Contoh Soal Garis Lurus dan Jarak
Contoh Soal Garis Lurus dan Jarak
Analytic Geometry
(Geometri Analitik)
disusun oleh
Daftar Isi ii
2.1 Garis . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . 6
2.2 Bidang . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . 15
2.3 Latihan . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . 16
3 Lingkaran 18
3.1 Latihan . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . 30
4 Parabola 32
4.1 Latihan . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . 32
5 Elips 33
5.1 Latihan . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . 33
6 Hiperbola 34
6.1 Latihan . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . 34
i
DAFTAR ISI ii
7 Persamaan Parametrik 35
7.1 Latihan . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . 35
BAB 1
Geometri merupakan ilmu pengetahuan yang sudah lama. Kata geometri ber-
asal dari bahasa Yunani. Geo artinya bumi dan metri artinya ukuran. Sehingga
geometri didefinisikan sebagai cabang ilmu matematika yang dikembangkan untuk
memudahkan studi dan pengukuran berbagai bentuk rupa. Dalam geometri, dikenal
beberapa postulat geometri euclid berikut:
1. Titik.
Titik merupakan objek yang secara hipotesis tidak berdimensi. Artinya jika
sebuah titik dibuat di atas kertas, maka objek tersebut bukanlah titik namun
kombinasi dari tak hingga titik.
2. Garis.
Garis adalah suatu wadah untuk titik yang terdefinisi sebagai kurva satu di-
mensi. Garis hanya memiliki panjang, tidak memiliki luas, dan tidak memiliki
1
ketebalan. Garis dapat digolongkan dalam dua jenis yaitu curved line (garis
lengkung) dan straight line (garis lurus). Perhatikan Gambar 1.1 berikut.
3. Intermediasi.
Antara dua titik yang berbeda pada garis lurus, maka selalu ada titik lain
dimana pun mereka berada. Ujung-ujung suatu garis berupa titik.
5. Permukaan.
Permukaan dibentuk dari dua dimensi, yang disebut suatu wadah garis. Per-
mukaan memiliki panjang dan luas, namun tidak memiliki ketebalan. Permu-
kaan dikatakan permukaan bidang jika dipilih dua titik sebarang (katakanlah
A dan B) pada suatu permukaan lalu kedua titik tersebut dihubungkan oleh
segmen garis lurus (AB), maka setiap titik pada segmen garis tersebut ter-
kandung dalam permukaan. Permukaan bidang dianggap sebagai permukaan
bidang euclid, sebaliknya disebut permukaan lengkung.
6. Solid.
Suatu konstruksi geometri yang memiliki tiga dimensi, yang diperoleh dengan
melakukan translasi atau rotasi dari permukaan disebut solid.
Sebagian besar dari postulat Euclid adalah pernyataan sederhana tentang fakta-
fakta intuitif jelas dan tak terbantahkan tentang bidang atau ruang. Postulat-
postulat Euclid tersebut tentu tidak berlaku pada geometri non-euclid. Contoh
geometri non-euclid dapat dilihat pada Gambar 1.2.
Geometri analitik adalah suatu cabang ilmu matematika yang merupakan kom-
binasi antara aljabar dan geometri. Dengan menghubungkan persamaan matematika
secara aljabar dengan tempat kedudukan secara geometri diperoleh suatu metode pe-
mecahan masalah geometri yang lebih sistematik dan lebih tegas. Masalah-masalah
geometri akan diselesaikan secara aljabar (atau secara analitik). Sebaliknya gam-
bar geometri sering memberikan pemahaman yang lebih jelas pada pengertian hasil
secara aljabar. Dalam materi geometri analitik ini juga akan membahas tentang
irisan kerucut dengan suatu bidang datar. Perhatikan Gambar 1.3, bahwa suatu
irisan kerucut dapat membentuk lingkaran, elips, parabola, dan hiperbola.
Sistem koordinat menjadi landasan bagi geometri analitik. Koordinat kartesius di-
kenalkan oleh seorang matematikawan Perancis bernama Rene Descartes. Idenya
adalah cara menunjukkan kedudukan atau posisi sebuah titik pada bidang dengan
dua bilangan yaitu absis dan ordinat yang ditulis (x, y). Perhatikan Gambar 2.1
bahwa semua himpunan R2 = {(x1 , x2 )|x1 , x2 ∈ R} dapat digambarkan dalam koor-
dinat kartesius. Bidang ini dibagi menjadi empat kuadran sebagai pedoman dalam
meletakkan posisi suatu titik.
5
2.1 Garis
Setiap titik dalam koordinat kartesius dapat dihubungkan oleh segmen garis lurus.
Misal titik A(−3, 5), titik B(2, 5), titik C(2, −1), dan titik D(−3, −1) dihubungkan
dengan cara menarik garis dari titik A ke B, lalu ke C, kemudian ke D dan kembali
lagi ke A. Maka diperolehlah sebuah bangun datar seperti pada Gambar 2.2, yang
dapat diketahui sifat-sifat geometrinya (seperti keliling dan luas).
Jarak antara titik dalam sistem koordinat dapat ditentukan dengan mudah
melalui Teorema Pythagoras. Misal titik A(a1 , a2 ) dan B(b1 , b2 ) ingin dicari panjang
segmen garis lurus yang menghubungkan kedua titik tersebut, maka
2
AB = |AB|2 = (a1 − b1 )2 + (a2 − b2 )2 . (2.1)
Dalam hal ini, AB menyatakan panjang segmen garis AB yang terbentuk, sedangkan
|AB| menyatakan jarak antar dua titik tersebut. Perhatikan bahwa jarak antara titik
A(−1, −2) dan B(2, 3) seperti pada Gambar 2.3, dapat dengan mudah dihitung
menggunakan konsep Teorema Pythagoras.
Misal diketahui dua titik berbeda, yaitu A(a1 , a2 ) dan B(b1 , b2 ). Segmen garis
lurus dibentuk dengan cara menghubungkan titik A dan titik B. Lalu titik C(c1 , c2 )
ditaruh dalam segmen garis tersebut, dengan perbandingan |AC| : |CB| = p : q.
Sebagai contoh misal diketahui titik A(−1, 3) dan titik B(4, −7), lalu diletakkan titik
C(c1 , c2 ) pada segmen garis lurus AB dengan perbandingan |AC| : |CB| = 3 : 2
seperti pada Gambar 2.4. Dengan menggunakan Persamaan 2.3, diperoleh
3 · 4 + 2 · (−1) 3 · (−7) + 2 · 3
C(c1 , c2 ) = , = (2, −3).
3+2 3+2
Secara khusus, posisi titik tengah dari segmen garis AB yaitu ketika nilai p = q = 1.
Misalkan garis rays g1 melalui dua buah titik berbeda yaitu K(−6, −3) dan
L(−6, 2) sedemikian sehingga sejajar dengan sumbu Y , seperti yang dapat dilihat
pada Gambar 2.5. Perhatikan bahwa garis g1 juga melalui titik (−6, 0). Jika dibe-
g1 ≡ {(x, y) ∈ R2 |x = −6}
atau secara sistematis dinyatakan dalam bentuk persamaan x = −6. Dengan pen-
jelasan yang sama, maka dapat dipahami bahwa sumbu Y adalam persamaan garis
yang berbentuk x = 0.
Selanjutnya misalkan garis g2 melalui titik M (−4, −6) dan L(3, −6) sedemi-
kian sehingga sejajar dengan sumbu X, seperti yang dapat dilihat pada Gambar
2.6. Perhatikan bahwa semua titik-titik yang terletak pada garis g2 memiliki nilai
ordinat −6, sehingga garis g2 dapat ditulis menjadi
g2 ≡ {(x, y) ∈ R2 |y = −6}
atau secara sistematis dinyatakan dalam bentuk persamaan y = −6. Dengan pe-
ngertian tersebut, dapat dipahami bahwa persamaan untuk sumbu X adalah y = 0.
Secara umum, persamaan garis lurus yang melalui titik A(x1 , y1 ) dan B(x2 , y2 )
dapat diperoleh dengan cara
y − y1 x − x1
= . (2.4)
y2 − y1 x2 − x 2
Suatu persamaan garis biasanya ditulis dalam salah satu dari dua bentuk berikut:
Jika suatu segmen garis AB menghubungkan titik ujung A(x1 , y1 ) dan titik B(x2 , y2 ),
dipotong oleh garis lurus L ≡ ax+by+c = 0 dengan rasio perbandingan λ : 1 seperti
pada Gambar 2.7, maka
ax1 + by1 + c L1
λ=− =− . (2.5)
ax2 + by2 + c L2
Gambar 2.7: Ilustrasi titik potong antara segmen garis dan garis rays
Suatu garis dapat ditentukan jarak terdekatnya dari titik asal O(0, 0). Misal-
kan titik Q(x, y) merupakan titik dalam garis l yang letaknya terdekat dari titik
asal, lalu dibentuk segmen garis lurus (dengan menghubungkan titik asal dan titik
Gambar 2.8: Ilustrasi jarak terpendek dari titik asal ke suatu garis
Dengan cara yang sama, proyeksi tegak lurus dari M P pada ON adalah
π
RQ = M P cos( − α) = y sin α, (2.7)
2
namun
OR + RQ = OQ = p. (2.8)
Oleh karena itu, dengan menghubungkan Persamaan 2.6, Persamaan 2.7, dan Per-
samaan 2.8, diperoleh
yang merupakan bentuk normal dari persamaan garis lurus l. Segmen garis OQ
l ≡ ax + by + c = 0.
kax + kby + kc = 0
ka = cos α
kb = sin α
kc = −p.
k 2 a2 + k 2 b2 = cos2 α + sin2 α = 1.
Sehingga
1
k2 =
a2 + b 2
1
k = ±√ .
a + b2
2
Maka
a
cos α = ± √
a2
+ b2
b
sin α = ± √
a2 + b 2
c
p = ∓√ .
a2 + b 2
ax + by + c
± √ = 0.
a2 + b 2
tan α − tan β m1 − m2
tan θ = ± tan(α − β) = ± =± .
1 + tan α tan β 1 + m1 m2
m1 −m2
Jika 1+m1 m2
> 0, maka sudut 0 < θ < π2 atau sudut θ lancip. Sedangkan jika
m1 −m2
1+m1 m2
< 0, maka sudut π2 < θ < π atau sudut θ tumpul.
Hubungan antara dua garis lurus adalah salah satu dari kondisi berikut
• sejajar
• berimpit
• tegak lurus
a1 b1 a1 a2
= ⇒ =
a2 b2 b1 b2
a1 −a2
⇒− =
b1 b2
⇒ m1 = m2
m1 − m2
⇒ tan θ = = 0 ⇒ θ = 0.
1 + m1 m2
Dengan kata lain, jika dua buah garis sejajar, maka gradiennya sama (m1 = m2 ).
Selanjutnya akan dibuktikan arah sebaliknya, dengan memisalkan aa21 = bb12 = λ 6= cc12 ,
dan titik (x0 , y0 ) terletak pada garis a1 x + b1 y + c1 = 0, maka a1 x0 + b1 y0 = −c.
Sehingga
a1 b1 y 0 1 c1
a2 x 0 + b 2 y 0 = x0 + = (a1 x0 + b1 y0 ) = − 6= −c2 ,
λ λ λ λ
dan a2 x0 +b2 y0 6= −c2 , yang berarti (x0 , y0 ) tidak terletak pada garis a2 x+b2 y +c2 =
0. Karena tidak ada a1 x + b1 y + c1 = 0 dan a2 x + b2 y + c2 = 0 saling sejajar.
Kondisi selanjutnya adalah untuk garis yang berimpit. Misal diberikan dua
garis a1 x + b1 y + c1 = 0 dan garis a2 x + b2 y + c2 = 0. Jika aa21 = bb21 = cc21 , maka dua
garis tersebut berimpit. Misalkan λ = cc21 , maka a1 = a2 λ, b1 = b2 λ, dan c1 = c2 λ.
Jika titik (x0 , y0 ) terletak pada garis a1 x + b1 y + c1 = 0, maka
a1 x0 + b1 y0 + c1 = 0 ⇒ a2 λx0 + b2 λy0 + c2 λ = 0
⇒ λ(a2 x0 + b2 y0 + c2 ) = 0
⇒ a2 x0 + b2 y0 + c2 = 0.
yang berarti titik (x0 , y0 ) terletak pada garis a2 x + b2 y + c2 = 0. Dalam hal ini,
semua titik yang terletak pada garis a1 x + b1 y + c1 = 0 juga terletak pada garis
a2 x+b2 y +c2 = 0. Oleh karena itu, dalam kondisi ini, kedua garis tersebut dikatakan
berimpit.
Selanjutnya adalah kondisi tegak lurus dari dua buah garis. Misal diketahui
dua buah garis lurus, yaitu garis a1 x + b1 y + c1 = 0 dan garis a2 x + b2 y + c2 = 0 akan
saling tegak lurus jika a1 a2 + b1 b2 = 0 atau aa21 = − bb21 . Hubungan antar gradiennya
m1 − m2
= ∞ ⇒ 1 + m1 m2 = 0
1 + m1 m2
⇒ m1 m2 = −1
⇒ m1 = −1/m2
−a1 b2
⇒ =
b1 a2
⇒ a1 a2 + b1 b2 = 0.
ax + by − (ax1 + by1 ) = 0.
bx − ay + (bx1 − ay1 ) = 0.
Misal garis yang tegak lurus dengan l1 dan melalui titik P (x1 , y1 ) adalah garis l2 ≡
bx − ay + (bx1 − ay1 ) = 0. Jika garis l1 dan garis l2 berpotongan di titik Q, maka
ac − b2 x1 + aby1 bc + abx1 − a2 y1
Q − ,− .
a2 + b 2 a2 + b 2
Perhatikan bahwa panjang segmen garis P Q adalah jarak titik P ke garis l1 . Lalu
dengan menggunakan Persamaan 2.2 untuk menghitung jarak titik P ke garis l1 ,
diperoleh
s 2 2
ac − b2 x1 + aby1 bc + abx1 − a2 y1
PQ = x1 + + y1 +
a2 + b 2 a2 + b 2
s 2 2 2
a2 x1 + ac + +aby1 b y1 + bc + abx1
= +
a2 + b 2 a2 + b 2
s 2 2
a(ax1 + by1 + c) b(ax1 + by1 + c)
= +
a2 + b2 a2 + b 2
s 2
2 2
ax1 + by1 + c
= (a + b )
a2 + b2
r
(ax1 + by1 + c)2
=
a2 + b 2
|ax1 + by1 + c|
= √ . (2.10)
a2 + b 2
2.2 Bidang
Ax + By + Cz = D,
2.3 Latihan
2. Misal diketahui titik-titik A(1, −3), B(−3, 2), dan C(−4, −1). Tentukan pan-
jang masing-masing segmen garis lurus AB, BC, dan AC!
3. Jika titik E(−6, −3) F (1, −3), G(1, 2), dan H(h1 , h2 ) membentuk sebuah ba-
ngun datar dengan kelilingnya adalah 24 satuan. Tentukan koordinat titik
H!
5. Diketahui dua titik E(4, 7) dan G(8, 1). Titik F terletak pada segmen garis
EG sedemikian hingga |EF | : |F G| = 1 : 3. Tentukanlah absis dan ordinat
dari titik F !
6. Jika titik A(2, −1) terletak pada segmen garis M N sedemikian sehingga M A :
AN = 2 : 1 dan diketahui titik M (8, 1), maka tentukanlah titik N !
7. Diketahui titik-titik sudut A(0, 1), B(2, 5), dan C(−1, 4). Buktikan bahwa
segitiga tersebut merupakan segitiga sama kaki!
8. Jika segmen garis lurus memiliki dua titik ujung yaitu P (−5, −6) dan Q(10, 1),
maka buktikan bahwa titik R(4, −2) terletak pada segmen garis tersebut!
10. Tentukan persamaan garis yang melalui titik (0,5) dan (0,0)!
11. Tentukan persamaan garis yang melalui titik (-3,2) dan (2,3)!
14. Tentukan nilai λ jika garis x + 2y = 3 memotong segmen garis yang menghu-
bungkan titik A(−1, 0) dan titik B(3, 4)!
18. Tentukan bentuk normal dari garis jika diketahui jarak terpendeknya dari titik
asal adalah p dengan sudut α sebagai berikut.
a) α = 45◦ , p = 4.
b) α = π2 , p = 3.
c) α = 180◦ , p = 4.
3π
d) α = 2
, p = 4.
20. Tentukan jarak titik (5, 7) terhadap garis yang melalui titik (−4, −6) dan (8, 3)!
Lingkaran
Persamaan lingkaran yang memiliki titik pusat (α, β) dan radius r adalah
(x − α)2 + (y − β)2 = r2
x2 + y 2 − 2αx − 2βy + α2 + β 2 − r2 = 0.
Jika lingkaran tersebut memiliki titik pusat (0, 0) maka persamaan lingkarannya
adalah x2 + y 2 = r2 . Persamaan lingkaran juga dapat memiliki bentuk
x2 + y 2 + 2ax + 2by + c = 0,
√
yang memiliki titik pusat (−a, −b) dan radius r = a2 + b2 − c. Ketika nilai r = 0,
maka lingkarannya hanya berupa titik.
Misalkan lingkaran dengan radius r = 3 dan titik pusatnya terletak pada garis
y = x − 1. Jika lingkaran tersebut melalui titik (7, 3), maka ada dua persamaan
lingkaran yang terbentuk. Hal ini dapat buktikan dengan memisalkan titik pusatnya
adalah (a, b). Karena titik (a, b) terletak pada garis y = x − 1, maka b = a − 1.
18
Karena lingkaran melalui titik (7, 3), maka
p
r=(a − 7)2 + (b − 3)2
p
⇒ 3 = (a − 7)2 + (a − 1 − 3)2
⇒ 9 = (a − 7)2 + (a − 4)2
⇒ (a − 7)(a − 4) = 0.
Bentuk diametrik
Misalkan A(x1 , y1 ) dan B(x2 , y2 ) adalah titik-titik ujung dari diameter suatu ling-
karan, dan titik P (x, y) terletak di sebarang lingkaran seperti pada Gambar 3.1.
y−y1
Dalam hal ini, gradien dari segmen garis AP dan BP masing-masing adalah x−x 1
y−y2 ◦
dan x−x2 . Karena sudut ∠AP B = 90 , maka
y − y1 y − y2
· = −1
x − x1 x − x2
(x − x1 )(x − x2 ) + (y − y1 )(y − y2 ) = 0.
Sebagai contoh, akan dicari persamaan lingkaran yang memiliki diameter dengan
titik ujungnya adalah A(6, 5) dan B(0, −3). Lalu misalkan C adalah titik pusat
dari lingkaran tersebut, maka C(3, 1) adalah titik tengah dari segmen garis AB.
Kemudian radius r = |AC| dapat diperoleh dengan cara menghitung jarak antara
titik A dan titik C, sehingga |AC| = 5. Oleh karena itu, persamaan lingkarannya
adalah
(x − 3)2 + (y − 1)2 = 5
x2 + y 2 − 6x − 2y − 15 = 0
(x − 6)(x − 0) + (y − 5)(y + 3) = 0.
Oleh karena itu, persamaan lingkarannya dapat diselesaikan dengan cara menentu-
kan
x2 + y 2 x y 1
2
x1 + y12 x1
y1 1
= 0.
x2 + y 2 x y2 1
2 2 2
2 2
x3 + y 3 x3 y3 1
Jika jarak suatu titik P dengan titik pusat sama radius lingkaran, maka titik
tersebut terletak pada lingkaran. Titik P berada pada lingkaran yang beradius r
seperti pada Gambar 3.3, maka jarak minimum dan maksimumnya masing-masing
adalah 0 dan P A = 2r.
|β − mα − c|
√ < r.
1 + m2
Dengan menggunakan bentuk normal dari garis, maka titik tengah segmen garis AB
dapat ditentukan dengan menyelesaikan solusi dari
|β − mα − c|
√ = r.
1 + m2
Titik temu antara garis dan lingkaran dapat ditentukan dengan menyelesaikan solusi
dari
|β − mα − c|
√ > r.
1 + m2
|β − mα − c|
√ = 0.
1 + m2
Selanjutnya adalah persamaan garis singgung pada lingkaran yang melalui satu
titik. Jika persamaan lingkarannya adalah x2 + y 2 = r2 dan melalui titik (x1 , y1 ),
maka garis singgungnya adalah garis
x1 x + y 1 y = r 2 .
1 1
x1 x + y1 y + a(x1 + x) + b(y1 + y) + c = 0
2 2
Kuasa lingkaran
Kuasa lingkaran dibagi menjadi tiga yaitu kuasa titik terhadap lingkaran, garis
kuasa, dan titik kuasa. Kuasa titik merupakan kedudukan suatu titik terhadap
lingkaran. Garis kuasa menyatakan kedudukan antara dua lingkaran. Titik kuasa
merupakan suatu titik yang menyatakan kedudukan antar lingkaran (lebih dari dua
lingkaran).
K(P ) = |P A1 | · |P B1 |.
∠B1 P C = ∠CP A1
dan
1
∠P A1 C = ∠P CB1 = ∠AM C.
2
Karena segitiga M P A1 C dan M P CB1 mempunyai dua pasang sudut yang beru-
kuran sama, maka kedua segitiga tersebut adalah sebangun. Akibatnya terdapat
hubungan perbandingan
|P A1 | |P C|
=
|P C| |P B1 |
atau
|P A1 | · |P B1 | = P C 2 .
Sehingga diperoleh
K(P ) = P C 2 .
Misal melalui titik P ditarik lagi garis-garis yang memotong lingkaran selain
K(P ) = P C 2 = |P A1 | · |P B1 | = |P A2 | · |P B2 | = |P A3 | · |P B3 | = |P A4 | · |P B4 |.
Misal lingkaran L berjari-jari r. Jika segmen garis yang melalui titik P dan titik
pusat M , juga melalui dua titik Ak dan Bk , dengan k ∈ {1, 2, . . . , n}, maka
Dalam hal ini, nilai |P M |2 − r2 juga didefinisikan sebagai kuasa titik P terhadap
lingkaran L.
Berdasarkan Persamaan 3.1, jika titik P berasa di luar lingkaran L, maka kuasa
titik P terhadap lingkaran tersebut bernilai positif. Hal ini dikarenakan panjang
garis singgung dari titik P ke titik singgungnya adalah bilangan positif. Jika titik
P berada tepat pada lingkaran, maka kuasa titik P terhadap lingkaran tersebut
adalah nol. Namun jika titik P berada di dalam lingkaran L, maka kuasa titik
P terhadap lingkaran bernilai negatif. Dalam hal ini, panjang garis singgungnya
bernilai imajiner dan sesuai dengan kenyataan bahwa secara geometri sebuah titik
di dalam lingkaran tidak bisa dikonstruksi garis singgungnya.
Misal diberikan dua buah lingkaran. Perhatikan bahwa ada suatu titik yang
memiliki kuasa sama terhadap dua lingkaran tersebut. Himpunan titik-titik yang
L 1 ≡ x 2 + y 2 + a1 x + b 1 y + c 1 = 0
L2 ≡ x2 + y 2 + a2 x + b2 y + c2 = 0.
Jika titik P (x1 , y1 ) memiliki kuasa yang sama terhadap lingakran L1 dan L2 , maka
K(P ) = K(P )
x21 + y12 + a1 x1 + b1 y1 + c1 = x21 + y12 + a2 x1 + b2 y1 + c2
(a1 − a2 )x1 + (b1 − b2 )y1 + c1 − c2 = 0.
Hal ini akan berlaku pada setiap titik yang kuasanya terhadap kedua lingkaran itu
adalah sama. Dengan demikian, garis kuasa yang merupakan tempat kedudukan
titik-titik yang memiliki kuasa yang sama terhadap lingkaran L1 dan L2 adalah
sebagai berikut
l ≡ L1 − L2
≡ (a1 − a2 )x1 + (b1 − b2 )y1 + c1 − c2 = 0.
a1 − a2
Perhatikan bahwa garis kuasa memiliki gradien m1 = − . Titik pusat
b1 − b2
lingkaran L1 dan L2 masing-masing adalah M1 − 12 a1 , − 12 b1 dan M2 − 12 a2 , − 12 b2 .
Gradien garis yang menghubungkan antara titik pusat L1 dan titik pusat L2 adalah
b1 − b2
m2 = . Karena m1 · m2 = −1, maka garis kuasa dua buah lingkaran akan
a1 − a2
tegak lurus dengan garis penghubung titik-titik pusat kedua lingkaran tersebut,
seperti pada Gambar 3.6.
Selanjutnya, misal diberikan tiga buah garis yang titik-titik pusatnya tidak
berada pada satu garis lurus (konsentris), yaitu L1 , L2 , dan L3 seperti pada Gambar
3.7. Perhatikan bahwa ada satu titik yang memiliki kuasa yang sama terhadap
ketiga lingkaran tersebut. Ketiga lingkaran tersebut mempunyai tiga garis kuasa
yang saling berpotongan di satu titik. Titik tersebut disebut titik kuasa.
L1 ≡ x2 + y 2 + 3x + 5y − 7 = 0
L2 ≡ x2 + y 2 − 2x + 4y − 6 = 0
L3 ≡ x2 + y 2 + 4x − 2y − 2 = 0.
L1 − L2 ⇒ 5x + y − 1 = 0.
L1 − L3 ⇒ x − 7y + 5 = 0.
L 1 ≡ x 2 + y 2 + a1 x + b 1 y + c 1 = 0
L2 ≡ x2 + y 2 + a2 x + b2 y + c2 = 0.
2a1 a2 + 2b1 b2 = c1 + c2 .
Perhatikan Gambar 3.9 bahwa r1 tegak lurus dengan r2 , sehingga 4M1 M2 P ada-
lah segitiga siku-siku. Dalam hal ini, M1 − 21 a1 , − 21 b1 , M2 − 21 a2 , − 21 b2 , r1 =
q q
1 2 1 2 1 2
a
4 1
+ b
4 1
− c1 , dan r2 = a + 14 b22 − c2 . Sehingga berlaku
4 2
3.1 Latihan
2. Tentukan titik pusat dan radius jika persamaan lingkarannya adalah 3x2 +
3y 2 − 8x − 10y + 3 = 0!
3. Buktikan bahwa titik-titik (1, 0), (2, −7), (8, 1), dan (9, −6) terletak pada
6. Tentukan persamaan lingkaran yang melalui titik (1, 1), (2, −1), dan (3, 2)!
7. Tentukan posisi titik A(1, 2) dan titik B(6, 0) terhadap lingkaran dengan per-
samaan x2 + y 2 − 4x + 2y − 11 = 0!
8. Diberikan titik-titik P1 (2, 3), P2 (1, 0), dan P3 (6, −1) serta sebuah lingkaran
dengan persamaan S ≡ x2 + y 2 − 10x + 24y + 144 = 0. Tentukan jarak
maksimum dan minimum antara:
L1 ≡ x2 + y 2 + x + y − 14 = 0
L2 ≡ x2 + y 2 = 13
L3 ≡ x2 + y 2 + 3x − 2y − 26 = 0.
Parabola
4.1 Latihan
1.
33
BAB 5
Elips
5.1 Latihan
1.
34
BAB 6
Hiperbola
6.1 Latihan
1.
35
BAB 7
Persamaan Parametrik
7.1 Latihan
1.
36
Daftar Pustaka
[2] Silverman, Richard A. (2012). Modern Calculus and Analytic Geometry. New
York: MacMillan Company.
37