INFLAMASI
Inflamasi adalah suatu respon protektif setempat yang ditimbulkan oleh kerusakan pada
jaringan yang disebabkan oleh trauma fisik, zat kimia yang merusak, atau zat mikrobiologik.
Inflamasi berfungsi untuk menghancurkan, mengurangi, atau melokalisasi (sekuster) baik agen
yang merusak maupun jaringan yang rusak(Agustina,2015).
Radang atau inflamasi adalah respon fisiologis terhadap infeksi dan cedera jaringan, radang
juga menginisiasi pembunuhan patogen, proses perbaikan jaringan dan membantu mengembalikan
homeostasis pada tempat yang terinfeksi atau cedera. Jika respon antiinflamasi gagal beregulasi,
dapat mengakibatkan cedera kronis dan membantu perkembangan penyakit yang terkait (Calder
et al., 2009).
Penyebab inflamasi antara lain mikroorganisme, trauma mekanis, zat-zat kimia, dan
pengaruh fisika. Tujuan akhir dari respon inflamasi adalah menarik protein plasma dan fagosit ke
tempat yang mengalami cedera atau terinvasi agar dapat mengisolasi, menghancurkan, atau
menginaktifkan agen yang masuk, membersihkan debris dan mempersiapkan jaringan untuk
proses penyembuhan (Corwin, 2008).
Menurut Coyne (1970), respon inflamasi terjadi dalam tiga fase, yaitu (1) peningkatan
permeabilitas vaskuler yang menyebabkan udema, (2) infiltrasi leukosit dan fagositosis, dan (3)
ploriferasi fibrolast, sintesis jaringan penghubung baru untuk memperbaiki kerusakan. Inflamasi
dapat berupa inflamasi akut atau inflamasi kronik tergantung pada sifat cedera (Spector & Spector,
1993).
1. Inflamasi akut
Inflamasi akut hanya terbatas pada tempat inflamasi dan menimbulkan tanda-tanda
serta gejala lokal. Inflamasi akut merupakan respon langsung dan dini terhadap agen
inflamasi (Robbins & Kumar, 1995). Perubahan permeabelitas vaskuler disertai
keluarnya protein plasma dan sel darah putih ke dalam jaringan. Sel darah putih yang
aktif adalah neutrofil dan leukosit. Tempat utama emigrasi sel darah putih adalah
pertemuan antar sel endotel. Biasanya inflamasi akut ditandai dengan penimbunan
neutrofil dalam jumlah banyak (Robbins & Kumar, 1995).
2. Inflamasi kronik
Inflamasi kronik terjadi karena rangsang yang menetap, seringkali selama beberapa
minggu atau bulan, menyebabkan infiltrasi sel-sel mononuklear dan proliferasi
fibroblast. Inflamasi kronik dapat timbul melalui satu atau dua jalan, dapat juga timbul
mengikuti proses inflamasi akut atau responnya sejak awal bersifat kronis. Perubahan
inflamasi akut menjadi kronik berlangsung bila inflamasi akut tidak dapat reda yang
disebabkan oleh agen penyebab inflamasi yang menetap atau terdapat gangguan pada
proses penyembuhan normal. Inflamasi kronik ditandai dengan adanya sel-sel
mononuklear yaitu makrofag, limfosit dan sel plasma (Robbins & Kumar, 1995).
Tanda-tanda radang mencakup rubor (kemerahan), kalor (panas), dolor (rasa sakit), dan
tumor (pembengkakan). Tanda pokok yang kelima ditambahkan pada abad terakhir yaitu functio
laesa (perubahan fungsi) (Abrams, 1995; Rukmono, 1973; Mitchell & Cotran, 2003).
1. Rubor
Rubor atau kemerahan merupakan hal pertama yang terlihat di daerah yang mengalami
peradangan. Saat reaksi peradangan timbul, terjadi pelebaran arteriola yang mensuplai
darah ke daerah peradangan. Dengan demikian, lebih banyak darah mengalir ke
mikrosirkulasi lokal dan kapiler meregang dengan cepat terisi penuh dengan darah.
Keadaan ini disebut hiperemia atau kongesti, menyebabkan warna merah lokal karena
peradangan akut. Timbulnya hyperemia pada permulaan reaksi peradangan diatur oleh
tubuh baik secara neurogenik maupun secara kimia, melalui pengeluaran zat seperti
histamin (Abrams, 1995; Rukmono, 1973).
2. Kalor
Kalor atau panas terjadi bersamaan dengan kemerahan dari reaksi peradangan yang hanya
terjadi pada permukaan tubuh, yang dalam keadaan normal lebih dingin dari 37 °C yaitu
suhu di dalam tubuh. Daerah peradangan pada kulit menjadi lebih panas dari sekelilingnya
sebab darah yang disalurkan tubuh kepermukaan daerah yang terkena lebih banyak
daripada yang disalurkan kedaerah normal. Fenomena panas lokal ini tidak terlihat pada
daerah-daerah yang terkena radang jauh di dalam tubuh, karena jaringan-jaringan tersebut
sudah mempunyai suhu inti 37°C, hyperemia lokal tidak menimbulkan perubahan
(Abrams, 1995; Rukmono, 1973).
3. Dolor
Dolor atau rasa sakit, dari reaksi peradangan dapat dihasilkan dengan berbagai cara.
Perubahan pH lokal atau konsentrasi lokal ion-ion tertentu dapat merangsang ujung-ujung
saraf. Pengeluaran zat seperti histamin atau zat bioaktif lainnya dapat merangsang saraf.
Rasa sakit disebabkan pula oleh tekanan yang meninggi akibat pembengkakan jaringan
yang meradang. Pembengkakan jaringan yang meradang mengakibatkan peningkatan
tekanan lokal yang tanpa diragukan lagi dapat menimbulkan rasa sakit (Abrams, 1995;
Rukmono, 1973).
4. Tumor
Pembengkakan sebagian disebabkan hiperemi dan sebagian besar ditimbulkan oleh
pengiriman cairan dan sel-sel dari sirkulasi darah ke jaringan-jaringan interstitial.
Campuran dari cairan dan sel yang tertimbun di daerah peradangan disebut eksudat
meradang. Pada keadaan dini reaksi peradangan sebagian besar eksudat adalah cair, seperti
yang terjadi pada lepuhan yang disebabkan oleh luka bakar ringan. Kemudian sel-sel darah
putih atau leukosit meninggalkan aliran darah dan tertimbun sebagai bagian dari eksudat.
(Abrams, 1995; Rukmono, 1973).
5. Functio Laesa
Berdasarkan asal katanya, functio laesa adalah fungsi yang hilang (Dorland, 2002). Functio
laesa merupakan reaksi peradangan yang telah dikenal. Akan tetapi belum diketahui secara
mendalam mekanisme terganggunya fungsi jaringan yang meradang (Abrams, 1995).