50% menganggap dokumen ini bermanfaat (2 suara)
3K tayangan27 halaman

Pemboran Eksplorasi Batu Bara

TEM

Diunggah oleh

thryys
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
50% menganggap dokumen ini bermanfaat (2 suara)
3K tayangan27 halaman

Pemboran Eksplorasi Batu Bara

TEM

Diunggah oleh

thryys
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

MAKALAH

PEMBORAN EKSPLORASI BATUBARA

DISUSUN OLEH:

Pratiwi PujiLestari

(073001500078)

TEKNIK PERTAMBANGAN

FAKULTAS TEKNOLOGI KEBUMIAN DAN ENERGI

UNIVERSITAS TRISAKTI
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Pemboran merupakan kegiatan yang pertama kali dilakukan dalam suatu
operasi peledakan batuan. Kegiatan ini bertujuan untuk membuat sejumlah
lubang ledak yang nantinya akan diisi dengan sejumlah bahan peledak untuk
diledakkan. Bukan hanya untuk pembuatan lubang ledak tetapi pemboran
memiliki fungsi lain seperti pengumupulan data sebaran cadangan
Pemboraan mempunyai banyak tahapan yang perlu diperhatikan mulai dari
perencanaan titik-titik bor,peralatan yang akan diguenakan pada
pemboran,pelaksanaan kegitana pengeboran dengan metode metode apa saja, dan
pengelolaan hasil data pengeboran.

B. Masalah
Adapun masalah yang dibahas pada makalah ini adalah :
1. Tujuan Pegeboran?
2. Perencanaan titik-titik bor?
3. Perncanaan peralatan pengeboran?
4. Pelaksanaan pengeboran?
5. Pengelolaan hasil pengeboran?
C. Tujuan
Tujuan yang ingin diperoleh dari makalah ini adalah :
1. Untuk mengetahui tujuan pengeboran
2. Untuk mengetahui perencanaan titik-titik bor
3. Untuk mengetahui perencanna peralatan pengeboran
4. Untuk mengetahui pelaksanaan pengeboran
5. Untuk mengetahui pengelollan hasil pengeboran
BAB II
PEMBAHASAN

1. TUJUAN EKSPLORASI BATU BARA

Kegiatan ini bertujuan untuk membuat sejumlah lubang ledak yang


nantinya akan diisi dengan sejumlah bahan peledak untuk diledakkan dan
untuk menginventarisir serta melokalisir data endapan batubara yang ada di
daerah studi yang guna mencari lokasi-lokasi singkapan batubara dan
melaporkan daerah prospeksi hasil temuan di lapangan. Apabila data-data
yang didapat sangat mendukung, maka diharapkan daerah studi tersebut
dapat dikembangkan ketingkat selanjutnya dengan membuat program studi
kelayakan.

Pada tahapan eksplorasi awal, ada beberapa kegiatan yang dilakukan yaitu:
a. Pemetaan Geologi dan Topografi
Untuk kegiatan eksplorasi awal, digunakan peta yang memiliki
skala 1: 25000 untuk peta geologi lintasan dan singkapan serta peta
dengan skala 1:10000 untuk kegiatan penyelidikan umum.

b. Membuat penampang sumur uji


Test pit (sumur uji) merupakan salah satu cara dalam pencarian
endapan atau pemastian kemenerusan lapisan dalam arah vertikal.
Pembuatan sumur uji ini dilakukan jika dibutuhkan kedalaman yang lebih
(> 2,5 m). Pada umumnya suatu deretan (series) sumur uji dibuat searah
jurus, sehingga pola endapan dapat dikorelasikan dalam arah vertikal dan
horisontal.
Sumur uji ini umum dilakukan pada eksplorasi endapan-endapan yang
berhubungan dengan pelapukan dan endapan-endapan berlapis.
 Pada endapan berlapis, pembuatan sumur uji ditujukan untuk
mendapatkan kemenerusan lapisan dalam arah kemiringan, variasi
litologi atap dan lantai, ketebalan lapisan, dan karakteristik variasi
endapan secara vertikal, serta dapat digunakan sebagai lokasi
sampling. Biasanya sumur uji dibuat dengan kedalaman sampai
menembus keseluruhan lapisan endapan yang dicari, misalnya
batubara dan mineralisasi berupa urat (vein).
 Pada endapan yang berhubungan dengan pelapukan (lateritik atau
residual), pembuatan sumur uji ditujukan untuk mendapatkan
batas-batas zona lapisan (zona tanah, zona residual, zona lateritik),
ketebalan masing- masing zona, variasi vertikal masing-masing
zona, serta pada deretan sumur uji dapat dilakukan pemodelan
bentuk endapan.
Apabila sumur uji telah dibuat, maka kita harus mencatat data litologi dari
satu sumur uji dengan yang lain, kemudian dikorelasikan dengan menggunakan
software.

c. Membuat penampang parit uji


Trenching (pembuatan paritan) merupakan salah satu cara dalam
observasi singkapan atau dalam pencarian sumber (badan) bijih/endapan.
 Pada pengamatan (observasi) singkapan, paritan uji dilakukan dengan cara
menggali tanah penutup dengan arah relatif tegak lurus bidang perlapisan
(terutama pada endapan berlapis). Informasi yang diperoleh antara lain ; jurus
bidang perlapisan, kemiringan lapisan, ketebalan lapisan, karakteristik
perlapisan (adasplit atau sisipan), serta dapat sebagai lokasi sampling.
 Sedangkan pada pencarian sumber (badan) bijih, parit uji dibuat berupa series
dengan arah paritan relatif tegak lurus terhadap jurus zona badan bijih,
sehingga batas zona bijih tersebut dapat diketahui. Informasi yang dapat
diperoleh antara lain; adanya zona alterasi, zona mineralisasi, arah relatif
(umum) jurus dan kemiringan, serta dapat sebagai lokasi sampling. Dengan
mengkorelasikan series paritan uji tersebut diharapkan zona
bijih/minerasisasi/badan endapan dapat diketahui.

d. Membuat penampang lubang bor dengan metode logging


Metode logging pada dasarnya adalah suatu operasi yang bertujuan untuk
mendapatkan sifat-sifat fisik batuan reservoir sebagai fungsi kedalaman lubang
bor yang dinyatakan dalam bentuk grafik. Operasi ini menggunakan suatu
instrument khusus (sonde) yang diturunkan kedalam lubang bor menggunakan
kabel (wire line) pada saat lubang bor terisi fluida pemboran.
Tujuan logging adalah menentukan besaran-besaran fisik dari batuan
reservoir yang didasarkan pada sifat fisik batuan reservoir itu sendiri. Di dalam
pemilihan kombinasi logging, log dibagi menjadi Lithologi tool, resistivity tool,
dan porosity tool.
 Kegiatan Eksplorasi Rinci

Untuk kegiatan eksplorasi rinci, beberapa kegiatan yang dilakukan yaitu:


a) Untuk kegiatan pada eksplorasi rinci, digunakan peta dengan skala 1:500
hingga 1:2000.
b) Pemboran, merupakan kegiatan lanjutan. Membuat lubang bor untuk
mendapatkan data yang lebih teliti mengenai penyebaran dan ketebalan cadangan
(volume cadangan), penyebaran kadar/kualitas secara mendatar maupun tegak.
Dari sampling yang rapat tersebut dihasilkan cadangan terhitung dengan
klasifikasi terukur, dengan kesalahan yang kecil (<20%). Sebelum dilakukan
kegiatan ini, dilakukan terlebih dahulu studi kelayakan dan amdal, geoteknik, serta
geohidrologi.
c) Percontoan, merupakan kegiatan lanjutan dari ekplorasi terdahulu. Yakni
pembuatan sumur uji/trenching guna mendapatkan data-data yang lebih teliti.
d) Penampangan (logging), merupakan kegiatan perekaman data-data hasil dari
pemboran. Data tersebut merupakan data sifat-sifat batuan di bawah permukaan.

 Metode Eksplorasi
a. Konvensional
Pemetaan (geologi) permukaan dan bawah permukaan: pengamatan secara
langsung terhadap objek [Link] pemetaan pada eksplorasi
pendahuluan skala 1:10.000 dan untuk pemetaan eksplorasi rinci 1:2.000. Metode
ini juga biasa disebut dengan metode geologi (tak langsung).
Metode ini dapat dilakukan dengan survei indrajauh, baik dari ruang
angkasa seperti analisa citra satelit dengan berbagai band dan dari udara yaknik
analisa foto udara, citra radar dan sebagainya. Selain itu, dilakukan dengan
melakukan survei geologi permukaan seperti survei geologi tinjau dan survei
geologi singkapan.
b. Geofisika
Di interpretasikan berkaitan dengan pola geologi dan pada umumnya
digunakan pada tahap eksplorasi pendahuluan. Bekerja berdasarkan kondisi atau
sifat fisik bawah permukaan. Metode yang sering digunakan untuk eksplorasi
bahan galian : elektromagnetik, geolistrik, magnetik-gravitasi dan seismik.
Berdasarkan kontras dan sifat fisik dari batuan, mineral dan bijih endapan yang
diukur.
c. Geokimia
Metode yang menggunakan pola dispersi mekanis diterapkan pada mineral
yang relatif stabil pada kondisi permukaan bumi, cocok digunakan didaerah yang
kondisi iklimnya membatasi pelapukan kimiawi. Metode yang didasarkan pada
pengenalan pola dispersi kimiawi. Dapat diperoleh baik pada endapan bijih yang
tererosi ataupun yang tidak tererosi, baik yang lapuk ataupun yang tidak lapuk.

Sistem pemboran berdasarkan dengan tingkat keterterapannya dibagi


menjadi 8 (delapan) macam yaitu :
1. Mekanik : perkusif, rotari, rotari-perkusif
2. Termal : pembakaran, plasma, cairan panas, pembekuan
3. Hidroulik : pancar (jet), erosi, cavitasi
4. Sonik : vibrasi frekuensi tinggi
5. Kimiawi : microblast, disolusi
6. Elektrik : elektric arc, induksi magnetis
7. Seismik : sinar laser
8. Nuklir : fusi, dan fisi
Pemboran memiliki banyak fungsi antara lain :
a. Explorasi tubuh bijih
b. Informasi stratigrafi
c. Survey seismik (pembacaan gelombang pada batuan)
d. Verifikasi interpretasi geofisika dan geokimia
e. Kontrol kadar bijih
f. Perhitungan cadangan bijih
g. Deskripsi tubuh bijih (penyebaran, bentuk, butir dan lain-lain)

2. PERENCANAAN TITIK BOR

Dalam proses Drilling batubara banyak sekali jenis pengeborannya.

1. Open Hole
2. Touch Core
3. Full Core

1. Open Hole adalah teknik pengeboran dengan melubangi area tertentu


sesuai perencanaan sampai

Gambar 2.1

Open Hole

kedalaman yang telah direncanakan. Dalam pengambilan samplenya


berdasarkan potongan dari tiap gerusan mata bor per Run atau per pipa bor
(sample ini disebut cutting). Dalam proses pemboran ini, cutting akan di bawa
naik ke atas dengan media air bercampu lumpu (pengeboran batubara biasanya
menggunakan media air sebagai lumpur pemboran).

2. Touch Core adalah tenik pengeboran yang awalnya dilakukan dengan

metode Open Hole dan ketika mata bor menyentuh batubara (indikasi dari
lubang bor keluarnya sample cutting batubara dan air berwarna hitam akibat
batubara tergerus serta insting dari juru bor waktu proses pengeboran), maka akan
di stop putaran bornya. selanjutnya stang bor di angkat dan mata bor akan diganti
dengan jenis mata bor khusus untuk pengambilan sample core serta di tambah
core barrel untuk tempat penampungan sample core selama pengambilan (ukuran
core barrel lebih kurang 1.60 meter). jadi bila batubara lebih tebal akan dilakukan
pengambilan coring sampai beberapa kali. Ada teknik khusus dalam melakukan
coring ini dan biasanya juru bor atau driller lebih menguasai teknik ini (seperti
kecepatan putaran mata bor dan kecepatan pompa lumpur bor).

Gambar 2.2
- gambar paling kiri mata bor untuk Open Hole

- gambar paling kanan mata bor untuk coring

3. Full Core adalah teknik pemboran yang dilakukan dari atas


sampaibawah kedalaman yang direncanakan dengan mengambil sample coring
tanpa melakukan metode Open Hole. Teknik ini dilakukan untuk mendapatkan
data yang lebih mendetail mengenai data variasi batuan (stratigrafi) dari dalam
lubang [Link] yang di atas ada beberapa hal lagi mengenai metode
pengeboran, mulai dari metode 2 hole ( pilot hole dan target hole) dan ada juga
yang menggunakan semi single hole dan single hole. Tergantun anda mau pake
metode yang [Link] ini bertujuan untuk mempercepat target waktu yang akan
di capai. karena dengan tercapainya target waktu yang singkat dan didukung
dengan kwalitas data yang baik maka bisa memperkecil pengeluaran dana
operasional. Selain data dari alat pemboran, beberapa perusahaan menambahkan
dengan menggunakan Electrical Logging untuk melihat ketebalan dari variasi
lithology (variasi lapisan batuan didalam lubang bor). Electrical Logging ini
menggunakan pancaran dari sinar Gamma ray (GR) dan Density terbagi Long
Density (LD) dan Short Density (SD) serta menggunakan Caliper (CL).

1. Diameter Lubang ledak


Faktor-faktor yang mempengaruhi penentuan diameter lubang
ledak adalah :
a. Volume batuan yang dibongkar
b. Tinggi jenjang dan konfigurasi isian
c. Tingkat Fragmentasi yang diinginkan
d. Mesin bor yang tersedia
e. Kapasitas alat muat yang akan menangani material hasil peledakan.

2. Arah Lubang ledak


Pada kegiatan pemboran ada dua macam arah lubang ledak yaitu
arah tegak dan arah miring. Pada tinggi jenjang yang sama, kedalaman
lubang ledak miring > dari pemboran tegak selain itu pemboran miring
penempatan posisi awal lebih sulit karena harus menyesuaikan dengan
kemiringan lubang ledak yang direncanakan.
Gambar 2.3
Arah Lubang ledak a. vertical (tegak lurus), b. miring

3. Kedalaman Lubang ledak


Penentuan kedalaman lubang ledak disesuaikan dengan tinggi
jenjang, dimana kedalaman lubang ledak>tinggi jenjang. Kelebihan
kedalaman lubang bor (subdrilling) dimaksudkan untuk memperoleh
jenjang yang rata.

1. Pola Pemboran
Keberhasilan suatu peledakan salah satunya terletak pada
ketersediaan bidang bebas yag mencukupi. Pola pemboran merupakan
suatu pola pada kegiatan pemboran dengan mendapatkan lobang-
lobang tembak secara sistematis. Pola pemboran yang bisa diterapkan
pada tambang terbuka bisaanya ada tiga macam pola pemboran yaitu:
a) Pola Bujur Sangkar (square pattern)
Pola pemboran ini adalah dimana jarak antara burden dan spasinya
sama panjang yang membentuk bujursangkar.
b) Pola Persegi Panjang (rectangular pattern)
Pola pemboran persegi panjag dimana ukuran spacing dalam satu
baris lebih besar dari jarak burden yang membentuk pola persegi
panjang. Untuk mendapatkan fragmentasi yang baik, pola ini
kurang tepat karena daerah yang tidak terkena pengaruh peledakan
cukup besar.

Gambar 2.4
Pola Pemboran Pola Bujur Sangkar (square pattern) dan Pola
Persegi Panjang (rectangular pattern)
c) Pola selang-seling (staggered pattern)
Dalam pemboran selang seling lobang tembak dibuat seprti zig zag
sehingga membentuk pola segi tiga. Dimana jarak spacing sama
besar atau lebih besar dari pada jarak burden. Pada pola ini daerah
yang tidak terkena pengaruh peledakan cukup kecil dibandingkan
dengan pola yang lainya. Namun pada penerapan dilapangan pola
ini cukup sulit melakukan pemboran dan pengaturan lebih lanjut.
Tetapi untuk menperbaiki fragmentasi batuan hasil peledakan maka
pola ini lebih cocok untuk digunakan.
Gambar 2.5
Pola selang-seling (staggered pattern)

2. Alat-alat yang digunakan dalam pemboran


1. Wing Bit
Dipergunakan untuk dilapisan permukaan, umumnya dipakai pada
lubang-lubang besar untuk stove pipe yang dalamnya berkisar antara 0
– 30m. Ukuran pahat tersebut biasanya 36 inchi.

Gambar 2.6
Wing Bit
2. Roller Cone
Pahat roller cone biasa dipakai untuk lapisan lunak sampai lapisan
keras. Roller Cone dibagi juga dengan klasifikasi dan kekerasan pahat itu
sendiri yaitu dengan no. code misalnya untuk yang soft IADC code : 111,
114 ( International Assosiation Drilling Code ). Kekerasan pahat
disesuaikan dengan formasi yang akan dilaluinya misalnya : soft to
medium, medium to hard, untuk mempermudah mengenal apakah pahat
itu untuk formasi lunak, sedang dan keras maka yang perlu diperhatikan
adalah bentuk gigi pahat tersebut. Pemilihan Pahat. Didalam pemilihan
pahat adalah, Pahat yang dipergunakan untuk mengebor formasi tertentu,
tergantung pada kekerasan batuan dari formasi tersebut. Pahat yang
dipakai untuk mengebor batuan lunak tidak dapat berfungsi dengan baik
bila dipakai untuk mengebor batuan sedang atau batuan [Link]
tentang pemilihan pahat untuk mengoptimasikan pemboran tidak
seluruhnya teoritas, tetapi dalam banyak hal pemilihan ini tergantung pada
pengalaman-pengalaman yang didapat dalam pemboran didaerah yang
sudah diketahui atau dikenal.
Hasil pemilihan pahat ini sangat penting karena menyangkut :Biaya dari
pahat. Rig cost Round trip / cabut masuk. Dari ketiga biaya ini barulah
dapat menghitung operation cost ( biaya operasi).

Gambar 2.7
Roller Cone
3. Pahat Diamond
Pahat Diamond merupakan sejenis bahan yang mempunyai
kekerasan yang sama dengan intan (intan industri) dipakai apabila
pahat biasa sudah tidak dapat menembus formasi, umumnya untuk
lapisan-lapisan yang keras.

Gambar 1.6 Pahat Diamond

4. PELAKSANAAN PENGEBORAN

I. TAHAP PERSIAPAN
Dalam pelaksanaan pekerjaan pemboran tahap pekerjaan persiapan
meliputi :

1. Pekerjaan Mobilisasi
Sebelum pekerjaan lapangan dimulai, dilakukan mobilisasi atau
mendatangkan peralatan dan bahan-bahan pemboran beserta
personelnya ke lokasi pemboran. Tahap mobilisasi ini dilakukan secara
bertahap sesuai dengan kebutuhan lapangan.

2. Pekerjaan Persiapan Lokasi


Pada tahap pekerjaan ini meliputi :
a. Pembersihan, perataan dan pengerasan lokasi untuk posisi tumpuan
mesin bor.
b. Pembuatan bak Lumpur, bak control dan selokan untuk sirkulasi
Lumpur bor.
c. Penanaman casing pengaman sedalam 1-2 m pada posisi titik bor
apabila formasi lapisan tanah paling atas yang akan dibor merupakan
lapisan formasi yang mudah runtu.
d. Penyetelan (setting) mesin bor beserta menara (rig), penyetelan
(setting) pompa Lumpur beserta selang-selangnya.
e. Penyedian air serta pengadukan Lumpur bor untuk sirkulasi
pemboran.

II. TAHAP PEMBORAN AWAL


Sistem pemboran yang diterangkan disini adalah menggunakan system
bor putar (rotary drilling) dan tekanan bawah (pull down pressure)
yang dibarengi dengan sirkulasi Lumpur bor (mud flush) kedalam
lubang bor.
Pemboran pilot hole adalah pekerjaan pemboran tahap awal dengan
diameter lobang kecil sampai kedalaman yang dikehendaki, diameter
pilot hole biasanya antara 4 sampai dengan 8 inchi, Selain itu juga
ditentukan dengan kemampuan atau spesifikasi mesin bor yang
digunakan.
Hal-hal yang perlu diamati dalam pekerjaan pemboran pilot hole
adalah :

Kekentalan (viskositas) Lumpur bor


Kecepatan mata bor dalam menebus formasi lapisan tanah setiap
meternya (penetrasi waktu permeter)
Contoh gerusan (pecahan) formasi lapisan dalam setiap meternya.
Contoh (sample) pecahan formasi lapisan tanah (cutting) dimasukkan
dalam plastik kecil atau kotak sample dan masing-masing diberi nomor
sesuai dengan kedalamanya. Adapun maksud pengambilan sample
cutting adalah sebagai data pendukung hasil electrical logging untuk
menentukan posisi kedalaman sumber air (akuifer)

III. TAHAP ELECTRICAL LOGING


Electrical Loging tujuannya adalah untuk mengetahui letak (posisi)
akuifer air, tahap pekerjaan ini sebagai penentu konstruksi saringan
(screen).
Electrical Loging dilakukan dengan menggunakan suatu alat, dimana
alat tersebut menggunakan konfigurasi titik tunggal dimana eletroda
arus dimasukakan kedalam lubang bor dan elektroda yang lain ditanam
dipermukaan. Arus dimasukkan kedalam lubang elektroda yng
kemudian menyebar kedalam formasi disekitar lubang bor. Sebagian
arus kembali ke elektroda di permukaan dengan arus yang telah
mengalami penurunan. Penurunan inilah yang diukur.

IV. TAHAP PEMBERSIHAN LUBANG BOR (REAMING HOLE)


Yang dimaksud dengan reaming adalah memperbesar lubang bor
sesuai dengan diameter konstruksi pipa casing dan saringan (screen)
yang direncanakan.
Hal-hal yang diamati dalam tahap pekerjan reaming adalah sama
seperti pada tahap pekerjaan pilot hole, hanya pada pekerjaan reaming
cutting (formasi lapisan tanah) tidak perlu diambil lagi. Ideal selisih
diameter lobang bor dengan pipa casing adalah 6 inchi. Hal ini
dimaksudkan untuk mempermudah masuknya konstruksi pipa casing
dan saringan (sreen) serta masuknya penyetoran kerikil pembalut
(gravel pack).

V. TAHAP KONSTRUKSI PIPA CASING DAN SARINGAN


(SCREEN)
Pada tahap ini peletakan pipa casing dan saringan (screen) harus
sesuai dengan gambar konstruksi yang telah direncanakan. Terutama
peletakan konstruksi saringan (screen) harus didasarkan atas hasil
electrical logging dan analisa cutting.
Selain itu juga didasarkan atas kondisi hydrogeology daerah
pemboran. Dari pemahaman aspek-aspek hydrogeology diharapkan
perencanaan sumur dalam yang dihasilkan mampu memberikan sumur
pemanfatan (life time) yang maksimal dan kapasitas yang optimal
dengan memperhatikan kelestarian lingkungan didaerah sekitar
pemboran.

VI. TAHAP PENYETORAN KERIKIL PEMBALUT(GRAVEL


PACK)
Maksud dan tujuan penyetoran kerikil pembalut (gravel pack)
adalah untuk menyaring masuknya air dari formasi lapisan akuifer
kedalam saringan (screen) dan mencegah masuknya partikel kecil
seperti pasir ke dalam lubang saringan (screen). Adapun cara
penyetoran kerikil pembalut (gravel pack) adalah dibarengi dengan
sirkulasi (spulling) air yang encer supaya kerikil pembalut (gravel
pack) dapat tersusun dengan sempurna pada rongga antara konstruksi
pipa casing dengan dinding lubang bor.
VII. TAHAP PENCUCIAN DAN PEMBERSIHAN (WELL
DEVELOPMENT)
Tahap pekerjaan pencucian dan pembersihan sumur dalam
dilakukan dengan maksud untuk dapat membersihkan dinding zona
invasi akuifer erta kerikil pembalut dari partikel hlus, agar seluruh
bukaan pori atau celah akuifer dapat terbuka penuh sehinga ar tanah
dapat mengalir kedalam lubang saringan (screen) dengan sempurna.
Manfaat dari tahap Well Development ini adalah :
1. Menghilangkan atau mengurangi penyumbatan (clogging)
akuifer pada dinding lobang bor.
2. Meningkatkan porositas dan permeabilitas akuifer disekeliling
sumur dalam.
3. Menstabilakan formasi lapisan pasir disekeliling saringan,
sehingga pemompaan bebas dari kandungan pasir.
4. Pelaksanaan tahap Well Development dilakukan dengan cara :

1. Water Jetting
Peralatan yang digunakan disebut Jetting Tool, yaitu suatu alat
dari pipa yang mempunyai 4 lobang (dozzle). Alat ini dimasukkan
kedalam sumur dalam pada tiap-tiap interval saringan secara berurutan
dari bawah keatas dengan penghantar pipa bor yang dihubungkan
dengan pompa yang dihubungkan dengan pompa tekan yang
memompakan air bersih kedalam sumur dalam.
Pada pengoperasiannya, alat ini digerakkan berputar-putar atau dengan
memutar-mutar pipa penghantarnya dan naik turun sepanjang saringan
(screen).
2. Air Lift
Pada metode air lift ini dimulai dengan pelepasan tekanan udara
kedalam sumur dalam dari tekanan kecil kemudian perlahan-lahan
diperbesar. Pekerjaan air lift ini dilakukan mulai dari interval saringan
paling atas ke bawah secara berurutan hingga ke dasar sumur dalam.
VIII. TAHAP PENGECORAN (GROUTING)
Maksud dan tujuan dari tahap grouting ini adalah :
- Sebagai penguat (tumpuan) konstruksi pipa casing.
- Untuk menutup (mencegah) masuknya air permukaan (air atas)
kedalam pipa casing melalui saringan (screen).

IX. TAHAP UJI PEMOMPAAN (PUMPING TEST)


Maksud dan tujuan uji pemompaan (pumping test) ini adalah
untuk mengetahui kondisi akuifer dan kapasitas jenis sumur dalam,
sehingga dapat untuk memilih jenis serta kapasitas pompa ang sesuai
yang akan dipasang disumur dalam tersebut.

Data-data yang dicat dalam uji pemompaan adalah :


a. Muka air tanah awal (pizometrikawal)
b. Debit pemompaan
c. Penurunan muka air tanah selama pemompaan (draw-down)
d. Waktu sejak dimulai pemompaan
e. Kenaikan muka air tanah setelah pompa dimatikan
f. Waktu setelah pompa dimatikan

Uji pemompaan dilakukan melalui 2 tahap :


1) Uji pemompaan bertahap (step draw-doen test)
Uji pemompaan yang dilakukan 3 step, masing-masing selama 2 jam
dengan variasi debit yang berbeda.
2) Uji pemompaan panjang
Uji pemompaan ini umumnya dilakukan selama 2x 24 jam dengan
debit tetap.
Pada uji pemompaan ini dimbil sample air 3 kali, yaitu pada awal
pemompaan, pertengahan dan akhir pemompaan. Maksud dan tujuan
pengambilan sample air adalah untuk pemeriksaan (analisa) kualitas
air, apakah air yang dihasilkan dari sumur dalam tersebut memenuhi
standar air minum yang diizinkan.

Kualitas air yang dianalisa adalah :


- PH (keasaman atau kebasaan) air tersebut.
- Kadar unsure-unsur kimia terkandung dalam air tersebut.
- Jumlah zat pada terlarut (TDS).

X. TAHAP FINISHING
Tahap finishing meliputi :
1. Pemasangan pompa submersible permanent, panel listrik serta
instalasi kabel-kabelnya.
2. Pembuatan bak control (manhole) apabila well head posisinya
dibawah level tanah, pembuatan apron apabila well head posisinya
diatas level tanah.
3. Pembuatan instalasi perpipaan, asesoris serta Well Cover.
4. Pembersihan dan perapihan lokasi.

5. PENGELOLAAN HASIL PENGEBORAN

Melaksanakan Pemetaan Geologi terdiri dari :

 Plotting lokasi singkapan setiap traverse pada peta topografi


 Diskripsi singkapan
 Pengukuran struktur geologi ( seperti strike/dip dsb )
 Pembuatan sketsa singkapan, pengambilan contoh pemotretan bila
dipandang perlu
 Pengambilan sampel batubara dapat dilakukan dengan metode Channel atau
Trenching Membuat pit yang disesuaikan dengan kondisi dan posisi singkapan.
Sampel dikirim ke laboratorium untuk dianalisa.
 Lokasi singkapan diberi kode
 Pengukuran koordinat dan elevasi singkapan batubara dengan mengikat
terhadap titik traverseyang telah didapat dari pemetaan topografi.

Evaluasi Dan Analisa Data Geologi :

 Plotting data hasil analisis singkapan batubara pada lokasi pengambilan


sampel
Sesuai dengan kode lokasi.
 Plotiting data geologi lapangan.
 Penginterpretasikan :

Struktur Geologi
  Kemenerusan singkapan batubara.
  Pemilahan blok – blok tertentu batubara yang mempunyai kwalitas tertentu.
  jumlah lapisan dari batubara.
  Cadangan Geologi dengan batas kedalaman tertentu.
  Pola dan Arah aliran Sungai.
  Penampang Geologi.
 Memberikan saran lokasi yang perlu diteliti lebih lanjut ( seperti Pola
Distribusi lubang bor )
 Penggambaran peta Geologi dan hasil interprestasi

Pemerian Batubara yang perlu diperhatikan sebagai berikut :

 Warna ( Colour ) adalah Warna dari Batubara tersebut


 Kilap ( Bright / Luster ) , yang dinyatakan dalam derajat Prosentase Batubara
tersebut.
 Cerat ( Streak ) adalah warna dari batubara yang telah digores .
 Pecahan ( Fracture )
 Cleat ( rekahan ) , rekahan yang terdapat pada Batubara
Pemerian untuk Batuan lain yang perlu diperhatikan :

 Warna ( colour ) , warna dari lithologi baik dalam keadaan lapuk maupun
segar.
 Besar butir ( Grain Size )
 Derajat Pemilahan ( Sorting )
 Kemas
 Kandungan Mineral
 Porositas
 Semen dan massa dasar ( sementasi dan Matrix )
 Struktur Sedimen

Cara pengambilan Sample :


 Menentukan Strike / Dip dari Batubara tersebut.
 Menentukan bagian dari Roof dan Floor dari Batubara yang akan disample.
 Menentukan ketebalan dari Batubara tersebut (True Thickness)
 Setelah mengetahui ketebalan dari Batubara kemudian menentukan batas
dari sample ( Ply by Ply ) dan jumlah yang akan diambil. Serta merecord interval
sample , kode nomor sample, Lokasi pengambilan sample dan keterangan lain
pada buku diskripsi.
 Ambil sample dan masukan kedalam kantong plastik yang telah disediakan ,
serta diikat dengan kuat dan benar.
 Sample yang telah diambil dan di prepare segera dikirim ke laboratorium.

PERHITUNGAN SUMBERDAYA BATUBARA

Perhitungan Sumberdaya Batubara pada Blok Prospek mengacu pada


Klasifikasi USGS tahun 1983,
dimana kriterianya dibagi menjadi tiga yaitu :
Sumberdaya Tereka (Inferred), dimana daerah pengaruh mempunyai radius antara
1200 m – 4800 m dari titik singkapan batubara
Sumberdaya Terunjuk (Indicated), dimana daerah pengaruh mempunyai radius
antara 400 m – 1200 m dari titik singkapan batubara.
Sumberdaya Terukur (Measured), dimana daerah pengaruh mempunyai radius 400
m dari titik singkapan batubara.

Parameter-parameter yang digunakan untuk memperoleh jumlah sumberdaya


batubara ini adalah :
Panjang daerah pengaruh ke arah strike (m) = P
Lebar daerah pengaruh ke arah dip (m) = L
Tebal singkapan batubara (m) = T
Density batubara (1,3 ton/m3) = BJ
Luas penampang batubara (m2) = A
Sumberdaya (MT) = SD

Dari parameter-parameter tersebut maka dapat diketahui jumlah


sumberdayanya dengan menggunakan
Formula :
SD = P x L x T x BJ atau SD = A x T x
BJ

Pada perhitungan perkiraan di atas sumberdaya pada Blok Prospek


penyebaran batubara diasumsikan :
1. Volume tanah penutup (overburden) dan lapisan di antara lapisan batubara
(interburden), serta volume topografi belum turut diperhitungkan.
2. Penyebaran lapisan batubara dianggap ada di sepanjang radius daerah pengaruh
tanpa ada faktor koreksi
topografi dan struktur geologi.
3. Lapisan batubara dianggap menerus dan ketebalannya dihitung dari nilai rata-
rata dari data yang diperoleh
atau berdasarkan perhitungan geometri ke arah strike dan dip.
4. Density batubara adalah 1,3 ton/m3.
5. Kemiringan batubara dianggap konstan.
PERHITUNGAN POTENSI BATUBARA YANG DAPAT DITAMBANG
Untuk perhitungan potensi batubara yang dapat ditambang metoda
perhitungannya dapat di bagi menjadi 2 yaitu;
Untuk kondisi lapisan-lapisan batubara yang memiliki interburden yang
sangat tebal perhitungannya menggunakan metoda single pit (perhitungan tiap
lapisan dipisahkan antara satu lapisan dengan lapisan lain sampai pada kedalaman
tambang maksimum).
Untuk kondisi lapisan-lapisan batubara yang memiliki interburden tidak
tebal perhitungannya menggunakan metoda multiple pit (perhitungan antar lapisan
di gabungkan sampai pada kedalaman tambang maksimum).
BAB III

PENUTUP

A. Kesimpulan
Adapun kesimpulan yang dapat kami tarik dari pembahasan
mengai pengeboran eksplorasi batubara di atas ialah :
1. Pemboran adalah salah satu kegiatan penting dalam sebuah
industri pertambangan. Kegiatan pemboran biasanya dilakukan
sebelum diadakannya penambangan. Pemboran masuk dalam
kegiatan eksplorasi detail yaitu pengambila conto sistematik
dengan pemboran inti.

2. Pemboran sangat bermanfaat dalam berbagai kegiatan dalam


proses penambangan dari sebelum dilakukan kegiatan
penambangan contohnya survey tinjau dan prospeksi umum yaitu
sampling batuan sedangkan dalam proses pemanbangan pemboran
sangan di perlukan dalam proses pembokaran burden atau tanah
penutup dengan menggunakan peledak serta pemetaan geologi
daerah persebaran bahan galian.

3. Mekanisme pemboran berhubungan dengan berbagai hal seperti


jenis batuan di lapangan, kondisi geologi dan keahlian dari
operator alat itu sendiri.

4. Pemilihan alat bor didasarkan pada:


a) Jenis Batuan, dimana menentukan pemilihan alat bor,
percussive atau rotary-rushing dipakai untuk batuan
yang keras,rotarycutting dipakai untuk batuan sedimen

b) Tinggi Jenjang, parameter yang dihubungkan dengan


ukuran lainnya. Tinggi jenjanditentukan terlebih dahulu
dan parameter lainnya disesuaikan atau ditentukan
setelah mempertimbangkan aspek lainnya. Dalam
tambang terbuka dan quarry diusahakan tinggi jenjang
ditentukan terlebih dahulu, dengan beracuan pada
peralatan bor yang tersedia. Tinggi jenjang jarang
melebihi 15 meter, kecuali ada pertimbangan lain

c) Diameter Lubang Ledak, faktor penting dalam


menentukan ukuran diameter lubangledak adalah
besarnya target produksi. Diameter yang lebih besar
akan memberikan laju produksi yang tinggi. Faktor lain
yang mempengaruhi pemilihan ukuran diameter lubang
ledak adalah fragmentasi batuan yang dikehendaki dan
batasan getaran yang diijinkan.

d) Kondisi Lapangan, kondisi lapangan sangat


mempengaruhi pemilihan peralatan.

e) Fragmentasi, adalah istilah yang menggambarkan


ukuran dari pecahan batuan setelah peledakan dan pada
umumnya fagmentasi dipengaruhi oleh proses
selanjutnya.

5. Dalam kegiatan pemboran penting agar operator dapat memilih


alat bor sesui keadaan dilapangan hal ini sangat berhubungan erat
dengan skil dari oporator alat bor dan pengalaman di bagian
pemboran
DAFTAR PUSTAKA

Budiman,[Link] Eksplorasi (Batubara).


[Link] 9515113/Pemboran_Eksplorasi_Batubara_. Diakses
pada tanggal 21 April 2107 pukul 20:35. Jakarta.

Tiyono,[Link]://[Link]/2
013/09/[Link] . Diakses pada tanggal 21 April 2017pukul 21:01.
Jakarta.

ARCHIVE,[Link] [Link]://[Link].
id/2015/04/[Link]. Diakses pada tanggal 21 April 2017pukul
21:22. Jakarta

Lilief. 2011. Sistem Pengeboran. [Link] .


Diakses pada tanggal 21 April 2017 pukul 21:49. Jakarta

Common questions

Didukung oleh AI

For initial exploration of coal deposits, geological mapping uses maps with a scale of 1:25000 for geological cross-sections and outcrops, and 1:10000 for general investigation activities . For detailed exploration, more precise maps are employed with scales ranging from 1:500 to 1:2000 to gain more accurate data regarding the distribution and thickness of coal reserves .

The main stages of drilling operations in coal exploration include preparation (mobilization of equipment, site preparation), initial drilling with rotary drilling and mud flushing, logging for identifying aquifers, reaming the hole to enlarge it, casing and screen installation, gravel packing, well development, grouting for casing support, and pump testing to evaluate aquifer and well capacity .

The formulation to estimate coal resources is SD = P x L x T x BJ, where SD is the resource estimate, P is the strike distance, L is the dip distance, T is the coal seam thickness, and BJ is the coal density (1.3 ton/m3). Assumptions include consistent coal seam distribution, thickness measurement from averaged data, and a constant coal seam dip, with no topographic or geological corrections .

The staggered pattern drilling approach presents challenges primarily in the complexity of drilling operations and subsequent management. However, it is often chosen for its effectiveness in improving rock fragmentation post-explosion, making it beneficial despite its operational difficulty .

Electrical logging is conducted during the third stage of the drilling process. Its primary purpose is to identify the position of the aquifer and guide the construction of well screens based on the electrical properties of the formations encountered. It involves inserting electrodes into the borehole and measuring the dispersion of electrical currents to evaluate subsurface characteristics .

Test pits serve as a method for determining the continuation of layers vertically in the exploratory process. They are used to ascertain the persistence of layered deposits, variation in lithology, thickness, and vertical characteristics of deposits. Test pits are typically aligned along the strike direction to correlate vertical and horizontal deposition patterns and can also serve as sampling locations .

The primary goals of coal exploration drilling are to create a number of blast holes for explosive detonation and to inventory and localize the data of coal deposits in the study area. This is aimed at identifying coal outcrop locations and reporting prospect areas from field findings. If the data obtained is supportive, it can lead to further feasibility studies of the area .

In conventional coal exploration, mapping is done using scales of 1:10,000 for preliminary surveys, which allows for a general overview of geological structures. In detailed exploration, smaller scales of 1:500 to 1:2000 are used, enabling more precise and accurate captures of reserve spreads and resource assessments. This variation in scales directly influences the accuracy of resource evaluation and project planning .

Gravel packing is significant in the drilling process because it serves to filter water entering the screen, preventing the ingress of fine particles such as sand. It stabilizes the formation surrounding the screen, ensuring a steady flow of groundwater, which in turn enhances the long-term stability and efficiency of the aquifer and the well's performance .

The document outlines different types of drill bits such as Wing Bit for surface layers, Roller Cone for soft to hard layers, and Diamond Bit for very hard formations. The selection of drill bits depends on the hardness of the rock formations to be drilled. For instance, softer formations use softer coded bits, while harder formations require diamond bits . The choice also impacts operation costs significantly, including costs for the bit itself, rig costs, and round trip costs .

Anda mungkin juga menyukai