telah mengkredit perkiraan
langganannya yang disebabkan oleh berbagai hal.
c) Mencatat transaksi dalam jurnal
Setelah adanya bukti-bukti dalam transaksi tersebut, langkah selanjutnya
dalam siklus akuntansi adalah membuat jurnal.
16
Pengertian jurnal menurut Al-Haryono Jusup (2005:120) sebagai berikut:
Jurnal adalah alat untuk mencatat transaksi perusahaan yang dilakukan
secara kronologis (berdasarkan urut waktu terjadi) dengan menunjukkan
rekening yang harus di debit dan dikredit beserta rupiahnya masing-
masing.
Sedangkan menurut Mulyadi (2001:4) pengertian jurnal adalah sebagai
berikut:
Catatan akuntansi pertama yang digunakan untuk mencatat,
mengklasifikasi dan meringkas data keuangan dan data lainnya.
Dari pengertian jurnal diatas dapat dilihat bahwa jurnal merupakan tempat
mencatat transaksi-transaksi yang dilakukan oleh perusahaan secara teratur sesuai
dengan urutan kejadian.
Menggunakan jurnal sebagai buku masukan atau catatan orisinil (book of
original entry) mempunyai beberapa keuntungan antara lain sebagai berikut:
1) Jurnal memberikan suatu catatan sejarah transaksi perusahaan sesuai dengan
urutan kejadiannya.
2) Jurnal memberikan suatu catatan transaksi keseluruhan, termasuk dampaknya
terhadap rekening atau pos tertentu.
3) Jurnal dapat membantu menyakinkan kesamaan nilai debit dan kredit.
Ada 2 macam bentuk jurnal, yaitu:
1) Jurnal umum, jurnal umum digunakan untuk mencatat segala macam transaksi
dan kejadian.
17
2) Jurnal khusus, jurnal khusus hanya digunakan untuk transaksi yang bersifat
khusus, misalnya jurnal untuk mencatat penerimaan uang, mencatat
pengeluaran uang, mencatat pembelian secara kredit, dan lain-lain.
d) Posting jurnal ke buku besar
Setelah jurnal tersebut dibuat maka jurnal-jurnal tersebut dimasukkan
kedalam buku besar.
Menurut Weygant dkk. (2007:76) dimaksud dengan buku besar adalah:
Buku besar adalah seluruh kelompok akun yang dimiliki sebuah
perusahaan.
Pada dasarnya buku besar dapat dibedakan menjadi 2 bentuk antara lain:
1) Bentuk skontro atau T-account yang artinya sebelah menyebelah, sisi kiri
disebut debet dan sisi kanan disebut kredit.
2) Bentuk staffel atau report form adalah buku besar bentuk halaman atau
disebut juga buku besar empat kolom.
Fungsi buku besar antara lain sebagai berikut:
1) Mencatat secara terperinci setiap jenis harta, hutang, dan modal beserta
perubahannya (transaksi atau kejadian).
2) Menggolongkan aspek transaksi atau kejadian sesuai dengan jenis akun
masing-masing.
3) Menghitung jumlah atau nilai dari tiap-tiap jenis akun.
4) Mengikhtisarkan transaksi kedalam akun yang terkait sehingga dapat
menyusun laporan keuangan.
18
e) Buku besar pembantu
Digunakan apabila terdapat jumlah akun yang sangat besar dengan
karakteristik yang sama. Setiap buku besar pembantu diwakili dalam buku besar
umum oleh sebuah akun perangkum yang disebut akun penggendali (controlling
account). Hasil penjumlahan atas saldo buku besar pembantu harus sama dengan
saldo pada akun penggendali yang bersangkutan.
Buku besar pembantu terdiri dari:
1. Buku besar pembantu piutang usaha
Berisi akun untuk masing-masing pelanggan yang disusun menurut abjad.
Akun pengendali pada buku besar umum yang digunakan adalah piutang
usaha.
2. Buku besar pembantu utang usaha
Berisi akun untuk masing-masing kreditor disusun menurut abjad. Akun
pengendali pada buku besar umum yang digunakan adalah utang usaha.
f) Neraca saldo sebelum penyesuaian
Setelah membuat buku besar maka langkah selanjutnya dalam
penyelesaian siklus akuntansi adalah membuat neraca saldo.
Menurut Jay. M. Smith dan K. Fred Skousen (2002:46) neraca saldo
adalah:
Daftar dari semua saldo perkiraan, sebagai alat untuk menguji apakah total
debit sama dengan total kredit untuk semua perkiraan.
Sedangkan menurut Sofyan Syafri Harahap (2008:23) dalam bukunya
Teori Akuntansi neraca saldo adalah:
19
Neraca yang memuat semua perkiraan, tetapi yang dimaksudkan biaya
saldo akhirnya saja.
Manfaat dari neraca saldo sebelum penyesuaian adalah sebagai berikut:
1) Mempermudah dan mempercepat penyusunan laporan keuangan karena kita
tidak harus membolak-balik buku besar.
2) Menguji apakah pencatatan kedalam seluruh rekening sudah benar debit
maupun kreditnya.
3) Mengetahui saldo pos-pos laporan keuangan dalam satu halaman sehingga
dapat dipelajari hubungan antara pos yang satu dan yang lainnya secara
mudah (berguna untuk melakukan penyesuaian).
g) Ayat jurnal penyesuaian
Penyesuaian berarti pencatatan atau pengakuan (jurnal dan posting) data-
data transaksi tertentu pada akhir periode sehingga jumlah rupiah yang terdapat
dalam tiap rekening menjadi sesuai dengan kenyataan pada akhir periode tersebut
dan laporan keuangan yang dihasilkan menggambarkan keadaan yang senyatanya
pada tanggal laporan neraca.
Menurut Amin Widjaya Tunggal (2003:105) jurnal penyesuaian adalah:
Jurnal untuk mencatat kejadian yang tidak mempunyai dokumen khusus
seperti tanda terima, bukti pengeluaran kas, atau faktur penjualan. Hal
seperti ini, dicatat pada akhir periode akuntansi dengan jurnal
penyesuaian. Maksud dan tujuan jurnal penyesuaian adalah untuk
mengubah sisa perkiraan sehingga menggambarkan secara wajar situasi
pada akhir periode.
Berikut ini adalah pos-pos perkiraan yang memerlukan penyesuaian
menurut Wiwin Yadiati dan Ilham Wahyudi (2006:96):
20
1) Beban yang ditangguhkan (deferred expenses) atau beban dibayar
dimuka (prepaid expense). Pos ini pada awalnya dicatat sebagai
aktiva dan dikemudian hari dialokasikan sebagai beban seiring
operasi normal perusahaan. Contohnya perlengkapan dan asuransi
dibayar dimuka.
2) Pendapatan yang ditangguhkan (diferred revenue) atau pendapatan
diterima dimuka (unearned revenue). Pos ini pada awalnya dicatat
sebagai kewajiban dan dikemudian hari diakui dan dicatat sebagai
pendapatan. Contohnya sewa dibayar dimuka.
3) Beban akrual/beban yang masih harus dibayar (accrued expense) atau
kewajiban akrual yaitu beban yang terjadi tetapi belum dicatat dalam
perkiraannya. Contohnya upah karyawan yang terhutang dan harus
dibayar pada akhir periode.
4) Pendapatan akrual/pendapatan yang masih harus diterima (accrued
revenue) atau aktiva akrual yaitu pendapatan yang telah dihasilkan
tetapi belum dicatat didalam perkiraannya. Contohnya imbalan jasa
akuntan yang telah diberikan kepada klien namun belum ditagih
kepada klien pada akhir periode.
h) Neraca saldo setelah penyesuaian dan Neraca lajur
Setelah pembuatan jurnal penyesuaian selesai, maka langkah selanjutnya
adalah menyusun neraca saldo setelah penyesuaian dengan cara mencari saldo-
saldo rekening-rekening buku besar setelah posting jurnal penyesuaian dilakukan.
Setelah penyesuaian neraca saldo setelah penyesuaian, makanya proses
selanjutnya membuat laporan keuangan. Namun kadang kala muncul kesulitan
saat akan melakukan penyusunan laporan keuangan sehingga akuntansi
menyediakan alat bantu untuk mempermudah penyusunan laporan keuangan yang
dikenal dengan sebutan neraca lajur atau kertas kerja.
Menurut Evi Maria (2007:110) yang dimaksud dengan neraca lajur
sebagai berikut:
Suatu kertas kerja yang berisi kolom atau lajur yang dirancang berisi
rangkuman rekening-rekening dan saldonya yang tercantum dalam neraca
21
saldo sebelum penyesuaian, jurnal penyesuaian dan neraca saldo setelah
penyesuaian.
Pembuatan neraca lajur dilakukan dengan tujuan untuk memudahkan
menyusun laporan keuangan dan memudahkan untuk menemukan kesalahan yang
mungkin terjadi dalam membuat jurnal penyesuaian. Karena neraca lajur hanya
merupakan alat bantu dalam proses akuntansi, maka neraca lajur bukanlah
merupakan pencatatan akuntansi yang formal. Hal ini berarti neraca lajur bersifat
optional yaitu boleh dibuat atau tidak dalam proses pencatatan akuntansi.
i) Laporan keuangan
Setelah transaksi dicatat dan diikhtisarkan, maka disiapkan laporan bagi
pemakai yang didalam laporan tersebut berisikan informasi akuntansi yang
dinamakan laporan keuangan.
Menurut Budi Raharjo (2005:45) mendefenisikan laporan keuangan
sebagai berikut:
Laporan pertanggung jawaban manajer atau pimpinan perusahaan atas
pengelolaan perusahaan yang dipercayakan kepadanya kepada pihak-pihak
luar perusahaan, yaitu pemilik perusahaan (pemegang saham), pemerintah
(instansti pajak), kreditur (bank atau lembaga keuangan) dan pihak-pihak
lain yang berkepentingan.
Laporan keuangan ini biasanya dibuat oleh manajemen dengan tujuan
untuk mempertanggungjawabkan tugas-tugas yang dibebankan kepadanya oleh
para pemilik perusahaan. Disamping itu laporan keuangan dapat juga memenuhi
tujuan-tujuan lain yaitu sebagai laporan kepada pihak-pihak ekstern lainnya.
22
1) Neraca
Menurut Sofyan S. Harahap (2006:107) neraca merupakan suatu daftar
aktiva, kewajiban dan ekuitas pemilik pada tanggal tertentu biasanya pada akhir
bulan atau pada akhir tahun. Unsur-unsur neraca meliputi:
a. Aktiva
b. Kewajiban
c. Ekuitas
Menurut Sofyan S. Harahap (2006:112) neraca dapat disajikan dalam tiga
bentuk:
a. Bentuk T-account
b. Bentuk Report form
c. Bentuk yang menyajikan posisi keuangan atau financial position report.
2) Laba rugi
Laporan laba rugi (income statement) merupakan laporan yang
menggambarkan keberhasilan maupun kegagalan dalam operasi atau aktivitas
perusahaan dalam satu periode. Zaki Baridwan (2003:86) dalam bukunya
Intermediate Accounting pengertian laba rugi sebagai berikut:
Suatu laporan yang menunjukkan pendapatan-pendapatan dan biaya-biaya
dari suatu unit usaha untuk suatu periode tertentu.
Dari defenisi laporan laba rugi diatas dapat dilihat bahwa untuk
mengetahui laba atau rugi suatu hasil akhir dari aktivitas perusahaan maka dapat
dilihat dengan cara membandingkan antara pendapatan dengan biaya yang telah
dikorbankan. Apabila pendapatan melebihi biaya yang telah dikeluarkan maka
23
perusahaan tersebut dapat dikatakan sedang memperoleh laba. Tetapi sebaliknya
apabila biaya yang dikorbankan lebih besar dari pendapatan maka perusahaan
dapat dikatakan dalam keadaan rugi.
Untuk menghitung laba rugi adalah dengan cara sebagai berikut:
Laba bersih = laba kotor – beban usaha
Laba kotor = penjualan bersih – harga pokok penjualan
Menyusun laporan laba rugi
a. Single step (langsung)
b. Multiple step (bertahap)
Unsur-unsur laporan laba rugi meliputi:
a) Pendapatan
b) Beban
Kegunaan laporan laba rugi adalah sebagai berikut:
a. Mengevaluasi kinerja masa lalu perusahaan.
b. Memberikan dasar untuk memprediksi kinerja masa depan.
c. Membantu menilai resiko atau ketidakpastian pencapaian arus kas masa
depan.
3) Laporan perubahan posisi keuangan
Tujuan penyusunan laporan perubahan posisi keuangan adalah untuk
mengikhtisarkan semua pembiayaan dan investasi termasuk seberapa jauh
perusahaan telah menghasilkan dana dari usaha selama periode bersangkutan.
Dana dapat juga diintrepetasikan sebagai kas yaitu aktiva lancar dikurangi
kewajiban lancar.
24
Laporan perubahan posisi keuangan harus menunjukkan seluruh aspek
penting dari aktivitas pembiayaan dan investasi, tanpa memandang apakah
transaksi tersebut berpengaruh langsung pada kas atau unsur-unsur modal kerja
lainnya. Transaksi yang tidak mempengaruhi kas atau modal kerja secara
langsung. Tetapi harus tetap ditunjukkan dalam laporan perubahan posisi
keuangan, antara lain:
a) Pembelian aktiva tetap dengan mengeluarkan saham
b) Konversi utang jangka panjang menjadi modal saham.
4) Laporan arus kas
Laporan arus kas adalah suatu ikhtisar penerimaan kas dan pembayaran
kas selama suatu periode waktu tertentu.
Tujuan dari penyajian laporan arus kas ini adalah untuk memberikan
informasi yang relevan mengenai penerimaan dan pengeluaran arus kas atau
setara dengan kas dari suatu perusahaan pada suatu periode tertentu.
5) Catatan atas laporan keuangan
Catatan atas laporan keuangan adalah catatan yang dianggap penting
dalam penyusunan laporan keuangan dan kebijakan-kebijakan perusahaan
sehingga laporan keuangan yang disajikan dapat berguna bagi pihak-pihak yang
berkepentingan.
Catatan atas laporan keuangan mengungkapkan:
a. Informasi tentang dasar penyusunan laporan keuangan dan kebijakan
akuntansi yang dipilih dan diterapkan terhadap peristiwa dan transaksi yang
penting.
25
b. Informasi yang diwajibkan dalam PSAK tetapi tidak disajikan dineraca,
laporan laba rugi, laporan arus kas, dan laporan perubahan ekuitas.
c. Informasi tambahan yang tidak disajikan dalam laporan keuangan tetapi
diperlukan dalam rangka penyajian secara wajar.
j) Jurnal penutup
Langkah-langkah penutupan perkiraan suatu perusahaan adalah sebagai
berikut:
1) Mendebit setiap perkiraan pendapatan sebesar nilai sisa kreditnya.
Mengkreditkan ikhtisar laba rugi sebesar jumlah total pendapatan. Ayat jurnal
ini memindahkan jumlah total pendapatan kedalam sisi kredit dari ikhtisar
laba rugi.
2) Mengkredit setiap perkiraan beban sebesar nilai sisa debitnya. Mendebit
ikhtisar laba rugi sebesar jumlah total beban. Ayat jurnal ini memindahkan
jumlah total beban kedalam sisi debit dari ikhtisar laba rugi.
3) Mendebit ikhtisar laba rugi sebesar nilai sisa kreditnya dan mengkredit
perkiraan modal.
4) Mengkredit perkiraan pengambilan pribadi sebesar nilai sisa debitnya.
Mendebit perkiraan modal pemilik perusahaan.
k) Neraca saldo setelah penutupan
Siklus akuntansi akan berakhir dengan neraca saldo setelah penutupan.
Neraca saldo setelah penutupan adalah pengujian terakhir mengenai ketepatan
penjurnalan dan pemindah bukuan ayat jurnal penyesuaian dan penutupan. Seperti
halnya neraca saldo yang terdapat pada awal pembuatan neraca lajur, neraca saldo
26
setelah penutupan adalah daftar seluruh perkiraan dengan nilai sisanya. Langkah
ini dilakukan untuk meyakinkan bahwa buku besar berada pada posisi yang
seimbang untuk memulai periode akuntansi berikutnya. Neraca saldo setelah
penutupan diberi tanggal perakhir periode akuntansi dimana laporan tersebut
dibuat.
Isi perkiraan neraca adalah nilai sisa akhir dari daftar permanen yaitu
aktiva, kewajiban dan modal. Didalam nya tidak termasuk perkiraan sementara
seperti perkiraan pendapatan, beban atau pengambilan pribadi, karena nilai sisa
perkiraan tersebut ditutup.
l) Jurnal koreksi
Menurut Evi Maria (2007:123) dalam bukunya Akuntansi untuk
Perusahaan Jasa yang dimaksud jurnal koreksi adalah sebagai berikut:
Jurnal yang dibuat untuk mengkoreksi kesalahan yang ditemukan selama
periode pembukuan sehingga kalau jurnal tersebut diposting maka
rekening-rekening dan saldo yang keliru secara otomatis menjadi benar.
Kesalahan dalam pencatatan akuntansi antara lain kesalahan nama
rekening dalam penjurnalan, kesalahan jumlah rupiah dalam mencatat dan
kesalahan kombinasi antara keduanya yaitu kesalahan nama rekening dan
jumlah rupiahnya.
4. Laporan Keuangan Untuk Usaha Kecil
1) Pengertian Usaha Kecil
Defenisi usaha kecil sampai saat ini berbeda-beda sesuai dengan sudut
pandang masing-masing orang yang mengartikan, tetapi pada prinsipnya adalah
sama. Menurut H.M. Daini Tara (2001:50) memberikan batasan usaha kecil
sebagai berikut:
27
Usaha kecil adalah kelompok usaha industri yang memiliki investasi
peralatan dibawah tujuh juta rupiah, investasi pertenaga kerja maksimal
enam ratus dua puluh ribu rupiah, jumlah tenaga kerja 20 orang, serta
memiliki asset perusahaan tidak lebih dari seratus juta rupiah.
Sedangkan Vero A. Musselman dan Jhon H. Jacson (2000:2)
mendefenisikan perusahaan kecil adalah sebagai berikut:
Suatu usaha yang memperkerjakan tenaga pelaksana dengan jumlah yang
minimal dan dijalankan oleh pemiliknya yang juga mengawasi sendiri
semua pelaksana dengan jalan mendelegasikan pekerjaan kepada pegawai-
pegawai dari hari ke hari.
Menurut Zulkarnain (2006:125) mendefenisikan pengertian usaha kecil
adalah sebagai berikut:
Kegiatan ekonomi rakyat yang memenuhi kriteria sebagai:
1. Usaha yang memiliki kekayaan bersih paling banyak Rp 200 juta rupiah,
tidak termasuk tanah dan bangunan tempat usaha.
2. Usaha yang memiliki penjualan tahunan paling banyak Rp 1 miliar rupiah.
3. Usaha yang berdiri sendiri, bukan perusahaan atau cabang perusahaan
yang dimiliki, dikuasai, atau terafiliasi, baik langsung maupun tidak
langsung dengan usaha menengah atau skala besar.
4. Berbentuk badan usaha yang dimiliki perseorangan, badan usaha yang
tidak berbadan hukum, termasuk koperasi.
Menurut Undang-Undang No.9 Tahun Usaha Kecil adalah usaha produktif
yang berskala kecil dan memenuhi kriteria kekayaan bersih paling banyak Rp.
200.000.000,00 (dua ratus juta) tidak termasuk tanah dan bangunan tempat usaha
atau memiliki hasil penjualan paling banyak Rp. [Link],00 (satu milyar
rupiah) per tahun serta dapat menerima kredit dari bank maksimal diatas Rp.
28
50.000.000,00 (lima puluh juta rupiah) sampai dengan Rp.500.000.000,00 (lima
ratus juta rupiah).
Dari defenisi usaha kecil diatas, dapat diketahui bahwa perusahaan kecil
mempunyai beberapah kriteria antara lain dapat dilihat dari jumlah modal yang
digunakan dan jumlah tenaga kerja yang dipekerjakannya. Usaha kecil merupakan
usaha yang biasanya pemilik dipegang sendiri dan modal dari pemilik sendiri
serta dalam jumlah yang kecil. Tenaga kerja yang dipekerjakan maksimal 20
orang dan omset yang diperoleh maksimal Rp. 200.000.000 pertahunnya.
Ciri-ciri Usaha Kecil:
a. Jenis barang atau komoditi yang diusahakan umumnya sudah tetap tidak
gampang berubah.
b. Lokasi atau tempat usaha umumnya sudah menetap tidak berpindah-
pindah.
c. Pada umumnya sudah melakukan administrasi keuangan walau masih
sederhana, keuangan perusahaan sudah mulai dipisahkan dengan
keuangan keluarga, sudah membuat neraca usaha.
d. Sudah memiliki izin usaha dan persyaratan legalitas termasuk NPWP.
e. Sumber daya manusia (pengusaha) memiliki pengalaman dalam
berwirausaha.
f. Sebagian sudah mengakses keperbankan dalam hal keperluan modal.
g. Sebagian besar belum dapat membuat manajemen usaha dengan baik
seperti business planning.
29
2) Sistem Akuntansi Usaha Kecil
Sistem akuntansi yang dilakukan oleh perusahaan kecil masih bersifat
sederhana dan sistem akuntansi yang digunakan yaitu dengan menggunakan
sistem akuntansi tunggal (Single Entri Sistem). Menurut Amin Widjaja Tunggal
(2002:25) dalam bukunya Akuntansi Untuk Perusahaan Kecil dan Menengah
menjelaskan sistem akuntansi tunggal (Single Entry System) adalah sebagai
berikut:
Dalam sistem akuntansi tunggal pencatatan assetnya hanya menggunakan
satu sisi pendapatan dan sisi pengeluaran. Pencatatan ini relative mudah
dan sederhana. Dalam tata buku tunggal laporan neraca dan perhitungan
laba rugi tidak disusun dari buku besar, akan tetapi dari catatan-catatan
dalam buku harian dan buku-buku lainnya.
Eearl K. Stice, James D. Stice, dan Fred K. Skousen (2004:76) dalam
bukunya Intermediate Accounting menjelaskan sistem akuntansi berpasangan
(Double Entry System) adalah sebagai berikut:
Dengan sistem akuntansi berpasangan, setiap transaksi dicatat dalam suatu
cara untuk memastikan keseimbangan atau kesamaan persamaan dasar
akuntansi yaitu: aktiva = kewajiban + ekuitas pemilik.
Secara ringkas perbedaan-perbedaan sistem akuntansi berpasangan
(Double Entry System) dengan sistem akuntansi tunggal (Single Entri Sistem)
dijelaskan oleh Amin Widjaja Tunggal (2002:25) dalam bentuk tabel sebagai
berikut:
30
Tabel II.1
Perbedaan Sistem Akuntansi Berpasangan dengan Sistem Akuntansi
Tunggal
No Proses Penyusunan Laporan Sistem Pembukuan Sistem
keuangan Berpasangan Pembukuan
Tunggal
1. Pencatatan transaksi keuangan Jurnal umum atau Buku harian,
jurnal khusu buku kas bank,
buku
pembelian,
buku penjualan
dan buku
memorial.
2. Pemindahan (posting) dari jurnal Ada Tidak ada
kebuku besar
3. Penyusunan neraca saldo dari Ada Tidak ada
perkiraan buku besar
4. Ayat penyesuaian Ada Tidak ada
5. Penyusunan neraca lajur Ada Tidak ada
6. Penyusunan laporan keuangan Dapat dilakukan dilakukan
dari neraca laporan dengan
atau buku besar memperhatikan
neraca awal
buku harian
dan data akhir
periode
akuntansi
7. Jurnal penutup Ada dan dilakukan Tidak ada
pada akhir periode
akuntansi
8. Neraca saldo setelah penutupan Ada yang diperoleh Tidak ada
dari saldo perkiraan
akhir periode
akuntansi
9. Laporan keuangan Laporan rugi laba Laporan rugi
perubahan modal/ laba perubahan
laba ditahan dan modal dan
neraca neraca
3) Karakteristik Kualitatif Laporan Keuangan
Menurut Kerangka Dasar Penyusunan dan Penyajian Laporan Keuangan
(IAI, 2009:54), terdapat empat karakteristik kualitatif laporan keuangan:
31
a. Dapat dipahami, kualitas penting informasi yang ditampung dalam
laporan keuangan adalah kemudahannya untuk segera dapat dipahami
oleh pengguna. Untuk maksud ini, pengguna diasumsikan memiliki
pengetahuan yang memadai tentang aktivitas ekonomi dan bisnis,
akuntansi, kemauan untuk mempelajari informasi dengan ketentuan yang
wajar. Namun demikian, informasi kompleks yang seharusnya
dimasukkan dalam laporan keuangan tidak dapat dikeluarkan hanya atas
dasar pertimbangan bahwa informasi tersebut terlalu sulit untuk dapat
dipahami oleh pengguna tertentu.
b. Relevan, agar bermanfaat informasi harus relevan untuk memenuhi
kebutuhan pengguna dalam proses pengambilan keputusan. Informasi
memiliki kualitas relevan kalau dapat memengaruhi keputusan ekonomi
pengguna dengan membantu mereka mengevaluasi peristiwa masa lalu,
masa kini atau masa depan, menegaskan atau mengoreksi hasil evaluasi
pengguna dimasa lalu.
c. Keandalan, agar bermanfaat informasi juga harus andal (Realiable).
Informasi memiliki kualitas andal jika bebas dari pengertian yang
menyesatkan, kesalahan material, dan dapat diandalkan penggunanya
sebagai penyajian yang tulus atau jujur (Faithful Representation) dari
yang seharusnya disajikan atau yang secara wajar diharapkan dapat
disajikan.
d. Dapat dibandingkan, pengguna harus dapat memperbandingkan laporan
posisi dan kinerja keuangan. Pengguna juga harus dapat
memperbandingkan laporan keuangan antar perusahaan untuk
mengevaluasi posisi keuangan, kinerja, serta perubahan posisi keuangan
secara relatif. Oleh karena itu, pengukuran dan penyajian dampak
keuangan dari transaksi dan peristiwa lain yang serupa harus dilakukan
secara konsisten untuk perusahaan tersebut, antara periode perusahaan
yang sama dan untuk perusahaan yang beda.
Penyajian yang wajar dari laporan keuangan Standar Akuntansi Keuangan
Entitas Tanpa Akuntabilitas Publik (SAK ETAP) antara lain dijelaskan dalam sub
sebagai berikut (2009;14 18):
a) Penyajian Wajar, Laporan keuangan menyajikan dengan wajar posisi
keuangan, kinerja keuangan, dan arus kas suatu entitas. Penyajian
wajar mensyaratkan penyajian jujur atas pengaruh transaksi, peristiwa
dan kondisi lain yang sesuai dengan defenisi dan kriteria pengakuan
asset, kewajiban, penghasilan dan beban.
b) Kepatuhan terhadap SAK ETAP, Entitas yang laporan keuangannya
mematuhi SAK ETAP harus membuat suatu pernyataan eksplisit dan
secara penuh (explicit and unreserved statement) atas kepatuhan
tersebut dalam catatan atas laporan keuangan.
32
c) Kelangsungan Usaha, pada saat menyusun laporan keuangan,
manajemen entitas yang menggunakan Standar Akuntansi Keuangan
Entitas Tanpa Akuntabilitas Publik (SAK ETAP) membuat penilaian
atas kemampuan entitas melanjutkan kelangsungan usaha.
d) Frekuensi Pelaporan, Entitas menyajian secara lengkap laporan
keuangan (termasuk informasi komparatif) minimum satu tahun sekali.
e) Penyajian yang Konsisten, Penyajian dan klasifikasi pos-pos dalam
laporan keuangan antar periode harus konsisten kecuali jika terjadi
perubahan yang signifikan atas sifat operasi entitas atau perubahan
penyajian atau pengklasifikasian bertujuan menghasilkan penyajian
lebih baik sesuai kriteria pemilihan dan penerapan kebijakan
akuntansi.
f) Informasi Komparatif, Informasi harus diungkapkan secara komparatif
dengan periode sebelumnya kecuali dinyatakan lain oleh SAK ETAP
(termasuk informasi dalam laporan keuangan dan catatan atas laporan
keuangan).
g) Matrealitas dan Agregasi, Pos-pos yang material disajikan terpisah
dalam laporan keuangan sedangkan yang tidak material digabungkan
dengan jumlah yang memiliki sifat atau fungsi yang sejenis.
Laporan Keuangan sesuai SAK ETAP terdiri dari:
1) Neraca
a) Menyajikan asset, kewajiban dan ekuitas pada tanggal tertentu.
b) Urutan dan format pos tidak ditentukan oleh Standar Akuntansi Keuangan
Entitas Tanpa Akuntabilitas Publik (SAK ETAP).
2) Laporan Laba Rugi
a. Menyajikan laporan laba rugi suatu periode tertentu yang menunjukkan
kinerja keuangan selama periode tersebut.
b. Analisis beban dapat disajikan berdasarkan fungsi atau berdasarkan sifat
beban.
c. Pos luar biasa tidak diperkenankan
33
3) Laporan Perubahan Ekuitas
Laporan laba rugi dan saldo laba (gabungan) dapat disajikan sebagai
pengganti laporan perubahan ekuitas jika memenuhi syarat Standar Akuntansi
Keuangan Entitas Tanpa Akuntabilitas Publik (SAK ETAP)
4) Laporan Arus Kas
a. Menyajikan informasi arus kas dari aktivitas operasi, aktivitas investasi
dan aktivitas pendanaan.
b. Aktivitas operasi hanya dapat disajikan secara tidak langsung.
c. Bunga dan dividen harus diungkap secara terpisah secara konsisten
sebagai aktivitas operasi, investasi atau pendanaan.
d. Pajak penghasilan diungkapkan terpisah sebagai aktivitas operasi kecuali
dapat secara spesifik diidentifikasi sebagai aktivitas investasi atau
pendanaan.
e. Transaksi non kas tidak dapat disajikan dalam laporan arus kas.
5) Catatan Atas Laporan Keuangan
a. Mengungkapkan informasi tambahan yang disajikan dalam laporan
keuangan, yang berisi informasi narasi atau rincian jumlah atau informasi
yang tidak memenuhi kriteria pengakuan.
b. Mengungkapkan dasar penyajian laporan keuangan dan kebijakan
akuntansi yang digunakan termasuk dasar pengukuran.
c. Mengungkapkan informasi yang disyaratkan oleh Standar Akuntansi
Keuangan Entitas Tanpa Akuntabilitas Publik (SAK ETAP).
34
d. Memberikan informasi tambahan yang relevan, namun tidak disyaratkan
Standar Akuntansi Keuangan Entitas Tanpa Akuntabilitas Publik (SAK
ETAP).
B. Hipotesis
Hipotesis merupakan jawaban sementara, oleh karena itu perlu dilakukan
pengujian terhadap hipotesis yang diajukan dalam penelitian (Budi Susetyo
2010:141).
Berdasarkan latar belakang masalah dan telaah pustaka yang telah
diuraikan diatas maka dapat mengemukakan hipotesis penelitian sebagai berikut:
Penerapan Akuntansi yang dilakukan oleh usaha kecil Toko Ponsel di
Pangkalan Kerinci belum sesuai dengan Konsep Dasar Akuntansi.