0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
95 tayangan17 halaman

Kekurangan Ruang Terbuka Hijau Sidoarjo

rth
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
95 tayangan17 halaman

Kekurangan Ruang Terbuka Hijau Sidoarjo

rth
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

BAB 1

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Ruang terbuka hijau adalah area memanjang/jalur dan/atau mengelompok, yang
penggunaannya lebih bersifat terbuka, tempat tumbuh tanaman, baik yang tumbuh secara
alamiah maupun yang sengaja ditanam. Dalam Undang-undang No. 26 tahun 2007 tentang
penataan ruang menyebutkan bahwa 30% wilayah kota harus berupa Ruang Terbuka Hijau
(RTH) yang terdiri dari 20% publik dan 10% privat. RTH publik adalah RTH yang dimiliki
dan dikelola oleh pemerintah daerah kota/kabupaten yang digunakan untuk kepentingan
masyarakat secara umum. Contoh RTH Publik adalah taman kota, hutan kota, sabuk hijau
(green belt), RTH di sekitar sungai, pemakaman, dan rel kereta api. Sedangkan RTH Privat
adalah RTH milik institusi tertentu atau orang perseorangan yang pemanfaatannya untuk
kalangan terbatas antara lain berupa kebun atau halaman rumah/gedung milik
masyarakat/swasta yang ditanami tumbuhan. Saat ini lahan perkotaan untuk ruang terbuka
hijau sangat minim sekali, karena banyaknya pembangunan industri maupun perumahan.
Salah satu masalah yang dialami adalah Sidoarjo. Masalah yang terjadi di Kabupaten
Sidoarjo yaitu kurangnya ketersediaan ruang terbuka hijau yang belum mencapai angka 30%.
Berdasarkan data Dinas Kebersihan dan Pertamanan dimana Kota Sidoarjo hanya memiliki
9,67% untuk RTH publik ,sedangkan RTH privat 6,74% sehingga ruang terbuka hijau (RTH)
yang dapat dinikmati masyarakat masih minim dibandingkan dengan luas wilayah Kota
Sidoarjo sekitar 634,38 km. Kepala Dinas Kebersihan dan Pertamanan (DKP) Sidoarjo
mengatakan masih kekurangan RTH yang bisa difungsikan untuk kegiatan masyarakat.
Sesuai aturan yang ada, daerah harus menerapkan 30 persen RTH dari luasan wilayah, 20
persen RTH yang bisa difungsikan untuk publik dan 10 persen RTH privat. Oleh karena itu
perlu adanya upaya untuk mencapai pemenuhan kekurangan RTH tersebut. Dalam makalah
ini akan dibahas bagaimana persebaran serta bagaimana usaha penanganan masalah
kekurangan RTH di Kabupaten Sidoarjo.

1.2 Rumusan Masalah


Adapun beberapa masalah yang akan di bahas dalam makalah ini adalah sebagai
berikut :
1. Apa definisi serta peran ruang terbuka hijau dalam perencanaan kota ?
2. Bagaimana persebaran ruang terbuka hijau di Kabupaten Sidoarjo ?
3. Bagaimana cara mengatasi kekurangan ruang terbuka hijau di Kabupaten Sidoarjo?

1.3 Tujuan
Adapun tujuan yang ingin dicapai dari pembuatan makalah ini yaitu sebagai berikut :
1. Mengetahui definisi, tujuan, dan fungsi ruang terbuka hijau
2. Mengetahui karakteristik ruang terbuka hijau
3. Mengetahui perubahan ruang terbuka hijau di Kabupaten Sidoarjo
4. Mengetahui persebaran ruang terbuka hijau di Kabupaten Sidoarjo
5. Mengetahui pemetaan dari persebaran ruang terbuka hijau di Kabupaten Sidoarjo

1.4 Ruang Lingkup Spasial


Ruang lingkup wilayah dalam studiini adalah Kabupaten Sidoarjo. Dimana
Kabupaten/Kota merupakan kawasan strategis dengan penataan ruangnya diprioritaskan
karena pengaruh sangat penting dalam lingkup Kabupaten/Kota terhadap ekonomi, sosial,
budaya, dan/atau lingkungan. Alasan pemilihan Kabupaten Sidoarjo ini karena masalah yang
terjadi di Kabupaten Sidoarjo yaitu kurangnya ketersediaan ruang terbuka hijau yang belum
mencapai angka 30%. Melihat fenomena tersebut maka melalui Undang-Undang No 23
Tahun 2014 tentang pemerintah daerah dimana masing-masing daerah diberi kewenangan
untuk mengurusi daerahnya, maka Dinas Kebersihan dan Pertamanan (DKP) yang sesuai
dengan peraturan Bupati Sidoarjo Nomor 52 tahun 2008 tentang rincian tugas, fungsi, dan
tata kerja dinas kebersihan dan pertamanan, melakukan beberapa hal untuk mengatasi
permasalahan kekurangan RTH di Kabupaten Sidoarjo dengan membangun beberapa taman
di Kabupaten Sidoarjo. Salah satu taman yang baru dibangun di Kabupaten Sidoarjo adalah
taman Abhirama yang dibangun sekitar tahun 2015.

1.5 Ruang Lingkup Kajian Lingkungan


Untuk mempermudah penulisan laporan ini dan agar lebih terarah dan sesuai target,
maka perlu kiranya dibuat suatu batasan masalah. Adapun ruang lingkup permasalahan yang
akan dibahas dalam penulisan laporan ini meliputi kajian lingkungan, yaitu :
1. Peneliti hanya membahas tentang Ruang Terbuka Hijau (RTH) yang ada di
Kabupaten Sidoarjo
2. Peneliti hanya mendapat informasi data melalui survey yang dilakukan di Kabupaten
Sidoarjo
BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Pengertian Ruang Terbuka Hijau


Secara umum ruang terbuka public (open space) diperkotaan terdiri dari ruang terbuka
hijau dan ruang terbuka non-hijau (Direktorat Jendral Departemen PU, 2006). Menurut SNI
Tata Cara Perencanaan Lingkungan Perumahan Di Perkotaan (2004) ruang terbuka
merupakan komponen berwawasan lingkungan, yang mempunyai arti sebagai suatu lansekap,
hardscape, taman atau ruang rekreasi dalam lingkup urban. Peran dan fungsi Ruang Terbuka
Hijau (RTH) ditetapkan dalam Instruksi Mendagri no. 4 tahun 1988, yang menyatakan
"Ruang terbuka hijau yang populasinya didominasi oleh penghijauan baik secara alamiah
atau budidaya tanaman, dalam pemanfataan danfungsinya adalah sebagai areal
berlangsungnya fungsi ekologis dan penyangga kehidupan wilayah perkotaan. Sedangkan
untuk Ruang Terbuka Hijau (RTH) adalah total area atau kawasan yang tertutupi hijau
tanaman dalam satu satuan luas tertentu baik yang tumbuh secara alami maupun yang
dibudidayakan (SNI Tata Cara Perencanaan Lingkungan Perumahan Di Perkotaan, 2004).
Ruang terbuka dapat berupa ruang terbuka yang diperkeras (paved) maupun ruang
terbuka biru (RTB) yang berupa permukaan sungai, danau maupun areal-areal yang
diperuntukkan sebagai kawasan genangan (retention basin). Ruang terbuka bisa diakses oleh
masyarakat baik secara langsung dalam kurun waktu terbatas maupun secara tidak langsung
dalam kurun waktu tidak tertentu. Ruang terbuka berfungsi sebagai ventilasi kota, dapat
berupa jalan, trotoar, ruang terbuka hijau, dan sebagainya. Ruang terbuka juga dapat diartikan
sebagai ruang interaksi seperti kebun binatang, taman rekreasi. Berdasarkan Rencana Aksi
Ruang Terbuka Hijau (2009), jika dilihat dari sifatnya, ruang terbuka dapat dibedakan
menjadi :
a. Ruang terbuka privat, memiliki batas waktu tertentu untuk mengaksesnya dan
kepemilikannya bersifat pribadi seperti, halaman rumah tinggal
b. Ruang terbuka semi privat, kepemilikannya pribadi tetapi dapat diakses langsung oleh
masyarakat seperti, Senayan, Ancol.
c. Ruang terbuka umum, kepemilikannya oleh pemerintah dan bisa diakses langsung oleh
masyarakat tanpa batas waktu tertentu seperi, alun-alun, trotoar.
2.2 Ruang Terbuka Hijau di Kawasan Perkotaan (RTHKP)
Berdasarkan Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 1 Tahun 2007 bab 1 pasal 1
ayat 2 menyatakan bahwa Ruang Terbuka Hijau Kawasan Perkotaan (RTHKP) adalah bagian
dari ruang terbuka suatu kawasan perkotaan yang diisi oleh tumbuhan dan tanaman guna
mendukung manfaat ekologi, sosial, budaya, ekonomi dan estetika. Kawasan Perkotaan
adalah kawasan yang mempunyai kegiatan utama bukan pertanian dengan susunan fungsi
kawasan sebagai tempat permukiman perkotaan, pemusatan dan distribusi pelayanan jasa
pemerintahan, pelayanan sosial dan kegiatan ekonomi. Ruang Terbuka Hijau (RTH) dapat
berfungsi secara ekologis, social/budaya, arsitektural, dan ekonomi.

2.3 Tujuan Ruang Terbuka Hijau di Kawasan Perkotaan


Menurut Peraturan Menteri Nomor 5 Tahun 2008 tujuan dari penyelenggaraan Ruang
Terbuka Hijau (RTH) adalah :
a. Menjaga ketersediaan lahan sebagai kawasan resapan air.
b. Menciptakan aspek planologis perkotaan melalui keseimbangan antara lingkungan alam
dan lingkungan binaan yang berguna untuk kepentingan masyarakat.
c. Meningkatkan keserasian lingkungan perkotaan sebagai sarana pengaman lingkungan
perkotaan yang aman, nyaman, segar, indah, dan bersih.

2.4 Fungsi Ruang Terbuka Hijau di Kawasan Perkotaan


Menurut Peraturan Menteri Nomor 5 Tahun 2008 fungsi dari penyelenggaraan Ruang
Terbuka Hijau (RTH) di kawasan perkotaan dibedakan menjadi 2, yaitu:
a. Fungsi Utama (Intrinsik)
1. Memberi jaminan pengadaan RTH menjadi bagian dari sistem sirkulasi udara (paru-
paru kota).
2. Pengatur iklim mikro agar sistem sirkulasi udara dan air secara alami dapat
berlangsung lancar.
3. Sebagai peneduh.
4. Produsen oksigen.
5. Penyerap air hujan.
6. Penyedia habitat satwa.
7. Penyerap polutan media udara, air dan tanah.
8. Penahan angin.
b. Fungsi Tambahan (Ekstrinsik)
1. Fungsi Sosial dan Budaya
 Menggambarkan ekspresi budaya lokal.
 Merupakan media komunikasi warga kota.
 Tempat rekreasi.
 Wadah dan objek pendidikan, penelitian, dan pelatihan dalam mempelajari alam.
2. Fungsi Ekonomi
 Sumber produk yang bisa dijual, seperti tanaman bunga, buah, daun, sayur
mayur.
 Bisa menjadi bagian dari usaha pertanian, perkebunan, kehutanan, dan lain-lain.
3. Fungsi Estetika
 Meningkatkan kenyamanan, memperindah lingkungan kota baik dari skala mikro
(halaman rumah, lingkungan permukimam) maupun makro (lansekap kota secara
keseluruhan).
 Menstimulasi kreativitas dan produktivitas warga kota.
 Pembentuk faktor keindahan arsitektural.
 Menciptakan suasana serasi dan seimbang antara area terbangun dan tidak
terbangun.
Dalam suatu wilayah perkotaan, empat fungsi utama ini dapat dikombinasikan sesuai
dengan kebutuhan, kepentingan, dan keberlanjutan kota seperti perlindungan tata air,
keseimbangan ekologi dan konservasi hayati.

2.5 Tipologi Ruang Terbuka Hijau (RTH) di Kawasan Perkotaan


Secara fisik Ruang Terbuka Hijau RTH dapat dibedakan menjadi RTH alami dan non
alami. RTH alami berupa habitat liar alami, kawasan lindung dan taman-taman nasional,
sedangkan RTH non alami atau binaan berupa taman, lapangan olahraga, pemakaman atau
jalur-jaur hijau jalan. Dilihat dari fungsi RTH dapat berfungsi ekologis, sosial budaya,
estetika, dan ekonomi. Secara struktur ruang, RTH dapat mengikuti pola ekologis
(mengelompok, memanjang, tersebar), maupun pola planologis yang mengikuti hirarki dan
struktur ruang perkotaan (Peraturan Menteri, 2008).
2.6 Karakteristik Ruang Terbuka Hijau (RTH) di Kawasan Perkotaan
Karakteristik RTH disesuaikan dengan tipologi kawasannya. Berikut ini tabel arahan
karakteristik RTH di perkotaan untuk berbagai tipologi kawasan perkotaan.
Tipologi Kawasan Karakteristik RTH
Perkotaan
Fungsi Utama Penerapan Kebutuhan RTH
Pantai  Pengamanan wilayah pantai  Berdasarkan luas wilayah
 Sosial budaya  Berdasarkan fungsi tertentu
 Mitigasi bencana
Pegunungan  Konservasi tanah  Berdasarkan luas wilayah
 Konservasi air  Berdasarkan luas tertentu
 Keanekaragaman hayati
Rawan Bencana  Mitigasi/evakuasi bencana  Berdasarkan fungsi tertentu
Berpenduduk Jarang  Dasar perencanaan  Berdasrkan fungsi tertentu
sampai dengan Sedang kawasan  Berdasarkan jumlah
 Sosial penduduk
Berpenduduk Padat  Ekologis  Berdasarkan fungsi tertentu
 Sosial  Berdasarkan jumlah
 Hidrologis penduduk
Sumber : Peraturan Menteri PU. NO. 5/PRT/M/2008

2.7 Jenis-Jenis Ruang Terbuka Hijau (RTH) di Kawasan Perkotaan


Jenis-jenis Ruang Terbuka Hijau menurut Jurnal Ilmiah Perancangan Kota dan
Permukiman (2007) dibedakan menjadi:
a. Ruang Terbuka Hijau Lindung (RTHL)
Ruang terbuka hijau lindungadalah ruang atau kawasan yang lebih luas, baik dalam bentuk
areal memanjang atau jalur atau mengelompok,dimana penggunaannya lebih bersifat
terbuka atau umum, didominasi olehtanaman yang tumbuh secara alamiatau tanaman budi
[Link] hijau lindung terdiridari cagar alam di daratan dankepulauan, hutan
lindung, hutanwisata, daerah pertanian, persawahan,hutan bakau, dan sebagainya.
b. Ruang Terbuka Hijau Binaan (RTHB)
Ruang terbuka hijau binaanadalah ruang atau kawasan yang lebihluas, baik dalam bentuk
areal memanjang atau jalur atau mengelompok,dimana penggunaannya lebih
bersifatterbuka atau umum, dengan permukaantanah di dominasi oleh perkerasanbuatan
dan sebagian kecil tanaman. Kawasan atau ruang hijau terbukabinaan sebagai upaya
menciptakankeseimbangan antara ruang terbangundan ruang terbuka hijau yang
berfungsisebagai paru-paru kota, peresapan air,pencegahan polusi udara danperlindungan
terhadap flora sepertikoridor jalan,koridor sungai, aman,fasilitas olah raga, play ground.
c. Koridor Hijau Jalan
Koridor hijaua jalan yang berada di kanan kiri jalan dengan pepohonan di dalamnya akan
memberikan kesan asri bagi jalan tersebut dan memberikan kesan teduh. Koridor hijau
jalan dengan pepohonan akan meberiakan kesejukan bagi pengguna jalan, dengan
penggunaan pepohonan pada koridor jalan diharapkan dapat mnengurangi polusi udara,
memberi kesan asri, serta dapat menyerap air hujan (resapan air).
d. Koridor Hijau Sungai
Koridor Hijau sungai yang berada di sepanjang bantaran sungaiyang berupa tanaman akan
memberikan fungsi yang beranekaragam, antara lain pencegah erosi daerah sekitar,
penyerapan ait hujanlebih banyak. Dengan penanaman pohon - pohon yang mempunyai
banyak akar diharapkan akar akar tersebut akan mengikat tanah - tanah di sekitar sungai
tersebut, tanaman yang dapat mecegah erosi dengan akarnya seperti bambu, tanaman yang
rapat, penanaman pohon secara rapat. Koridor sungai juga berfungsi menjaga kelestarian
suber air, sebagai batas antara sungai dengan daerah sekelilingnya. Koridor sungai dapat
memberikan keindahan visual dengan penataan yang sesuai dan pemanfaatan tumbuh -
tumbuhan yang ada serta penambahan tumbuh tumbuhan yang berwarna - warni.
e. Taman
Taman adalah wajah dan karakter lahan atau tapak dari bagian muka bumi dengan segala
kehidupan dan apa saja yang ada didalamnya, baik yang bersifat alami maupun buatan
manusia yang merupakan bagian atau total lingkungan hidup manusia beserta mahluk
hidup lainnya, sejauh mata memandang sejauh segenap indra kita dapat menangkap dan
sejauh imajinasi kita dapat membayangkan.

2.8 Penyediaan Ruang Terbuka Hijau (RTH) di Kawasan Perkotaan


Ada beberapa penyediaan Ruang Terbuka Hijau (RTH) di kawasan perkotaan antara
lain:
1. Penyediaan RTH Berdasarkan Luas Wilayah
Penyediaan RTH berdasarkan luas wilayah di perkotaan adalah sebagai berikut:
a. Ruang terbuka hijau di perkotaan terdiri dari RTH Publik dan RTH privat.
b. Proporsi RTH pada wilayah perkotaan adalah sebesar minimal 30% yang terdiri
dari 20% ruang terbukahijau publik dan 10% terdiri dari ruang terbuka hijau
privat.
c. Apabila luas RTH baik publik maupun privat di kota yang bersangkutan telah
memiliki total luas lebih besar dari peraturan atau perundangan yang berlaku,
maka proporsi tersebut harus tetap dipertahankan keberadaannya.
d. Proporsi 30% merupakan ukuran minimal untuk menjamin keseimbangan
ekosistem kota, baik keseimbangan sistem hidrologi dan keseimbangan
mikroklimat, maupun sistem ekologis lain yang dapat meningkatkan ketersediaan
udara bersih yang diperlukan masyarakat, serta sekaligus dapat meningkatkan
nilai estetika kota. Target luas sebesar 30% dari luas wilayah kota dapat dicapai
secara bertahap melalui pengalokasian lahan perkotaan secara tipikal
sebagaimana ditunjukkan pada bagan dibawah ini. Peraturan Menteri No. 5
Tahun 2008 Menurut Peraturan Menteri Nomor 5 Tahun 2008 Ruang Terbuka
Hijau (RTH) Kawasan Perkotaan adalah sebagai berikut : Ruang Kota terdiri dari
ruang terbangun dan ruang terbuka. Ruang terbangun terdiri dari hunian adalah
40% dengan KDB adalah 80% dan non hunian adalah 20% dengan KDB 90%.
Ruang Terbuka hijau (RTH) untuk hunian adalah 8% dan RTH non hunian 2%
sehingga RTH privat adalah 10%. Untuk ruang terbuka terdiri dari taman adalah
12,5% dengan KDB 0%, jalan adalah 20% dan lainnya 7,5% dengan KDB adalah
80%. Ruang terbuka hijau untuk taman 12,5%, untuk jalan adalah 6% dan ruang
terbuka hijau untuk lainnya 1,5% sehingga Ruang terbuka hijau public adalah
20%.Maka standard Ruang Terbuka Hijau (RTH) kawasan perkotaan adalah
30%.
2. Penyediaan RTH Berdasarkan Kebutuhan Fungsi Tertentu
Fungsi RTH pada kategori ini adalah untuk perlindungan atau pengamanan, sarana
dan prasarana misalnya melindungi kelestarian sumber daya alam, pengaman pejalan
kaki atau membatasi perkembangan penggunaan lahan agar fungsi utamanya tidak
[Link] kategori ini meliputi: jalur hijau sempadan rel kereta api, jalur hijau
[Link] tegangan tinggi, RTH kawasan perlindungan setempat berupa RTH
sempadan sungai, RTH sempadan pantai, dan RTH pengamanan sumber air
baku/mata air.
3. Penyediaan RTH Berdasarkan jumlah penduduk
Untuk menentukan luas RTH berdasarkan jumlah penduduk, dilakukan dengan
mengalikan antara jumlah penduduk yang dilayani dengan standar luas RTH per
kapita sesuai peraturan yang berlaku.
4. RTH Taman Kota
RTH Taman kota adalah taman yang ditujukan untuk melayani penduduksatu kota
atau bagian wilayah kota. Taman ini melayani minimal 480.000penduduk dengan
standar minimal 0,3 m per penduduk kota, dengan luastaman minimal 144.000.
Taman ini dapat berbentuk sebagai RTH (lapangan hijau), yang dilengkapi dengan
fasilitas rekreasi dan olah raga, dan kompleks olah raga dengan minimal RTH 80% -
90%. Semua fasilitastersebut terbuka untuk umum. Jenis vegetasi yang dipilih berupa
pohon tahunan, perdu, dan semak ditanam secara berkelompok atau menyebar
berfungsi sebagai pohon pencipta iklim mikro atau sebagai pembatas antar kegiatan.
BAB 3
GAMBARAN UMUM WILAYAH

3.1 Letak Geografis


Kabupaten Sidoarjo sebagai salah satu penyangga Ibukota Propinsi Jawa Timur
merupakan daerah yang mengalami perkembangan pesat. Keberhasilan ini dicapai karena
berbagai potensi yang ada di wilayahnya seperti industri dan perdagangan, pariwisata, serta
usaha kecil dan menengah dapat dikemas dengan baik dan [Link] adanya berbagai
potensi daerah serta dukungan sumber daya manusia yang memadai, maka dalam
perkembangannya Kabupaten Sidoarjo mampu menjadi salah satu daerah strategis bagi
pengembangan perekonomian regional.
Kabupaten Sidoarjo terletak antara 112 5’ dan 112 9’ Bujur Timur dan antara 7 3’ dan
7 5’ Lintang Selatan. Batas sebelah utara adalah Kotamadya Surabaya dan Kabupaten Gresik,
sebelah selatan adalah Kabupaten Pasuruan, sebelah timur adalah Selat Madura dan sebelah
barat adalah Kabupaten Mojokerto.
3.2 Topografi
Dataran Delta dengan ketinggian antar 0 s/d 25 m, ketinggian 0-3m dengan luas
19.006 Ha, meliputi 29,99%, merupakan daerah pertambakkan yang berada di wilayah bagian
timur. Wilayah Bagian Tengah yang berair tawar dengan ketinggian 3-10 meter dari
permukaan laut merupakan daerah pemukiman, perdagangan dan pemerintahan. Meliputi
40,81 %.
Wilayah Bagian Barat dengan ketinggian 10-25 meter dari permukaan laut merupakan daerah
pertanian. Meliputi 29,20%.
3.3 Hidrogeologi
Daerah air tanah, payau, dan air asin mencapai luas 16.312.69 Ha. Kedalaman air
tanah rata-rata 0-5 m dari permukaan tanah.
3.4 Hidrologi
Kabupaten Sidoarjo terletak diantara dua aliran sungai yaitu Kali Surabaya dan Kali
Porong yang merupakan cabang dari Kali Brantas yang berhulu di kabupaten Malang.
3.5 Klimatologi
Beriklim topis dengan dua musim, musim kemarau pada bulan Juni sampai Bulan
Oktober dan musim hujan pada bulan Nopember sampai bulan Mei.
3.6 Struktur Tanah
Alluvial kelabu seluas 6.236,37 Ha. Assosiasi Alluvial kelabu dan Alluvial Coklat
seluas 4.970,23 Ha. Alluvial Hidromart seluas 29.346,95 Ha. Gromosal kelabu Tua Seluas
870,70 Ha
BAB 4
METODOLOGI PENELITIAN

4.1 Jenis dan Rancangan Penelitian


Berdasarkan metodenya, penelitian ini termasuk dalam penelitian deskriptif yaitu suatu
metode penelitian yang dilakukan dengan tujuan utama untuk menggambarkan tentang suatu
keadaan secara obyektif, yang dilakukan dengan survei penilaian terhadap sejumlah obyek
(variabel) tanpa adanya manipulasi ataupun intervensi dari peneliti.
(Notoadmojo.S,2002:138). Dalam penelitian ini penulis menggambarkan tentang
pengelolaan ruang terbuka hijau di Kabupaten Sidoarjo
4.2 Lokasi Dan Waktu Penelitian
1. Lokasi Penelitian
Lokasi dalam penelitian ini adalah di Dinas Kebersihan dan Pertamanan Kabupaten Sidoarjo
dan Taman Abhirama.
4.3 Sumber Data
Data yang digunakan berasal dari :
1. Data primer
Data yang diperoleh secara langsung oleh peneliti dilapangan dengan melalui kegiatan
observasi, wawancara.
2. Data sekunder
Data yang diperoleh dari Kepala Desa Sumput [Link] [Link].
4.3 Teknik Pengumpulan Data
Data diperoleh dengan beberapa cara yaitu :
1. Observasi
Melakukan pengamatan secara langsung di lokasi penelitian
2. Wawancara
Tanya jawab yang dilakukan diDinas Kebersihan dan Pertamanan
BAB 5
HASIL DAN PEMBAHASAN

Saat ini jumlah RTH di wilayah Kabupaten Sidoarjo belum mencapai 30 % luas
wilayah yaitu hanya sekitar 16,41 %, yang mana 9,67% untuk RTH publik dan 6,74% untuk
RTH privat. Jumlah tersebut jelas sangat kurang terlebih Kabupaten Sidoarjo merupakan kota
industri. Banyak polusi yang dihasilkan dari proses industri sehingga perlu adanya RTH yang
cukup sebagai penyerap polusi serta paru-paru kota.
Peran serta pemerintah dalam mengatasi hal tersebut dilaksanakan oleh Dinas
Kebersihan dan Pertamanan Kabupaten Sidoarjo. Dinas Kebersihan dan Pertamanan
Kabupaten Sidoarjo merupakan salah satu instansi yang didirikan oleh pemerintah Kabupaten
Sidoarjo yang mempunyai tugas berdasarkan peraturan Bupati Nomor 52 tahun 2008 untuk
melaksanakan sebagian urusan pemerintahan dibidang pertamanan. Salah satu program yang
telah dilaksanakan oleh Dinas Kebersihan dan Pertamanan Kabupaten Sidoarjo adalah
pembangunan taman kota. Sidoarjo ada beberapa taman yang dikembangkan di lingkungan
masyarakat seperti Taman Dwakerta di Porong dengan fasilitas kolam ikan, wahana mainan
anak-anak dll. Taman Dwakerta sendiri sudah diminati banyak oleh masyarakat, tetapi taman
Dwakerta ini fasilitas toilet umum dan persediaaan tempat sampah masih kurang. Alun-alun
Sidoarjo dengan fasilitas yang sudah dikembangkan menjadi taman rekreasi untuk keluarga
yang murah meriah untuk masyarakat dan sudah menjadi taman favorit untuk warga sidoarjo
dengan fasilitas yang sudah memadai. Taman desa dan taman baca di Desa Keper-Krembung,
awalnya hanya digunakan untuk taman penghijauan saja kemudian dikembangkan menjadi
taman bermain dan taman baca untuk masyarakat khususnya anak-anak yang bertujuan untuk
mengurangi penggunaan gadget pada anak-anak. Baru-baru ini taman yang telah dibangun
adalah taman Abhirama, yang dibangun sekitar tahun 2015. Taman Abhirama ini merupakan
taman tematik pertama yang dibangun di Kota Sidoarjo. Taman Tematik merupakan salah
satu program yang dikembangkan oleh Kota Bandung dan Surabaya untuk merevitalisasi dan
menciptakan taman kota dengan tema tertentu. Taman Tematik juga merupakan taman
dengan porsi tanaman hijau yang lebih banyak sehingga fungsinya untuk mengatasi
banyaknya polusi baik yang disebabkan oleh kendaraan bermotor maupun asap pabrik.
Taman Abhirama terletak di daerah Pagerwojo, Buduran, Kabupaten Sidoarjo, Jawa
Timur. Tepatnya di Jalan Raya Porti samping Perumahan Pondok Jati. Taman yang sejuk dan
tertata apik ini kerap kali menjadi tujuan refreshing keluarga. Akses menuju ke lokasi taman
cukup mudah, hanya 10 menit dari Lokasi Alun-Alun Sidoarjo. Taman ini sudah dilengkapi
dengan berbagai fasilitas seperti tempat duduk untuk beristirahat, arena bermain anak,
jogging track, kamar kecil, gazebo, kolam ikan, dan air mancur. Biasanya puncak keramaian
taman ini pada waktu pagi dan sore hari.
Taman Abhirama sebagai Taman Tematik yang ada di Kota Sidoarjo mengusung
tema Taman Pintar yang memiliki beberapa fasilitas yang sengaja disediakan untuk para
pengunjung taman Abhirama diantaranya yaitu dimulai dengan penyediaan fasilitas dasar
ruang publik seperti lokasi parkir dan toilet portabel. Taman Abhirama memiliki beberapa
peran penting antara lainsebagai fungsi bio-ekologis untuk sirkulasi udara (paru-paru kota),
serta sebagai tempat rekreasi, pendidikan dan penelitian bagi warga Kabupaten Sidoarjo.
Taman Abhirama juga merupakan taman uji coba, yang mana apabila pembangunan
taman ini berhasil, Dinas Kebersihan dan Pertamanan Kabupaten Sidoarjo berencana
menambah pembangunan taman baru guna pemenuhan jumlah RTH. Untuk mencapai angka
30 persen harus ada pemetaan kawasan yang diperuntukkan RTH. Banyak lahan kosong di
Kabupaten Sidoarjo yang bisa dijadikan sebagai RTH seperti bekas Kantor Kawedanan
Porong di Jalan Porong dan lahan bekas PKL yang berlokasi di Jalan Raya Buduran. Lokasi
tersebut dirancang menjadi salah satu spot RTH tambahan. Apalagi lokasinya yang
berdempetan langsung dengan jalan sangat strategis untuk mengurangi polusi yang
ditimbulkan oleh kendaraan bermotor.
Tidak hanya pemerintah, masyarakat pun harus ikut andil dalam menjaga dan
mengelolah RTH yang telah dibangun oleh pemerintah. Salah satunya dengan menjaga
keindahan dan kebersihan taman kota, tidak membuang sampah sembarangan, serta tidak
merusak fasilitas yang telah disediakan. Dengan begitu taman kota akan bisa difungsikan
sebagaimana mestinya.
BAB 6
KESIMPULAN DAN SARAN

6.1 KESIMPULAN
Dari hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa kabupaten Sidoarjo masih sangat
kurang dan perlu dikembangkan ruang terbuka hijau untuk masing masing wilayah. Upaya
yang telah dilakukan yaitu pembangunan, pengelolaan dan pemeliharaan taman kota. Salah
satu nya yaitu Alun-Alun Sidoarjo, Taman Dwakerta Porong, Taman desa dan taman baca di
Keper Krembung dan Taman Abhirama Sidoarjo yang merupakan taman tematik pertama
yang dibangun dan dikelola oleh Dinas Kebersihan dan Pertamanan Kabupaten Sidoarjo
guna menjaga kualitas lingkungan di wilayah Kabupaten Sidoarjo. Selanjutnya setelah
dirasa pembangunan Taman Abhirama ini berhasil akan dilakukan pemetaan lahan untuk
menambahan jumlah RTH di wilayah Kabupaten Sidoarjo.

6.2 SARAN
Agar Peran Dinas Kebersihan dan Pertamanan maksimal dalam pengelolaan Ruang
Terbuka Hijau (RTH) maka saran penulis sebagai berikut:
1. Untuk masyarakat hendaknya menjaga kebersihan dan keindahan taman kota dengan
cara membuang sampah pada tempatnya dan tidak merusak fasilitas yang telah
disediakan.
2. Mengoptimalkan partisipasi masyarakat untuk ikut serta dalam pengelolaan taman kota
serta mempunyai rasa tanggung jawab terhadap lingkungan disekitarnya.
DOKUMENTASI

Anda mungkin juga menyukai