0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
119 tayangan27 halaman

Penetapan Modulus Kehalusan Tepung

Modul Teknik Penanganan Bahan Hasil Pertanian

Diunggah oleh

Naufal Rizki
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
119 tayangan27 halaman

Penetapan Modulus Kehalusan Tepung

Modul Teknik Penanganan Bahan Hasil Pertanian

Diunggah oleh

Naufal Rizki
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

Nilai :

LAPORAN PRAKTIKUM
TEKNIK PENANGANAN HASIL PERTANIAN
(4. Penetapan Modulus Kehalusan (Fineness Modulus) Tepung)

Oleh :
Nama : Raden Naufal Rizki R.
Kelompok/Shift : 2/B1
NPM : 240110160113
Hari, Tanggal Praktikum : Jum’at,12 Oktober 2018
Waktu : 07.30–09.30 WIB
[Link] : 1. Bonie Pamungkas
2. Elviera Rahmadina
3. Irene June Sidabutar
4. Zahrah Eza Arpima

LABORATORIUM PASCA PANEN DAN TEKNOLOGI PROSES


DEPARTEMEN TEKNIK PERTANIAN DAN BIOSISTEM
FAKULTAS TEKNOLOGI INDUSTRI PERTANIAN
UNIVERSITAS PADJADJARAN
2018
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Mesin pengecil ukuran tentunya memiliki performansi dari segi spesifikasi
mesin, ketangguhan mesin, dan lain hal sebagainya. Mesin pengecil ukuran juga
dapat digolongkan menjadi beberapa jenis, yaitu hammer mills, burr mills, crusher,
roller crusher, dan cumbling mills. Burr mills dan attrion mills adalah mesin
pengecil yang dapat dikatakan cukup kasar karena bekerja dengan metode gesekan,
pelat yang satu bekerja secara rotasi dan pelat yang satunya stasioner.
Kriteria daripada bahan hasil pertanian yang sudah dikecilkan dengan
beberapa mesin pengecil tersebut tentulah memiliki karakteristik yang sangatlah
bergantung pada kinerja dari mesin itu sendiri dan cara kerja dari mesin tersebut.
Kriteria ini diantaranya yaitu nisbah reduksi (reduction ratio), ayakan tyler,
modulus kehalusan (fineness modulus), dan indeks keseragaman (uniformity index).
Nilai-nilai yang didapatkan tersebut yang sangat berhubungan erat dengan
performansi mesin pengecil ukuran tersebut adalah nilai modulus kehalusan, karena
nilai ini menunjukkan jumlah fraksi dari bahan yang tertahan oleh ayakan yang
digunakan untuk menyaring bahan yang telah dikecilkan yaitu nilai rata-rata
diameter bahan hasil pertanian tersebut. Karena nilai modulus kehalusan ini adalah
nilai rata-rata maka nilai ini dapat dimasukkan kepada persamaan untuk mencari
efesiensi kinerja mesin tersebut.

1.2 Tujuan
Tujuan dari dilaksanakannya praktikum kali ini adalah untuk mengukur dan
mengamati pengecilan ukuran bahan hasil pertanian dengan mengkaji performansi
mesin dan rendemen hasil pengecilan ukuran.
BAB II
LANDASAN TEORI

2.1 Modulus Kehalusan (fineness Modulus)


Sistem klasifikasi ini ditetapkan oleh D. A. Abrams untuk beton tetapi dapat
pula digunakan untuk penentuan performansi alat penggiling biji-bijian
(Henderson, 1961). Modulus kehalusan diartikan sebagai jumlah berat bahan yang
tertahan di setiap ayakan dibagi dengan 100. Ayakan-ayakan yang digunakan dalam
satu set ini adalah berukuran 3/8 inci, 4 mesh, 8 mesh, 14 mesh, 28 mesh, 48 mesh,
dan 100 mesh. Setelah diketahui nilai modulus kehalusannya maka diameter bahan
dapat dicari dengan menggunakan rumus :
D = 0,0041 (2)FM ….. (i)
Alat yang digunakan untuk mengelompokkan dalam kelas ke-1 dan ke-2
adalah saringan Tyler. Ukuran ayakan adalah Mesh. Satuan Mesh adalah banyaknya
lubang setiap 1 inchi. Patokan ukuran lubang adalah saringan 200 mesh dan setiap
lubang merupakan √2 atau 1.414 kali besar lubang dari saringan terdahulu. Mesin
untuk menggoyangkan ayakan disebut Ro-tap. Mesin ini mempunyai gerakan
goyang tertentu dan dapat disesuaikan dengan waktu penggunaan. Derajat
kehalusan (Fineness Modulus) dan indeks keseragaman menunjukkan keseragaman
hasil giling atau penyebaran fraksi halus dan kasar dalam hasil giling. Derajat
kehalusan adalah jumlah berat fraksi yang tertahan pada setiap saringan dibagi 100.
(Henderson, 1961).
Berbagai jenis alat pengayak yang dapat digunakan dalam proses sortasi
bahan pangan, diklasifikasikan dalam dua bagian besar :
1. Ayakan dengan celah yang berubah-ubah (Screen Apeture) seperti: roller
screen (Pemutar), belt screen (kabel kawat atau ban), belt and roller (ban
dan pemutar), screw (baling-baling).
2. Ayakan dengan celah tetap, seperti: Stationary (bersifat seimbang / tidak
berubah), vibratory (bergetar), rotary atau gyratory (berputar) dan
reciprocutting (timbal balik).
Untuk memisahkan bahan-bahan yang telah dihancurkan berdasarkan
keseragaman ukuran partikel-partikel bahan dilakukan dengan pengayakan dengan
menggunakan standar ayakan. Standar kawat ayakan dibagi menjadi:
1. Tyler Standar, ukuran 200 mesh, diameter 0,0029 inci, dan SA 0,0021 inchi
2. British Standar, ukuran 200 mesh, SA 0,003 inci, dan SI 4¥2.
3. US Standar, ukuran 18 mesh, SA 1 mm, dan SI 4¥
Pengayak (screen) dengan berbagai desain telah digunakan secara luas pada
proses pemisahan bahan pangan berdasarkan ukuran yang terdapat pada mesin-
mesin sortasi, tetapi pengayak juga digunakan sebagai alat pembersih, pemisahan
kontaminan yang berbeda ukurannya dari bahan baku. Rancangan-rancangan
pengayak ditemui dalam proses sortasi bahan pangan. Pengoperasian mesin sortasi
dan pengelasan mutu bahan pangan, juga merupakan pekerjaan yang bersifat
monoton. Sifat acuh tak acuh dari tenaga kerja akan mengurangi kesalahan
fungsional saat mengoperasikan peralatan sortasi.
Klasifikasi tersebut sangat bermanfaat tetapi tidak bersifat kaku. Proses
pembersihan dan sortasi untuk menghasilkan suatu pengelasan mutu dan beberapa
kasus selalu melibatkan proses sortasi. Bagaimanapun, tingkatan operasi tersebut
sangat berarti, terutama dalam penerapannya sebagai tujuan utama dari suatu
kegiatan. (Henderson, 1961).

2.2 Pengayakan
Pengayakan adalah suatu unit operasi di mana suatu campuran dari berbagai
jenis ukuran partikel padat dipisahkan ke dalam dua atau lebih bagian-bagian kecil
dengan cara melewatkannya di atas screen (ayakan). Atau dengan kata lain
pengayakan adalah suatu proses pemisahan bahan berdasarkan ukuran lubang
kawat yang terdapat pada ayakan, bahan yang lebih kecil dari ukuran mesh/lubang
akan masuk, sedangkan yang berukuran besar akan tertahan pada permukaan kawat
ayakan. Setiap fraksi tersebut menjadi lebih seragam dalam ukurannya
dibandingkan campuran aslinya. Screen adalah suatu permukaan yang terdiri dari
sejumlah lubang-lubang yang berukuran sama. Permukaan tersebut dapat berbentuk
bidang datar (horizontal atau miring), atau dapat juga berbentuk silinder. Screen
yang berbentuk datar yang mempunyai kapasitas kecil disebut juga
ayakan/pengayak (sieve).
Screening atau pengayakan secara umum merupakan suatu pemisahan ukuran
berdasarkan kelas-kelasnya pada alat sortasi. Namun pengayakan juga dapat
digunakan sebagai alat pembersih, memindahkan kontaminan yang ukurannya
berbeda dengan bahan
Screen dari fixed aperture screen secara permanen terpasang screen beds dan
mempunyai bentuk dan ukuran yang tetap. Pergerakan bahan pangan di atas screen
dapat diakibatkan oleh gaya gyratory, rotary, atau vibratory pada frame yang
membawa bahan pada screen bed. Proses yang umum, pengayakan secara luas
digunakan untuk memisahkan campuran-campuran bahan yang berbentuk butiran-
butiran atau serbuk berdasarkan ukurannya (Fellows, 1990).
Adapun tujuan dari pengayakan itu sendiri adalah:
1. Mengendalikan ukuran partikel yang akan masuk atau harus keluar dalam
unit atau alat tertentu.
2. Menghasilkan produk dengan ukuran dan atau selang ukuran tertentu.
3. Menghasilkan ukuran produk yang sesuai dengan persyaratan konsumen.
4. Untuk mendapatkan efisiensi tinggi.
Di samping tujuan tersebut, ada operasi pengayakan dengan tujuan tertentu,
yaitu: scalping dan pencucian.
1. Scalping adalah operasi pengayakan yang bertujuan untuk mengeluarkan
sejumlah kecil oversize dari umpan.
2. Pencucian adalah operasi yang bertujuan menghilangkan material halus
yang menempel pada material kasar. Karena mencuci, maka operasinya
ditambah dengan air, atau biasa disebut pengayakan basah. (Fellows,
1990).

2.3 Jenis-jenis Pengayakan


2.3.1 Screener
Screener berfungsi untuk menyingkirkan partikel-partikel pellet atau butiran
dari ukuran yang terlalu kecil atau terlalu besar dari standar. Bahan pellet setelah
proses cooling (pendinginan), lalu crumbling (pemecahan menjadi butiran)
dantransfer akan menghasilkan ukuran yang tidak sesuai standar (bentuk tepung
dan kasar).
Screener berfungsi sebagai pengayak yang di dalamnya mempunyai 2 lapis
screen (saringan) yang disusun berlapis dimana screen bawah berukuran kecil dan
screen atas berukuran besar. Ukuran partikel yang dikehendaki adalah yang tidak
lolos dari screen bawah dan lolos dari screen atas karena bahan pellet masuk
pertama kali ke dalam screener melalui screen atas. Ukuran bahan yang terlalu
besar yaitu yang tidak bisa lolos ke screen bawah akan dikirim kembali ke crumbler
untuk pemecahan ulang. Ukuran bahan yang terlalu halus langsung lolos melewati
screen bawah dan dari plat dasar screener dikembalikan ke conditioner untuk
proses pelleting ulang.
Screener mempunyai posisi miring untuk mempercepat pergerakan bahan.
Tipe gerakan screener terdapat dua jenis yaitu roto shaker dimana alat bergoyang
dari satu titik, jenis lainnya vibrator dimana alat bergetar di 4 sisi. Ukuran screen
ditentukan sebagai satuan mesh, misalnya mesh 5 berarti dalam satu luasan inchi
terdapat 5 lubang ke samping dan 5 lubang ke bawah (total 25 lubang per inchi).
Screener terbaik diletakkan di lantai teratas dari konstruksi feedmill dan hasil
pilahannya langsung menuju kebin produk. Screener model lama biasa ditempatkan
di basement dan hasil pilahannya masih harus ditransfer ke lantai atas sebelum
masuk ke bin produk. Cara terakhir ini lebih membuka peluang untuk bahan
kembali pecah dan meningkatkan kadar tepung. Penyaring dengan lubang tetap
merupakan tipe penyaring dengan lapisanyang bersifat permanen dengan badan
pengayak yang terdiri dari lubang-lubangdengan bentuk dan ukurannya yang tetap.
Berbagai jenis bahan dapat digunakanuntuk pengayak jenis ini, tergantung pada
aplikasinya. Misalnya, lembaran logam berlubang, susunan kawat-kawat
membentuk lubang-lubang dengan berbagaiukuran, kain, dan tenunan sutera.
Perlakuan pembersihan pada beberapa bahan pangan yang diikuti dengan
proses sortasi yang berdasarkan ukuran dan berat, masih tetap ditentukan bahan-
bahan yang tidak diinginkan yang terkandung pada bahan tersebut. Alat berbentuk
piringan merupakan salah satu contoh dari alat sortasi berdasarkan bentuk. Prinsip
kerjanya yaitu pengumpulan bahan dengan bentuk yang diinginkan didalam
lekukan yang terletak diatas sisi-sisi pemutar dan piringan-piringan vertikal
tumpukan beberapa piringan disusun diatas sebuah penggerak. Sortasi berdasarkan
bentuk dipengaruhi oleh pengambilan keberuntungan putaran partikel yang
bergerak menuruni permukaan yang ditinggikan. (Wirakartakusumah, 1992)
2.3.2 Pengayak Berbadan Datar ( Flat Bad Screen)
Pengayak jenis ini bentuknya sangat sederhana, banyak ditemukan diareal-
areal pertanian, saat proses sortasi awal dari kentang, wortel dan lobak. Alat
pengayak datar ganda digunakan secara luas dalam proses sortasi
berdasarkanukuran dari bahan baku (seperti biji-bijian dan kacang-kacangan) juga
digunakan dalam proses pengolahan dan produk akhir seperti tepung jagung. Alat
pengayak datar secara umum terdiri dari satu atau lebih lembaran pengayak yang
dipasang bersama-sama dalam sebuah kotak yang tertutup rapat, pergerakannya
dapat menggunakan berbagai alat.
Tetapi biasanya alat tersebut berupa bola-bola runcing dari kart yang keras,
yang diletakkan antara lembaran-lembaran pengayak. Maksudnya adalah untuk
meminimumkan kerusakan akibat pergesekan antara lubang-lubang pengayak
dengan partikel bahan yang halus. (Wirakartakusumah, 1992)
2.3.3 Pengayak Drum
Pengayak drum dan alat yang digunakan pada proses sortasi berdasarkan
ukuran bentuk untuk kacang polong, jagung, kacang kedelai dan kacang lainnya
yang sejenis. Bahan pangan tersebut akan menahan gerakan jatuh berguling yang
dihasilkan oleh rotasi drum. Alat sortasi drum biasanya diperlukan untuk
memisahkan bahan pangan ke dalam dua atau lebih aliran, karena itu dibutuhkan
dua atau lebih tingkatan pengayak. (Wirakartakusumah, 1992)

2.4 Pengecilan Ukuran Bahan Hasil Pertanian Kering


1. Ball Mill
Tipe ini terdiri dari silinder baja horizontal yang setengah bagiannya terisi
bola-bola baja berdiameter 2,5-1,5 cm. pada kecepatan rendah atau ketika bola-bola
kecil digunakan maka gaya geser mendominasi. Sedangkan ketika bola-bola yang
berukuran lebih besar digunakan atau pada kecepatan yang lebih tinggi maka gaya
tumbuk lebih mendominasi.
2. Disc Mill
Terdapat dua desain, yaitu :
a. Penggiling bercakram tunggal, bahan hasil pertanian melewati antara
penutup statis dan sebuah piringan beralur yang berputar dengan kecepatan
tinggi.
b. Penggiling bercakram ganda, dimana dua cakram ini berputar pada arah
yang berlawanan. Hal ini bertujuan untuk menghasilkan gaya geser yang
lebih besar.
c. Pin dan penggiling bercakram.
3. Hammer Mill
Suatu silinder horisontal dilapisi dengan suatu pelat [Link] dalamnya
terpasang baling-baling yang dilengkapi dengan palu. Pada pengoperasiannya,
bahan hasil pertanian yang terdapat pada plat baja dihancurkan oleh gaya tumbuk
yang berasal dari tumbukan palu.
4. Roller Mill
Dua atau lebih rol baja berputar berlawanan arah sehingga produk terjepit dan
akan tergiling saat melewati celah rol. Secara umum gaya yang berperan adalah
gaya kompresi atau gaya tekan akan tetapi bila salah satu rol berputar pada
kecepatan yang berbeda maka disamping gaya tekan juga terdapat gaya geser.
Ukuran partikel yang dikecilkan tergantung pada jarak antar rol. (Suhadi, 2005)

2.5 Karakteristik Ukuran


Performansi dari mesin pengecil ukuran ditinjau dari kapasitas, daya yang
diperlukan per satuan bahan yang dikecilkan, ukuran dan bentuk bahan sebelum
dan sesudah [Link] teoritis, untuk memudahkan perhitungan, maka
bahan hasil pertanian dianggap memiliki bentuk geometris tertentu, diantaranya
bentuk kubus, bulat, atau bentuk geometris lainnya. Tujuan lain mempelajari sifat
fisik bahan adalah memudahkan dalam proses pengecilan ukuran. (Sufyandi, 1995).
Setelah mengalami pengecilan ukuran, menurut Sufyandi (1995) partikel
yang dihasilkan dapat dibagi kedalam tiga tingkatan ukuran, yaitu :
1. Partikel ukuran kasar
Partikel bahan hasil pengecilan ukuran dapat diukur dengan mudah dan
mudah dilihat dengan mata telanjang. Tingkatan ukuran partikel ini lebih
dari 1/8 inchi. Contohnya : potongan buah kaleng.
2. Partikel ukuran saringan/ayakan
Partikel bahan hasil pengecilan ukuran berukuran 0,125 sampai 0,0029
inchi dapat dikatakan sebagai bahan pangan ini berukuran
saringan/ayakan. Contohnya gula pasir.
3. Partikel ukuran mikroskopis
Partikel dikatakan berukuran mikroskopis jika partikel tersebut berukuran
lebih kecil dari 0,0029 inchi. Misal debu, tepung, dan lain-lain.
Metode yang paling mudah digunakan dalam pembagian ukuran partikel
adalah metoda ayakan. Ayakan yang digunakan adalah ayakan Tyler dan
diadopsikan oleh [Link] of Standards. Ukuran ayakan dikenal dengan istilah
mesh yaitu jumlah lubang ayakan dalam satu inchi persegi. Karakteristik dari
ayakan Tyler dapat dilihat pada Tabel 1.
Tabel 1. Standar Ayakan Tyler
Mesh, Diameter Kawat, Ukuran Bukaan
No. Saringan Inci Inci Aktual Perkiraan
… 0,148 1,050 1
… 0,135 0,742 ¾
… 0,105 0,525 ½
… 0,092 0,371 3
8

3 0,070 0,263 ¼
4 0,065 0,185 3
16

6 0,036 0,131 1
8

8 0,032 0,093 3
32
1
10 0,035 0,065 16

14 0,025 0,046 3
64

1
20 0,0172 0,0328 32

28 0,0125 0,0232 …
35 0,0122 0,0164 1
64

48 0,0092 0,0116 …
65 0,0072 0,0082 …
100 0,0042 0,0058 …
150 0,0026 0,0041 …
200 0,0021 0,0029 …
(Sumber : Sufyandi, 1995)

Teknik pengayakan telah distandarkan. Metode dan waktu pengayakan perlu


diperhatikan. Mesin pengayak yang digunakan bernama Ro-Tap, mesin ini
merupakan mesin penggetar yang memiliki gerakan stabil dan waktu pengayakan
dapat diatur. Standar prosedurnya adalah menggunakan sampel sebanyak 250 g
yang telah dikeringkan pada suhu 100°C sampai berat konstan dan diayak dengan
Ro-Tap selama 5 menit. (Sufyandi, 1995).

2.6 Mekanisme Pengayakan


Untuk menganalisis hasil penghancuran bahan-bahan dilakukan dengan
ayakan standar yang disusun secara seri dalam satu tumbukan, pada bagian bawah
dari tumbukan susunan ayakan ditempatkan pan sebagai penampung produk akhir.
Penyusunan ayakan dimulai dari ayakan yang mempunyai ukuran mesh kawat
lebih besar sampai ke ukuran mesh yang lebih kecil. Penyaringan dengan lubang
tetap tipe ini merupakan lapisan yang bersifat permanen dengan badan pengayakan
yang terdiri dari lubang-lubang dengan bentuk dan ukuran yang tetap.
Berbagai jenis bahan yang digunakan untuk pengayak seperti ini tergantung
pada aplikasinya misalnya lembaran logam berlubang, susunan kawat-kawat
membentuk lubang-lubang dengan berbagai ukuran kain, dan tenunan sutra.
Pergerakan bahan pangan di atas pengayak dapat dihasilkan oleh pergerakan
berputar atau gerakan dari rangka yang menyangga badan pengayak. Penyaring
jenis ini dalam penggunanya secara umum yaitu untuk sortasi bahan untuk dua
grup tipe : badan datar ( flat ) dan tipe drum.
Penyusunan ayakan dimulai dari ayakan yang mempunyai ukuran mesh kawat lebih
besar sampai ke ukuran mesh yang lebih kecil, ukuran mesh yang digunakan dalam
percobaan ini disusun dari mulai ukuran 100 mesh, 80 mesh, 60 mesh dan terakhir
pan. Pengayak yang digunakan jenis ini bentuknya sederhana, banyak ditemukan di
areal pertanian. Pengayak tipe ini merupakan pengayak berbadan datar dan
digunakan secara luas dalam proses sortasi, berdasarkan ukuran dari bahan baku
seperti kacang-kacangan dan biji-bijian. Juga digunakan dalam proses sortasi
selama proses pengolahan dan produk akhir dari seperti tepung, gula, garam,
bumbu-bumbu masak dan rempah-rempah. Pengayak ini mempunyai rancangan
celah atau lubang yang tetap yang disebut fixed aperture. Yang mempunyai sifat
seimbang atau tidak berubah dan bergetar. Proses pengayakan ini digunakan untuk
memisahkan bahan pangan, yang mekanisasinya dapat memberikan nilai tambah
yang tidak dapat disangkal lagi dalam proses pengolahan pangan. Pengukuran
ukuran (size reduction) adalah unit operasi di mana ukuran rata-rata bahan pangan
padat dikecilkan dengan alat penggiling (grinding). (Sudjaswadi, 2002)
BAB III
METODOLOGI

3.1 Alat dan Bahan


3.1.1 Alat
Alat yang digunakan pada praktikum kali ini adalah:
1. Ayakan Tyler;
2. Stopwatch;
3. Timbangan; dan
4. Wadah plastik.
3.1.2 Bahan
Bahan yang digunakan pada praktikum kali ini adalah:
1. Tepung beras;
2. Tepung tapioka; dan
3. Tepung terigu.

3.2 Prosedur Praktikum


1. Siapkan bahan sebanyak 200 gram untuk masing-masing jenis tepung;
2. Nyalakan mesin dan masukkan bahan;
3. Letakkan produk yang dihasilkan pada ayakan teratas, tutup ayakan dan
letakkan pan pada bagian bawah, goyangkan ayakan selama 10 menit,
lalu lakukan 2 kali ulangan;
4. Timbang produk yang dihasilkan dalam setiap ayakan;
5. Tentukan fineness modulus dengan cara:
Tabel 1. Perhitungan Fineness Modulus (FM)
Ukuran
% Bahan
Mesh No Lubang % Tertinggal Kumulatif
Tertinggal
(mm)
3/8” 0,371 X1 X1
4” 0,185 X2 X1 +X2
8” 0,093 X3 X1 +X2 + X3
Ukuran
% Bahan
Mesh No Lubang % Tertinggal Kumulatif
Tertinggal
(mm)
14” 0,0464 X4 X1 +X2 + X3+X4
28” 0,0232 X5 X1 +X2 + X3+X4 + X5
48” 0,0116 X6 X1 +X2 + X3+X4 + X5+X6
100” 0,0058 X7 X1 +X2 + X3+X4 + X5+X6+X7
Pan X8
Total 100 JUMLAH

Persamaan untuk menghitung Fineness Modulus (FM):


Jumlah total % bahan tertinggal
FM = 100

6. Hitung diameter rata-rata (D);


7. Hitung Geometric Mean Diameter (Dgw);
8. Hitung Geometric Standar Deviation (Sgw); dan
9. Buat plot grafik:
a. % bahan tertinggal kumulatif vs. log ukuran ayakan.
b. % bahan lewat vs. ukuran ayakan.
c. Gradient % bahan lewat vs. ukuran ayakan.
BAB IV
HASIL PERCOBAAN

4.1 Tabel Hasil Pengamatan


Tabel 1. Data Hasil Pengayakan Tepung Terigu Percobaan 1 Kelompok 1
Diameter Bahan
Bahan Tertinggal Tertinggal
Lubang Faktor Terlarut
Mesh Komulatif Hasil
d1 w1 (w1/w awal) Pengali
Log d1 (%) Gram %
(mm) (gram) x 100%
40 0,595 -0,225 0 0 0 6 0 200 100
50 0,297 -0,527 20 10 10 5 0,5 180 90
60 0,25 -0,602 5 2,5 12,5 4 0,5 175 87,50
70 0,21 -0,678 20 10 22,5 3 0,675 155 77,5
100 0,149 -0,827 25 12,50 35 1 0,35 130 65
Pan 125 62,50 97,5 0 0 5 -
Total 195 97,5 - - - - -

Tabel 2. Data Hasil Pengayakan Tepung Terigu Percobaan 2 Kelompok 1


Diameter Bahan
Bahan Tertinggal Tertinggal
Lubang Faktor Terlarut
Mesh Komulatif Hasil
d1 w1 (w1/w awal) Pengali
Log d1 (%) Gram %
(mm) (gram) x 100%
40 0,595 -0,225 0 0 0 6 0 200 100
50 0,297 -0,527 30 15 15 5 0,75 170 85
60 0,25 -0,602 10 5 20 4 0,8 160 80
70 0,21 -0,678 30 15 35 3 0,85 130 65
100 0,149 -0,827 30 15 50 1 0,5 100 50
Pan 90 45 95 0 0 0 -
Total 190 95 - - - - -

Tabel 3. Data Hasil Pengayakan Tepung Beras Percobaan 1 Kelompok 2


Diameter Bahan
Bahan Tertinggal Tertinggal
Lubang Faktor Terlarut
Mesh Komulatif Hasil
d1 w1 (w1/w awal) Pengali
Log d1 (%) Gram %
(mm) (gram) x 100%
40 0,595 -0,225 0 0 0 6 0 200 100
50 0,297 -0,527 0 0 0 5 0 200 100
60 0,25 -0,602 0 0 0 4 0 200 100
70 0,21 -0,678 0 0 0 3 0 200 100
100 0,149 -0,827 10 5 5 1 0 200 90
Pan 190 95 95 0 0 0 -
Total 200 100 - - - - -

Tabel 4. Data Hasil Pengayakan Tepung Beras Percobaan 2 Kelompok 4


Diameter Bahan
Bahan Tertinggal
Lubang Tertinggal Faktor Terlarut
Mesh Hasil
d1 w1 (w1/w awal) Komulatif Pengali
Log d1 Gram %
(mm) (gram) x 100%
40 0,595 -0,225 0 0 0 0 0 0 0
50 0,297 -0,527 0 0 0 0 0 0 0
60 0,25 -0,602 0 0 0 0 0 0 0
70 0,21 -0,678 0 0 0 0 0 0 0
100 0,149 -0,827 0 0 0 0 0 0 0
Pan 0 0 0 0 0 0 0
Total 0 0 0 190 95%
Tabel 5. Data Hasil Pengayakan Tepung Tapioka Percobaan 1 Kelompok 3
Diameter Bahan
Bahan Tertinggal
Lubang Tertinggal Faktor Terlarut
Mesh Hasil
d1 w1 (w1/w awal) Komulatif Pengali
Log d1 Gram %
(mm) (gram) x 100%
40 0,595 -0,225 0 0 0 6 0 200 100
50 0,297 -0,527 0 0 0 5 0 200 100
60 0,25 -0,602 0 0 0 4 0 200 100
70 0,21 -0,678 0 0 0 3 0 200 100
100 0,149 -0,827 0 0 0 1 0 200 100
Pan 200 0 0 0 0 200 100
Total 200 0 200 100

Tabel 6. Data Hasil Pengayakan Tepung Tapioka Percobaan 2 Kelompok 5


Diameter Bahan
Bahan Tertinggal
Lubang Tertinggal Faktor Terlarut
Mesh Hasil
d1 w1 (w1/w awal) Komulatif Pengali
Log d1 Gram %
(mm) (gram) x 100%
40 0,595 -0,225 0 0 0 6 0 200 10
50 0,297 -0,527 0 0 0 5 0 200 100
60 0,25 -0,602 0 0 0 4 0 200 100
70 0,21 -0,678 0 0 0 3 0 200 100
100 0,149 -0,827 0 0 0 1 0 200 100
Pan 200 0 0 0 0 200 100
Total 200 0 200 100
4.2 Perhitungan
4.2.1 Pengayakan Tepung Terigu Percobaan 1 Kelompok 1
𝑊1 195
• BTMesh = 𝑀 × 100% = 200 × 100% = 97,5
𝑎𝑤𝑎𝑙

• Fineness Modulus (FM)


𝑇𝑜𝑡𝑎𝑙 𝐻𝑎𝑠𝑖𝑙 (𝑚𝑎𝑠𝑠𝑎 𝑏𝑎ℎ𝑎𝑛 𝑡𝑒𝑟𝑡𝑖𝑛𝑔𝑔𝑎𝑙 𝑘𝑢𝑚𝑢𝑙𝑎𝑡𝑖𝑓)(𝑚𝑒𝑠ℎ100)
𝐹𝑀1 =
100
35
= 100
= 0,35
• Diameter Rata-Rata
𝐷 = 0.0041(2)𝐹𝑀
= 0,0041 (2)0,35
= 0,00522 mm
• Geometric Mean Diameter (Dgw)
∑ (𝑤1 𝑥 log 𝑑1
Dgw = 𝑙𝑜𝑔−1 [𝑚𝑎𝑠𝑠𝑎 𝑏𝑎ℎ𝑎𝑛 𝑡𝑒𝑟𝑡𝑖𝑛𝑔𝑔𝑎𝑙 𝑘𝑜𝑚𝑢𝑙𝑎𝑡𝑖𝑓 (𝑚𝑒𝑠ℎ 100)]
−47,965
= 𝑙𝑜𝑔−1 [ ]
35
• Geometric Standar Deviation (Sgw)
∑(𝑤1 𝑥 (log 𝑑1− 𝐿𝑂𝐺 𝐷𝑔𝑤)^1 /2)
Sgw = 𝑙𝑜𝑔−1 [𝑚𝑎𝑠𝑠𝑎 𝑏𝑎ℎ𝑎𝑛 𝑡𝑒𝑟𝑡𝑖𝑛𝑔𝑔𝑎𝑙 𝑘𝑜𝑚𝑢𝑙𝑎𝑡𝑖𝑓 (𝑚𝑒𝑠ℎ 100)]

= 𝑙𝑜𝑔−1 [35]

4.2.2 Pengayakan Tepung Terigu Percobaan 2 Kelompok 1


𝑊1 190
• BTMesh = 𝑀 × 100% = 200 × 100% = 95
𝑎𝑤𝑎𝑙

• Fineness Modulus (FM)


𝑇𝑜𝑡𝑎𝑙 𝐻𝑎𝑠𝑖𝑙 (𝑚𝑎𝑠𝑠𝑎 𝑏𝑎ℎ𝑎𝑛 𝑡𝑒𝑟𝑡𝑖𝑛𝑔𝑔𝑎𝑙 𝑘𝑢𝑚𝑢𝑙𝑎𝑡𝑖𝑓)(𝑚𝑒𝑠ℎ100)
𝐹𝑀1 =
100
50
= 100
= 0,5
• Diameter Rata-Rata
𝐷 = 0.0041(2)𝐹𝑀
= 0,0041 (2)0,5
= 0,00579 mm

• Geometric Mean Diameter (Dgw)


∑ (𝑤1 𝑥 log 𝑑1
Dgw = 𝑙𝑜𝑔−1 [𝑚𝑎𝑠𝑠𝑎 𝑏𝑎ℎ𝑎𝑛 𝑡𝑒𝑟𝑡𝑖𝑛𝑔𝑔𝑎𝑙 𝑘𝑜𝑚𝑢𝑙𝑎𝑡𝑖𝑓 (𝑚𝑒𝑠ℎ 100)]
−17,36
= 𝑙𝑜𝑔−1 [ ]
50
• Geometric Standar Deviation (Sgw)
∑(𝑤1 𝑥 (log 𝑑1− 𝐿𝑂𝐺 𝐷𝑔𝑤)^1 /2)
Sgw = 𝑙𝑜𝑔−1 [𝑚𝑎𝑠𝑠𝑎 𝑏𝑎ℎ𝑎𝑛 𝑡𝑒𝑟𝑡𝑖𝑛𝑔𝑔𝑎𝑙 𝑘𝑜𝑚𝑢𝑙𝑎𝑡𝑖𝑓 (𝑚𝑒𝑠ℎ 100)]

= 𝑙𝑜𝑔−1 [35]
4.2.3 Pengayakan Tepung Beras Percobaan 1 Kelompok 2
𝑊1 200
• BTMesh = 𝑀 × 100% = 200 × 100% = 100%
𝑎𝑤𝑎𝑙

• Fineness Modulus (FM)


𝑇𝑜𝑡𝑎𝑙 𝐻𝑎𝑠𝑖𝑙 (𝑚𝑎𝑠𝑠𝑎 𝑏𝑎ℎ𝑎𝑛 𝑡𝑒𝑟𝑡𝑖𝑛𝑔𝑔𝑎𝑙 𝑘𝑢𝑚𝑢𝑙𝑎𝑡𝑖𝑓)(𝑚𝑒𝑠ℎ100)
𝐹𝑀1 =
100
10
= = 0,1
100
• Diameter Rata-Rata
𝐷 = 0.0041(2)𝐹𝑀
= 0,0041 (2)0,1
= 0,00439 mm
• Geometric Mean Diameter (Dgw)
∑ (𝑤1 𝑥 log 𝑑1
Dgw = 𝑙𝑜𝑔−1 [𝑚𝑎𝑠𝑠𝑎 𝑏𝑎ℎ𝑎𝑛 𝑡𝑒𝑟𝑡𝑖𝑛𝑔𝑔𝑎𝑙 𝑘𝑜𝑚𝑢𝑙𝑎𝑡𝑖𝑓 (𝑚𝑒𝑠ℎ 100)]

=0
• Geometric Standar Deviation (Sgw)
∑(𝑤1 𝑥 (log 𝑑1− 𝐿𝑂𝐺 𝐷𝑔𝑤)^1 /2)
Sgw = 𝑙𝑜𝑔−1 [𝑚𝑎𝑠𝑠𝑎 𝑏𝑎ℎ𝑎𝑛 𝑡𝑒𝑟𝑡𝑖𝑛𝑔𝑔𝑎𝑙 𝑘𝑜𝑚𝑢𝑙𝑎𝑡𝑖𝑓 (𝑚𝑒𝑠ℎ 100)]
=0

4.2.4 Pengayakan Tepung Beras Percobaan 2 Kelompok 4


𝑊1
• BTMesh = 𝑀 × 100% = 100%
𝑎𝑤𝑎𝑙

• Fineness Modulus (FM)


𝑇𝑜𝑡𝑎𝑙 𝐻𝑎𝑠𝑖𝑙 (𝑚𝑎𝑠𝑠𝑎 𝑏𝑎ℎ𝑎𝑛 𝑡𝑒𝑟𝑡𝑖𝑛𝑔𝑔𝑎𝑙 𝑘𝑢𝑚𝑢𝑙𝑎𝑡𝑖𝑓)(𝑚𝑒𝑠ℎ100)
𝐹𝑀1 =
100
=0
• Diameter Rata-Rata
𝐷 = 0.0041(2)𝐹𝑀
= 0,0041 (2)0
= 0,0041 mm
• Geometric Mean Diameter (Dgw)
∑ (𝑤1 𝑥 log 𝑑1
Dgw = 𝑙𝑜𝑔−1 [𝑚𝑎𝑠𝑠𝑎 𝑏𝑎ℎ𝑎𝑛 𝑡𝑒𝑟𝑡𝑖𝑛𝑔𝑔𝑎𝑙 𝑘𝑜𝑚𝑢𝑙𝑎𝑡𝑖𝑓 (𝑚𝑒𝑠ℎ 100)]

=0
• Geometric Standar Deviation (Sgw)
∑(𝑤1 𝑥 (log 𝑑1− 𝐿𝑂𝐺 𝐷𝑔𝑤)^1 /2)
Sgw = 𝑙𝑜𝑔−1 [𝑚𝑎𝑠𝑠𝑎 𝑏𝑎ℎ𝑎𝑛 𝑡𝑒𝑟𝑡𝑖𝑛𝑔𝑔𝑎𝑙 𝑘𝑜𝑚𝑢𝑙𝑎𝑡𝑖𝑓 (𝑚𝑒𝑠ℎ 100)]

=0

4.2.5 Pengayakan Tepung Tapioka Percobaan 1 Kelompok 3


𝑊1
• BTMesh = 𝑀 × 100%
𝑎𝑤𝑎𝑙

• Fineness Modulus (FM)


𝑇𝑜𝑡𝑎𝑙 𝐻𝑎𝑠𝑖𝑙 (𝑚𝑎𝑠𝑠𝑎 𝑏𝑎ℎ𝑎𝑛 𝑡𝑒𝑟𝑡𝑖𝑛𝑔𝑔𝑎𝑙 𝑘𝑢𝑚𝑢𝑙𝑎𝑡𝑖𝑓)(𝑚𝑒𝑠ℎ100)
𝐹𝑀1 =
100
=0
• Diameter Rata-Rata
𝐷 = 0.0041(2)𝐹𝑀
= 0,0041 (2)0
= 0,0041 mm
• Geometric Mean Diameter (Dgw)
∑ (𝑤1 𝑥 log 𝑑1
Dgw = 𝑙𝑜𝑔−1 [𝑚𝑎𝑠𝑠𝑎 𝑏𝑎ℎ𝑎𝑛 𝑡𝑒𝑟𝑡𝑖𝑛𝑔𝑔𝑎𝑙 𝑘𝑜𝑚𝑢𝑙𝑎𝑡𝑖𝑓 (𝑚𝑒𝑠ℎ 100)]

=0
• Geometric Standar Deviation (Sgw)
∑(𝑤1 𝑥 (log 𝑑1− 𝐿𝑂𝐺 𝐷𝑔𝑤)^1 /2)
Sgw = 𝑙𝑜𝑔−1 [𝑚𝑎𝑠𝑠𝑎 𝑏𝑎ℎ𝑎𝑛 𝑡𝑒𝑟𝑡𝑖𝑛𝑔𝑔𝑎𝑙 𝑘𝑜𝑚𝑢𝑙𝑎𝑡𝑖𝑓 (𝑚𝑒𝑠ℎ 100)]

=0
4.2.6 Pengayakan Tepung Tapioka Percobaan 2 Kelompok 5
𝑊1
• BTMesh = 𝑀 × 100% = 100%
𝑎𝑤𝑎𝑙

• Fineness Modulus (FM)


𝑇𝑜𝑡𝑎𝑙 𝐻𝑎𝑠𝑖𝑙 (𝑚𝑎𝑠𝑠𝑎 𝑏𝑎ℎ𝑎𝑛 𝑡𝑒𝑟𝑡𝑖𝑛𝑔𝑔𝑎𝑙 𝑘𝑢𝑚𝑢𝑙𝑎𝑡𝑖𝑓)(𝑚𝑒𝑠ℎ100)
𝐹𝑀1 =
100
0
= 100 = 0
• Diameter Rata-Rata
𝐷 = 0.0041(2)𝐹𝑀
= 0,0041 (2)0
= 0,0041 mm
• Geometric Mean Diameter (Dgw)
∑ (𝑤1 𝑥 log 𝑑1
Dgw = 𝑙𝑜𝑔−1 [𝑚𝑎𝑠𝑠𝑎 𝑏𝑎ℎ𝑎𝑛 𝑡𝑒𝑟𝑡𝑖𝑛𝑔𝑔𝑎𝑙 𝑘𝑜𝑚𝑢𝑙𝑎𝑡𝑖𝑓 (𝑚𝑒𝑠ℎ 100)]

=0
• Geometric Standar Deviation (Sgw)
∑(𝑤1 𝑥 (log 𝑑1− 𝐿𝑂𝐺 𝐷𝑔𝑤)^1 /2)
Sgw = 𝑙𝑜𝑔−1 [𝑚𝑎𝑠𝑠𝑎 𝑏𝑎ℎ𝑎𝑛 𝑡𝑒𝑟𝑡𝑖𝑛𝑔𝑔𝑎𝑙 𝑘𝑜𝑚𝑢𝑙𝑎𝑡𝑖𝑓 (𝑚𝑒𝑠ℎ 100)]

=0

4.3 Grafik

40 14
12

% bahan tertinggal
30
% bahan tertinggal

y = -19,437x - 4,114 10

kumulatif
R² = 0,6417 8
kumulatif

20
y = -56,369x - 16,232 6
R² = 0,8964 10 4
2
0 0
-1 -0,5 0 -1 -0,5 0
-10
Log ukuran ayakan Ukuran ayakan

Gambar 1. Grafik hubungan log ayakan Gambar 2. Grafik hubungan ukuran ayakan
terhadap % bahan tertinggal kumulatif terhadap % bahan lewat tepung beras
tepung beras percobaan 1 (kelompok 1) percobaan 1 (kelompok 1)

60 20
50 y = -24,55x - 4,0375
% bahan tertinggal

15
% bahan tertinggal

R² = 0,6015
kumulatif

40
kumulatif

30 10
y = -82,212x - 23,009
20
R² = 0,9177 5
10
0 0
-1 -0,5 -1 -0,5 0
-10 0
Log ukuran ayakan Ukuran ayakan

Gambar 3. Grafik hubungan log ayakan Gambar 4. Grafik hubungan log ayakan
terhadap % bahan tertinggal kumulatif terhadap % bahan lewat tepung beras
tepung beras percobaan 2 (kelompok 1) percobaan 2 (kelompok 1)
6 6
5 5

% bahan tertinggal

% bahan tertinggal
4 4

kumulatif

kumulatif
3 3
y = -6,393x - 2,6555 2 y = -6,393x - 2,6555 2
R² = 0,4079 1 R² = 0,4079 1
0 0
-1 -0,5 -1 0 -1 -0,5 -1 0
-2 -2
Log ukuran ayakan Log ukuran ayakan

Gambar 5. Grafik hubungan log ayakan Gambar 6. Grafik hubungan ukuran ayakan
terhadap % bahan tertinggal kumulatif terhadap % bahan tertinggal lewat tepung
tepung terigu percobaan 1 (kelompok 2) terigu percobaan 1 (kelompok 2)

1 1
% bahan tertinggal

% bahan tertinggal
0,8 0,8

kumulatif
kumulatif

y=0
y = 0 0,6 R² = #N/A
0,6
R² = #N/A
0,4 0,4

0,2 0,2

0 0
-1 -0,5 0 -1 -0,5 0
Log ukuran ayakan Ukuran ayakan

Gambar 7. Grafik hubungan log ayakan Gambar 8. Grafik hubungan ukuran ayakan
terhadap % bahan tertinggal kumulatif terhadap % lewattepung terigu percobaan 2
tepung terigu percobaan 2 (kelompok 4) (kelompok 4)

1 1
% bahan tertinggal

% bahan tertinggal

0,8 0,8
kumulatif

kumulatif

y = 0 0,6 y = 0 0,6
R² = #N/A R² = #N/A
0,4 0,4

0,2 0,2

0 0
-1 -0,5 0 -1 -0,5 0
Log ukuran ayakan Log ukuran ayakan

Gambar 9. Grafik hubungan log ayakan Gambar 10. Grafik hubungan ukuran ayakan
terhadap % bahan tertinggal kumulatif terhadap % bahan lewat tepung terigu
tepung tapioka percobaan 1 (kelompok 3) percobaan 1 (kelompok 3)
1 1

% bahan tertinggal

% bahan tertinggal
0,8 0,8
kumulatif

kumulatif
y = 0 0,6 y = 0 0,6
R² = #N/A R² = #N/A
0,4 0,4

0,2 0,2

0 0
-1 -0,5 0 -1 -0,5 0
Log ukuran ayakan Log ukuran ayakan

Gambar 11. Grafik hubungan log ayakan Gambar 12. Grafik hubungan ukuran ayakan
terhadap % bahan tertinggal kumulatif terhadap % bahan lewat tepung tapioka
tepung tapioka percobaan 2 (kelompok 5) percobaan 2 (kelompok 5)
BAB V
PEMBAHASAN

Praktikum kali ini praktikan mendapatkan materi mengenai modulus


kehalusan atau finnese modulus dari bahan hasil pertanian yang telah diberikan
perlakuan pengecilan ukuran oleh alat-alat mesin pertanian, yaitu ayakan tyler.
Ayakan tyler adalah suatu alat pengayak yang dapat memisahkan ukuran bahan
yang melewatinya dengan beberapa ukuran mesh atau diameter dari lubang ayakan.
Ayakan ini digunakan secara bertingkat mulai dari 20 mesh, 30 mesh, 40 mesh, 50
mesh, 80 mesh, dan 100 mesh. Pengayakan dengan menggunakan ayakan tyler tidak
dilakukan secara manual melainkan dengan mesin yang dapat menggoyangkan
ayakan sehingga hasil ayakan jatuh ke dalam pan atau tempat penampungan
terbawah.
Nilai yang praktikan dapatkan tentunya jumlah dari bahan sebesar 200 gram
yang nantinya terbagi bagi pada beberapa mesh yang melewatinya, tentunya jika
bahan memiliki ukuran yang tidak seragam pada butir-butirnya maka tidak akan
dapat melewati mesh sehingga tertinggal pada beberapa tingkatan. Jumlah dari
bahan yang tertinggal itu ditimbang dan didapatkan nilai dari berat tiap-tiap bahan
tersebut. Nilai yang telah didapatkan tentunya harus diolah kembali dengan
menggunakan beberapa perhitungan yang telah disediakan yaitu Geometric Mean
Diameter (Dgw) dan menghitung Geometric Standar Deviation (Sgw). Setelah nilai
ini didapatkan maka dibuat grafik hubungan yang nilainya telah didapatkan.
Nilai yang akan dibahas yaitu nilai-nilai yang telah praktikan dapatkan dari
kelompok secara keseluruhan yaitu nilai modulus kehalusan didapatkan nilai
modulus kelompok pertama sebesar 0,35; lalu nilai modulus kelompok kedua
sebesar 0,1; lalu nilai modulus kelompok ketiga sebesar 0; lalu nilai modulus
kelompok keempat sebesar 0; dan nilai modulus kelompok kelima sebesar 0. Dari
hasil perhitungan diatas maka dapat disimpulkan bahwa tepung tapioka memiliki
nilai modulus kehalusan terkecil sedangkan tepung terigu memiliki nilai modulus
kehalusan terbesar diantara ketiga jenis tepung tersebut. Semakin kecil persentase
bahan tertinggal pada ayakan, maka semakin kecil nilai modulus kehalusan.
Selain menghitung nilai modulus kehalusan praktikan juga menghitung nilai
Dgw dan Sgw. Nilai Dgw pada tepung terigu percobaan pertama sebesar 0 dan
percobaan kedua sebesar 0; tepung beras percobaan pertama sebesar 0 dan
percobaan kedua sebesar 0 serta tepung tapioka percobaan pertama sebesar 0 dan
percobaan kedua sebesar 0. Sedangkan nilai Sgw tepung terigu percobaan pertama
sebesar 0 dan percobaan kedua sebesar 0; tepung beras percobaan pertama sebesar
0 dan percobaan kedua sebesar 0 serta tepung tapioka percobaan pertama sebesar 0
dan percobaan kedua 0.
Grafik pada Gambar 1- 12 perbandingan % bahan yang lewat dengan ukuran
ayakan dapat disimpulkan bahwa hubungan antara persentase bahan lewat dengan
ukuran ayakan berbanding lurus. Semakin besar ukuran ayakan, semakin besar
persentase bahan lewat, sebaliknya semakin kecil ukuran ayakan, maka semakin
persentase bahan lewat akan semakin kecil. Sedangkan grafik hubungan
antara %bahan tertinggal kumulatif dengan log ukuran ayakan dapat diketahui nilai
regresi untuk grafik tepung terigu paling mendekati 1. Sedangkan pada grafik
antara % bahan lewat dengan ukuran ayakan tepung terigu dan tepung beras
mendekati 1. Maka dapat disimpulkan tepung terigu tingkat keteliannya lebih baik
daripada tepung beras dan tepung tapioka.
BAB VI
PENUTUP

6.1 Kesimpulan
Kesimpulan yang didapat pada praktikum kali ini adalah:
1. Semakin besar ukuran ayakan, semakin besar persentase bahan lewat,
sebaliknya semakin kecil ukuran ayakan, maka semakin persentase bahan
lewat akan semakin kecil;
2. Tingkat ketelitian tepung terigu lebih baik dibanding tepung beras dan
tapioka; dan
3. Tepung tapioka memiliki nilai modulus kehalusan terkecil sedangkan tepung
terigu memiliki nilai modulus kehalusan terbesar diantara ketiga jenis tepung
tersebut.

6.2 Saran
Saran untuk praktikum selanjutnya adalah:
1. Materi yang akan digunakan pada praktikum harus lebih dikuasai; dan
2. Praktikan harus kondusif saat melakukan praktikum.
DAFTAR PUSTAKA

Earle, R.L. 1983. Unit Operation in Food Processing 2 nd Edition. Pergamon Press.
New York. United States.
Fellows, P. 1990. Food Processing Technology Principles and Practice. Ellis
Horwood. New York.
Nurjanah, sarifah, dkk. 2012. Teknik Penanganan Hasil Pertanian. Jatinangor:
Universitas Padjadjaran.
Prakarsa, Aditya. 2016. Sifat Fisiokimia Dan Mikrobiologis Tepung Talas
Fermentasi Sebagai Tepung Alternatif. Terdapat pada:
[Link] Diakses pada 18 Oktober 2018 pukul 21.08
WIB.
Purwantana, Bambang. 2008. Kajian Kinera Mesin Ekstraksi Tipe Ulir Pada Proses
Pembuatan Pati Aren. Terdapat pada:
[Link] Diakses pada 18
Oktober 2018 pukul 21.34 WIB.
Wirakartakusumah, Aman dkk. 1992. Peralatan Dan Unit Proses Industri Pangan.
Bogor: Institut Pertanian Bogor.
LAMPIRAN

Dokumentasi Praktikum

Gambar 13. Tepung pada ayakan Gambar 14. Pengayakan tepung


(Dokumentasi Pribadi, 2018) (Dokumentasi Pribadi, 2018)

Anda mungkin juga menyukai