0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
332 tayangan20 halaman

Desain RTH Perumahan Bumi Nyiur

Dokumen tersebut membahas perencanaan ruang terbuka hijau di kawasan perumahan. Beberapa poin penting yang diangkat antara lain: 1. Pentingnya perencanaan ruang terbuka hijau yang memenuhi standar 30% luas area dan memenuhi kebutuhan penghuni. 2. Jenis-jenis ruang terbuka hijau seperti taman, lapangan olahraga, dan jalur hijau beserta manfaatnya. 3. Klasifikasi ruang terbuka berdasarkan sk

Diunggah oleh

reina
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOC, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
332 tayangan20 halaman

Desain RTH Perumahan Bumi Nyiur

Dokumen tersebut membahas perencanaan ruang terbuka hijau di kawasan perumahan. Beberapa poin penting yang diangkat antara lain: 1. Pentingnya perencanaan ruang terbuka hijau yang memenuhi standar 30% luas area dan memenuhi kebutuhan penghuni. 2. Jenis-jenis ruang terbuka hijau seperti taman, lapangan olahraga, dan jalur hijau beserta manfaatnya. 3. Klasifikasi ruang terbuka berdasarkan sk

Diunggah oleh

reina
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOC, PDF, TXT atau baca online di Scribd

PERENCANAAN T APAK

“IDENTIFIKASI RUANG TERBUKA DI


KAWASAN PERUMAHAN BUMI NYIUR RW
02 BESUSU TENGAH”

REINA ANGGITA RAMADHANY


F231 16 049
PROGRAM STUDI PERENCANAAN WILAYAH DAN KOTA
JURUSAN ARSITEKTUR
FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS TADULAKO
2018
BAB 1
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Ruang terbuka hijau adalah lahan terbuka yang pada dasarnya tanpa bangunan,
berfungsi sosial, estetis, dan ekologis. Berkurangnya ruang terbuka hijau di suatu
kota, akan menyebabkan kondisi lingkungan kota cenderung menurun secara
ekologi, dimana hal ini ditandai dengan meningkatnya suhu udara, pencemaran
udara, dan penurunan kualitas air tanah. Semakin tingginya tingkat pertumbuhan
penduduk terutama akibat arus urbanisasi menyebabkan pengelolaan ruang kota
makin berat. Hal ini menjadi faktor yang paling mempengaruhi keseimbangan
lingkungan melalui fenomena perluasan dan pembukaan pemukiman baru, sebab
bertambahnya penduduk akan berbanding lurus dengan kebutuhan tempat tinggal.
Di sisi lain, keberadaan ruang terbuka hijau sangat penting untuk menunjang
kualitas lingkungan. Ketersediaan ruang terbuka hijau pada kawasan Perumahan
juga menjadi penting dalam rangka menjaga keseimbangan ekologis sehingga
keberadaan ruang terbuka hijau dan ruang publik dapat memenuhi kebutuhan
masyarakat penghuninya.
Salah satu upaya untuk memenuhi kebutuhan akan ruang terbuka hijau (RTH),
diperlukan pengembangan Ruang Terbuka Hijau (RTH) sebagai mana yang
diamanatkan dalam Undang-Undang No. 26 Tahun 2007 tentang penataan ruang,
bahwa perlu adanya penyediaan ruang terbuka hijau (RTH) sebesar 30% dari luas
keseluruhan wilayah. Berdasarkan masalah diatas maka perlu dilakukan penelitian
Identifikasi Ruang Terbuka Hijau dikawasan perumahan Bumi Nyiur, Kelurahan
Besusu Tengah, Kecamatan Palu Timur, Kota Palu.

1.2 Rumusan Masalah

1. Bagaimana kondisi eksisting ruang terbuka hijau di Perumahan Bumi Nyiur?


2. Bagaimana merencanakan ruang terbuka yang sesuai dengan standar dan
kebutuhan serta nyaman untuk dikunjungi oleh penghuni perumahan?

1.3 Tujuan Penulisan

1. Mengidentifikasi kualitas, permasalahan, dan kesesuian ruang terbuka hijau di


Perumahan Bumi Nyiur
2. Merencanakan ruang terbuka yang sesuai dengan pedoman dan kebutuhan
masyarakat.

BAB 2
KAJIAN LITERATUR

2.1 Pengertian Perumahan


Menurut Undang-undang No. 1 Tahun 2011 Tentang Perumahan dan
Kawasan Permukiman, perumahan adalah kumpulan rumah sebagai bagian dari
permukiman, baik perkotaan maupun perdesaan, yang dilengkapi dengan
prasarana, sarana, dan utilitas umum sebagai hasil upaya pemenuhan rumah
yang layak huni.
Perumahan dan kawasan permukiman adalah satu kesatuan sistem yang
terdiri atas pembinaan, penyelenggaraan perumahan, penyelenggaraan
kawasan permukiman, pemeliharaan dan perbaikan, pencegahan dan
peningkatan kualitas terhadap perumahan kumuh dan permukiman kumuh,
penyediaan tanah, pendanaan dan sistem pembiayaan, serta peran masyarakat.

2.2 Deskripsi Umum

Ruang terbuka merupakan komponen berwawasan lingkungan, yang


mempunyai arti sebagai suatu lansekap, hardscape, taman atau ruang rekreasi
dalam lingkup urban. Peran dan fungsi Ruang Terbuka Hijau (RTH) ditetapkan,
ruang terbuka hijau yang populasinya didominasi oleh penghijauan baik secara
alamiah atau budidaya tanaman, dalam pemanfataan dan fungsinya adalah
sebagai areal berlangsungnya fungsi ekologis dan penyangga kehidupan wilayah
perkotaan.

2.1.1 Pengertian Ruang Terbuka, Ruang Terbuka Hijau (RTH), Ruang Terbuka
Non Hijau (RTNH)

1. Ruang Terbuka adalah ruang yang secara fisik bersifat terbuka, dengan kata
lain ruang yang berada di luar ruang tertutup / bangunan. (UU No. 26 Tahun
2007)
2. Ruang Terbuka Hijau adalah ruang terbuka yang ditumbuhi tanaman.
Sehingga ruang terbuka yang tidak ditumbuhi tanaman tidak dapat
digolongkan sebagai RTH (UU No. 26 Tahun 2007)
3. Ruang Terbuka Non Hijau adalah ruang terbuka di bagian wilayah perkotaan
yang tidak termasuk dalam kategori RTH, berupa lahan yang diperkeras
maupun yang berupa badan air. (UU No. 26 Tahun 2007)

2.3 Manfaat Ruang Terbuka Hijau (RTH)


Berdasarkan Peraturan Menteri Pekerjaan Umum No. 5 Tahun 2008
tentang Pedoman Penyediaan dan Pemanfaatan Ruang Terbuka Hijau di
Kawasan Perkotaan, manfaat RTH dapat dibedakan menjadi dua bagian yaitu;
1. Manfaat langsung yaitu membentuk keindahan dan kenyamanan (teduh,
segar, sejuk) dan mendapatkan bahan-bahan untuk dijual (kayu, daun,
bunga, buah)
2. Manfaat tidak langsung yaitu pembersih udara yang efektif, pemeliharaan
akan kelangsungan persediaan air tanah, pelestarian fungsi lingkungan
beserta segala isi flora dan fauna yang ada.

2.4 Fungsi dan Manfaat Ruang Terbuka Non Hijau (RTNH)


A. Fungsi Intrinsik:
a. Fungsi Sosial Budaya: - Wadah bagi aktifitas sosial budaya masyarakat
- Wadah bagi ekspresi budaya lokal
- Ruang bagi komunikasi warga kota
- Ruang olah raga dan rekreasi
- Ruang untuk kegiatan Pendidikan, penelitian.
B. Fungsi Ekstirnsik:
a. Ekologis: sistem sirkulasi udara dan air secara alami dapat berlangsung
lancar (sebagai suatu ruang terbuka) serta penyerap air hujan sehingga
mampu ikut membantu mengatasi permasalahan banjir dan kekeringan.
b. Arsitektural dan Esterika: meningkatkan kenyamananan, memperindah
lingkungan kota dari skala mikro hingga makro, menstimulasi kreativitas
dan produktivitas warga kota, pembentuk faktor keindahan arsitektural,
pembentuk faktor keindahan arsitektural, menciptakan suasana serasi
dan seimbang anatara area terbangun dan tidak terbangun.
c. Ekonomis: memiliki nilai jual dari lahan yang tersedia, misalnya sarana
parkir, sarana olahraga, sarana bermain, dll.
d. Darurat: RTNH harus memiliki fungsi juga sebagai jalur evakuasi
penyelamatan pada saat bencana alam.
C. Manfaat secara tidak langsung: manfaat dalam jangka panjang antara lain,
mereduksi permasalahan dna konflik sosial, meningkatkan produktivitas
masyarakat pelestarian lingkungan, meningkatkan nilai ekonomis lahan di
sekitarnya, dll.

2.5 Jenis sarana


Penggolongan sarana ruang terbuka hijau di lingkungan perumahan
berdasarkan kapasitas pelayanannya terhadap sejumlah penduduk.
Keseluruhan jenis ruang terbuka hijau tersebut adalah :
a) setiap unit RT ≈ kawasan berpenduduk 250 jiwa dibutuhkan minimal 1 untuk
taman yang dapat memberikan kesegaran pada kota, baik udara segar
maupun cahaya matahari, sekaligus tempat bermain anak-anak;
b) setiap unit RW ≈ kawasan berpenduduk 2.500 jiwa diperlukan sekurang-
kurangnya satu daerah terbuka berupa taman, di samping daerah-daerah
terbuka yang telah ada pada tiap kelompok 250 penduduk sebaiknya, yang
berfungsi sebagai taman tempat main anak-anak dan lapangan olah raga
kegiatan olah raga;
c) setiap unit Kelurahan ≈ kawasan berpenduduk 30.000 jiwa diperlukan taman
dan lapangan olahraga untuk melayani kebutuhan kegiatan penduduk di
area terbuka, seperti pertandingan olah raga, upacara serta kegiatan
lainnya;
d) setiap unit Kecamatan ≈ kawasan berpenduduk 120.000 jiwa, harus memiliki
sekurangkurangnya 1 (satu) lapangan hijau terbuka yang berfungsi sebagai
tempat pertandingan olah raga (tenis lapangan, bola basket dan lain-lain),
upacara serta kegiatan lainnya yang membutuhkan tempat yang luas dan
terbuka;
e) setiap unit Kecamatan ≈ kawasan berpenduduk 120.000 jiwa, harus memiliki
sekurangkurangnya 1 (satu) ruang terbuka yang berfungsi sebagai
kuburan/pemakaman umum;
f) selain taman dan lapangan olah raga terbuka, harus disediakan jalur-jalur
hijau sebagai cadangan/sumber-sumber alam, sekaligus berfungsi sebagai
filter dari polusi yang dihasilkan oleh industri, dengan lokasi menyebar.
g) diperlukan penyediaan jalur hijau sebagai jalur pengaman lintasan kereta
api, dan jalur pengaman bagi penempatan utilitas kota, dengan lokasi
menyebar;
h) pada kasus tertentu, mengembangkan pemanfaatan bantaran sungai
sebagai ruang terbuka hijau atau ruang interaksi sosial (river walk) dan
olahraga.

2.6 Jenis dan Sifat Ruang Terbuka Hijau


Dalam Peraturan Menteri Pekerjaan Umum nomor: 05/PRT/M/2008
tentang Pedoman Penyediaan dan Pemanfaatan Ruang Terbuka Hijau di
Kawasan Perkotaan di jelaskan jenis dan sifat dari ruang terbuka hijau (RTH):
a) Secara fisik RTH dapat dibedakan menjadi RTH alami berupa habitat liar
alami, kawasan lindung dan taman-taman nasional serta RTH non alami atau
binaan seperti taman, lapangan olahraga, pemakaman atau jalur-jaur hijau
jalan.
b) Dilihat dari fungsi RTH dapat berfungsi ekologis, sosial budaya, estetika, dan
ekonomi.
c) Secara struktur ruang, RTH dapat mengikuti pola ekologis (mengelompok,
memanjang, tersebar), maupun pola planologis yang mengikuti hirarki dan
struktur ruang perkotaan.
d) Dari segi kepemilikan, RTH dibedakan ke dalam RTH publik dan RTH privat.
Berdasarkan ketentuan mengenai jenis-jenis RTHKP dijelaskan pada
Permendagri No. 1 Tahun 2007 Tentang Penataan Ruang Terbuka Hijau
Kawasan Perkotaan meliputi 23 jenis.

2.7 Klasifikasi Ruang Terbuka Hijau Berdasarkan Bobot dan Tingkat Kualitasnya
Peraturan Departemen Pekerjaan Umum Tahun 2008 tentang Pedoman
Penyediaan dan Pemanfaatan Ruang Terbuka Hijau di Kawasan Perkotaan
menjelaskan klasifikasi Ruang Terbuka Hijau terbagi menjadi berdasarkan bobot
dan tingkat kuaslitasnya. Berdasarkan bobot kealamiannya, bentuk RTH dapat
diklasifikasi menjadi:
a) Bentuk RTH alami (habitat liar/alami, kawasan lindung)
b) Bentuk RTH non alami atau RTH binaan (pertanian kota, pertamanan kota,
lapangan olah raga, pemakaman Berdasarkan sifat dan karakter ekologisnya
diklasifikasi menjadi: Bentuk RTH kawasan (areal), bentuk RTH jalur
(koridor).
Berdasarkan penggunaan lahan atau kawasan fungsionalnya diklasifikasi
menjadi:
a) RTH Kawasan Perdagangan
b) RTH Kawasan Perindustrian
c) RTH Kawasan Permukiman
d) RTH Kawasan Pertanian
e) RTH Kawasan-kawasan khusus seperti pemakaman, olah raga, alamiah.

2.8 Ruang Terbuka Hijau Lingkungan


Ruang Terbuka Hijau pada Taman Rukun Warga (RW) dapat disediakan
dalam bentuk taman yang ditujukan untuk melayani penduduk satu RW atau
2.500 penduduk, khususnya kegiatan remaja, kegiatan olahraga masyarakat,
serta menampung kegiatan masyarakat lainnya di lingkungan RW tersebut.
Standar luas taman ini adalah 0,5 m2 per penduduk RW, dengan luas minimal
1.250 m2. Idealnya lokasi taman berada pada radius 200 m sampai 300 m.
Luas area yang ditanami tanaman (ruang hijau) minimal seluas 70% - 80% dari
luas taman, sisanya dapat berupa pelataran yang diperkeras sebagai tempat
melakukan berbagai aktivitas. Pada taman ini selain ditanami dengan berbagai
tanaman sesuai keperluan, juga terdapat minimal 10 (sepuluh) pohon pelindung
dari jenis pohon kecil atau sedang.
2.9 Ruang Terbuka Non Hijau Skala Rukun Warga (Lapangan RW)
Ruang Terbuka Non Hijau Rukun Warga (RW) dapat disediakan dalam
bentuk taman yang ditujukan untuk melayani penduduk satu RW, khususnya
kegiatan remaja, kegiatan olahraga masyarakat, serta kegiatan masyarakat
lainnya di lingkungan RW tersebut. Luas taman ini minimal 0,5 m2 per penduduk
RW, dengan luas minimal 1.250 m2. Lokasi taman berada pada radius kurang
dari 1000 m dari rumah-rumah penduduk yang dilayaninya (SNI No. 03-1733
tahun 2004).
Pada penyediaan lahan parkir umum untuk area permukiman skala RW
(2.500 penduduk) lokasinya diarahkan pada setiap pusat lingkungan
permukiman pada skala RW, dengan standar penyediaan 400m2, dan
penggunaannya yang juga sekaligus berfungsi sebagai pangkalan sementara
kendaraan angkutan publik.

2.10 Penyediaan RTH Berdasarkan Jumlah Penduduk


Kebutuhan Ruang Terbuka Hijau Berdasarkan Jumlah Penduduk secara
hirarkis dari yang terendah, skala pelayanan kegiatan fungsional suatu kota
dapat dimulai dari skala lingkungan, yaitu RT, RW dan kelurahan, pada skala
kawasan terdapat skala kecamatan sampai dengan skala tertinggi yaitu kota.
Pada skala RW (Lihat Tabel 1) kebutuhan yang harus terpenuhi adalah 1250
meter dalam Luas minimal/unit nya 0,5 meter dengan loaksi di pusat kegiatan
RW.
Sumber: SNI 03-1733-2004 Tata Cara Perencanaan Lingkungan Perumahan

2.11 Penyediaan RTH Berdasarkan Luas Wilayah


Kebutuhan Ruang Terbuka Hijau Berdasarkan Luas Wilayah Berdasarkan
Peraturan Menteri Pekerjaan Umum No 05/PRT/M/2008 Penyediaan RTH
berdasarkan luas wilayah di perkotaan adalah sebagai berikut:
a) Ruang terbuka hijau di perkotaan terdiri dari RTH Publik dan RTH privat.
b) Proporsi RTH pada wilayah perkotaan adalah sebesar minimal 30% yang
terdiri dari 20% ruang terbuka hijau publik dan 10% terdiri dari ruang terbuka
hijau privat.
c) Apabila luas RTH baik publik maupun privat di kota yang bersangkutan telah
memiliki total luas lebih besar dari peraturan atau perundangan yang
berlaku, maka proporsi tersebut harus tetap dipertahankan keberadaannya.

Proporsi 30% merupakan ukuran minimal untuk menjamin keseimbangan


ekosistem kota. Target luas sebesar 30% dari luas wilayah kota dapat dicapai
secara bertahap. Menurut Peraturan Menteri Nomor 5 Tahun 2008 Ruang
Terbuka Hijau (RTH) Kawasan Perkotaan adalah sebagai berikut:
a) Ruang Kota terdiri dari ruang terbangun dan ruang terbuka.
b) Ruang terbangun terdiri dari hunian adalah 40% dengan KDB adalah 80%
dan non hunian adalah 20% dengan KDB 90%.
c) Ruang Terbuka HIjau (RTH) untuk hunian adalah 8% dan RTH non hunian
2% sehingga RTH privat adalah 10%.
d) Ruang terbuka terdiri dari taman adalah 12,5% dengan KDB 0%, jalan
adalah 20% dan lainnya 7,5% dengan KDB adalah 80%.
e) Ruang terbuka hijau untuk taman 12,5%, untuk jalan adalah 6% dan ruang
terbuka hijau untuk lainnya 1,5% sehingga Ruang terbuka hijau publik.

2.12 RTH Taman Rukun Warga Tetangga


Taman Rukun Tetangga (RT) dapat dimanfaatkan penduduk sebagai
tempat melakukan berbagai kegiatan sosial di lingkungan RT tersebut. Untuk
mendukung aktifitas penduduk di lingkungan tersebut, fasilitas yang disediakan
minimal bangku taman dan fasilitas mainan anak-anak. Selain itu, bisa juga
digunakan sebagai tempat untuk melakukan aktivitas sosial dengan menanam
tanaman obat keluarga atau apotik hidup dan buah-buahan yang dapat
dimanfaatkan oleh warga setempat.

Gambar 2.1 dan 2.2. Contoh Taman Rukun Tetangga


Sumber: SNI 03-1733-2004 Tata Cara Perencanaan Lingkungan Perumahan

2.13 RTH Taman Rukung Warga (RW)


RTH Taman Rukun Warga (RW) dapat dimanfaatkan untuk berbagai
kegiatan remaja, kegiatan olahraga masyarakat, serta kegiatan sosial lainnya di
lingkungan tersebut. Fasilitas yang disediakan berupa lapangan untuk berbagai
kegiatan, baik olahraga maupun aktivitas lainnya. Beberapa unit bangku taman
yang dipasang secara berkelompok sebagai sarana berkomunikasi dan
bersosialisasi antara warga, dan beberapa jenis bangunan permainan anak yang
tahan dan aman untuk dipakai pula oleh anak remaja.
Gambar 2.3. Contoh Taman Rukun Warga
Sumber: SNI 03-1733-2004 Tata Cara Perencanaan Lingkungan Perumahan

2.14 Elemen Estetika Ruang Terbuka Hijau (RTH)


Untuk membuat perencanaan ruang terbuka hijau yang menarik
diperlukan beberapa elemen pendukung, antara lain;

1. Elemen Keras (Hard Material)


Elemen keras adalah elemen yang terdiri dari bermacam-macam benda lain
yang lebih keras daripada tanaman, seperti;
a. Gazebo: ukuran gazebo berkisar 2 x 2 meter untuk menampung 4-5 orang.
b. Jalan Setapak: jalan setapak dapat berupa deretan batu lempeng yang ditata
menjadi batu loncatan dan dapat juga berupa jalan sempit yang ditaburi
kerikil hias.
c. Pergola: berfungsi sebagai peneduh pada taman sehingga menimbulkan
kesan kokoh dari sebuah pintu gerbang atau pagar tembok.
d. Aksesoris: Lampu hias, Kursi, Gerabah, Patung, Kolam Hias, Bak Sampah.

2. Elemen Lunak (Soft Material)


Elemen lunak yang dimaksud adalah taman. Pemilihan jenis tanaman dalam
suatu perencanaan adalah suatu seni dan juga ilmu pengetahuan. Seni, karena
menyangkut desain seperti warna, bentuk, tekstur, dan kualitas yang berubah
karena tanaman dipengaruhi iklim, usia, dan faktor yang mempengaruhi
pertumbuhan.
BAB 3
METODOLOGI PENELITIAN

3.1 Ruang Lingkup Pembahasan

Penelitian ini mengidentifikasi Ruang Terbuka Hijau berdasarkan jumlah


penduduk dan luas lahan. Hasil akhir dari penelitian ini adalah berupa
rekomendasi ilustratif dan deskriptif untuk optimalisasi pemanfaatan RTH yang
ada serta rekomendasi spasial penggunaan lahan sebagai ruang terbuka hijau.

3.2 Metode Penelitian

Metode penelitian yang digunakan adalah metode penelitian kuantitatif


dan kualitatif. Metode dalam penelitian ini meliputi pengumpulan data primer,
data sekunder dan informasi lainnya yang diperlukan serta menganalisis data-
data sesuai dengan kebutuhan dan tujuan penelitian. Pengumpulan data primer
dilakukan secara langsung melalui observasi lapangan ruang terbuka hijau.
Pengumpulan data sekunder merupakan kegiatan pencarian data tertulis yang
meliputi kajian literatur dan survei instansi.

3.3 Teknik Pengumpulan Data dan Jenis Data

Jenis data yang diperlukan adalah data primer dan data sekunder. Data
primer diperoleh dengan cara observasi ke lokasi penelitian. Data sekunder
diperoleh dengan cara menelusuri hasil penelitian dan dokumen ilmiah dari
intansi terkait.
1. Analisis Data
Analisis kebutuhan ruang terbuka hijau pada Kawasan Perumahan Bumi
Nyiur meliputi analisis dari:
a) Analiis ketersediaan ruang terbuka hijau
Dilakukan dalam beberapa tahapan meliput: Analisa citra dimana data dari
citra satelit yang ada diklasifikasi menggunakan software arcgis.
b) Analisis kebutuhan ruang terbuka hijau
Dilakukan dengan menghitung kebutuhan ruang terbuka hijau berdasarkan
luas wilayah, jumlah penduduk, dan luas lahan perencanaan dengan standar
yang ditetapkan berdasarkan Undan-undang Penataan Ruang No. 26 Tahun
2007 maupun Peraturan Menteri Dalam Negeri No.1 Tahun 2007 tentang
Penataan Ruang Terbuka Hijau Kawasan Perkotaan serta Peraturan Menteri
Pekerjaan Umum No. 5/PRT/M/2008 tentang Pedoman Penyediaan dan
Pemanfaatan Ruang Terbuka Hijau di Kawasan Perkotaan.
BAB 4
HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Gambaran Umum Lokasi Penelitian

Pengidentifikasian ruang terbuka dilakukan di RW 02, Kelurahan Besusu


Tengah. Kelurahan Besusu Tengah memiliki luas wilayah 2,26 km 2 dan berada
pada Provinsi Sulawesi Tengah, Kota Palu, Kecamatan Palu Timur. Kelurahan
Besusu Tengah memiliki batas-batas geografis dan administratif wilayah sebagai
berikut :
a. Sebelah Utara berbatasan dengan Kelurahan Talise
b. Sebelah Timur berbatasan dengan Kelurahan Besusu Timur
c. Sebelah Selatan berbatasan dengan kelurahan Lolu Utara
d. Sebelah Barat berbatasan dengan Kelurahan Besusu Barat
Kelurahan Besusu Tengah memiliki luas lahan 2,26 km 2 dengan jumlah
penduduk ±10.418 jiwa dan kepadatan penduduk 4.610/km2. Kelurahan Besusu
Tengah memiliki potensi karena lokasinya yang strategis yakni berada di tengah
kota dengan jalur yang menghubungkan berbagai pusat kegiatan lainnya. Hal ini
menyebabkan aktivitas penduduk semakin meningkat yang berarti dapat
menuntut penyediaan infrastruktur sebagai bentuk pemenuhan kebutuhan
masyarakat. Namun tidak terlepas dari potensi yang dimilikinya, terdapat pula
beberapa permasalahan di Kelurahan Besusu Tengah yang ditinjau dari aspek
Fisiografis, Sosial-Budaya, Ekonomi, Sarana dan Prasarana serta Pemanfaatan
Lahan yang ada di wilayah tersebut.
Lokasi penelitian akan dibatasi dengan hanya mengidentifikasi ruang
terbuka di salah satu RW yaitu RW 02 yang didominasi oleh fungsi penggunaan
lahan permukiman tepatnya Kawasan Perumahan Bumi Nyiur, Kelurahan
Besusu Tengah, Kecamatan Palu Timur, Kota Palu.

4.2 Analisis Aktivitas


Lokasi perencanaan RTH terletak pada RW 02 Kelurahan Besusu Tengah
yang memiliki luas 484.184 m² dengan jumlah penduduk sebanyak ±3.845 jiwa.
Peruntukan guna lahan pada lokasi perencanaan RTH secara eksisting sesuai
pada RTRW Kota Palu yaitu sebagai permukiman. Pada kawasan Perumahan
Bumi Nyiur terdapat ruang terbuka berupa taman atau lapangan olah raga yaitu
Taman Bumi Nyiur. Karakteristik aktivitas yang ada di lokasi perencanaan terbagi
menjadi fungsi utama dan fungsi penunjang.
a. Aktivitas Utama
Hunian di kawasan lokasi perencanaan merupakan kawasan dengan
aktivitas utama sebagai perumahan/tempat tinggal. Jenis ruang kelompok hunian
penduduk kelas rendah adalah rumah non permanen, untuk kelompok hunian
penduduk kelas menengah adalah rumah semi permanen, dan untuk kelompok
hunian penduduk kelas tinggi adalah rumah permanen.
b. Aktivitas Penunjang
Aktivitas penunjang pada lokasi perencanaan adalah sebagai pendukung
kegiatan dari fungsi utama yaitu sebagai hunian. Seperti perdagangan dan jasa,
pendidikan, sarana kesehatan seperti apotik, sarana peribadatan, serta sarana
rekreasi dan olahraga (RTNH) seperti gambar di bawah.

Gambar 4.1 Taman Bumi Nyiur


Sumber: Survei Lapangan

Taman Bumi Nyiur terletak di Jalan Brigjend Katamso, dapat diakses dari
Jl. Ahmad Yani, Jl. Soetoyo dan Jl. Pandjaitan. Taman ini memiliki luas lahan
sebesar 883 m². Jika dilihat dari kondisinya, taman ini masih tergolong baik dan
masih difungsikan dengan baik pula. Ditandai dengan adanya interaksi antar
warga yang terjadi di Taman Bumi Nyiur, terutama anak dan remaja pada sore
hari ataupun hari libur sekolah. Taman ini memiliki lapangan basket dan
lapangan voley dan dikelilingi oleh vegetasi serta terdapat gazebo sebagai
penunjang aktivitas lainnya.

Gambar 4.2 Lapangan basket dan voley Gambar 4.3 Penerangan RTH
Sumber: Survei Lapangan Sumber: Survei Lapangan

Gambar 4.4 Gazebo Gambar 4.5 Prasarana persampahan


Sumber: Survei Lapangan Sumber: Survei Lapangan

4.3 Analisis Kondisi Eksisting

4.3.1 Ketersediaan lahan


Luas keseluruhan dari RW 02 Kelurahan Besusu Tengah adalah 484.184
m² yang terdiri atas luas terbangun dan tidak terbangun. Untuk lahan yang tidak
terbangun memiliki luas sekitar ±1454 m². Dari lahan yang tidak terbangun ini lah
yang akan direncanakan ruang terbuka untuk skala RW yaitu sekitar 30% dari
luas keseluruhan lokasi perencanaan.

4.3.2 Aksesibilitas
Adanya aksesibilitas menuju ke suatu tempat sangatlah penting bagi
masyarakat untuk menunjang aktivitasnya yang tidak hanya di satu tempat. Oleh
karena itu prasarana jalan akan sangat membantu kelancaran suatu aktivitas.
RW 02 Kelurahan Besusu Tengah berada di lokasi yang strategis atau
berada di tengah perkotaan yang mana dapat diakses dengan mudah. Untuk
menuju ke Ruang Terbuka yang ada, yaitu Taman Bumi Nyiur, dapat diakses dari
Jalan Ahmad Yani, Jalan Soetoyo, Jalan Pandjaitan, Jalan Soeprapto dan Jalan
Brigjen Katamso.
Jarak antara kelurahan Besusu Tengah dengan pusat pemerintahan ialah
sebagai berikut:
a. Jarak ke ibu kota Kecamatan 0,5 Km
b. Jarak ke ibu kota 1 Km
c. Jarak ke ibu kota Provinsi 0 Km

4.3.3 Hidrologi
Letak lokasi perencanaan yang berada di tengah kota, jarak antara
permukiman adalah sekitar ±2.5 kilometer dari Pantai Talise dan ±1 kilometer
dari Sungai Pondoh. Tidak terdapat sungai maupun pantai pada wilayah
administrasi Kelurahan Besusu tengah.

4.3.4 Klimatologi
Kondisi iklim di Kelurahan Besusu Tengah memiliki dua musim yaitu
musim panas yang terjadi pada bulan April hingga September, serta musim hujan
yang terjadi pada bulan Oktober hingga Maret. Selain itu, suhu udara di
Kelurahan Besusu Tengah rata-rata dari 30°C hingga 32°C, dengan curah hujan
sekitar 150 mm/tahun.

4.3.5 Arah Angin


Kondisi eksisting ruang terbuka yang ada di RW 02 yaitu Taman Bumi
Nyiur, umumnya angin bertiup dari arah laut ke arah darat yaitu angin bertiup dari
sebelah barat laut dari Kelurahan Besusu Timur dari jam 09.00 pagi hingga 16.00
sore dan angin bertiup dari sebelah selatan Kelurahan Besusu Timur dari jam
20.00 malam hingga 06.00 pagi. Pada sisi selatan Taman Bumi Nyiur terdapat
bangunan vertikal yang mengurangi intensitas angin yang menyebabkan
aktivitas lebih banyak terjadi pada pukul 09.00 pagi hingga 17.00 sore ketika
angin bertiup dari arah barat laut.

4.3.6 Arah Matahari


Arah matahari selalu berubah tiap jamnya, sehingga terjadi pembagian
waktu serta letak jatuh bayangan di Taman Bumi Nyiur.
1. Pukul 09.00 WITA
Pada pagi hari, matahari terbit dari arah timur. Di sisi timur tidak terdapat
banyak pohon tinggi sehingga bagian ini mendapat sinar matahari penuh
2. Pukul 12.00
Pada siang hari, matahari tepat berada di atas atau di tengah taman
sehingga tidak ada tempat teduh dan tidak ada aktifitas yang terjadi di Taman
Bumi Nyiur.
3. Pukul 15.00
Pada sore hari, matahari berada di sebelah barat sehingga bayangan jatuh di
belakang pohon tinggi yang terdapat di sisi bagian barat taman, sehingga
taman akan terasa teduh dan mengundang aktifitas.

4.3.7 Kemiringan Lereng


Adapun kondisi kemiringan tanah pada Kelurahan Besusu Tengah
termasuk dalam kategori Datar yaitu 0%-5% kemiringan lereng untuk
keseluruhan wilayah Kelurahan Besusu Tengah. Sedangkan menurut elevasi
(Ketinggian di atas permukaan laut/dpl) yaitu berada antara 0 – 50 m.

4.3.8 Kebutuhan Landscape


Menurut SNI 03-1733-2004 Tata Cara Perencanaan Lingkungan
Perumahan, dibutuhkan 0,5 m²/jiwa untuk penyediaan RTH di pusat kegiatan
RW. Untuk mengetahui kebutuhan landscapenya maka digunakan rumus
sebagai berikut:
Jumlah Penduduk x 0,5 m²

Maka akan dihasilkan: 3.845 jiwa x 0,5 m² = 1.922 m²/jiwa

4.4 Rekomendasi Perencanaan Ruang Terbuka

Setelah menganalisis kondisi eksisting Taman Bumi Nyiur, di Kawasan


Perumahan Bumi Nyiur RW 02 Kelurahan Besusu Tengah, bahwa taman ini lebih
berorientasi pada kegiatan rekreasi dan olahraga. Dari aspek fungsional, taman ini
sudah berfungsi dengan baik dikarenakan adanya interaksi antar penduduk yang
bermukim di RW 02. Akan tetapi, dengan jumlah penduduk sebanyak 3.845 jiwa,
dan luas lahan RTH eksisting yaitu 883 m², maka kebutuhan lahan peruntukan RTH
belum terpenuhi dan tidak sesuai standar yaitu 1.250 m² untuk melayani 2.500 jiwa
dalam skala RW. Oleh karena itu, dibutuhkan rekomendasi perencanaan ruang
terbuka dengan lahan yang tersedia.

Diketahui bahwa luas keseluruhan RW 02 adalah 484.184 m², dan lahan yang
tersedia atau lahan tak terbangun adalah 1.454 m² sedangkan kebutuhan lahan
untuk RTH adalah 1.922 m²/jiwa. Dari kebutuhan lahan sebanyak 1.922 m²/jiwa,
dikurangi dengan luas RTH eksisting yaitu 883 m² maka dapat diketahui jumlah
kebutuhan lahan untuk memenuhi kebutuhan penyediaan RTH skala RW adalah
1.109 m². Kebutuhan penyediaan RTH sebanyak 1.109 m² ini, dapat direncanakan
pada lahan yang tidak terbangun dengan luas 1.454 m².

Untuk merencanakan suatu RTH, perlu mempertimbangkan karakterisitik lahan


yang mempengaruhi kualitas RTH salah satunya adalah kemiringan lereng. Lahan
yang sesuai untuk RTH adalah lahan yang memiliki tekstur tanah sedang, dan
kemiringan lereng 0-8% (datar). Besusu Tengah berada di ketinggian 0-50 m dari
permukaan laut. Semakin tinggi kedudukan suatu tempat, temperatur udara di
tempat tersebut akan semakin rendah, begitu juga sebaliknya semakin rendah
kedudukan suatu tempat, temperatur udara akan semakin tinggi. Hal ini
menyebabkan Kelurahan Besusu Tengah memiliki suhu udara yang cukup panas
yiatu 30-32 derajat celcius.

Suhu udara ternyata mempengaruhi angin. Angin terjadi karena adanya


perbedaan tekanan udara atau perbedaan suhu udara pada suatu daerah atau
wilayah. Wilayah yang menerima energi panas matahari lebih besar akan
mempunyai suhu udara yang lebih panas dan tekanan udara yang cenderung lebih
rendah. Sehingga akan terjadi perbedaan suhu dan tekanan udara. Akibatnya akan
terjadi aliran udara pada wilayah tersebut. Angin memiliki hubungan yang erat
dengan sinar matahari karena wilayah yang terkena banyak paparan sinar matahari
akan memiliki suhu yang lebih tinggi serta tekanan udara yang lebih rendah dari
daerah lain di sekitarnya sehingga menyebabkan terjadinya aliran udara, oleh
karena itu penanaman vegetasi pada RTH sangatlah penting.
Secara luas, angin akan mempengaruhi suhu yang optimum dimana tanaman
tumbuh dan berproduksi dengan sebaik-baiknya, kelembaban udara yang
berpengaruh terhadap penguapan permukaan tanah dan penguapan permukaan
daun, maupun pergerakan awan, membawa uap air sehingga udara panas menjadi
sejuk dan juga membawa gas-gas yang sangat dibutuhkan oleh pertumbuhan dan
perkembangan tanaman.
Gambar 4.6 Ilustrasi Taman RW
Sumber: Permen PU No. 5 Tahun 2008

Perencanaan RTH harus melihat dan mempertimbangkan variabel-variabel


tersebut, termasuk penempatan vegetasi serta sarana dan prasarana pendukung.
Berdasarkan analisis, arah tiupan angin berasal dari arah barat laut. Maka
penanaman pohon sebaiknya diletakkan di sisi barat laut dari RTH yang akan
direncanakan. Jenis pohon yang dimaksud sebaiknya dapat menyaring debu dan
kebisingan, agar menjaga kenyamanan dan kesehatan udara. Penempatan pohon
juga berpengaruh pada arah matahari. Pohon yang tinggi sebaiknya diletakkan di
sisi barat, karena matahari berada di sebelah barat pada sore hari sehingga
bayangannya jatuh di belakang pohon yang akan membuat taman menjadi teduh.

BAB 5
KESIMPULAN

5.1 Kesimpulan
Adapun yang dapat disimpulkan dari hasil dan pembahasan mengenai
identifikasi dan analisis ketersediaan ruang terbuka hijau diatas adalah:
Ruang terbuka hijau merupakan ruang seluas 30% dari luas keseluruhan suatu
wilayah yang terbuka dan ditumbuhi tanaman. Ruang terbuka di kegiatan RW
memiliki standar luas lahan sebanyak 1.250 m² dan mampu melayani 2.500 jiwa,
dengan luas 0,5 m²/jiwa. Di lokasi pengidentifikasian dan perencanaan, yaitu
Kawasan Perumahan Bumi Nyiur di RW 02 Kelurahan Besusu Timur sudah tersedia
RTH berupa Taman Bumi Nyiur akan tetapi belum bisa melayani seluruh
penduduknya, oleh karena itu direkomendasikan untuk merencanakan ruang
terbuka hijau skala RW berdasarkan standar dengan mempertimbangkan aktivitas
penduduk setempat, kemiringan lereng, iklim, arah tiupan angin, serta arah matahari
agar RTH dapat berfungsi sebaik mungkin.
Adanya RTH sangatlah penting bagi keberlangsungan hidup manusia guna
menjaga kestabilan dan kelestarian lingkungan, serta berperan sebagai penunjang
aktivitas atau sarana aktivitas pendukung. Tanpa RTH, polusi perkotaan yang
semakin memburuk setiap tahunnya akan lebih parah lagi dan parahnya akan
mengganggu kesehatan masyarakat.

DAFTAR PUSTAKA

1. Undang-undang No.1 Tahun 2011 Tentang Perumahan dan Kawasan


Permukiman

2. Undang-undang No. 26 Tahun 2007 Tentang Penataan Ruang


3. Peraturan Menteri Pekerjaan Umum No. 5 Tahun 2008 Tentang Pedoman
Penyediaan dan Pemanfaatan Ruang Terbuka Hijau di Kawasan Perkotaan

4. Peraturan Menteri No. 1 Tahun 2007 Tentang Penataan Ruang Terbuka Hijau
Kawasan Perkotaan

5. SNI 03-1733-2004 Tata Cara Perencanaan Lingkungan Perumahan

6. Peraturan Menteri Pekerjaan Umum No. 12 Tahun 2009 Tentang Pedoman


Penyediaan Dan Pemanfaatan Ruang Terbuka Non Hijau Di Wilayah
Kota/Kawasan Perkotaan

7. Jurnal. Wahyu Fahreza, Restu. Analisis Ruang Terbuka Hijau Perumahan


Nasional di Kota Medan Vol. 8 No. 2. Tahun 2016

8. Jurnal. Alvira Neivi Sumarauw. Analisis Kebutuhan Ruang Terbuka Hijau Publik di
Kota Bitung Vol. 16 No. 4. Tahun 2016

9. Jurnal. Nada Alifia. Identifikasi Letak Dan Jenis Ruang Terbuka Hijau Di
Kawasan Permukiman Perkotaan Vol. 03 No. 2. Tahun 2016

10. Jurnal. Andi Chairul Achsan. Analisis Ketersediaan Dan Kebutuhan Ruang
Terbuka Hijau Pada Kawasan Pusat Pelayanan Kota (Studi Kasus Kecamatan
Palu Timur, Kota Palu) Vol 02 No. Tahun 2016

Anda mungkin juga menyukai