Digitalisasi Pengadaan Barang/Jasa OKU Timur
Digitalisasi Pengadaan Barang/Jasa OKU Timur
(PROJECT CHARTER)
Deskripsi Sistem penyampaian usulan pelelangan yang telah berjalan selama ini masih
dalam bentuk manual melalui penyampaian berupa hardcopy. Hal ini
menyebabkan masih lambannya proses pelelangan paket pekerjaan
organisasi perangkat daerah dikarenakan beberapa persoalan seperti
bertumpuknya dokumen usulan lelang yang harus diverifikasi oleh
kelompok kerja (pokja) pengadaan barang/jasa apalagi bila dokumen usulan
lelang harus dikaji ulang dan direvisi oleh OPD apabila dokumen tersebut
belum lengkap sehingga OPD harus bolak-balik untuk memperbaiki usulan
pelelangan ke kantor Bagian Layanan Pengadaan (BLP). Oleh karena itu
melalui system informasi usulan pelelangan pengadaan barang/jasa secara
digital melalui aplikasi SIULAN akan mempercepat waktu penyampaian
usulan pelelangan semua OPD dimana apabila ada kekurangan dokumen
usulan lelang pada saat verifikasi oleh pokja BLP secara online maka pihak
OPD dapat memperbaiki kesalahan tersebut di kantor masing-masing.
Setelah proses tersebut selesai usulan pelelangan yang telah memenuhi
syarat berdasarkan hasil verifikasi dari pokja BLP, maka Kepala Bagian
Layanan Pengadaan akan langsung menunjuk pokja BLP melalui Surat
Perintah Tugas (SPT) untuk segera melakukan proses pelelangan paket
pekerjaan yang diusulkan. Sehingga laporan pertanggungjawaban
pengadaan barang/jasa dapat dilakukan setiap saat dan dimanapun berada
apabila telah disajikan secara online.
Project Charter | 1
Project Leader Nama : Feri Hadiansyah,ST, MM
NIP : 197906252005011009
Pangkat : Pembina
:
Jabatan Kepala Bagian Layanan Pengadaan Kabupaten
OKU Timur
Sumber Daya a. Peraturan : 1. Undang-Undang Nomor 28 Tahun 1999 tentang
Tim Penyelenggaraan Negara yang Bersih dan Bebas
Perundang
dari Korupsi, Kolusi dan Nepotisme (Lembaran
Undangan Negara Republik Indonesia Tahun 1999 Nomor
75, Tambahan Lembaran Negara Republik
Indonesia Nomor 3851);
2. Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor
16 Tahun 2018 tentang Pengadaan Barang/Jasa
Pemerintah;
3. Peraturan Kepala LKPP Nomor 15 Tahun 2018
tentang Pelaku Pengadaan Barang/Jasa;
4. Peraturan Kepala LKPP Nomor 9 Tahun 2018
tentang Pedoman Pelaksanaan Pengadaan
Barang/Jasa Melalui Penyedia;
5. Peraturan Kepala LKPP Nomor 14 Tahun 2018
tentang Unit Kerja Pengadaan Barang/Jasa
Melalui Penyedia;
6. Peraturan Kepala Lembaga Administrasi Negara
Nomor 19 Tahun 2015 tentang Pedoman
Penyelenggaraan Pendidikan dan Pelatihan
Kepemimpinan Tingkat III;
7. Peraturan Bupati Ogan Komering Ulu Timur
Nomor 39 Tahun 2012 tentang Pembentukan
Unit Layanan Pengadaan Barang/Jasa
Pemerintah Kabupaten OKU TIMUR (Berita
Daerah Kabupaten Ogan Komering Ulu Timur
Nomor 39 Tahun 2012);
8. Peraturan Daerah Kabupaten Ogan Komering
Ulu Timur Nomor 6 Tahun 2016 tentang
Organisasi dan Tata Kerja Sekretariat Daerah
dan Sekretariat Dewan Perwakilan Rakyat
Daerah Kabupaten Ogan Komering Ulu Timur
(Lembaran Daerah Kabupaten Ogan Komering
Ulu Timur Tahun 2016 Nomor 6);
9. Peraturan Bupati Ogan Komering Ulu Timur
Nomor Tahun 2016 Tentang Bagian Layanan
Pengadaan Kabupaten Ogan Komering Ulu
Timur;
10. Keputusan Bupati Ogan Komering Ulu Timur
Nomor 342 Tahun 2013 tentang Pembentukan
Organisasi Unit Layanan Pengadaan (ULP)
Kabupaten Ogan Komering Ulu Timur
sebagaimana telah beberapa kali di ubah dengan
Keputusan Bupati Ogan Komering Ulu Timur
Nomor 338 Tahun 2016 tentang Perubahan
Lampiran Keputusan Bupati Ogan Komering Ulu
Project Charter | 2
Timur Nomor 203 Tahun 2016 tentang
Penunjukan Kepala, Petugas Sekretariat dan
Kelompok Kerja Unit Layanan Pengadaan
Barang/Jasa Pemerintah Kabupaten Ogan
Komering Ulu Timur.
Coach :
Ir. Ibrahim Hamid, [Link]
Tim Ahli :
Zulfikriansyah, S.S
Project Leader :
Kepala Bagian Layanan Pengadaan
Feri Hadiansyah, ST, MM
Project Charter | 3
perumus kebijakan di jajaran pemerintah pusat tetapi pemerintah daerah, baik di tingkat provinsi
maupun ditingkat kabupaten/kota. Diharapkan bahwa dengan sistem yang lebih demokratis,
desentralistis dan terbuka ini proses pengadaan akan lebih efektif, efisien dan akuntabel.
Namun sejauh ini tujuan untuk menciptakan sistem pengadaan barang dan jasa yang
ideal masih jauh dari harapan. Data dan informasi dari data sekunder maupun pengamatan
langsung dalam proses pengadaan menunjukkan bahwa ada banyak hal yang harus dibenahi
secara serius. Indonesia Procurement Watch (IPW) misalnya, menunjukkan bahwa 70% kasus
korupsi di Indonesia berbentuk penyimpangan pengadaan barang dan jasa. Persoalan korupsi di
bidang pengadaan memang bukan hanya di Indonesia tetapi juga terdapat di kebanyakan negara
berkembang lainnya. kontrak-kontrak yang diberikan oleh pemerintah di dalam proyek-proyek
infrastruktur memang merupakan lahan subur bagi berbagai bentuk transaksi di bawah meja
yang melibatkan para politisi maupun para birokrat pemerintah. Masalahnya adalah bahwa jika
angka 70% tersebut memang akurat, tidak dapat dipungkiri bahwa agenda untuk mencegah dan
mengurangi korupsi dalam pengadaan barang dan jasa memang demikian berat. Upaya untuk
membenahi situasi dengan melaksanakan reformasi pengadaan mungkin juga akan menghadapi
tantangan dari para politisi atau birokrat yang seringkali mengambil untung dari transaksi
pengadaan yang terjadi.
Sementara itu, upaya untuk mendesentralisasikan proses pengadaan di Kabupaten
OKU Timur yang diharapkan akan meningkatkan efisiensi dan transparansi ternyata sering
terbentur pada berbagai masalah di lapangan. Pengawasan yang ketat atas proses pengadaan
merupakan sesuatu yang mutlak dilakukan untuk mencegah meluasnya korupsi. Namun
gencarnya kebijakan anti-korupsi di tengah keterbatasan aparat pemerintah daerah Kabupaten
OKU Timur yang memenuhi syarat kemampuan dan kompetensi mengakibatkan semakin
lambatnya proses pengadaan dan daya serap anggaran oleh Instansi di lingkungan pemerintah
Kabupaten OKU Timur
Kebijakan untuk membuat sistem pengadaan yang terdesentralisasi harus bersamaan
dengan penyiapan sistem kelembagaan yang mendukung pola kerja yang efektif, efisien dan
terbuka dan sekaligus bertanggungjawab. Mekanisme hubungan antar-instansi di jajaran
pemerintah daerah relatif lebih terbuka dan demokratis tetapi menjadi sangat lemah di dalam
sistem koordinasi, minimnya akuntabilitas terhadap publik serta kurang responsif terhadap
kepentingan rakyat yang sesungguhnya. Sementara itu, upaya perbaikan mekanisme pengadaan
seringkali juga kurang memperhitungkan institusionalisasi dari fungsi-fungsi pengadaan sejak
perencanaan, pelaksanaan, maupun pelaporannya.
Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi pada masa globalisasi ini dirasakan
semakin pesat dan modern. Perkembangan di bidang teknologi informasi memberikan
kemudahan bagi pelaku bisnis untuk membuat cara kerja yang lebih praktis dalam melakukan
Project Charter | 4
monitoring proses kegiatan untuk mencapai tujuan bisnis. Demikian halnya dengan instansi
pemerintahan, penerapan teknologi informasi di dalam pelaksanaan kegiatannya semakin
berkembang. Sebagai contoh, teknologi informasi dapat diterapkan di dalam pelaksanaan
kegiatan pengadaan barang/jasa di lingkungan pemerintahan khususnya pada Bagian Layanan
Pengadaan Kabupaten Ogan Komering Ulu Timur.
Proses pengadaan barang dan jasa pemerintah diatur dalam Peraturan Presiden
Republik Indonesia Nomor 16 Tahun 2018 tentang pengadaan barang/jasa pemerintah.
Berdasarkan peraturan presiden tersebut, pengadaan barang/jasa adalah Pengadaan Barang/Jasa
Pemerintah yang selanjutnya disebut Pengadaan Barang/Jasa adalah kegiatan Pengadaan
Barang/Jasa oleh Kementerian/Lembaga/Perangkat Daerah yang dibiayai oleh APBN/APBD
yang prosesnya sejak identifikasi kebutuhan, sampai dengan serah terima hasil pekerjaan. Tujuan
pengadaan barang atau jasa adalah untuk memperoleh barang atau jasa yang dibutuhkan instansi
pemerintah dalam jumlah yang cukup, dengan kualitas dan harga yang dapat
dipertanggungjawabkan, dalam waktu dan tempat tertentu, secara efektif dan efisien, menurut
ketentuan dan proses yang berlaku atau dengan kata lain memperoleh barang dengan memenuhi
kriteria 6 T yaitu : tepat kualitas, tepat waktu, tepat harga, tepat prosedur, tepat jenis, tepat
jumlah.
Proses pengadaan barang/jasa harus sesuai dengan prinsip-prinsip pengadaan
barang/jasa, sehingga pelaksanaannya memerlukan waktu yang cukup lama, biaya yang cukup
besar, dan performansi orang-orang yang terlibat dalam pengadaan barang/jasa yang cukup
banyak. Dengan demikian, seringkali proses pengadaan barang/jasa tidak sesuai dengan jadwal
yang telah ditetapkan. Pengelolaan sumber daya manusia yang kurang mendapat perhatian juga
dapat menyebabkan pelaksanaan pengadaan barang / jasa terlambat, sehingga dapat
mempengaruhi pembangunan pemerintah secara umum juga terlambat.
Laporan pertanggungjawaban pengadaan barang/jasa merupakan kewajiban yang harus
disampaikan Kepala Bagian Layanan Pengadaan kepada kepala daerah setiap akhir tahun berupa
informasi tentang pengadaan barang/jasa setiap tahun berjalan sebagai dasar evaluasi terhadap
pelaksanaan pelelangan paket pekerjaan dan penyerapan anggaran baik pekerjaan konstruksi,
pengadaan barang, dan pengadaan jasa konsultansi dan jasa lainnya. Penyerahan paket pekerjaan
atau dalam proper ini dikenal dengan istilah usulan pelelangan merupakan salah satu data
penting dalam penyusunan laporan pertanggungjawaban selain data Rencana Umum Pengadaan
dari SIRUP (Sistem Informasi Rencana Umum Pengadaan) yg telah terintegrasi di website LKPP
dan data laporan penetapan pemenang dalam proses pelelangan yang diadopsi dari website
LPSE.
Sistem penyampaian usulan pelelangan secara digital melalui aplikasi SIULAN akan
memudahkan kepala daerah untuk melakukan control apabila terjadi kendala-kendala teknis
Project Charter | 5
dalam pengadaan barang/jasa di setiap Organisasi Perangkat Daerah. Program perubahan ini
disusun dengan maksud untuk mengembangkan Aplikasi Sistem Informasi Usulan Pelelangan
disingkat SIULAN pada Bagian Layanan Pengadaan yang bertujuan untuk mempermudah semua
stakeholder dalam memantau pengadaan barang/jasa di OPD, mengkaji apakah usulan
pelelangan yang dilaksanakan telah sesuai dengan rencana, serta mengidentifikasi masalah yang
timbul agar langsung dapat diselesaikan dan diorganisir dengan baik. Diharapkan dengan adanya
aplikasi ini proses pengadaan barang/jasa dalam upaya mendukung laporan pertanggungjawaban
pengadaan barang/jasa dapat berjalan dengan lebih efektif, efisien dan akuntabel. Berdasarkan
pemaparan diatas, maka akan diangkat sebuah judul, “DIGITALISASI SISTEM INFORMASI
USULAN PELELANGAN (SIULAN) PENGADAAN BARANG/JASA PADA BAGIAN
LAYANAN PENGADAAN SEKRETARIAT DAERAH KABUPATEN OKU TIMUR”
Laporan pertanggungjawaban pengadaan barang/jasa disusun untuk menyediakan
informasi yang efektif, efesien dan akuntabel mengenai proses perencanaan pelelangan berupa
dokumen pra lelang berupa dokumen informasi penyerahan paket pekerjaan (pekerjaan
konstruksi, pengadaan barang, jasa konsultansi, dan jasa lainnya) dan data informasi penetapan
pemenang lelang melalui proses pelelangan yang dilakukan oleh suatu entitas pelaporan selama
satu periode pelaporan.
Untuk mewujudkan hal tersebut salah satu implementasinya adalah menyajikan
informasi usulan pelelangan paket pekerjaan pengadaan barang/jasa dengan cepat dan akurat
dengan menggunakan Aplikasi SIULAN (Sistem Informasi Usulan Pelelangan) yang bermanfaat
bagi para pengguna dalam menilai dan mengevaluasi akuntabilitas pengadaan barang/jasa serta
akan memudahkan kepala daerah dalam membuat kebijakan baik keputusan ekonomi, sosial,
maupun politik dalam perencanaan pembangunan infrastruktur dimasa yang akan datang.
03. TUJUAN
Tujuan umum yang akan dicapai dalam penyusunan proyek perubahan ini adalah tersedianya
aplikasi SIULAN seluruh OPD terkait yang terintegrasi pada website daerah dan website LKPP
untuk mendukung laporan pertanggungjawaban pengadaan barang/jasa ke kepala daerah.
Adapun tujuan khusus yang akan dicapai pada proyek perubahan ini adalah sebagai berikut:
Project Charter | 6
1) Pembentukan tim internal Sistem Informasi Usulan Pelelangan “SIULAN” pada
BLP Sekretariat Daerah Kabupaten OKU Timur.
2) Perumusan dan Pembuatan Aplikasi SIULAN pada BLP Sekretariat Daerah
Kabupaten OKU Timur dan 2 (dua) OPD yang mempunyai paket pekerjaan
pada APBD Perubahan tahun 2018
3) Pembuatan Draft Peraturan Bupati tentang Impelementasi Aplikasi SIULAN
04. MANFAAT
Manfaat yang diperoleh dari proyek perubahan yang dilaksanakan pada Bagian Layanan
Pengadaan Kabupaten Ogan Komering Ulu Timur dapat dikelompokkan menjadi :
B. Untuk Masyarakat
- Memberikan informasi pembangunan infrastruktur yang ada di Kabupaten Ogan
Komering Ulu Timur secara transfaran dan akuntabel
Project Charter | 7
C. Untuk Diri Sendiri
- Sebagai kontrol/alarm dalam evaluasi dan pelaporan pertanggungjawaban pengadaan
barang/jasa kepada kepala daerah apabila ada OPD yang belum menyampaikan usulan
pelelangan.
Nama Deskripsi
Tersedianya Aplikasi SIULAN (Sistem Informasi Aplikasi berbasis SIULAN akan
Usulan Pelelangan) secara offline pada 2 organisasi mempercepat proses penyampaian
perangkat daerah yang mempunyai APBD usulan pelelangan pada 2 OPD yang
Perubahan. mempunyai APBD Perubahan untuk
mendukung percepatan laporan
pertanggungjawaban pengadaan
barang/jasa.
1 2 3 4
Project Charter | 8
2 Melakukan pengarahan teknis pada tim Tanda terima SK,
10 September 2018
perumus aplikasi foto
5 Format persyaratan
Mengumpulkan data usulan pelelangandata usulan 14-16 September 2018
pelelangan
6 Menyusun dan mengelola data usulan Checklist verifikasi
data usulan 17-19 September 2018
pelelangan
pelelangan, foto
7 Menyusun pedoman penggunaan Softcopy pedoman
20-27 September 2018
aplikasi SIULAN aplikasi, foto
Project Charter | 9
ke website LKPP
A. Struktur
B. Deskripsi
2. Coach bertugas memberikan bimbingan, arahan, masukan serta konseling kepada Poject
Leader selama Proyek Perubahan berlangsung;
3. Project Leader bertanggung jawab terhadap seluruh tahapan, proses, pelaksanaan Proyek
Perubahan dan kesuksesan Proyek Perubahan;
4. Narasumber berfungsi untuk dan menjadi pendamping Tim Proyek Perubahan dalam
rangka mengevaluasi Aplikasi Excel sebagaimana tujuan Proyek Perubahan;
Project Charter | 10
6. Seksi Implementasi Aplikasi SIULAN bertugas membantu Project Leader untuk
mengkoordinasikan dengan stakeholder dan seksi perumus aplikasi untuk mengelola data
usulan pelelangan kedalam aplikasi;
JUMLAH DESKRIPSI
Tidak diperlukan biaya dalam - Aplikasi ini dibuat dan dirumuskan langsung oleh
pembuatan Aplikasi SIULAN project leader yang melibatkan tim kerja sebagai
tenaga ahli teknologi informasi
Stakeholder yang dapat diidentifikasi yang akan bersentuhan langsung maupun tidak
langsung terhadap proyek perubahan ini sebagai berikut :
Stakeholder Deskripsi
Project Charter | 11
1) DISPORA Stakeholder latens yang tidak mempunyai kepentingan
2) PMD khusus namun mempunyai pengaruh yang besar terjadinya
3) BP2SDM keberhasilan proyek perubahan
4) BP2RD
5) BNNK
6) PTSP
7) ARPUSDA
8) KESBANG
9) PPDPA
10) KEJARI
11) POLRES
1) BAG ADPEM Stakeholder defender tidak mempunyai pengaruh namun
2) BAG HUKUM mempunyai kepentingan besar terhadap keberhasilan
3) KASUBAG PBJ BLP proyek perubahan
4) KASUBAG EV & P BLP
5) POKJA BLP
6) STAF BLP
7) PENYEDIA JASA
1) LSM Stakeholder apathetics yang kurang memiliki kepentingan dan
2) MEDIA pengaruh bahkan tidak mengetahui adanya proyek perubahan.
3) MASYARAKAT
Project Charter | 12
Diagram 1 : Analisis Stakeholder
LATENTS PROMOTERS
1) DISPORA 1) BUPATI
2) PMD 2) SEKDA
3) BP2SDM
3) ASISTEN II
4) BP2RD
5) BNNK
4) 22 OPD
6) PTSP
7) ARPUSDA
8) KESBANG
9) PPDPA
10) KEJARI
11) POLRES
APATHETICS DEFENDERS
Potensi masalah yang akan menghambat kelancaran atau keberhasilan pencapaian target
dan tujuan proyek perubahan, sebagai berikut :
Problematik Deskripsi
2. Keterbatan dan kualitas SDM - Jumlah dan kualitas SDM yang ada masih
sedikit dibanding beban kerja yang ada
Project Charter | 13
3. Perencanaan pekerjaan - Masih lambannya penyampaian usulan
pelelangan belum optimal karena sistem
perencanaan dari OPD belum optimal.
12. RESIKO
Resiko yang harus diantisipasi bagi keberhasilan pencapaian tujuan Proyek Perubahan yang
akan dilaksanakan, sebagai berikut :
Problematik Deskripsi
- Terganggungnya jaringan internet dan
1. Jaringan internet dan
telekomunikasi menyebabkan data dari OPD
telekomunikasi yang sering
menjadi terlambat untuk diolah
terganggu
- Kurangnya personil yang berkompeten
2. Keterbatasan dan kualitas SDM
menyebabkan beberapa orang harus
mendapatkan beban kerja yang lebih banyak
dari personil lainnya
3. Perencanaan pekerjaan
- Lambatnya sistem perencanaan dari OPD akan
menyebabkan lambatnya proses pelelangan
pekerjaan
Project Charter | 14
14 . FAKTOR KUNCI KEBERHASILAN (FKK)
1. Dukungan dan masukan dari - Dukungan baik dari segi kebijakan maupun
Pimpinan Daerah anggaran oleh pimpinan daerah
15. PERSETUJUAN
Project Charter | 15