0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
319 tayangan14 halaman

Perpindahan Panas pada Tangki Berjaket

Laporan ini membahas praktikum perpindahan panas pada tangki berjaket berpengaduk dengan medium pemanas non-isotermal. Laporan ini menjelaskan tujuan, teori dasar, metodologi, dan hasil percobaan mengenai perpindahan panas pada tangki berjaket berpengaduk.

Diunggah oleh

TYAS
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
319 tayangan14 halaman

Perpindahan Panas pada Tangki Berjaket

Laporan ini membahas praktikum perpindahan panas pada tangki berjaket berpengaduk dengan medium pemanas non-isotermal. Laporan ini menjelaskan tujuan, teori dasar, metodologi, dan hasil percobaan mengenai perpindahan panas pada tangki berjaket berpengaduk.

Diunggah oleh

TYAS
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

LAPORAN

PRAKTIKUM PILOT PLANT

PERPINDAHAN PANAS PADA TANGKI BERJAKET


BERPENGADUK (JACKETED VESSEL)

Hari : Selasa, 2 Oktober 2018


Kelompok : 3
Praktikan : Dwi Cahya Ayu Ningtyas
NIM : 1631410089

PROGRAM STUDI D-III TEKNIK KIMIA


JURUSAN TEKNIK KIMIA
POLITEKNIK NEGERI MALANG
2018
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Tujuan Praktikum


1. Memahami proses perpindahan panas dalam tangki berjaket yang tergolong
proses perpindahan panas secara tak mantap (unsteady state).
2. Mengoperasikan peralatan tangki berjaket berpengaduk.
3. Menghitung koefisien perpindahan panas overall untuk perpindahan panas
dalam tangki berjaket berpengaduk.

1.2 Dasar teori


Perpindahan panas dalam tangki berjaket berpengaduk merupakan salah satu
contoh proses perpindahan panas secara tak mantap (unsteady state heat transfer).
Jadi koefisien perpindahan panas (U) tidak dapat digunakan dalam
persamaan Fourier:
Q = U.A.Δt.

Persamaan Fourier hanya dapat digunakan bila tangki beroperasi kontinu (steady
state). Perpindahan panas secara tak tetap terjadi bila panas yang mengalir atau
suhu pada suatu bagian atau keduanya (aliran panas dan suhu) tidak tetap atau
bervariasi terhadap waktu. Perpindahan panas dimana perubahan panas yang
terjadi tidak kontinu biasa disebut sebagai proses perpindahan panas secara batch.
Proses perpindahan panas secara batch ini terbagi menjadi berbagai jenis
berdasarkan berbagai variasi variabel proses yang dipergunakan, antara lain:
a. prosesnya pemanasan atau pendinginan;
b. pemanasnya/pendinginnya coil;
c. jaket atau external exchanger;
d. jenis pemanas/pendinginnya isotermal atau non-isotermal;
e. dengan pengadukan (agitated) atau tidak (non-agitated);

Pada proses pemanasan atau pendinginan fluida dalam tangki berjaket


berpengaduk, perhitungan perpindahan panasnya biasanya diarahkan untuk
mendapatkan beberapa variabel penting, di antaranya :
a. waktu proses;
b. luas penampang/kontak perpindahan panas;
c. koefisien perpindahan panas overall;
d. koefisien perpindahan panas film;
e. suhu fluida pemanas atau pendingin yang diperlukan, dll.

Untuk keperluan perhitungan di atas, diperlukan beberapa asumsi, antara lain:


a. Koefisien perpindahan panas overall selama proses untuk seluruh
permukaan dianggap konstan;
b. Kapasitas panas masing-masing fluida dianggap konstan;
c. Suhu masuk medium pemanas/pendingin dianggap konstan;
d. Suhu fluida di dalam tangki dianggap konstan (akibat agitasi);
e. Kehilangan panas selama proses diabaikan;

Khusus untuk proses pemanasan fluida dalam tangki berjaket berpengaduk


dengan medium pemanas non-isotermal, digunakan persamaan-persamaan sebagai
berikut :
𝑑𝑄 ′ 𝑑𝑡
= 𝑀𝑐 = 𝑊𝐶(T1 – T2 ) = UA ∆t (1)
𝑑𝜃 𝑑𝜃

T1 −T2
∆𝑡 = 𝐿𝑀𝑇𝐷 = ln(T (2)
1 −𝑡)/(T2 −𝑡)
1 T −𝑡
T2 = 𝑡 + 𝑒 𝑈𝐴/𝑊𝐶 (3)

Apabila K1 = 𝑒 𝑈𝐴/𝑊𝐶 maka persamaan (1) dapat ditulis ulang menjadi:

𝑑𝑡 K1 −1
𝑀𝑐 = 𝑊𝐶 ( ) (T1 − 𝑡) (4)
𝑑𝜃 K1

T −t 𝑊𝐶 K1 −1
ln T1 −t1 = ( )𝜃 (5)
1 2 𝑀𝑐 K1

Sedangkan untuk proses pendinginan fluida dalam tangki berjaket


berpengaduk dengan medium pendingin non-isotermal, digunakan persamaan-
persamaan sebagai berikut :

𝑑𝑄 ′ 𝑑𝑇
= −𝑀𝐶 = 𝜔𝑐(𝑡2 – 𝑡1 ) = UA ∆t (6)
𝑑𝜃 𝑑𝜃

𝑇 −t 𝜔𝑐 K2 −1
ln 𝑇1 −t1 = 𝑀𝐶 ( )𝜃 (7)
2 1 K2

Jika proses pemanasan fluida dalam tangki berjaket berpengaduk


menggunakan medium pemanas yang isothermal, maka persamaan-persamaan
yang digunakan adalah:

𝑑𝑄 𝑑𝑡
= 𝑀𝑐 = UA ∆t (8)
𝑑𝜃 𝑑𝜃

Di mana: ∆t = (𝑇1 − t)

𝑑𝑡 𝑈𝐴
= 𝑀𝑐 ∆𝑡 (9)
𝑑𝜃

𝑑𝑡 𝑈𝐴
∫ ∆𝑡 = 𝑀𝑐 ∫ 𝑑𝜃 (10)

𝑑𝑡 𝑈𝐴
∫ (𝑇 −𝑡) = 𝑀𝑐 ∫ 𝑑𝜃 (11)
1

𝑇 −𝑡 𝑈𝐴
Sehingga: ln 𝑇1 −𝑡1 = 𝑀𝑐 − 𝜃
1 2
Sedangkan untuk proses pendinginan fluida dalam tangki berjaket
berpengaduk menggunakan medium pemanas yang isothermal, maka digunakan
persamaan yang hamper sama dengan di atas, sehingga diperoleh persamaan
berikut:

𝑇 −𝑡 𝑈𝐴
ln 𝑇1 −𝑡1 = 𝑀𝑐 − 𝜃 (12)
2 1
BAB 2
METODOLOGI DAN HASIL PERCOBAAN

2.1 Alat dan Bahan


Peralatan dan bahan yang digunakan dalam percobaan ini terdiri dari :
- Tangki berjaket berpengaduk (stirred tank reactor)
- Wadah air 100 Liter
- Pompa portable
- Stopwatch
- Air bersih
- Steam

2.2 Prosedur Kerja


2.2.1 Persiapan
1. Pastikan V8, V10, V11, dan V12 dalam kondisi tertutup.
2. Buka penuh valve udara bertekanan (pengendali pneumatic).
3. Buka penuh valve V7 (fresh water).

2.2.2 Start-up
1. Pada panel pengendali, putar switch udara tekan (hitam) keposisi I dan
switch utama (merah) keposisi I.
2. Pengaturan air di jaket:
a. Tekan tombol ON pompa P1 pada panel pengendali.
b. Buka penuh valve V9 dan tunggu sampai pembacaan Indikator
konstan. Apabila sudah konstan, atur bukaan valve V7 (fresh water)
hingga tinggal terbuka sedikit dan pembacaan konstan.
3. Pengaturan suhu air di jaket (proses pemanasan):
a. Nyalakan Agitator.
b. Buka sedikit valve V8 sebagai penyeimbang agar volume air di jaket
tidak terus bertambah dengan masuknya steam.
c. Untuk pemanasan secara non isotermal, atur bukaan valve V5 steam
dan bukaan valve V7 hingga tidak ada aliran masuk dan keluar
sehingga proses berjalan non isothermal.
d. Perhatikan PIx yang menunjukkan tekanan steam menuju ke jaket,
apabila PIx menunjukkan nilai 4 psig atau safety valve berbunyi, segera
buka valve V10 (di kondensat) hingga tekanan PIx berkurang. (Hati-
hati: Suhu Kondensat sangat panas).
4. Pengaturan suhu air di jaket (proses pendinginan):
a. Tutup katup utama steam.
b. Tutup valve V7 (fresh water).
c. Pastikan pompa P1 dan agitator dalam posisi ON.
d. Tunggu hingga suhu fluida di vessel < 10 °C suhu fluida pada jaket.
g. Untuk pendinginan secara non isotermal,
h. Tutup valve V7 dan Valve V9.

2.2.3 Operasi
1. Masukkan seluruh air (volume 100 L) ke dalam vessel dari tangki
penampung menggunakan pompa yang tersedia.
2. Tekan tombol ON agitator pada panel pengendali.
3. Hidupkan stopwatch bersamaan dengan aktifnya agitator/pengaduk.
4. Catat data perubahan suhu air di jaket, suhu air di vessel dan kondisi
operasi lain (laju alir air di vessel, setiap 5 menit untuk proses pemanasan
atau 5 menit untuk proses pendinginan.
5. Isikan data yang diperoleh pada tabel pengamatan.
6. Hentikan pengamatan apabila suhu air di jaket dan suhu air di vessel telah
seimbang atau sudah tidak bisa saling mengubah atau konstan.

2.2.4 Shut Down


1. Tutup katup utama steam.
2. Tekan tombol OFF agitator pada panel pengendali.
3. Tekantombol OFF pompa P1 pada panel pengendali.
4. Tunggu hingga suhu di jaket maupun di vessel ± 45°C.
5. Buka valve V11 dan V12 untuk membuang air di vessel.
6. Buka valve V8 untuk membuang air di jaket.
7. Putar switch utama (merah) keposisi OFF dan putar switch udara tekan
(hitam) keposisi 0.
8. Tutup valve udarabertekanan (pengendali pneumatic).

2.3 Hasil Percobaan


2.3.1 Hasil Percobaan Tangki Berjaket Berpengaduk Dengan Medium Pemanas
Non- Isotermal

Jacket Vessel
No t (min) t (sec)
t (°C) t (K ) T (°C) T (K)
1 0 0 84 357 47.5 320.5
2 5 300 66 339 50.8 323.8
3 10 600 60 333 53.7 326.7
4 15 900 56 329 54 327
5 20 1200 54 327 54 327

2.3.2 Hasil Percobaan Tangki Berjaket Berpengaduk Dengan Medium


Pendingin Non-Isotermal

Jacket Vessel
No t (min) t (sec)
t (°C) t (K ) T (°C) T (K )

1 0 0 40 313 51.8 324.8


2 5 300 42 315 50.2 323.2
3 10 600 43 316 49.2 322.2
4 15 900 44 317 48.9 321.9
5 20 1200 44 317 48.2 321.2
6 25 1500 44 317 48.4 321.4
BAB 3
HASIL PERHITUNGAN DAN PEMBAHASAN

3.1 Hasil Perhitungan


3.1.1 Hasil Perhitungan Tangki Berjaket Berpengaduk Dengan Medium Pemanas
Non-Isotermal
Jacket Vessel
No t (min) t (sec) T1-t1 T1-t2
t (°C) t (K) T (°C) T (K)
1 0 0 84 357 47.5 320.5 -36.5 -18.5
2 5 300 66 339 50.8 323.8 -15.2 -9.2
3 10 600 60 333 53.7 326.7 -6.3 -2.3
4 15 900 56 329 54 327 -2 0
5 20 1200 54 327 54 327 0 1

Jacket Vessel
(T1- Ln((T1- ρ
Cp Cp M (kg) W(kg/s) Mc
t1)/(T1-t2) t1)/(T1-t2)) (kg/m3)
(Kj/kg.K) (Kj/kg.K)
1.97297297 0.67954153 4.19530 4.18070 991.7140 99.1714 1.515119 414.6059
1.65217391 0.50209194 4.18810 4.18202 981.2888 98.12888 1.499191 410.3769
2.73913043 1.00764051 4.18570 4.18318 972.1272 97.21272 1.485194 406.6583
#DIV/0! #DIV/0! 4.18410 4.18330 971.1795 97.11795 1.483746 406.2735
0 #NUM! 4.18330 4.18330 971.1795 97.11795 1.483746 406.2735

Wc wc/mc (k1-1)/k1 1/k1 k1 U

6.334256 0.015278 #DIV/0! #DIV/0! #DIV/0! #DIV/0!


6.269647 0.015278 0.109547 0.890453 1.123024 413.9603
6.212835 0.015278 0.109924 0.890076 1.1235 411.7067
6.206956 0.015278 #DIV/0! #DIV/0! #DIV/0! #DIV/0!
6.206956 0.015278 #NUM! #NUM! #NUM! #NUM!
3.1.2 Hasil Perhitungan Tangki Berjaket Berpengaduk Dengan Medium
Pendingin Non-Isotermal
Jacket Vessel
No t (min) t (sec) T1-t1 T2-t1
t (°C) t (K) T (°C) T (K)
1 0 0 40 313 51.8 324.8 11.8 10.2
2 5 300 42 315 50.2 323.2 8.2 7.2
3 10 600 43 316 49.2 322.2 6.2 5.9
4 15 900 44 317 48.9 321.9 4.9 4.2
5 20 1200 44 317 48.2 321.2 4.2 4.4
6 25 1500 44 317 48.4 321.4 4.4 -317

Jacket Vessel
(T1- Ln((T1- ρ
Cp Cp M (kg) W(kg/s) Mc
t1)/(T2-t1) t1)/(T1-t2)) (kg/m3)
(Kj/kg.K) (Kj/kg.K)
1.15686275 0.14571181 4.17770 4.18242 978.1296 97.81296 1.494365 409.0949
1.13888889 0.13005313 4.17850 4.18178 983.1842 98.31842 1.502087 411.146
1.05084746 0.04959694 4.17890 4.18138 986.3434 98.63434 1.506914 412.4277
1.16666667 0.15415068 4.17930 4.18126 987.2911 98.72911 1.508361 412.8121
0.95454545 -0.04652 4.17930 4.18098 989.5025 98.95025 1.51174 413.709
-
#NUM! 4.17930 4.18106 988.8707 98.88707 1.510775 413.4528
0.01388013

Wc wc/mc (k2-1)/k2 1/k2 k2 U

6.250061 0.015278 #DIV/0! #DIV/0! #DIV/0! #DIV/0!


6.281398 0.015278 0.028375 0.971625 1.029204 102.895
6.300978 0.015278 0.005411 0.994589 1.00544 19.45323
6.306851 0.015278 0.011211 0.988789 1.011338 40.46355
6.320555 0.015278 -0.00254 1.002537 0.997469 -9.11519
6.31664 0.015278 #NUM! #NUM! #NUM! #NUM!
3.2 Pembahasan
Pada percobaan jacked vessel kali ini dilakukan dengan 2 kondisi operasi
yaitu pada kondisi pemanasan dan kondisi pendinginan. Pada percobaan kali ini
juga digunakan prinsip pemanasan secara non-isothermal. Pemanasan non-
isothermal sendiri yaitu memanaskan air umpan yang terdapat pada vessel
dengan panas dalam jaket yang terjadi secara batch ini dikarenakan tidak adanya
uap panas serta air yang masuk dan keluar selama proses berlangsung maka suhu
pada jaket akan terus menurun sedangkan suhu pada vessel akan terus meningkat
sampai suhu keduanya menjadi konstan.
Pada perconaan pertama yaitu pemanasan jumlah air umpan yang digunakan
sebanyak 100 liter dan bersuhu 47,5°C yang kemudian dipanaskan dengan suhu
dalam jaket sebesar 84°C. Untuk mencapai suhu mendekati konstan antara jaket
dan vessel (suhu pada jaket sebesar 53°C dan suhu pada vessel sebesar 56.4°C)
waktu proses yang dibutuhkan adalah selama 25 menit. Parameter suhu
digunakan untuk mengetahui seberapa besar panas yang dipindahkan dari panas
jaket atau yang diserap oleh umpan yang terdapat pada vessel. Suhu pada jaket,
vessel dan steam diukur setiap 5 menit. Dari data yang diperoleh pada percobaan
pertama ini dapat disimpulkan bahwa suhu didalam jaket akan menurun
sedangkan suhu pada vessel akan meningkat. Dari data yang didapat pada
percobaan juga diperoleh nilai koefisien perpindahan panas overall (U) yang
lebih kecil dibandingkan dengan data teoritis yang sebesar 1420 W/m2.K
(Geankoplis, 2003).
Pada percobaan kedua pada kondisi pendinginan non-isothermal suhu set
point yang digunakan sebesar 40ºC. Sama seperti pada percobaan pertama untuk
mencapai suhu antara jaket dan vessel mendekati konstan (suhu pada jacket
sebesar 44°C dan suhu pada vessel sebesar 48°C) dibutuhkan waktu selama 25
menit. Suhu vessel dan suhu steam yang diukur setiap 5 menit. Dari data yang
didapatkan pada percobaan dapat disimpulkan bahwa suhu jaket akan meningkat
sedangkan suhu pada vessel akan menurun. Hal ini sudah sesuai dengan literatur.
Dari data yang didapat juga diperoleh nilai koefisien perpindahan panas overall
(U) yang lebih kecil dibandingkan dengan data teoritis yang sebesar 1420
W/m2.K (Geankoplis, Ed.4).
BAB 4
KESIMPULAN

Berdasarkan percobaan telah dilakukan maka dapat diperoleh kesimpulan sebagai


berikut :

1. Perpindahan panas dalam tangki berjaket berpengaduk merupakan salah satu


contoh proses perpindahan panas secara unsteady state dimana panas yang
mengalir atau suhu pada suatu bagian atau aliran panas dan suhu tidak tetap
atau bervariasi terhadap waktu.
2. Proses pengoperasian pada steam tidak boleh lebih dari 4 Psig.
3. Koefisien perpindahan panas overall untuk perpindahan panas dalam tangki
berjaket berpengaduk dalam kondisi pemanasan dan pendinginan non-
isotermal didapat lebih kecil dibandingkan dengan data teoritis yaitu sebesar
1420 W/m2.K.
DAFTAR PUSTAKA

Geankoplis, Cristie John. 1983. Transport Proses and Separation Prosess


Principles Fourth Editions
Tim Pilot Plant. 2018. Modul praktikum pilot plant. Malang:Politeknik Negeri
Malang.
Laporan Praktikum Pilot Plant Stired Tank Reacktor, Anika D.M dkk. 2001.
Politeknik Negeri Bandung

Anda mungkin juga menyukai