PROPOSAL PTK
PENERAPAN PENDEKATAN KONTEKSTUAL UNTUK
MENINGKATKAN MOTIVASI DAN HASIL BELAJAR
IPA TENTANG KESEIMBANGAN EKOSISTEM BAGI
SISWA KELAS VI SDN I KEMBANG TANJUNG
KELOMPOK 5
1. RUSMIYATI NIM. 836098609
2. LASIYAH NIM. 836103945
3. UMIYATI NIM. 836103882
UNIVERSITAS TERBUKA (UT)
UPBJJ BANDAR LAMPUNG
POKJAR LAMPUNG UTARA
TAHUN PELAJARAN 2018/2019
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Peraturan Menteri Pendidikan Nasional No 22 Tahun 2006
menetapkan bahwa Standar Kompetensi (SK) dan Kompetensi Dasar
(KD) IPA di SD/MI merupakan standar minimum yang secara nasional
harus dicapai oleh peserta didik dan menjadi acuan dalam pengembangan
kurikulum di setiap satuan pendidikan. Pencapaian SK dan KD
didasarkan pada pemberdayaan peserta didik untuk menanamkan
kebiasaan berpikir dan berperilaku ilmiah yang kritis, kreatif dan
mandiri. Pendidikan IPA diharapkan dapat menjadi wahana bagi peserta
didik untuk mempelajari diri sendiri dan alam sekitar, serta prospek
pengembangan lebih lanjut dalam menerapkannya di dalam kehidupan
sehari-hari. Proses pembelajarannya menekankan pada pemberian
pengalaman langsung untuk mengembangkan kompetensi agar
menjelajahi dan memahami alam sekitar secara ilmiah. Pendidikan IPA
diarahkan untuk berbuat sehingga dapat membantu peserta didik untuk
memperoleh pemahaman yang lebih mendalam tentang alam sekitar.
Pada Dasarnya mata pelajaran IPA di SD/MI bertujuan agar
peserta didik memiliki kemampuan sebagai berikut. 1) Memperoleh
keyakinan terhadap kebesaran Tuhan Yang Maha Esa berdasarkan
keberadaan, keindahan dan keteraturan alam ciptaan-Nya, 2)
Mengembangkan pengetahuan dan pemahaman konsep-konsep IPA yang
bermanfaat dan dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari, 3)
Mengembangkan rasa ingin tahu, sikap positip dan kesadaran tentang
adanya hubungan yang saling mempengaruhi antara IPA, lingkungan,
teknologi dan masyarakat, 4) Mengembangkan keterampilan proses
untuk menyelidiki alam sekitar, memecahkan masalah dan membuat
keputusan, 5) Meningkatkan kesadaran untuk berperan serta dalam
memelihara, menjaga dan melestarikan lingkungan alam, 6)
Meningkatkan kesadaran untuk menghargai alam
segala keteraturannya sebagai salah satu ciptaan Tuhan, 7) Memperoleh bekal
pengetahuan, konsep dan keterampilan IPA sebagai dasar untuk melanjutkan
pendidikan ke SMP/MTs. Ruang lingkup bahan kajian IPA untuk SD/MI
meliputi aspek-aspek sebagai berikut : 1) Makhluk hidup dan proses
kehidupan, 2) Benda / materi, 3) Energi dan perubahannya, 4) Bumi dan alam
semesta. (KTSP 2006)
Pembelajaran yang efektif dan bermakna akan berlangsung apabila
dapat memberikan keberhasilan bagi siswa maupun guru itu sendiri. Hal ini
betul-betul terjadi karena seorang guru akan memperoleh kepuasan apabila
telah melaksanakan tugas mengajar dengan baik dan akan dapat tercapai hasil
belajar secara optimal, apabila proses pembelajaran yang berlangsung mampu
mengembangkan seluruh potensi yang dimiliki peserta didik. Namun
kenyataan di lapangan proses pembelajaran masih cenderung menggunakan
cara-cara tradisional dengan model pembelajaran konvensional, yang
memfokuskan pada pemberian informasi dan pengetahuan kepada siswa dalam
mentransfer pengetahuan sebanyak mungkin.
Dengan kondisi pembelajaran yang seperti ini tentu tidak akan efektif
dan pada akhirnya hasil dari proses pembelajaran tidak sesuai dengan yang
diharapkan oleh guru. Proses pembelajaran dapat dikatakan berhasil apabila
siswa dalam mengikuti pembelajaran dapat aktif, baik secara fisik dan mental,
penuh konsentrasi sehingga hasil belajar akan sesuai dengan KKM yang telah
ditentukan sebelumnya, bahkan melampaui.
Dari tes hasil belajar yang dilakukan pada mata pelajaran Ilmu
Pengetahuan Alam materi keseimbangan ekosistem untuk siswa kelas VI SDN
I Kembang Tanjung semester I Tahun Pelajaran 2018/2019 diperoleh hasil
belajar yang kurang memuaskan, yaitu dari 27 siswa kelas VI yang mengalami
ketidak tuntasan belajar sebanyak 18 siswa (67%) sisanya 9 siswa telah
mengalami ketuntasan belajar yaitu 33%, dari batas tuntas yang diharapkan
oleh guru yaitu 95%. Nilai terendah yang didapatkan siswa yaitu 20 dan nilai
tertinggi 80, dengan rata-rata kelas 57. Siswa yang mendapatkan nilai di bawah
rata-rata kelas sebanyak 11 siswa dan yang mendapatkan nilai di atas nilai rata-
rata kelas sebanyak 16 siswa.
Dari data di atas dapat disimpulkan bahwa sebagian besar siswa kelas
VI SDN I Kembang Tanjung belum mengalami ketuntasan belajar. Sebagai
guru menyadari sepenuhnya di dalam melaksanakan pembelajaran di kelas
belum memanfaatkan secara maksimal berbagai faktor yang dapat
meningkatkan hasil belajar, khususnya penggunaan pendekatan kontekstual,
mengingat selama ini hanya memberikan pembelajaran secara konvensional.
Berawal dari hal tersebut, peneliti meminta bantuan teman sejawat
yang sebelumnya telah mengajar siswa-siswa tersebut di kelas V, untuk
mengidentifikasi kekurangan dari pembelajaran yang dilaksanakan. Dari hasil
diskusi terungkap beberapa masalah yang belum ada dalam proses
pembelajaran yaitu:
1. Pemahaman siswa terhadap konsep yang diajarkan masih sangat rendah.
2. Motivasi belajar siswa masih rendah.
3. Keaktifan belajar siswa masih rendah.
Berdasarkan identifikasi masalah tersebut, peneliti melakukan analisis
masalah dan berdiskusi dengan tim kolaborasi yaitu teman sejawat, serta
bertanya langsung terhadap siswa tentang pembelajaran yang dilaksanakan.
Dari berbagai proses tersebut, akhirnya peneliti memprediksi bahwa penyebab
rendahnya hasil belajar siswa, adalah:
1. Metode yang peneliti lakukan dalam pembelajaran selalu
mengguanakan metode ceramah dan teoritis saja sehingga pembelajaran
menjadi abstrak dan kurang bermakna.
2. Kurangnya keterlibatan siswa dalam pembelajaran yang dilakukan.
3. Guru tidak menggunakan alat peraga selama proses pembelajaran.
4. Guru kurang memperhatikan perkembangan kognitif siswa.
5. Guru tidak memberikan kesempatan penuh kepada siswa untuk
melibatkan dirinya selama kegiatan pembelajaran, atau pembelajaran
hanya berfokus pada kegiatan guru.
Untuk memecahkan masalah pembelajaran tersebut, maka tim
kolaborasi menetapkan alternatif tindakan untuk meningkatkan kualitas
pembelajaran IPA. Peneliti terdorong untuk melakukan penerapan
pendekatan kontekstual atau Contextual Teaching and Learning (CTL)
yang proses pembelajarannya mengaitkan materi dengan pengalaman-
pengalaman atau pengetahuan siswa sebelumnya dan mendorong siswa
membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan
penerapannya dalam kehidupan sehari-hari. Dalam pendekatan
kontekstual atau Contextual Teaching and Learning (CTL) terdapat tujuh
komponen utama, yaitu konstriktivisme (contructivism), menemukan
(inquiry), bertanya (questioning), masyarakat belajar (learning
community), pemodelan (modelling), refleksi (reflection), dan penilaian
sebenarnya (authentic assessment). Dengan ketujuh komponen tersebut
diharapkan proses pembelajaran pada materi keseimbangan ekosistem
berlangsung alamiah dalam bentuk kegiatan siswa untuk bekerja dan
mengalami, bukan transfer pengetahuan dari guru ke siswa. Mereka akan
menyadari bahwa apa yang mereka pelajari berguna bagi hidupnya.
Berdasarkan ulasan latar belakang tersebut maka peneliti
mengkaji melalui bentuk Penelitian Tindakan Kelas dengan judul
“Penerapan Pendekatan Kontekstual untuk Meningkatkan Motivasi dan
Hasil Belajar IPA tentang Keseimbangan Ekosistem bagi Siswa Kelas VI
SDN I Kembang Tanjung”.
B. Rumusan Masalah
1. Apakah penerapan pendekatan kontekstual dapat meningkatkan motivasi
belajar IPA tentang Keseimbangan Ekosistem bagi siswa kelas VI SDN I
Kembang Tanjung?
2. Apakah penerapan pendekatan kontekstual dapat meningkatkan hasil
belajar IPA tentang Keseimbangan Ekosistem bagi siswa kelas VI SDN I
Kembang Tanjung?
C. Tujuan Penelitian
Sejalan dengan rumusan masalah di atas, maka penelitian ini memiliki
tujuan yaitu:
1. Tujuan Umum
Penelitian ini memiliki tujuan untuk meningkatkan hasil belajar IPA
kelas VI tentang keseimbangan ekosistem.
2. Tujuan Khusus
a. Untuk mengetahui apakah penerapan pendekatan kontekstual dapat
meningkatkan motivasi belajar IPA tentang Keseimbangan
Ekosistem bagi siswa kelas VI SDN I Kembang Tanjung.
b. Untuk mengetahui apakah penerapan pendekatan kontekstual dapat
meningkatkan hasi belajar IPA tentang Keseimbangan Ekosistem
bagi siswa kelas VI SDN I Kembang Tanjung.
D. Manfaat Penelitian
1. Manfaat Teoritis
Secara teoritis penelitian tindakan kelas yang dilaksanakan diharapkan
mempunyai manfaat :
a. Memperkenalkan pengetahuan dalam bidang pendidikan tentang
pembelajaran IPA, sehingga dapat membantu meningkatkan
kualitas pendidikan.
b. Sebagai dasar untuk penelitian selanjutnya.
2. Manfaat Praktis
a. Bagi Siswa
1) Siswa termotivasi untuk menyukai pelajaran IPA.
2) Membantu siswa memperoleh pengalaman belajar yang nyata
dalam memahami konsep keseimbangan ekosistem.
3) Dapat menumbuhkan sikap kritis terhadap hasil belajar.
b. Bagi Peneliti
1) Membantu memperbaiki kinerja peneliti.
2) Membantu meningkatkan sikap professional.
3) Peneliti mampu meningkatkan motivasi siswa dalam proses
pembelajaran matematika.
a. Bagi Sekolah
1) Membantu meningkatkan kualitas sekolah seiring dengan
meningkatnya kemampuan guru.
2) Meningkatkan partisipasi aktif guru dan siswa.
3) Memberikan sumbangan pemikiran dan tambahan pengetahuan
bagi SDN I Kembang Tanjung.
BAB II
KAJIAN PUSTAKA
A. Kerangka Teori
1. Pendekatan Kontekstual atau Contextual Teaching and Learning
(CTL)
Pendekatan kontekstual atau contextual teaching and learning
(CTL) merupakan konsep belajar yang membantu guru mengaitkan
antara materi yang diajarkan dengan situasi dunia nyata siswa dan
mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang
dimilikinya dengan penerapannya dalam kehidupan mereka sebagai
anggota keluarga dan masyarakat (US Departement of Education, 2001).
Dalam konteks ini siswa perlu mengerti apa makna belajar, manfaatnya,
dalam status apa mereka dan bagaimana mencapainya. Dengan ini siswa
akan menyadari bahwa apa yang mereka pelajari berguna sebagai
hidupnya nanti. Sehingga, akan membuat mereka memposisikan sebagai
diri sendiri yang memerlukan suatu bekal yang bermanfaat untuk
hidupnya nanti dan siswa akan berusaha untuk menggapainya.
Tugas guru dalam pembelajaran kontekstual adalah membantu
siswa dalam mencapai tujuannya. Maksudnya, guru lebih berurusan
dengan strategi dari pada member informasi. Guru hanya mengelola
kelas sebagai sebuah tim yang bekerja sama untuk menemukan suatu
yang baru bagi siswa. Proses belajar mengajar lebih diwarnai student
centered daripada teacher centered.
Menurut Depdiknas guru harus melaksanakan beberapa hal
sebagai berikut :
1) . Mengkaji konsep atau teori yang akan dipelajari oleh siswa.
2) Memahami latar belakang dan pengalaman hidup siswa melalui
proses pengkajian secara seksama.
3) Mempelajari lingkungan sekolah dan tempat tinggal siswa yang
selanjutnya memilih dan mengkaitkan dengan konsep atau teori
yang akan dibahas dalam pembelajaran kontekstual.
4) Merancang pengajaran dengan mengaitkan konsep atau teori yang
dipelajari dengan mempertimbangkan pengalaman yang dimiliki
siswa dan lingkungan hidup mereka.
5) Melaksanakan penilaian terhadap pemahaman siswa, dimana
hasilnya nanti dijadikan bahan refleksi terhadap rencana
pembelajaran dan pelaksanaannya.
Menurut Depdiknas untuk penerapannya, pendekatan contextual
teaching and learning (CTL) memiliki tujuh komponen utama, yaitu
konstriktivisme (contructivism), menemukan (inquiry), bertanya
(questioning), masyarakat belajar (learning community), pemodelan
(modelling), refleksi (reflection), dan penilaian sebenarnya (authentic
assessment ). Adapun tujuh komponen tersebut sebagai berikut :
1) Konstruktivisme ( Contructivism )
Konstruktivisme merupakan landasan berfikir contextual teaching
and learning ( CTL ), yang menekankan bahwa belajar tidak hanya
sekedar menghafal, mengingat pengetahuan tetapi merupakan suatu
proses belajar mengajar dimana siswa sendiri aktif secara mental
membangun pengetahuaannya, yang melandasi oleh struktur
pengetahuan yang dimilikinya.
2) Menemukan ( Inquiry )
Menemukan merupakan bagian inti dari kegiatan pembelajaran
berbasis kontekstual karena pengetahuan dan ketrampilan yang
diperoleh siswa diharapkan bukan hasil mengingat seperangkat
fakta-fakta tetapi hasil dari menemukan sendiri. Kegiatan
menemukan merupakan sebuah siklus yang terdiri dari observasi,
bertanya, mengajukan dugaan (hipotesis ), pengumpulan data, dan
penyimpulan.
3) Bertanya ( Questioning )
Pengetahuan yang dimiliki seseorang selalu dimulai dari bertanya.
Bertanya merupakan strategi utama pembelajaran berbasis
kontekstual.
Kegiatan bertanya berguna untuk :
a) Menggali informasi.
b) Menggali pemahaman siswa.
c) Membangkitkan respon kepada siswa.
d ) Mengetahui sejauh mana keingintahuan siswa.
e) Mengetahui hal-hal yang sudah diketahui siswa.
f) Memfokuskan perhatian pada sesuatu yang dikehendaki guru.
g) Membangkitkan lebih banyak lagi pertanyaan dari siswa.
h) Untuk menyegarkan kembali ingatan siswa.
4) Masyarakat Belajar ( Learning Community )
Konsep masyarakat belajar menyarankan hasil pembelajaran
diperoleh dari hasil kerjasama dari orang lain. Hasil belajar
diperoleh dari sharing antar teman, antar kelompok, dan antar yang
tahu ke yang belum tahu. Masyarakat belajar terjadi apabila ada
komunikasi dua arah, dua kelompok, atau lebih yang terlibat dalam
komunikasi pembelajaran saling belajar.
5) Pemodelan ( Modelling )
pemodelan pada dasarnya membahasakan yang dipikirkan,
mendemonstrasikan bagaimana guru menginginkan siswanya untuk
belajar dan melakukan apa yang guru inginkan agar siswanya
melakukan. Dalam pembelajaran kontekstual, guru bukan satu-
satunya model. Model dapat dirancang dengan melibatkan siswa
dan juga mendatangkan dari luar.
6) Refleksi ( Reflection )
Refleksi merupakan cara berfikir atau respon tentang apa yang baru
dipelajari atau berfikir kebelakang tentang apa yang sudah
dilakukan di masa lalu. Realisasinya dalam pembelajaran, guru
menyisakan waktu sejenak agar siswa melakukan refleksi yang
berupa pernyataan langsung tentang apa yang diperoleh hari itu.
7) Penilaian Sebenarnya ( Authentic Assesment )
Penilaian adalah proses pengumpulan berbagai data yang bisa
memberi gambaran mengenai perkembangan belajar siswa. Dalam
pembelajaran berbasis CTL, gambaran perkembangan belajar siswa
perlu diketahui guru agar bisa memastikan bahwa siswa mengalami
pembelajaran yang benar. Fokus penilaian adalah pada penyelesaian
tugas yang relevan dan kontekstual serta penilaian dilakukan
terhadap proses maupun hasil.
2. Motivasi
Motivasi adalah daya penggerak dalam diri seseorang untuk
melakukan aktivitas-aktivitas tertentu demi mencapai suatu tujuan
tertentu (Winkel, 1984, dalam Psikologi Pendidikan dan Evaluasi
Belajar).
Nasution (1995:73) mengatakan motivasi adalah segala daya
yang mendorong seseorang untuk melakukan sesuatu.
Dari definisi di atas dapat disimpulkan motivasi adalah suatu
keadaan yang mendorong seseorang untuk melakukan sesuatu sehingga
tujuannya dapat tercapai.
Menurut Winataputra (2005:2.7) motivasi ada dua macam yaitu,
motivasi intrinsik dan motivasi ekstrinsik. Motivasi intrinsic muncul dari
dalam diri siswa. Sedangkan motivasi ekstrinsik berasal dari luar
misalnya pujian, nasehat dari guru atau orang tua, bisa juga dari suasana
belajar yang menyenangkan.
Ada beberapa upaya yang dapat dilakukan untuk meningkatkan
motivasi belajar siswa antara lain :
a. Mengoptimalkan penerapan prinsip-prinsip belajar.
b. Mengoptimalkan unsure-unsur dinamis dalam pembelajaran.
c. Mengoptimalkan pemanfaatan pengalaman atau kemampuan yang
telah dimiliki siswa.
d. Mengembangkan cita-cita atau aspirasi siswa.
3. Hasil Belajar
Hasil belajar merupakan perubahan perilaku yang diperoleh
pebelajar setelah mengalami aktivitas belajar. Oleh karena itu pebelajar
mempelajari pengetahuan tentang konsep. Maka perubahan perilaku yang
diperoleh adalah berupa penguasaan konsep. Tujuan pembelajaran
merupakan deskripsi tentang perubahan tingkah laku yang diinginkan
atau deskripsi produk yang menunjukkan bahwa belajar telah terjadi. (
gerlach dan Ely, 1980 dalam Ani 2007 : 5 - 6).
Hasil belajar menurut Anni (2007: 4) merupakan perubahan
perilaku yang diperoleh pebelajar setelah mengalami aktivitas belajar.
Perolehan aspek–aspek perilaku tergantung pada apa yang dipelajari oleh
pebelajar.
Dimyati dan Mudjiono hasil belajar merupakan hal yang dapat
dipandang dari dua sisi yaitu sisi siswa dan sisi guru. Dari sisi siswa,
hasil belajar merupakan tingkat perkembangan mental yang lebih baik
bila dibandingkan pada saat sebelum belajar. Menurut Hamalik, hasil
belajar adalah bila seseorang telah belajar akan terjadi perubahan tingkah
laku pada orang tersebut, misalnya dari tidak tahu menjadi tahu, dari
tidak mengerti menjadi mengerti, dan lain sebagainya.
Dari beberapa uraian diatas maka dapat diperoleh suatu
kesimpulan bahwa hasil belajar adalah kemampuan yang dimiliki oleh
siswa setelah belajar, yang diwujudkan berupa kemampuan
kognitif, afektif, dan psikomotor.
4. Hakikat IPA
IPA sendiri berasal dari kata sains yang berarti alam. Sains
menurut Suyoso (1998:23) merupakan “pengetahuan hasil kegiatan
manusia yang bersifat aktif dan dinamis tiada henti-hentinya serta
diperoleh melalui metode tertentu yaitu teratur, sistematis, berobjek,
bermetode dan berlaku secara universal”.
Selain itu, Nash 1993 dalam Samatowa (2006: 2) dalam
bukunya The Nature of science, menyatakan bahwa IPA itu adalah suatu
cara atau metode untuk mengamati alam. Nash juga menjelaskan bahwa
cara IPA mengamati dunia ini bersifat analisis, lengkap, cermat, serta
menghubungkan antara satu fenomena dengan fenomena yang lain
sehingga keseluruhannya membentuk suatu perspektif yang baru tentang
obyek yang diamatinya.
IPA membahas tentang gejala-gejala alam yang disusun secara
sistematis yang didasarkan pada hasil percobaan dan pengamatan. Hal ini
sebagaimana yang dikemukakan oleh Powler dalam Samatowa (2006: 2-
3), bahwa IPA merupakan ilmu yang berhubungan dengan gejala alam
dan kebendaan yang sistematis yang tersusun secara teratur, berlaku
umum yang berupa kumpulan dari hasil observasi dan eksperimen.
Dari pengertian-pengertian yang diungkapkan oleh para ahli
dapat disimpulkan bahwa IPA adalah ilmu yang mempelajari seluruh
alam dan gejala-gejala yang ada didalamnya melalui kegiatan observasi,
experiment secara sistematis.
Cain dan Evan ( 1993: 2 ) menjelaskan tentang hakekat sains
didekati sebagai suatu kumpulan ilmu pengetahuan atau fakta yang
harus dihafal dan diulang-ulang sampai tes. Pada tahun 1960-an terjadi
perkembangan dalam memandang sains. Sains tidak hanya dipandang sebagai
produk atau isi melainkan juga dipandang sebagai proses. Sains menjadi
sesuatu yang lebih “ hidup”. Pendidik sains mulai menggunakan istilah
sciencing untuk memfokuskan pada perubahan ini.
Tahun 1980-an pengajaran sains utamanya menekankan keterkaitan sains
dengan kehidupan sehari-hari. Tugas yang penting bagi guru IPA adalah
mempersiapkan siswa untuk kehidupan pada dunia teknologi yang terus
menigkat yang mereka hadapi sekarang dan pada abad 21 ini. Selanjutnya
cukup penting untuk mempersiapkan pengajaran sains yang sesuai dengan
hakekat sains. What is science? What is science do I teach? These are
questions that onemust ask in order to become aware of following component
of science: (1) content or product, (2) processor methods, (3) attitude, (4)
technology. Mengajarkan sains yang benar harus mencakup ke empat
komponen tersebut.
Adapun penjelasannya adalah sebagai berikut ( Cain dan Evan, 1993 : 4)
a) Sains sebagai produk
Sains sebagai produk ini mencakup fakta, konsep, prinsip, hokum
dan teori. Pada tingkat dasar sains dibedakan menjadi 3 yaitu sains
kehidupan (biologi), fisik dan Ilmu bumi.
b) Sains sebagai proses
Sains sebagai proses disini tidak dipandang sebagai kata benda,
kumpulan pengetahuan atau fakta untuk dihafalkan melainkan sebagai
kata kerja, bertindak, melakukan, meneliti, yaitu sains dipandang sebagi
alat untuk mencapai sesuatu. Bagaimana anak memperoleh informasi
ilmiah itu lebih penting daripada sekedar keterlibatan mereka menghafal
isi sains. Mereka membutuhkan pengalaman yang meliputi
mengumpulkan data, menganalisa dan mengevaluasi isi sains.
Pendekatan sains ini mengubah peranan tradisional baik guru maupun
siswa. Pendekatan sains menuntut partisipasi aktif siswa dan guru yang
berfungsi sebagai pembimbing atau narasumber. Pendekatan ini memacu
pada pertumbuhan dan perkembangan pada semua area pembelajaran,
tidak hanya dalam penghafalan fakta.
Pendekatan pendidikan sains yang baik seharusnya termasuk
mengembangkan keterampilan proses penelitian, yang meliputi
keterampilan proses IPA dasar dan keterampilan IPA terpadu.
Ketrampilan proses IPA dasar terdiri dari pengamatan, klasifikasi,
pengukuran, penggunaan hubungan ruang/waktu, komunikasi, prediksi
dan inferensi. Selanjutnya proses yang lebih kompleks (keterampilan
proses terpadu) terdiri dari pendefinisian variable secara operasional,
perumusan hipotesis, penginterprestasian data, pengontrolan variabel dan
eksperimen.
Keterampilan proses penelitian merupakan dasar dari semua
pembelajaran. Keterampilan tersebut tidak terpisah dari isi sains,
melainkan merupakan alat penelitian ilmiah. Penggunaan keterampilan
tersebut dalam mengumpulkan, mengorganisasikan, menganalisa dan
mengevaluasi isi sains merupakan tujuan bersains
c) Sains sebagai sikap
Guru pada tingkat sekolah dasar harus memotivasi anak didiknya
untuk mengembangkan pentingnya mencari jawaban dan penjelasan
rasional tentang fenomena alam dan fisik. Sebagai guru hendaknya
memanfaatkan keingintahuan anak dan mengembangkan sikap tersebut
untuk penemuan. Memfokuskan pada pencarian jati diri anak mengapa
dan bagaiman fenomena itu terjadi.
d) Sains sebagai teknologi
Perkemabangan teknologi yang berhubungan dengan kehidupan
sehari-hari menjadi bagian penting dari belajar sains. Penerapan sains
dalam penyelesaian masalah dunia nyata tercantum pada kurikulum
KTSP. Pada kurikulum tersebut siswa terlibat dalam mengidentifikasi
masalah dunia nyata dan merumuskan alternatif penyelesaiannya dengan
menggunakan teknologi. Pengalaman ini membentuk suatu pemahaman
peranan sains dalam perkembangan teknologi. Sains bersifat praktis
sebagai bekal yang berguna dalam kehidupan sehari-hari dan juga dalam
memahami dampak sains serta teknologi pada masyarakat.
Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa sains terdapat
empat komponen yaitu 1) sains sebagai produk bahwa sains mencakup
fakta, konsep, hukum, dan teori yang dapat dipelajari. 2) sains sebagai
proses bahwa dalam pembelajaran siswa tidak hanya menghafal konsep
yang ada tetapi melakukan sesuatu untuk memperoleh pengetahuannya
itu. 3) sains sebagai sikap ilmiah bahwa dalam pembelajaran sains
berorientasi untuk menumbuhkan sikap positif terhadap lingkungan dan
mencoba menjelaskan fenomena yang terjadi di lingkungan secara
rasional. 4) sains sebagai teknologi bahwa dalam pembelajaran sains
diharapkan siswa mampu menerapkan pengetahuannya untuk
memecahkan masalah di lingkungan dengan memanfaatkan teknologi.
Sebagai seorang pengajar hendaknya menekankan empat komponen
tersebut dalam pembelajaran IPA di kelasnya.
5. Ekosistem
Secara sederhana ekosistem dapat diartikan sebagai tempat tinggal
makhluk hidup. Ekosistem berhubungan erat dengan populasi serta
spesies yang saling berhubungan di dalamnya. Ekosistem merupakan
sebuah system ekologi yang terbentuk sebagai akibat dari hubungan
timbale balik antara makhluk hidup (biotik) dengan makhluk tak hidup
(abiotik). Berikut beberapa pengertian dari definisi ekositem.
a. Hartono
Ekosistem adalah hubungan antara seluruh makhluk hidup dengan benda
tak hidup di suatu daerah tertentu.
b. Susilowarno
Ekosistem adalah interaksi atau hubungan timbale balik antara makhluk
hidup dengan lingkungannya. Ekosistem merupakan suatu bentuk
komunitas dalam suatu areal tertentu dapat berupa daratan atau air.
c. Haryati, dkk
Ekosistem adalah kesatuan lingkungan hidup yang tercipta karena adanya
interaksi antara unsur biotik dan abiotik.
d. Setyaningtyas
Ekosistem adalah tempat berlangsungnya hubungan ketergantungan
antara makhluk yang satu dengan yang lain dalam suatu tempat.
e. UU No 23 Tahun 1997
Ekosistem adalah tatanan unsur lingkungan hidup yang merupakan
kesatuan utuh menyeluruh dan saling mempengaruhi dalam bentuk
keseimbangan, stabilitas, dan produktivitas lingkungan hidup.
6. Keseimbangan Ekosistem
Keseimbangan menggambarkan keadaan dinamika system yang
tidak mengalami gejolak atau stabil (Tarumingkeng, PhD). Ekosistem
dikatakan seimbang juga apabila suatu ekosistem masih alami dan belum
terganggu (homeostatis) yaitu ekosistem yang mampu menahan berbagai
perubahan dalam system secara keseluruhan. Sehingga Keseimbangan
ekosistem merupakan keadaan dimana semua komponen baik biotik
maupun abiotik berada pada posisi yang seharusnya baik jumlah maupun
peranannya dalam lingkungan.
B. Hasil Penelitian Relevan
Penelitian yang relevan untuk mendukung penelitian yang
dilakukan oleh peneliti adalah penelitian tindakan kelas yang dilakukan
oleh Kharisma Lestari dengan judul penerapan pendekatan contextual
teaching and learning (CTL) untuk meningkatkan hasil belajar IPA siswa
kelas IV SDN Umbulan Winongan Pasuruan yang dilakukan pada tahun
2009. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan pendekatan
contextual teaching and learning (CTL) pada pembelajaran IPA untuk
meningkatkan hasil belajar IPA siswa kelas IV SDN Umbulan Winingan
Pasuruan. Ternyata, penelitian ini telah berhasil meningkatkan kualitas
pembelajaran IPA dengan indikasi bahwa hasil belajar IPA meningkat
dibandingkan dengan pembelajaran secara konvensional. Hal ini
ditunjukkan dengan nilai rata-rata hasil belajar siswa pada pra tindakan
(57,3), siklus I (67,4), siklus II (85, 3).
Penelitian dengan pendekatan yang sama juga dilakukan oleh
Rochmat Zaenuri Noor dengan judul “Penerapan Pendekatan Contextual
Teaching and Learning (CTL) Untuk Meningkatkan Kualitas
Pembelajaran IPA tentang Konduktor dan Isolator Panas pada Siswa
Kelas VI SDN Kembang Tanjung”. Penerapan pendekatan kontekstual
(CTL) tersebut menunjukkan perubahan kualitas Pembelajaran IPA yang
mengalami peningkatan yang cukup baik pada siklus I dan siklus II, bila
dibandingkan dengan pembelajaran sebelumnya yang hanya
menggunakan metode ceramah. Hal ini dapat kita lihat pada nilai rata-
rata hasil belajar siswa pada pra tindakan (55,4), siklus I (70,8), siklus II
(86, 7)
Mengacu pada kedua hasil penelitian di atas, maka relevan
sekali terhadap penelitian yang peneliti lakukan yaitu dengan judul
“Penerapan Pendekatan Kontekstual untuk Peningkatan Motivasi dan
Hasil Belajar IPA tentang Keseimbangan Ekosistem bagi Siswa Kelas VI
SDN I Kembang Tanjung.”
BAB III
PELAKSANAAN PERBAIKAN PEMBELAJARAN
A. Subyek, Tempat, dan Waktu Penelitian
1. Subjek Penelitian
Subjek penelitian ini adalah seluruh
siswa kelas VI SDN 1 Kembang Tanjung Kecamatan Abung
Selatan, tahun pelajaran 2018/2019, yang berjumlah 27 siswa terdiri atas
19 siswa laki-laki dan 8 siswa perempuan, dengan usia rata-rata mereka
12 tahun.
Mayoritas dari siswa berasal dari keluarga petani (18 siswa), 5
siswa dari keluarga pedagang, sisanya sebanyak 3 siswa dari keluarga
wiraswasta dan 1 siswa dari keluarga PNS. Keseluruhan siswa kelas VI
SDN 1 Kembang Tanjung tidak ada yang mengalami kelainan fisik
maupun mental, namun demikian ada sebagian siswa mengalami lamban
belajar. Siswa bersama orang tua/walinya berdomisili di sekitarnya. Jarak
rumah mereka ke sekolah paling jauh hanya sekitar 1 km. Siswa berangkat
ke sekolah dengan berjalan kaki, adapula yang menggunakan sepeda.
Penelitian yang dilakukan adalah pada mata pelajaran IPA tentang
Keseimbangan Ekosistem.
Keadaan ekonomi masyarakat di wilayah SDN 1 Kembang
Tanjung tergolong kelas ekonomi menengah ke bawah. Banyak orang tua
siswa yang bekerja sebagai buruh tani yang tidak memiliki pekerjaan dan
penghasilan yang tetap. Sebagian dari mereka ada juga yang merantau ke
kota-kota besar terutama Jakarta, sedangkan siswa tinggal hanya bersama
Ibu atau kakek-neneknya. Keadaan inilah yang kadang membuat para
guru risau, sebab hal tersebut berpengaruh terhadap belajar siswa yang
kurang pengawasan dari orang tuanya, sehingga hasil belajar mereka pun
sangat rendah. Setelah tamat Sekolah Dasar beberapa diantaranya
melanjutkan ke pondok pesantren, namun seiring dengan kemajuan jaman
sudah banyak yang melanjutkan ke sekolah-sekolah menengah negeri
maupun swasta. Namun sebagian besar mereka apabila telah selesai pada
sekolah lanjutan kemudian banyak yang pergi merantau, sehingga kondisi
desa kurang produktif.
SDN 1 Kembang Tanjung mempunyai seorang kepala sekolah,
tenaga pendidik 29 orang, 1 orang satpam, 1 orang sebagai penjaga
sekolah atau tenaga kebersihan dan 1 orang lagi sebagai petugas
perpustakaan. Dari 8 orang tenaga pendidik, 19 diantaranya pegawai
negeri sipil (PNS) .
Pada tahun pelajaran 2018/2019 ini, SDN 1 Kembang Tanjung
memiliki 339 siswa mulai dari kelas I sampai dengan kelas VI.
2. Tempat Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan di SDN 1 Kembang Tanjung
Kecamatan Abung selatan, Kabupaten lampung utara pada semester 1
tahun pelajaran 2018/2019.
Lokasi sekolah berada di pinggir jalan utama lintas sumatra jalan
aspal dan dekat dengan pemukiman warga. Jarak sekolah dari pusat kota
kurang lebih berjarak 7 km.
3. Waktu Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan dengan menggunakan dua siklus,
dengan setiap siklusnya dilaksanakan 2 kali pertemuan. Penelitian ini
dilaksanakan selama kurang lebih tiga bulan, yaitu mulai pertengahan
bulan Agustus sampai dengan Oktober tahun 2018, dengan jadwal
kegiatan sebagai berikut:
1) Siklus I
a) Pertemuan I : Kamis, 16 Agustus 2018
b) Pertemuan II : Senin, 20 Agustus 2018
2) Siklus II
a) Pertemuan I : kamis, 18 Oktober 2018
b) Pertemuan II : Senin, 22 Oktober 2018
Untuk lebih jelasnya pembagian waktu kegiatan penelitian dapat
diperinci seperti pada tabel berikut ini:
Mata Pelajaran yang menjadi materi kajian yaitu IPA tentang
keseimbangan ekosistem di kelas VI (enam) semester 2 dengan spesifikasi
sebagai berikut :
Standar 3. Memahami pengaruh kegiatan manusia terhadap
Kompetensi keseimbangan lingkungan.
Kompetensi 3.1 Mengidentifikasi kegiatan manusia yang
Dasar dapat mempengaruhi keseimbangan alam
(ekosistem)
Indikator Ø Menjelaskan berbagai kegiatan manusia yang
dapat mempengaruhi keseimbangan
ekosistem, misalnya penggunaan bahan
kimia, penebangan hutan, pembakaran hutan,
perusakan terumbu karang, dll.
Ø Mengidentifikasi bagian-bagian tubuh hewan
dan tumbuhan yang sering dimanfaatkan
manusia sehingga dapat mengancam
kelestarian.
Ø Menjelaskan berbagai kegiatan manusia yang
dapat mencegah kepunahan hewan dan
tumbuhan.
Ø Menemukan contoh-contoh kegiatan manusia
yang dapat menjaga keseimbangan
ekosistem.
B. Data, Sumber Data, Teknik Pengumpulan Data, dan Analisis Data
1. Data
Data penelitian ini berupa data kuantitatif dan data kualitatif. Data
kuantitatif yaitu data dari hasil belajar/penilaian evaluasi siswa sedangkan
data kualitatif yaitu dari data penilaian pengamatan/observasi siswa dalam
proses pembelajaran.
2. Sumber Data
Sumber data diperoleh dari (1) proses pembelajaran dengan
penggunaan pendekatan kontekstual di sekolah dalam upaya
meningkatkan hasil belajar IPA tentang keseimbangan ekosistem, (2)
sumber data arsip atau dokumen diperoleh dari guru tentang hasil dan
prestasi belajar siswa dan motivasi siswa dalam pembelajaran IPA dengan
menggunakan pendekatan kontekstual
3. Teknik Pengumpulan Data
Adapun Teknik yang digunakan untuk mengumpulkan data adalah
dengan tes dan non tes. Teknik tes diperoleh dari hasil evaluasi
pembelajaran sedangkan teknik non tes diperoleh melalui pengamatan
langsung terhadap proses belajar siswa di kelas oleh observer atau teman
sejawat.
a. Tes
Istilah tes diambil dari kata testum susatu pengertian dalam bahasa
Perancis kuno yang berarti piring untuk menyisihkan logam-logam mulia
(Suharsimi Arikunto, 2007:52). Suharsimi Arikunto (2007:53)
menyatakan bahwa tes adalah merupakan alat atau prosedur yang
digunakan untuk mengetahui atau mengukur sesuatu dalam suasana.
Dilihat dari bentuknya tes dibedakan menjadi dua yaitu tes lisan dan tes
tertulis.
Berdasarkan bentuk soal yang digunakan, tes tertulis dibedakan
menjadi dua yaitu tes objektif dan tes subjektif. Tes objektif meliputi
pilihan ganda, betul salah, menjodohkan, dan isian singkat. Sedangkan tes
subjektif meliputi tes uraian yaitu uraian terstruktur dan uraian bebas.
Dalam penelitian ini menggunakan tes tertulis bentuk objektif yaitu isian
dan alat pengumpul data yang digunakan adalah lembar soal.
b. Non tes atau pengamatan
Pada saat proses pengambilan data, peneliti dibantu oleh teman
sejawat . Observer bertugas mengamati kegiatan guru dan siswa pada saat
pelaksanaan perbaikan pembelajaran di kelas menggunakan lembar
pengamatan. Lembar pengamatan digunakan untuk mengobservasi
aktivitas siswa dan guru selama proses pembelajaran dengan penggunaan
pendekatan kontekstual berlangsung. Aktivitas siswa yang diamati yaitu
tentang motivasi belajar IPA dan keaktifan siswa terhadap pembelajaran,
sedangkan aktivitas guru berupa kegiatan guru yang meliputi: penerapan
pendekatan pembelajaran, penggunaan metode dan media, interaksi antara
guru dan siswa sesuai dengan lembar pengamatan yang telah disiapkan.
Pengamatan dilakukan secara langsung oleh kolabolator atau
teman sejawat pada saat pembalajaran di kelas guna mengumpulkan data
secara kualitatif mengenai aktivitas guru, dan siswa. Tujuannya untuk
mencatat masalah yang terjadi pada saat tindakan yang kemudian akan
menjadi refleksi sebagai tindak lanjut.
4. Analisis Data
Analisis data dilakukan dengan tahapan menganalisis data yaitu (a)
Reduksi data yang terkumpul dilakukan melalui berbagai sumber yaitu
data hasil pekerjaan siswa atau jawaban-jawaban siswa, dan data yang
diperoleh melalui lembar observasi. Data tersebut diklarifikasikan dan
disederhanakan, misalnya dengan menyeleksi data-data yang relevan
dengan fokus penelitian, data yang tidak diperlukan dibuang. Kegiatan
mereduksi data berlangsung terus menerus selama pengumpulan data
sampai dengan penyusunan laporan penelitian; (b) Penyajian data
dilakukan dengan cara menyusun sekumpulan informasi secara naratif
yang diperoleh dari hasil reduksi sehingga dapat pengetahuan siswa,
kesulitan yang dialami siswa, serta hasil yang diproleh sebagai akibat dari
pemberian tindakan; (c) Penarikan kesimpulan dilakukan berdasarkan data
yang disajikan dan merupakan pengungkapan akhir dari hasil tindakan.
B. Prosedur Pelaksanaan Penelitian
Penelitian yang dilaksanakan pada penelitian ini adalah Penelitian
Tindakan Kelas (PTK). PTK adalah suatu penelitian yang dilakukan
secara sistematis refleksi terhadap berbagai tindakan dilakukan guru yang
sekaligus sebagai peneliti, sejak disusunnya suatu perencanaan sampai
dengan penilaian terhadap tindakan nyata di dalam kelas yang berupa
kegiatan pembelajaran untuk memperbaiki kondisi pembelajaran yang
dilakukan (Wibawa, 2003:3).
Perbaikan pembelajaran menurut Rusna Ristasa
(Http//[Link]/exact_sciences/ mathematics/2139118_methoda
_penugasan_meningkatkan_keaktifan siswa_shoong) yang di unduh pada
tanggal 18 Agustus 2016, dilaksanakan melalui proses pengkajian berdaur
yang terdiri dari 4 tahap yaitu perencanaan ( planning ), pelaksanaan (
acting ), observasi ( observation ) dan refleksi ( reflection ). Hasil dari
refleksi terhadap tindakan yang dilaksanakan akan dijadikan pedoman
untuk melakukan revisi rencana perbaikan selanjutnya jika tindakan yang
dilakukan belum berhasil memecahkan masalah.
Setelah siklus ini berlangsung beberapa kali dimungkinkan
perbaikan yang diinginkan sudah terjadi. Dalam hal ini daur PTK dengan
tujuan perbaikan yang direncanakan sudah berakhir. Namun biasanya
akan muncul masalah dan akan kembali dipecahkan melalui daur PTK.
D. Deskripsi Pelaksanaan Perbaikan per Siklus
1. Deskripsi Pelaksanaan Perbaikan Siklus I
a. Perencanaan
Pada siklus I akan dilaksanakan dengan 2 kali pertemuan
menggunakan 1 RPP. Sesuai dengan hipotesis yang telah dibuat,
menyusun rencana perbaikan pembelajaran beserta skenario tindakan yang
mencakup langkah-langkah yang akan dilaksanakan oleh guru dan siswa
dalam kegiatan tindakan perbaikan dengan menggunakan pendekatan
kontekstual, dan metode diskusi. Pada siklus I pertemuan pertama akan
dilaksanakan pembelajaran selama 70 menit dimulai dengan kegiatan awal
dilanjutkan kegiatan inti dan ditutup dengan kegiatan akhir. Begitu pula
pada pertemuan kedua akan dilaksanakan pembelajaran selama 70 menit,
dimulai dengan kegiatan awal, kegiatan inti, dan kegiatan akhir. Terkait
dengan RPP, dipersiapkan berbagai instrumen yang diperlukan meliputi :
media, lembar kerja siswa, lembar evaluasi dan lembar
pengamatan/observasi.
Bersama teman sejawat sebagai observer, terjadi kesepakatan
tentang hal-hal yang berkaitan dengan lancarnya observasi dan
pengumpulan data seperti: fokus observasi yaitu motivasi siswa dalam
pembelajaran, kriteria observasi, jenis kegiatan yang harus diobservasi
dan meyakinkan bahwa teman sejawat yang akan membantu sudah siap di
kelas ketika pembelajaran akan dimulai.
b. Pelaksanaan Perbaikan
Pertemuan Pertama : Kamis, 16 Agustus 2018
Pertemuan pertama dilaksanakan pada hari Kamis, 16 Agustus
2018, diawali dengan mengucapkan salam terlebih dahulu. Pada
kegiatan awal ini guru melakukan kegiatan: 1) presensi, 2) apersepsi, 3)
memberikan acuan, 4) memotivasi siswa untuk berpikir secara aktif,
kritis dan kreatif, 5) menyampaikan tujuan pembelajaran.
Kegiatan inti, guru melakukan kegiatan : 1) membagi kelompok
diskusi menjadi 4 kelompok dengan jumlah masing-masing kelompok
berkisar 6 atau 7 anak, 2) menjelaskan sepintas materi dengan pendekatan
kontekstual dalam menyampaikan materi pembelajaran. 3) memberi tugas
diskusi kelompok mengerjakan soal tentang keseimbangan ekosistem 4)
guru mengamati kegiatan siswa, Kegiatan yang dilakukan siswa antara
lain: 1) memperhatikan penjelasan guru, 2) melakukan diskusi kelompok,
3) mengerjakan LKS. Dalam proses kegiatan inti pertemuan pertama
menggunakan media gambar-gambar/foto dengan metode diskusi dan
tanya jawab.
Pada kegiatan akhir, peneliti mengevaluasi melalui pengamatan
proses, dan siswa mengumpulkan hasil diskusi kelompok untuk
dipresentasikan pada pertemuan berikutnya. Kemudian guru memberikan
tugas pekerjaan rumah pada siswa, dan metutup pertemuan ini dengan
mengucapkan salam.
Pertemuan kedua: Senin, 20 Agustus 2018
Pada kegiatan awal, peneliti masuk kelas kemudian mengucapkan
salam, berdoa, presensi kehadiran siswa, mengkondisikan siswa untuk
duduk sesuai dengan kelompok belajar pada pertemuan pertama,
dilanjutkan pembahasan PR. Setelah itu peneliti melakukan apersepsi
dengan memberikan pertanyaan yang mengarah pada materi yang akan
dibahas, menyampaikan acuan dan memotivasi siswa.
Pada kegiatan inti peneliti mengingatkan siswa pada materi dengan
mengulas kembali secara sekilas materi pada pertemuan pertama,
dilanjutkan membagikan hasil diskusi pada pertemuan pertama untuk di
bahas bersama-sama. Siswa mempresentasikan hasil diskusi, kemudian
bersama peneliti membahas dan menyimpulkan hasil diskusi. Peneliti
kemudian mengulas materi untuk memperdalam pemahaman siswa
melalui tanya jawab.
Pada kegiatan akhir, peneliti memberikan soal evaluasi untuk
dikerjakan oleh siswa, kemudian mengoreksi dan menilai hasil evaluasi.
Peneliti memberikan penguatan dan motivasi dilanjutkan menutup
kegiatan pembelajaran dengan salam.
c. Pengamatan
Pengamatan atau observervasi bertujuan untuk memperoleh data dari
yang diamati pada siklus I. Ada dua macam pengamatan yang dilakukan
yaitu pengamatan proses belajar dan pengamatan hasil belajar.
Pengamatan proses belajar dilakukan oleh teman sejawat dengan mencatat
hal-hal penting yang terjadi selama proses pembelajaran berlangsung,
sedangkan pengamatan hasil belajar diamati sendiri oleh peneliti.
Hasil pengamatan menunjukkan hal-hal sebagai berikut: (1) ketika
peneliti menjelaskan sekilas materi pembelajaran, anak-anak pada baris
belakang asik mengobrol dengan teman di dekatnya. (2) ketika pembagian
kelompok berlangsung keadaan kelas menjadi ramai, (3) keaktifan siswa
dalam belajar, 12 siswa terlihat aktif, 8 terlihat antusias dan 7 siswa
terlihat acuh dalam kegiatan pembelajaran.
Berdasarkan data yang terkumpul dan data hasil diskusi dengan
observer, hasil belajar yang diperoleh dari siklus I adalah sebanyak 18
siswa memperoleh nilai di atas kriteria yang di tetapkan atau ketuntasan
klasikal 66,67%, sedangkan 9 siswa belum menunjukkan ketuntasan
belajar atau sebesar 33,33%. Nilai rata-rata kelas pada siklus I adalah
62,22.
d. Refleksi
Berdasarkan hasil refleksi pada pembelajaran terdapat kelebihan
pada proses pembelajaran yang telah dilakukan peneliti dibandingkan
dengan kondisi awal yaitu telah menciptakan pembelajaran yang
menyenangkan, mengasyikkan, dan mengaktifkan siswa karena berupa
kegiatan kerja kelompok melalui pendekatan kontekstual kemudian pada
pertemuan kedua siswa mempresentasikannya didepan teman-temannya.
Adapun kekurangan yang dilakukan peneliti dalam pembelajaran
pada siklus I disebabkan (1) peneliti dalam proses pembelajaran tidak
menyampaikan tata tertib dalam kelompok sehingga ada siswa yang asyik
mengobrol dengan teman kelompoknya, (2) kurangnya bimbingan yang
merata secara kelompok maupun personal, (3) pengelompokkan yang
terlalu besar yaitu 6-7 siswa, (4) peneliti masih belum tepat mengelola
waktunya, (6) peneliti kurang melibatkan siswa dalam berbagai kegiatan
pembelajaran sehingga siswa kurang termotivasi.
Pada pelaksaan perbaikan siklus I hasil yang dicapai belum sesuai
dengan harapan yang ditetapkan. Hasil belajar belum sesuai dengan
kriteria ketuntasan yang ditetapkan. Melihat adanya kekurangan dalam
pembelajaran tersebut perlu diupayakan penyelesaian terhadap masalah di
atas dalam pelaksanaan siklus II yaitu: (1) mengoptimalkan perencanaan
dan pelaksanaan pembelajaran dengan pendekatan kontekstual, (2)
mengurangi jumlah siswa dalam kelompok menjadi 3-4 siswa, (3)
menyampaikan tata tertib atau aturan dalam diskusi serta memberi batasan
waktu pada setiap kegiatan, (4) melakukan bimbingan yang merata pada
masing-masing kelompok, (5) melibatkan siswa secara aktif dalam
kegiatan pembelajaran.
2. Deskripsi Pelaksanaan Perbaikan Siklus II
a. Perencanaan
Berdasarkan rumusan masalah yang telah dibuat, peneliti menyiapkan
dan menetapkan Rencana Perbaikan Pembelajaran (RPP) siklus II yang
terdiri dari apersepsi, kegiatan awal, kegiatan inti dan kegiatan akhir
beserta skenario tindakan. Skenario tindakan mencakup langkah-langkah
yang dilakukan oleh peneliti dan siswa dalam kegiatan tindakan atau
perbaikan.
Terkait RPP, peneliti perlu mempersiapkan berbagai bahan yang
diperlukan. Langkah selanjutnya bersama-sama dengan observer
menyepakati fokus observasi dan kriteria yang digunakan.
b. Pelaksanaan Perbaikan
Pertemuan Petama : Kamis, 18 Oktober 2018
Pertemuan pertama diawali dengan mengucapkan salam terlebih
dahulu. Pada kegiatan awal ini guru melakukan kegiatan: 1) presensi, 2)
apersepsi, 3) memberikan acuan, 4) memotivasi siswa untuk berpikir
secara aktif, kritis dan kreatif, 5) menyampaikan tujuan pembelajaran.
Kegiatan inti, guru melakukan kegiatan : 1) membagi kelompok
diskusi menjadi 8 kelompok dengan jumlah masing-masing kelompok
berkisar 3 atau 4 anak, 2) menjelaskan sepintas materi dengan pendekatan
kontekstual dalam menyampaikan materi pembelajaran. 3) memberi tugas
diskusi kelompok mengerjakan soal tentang keseimbangan ekosistem 4)
guru mengamati kegiatan siswa, Kegiatan yang dilakukan siswa antara
lain: 1) memperhatikan penjelasan guru, 2) melakukan diskusi kelompok,
3) mengerjakan LKS. Dalam proses kegiatan inti pertemuan pertama
menggunakan media gambar-gambar/foto dengan metode diskusi dan
tanya jawab.
Pada kegiatan akhir, peneliti mengevaluasi melalui pengamatan
proses, dan siswa mengumpulkan hasil diskusi kelompok untuk
dipresentasikan pada pertemuan berikutnya. Kemudian guru memberikan
tugas pekerjaan rumah pada siswa, dan metutup pertemuan ini dengan
mengucapkan salam.
Pertemuan kedua: Senin, 22 Oktober 2018
Pada kegiatan awal, peneliti masuk kelas kemudian mengucapkan
salam, berdoa, presensi kehadiran siswa, mengkondisikan siswa untuk
duduk sesuai dengan kelompok belajar pada pertemuan pertama,
dilanjutkan pembahasan PR. Setelah itu peneliti melakukan apersepsi
dengan memberikan pertanyaan yang mengarah pada materi yang akan
dibahas, menyampaikan acuan dan memotivasi siswa.
Pada kegiatan inti peneliti mengingatkan siswa pada materi dengan
mengulas kembali secara sekilas materi pada pertemuan pertama,
dilanjutkan membagikan hasil diskusi pada pertemuan pertama untuk di
bahas bersama-sama. Siswa mempresentasikan hasil diskusi, kemudian
bersama peneliti membahas dan menyimpulkan hasil diskusi. Peneliti
kemudian mengulas materi untuk memperdalam pemahaman siswa
melalui tanya jawab.
Pada kegiatan akhir, peneliti memberikan soal evaluasi untuk
dikerjakan oleh siswa, kemudian mengoreksi dan menilai hasil evaluasi.
Peneliti memberikan penguatan dan motivasi dilanjutkan menutup
kegiatan pembelajaran dengan salam.
c. Pengamatan
Dari pelaksanaan siklus II peneliti memperoleh hasil belajar,
sedangkan observer bertugas mencatat hal-hal penting yang terjadi selama
proses pembelajaran berlangsung.
Hasil pengamatan menunjukkan hal-hal sebagai berikut: (1) siswa
terlihat antusias mengikuti pembelajaran, (2) ketika pembagian kelompok
sudah terkendali karena siswa sudah terbiasa dengan kerja kelompok, (3)
semua siswa terlihat aktif dan bekerja sama dalam kegiatan pembelajaran.
Berdasarkan data yang terkumpul dan data hasil diskusi dengan
observer, hasil belajar yang diperoleh dari siklus II sebanyak 23 siswa
memperoleh nilai di atas kriteria yang di tetapkan ketuntasan klasikal
85,18%, sedangkan 4 siswa belum menunjukkan ketuntasan belajar atau
sebesar 14,82%. Nilai rata-rata kelas pada siklus II adalah 85.
d. Refleksi
Berdasarkan hasil refleksi pada pembelajaran terdapat kelebihan
pada proses pembelajaran yang telah dilakukan peneliti pada siklus II
diperoleh motivasi dan hasil belajar yang lebih baik dibandingkan dengan
kondisi awal, dan siklus I.
Dari hasil yang diperoleh penelitian tindakan siklus II terdapat
kelebihan proses pembelajaran yang telah dilaksanakan peneliti dengan
pendekatan kontekstual antara lain: (1) kegiatan pembelajaran lebih
bermakna dan menarik karena divisualisasikan dalam contoh secara nyata,
(2) meningkatkan motivasi dan meningkatkan keterlibatan siswa secara
menyeluruh dengan bekerja dalam kelompok kecil sehingga hasil belajar
lebih meningkat, (3) siswa lebih percaya diri untuk berpendapat karena
peneliti memberikan penguatan dan bimbingan.