Penetapan Modulus Kehalusan Tepung
Penetapan Modulus Kehalusan Tepung
LAPORAN PRAKTIKUM
TEKNIK PENANGANAN HASIL PERTANIAN
(4. Penetapan Modulus Kehalusan (Fineness Modulus) Tepung)
Oleh :
Nama : Raden Naufal Rizki R.
Kelompok/Shift : 2/B1
NPM : 240110160113
Hari, Tanggal Praktikum : Jum’at,12 Oktober 2018
Waktu : 07.30–09.30 WIB
[Link] : 1. Bonie Pamungkas
2. Elviera Rahmadina
3. Irene June Sidabutar
4. Zahrah Eza Arpima
1.2 Tujuan
Tujuan dari dilaksanakannya praktikum kali ini adalah untuk mengukur dan
mengamati pengecilan ukuran bahan hasil pertanian dengan mengkaji performansi
mesin dan rendemen hasil pengecilan ukuran.
BAB II
LANDASAN TEORI
2.2 Pengayakan
Pengayakan adalah suatu unit operasi di mana suatu campuran dari berbagai
jenis ukuran partikel padat dipisahkan ke dalam dua atau lebih bagian-bagian kecil
dengan cara melewatkannya di atas screen (ayakan). Atau dengan kata lain
pengayakan adalah suatu proses pemisahan bahan berdasarkan ukuran lubang
kawat yang terdapat pada ayakan, bahan yang lebih kecil dari ukuran mesh/lubang
akan masuk, sedangkan yang berukuran besar akan tertahan pada permukaan kawat
ayakan. Setiap fraksi tersebut menjadi lebih seragam dalam ukurannya
dibandingkan campuran aslinya. Screen adalah suatu permukaan yang terdiri dari
sejumlah lubang-lubang yang berukuran sama. Permukaan tersebut dapat berbentuk
bidang datar (horizontal atau miring), atau dapat juga berbentuk silinder. Screen
yang berbentuk datar yang mempunyai kapasitas kecil disebut juga
ayakan/pengayak (sieve).
Screening atau pengayakan secara umum merupakan suatu pemisahan ukuran
berdasarkan kelas-kelasnya pada alat sortasi. Namun pengayakan juga dapat
digunakan sebagai alat pembersih, memindahkan kontaminan yang ukurannya
berbeda dengan bahan
Screen dari fixed aperture screen secara permanen terpasang screen beds dan
mempunyai bentuk dan ukuran yang tetap. Pergerakan bahan pangan di atas screen
dapat diakibatkan oleh gaya gyratory, rotary, atau vibratory pada frame yang
membawa bahan pada screen bed. Proses yang umum, pengayakan secara luas
digunakan untuk memisahkan campuran-campuran bahan yang berbentuk butiran-
butiran atau serbuk berdasarkan ukurannya (Fellows, 1990).
Adapun tujuan dari pengayakan itu sendiri adalah:
1. Mengendalikan ukuran partikel yang akan masuk atau harus keluar dalam
unit atau alat tertentu.
2. Menghasilkan produk dengan ukuran dan atau selang ukuran tertentu.
3. Menghasilkan ukuran produk yang sesuai dengan persyaratan konsumen.
4. Untuk mendapatkan efisiensi tinggi.
Di samping tujuan tersebut, ada operasi pengayakan dengan tujuan tertentu,
yaitu: scalping dan pencucian.
1. Scalping adalah operasi pengayakan yang bertujuan untuk mengeluarkan
sejumlah kecil oversize dari umpan.
2. Pencucian adalah operasi yang bertujuan menghilangkan material halus
yang menempel pada material kasar. Karena mencuci, maka operasinya
ditambah dengan air, atau biasa disebut pengayakan basah. (Fellows,
1990).
3 0,070 0,263 ¼
4 0,065 0,185 3
16
6 0,036 0,131 1
8
8 0,032 0,093 3
32
1
10 0,035 0,065 16
14 0,025 0,046 3
64
1
20 0,0172 0,0328 32
28 0,0125 0,0232 …
35 0,0122 0,0164 1
64
48 0,0092 0,0116 …
65 0,0072 0,0082 …
100 0,0042 0,0058 …
150 0,0026 0,0041 …
200 0,0021 0,0029 …
(Sumber : Sufyandi, 1995)
= 𝑙𝑜𝑔−1 [35]
= 𝑙𝑜𝑔−1 [35]
4.2.3 Pengayakan Tepung Beras Percobaan 1 Kelompok 2
𝑊1 200
• BTMesh = 𝑀 × 100% = 200 × 100% = 100%
𝑎𝑤𝑎𝑙
=0
• Geometric Standar Deviation (Sgw)
∑(𝑤1 𝑥 (log 𝑑1− 𝐿𝑂𝐺 𝐷𝑔𝑤)^1 /2)
Sgw = 𝑙𝑜𝑔−1 [𝑚𝑎𝑠𝑠𝑎 𝑏𝑎ℎ𝑎𝑛 𝑡𝑒𝑟𝑡𝑖𝑛𝑔𝑔𝑎𝑙 𝑘𝑜𝑚𝑢𝑙𝑎𝑡𝑖𝑓 (𝑚𝑒𝑠ℎ 100)]
=0
=0
• Geometric Standar Deviation (Sgw)
∑(𝑤1 𝑥 (log 𝑑1− 𝐿𝑂𝐺 𝐷𝑔𝑤)^1 /2)
Sgw = 𝑙𝑜𝑔−1 [𝑚𝑎𝑠𝑠𝑎 𝑏𝑎ℎ𝑎𝑛 𝑡𝑒𝑟𝑡𝑖𝑛𝑔𝑔𝑎𝑙 𝑘𝑜𝑚𝑢𝑙𝑎𝑡𝑖𝑓 (𝑚𝑒𝑠ℎ 100)]
=0
=0
• Geometric Standar Deviation (Sgw)
∑(𝑤1 𝑥 (log 𝑑1− 𝐿𝑂𝐺 𝐷𝑔𝑤)^1 /2)
Sgw = 𝑙𝑜𝑔−1 [𝑚𝑎𝑠𝑠𝑎 𝑏𝑎ℎ𝑎𝑛 𝑡𝑒𝑟𝑡𝑖𝑛𝑔𝑔𝑎𝑙 𝑘𝑜𝑚𝑢𝑙𝑎𝑡𝑖𝑓 (𝑚𝑒𝑠ℎ 100)]
=0
4.2.6 Pengayakan Tepung Tapioka Percobaan 2 Kelompok 5
𝑊1
• BTMesh = 𝑀 × 100% = 100%
𝑎𝑤𝑎𝑙
=0
• Geometric Standar Deviation (Sgw)
∑(𝑤1 𝑥 (log 𝑑1− 𝐿𝑂𝐺 𝐷𝑔𝑤)^1 /2)
Sgw = 𝑙𝑜𝑔−1 [𝑚𝑎𝑠𝑠𝑎 𝑏𝑎ℎ𝑎𝑛 𝑡𝑒𝑟𝑡𝑖𝑛𝑔𝑔𝑎𝑙 𝑘𝑜𝑚𝑢𝑙𝑎𝑡𝑖𝑓 (𝑚𝑒𝑠ℎ 100)]
=0
4.3 Grafik
40 14
12
% bahan tertinggal
30
% bahan tertinggal
y = -19,437x - 4,114 10
kumulatif
R² = 0,6417 8
kumulatif
20
y = -56,369x - 16,232 6
R² = 0,8964 10 4
2
0 0
-1 -0,5 0 -1 -0,5 0
-10
Log ukuran ayakan Ukuran ayakan
Gambar 1. Grafik hubungan log ayakan Gambar 2. Grafik hubungan ukuran ayakan
terhadap % bahan tertinggal kumulatif terhadap % bahan lewat tepung beras
tepung beras percobaan 1 (kelompok 1) percobaan 1 (kelompok 1)
60 20
50 y = -24,55x - 4,0375
% bahan tertinggal
15
% bahan tertinggal
R² = 0,6015
kumulatif
40
kumulatif
30 10
y = -82,212x - 23,009
20
R² = 0,9177 5
10
0 0
-1 -0,5 -1 -0,5 0
-10 0
Log ukuran ayakan Ukuran ayakan
Gambar 3. Grafik hubungan log ayakan Gambar 4. Grafik hubungan log ayakan
terhadap % bahan tertinggal kumulatif terhadap % bahan lewat tepung beras
tepung beras percobaan 2 (kelompok 1) percobaan 2 (kelompok 1)
6 6
5 5
% bahan tertinggal
% bahan tertinggal
4 4
kumulatif
kumulatif
3 3
y = -6,393x - 2,6555 2 y = -6,393x - 2,6555 2
R² = 0,4079 1 R² = 0,4079 1
0 0
-1 -0,5 -1 0 -1 -0,5 -1 0
-2 -2
Log ukuran ayakan Log ukuran ayakan
Gambar 5. Grafik hubungan log ayakan Gambar 6. Grafik hubungan ukuran ayakan
terhadap % bahan tertinggal kumulatif terhadap % bahan tertinggal lewat tepung
tepung terigu percobaan 1 (kelompok 2) terigu percobaan 1 (kelompok 2)
1 1
% bahan tertinggal
% bahan tertinggal
0,8 0,8
kumulatif
kumulatif
y=0
y = 0 0,6 R² = #N/A
0,6
R² = #N/A
0,4 0,4
0,2 0,2
0 0
-1 -0,5 0 -1 -0,5 0
Log ukuran ayakan Ukuran ayakan
Gambar 7. Grafik hubungan log ayakan Gambar 8. Grafik hubungan ukuran ayakan
terhadap % bahan tertinggal kumulatif terhadap % lewattepung terigu percobaan 2
tepung terigu percobaan 2 (kelompok 4) (kelompok 4)
1 1
% bahan tertinggal
% bahan tertinggal
0,8 0,8
kumulatif
kumulatif
y = 0 0,6 y = 0 0,6
R² = #N/A R² = #N/A
0,4 0,4
0,2 0,2
0 0
-1 -0,5 0 -1 -0,5 0
Log ukuran ayakan Log ukuran ayakan
Gambar 9. Grafik hubungan log ayakan Gambar 10. Grafik hubungan ukuran ayakan
terhadap % bahan tertinggal kumulatif terhadap % bahan lewat tepung terigu
tepung tapioka percobaan 1 (kelompok 3) percobaan 1 (kelompok 3)
1 1
% bahan tertinggal
% bahan tertinggal
0,8 0,8
kumulatif
kumulatif
y = 0 0,6 y = 0 0,6
R² = #N/A R² = #N/A
0,4 0,4
0,2 0,2
0 0
-1 -0,5 0 -1 -0,5 0
Log ukuran ayakan Log ukuran ayakan
Gambar 11. Grafik hubungan log ayakan Gambar 12. Grafik hubungan ukuran ayakan
terhadap % bahan tertinggal kumulatif terhadap % bahan lewat tepung tapioka
tepung tapioka percobaan 2 (kelompok 5) percobaan 2 (kelompok 5)
BAB V
PEMBAHASAN
6.1 Kesimpulan
Kesimpulan yang didapat pada praktikum kali ini adalah:
1. Semakin besar ukuran ayakan, semakin besar persentase bahan lewat,
sebaliknya semakin kecil ukuran ayakan, maka semakin persentase bahan
lewat akan semakin kecil;
2. Tingkat ketelitian tepung terigu lebih baik dibanding tepung beras dan
tapioka; dan
3. Tepung tapioka memiliki nilai modulus kehalusan terkecil sedangkan tepung
terigu memiliki nilai modulus kehalusan terbesar diantara ketiga jenis tepung
tersebut.
6.2 Saran
Saran untuk praktikum selanjutnya adalah:
1. Materi yang akan digunakan pada praktikum harus lebih dikuasai; dan
2. Praktikan harus kondusif saat melakukan praktikum.
DAFTAR PUSTAKA
Earle, R.L. 1983. Unit Operation in Food Processing 2 nd Edition. Pergamon Press.
New York. United States.
Fellows, P. 1990. Food Processing Technology Principles and Practice. Ellis
Horwood. New York.
Nurjanah, sarifah, dkk. 2012. Teknik Penanganan Hasil Pertanian. Jatinangor:
Universitas Padjadjaran.
Prakarsa, Aditya. 2016. Sifat Fisiokimia Dan Mikrobiologis Tepung Talas
Fermentasi Sebagai Tepung Alternatif. Terdapat pada:
[Link] Diakses pada 18 Oktober 2018 pukul 21.08
WIB.
Purwantana, Bambang. 2008. Kajian Kinera Mesin Ekstraksi Tipe Ulir Pada Proses
Pembuatan Pati Aren. Terdapat pada:
[Link] Diakses pada 18
Oktober 2018 pukul 21.34 WIB.
Wirakartakusumah, Aman dkk. 1992. Peralatan Dan Unit Proses Industri Pangan.
Bogor: Institut Pertanian Bogor.
LAMPIRAN
Dokumentasi Praktikum