Pembelajaran Mandiri dalam Keperawatan
Pembelajaran Mandiri dalam Keperawatan
MAKALAH
“SELF DIRECTED LEARNING”
Oleh :
MAGISTER KEPERAWATAN
FAKULTAS KEDOKTERAN, KESEHATAN MASYARAKAT DAN ILMU
KEPERAWATAN
2018
1
KATA PENGANTAR
Puji syukur saya panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa karena dengan
rahmat, karunia, serta taufik dan hidayah-Nya saya dapat menyelesaikan makalah
tentang hasil review literatur “Self directed Learning” ini dengan baik meskipun
banyak kekurangan didalamnya. Dan juga saya berterima kasih pada Dr. Fitri
Haryanti, [Link].,[Link] selaku Dosen mata kuliah Pendidikan dalam Keperawatan
yang telah memberikan tugas ini.
Saya sangat berharap makalah ini dapat berguna dalam rangka menambah
wawasan serta pengetahuan kita mengenai model pembelajaran dewasa yaitu
student center learning yang dikemas dalam bentuk self directed learning, Saya
menyadari sepenuhnya bahwa di dalam makalah ini terdapat kekurangan dan jauh
dari kata sempurna. Oleh sebab itu, saya berharap adanya kritik, saran dan usulan
demi perbaikan makalah yang telah saya buat di masa yang akan datang.
Semoga makalah ini dapat dipahami bagi siapapun yang membacanya.
Sekiranya laporan yang telah disusun ini dapat berguna bagi saya sendiri maupun
orang yang membacanya. Sebelumnya saya mohon maaf apabila terdapat
kesalahan kata-kata yang kurang berkenan dan saya memohon kritik dan saran
yang membangun demi perbaikan makalah ini di waktu yang akan datang.
Khairun Nisa
2
DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL................................................................................................ i
BAB I
PENDAHULUAN
BAB II
BAB III
B. Kesimpulan ................................................................................................ 18
3
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Sistem pendidikan di Indonesia bertujuan menggali potensi dan
memperhatikan perkembangan moral dan sosial untuk mempersiapkannya
terjun dalam masyarakat. Pelaksanaan pembelajaran di sekolah sebaiknya
berorientasi pada model dan tujuan pembelajaran tersebut, yaitu
mengembangkan kemampuan akademik dan interaksi sosial dengan
meningkatkan keaktifan peserta didik dalam pembelajaran. Agar tercipta
pembelajaran atau pengajaran yang efektif perlu digunakan pendekatan, model,
atau metode pembelajaran yang tepat. Pemilihan pendekatan, model, metode
mengajar/pembelajaran hendaknya didasarkan atas beberapa pertimbangan.
Pemilihan model pembelajaran yang sesuai bertujuan agar tercipta
pembelajaran yang efektif dan pelayanan terhadap kemampuan, potensi,
minat, bakat, dan kebutuhan peserta didik yang beragam sehingga terjadi
interaksi yang optimal antara pengajar dengan peserta didik (Tim
Pengembang Ilmu Pendidikan, 2007).
Pendidikan keperawatan saat ini mulai berusaha untuk meningkatkan
kualitas dalam pendidikan meskipun hal tersebut tidak terlepas dari hambatan
internal dan eksternal. Faktor internal meliputi motivasi, konsep diri, minat,
kemandirian belajar. Sedangkan faktor eksternal seperti sarana prasarana,
pengajar dan orang tua.(Riza & Tarmidi, 2010)
Seperti dipaparkan diatas salah satu yang menjadi faktor mutu
pendidikan saat ini adalah kemandirian belajar. Dalam konsep pembelajaran
SCL (student centerd learning) ditawarkan salah satu metode pembelajaran
yaitu self directed learning yang didefenisikan sebagai satu proses dimana
individu berinisiatif belajar dengan atau tanpa bantuan dari orang lain,
mendiagnosa kebutuhan belajarnya sediri, merumuskan tujuan belajar,
mengidentifikasi sumber belajar yang dapat digunakan, memilih dan
4
menerapkan strategi belajar dan mengevaluasi hasil belajarnya (Sumarmo,
2004)
Pembelajaran dengan mandiri telah direkomendasikan sebagai
metodelogi yang menjanjikan untuk pembelajaran seumur hidup khususnya
untuk mahasiwa medik. Pembelajaran ini menantang asumsi bahwa
pembelajaran dapat terjadi hanya didepan pengajar, SDL ini merupakan salah
satu upaya untuk menjaga arus pada pengetahuan yang terus berubah
(Benedict, Schonder, & McGee, 2013).
Self directed learning penting dalam pengembangan professional
pendidikan keperawatan serta dalam proses belajar mengajar. Sebagai
pembelajar mandiri pendidik akan berperan penting dalam mendukung siswa
lebih efektif dalam hasil belajar. Namun tantangannya adalah, untuk
melaksanakan pembelajaran self directed learning pengajar harus mengarahkan
siswa untuk tepat pada sasaran tujuan pembelajaran yang ditetapkan. (Gisela
H. Van Rensburg, 2015)
Besarnya tuntutan pada tenaga kerja keperawatan membuthkan
perubahan besar dalam pelaksanaan pendidikan perawat. SDL merupakan salah
satu metode yang mampu mendorong siswa keperawatan menjadi proaktif
dalam kebutuhan belajar mereka.
B. Tujuan Penulisan
Makalah ini bertujuan untuk mengetahui keefektifan pembelajaran
melalui metode self directed learning untuk mahasiswa keperawatan.
C. Pertanyaan Klinis
Apakah model pembelajaran Self Directed Learning berpengaruh
terhadap keefektifan pembelajaran mahasiswa keperawatan?
5
C : Convenntonal method
O : Understanding
Penulis melakukan penulusuran literatur melalu PUBMED, EBSCO
dan Sciencedirect dengan menggunakan kata kunci yang sama berdasaran
PICO yang telah ditetapkan.
6
BAB II
ANALISIS HASIL REVIEW LITERATUR
7
(Individual Learning Plan) memiliki peningkatan hasil belajar yang baik. Skor
rata-rata untuk hasil surgery subject exam (SSE) meningkat secara signifikan
setelah pelaksaan metode pembelajaran SDL dalam bentuk ILP dimana
didapatkan peningkatan hasil yaitu (74.9 vs 76.6; p= ,042; d = 0.21) dan siswa
melaporkan hasil yang baik dengan menggunakan pendekatan SDL tersebut.
Didapatkan kesimpulan bahwa penggunaan ILP sebagai cara untuk
melaksanakan self directed learning mampu meningkatkan pengetahuan medis,
keterampilan dalam merawat pasien, dan kesiapan untuk melakukan ujian yang
dilaksanakan oleh institusi dan pelaksanaan ILP ini secara keseluruhan dapat
berkontribusi pada peningkatan hasil pembelajaran dan meningkatkan
kemampuan siswa dalam menerapkan SDL.
Penelitian lain dilakukan oleh (Murad & MD, MPH, Prathibha Varkey,
MBBS, 2008) dengan judul “The effectiveness of self-directed learning in
health professions education: a systematic review” dalam laporan systematic
review yang dilakukan oleh dengan menggunakan 59 penelitian disimpulkan
bahwa SDL yang dibandingkan dengan model pembelajaran tradisonal, hasil
menunjukkan SDL lebih efektif dalam domain pengetahuan dan cenderung
sama efektifnya pada domain keterampilan dan sikap dan SDL ini cocok untuk
pelajar tingkat lanjut. Selain itu SDL tampaknya lebih efektif ketika peserta
didik terlibat dalam mengidentifikasi sumber belajar mereka. Knowles
menyarankan bahwa dalam penerapan model SDL ini siswa harus
berkonsultasi kepada pendidik dan menentukan metode dan sumberdaya yang
paling sesuai dengan gaya belajar dan tujuan kurikulum misalnya tujuan
kognitif bisa tercapai.
Selanjutnya penelitian yang dilakukan oleh (Tao, Li, Xu, & Jiang, 2015)
Dengan judul penelitian “Development of a nursing education program for
improving Chinese undergraduates' self-directed learning: A mixed-method
study” penelitian ini dilakukan dengan sampel 156 mahasiswa keperawatan
yang kemudian dibagi kedalam dua kelompok yaitu kelompok eksperimen (n=
32) dan kontrol (n = 133) pra dan pasca tes dilakukan untuk mengevaluasi
efektifitas program yang dilakukan dengan menggunakan skala belajar mandiri
8
dan wawancara dilakukan untuk mengetahui wawasan mereka tentang program
self directed learning. Dari penelitian ini didapatkan hasil baik analisis
kuantitatif dan kualitatif didapatkan hasil bahwa program SDL (Self directed
learning) berkontribusi pada mahasiswa keperawatan. Dalam kelompok
eksperimen skor post tes menunjukkan peningkatan dibandingkan dengan skor
pretes (p < 0.05) setelah dilakukan pelatihan selama 18 bulan. Sementara tidak
ada perubahan yang terjadi pada mereka sebelum program ini. Hasil kualitatif
dari pengalaman 9 siswa yang dilakukan wawancara dirumuskan 3 katagori
tematik utama yaitu pengaruh pada kesadaran, pengaruh pada kegiatan
pembelajaran, dan pengaruh pada lingkungan belajar dan hal tersebut
didaptkan dalam program ini sehingga disimpulkan dalam penelitian ini bahwa
Self directed learning sangat menguntungkan dalam program yang dilakukan
dan SDL yang dirancang sebagai metode pembelajaran tambahan dalam kelas
mampu memberikan kontribusi yang baik dalam meningkatkan hasil belajar
pada siswa.
Dalam jurnal (M Hassan Murad et al, 2008) menjelaskan bahwa
komponen kunci dari pembelajaran self directed learning adalah sebagai
berikut:
1) Pendidik yang berperan sebagai fasilitator,
Seorang pelajar membutuhkan seorang pengajar/ ahli untuk
memperkenalkan mereka tentang dasar-dasar dari SDL, termaksud penilaian
kebutuhan dalam proses pembelajaran dan pengembangan tujuan
pembelajaran. Peran pengajar dalam SDL sebagai sumber keterampilan
dalam melakukan SDL bukan sumber konten dimana pengajar berperan
sebagai fasilitatator untuk pelajar.
2) Mengidentifikasi kebutuhan belajar yang sesuai
Kebutuhan belajar berbeda dengan kompetensi saat ini dan tingkat
kompetensi yang dibutuhkan. Mengidentifikasi kebutuhan belajar
merupakan komponen integral dari self directed learning.
9
3) Mengembangkan tujuan pembelajaran
Tujuan pembelajaran adalah hasil pembelajaran yang diinginkan dan
berasal dari kumpulan kebutuhan yang dihasilkan oleh peserta didik.
4) Mengidentifikasi sumber daya yang tepat
Peserta didik dalam berkonsultasi dengan ahli/ pengajar harus
memilih sumberdaya yang tepat berdasrkan metode pembelajaran pilihan
mereka dan jenis tujuan pembelajaran yang ingin dicapai.
5) Implementasi proses
Fasilitator dalam hal ini pengajar harus menjadwalkan pertemuan
pada peserta didik. Pertemuan itu menekankan tentang kemitraan antara
pelajar dan pendidik bukan ketergantungan siswa dengan pendidik.
6) Komitmen dengan kontrak pembelajaran yang telah disepakati
Kontrak pembelajaran adalah, dokumen formal yang disiapkan oleh
siswa dalam berkonsultasi dengan pengajar yang bertujuan untuk
menunjukkan apa-apa yang harus dipelajari, bagaimana hal itu dipelajari,
dan bagaimana pembelajaran akan diverivikasi.
7) Evalusi hasil dari proses pembelajaran
SDL telah direkomendasikan untuk profesi professional seperti
perawat yang telah menunjukkan perolehan pengetahuan, keterampilan,
sikap dan prestasi yang meningkat setelah SDL ini diterapkan. Peran
fasilitator atau guru dalam SDL ini salah satunya adalah mengevaluasi hasil
dari belajar yang dilakukan oleh siswa.
10
menunjukkan perolehan peningkatan pengetahuan, keterapilan, sikap dan
prestasi yang telah dirumuskan diawal pelaksanaan pembelajaran (Murad &
MD, MPH, Prathibha Varkey, MBBS, 2008)
Dalam jurnal (Gisela H. Van Rensburg, 2015) dijelaskan bahwa
keberhasilan dalam pembelajaran seumur hidup/ SDL adalah kemampuan
untuk terlibat dalam pembelajaran mandiri yang membutuhkan keterbukaan
terhadap kesempatan belajar, konsep diri yang baik, mengambil inisiatif dan
mengilustrasikan kemandirian dalam belajar.
Dalam profesi keperawatan sudah menunjukkan bahwa pembelajaran
mandiri (self directed learning) memiliki hubungan lansung kearah
pengembangan pendekatan pembelajaran semuumr hidup yang sangat sesuai
dengan yang dibutuhkan oleh seorang perawat. Dengan mendukung siswa
menjadi pembeljar yang mandiri disepanjang kehidupan professional mereka
akan berdampak lansung pada kualitas praktek keperawatan peserta didik.
SDL dapat digunakan untuk membantu pembelajaran siswa dengan
dipinpin oleh pengajar. Perkembangan SDL membutuhkan perubahan
penekanan dan pandangan pendidik tentang peran mereka dalam SDL dan hal
ini harus dieksplorasi lebih dalam lagi. Strategi yang jelas untuk
memperkenalkan SDL kedalam kurikulum keperawatan sangat diperlukan.
Salah satu strategi pelaksanaan SDL dengan menggunakan prangkat mobile
misalnya menggunakan pasien virtual yang bisa diakses oleh mahasiswa
dengan mandiri seperti yang diteliti oleh (Benedict et al., 2013) yang
menemukan pembelajaran self directed learning dengan menggunakan pasien
virtual yang dilakukan dengan menggunakan perangkat lunak pasien virtual
yang didasarkan pada model pengambilan keputusan naratif dan membuat
simulasi kasus pasien yang kompleks untuk menggantikan instruksi berbasis
ceramah. Penelitian tersebut membandingkan metode pembelajaran SDL dan
metode kuliah kelas (konvensional) dapa siswa angkatan 2011 dan 2012
dengan melihat pengetahuan siswa tentang pemahaman terhadap mual muntah
pada pasien pasca oprasi, didapatkan hasil ditemukan bahwa siswa bisa diatur
dalam pelaksanaan simulasi sebesar 90%, menyenangkan 82 %, menantang
11
intelektual 97% dan 91% meningkatkan pengetahuan. Penelitian ini
menunjukkan bahwa penyelesaian kasus pasien berbasis pasien virtual
memunkinkan penggunakan kelas yang lebih baik. Penelitian ini membuktikan
bahwa SDL lebih efektif dari pembelajaran konvensional.
Self directed learning adalah, sebuah kebutuhan untuk belajar seumur
hidup, dan merupakan komponen penting untuk berpikir kritis. SDL ini diakui
oleh banyak kurikulum menjadi keharusan untuk pengembangan siswa.
Keterampilan belajar mandiri adalah, kebutuhan untuk pelajar seumur hidup,
komponen vital untuk berpikir kritis, penting bagi penyelenggara pendidikan
untuk menerapkan metode pembelajaran ini dan memfasilitasinya dan
menanamkan pada siswa rasa professionalisme, kritis berpikir, dan belajar
sesuai dengan proses pembelajaran dewasa (Benedict et al., 2013)
Self directed learning berkembang ketika siswa mengambil inisiatfi
untuk pembelajaran mereka, mengenali kebutuhan, merumuskan tujuan,
mengidentifikasi sumber daya dan menerapkan strategi yang tepat dan
mengevaluasi hasil belajar.
Dilevel internasional berbagai instrumen telah digunakan untuk
mengukur kemampuan self directed learning salah satu contohnya adalah
(SRSSDL-ita) merupakan instrumen yang mampu menawarkan umpan balik
berkenaan dengan kemampuan SDL yang dilakukan oleh siswa fungsinya yaitu
:a) mempromosikan dan meningkatkan kesadaran dikalangan siswa mengenai
kemampuan mereka dengan SDL dan tanggung jawab dan otonomi mereka
dalam proses belajar, b) mengidentifikasi kemampuan siswa dalam melakukan
SDL c) mendorong siswa untuk memikirkan sendiri metode dan strategi
pembelajaran yang dibutuhkan d) mengidentifikasi masalah dan kebutuhan
belajar, menerapkan strategi untuk meningkatkan kemampuan dalam
melakukan SDL dan memamtau evaluasi dari efektivitasnya e) mendukung
pendidik dalam mengembangkan dan mengevaluasi program SDL dan dalam
merancang kurikulum untuk program serjana dan pasca sarjana. SRSSDL-ita
instrumen ini awalnya dikembangkan oleh Williamsn dan kemuadian
dikembangkan di Italia. Instrumen ini ada 40 item didistribusikan kedalam
12
delapan faktor yaitu. Faktor kesadaran ada 7 item, sikap 8 item, motivasi 6
item, strategi belajar 5 item, metode pembelajaran 4 item, belajar aktif 4 item,
kempuan interpersonal 4 item, membangun pengetahuan 2 item. Pengukuran
menggunakan skala liket dengan 5 poin dari 1 untuk tidak pernah samapi 5
untuk selalu total skor berkisar 60-300 yang kemudian skor ini yang bisa
menggambarkan bahwa SDL yang dilakukan siswa efektif atau tidak.(Cadorin,
Cheng, & Palese, 2016)
13
2. Kekurangannya adalah:
Kekurangan dari SDL adalah bagi siswa yang malas maka self
directed ini sulit membuat mereka mampu untuk mengembangkan
kemampuan dan pengetahuannya dan kemampuan siswa dalam memilih
metode atau sumber belajar berbeda-beda sehingga siswa yang sulit dalam
memilih metode apa yang tepat akan kesulitan dalam menerapkan model
pembelajaran self directed learning ini.
14
BAB III
IMPLIKASI DAN KESIMPULAN
15
keberhasilannya yang dilakukan oleh subyek sebelum. Sedangkan dokumentasi
yang digunakan dalam penelitian ini adalah nilai IP subyek di semester 1 dan
semester 2. Penelitian ini menggunakan rancangan eksperimen dua kelompok
dengan random assignment dan analisa data menggunakan independent
sample t-test. Hasil penelitian menunjukkan bahwa, kelompok yang diberi
pelatihan SRL/SDL memiliki prestasi akademik lebih tinggi dibandingkan
kelompok yang tidak diberi pelatihan SRL dengan nilai p< 0,003. Dimana
kelompok yang diberi pelatihan memiliki nilai rata-rata indeks prestasi (IP)
lebih tinggi dengan mean = 2,78 dibandingkan kelompok yang tidak diberi
pelatihan dengan nilai mean = 2,47.
Telah banyak penelitan yang membahas tentang keefektifan dari model
pembelajran self directed learning dan model ini sangat cocok digunakan oleh
pembelajar dewasa. Sehingga penerapan SDL untuk mahasiswa keperawatan
sangat memungkinkan untuk terlaksana dengan penawaran keefektifan
pembelajran selanjutnya.
Perlu ditekankan bahwa pembelajaran menggunakan SDL bukan belajar
sendiri tapi memerlukan seorang ahli dalam hal ini adalah guru yang siap
memberikan bimbingan, arahan dan mengevaluasi hasil dari proses
pembelajaran yang dilakukan oleh siswa dan proses pembelajaran ini harus
selalu dilatih sehingga nantinya untuk kedepan mahasiswa sudah mampu
menjadi pembelajar yang mandiri baik didunia pendidikan maupun didunia
kerja nantinya.
Borrow 198 Dalam jurnal (Murad & MD, MPH, Prathibha Varkey,
MBBS, 2008) menegaskan bahwa untuk meningkatkan kemampuan siswa
dalam melaksanakan self directed learning harus disempurnakan dengan
praktek yang aktif, berulang dan dipandu oleh oleh pengajar dalam proses
pembelajarannya. Pengajar memberikan kesempatan kepada siswa untuk
latihan dimana siswa terlibat dalam memilih topik study, mencari sumber daya,
dan membuat strategi belajar sendiri. Tugas pengajar adalah mengevaluasi
kinerja siswa dalam melakukan SDL dan kemudian membuat rencana untuk
pembelajaran berikutnya.
16
Menurut (Hiemstra, 2006) beberapa hal yang harus diperhatikan dalam
SDL adalah :
1. Pembelajar secara individu dapat mengambil tanggung jawab untuk
keputusan terkait masalah pembelajaran
2. Mengarahkan diri sendiri merupakan karateristik tersediri dalam situasi
belajar. Menagarhkan diri sendiri bukan berarti bahwa pembelajaran akan
berlansung secara terpisah dari orang lain.
3. Pelajar yang mampu mengarahkan diri sendiri tampak mampu mentransfer
pembelajaran, baik dari segi pengetahuan dan keterampilan belajar
4. Pembelajaran mandiri dapat melibatkan berbagai kegiatan dan sumber
daya. Seperti membaca self guide, partisipasi dalam kelompok belajar,
magang, diaglog elektronik, dan kegiatan menulis reflektik.
5. Peran efektif guru dalam pembelajaran mandiri seperti dialog dengan
peserta didik, menyarankan sumber daya, mengevaluasi hasil, dan
memberikan ide pemikiran kritis
6. Beberapa lembaga pendidikan menemukan cara untuk mendukung
pembelajaran madiri melalui program pembelajaran terbuka, pilihan study
individual, dan beberapa program inovatif lainnya.
17
motivasi dan self-efficacy saling berhubungan dengan SRL. Selfefficacy
merefleksikan kepercayaan akan kemampuan diri seseorang untuk
menyelesaikan tugas, yang akan mempengaruhi tujuan (apakah orientasi pada
tujuan belajar atau kinerja. Selanjutnya self-efficacy yang tinggi, akan lebih
memotivasi individu untuk meningkatkan regulasi diri, sehingga individu dapat
belajar dengan mengimplementasikan lebih banyak strategi self-regulated
learning, yang pada akhirnya berpengaruh terhadap prestasi akademiknya.
B. Kesimpulan
Menurut Knowles 2014 dalam (Chakkaravarthy et al., 2018) SDL
adalah, melakukan tanggung jawab individu untuk mengidentifikasi
pembelajaran sesuai dengan kebutuhan, merancang tujuan pembelajaran
individu dan mencari sember belajar untuk terlibat dalam kegiatan belajar
mandiri dan terus mengevaluasi diri dalam proses pembelajaran. Dan beberapa
study telah melaporkan bahwa pendekatan pembelajaran seumur hidup berbasis
SDL membantu perawat dalam mengembangkan kompetensi.
Perlu ditekankan bahwa pembelajaran menggunakan SDL bukan belajar
sendiri tapi memerlukan seorang ahli dalam hal ini adalah guru yang siap
memberikan bimbingan, arahan dan mengevaluasi hasil dari proses
pembelajaran yang dilakukan oleh siswa dan proses pembelajaran ini harus
selalu dilatih sehingga nantinya untuk kedepan mahasiswa sudah mampu
menjadi pembelajar yang mandiri baik didunia pendidikan maupun didunia
kerja nantinya.
Penerapan SDL ini sangat baik digunakan dalam proses pembelajaran
yang dilakukan oleh perawat dan untuk memaksimalkannya harus
memperhatikan faktor pendukung keberhasilannya yaitu keyakinan diri (self-
efficacy), motivasi dan tujuan.
18
DAFTAR PUSTAKA
19