RESISTOR
A. Pengertian Resistor
Resistor adalah perangkat komponen elektronika yang dapat di
gunakan untuk membatasi aliran arus listrik. Sudah di pastikan hampir
semua rangkaian elektronika menggunakan resistor. Itu lah mengapa
resistor merupakan komponen yang lebih banyak di gunakan dari pada
komponen yang lainnya. Cara kerja resistor berdasarkan sifat resistansi suatu
bahan yang dapat menghantarkan listrik.
Resistansi atau penghantar listrik adalah sifat yang membatasi aliran
arus. Semua bahan yang terbuat dari metal dapat menghantarkan listrik,
bahan bahan ini dapat mengendalikan aliran arus sesuai dengan sifat resivitas
yang di miliki dari masing masing bahan. Unsur yang terdapat di dalam bahan
dapat menghantarkan listrik yang di tentukan oleh struktur atomik
pembentuknya.
Sifat yang menentukan resivitas yaitu kemampuan untuk melawan
laju aliran arus. Sifat lain yang di miliki dari pengertian resistor adalah suatu
bahan yang di kenai panas di atas 0 derajat, maka resistansi akan berubah. Hal
ini dapat di amati dalam elektronika yaitu bila terjadi suatu kesalahan yang
menyangkut kelebihan panas dalam suatu komponen.
Resistor terbuat dari bahan isolator yang memiliki nilai tertentu
tergantung dari nilai hambatan yang terdapat dalam komponen. Di mulai dari
beberapa Ohm sampai dengan nilai Jutaan Ohm (mega ohm). Resistor yang
memiliki sifat resistif dapat di kembalikan seperti sebelumnya, namun apabila
panas yang terdapat dalam komponen berlebihan hal ini akan mengakibatkan
rusaknya komponen secara permanen.
Bentuk fisik resistor paling banyak di bandingkan komponen lainnya.
Yang paling umum di jumpai di pasaran adalah bentuk bulatan panjang
dengan beberapa lingkaran pada badan resistor. Lingkaran dalam komponen
tersebut menunjukan nilai hambatan dari resistor. Di dalam lingkaran terdapat
berbagai kode warna dari resistor.
Salah satu kelemahan dari resistor adalah noise (drau). Noise akan
bertambah seiring dengan bertambahnya umur resistor yang mempunyai
kecendrungan mengakibatkan penyimpanan toleransi harga yang masih di
perbolehkan untuk beberapa rangkaian. Dengan berkembangnya teknologi,
saat ini bentuk resistor sudah ada yang lebih kecil, di antaranya menggunakan
teknik doping seperti halnya pada pembuatan komponen semikonduktor.
B. Fungsi Resistor
Berikut ini beberapa fungsi resistor :
1. Resistor berfungsi sebagai pembagi arus
2. Resistor berfungsi Sebagai pembatas / pengatur arus
3. Resistor berfungsi Sebagai penurun tegangan
4. Resistor berfungsi Sebagai pembagi tegangan
5. Resistor berfungsi Sebagai penghambat aliran arus listrik,dan lain-lain.
C. Jenis Resistor
Resistor berdasarkan nilainya dapat dibagi dalam 3 jenis yaitu :
1. Fixed Resistor : Yaitu resistor yang nilai hambatannya tetap.
2. Variable : Yaitu resistor yang nilai hambatannya dapat diubah-ubah.
Resistor
3. Resistor Non : Yaitu resistor yang nilai hambatannya tidak linier karena
Linier pengaruh faktor lingkungan misalnya suhu dan cahaya.
1. Resistor Tetap (Fixed)
Secara fisik bentuk resistor tetap adalah sebagai berikut :
Beberapa hal yang perlu diperhatikan :
1. Makin besar bentuk fisik resistor, makin besar pula daya resistor
2. tersebut.
Semakin besar nilai daya resistor makin tinggi suhu yang bisa
3. diterima resistor tersebut.
Resistor bahan gulungan kawat pasti lebih besar bentuk dan nilai
daya-nya dibandingkan resistor dari bahan carbon.
2. Resistor Variabel
1. Trimpot : Yaitu variabel resistor yang nilai hambatannya dapat
diubah dengan mengunakan obeng.
2. Potensio : Yaitu variabel resistor yang nilai hambatannya dapat
diubah langsung mengunakan tangan (tanpa alat bantu)
dengan cara memutar poros engkol atau mengeser
kenop untuk potensio geser.
Contoh bentuk fisik dari variable resistor jenis Trimpot :
Contoh bentuk fisik dari variable resistor jenis Potensio :
3. Bentuk resistor non linier misalnya PTC, LDR dan NTC
PTC : Positive Temperatur Coefisien
adalah jenis resistor non linier yang nilai
hambatannya terpengaruh oleh perubahan suhu.
Makin tinggi suhu yang mempengaruhi makin
besar nilai hambatannya.
NTC : Negative Temperatur Coefisien
adalah jenis resistor non linier yang nilai
hambatannya terpengaruh oleh perubahan suhu.
Makin tinggi suhu yang mempengaruhi makin
kecil nilai hambatannya.
LDR : Light Dependent Resistor
adalah jenis resistor non linier yang nilai
hambatannya terpengaruh oleh perubahan
intensitas cahaya yang mengenainya. Makin
besar intensitas cahaya yang mengenainya
makin kecil nilai hambatannya.
Simbol dari fixed resistor adalah sebagai berikut :
Resistor Tetap
Standar AS dan Jepang Eropa
Simbol dari variable resistor adalah sebagai berikut :
Resistor Variabel
Standar AS dan Jepang Eropa
Simbol dari resistor non linier adalah sebagai berikut :
Resistor Non Linier
Jenis LDR NTC PTC
D. Satuan Resistor
Ohm (simbol: Ω adalah satuan SI untuk resistansi listrik, diambil dari
nama Georg Ohm. Satuan yang digunakan prefix :
1. Ohm = Ω
2. Kilo Ohm = KΩ
3. Mega Ohm = MΩ
KΩ = 1 000Ω
MΩ = 1 000 000Ω
E. Konstruksi
1. Komposisi karbon
Resistor komposisi karbon terdiri dari sebuah unsur resistif
berbentuk tabung dengan kawat atau tutup logam pada kedua ujungnya.
Badan resistor dilindungi dengan cat atau plastik. Resistor komposisi
karbon lawas mempunyai badan yang tidak terisolasi, kawat penghubung
dililitkan disekitar ujung unsur resistif dan kemudian disolder. Resistor
yang sudah jadi dicat dengan kode warna sesuai dengan nilai resistansinya.
Unsur resistif dibuat dari campuran serbuk karbon dan bahan
isolator (biasanya keramik). Resin digunakan untuk melekatkan campuran.
Resistansinya ditentukan oleh perbandingan dari serbuk karbon dengan
bahan isolator. Resistor komposisi karbon sering digunakan sebelum tahun
1970-an, tetapi sekarang tidak terlalu populer karena resistor jenis lain
mempunyai karakteristik yang lebih baik, seperti toleransi, kemandirian
terhadap tegangan (resistor komposisi karbon berubah resistansinya jika
dikenai tegangan lebih), dan kemandirian terhadap tekanan/regangan.
Selain itu, jika resistor menjadi lembab, panas solder dapat mengakibatkan
perubahan resistansi dan resistor jadi rusak.
Walaupun begitu, resistor ini sangat reliabel jika tidak pernah
diberikan tegangan lebih ataupun panas lebih.
Resistor ini masih diproduksi, tetapi relatif cukup mahal.
Resistansinya berkisar antara beberapa miliohm hingga 22 MOhm.
2. Film karbon
Selapis film karbon diendapkan pada selapis substrat isolator, dan
potongan memilin dibuat untuk membentuk jalur resistif panjang dan
sempit. Dengan mengubah lebar potongan jalur, ditambah dengan
resistivitas karbon (antara 9 hingga 40 µΩ-cm) dapat memberikan
resistansi yang lebar[1]. Resistor film karbon memberikan rating daya
antara 1/6 W hingga 5 W pada 70 °C. Resistansi tersedia antara 1 ohm
hingga 10 MOhm. Resistor film karbon dapat bekerja pada suhu di antara -
55 °C hingga 155 °C. Ini mempunyai tegangan kerja maksimum 200
hingga 600 v[2].
3. Film logam
Unsur resistif utama dari resistor foil adalah sebuah foil logam
paduan khusus setebal beberapa mikrometer.
Resistor foil merupakan resistor dengan presisi dan stabilitas
terbaik. Salah satu parameter penting yang memengaruhi stabilitas adalah
koefisien temperatur dari resistansi (TCR). TCR dari resistor foil sangat
rendah. Resistor foil ultra presisi mempunyai TCR sebesar 0.14ppm/°C,
toleransi ±0.005%, stabilitas jangka panjang 25ppm/tahun, 50ppm/3 tahun,
stabilitas beban 0.03%/2000 jam, EMF kalor 0.1μvolt/°C, desah -42dB,
koefisien tegangan 0.1ppm/V, induktansi 0.08μH, kapasitansi 0.5pF[3].
F. Penandaan Resistor
Resistor aksial biasanya menggunakan pola pita warna untuk
menunjukkan resistansi. Resistor pasang-permukaan ditandas secara numerik
jika cukup besar untuk dapat ditandai, biasanya resistor ukuran kecil yang
sekarang digunakan terlalu kecil untuk dapat ditandai. Kemasan biasanya
cokelat muda, cokelat, biru, atau hijau, walaupun begitu warna lain juga
mungkin, seperti merah tua atau abu-abu.
Resistor awal abad ke-20 biasanya tidak diisolasi, dan dicelupkan ke
cat untuk menutupi seluruh badan untuk pengkodean warna. Warna kedua
diberikan pada salah satu ujung, dan sebuah titik (atau pita) warna di tengah
memberikan digit ketiga. Aturannya adalah "badan, ujung, titik" memberikan
urutan dua digit resistansi dan pengali desimal. Toleransi dasarnya adalah
±20%. Resistor dengan toleransi yang lebih rapat menggunakan warna perak
(±10%) atau emas (±5%) pada ujung lainnya.
1. Identifikasi empat pita
Identifikasi empat pita adalah skema kode warna yang paling
sering digunakan. Ini terdiri dari empat pita warna yang dicetak
mengelilingi badan resistor. Dua pita pertama merupakan informasi dua
digit harga resistansi, pita ketiga merupakan faktor pengali (jumlah nol
yang ditambahkan setelah dua digit resistansi) dan pita keempat
merupakan toleransi harga resistansi. Kadang-kadang terdapat pita kelima
yang menunjukkan koefisien suhu, tetapi ini harus dibedakan dengan
sistem lima warna sejati yang menggunakan tiga digit resistansi.
Sebagai contoh, hijau-biru-kuning-merah adalah 56 x 104Ω = 560
kΩ ± 2%. Deskripsi yang lebih mudah adalah: pita pertama, hijau,
mempunyai harga 5 dan pita kedua, biru, mempunyai harga 6, dan
keduanya dihitung sebagai 56. Pita ketiga,kuning, mempunyai harga 104,
yang menambahkan empat nol di belakang 56, sedangkan pita keempat,
merah, merupakan kode untuk toleransi ± 2%, memberikan nilai 560.000Ω
pada keakuratan ± 2%.
Contoh lainnya dengan 4 cincin warna :
I = Kuning = 4;
II = Ungu = 7;
III = Merah = 00;
IV = Perak = 10%
nilai resistornya adalah 4700 Ω 10 % atau 4K7 Ω 10 %
Pita ketiga Pita keempat Pita kelima
Warna Pita pertama Pita kedua
(pengali) (toleransi) (koefisien suhu)
Hitam 0 0 × 100
Cokelat 1 1 ×101 ± 1% (F) 100 ppm
Merah 2 2 × 102 ± 2% (G) 50 ppm
Jingga (oranye) 3 3 × 103 15 ppm
4
Kuning 4 4 × 10 25 ppm
Hijau 5 5 × 105 ± 0.5% (D)
Biru 6 6 × 106 ± 0.25% (C)
7
Ungu 7 7 × 10 ± 0.1% (B)
8
Abu-abu 8 8 × 10 ± 0.05% (A)
Putih 9 9 × 109
Emas × 10-1 ± 5% (J)
-2
Perak × 10 ± 10% (K)
Kosong ± 20% (M)
2. Identifikasi lima pita
Identifikasi lima pita digunakan pada resistor presisi (toleransi 1%,
0.5%, 0.25%, 0.1%), untuk memberikan harga resistansi ketiga. Tiga pita
pertama menunjukkan harga resistansi, pita keempat adalah pengali, dan
yang kelima adalah toleransi. Resistor lima pita dengan pita keempat
berwarna emas atau perak kadang-kadang diabaikan, biasanya pada
resistor lawas atau penggunaan khusus. Pita keempat adalah toleransi dan
yang kelima adalah koefisien suhu.
Contoh resistor dengan 5 cincin warna :
I = Merah = 2;
II = Merah = 2;
III = Hitam = 0;
IV = Merah = 00;
V = Coklat = 1%
nilai resistornya adalah 22000 Ω 1% atau 22K Ω 1%
Arti kode warna pada resistor 5 gelang adalah:
Gelang 1 = Angka pertama
Gelang 2 = Angka kedua
Gelang 3 = Angka ketiga
Gelang 4 = Faktor pengali
Gelang 5 = Toleransi
3. Resistor pasang-permukaan
Gambar ini menunjukan empat
resistor pasang permukaan (komponen
pada kiri atas adalah kondensator)
termasuk dua resistor nol ohm. Resistor
nol ohm sering digunakan daripada
lompatan kawat sehingga dapat dipasang
dengan mesin pemasang resistor.
Resistor pasang-permukaan
dicetak dengan harga numerik dengan kode yang mirip dengan
kondensator kecil. Resistor toleransi standar ditandai dengan kode tiga
digit, dua pertama menunjukkan dua angka pertama resistansi dan angka
ketiga menunjukkan pengali (jumlah nol). Contoh:
"334" = 33 × 10.000 ohm = 330 KOhm
"222" = 22 × 100 ohm = 2,2 KOhm
"473" = 47 × 1,000 ohm = 47 KOhm
"105" = 10 × 100,000 ohm = 1 MOhm
Resistansi kurang dari 100 ohm ditulis: 100, 220, 470. Contoh:
"100" = 10 × 1 ohm = 10 ohm
Kode Toleransi "220" = 22 × 1 ohm = 22 ohm
Teknik Teknik Kadang-kadang harga-harga tersebut ditulis
Toleransi
Industri MIL "10" atau "22" untuk mencegah kebingungan.
±5% 5 J
Resistansi kurang dari 10 ohm
±20% 2 M menggunakan 'R' untuk menunjukkan letak titik
±10% 1 K desimal. Contoh:
±2% - G
"4R7" = 4.7 ohm
±1% - F
"0R22" = 0.22 ohm
±0.5% - D "0R01" = 0.01 ohm
±0.25% - C
±0.1% - B Resistor presisi ditandai dengan kode empat
digit. Dimana tiga digit pertama menunjukkan
harga resistansi dan digit keempat adalah pengali. Contoh:
"1001" = 100 × 10 ohm = 1 kohm
"4992" = 499 × 100 ohm = 49,9 kohm
"1000" = 100 × 1 ohm = 100 ohm
"000" dan "0000" kadang-kadang muncul bebagai harga untuk resistor nol
ohm
Resistor pasang-permukaan saat ini biasanya terlalu kecil untuk
ditandai.
Penandaan tipe industri
Format: XX YYYZ[4]
X: kode tipe
Y: nilai resistansi
Z: toleransi
Rating Daya pada 70 °C
Kode Tipe Rating Daya (Watt) Teknik MIL-R-11 Teknik MIL-R-39008
BB ⅛ RC05 RCR05
CB ¼ RC07 RCR07
EB ½ RC20 RCR20
GB 1 RC32 RCR32
HB 2 RC42 RCR42
GM 3 - -
HM 4 - -
Rentang suhu operasional membedakan komponen kelas komersil,
kelas industri dan kelas militer.
Kelas komersil: 0 °C hingga 70 °C
Kelas industri: −40 °C hingga 85 °C (seringkali −25 °C hingga 85 °C)
Kelas militer: −55 °C hingga 125 °C (seringkali -65 °C hingga 275 °C)
Kelas standar: -5 °C hingga 60 °C
INDUKTOR
A. Pengertian Induktor
Induktor
Beberapa jenis induktor harga rendah.
Simbol
Tipe Pasif
Pembuatan pertama Michael Faraday(1831)
Sebuah induktor atau reaktor adalah sebuah komponen
elektronika pasif (kebanyakan berbentuk torus) yang dapat menyimpan
energi pada medan magnetyang ditimbulkan oleh arus listrik yang
melintasinya. Kemampuan induktor untuk menyimpan energi magnet
ditentukan oleh induktansinya, dalam satuan Henry. Biasanya sebuah
induktor adalah sebuah kawat penghantar yang dibentuk
menjadikumparan, lilitan membantu membuat medan magnet yang kuat di
dalam kumparan dikarenakan hukum induksi Faraday. Induktor adalah
salah satu komponen elektronik dasar yang digunakan dalam rangkaian
yang arus dan tegangannya berubah-ubah dikarenakan kemampuan
induktor untuk memproses arus bolak-balik.
Sebuah induktor ideal memiliki induktansi, tetapi
tanpa resistansi atau kapasitansi, dan tidak memboroskan daya. Sebuah
induktor pada kenyataanya merupakan gabungan dari induktansi, beberapa
resistansi karena resistivitas kawat, dan beberapa kapasitansi. Pada suatu
frekuensi, induktor dapat menjadi sirkuit resonansi karena kapasitas
parasitnya. Selain memboroskan daya pada resistansi kawat, induktor
berinti magnet juga memboroskan daya di dalam inti karena efek
histeresis, dan pada arus tinggi mungkin mengalami nonlinearitas karena
penjenuhan.
B. Fungsi Induktor
1. Penyimpan arus listrik dalam bentuk medan magnet
2. Menahan arus bolak-balik/ac
3. Meneruskan/meloloskan arus searah/dc
4. Sebagai penapis (filter)
5. Sebagai penalaan (tuning)
C. Kegunaan Induktor
Pemroses sinyal pada rangkaian analog
Mengholangkan noise (dengung)
Mencegah interferensi frekwensi radio
Komponen utama pembuatan Transformator
Sebagai filter pada rangkaian power supply
Banyak perangkat dan komponen elektronika yang dibangun mengunakan
kumparan seperti speaker, relay, buzzer, trafo, dan kpmponen lain yang
berhubungan dengan frekwensi dan medan magnet.
Berdasarkan kegunaannya Induktor bekerja pada:
1. Frekuensi tinggi pada spul antena dan osilator
2. Frekuensi menengah pada spul MF
3. Frekuensi rendah pada trafo input, trafo output, spul speaker, trafo tenaga,
spul relay dan spul penyaring
D. Konstruksi Induktor
Sebuah induktor biasanya dikonstruksi sebagai
sebuah lilitan dari bahan penghantar, biasanya kawat
tembaga, digulung pada inti magnet berupa udara atau
bahan feromagnetik. Bahan inti yang mempunyai
permeabilitas magnet yang lebih tinggi dari udara
meningkatkan medan magnet dan menjaganya tetap
dekat pada induktor, sehingga meningkatkan induktansi
induktor. Induktor frekuensi rendah dibuat dengan
menggunakan baja laminasi untuk menekan arus eddy.
Ferit lunak biasanya digunakan sebagai inti pada induktor frekuensi tingi,
dikarenakan ferit tidak menyebabkan kerugian daya pada frekuensi tinggi
seperti pada inti besi. Ini dikarenakan ferit mempunyai lengkung histeresis
yang sempit dan resistivitasnya yang tinggi mencegah arus eddy. Induktor
dibuat dengan berbagai bentuk. Sebagian besar dikonstruksi dengan
menggulung kawat tembaga email disekitar bahan inti dengan kaki-kali kawat
terlukts keluar. Beberapa jenis menutup penuh gulungan kawat di dalam
material inti, dinamakan induktor terselubungi. Beberapa induktor
mempunyai inti yang dapat diubah letaknya, yang memungkinkan
pengubahan induktansi. Induktor yang digunakan untuk menahan frekuensi
sangat tinggi biasanya dibuat dengan melilitkan tabung atau manik-manik
ferit pada kabel transmisi.
Induktor kecil dapat dicetak langsung pada papan rangkaian cetak
dengan membuat jalur tembaga berbentuk spiral. Beberapa induktor dapat
dibentuk pada rangkaian terintegrasi menhan menggunakan inti planar. Tetapi
bentuknya yang kecil membatasi induktansi. Dan girator dapat menjadi
pilihan alternatif.
E. Jenis-jenis Lilitan Induktor
1. Lilitan ferit sarang madu
Lilitan sarang madu dililit dengan cara bersilangan untuk
mengurangi efek kapasitansi terdistribusi. Ini sering digunakan pada
rangkaian tala pada penerima radio dalam jangkah gelombang menengah
dan gelombang panjang. Karena konstruksinya, induktansi tinggi dapat
dicapai dengan bentuk yang kecil.
2. Lilitan inti toroid
Sebuah lilitan sederhana yang dililit dengan bentuk silinder
menciptakan medan magnet eksternal dengan kutub utara-selatan. Sebuah
lilitan toroid dapat dibuat dari lilitan silinder dengan menghubungkannya
menjadi berbentuk donat, sehingga menyatukan kutub utara dan selatan.
Pada lilitan toroid, medan magnet ditahan pada lilitan. Ini menyebabkan
lebih sedikit radiasi magnetik dari lilitan, dan kekebalan dari medan
magnet eksternal.
F. Rumus induktansi
Besaran (SI, kecuali
Konstruksi Rumus
disebutkan khusus)
L = induktansi
μ0 = permeabilitas
vakum
K = koefisien
Lilitan silinder
Nagaoka
N = jumlah lilitan
r = jari-jari lilitan
l = panjang lilitan
L = induktansi
Kawat lurus l = panjang kawat
d = diameter kawat
L = induktansi (µH)
r = jari-jari lilitan
Lilitan silinder
pendek berinti (in)
udara l = panjang lilitan
(in)
N = jumlah lilitan
L = induktansi (µH)
r = rerata jari-jari
lilitan (in)
Lilitan berlapis-
lapis berinti udara l = panjang lilitan
(in)
N = jumlah lilitan
d = tebal lilitan (in)
L = induktansi
r = rerata jari-jari
Lilitan spiral datar
berinti udara spiral
N = jumlah lilitan
d = tebal lilitan
L = induktansi
μ0 = permeabilitas
vakum
μr = permeabilitas
Inti toroid relatif bahan inti
N = jumlah lilitan
r = jari-jari
gulungan
D = diameter
keseluruhan
KAPASITOR
A. Pengertian Kapasitor
Kondensator atau sering disebut sebagai kapasitor adalah suatu alat
yang dapat menyimpan energi di dalam medan listrik, dengan cara
mengumpulkan ketidakseimbangan internal dari muatan listrik. Kondensator
memiliki satuan yang disebut Farad dari nama Michael Faraday. Kondensator
juga dikenal sebagai "kapasitor", namun kata "kondensator" masih dipakai
hingga saat ini. Pertama disebut oleh Alessandro Volta seorang
ilmuwan Italia pada tahun 1782 (dari bahasa Itali condensatore), berkenaan
dengan kemampuan alat untuk menyimpan suatu muatan listrik yang tinggi
dibanding komponen lainnya. Kebanyakan bahasa dan negara yang tidak
menggunakan bahasa Inggris masih mengacu pada perkataan bahasa Italia
"condensatore", bahasa
Peranciscondensateur, Indonesia dan Jerman Kondensator atau Spanyol Cond
ensador.
Kondensator diidentikkan mempunyai dua kaki dan dua kutub
yaitu positif dan negatif serta memiliki cairan elektrolit dan biasanya
berbentuk tabung.
Lambang kondensator (mempunyai kutub) pada skema elektronika.
Sedangkan jenis yang satunya lagi kebanyakan nilai kapasitasnya
lebih rendah, tidak mempunyai kutub positif atau negatif pada kakinya,
kebanyakan berbentuk bulat pipih berwarna coklat, merah, hijau dan lainnya
seperti tablet atau kancing baju.
Lambang kapasitor (tidak mempunyai kutub) pada skema elektronika.
Namun kebiasaan dan kondisi serta artikulasi bahasa setiap negara
tergantung pada masyarakat yang lebih sering menyebutkannya. Kini
kebiasaan orang tersebut hanya menyebutkan salah satu nama yang paling
dominan digunakan atau lebih sering didengar. Pada masa kini, kondensator
sering disebut kapasitor (capacitor) ataupun sebaliknya yang pada ilmu
elektronika disingkat dengan huruf (C).
Kapasitor dalam rangkaian elektronik
B. Fungsi Kapasitor
Fungsi kapasitor adalah sebagai berikut :
1. Untuk menyimpan energy listrik
2. Untuk menghindarkan loncatan bunga api listrik pada rangkaian yang
menggunakan kumparan, misalnya adaptor, power supply dan lampu TL
3. Untuk memilih gelombang pada pesawat penerima radio (tuning). Untuk
keperluan ini menggunakan kapasitor variabel
4. Untuk menyimpan muatan listrik untuk kemudian disalurkan lagi.
prinsipnya mirip tandon air-dimana dia harus di isi dulu kemudian air di
dalamnya dikeluarkan saat diperlukan. hal ini agak berbeda dg baterai
karena baterai menghasilkan listrik berdasar reaksi kimia didalamnya
sedangkan kapasitor hanya menyimpan muatan sebelumnya diisikan
kedalamnya. (siklus charge-discharge). penggunaannya sangat banyak
mulai lampu blitz. flipflop. penstabil tegangan. memori (ram) sensor dll.
C. Kapasistansi
Satuan dari kapasitansi kondensator adalah Farad (F). Namun Farad
adalah satuan yang terlalu besar, sehingga digunakan:
Pikofarad ( )=
Nanofarad ( )=
Microfarad ( )=
Kapasitansi dari kondensator dapat ditentukan dengan rumus:
: Kapasitansi
: permitivitas hampa
: permitivitas relatif
: luas pelat
:jarak antar pelat/tebal dielektrik
Adapun cara memperbesar kapasitansi kapasitor atau kondensator
dengan jalan:
Menyusunnya berlapis-lapis.
Memperluas permukaan variabel.
Memakai bahan dengan daya tembus besar.
Permitivitas Relatif Dielektrik
Dielektrik Permitivitas
Keramik rugi rendah 7
Keramik k tinggi 50.000
Mika perak 6
Kertas 4
Film plastik 2,8
Polikarbonat 2,4
Polistiren 3,3
Poliester 2,3
Polipropilen 8
Elektrolit aluminium 25
Permitivitas Relatif Dielektrik
Dielektrik Permitivitas
Elektrolit tantalum 35
D. Wujud dan Macam Kapasitor
Karakteristik kondensator
Frek Su
Teg Teg Res
uens du
ang ang Koef ista
i t
Jan Tole an an isien nsi Sta
panc ru
Tipe gka ransi AC DC suhu boc bili
ung gi
uan (%) lazi laz (ppm ora tas
m im /C) ( n(
(M
(V) (V) ) )
Hz)
10 nF
300 0,1 lumay
Kertas - 10 ± 10% 500 V 600 V 0,01 109
ppm/C MHz an
uF
Mika 5 pF - 100 10 0,000 1011 Baik
± 0,5% - 400 V
perak 10 nF ppm/C MHz 5 sekali
Kerami 5 pF - 30 10
± 10% 250 V 400 V 0,01 108 Baik
k 1 uF ppm/C MHz
50 pF
Polysty -150 10 0,000 1012 Baik
- 500 ± 1% 150 V 500 V
rene ppm/C MHz 5 sekali
nF
Polyest 100 pF 400 1011 Cuku
± 5% 400 V 400 V 1 MHz 0,001
er - 2 uF ppm/C p
Polypr 1 nF - ± 5% 600 V 900 V
170
1 MHz
0,000 1010 Cuku
opylen 100 uF ppm/C 5 p
Karakteristik kondensator
Frek Su
Teg Teg Res
uens du
ang ang Koef ista
i t
Jan Tole an an isien nsi Sta
panc ru
Tipe gka ransi AC DC suhu boc bili
ung gi
uan (%) lazi laz (ppm ora tas
m im /C) ( n(
(M
(V) (V) ) )
Hz)
Elektro
lit 1 uF - Terpol 1500 0,05 Cuku
± 50% 400 V 0,05 108
alumin 1 F arisasi ppm/C MHz p
ium
Elektro
1 uF -
lit Terpol 500 0,1
2000 ± 10% 60 V 0,005 108 Baik
tantalu arisasi ppm/C MHz
uF
m
E. Jenis-jenis Kapasitor
Yang membedakan jenis kapasitor satu dengan yang lain adalah
dielektrikumnya, yaitu bahan dasar yang digunakan untuk membuat kapasitor
tersebut. Antar lain :
1. Kapasitor elektrolit (Elco)
Kapasitor elektrolit pada umumnya dibuat dengan kapasitas yang
besar dan memiliki kehandalan yang tinggi serta awet dalam
pemakaiannya. Kapasitor jenis ini banyak dipergunakan dalam
rangkaian catu daya (power supply). Karakteristik utama adalah kapasitor
ini memiliki perbedaan polaritas pada kedua kakinya yaitu kutub positif
(+) dan kutub negatif (-), sehingga dalam pemasangannya juga harus
diperhatikan karena bila salah menempatkan kakinya terbalik antara positif
dengan negatif atau sebaliknya, maka kapasitor ini akan rusak dan bahkan
bisa meledak. Untuk membedakan polaritas kakinya biasanya terdapat
garis putus-putus atau strip pada bodi kapasitor, maka dapat dipastikan
bahwa kaki yang berada dibawah strip itu mempunyai polaritas negatif (-).
Besarnya nilai kapasitansi biasanya dituliskan dengan angka pada bodi
transistor tersebut.
2. Kapasitor tantalum
Merupakan jenis kapasitor elektrolit yang elektrodanya terbuat dari
material tantalum. Komponen ini memiliki polaritas, cara membedakannya
dengan mencari tanda + atau tanda lainya yang ada pada bodi kapasitor,
tanda ini menyatakan bahwa pin dibawahnya memiliki polaritas positif.
Diharapkan berhati – hati di dalam pemasangan komponen karena tidak
boleh terbalik. Karakteristik temperatur dan frekuensi lebih bagus daripada
kapasitor elektrolit yang terbuat dari bahan alumunium dan kebanyakan
digunakan untuk sistem yang menggunakan sinyal analog.
3. Kapasitor Keramik
Pada umumnya kapasitor keramik memiliki bentuk bermacam-
macam seperti bentuk tabung, pelat, segi empat, dan lain-lain. Dalam
pemakaiannya, kapasitor keramik cukup stabil dan sangat cocok dipakai
untuk rangkaian frekiuensi tinggi yaitu untuk melewatkan sinyal frekuensi
tinggi ke ground. Kapasitor jenis ini tidak memiliki polaritas, sehingga
dalam pemasangannya dapat dibolak-balik, dan umumnya hanya tersedia
dengan nilai kapasitansi yang sangat kecil. Namun yang perlu diingat
bahwa kapasitor ini mampu bekerja pada rate tegangan dari mulai yang
paling kecil sampai dengan batas 100 Volt. Nilai kapasitansinya biasanya
dituliskan dengan kode warna, namun ada kalanya menggunakan angga-
angka yang terdapat pada bodinya.
4. Multilayer Ceramic Capacitor
Bahan material untuk kapasitor ini sama dengan jenis kapasitor
keramik, bedanya terdapat pada jumlah lapisan yang menyusun
dielektriknya. Pada jenis ini dielektriknya disusun dengan banyak lapisan
atau biasanya disebut dengan layer dengan ketebalan 10 s/d 20 μm dan
pelat elektrodanya dibuat dari logam yang murni. Selain itu ukurannya
kecil dan memiliki karakteristik suhu yang lebih bagus daripada kapasitor
keramik. Biasanya jenis ini baik digunakan untuk melewatkan frekuensi
tinggi ke tanah.
5. Polyester Film Capacitor
Tipe ini tidak bisa digunakan untuk aplikasi yang menggunakan
frekuensi tinggi, karena konstruksinya yang sama seperti kapasitor
elektrolit yaitu seperti koil. Kapasitor ini baik untuk aplikasi pewaktu dan
filter yang menggunakan frekuensi beberapa ratus KHz. Komponen ini
mempunyai 2 warna untuk elektrodanya, yaitu: merah dan abu – abu.
Untuk yang merah elektrodanya terbuat dari tembaga sedangkan warna
abu – abu terbuat dari kertas alumunium.
6. Electric Double Capacitor (Super Capacitor)
Jenis kapasitor ini bahan dielektriknya sama dengan kapasitor
elektrolit. Tetapi bedanya adalah ukuran kapasitornya lebih besar
dibandingkan kapasitor elektrolit yang telah dijelaskan di atas. Biasanya
mempunyai satuan F. Gambar bentuk fisiknya dapat dilihat di samping,
pada gambar tersebut kapasitornya memiliki ukuran 0.47F. Kapasitor ini
biasanya digunakan untuk rangkaian power supply.
7. Trimmer Kapasitor
Kapasitor jenis ini menggunakan keramik atau plastik sebagai
bahan dielektriknya. Nilai dari kapasitor dapat diubah – ubah dengan cara
memutar sekrup yang berada diatasnya. Didalam pemutaran diharapkan
menggunakan obeng yang khusus, agar tidak menimbulkan efek
kapasitansi antara obeng dengan tangan.
8. Tuning Capacitor
Kapasitor ini dinegara Jepang disebut sebagai “Varicons”, biasanya
banyak sekali digunakan sebagai pemilih gelombang pada radio. Jenis
dielektriknya menggunakan udara. Nilai kapasitansinya dapat dirubah
dengan cara memutar gagang yang terdapat pada badan kapasitor kekanan
atau kekiri.
HUKUM KIRCHOFF
Hukum Kirchoff (1875)
Jika berbagai arus listrik bertepatan di suatu titik, maka jumlah aljabar dari
kekuatan arus-arus tersebut adalah 0 (nol) di titik pertepatan tadi.
Dalam suatu edaran arus listrik yang tertutup berlaku persamaan berikut:
"Jumlah aljabar dari hasilkali-hasilkali kekuatan arus dan tahanan disetiap
bagian (dari edaran tersebut) adalah sama dengan jumlah aljabar dari gaya-
gaya gerak listriknya".
Besar Arus listrik yang mengalir menuju titik percabangan sama dengan
jumlah arus listrik yang keluar dari titik percabangan
Di dalam rangkaian listrik (terdiri dari sumber tegangan dan
komponen-komponen), maka akan berlaku Hukum-hukum kirchhoff. Hukum
ini terdiri dari hukum kirchhoff tegangan (Kirchhoff voltage law atau KVL)
dan hukum Kirchhoff arus (Kirchhoff Current Law atau KCL).
1. Hukum Kirchhoff Tegangan
Hukum ini menyebutkan bahwa di dalam suatu lup tertutup maka
jumlah sumber tegangan serta tegangan jatuh adalah nol.
Gambar 1. Contoh suatu ikal tertutup dari rangkaian listrik
Seperti diperlihatkan dalam Gambar 1 di atas, rangkaian ini terdiri
dari sumber tegangan dan empat buah komponen. Jika sumber tegangan
dijumlah dengan tegangan jatuh pada keempat komponen, maka hasilnya
adalah nol, seperti ditunjukan oleh persamaan berikut.
2. Hukum Kirchhoff Arus
Hukum Kirchhoff arus menyebutkan bahwa dalam suatu simpul
percabangan, maka jumlah arus listrik yang menuju simpul percabangan
dan yang meninggalkan percabangan adalah nol.
Gambar 2. Percabangan arus listrik dalam suatu simpul
Gambar 2 adalah contoh percabangan arus listrik dalam suatu
simpul. Dalam Gambar 2, terdapat tiga komponen arus yang menuju
simpul dan tiga komponen arus yang meninggalkan simpul. Jika keenam
komponen arus ini dijumlahkan maka hasilnya adalah nol, seperti
diperlihatkan dalam persamaan berikut.
HUKUM OHM
Hukum Ohm (1825)
"Jika suatu arus listrik melalui suatu penghantar, maka kekuatan arus tersebut
adalah sebanding-laras dengan tegangan listrik yang terdapat di antara kedua
ujung penghantar tadi".
Hukum Ohm menyatakan bahwa besar arus yang mengalir pada suatu
konduktor pada suhu tetap sebanding dengan beda potensial antara kedua ujung-
ujung konduktor
, , dan sebagai komponen parameter dalam Hukum Ohm.
Hukum Ohm adalah suatu pernyataan bahwa besar arus listrik yang
mengalir melalui sebuahpenghantar selalu berbanding lurus dengan beda
potensial yang diterapkan kepadanya. Sebuah benda penghantar dikatakan
mematuhi hukum Ohm apabila nilai resistansinya tidak bergantung
terhadap besar dan polaritas beda potensial yang dikenakan kepadanya.
Walaupun pernyataan ini tidak selalu berlaku untuk semua jenis
penghantar, namun istilah "hukum" tetap digunakan dengan alasan sejarah.
Secara matematis hukum Ohm diekspresikan dengan persamaan:
Dimana :
adalah arus listrik yang mengalir pada suatu penghantar dalam
satuan Ampere.
adalah tegangan listrik yang terdapat pada kedua ujung
penghantar dalam satuan volt.
adalah nilai hambatan listrik (resistansi) yang terdapat pada
suatu penghantar dalam satuanohm.
Hukum ini dicetuskan oleh George Simon Ohm,
seorang fisikawan dari Jerman pada tahun 1825 dan dipublikasikan pada
sebuah paper yang berjudul The Galvanic Circuit Investigated
Mathematically pada tahun 1827.
Berikut ini contoh penerapan Hukum Ohm untuk menghidupkan lampu
LED.
1. Menghitung Resistor Seri
Pada rangkaian beberapa resistor yang disusun seri, maka dapat
diperoleh nilai resistor totalnya dengan menjumlah semua resistor yang
disusun seri tersebut. Hal ini mengacu pada pengertian bahwa nilai kuat arus
disemua titik pada rangkaian seri selalu sama.
2. Menghitung Resistor Paralel
Pada rangkaian beberapa resistor yang disusun secara paralel,
perhitungan nilai resistor totalnya mengacu pada pengertian bahwa besar
kuat arus yang masuk ke percabangan sama dengan besar kuat
arus yang keluar dari percabangan(I in = I out). Dengan mengacu pada
perhitungan Hukum Ohm maka dapat diperoleh rumus sebagai berikut.
3. Menghitung Kapasitor Seri
Pada rangkaian kapasitor yang disusun seri maka nilai kapasitor
totalnya diperoleh dengan perhitungan berikut.
4. Menghitung Kapasitor Paralel
Pada rangkaian beberapa kapasitor yang disusun secara paralel maka
nilai kapasitor totalnya adalah penjumlahan dari semua nilai kapasitor yang
disusun paralel tersebut.