ANALISA PROBLEM SCALE UNTUK PERENCANAAN STIMULASI
ACIDIZING PADA LAPANGAN “X”
Proposal Tugas Akhir
Diajukan guna memenuhi syarat penulisan Tugas Akhir
untuk meraih gelar Sarjana Teknik di Jurusan Teknik Perminyakan
Fakultas Teknologi Mineral Universitas Pembangunan Nasional “Veteran”
Yogyakarta
Oleh :
NIDIA SETYA ARIYANTI
113060096
JURUSAN TEKNIK PERMINYAKAN
FAKULTAS TEKNOLOGI MINERAL
UNIVERSITAS PEMBANGUNAN NASIONAL “VETERAN”
YOGYAKARTA
2010
I. JUDUL
ANALISA PROBLEM SCALE UNTUK PERENCANAAN
STIMULASI ACIDIZING PADA LAPANGAN “X”
II. LATAR BELAKANG
Sumur yang telah lama berproduksi ataupun sumur baru yang mengalami
penurunan produksi yang apabila dilihat dari data tekanan masih dirasa cukup
untuk berproduksi, maka dapat dikatakan sumur tersebut mengalami kerusakan
(damage) yang menyebabkan hambatan pada jalannya fluida dari reservoir ke
lubang sumur. Sehingga perlu adanya usaha untuk mengembalikan keadaan
reservoir sekitar lubang sumur ke keadaan semula. Salah satu cara yang dapat
digunakan untuk mengurangi kerusakan tersebut yaitu dengan dilakukan
pengasaman (Acidizing).
Sasaran dari stimulasi ini adalah formasi produktif, karena itu identifikasi
reservoir mempunyai pengaruh besar pada pemilihan stimulasi. Identifikasi
reservoir meliputi karakter batuan formasi maupun keadaan reservoir itu sendiri,
terutama berpengaruh pada pemilihan treatment pada acidizing, faktor lain yang
berpengaruh dalam treatment ini adalah kondisi reservoir yaitu tekanan dan
temperatur reservoir.
Langkah awal dalam analisa adalah menemukan penyebab dari kecilnya
produksi sumur. Data yang perlu didapatkan dari test produksi sumur, yaitu
Pressure Build Up (PBU) atau/dan Pressure Drawdown (PDD).
III. MAKSUD DAN TUJUAN
Maksud dari tugas akhir ini adalah untuk merencanakan metode kegiatan
stimulasi acidizing yang efektif berdasarkan data reservoirnya sehingga kerusakan
dari formasi dapat tertanggulangi.
Tujuan dari tugas akhir ini yaitu untuk menghasilkan rancangan proyek
stimulasi acidizing yang tepat pada reservoir yang tepat pula agar tidak terjadi
kerusakan formasi yang bertambah dan dapat menanggulangi kerusakan formasi
itu sendiri.
IV. TINJAUAN PUSTAKA
4.1. IDENTIFIKASI PROBLEM SCALE
Scale terbentuk pada matrik formasi, rekahan, lubang bor dan di banyak
tempat lainnya. Pengendapan scale merupakan hasil dari perngkristalan atau
pengendapan mineral air formasi.
Penyebab langsung terjadinya scale umumnya adalah pernurunan tekanan,
perubahan temperatur, pencampuran dua air yang tidak compatibel atau
terlewatkannya batas kelarutan mineral pada air formasi. Scale ini akan
menghambat terproduksikannya minyak ataupun gas dengan membentuk
hambatan pada matrik formasi atau rekahan, perforasi, lubang bor atau peralatan
produksi.
Scale yang biasa terbentuk dilapangan adalah kalsium karbonat (CaCO3),
Gypsum (CaSO4.2H2O), barium sulfat (BaSO4) dan sodium khlorida (NaCl).
Kecenderungan Scale CaCO3
Pada sumur minyak, pengendapan kalsium karbonat biasanya disebabkan
oleh penurunan tekanan yang akan melepaskan CO2 dari ion Bikarbonat (HCO3-1).
Jika CO2 terbebaskan dari lautan, maka pH akan meningkat, kelarutan karbonat
terlarut dalam air menurun, dan akan makin banyak bikarbonat terlarut berubah
menjadi karbonat tidak terlarut.
Pengendapan scale ini juga dipengaruhi oleh konsentrasi ion kalsium,
alkalinitas air formasi, temperatur, konsentrasi garam total, waktu kontak dan
derajat agitasi. Kecenderungan terjadinya scale akan meningkat dengan
peningkatan temperatur terhadap kelarutan kalsium karbonat dalam air formasi.
Peningkatan pH air formasi dan peningkatan turbulensi akan juga meningkatkan
kecenderungan terbentuknya scale. Kecenderungan terbentuknya scale menurun
pada peningkatan konsentrasi NaCl sampai dengan 120 g NaCl /1000 g air, dan
peningkatan konsentrasi NaCl lebih lanjut akan meningkatkan terbentuknya scale.
Efek temperatur terhadap kelarutan CaCO3
Kecenderungan Scale Gypsum (CaSO4 2H2O) Atau Anhydrite (CaSO4)
Penurunan tekanan akan menurunkan kelarutan dan akan meningkatkan
terbentuknya scale gypsum. Penurunan tekanan dari 2000 psi ke tekanan atmosfer
akan mengendapkan kalsium sulfat sebanyak 900 ppm (0.3 lb/bbl air formasi)
pada air formasi cekungan Perminan. Gambar 3.3. Menunjukkan kelarutan scale
qypsum pada tekanan 1980 psig dan 0 psig pada temperatur 95 oF. Pada berbagai
konsentrasi NaCl akan dapat diperkirakan terbentuknya scale di bawah lubang
bor.
Kecenderungan Scale BaSO4 dan SrSO4
Scale BaSO4 dan SrSO4 biasanya terbentuk akibat pencampuran dua air
formasi yang berbeda, masing-masing mengandung garam terlarut barium atau
strontium dan yang lainnya mengandung ion sulfat.
Penurunan tekanan akan menurunkan kelarutan BaSO4 pada konsentrasi
NaCl tertentu dan akan menyebabkan terjadinya scale.
Kecenderungan Scale NaCl
Pengendapan sodium klorida ini biasanya terbentuk karena supersaturasi,
sebagai akibat dari evaporasi atau penurunan temperatur. Pengendapan garam ini
dapat terjadi pada kondisi yang parah pada daerah bawah lubang bor pada sumur
gas atau sumur minyak dengan GOR yang tinggi yang memproduksi air sedikit
atau tidak sama sekali. Pengendapan dapat juga terjadi karena penurunan tekanan
dan temperatur sepanjang perforasi.
Kecenderungan Scale Besi
Scale besi biasa terbentuk sebagai akibat dari produk korosi seperti berbagai
oksida besi dan besi sulfat.
4.1.1. Analisa Kerusakan Formasi
Prediksi dan identifikasi terdapatnya scale didalam formasi disekitar
lubang bor dilakukan dengan metode stiff and Davis. Cara yang terbaik dalam
memeriksa sample air formasi yang didapat adalah dengan menganalisa air
formasi segera setelah diambil dari kepala sumur. Dalam hal ini perlu diperhatikan
cara pengambilan sample dan kebersihan peralatan yang digunakan karena dapat
mempengaruhi kondisi air sample yang dianalisa. Kadar pH air sample akan
berubah dengan waktu dan suhu dan akan berpengaruh pada penentuan tingkat
pengendapan dan pengkaratan.
Air formasi yang didapat dianalisa kandungan mineral-mineral yang
terkandung didalamnya dengan menggolongkan dalam konsentrasi kation dan
anion. Sehingga dapat diperkirakan kemungkinan mineral yang dapat bereaksi
menjadi senyawa dan dapat mengendap, sehingga menghambat ruang pori dalam
formasi.
Perubahan kondisi lingkungan akibat diproduksikannya fluida formasi
akan mempengaruhi kecenderungan terbentuknya scale. Perubahan yang terjadi
adalah perubahan tekanan dan temperatur dalam formasi. Terbentuknya scale juga
dipengaruhi adanya agitasi dan pencampuran dua air yang tidak kompatibel.
4.1.2. Well Testing
Untuk mengidentifikasi adanya indikasi kerusakan pada formasi dapat
dilakukan dengan uji sumur dengan menggunakan beberapa cara yang ada, seperti
Drill Stem Test (DST), Pressure Test, Rate Test dan lain lain. Di sini hanya akan
dibahas mengenai Pressure Test dan Rate Test.
A. Pressure Test
Prinsipnya adalah mengukur perubahan tekanan terhadap waktu selama
perioda penutupan atau pada perioda pengaliran. Perioda pengaliran dilakukan
sebelum atau sesudah perioda penutupan dengan laju konstan.
Parameter yang diukur adalah tekanan statik (Pws), tekanan aliran dasar
sumur (Pwf), tekanan awal reservoir (Pi), skin factor (S), permeabilitas rata-rata
(k), volume pengurasan (Vd) dan radius pengurasan (re).
1. Analisa Pressure Build-Up Test
Pada dasarnya pengujian dilakukan pertama-tama dengan memproduksi
sumur selama selang waktu tertentu dengan laju aliran konstan. Kemudian sumur
ditutup pada bagian kepala sumur di permukaan, sehingga tekanan menjadi naik.
Kenaikan tekanan dasar sumur dicatat sebagai fungsi waktu.
Dari data yang didapat, selain untuk menganalisa identifikasi kerusakan
formasi yang ditandai dengan skin, juga dapat digunakan untuk menentukan harga
permeabilitas formasi, daerah pengurasan dan batas reservoir serta keheterogenan
suatu formasi.
2. Analisa Pressure Drawdown Test
Pressure Drawdown (PDD) selain digunakan untuk menentukan faktor
skin, juga digunakan untuk menghitung harga permeabilitas formasi dan volume
pori-pori pada daerah pengurasan. Uji PDD dilakukan pada saat laju aliran dibuat
konstan dan ulah tekanan sumur selama pengaliran diukur.
Prinsipnya sumur ditutup terlebih dahulu untuk beberapa lama agar
tekanan merata di seluruh reservoir. Kemudian sumur dibuka dan dicatat ulah
tekanan alir dasar sumur selama periode pengaliran pada laju alir konstan.
4.2. STIMULASI
Stimulasi merupakan pekerjaan ulang menyangkut tentang perubahan sifat
formasi dengan menambahkan unsur-unsur tertentu atau material lain ke dalam
formasi guna memperbaiki adanya well damage.
4.2.1. Pengasaman (Acidizing)
Prinsip dasar metode ini adalah melarutkan batuan dari material-material
yang menghambat aliran dalam reservoir dengan cara menginjeksikan sejumlah
asam ke dalam lubang sumur/ lapisan produktif. Acidizing ini biasanya dilakukan
untuk menghilangkan pengaruh penurunan permeabilitas formasi di sekitar lubang
sumur (kerusakan formasi) dengan cara melarutkan partikel-partikel penyumbat
pori-pori batuan .
Proses penginjeksian asam ke dalam formasi dilakukan dengan tahap-
tahap kegiatan seperti preflush, spotting dan after flush/overflush.
1. Preflush
Preflush dilakukan dengan memompakan asam yang konsentrasinya rendah
dan jumlahnya kira-kira setengah dari volume untuk acidizing sebenarnya.
Preflush bertujuan untuk menghilangkan material formasi yang dapat bereaksi
dengan HCl, memindahkan air formasi yang mengandung ion-ion (Na 2+, Ca2+
dan lain-lain) yang cenderung mengendap dengan HF, mendinginkan formasi
sehingga memperdalam penetrasi asam.
2. Spotting
Spotting merupakan proses utama pemompaan asam untuk memperbaiki
permeabilitas batuan. Pemompaan dengan laju yang rendah dilakukan untuk
memperbaiki kerusakan disekitar lubang sumur, sedangkan laju yang tinggi
dilakukan untuk jangkauan yang lebih jauh ke dalam formasi.
3. After flush (postflush)
After flush merupakan proses pendorongan asam yang masih ada dalam
tubing agar seluruh asam masuk ke dalam formasi dan mengurangi waktu
kontak asam dengan tubing, disamping itu juga untuk memindahkan asam
yang telah terpakai jauh dari lubang sumur sehingga presipitasi yang dapat
terbentuk tidak akan banyak merusak. Cairan yang digunakan seperti minyak
diesel, nitrogen, ammonium klorida (NH4Cl), dan HCl.
[Link]. Klasifikasi Pengasaman
Berdasarkan penggunaan asam, pengasaman dapat diklasifikasikan
menjadi beberapa macam, yaitu pencucian asam (acid washing), pengasman
matriks (matriks acidizing), perkehan asam (fracturing acidizing).
1. Acid Washing
Acid washing merupakan treatment yang dilakukan untuk menghilangkan
material atau scale di interval produksi, saluran perforasi dan area disekitar lubang
sumur. Treatment dilakukan dengan menggunakan coiled tubing atau wash tool.
2. Matriks acidizing
Matriks acidizing dilakukan dengan cara menginjeksikan larutan asam dan
additif tertentu secara langsung ke dalam pori-pori batuan formasi disekitar
lubang sumur dengan tekanan penginjeksian di bawah tekanan rekah formasi,
dengan tujuan agar reaksi menyebar keformasi secara radial. Asam akan
menaikkan permeabilitas matriks baik dengan cara membesarkan lubang pori-pori
ataupun melarutkan partikel-pertikel yang membuntu saluran pori-pori tersebut
Adapun anggapan-anggapan yang digunakan dalam acidizing ini adalah :
1. Formasinya homogen
2. Ukuran pori-porinya seragam
3. Kecepatan reaksi menurun secara uniform dengan berkurangnya kosentrasi
asam.
4. Beratnya limestone yang terlarut pada tiap pertambahan jarak menurun secara
uniform sampai seluruhnya terpakai.
3. Fracturing Acidizing
Digunakan hanya untuk batuan karbonat (limstone/dolomite).
Penginjeksian asam dialirkan melalui rekahan atau fracture. Pada fracturing
acidizing ini dua permukaan yang terbelah kiri dan kanan akan dilarutkan,
sehingga waktu rekahan menutup bagian-bagian yang terlarut tak dapat menutup
rapat kembali.
[Link]. Jenis Asam Yang Sering Digunakan
1. Mineral Acid
Mineral Acid terbagi menjadi dua jenis asam, yaitu asam hydrochloric
(HCl) dan asam hydrochloric-hydrofuoric (HF-HCl) atau biasa disebut dengan
mud acid.
a. Asam Hydrochloric (HCl)
Asam hydrochloric adalah jenis asam yang pertama kali dan sering
digunakan. Asam ini merupakan larutan hydrogen chlorida yang berupa gas di
dalam air dengan berbagai konsentrasi. Secara umum yang biasa digunakan
adalah konsentrasi 15% HCl yang dikenal dengan sebutan regular acid. Reguler
acid digunakan untuk pengasaman pada formasi batu gamping dan dolomite.
Sedangkan untuk pengasaman batupasir dapat digunakan 5-7% HCl. Jadi
konsentrasi asam ini bervariasi antara 5-35% tergantung dari kondisi formasi.
b. Asam Hydrochloric-Hydrofluoric (HCl-HF)
Asam HCl-HF termasuk jenis asam mineral yang memiliki daya reaksi
yang kuat dengan bau yang sangat keras dan bersifat korosif
Asam HF tersedia sebagai larutan dengan konsentrasi bervariasi antara 40-
70%. Dalam penggunaanya pada operasi pengasaman asam ini dikombinasikan
dengan asam HCl.
2. Organic Acid
Organik acid terdiri dari asam acetic (CH3COOH) dan asam formic (HCOOH)
a. Asam Acetic (CH3COOH)
Asam acetic adalah asam organic pertama yang digunakan pada operasi
stikmulasi pengasaman. Laju reaksi asam acetic lebih lambat dibandingkan
dengan asam HCl karena derajat ionisasinya yang kecil. Asam acetic relative lebih
mahal dibandingkan dengan asam HCl.
Tingkat korosifitas asam ini sangat rendah sehingga dapat digunakan
dalam waktu relative lebih lama didalam sumur karena pengaruhnya terhadap
peralatan logam didalam sumur relative kecil.
Reaksi kimia yang terjadi antara asam acetic dengan batugamping yaitu :
2CH3COOH + CaCO3 → Ca(CH2COO)2 + CO2 + H2O
b. Asam Formic (COOH)
Meskipun asam formic bereaksi lebih cepat dari asam acetic, tetapi masih
lebih lambat dibandingkan dengan asam HCl. Asam formic merupakan asam
organic yang paling sederhana, dimana asam ini dapat bercampur dengan air
secara sempurna dan harganya relative lebih murah.
3. Powered Acid
Powered acid terdiri dari asam sulfamic (NH2SO3H) dan asam
Chloroacetic (ClCH2CO2H). Kedua jenis asam ini tidak mudah menguap,
berbentuk kristal berwarna putih yang mudah larut dalam air.
Reaksi kimia antara asam sulfamic dengan batugamping yaitu :
2HSO3NH2 + CaCO3 → Ca(SO3NH2)2 + CO2 + H2O
4. Acid Mixture
Kategori ini terdiri dari asam acetic-hydrochloric, asam formic-
hydrochloric dan asam formic-hydrofluoric.
Asam acetic-hydrofluoric dan asam formic-hydrochloric dapat digunakan
pada formasi karbonat, dengan tingkat korosifitas yang rendah dibandingkan asam
organik meskipun digunakan pada temperature tinggi.
5. Retarded Acid
a. Gelled Acid
Jenis asam ini biasanya digunakan untuk memperlambat kecepatan reaksi
asam terutama pada pengasaman rekah/perekahan asam. Retarded disebabkan
oleh naiknya viskositas fluida perekah. Penggunaan gelling agent seperti water
soluble polymer terbatas pada temperature rendah dibawah 130 oF.
b. Emulsified Acid
Merupakan suatu campuran antara HCl dengan 10-30% hidrokarbon yang
diemulsikan. Naiknya viskositas yang disebabkan oleh emulsifikasi dan
penambahan minyak dalam asam dapat memperlambat kecepatan reaksi antara
asam dengan batuan formasi. Jenis asam ini dapat juga digunakan pada
pengasaman rekah.
[Link]. Additive Fluida Asam
Beberapa bahan kimia yang biasanya ditambahkan ke dalam campuran
preflush, spotting atau afterflush mempunyai fungsi antara lain mencegah
terjadinya emulsi, korosi, scale dan sebagainya. Additive tersebut anatara lain :
1. Surfactant
Surfactant merupakan zat kimia yang dapat memperkecil tegangan permukaan
dari suatu cairan dengan mengabsorbsi pada permukaan antara cairan dan gas.
Beberapa jenis surfactant-surfactant yang biasa digunakan berdasarkan
fungsinya antara lain :
a. Anti Sludge Agent
Jika asam diinjeksikan ke dalam formasi dan kontak dengan crude oil akan
menyebabkan terbentuknya sludge (partikel-partikel seperti lumpur) di
bidang antar permukaan minyak dengan asam.
b. Suspending Agent
Kebanyakan formasi karbonat mengandung bahan-bahan yang tidak larut
dan jika dibiarkan mengendap akan terjadi penyumbatan dalam pori-pori
atau rekahan batuan. Suspending agent digunakan untuk mencegah
terbentuknya endapan butiran yang tidak larut dalam asam dengan cara
mensuspensikannya dalam larutan asam.
c. Non Emulsifying Agent
Reaksi antara asam dengan fluida formasi dapat menyebabkan
terbentuknya emulsi karena fluida formasi mungkin mengandung zat-zat
kimia yang terbentuk sebagai zat yang menstabilkan emulsi.
Kecenderungan terbentuknya emulsi akan meningkat dengan
bertambahnya konsentrasi asam. Non-emulsifying agent digunakan untuk
mencegah terbentuknya emulsi, karena dapat larut atau terdispersi dalam
larutan asam ataupun dapat bercampur dengan bahan-bahan lainnya.
d. Retarder Agent
Additif retarder agent digunakan untuk mengontrol laju reaksi asam
sehingga spending timenya menjadi lebih lama. Additif ini diperlukan
terutama jika volume asam yang digunakan besar dan sumur relatif dalam.
2. Mutual Solvent
Umumnya mutual solvent digunakan pada saat after flush (overlfush) di
belakang campuran HF-HCl. Fungsinya adalah untuk membersihkan formasi
dari sisa-sisa pengasaman.
Dalam operasi pengasaman yang banyak digunakan yaitu ethylene glycol
monobuthyl ether (EGMBE).
3. Corrosion Inhibitor
Corrosion inhibitor merupakan additif yang selalu digunakan dalam setiap
operasi pengasaman, dengan mengingat kondisi asam yang korosif terhadap
peralatan logam. Dengan adanya corrosion inhibitor, walaupun tidak bisa
100% menghilangkan korosi, tetapi dapat mengurangi laju korosi .
4. Diverting Agent
Dalam setiap treatmen pengasaman, penting untuk menangani seluruh zona
produktif. Biasanya permeabilitas tidak seragam di setiap interval produksi
sehingga penyebaran asam di tiap interval berbeda, lebih banyak masuk ke
permeabilitas tinggi.
6. Alcohol
Alcohol digunakan untuk membantu meningkatkan effisiensi pembersihan
sumur pada operasi pengasaman untuk sumur gas. Alcohol dan campuran
alcohol - asam mempunyai tegangan permukaan yang lebih rendah daripada
campuran asam. Hal ini memudahkan sumur dengan tekanan dasar sumur
yang rendah untuk mendorong keluar fluida treatmen dari lubang sumur.
7. Aromatic Solvent
Formasi dengan minyak berat, sludge (gumpalan atau endapan), asphalt dan
scale berlapis minyak perlu digunakan aromatic solvent untuk melarutkannya
agar kerja asam lebih baik lagi.
Solvent digunakan sebagai preflush atau pendispersi dalam fluida asam
treatment untuk melarutkan hidrokarbon sehingga asam dapat bereaksi dengan
material formasi atau materail asing penyumbat pori.
8. Clay Stabilizer
Clay stabilizer dikembangkan untuk meminimalkan kerusakan formasi akibat
pengembangan lempung (clay swelling) atau migrasi clay.
Clay stabilizer yang digunakan dalam pengasaman dimasukan dalam kategori
polyquartenery amines, polyamines, cationic organic polymer dan cationic
surfactant. Material-material ini dapat juga digunakan dalam fluida fracturing,
tetapi hanya baik untuk masalah clay swelling. Zirconium oxychloride salt dan
hydroxy aluminum merupakan clay stabilizar yang banyak digunakan untuk
mengatasi masalah migrasi clay.
[Link]. Mineralogi Batuan Reservoir
Di industri minyak tidak semua pengasaman akan berhasil. Malah
beberapa ahli mengatakan kemungkinan berhasil kurang dari 70% untuk batuan
pasir. Untuk limestone 90% keatas. Dari praktek diketahui bahwa makin bersih
suatu sandstone (makin murni dari shale) mkain mudah dan hasil pengasaman
akan makin baik. Pengasaman matrix tidak hanya untuk menghilangkan
kerusakan formasi (formation demage). Pengasaman harus menghilangkan
kerusakan formasi tanpa mengakibatkan effek kerusakan lain di formasinya.
Untuk lebih berhasil, diperlukan pengetahuan mineral batuan ( mineral moxie)
yang ada dan reaksinya terhadap pengasaman, kerana reaksi asam HCl maupun
HF dengan mineral batuan tertentu malah dapat menyebabkan kerusakan formasi.
[Link]. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Laju Reaksi Asam
Laju kecepatan reaksi asam adalah perubahan konsentrasi reaktan (zat
yang direaksikan) ataupun produk reaksi dalam suatu satuan waktu. Atau dapat
dinyatakan sebagai laju berkurangnya konsentrasi suatu reaktan atau
bertambahnya konsentrasi suatu produk. Faktor-faktor yang mempengaruhi laju
reaksi asam dengan batuan yaitu :
1. Perbandingan Luas-Volume
Perbandingan luas-volume (spesifik surface area) merupakan
perbandingan antara luas permukaan batuan yang kontak dengan asam persatuan
volume. Perbadingan luas-volume beranding terbalik dengan jari-jari batuan atau
lebar rekahan.
2. Temperatur Reservoir
Temperatur mempunyai pengaruh langsung yang berbanding lurus
terhadap laju reaksi asam dengan batuan. Padat temperatur 140 0F, dan 150 0F laju
reaksi sekitar 2 kali lebih cepat dibandingkan dengan temperatur 80 0F. dengan
kata lain dengan bertambahnya temperatur maka laju reaksi akan semakin lebih
cepat.
3. Tekanan Reservoir
Pengaruh tekanan terhadap laju reaksi untuk asam HCl dapat dilihat pada
Gambar 4.9. Pada tekanan diatas 750 psi, pengaruh tekanan kurang berpengaruh
terhadap laju reaksi. CO2 yang terlarut dalam fluida meningkat sehingga
konsentrasi CO2 sebagai hasil reaksi akan menggerakkan reaksi kearah
tercapainya kesetimbangna. Hal inilah yang dapat memperlambat laju reakis.
4. Konsentrai Asam
Konsentrasi merupakan jumlah mol zat yang terdapat dalam tiap liter
latutan atau ruangan (gas). Dengan bertambahnya konsentrasi larutan, maka
kecepatan reaksi akan semakin cepat.
5. Komposisi Batuan
Komposisi kimia batuan formasi sangat penting untuk menentukan waktu
laju reaksi antara asam dengan batuan. Laju reaksi asam HCl terhadap dolomite
akan lebih lambat dibandingkan dengan limestone, karena terbentuknya CaMg2C16
12H2O sebagai hasil reaksi asam dengan dolomite dan material ini dapat larut
dalam asam.
6. Kecepatan Aliran Asam
Kecepatan aliran asam tidak menimbulkan pengaruh yang begitu besar
terhadap laju reaksi antara asam dengan batuan. Untuk sumur-sumur dengan
temperatur tinggi kecepatan ditingkatkan hanya untuk menghindari berkurangnya
daya reaktifitas asam yang diinjeksikan.
[Link]. Evaluasi Hasil Pengasaman
Keberhasilan operasi pengasaman dapat didasarkan pada beberapa
parameter diantaranya yaitu :
1. Evaluasi Keberhasilan Berdasarkan Parameter Laju Produksi
Mengevaluasi hasil pengasaman pertama-tama adalah dengan mengamati laju
hariannya. Bila laju produksi harian setelah pengasaman lebih besar dibanding
sebelum pengasaman, maka dapat dikatakan pengasaman tersebut berhasil.
2. Evaluasi Keberhasilan Berdasarkan Parameter Indeks Produktivitas
Produktivity Index adalah indek yang menyatakan kemampuan suatu formasi
untuk mengalirkan fluidanya ke dasar sumur pada drawdown tertentu..
Secara matematik PI dinyatakan :
0,007082 k h
PI . ……………………………………..…..
Bo μo ln ( re )
rw
(4-1)
Pwf besarnya dipengaruhi oleh adanya faktor hambatan (skin), maka terdapat
dua type indeks produktivitas, yaitu PI ideal dan PI aktual
q
PI aktual …………………………………………….(4-
Ps - Pwf
2)
q
PI ……………………….………….(4-3)
Ps - Pwf ΔPskin )
ideal
Menurut Kermitz E Brown (1967) bahwa batasan terhadap tingkat
produktivitas sumur adalah :
PI rendah jika PI < 0,5
PI sedang jika 0,5 < PI < 1,5
PI tinggi jika PI > 1,5
3. Evaluasi Keberhasilan Berdasarkan Parameter Faktor Skin
P - Pwf k
S 1,151 3,23 …………….(4-
1jam
- log 2
m Ct rw
4)
dimana :
P 1jam = pembacaan tekanan dari bentuk linear pada kurva PBU selama 1
jam penutupan
Pwf = tekanan sumur sesaat sebelum penutupan, psi
m = kemiringan slope pada bagian linear dari grafik
= viskositas, cp
= porositas, fraksi
k = permeabilitas, md
Ct = kompressibilitas batuan, psi-1
rw = jari-jari sumur, ft
h = ketebalan lpisan produktif, ft
Kerusakan formasi akibat faktor skin dapat dilihat dari penyimpangan harga S
terhadap titik nol, dan secara kuantitatif dinyatakan sebagai :
S > 0 = adanya kerusakan formasi di sekitar lubang sumur
S = 0 = kerusakan sumur di sekitar lubang sumur diabaikan
S < 0 = adanya perbaikan formasi di sekitar lubang sumur
4. Evaluasi Keberhasilan Berdasarkan Parameter Effisiensi Aliran
Effisiensi aliran adalah suatu konstanta yang menunjukkan pengertian identik
dengan adanya skin di sekitar sumur pada formasi produktif.
(PI) aktual
Flow Effisiensi (FE) . ...……………………………(4-
(PI) ideal
5)
FE
q / P * - Pwf
q / P * - Pwf - ΔP skin , sehingga :
P * - Pwf - Pskin
FE
P * - Pwf …..………………………………………(4-
6)
Harga maksimum FE = 1, jika tidak ada kerusakan dalam lubang sumur.
Jika FE < 1, jika ada kerusakan dalam lubang umur.
Jika FE > 1, jika terjadi perbaikan permeabilitas di sekitar lubang sumur.
5. Evaluasi Keberhasilan Berdasarkan Parameter Kurva IPR
Grafik kurva performance yang disebut Inflow Performance Relationship
(IPR) merupakan grafik kemampuan suatu sumur selama produksi, yang
menunjukkan hubungan antara kapasitas produksi dengan tekanan alir dasar
sumur.
V. DATA YANG DIBUTUHKAN
1. Data Reservoir
Karakteristik batuan
Karakteristik fluida
Kondisi reservoir (tekanan dan temperatur)
2. Data Sumur
Ukuran tubing
Kedalaman sumur
Interval perforasi
Ketebalan zona minyak
3. Data Produksi
Laju produksi minyak
Kadar air formasi
Produktivity Index (PI)
VI. KESIMPULAN SEMENTARA
1. Pembentukan scale berhubungan dengan kadar kelarutan komponen dalam
air formasi, dipengaruhi oleh tekanan dan temperatur reservoir, kadar garam
terlarut dalam air formasi serta sifat fisik air formasi.
2. Identifikasi terhadap pembentukan scale dilakukan untuk mengetahui
besarnya kadar kecenderungan terbentuknya endapan scale, berdasarkan pada
data sifat fisik dan kandungan kimia air formasi yang dihasilkan dari analisa
air formasi.
3. Metode penanganan, yang meliputi pencegahan dan penanggulangan,
direncanakan berdasarkan mekanisme dan kondisi pembentukan scale, lokasi
terbentuknya scale serta jenis scale yang terbentuk.
4. Metode pengasaman (acidizing) dipilih untuk mengatasi penurunan
produksi akibat kerusakan formasi di sekitar sumur dengan tujuan untuk
melarutkan material penyumbat pori batuan yang mengendap di dalam pori
batuan dan dilakukan pada batuan karbonat dan sandstone.
Rencana DAFTAR ISI
HAL JUDUL
HAL PENGESAHAN
HAL PERSEMBAHAN
KATA PENGANTAR
RINGKASAN
ABSTRACT
DAFTAR ISI
DAFTAR GAMBAR
DAFTAR TABEL
DAFTAR LAMPIRAN
BAB I PENDAHULUAN
BAB II TINJAUAN UMUM LAPANGAN
1.1. Sejarah Lapangan
1.2. Keadaan Geologi
1.2.1. Stratigrafi Lapangan
1.2.2. Struktur Geologi
1.3. Kondisi Reservoir
1.3.1. Sifat Fisik Batuan Reservoir
1.3.2. Sifat Fisik Fluida Reservoir
1.4. Data Produksi
BAB III DASAR TEORI
2.1. Proses Terbentuknya Scale
2.2.1. Parameter-Parameter Penyebab Terbentuknya Scale
[Link]. Batuan Reservoir
[Link]. Fluida Reservoir
[Link]. Kondisi Reservoir
2.2.2. Jenis-Jenis Scale Yang Umum dijumpai dan sifat-
sifatnya
2.2. Identifikasi Problem Scal
2.2.1. Analisa Air Formasi
[Link]. Komposisi Kimia dan Sifat Fisik Air Formasi
[Link]. Perhitungan Kelarutan
2.2.2. Well Test
[Link]. Pressure Build Up
[Link]. Pressure Drawdown
2.3. Stimulasi Acidizing
2.3.1. Teori Perbaikan Produktivitas Melalui Pengasaman
2.3.2. Klasifikasi Pengasaman
2.3.3. Jenis-jenis Asam Yang Digunakan
2.3.4. Additif Fluida Asam
2.3.5. Reaksi Asam Dengan Mineral Batuan
2.3.6. Perencanaan Stimulasi Pengasaman
2.3.7. Evaluasi Hasil Pengasaman
BAB IV EVALUASI PENANGGULANGAN SCALE LAPANGAN “Y”
4.1. Analisa Komposisi Mineral batuan
4.2. Analisa Air Formasi
4.3. Perhitungan Kecenderungan Terbentuknya Scale
4.4. Penanggulangan Scale Dengan Acidizing
BAB V PEMBAHASAN
BAB VI KESIMPULAN
DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN
Rencana DAFTAR PUSTAKA
1. Allen, T.O. and Robert ; “Production Operation Well Completion,
Workover and Stimulation”; Volume I & II; Second Edition; Oil and Gas
Consultans International Inc; Tulsa; 1982
2. Anas Puji Santoso, [Link].; “Diktat Kuliah Teknik Produksi 1”;Jurusan
Teknik Perminyakan”; Universitas Pembangunan Nasional “Veteran”;
Yogyakarta; 1998
3. Bambang Tjondro Diputro,[Link]; “Acidizing and Hydraulic Fracturing”;
Intermediate Course; Yogjakarta; 2005
4. Lee,John; “Well Testing”; Volume I; SPE of AIME; New york; 1981
5. Moerdoko, ST.;”Karakterisasi Reservoir Batupasir dan Batukarbonat
Untuk Deteksi Timbulnya Problem Produksi dan Penanggulangannya Pada
Lapangan Minyak”; UPN “Veteran”; Yogyakarta; 1998
6. Schecther R.S.; “Oil Well Stimulation”; Prentice Hall Englewood Cliffs”;
New Jersey 007632;1992