Jenis-Jenis Steam dan Karakteristiknya
Jenis-Jenis Steam dan Karakteristiknya
Pengelompokan steam tersebut berdasar dari kebutuhan proses yang dikehendaki. Ada kalanya
dalam sebuah plant hanya menyajikan dua jenis steam. Gambar dibawah menjelaskan
mengenai range suhu transfer panas yang mampu disuplai oleh beberapa macam fluida.
Bisa dilihat bahwa steam memiliki range suhu transfer panas yang cukup luas. Hal ini
menandakan fleksibilitas steam sebagai media pemanas. Namun, fleksibilitas steam dalam
mensuplai panas harus diimbangi dengan pengkondisian steam dari satu kondisi operasi ke
kondisi operasi lainnya. Pada contoh diatas, untuk mendapatkan transfer panas pada suhu 200-
400 F, tidak bisa menggunakan superheated steam. Superheated steam yang dihasilkan dari
boiler harus diturunkan terlebih dahulu kondisi operasinya hingga menjadi saturated
steam dengan menggunakan desuperheater. Hal inilah mengapa pada sebuah plant,
didapatkan berbagai macam jenis steam. Setiap proses yang berbeda membutuhkan range suhu
yang berbeda pula.
Perbedaan kondisi operasi steam ini juga akan mempengaruhi daripada properti dari steam.
Sebagaimana diketahui, air yang menguap menjadi steam akan mengalami ekspansi
volume hingga mencapai lebih dari 1000 kali lipat. Meskipun demikian, peningkatan volume
aktual dari air menjadi steam ini sangatlah bergantung pada tekanan pada kondisi titik didihnya.
Jika diperhatikan pada kurva tersebut, semakin besar tekanan steam, maka akan semakin kecil
volume spesifik steam tersebut. Hal ini mengandung pengertian bahwa untuk aliran berat yang
sama, maka steam yang bertekanan rendah akan menempati volume yang lebih
besar. Konsekuensi dari hal tersebut, maka steam bertekanan rendah, misalkan LP steam
akan memiliki sistem perpipaan dengan diameter yang jauh lebih besar jika dibandingkan
dengan MP maupun LP steam. Hal diatas bisa dipahami dari sudut pandang hukum gas ideal,
yakni PV/T = konstan. Dari rumus tersebut, bisa diketahui bahwa tekanan memiliki hubungan
yang terbalik dengan volume.
Konsekuensi lain dari perbedaan tekanan steam adalah ditinjau dari derajat kondensasi. Steam
dalam perpipaan harus selalu dijaga agar beroperasi sesuai dengan kondisi operasinya. Jika
lebih rendah, maka hal ini akan menimbulkan hilang tekanan yang lebih besar dalam sistem
perpipaan karena laju alir steam menjadi lebih besar. Hal ini akan mempengaruhi kualitas dari
steam yakni timbulnya kondensasi.
Jika steam dengan tekanan tinggi memiliki volume spesifik yang lebih kecil jika dibandingkan
steam dengan tekanan lebih rendah, bagaimana dengan komposisi energi yang dimilikinya?
Untuk menjawab hal tersebut, berikut disajikan komposisi energi dalam bentuk panas steam
jenuh masing-masing pada tekanan 0 dan 120 psig:
Dari tabel tersebut, bisa dilihat bahwa antara steam jenuh pada 0 dan 120 psig memiliki jumlah
energi panas yang hampir sama. Untuk memanaskan air hingga menjadi steam pada tekanan
120 psig, dibutuhkan lebih banyak panas dalam bentuk sensible heat dengan latent heat yang
relatif lebih rendah jika dibandingkan dengan pemanasan pada tekanan 0 psig. Hal ini
mengindikasikan bahwa semakin rendah tekanan steam, maka akan semakin rendah suhu
steam, namun akan memiliki latent heat yang semakin besar. Arti penting penerjemahan dari
hal ini adalah lewat peristiwa kondensasi dan terbentuknya flash steam.
Flash Steam
Ketika kondensat yang memiliki tekanan tinggi dilepaskan pada lingkungan dengan tekanan
yang lebih rendah, maka suhu kondensat tersebut akan turun menyesuaikan dengan tekanan
lingkungan disekelilingnya. Jika suhu kondensat tersebut mencapai kondisi titik didih pada
tekanan lingkungan yang lebih rendah, sebagaimana diketahui melalui tabel diatas, maka
kondensat tersebut memiliki surplus sensible heat relatif dengan kondisi sebelumnya. Sensible
heat ini akan diutilisasi sebagai latent heat, sehingga kondesat tersebut akan berevaporasi
kembali menjadi steam. Steam tersebut dikenal dengan sebutan "flash steam". Flash steam
juga bisa terbentuk jika kondensat mengalami pressure drop yang cukup tinggi di perpipaan. Jika
hal ini terjadi, maka ia bisa mengganggu aliran kondensat dalam perpipaan.
Latent Heat
Kita mengandalkan latent heat yang dimiliki steam untuk mentransfer panas karena menyimpan
jumlah energi yang lebih besar. Telah diketahui bahwa semakin rendah tekanan steam, maka
akan semakin besar latent heat yang dimilikinya. Pada kondisi 12 psig, 1 lb steam akan
menyerahkan 950.1 Btu panas sebagai latent heat namun hanya bisa meningkatkan suhu
hingga maksimum 243.7 F. Demikian juga, untuk steam pada kondisi 120 psig akan
menyerahkan 871 Btu steam dan mampu meningkatkan suhu hingga 350 F. Hal ini
mengindikasikan bahwa sebenarnya penggunaan steam dengan tekanan lebih rendah
akan menghasilkan transfer panas yang lebih efisien jika dibandingkan dengan steam
pada tekanan lebih tinggi. Untuk itulah, steam sistem sebaiknya didesain dengan tekanan
serendah mungkin, namun dengan tetap mencapai suhu proses yang diinginkan. Jadi, dengan
dasar hal tersebut, didapatkan kondisi steam yang berbeda-beda di lapangan.
Untuk proses yang membutuhkan suhu tinggi, maka akan digunakan HP atau MP steam,
sedangkan untuk proses yang tidak membutuhkan suhu tinggi akan digunakan LP steam.
Posted by achmad at 12:24 PM
Email ThisBlogThis!Share to TwitterShare to FacebookShare to Pinterest
Ketika air sudah mencapai titik didihnya, maka molekul air memiliki energi yang cukup untuk mencapai
kecepatan yang memungkinkan mereka melepaskan diri dari cairan ke ruang di atas permukaan cairan tersebut,
sebelum akhirnya jatuh dan kembali dalam cairan sebelumnya.
Pemanasan lebih lanjut menyebabkan semakin besarnya eksitasi dan meningkatnya jumlah molekul yang
memiliki cukup energi untuk melepaskan diri dari cairan.
Ketika jumlah molekul yang meninggalkan cairan lebih banyak daripada yang kembali lagi ke dalam cairan, maka
air denan mudah menguap. Pada titik ini air telah mencapai titik didih atau temperatur saturasi, di mana air
tersaturasi denga energi panas.
Ketika tekanan konstan, penambahan panas tidak akan menyebabkan kenaikan temperatur tetapi menyebabkan
air berubah menjadi saturated steam (uap saturasi). Temperatur dari air mendidih dan sturated steam pada
sistem yang sama adalah sama besarnya, tetapi energi panas tiap satuan massa yang dimiliki oleh saturated
steam lebih besar.
Pada tekanan atmosfer temperatru saturasi adalah 100 0C. Akan tetapi, jika tekanan meningkat, maka
dimungkinkan penambahan panas tanpa adanya perubahan fasa dari cairan ke steam (uap).
Oleh karena itu, meningkatkan tekanan berarti juga meningkatkan enthalpi daripada air, dan temperatur
saturasi. Hubungan antara temperatur saturasi dengan tekanan dikenal sebagai kurva steam saturasi.
Enthalpi penguapan (hfg) adalah sejumlah panas yang diperlukan untuk mengubah air pada titik didihnya
menjadi uap. Ini tidak menyebabkan perubahan temperatur dari campuran air/uap, dan semua energi yang
diterima digunakan untuk merubah keadaan dari cair menjadi uap.
Enthalpi steam saturasi atau total energi steam saturasi adalah jumlah dari enthalpi air dan enthalpi penguapan.
Di mana
hg = total enthalpi steam saturasi (kJ/kg)
hf = enthalpi cairan (kJ/kg)
hfg = enthalpi penguapan (kJ/kg)
BOILER DAN JENIS-JENISNYA
BOILER
Boiler merupakan suatu peralatan yang digunakan untuk menghasilkan steam (uap) dalam
berbagai keperluan. Air di dalam boiler dipanaskan oleh panas dari hasil pembakaran bahan
bakar (sumber panas lainnya) sehingga terjadi perpindahan panas dari sumber panas tersebut
ke air yang mengakibatkan air tersebut menjadi panas atau berubah wujud menjadi uap. Air
yang lebih panas memiliki berat jenis yang lebih rendah dibanding dengan air yang lebih
dingin, sehingga terjadi perubahan berat jenis air di dalam boiler. Air yang memiliki berat
jenis yang lebih kecil akan naik, dan sebaliknya air yang memiliki berat jenis yang lebih
tinggi akan turun ke dasar (MF Syahputra.2010).Sistem boiler terdiri dari: sistem air umpan,
sistem steam dan sistem bahan bakar. Sistem air umpan menyediakan air untuk boiler secara
otomatis sesuai dengan kebutuhan steam. Berbagai kran disediakan untuk keperluan
perawatan dan perbaikan. Sistem steam mengumpulkan dan mengontrol produksi steam
dalam boiler. Steam dialirkan melalui sistem pemipaan ke titik pengguna. Pada keseluruhan
sistem, tekanan steam diatur menggunakan kran dan dipantau dengan alat pemantau tekanan.
Sistem bahan bakar adalah semua peralatan yang digunakan untuk menyediakan bahan bakar
untuk menghasilkan panas yang dibutuhkan. Peralatan yang diperlukan pada sistem bahan
bakar tergantung pada jenis bahan bakar yang digunakan pada sistem (MF Syahputra.2010).
Prinsip kerja dari boiler (Saturated steam) bisa dilihat pada gambar di bawah ini.
Boiler tersebut dikelompokkan berdasarkan jumlah pass nya – yaitu berapa kali gas
pembakaran melintasi boiler. Ruang pembakaran ditempatkan sebagai lintasan pertama setelah
itu kemudian satu, dua, atau tiga set pipa api. Boiler yang paling umum dalam kelas ini adalah unit
tiga pass/ lintasan dengan dua set fire-tube/ pipa api dan gas buangnya keluar dari belakang boiler.
Fluidized bed combustion
Fluidized bed combustion (FBC) muncul sebagai alternatif dan memiliki keuntungan yang signifikan
atas sistem pembakaran konvensional dan memberikan banyak keuntungan - desain kompak boiler,
fleksibilitas bahan bakar, efisiensi pembakaran yang lebih tinggi dan mengurangi emisi polutan
berbahaya seperti SOx dan NOx. Bahan bakar dibakar di boiler ini termasuk batubara, sekam padi,
ampas tebu & limbah pertanian lainnya. Boiler fluidized bed memiliki kapasitas yang luas sebarannya
0,5 T / jam sampai lebih dari 100 T / jam.
Ketika udara atau gas merata dilewatkan keatas melalui bed halus dibagi partikel padat seperti pasir
didukung pada mesh halus, partikel tidak terganggu pada kecepatan yang rendah. Begitu kecepatan
udaranya berangsur-angsur naik, terbentuklah suatu keadaan dimana partikel tersuspensi dalam
aliran udara - bed tersebut disebut "fluidized".
Dengan peningkatan lebih lanjut dalam kecepatan udara, ada pembentukan gelembung, turbulensi
yang kuat, pencampuran cepat dan pembentukan permukaan tidur didefinisikan padat. Bed partikel
padat menampilkan sifat dari cairan mendidih dan penampilan cairan - "menggelegak fluidized bed".
Jika partikel pasir dalam keadaan fluidized dipanaskan dengan suhu pengapian batubara, dan batu
bara disuntikkan terus ke boiler fluidized bed, batubara akan membakar dengan cepat dan boiler
fluidized bed mencapai suhu yang seragam. Pembakaran dengan fluidized bed (FBC) terjadi pada
sekitar 840OC hingga 950. Karena suhu ini jauh di bawah suhu fusi abu, mencair abu dan masalah
terkait dihindari.
Semakin rendah suhu pembakaran dicapai karena koefisien tinggi perpindahan panas akibat
pencampuran cepat dalam fluidized bed dan ekstraksi panas yang efektif dari boiler fluidized bed
melalui di-bed tabung perpindahan panas dan dinding dari boiler fluidized bed. Kecepatan gas
dipertahankan antara kecepatan fluidisasi minimum dan kecepatan masuk partikel. Hal ini
memastikan operasi yang stabil dari tempat tidur dan menghindari terbawanya partikel dalam aliran
gas.
Steam dapat diidentifikasi dengan mengetahui tekanan dan temperaturnya. Umpan yang akan
dirubah menjadi steam berupa air, untuk mengubahnya diperlukan panas sebagai berikut (Woodruff
dkk,2005):
Panas sensibel cairan, yaitu sejumlah panas yang diperlukan untuk memanaskan air tersebut
dari 0°C ke temperatur didih.
Panas penguapan, yaitu sejumlah panas yang diperlukan untuk menguapkan air tersebut
pada temperatur didih tanpa terjadi kenaikan temperatur.
Panas steam lanjut, yaitu panas yang diperlukan untuk pemanasan saturated steam sehingga
menjadi superheated steam.
Steam banyak dimanfaatkan dalam industri kimia diantaranya sebagai berikut (Woodruff,2005):
Steam sebagai pemanas secara langsung atau tidak langsung dalam alat-alat industri seperti
heat exchanger, menara distilasi, evaporator, dan lain-lain.
Steam digunakan dalam pembakaran bahan bakar minyak (oil refinery)
Steam digunakan sebagai pengering (drying)
Steam digunakan sebagai penghasil tenaga dalam turbin steam.
Contoh industri yang menggunakan steam diantaranya industri kertas, karet, gula, dan oil refinery.
Suatu proses yang menggunakan steam memiliki beberapa kelebihan diantaranya (Woodruff,2005):
Macam-Macam Steam
Steam dapat dibedakan menjadi tiga macam, yaitu sebagai berikut (Kusumadewi,2015):
1. Saturated steam yaitu uap air yang terbentuk pada suhu didih dan tidak mengandung
titik-titik air maupun gas asing.
2. Wet steam yaitu campuran dari saturated steam dan titik-titik air yang terdistribusi merata.
Steam ini terbentuk misalnya pada waktu air mendidih dengan sangat kuat atau karena kondensasi
sebagian dari uap jenuh.
3. Superheated steam yaitu uap yang dipanaskan melebihi temperatur didihnya. Pada
tekanan yang sama steam ini memiliki kerapatan lebih rendah daripada saturated steam
Berikut ini adalah macam-macam boiler yang menyesuaikan kebutuhan masing-masing pengguna:
1. Macam-macam boiler berdasarkan bahan isian yang melalui tube-tubenya dibedakan menjadi
dua jenis (Djokosetyardjo,1990):
Fire Tube Boiler
Terdiri dari tangki air yang dilubangi dan dilalui pipa-pipa, dimana gas panas yang mengalir pada
tangki tersebut melalui tube-tube digunakan untuk memanaskan air di dalam tangki. Fire tube
boilers pada umumnya dipakai untuk kapasitas steam yang cukup kecil dengan tekanan steam dari
rendah sampai sedang. Fire tube boilers cocok digunakan untuk kapasitas antara 15000-20000
pon/jam (lb/hr) dengan tekanan 7-10 atm. Fire tube boilers dapat memakai bahan bakar minyak
atau gas.
Water Tube BoilerPrinsip kerja water tube boiler merupakan kebalikan dari fire tube boiler. Air
mengalir melalui tube-tube yang terletak di dalam gas panas yang dihasilkan dari pembakaran. Ketika
air dalam tube-tube mendapat pemanasan, air dalam pipa mendidih sehingga air mengandung uap
dan berat jenis air berkurang, air dan uap mengalir ke atas. Air yang densitasnya lebih besar akan ke
bawah dan menggantikan air yang menuju ke atas. Pada drum atas, air dan uap berpisah menjadi
uap jenuh, kemudian uap jenuh disalurkan ke superheater untuk diubah menjadi uap panas lanjut.
Uap panas lanjut yang keluar dari superheater inilah yang akan dimanfaatkan sebagai penggerak
mesin uap. Bahan bakar yang digunakan bisa gas atau padatan fuel. Water tube boiler juga
tersedia dalam berbagai variasi model.
Macam-macam Boiler
Macam-macam boiler berdasarkan tekanannya dibedakan menjadi 2 sebagai berikut
(Djokosetyardjo,1990):
Boiler Bertekanan Rendah
Tipe ini memiliki steam operasi kurang dari 1 atm, menghasilkan air dengan tekanan di bawah 11 atm
dan temperature di bawah 121°C.
Boiler Bertekanan Tinggi
Tipe ini memiliki steam operasi lebih dari 1 atm, menghasilkan air dengan tekanan di atas 11 atm dan
temperature di atas 121°C.
Macam-macam boiler berdasarkan bahan bakar yang digunakan dibedakan menjadi 4 macam
sebagai berikut (Djokosetyardjo,1990):
Solid Fuel
Pemanasan pada boiler akibat pembakaran antara bahan bakar padat (batu bara, sampah kota,
kayu) dengan oksigen dan sumber panas.
Oil Fuel
Pemanasan pada boiler akibat pembakaran antara bahan bakar minyak dengan oksigen dan sumber
panas.
Gaseous Fuel
Pemanasan pada boiler akibat pembakaran antara LNG (Liquid Natural Gas) dengan oksigen dan
sumber panas. Harga bahan baku pembakarannya lebih murah diantara semua boiler yang lain.
Electric
Pemanasan pada boiler akibat sumber listrik yang menyuplai sumber panas.
Macam-macam boiler berdasarkan kegunaannya dibedakan menjadi 5 macam yaitu sebagai berikut
(Djokosetyardjo,1990):
Power Boiler
Steam yang digunakan pada power boiler ini berasal dari tipe water tube boiler. Steam yang
dihasilkan mempunyai tekanan dan kapasitas besar, sehingga mampu menggerakan turbin dan
menghasilkan listrik dari generator. Kegunaan yaitu sebagai penghasil steam untuk menghasilkan
listrik dari generator.
Industrial Boiler
Steam yang digunakan pada idustrial boiler ini berasal dari tipe water tube boiler atau fire tube boiler.
Kegunaannya untuk menjalankan proses industri dan sebagai tambahan panas. Steam memiliki
tekanan yang sedang dan kapasitas yang besar.
Commercial Boiler
Steam yang digunakan pada commercial boiler ini berasal dari tipe water tube boiler atau fire tube
boiler. Kegunaannya untuk menjalankan proses operasi komersial. Tekanan yang dimiliki steam
rendah.
Residential Boiler
Steam yang digunakan pada residential boiler ini berasal dari tipe fire tube boiler. Boiler ini memiliki
tekanan dan kapasitas yang rendah, biasanya digunakan pada perumahan.
Heat Recovery Boiler
Steam yang digunakan pada heat recovery boiler ini berasal dari tipe water tube boiler atau fire tube
boiler. Steam yang dihasilkan mempunyai kapasitas dan tekanan besar, kegunaannya sebagai
penghasil steam dari uap panas yang tidak terpakai. Hasil steam ini digunakan untuk menjalankan
proses industri.
Bagian-Bagian Boiler
Boiler memiliki bagian-bagian yang peranannya penting dalam pembuatan steam seperti berikut ini
(Kusumadewi,2015):
Radiasi, pancaran panas dari api atau gas yang akan menempel pada dinding tube.
Konduksi, panas mengalir melalui hantaran dari sisi pipa yang menerima panas ke dalam sisi pipa
yang memberi panas pada air.
Konveksi. panas yang terjadi dengan cara merambat melalui molekul-molekul air sehingga panas
akan menyebar kesetiap aliran air.
Didalam furnace, ruang bakar terbagi atas dua bagian yaitu ruang pertama dan ruang kedua. Pada
ruang pertama akan tejadi pemanasan langsung dari sumber panas yang diterima langsung oleh tube
(pipa), sedangkan pada ruang kedua yang terdapat pada bagian atas, panas yang diterima berasal
dari udara panas hasil pembakaran dari ruang pertama.
3). Superheater
Steam yang dihasilkan dari steam drum merupakan steam basah. Untuk bisa digunakan pada turbin
atau keperluan industri lain, maka steam harus diubah menjadi steam kering. Tempat mengubah
steam basah menjadi steam kering inilah yang disebut dengan superheater. Proses yang terdapat
dalam superheater adalah pemanasan dengan suhu 260°C sampai 350°C, sehingga uap benar-benar
menjadi kering.
Air yang dimasukkan ke system boiler untuk dirubah menjadi steam disebut air umpan boiler. Air
umpan berasal dari kondensat atau air baku yang sudah diproses yang harus diumpankan dari luar
ruang boiler dan alat proses (Djokostyardjo,1990).
Proses pembuatan steam atau mekanisme kerja boiler adalah sebagai berikut (Sihombing, 2009) :
1. Air yang telah difiltasi melalui reverse osmosis kemudian kemudian dialirkan ke deaerator
untuk dipanaskan awal dan memisahkan logam atau mineral yang berada di dalam air, dengan tujuan
agar air dapat dibakar dalam boiler dan meningkatkan efisiensi air dan menghindari korosi pada pipa-
pipa yang dilaluinya.
2. Setalah diproses di deaerator, kemudian air dipompakan ke economizer menggunakan
feeding pump. Pemanasan di dalam economizer menggunakan gas buang yang berasal dari dalam
boiler. Gas panas tersebut hanya diset melalui economizer sebelum dibuang melalui chimney. Tujuan
gas panas dialirkan melalui economizer hanyalah untuk pemanasan pembantu untuk air yang akan
dipanaskan di boiler.
3. Setelah air dipanaskan melalui economizer, maka air tadi akan dialirkan ke drum boiler
dengan tujuan sebagai tempat penyimpanan sementara untuk air sebelum dibakar di boiler.
4. Air di dalam drum boiler merupakan air yang sudah panas yang bersuhu sekitar 165-180˚C
yang akan segera dibakar di dalam boiler untuk mengubah air menjadi steam.
5. Setelah dibakar di dalam boiler, air tadi berubah menjadi steam tapi belum bisa digunakan
disebabkan air masih menjadi steam basah, oleh sebab itu steam basah tersebut dialirkan ke
superheater dengan tujuan untuk meningkatkan suhu dan mengubah steam basah menjadi steam
kering.
Steam yang dihasilkan oleh boiler langsung disalurkan ke alat proses yang membutuhkan steam. Alat
proses itu disebut dengan konsumen steam. Konsumen steam bisa berupa heat exchanger, steam
masuk melalui shell-shell di dalam heat exchanger. Kemudian terdapat seam trap yang berfungsi
membuang kondensat saat terbentuk, menghindari steam keluar, memungkinkan membuang udara
dan gas lain yang tidak terkondensasi. Selanjutnya steam yang keluar dari alat proses di
kondensasikan dan di pompakan ke deaerator. Dari deaerator umpan di pompakan kembali ke dalam
boiler. Begitu selanjutnya siklus distribusi steam (Maspaung, 2016).
Berikut ini adalah faktor-faktor yang mempengaruhi effisiensi distribusi steam (Maspaung,2016):
Kebocoran steam
Penggunaan dry steam
Penggunaan dry steam sangat bermanfaat karena transfer panas menjadi cepat dan teratur.
Tekanan Uap. Gunakan uap pada tekanan serendah mungkin saat penggunaan steam.
Isolasi pipa dan peralatan proses panas. Hal ini untuk mencegah terjadinya kebocoran steam,
menghindari adanya kerugian panas dan steam.
Hambatan perpindahan panas (Kerak atau kotoran, Kondensat dll). Adanya hambatan ini
membuat distribusi steam kurang lancar, bisa juga hambatan ini merusak kualitas steam.
Pemanfaatan Kondensat. Kondensat dapat digunakan untuk mengoptimalkan energi termal,
di gunakan untuk recovery.
Pemanfaatan Flash steam.
Pemilihan dan pemeliharaan steam traps
Ukuran pipa steam dan kondensat yang sesuai.
BOILER DAN JENIS-JENISNYA
BOILER
Boiler merupakan suatu peralatan yang digunakan untuk menghasilkan steam (uap) dalam berbagai
keperluan. Air di dalam boiler dipanaskan oleh panas dari hasil pembakaran bahan bakar (sumber
panas lainnya) sehingga terjadi perpindahan panas dari sumber panas tersebut ke air yang
mengakibatkan air tersebut menjadi panas atau berubah wujud menjadi uap. Air yang lebih panas
memiliki berat jenis yang lebih rendah dibanding dengan air yang lebih dingin, sehingga terjadi
perubahan berat jenis air di dalam boiler. Air yang memiliki berat jenis yang lebih kecil akan naik, dan
sebaliknya air yang memiliki berat jenis yang lebih tinggi akan turun ke dasar (MF
Syahputra.2010).Sistem boiler terdiri dari: sistem air umpan, sistem steam dan sistem bahan bakar.
Sistem air umpan menyediakan air untuk boiler secara otomatis sesuai dengan kebutuhan steam.
Berbagai kran disediakan untuk keperluan perawatan dan perbaikan. Sistem steam mengumpulkan
dan mengontrol produksi steam dalam boiler. Steam dialirkan melalui sistem pemipaan ke titik
pengguna. Pada keseluruhan sistem, tekanan steam diatur menggunakan kran dan dipantau dengan
alat pemantau tekanan. Sistem bahan bakar adalah semua peralatan yang digunakan untuk
menyediakan bahan bakar untuk menghasilkan panas yang dibutuhkan. Peralatan yang diperlukan
pada sistem bahan bakar tergantung pada jenis bahan bakar yang digunakan pada sistem (MF
Syahputra.2010).
Prinsip kerja dari boiler (Saturated steam) bisa dilihat pada gambar di bawah ini.
Prinsip Kerja:
Air Umpan setelah melalui proses pretreatment di softener atau air condensate dipompakan
ke economizer.
Selanjutnya air umpan masuk ke dalam ketel tapi sebelumnya diberikan chemichal sesuai
dosis yang ditentukan.
Setelah itu air umpan yang mengalami pemanasan didalam ketel uap berubah fasa menjadi
steam dan siap didistribusikan.
Setelah steam berubah fasa kembali menjadi air (air condensat) maka bisa kembali
dipompakan kedalam ketel kembali. Air make up hanya digunakan untuk menggantikan
hilangnya air akibat proses blowdown (Kurniawan.2013).
Pada fire tube boiler, gas panas melewati pipa-pipa dan air umpan boiler ada didalam shell untuk
dirubah menjadi steam. Fire tube boilers biasanya digunakan untuk kapasitas steam yang relative
kecil dengan tekanan steam rendah sampai sedang. Sebagai pedoman, fire tube boilers kompetitif
untuk kecepatan steam sampai 12.000 kg/jam dengan tekanan sampai 18 kg/cm2. Fire tube boilers
dapat menggunakan bahan bakar minyak bakar, gas atau bahan bakar padat dalam operasinya.
Untuk alasan ekonomis, sebagian besar fire tube boilers dikonstruksi sebagai “paket”boiler (dirakit
oleh pabrik) untuk semua bahan bakar.
Cara kerja :
Proses pengapian terjadi didalam pipa, kemudian panas yang dihasilkan dihantarkan langsung
kedalam boiler yang berisi air. Besar dan konstruksi boiler mempengaruhi kapasitas dan tekanan yang
dihasilkan boiler tersebut (Kurniawan.2013).
Kelebihan:
Proses pemasangan cukup mudah dan tidak memerlukan pengaturan yang khusus, tidak
membutuhkan area yang besar dan memiliki biaya yang murah.
Kekurangan :
Memiliki tempat pembakaran yang sulit dijangkau saat hendak dibersihkan, kapasitas steam yang
rendah dan kurang efisien karena banyak kalor yang terbuang sia-sia.
Pada water tube boiler, air umpan boiler mengalir melalui pipa-pipa masuk kedalam drum. Air
yang tersirkulasi dipanaskan oleh gas pembakar membentuk steam pada daerah uap dalam drum.
Boiler ini dipilih jika kebutuhan steam dan tekanan steam sangat tinggi seperti pada kasus boiler
untuk pembangkit tenaga.
Water tube boiler yang sangat modern dirancang dengan kapasitas steam antara 4.500 –
12.000 kg/jam, dengan tekanan sangat tinggi. Banyak water tube boilers yang dikonstruksi secara
paket jika digunakan bahan bakar minyak bakar dan gas. Untuk water tube yang menggunakan bahan
bakar padat, tidak umum dirancang secara paket.
Karakteristik water tube boilers sebagai berikut :
Forced, induced dan balanced draft membantu untuk meningkatkan efisiensi pembakaran
Kurang toleran terhadap kualitas air yang dihasilkan dari plant pengolahan air.
Memungkinkan untuk tingkat efisiensi panas yang lebih tinggi.
Cara Kerja :
proses pengapian terjadi diluar pipa, kemudian panas yang dihasilkan memanaskan pipa yang berisi
air dan sebelumnya air tersebut dikondisikan terlebih dahulu melalui economizer, kemudian steam
yang dihasilkan terlebih dahulu dikumpulkan di dalam sebuah steam-drum. Sampai tekanan dan
temperatur sesuai, melalui tahap secondary superheater dan primary superheater baru steam
dilepaskan ke pipa utama distribusi. Didalam pipa air, air yang mengalir harus dikondisikan terhadap
mineral atau kandungan lainnya yang larut di dalam air tesebut. Hal ini merupakan faktor utama yang
harus diperhatikan terhadap tipe ini (Kurniawan.2013).
Kelebihan:
Memiliki kapasitas steam yang besar, niali efesiensi relatif lebih tinggi dan tungku pembakaran
mudah untuk dijangkau saat akan dibersihkan.
Kekurangan:
Biaya investasi awal cukup mahal, membutuhkan area yang luas dan membutuhkan komponen
tambahan dalam hal penanganan air.
Packaged Boiler
Disebut boiler paket sebab sudah tersedia sebagai paket yang lengkap. Pada saat dikirim ke pabrik,
hanya memerlukan pipa steam, pipa air, suplai bahan bakar dan sambungan listrik untuk dapat
beroperasi. Paket boiler biasanya merupakan tipe shell and tube dengan rancangan fire tube dengan
transfer panas baik radiasi maupun konveksi yang tinggi.
Kecilnya ruang pembakaran dan tingginya panas yang dilepas menghasilkan penguapan yang
lebih cepat.
Banyaknya jumlah pipa yang berdiameter kecil membuatnya memiliki perpindahan panas konvektif
yang baik.
Sistim forced atau induced draft menghasilkan efisiensi pembakaran yang baik.
Boiler tersebut dikelompokkan berdasarkan jumlah pass nya – yaitu berapa kali gas
pembakaran melintasi boiler. Ruang pembakaran ditempatkan sebagai lintasan pertama setelah
itu kemudian satu, dua, atau tiga set pipa api. Boiler yang paling umum dalam kelas ini adalah unit
tiga pass/ lintasan dengan dua set fire-tube/ pipa api dan gas buangnya keluar dari belakang boiler.
Fluidized bed combustion (FBC) muncul sebagai alternatif dan memiliki keuntungan yang signifikan
atas sistem pembakaran konvensional dan memberikan banyak keuntungan - desain kompak boiler,
fleksibilitas bahan bakar, efisiensi pembakaran yang lebih tinggi dan mengurangi emisi polutan
berbahaya seperti SOx dan NOx. Bahan bakar dibakar di boiler ini termasuk batubara, sekam padi,
ampas tebu & limbah pertanian lainnya. Boiler fluidized bed memiliki kapasitas yang luas sebarannya
0,5 T / jam sampai lebih dari 100 T / jam.
Ketika udara atau gas merata dilewatkan keatas melalui bed halus dibagi partikel padat seperti pasir
didukung pada mesh halus, partikel tidak terganggu pada kecepatan yang rendah. Begitu kecepatan
udaranya berangsur-angsur naik, terbentuklah suatu keadaan dimana partikel tersuspensi dalam
aliran udara - bed tersebut disebut "fluidized".
Dengan peningkatan lebih lanjut dalam kecepatan udara, ada pembentukan gelembung, turbulensi
yang kuat, pencampuran cepat dan pembentukan permukaan tidur didefinisikan padat. Bed partikel
padat menampilkan sifat dari cairan mendidih dan penampilan cairan - "menggelegak fluidized bed".
Jika partikel pasir dalam keadaan fluidized dipanaskan dengan suhu pengapian batubara, dan batu
bara disuntikkan terus ke boiler fluidized bed, batubara akan membakar dengan cepat dan boiler
fluidized bed mencapai suhu yang seragam. Pembakaran dengan fluidized bed (FBC) terjadi pada
sekitar 840OC hingga 950. Karena suhu ini jauh di bawah suhu fusi abu, mencair abu dan masalah
terkait dihindari.
Semakin rendah suhu pembakaran dicapai karena koefisien tinggi perpindahan panas akibat
pencampuran cepat dalam fluidized bed dan ekstraksi panas yang efektif dari boiler fluidized bed
melalui di-bed tabung perpindahan panas dan dinding dari boiler fluidized bed. Kecepatan gas
dipertahankan antara kecepatan fluidisasi minimum dan kecepatan masuk partikel. Hal ini
memastikan operasi yang stabil dari tempat tidur dan menghindari terbawanya partikel dalam aliran
gas.
Gambar 5. Fluidized Bed Boiler
Stokers diklasifikasikan menurut metode memasukan bahan bakar ke tungku dan oleh jenis grate.
Klasifikasi utama adalah spreader stoker dan chain-gate atau traveling-gate stoker.
Stokers Spreader
Stokers Spreader memanfaatkan kombinasi pembakaran suspensi dan pembakaran grate. Batubara
terus dimasukkan ke dalam tungku di atas tempat tidur pembakaran batubara. Denda batubara
dibakar dalam suspensi; partikel yang lebih besar jatuh ke perapian, di mana mereka dibakar di
tempat batubara tipis, pembakaran cepat. Metode pembakaran ini memberikan fleksibilitas yang
baik terhadap fluktuasi beban, dikarenakan penyalaan hampir seketika saat laju pembakaran
meningkat. Disebabkan oleh spreader stoker lebih disukai dibanding jenis stoker lainnya dalam
berbagai aplikasi industri.
Chain-grate or traveling-grate stoker
Batubara diumpankan ke ujung grate baja yang bergerak. Sebagai bergerak jeruji sepanjang tungku,
batu bara membakar sebelum mengantar pada akhir sebagai abu. Beberapa tingkat keterampilan
diperlukan, terutama ketika menyiapkan grate, damper udara dan baffle, untuk memastikan
pembakaran bersih meninggalkan minimum karbon yang tidak terbakar dalam abu. Hopper
batubara-feed berjalan di sepanjang akhir batubara-umpan keseluruh tungku. Sebuah gerbang
batubara digunakan untuk mengontrol tingkat di mana batubara dimasukkan ke tungku dengan
mengontrol ketebalan bed bahan bakar. Batubara harus seragam dalam ukuran besar tidak akan
terbakar sepenuhnya pada saat mereka mencapai akhir perapian.
Gambar 7. View of Traveling Grate Boiler
Dimanapun waste heat tersedia pada suhu menengah atau tinggi, boiler limbah panas dapat
dipasang secara ekonomi. Dimanapun permintaan steam lebih dari uap yang dihasilkan selama waste
heat, pembakar bahan bakar tambahan juga digunakan. Jika tidak ada penggunaan langsung dari
uap, uap dapat dibiarkan ke bawah dalam uap turbine- genset dan listrik yang dihasilkan dari itu. Hal
ini banyak digunakan dalam pemulihan panas dari gas buang dari turbin gas dan mesin diesel.
Siklus tertutup operasi dengan minimal kerugian dibandingkan dengan steam boiler.
Bebas-bertekanan sistem operasi bahkan untuk suhu sekitar 250 0C dibandingkan 40 kg/cm2 uap
persyaratan tekanan dalam sistem Uap yang sama.
Baik efisiensi thermal sebagai kerugian akibat pukulan turun, condensate drain dan flash steam tidak
ada dalam sistem pemanas cairan thermic.
Ekonomi keseluruhan thermic pemanas cairan akan tergantung pada dasar aplikasi dan referensi
tertentu. Batu bara dipecat fluida termis pemanas dengan berbagai 55-65 persen efisiensi termal
dapat menguntungkan dibandingkan dengan kebanyakan boiler. Penggabungan perangkat pemulihan
panas di lintasan gas buang meningkatkan tingkat efisiensi termal lebih lanjut.
Bagian-Bagian Boiler
Boiler memiliki bagian-bagian yang peranannya penting dalam pembuatan steam seperti berikut ini
(Kusumadewi,2015):
Radiasi, pancaran panas dari api atau gas yang akan menempel pada dinding tube.
Konduksi, panas mengalir melalui hantaran dari sisi pipa yang menerima panas ke dalam sisi pipa
yang memberi panas pada air.
Konveksi. panas yang terjadi dengan cara merambat melalui molekul-molekul air sehingga panas
akan menyebar kesetiap aliran air.
Didalam furnace, ruang bakar terbagi atas dua bagian yaitu ruang pertama dan ruang kedua. Pada
ruang pertama akan tejadi pemanasan langsung dari sumber panas yang diterima langsung oleh tube
(pipa), sedangkan pada ruang kedua yang terdapat pada bagian atas, panas yang diterima berasal
dari udara panas hasil pembakaran dari ruang pertama.
3). Superheater
Steam yang dihasilkan dari steam drum merupakan steam basah. Untuk bisa digunakan pada turbin
atau keperluan industri lain, maka steam harus diubah menjadi steam kering. Tempat mengubah
steam basah menjadi steam kering inilah yang disebut dengan superheater. Proses yang terdapat
dalam superheater adalah pemanasan dengan suhu 260°C sampai 350°C, sehingga uap benar-benar
menjadi kering.
Air yang dimasukkan ke system boiler untuk dirubah menjadi steam disebut air umpan boiler. Air
umpan berasal dari kondensat atau air baku yang sudah diproses yang harus diumpankan dari luar
ruang boiler dan alat proses (Djokostyardjo,1990).
Proses pembuatan steam atau mekanisme kerja boiler adalah sebagai berikut (Sihombing, 2009) :
1. Air yang telah difiltasi melalui reverse osmosis kemudian kemudian dialirkan ke deaerator
untuk dipanaskan awal dan memisahkan logam atau mineral yang berada di dalam air, dengan tujuan
agar air dapat dibakar dalam boiler dan meningkatkan efisiensi air dan menghindari korosi pada pipa-
pipa yang dilaluinya.
2. Setalah diproses di deaerator, kemudian air dipompakan ke economizer menggunakan
feeding pump. Pemanasan di dalam economizer menggunakan gas buang yang berasal dari dalam
boiler. Gas panas tersebut hanya diset melalui economizer sebelum dibuang melalui chimney. Tujuan
gas panas dialirkan melalui economizer hanyalah untuk pemanasan pembantu untuk air yang akan
dipanaskan di boiler.
3. Setelah air dipanaskan melalui economizer, maka air tadi akan dialirkan ke drum boiler
dengan tujuan sebagai tempat penyimpanan sementara untuk air sebelum dibakar di boiler.
4. Air di dalam drum boiler merupakan air yang sudah panas yang bersuhu sekitar 165-180˚C
yang akan segera dibakar di dalam boiler untuk mengubah air menjadi steam.
5. Setelah dibakar di dalam boiler, air tadi berubah menjadi steam tapi belum bisa digunakan
disebabkan air masih menjadi steam basah, oleh sebab itu steam basah tersebut dialirkan ke
superheater dengan tujuan untuk meningkatkan suhu dan mengubah steam basah menjadi steam
kering.
Steam yang dihasilkan oleh boiler langsung disalurkan ke alat proses yang membutuhkan steam. Alat
proses itu disebut dengan konsumen steam. Konsumen steam bisa berupa heat exchanger, steam
masuk melalui shell-shell di dalam heat exchanger. Kemudian terdapat seam trap yang berfungsi
membuang kondensat saat terbentuk, menghindari steam keluar, memungkinkan membuang udara
dan gas lain yang tidak terkondensasi. Selanjutnya steam yang keluar dari alat proses di
kondensasikan dan di pompakan ke deaerator. Dari deaerator umpan di pompakan kembali ke dalam
boiler. Begitu selanjutnya siklus distribusi steam (Maspaung, 2016).
Berikut ini adalah faktor-faktor yang mempengaruhi effisiensi distribusi steam (Maspaung,2016):
Kebocoran steam
Penggunaan dry steam
Penggunaan dry steam sangat bermanfaat karena transfer panas menjadi cepat dan teratur.
Tekanan Uap. Gunakan uap pada tekanan serendah mungkin saat penggunaan steam.
Isolasi pipa dan peralatan proses panas. Hal ini untuk mencegah terjadinya kebocoran steam,
menghindari adanya kerugian panas dan steam.
Hambatan perpindahan panas (Kerak atau kotoran, Kondensat dll). Adanya hambatan ini
membuat distribusi steam kurang lancar, bisa juga hambatan ini merusak kualitas steam.
Pemanfaatan Kondensat. Kondensat dapat digunakan untuk mengoptimalkan energi termal,
di gunakan untuk recovery.
Pemanfaatan Flash steam.
Pemilihan dan pemeliharaan steam traps
Ukuran pipa steam dan kondensat yang sesuai.
Pengertian Steam dan Manfaatnya
Steam merupakan gas ideal yang tidak terlihat yang dihasilkan dengan penambahan panas dalam air
(penguapan). Steam memiliki kandungan panas kondensasi yang besar dan banyak digunakan dalam
pabrik kimia (Woodruff dkk,2005).
Steam dapat diidentifikasi dengan mengetahui tekanan dan temperaturnya. Umpan yang akan
dirubah menjadi steam berupa air, untuk mengubahnya diperlukan panas sebagai berikut (Woodruff
dkk,2005):
Panas sensibel cairan, yaitu sejumlah panas yang diperlukan untuk memanaskan air tersebut
dari 0°C ke temperatur didih.
Panas penguapan, yaitu sejumlah panas yang diperlukan untuk menguapkan air tersebut
pada temperatur didih tanpa terjadi kenaikan temperatur.
Panas steam lanjut, yaitu panas yang diperlukan untuk pemanasan saturated steam sehingga
menjadi superheated steam.
Steam banyak dimanfaatkan dalam industri kimia diantaranya sebagai berikut (Woodruff,2005):
Steam sebagai pemanas secara langsung atau tidak langsung dalam alat-alat industri seperti
heat exchanger, menara distilasi, evaporator, dan lain-lain.
Contoh industri yang menggunakan steam diantaranya industri kertas, karet, gula, dan oil refinery.
Suatu proses yang menggunakan steam memiliki beberapa kelebihan diantaranya (Woodruff,2005):
Pengontrolan suhu relatif rendah
Macam-Macam Steam
Steam dapat dibedakan menjadi tiga macam, yaitu sebagai berikut (Kusumadewi,2015):
1. Saturated steam yaitu uap air yang terbentuk pada suhu didih dan tidak mengandung titik-
titik air maupun gas asing.
2. Wet steam yaitu campuran dari saturated steam dan titik-titik air yang terdistribusi merata.
Steam ini terbentuk misalnya pada waktu air mendidih dengan sangat kuat atau karena
kondensasi sebagian dari uap jenuh.
3. Superheated steam yaitu uap yang dipanaskan melebihi temperatur didihnya. Pada tekanan
yang sama steam ini memiliki kerapatan lebih rendah daripada saturated steam
Steam dibuat dari bahan air segar menggunakan sebuah alat yang disebut boiler. Boiler merupakan
alat yang digunakan untuk menghasilkan uap atau steam untuk berbagai keperluan. Sebelum
diuapkan, air umpan yang digunakan harus melalui proses demineralisasi untuk mensterilkan air dari
mineral-mineral yang menghambat kerja boiler. Apabila tidak dilakukan proses tersebut maka
efisiensi boiler berkurang dan steam yang dihasilkan kualitasnya kurang maksimal. Untuk
meningkatkan efisiensi kerja boiler bisa menggunakan economizer. (Payne dan Richard, 1996).
Berikut ini adalah macam-macam boiler yang menyesuaikan kebutuhan masing-masing pengguna:
Water Tube BoilerPrinsip kerja water tube boiler merupakan kebalikan dari fire tube boiler. Air
mengalir melalui tube-tube yang terletak di dalam gas panas yang dihasilkan dari pembakaran.
Ketika air dalam tube-tube mendapat pemanasan, air dalam pipa mendidih sehingga air
mengandung uap dan berat jenis air berkurang, air dan uap mengalir ke atas. Air yang densitasnya
lebih besar akan ke bawah dan menggantikan air yang menuju ke atas. Pada drum atas, air dan uap
berpisah menjadi uap jenuh, kemudian uap jenuh disalurkan ke superheater untuk diubah menjadi
uap panas lanjut. Uap panas lanjut yang keluar dari superheater inilah yang akan dimanfaatkan
sebagai penggerak mesin uap. Bahan bakar yang digunakan bisa gas atau padatan fuel. Water tube
boiler juga tersedia dalam berbagai variasi model.
Forced, induced dan balanced draft membantu untuk meningkatkan efisiensi pembakaran,
sehingga efisiensi tinggi.
Kurang direkomendasikan terhadap kualitas air yang dihasilkan dari unit pengolahan air.
Macam-macam Boiler
Macam-macam boiler berdasarkan bahan bakar yang digunakan dibedakan menjadi 4 macam
sebagai berikut (Djokosetyardjo,1990):
Solid Fuel
Pemanasan pada boiler akibat pembakaran antara bahan bakar padat (batu bara, sampah kota, kayu)
dengan oksigen dan sumber panas.
Oil Fuel
Pemanasan pada boiler akibat pembakaran antara bahan bakar minyak dengan oksigen dan sumber
panas.
Gaseous Fuel
Pemanasan pada boiler akibat pembakaran antara LNG (Liquid Natural Gas) dengan oksigen dan
sumber panas. Harga bahan baku pembakarannya lebih murah diantara semua boiler yang lain.
Electric
Pemanasan pada boiler akibat sumber listrik yang menyuplai sumber panas.
Macam-macam boiler berdasarkan kegunaannya dibedakan menjadi 5 macam yaitu sebagai berikut
(Djokosetyardjo,1990):
Power Boiler
Steam yang digunakan pada power boiler ini berasal dari tipe water tube boiler. Steam yang
dihasilkan mempunyai tekanan dan kapasitas besar, sehingga mampu menggerakan turbin dan
menghasilkan listrik dari generator. Kegunaan yaitu sebagai penghasil steam untuk menghasilkan
listrik dari generator.
Industrial Boiler
Steam yang digunakan pada idustrial boiler ini berasal dari tipe water tube boiler atau fire tube
boiler. Kegunaannya untuk menjalankan proses industri dan sebagai tambahan panas. Steam
memiliki tekanan yang sedang dan kapasitas yang besar.
Commercial Boiler
Steam yang digunakan pada commercial boiler ini berasal dari tipe water tube boiler atau fire tube
boiler. Kegunaannya untuk menjalankan proses operasi komersial. Tekanan yang dimiliki steam
rendah.
Residential Boiler
Steam yang digunakan pada residential boiler ini berasal dari tipe fire tube boiler. Boiler ini memiliki
tekanan dan kapasitas yang rendah, biasanya digunakan pada perumahan.
Pressure (Tekanan)
Tekanan merupakan faktor penting dalam proses boiler. Tekanan proses yang diinginkan harus
dijaga untuk menjamin kebutuhan steam sesuai tekanan yang dibutuhkan.
Temperature (Suhu)
Temperatur adalah panas kerja dalam boiler. Temperatur ini berbanding lurus dengan tekanan
yang dihasilkan. Temperatur dan tekanan ini juga yang mencerminkan steam yang dihasilkan.
Secara umum ada dua jenis steam yang dihasilkan:
Saturated steam
Temperature yang dihasilkan segaris dengan tekanan
Superheated steam
Temperatur yang dihasilkan sesuai dengan design yang direncanakan pada boiler.
Kapasitas
Kapasitas adalah kemampuan boiler untuk menghasilkan uap dalam satuan berat per waktu.
Untuk mendapatkan kapasitas boiler, harus mengetahui effisiensi dari boiler dan jumlah bahan
bakar yang digunakan.
Kalor yang diberikan bahan bakar x effisiensi = Kalor yang diterima fluida untuk menjadi uap
M DH = h HV
Keterangan:
M = Kapasitas, Kg/Jam
Neraca panas merupakan keseimbangan energi masuk dan yang keluar. Berikut ilustrasi proses
termodinamika.
Sebagai contoh, berikut gambaran kehilangan energi yang mungkin dalam proses boiler dengan
menggunakan bahan bakar batu bara.
Kehilangan energi dalam proses bisa dikategorikan kehilangan yang bisa dihindari dan yang
tidak dapat dihindari. Pengkajian energi harus mengurangi kehilangan yang dapat dihindari,
dengan meningkatkan efisiensi energi. Kehilangan dapat diminimalisasi:
Suhu gas cerobong dioptimalkan dengan pemeliharaan yang baik, teknologi boiler yang baik, dan
lain-lain.
– Kehilangan karena bahan bakar yang tidak terbakar dalam ruang pembakaran,
mengoptimalkan operasi dan pemeliharaan.
– Kehilangan waktu blowdown, pengolahan air umpan yang baik dan daur ulang kondensat.
– Kehilangan kondensat.
Q in = Q use + Q loss
Blowdown Boiler
Jika air dididihkan dan dihasilkan steam, padatan terlarut yang terdapat dalam air akan tinggal
di boiler. Jika banyak padatan terdapat dalam air umpan, padatan tersebut akan terpekatkan dan
akhirnya akan mencapai suatu tingkat dimana kelarutannya dalam air akan terlampaui dan akan
mengendap dari larutan. Diatas tingkat konsenrasi tertentu, padatan tersebut mendorong
terbentuknya busa dan menyebabkan terbawanya air ke steam. Endapan juga mengakibatkan
terbentunya kerak di bagian dalam boiler, mengakibatan pemanasan setempat menjadi berlebih
dan akhirnya menyebabkan kegagalan pada pipa boiler. Oleh karena itu penting untuk
mengendalikan tingkat konsentrasi padatan dalam suspensi dan yang terlarut dalam air yang
dididihkan. Hal ini dicapai oleh proses yang disebut ‘blowing down’, dimana sejumlah tertentu
volume air dikeluarkan dan secara otomatis diganti dengan air umpan – dengan demikian akan
tercapai tingkat optimum total padatan terlarut (TDS) dalam air boiler dan membuang padatan
yang sudah rata keluar dari larutan dan yangcenderung tinggal pada permukaan
boiler. Blowdown penting untuk melindungi permukaan penukar panas pada boiler. Walau
demikian, Blowdown dapat menjadi sumber kehilangan panas yang cukup berarti, jika
dilakukan secara tidak benar.
Blowdown yang sewaktu-waktu/intermittent
Blowdown yang sewaktu-waktu dioperasikan secara manual menggunakan sebuah kran yang
dipasang pada pipa pembuangan pada titik terendah shell boiler untuk mengurangi parameter
(TDS atau konduktivitas, pH, konsentasi Silica dan Fosfat) dalam batasan yang sudah ditentukan
sehingga tidak berpengaruh buruk terhadap kualitas steam. Jenis blowdown ini juga
merupakan metode efektif untuk membuang padatan yang telah lepas dari larutan dan
menempati pipa api dan permukaan dalam shell boiler. Pada blowdown yang sewaktu-waktu,
jalur yang berdiameter besar dibuka untuk waktu sesaat, yang didasarkan pada aturan umum
misalnya “sekali dalam satu shift untuk waktu 2 menit”. Blowdown yang sewaktu-waktu
menyebabkan harus ditambahkannya air umpan ke dalam boiler dalam jumlah besar dan dalam
waktu singkat, sehingga membutuhkan pompa air umpan yang lebih besar daripada jika
digunakan blowdown kontinyu. Juga, tingkat TDS akan bervariasi, sehingga menyebabkan
fluktuasi ketinggian air dalam boiler karena perubahan dalam ukuran gelembung steam dan
distribusinya yang setara dengan perubahan dalam konsentrasi padatan. Juga, sejumlah besar
energi panas hilang karena blowdown yang sewaktu-waktu.
Blowdown yang kontinyu
Terdapat pemasukan yang tetap dan konstan sejumlah kecil aliran air boiler kotor, dengan
penggantian aliran masuk air umpan yang tetap dan konstan. Hal ini menjamin TDS yang
konstan dan kemurnian steam pada beban steam tertentu. Kran blowdown hanya diatur satu
kali untuk kondisi tertentu, dan tidak perlu lagi diatur setiap saat oleh operator. Walaupun
sejumlah besar panas diambil dari boiler, tetapi ada peluang pemanfaatan kembali panas ini
dengan mengembuskannya ke flash tank dan mengasilkan flash steam. Flash steam ini
dapat digunakan untuk pemanasan awal air umpan boiler. Jenis blowdown ini umum
digunakan pada boiler bertekanan tinggi. Residu blowdown yang meninggalkan flash
vessel masih mengandung energi panas yang cukup dan dapat dimanfaatkan kembali dengan
me masang sebuah penukar panas untuk memanaskan air make-up dingin. Sistim pemanfaatan
kembali panas blowdown yang lengkap seperti yang digambarkan dibawah dapat
memanfaatkan hingga 80% energi yang terkandung dalam blowdown, yang dapat diterapkan
pada berbagai ukuran boiler steam dengan waktu
pengembalian modalnya bisa kembali hanya dalam beberapa bulan.
Kalsium dan magnesium sulfat, klorida dan nitrat, dll, jika dilarutkan dalam air secara kimiawi
akan menjadi netral dan dikenal dengan kesadahan non-alkali. Bahan tersebut disebut bahan
kimia sadah permanen dan membentuk kerak yang keras pada permukaan boiler yang sulit
dihilangkan. Bahan kimia sadah non-alkali terlepas dari larutannya karena penurunan daya larut
dengan meningkatnya suhu, dengan pemekatan karena penguapan yang berlangsung dalam
boiler, atau dengan perubahan bahan kimia menjadi senyawa yang kurang larut.
Silika
Keberadaan silika dalam air boiler dapat meningkatkan pembentukan kerak silika yang keras.
Silika dapat juga berinteraksi dengan garam kalsium dan magnesium, membentuk silikat
kalsium dan magnesium dengan daya konduktivitas panas yang rendah. Silika dapat
meningkatkan endapan pada sirip turbin, setelah terbawa dalam bentuk tetesan air
dalam steam, atau dalam bentuk yang mudah menguap dalam steam pada tekanan tinggi. Dua
jenis utama pengolahan air boiler adalah pengolahan air internal dan eksternal.
The main advantages of fire tube boilers are their relative simplicity and cost-effectiveness for small-scale steam production, with typical capacities up to 12,000 kg/hr under low to medium pressures . They offer ease of operation and maintenance and can use various fuels such as oil, gas, or solid fuels . However, fire tube boilers are less efficient compared to water tube boilers and are not suited for high-pressure applications. The smaller boiler volume limits capacity and the quality of steam produced may not meet certain industrial standards .
Stoker-fired boilers utilize mechanical feeding of fuel onto a moving grate or into the furnace, where it undergoes partial combustion on the grate and partial suspension combustion . The spreader stoker, for example, accommodates coal fines in suspension while allowing larger particles to combust on a grate, offering flexibility in fuel size and combustion rate adjustments . In contrast, fluidized bed combustion (FBC) suspends fuel particles in an upward airflow, facilitating uniform mixing and combustion control through turbulence and fluid-like behavior of particles, independently of physical grate setup . FBC closely manages combustion temperatures and emissions, offering more efficient control of the combustion process compared to stoker mechanisms .
Water tube boilers operate with water flowing inside tubes that are heated externally by the combustion gases, as opposed to fire tube boilers where gases flow through tubes immersed in water . This design allows water tube boilers to withstand high pressures and temperatures, making them suitable for power generation and high-demand industrial processes . The structural difference primarily lies in the arrangement of the tubes, which are more numerous and of smaller diameter in water tube boilers, facilitating better heat exchange and faster steam production . Additionally, water tube boilers offer higher thermal efficiency and the ability to generate greater volumes of steam .
Chemical treatment of feedwater is essential to prevent mineral deposits and corrosion within the boiler, both of which can significantly reduce its efficiency and lead to damage. Demineralization removes harmful minerals that can form scale on heat exchange surfaces, reducing heat transfer efficiency and increasing fuel consumption . Moreover, improper water chemistry can cause corrosion, leading to leaks or failure of boiler components. Therefore, maintaining the right chemical balance in feedwater ensures optimal operating conditions and prolongs the boiler's service life .
Electric boilers generally have a lower environmental impact compared to fossil fuel-based boilers as they eliminate emissions associated with combustion products like CO2, SOx, and NOx . They also reduce waste and pollution due to their reliance on electrical energy, which, when sourced from renewable means, further minimizes their carbon footprint. However, the environmental implications depend heavily on the electricity source; if it is generated from fossil fuels, the impact could offset the inherent benefits. In contrast, fossil fuel boilers contribute significantly to air pollution and greenhouse gas emissions, affecting both air quality and climate change . This comparison illustrates the relative environmental advantages of electric over traditional fossil fuel boilers, emphasizing the benefit of renewable energy integration.
An economizer in a steam boiler system serves as a heat exchanger that preheats feedwater using residual heat from the flue gases leaving the boiler, which would otherwise be wasted. By preheating feedwater, the economizer reduces the energy required to raise the temperature of water to the boiling point in the boiler, enhancing the overall efficiency of the steam generation process. This leads to fuel savings and reduces operational costs, thus improving the boiler's efficiency .
Packaged boilers enhance operational efficiency through their compact design, which includes pre-assembled systems that require only connections for steam, water, fuel supply, and electricity to operate. This configuration reduces installation costs and time . They typically feature a shell-and-tube design with multiple passes, allowing high heat transfer efficiency due to increased convective heat exchange. The efficient use of space and materials in these boilers also contributes to rapid steaming and higher thermal efficiency than traditional boilers .
Fluidized bed combustion (FBC) operates by forcing air or gas upwards through a bed of solid particles, such as sand, at a velocity that suspends these particles in the air stream, forming a fluid-like state called "fluidized bed." This state allows thorough mixing, creating strong turbulence and increased heat transfer efficiency . FBC is advantageous because it allows the combustion of a wide variety of fuels, including coal, rice husk, bagasse, and other agricultural wastes, with high combustion efficiency and reduced emissions of pollutants like SOx and NOx due to lower combustion temperatures (840°C to 950°C). This diversified fuel flexibility and reduced environmental impact make FBC a favorable method over conventional combustion systems.
Steam boilers incorporate several safety mechanisms to prevent pressure-related accidents. Key components include the safety valve (or relief valve), which automatically releases excess pressure to prevent ruptures by allowing steam to escape when pressure exceeds safe limits . Another safety feature is the water level sight glass, enabling operators to monitor and maintain proper water levels within the boiler, thus preventing conditions such as dry firing that could cause pressure build-up and failures . Regular blowdown procedures also play a critical role in maintaining safe pressure levels by removing sediments and maintaining water quality within the boiler .
Boiler construction varies based on operational pressure with distinct design and material requirements to withstand different levels of pressure. Low-pressure boilers, operating below 1 atm, are typically constructed with simpler designs using materials sufficient for moderate thermal and pressure tolerances . In contrast, high-pressure boilers, operating above 11 atm, require advanced materials and construction techniques to handle greater stresses, often featuring reinforced walls and high-grade alloys that resist corrosion and thermal fatigue . These structural nuances ensure safety, efficiency, and longevity corresponding to the boiler's pressure applications.