Referat
RINOSINUSITIS KRONIK
Pembimbing:
dr. Yoan Levia Magdi, [Link]-KL, FICS
Oleh:
Fadhila Khairunnisa,[Link] 04084821820040
Bianca Dwinta Daryanto,[Link] 04084821820041
DEPARTEMEN ILMU KESEHATAN THT-KL
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS SRIWIJAYA /
RSUP [Link] HOESIN PALEMBANG
2018
HALAMAN PENGESAHAN
Referat
“ Rinosinusitis Kronik ”
Fadhila Khairunnisa,[Link] 04084821820040
Bianca Dwinta Daryanto,[Link] 04084821820041
Sebagai syarat untuk mengikuti kepaniteraan klinik periode 17 September 2018 - 22
Oktober 2018 di Departemen Ilmu Kesehatan THT-KL Fakultas Kedokteran Universitas
Sriwijaya/RSUP dr. Mohammad Hoesin Palembang.
Palembang, September 2018
dr. Yoan Levia Magdi, [Link]-KL, FICS
ii
KATA PENGANTAR
Puji dan syukur kehadirat Allah SWT karena atas limpahan rahmat dan hidayah-
Nya penulis dapat menyelesaikan laporan kasus yang berjudul “Rinosinusitis Kronik”.
Shalawat serta salam selalu tercurah kepada Nabi Besar Muhammad SAW, sebagai
tauladan umat manusia.
Pada kesempatan ini, penulis mengucapkan banyak terima kasih kepada dr. Yoan
levia magdi, [Link]-KL, FICS selaku pembimbing.
Penulis menyadari banyak kekurangan dari laporan ini. Oleh karena itu, kritik dan
saran membangun sangat penulis harapkan. Demikian, semoga laporan ini tetap dapat
berkonstribusi untuk kemajuan ilmu kedokteran.
Palembang, September 2018
Penulis
iii
DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL ............................................................................................................. i
HALAMAN PENGESAHAN............................................................................................... ii
KATA PENGANTAR ......................................................................................................... iii
DAFTAR ISI ........................................................................................................................ iv
BAB I. PENDAHULUAN ..................................................................................................... 5
BAB II. TINJAUAN PUSTAKA .......................................................................................... 6
BAB III KESIMPULAN...................................................................................................... 28
DAFTAR PUSTAKA ......................................................................................................... 29
iv
BAB I
PENDAHULUAN
Rinosinusitis kronis adalah inflamasi mukosa hidung dan sinus paranasal
yang dapat ditegakkan berdasarkan riwayat gejala yang diderita sudah lebih dari
12 minggu, dan sesuai dengan 2 kriteria mayor atau 1 kriteria mayor ditambah 2
kriteria minor.
Gejala Mayor: nyeri sinus, hidung buntu, ingus purulen, post nasal drip,
gangguan penghidu, Sedangkan Gejala Minor: nyeri kepala, nyeri geraham, nyeri
telinga, batuk, demam, halitosis.
Sesuai anatomi sinus yang terkena, sinusitis dapat dibagi menjadi sinusitis
maksila, sinusitis etmoid, sinusitis frontal dan sinusitis sfenoid. Bila mengenai
beberapa sinus disebut multisinusitis, sedangkan bila mengenai semua sinus
paranasal disebut pansinusitis. Sinusitis yang paling sering ditemukan ialah
sinusitis maksila dan sinusitis etmoid, sinusitis frontal dan sinusitis sfenoid lebih
jarang.
5
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Defenisi Rinosinusitis Kronis
Rinosinusitis kronis adalah inflamasi mukosa hidung dan sinus
paranasal yang dapat ditegakkan berdasarkan riwayat gejala yang
diderita sudah lebih dari 12 minggu, yang disertai dengan 2 gejala
mayor atau 1 gejala mayor ditambah 2 gejala minor.
Gejala Mayor, yaitu nyeri sinus, hidung buntu, ingus purulen, post
nasal drip, gangguan penghidu (hiposmia/anosmia), Sedangkan Gejala
Minor adalah nyeri kepala, nyeri geraham, nyeri telinga, batuk, demam,
halitosis, rasa lemah.
Sesuai anatomi sinus yang terkena, sinusitis dapat dibagi menjadi
sinusitis maksila, sinusitis etmoid, sinusitis frontal dan sinusitis sfenoid.
Bila mengenai beberapa sinus disebut multisinusitis, sedangkan bila
mengenai semua sinus paranasal disebut pansinusitis. Sinusitis yang
paling sering ditemukan ialah sinusitis maksila dan sinusitis etmoid,
sinusitis frontal dan sinusitis sfenoid lebih jarang.
6
2.2 Anatomi Sinus Paranasal
Gambar 1. Sinus Paranasal
2.2.1 Sinus Maksila
Pada waktu lahir sinus maksila hanya berupa celah kecil
disebelah medial orbita. Mula-mula dasarnya lebih tinggi daripada
dasar rongga hidung, kemudian terus mengalami penurunan,
sehingga pada usia 8 tahun menjadi sama tinggi.
Perkembangannya berjalan kearah bawah, bentuk sempurna
terjadi setelah erupsi gigi permanen. Perkembangan maksimum
tercapai antara usia 15 dan 18 tahun. Sinus maksila atau Antrum
Highmore, merupakan sinus paranasal yang terbesar, bentuk
piramid ireguler dengan dasarnya menghadap ke fosa nasalis dan
puncaknya kearah apeks prosessus zygomaticus os maksila.
Menurut Moris pada buku anatomi tubuh manusia, ukuran rata-rata
pada bayi baru lahir 7–8 x 4–6 mm dan untuk usia 15 tahun 31–32
x 18–20 x 19–20 mm. Sinus maksila merupakan sinus paranasal
yang terbesar. Saat lahir sinus maksila bervolume 6–8 ml, sinus
7
kemudian berkembang dengan cepat dan akhirnya mencapai
ukuran maksimal, yaitu 15 ml saat dewasa.
Sinus maksila mempunyai beberapa dinding yaitu:
a. Dinding medial atau dasar antrum dibentuk oleh lamina
vertikalis os palatum, prosesus unsinatus os etmoid,
prosesus maksilaris konka inferior dan sebagian kecil
os maksilaris. Dinding medial sinus maksila merupakan
dinding lateral hidung dimana terdapat ostium sinus
yang menghubungkan sinus maksila dengan
infundibulum ethmoid. Ostium ini terletak pada bagian
superior dari dinding medial, biasanya pada
pertengahan posterior dari infundibulum, sekitar 9 mm
ke arah posterior duktus nasolakrimalis. Ujung
posterior dari ostium berlanjut ke lamina papyracea dari
tulang etmoid.
b. Dinding atas memisahkan rongga sinus dengan orbita
terdiri dari tulang yang tipis yang dilewati oleh kanalis
infra orbitalis.
c. Dinding posterior–inferior atau dasarnya biasanya
paling tebal dan dibentuk oleh bagian alveolar os
maksila atas dan bagian luar palatum durum. Dinding
posterior memisahkan sinus dari fossa infratemporal
dan fossa pterigomaksila.
d. Dinding anterior terbentuk dari fasia fasialis maksila
yang berhadapan dengan fossa kanina dan memisahkan
sinus dari kulit pipi.
e. Dasar dari sinus dibentuk oleh prosesus alveolaris
maksila. Pada anak letaknya sekitar 4 mm diatas dasar
cavum nasi , dan pada dewasa letaknya 4- 5 mm
8
dibawah dasar cavum nasi.
Proses supuratif yang terjadi disekitar gigi ini dapat menjalar ke
mukosa sinus melalui pembuluh darah atau limfe, sedangkan
pencabutan gigi ini dapat menimbulkan hubungan dengan ronggga
sinus yang akan mengakibatkan sinusitis. Anomali fasial atau sinus
yang besar dapat juga menyebabkan sinusitis kronis.
2.2.2 Sinus Frontal
Perkembangan sinus frontal dimulai pada bulan keempat
kehamilan kemudian berkembang kearah atas dari hidung pada bagian
frontal reses. Sinus ini jarang tampak pada pemeriksaan rontgen hingga
tahun kedua setelah kelahiran, kemudian sinus ini berkembang secara
lambat kearah vertikal pada tulang frontal dan telah lengkap pada usia
remaja.
Sekitar 5% dari populasi mengalami kegagalan pertumbuhan dari
sinus ini. Ukuran sinus frontal pada orang dewasa sekitar 28 x 27 x 17
mm dengan volume 6 sampai 7 ml. Sinus frontal terletak pada tulang
frontal dibatas atas supraorbital dan akar hidung. Sinus ini dibagi dua
oleh sekat secara vertikal dibatas midline dengan ukuran masing-
masing yang bervariasi. Sinus frontal sangat berhubungan erat dengan
tulang etmoid anterior.
Dinding posterior dari sinus ini melebar secara inferior obliq dan
posterior dimana nantinya akan bertemu dengan atap dari orbita.
Ostium alami dari sinus ini terletak di anteromedial dari dasar sinus.
Sel-sel infraorbita bisa terobstruksi dan membentuk mukokel yang
terisolasi dari ostium dan sinus etmoid.
2.2.3 Sinus Etmoid
Sel-sel etmoid mulai terbentuk pada bulan ketiga dan keempat
setelah kelahiran yang merupakan invaginasi dari dinding lateral
hidung pada daerah meatus medial (etmoid anterior) dan meatus
9
superior (etmoid posterior). Saat setelah lahir, biasanya tiga atau empat
sel baru tampak
Secara embriologis, sinus etmoid ini terbentuk dari lima
etmoturbinal. Kelima bagian tersebut yakni unsinatus, bula etmoid
basal lamella (ground lamella), konka superior dan konka suprema.
Sel-sel sinus etmoid ini akan tumbuh secara cepat sehingga pada
usia dewasa mencapai ukuran 20 x 22 x 10 mm pada kelompok sel
anterior dan 20 x 20 x 10 mm pada kelompok sel posterior. Sel-sel
etmoid ini biasanya mengandung 10–15 sel persisi dengan total volume
14–15 ml.
Anatomi dari sinus etmoid ini cukup kompleks, bervariasi dan
merupakan subjek penelitian yang baik. Sinus etmoid memiliki dinding
yang tipis dengan jumlah dan ukuran yang bervariasi. Pada bagian
lateral berbatasan dengan dinding medial orbita (lamina papyracea)
dan bagian medial dari kavum nasi.
Sinus ini terletak di inferior dari fossa kranial anterior dekat
dengan midline. Beberapa sel melebar mengelilingi frontal sfenoid dan
tulang maksila. Kelompok sel anterior kecil-kecil dan banyak,
drainasenya melalui meatus media, sedangkan sel-sel posterior
drainasenya melalui meatus superior .
2.2.4 Sinus Sfenoid
Sinus sfenoid mulai berkembang saat bulan ketiga setelah
kelahiran yang merupakan invaginasi dari mukosa bagian superior
posterior dari kavum nasi, yang juga dikenal sebagai sphenoethmoidal
recess. Pneumatisasi sfenoid ini terjadi selama pertengahan usia kanak-
kanak dan mengalami pertumbuhan yang cepat saat berusia 7 tahun.
Sinus ini mengalami pertumbuhan maksimal dan terhenti setelah
berusia 12 sampai 15 tahun. Sinus sfenoid kiri dan kanan yang
asimetris tersebut dibagi oleh septum intersinus. Ukuran sinus ini
10
sekitar 2,5 x 2,5 x 1,5 mm pada tahun pertama dan 14 x 14 x 12 mm
saat berusia 15 tahun. Kapasitas sinus berkisar 7,5 ml.
Sinus sfenoid ini pada bagian dinding lateralnya berbatasan dengan
arteri karotis interna, nervus optikus dan vena kavernosa serta sinus
interkavernosus. Pada daerah ini juga terdapat bagian ketiga, keempat
opthalmikus dan maksilaris dari nervus kranialis kelima dan keenam.
Dibagian superior terletak lobus frontalis dan bagian olfaktori.
Dibagian posterior terdapat fosa pituitari. Nervus dan pembuluh darah
sfenopalatina terletak didepan dari sinus sfenoid ini, sedangkan nervus
vidianus terletak dibagian inferiornya
2.3 Fisiologi Sinus Paranasal
Fungsi dari sinus paranasal masih belum diketahui dengan pasti
dan masih belum ada persesuaian pendapat. Ada yang berpendapat
bahwa sinus paranasal tidak mempunyai fungsi apa-apa karena
terbentuknya sebagai akibat pertumbuhan tulang muka.
Namun karena berhubungan langsung dengan hidung, maka sinus dapat
membantu resonansi suara, penciuman, membersihkan,
menghangatkan, melembabkan udara inspirasi, dan merubah udara
pernafasan. Kebanyakan penulis masih ragu-ragu dan menyatakan
bahwa sinus paranasal hanya berpengaruh sedikit, terutama hanya bila
menderita sakit. Ada beberapa teori yang dikemukakan sebagai fungsi
sinus paranasal:
2.3.1 Sebagai pengatur kondisi udara (air coditioning)
Sinus yang berfungsi sebagai ruang tambahan untuk
memanaskan dan mengatur kelembapan udara inspirasi.
Namun teori ini mendapat sanggahan, sebab ternyata
tidak didapati pertukaran udara yang defenitif antara
sinus dan rongga hidung .
11
Volume pertukaran udara dalam ventilasi sinus kurang
lebih 1/1000 volume sinus pada tiap kali bernafas,
sehingga dibutuhkan beberapa jam untuk pertukaran
udara total dalam sinus, lagi pula mukosa sinus tidak
mempunyai vaskularisasi dan kelenjar sebanyak
mukosa hidung.
2.3.2 Sebagai penahan suhu (thermal insulators)
Sinus paranasal berfungsi sebagai penahan (buffer)
panas, melindungi orbita dan fosa serebri dari suhu
rongga hidung yang berubah-ubah. Akan tetapi
kenyataannya sinus-sinus yang besar tidak terletak
diantara hidung dan organ-organ yang dilindungi.
2.3.3 Membantu keseimbangan kepala
Sinus membantu keseimbangan kepala karena mengurangi berat
tulang muka. Akan tetapi bila udara dalam sinus diganti dengan
tulang, hanya akan memberikan penambahan berat sebesar 1%
dari berat kepala, sehingga teori ini dianggap tidak bermakna.
2.3.4 Membantu resonansi suara
Sinus mungkin berfungsi sebagai rongga untuk resonansi suara
dan mempengaruhi kualitas suara, akan tetapi ada yang
berpendapat, posisi sinus dan ostiumnya tidak memungkinkan
sinus berfungsi sebagai resonator yang efektif, lagipula tidak ada
korelasi antara resonansi suara dan besarnya sinus pada hewan
tingkat rendah.
2.3.5 Sebagai peredam perubahan tekanan udara
Fungsi ini berjalan bila ada perubahan tekanan yang
besar dan mendadak, misalnya pada waktu bersin atau
membuang ingus.
12
2.3.6 Membantu produksi mukus
Mukus yang dihasilkan oleh sinus paranasal memang
jumlahnya kecil dibandingkan dengan mukus dari
rongga hidung, namun efektif untuk membersihkan
partikel yang turut masuk dengan udara inspirasi karena
mukus ini keluar dari meatus medius, tempat yang
paling strategis
2.4 Patofisiologi Rinosinusitis Kronis
Pada umumnya penyebab rinosinusitis adalah rinogenik, yang
merupakan perluasan infeksi dari hidung. Walaupun gejala klinis yang
dominan merupakan manifestasi gejala infeksi dari sinus frontal dan
maksila, tetapi kelainan dasarnya tidak pada sinus- sinus itu sendiri
melainkan pada dinding lateral rongga hidung.
Kompleks ostiomeatal (KOM) atau celah sempit di etmoid
anterior yang merupakan serambi muka bagi sinus maksila dan frontal
memegang peranan penting dalam terjadinya sinusitis. Bila terdapat
gangguan didaerah KOM seperti peradangan, udema atau polip maka
hal itu akan menyebabkan gangguan drainase sehingga terjadi sinusitis.
Bila ada kelainan anatomi seperti deviasi atau spina septum,
konka bulosa atau hipertrofi konka media, maka celah yang sempit itu
akan bertambah sempit sehingga memperberat gangguan yang
ditimbulkannya.
Infundibulum etmoid dan resesus frontal yang termasuk bagian
dari KOM, berperan penting pada patofisiologi sinusitis. Permukaan
mukosa ditempat ini berdekatan satu sama lain dan transportasi lendir
pada celah yang sempit ini dapat lebih efektif karena silia bekerja dari
dua sisi atau lebih.
13
Apabila terjadi udema, mukosa yang berhadapan akan saling
bertemu sehingga silia tidak dapat bergerak dan lendir tidak dapat
dialirkan, maka akan terjadi gangguan drainase dan ventilasi sinus
maksila dan frontal. Karena gangguan ventilasi, maka akan terjadi
penurunan pH dalam sinus, silia menjadi kurang aktif dan lendir yang
diproduksi menjadi lebih kental sehingga merupakan media yang baik
untuk tumbuh kuman pathogen.
Patogenesis dari rinosinusitis kronis berawal dari adanya suatu
inflamasi dan infeksi yang menyebabkan dilepasnya mediator
diantaranya vasoactive amine, proteases, arachidonic acid metabolit,
imune complek, lipolisaccharide dan lain-lain. Hal tersebut
menyebabkan terjadinya kerusakan mukosa hidung dan akhirnya
menyebabkan disfungsi mukosiliar yang mengakibatkan stagnasi
mukos dan menyebabkan bakteri semakin mudah untuk berkolonisasi
dan infeksi inflamasi akan kembali terjadi. Bakteri dapat berkembang
menjadi kuman patogen bila lingkungannya sesuai. Bila sumbatan
berlangsung terus akan terjadi hipoksia dan retensi lendir, sehingga
bakteri anaerob akan berkembang baik.
Bakteri juga akan memproduksi toksin yang akan merusak
silia. Selanjutnya dapat terjadi perubahan jaringan menjadi hipertropi,
polipoid atau terbentuk polip dan kista. Kuman didalam sinus dapat
berasal dari rongga hidung sebelum ostium tertutup ataupun merupakan
kuman komensal didalam rongga sinus. Virus dan bakteri yang masuk
kedalam mukosa akan menembus kedalam submukosa, yang diikuti
adanya infiltrasi sel polimorfonuklear, sel mast dan limfosit, kemudian
akan diikuti lepasnya zat-zat kimia seperti histamin dan prostaglandin.
Zat-zat kimia ini akan menyebabkan vasodilatasi kapiler, sehingga
permeabilitas pembuluh darah meningkat dan terjadilah udema di
submukosa.
14
Selain virus dan bakteri sebagai penyebab infeksi pada
peradangan rongga sinus juga dipengaruhi oleh faktor predisposisi lokal
dan sistemik. Faktor predisposisi lokal antara lain: septum deviasi,
udema/hipertrofi konka, rinitis alergi/rinitis vasomotor, barotrauma,
korpus alienum, rinolit dan sebagainya. Sedang faktor predisposisi
sistemik yang mempengaruhi adalah: infeksi saluran nafas atas oleh
karena virus, keadaan umum yang lemah, malnutrisi, DM yang tidak
terkontrol dan iritasi udara sekitar.
Faktor yang lebih penting untuk diketahui dan merupakan dasar
patofisiologi terjadinya infeksi sinus adalah: adanya gangguan dari
mukosa sinus, mukosa osteum sinus dan sekitarnya (komplek
ostiomeatal). Infeksi saluran nafas atas menyebabkan terjadinya reaksi
peradangan pada mukosa hidung, mukosa sinus termasuk juga mukosa
ostium sinus. Keadaan ini akan mempersempit ostium sinus yang
secara keseluruhan sudah sempit dan letaknya tersembunyi atau bahkan
menyebabkan obstruksi ostium.
Oksigen yang ada dalam rongga sinus akan diresorbsi oleh
kapiler submukosa sehingga terjadi hipoksia dan tekanan oksigen yang
rendah didalam rongga sinus. Keadaan hipooksigen juga akan
menyebabkan vasodilatasi kapiler di submukosa, permeabilitas
pembuluh darah meningkat dan terjadilah proses transudasi. Transudat
yang terbentuk sebagian diresorbsi oleh submukosa sehingga akan
menambah udema submukosa dan sebagian lagi akan terperangkap
didalam rongga sinus. Tekanan oksigen yang rendah juga akan
mengganggu fungsi sinus dimana kelumpuhan gerak silia ini akan
menambah timbunan transudat didalam rongga sinus.
Transudat yang tertimbun, kadar oksigen yang terendah, gerak
silia yang berkurang dan sempitnya ostium merupakan kondisi yang
baik untuk pertumbuhan kuman.
15
Rinosinusitis kronis berbeda dari rinosinusitis akut dalam
berbagai aspek. Rinosinusitis kronis umumnya sukar disembuhkan
dengan pengobatan medikamentosa saja. Harus dicari faktor penyebab
dan faktor predisposisinya.
Polusi bahan kimia menyebabkan silia rusak, sehingga terjadi
perubahan mukosa hidung. Perubahan mukosa hidung juga dapat
disebabkan alergi dan defisiensi imunologik. Perubahan mukosa hidung
akan mempermudah terjadinya infeksi dan infeksi menjadi kronis
apabila pengobatan pada sinusitis akut tidak sempurna.
Adanya infeksi akan menyebabkan edema konka, sehingga
drainase sekret akan terganggu. Drainase sekret yang terganggu dapat
menyebabkan silia rusak dan seterusnya.
2.5 Epidemiologi Rinosinusitis Kronis
2.5.1 Etiologi
Rinosinusitis dapat disebabkan oleh Alergi (musiman, perenial atau
karena pekerjaan tertentu), Infeksi seperti beberapa bakteri patogen
yang sering ditemukan pada kasus kronis adalah Stafilokokus 28%,
Pseudomonas aerugenosa 17% dan S. aureus 30%. Ketiganya ini
mempunyai resistensi yang tinggi terhadap antibiotik, misalnya
Pseudomonas aerugenosa resisten terhadap jenis kuinolon. Jenis kuman
gram negatif juga meningkat pada sinusitis kronis demikian juga
bakteri aerobik termasuk pada sinusitis dentogenik. Bakteri
rinosinusitis kronis paling sering adalah Peptococci, Peptostreptococci,
Bacteriodes dan Fusobacteria.
Rinosinusitis kronis juga dapat disebabkan oleh kelainan (Struktur
anatomi, seperti variasi KOM, deviasi septum, hipertrofi konka) atau
Penyebab lain (idiopatik, faktor hidung, hormonal, obat-obatan, zat
iritan, jamur, emosi, atrofi).
16
2.5.2 Epidemiologi
Pada tahun 2001, menurut laporan tahun 2004 dari US Centers for
Disease Control and Prevention lebih dari 35 juta orang dewasa
Amerika menderita rinosinusitis atau sekitar 17,4% dari seluruh orang
dewasa di Amerika Serikat, bahkan rinosinusitis kronis lebih banyak
dari penyakit jantung dan migrain, terlihat dari data dibawah ini: posisi
sinusitis diantara penyakit lain.
Di Bagian Ilmu Kesehatan THT-KL FK. Universitas Hasanuddin
Makassar, jumlah kasus rinologi periode tahun 2003 sampai dengan
tahun 2007 yaitu penderita rawat jalan sebanyak 12.557 kasus,
penderita rawat inap sebanyak 1.092 kasus dengan perbandingan antara
pria dan wanita hampir sama (46% : 54%). Kasus rawat inap yang
terbanyak yaitu rinosinusitis (41,5%), pada kelompok umur 30 – 39
tahun (23,3%).
Dewanti (2008) pada penelitiannya terhadap 118 penderita
rinosinusitis kronis Dibagian THT-KL FK. UGM/RS Dr. Sardjito
Yogyakarta tahun 2006 – 2007 didapatkan jenis kelamin laki-laki
sebanyak 68 penderita (57,6%) dan perempuan 50 penderita (42,4%).
Sinus yang paling sering terlibat adalah maksilaris 68 kasus (57,6%),
maksilaris-etmoidalis 20 kasus (16,9%) dan 13 kasus (11%) etmoidalis,
rinosinusitis unilateral 77 kasus (65,3%) dominasi dektra; dan bilateral
41 kasus (34,7%). Gejala klinis yang terbanyak ditemukan adalah
obstruksi nasi paling dominan sebanyak 65 kasus (55,1%), dan rinorea
sebanyak 34 kasus (28,8%).
Pada penelitian di poliklinik THT-KL RS. Hasan Sadikin Bandung
periode Januari 2007 sampai dengan Desember 2007 didapatkan 168
penderita rinosinusitis kronis atau sebesar 64,29% dari seluruh pasien
yang datang ke poliklinik THT-KL. Berdasarkan jenis kelamin, laki-
laki sebanyak 82 penderita (49,08%) dan perempuan 86 penderita
(50,92%)
17
2.6 Gejala dan Tanda Klinis
2.6.1 Gejala Subjektif
a. Nyeri
Sesuai dengan daerah sinus yang terkena dapat ada atau
mungkin tidak. Secara anatomi, apeks gigi-gigi depan
atas (kecuali gigi insisivus) dipisahkan dari lumen sinus
hanya oleh lapisan tipis tulang atau mungkin tanpa
tulang hanya oleh mukosa, karenanya sinusitis maksila
sering menimbulkan nyeri hebat pada gigi-gigi.
b. Sakit kepala
Merupakan tanda yang paling umum dan paling penting
pada sinusitis. Wolff menyatakan bahwa nyeri kepala
yang timbul merupakan akibat adanya kongesti dan
udema di ostium sinus dan sekitarnya.
Penyebab sakit kepala bermacam-macam, oleh karena
itu bukanlah suatu tanda khas dari peradangan atau
penyakit pada sinus. Jika sakit kepala akibat kelelahan
dari mata, maka biasanya bilateral dan makin berat
pada sore hari, sedangkan pada penyakit sinus sakit
kepala lebih sering unilateral dan meluas kesisi lainnya.
Sakit kepala yang bersumber di sinus akan meningkat
jika membungkukkan badan kedepan dan jika badan
tiba-tiba digerakkan. Sakit kepala ini akan menetap saat
menutup mata, saat istirahat ataupun saat berada
dikamar gelap.
18
Nyeri kepala pada sinusitis kronis biasanya terasa pada
pagi hari, dan akan berkurang atau hilang setelah siang
hari. Penyebabnya belum diketahui dengan pasti, tetapi
mungkin karena pada malam hari terjadi penimbunan
ingus dalam rongga hidung dan sinus serta adanya
statis vena.
c. Nyeri pada penekanan sinus
Nyeri bila disentuh dan nyeri pada penekanan jari
mungkin terjadi pada penyakit di sinus-sinus yang
berhubungan dengan permukaan wajah.
d. Gangguan penghindu
Indra penghindu dapat disesatkan (parosmia), pasien
mencium bau yang tidak tercium oleh hidung normal.
Keluhan yang lebih sering adalah hilangnya penghindu
(anosmia). Hal ini disebabkan adanya sumbatan pada
fisura olfaktorius didaerah konka media. Oleh karena
itu ventilasi pada meatus superior hidung terhalang,
sehingga menyebabkan hilangnya indra penghindu.
Pada kasus kronis, hal ini dapat terjadi akibat
degenerasi filament terminal nervus olfaktorius,
meskipun pada kebanyakan kasus, indra penghindu
dapat kembali normal setelah infeksi hilang.
2.6.2 Gejala Objektif
a. Pembengkakan dan edema.
Jika sinus yang berbatasan dengan kulit terkena secara
akut, dapat terjadi pembengkakan dan edema kulit
yang ringan akibat periostitis. Palpasi dengan jari
19
mendapati sensasi seperti pada penebalan ringan atau
seperti meraba beludru.
b. Sekret nasal
Mukosa hidung jarang merupakan pusat fokus
peradangan supuratif, sinus-sinuslah yang merupakan
pusat fokus peradangan semacam ini.
Adanya pus dalam rongga hidung seharusnya sudah
menimbulkan kecurigaan adanya suatu peradangan
dalam sinus. Pus di meatus medius biasanya merupakan
tanda terkenanya sinus maksila, sinus frontal atau sinus
etmoid anterior, karena sinus-sinus ini bermuara ke
dalam meatus medius.
2.7 Pemeriksaan
2.7.1 Pemeriksaan fisik
Pemeriksaan palpasi turut membantu menemukan nyeri
tekan pada daerah sinus yang terkena disamping
pemeriksan rinoskopi anterior dan rinoskopi posterior.
2.7.2 Transiluminasi
Transluminasi mempuyai manfaat yang terbatas, hanya
dapat dipakai untuk pemeriksaan sinus maksila dan
sinus frontal, bila fasilitas pemeriksaan radiologik tidak
tersedia.
2.7.3 Pemeriksaan radiologi
a. Foto rontgen sinus paranasal
Pemeriksaan radiologik yang dapat dibuat
antara lain: Waters, PA dan Lateral. Tepi mukosa sinus
20
yang sehat tidak tampak pada foto rontgen, tetapi jika
ada infeksi tepi mukosa akan tampak karena udema
permukaan mukosa. Permukaan mukosa yang
membengkak dan udema tampak seperti suatu densitas
yang paralel dengan dinding sinus.
Pembengkakan permukaan mukosa yang berbatas tegas
pada resesus alveolaris antrum maksila biasanya terjadi
akibat infeksi yang berasal dari gigi atau daerah
periodontal.
Jika cairan tidak mengisi seluruh rongga sinus, selalu
dapat dilihat adanya batas cairan (air fluid level) pada
foto dengan posisi tegak
b. CT-Scan (Computer Tomography) sinus paranasal
Sinus maksila, rongga hidung, septum nasi dan konka
terlihat pada penampang CT-Scan aksial dan koronal.
Pada sinusitis dengan komplikasi, CT-Scan adalah cara
yang terbaik untuk memperlihatkan sifat dan sumber
masalah.
CT-Scan koronal dari sinus paling baik untuk
pembedahan, memberikan visualisasi yang baik tentang
anatomi rongga hidung, komplek osteomeatal, rongga-
rongga sinus dan struktur-struktur yang
mengelilinginya seperti orbita, lamina kribiformis, dan
kanalis optikus. Obstruksi anatomi pada komplek
osteomeatal dan kelainan-kelainan gigi akan terlihat
jela.
CT-Scan dapat menilai tingkat keparahan
inflamasi dengan menggunakan sistem gradasi yaitu
21
staging Lund-Mackay. Sistem ini sangat sederhana
untuk digunakan secara rutin dan didasarkan pada skor
angka hasil gambaran CT scan.
c. Nasoendoskopi
Nasoendoskopi ini akan mempermudah dan
memperjelas pemeriksaan karena dapat melihat bagian-
bagian rongga hidung yang berhubungan dengan faktor
lokal penyebab sinusitis.
Pemeriksaan nasoendoskopi dapat melihat adanya
kelainan septum nasi, meatus media, konka media dan
inferior, juga dapat mengetahui adanya polip atau
tumor.
2.8 Diagnosis
Kriteria klinik rinosinusitis kronis menurut
American Academy of Otolaryngic Allergy (AAOA),
dan American Rhinologic Society (ARS) adalah
rinosinusitis yang berlangsung lebih dari 12 minggu
dengan 2 gejala mayor atau lebih atau 1 gejala mayor
disertai 2 gejala minor atau lebih .
Berdasarkan gejala Task Force on
Rinosinusitis, gejala mayor skor diberi skor 2 dan
gejala minor skor 1, sehingga didapatkan skor gejala
klinik sebagai berikut; Gejala Mayor: Nyeri sinus =
skor 2, Hidung buntu = skor 2, Ingus purulen = skor 2,
Post nasal drip = skor 2, Gangguan penghidu = skor 2,
Sedangkan Gejala Minor: Nyeri kepala = skor 1, Nyeri
geraham = skor 1, Nyeri telinga = skor 1, Batuk = skor
22
1, Demam = skor 1, Halitosis = skor 1 dan skor total
gejala klinik = 16 Pengukuran skor total gejala klinik
dikelompokkan menjadi dua, yaitu; sedang-berat (skor
≥8), dan ringan (skor <8) dengan Skor total gejala
klinik: skala nominal.
2.9 Penatalaksanaan
Jika pada pemeriksaan ditemukan adanya faktor
predisposisi seperti deviasi septum, kelainan atau
variasi anatomi KOM, hipertrofi adenoid pada anak,
polip, kista, jamur, gigi penyebab sinusitis, dianjurkan
untuk melakukan penatalaksanaan yang sesui dengan
kelainan yang ditemukan.
Jika tidak ditemukan faktor predisposisi, diduga
kelainan adalah bakterial yang memerlukan pemberian
antibiotik dan pengobatan medik lainnya.
2.9.1 Medikamentosa
a. Antibiotika
Meskipun tidak memegang peran penting,
antibiotika dapat diberikan sebagai terapi awal.
Pilihan antibiotika harus mencakup - laktamase
seperti pada terapi sinusitis akut lini ke II, yaitu
amoksisillin klavulanat atau ampisillin sulbaktam,
sefalosporin generasi kedua, makrolid, klindamisin.
Jika ada perbaikan antibiotik diteruskan mencukupi
10 – 14 atau lebih jika diperlukan.
Jika tidak ada perbaikan dapat dipilih antibiotika
alternatif seperti siprofloksasin, golongan kuinolon
23
atau yang sesuai dengan kultur. Jika diduga ada
bakteri anaerob, dapat diberi metronidazol
Jika dengan antibiotika alternatif tidak ada
perbaikan, maka eveluasi kembali apakah ada faktor
predisposisi yang belum terdiagnosis dengan
pemeriksaan nasoendoskopi maupun CT-Scan.
2.9.2 Terapi Medik Tambahan
Dekongestan, Dekongestan berperan penting
sebagai terapi awal mendampingi antibiotik.
Dekongestan oral menstimulasi reseptor - adrenergik
dimukosa hidung dengan efek vasokontriksi yang dapat
mengurang keluhan sumbatan hidung, meningkatkan
diameter ostium dan meningkatkan ventilasi.
Preparat yang umum adalah pseudoefedrine dan
phenyl- propanolamine. Karena efek peningkatan
tekanan darah tinggi dan penyakit jantung harus
dilakukan dengan hati-hati.
Dekongestan topikal mempunyai efek yang
lebih cepat terhadap sumbatan hidung, namun efeknya
ini sebetulnya tidak fisiologik dan pemakaian jangka
lama (lebih dari 7 hari) akan menyebabkan rinitis
medika mentosa.
Antihistamin, Alergi berperan sebagai penyebab
sinusitis kronis pada lebih dari 50% kasus, karenanya
penggunaan antihistamin justru dianjurkan, demikian
juga kemungkinan imunoterapi.
Karena antihistamin generasi pertama
mempunyai efek antikolinergik yang tinggi, generasi
24
kedua lebih disukai seperti azelastine, acrivastine,
cetirizine, fexofenadine dan loratadine.
Kortikosteroid, ada 2 jenis kortikosteroid, yaitu
kortikosteroid topikal dan kortikosteroid oral,
kortikosteroid topikal mempunyai efek lokal terhadap
bersin, sekresi lendir, sumbatan hidung dan
hipo/anosmia. Penemuannya merupakan perkembangan
besar dalam pengobatan rinitis dan sinusitis.
Penggunaannya kortikosteroid topikal meluas
pada kelainan alergi dan non-alergi. Meskipun obat
semprot ini tidak mencapai komplek osteomeatal,
keluhan pasien berkurang karena udema di rongga
hidung dan meatus medius hilang.
Sedangkan kortikosteroid oral dapat mencapai
seluruh rongga sinus. Terapi singkat selama dua
minggu sudah efektif menghilangkan beberapa keluhan.
Preparat oral dapat diberikan mendahului yang topikal,
obat oral dapat membuka sumbatan hidung terlebih
dahulu sehingga distribusi obat semprot merata.
2.9.3 Penatalaksanaan Operatif
Sinusitis kronis yang tidak sembuh dengan
pengobatan medik adekuat dan optimal serta adanya
kelainan mukosa menetap merupakan indikasi
tindakan bedah. Beberapa macam tindakan bedah
mulai dari antrostomi meatus inferior, Caldwel-Luc,
trepanasi sinus frontal, dan Bedah Sinus Endoskopi
Fungsional (BSEF) dapat dilaksanakan.
25
Bedah sinus konvensional tidak memperlihatkan
usaha pemulihan drainase dan ventilasi sinus melalui
ostium alami. Namun dengan berkembangnya
pengetahuan patogenesis sinusitis, maka berkembang
pula modifikasi bedah sinus konvensional misalnya
operasi Caldwel-Luc yang hanya mengangkat
jaringan patologik dan meninggalkan jaringan normal
agar tetap berfungsi dan melakukan antrostomi
meatus medius sehingga drainase dapat sembuh
kembali.
Bedah Sinus Endoskopi Fungsional (BSEF)
merupakan kemajuan pesat dalam bedah sinus. Jenis
operasi ini lebih dipilih karena merupakan tindakan
konservatif yang lebih efektif dan fungsional.
Keuntungan BSEF adalah penggunaan endoskop
dengan pencahayaan yang sangat terang, sehingga
saat operasi kita dapat melihat lebih jelas dan rinci
adanya kelainan patologi dirongga-rongga sinus.
Jaringan patologik yang diangkat tanpa melukai
jaringan normal dan ostium sinus yang tersumbat
diperlebar. Dengan ini ventilasi sinus lancar secara
alami, jaringan normal tetap berfungsi dan kelainan
didalam sinus maksila dan frontal akan sembuh
sendiri
2.10 Komplikasi
Kompikasi rinosinusitis telah menurun secara nyata sejak
ditemukan antibiotika. Komplikasi yang dapat terjadi ialah:
A. Osteomielitis dan abses subperiostal
26
Paling sering timbul akibat sinusitis frontal dan biasanya
ditemukan pada anak-anak. Pada osteomielitis sinus maksila
dapat timbul fistula oroantral.
B. Kelainan Orbita
Disebabkan oleh sinus paranasal yang berdekatan dengan
mata (orbita). Yang paling sering ialah sinusitis etmoid,
kemudian sinusitis frontal dan maksila
Penyebaran infeksi terjadi melalui tromboflebitis dan
perkontinuitatum. Variasi yang dapat timbul ialah udema
palpebra, selulitis orbita, abses subperiostal, abses orbita dan
selanjutnya dapat terjadi trombosis sinus kavernosus.
C. Kelainan Intrakranial
Dapat berupa meningitis, abses ektradural, abses otak dan
trombosis sinus kavernosus.
D. Kelainan Paru
Seperti bronkitis kronis dan brokiektasis. Adanya kelainan
sinus paranasal disertai denga kelainan paru ini disebut
sinobronkitis. Selain itu dapat juga timbul asma bronchial.
2.11 Prognosis
Karena sifatnya yang persisten, sinusitis kronis dapat menjadi penyebab
morbiditas yang signifikan. Jika tidak ditangani, itu dapat mengurangi kualitas
hidup dan produktivitas orang yang terkena.
Sinusitis kronis dikaitkan dengan eksaserbasi asma dan komplikasi
serius seperti abses otak dan meningitis, yang dapat menyebabkan morbiditas dan
mortalitas yang signifikan. Perawatan medis awal dan agresif untuk sinusitis
kronis biasanya menghasilkan hasil yang memuaskan. Bedah sinus endoskopi
27
fungsional (FESS) memulihkan kesehatan sinus dengan relief gejala yang lengkap
atau sedang pada 80-90% pasien dengan sinusitis kronik yang berulang atau tidak
responsif secara medis.
Sinusitis kronis jarang mengancam jiwa, meskipun komplikasi serius
dapat terjadi karena kedekatannya dengan orbit dan rongga tengkorak. Sekitar
75% dari semua infeksi orbital terkait langsung dengan sinusitis. Komplikasi
intrakranial tetap relatif jarang, dengan 3,7-10% infeksi intrakranial yang
berhubungan dengan sinusitis.
BAB III
KESIMPULAN
Rinosinusitis kronik pada orang dewasa merupakan salah satu masalah
kesehatan yang sering didapatkan dan memberikan dampak bagi kualitas
hidup penderita. Gejala Mayor, yaitu nyeri sinus, hidung buntu, ingus
purulen, post nasal drip, gangguan penghidu (hiposmia/anosmia), Sedangkan
Gejala Minor adalah nyeri kepala, nyeri geraham, nyeri telinga, batuk,
demam, halitosis, rasa lemah.
Patofisiologi rinosinusitis kronik pada orang dewasa bersifat
multifaktorial dan faktor predisposisi terjadinya dapat dibedakan menjadi
faktor fisiologik/genetik, faktor lingkungan dan faktor struktural. Diagnosis
ditetapkan berdasarkan kombinasi kriteria obyektif dan subyektif serta
ditunjang oleh pemeriksaan endoskopi nasal dan CT-scan (bila diperlukan).
Modalitas terapi rinosinusitis kronik pada orang dewasa dibedakan
menjadi terapi medikamentosa dan terapi pembedahan. Sinusitis kronis
dikaitkan dengan eksaserbasi asma dan komplikasi serius seperti abses otak
dan meningitis, yang dapat menyebabkan morbiditas dan mortalitas yang
signifikan. Sinusitis kronis jarang mengancam jiwa, meskipun komplikasi
serius dapat terjadi karena kedekatannya dengan orbit dan rongga tengkorak.
28
29
DAFTAR PUSTAKA
1. Adams GL. Boies LR, Jr. Highler PA. Boies Buku Ajar THT. Edisi 7.
Effendi H. Santoso RAK. Editor. Penerbit Buku Kedokteran EGC.
[Link].467-468.
2. Asroel, Harry A. Ekstraksi Benda Asing di Bronkus dan Esofagus.
Majalah Kedokteran Nusantara. Volume 4; 2. 2007.
3. Bailey BJ, JT Johnson. Head and Neck [Link]
2. Lippincot Williams & Wilkins. Philadelphia.2006:2113-14
4. Cahyono A., Yunizaf M. Aspirasi benda asing jarum di bronkus.
Kumpulan naskah ilmiah pertemuan ilmiah tahunan perhati. Malang:
Immanuel Press.1996.
5. Callender T. Laryngo-tracheo-bronchial foreign bodies, 1992. Available at
[Link]
6. Giannoni CM. Foreign bodies aspiration. 1994. Available at
[Link]
7. Lalwani, Anil K. Current Diagnosis and Treatment : Otolaryngology Head
and Neck Surgery. Volume 2. Kristina W. Rosbe, MD. New York. 2008.
pp. 523-526.
8. Mangunkusumo E, Wardani SR. Soepardi E, Iskandar N, eds. Buku Ajar
Ilmu Kesehatan Telinga Hidung Tenggorok Kepala dan Leher. Edisi ke-6.
Jakarta : BP FK UI. 2007 : 123-125.
9. Murray AD. Foreign bodies of airway. 2006. Available at
[Link]
10. Snow, James B. Ballenger’ Manual of Otorhinolaryngology Head and
Neck Surgery. Volume 2. Hamilton. 2002. pp. 546-549.
11. Soepardi EA. Disfagia. Dalam Buku Ajar Ilmu Kesehatan Telinga Hidung
Tenggorok Kepala dan Leher. Editor: Soepardi EA, Iskandar N,
Bashiruddin J, Restuti RD. Edisi ke 6. Jakarta: FKUI. 2007. h. 276-302.
30
12. Trihastuti, H. Profil Paien Rinosinusitis Kronik di Poliklinik THT-KL
RSUP Dr. M. Djamil Padang. Jurnal Kesehatan Andalas. Volume 4
Nomor 3. [Link]
13. Yunizaf, M. Buku Ajar Ilmu Kesehatan Telinga Hidung dan Tenggorokan.
Edisi 6. Soepardi, EA., Iskandar, N. Editor. Balai Penerbit FKUI. Jakarta.
2007. pp. 259-265.
31