STRATEGI & PENDEKATAN DALAM
PENGEMBANGAN MASYARAKAT
Aspek Sosial dan Pengembangan Komunitas
1. Pengembangan
Masyarakat sebagai
Pembangunan Alternatif
2. Strategi Pengembangan
OUTLINE
Masyarakat
3. Pendekatan
Pengembangan
Masyarakat
PENGEMBANGAN MASYARAKAT SEBAGAI PEMBANGUAN
AKTERNATIF
Strategi dan Pendekatan Pengembangan Masyarakat merujuk
kepada “pergeseran paradigma” (“Production centered development”
“People centered development”)
Pengembangan masyarakat sebagai “pembangunan alternatif”
berlandaskan kepada :
Pembangunan berbasis komunitas (Community based
development)
Dimensi berkelanjutan (Sustainability)
Partisipatoris (Participatory)
Pengembangan kapital sosial (Social capital)
Menghapus ketimpangan gender
PEMBANGUNAN BERBASIS KOMUNITAS
Mengembangkan dan mendorong struktur masyarakat
agar berdaya dan menentang “struktur penindasan”
melalui regulasi yang berlandaskan pada keadilan sosial
Mengimplementasikan pembangunan tingkat lokal
menyatu dengan budaya lokal
Bukan memaksakan suatu model pembangunan
Menyertakan partisipasi warga lokal
DIMENSI BERKELANJUTAN
Environmental sustainability diversity &
conservation
Economic sustainability equity & property rights
Social sustainability empowerment & self
reliance
“Institutional sustainability”
PARTISIPATORIS
Pendekatan pembangunan partisipatoris harus dimulai dari
orang-orang yang paling mengetahui sistem kehidupan mereka
sendiri
Partisipasi transformasional (bukan partisipasi instrumental):
partisipasi dipandang sebagai tujuan, dan sebagai sarana
mencapai tujuan yang lebih tinggi (swadaya dan berkelanjutan)
Partisipasi yang dikonstruksikan dalam kerangka good
governance system
PENGEMBANGAN KAPITAL SOSIAL
Membangun dan menciptakan trust
Mengembangkan jejaring sosial (networking)
Berbasiskan norma-norma masyarakat (norms)
STRATEGI PENGEMBANGAN MASYARAKAT
Berdasarkan asumsi-asumsi : (1) Karakteristik
komunitas; (2) Relasi kekuasaan; dan (3) Sikap
dan sistem nilai klien, maka strategi
pengembangan masyarakat (Chin & Benne, 1961) :
1. Rational-empirical
2. Normative-reeducative
3. Power-coercive
1. Rational-empirical
Asumsi yang digunakan:
• Manusia makhluk rasional
• Manusia akan mengikuti kepentingan dirinya yang
rasional
• Manusia akan menerima perubahan jika perubahan
tsb dapat diterima dan dibenarkan scr rasional.
Tujuan: perubahan pengetahuan melalui informasi/
dasar pemikiran intelektual
2. Normative-Reeducative
Asumsi yang digunakan:
• Pola tindakan & perilaku warga masy. Didukung oleh
norma social budaya, komitmen individu didukung
oleh sikap & sistem nilai (pandangan normative
memperkuat komitmen mereka)
• Perubahan pola perilaku/ tindakan masy. Hanya akan
terjadi jika org dapat digerakkan hatinya utk
mengubah orientasi normative thd pola lama &
mengembangkan komitmen pd pola baru.
Tujuan: perubahan sikap, perasaan dan pola hubungan
3. Power-Coercive
Asumsi yang digunakan:
• Manusia akan mengikuti keinginan dr pihak lain yang
dipandang berkuasa lebih besar
• Masy. Memiliki intelektual yg rendah
• Manusia akan mengikuti perubahan yg terjadi ketika tidak
memiliki daya tawar & kemampuan untuk mengoreksi
• Unsur yang digunakan: kekuasaan politik, ekonomi, moral
Tujuan: perubahan orientasi dan kemauan mengikuti arahan
perubahan
STRATEGI PENGEMBANGAN MASYARAKAT DALAM
KERANGKA PARADIGM SHIFT
“Meningkatkan kemampuan dan potensialitas warga
dalam rangka membangun semangat berpartisipasi
mereka dalam proses pengambilan keputusan terhadap
masalah-masalah yang berpengaruh terhadap
kehidupannya dan mengimplementasikan keputusan
tersebut”
Mengembangkan pemberdayaan masyarakat BUKAN
mempertahankan hubungan ketergantungan antara
komunitas dengan stakeholder lainnya (pemerintah,
LSM, dan swasta)
ASUMSI-ASUMSI DASAR STRATEGI
PENGEMBANGAN MASYARAKAT
PRODUCTION CENTERED PEOPLE CENTERED
ASUMSI DEVELOPMENT DEVELOPMENT
(Pembangunan Konvensional) (Pembangunan Alternatif)
Asumsi Berangkat dari pandangan bahwa Komunitas dibangun bukan karena
tentang komunitas terbelakang, mereka bodoh dan tidakmampu.
Masyarakat pengetahuannya rendah, tradisional, Akan tetapi kemampuan yang
(Komunitas) dan bodoh tersedia perlu dioptimalkan agar
Untuk memajukan mereka diperlukan mereka berkembang sesuai dengn
pengetahuan dari luar pengetahuan mereka
Pengetahuan lokal (local knowledge)
dan teknologi tepat guna sebagai
basis pengembangan mereka.
PRODUCTION CENTERED PEOPLE CENTERED
ASUMSI DEVELOPMENT DEVELOPMENT
(Pembangunan Konvensional) (Pembangunan Alternatif)
Konsekuensi Perencanaan bersifat top-down dan Lebih menekankan pada aspek
Perencanaan sentralistis lokalitas
Direncanakan oleh tenaga ahli atau Perencanaan dilakukan secara
akademisi tanpa mempertimbangkan otonomi, berdasarkan potensi
apa yang dimiliki masyarakat lokalitas dengan menyertakan
Lebih mengutamakan perencanaan masyarakat untuk berpartisipasi
untuk pertumbuhan ekonomi. Hal ini dalam perencanaan
didasarkan pada keyakinan bahwa Pemikiran otonomi lebih
kemajuan masyarakat diukur menurut ditekankan pada perencanaan
kemajuan ekonomi semata kegiatan berdasarkan
kebutuhan masing-masing
PRODUCTION CENTERED PEOPLE CENTERED
ASUMSI DEVELOPMENT DEVELOPMENT
(Pembangunan Konvensional) (Pembangunan Alternatif)
Konsekuensi Menempatkan birokrat ataupun tenaga Menempatkan birokrat ataupun
Perlakuan ahli dari luar sebagai pihak yang dilayani tenaga ahli dari luar sebagai
terhadap masyarakat karena mereka dianggap pengatur kepentingan
Masyarakat telah berbuat banyak untuk kepentingan masyarakat dan sebagai aktor
komunitas yang melakukan fungsi
pelayanan sesuai kebutuhan
masyarakat
Implikasi bagi Menjadikan masyarakat sangat Sejak awal mengakomodasi
Kehidupan bergantung pada pemerintah daya kritis masyarakat
Sosial Memendam konflik semu yang setiap Masyarakat mampu menolak
saat bisa menjadi ledakan konflik jika terjadi tekanan atau
kepentingan eksploitasi dari luar yang tidak
menguntungkan mereka
PENDEKATAN PENGEMBANGAN MASYARAKAT
Beragam Pendekatan Pengembangan Masyarakat
dapat Diklasifikasikan sebagai “3 basic models”
(Rothman, 1970) :
(1) Pembangunan Lokalitas (Locality Development)
(2) Perencanaan Sosial (Social Planning)
(3) Aksi Sosial (Social Action)
THREE APPROACHES OF
COMMUNITY DEVELOPMENT
(CHRISTENSON & ROBINSON, 1989)
1. The Self-Help Approach
2. The Technical Assistance Approach
3. The Conflict Approach
Roles of Task/
Typical Speed of Sustainability
Approaches Change Process
Clientele Change of Change
Agent Orientation
Self-Help Facilitat Process Middle- Slow Excellent
or, class
educato
r
Technical Advisor, Task Leaders, Moderat Good
Assistance consulta adminis e
nt tra-tors
Conflict Organiz Process Poor, Fast Weak
er, and task minoriti
advocat es
ENAM PENDEKATAN UNTUK PENGEMBANGAN
MASYARAKAT
(LONG ET AL., 1973)
1. The Community Approach
2. The Information Self-Help Approach
3. The Special-Purpose, Problem-Solving Approach
4. The Demonstration Approach
5. The Experimental Approach
6. The Power-Conflict Approach
THE COMMUNITY APPROACH (CA)
CA berlandaskan kepada partisipasi penduduk
lokalitas
CA menekankan kepada partisipasi anggota
komunitas dalam penetapan & pemecahan
masalah melalui prosedur demokratis &
kepemimpinan lokal
THE INFORMATION SELF-HELP
APPROACH (ISHA)
Dalam ISHA beragam informasi dimanfaatkan oleh
partisipan yang berpengetahuan dalam kehidupan
komunitas yang dapat menciptakan perbedaan
arahan & kualitas hidup
Komunitas dikonseptualisasikan sebagai “systemic
stream”
ISHA menekankan kepada pemahaman yang baik
dari anggota komunitas tentang proses-proses & isu
THE SPECIAL-PURPOSE, PROBLEM-SOLVING
APPROACH (SPPS)
Pendekatan SPPS berlandaskan kepada
pertimbangan rasional bersama untuk pemecahan
masalah
CD dipandang sebagai suatu “expertise” yang
mengimplementasikan metode pemecahan
masalah terhadap masalah & kebutuhan spesifik
agar terjadi perubahan yang cepat atas komunitas
tersebut
THE DEMONSTRATION APPROACH (DA)
Dalam DA, CD merupakan proses pengkajian &
pengambilan keputusan kelompok untuk mencapai
kesejahteraan sosial, ekonomi, dan budaya dalam
komunitas;
DA menggunakan metode-metode display untuk
menunjukkan prosedur kerja tertentu yang mungkin
menghasilkan sesuatu perubahan; dan
Aplikasi penting dari DA adalah dalam adaptasi model
untuk tujuan-tujuan anggota komunitas
THE EXPERIMENTAL APPROACH (EA)
EA berlandaskan kepada suatu prinsip bahwa
pengembangan teori tidak dapat dipisahkan dari
proses pengembangan di lapangan;
EA secara metodologis didisain “compatible”
dengan pendekatan lain dalam CD;
EA menghasilkan suatu framework yang dapat
memverifikasi & menetapkan prosedur CD yang
kemudian dicoba di lapangan
THE POWER-CONFLICT APPROACH (PCA)
PCA adalah suatu pendekatan yang didisain untuk
membantu mengembangkan suatu framework yang akan
mensintesis beberapa komponen yang mempengaruhi
intervensi komunitas sehingga mampu menciptakan suatu
unit yang komprehensif & managable;
Dalam PCA kekuasaan dipahami sebagai titik pusat
perubahan komunitas; dan
PCA memandang CD sebagai suatu bentuk intervensi sosial
& memiliki suatu organisasi komunitas yang menekankan
kepada aksi & sumberdaya lokal
CONTOH-CONTOH IMPLEMENTASI
PENGEMBANGAN MASYARAKAT
1. Pengembangan Masyarakat Berbasis Gerakan
Keagamaan
2. Pengembangan Masyarakat Berbasis Gerakan
Perempuan
3. Pengembangan Masyarakat Berbasis Penerapan
Teknologi Tepat Guna
4. Pengembangan Masyarakat Berbasis Program
Pengentasan Kemiskinan (PLPBK, KOTAKU, dll)
TERIMAKASIH
Prodi Perencanaan Wilayah & Kota
Jurusan Teknologi Infrastruktur dan Kewilayahan
Institut Teknologi Sumatera
TUGAS
1. Carilah contoh kasus penerapan pendekatan
pengembangan masyarakat di Indonesia.
2. Kaji kasus tersebut dengan menganalisis pendekatan
dan strategi yang digunakan
3. Masing-masing mahasiswa tidak boleh menggunakan
kasus yang sama.
4. Kajian dalam bentuk makalah yang dikumpulkan ke Arif.
Format dan halaman bebas. Buatlah semenarik mungkin.
5. Tugas bersifat individu dan dikumpulkan pada saat UTS