MEKANIKA FLUIDA
Fluida adalah zat yang dapat mengalir atau sering disebut Zat Alir. Fluida dapat mencakup
zat cair atau gas. Antara zat cair dan gas dapat dibedakan dimana zat cair adalah fluida yang non
kompresibel (tidak dapat ditekan) artinya tidak berubah volumenya jika mendapat tekanan. Gas
adalah fluida yang kompresibel, artinya dapat ditekan. Pembahasan dalam bab ini hanya dibatasi
sampai fluida yang non kompresibel saja. Bagian dalam fisika yang mempelajari tekanan-tekanan
dan gaya-gaya dalam zat cair disebut Hidrolika atau Mekanika Fluida. Mekanikan fluida dapat
dibedakan menjadi hidrostatika (fluida statis) mempelajari tentang gaya maupun tekanan di dalam
zat cair yang diam. Sedangkan hidrodinamika(fluida dinamis) mempelajari gaya-gaya maupun
tekanan di dalam zat cair yang bergerak.
FLUIDA STATIS
Rapat Massa dan Berat Jenis
Rapat massa benda-benda homogen biasa didefinisikan sebagai massa persatuan volume yang
disimbolkan dengan yang dapat dinyatakan dengan persamaan:
=
m
V
Berat jenis didefinisikan sebagai Berat persatuan Volume. Yang biasa disimbolkan dengan D.
w D=.g
D=
V
Rapat Massa Relatif
Rapat massa relatif suatu zat adalah perbandingan dari rapat massa zat tersebut terhadap rapat
massa dari zat tertentu sebagai zat pembanding. Zat pembanding biasa diambil air, pada suhu 40 C.
Rapat massa relatif biasa disimbolkan dengan r dengan persamaan:
r =
ρ zat r =
D zat
ρ air D air
Rapat massa relatif tidak mempunyai satuan.
Tekanan Hidrostatika
Tekanan hidrostatis adalah tekanan yang disebabkan oleh berat zat cair. Tekanan adalah gaya per
satuan luas yang bekerja dalam arah tegak lurus suatu permukaan. Tekanan disimbolkan dengan P
dengan persamaan:
P=
F
A
Tiap titik di dalam fluida tidak memiliki tekanan yang sama besar, tetapi berbeda-beda sesuai
dengan ketinggian titik tersebut dari suatu titik acuan.
Dasar bejana akan mendapat tekanan sebesar :
P = tekanan udara + tekanan oleh gaya berat zat cair
PBar (Tekanan Hidrostatika).
Gaya berat fliuda
P = BAR +
Luas penampang dasar bejana
ρ .v.g
h P = BAR + =
A
ρ.g.A.h
P = BAR +
A
P = BAR + ρ g h
Jadi Tekanan Hidrostatika (Ph) jika udara tekanan udara luar diabaikan
Ph = . g . h
1 atm = 76 cm Hg
1 atm = 105 N/m2 = 106 dyne/cm2
Untuk bidang miring dalam mencari h maka dicari lebih dahulu titik tengahnya (Disebut : titik
massa).
Hukum Pascal
“Tekanan yang bekerja pada fluida di dalam ruang tertutup akan diteruskan oleh fluida tersebut ke
segala arah dengan sama besar.”
Perhatikan gambar bejana berhubungan di bawah ini.
Permukaan fluida pada kedua kaki bejana berhubungan
sama tinggi.
Bila kaki I yang luas penampangnya A1 mendapat gaya F1
dan kaki II yang luas penampangnya A2 mendapat gaya F2
maka menurut Hukum Pascal harus berlaku :
P1 = P2 atau F1 F 2
A1 A2
Hukum Utama Hidrostatis
“Tekanan hidrostatik pada sembarang titik yang terletak pada bidang mendatar di dalam wadah
suatu jenis zat cair sejenis dalam keadaan seimbang adalah sama”.
Hukum utama hidrostatika juga berlaku pada pipa U (bejana berhubungan) yang diisi lebih dari satu
macam zat cair yang tidak bercampur. Percobaan pipa U ini biasanya digunakan untuk menentukan
massa jenis zat cair. Berdasarkan tekanan hidrostatik maka kita dapat menentukan besar gaya
hidrostatik yang bekerja pada dasar bejana tersebut. Contoh penerapan hukum utama hidrostatik
misalnya pada penggunaan water pass.
Hukum utama hidrostatik tidak berlaku bila:
a. fluida tidak setimbang,
b. bejana diisi fluida yang berbeda,
c. salah satu bejana ditutup.
(Ph) di A = (Ph) di B = (Ph) di C = (Ph) di D
A B C D
Hukum utama hidrostatika berlaku pula pada pipa U (Bejana berhubungan) yang diisi lebih dari
satu macam zat cair yang tidak bercampur.
(Ph)1 = (Ph)2
1h1 = 2h2
Percobaan pipa U ini biasanya digunakan untuk menentukan massa jenis
zat cair.
Hukum Archimedes
“Bila sebuah benda dicelupkan sebagian atau seluruhnya di dalam fluida, maka fluida tersebut akan
memberikan gaya ke atas (FA) pada benda tersebut yang besarnya sama dengan berat fluida yang
dipindahkan oleh benda tersebut. Gaya ke atas/gaya Archimedes dinyatakan dalam persamaan:
Berat zat cair yang dipindahkan = mc . g
= c . Vc . g
Karena Volume zat cair yang dipindahkan = Volume benda, maka :
= c . Vb . g
Gaya keatas yang dialami benda tersebut besarnya :
FA = c . Vb . g
b = Rapat massa benda FA = Gaya ke atas
c = Rapat massa zat cair Vb = Volume benda
W = Berat benda Vc = Volume zat cair yang
Ws = Berat semu dipindahkan
(berat benda di dalam zat cair).
Benda di dalam zat cair ada 3 macam keadaan :
Benda tenggelam di dalam zat cair.
Syarat Benda Tenggelam
a. Massa jenis benda lebih besar di bandingkan massa jenis fluida;
b. Berat benda lebih besar dibandingkan gaya Archimedes;
c. Semua benda tercebur di dalam fluida;
d. Benda menekan pada dasar bejana.
FA < W
c . Vb . g <b . Vb . g
c < b
Benda melayang di dalam zat cair.
Syarat Benda Melayang :
a. Massa jenis benda sama dengan massa jenis fluida;
b. Berat benda sama dengan gaya Archimedes;
c. Semua benda tercelup dalam fluida sehingga volume benda yang tercelup sama dengan volume
benda seluruhnya;
d. Pada saat benda tepat pada dasar bejana, benda tidak menekan pada dasar bejana.
Benda melayang di dalam zat cair berarti benda tersebut dalam keadaan setimbang.
FA = W
c . Vb . g = b . Vb . g
c = b
Pada 2 benda atau lebih yang melayang dalam zat cair akan berlaku :
(FA)tot = Wtot
c . g (V1+V2+V3+V4+…..) = W1 + W2 + W3 + W4 +…..
Benda terapung di dalam zat cair.
Syarat Benda Terapung :
a. Massa jenis benda lebih kecil dibandingkan massa jenis fluida
Benda terapung tentunya dalam keadaan setimbang, sehingga berlaku :
FA = W
c . Vb2 . g = b . Vb . g
Karena Vb2 < Vb maka
c > b
FA’ = Gaya ke atas yang dialami oleh bagian benda yang tercelup di dalam zat cair.
Vb1 = Volume benda yang berada dipermukaan zat cair.
Vb2 = Volume benda yang tercelup di dalam zat cair.
Vb = Vb1 + Vb2
Kohesi dan Adhesi.
Kohesi : adalah gaya tarik menarik antara partikel-partikel suatu zat yang sejenis.
Misalnya : gaya tarik menarik yang terjadi pada air, besi dan sebagainya.
Makin kuat kohesi ini, makin kuat bendanya (tidak mudah berubah bentuknya).
Berarti kohesi molekul-molekul zat padat dari kohesi molekul-molekul zat cair dari kohesi molekul-
molekul zat gas.
Adhesi : adalah gaya tarik menarik antara partikel-partikel dari zat yang berbeda/tak sejenis.
Contoh : Kapur tulis yang melekat pada papan.
Pengaruh Kohesi & Adhesi Terhadap Permukaan Fluida
Air : Permukaannya cekung, pada pipa kapiler permukaannya lebih tinggi, karena adhesinya lebih
kuat dari kohesinya sendiri.
Air Raksa : Permukaannya cembung, sedangkan pada pipa kapiler permukaannya lebih rendah,
karena kohesi air raksa lebih besar dari adhesi antara air raksa dengan kaca.
Sudut Kontak (θ)
Sudut kontak yaitu sudut yang dibatasi oleh 2 bidang batas (a) dinding tabung dan (b) permukaan
zat cair.
Dinding tabung : sebagai bidang batas antara zat cair dan tabung.
Permukaan zat cair : Sebagai bidang batas antara zat cair dan uapnya (θ = 1800)
Bila zat cair tersebut air dan dindingnya gelas maka :
0 θ 900
Karena adhesinya lebih besar dari kohesi.
Bila zat cair tersebut air raksa, maka :
900 θ 1800
Karena kohesinya lebih besar dari adhesi.
Tegangan Permukaan
Sebagai akibat dari adanya kohesi zat cair dan adhesi antara zat cair-udara diluar permukaannya,
maka pada permukaan zat cair selalu terjadi tegangan yang disebut tegangan permukaan.
Karena adanya tegangan permukaan inilah nyamuk, jarum, pisau silet dapat terapung di permukaan
zat cair meskipun massa jenisnya lebih besar dari zat cair. Tegangan permukaan dapat dirumuskan
sebagai berikut :
=
F
L
F = Gaya yang bekerja.
L = Panjangnya batas antara benda dengan permukaan zat cair.
= Tegangan permukaan.
Miniskus dan Kapilaritas
Miniskus : Yaitu bentuk permukaan zat cair dalam suatu pipa yaitu cekung atau cembung. Makin
sempit pipa (Pembuluh) makin jelas kelengkungannya.
Kapilaritas : Yaitu suatu gejala turun atau naiknya zat cair dalam pembuluh yang sempit, jika
pembuluh yang kedua ujungnya terbuka ini dimasukkan tegak lurus ke dalam bak yang berisi zat
cair. Sedang pembuluh sempit tersebut tersebut disebut pipa kapiler.
Kenaikan/penurunan permukaan zat cair dalam kapiler dapat dirumuskan sebagai berikut :
2 . . cos
y =
.g.r
y = Kenaikan/penurunan zat cair dalam kapiler
= Tegangan permukaan zat cair
θ = Sudut kontak
= Massa jenis zat cair
g = Percepatan gravitasi
r = Jari-jari kapiler.
FLUIDA DINAMIK
Tiga hal mendasar untuk menyederhanakan pembahasan fluida dinamik yaitu :
1. Fluida dianggap tidak kompresibel
2. Dianggap bergerak tanpa gesekan walaupun ada gerakan materi (tidak mempunyai kekentalan)
3. Aliran fluida adalah aliran stasioner, yaitu kecepatan dan arah gerak partikel fluida yang melalui
suatu titik tertentu tetap. Jadi partikel yang datang kemudian di satu titik akan mengikuti jejak
partikel-partikel lain yang lewat terdahulu.
Debit
Fluida mengalir dengan kecepatan tertentu, misalnya v m/s. Penampang tabung alir
berpenampang A, maka yang dimaksud dengan debit fluida adalah volume fluida yang mengalir
persatuan waktu melalui suatu pipa dengan luas penampang A dan dengan kecepatan v.
V
Q=
t
Karena V = A.s maka persamaan debit menjadi :
A.s s
Q= dan v =
t t
maka Q = A . v
Persamaan Kontinuitas
Bayangkan suatu permukaan yang berbatas dalam suatu fluida yang bergerak. Maka, pada
umumnya, fluida yang mengalir masuk ke dalam volume yang dilingkupi permukaan tersebut di
titik-titik tertentu dan keluar di titik-titik lain. Persamaan Kontinuitas adalah suatu ungkapan
matematis mengenai hal bahwa jumlah netto massa yang mengalir ke dalam sebuah permukaan
terbatas sama dengan pertambahan massa di dalam permukaan itu.
Gambar di samping menunjukkan aliran fluida dari
kiri ke kanan ( fluida mengalir dari pipa yang
berdiameter besar menuju diameter yang kecil ).
Garis putus-putus merupakan garis arus.
Keterangan gambar :
A1 = luas penampang bagia pipa yang berdiameter besar.
A2 = luas penampang bagian pipa yang berdiameter kecil.
v1 = kecepatan aliran fluida pada bagian pipa yang berdiameter besar.
v2 = kecepatan aliran fluida pada bagian pipa yang berdiameter kecil.
L = jarak tempuh fluida.
Pada aliran tunak, kecepatan aliran fluida di suatu titik sama dengan kecepatan aliran
partikel fluida lain yang melewati titik itu. Aliran fluida juga tidak saling berpotongan (garis
arusnya sejajar ). Karenanya massa fluida yang masuk ke salah satu ujung pipa harus sama dengan
massa fluida yang keluar di ujung lainnya. Jika fluida memiliki massa tertentu masuk pada pipa
yang berdiameter besar, maka fluida tersebut akan keluar pada pipa yang berdiameter kecil dengan
massa yang tetap.
Pada fluida tak-termampatkan (incompressible), kerapatan alias massa jenis fluida selalu
sama di setiap titik yang dilaluinya. Massa fluida yang mengalir dalam pipa yang memiliki luas
penampang A1 (diameter pipa yang besar) selama selang waktu tertentu adalah :
Demikian juga, massa fluida yang mengalir dalam pipa yang memiliki luas penamang A 2
(diameter pipa yang kecil) selama selang waktu tertentu adalah :
Mengingat bahwa dalam aliran tunak, massa fluida yang masuk sama dengan massa fluida
yang keluar, maka :
Jadi, pada fluida tak-termampatkan, berlaku persamaan kontinuitas :
Keterangan :
A1 = Luas penampang 1
A2 = Luas penampang 2
v1 = Kecepatan aliran fluida pada penampang 1
v2 = Kecepatan aliran fluida pada penampang 2
Av = Laju aliran volume V/t atau debit
Persamaan 1 menunjukkan bahwa aliran volume alias debit selalu sama pada setiap titik
sepanjang pipa/tabung aliran. Ketika penampang pipa mengecil, maka laju aliran fluida meningkat,
sebaliknya ketika penampang pipa menjadi besar, laju aliran fluida menjadi kecil.
Persamaan Bernoulli
Dasar dari azaz Bernoulli adalah bagaimana tekanan pada ketinggian yang sama untuk flida
yang bergerak. Dari konsep fluida statis diperoleh bahwa tekanan fluida sama pada setiap titik yang
memiliki ketinggian yang sama. Dan dari konsep fluida dinamis diperoleh bahwa banyaknya fluida
yang mengalir melalui pipa kecil maupun besar adalah sama.
Dari kedua konsep diatas, diperoleh bahwa aliran fluida pada pida kecil kecepatannya lebih
besar disbanding aliran fluida pada pipa besar. Dan tekanan fluida paling besar terletak pada bagian
yang kecepatan alirannya paling kecil, dan tekanan paling kecil terletak pada bagian yang
kelajuannya paling besar. Pernyataan ini dikenal dengan azaz Bernoulli.
Hukum Bernoulli
Hukum Bernoulli merupakan persamaan pokok fluida dinamik dengan arus streamline. Di
sini berlaku hubungan antara tekanan, kecepatan alir dan tinggi tempat dalam satu garis lurus.
Hubungan tersebut dapat dijelaskan sebagai berikut :
Perhatikan gambar tabung alir a-c pada gambar pipa alir. Jika tekanan p1 ke kanan pada penampang
A1, dari fluida di sebelah kirinya, maka gaya yang dilakukan terhadap penampang di a adalah p1A1,
sedangkan penampang di c mendapat gaya dari fluida dikanannya sebesar p2A2, di mana p2 adalah
tekanan terhadap penampang di c ke kiri. Dalam waktu t detik dapat dianggap bahwa fluida di
penampang a tergeser sejauh v1 t dan fluida di penampang c tergeser sejauh v2 t ke kanan.
Jadi usaha yang dilakukan terhadap a adalah : p1A1v1 t sedangkan usaha yang dilakukan
pada c sebesar : - p2A2v2 t
Jadi usaha total yang dilakukan gaya-gaya tersebut besarnya :
Wtot = (p1 A1 v1 - p2 A2 v2) t
W = p1A1 v1t – p2 A2 v2t
p1 p
W = A1 v1t 2 A2 v2 t
ρ ρ
p1 p
W = m 2 m
ρ ρ
Dalam waktu t detik fluida dalam tabung alir a-b bergeser ke c-d dan mendapat tambahan energi
sebesar :
Em = Ek + Ep
Em = ( ½ m v22 – ½ m v12) + (mgh2 – mgh1)
= ½ m (v22 – v12) + mg (h2 – h1)
Dari kekekalan energi yaitu perubahan energi mekanik adalah sama dengan usaha.
Em = W
p1 p
½ m v22 – ½ m v12 + mgh2 – mgh1 = m 2 m
ρ ρ
(suku-suku persamaan ini memperlihatkan dimensi usaha)
Apabila setiap ruas dibagi dengan m kemudian dikalikan dengan akan diperoleh persamaan:
p1 p
½ v22 – ½ v12 + g h2 –g h1 = 2
ρ ρ
p2 p1
+ ½ v22 + g h2 = + ½ v12 + g h1
ρ ρ
p1 + ½ v12 + g h1 = p2 + ½ v22 + g h2
(suku-suku persamaan di atazs memperlihatkan dimensi tekanan)
atau p + ½ v2 + g h = Konstan
Persamaan tersebut dikenal sebagai hukum Bernoulli.
Jadi persamaan Bernoulli menyatakan bahwa jumlah dari tekanan, energi kinetic per satuan volume,
dan energi potensial persatuan volume memiliki nilai yang sama pada setiap titik sepanjang suatu
garis arus.
Aplikasi Hukum Bernoulli
1. Fluida Tak Bergerak
Jika dilakukan pendekatan untuk kasus fluida diam (v1 = v2 = 0), maka persamaan Bernoulli
menjadi:
Jika h2 – h1 = h, maka persamaan ini bisa ditulis menjadi :
2. Fluida mengalir dalam pipa mendatar (ketinggian sama)
Jika dilakukan pendekatan untuk kasus fluida mengalir dalam pipa mendatar (h1 = h2), maka
persamaan Bernoulli menjadi :
3. Teorema Torricelli
Sebuah bejana tertutup dengan luas penampang besar A1 berisi zat cair dengan ketinggian h
dari dasar bejana. Jika pada dasar bejana dilubangi dengan luas penampang lubang A2 sangat kecil
(A2 << A1).
Dengan titik acuan pada dasar bejana, maka h2 = 0, dank arena lubang (titik 2) berhubungan
langsung dengan udara, maka p2 = p0 (tekanan udara). Jadi pada teorema Torricelli ini dilakukan
pendekatan terhadap persamaan Bernoulli dengan : (1) A2 << A1, sehingga v2 >> v1, h1 = h dan h2 =
0, dan (2) p2 =p0. Sehingga diperoleh rumusan Torricelli, sebagai berikut :
Massa jenis zat cair sama sehingga dilenyapkan :
Bedasarkan persamaan ini, tampak bahwa laju aliran air pada lubang yang berjarak h dari
permukaan wadah sama dengan laju aliran yang jatuh bebas sejauh h.
4. Tabung Venturi
Secara sederhana dapat dikatakan bahwa tabung venture adalah sebuah pipa yang
mempunyai bagian yang menyempit. Sebagai contoh dari tabung enturi adalah: venturimeter, yaitu
alat yang dipasang di dalam suatu pipa yang berisi fluida mengakir, untuk mengukur keceptan
aliran fluida tersebut.
Venturimeter tanpa monometer
Pada gambar di samping. Ketika zat cair melewati
bagian pipa yang penampangnya kecil (A2), laju cairan
meningkat. Menurut prinsip Bernoulli, jika laju cairan
meningkat, maka tekanan cairan mejadi kecil. Jadi tekanan zat
cair pada penampang besar lebih besar dari tekanan zar cair
pada penampang kecil (P1> P2). Sebaliknya v2 > v1.
Persamaannya sebagai berikut :
Karena P1 > P2 dan v2 > v1, maka persamaannya menjadi :
Dan dari persamaan kontinuitas, diperoleh :
Untuk mencari laju aliran zat cair di penampang besar (v1). Maka ubah v2 pada persamaan 1 dengan
v2 pada persamaan 2.
Untuk menghitung tekanan fluida pada suatu kedalaman tertentu menggunakan persamaan :
Untuk kasus di atas, persamaan ini bisa diganti menjadi :
Sekarang gantia p1 – p2 pada persamaan 3, dengan p1 – p2 pada persamaan b :
Karena zat carir-nya sama maka massa jenisnya juga pasti sama. Lenyapkan dari persamaan.
Gaya Angkat Sayap Pesawat Terbang
Ada empat macam gaya yang bekerja pada sebuah pesawat terbang yang sedang mengalami
perjalanan di angkasa, diataranya :
- Gaya angkat (Fa), yang dipengaruhi oleh desain pesawat.
- Gaya berat (W), yang dipengaruhi oleh gravitasi bumi.
- Gaya dorong (fd), yang dipengaruhi oleh gesekan udara.
- Gaya hambat (fg), yang dipengaruhi oleh gesekan udara.
Tinjau dengan hukum Bernoulli :
- Laju aliran udara pada sisi atas pesawat (v2) lebih beswar disbanding laju aliran udara pada
sisi bawah pesawat (v1). Maka sesuai dengan azas Bernoulli, maka tekanan udara pada sisi
bawah pesawat (p1) lebih besat dari tekanan udara pada sisi atas pesawat (p2).
- Syarat agar pesawat bisa terangkat, maka gaya angkat pesawat (Fa) harus lebih besar dari
gaya berat (W=mg), Fa > mg. Ketika sudah mencapai ketinggian tertentu, untuk
mempertahankan ketinggian pesawat, maka harus diatur sedemikian sehingga : Fa = mg.
- Jika pesawat ingin begerak mendatar dengan percepatan tertentu, maka : gaya dorong harus
lebih besar dari gaya hambat (fd > fg), dan gaya angkat harus sama dengan gaya berat,
(Fa=mg).
- Jika pesawat ingin naik/menambah ketinggia yang tetap, maka gaya dorng harus sama
dengan gaya abat (fd = fg), dan gaya angkat harus sama denga gaya berat (Fa=mg).
- Pembahasan gaya angkat pada sayap pesawat terbang dengan menggunakan persamaan
Bernoulli dianggap bentuk sayap pesawat terbang sedemikian rupa sehingga garis arus
aliran udara yang melalui sayap adalah tetap (streamline)
p1
v1
v2
p2
Penampang sayap pesawat terbang mempunyai bagian belakang yang lebih tajam dan sisi
bagian yang atas lebih melengkung daripada sisi bagian bawahnya. Bentuk ini menyebabkan
kecepatan aliran udara di bagian atas lebih besar daripada di bagian bawah (v2 > v1).
Dari persamaan Bernoulli kita dapatkan :
p1 + ½ .v12 + g h1 = p2 + ½ .v22 + g h2
Ketinggian kedua sayap dapat dianggap sama (h1 = h2), sehingga g h1 = g h2.
Dan persamaan di atas dapat ditulis :
p1 + ½ .v12 = p2 + ½ .v22
p1 – p2 = ½ .v22 - ½ .v12
p1 – p2 = ½ (v22 – v12)
Dari persamaan di atas dapat dilihat bahwa v2 > v1 kita dapatkan p1 > p2 untuk luas
penampang sayap F1 = p1 A dan F2 = p2 A dan kita dapatkan bahwa F1 > F2. Beda gaya
pada bagian bawah dan bagian atas (F1 – F2) menghasilkan gaya angkat pada pesawat
terbang. Jadi, gaya angkat pesawat terbang dirumuskan sebagai :
F1 – F2 = ½ A(v22 – v12)
Dengan = massa jenis udara (kg/m3)
Contoh:
1. Sebuah tangki terbuka berisi air setinggi H. Pada jarak h dari permukaan air dibuat suatu lubang
kecil, sehingga air memancar dari lubang itu. Berapa jauh air yang keluar dari tangki mengenai
tanah ?
Penyelesaian:
Persamaan Bernoulli:
p1 + ½ v12 + g H = p2 + ½ v22 + g (H – h)
g H = ½ v22 + g (H – h)
½ v22 = g H - g (H – h)
½ v22 = g H – g (H – h)
½ v22 = g (H – H +h)
v2 = 2g h h
Gerak jatuh bebas:
h = ½ g t2
H
2 (H - h)
t=
g
Gerak beraturan arahmendatar:
s=v t
2 (H - h) s
= 2g h
g
s= 4 h (H - h)
2. Air mengalir melalui sebuah pipa yang berbentuk corong. Garis tengah lubang corong dimana air
itu masuk 30 cm. Dan garis tengah lubang corong dimana air itu keluar 15 cm. Letak pusat
lubang pipa yang kecil lebih rendah 60 cm daripada pusat lubang yang besar. Jika cepat aliran air
dalam pipa itu 140 liter/det, sedangkan tekanannya pada lubang yang besar 77,5 cm Hg.
Berapakah tekanannya pada lubang yang kecil ?
Penyelesaian:
A1
v1
h2
A2 v 2
h1
r1 = 15 cm
r2 = 7,5 cm
(h1 – h2) = 60 cm
p1 = 77,5 cm Hg, P2 = ....?
Q2 = 140 lt/det
Jawab:
Q2 = A2 v2
140 = (7,5)2 v2
140000
v2 = = 793 cm/det
(7,5) 2
A1 v1 = A2 v2
(15)2 V1 = (7,5)2 793
v1 = 198 cm/det
p1 + ½ v12 + g h1 = p2 + ½ v22 + g h2
p2 = p1 + ½ v12 + g h1 – ½ v22 - g h2
p2 = p1 + ½ (v12 – v22) + g (h1 – h2)
= 77,5 + ½ (1982 – 7932) + 980 (60)
p2 = 59,9 cm Hg