Discovery Learning
Km Suardika Mei 05, 2012 Model Pembelajaran
Jerome Bruner menemukan suatu model belajar yang dikenal dengan nama belajar penemuan
(discovery learning) yaitu, siswa berperan lebih aktif dan berusaha sendiri memecahkan masalah dan
memperoleh pengetahuan tertentu.
Baca Juga
Skripsi Strategi Mind Mapping
Strategi Pembelajaran Konvensional
Perlunya Menggali Pengetahuan Awal (prior knowledge) Siswa dalam Pembelajaran
Menurut Dahar (1989), pengetahuan yang diperoleh dengan belajar penemuan mempunyai beberapa
kebaikan, yakni:
a. Pengetahuan itu bertahan atau lama dapat diingat atau lebih mudah diingat, bila dibandingkan
dengan pengetahuan yang dipelajari dengan cara-cara lain.
b. Hasil belajar penemuan mempunyai efek transfer yang lebih baik daripada hasil belajar lainnya.
c. Secara menyeluruh belajar penemuan meningkatkan penalaran siswa dan kemampuan untuk
berpikir secara bebas.
Menurut Jerome Bruner, belajar melibatkan 3 proses yang berlangsung hampir bersamaan, yakni:
a) Memperoleh informasi baru. Informasi baru merupakan penghalusan informasi sebelumnya yang
dimiliki seseorang atau berlawanan dengan informasi sebelumnya yang dimiliki seseorang.
b) Transformasi informasi. Transformasi informasi/pengetahuan menyangkut cara kita
memperlakukan pengetahuan, dimana informasi yang kita peroleh kemudian dianalisis dan diubah ke
dalam bentuk yang lebih konseptual agar dapat digunakan untuk hal-hal yang lebih luas.
c) Evaluasi. Evaluasi merupakan proses menguji relevansi dan ketepatan pengetahuan.
Bruner bekerja juga pada pengelompokkan atau penyediaan bentuk konsep sebagai suatu jawaban atas
bagaimana peserta didik memperoleh informasi dari lingkungan. Bruner mengembangkan teorinya
tentang perkembangan intelektual, yaitu:
1. enactive, dimana seorang peserta didik belajar tentang dunia melalui tindakannya pada objek,
siswa melakukan aktifitas-aktifitasnya dalam usahanya memahami lingkungan.
2. iconic, dimana belajar terjadi melalui penggunaan model dan gambar
3. symbolic yang mendeskripsikan kapasitas dalam berfikir abstrak, siswa mempunyai gagasan-
gagasan abstrak yang banyak dipengaruhi bahasa dan logika dan komunikasi dilkukan dengan
pertolongan sistem simbol. Semakin dewasa sistem simbol ini samakin dominan.
Menurut Bruner, teori intruksi hendaknya mencakup :
1. Pengalaman – pengalaman optimal bagi siswa untuk mau dan dapat belajar, yang ditinjau dari tiga
segi yaitu : (1) aktivasi, merupakan tingkat ketidaktentuan yang optimal, sehingga timbul rasa
keingintahuan yang menghendaki penyelidikan. (2) pemeliharaan, setelah penyelidikan teraktifkan, maka
timbul situasi untuk memelihara dengan membuat resiko sekecil mungkin. (3) pengarahan, arah
penyelidikan tergantung pada dua hal yang saling berkaitan yaitu tujuan dari tugas yang diberikan
sampai batas – batas tertentu harus diketahui, dan sampai seberapa jauh tujuan tersebut telah tercapai.
2. Penstrukturan pengetahuan untuk pemahaman optimal, yang ditnjau dari tiga segi cara yaitu : (1)
cara penyajian, meliputi cara enaktif, cara ikonik, cara simbolik. (2) cara ekonomi, dalam penyajian
pengetahuan dapat dihubungkan dengan sejumlah informasi yang tersimpan dalam pikiran, dan diproses
untuk mencapai pemahaman. Cara ekonomi lebih meningkat jika menggunakan gambar ataupun
diagram. (3) cara kuasa, menghubungkan hal – hal yang kelihatannya sangat terpisah – pisah.
3. Perincian urutan – urutan penyajian materi pelajaran secara optimal, dengan memperhatikan factor
– factor belajar, tingkat perkembangan anak, sifat materi pelajaran dan perbedaan individu.
4. Bentuk dan pemberian reinforsemen
1 TAHAP-TAHAP PENERAPAN BELAJAR PENEMUAN
a. Stimulus(pemberian perangsang/stimuli); kegiatan belajar dimulai dengan memberikan pertanyaan
yang merangsang berfikir siswa, menganjurkan dan mendorongnya untuk membaca buku dan aktivitas
belajar lain yang mengarah pada persiapan pemecahan masalah.
b. Problem Statement (mengidentifikasi masalah); memberikan kesempatan siswa untuk
mengidentifikasi sebanyak mungkin masalah yang relevan dengan bahan belajar kemudian memilih dan
merumuskan dalam bentuk hipotesa.
c. data Collection (pengumpulan data); memberikan kesempatan kepada para si belajar untuk
mengumpulkan informasi yang relevan sebanyak-banyaknya untuk membuktikan
benar/tidaknya,pernyataan.
d. Data Processing(pengolahan data); yakni mengolah data yang telah diperoleh siswa melalui kegiatan
wawancara, observasi dan lain-lain. Kemudian data tersebut ditafsirkan.
e. Verifikasi, mengadakan pemeriksaan secara cermat untuk membuktikan benar dan tidaknya hipotesis
yang diterapkan dan dihubungkan dengan hasil dan processing.
f. Generalisasi, mengadakan penarikan kesimpulan untuk dijadikan prinsip umum dan berlaku untuk
semua kejadian atau masalah yang sama dengan memperhatikan hasil verifikasi.
1.4
Referensi
Dahar, Ratna Wilis. 1989. Teori - teori [Link]. Erlangga
Pengetahuan awal siswa umumnya bersifat resisten, oleh karena itu pengetahuan awal siswa harus
benar-benar diperhatikan oleh guru sebelum pembelajaran dimulai. Pengetahuan awal siswa merupakan
gagasan-gagasan yang terbentuk dari pembelajaran informal dalam proses memahami pengalaman
sehari-hari. Sebagian besar dari gagasan-gagasan ini lebih bersifat sebagai pengetahuan sehari-hari
daripada sebagai pengetahuan ilmiah. Menurut Santyasa (2004), bahwa pengetahuan aktual memiliki
syarat-syarat: (1) telah ada sebelum pembelajaran, (2) terstrukturisasi atau tersimpan dalam skemata, (3)
sebagai pengetahuan deklaratif dan prosedural, (4) sebagian eksplisit dan sebagian implisit, (5)
mengandung pengetahuan isi dan pengetahuan metakognitif, (6) bersifat dinamis dan tersimpan sebagai
pengetahuan awal.
Santyasa (2005) menyatakan bahwa secara umum pengetahuan awal berpengaruh langsung dan tak
langsung terhadap proses pembelajaran. Secara langsung, pengetahuan awal dapat mempermudah
proses pembelajaran. Secara tidak langsung, pengetahuan awal dapat mengoptimalkan kejelasan materi-
materi pembelajaran dan meningkatkan efisiensi penggunaan waktu belajar dan pembelajaran. Selain
itu, pengetahuan awal mempengaruhi perasaan siswa dalam menilai informasi yang dipresentasikan
dalam sumber-sumber belajar dalam kelas. Model pembelajaran tidak dapat mencapai hasil yang
optimal bila kurang memperhatikan pengetahuan awal siswa. Belajar merupakan suatu proses aktif
dalam membentuk pengertian.
Pengetahuan awal yang dimiliki oleh siswa sering mengalami pemahaman konsep yang salah. Perubahan
pengetahuan awal menjadi konsepsi ilmiah yang diartikulasikan sebagai alternatif perolehan belajar
diisukan relatif sulit diwujudkan melalui pembelajaran konvensional (Brown dalam Santyasa, 2004).
Pengajaran yang tidak memperhatikan gagasan awal yang dimiliki siswa, akan membuat miskonsepsi-
miskonsepsi yang dimiliki oleh siswa menjadi lebih kompleks dan stabil.
Rujukan
Santyasa, I W. 2004. Pengaruh Model dan Seting Pembelajaran terhadap Remediasi Miskonsepsi,
Pemahaman konsep, dan Hasil Belajar Fisika pada Siswa SMU. Disertasi (tidak diterbitkan). Universitas
Negeri Malang.
Santyasa, I W. 2005. Model Pembelajaran Inovatif dan Implementasi Kurikulum Berbasis Kompetensi.
[Link] dalam Penataran guru-guru SMP, SMA, dan SMK se kabupaten Jembrana Juni-Juli
2005 di Jembrana.
Model Pembelajaran Predict-Observe-Explain (POE)
Km Suardika Januari 19, 2013 Model Pembelajaran
Menurut Liew (2004) bahwa pembelajaran dengan model POE dapat digunakan oleh guru untuk
memberikan pengertian yang mendalam pada aktivitas desain belajar dan strategi bahwa start belajar
berawal dari sudut pandang siswa bukan guru atau ahli sains. Berdasarkan penemuan dari penelitian
yang telah dilakukan memiliki implikasi untuk pengembangan kurikulum, strategi belajar, pengembangan
guru dan penilaian pemahaman siswa serta tingkat prestasi belajar siswa.
Baca Juga
Perlunya Menggali Pengetahuan Awal (prior knowledge) Siswa dalam Pembelajaran
Skripsi Strategi Mind Mapping
Strategi Pembelajaran Konvensional
Menurut White dan Gunstone (dalam Keeratichamroen, 2007) model pembelajaran Predict-Observe-
Explain (POE) merupakan suatu model yang efisien untuk menciptakan diskusi para siswa mengenai
konsep ilmu pengetahuan. Model pembelajaran ini melibatkan siswa dalam meramalkan suatu
fenomena, melakukan observasi melalui demonstrasi, dan akhirnya menjelaskan hasil demonstrasi dan
ramalan mereka sebelumnya. Tahapan pembelajaran POE terdiri atas tiga bagian, pertama predict,
kemudian observe, dan yang terakhir adalah explain. Menurut Wah Liew (2004) manfaat model
pembelajaran POE adalah sebagai berikut.
Model Pembelajaran POE dapat digunakan untuk menggali gagasan awal yang dimiliki oleh siswa
Membangkitkan diskusi baik antara siswa dengan siswa maupun antara siswa dengan guru.
Memberikan motivasi kepada siswa untuk menyelidiki konsep yang belum dipahami.
Membangkitkan rasa ingin tahu siswa terhadap suatu permasalahan.
Penilaian yang dilakukan dengan menggunakan model pembelajaran ini, terjadi selama proses
pembelajaran berlangsung, serta tugas yang disetorkan oleh siswa. Jadi setiap aktivitas siswa mendapat
penghargaan dari guru. Aktivitas guru dan siswa disajikan pada Tabel 1 berikut.
Tabel 1
Aktivitas Guru dan Siswa dalam Model Pembelajaran POE
Langkah Pembelajaran
Aktivitas Guru
Aktivitas Siswa
Tahap 1
Meramalkan (Predict)
Memberikan apersepsi terkait materi yang akan dibahas.
Memberikan hipotesis berdasarkan permasalahan yang diambil dari pengalaman siswa, atau buku
panduan yang memuat suatu fenomena terkait materi yang akan dibahas.
Tahap 2
Mengamati (Observe)
Sebagai fasilitator dan mediator apabila siswa mengalami kesulitan dalam melakukan pembuktian.
Mengobservasi dengan melakukan eksperimen atau demonstrasi berdasarkan permasalahan yang dikaji
dan mencatat hasil pengamatan untuk direfleksikan satu sama lain.
Tahap 3.
Menjelaskan (Explain)
Memfasilitasi jalannya diskusi apabila siswa mengalami kesulitan.
Mendiskusikan fenomena yang telah diamati secara konseptual-matematis, serta membandingkan hasil
observasi dengan hipotesis sebelumnya bersama kelompok masing-masing.
Mempresentasikan hasil observasi di kelas, serta kelompok lain memberikan tanggapan, sehingga
diperoleh kesimpulan dari permasalahan yang sedang dibahas.
(diadaptasi dari Wah Liew, 2004)
Rujukan.
Wah Liew, C. & Treagust, D. 2004. The Effectiveness Predict – Observe – Explain (POE) Technique in
Diagnosing Studen’s Understanding of Science and Identifying Their Level of Achievement. Download
Keeratichamroen, W. 2007. Using the Predict–Observe–Explain (POE) to Promote students’ learning of
tapioca bomb And chemical reactions
Model Pembelajaran Inquiry
Km Suardika April 05, 2013 Model Pembelajaran
Baca Juga
Perlunya Menggali Pengetahuan Awal (prior knowledge) Siswa dalam Pembelajaran
Skripsi Strategi Mind Mapping
Strategi Pembelajaran Konvensional
Model pembelajaran inquiry merupakan suatu proses pembelajaran yang ditempuh siswa untuk
memecahkan masalah melalui langkah perumusan masalah, pengajuan hipotesis, merencanakan
pengujian hipotesis, melakukan pengujian hipotesis melalui eksperimen dan demonstrasi, mencatat data
hasil eksperimen, mengolah data, menganalisis data, dan membuat kesimpulan. Pada model
pembelajaran inquiry membiarkan siswa secara mental dan fisik melalui langkah metode ilmiah,
sehingga terbentuknya sikap ilmiah pada siswa. Model ini memungkinkan siswa menggunakan dan
mengembangkan kemampuan berpikir kritisnya saat mereka mendiskusikan dan menganalisis bukti-
bukti, mengevaluasi ide dan dugaan, merefleksi validitas data dan proses pengumpulan data,
mempertimbangkan kesimpulan teman lain, untuk menentukan bagaimana cara terbaik mengemukakan
penemuan dan penjelasan mereka, dan menghubungkannya dengan pendapat orang lain atau
menyususun teori bagi model konseptual mereka (Dahar, 1986).
Menurut Wenning (2007) secara umum terdapat 5 level model inquiry mulai dari yang bertaraf rendah
sampai yang membutuhkan kemampuan intelektual yang tinggi, yaitu: (1) discovery learning, (2)
interactive demonstration, (3) inquiry lessons, (4) inquiry labs, (5) hypothetical inquiry.
Discovery learning. Pada level ini guru memberikan banyak bimbingan pada siswa ketika melakukan
observasi khusus serta membuat kesimpulan melalui petunjuk-petunjuk seperlunya. Petunjuk-petunjuk
itu umumnya merupakan pertanyaan-pertanyaan yang bersifat membimbing siswa. Inquiry jenis ini
digunakan terutama pada siswa-siswa yang belum berpengalaman belajar dengan model inquiry.
Interactive demonstration. Aktivitas demonstrasi dapat berfungsi sebagai pembangkit masalah untuk
mendorong siswa membangun rasa ingin tahunya yang besar dan memotivasi mereka untuk membuat
dugaan awal (hipotesis). Adanya suatu masalah yang relevan merupakan salah satu langkah proses sains.
Inquiry lessons. Pada level ini guru membimbing siswa dalam berpikir dan memfokuskan pertanyaan
(Wood dalam Wenning, 2007) yang akan membantu mereka dalam memahami hakikat sains. Guru
menyajikan pijakan, pemodelan, memberikan penjelasan seperlunya tentang penelitian ilmiah,
menjelaskan cara mengatasi kemungkinan hambatan-hambatan yang akan ditemukan dalam proses
pembelajaran. Aktivitas belajar siswa yang diases adalah kesesuaian pertanyaan pembelajaran yang
diajukan, ketepatan prosedur pembelajaran yang akan dilakukan serta kecermatan memprediksi masalah
hambatan dan upaya pemecahan yang diajukan.
Inquiry labs. Aktivitas ini membantu siswa belajar dan memahami proses dan keterampilan berpikir
layaknya ilmuan dan memahami karakteristik penelitian ilmiah. Siswa melakukan kontrol sendiri dalam
proses pembelajaran melalui menjawab pertanyaan-pertanyaan yang dikemas dalam lembar kerja siswa
(LKS). Indikator-indikator yang menjadi materi pertanyaan dalam LKS adalah: (a) mendorong keterlibatan
mental, (b) penggunaan keterampilan berpikir tingkat tinggi, (c) mendorong pemusatan perhatian siswa
untuk mengumpulkan dan menginterpretasi data, (d) menuntun siswa menemukan konsep, prinsip, dan
hukum-hukum baru melalui kreasi dan kontrol sendiri dalam eksperimen, (e) mendorong siswa
menerapkan prosedur ilmiah, (f) mendorong siswa berlatih membangun keterampilan proses ilmiah.
Level ini terbagi menjadi tiga masing-masing sesuai dengan tingkatan bimbingan guru yang semakin
berkurang, yaitu: Guided inquiry labs, Bounded inquiry labs, dan Free inquiry labs.
Hypothetical inquiry. Pada level ini, siswa mengidentifikasi sendiri permasalahan yang menjadi fokus
penelitian, membangun hipotesis, membuat prediksi dan merancang eksperimen atau observasi secara
mandiri, kemudian menarik kesimpulan menggunakan dasar pemikiran dan dasar empiris. Level inquiry
ini berbasis proyek yang menyangkut konsep-konsep sains kontekstual.
Rujukan
Dahar, R. W. 1986. Pendekatan inquiri dalam pendidikan IPA. Buku ajar. Jakarta: Erlangga.
Wenning, C J. 2007. Levels of inquiry: Hierarchies of pedagogical practices and inquiry processes. Journal
of physics teacher education online. Vol 4 (2). [Link] diakses tanggal 9 Agustus
2006.