0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
77 tayangan16 halaman

Proses Pembuatan Silase untuk Pakan Ternak

Ringkasan makalah tentang pengolahan bahan pakan menjadi silase adalah sebagai berikut: Silase adalah pakan yang dihasilkan dari proses fermentasi hijauan atau bahan pakan lainnya dalam kondisi tanpa udara untuk menjaga kandungan nutrisinya. Proses pembuatan silase melibatkan penggunaan silo dan penambahan aditif untuk mempercepat fermentasi asam laktat. Silase memiliki manfaat sebagai pakan tern

Diunggah oleh

Shally Handayani
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
77 tayangan16 halaman

Proses Pembuatan Silase untuk Pakan Ternak

Ringkasan makalah tentang pengolahan bahan pakan menjadi silase adalah sebagai berikut: Silase adalah pakan yang dihasilkan dari proses fermentasi hijauan atau bahan pakan lainnya dalam kondisi tanpa udara untuk menjaga kandungan nutrisinya. Proses pembuatan silase melibatkan penggunaan silo dan penambahan aditif untuk mempercepat fermentasi asam laktat. Silase memiliki manfaat sebagai pakan tern

Diunggah oleh

Shally Handayani
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

MAKALAH

PENGOLAHAN BAHAN PAKAN MENJADI SILASE

DOSEN PENGAMPU
Dr. RIESI SRIAGTULA. SPt. MP

KELOMPOK II

1. MUHAMMAD TAUFIQ HADI WIJAYA 1610611029


2. NURCAHAYA B. MANALU 1610611034
3. RAMA ZULHAMDI 1610611039
4. MUHAMMAD YAZID MAULANA [Link] 1610611041
5. HENDRA 1610611049
6. HERDY PRIHATINATTA 1610612206

FAKULTAS PETERNAKAN
UNIVERSITAS ANDALAS
PADANG
2018
BAB 1
PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang


Ternak ruminansia (pemamah biak) seperti sapi, kerbau, kambing dan domba
secara alami membutuhkan hijauan berupa rumput dan daun-daunan. Hijauan
merupakan bahan pakan yang penting bagi ternak ruminansia. Hijauan ini dapat
berasal dari hijauan liar (tidak sengaja ditanam dan tumbuh dengan sendirinya)
dan hijauan yang dibudidayakan (sengaja ditanam dan dipupuk). Hijauan liar
terdiri atas berbagai berbagai jenis rumput, leguminoceae dan tanaman lainnya.
Sedangkan hijauan yang dibudidayakan hanya merupakan satu species rumput
atau bercampur dengan species rumput lain.
Ketersediaan hijauan di Indonesia ini sangat dipengaruhi oleh musim. Saat
musim hujan, tanaman pakan ternak dapat tumbuh baik, sehingga kebutuhan
pakan hijauan dapat tercukupi. Sebaliknya pada musim kemarau, tanaman hijauan
yang dihasilkan akan sangat berkuarang dalam jumlah dan kualitasnya. Untuk
mengatasi hal ini, hijauan yang berlebih pada musim penghujan dapat diproses
ataupun diawetkan menggunakan metoda silase untuk memenuhi kebutuhan di
saat kekurangan hijauan pada musim kemarau.
Permasalahan hijauan yang terbatas ketersediaanya ini diatasi oleh peternak
dengan memanfaatkan pakan sisa-sisa pertanian seperti jerami padi. Kendala
utama dari pemanfaatan jerami padi sebagai salah satu bahan pakan ternak adalah
kandungan serat kasar tinggi dan protein serta kecernaan yang rendah. Sutrisno et
al. (2006) menyatakan bahwa kandungan protein kasar jerami padi rendah (3-5%),
serat kasarnya tinggi (>34%), kekurangan mineral, ikatan lignoselulosanya kuat
dan kecernaannya rendah. Penggunaan jerami secara langung atau sebagai pakan
tunggal tidak dapat memenuhi pasokan nutrisi yang dibutuhkan ternak.
Silase adalah pakan yang berbahan baku hijauan, hasil samping pertanian atau
bijian berkadar air tertentu yang telah diawetkan dengan cara disimpan dalam
tempat kedap udara selama kurang lebih tiga minggu. Penyimpanan pada kondisi
kedap udara tersebut menyebabkan terjadinya fermentasi pada bahan silase.
Tempat penyimpanannya disebut silo. Silo bisa berbentuk horisontal
ataupun vertical. Pada peternakan skala besar, silo biasanya permanen. Bisa
berbahan logam berbentuk silinder ataupun lubang dalam tanah (kolam beton).
Tetapi silo juga bisa dibuat dari drum atau bahkan dari plastik . Prinsipnya, silo
memungkinkan untuk memberikan kondisi anaerob pada bahan agar terjadi proses
fermentasi.
Bahan untuk pembuatan silase bisa berupa hijauan atau bagian bagian lain
dari tumbuhan yang disukai ternak ruminansia, seperti rumput, legume, biji bijian,
tongkol jagung, pucuk tebu, batang nenas dan lain-lain. Kadar air bahan yang
optimal untuk dibuat silase adalah 65-75% . Kadar air tinggi menyebabkan
pembusukan dan kadar air terlalu rendah sering menyebabkan terbentuknya jamur
. Kadar air yang rendah juga meningkatkan suhu silo dan meningkatkan resiko
kebakaran. Jika dibandingkan dengan pembuatan hay, pembuatan silase memiliki
kelebihan yaitu:

Ø Hijauan tidak mudah rusak oleh hujan pada waktu dipanen


Ø Tidak banyak daun yang terbuang
Ø Silase umunya lebih mudah dicerna dibandingkan hay
Ø Karoten dalam hijauan lebih terjaga dengan dibuat silase dibanding hay
Sedangkan kelemahan pembuatan silase adalah perlunya ongkos panen,
perlunya mengisi silo dan biaya pembuatan silo sebagai tempat penyimpanan

1.2. TUJUAN

Adapun tujuan pembuatan makalah ini yaitu agar mahasiswa dapat


mengetahui dan membedakan teknik-teknik pengolahan berbagai bahan pakan
ternak salah satunya pembuatan silase dan pada akhirnya menentukan strategi
untuk mempertahankan mutu serta meningkatkan nilai nutrisi bahan pakan dan
mahasiswa dapat mengetahui tentang teknologi dan pengolahan dan pengawetan
hijauan pakan secara silase.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1. Silase
Silase adalah pakan yang berbahan baku hijauan, hasil samping pertanian
atau bijian berkadar air tertentu yang telah diawetkan dengan cara disimpan dalam
tempat kedap udara selama kurang lebih tiga minggu. Penyimpanan pada kondisi
kedap udara tersebut menyebabkan terjadinya fermentasi pada bahan silase.
Tempat penyimpanannya disebut silo. Silo bisa berbentuk horizontal ataupun
vertikal. Silo yang digunakan pada peternakan skala besar adalah silo yang
permanen, bisa berbahan logam berbentuk silinder ataupun lubang dalam tanah
(kolam beton). Silo juga bisa dibuat dari drum atau bahkan dari plastik.
Prinsipnya, silo memungkinkan untuk memberikan kondisi anaerob pada bahan
agar terjadi proses fermentasi. Bahan untuk pembuatan silase bisa berupa hijauan
atau bagian-bagian lain dari tumbuhan yang disukai ternak ruminansia, seperti
rumput, legume, biji bijian, tongkol jagung, pucuk tebu, batang nanas dan lain-
lain. Kadar air bahan yang optimal untuk dibuat silase adalah 65-75% . Kadar air
tinggi menyebabkan pembusukan dan kadar air terlalu rendah sering
menyebabkan terbentuknya jamur. Kadar air yang rendah juga meningkatkan suhu
silo dan meningkatkan resiko kebakaran (Heinritz, 2011).
Teknologi silase adalah suatu proses fermentasi mikroba merubah pakan
menjadi meningkat kandungan nutrisinya (protein dan energi) dan disukai ternak
karena rasanya relatif manis. Silase merupakan proses mempertahankan kesegaran
bahan pakan dengan kandungan bahan kering 30 – 35% dan proses ensilase ini
biasanya dalam silo atau dalam lobang tanah, atau wadah lain yang prinsifnya
harus pada kondisi anaerob (hampa udara), agar mikroba anaerob dapat
melakukan reaksi fermentasi. Keberhasilan pembuatan silase berarti
memaksimalkan kandungan nutrien yang dapat diawetkan. Selain bahan kering,
kandunganm gula bahan juga merupakan faktor penting bagi perkembangan
bakteri pembentuk asam laktat selama proses fermentasi (Khan et al., 2004).
Proses pembuatan silase (ensilage) akan berjalan optimal apabila pada saat
proses ensilase diberi penambahan akselerator. Akselerator dapat berupa
inokulum bakteri asam laktat ataupun karbohidrat mudah larut. Fungsi dari
penambahan akselerator adalah untuk menambahkan bahan kering untuk
mengurangi kadar air silase, membuat suasana asam pada silase, mempercepat
proses ensilase, menghambat pertumbuhan bakteri pembusuk dan jamur,
merangsang produksi asam laktat dan untuk meningkatkan kandungan nutrien dari
silase (Schroeder, 2004)
Selama proses fermentasi asam laktat yang dihasilkan akan berperan
sebagai zat pengawet sehingga dapat menghindarkan pertumbuhan
mikroorganisme pembusuk. Bakteri asam laktat dapat diharapkan secara otomatis
tumbuh dan berkembang pada saat dilakukan fermentasi secara alami, tetapi untuk
menghindari kegagalan fermentasi dianjurkan untuk melakukan penambahan
inokulum bakteri asam laktat (BAL) yang homofermentatif, agar terjamin
berlangsungnya fermentasi asam laktat. Inokulum BAL merupakan additive
paling populer dibandingkan asam, enzim atau lainnya. Peranan lain dari
inokulum BAL diduga adalah sebagai probiotik, karena inokulum BAL masih
dapat bertahan hidup di dalam rumen ternak dan silase pakan ternak dapat
meningkatkan produksi susu dan pertambahan berat badan pada sapi (Weinberg et
al., 2004).
Silase yang baik biasanya berasal dari pemotongan hijauan tepat waktu
(menjelang berbunga), pemasukan ke dalam silo dilakukan dengan cepat,
pemotongan hijauan dengan ukuran yang memungkinkannya untuk dimampatkan,
penutupan silo secara rapat (tercapainya kondisi anaerob secepatnya) dan tidak
sering dibuka. Silase yang baik beraroma dan berasa asam, tidak berbau busuk.
Silase hijauan yang baik berwarna hijau kekuning-kuningan, dipegang terasa
lembut dan empuk tetapi tidak basah (berlendir). Silase yang baik juga tidak
menggumpal dan tidak berjamur. Kadar keasamanya (pH) apabila dilakukan
analisa lebih lanjut adalah 3,2-4,5. Silase yang berjamur, warna kehitaman, berair
dan aroma tidak sedap adalah silase yang mempunyai kualitas rendah (Rukmana,
2005).
Silase bisa digunakan sebagai salah satu atau satu satunya pakan kasar
dalam ransum sapi potong. Pemberian pada sapi perah sebaiknya dibatasi tidak
lebih 2/3 dari jumlah pakan kasar. Silase juga merupakan pakan yang bagus bagi
domba tetapi tidak bagus untuk kuda maupun babi. Silase merupakan pakan yang
disukai ternak terutama bila cuaca panas. Ternak yang belum terbiasa
mengkonsumsi silase, maka pemberiannya dapat dilakukan secara sedikit demi
sedikit dicampur dengan hijauan yang biasa dimakan (Hanafi, 2008).
Pembuatan silase dipengaruhi oleh tiga faktor, yaitu:
1. hijauan yang cocok dibuat silase adalah rumput, tanaman tebu, tongkol
gandum, tongkol jagung, pucuk tebu, batang nenas, dan jerami padi;
2. penambahan zat aditif untuk meningkatkan kualitas silase. Beberapa zat aditif
adalah limbah ternak (manure ayam dan babi), urea, air, dan molases. Aditif
digunakan untuk meningkatkan kadar protein atau karbohidrat pada material
pakan. Biasanya kualitas pakan yang rendah memerlukan aditif untuk memenuhi
kebutuhan nutrisi ternak;
3. kadar air yang tinggi berpengaruh dalam pembuatan silase. Kadar air yang
berlebihan menyebabkan tumbuhnya jamur dan akan menghasilkan asam yang
tidak diinginkan seperti asam butirat. Kadar air yang rendah menyebabkan suhu
menjadi lebih tinggi dan pada silo mempunyai resiko yang tinggi terhadap
kebakaran (Pioner Development Foundation, 1991).

Proses fermentasi silase memiliki 4 tahapan, yaitu:


1. fase aerobik, normalnya fase ini berlangsung sekitar 2 jam yaitu ketika oksigen
yang berasal dari atmosfer dan yang berada diantara partikel tanaman berkurang.
Oksigen yang berada diantara partikel tanaman digunakan oleh tanaman,
mikroorganisme aerob, dan fakultatif aerob seperti yeast dan enterobacteria untuk
melakukan proses respirasi;
2. fase fermentasi, fase ini merupakan fase awal dari reaksi anaerob. Fase ini
berlangsung dari beberapa hari hingga beberapa minggu tergantung dari
komposisi bahan dan kondisi silase. Jika proses silase berjalan sempurna maka
bakteri asam laktat sukses berkembang. Bakteri asam laktat pada fase ini menjadi
bakteri predominan dengan pH silase sekitar 3,8—5;
3. fase stabilisasi, fase ini merupakan kelanjutan dari fase kedua; fase feed-out
atau fase aerobik. Silo yang sudah terbuka dan kontak langsung dengan
lingkungan maka akan menjadikan proses aerobik terjadi (Stefani et al., 2010).
Bakteri asam laktat epifit (BAL) memfermentasi karbohidrat terlarut air
dalam tanaman menjadi asam laktat dan sebagian kecil diubah menjadi asam
asetat. Karena produksi asam tersebut, pH materi yang diensilasi menurun dan
mikroba perusak dihambat pertumbuhannya (Chen dan Weinberg, 2008).
Nilai pH yang baik untuk pembuatan silase yang baik adalah 4,5
sedangkan kadar bahan keringnya berkisar 28—35% (Bolsen et al., 1978). Bila
pH > 5,0 dan kadar bahan kering 50% maka bakteri beracun Clostridia akan
tumbuh, sedangkan nilai pH yang terlalu rendah < 4,1 dan bahan kering 15% akan
mengaktifkan mikroba kontaminan (Tangendjaja et al., 1992). Pengukuran pH
silase dilakukan menggunakan pH meter digital setelah silase dipanen. Sebelum
dilakukan penetapan pH, sampel diberi aquades dengan perbandingan antara
sampel dan aquades adalah 1 : 10 (Nahm, 1992).
BAB III
PEMBAHASAN

3.1. Pengawetan Segar Hijauan Pakan


3.1.1. Pengertian Awetan Segar Hijauan Pakan
Di negara-negara tropis yang mempunyai 2 musim, persediaan hijauan
mempunyai fluktuasi yang berbeda. Musim penghujan merupakan musim yang
banyak akan hijauan pakan dan bahkan sering berlebih, sedangkan pada musim
kemarau merupakan musim paceklik, dimana hijauan yang ada mempunyai
kualitas yang rendah.
Di negara-negara subtropis yang mempunyai 4 musim, banyak dibuat
hijauan awetan kering yang disebut “hay” atau “hooi” untuk menghadapi musim
salju, dimana pada musim tersebut hijauan segar tidak akan didapatkan. Di
negara tropis hijauan awetan kering kurang populer, karena hijauan pakan boleh
dikatakan memang tersedia sepanjang tahun. Namun kenyataannya pada musim
kemarau, lebih-lebih kemarau panjang, hijauan pakan sulit didapatkan dan
kalaupun ada hijauan tersebut mempunyai kualitas yang sangat rendah. Alternatif
untuk mengatasi kekurangan hijauan pakan, dapat dilakukan dengan beberapa
cara antara lain adalah sebagai berikut :
- Membeli hijauan pakan dari daerah lain
- Mengurangi jumlah ternak yang dipelihara pada saat kekurangan hijauan pakan
- Mengawetkan hijauan yang berlebih untuk digunakan pada saat kekurangan
hijauan pakan
- Menanam lebih dari 1 jenis hijauan pakan untuk meratakan puncak-puncak
produksi
- Menjaga kesuburan tanah semaksimal mungkin
Disamping itu untuk menghindari kelangkaan pakan, perlu diupayakan
cara-cara pengadaan hijauan dengan kualitas yang baik untuk penyediaannya
sepanjang tahun. Cara – cara ini dapat dilakukan melalui sistim pengawetan dan
pengolahan. Sistim pengawetan dapat dilakukan melalui pembuatan silase
(awetan hijauan segar) dan hay (awetan hijauan kering), sedangkan pengolahan
dapat dilakukan dengan pengolahan secara fisik (pencacahan, penggilingan atau
pemanasan), secara kimia (perlakuan alkali dan amoniasi) dan secara biologi
yang umumnya dilakukan fermentasi menggunakan jasa mikrobia selulolitik.
Silase adalah hasil awetan segar hijauan pakan setelah mengalami proses
ensilase yang berlangsung dalam suasana asam dan anaerob, hijauan pakan
disimpan dalam keadaan segar (KA = 60 -70%) di dalam suatu tempat yang
disebut silo. Prinsip pembuatan silase adalah mempercepat terjadinya suasana
asam dengan cara menyimpan hijauan segar (kadar air = 60-70 %) dalam kondisi
anaerob.
Adapun tujuan pembuatan silase ini adalah untuk :
- Persediaan pakan yang dpt digunakan pada saat kekurangan hijauan pakan
- Menampung kelebihan produksi hijauan pakan
- Memanfaatkan hijauan pakan pada saat pertumbuhan terbaik yang belum
dimanfaatkan secara langsung
- Mendayagunakan limbah pertanian (AGRICULTURAL WASTE PRODUCT) maupun
hasil ikutan pertanian (AGRICULTURAL BY- PRODUCT)
Beberapa persyaratan hijauan makanan ternak yang baik digunakan untuk
bahan silase adalah sebagai berikut :
- Mengandung cukup substrat yang fermentabel dalam bentuk WSC (water soluble
carbohydrates= karbohidrat terlarut). Glukosa dan fruktosa (WSC) pada rumput-
rumputan, dengan konsentrasi 10 - 30 g/kg BK. Disakarida berupa sukrosa
terdapat sekitar 20 - 80 g/kg BK.
- Buffering capasity rendah (kemampuan mempertahankan pH rendah). “Buffering
Capacity” bahan pakan leguminosa lebih tinggi dibanding rumput, sehingga
dalam pembuatan silase perlu diperhatikan.
- Kandungan bahan kering (BK) pada keadaan segar di atas 200 g/kg (>20 %)
- Penambahan bahan karbohidariat mudah dicerna (5-10 %), seperti bekatul, tetes
atau onggok dapat dilakukan untuk mempercepat terjadinya suasana asam.
- Mengandung cukup substrat yang fermentabel dalam bentuk WSC (water soluble
carbohydrates= karbohidrat terlarut). Glukosa dan fruktosa (WSC) pada rumput-
rumputan, dengan konsentrasi 10 - 30 g/kg BK. Disakarida berupa sukrosa
terdapat sekitar 20 - 80 g/kg BK.
- Buffering capasity rendah (kemampuan mempertahankan pH rendah). “Buffering
Capacity” bahan pakan leguminosa lebih tinggi dibanding rumput, sehingga
dalam pembuatan silase perlu diperhatikan.
- Kandungan bahan kering (BK) pada keadaan segar di atas 200 g/kg (>20 %)
- Penambahan bahan karbohidariat mudah dicerna (5-10 %), seperti bekatul, tetes
atau onggok dapat dilakukan untuk mempercepat terjadinya suasana asam.
Prinsip Dasar Pembuatan Silase
Silase merupakan hasil awetan segar hijauan makanan ternak setelah
mengalami proses fermentasi yang disebut “ensilase” dan berlangsung dalam
kondisi anaerob. Hijauan makanan ternak disimpan dalam keadaan segar (KA =
60 -70%) di dalam suatu tempat yang disebut “silo”.
Prinsip pembuatan silase adalah mempercepat terjadinya kondisi anaerob
dan suasana asam dengan proses “ensilase”. Dalam proses ensilase akan
dihasilkan asam laktat yang kemudian akan membuat kondisi hijauan makanan
ternak di dalam silo menjadi bersifat asam dan menjadi awet, karena semua
mikrobia termasuk mikrobia pembusuk akan mati. Proses ensilase akan berakhir
setelah suasana menjadi asam (pH kurang dari 4,2).

3.1.2. Metode Pembuatan Silase


Silase dapat dibuat dengan beberapa metode :
[Link]. Metode Panas (Belanda)
Rumput yang sudah dipotong-potong ditumpuk di dalam silo, diusahakan
selapis demi selapis, diratakan dan dipadatkan, proses penumpukan dan
pemadatan lebih kurang 7 hari. Sebagai penutup digunakan lapisan tanah setebal
50 – 6-0 cm. Bila rumput mulai melayu, maka lubang akan mengempis dan
masuk ke dalam lubang. Di sekeliling lubang sebaiknya dibuat parit agar air tidak
masuk ke lubang. Untuk menjaga kualitas silase, dapat dilakukan dengan
pemadatan yang sempurna, drainase yang baik dan penghindaran dari air yang
masuk ke luabang, penutupan lubang harus lebih tinggi dari tanah sekitarnya.
Pembukaan silase metode ini dilakukan minimal setelah 4 bulan. Lubang silo bisa
berbentuk silindris atau kotak dengan ukuran 2 – 4 meter, dan dalam 2 m.

[Link]. Metode Dingin (asam)


Pada metode ini diperlukan silo yang berdinding tembok atau kayu,
hijauan harus secepat mungkin dimasukkan dalam silo. Pengisisan dan pemadatan
maksimal 1–3 hari . Pemadatan harus dilakukan benar-benar sempurna, lapisan
demi lapisan. Setelah semua bahan masuk, silo harus ditutup rapat dan bila perlu
diberi pemberat. Prinsip metode dingin ini adalah, dengan diselesaikannya
pemasukan bahan dalam waktu singkat dan pemadatan yang sempurnya, maka
dalam proses ensilasenya tidak terjadi panas dan tetap dingin. Jika hijauan yang
dibuat silase kurang mengandung bahan karbohidrat, bisa ditambah bahan
karbohidrat dengan tujuan untuk mempercepat terbentuknya suasana asam.
Suasana asam terbentuk akibat fermentasi dari karbohidrat. Untuk mempercepat
suasana asam juga bisa dilakuakn dengan penambahan bahan-bahan kimia seperti
: asam fosfat, natrium bisulfat, campuran HCl encer dll. Banyaknya bahan
tambahan (tetes, tepung jagung) yang ditambahkan dalam pembuatan silase
sekitar 2 – 4 % dari bahan silase (rumput dan atau legum). Untuk legum bahan
aditif bisa lebih banyak 1 – 2 % dibanding rumput. Untuk aditif dedak halus atau
bekatul, bisa sampai 10 % dari bahan silase.

[Link]. Metode Finlandia


Pada metode ini juga dibutuhkan silo yang baik. Hijauan harus secepatnya
dimasukkan dan dipadatkan ke dalam silo. Tiap lapisan dibasahi dengan HCl BJ
1,17 (33,5%). Banyaknya HCl yang ditambahkan harus dapat menciptakan
suasana asam dengan pH antara 3,5 - 4. Pemakaian HCl sebanyak 1 liter/ 100 kg
bahan seilase. Sebelum disiramkan pada rumput harus diencerkan dengan air
sebanyak 6 kali. Bila silo berukuran garis tengah 6 meter, maka selapis timbunan
dibutuhkan 300 kg rumput yang harus disiram 18 liter HCl yang telah diencerkan.
Bila penimbunan tidak dapat selesai sehari, maka timbunan harus ditutup rapat-
rapat (dengan karung goni atau plastik). Bila timbunan rumput sudah cukup
(berlapis-lapis) kemudian ditutup dengan tanah setebal 60 cm dan diberi beban.
Setelah masak, silase akan mengempis sampai setengahnya. Karena itu
penimbunan hendaknya setinggi 2 kali tinggi silo. Silase yang dibuat dengan cara
ini akan bermutu tinggi dan berbau sedap, sehingga disukai ternak. Untuk sapi
dapat diberikan 20 – 30 kg silase. Sebaiknya ditambah hooi atau jerami.

[Link]. Silo (Tempat Pembuatan Silase)


Silo berasal dari bahasa Yunani “Siro” yang berarti tempat untuk
menyimpan biji-bijian. Silo yang dimaksud disini adalah merupakan tempat atau
wadah untuk membuat silase. Bahan dari silo bervariasi, bisa dari plastik, drum,
bus beton, kayu dan atau semen permanen. Pembuatan silo dapat dilakukan
secara permanen, semi permanen atau tidak permanen, hal ini tergantung situasi
dan kondisi serta kebutuhan. Menurut letak dan bentuknya, silo dibedakan
menjadi beberapa bentuk :
1. Stack atau Penc Silo
Silo atau tempat silase ini berbentuk bulat atau persegi dan terbuat dari bahan
yang tidak permanen, hijauan ditimbun diatas tanah
2. Tower Silo
Silo model tower terletak di atas tanah, berbentuk menara, bisa bulat atau persegi,
terbuat dari kayu atau beton dan hijauan ditimbun di dalamnya.
3. Pit / Trench Silo
Silo ini berbentuk silinder dan berada di dalam tanah (permukaan sejajar dengan
permukaan tanah), bahan hijuan disimpan di dalam lubang di tanah
4. Clamp Silo
Silo ini merupakan bentuk gabungan antara stack dan pit silo, sehingga letaknya
sebagian di dalam tanah dan sebagian muncul di atas tanah. Sebagian besar silase
berada di atas tanah .

Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam pembuatan silase :


- Lama pekerjaan tidak boleh lebih dari 3 hari
- Bahan silase harus ditumpuk rapi/ dipadatkan
- Setelah proses ensilase selesai, pH harus dipertahankan kurang dari 4,2 (pH lebih
dari 4,8 akan terjadi pembusukan dan peragian)
- Suhu optimum untuk bakteri asam laktat 25 - 35oC

[Link]. Peralatan yang Digunakan untuk Membuat Silase


Beberapa peralatan yang digunakan dalam pembuatan silase ini adalah
sebagai berikut:
- Tempat silase (silo), bisa terbuat dari plastik ukuran besar atau bis beton
diameter 80 – 100 cm dsb.
- Alat pemotong, berupa pisau besar atau choper
- Timbangan
- Lak ban/ isolasi besar dan tali rafia/ tali karet (dari ban dalam bekas)
Adapun bahan-bahan yang dapat digunakan dalam pembuatan silase adalah :
- Hijauan pakan yang dapat dibuat silase adalah berupa rumput, legume dan
hijauan jagung
- Bahan pengawet/ tambahan/ pelengkap dapat berupa bekatul, onggok dan tetes
Prosedur pembuatan silase :
- Hijauan / rumput (yang sudah dilayukan dengan kadar air + 65 %) dipotong-
potong (5 -10 cm),
- Hijauan atau rumput ditimbang dan dicampur dengan 5 % bahan pelengkap
(bekatul/ tetes atau onggok) sampai homogen
- Dimasukkan dalam tempat (silo) dan dipadatkan dan kemudian ditutup rapat,
disimpan/ diperam dengan aman (tidak kena air dan jauh dari serangga)
Tahap pembuatan silase :
- Tahap pengisian
o hijauan pakan dipotong-potong dilayukan
o Bahan/hijauan pakan dicampur dengan bahan pengawet / tambahan / pelengkap
o Masukkan ke dalam silo dipadatkan
- Tahap penutupan
Bahan dalam pembuatan silase :
Bahan dasar/pokok
Rumput potong
Rumput lapangan
Leguminosa
Campuran rumput dan leguminosa
Limbah pertanian
Bahan tambahan/pelengkap
Penambahan asam mineral untuk menimbulkan millieu asam (larutan Cl, asam
propionat, asam semut, dll)
Penambahan asam organik (gula tebu, molasse)
Penambahan asam laktat
Penambahan ubi-ubian (kentang, ketela pohon, dll)
Untuk membuat silase, harus diupayakan terbentuknya keadaan hampa udara
(anaerob) dan suasana asam.
Keadaan hampa udara, dapat dilakukan dengan :
Tempat yang tertutup rapat
Penimbunan hijauan pakan yang dipadatkan
Pemadatan yang baik memperkecil kantong udara dan hijauan pakan
sebaiknya dipotong-2. Silo yang tidak rapat menyebabkan tumbuhnya jamur.
Suasana asam pH diupayakan turun menjadi  4. Penurunan pH dpt dilakukan
secara langsung atau tidak langsung.
Langsung, dengan penambahan bahan kimia (Na-bisulfat, sulfur dioksida,
asam klorida)
Tidak langsung, dengan penambahan bahan sumber karbohidrat : tetes (3%),
dedak halus (5%), menir (3,5%), onggok (3%)
Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam pembuatan silase :
- pH harus dipertahankan kurang dari 4,2 (pH lebih dari 4,8 ensilase gagal &
terjadi peragian)
- Suhu optimum untuk bakteri asam laktat 25 - 35oC
- Lama pekerjaan tidak boleh lebih dari 3 hari
- Bahan silase harus ditumpuk rapi/dipadatkan

Penilaian hasil pembuatan silase secara organoleptis berdasarkan skor


terhadap warna,bau, tekstur, ada/tidaknya jamur dan penggumpalan, serta pH
dapat dilihat dalam Tabel Skor di atas.
Ciri-ciri silase yang baik :
- Rasa dan bau asam
- Warna hijau seperti daun direbus
- Tekstur hijauan seperti bahan asal
- Tidak berjamur, berlendir atau menggumpal
- Secara kimiawi : banyak mengandung asam laktat, N amonia rendah (<10%),
tidak mengandung asam butirat
- pH rendah (4,2 - 4,8)
BAB V
KESIMPULAN

Adapun kesimpulan dari makalah ini yaitu bahwabeberapa persyaratan


hijauan makanan ternak yang baik digunakan untuk bahan silase adalah sebagai
berikut :

- Mengandung cukup substrat yang fermentabel dalam bentuk WSC (water soluble
carbohydrates= karbohidrat terlarut). Glukosa dan fruktosa (WSC) pada rumput-
rumputan, dengan konsentrasi 10 - 30 g/kg BK. Disakarida berupa sukrosa
terdapat sekitar 20 - 80 g/kg BK.
- Buffering capasity rendah (kemampuan mempertahankan pH rendah). “Buffering
Capacity” bahan pakan leguminosa lebih tinggi dibanding rumput, sehingga
dalam pembuatan silase perlu diperhatikan.
- Kandungan bahan kering (BK) pada keadaan segar di atas 200 g/kg (>20 %)
- Penambahan bahan karbohidariat mudah dicerna (5-10 %), seperti bekatul, tetes
atau onggok dapat dilakukan untuk mempercepat terjadinya suasana asam.
Prinsip pembuatan silase adalah mempercepat terjadinya kondisi anaerob
dan suasana asam dengan proses “ensilase”. Dalam proses ensilase akan
dihasilkan asam laktat yang kemudian akan membuat kondisi hijauan makanan
ternak di dalam silo menjadi bersifat asam dan menjadi awet, karena semua
mikrobia termasuk mikrobia pembusuk akan mati. Proses ensilase akan berakhir
setelah suasana menjadi asam (pH kurang dari 4,2). Dan silase dapat dibuat dalam
beberapa metode yaitu metode panas , metode dingin dan metode finlandia.
Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam pembuatan silase :
- Lama pekerjaan tidak boleh lebih dari 3 hari
- Bahan silase harus ditumpuk rapi/ dipadatkan
- Setelah proses ensilase selesai, pH harus dipertahankan kurang dari 4,2 (pH lebih
dari 4,8 akan terjadi pembusukan dan peragian)
- Suhu optimum untuk bakteri asam laktat 25 - 35oC
DAFTAR PUSTAKA

Chen and weinberg. 2008. Bahan Ajar Mandiri Teknologi Pengolahan Pakan.
Fakultas Peternakan .Universitas Nusa Cendana . Kupang
Hanafi, 2008. Pengawetan Pakan Ternak. Penebar Swadaya: Jakarta.
Heinritz, 2011. Fermentasi Silase dan Manfaat Probiotik Silase bagi
Rouminansia. Media Peternakan. 31(3) : 225-232.
Khan et al. 2004. Peningkatan Kualitas Dan Ketersediaan Pakan Untuk
Mengatasi Kesulitan di Musim Kemarau Pada Kelompok Peternak Sapi Perah.
Jurnal Dedikasi Vol. 8.
Nahm, 1992. Feed and Nutrition. Second Edition. The Ensminger Publishing
Company. Clovis. California.
Pioner Development, 1991. Animal Nutrition. Fourth edition. (Page 404-415)
Longman Group,LTd.
Rukmana, R. 2005. Budi Daya Rumput Unggul Hijauan Makanan Ternak. (hal
51-57) Kanisius. Yogyakarta.

Anda mungkin juga menyukai