67% menganggap dokumen ini bermanfaat (3 suara)
641 tayangan40 halaman

Contoh Soal Garis Lurus dan Jarak

A

Diunggah oleh

ilmi
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
67% menganggap dokumen ini bermanfaat (3 suara)
641 tayangan40 halaman

Contoh Soal Garis Lurus dan Jarak

A

Diunggah oleh

ilmi
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

Lecture Notes

Analytic Geometry
(Geometri Analitik)

disusun oleh

Nanda Arista Rizki, [Link].

PROGRAM STUDI MATEMATIKA


FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS MULAWARMAN
2018
Daftar Isi

Daftar Isi ii

1 Pendahuluan Geometri Analitik 1

2 Sistem Koordinat Kartesius di R3 5

2.1 Garis . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . 6

2.2 Bidang . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . 15

2.3 Latihan . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . 16

3 Lingkaran 18

3.1 Latihan . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . 30

4 Parabola 32

4.1 Latihan . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . 32

5 Elips 33

5.1 Latihan . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . 33

6 Hiperbola 34

6.1 Latihan . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . 34

i
DAFTAR ISI ii

7 Persamaan Parametrik 35

7.1 Latihan . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . 35
BAB 1

Pendahuluan Geometri Analitik

Sebelum masuk ke dalam materi, alangkah baiknya mengetahui perbedaan antara


kalkulus dan geometri. Walaupun kalkulus dan geometri merupakan cabang ilmu
matematika, namun secara istilah, kalkulus yang disebut sebagai ilmu hitung, se-
dangkan geometri adalah ilmu ukur. Kalkulus secara umum membahas tentang
change (perubahan), yang meliputi limit, kontinuitas, fungsi, diferensial, integrasi,
dan lain lain. Sementara yang dibahas geometri adalah bentuk, ukuran, sifat ruang
dan posisi relatif dari suatu rupa. Oleh karena itu, geometri melibatkan koordinat
suatu rupa tersebut dalam bentuk dimensi.

Geometri merupakan ilmu pengetahuan yang sudah lama. Kata geometri ber-
asal dari bahasa Yunani. Geo artinya bumi dan metri artinya ukuran. Sehingga
geometri didefinisikan sebagai cabang ilmu matematika yang dikembangkan untuk
memudahkan studi dan pengukuran berbagai bentuk rupa. Dalam geometri, dikenal
beberapa postulat geometri euclid berikut:

1. Titik.
Titik merupakan objek yang secara hipotesis tidak berdimensi. Artinya jika
sebuah titik dibuat di atas kertas, maka objek tersebut bukanlah titik namun
kombinasi dari tak hingga titik.

2. Garis.
Garis adalah suatu wadah untuk titik yang terdefinisi sebagai kurva satu di-
mensi. Garis hanya memiliki panjang, tidak memiliki luas, dan tidak memiliki

1
ketebalan. Garis dapat digolongkan dalam dua jenis yaitu curved line (garis
lengkung) dan straight line (garis lurus). Perhatikan Gambar 1.1 berikut.

Gambar 1.1: Perbedaan antara curved line dan straight line

3. Intermediasi.
Antara dua titik yang berbeda pada garis lurus, maka selalu ada titik lain
dimana pun mereka berada. Ujung-ujung suatu garis berupa titik.

4. Segmen garis dan ”rays”.


Jika sebuah garis terpotong oleh dua titik (misal A dan B), maka disebut
segmen garis. Artinya sebuah segmen garis memiliki titik awal (A) dan titik
akhir (B). Segmen garis memiliki panjang tetap terbatas. Namun jika titik
akhir B jatuh di tak hingga, maka diperoleh segmen garis dengan panjang
semi-tak hingga yang disebut ”rays”.

5. Permukaan.
Permukaan dibentuk dari dua dimensi, yang disebut suatu wadah garis. Per-
mukaan memiliki panjang dan luas, namun tidak memiliki ketebalan. Permu-
kaan dikatakan permukaan bidang jika dipilih dua titik sebarang (katakanlah
A dan B) pada suatu permukaan lalu kedua titik tersebut dihubungkan oleh
segmen garis lurus (AB), maka setiap titik pada segmen garis tersebut ter-
kandung dalam permukaan. Permukaan bidang dianggap sebagai permukaan
bidang euclid, sebaliknya disebut permukaan lengkung.

6. Solid.
Suatu konstruksi geometri yang memiliki tiga dimensi, yang diperoleh dengan
melakukan translasi atau rotasi dari permukaan disebut solid.

Sebagian besar dari postulat Euclid adalah pernyataan sederhana tentang fakta-
fakta intuitif jelas dan tak terbantahkan tentang bidang atau ruang. Postulat-
postulat Euclid tersebut tentu tidak berlaku pada geometri non-euclid. Contoh
geometri non-euclid dapat dilihat pada Gambar 1.2.

Geometri Analitik 2 Nanda Arista Rizki, [Link].


Gambar 1.2: Konsep spherical geometry

Geometri analitik adalah suatu cabang ilmu matematika yang merupakan kom-
binasi antara aljabar dan geometri. Dengan menghubungkan persamaan matematika
secara aljabar dengan tempat kedudukan secara geometri diperoleh suatu metode pe-
mecahan masalah geometri yang lebih sistematik dan lebih tegas. Masalah-masalah
geometri akan diselesaikan secara aljabar (atau secara analitik). Sebaliknya gam-
bar geometri sering memberikan pemahaman yang lebih jelas pada pengertian hasil
secara aljabar. Dalam materi geometri analitik ini juga akan membahas tentang
irisan kerucut dengan suatu bidang datar. Perhatikan Gambar 1.3, bahwa suatu
irisan kerucut dapat membentuk lingkaran, elips, parabola, dan hiperbola.

Gambar 1.3: Irisan kerucut

Penguasaan materi geometri analitik melibatkan open source software bernama


GeoGebra yang dapat membantu dalam proses visualisasi, yang tersedia baik secara
online maupun yang dapat diunduh secara gratis di [Link]. Untuk mem-
bantu pemahaman, maka proses pembelajaran dapat dilakukan dengan menggu-
nakan media yang disediakan oleh [Link]
home/analytic-geometry-topic.

Geometri Analitik 3 Nanda Arista Rizki, [Link].


Penelitian-penelitian mengenai geometri analitik yang terbaru atau masih ha-
ngat saat ini, dapat dipantau langsung melalui website widgets (lihat Gambar 1.4)
atau Google Scholar (lihat Gambar 1.5).

Gambar 1.4: Pencarian referensi penelitian melalui website widgets

Gambar 1.5: Pencarian referensi penelitian melalui Google Scholar

Geometri Analitik 4 Nanda Arista Rizki, [Link].


BAB 2

Sistem Koordinat Kartesius di R3

Sistem koordinat menjadi landasan bagi geometri analitik. Koordinat kartesius di-
kenalkan oleh seorang matematikawan Perancis bernama Rene Descartes. Idenya
adalah cara menunjukkan kedudukan atau posisi sebuah titik pada bidang dengan
dua bilangan yaitu absis dan ordinat yang ditulis (x, y). Perhatikan Gambar 2.1
bahwa semua himpunan R2 = {(x1 , x2 )|x1 , x2 ∈ R} dapat digambarkan dalam koor-
dinat kartesius. Bidang ini dibagi menjadi empat kuadran sebagai pedoman dalam
meletakkan posisi suatu titik.

Sistem koordinat kartesius R2 inilah yang selanjutnya diperluas menjadi di-


mensi ruang R3 . Bentuk-bentuk geometri yang dapat digambar dalam sistem koor-
dinat kartesius R3 antara lain adalah balok, tabung, bola, dan kerucut.

Gambar 2.1: Koordinat kartesius di R2

5
2.1 Garis

Setiap titik dalam koordinat kartesius dapat dihubungkan oleh segmen garis lurus.
Misal titik A(−3, 5), titik B(2, 5), titik C(2, −1), dan titik D(−3, −1) dihubungkan
dengan cara menarik garis dari titik A ke B, lalu ke C, kemudian ke D dan kembali
lagi ke A. Maka diperolehlah sebuah bangun datar seperti pada Gambar 2.2, yang
dapat diketahui sifat-sifat geometrinya (seperti keliling dan luas).

Gambar 2.2: Contoh bidang datar

Jarak antara titik dalam sistem koordinat dapat ditentukan dengan mudah
melalui Teorema Pythagoras. Misal titik A(a1 , a2 ) dan B(b1 , b2 ) ingin dicari panjang
segmen garis lurus yang menghubungkan kedua titik tersebut, maka

2
AB = |AB|2 = (a1 − b1 )2 + (a2 − b2 )2 . (2.1)

Karena jarak selalu bernilai positif, maka


p
AB = |AB| = (a1 − b1 )2 + (a2 − b2 )2 . (2.2)

Dalam hal ini, AB menyatakan panjang segmen garis AB yang terbentuk, sedangkan
|AB| menyatakan jarak antar dua titik tersebut. Perhatikan bahwa jarak antara titik
A(−1, −2) dan B(2, 3) seperti pada Gambar 2.3, dapat dengan mudah dihitung
menggunakan konsep Teorema Pythagoras.

Misal diketahui dua titik berbeda, yaitu A(a1 , a2 ) dan B(b1 , b2 ). Segmen garis
lurus dibentuk dengan cara menghubungkan titik A dan titik B. Lalu titik C(c1 , c2 )
ditaruh dalam segmen garis tersebut, dengan perbandingan |AC| : |CB| = p : q.

Geometri Analitik 6 Nanda Arista Rizki, [Link].


Gambar 2.3: Ilustrasi jarak antara dua titik berbeda

Kedudukan titik C dalam segmen garis tersebut adalah


 
p · b 1 + q · a1 p · b 2 + q · a2
C(c1 , c2 ) = , . (2.3)
p+q p+q

Sebagai contoh misal diketahui titik A(−1, 3) dan titik B(4, −7), lalu diletakkan titik
C(c1 , c2 ) pada segmen garis lurus AB dengan perbandingan |AC| : |CB| = 3 : 2
seperti pada Gambar 2.4. Dengan menggunakan Persamaan 2.3, diperoleh
 
3 · 4 + 2 · (−1) 3 · (−7) + 2 · 3
C(c1 , c2 ) = , = (2, −3).
3+2 3+2

Secara khusus, posisi titik tengah dari segmen garis AB yaitu ketika nilai p = q = 1.

Gambar 2.4: Ilustrasi titik dalam segmen garis lurus

Misalkan garis rays g1 melalui dua buah titik berbeda yaitu K(−6, −3) dan
L(−6, 2) sedemikian sehingga sejajar dengan sumbu Y , seperti yang dapat dilihat
pada Gambar 2.5. Perhatikan bahwa garis g1 juga melalui titik (−6, 0). Jika dibe-

Geometri Analitik 7 Nanda Arista Rizki, [Link].


rikan titik-titik lain yang juga terletak pada garis ini, maka absisnya selalu bernilai
−6. Oleh karena itu, garis g1 adalah himpunan semua titik yang berabsis −6, dan
ditulis dengan cara

g1 ≡ {(x, y) ∈ R2 |x = −6}

atau secara sistematis dinyatakan dalam bentuk persamaan x = −6. Dengan pen-
jelasan yang sama, maka dapat dipahami bahwa sumbu Y adalam persamaan garis
yang berbentuk x = 0.

Gambar 2.5: Garis x = −6

Selanjutnya misalkan garis g2 melalui titik M (−4, −6) dan L(3, −6) sedemi-
kian sehingga sejajar dengan sumbu X, seperti yang dapat dilihat pada Gambar
2.6. Perhatikan bahwa semua titik-titik yang terletak pada garis g2 memiliki nilai
ordinat −6, sehingga garis g2 dapat ditulis menjadi

g2 ≡ {(x, y) ∈ R2 |y = −6}

atau secara sistematis dinyatakan dalam bentuk persamaan y = −6. Dengan pe-
ngertian tersebut, dapat dipahami bahwa persamaan untuk sumbu X adalah y = 0.

Secara umum, persamaan garis lurus yang melalui titik A(x1 , y1 ) dan B(x2 , y2 )
dapat diperoleh dengan cara

y − y1 x − x1
= . (2.4)
y2 − y1 x2 − x 2

Geometri Analitik 8 Nanda Arista Rizki, [Link].


Gambar 2.6: Garis y = −6

Suatu persamaan garis biasanya ditulis dalam salah satu dari dua bentuk berikut:

1. y = mx + c, dengan kemiringan garis m dan suatu konstanta c.

2. ax + by + c = 0, dengan a, b, c adalah konstanta real, sedangkan nilai a dan


nilai b tidak bersama-sama nol.

Jika suatu segmen garis AB menghubungkan titik ujung A(x1 , y1 ) dan titik B(x2 , y2 ),
dipotong oleh garis lurus L ≡ ax+by+c = 0 dengan rasio perbandingan λ : 1 seperti
pada Gambar 2.7, maka

ax1 + by1 + c L1
λ=− =− . (2.5)
ax2 + by2 + c L2

Gambar 2.7: Ilustrasi titik potong antara segmen garis dan garis rays

Suatu garis dapat ditentukan jarak terdekatnya dari titik asal O(0, 0). Misal-
kan titik Q(x, y) merupakan titik dalam garis l yang letaknya terdekat dari titik
asal, lalu dibentuk segmen garis lurus (dengan menghubungkan titik asal dan titik

Geometri Analitik 9 Nanda Arista Rizki, [Link].


Q). Segmen garis yang tebentuk merupakan garis normal dari titik asal ke garis l
tersebut (perhatikan Gambar 2.8).

Gambar 2.8: Ilustrasi jarak terpendek dari titik asal ke suatu garis

Untuk menurunkan persamaan garis dalam bentuk p dan α diambil sembarang


titik P (x, y) pada garis l. Ditarik garis dari P yang tegak lurus dengan sumbu x,
sehingga memotong sumbu x di titik M . Dari M digambar garis yang tegak lurus
dengan garis normal ON dan berpotongan di titik R. Proyeksi tegak lurus dari OM
pada ON adalah

OR = OM cos α = x cos α. (2.6)

Dengan cara yang sama, proyeksi tegak lurus dari M P pada ON adalah

π
RQ = M P cos( − α) = y sin α, (2.7)
2

namun

OR + RQ = OQ = p. (2.8)

Oleh karena itu, dengan menghubungkan Persamaan 2.6, Persamaan 2.7, dan Per-
samaan 2.8, diperoleh

x cos α + y sin α − p = 0, (2.9)

yang merupakan bentuk normal dari persamaan garis lurus l. Segmen garis OQ

Geometri Analitik 10 Nanda Arista Rizki, [Link].


memiliki panjang p dan sudut normal α.

Reduksi suatu persamaan garis lurus ke bentuk normalnya menjadi sangat


penting jika ingin mengetahui jarak terpendeknya dari titik asal dan besar sudutnya.
Misalkan bentuk persamaan garis tersebut adalah

l ≡ ax + by + c = 0.

Jika masing-masing ruas dikalikan dengan suatu konstanta k ∈ R, maka diperoleh

kax + kby + kc = 0
ka = cos α
kb = sin α
kc = −p.

Jika ka dan kb masing-masing dikuadratkan lalu dijumlahkan, maka diperoleh

k 2 a2 + k 2 b2 = cos2 α + sin2 α = 1.

Sehingga

1
k2 =
a2 + b 2
1
k = ±√ .
a + b2
2

Maka

a
cos α = ± √
a2
+ b2
b
sin α = ± √
a2 + b 2
c
p = ∓√ .
a2 + b 2

Oleh karena itu, bentuk normal persamaan garis l tersebut adalah

ax + by + c
± √ = 0.
a2 + b 2

Geometri Analitik 11 Nanda Arista Rizki, [Link].


Misal diberikan dua buah garis lurus, yaitu y = m1 x + c1 dan y = m2 x + c2 ,
seperti yang tampak pada Gambar 2.9. Kedua garis tersebut memotong sumbu x
dan membentuk sudut α dan sudut β dengan sumbu x. Perhatikan bahwa tan α =
m1 , dan tan β = m2 . Misalkan sudut dua buah garis ini adalah θ dan π − θ.
Berdasarkan Gambar 2.9, bahwa sudut antara dua garis ini adalah θ = π − β + α
dan β − α. Sudut θ dapat dipeoleh dengan cara menghitung

tan α − tan β m1 − m2
tan θ = ± tan(α − β) = ± =± .
1 + tan α tan β 1 + m1 m2
m1 −m2
Jika 1+m1 m2
> 0, maka sudut 0 < θ < π2 atau sudut θ lancip. Sedangkan jika
m1 −m2
1+m1 m2
< 0, maka sudut π2 < θ < π atau sudut θ tumpul.

Gambar 2.9: Sudut yang terbentuk oleh dua garis berbeda

Hubungan antara dua garis lurus adalah salah satu dari kondisi berikut

• sejajar

• berimpit

• tegak lurus

Misal diberikan dua garis a1 x + b1 y + c1 = 0 dan garis a2 x + b2 y + c2 = 0. Jika

Geometri Analitik 12 Nanda Arista Rizki, [Link].


a1 b1 c1
a2
= b2
6= c2
, maka dua garis tersebut adalah sejajar, karena

a1 b1 a1 a2
= ⇒ =
a2 b2 b1 b2
a1 −a2
⇒− =
b1 b2
⇒ m1 = m2
m1 − m2
⇒ tan θ = = 0 ⇒ θ = 0.
1 + m1 m2

Dengan kata lain, jika dua buah garis sejajar, maka gradiennya sama (m1 = m2 ).
Selanjutnya akan dibuktikan arah sebaliknya, dengan memisalkan aa21 = bb12 = λ 6= cc12 ,
dan titik (x0 , y0 ) terletak pada garis a1 x + b1 y + c1 = 0, maka a1 x0 + b1 y0 = −c.
Sehingga

a1 b1 y 0 1 c1
a2 x 0 + b 2 y 0 = x0 + = (a1 x0 + b1 y0 ) = − 6= −c2 ,
λ λ λ λ

dan a2 x0 +b2 y0 6= −c2 , yang berarti (x0 , y0 ) tidak terletak pada garis a2 x+b2 y +c2 =
0. Karena tidak ada a1 x + b1 y + c1 = 0 dan a2 x + b2 y + c2 = 0 saling sejajar.

Kondisi selanjutnya adalah untuk garis yang berimpit. Misal diberikan dua
garis a1 x + b1 y + c1 = 0 dan garis a2 x + b2 y + c2 = 0. Jika aa21 = bb21 = cc21 , maka dua
garis tersebut berimpit. Misalkan λ = cc21 , maka a1 = a2 λ, b1 = b2 λ, dan c1 = c2 λ.
Jika titik (x0 , y0 ) terletak pada garis a1 x + b1 y + c1 = 0, maka

a1 x0 + b1 y0 + c1 = 0 ⇒ a2 λx0 + b2 λy0 + c2 λ = 0
⇒ λ(a2 x0 + b2 y0 + c2 ) = 0
⇒ a2 x0 + b2 y0 + c2 = 0.

yang berarti titik (x0 , y0 ) terletak pada garis a2 x + b2 y + c2 = 0. Dalam hal ini,
semua titik yang terletak pada garis a1 x + b1 y + c1 = 0 juga terletak pada garis
a2 x+b2 y +c2 = 0. Oleh karena itu, dalam kondisi ini, kedua garis tersebut dikatakan
berimpit.

Selanjutnya adalah kondisi tegak lurus dari dua buah garis. Misal diketahui
dua buah garis lurus, yaitu garis a1 x + b1 y + c1 = 0 dan garis a2 x + b2 y + c2 = 0 akan
saling tegak lurus jika a1 a2 + b1 b2 = 0 atau aa21 = − bb21 . Hubungan antar gradiennya

Geometri Analitik 13 Nanda Arista Rizki, [Link].


adalah −m1 = 1/m2 atau m2 = −1/m1 atau m1 m2 = −1. Hal ini dapat dibuktikan
dengan memisalkan θ adalah sudut antara dua buah garis lurus dan m1 , m2 adalah
m1 −m2
gradien-gradiennya, maka tan θ = 1+m 1 m2
. Diketahui dua buah garis yang saling
tegak lurus memiliki sudut θ = π2 , maka lim − tan(x) = ∞. Sehingga
x→( π2 )

m1 − m2
= ∞ ⇒ 1 + m1 m2 = 0
1 + m1 m2
⇒ m1 m2 = −1
⇒ m1 = −1/m2
−a1 b2
⇒ =
b1 a2
⇒ a1 a2 + b1 b2 = 0.

Suatu titik dapat ditentukan jaraknya ke sebuah garis lurus. Sebelumnya,


perhatikan bahwa garis ax + by + c1 = 0 dan ax + by + c2 = 0 memiliki kemiringan
atau gradien yang sama, yaitu m = − ab ketika b 6= 0. Jika b = 0, maka kedua garis
yang terbentuk tersebut adalah garis vertikal. Dalam hal ini, kedua garis tersebut
sejajar. Sebaliknya jika hasil kali dari gradien garis pertama dan gradien garis ke
dua adalah m1 · m2 = −1, maka kedua garis tersebut tegak lurus.

Selanjutnya, misal diberikan sebuah garis l1 ≡ ax + by + c = 0 dan sebuah


titik (x1 , y1 ), maka persamaan garis yang melalui titik (x1 , y1 ) dan sejajar dengan
garis l1 adalah

ax + by − (ax1 + by1 ) = 0.

Perhatikan bahwa garis ax + by + c1 = 0 dan bx − ay + c2 = 0 adalah saling tegak


lurus. Lebih lanjut, persamaan garis lurus yang melalui (x1 , y1 ) dan tegak lurus
dengan ax + by + c = 0 adalah

bx − ay + (bx1 − ay1 ) = 0.

Misal garis yang tegak lurus dengan l1 dan melalui titik P (x1 , y1 ) adalah garis l2 ≡
bx − ay + (bx1 − ay1 ) = 0. Jika garis l1 dan garis l2 berpotongan di titik Q, maka

Geometri Analitik 14 Nanda Arista Rizki, [Link].


koordinat titik Q adalah

ac − b2 x1 + aby1 bc + abx1 − a2 y1
 
Q − ,− .
a2 + b 2 a2 + b 2

Perhatikan bahwa panjang segmen garis P Q adalah jarak titik P ke garis l1 . Lalu
dengan menggunakan Persamaan 2.2 untuk menghitung jarak titik P ke garis l1 ,
diperoleh
s 2  2
ac − b2 x1 + aby1 bc + abx1 − a2 y1
PQ = x1 + + y1 +
a2 + b 2 a2 + b 2
s 2  2 2
a2 x1 + ac + +aby1 b y1 + bc + abx1
= +
a2 + b 2 a2 + b 2
s 2  2
a(ax1 + by1 + c) b(ax1 + by1 + c)
= +
a2 + b2 a2 + b 2
s  2
2 2
ax1 + by1 + c
= (a + b )
a2 + b2
r
(ax1 + by1 + c)2
=
a2 + b 2
|ax1 + by1 + c|
= √ . (2.10)
a2 + b 2

2.2 Bidang

Suatu bidang di R3 dinyatakan dalam bentuk

Ax + By + Cz = D,

dengan A2 + B 2 + C 2 6= 0. Bidang ini dapat disketsakan dengan menentukan titik


potong bidang dengan sumbu x, sumbu y, dan sumbu z. Sebagai contoh, bidang
3x + 4y + 2z = 12 seperti pada Gambar 2.10 melalui titik (4, 0, 0), (0, 3, 0), dan
(0, 0, 6).

Geometri Analitik 15 Nanda Arista Rizki, [Link].


Gambar 2.10: Sketsa bidang 3x + 4y + 2z = 12

2.3 Latihan

1. Tentukan jarak antara titik X(−13, −9) dan Y (20, 16)!

2. Misal diketahui titik-titik A(1, −3), B(−3, 2), dan C(−4, −1). Tentukan pan-
jang masing-masing segmen garis lurus AB, BC, dan AC!

3. Jika titik E(−6, −3) F (1, −3), G(1, 2), dan H(h1 , h2 ) membentuk sebuah ba-
ngun datar dengan kelilingnya adalah 24 satuan. Tentukan koordinat titik
H!

4. Tentukan koordinat titik Q, yang terletak pada AB dengan A(−5, 1) dan


B(3, −5), sedemikian sehingga AP : P B = 3 : 5.

5. Diketahui dua titik E(4, 7) dan G(8, 1). Titik F terletak pada segmen garis
EG sedemikian hingga |EF | : |F G| = 1 : 3. Tentukanlah absis dan ordinat
dari titik F !

6. Jika titik A(2, −1) terletak pada segmen garis M N sedemikian sehingga M A :
AN = 2 : 1 dan diketahui titik M (8, 1), maka tentukanlah titik N !

7. Diketahui titik-titik sudut A(0, 1), B(2, 5), dan C(−1, 4). Buktikan bahwa
segitiga tersebut merupakan segitiga sama kaki!

8. Jika segmen garis lurus memiliki dua titik ujung yaitu P (−5, −6) dan Q(10, 1),
maka buktikan bahwa titik R(4, −2) terletak pada segmen garis tersebut!

Geometri Analitik 16 Nanda Arista Rizki, [Link].


9. Diketahui segmen garis AB dengan menghubungkan titik ujung A(1, −2) dan
titik ujung B(−3, 4). Jika titik P dan Q berada dalam segmen garis tersebut,
dimana titik P membagi AB dalam rasio 1 : 2 dan titik Q membagi AB dalam
rasio 2 : 1. Maka tentukanlah koordinat titik P dan titik Q!

10. Tentukan persamaan garis yang melalui titik (0,5) dan (0,0)!

11. Tentukan persamaan garis yang melalui titik (-3,2) dan (2,3)!

12. Tentukan titik potong garis x + 2y = 3 dengan sumbu x!

13. Tentukan titik potong garis x + 2y = 3 dengan sumbu y!

14. Tentukan nilai λ jika garis x + 2y = 3 memotong segmen garis yang menghu-
bungkan titik A(−1, 0) dan titik B(3, 4)!

15. Tentukan titik potong garis x + 2y = 3 dengan garis x − y = −1!

16. Reduksi Persamaan 3x − 4y − 15 = 0 ke dalam bentuk persamaan normal, lalu


sketsalah grafiknya!

17. Reduksi Persamaan y = 43 x ke dalam bentuk persamaan normal, lalu sketsalah


grafiknya!

18. Tentukan bentuk normal dari garis jika diketahui jarak terpendeknya dari titik
asal adalah p dengan sudut α sebagai berikut.

a) α = 45◦ , p = 4.
b) α = π2 , p = 3.
c) α = 180◦ , p = 4.

d) α = 2
, p = 4.

19. Tentukan jarak titik (1, 4) ke garis 3x5y + 2 = 0!

20. Tentukan jarak titik (5, 7) terhadap garis yang melalui titik (−4, −6) dan (8, 3)!

21. Sketsalah grafik 2x + 3y = 6 dalam R3 !

Geometri Analitik 17 Nanda Arista Rizki, [Link].


BAB 3

Lingkaran

Persamaan lingkaran yang memiliki titik pusat (α, β) dan radius r adalah

(x − α)2 + (y − β)2 = r2
x2 + y 2 − 2αx − 2βy + α2 + β 2 − r2 = 0.

Jika lingkaran tersebut memiliki titik pusat (0, 0) maka persamaan lingkarannya
adalah x2 + y 2 = r2 . Persamaan lingkaran juga dapat memiliki bentuk

x2 + y 2 + 2ax + 2by + c = 0,

yang memiliki titik pusat (−a, −b) dan radius r = a2 + b2 − c. Ketika nilai r = 0,
maka lingkarannya hanya berupa titik.

Misalkan lingkaran dengan radius r = 3 dan titik pusatnya terletak pada garis
y = x − 1. Jika lingkaran tersebut melalui titik (7, 3), maka ada dua persamaan
lingkaran yang terbentuk. Hal ini dapat buktikan dengan memisalkan titik pusatnya
adalah (a, b). Karena titik (a, b) terletak pada garis y = x − 1, maka b = a − 1.

18
Karena lingkaran melalui titik (7, 3), maka
p
r=(a − 7)2 + (b − 3)2
p
⇒ 3 = (a − 7)2 + (a − 1 − 3)2
⇒ 9 = (a − 7)2 + (a − 4)2
⇒ (a − 7)(a − 4) = 0.

Untuk a = 7 diperoleh b = 6, dan untuk a = 4 diperoleh b = 3. Oleh karena itu,


persamaan lingkarannya adalah

(x − 7)2 + (y − 6)2 = 9 ≡ x2 + y 2 − 14x − 12y + 76 = 0, atau


(x − 4)2 + (y − 3)2 = 9 ≡ x2 + y 2 − 8x − 6y + 16 = 0.

Bentuk diametrik
Misalkan A(x1 , y1 ) dan B(x2 , y2 ) adalah titik-titik ujung dari diameter suatu ling-
karan, dan titik P (x, y) terletak di sebarang lingkaran seperti pada Gambar 3.1.
y−y1
Dalam hal ini, gradien dari segmen garis AP dan BP masing-masing adalah x−x 1
y−y2 ◦
dan x−x2 . Karena sudut ∠AP B = 90 , maka

y − y1 y − y2
· = −1
x − x1 x − x2
(x − x1 )(x − x2 ) + (y − y1 )(y − y2 ) = 0.

Sebagai contoh, akan dicari persamaan lingkaran yang memiliki diameter dengan
titik ujungnya adalah A(6, 5) dan B(0, −3). Lalu misalkan C adalah titik pusat
dari lingkaran tersebut, maka C(3, 1) adalah titik tengah dari segmen garis AB.
Kemudian radius r = |AC| dapat diperoleh dengan cara menghitung jarak antara
titik A dan titik C, sehingga |AC| = 5. Oleh karena itu, persamaan lingkarannya
adalah

(x − 3)2 + (y − 1)2 = 5
x2 + y 2 − 6x − 2y − 15 = 0
(x − 6)(x − 0) + (y − 5)(y + 3) = 0.

Geometri Analitik 19 Nanda Arista Rizki, [Link].


Gambar 3.1: Ilustrasi bentuk diametrik

Tiga titik yang tak segaris


Misalkan suatu lingkaran memiliki persamaan x2 + y 2 + 2ax + by + c = 0. Persamaan
tersebut memiliki tiga parameter yang salig bebas yaitu a, b, dan c. Sehingga
persamaan lingkaran yang melalui tiga titik tak segaris A(x1 , y1 ), B(x2 , y2 ), dan
C(x3 , y3 ) dapat diperoleh dengan cara berikut. Jika tiga titik A(x1 , y1 ), B(x2 , y2 ),
dan C(x3 , y3 ) terletak pada lingkaran, maka memenuhi

x21 + y12 + 2ax1 + by1 + c = 0


x22 + y22 + 2ax2 + by2 + c = 0
x23 + y32 + 2ax3 + by3 + c = 0.

Oleh karena itu, persamaan lingkarannya dapat diselesaikan dengan cara menentu-
kan

x2 + y 2 x y 1

2
x1 + y12 x1

y1 1
= 0.
x2 + y 2 x y2 1
2 2 2
2 2

x3 + y 3 x3 y3 1

Posisi titik terhadap lingkaran


Posisi titik terhadap lingkaran dapat ditentukan berdasarkan perbandingan radius
dan jarak titik tersebut terhadap titik pusat. Ada tiga kasus dalam posisi titik ini,
yaitu titik terletak dalam lingkaran, titik terletak pada lingkaran, dan titik terletak
di luar lingkaran. Berdasarkan posisi ini, maka dapat ditentukan jarak minimum
dan maksimum suatu titik tersebut dari lingkaran.

Geometri Analitik 20 Nanda Arista Rizki, [Link].


Kondisi pertama yaitu suatu titik terletak dalam lingkaran. Kondisi ini dipe-
nuhi jika jarak suatu titik dengan titik pusat kurang dari radius lingkaran. Misalkan
suatu titik P terletak dalam lingkaran yang berpusat di titik C dan memiliki radius
r, seperti pada Gambar 3.2. Jika panjang AB adalah diameter dari lingkaran, maka
jarak minimum titik P dari lingkaran adalah

|P A| = |CA| − |CP | = r − |CP |,

sedangkan jarak maksimumnya dari lingkaran adalah

|P B| = |CB| + |CP | = r + |CP |.

Gambar 3.2: Ilustrasi titik dalam lingkaran

Jika jarak suatu titik P dengan titik pusat sama radius lingkaran, maka titik
tersebut terletak pada lingkaran. Titik P berada pada lingkaran yang beradius r
seperti pada Gambar 3.3, maka jarak minimum dan maksimumnya masing-masing
adalah 0 dan P A = 2r.

Gambar 3.3: Ilustrasi titik pada lingkaran

Geometri Analitik 21 Nanda Arista Rizki, [Link].


Jika jarak suatu titik P dengan titik pusat lebih dari radius lingkaran, maka
titik tersebut terletak di luar lingkaran. Perhatikan Gambar 3.4. Jarak minimum
titik P dari lingkaran adalah

|P A| = |CP | − |CA| = |CP | − r,

sedangkan jarak maksimum titik P dari lingkaran adalah

|P B| = |CP | + |CB| = r + |CP |.

Gambar 3.4: Ilustrasi titik di luar lingkaran

Posisi garis terhadap lingkaran


Posisi garis L ≡ y − mx − c = 0 terhadap lingkaran dapat dibedakan menjadi
tiga, yaitu memotong lingkaran, menyinggung lingkaran, tidak memotong lingkaran,
atau bahkan melalui titik pusat. Misalkan lingkaran tersebut berpusat di (α, β) dan
memiliki radius. Jika suatu garis memotong lingkaran di dua titik yaitu A dan B,
maka

|β − mα − c|
√ < r.
1 + m2

Dengan menggunakan bentuk normal dari garis, maka titik tengah segmen garis AB
dapat ditentukan dengan menyelesaikan solusi dari

x−α y−β −(mα + c − β)


= = .
m −1 1 + m2

Kasus kedua adalah ketika garis L ≡ y − mx − c = 0 menyinggung lingkaran.

Geometri Analitik 22 Nanda Arista Rizki, [Link].


Hal ini terjadi jika

|β − mα − c|
√ = r.
1 + m2

Titik temu antara garis dan lingkaran dapat ditentukan dengan menyelesaikan solusi
dari

x−α y−β −(mα + c − β)


= = .
m −1 1 + m2

Kasus selanjutnya adalah suatu garis L ≡ y−mx−c = 0 tidak menyentuh lingkaran,


yaitu ketika

|β − mα − c|
√ > r.
1 + m2

Kasus terakhir adalah suatu garis L ≡ y − mx − c = 0 melalui titik pusat, yang


hanya terjadi jika

|β − mα − c|
√ = 0.
1 + m2

Kondisi garis singgung


Suatu garis y = mx + c menyinggung lingkaran x2 + y 2 = r2 jika dan hanya jika c2 =
2 2
r2 (1 + m2 ). Titik yang dilalui oleh garis dan lingkaran tersebut adalah − mrc , rc .
Selanjutnya dimisalkan, garis yang akan menyinggung lingkaran x2 + y 2 = r2 adalah
garis ax+by +c = 0. Maka garis ax+by +c = 0 menyinggung lingkaran x2 +y 2 = r2
jika dan hanya jika c2 = r2 (a2 + b2 ). Dalam hal ini, titik temu antara garis dan
2 2
lingkaran tersebut adalah − arc , − brc . Dalam kasus lingkaran yang tidak berpusat
di titik (0, 0), dapat melakukan pergeseran dengan vektor yang bersesuaian dengan
arah dari titik (0, 0) ke titik pusat.

Selanjutnya adalah persamaan garis singgung pada lingkaran yang melalui satu
titik. Jika persamaan lingkarannya adalah x2 + y 2 = r2 dan melalui titik (x1 , y1 ),
maka garis singgungnya adalah garis

x1 x + y 1 y = r 2 .

Jika persamaan lingkarannya adalah x2 + y 2 + ax + by + c = 0 dan melalui titik

Geometri Analitik 23 Nanda Arista Rizki, [Link].


(x1 , y1 ), maka garis singgungnya adalah garis

1 1
x1 x + y1 y + a(x1 + x) + b(y1 + y) + c = 0
2 2

Selanjutnya adalah persamaan garis singgung pada lingkaran yang memiliki


gradien tertentu. Jika persamaan lingkarannya adalah x2 + y 2 = r2 , maka garis
singgungnya yang bergradien m adalah

y = mx ± r m2 + 1.

Lalu jika persamaan lingkarannya adalah x2 + y 2 + ax + by + c = 0, maka garis


singgungnya yang bergradien m adalah

(y − k) = m(x − h) ± r m2 + 1,
q 2 2
dengan h = − 12 a, k= − 21 b, dan r = − 12 a + − 12 b − c.

Kuasa lingkaran
Kuasa lingkaran dibagi menjadi tiga yaitu kuasa titik terhadap lingkaran, garis
kuasa, dan titik kuasa. Kuasa titik merupakan kedudukan suatu titik terhadap
lingkaran. Garis kuasa menyatakan kedudukan antara dua lingkaran. Titik kuasa
merupakan suatu titik yang menyatakan kedudukan antar lingkaran (lebih dari dua
lingkaran).

Misal diberikan suatu lingkaran L yang berpusat di titik M . Lalu diletakkan


titik P yang terletak di luar lingkaran L. Dari titik P dibentuk segmen garis yang
memotong lingkaran di titik A1 dan B1 seperti pada Gambar 3.5. Suatu kuasa
titik P terhadap lingkaran L didefinisikan sebagai perkalian panjang P A1 dan P B1 ,
ditulis

K(P ) = |P A1 | · |P B1 |.

Misal C adalah titik singgung garis yang melalui P . Perhatikan segitiga 4P B1 C

Geometri Analitik 24 Nanda Arista Rizki, [Link].


dan segitiga 4P CA1 , bahwa

∠B1 P C = ∠CP A1

dan

1
∠P A1 C = ∠P CB1 = ∠AM C.
2

Karena segitiga M P A1 C dan M P CB1 mempunyai dua pasang sudut yang beru-
kuran sama, maka kedua segitiga tersebut adalah sebangun. Akibatnya terdapat
hubungan perbandingan

|P A1 | |P C|
=
|P C| |P B1 |

atau

|P A1 | · |P B1 | = P C 2 .

Sehingga diperoleh

K(P ) = P C 2 .

Perhatikan bahwa |P C| merupakan panjang garis singgung dari titik P ke titik


singgung di lingkaran. Dengan kata lain, kuasa titik P terhadap lingkaran L adalah
kuadrat panjang garis singgung lingkaran dari titik P ke titik singgungnya.

Gambar 3.5: Ilustrasi titik di luar lingkaran

Misal melalui titik P ditarik lagi garis-garis yang memotong lingkaran selain

Geometri Analitik 25 Nanda Arista Rizki, [Link].


di titik A1 dan B1 . Misal titik-titik potongnya adalah titik-titik Ai dan Bi , untuk
i = 2, 3, 4. Maka berlaku

K(P ) = P C 2 = |P A1 | · |P B1 | = |P A2 | · |P B2 | = |P A3 | · |P B3 | = |P A4 | · |P B4 |.

Misal lingkaran L berjari-jari r. Jika segmen garis yang melalui titik P dan titik
pusat M , juga melalui dua titik Ak dan Bk , dengan k ∈ {1, 2, . . . , n}, maka

K(P ) = |P Ak | · |P Bk | = (|P M | − r)(|P M | + r) = |P M |2 − r2 .

Dalam hal ini, nilai |P M |2 − r2 juga didefinisikan sebagai kuasa titik P terhadap
lingkaran L.

Selanjutnya, dimisalkan titik P berada pada posisi (x1 , y1 ). Jika persamaan


lingkaran L adalah L ≡ x2 + y 2 + ax + by + c = 0 dengan pusat M − 21 a, − 12 b dan


kuadrat jai-jarinya adalah r2 = 41 a2 + 14 b2 − c, maka kuasa titik P (x1 , y1 ) terhadap


lingkaran L adalah
 2  2
1 1
K(P ) = |P M | − r = x1 + a + y1 + b − r2
2 2
2 2
= x21 + y12 + ax1 + by1 + c. (3.1)

Sehingga, kuasa titik P (x1 , y1 ) terhadap lingkaran L ≡ x2 + y 2 + ax + by + c = 0


juga dapat diperoleh dengan cara mensubstitusi variabel x dan y pada persamaan
lingkaran dengan nilai x1 dan y1 .

Berdasarkan Persamaan 3.1, jika titik P berasa di luar lingkaran L, maka kuasa
titik P terhadap lingkaran tersebut bernilai positif. Hal ini dikarenakan panjang
garis singgung dari titik P ke titik singgungnya adalah bilangan positif. Jika titik
P berada tepat pada lingkaran, maka kuasa titik P terhadap lingkaran tersebut
adalah nol. Namun jika titik P berada di dalam lingkaran L, maka kuasa titik
P terhadap lingkaran bernilai negatif. Dalam hal ini, panjang garis singgungnya
bernilai imajiner dan sesuai dengan kenyataan bahwa secara geometri sebuah titik
di dalam lingkaran tidak bisa dikonstruksi garis singgungnya.

Misal diberikan dua buah lingkaran. Perhatikan bahwa ada suatu titik yang
memiliki kuasa sama terhadap dua lingkaran tersebut. Himpunan titik-titik yang

Geometri Analitik 26 Nanda Arista Rizki, [Link].


memiliki kuasa yang sama terhadap dua lingkaran tertentu berupa garis lurus yang
disebut garis kuasa. Misalkan persamaan kedua lingkaran tersebut adalah

L 1 ≡ x 2 + y 2 + a1 x + b 1 y + c 1 = 0
L2 ≡ x2 + y 2 + a2 x + b2 y + c2 = 0.

Jika titik P (x1 , y1 ) memiliki kuasa yang sama terhadap lingakran L1 dan L2 , maka

K(P ) = K(P )
x21 + y12 + a1 x1 + b1 y1 + c1 = x21 + y12 + a2 x1 + b2 y1 + c2
(a1 − a2 )x1 + (b1 − b2 )y1 + c1 − c2 = 0.

Hal ini akan berlaku pada setiap titik yang kuasanya terhadap kedua lingkaran itu
adalah sama. Dengan demikian, garis kuasa yang merupakan tempat kedudukan
titik-titik yang memiliki kuasa yang sama terhadap lingkaran L1 dan L2 adalah
sebagai berikut

l ≡ L1 − L2
≡ (a1 − a2 )x1 + (b1 − b2 )y1 + c1 − c2 = 0.

a1 − a2
Perhatikan bahwa garis kuasa memiliki gradien m1 = − . Titik pusat
b1 − b2
lingkaran L1 dan L2 masing-masing adalah M1 − 12 a1 , − 12 b1 dan M2 − 12 a2 , − 12 b2 .
 

Gradien garis yang menghubungkan antara titik pusat L1 dan titik pusat L2 adalah
b1 − b2
m2 = . Karena m1 · m2 = −1, maka garis kuasa dua buah lingkaran akan
a1 − a2
tegak lurus dengan garis penghubung titik-titik pusat kedua lingkaran tersebut,
seperti pada Gambar 3.6.

Selanjutnya, misal diberikan tiga buah garis yang titik-titik pusatnya tidak
berada pada satu garis lurus (konsentris), yaitu L1 , L2 , dan L3 seperti pada Gambar
3.7. Perhatikan bahwa ada satu titik yang memiliki kuasa yang sama terhadap
ketiga lingkaran tersebut. Ketiga lingkaran tersebut mempunyai tiga garis kuasa
yang saling berpotongan di satu titik. Titik tersebut disebut titik kuasa.

Geometri Analitik 27 Nanda Arista Rizki, [Link].


Gambar 3.6: Ilustrasi garis kuasa dari dua lingkaran

Gambar 3.7: Ilustrasi titik kuasa dari tiga lingkaran

Misalkan ingin menentukan titik kuasa dari lingkaran

L1 ≡ x2 + y 2 + 3x + 5y − 7 = 0
L2 ≡ x2 + y 2 − 2x + 4y − 6 = 0
L3 ≡ x2 + y 2 + 4x − 2y − 2 = 0.

Maka garis kuasa lingkaran L1 dan L2 adalah

L1 − L2 ⇒ 5x + y − 1 = 0.

dan garis kuasa lingkaran L1 dan L3 adalah

L1 − L3 ⇒ x − 7y + 5 = 0.

Geometri Analitik 28 Nanda Arista Rizki, [Link].


1
Diperoleh solusi penyelesaiannya yaitu x = 18 dan y = 13 18
. Dengan demikian,
1 13

koordinat titik kuasa ketiga lingkaran tersebut adalah 18 , 18 .

Dua lingkaran yang berpotongan


Sudut antara dua buah lingkaran didefinisikan sebagai sudut yang dibentuk oleh
garis-garis singgung pada kedua lingkaran itu di titik potongnya. Dua lingkaran
dikatakan saling memotong tegak lurus jika sudut antara garis-garis singgung di titik
potongnya adalah 90◦ . Perhatikan Gambar 3.8. Misalkan dua lingkaran tersebut
adalah

L 1 ≡ x 2 + y 2 + a1 x + b 1 y + c 1 = 0
L2 ≡ x2 + y 2 + a2 x + b2 y + c2 = 0.

Kedua lingkaran itu akan berpotongan tegak lurus jika memenuhi

2a1 a2 + 2b1 b2 = c1 + c2 .

Perhatikan Gambar 3.9 bahwa r1 tegak lurus dengan r2 , sehingga 4M1 M2 P ada-
lah segitiga siku-siku. Dalam hal ini, M1 − 21 a1 , − 21 b1 , M2 − 21 a2 , − 21 b2 , r1 =
 
q q
1 2 1 2 1 2
a
4 1
+ b
4 1
− c1 , dan r2 = a + 14 b22 − c2 . Sehingga berlaku
4 2

(M1 M2 )2 = r12 + r22


(b2 − b1 )2 + (a2 − a1 )2 = a21 + b21 − c1 + a22 + b22 − c2
2a1 a2 + 2b1 b2 = c1 + c2 .

Gambar 3.8: Ilustrasi titik potong dari dua lingkaran

Geometri Analitik 29 Nanda Arista Rizki, [Link].


Gambar 3.9: Ilustrasi dua lingkaran berpotongan tegak lurus

Gambar 3.10: Ilustrasi lingkaran membagi dua sama besar

Sebuah lingkaran juga dapat memotong lingkaran lain sedemikian sehingga


membagi dua sama besar lingkaran tersebut. Perhatikan Gambar 3.10. Jika ling-
karan L2 membagi dua sama besar lingkaran L1 , maka dalam 4M1 P M2 berlaku

(M1 M2 )2 = r22 − r12 .

3.1 Latihan

1. Tentukan persamaan lingkaran yang berpusat di titik (−2, 3) dan memiliki


radius r = 5!

2. Tentukan titik pusat dan radius jika persamaan lingkarannya adalah 3x2 +
3y 2 − 8x − 10y + 3 = 0!

3. Buktikan bahwa titik-titik (1, 0), (2, −7), (8, 1), dan (9, −6) terletak pada

Geometri Analitik 30 Nanda Arista Rizki, [Link].


lingkaran!

4. Jika suatu persegi dibentuk oleh garis x = 2, x = 3, y = 1, dan y = 2.


Tentukan persamaan lingkaran yang diameternya adalah diagonal dari persegi
tersebut!

5. Jika (4, 1) adalah titik ujung diameter dari persamaan lingkaran x2 + y 2 − 2x +


6y − 15 = 0, tentukan titik ujung diameter lainnya!

6. Tentukan persamaan lingkaran yang melalui titik (1, 1), (2, −1), dan (3, 2)!

7. Tentukan posisi titik A(1, 2) dan titik B(6, 0) terhadap lingkaran dengan per-
samaan x2 + y 2 − 4x + 2y − 11 = 0!

8. Diberikan titik-titik P1 (2, 3), P2 (1, 0), dan P3 (6, −1) serta sebuah lingkaran
dengan persamaan S ≡ x2 + y 2 − 10x + 24y + 144 = 0. Tentukan jarak
maksimum dan minimum antara:

a) titik P1 dan lingkaran S


b) titik P2 dan lingkaran S
c) titik P3 dan lingkaran S.

9. Tentukan persamaan garis singgung pada lingkaran x2 + y 2 = 4 yang melalui


titik (2, 0)!

10. Tentukan kedudukan titik (1, 1) terhadap lingkaran x2 + y 2 = 1!

11. Tentukan garis kuasa dari lingkaran L1 ≡ (x1)2 + (y4)2 = 16 dan L2 = x2 +


y 2 + 2x6y15 = 0!

12. Tentukan garis kuasa dari lingkaran (x − 2)2 + y 2 = 4 dan x2 + y 2 = 1! Apakah


garis kuasanya memotong kedua lingkaran?

13. Tentukan koordinat dari titik kuasa lingkaran-lingkaran berikut:

L1 ≡ x2 + y 2 + x + y − 14 = 0
L2 ≡ x2 + y 2 = 13
L3 ≡ x2 + y 2 + 3x − 2y − 26 = 0.

Geometri Analitik 31 Nanda Arista Rizki, [Link].


14. Tentukan persamaan lingkaran yang memotong tegak lurus lingkaran L ≡
x2 + y 2 − 2x + 5y − 5 = 0, melalui titik (6, 1), dan pusatnya terletak pada garis
g ≡ 9x + 4y = 47!

Geometri Analitik 32 Nanda Arista Rizki, [Link].


BAB 4

Parabola

4.1 Latihan

1.

33
BAB 5

Elips

5.1 Latihan

1.

34
BAB 6

Hiperbola

6.1 Latihan

1.

35
BAB 7

Persamaan Parametrik

7.1 Latihan

1.

36
Daftar Pustaka

[1] Mishra, Sanjay. (2015). Fundamentals of Mathematics: Coordinate Geometry,


2nd ed. Delhi: Pearson.

[2] Silverman, Richard A. (2012). Modern Calculus and Analytic Geometry. New
York: MacMillan Company.

37

Anda mungkin juga menyukai