0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
31 tayangan36 halaman

Modul Keselamatan Pasien di Rumah Sakit

Modul ini membahas tentang keselamatan pasien di rumah sakit. Keselamatan pasien didefinisikan sebagai pencegahan kesalahan medis dan meningkatkan hasil pasien. Tujuannya adalah mengurangi insiden keselamatan pasien dan meningkatkan mutu pelayanan. Modul ini menjelaskan konsep, prinsip, lingkup, dan langkah-langkah untuk mencapai keselamatan pasien di rumah sakit.

Diunggah oleh

yuliirowati
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
31 tayangan36 halaman

Modul Keselamatan Pasien di Rumah Sakit

Modul ini membahas tentang keselamatan pasien di rumah sakit. Keselamatan pasien didefinisikan sebagai pencegahan kesalahan medis dan meningkatkan hasil pasien. Tujuannya adalah mengurangi insiden keselamatan pasien dan meningkatkan mutu pelayanan. Modul ini menjelaskan konsep, prinsip, lingkup, dan langkah-langkah untuk mencapai keselamatan pasien di rumah sakit.

Diunggah oleh

yuliirowati
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

MODUL II

KESELAMATAN PASIEN
(PATIENT SAFETY)

Direktorat Bina Pelayanan Keperawatan dan Keteknisian Medik


Direktorat Jenderal Bina Upaya Kesehatan
Kementerian Kesehatan RI
2014
Modul II
Keselamatan Pasien (Patient Safety)

TIM PENYUSUN :

1. Suhartati [Link]., [Link] (Dit. Bina Yanwat & KM)


2. Prayetni, [Link]., [Link] (Dit. Bina Yanwat & KM)
3. Wiwi Triani, [Link]., MKM (Dit. Bina Yanwat & KM)
4. Dini Rahmadian, [Link]., MHSM (Dit. Bina Yanwat & KM)
5. Nia Ayu Suridaty, [Link]., [Link], Sp. KMB (Dit. Bina Yanwat & KM)
6. Aderia Rintani, [Link]., Ns (Dit. Bina Yanwat & KM)
7. Prima Ardian, [Link]., Ns (Dit. Bina Yanwat & KM)
8. Siti Rahayu, [Link]., [Link]., [Link] (Dit. Bina Yanwat & KM)
9. Susilowati, SKM, MARS (RSPAD Gatot Soebroto).
10. Ns. Retno P, SKep (RS Kanker Dharmais)
11. Ns. Nurma Mulyasari, SKep (RS Kanker Dharmais)
12. Supriyati, SKep (RS Kanker Dharmais)
13. Yustin, SKep (RSPI Sulianto Sarosa )

Direktorat Bina Pelayanan Keperawatan & KM 2


Modul II
Keselamatan Pasien (Patient Safety)

MODUL II
KESELAM ATAN PASIEN
( PATIENT SAFETY)

A. DESKRIPSI MODUL
Modul ini menguraikan tentang konsep dasar keselamatan pasien, yang
meliputi : pengertian keselamatan pasien, prinsip keselamatan pasien di
rumah sakit, ruang lingkup keselamatan pasien, sembilan soluasi
keselamatan pasien di rumah sakit (nine solution live saving WHO), Sasaran
Internasional Keselamatan Pasien/ International Patient Safety Goals (IPSG),
tujuh langkah menuju keselamatan pasien di rumah sakit, peran
kepemimpinan secara umum dalam keselamatan pasien di rumah sakit
(Leadership in Patient Safety).

Dalam pembahasan konsep dasar keselamatan pasien difokuskan untuk


memahami definisi keselamatan pasien, tujuan pelaksanaan keselamatan
pasien di rumah sakit, tipe insiden keselamatan pasien, ruang lingkup kegiatan
keselamatan pasien di rumah sakit, tujuh langkah menuju keselamatan pasien
rumah sakit yang aplikatif sehingga dapat diaplikasikan di rumah sakit dalam
upaya meningkatkan mutu pelayanan yang berkesinambungan.

Modul ini bermanfaat untuk mempersiapkan pemahaman perawat tentang


keselamatan pasien sehingga meningkatkan kepercayaan diri perawat dalam
memberikan asuhan keperawatan yang aman.

B. KOMPETENSI
1. Mampu memahami pengertian tentang keselamatan pasien.
2. Mampu memahami prinsip keselamatan pasien.
3. Mampu memahami lingkup keselamatan pasien.
4. Mampu memahami sembilan solusi keselamatan Pasien di RS (nine live
saving patient safety solution WHO).

Direktorat Bina Pelayanan Keperawatan & KM 3


Modul II
Keselamatan Pasien (Patient Safety)

5. Mampu memahami Sasaran Keselamatan Pasien International/International


Patient Safety Goals (IPSG)
6. Mampu memahami tujuh langkah keselamatan pasien rumah sakit.
7. Mampu memahami peran kepemimpinan dalam keselamatan pasien.

C. TUJUAN MODUL
Tujuan Umum
Setelah mempelajari modul ini peserta mampu memahami prinsip dan
kebijakan dalam keselamatan pasien.

Tujuan Khusus
Perawat mampu
1. Menjelaskan pengertian tentang keselamatan pasien.
2. Menjelaskan prinsip keselamatan pasien.
3. Menjelaskan lingkup keselamatan pasien.
4. Menjelaskan sembilan solusi keselamatan Pasien di RS (nine live saving
patient safety solution WHO).
5. Menjelaskan Sasaran Keselamatan Pasien International/International
Patient Safety Goals (IPSG)
6. Menjelaskan tujuh langkah keselamatan pasien rumah sakit.
7. Menjelaskan peran kepemimpinan dalam keselamatan pasien.

D. POKOK BAHASAN DAN SUB POKOK BAHASAN


1. Pengertian tentang keselamatan pasien.
a. Definisi
b. Tujuan
2. Prinsip keselamatan pasien.
3. Lingkup keselamatan pasien.
4. Sembilan solusi keselamatan Pasien di RS (nine live saving patient safety
solution WHO).

Direktorat Bina Pelayanan Keperawatan & KM 4


Modul II
Keselamatan Pasien (Patient Safety)

5. Sasaran Keselamatan Pasien International/International Patient Safety


Goals (IPSG)
6. Tujuh langkah keselamatan pasien rumah sakit.
7. Kepemimpinan dalam keselamatan pasien

Direktorat Bina Pelayanan Keperawatan & KM 5


Modul II
Keselamatan Pasien (Patient Safety)

LEMBAR BACAAN

Direktorat Bina Pelayanan Keperawatan & KM 6


Modul II
Keselamatan Pasien (Patient Safety)

MODUL II
KESELAM ATAN PASIEN
( PATIENT SAFETY)

A. Pengertian Keselamatan Pasien :


1. Definisi keselamatan pasien
Keselamatan pasien merupakan pengurangan dan penanggulangan
tindakan tidak aman dalam sistem kesehatan, serta melalui penggunaan
praktik terbaik terbukti menyebabkan hasil pasien optimal. (Canadian
Patient Safety Dictionary (2003). Menurut WHO (2008) keselamatan
pasien adalah pencegahan kesalahan dan efek samping pada pasien
berkaitan dengan pelayanan kesehatan. Sedangkan dalam Permenkes No
1691 tahun 2011 tentang Keselamatan Pasien Rumah Sakit dijelaskan
bahwa keselamatan pasien rumah sakit adalah suatu sistem dimana
rumah sakit membuat asuhan pasien lebih aman yang meliputi asesmen
risiko, identifikasi dan pengelolaan hal yang berhubungan dengan risiko
pasien, pelaporan dan analisis insiden, kemampuan belajar dari insiden
dan tindak lanjutnya serta implementasi solusi untuk meminimalkan
timbulnya risiko dan mencegah terjadinya cedera yang disebabkan oleh
kesalahan akibat melaksanakan suatu tindakan atau tidak mengambil
tindakan yang seharusnya diambil.
Keselamatan Pasien Rumah Sakit (KKP-RS) mendefinisikan keselamatan
pasien sebagai suatu sistem dimana RS membuat asuhan pasien lebih
aman. Hal ini termasuk :
a. asesmen risiko.
b. identifikasi dan pengelolaan hal yang berhubungan dengan risiko
pasien.
c. pelaporan dan analisis insiden.
d. kemampuan belajar dari insiden dan tindak lanjutnya.
e. implementasi solusi untuk meminimalkan timbulnya risiko.

Direktorat Bina Pelayanan Keperawatan & KM 7


Modul II
Keselamatan Pasien (Patient Safety)

Sistem ini mencegah terjadinya cedera yg disebabkan oleh kesalahan


akibat melaksanakan suatu tindakan atau tidak mengambil tindakan yang
seharusnya diambil. (KKP-RS).

2. Tujuan keselamatan pasien di rumah sakit.


a. Tujuan Umum :
Menurunnya Insiden Keselamatan Pasien (IKP) dan meningkatnya
mutu pelayanan keperawatan yang berhubungan dengan keselamatan
pasien di RS

b. Tujuan khusus
1) Terciptanya budaya keselamatan pasien bagi perawat di Rumah
Sakit.
2) Meningkatnya akuntabilitas rumah sakit terhadap pasien dan
masyarakat.
3) Terlaksananya sistem pelaporan dan pencatatan Insiden
Keselamatan Pasien (IKP) di rumah sakit.
4) Diketahuinya penyebab Insiden Keselamatan Pasien (IKP) sampai
pada akar masalah.
5) Didapatkannya pembelajaran untuk perbaikan asuhan kepada
pasien agar dapat mencegah kejadian yang sama dikemudian
hari.
6) Menurunnya kejadian tidak diharapkan (KTD) di rumah sakit.
7) Terlaksananya program-program pencegahan sehingga tidak
terjadi pengulangan kejadian tidak diharapkan.

3. Istilah – istilah dalam keselamatan pasien rumah sakit.


a. Kondisi Potensial Cidera/KPC) (a reportable circumstance/situasi atau
kondisi yang perlu dilaporkan)
Adalah suatu situasi/ kondisi yang sangat berpotensi untuk
menimbulkan cidera, tetapi belum terjadi insiden

Direktorat Bina Pelayanan Keperawatan & KM 8


Modul II
Keselamatan Pasien (Patient Safety)

Contoh :
1) Beban kerja perawat dalam memberikan asuhan keperawatan di
ICU yang selalu tinggi namun jumlah perawatnya selalu kurang/
understaffed, kondisi tersebut berpotensi besar terjadi human
error.
2) Defibrillator di IGD dalam kondisi rusak namun tidak segera
diberbaiki, meskipun saat ini belum diperlukan namun kondisi
tersebut berpotensi mengakibatkan cidera saat digunakan.

b. Kejadian Nyaris Cidera/KNC (a near miss ) :


Adalah terjadinya insiden yang belum sampai terpapar / terkena
pasien.
Contoh :
Perawat A akan melakukan tranfusi darah ke pasien tanpa melakukan
pengecekan terhadap produk darah. Kondisi tersebut diketahui
perawat B dan dia segera melakukan pengecekan terhadap darah
yang akan ditranfusikan (golongan darah, kesusaaian cross math,
jumlah darah, nomor kantong dan masa berlaku). Ternyata golongan
darah yang akan diberikan berbeda dengan golongan darah pasien,
kesalahan tersebut segera diketahui sebelum transfusi dimulai.

c. Kejadian Tidak Cidera/KTC (a no harm incident )


Adalah suatu insiden yang sudah terpapar ke pasien tetapi tidak
timbul cidera.
Contoh :
Perawat A melakukan transusi darah tanpa pengecekan terhadap
darah yang akan ditranfusikan (golongan darah, kesusaaian cross
math, jumlah darah, nomor kantong dan masa berlaku). Setelah
proses transfusi selesai, ternyata darah yang ditransfusikan tertukar
dengan darah yang akan ditansfusikan untuk pasien lain, namun tidak
timbul gejala inkompatibilitas (5-45 menit).

Direktorat Bina Pelayanan Keperawatan & KM 9


Modul II
Keselamatan Pasien (Patient Safety)

d. Kejadian Tidak Diharapkan/KTD (a harmful incident / adverse event) :


Adalah insiden yang mengakibatkan cidera pada pasien.
Contoh :
Perawat A melakukan transusi darah tanpa pengecekan terhadap
darah yang akan ditranfusikan, ternyata darah yang ditransfusikan
tertukar. Akibtanya pasien meninggal karena reaksi hemolysis.

e. Kejadian Sentinel (Sentinel Event)


Suatu Kejadian Tidak Diharapkan/KTD yang mengakibatkan kematian
atau cedera yg serius, dipakai untuk kejadian yang sangat tidak
diharapkan atau tidak dapat diterima.
Contoh:
Pasien G akan dilakukan amputasi pada kaki kiri. Sebelum operasi
dokter tidak melalukan penandaan area yang akan diamputasi. Pada
saat operasi, dokter melakukan amputasi pada kaki kanan.

B. Prinsip Keselamatan Pasien :


Prinsip utama upaya keselamatan pasien di rumah sakit adalah sebaga
berikut :

1. Human fallibility / “to err is human“


Berbuat salah adalah manusiawi. Tidak ada manusia yang sempurna,
sehingga setiap manusia dapat berbuat salah atau membuat kesalahan.
Tidak ada seorang Manajer bahkan Pimpinan RS sekalipun yang bisa
menjamin bahwa setiap personel di rumah sakit tidak boleh berbuat salah
atau tidak akan berbuat salah, dari kesalahan itulah proses pembelajaran
akan terjadi.

2. Anatomy of error / incident types


Tipe insiden keselamatan pasien ada berbagai macam mulai dari kondisi
yang potensi menimbulkan cedera (KPC) pada pasien sampai dengan
insiden yang mengakibatkan kematian atau kecacatan seumur hidup bagi
pasien (Sentinel). Hal penting yang perlu diperhatikan adalah bagaimaan

Direktorat Bina Pelayanan Keperawatan & KM 10


Modul II
Keselamatan Pasien (Patient Safety)

suatu rumah sakit menjamin keselamatan pasien sehingga kondisi –


kondisi potensi cedera tersebut dapat dikurangi atau dihilangkan sehingga
tidak menimbulkan cedera pada pasien dan kejadian sentinel tidak terjadi
di rumah sakit.

3. System approach.
Keselamatan pasien adalah sistem dimana rumah sakit menjamin
keamanan dan keselamatan pasien yang dirawat baik rawat jalan, rawat
inap maupun tindakan. Semua personel rumah sakit dari unsur tertinggi
sampai dengan terendah bertanggung jawab melaksanakan upaya
keselamatan pasien di rumah sakit. Semua orang yang ada di rumah sakit
adalah penting, semua berperan dalam mewujudkan keselamatan pasien
di rumah sakit dan semua bagian saling berkaitan, saling mendukung dan
bekerja sama mewujudkan budaya keselamatan pasien di rumah sakit.

4. “Just Culture “ / no blaming culture


Keberhasilan upaya keselamatan pasien adalah bagaimana rumah sakit
dapat belajar dari suatu insiden keselamatan pasien yang dilaporkan oleh
seluruh personel yang mengetahui terjadinya insiden. Untuk menggiatkan
budaya pelaporan insiden tersebut, pimpinan atau direktur rumah sakit
harus berkomitmen penuh untuk tidak menyalahkan individu atau personel
yang terlibat dalam terjadinya suatu insiden keselamatan pasien. Budaya
tidak menyalahkan dan tidak menghukum akan memotivasi seluruh
personel untuk melaporkan insiden sekecil apapun yang terjadi di rumah
sakit, sehingga proses pembelajaran yang berkelanjutan dapat terjadi
untuk mencegah insiden yang sama terjadi kembali di ruangan tertentu
serta di ruangan lain diseluruh lingkungan rumah sakit.

5. Organizational Learning by reporting


Budaya pelaporan insiden keselamatan pasien oleh seluruh personel yang
mengetahui terjadinya insiden atau terlibat langsung dalam insiden
keselamatan pasien harus dikembangkan dan dimotivasi secara terus –
menerus oleh Pimpinan RS dengan prinsip “No Blame Culture”. Pelaporan

Direktorat Bina Pelayanan Keperawatan & KM 11


Modul II
Keselamatan Pasien (Patient Safety)

insiden keselamatan pasien digunakan sebagai media pembelajaran


”Mengapa insiden dapat terjadi, apa yang menyebabkan terjadi insiden,
bagaimana insiden dapat terjadi, bagaiman mencegah insiden tidak terjadi
kembali di unit tersebut atau di unit lain diseluruh rumah sakit. Rumah
sakit membuat sistem pelaporan menjadi sistem pembelajaran yang
menarik personel untuk melapor dengan meniadakan hukuman kepada
personel yang terlibat langsung dalam terjadinya insiden keselamatan
pasien. Hasil pembelajaran dari suatu insiden disosialisasikan kepada
seluruh personel di unit kerja sehingga personel dapat mengetahui pasti
tidak adanya hukuman pada suatu insiden dan pembelajaran yang didapat
dari insiden tersebut.

C. Lingkup Kegiatan Upaya Keselamatan Pasien di Rumah Sakit.


Lingkup keselamatan pasien sesuai dengan Permenkes Nomor 1691 tahun
2011 tentang Keselamatan Pasien Rumah Sakit meliputi :

1. Asesmen risiko
Risiko merupakan bahaya, akibat atau konsekuensi yang dapat terjadi
akibat sebuah proses yang sedang berlangsung atau kejadian yang akan
datang. Assesmen/penilaian risiko yang dilakukan merupakan proses
yang dilakukan dalam rangka menilai tentang luasnya risiko yang dihadapi
dalam pelayanan keperawatan, kemampuan mengontrol frekuensi dan
dampak risiko yang akan terjadi. Dalam rangka asesmen risiko,
keperawatan di RS harus mempunyai Program Asesmen Tahunan.
Program Asesmen Tahunan yang disusun meliputi :

2. Identifikasi dan pengelolaan hal yang berhubungan dengan risiko


pasien.
Identifikasi risiko adalah usaha mengidentifikasi situasi yang dapat
menyebabkan cedera, tuntutan atau kerugian secara finansial. Identifikasi
akan membantu langkah-langkah yang akan diambil manajemen terhadap
risiko tersebut. Instrumen yang dapat digunakan dalam identifikasi yang
berhubungan dengan risiko pasien antara lain :

Direktorat Bina Pelayanan Keperawatan & KM 12


Modul II
Keselamatan Pasien (Patient Safety)

a. Laporan Kejadian (KTD, KNC, KTD dan Kejadian Sentinel)


b. Review Rekam Medik (Penyaringan Kejadian untuk memeriksa dan
mencari penyimpangan-penyimpangan pada praktik dan prosedur).
c. Pengaduan (Complaint) pelanggan atau melalui survey kepuasan
pelanggan / pasien.
d. Survey / Self Assesment, dan lain-lain.

3. Pelaporan dan analisis insiden.


Pelaporan insiden keselamatan pasien merupakan suatu sistem untuk
mendokumentasikan laporan insiden keselamatan pasien, analisis dan
solusi untuk pembelajaran. Insiden yang terjadi di Unit Kerja RS dicatat
dan dilaporkan ke Komite/ Panitia/ Komite/ Panitia/ Tim Keselamatan
Pasien RS. Komite/ Panitia /Tim ini akan menganalisis akar penyebab
masalah untuk memperoleh rekomendasi dalam rangka mengatasi
masalah. Rekomendasi ini akan disampaikan ke Pimpinan RS untuk
dilakukan tindak lanjut. Pimpinan RS bertanggung jawab untuk
melaporkan insiden dan hasil solusi masalah kepada Dinas Kesehatan
Kab / Kota untuk dilaporkan secara berjenjang.

4. Belajar dari insiden.


Keselamatan pasien yang dikembangkan RS berorientasi pada
pembelajaran dari kesalahan yang terjadi dan solusi yang diperoleh
melalui analisis akar penyebab masalah.

5. Tindak lanjutnya dan implementasi solusi


Rekomendasi solusi masalah yang diperoleh melalui analisis akar
masalah dilaksanakan dalam rangka peningkatan keselamatan pasien
dan mencegah kejadian yang sama berulang.

D. Sembilan Solusi Keselamatan Pasien di Rumah Sakit (Nine


Solution Live Saving Patient Safety WHO ) :
Dalam rangka meningkatkan keselamatan dalam pelayanan kesehatan, WHO
telah mengeluarkan sembilan solusi keselamatan pasien, yaitu :

Direktorat Bina Pelayanan Keperawatan & KM 13


Modul II
Keselamatan Pasien (Patient Safety)

1. Perhatikan Nama Obat, Rupa dan Ucapan Mirip (Look-Alike, Sound-


like Medication Names).
Nama Obat Rupa dan Ucapan Mirip (NORUM) merupakan salah satu
penyebab yang paling sering dalam kesalahan obat (medication error).
Solusi NORUM ditekankan untuk pengurangan risiko dan memastikan
terbacanya resep, label, atau penggunaan perintah yang dicetak dan
pembuatan resep secara elektronik.

2. Pastikan Identifikasi Pasien.


Kesalahan mengidentifikasi pasien secara benar sering sering terjadi pada
kesalahan pengobatan, transfuse, pemeriksaan, pelaksanaan prosedur
yang keliru orang, dan penyerahan bayi kepada bukan keluarganya.
Rekomendasi ditekankan dengan verifikasi identitas pasien dengan
keterlibatan pasien dan keluarga, standardisasi metode identifikasi di RS
serta penggunaan protokol untuk membedakan identifikasi pasien dengan
nama yang sama.

3. Komunikasi Secara Benar saat Serah Terima / Pengoperan Pasien.


Kesenjangan dalam komunikasi saat serah terima/ pengoperan pasien
antara unit-unit pelayanan, dan didalam serta antar tim pelayanan dapat
mengakibatkan terputusnya kesinambungan layanan, pengobatan yang
tidak tepat, dan potensial dapat mengakibatkan cedera terhadap pasien.
Rekomendasi dengan memperbaiki pola serah terima pasien termasuk
penggunaan pmetode untuk mengkomunikasikan informasi yang bersifat
kritis, memberikan kesempatan bagi untuk bertanya dan menyampaikan
pertanyaan-pertanyaan pada saat serah terima, serta melibatkan pasien
dan keluarga dalam proses serah terima.

4. Pastikan Tindakan yang benar pada Sisi Tubuh yang benar.


Kesalahan pelaksanaan prosedur yang keliru atau pembedahan sisi tubuh
yang salah sebagian besar adalah akibat dari kesenjangan komunikasi.
Rekomendasi untuk mencegah hal tersebut dengan mencegah kekeliruan

Direktorat Bina Pelayanan Keperawatan & KM 14


Modul II
Keselamatan Pasien (Patient Safety)

yang tergantung pada pelaksanaan proses verifikasi prapembedahan,


pemberian tanda pada sisi yang akan dibedah oleh petugas yang akan
melaksanakan prosedur, dan adanya tim yang terlibat dalam prosedur
’Time out” sesaat sebelum memulai prosedur untuk mengkonfirmasikan
identitas pasien, prosedur dan sisi yang akan dibedah.

5. Kendalikan Cairan Elektrolit Pekat (concentrated).


Kesalahan dalam pemberian cairan elektolit pekat sering terjadi baik dalah
hal dosis, satuan ukur dan istilah. Rekomendasinya adalah membuat
standardisasi dari dosis, unit ukuran dan istilah; dan pencegahan atas
campur aduk / bingung tentang cairan elektrolit pekat yang spesifik.

6. Pastikan Akurasi Pemberian Obat pada Pengalihan Pelayanan.


Kesalahan medikasi sering terjadi pada saat transisi/pengalihan.
Rekonsiliasi (penuntasan perbedaan) medikasi adalah suatu proses yang
didesain untuk mencegah salah obat (medication errors) pada titik-titik
transisi pasien. Rekomendasinya adalah menciptakan suatu daftar yang
lengkap, akurat dan seluruh medikasi yang sedang diterima pasien

7. Hindari Salah Kateter dan Salah Sambung Slang (Tube).


Selang, kateter, dan spuit (syringe) yang digunakan didesain sedemikian
rupa agar mencegah kemungkinan terjadinya KTD (Kejadian Tidak
Diharapkan) yang bisa menyebabkan cedera atas pasien melalui
penyambungan spuit dan selang yang salah, serta memberikan medikasi
atau cairan melalui jalur yang keliru. Rekomendasinya adalah
menganjurkan perlunya perhatian atas medikasi secara detail ketika
pemberian medikasi serta pemberian makan.

8. Gunakan Alat Injeksi Sekali Pakai.


Angka penyebaran HIV, HBV, dan HCV yang diakibatkan oleh pemakaian
ulang (reuse) dari jarum suntik masih tinggi. Rekomendasi untuk
mencegah penularan pada fasyankes adalah perlunya melarang pakai

Direktorat Bina Pelayanan Keperawatan & KM 15


Modul II
Keselamatan Pasien (Patient Safety)

ulang jarum di fasilitas layanan kesehatan dan pelatihan periodik para


petugas di lembaga-lembaga layanan kesehatan.

9. Tingkatkan Kebersihan Tangan (Hand hygiene) untuk Pencegahan


lnfeksi Nosokomial.
Infeksi nosokomial merupakan infeksi yang diperoleh di sarana fasilitas
kesehata. Upaya preventif yang paling mudah untuk mencegah infeksi
nosokomial melalui cuci tangan. Rekomendasi mencegah infeksi
nosokomial dengan mendorong implementasi penggunaan cairan
“alcohol-based hand-rubs" pada saat cuci tangan di fasyankes, pendidikan
staf mengenai teknik kebersihan tangan yang benar dan pengukuran
kepatuhan penerapan kebersihan tangan melalui pemantauan / observasi
dan tehnik-tehnik yang lain.

E. Sasaran Internasional Keselamatan Pasien/ International Patient


Safety Goals ( IPSG ).
JCI (Joint Commission International) merupakan merupakan badan
akreditasi non profit yang berpusat di Amerika Serikat yang bertugas
menetapkan dan menilai standar performa para pemberi pelayanan
kesehatan telah menetapakan 6 sasaran keselamatan pasien yang disebut
IPSG (International Patient Safety Goals). Enam sasaran keselamatan
pasien tersebut adalah :

1. Implementasi sasaran I : identifikasi pasien dengan benar


Identifikasi pasien merupakan suatu proses pengumpulan data,
penandaan dan penentuan indentitas pasien sehingga tindakan/prosedur
dalam rangka meningkatkan kesehatan pasien dapat diberikan secara
tepat. Kesalahan karena kekeliruan identifikasi pasien sering terjadi di
semua pelayanan. Keadaan yang dapat mengarah terjadi
error/kesalahan dalam identifikasi pasien adalah pasien yang dalam
keadaan terbius/sedasi, mengalami disorientasi atau tidak sadar
sepenuhnya, bertukar tempat tidur, bertukar kamar, ataupun mengalami
disabilitas sensori.

Direktorat Bina Pelayanan Keperawatan & KM 16


Modul II
Keselamatan Pasien (Patient Safety)

Implementasi IPSG 1 di rumah sakit yaitu :


a. Melakukan identifikasi dengan parameter terukur. Misalnya : Nama
dan Nomor Rekam Medik.
b. Melakukan identifikasi pasien menggunakan gelang. Ada dua jenis
yaitu gelang identitas pasien dan gelang identifikasi risiko.
c. Melakukan identifikasi pasien pada kondisi khusus (pasien tidak
sadar, luka bakar, pasien gangguan jiwa). Misalnya : pada pasien
gangguan jiwa, identifikasi pasien menggunakan foto yang ditempel
di rekam medik pasien.
d. Melakukan tindakan keperawatan yang berhubungan dengan
identifikasi pasien secara konsisten : mengidentifikasi pasien sebelum
pemberian obat, darah atau produk darah, sebelum mengambil darah
dan specimen lain untuk pemeriksaan klinis, sebelum pemberian
pengobatan dan tindakan / prosedur.
e. Mengarahkan pelaksanaan identifikasi yang konsisten pada semua
situasi dan lokasi.
f. Memberikan edukasi pada pasien dan keluarganya tentang
pentingnya identifikasi pasien.
g. Monitoring dan evaluasi implementasi identifikasi pasien dengan
benar sebagai indikator mutu standar peningkatan mutu dan
keselamatan pasien akreditasi rumah sakit versi 2012.

2. Implementasi sasaran II : meningkatkan komunikasi yang efektif


Komunikasi merupakan proses penyampaian suatu pesan oleh
seseorang kepada orang lain untuk memberi tahu atau mengubah sikap,
pendapat, atau perilaku, baik langsung secara lisan maupun tak
langsung melalui media. Komunikasi efektif, yang tepat waktu, lengkap,
jelas dan dipahami oleh resipien/penerima akan mengurangi kesalahan
dan meningkatkan keselamatan pasien. Komunikasi yang paling rentan
salah ketika perintah perawatan pasien diberikan secara lisan dan
melalui telepon. Komunikasi lain yang rawan ketika melaporkan kembali
hasil tes penting/ hasil tes yang menunjukkan nilai kritis dan perlu
penanganan segera/ hasil tes cito.

Direktorat Bina Pelayanan Keperawatan & KM 17


Modul II
Keselamatan Pasien (Patient Safety)

Implementasi IPSG 2 di rumah sakit yaitu :


a. Melakukan tehnik menerima pesan verbal atau melalui telepon
dengan metode TBAK :
1) Perintah lengkap yang disampaikan secara lisan atau melalui
telepon dituliskan lengkap oleh penerima perintah (Tulis ).
2) Perintah lengkap yang disampaikan secara lisan atau melalui
telpon dibacakan kembali oleh penerima perintah (BAca ).
3) Perintah atau hasil pemeriksaan dikonfirmasi oleh pemberi
perintah atau yang menyampaikan hasil pemeriksaan
(Konfirmasi).

b. Melakukan verifikasi keakuratan komunikasi lisan atau melalui


telepon oleh pemberi pesan / instruksi lisan atau melalui telepon
secara konsisten.
c. Tehnik penyampaian laporan kondisi pasien dan hasil pemeriksaan
dengan nilai kritis secara lisan / verbal ( metode SBAR ).

Contoh : Pelaporan menggunakan metode SBAR


S Situasi
Saya menelpon tentang (nama pasien, umur, dan lokasi)
Masalah yang ingin disampaikan adalah:
___________________________
Tanda-tanda vital:
TD: __/__, Nadi: ___, Pernapasan: ___, dan Suhu: ___
Saya khawatir tentang:

B Background/ Latar Belakang


Status mental pasien:

Kulit/ Ekstremitas:

Pasien memakai/ tidak memakai oksigen

Direktorat Bina Pelayanan Keperawatan & KM 18


Modul II
Keselamatan Pasien (Patient Safety)

A Assessment/ Penilaian
Masalah yang saya pikirkan adalah: (katakan apa masalah
yang anda pikirkan)
Masalahnya tampaknya adalah: jantung, infeksi, neurologis,
respirasi, _____________________________
Saya tidak yakin apa masalahnya tapi pasien memburuk.
Pasien tampaknya tidak stabil dan cenderung memburuk.
Kita perlu melakukan sesuatu, Dok.
R Rekomendasi
Apakah (katakan apa yang ingin disarankan).

Apakah diperlukan pemeriksaan tambahan:

Jika ada perubahan tatalaksana, tanyakan:

d. Monitoring dan evaluasi implementasi komunikasi yang efektif


sebagai indikator mutu standar peningkatan mutu dan keselamatan
pasien akreditasi rumah sakit versi 2012.

3. Implementasi sasaran III : meningkatkan keamanan obat yang perlu


diwaspadai (high-alert)
Obat-obatan yang perlu diwaspadai adalah obat-obatan yang termasuk
dalam sejumlah besar kesalahan dan/atau kejadian sentinel obat-obatan
yang bila terjadi sesuatu yang tak diinginkan risikonya lebih tinggi, begitu
pula obat-obatan yang mirip bentuk/bunyi namanya. Cara yang paling
efektif untuk mengurangi atau menghilangkan kejadian keselahan obat
tersebut adalah menyusun proses pengelolaan obat yang patut
diwaspadai; termasuk memindahkan elektrolit konsentrat dari unit
perawatan pasien ke farmasi.
Implementasi IPSG 3 di rumah sakit yaitu :
a. Melakukan identifikasi, menetapkan lokasi, pemberian label dan
penyimpanan obat – obat dengan kewaspadaan tinggi (high alert).

Direktorat Bina Pelayanan Keperawatan & KM 19


Modul II
Keselamatan Pasien (Patient Safety)

b. Implementasi kebijakan dan prosedur obat-obat yang perlu


diwaspadai.
c. Mengidentifikasi area yang membutuhkan obat-obat dengan
kewaspadaan tinggi (high alert dan tindakan yang diambil untuk
mencegah pemberian yang kurang hati-hati.
d. Obat-obat dengan kewaspadaan tinggi (high alert ) yang disimpan di
unit pelayanan harus diberi label yang jelas dan disimpan pada area
yang dibatasi ketat.
e. Monitoring dan evaluasi implementasi keamanan obat – obatan mulai
dari penyimpanan dengan labeling, peresepan, penyiapan sampai
dengan penyerahan obat sebagai indikator mutu klinik standar
peningkatan mutu dan keselamatan pasien akreditasi rumah sakit
versi 2012.

4. Implementasi sasaran IV : kepastian tepat-lokasi, tepat-prosedur,


tepat-pasien operasi
Lokasi pembedahan yang salah, prosedur yang salah, pembedahan
pada pasien yang salah adalah peristiwa mengkhawatirkan yang sangat
umum terjadi di RS. Kesalahan ini diakibatkan komunikasi yang tidak
efektif atau tidak memadai antara anggota tim bedah, kurangnya
keterlibatan pasien pada pemberian tanda pada lokasi pembedahan, dan
kurang memadainya prosedur verifikasi lokasi operasi. Di samping itu,
faktor-faktor yang sering kali turut berkontribusi adalah: kurangnya
keterlibatan pasien dalam menilai, kurangnya pengkajian terhadap
rekaman medis, budaya yang tidak mendukung komunikasi secara
terbuka antara anggota tim bedah, masalah akibat tulisan tangan yang
tak terbaca, dan penggunaan singkatan-singkatan.
Implementasi IPSG 4 di rumah sakit yaitu :
a. Melakukan tehnik Site Marking : menggunakan tanda yang jelas dan
dimengerti untuk identifikasi lokasi operasi dan melibatkan pasien
dalam proses penandaannya.
b. Menggunakan suatu checklist atau proses lain untuk memverifikasi
saat preoperasi tepat lokasi, tepat prosedur dan tepat pasien, semua

Direktorat Bina Pelayanan Keperawatan & KM 20


Modul II
Keselamatan Pasien (Patient Safety)

dokumen serta peralatan yang diperlukan tersedia, tepat dan


fungsional.
c. Tehnik sign in : tim operasi yang lengkap menerapkan dan mencatat
prosedur sebelum insisi
d. Tehnik time out : time out dilakukan tepat sebelum dimulainya
prosedur / tindakan bedah.
e. Mendukung proses yang seragam untuk memastikan tepat lokasi,
tepat prosedur dan tepat pasien, termasuk prosedur medis dan dental
yang dilaksanakan diluar kamar operasi.
f. Monitoring dan evaluasi implementasi keselamatan pasien di kamar
operasi mulai dari pre, intra sampai dengan paska operasi sebagai
indikator mutu klinik standar peningkatan mutu dan keselamatan
pasien akreditasi rumah sakit versi 2012.

Gambar 7. Contoh Tehnik Site Marking / Penandaan Area Operasi

5. Implementasi sasaran V : mengurangi risiko infeksi terkait


pelayanan kesehatan
Pencegahan dan pengendalian infeksi merupakan tantangan dalam
pelayanan keperawatan di RS. Infeksi secara umum dijumpai dalam
pelayanan kesehatan maupun keperawatan di RS termasuk infeksi
saluran kemih terkait kateter, infeksi aliran darah dan pneumonia. Pokok
dari eliminasi risiko infeksi tersebut maupun eliminasi lain adalah dengan
cuci tangan secara tepat.
Implementasi IPSG 5 di rumah sakit yaitu :

Direktorat Bina Pelayanan Keperawatan & KM 21


Modul II
Keselamatan Pasien (Patient Safety)

a. Penyediaan sarana cuci tangan sesuai dengan standar di semua


area perawatan.
b. Melakukan tehnik enam langkah cuci tangan menurut WHO dengan
konsisten oleh seluruh tenaga kesehatan dan non kesehatan.
c. Melakukan tehnik five moment dalam pelaksanaan pelayanan pasien.

d. Melakukan edukasi kepada petugas kesehatan, pasien, keluarga


pasien dan pengunjung rumah sakit tentang pentingnya hand
hygiene secara berkelanjutan.
e. Monitoring dan evaluasi implementasi upaya mengurangi risiko
infeksi terkait pelayanan kesehatan sebagai indikator mutu klinik
standar peningkatan mutu dan keselamatan pasien akreditasi rumah
sakit versi 2012.

6. Peran perawat dalam implementasi sasaran VI : mengurangi risiko


pasien jatuh
Jatuh merupakan suatu kejadian yang dilaporkan penderita atau saksi
mata yang melihat kejadian mengakibatkan seseorang mendadak
terbaring / terduduk dilantai / tempat yang lebih rendah dengan atau
tanpa kehilangan kesadaran atau luka (Darmojo, 2004). Jumlah angka
jatuh dalam pelayanan kesehatan menjadi bagian yang bermakna

Direktorat Bina Pelayanan Keperawatan & KM 22


Modul II
Keselamatan Pasien (Patient Safety)

penyebab cedera pasien rawat inap. Fasilitas pelayanan kesehatan perlu


mengevaluasi risiko pasien jatuh dan mengambil tindakan untuk
mengurangi risiko cedera bila sampai jatuh.
Implementasi IPSG 6 di rumah sakit yaitu :
a. Menerapkan asesmen awal atas pasien terhadap risiko jatuh dan
melakukan asesmen ulang bila diindikasikan terjadi perubahan
kondisi atau pengobatan.
b. Menerapkan langkah-langkah untuk mengurangi risiko jatuh bagi
pasien yang hasil asesmennya dianggap berisiko jatuh.
c. Memonitor hasilnya, baik keberhasilan pengurangan cedera akibat
jatuh dan dampak dari kejadian tidak diharapkan.
d. Pengurangan berkelanjutan risiko pasien cedera akibat jatuh di
rumah sakit, dengan penandaan pada pasien menggunakan gelang,
memasang bed rail, memberikan penandaan di depan pintu kamar
pasien dengan risiko jatuh.
e. Memberikan edukasi pada pasien dan keluarga tentang kondisi
pasien dengan risiko jatuh.
f. Monitoring dan evaluasi implementasi pencegahan pasien cidera
karena jatuh sebagai indikator mutu klinik standar peningkatan mutu
dan keselamatan pasien akreditasi rumah sakit versi 2012.

Direktorat Bina Pelayanan Keperawatan & KM 23


Modul II
Keselamatan Pasien (Patient Safety)

F. Tujuh langkah menuju keselamatan pasien rumah sakit :


Rumah sakit dalam menerapkan Keselamatan Pasien sebagai fokus
pelayanan dapat menerapkan 7 langkah Keselamatan Pasien yang telah
direkomendasikan oleh National Patient Safety Agency (NPSA). Tenaga
keperawatan berperan aktif menjadi role model / champion / pioneer di
rumah sakit dalam mewujudkan budaya keselamatan pasien dengan
berpartisipasi aktif dan terlibat langsung dalam Komite / Panitia / Tim
Keselamatan Pasien maupun dalam implementasi di pelayanan
keperawatan rumah sakit. Tujuh langkah Keselamatan Pasien sebagai
berikut :
1. Bangun Kesadaran Akan Nilai Keselamatan Pasien
Ciptakan kepemimpinan dan budaya yang terbuka dan adil.
Langkah penerapan:
a. Bagi Rumah Sakit :
1) Pastikan rumah sakit memiliki kebijakan yang mejabarkan apa
yang harus dilakukan staf segera setelah terjadi insiden,
bagaimana langkah-langkah pengumpulan fakta harus
dilakukan dan dukungan apa yang harus diberikan kepada staf,
pasien dan keluarga
2) Pastikan rumah sakit memiliki kebijakan yang menjabarkan
peran dan akuntabilitas individual bilamana ada insiden
3) Tumbuhkan budaya pelaporan dan belajar dari insiden yang
terjadi di rumah sakit.
4) Lakukan asesmen dengan menggunakan survei penilaian
keselamatan pasien.
b. Bagi Unit/ Tim Keperawatan:
1) Ikut terlibat dalam Komite/ Panitia /Komite/ Panitia/ Tim
Keselamatan Pasien untuk bersama-sama berkomitmen
terhadap program keselamatan pasien.
2) Pastikan perawat mampu untuk berbicara mengenai
kepedulian mereka dan berani melaporkan ketika terjadi
insiden.
3) Demonstrasikan kepada perawat ukuran-ukuran yang dipakai

Direktorat Bina Pelayanan Keperawatan & KM 24


Modul II
Keselamatan Pasien (Patient Safety)

di rumah sakit untuk memastikan semua laporan dibuat secara


terbuka dan terjadi proses pembelajaran serta pelaksanaan
tindakan / solusi yang tepat.
4) Terlibat dalam pembuatan program kerja, program sosialisasi
dan pelatihan keselamatan pasien, standar prosedur
operasional (SPO) yang berhubungan dengan keselamatan
pasien.
5) Mendistribusikan, mengedarkan brosur leaflet, poster diseluruh
ruangan keperawatan dan penunjang lainnya.
6) Mendistribusikan formulir pelaporan insiden keselamatan
pasien keseluruh ruangan perawatan dan penunjang lainnya.
7) Terlibat dalam penyusunan buku panduan keselamatan pasien
rumah sakit dan membagikan kepada seluruh ruangan
perawatan, dokter jaga dan dokter penanggung jawab
pelayanan.

2. Pimpin dan Dukung Staf Anda


Bangunlah komitmen dan fokus yang kuat dan jelas tentang
Keselamatan Pasien di rumah sakit anda.
Langkah penerapan:
a. Untuk Rumah Sakit :
1) Pastikan ada anggota Direksi atau Pimpinan yang bertanggung
jawab atas Keselamatan Pasien
2) Identifikasi di tiap bagian rumah sakit, orang-orang yang
dapat diandalkan untuk menjadi ”penggerak” dalam gerakan
Keselamatan Pasien
3) Prioritaskan Keselamatan Pasien dalam agenda rapat
Direksi/Pimpinan maupun rapat-rapat manajemen rumah sakit
4) Masukkan Keselamatan Pasien dalam semua program latihan
staf rumah sakit anda dan pastikan pelatihan ini diikuti dan
diukur efektivitasnya.

Direktorat Bina Pelayanan Keperawatan & KM 25


Modul II
Keselamatan Pasien (Patient Safety)

b. Untuk Unit / Tim Keperawatan:


1) Nominasikan ”penggerak” dalam Tim Keperawatan untuk
memimpin Gerakan Keselamatan Pasien
2) Jelaskan kepada perawat tentang relevansi dan pentingnya
serta manfaat bagi mereka dengan menjalankan gerakan
Keselamatan Pasien
3) Tumbuhkan sikap kesatria yang menghargai pelaporan insiden.
4) Pada forum – forum rapat Pimpinan dengan seluruh pelaksana,
Pimpinan selalu mengingatkan tentang pentingnya
keselamatan pasien. Perawat mensosialisasikan kembali di
ruangannya tentang fokus perhatian dari pimpinan tersebut.
5) Terlibat dalam membuat dan melaksanakan program ronde
keselamatan pasien dimana didalamnya Pimpinan Rumah Sakit
dan Staf Pimpinan secara berkala melaksanakan ronde ke
ruangan tertentu untuk mengetahui sejauhmana implementasi
program keselamatan pasien di ruangan tersebut.
6) Perawat ditetapkan sebagai ”Pioneer” atau koordinator
pelayanan dimana perawat bertugas sebagai koordinator yang
akan menerima laporan Insiden Keselamatan Pasien (IKP)
pertama kali dan melaksanakan investigasi terhadap laporan
tersebut dan mendiskusikan dengan Komite / Panitia / Komite /
Panitia / Tim Keselamatan Pasien.

3. Integrasikan Aktivitas Pengelolaan Risiko


Kembangkan sistem dan proses pengelolaan risiko, serta lakukan
identifikasi dan asesmen hal yang potensial bermasalah.
Langkah penerapan:
a. Untuk Rumah Sakit :
1) Telaah kembali struktur dan proses yang ada dalam
manajemen risiko klinis dan non klinis, serta pastikan hal
tersebut mencakup dan terintegrasi dengan Keselamatan
Pasien dan Staf
2) Kembangkan indikator-indikator kinerja bagi sistem

Direktorat Bina Pelayanan Keperawatan & KM 26


Modul II
Keselamatan Pasien (Patient Safety)

pengelolaan risiko yang dapat dimonitor oleh Direksi/Pimpinan


rumah sakit
3) Gunakan informasi yang benar dan jelas yang diperoleh
dari sistem pelaporan insiden dan asesmen risiko untuk
dapat secara proaktif meningkatkan kepedulian terhadap pasien.

b. Untuk Unit/ Tim Keperawatan:


1) Bentuk forum Keperawatan dalam RS untuk mendiskusikan
isu-isu Keselamatan Pasien guna memberikan umpan balik
kepada manajemen yang terkait
2) Pastikan ada penilaian risiko pada individu pasien dalam proses
asesmen risiko rumah sakit
3) Lakukan proses asesmen risiko secara teratur, untuk
menentukan akseptabilitas setiap risiko, dan ambillah langkah-
langkah yang tepat untuk memperkecil risiko tersebut
4) Pastikan penilaian risiko tersebut disampaikan sebagai
masukan ke proses asesmen dan pencatatan risiko rumah sakit.
5) Koordinator pelayanan menerima laporan insiden keselamatan
pasien dan membahas kasus insiden keselamatan pasien
tersebut dengan Komite / Panitia / Tim Keselamatan pasien
yang terdiri dari perwakilan profesi, dokter, perawat, manajemen
dan tenaga penunjang lainnya. Hasil diskusi tersebut akan
dijadikan umpan balik dan masukan kepada Pimpinan sebagai
penentu kebijakan selanjutnya.
6) Menyebarkan formulir indikator klinik / evaluasi mutu pelayanan
dimana didalamnya terdapat jumlah resiko kejadian infeksi
jarum suntik, resiko pasien jatuh dan lain – lain.
7) Identifikasi dan assesmen hal-hal yang potensial bermasalah.
8) Pembahasan / diskusi tim inti, analisis laporan insiden,
rekomendasi solusi / pencegahan
9) Upaya-upaya memperkecil risiko dengan membuat / merevisi
SPO bila sudah ada.
10) Distribusi hasil solusi/ rekomendasi ke seluruh unit pelayanan.

Direktorat Bina Pelayanan Keperawatan & KM 27


Modul II
Keselamatan Pasien (Patient Safety)

4. Kembangkan Sistem Pelaporan


Pastikan staf agar dengan mudah dapat melaporkan kejadian/ insiden,
serta rumah sakit mengatur pelaporan kepada Tim Keselamatan
Pasien. Langkah penerapan :
a. Untuk Rumah Sakit :
RS melengkapi rencana implementasi sistem pelaporan insiden.

b. Untuk Unit/Tim Keperawatan:


1) Pada forum ilmiah, rapat Pimpinan dan rapat staf lainnya,
senantiasa mendorong semua staf, khususnya anggota Komite
/ Panitia/ Komite/ Panitia/ Tim Keselamatan Pasien untuk aktif
melaporkan terjadinya kasus-kasus IKP. Perawat
mensosialisasikan kembali di ruangannya tentang fokus
perhatian dari pimpinan tersebut.
2) Berikan semangat kepada rekan sekerja anda untuk secara aktif
melaporkan setiap insiden yang terjadi dan insiden yang telah
dicegah tetapi tetap terjadi juga, karena mengandung bahan
pelajaran yang penting.
3) Hasil diskusi, analisis dan investigasi insiden keselamatan
pasien akan disebarkan keseluruh ruangan perawatan dan
penunjang lainnya sebagai pembelajaran dan
4) Melaporkan insiden ke koordinator pelayanan / dokter
penanggung jawab pelayanan atau dokter yang merawat.
5) Membuat edaran tentang alur pelaporan insiden keselamatan
pasien yaitu melaporkan kejadian insiden secara tertulis ke
Komite / Panitia / Komite / Panitia / Tim Keselamatan Pasien
Rumah Sakit.

5. Libatkan dan Berkomunikasi dengan Pasien


Kembangkan cara-cara komunikasi yang terbuka dengan pasien.
Langkah penerapan :
a. Untuk Rumah Sakit :
1) Pastikan rumah sakit memiliki kebijakan yang secara jelas

Direktorat Bina Pelayanan Keperawatan & KM 28


Modul II
Keselamatan Pasien (Patient Safety)

menjabarkan cara-cara komunikasi terbuka tentang insiden


dengan para pasien dan keluarganya
2) Pastikan pasien dan keluarga mereka mendapat informasi
yang benar dan jelas bilamana terjadi insiden
3) Berikan dukungan, pelatihan dan dorongan semangat kepada
staf agar selalu terbuka kepada pasien dan keluarganya.

b. Untuk Unit/Tim Keperawatan :


1) Pastikan tim Keperawatan menghargai dan mendukung
keterlibatan pasien dan keluarganya bila telah terjadi insiden
2) Prioritaskan pemberitahuan kepada pasien dan keluarga
bilamana terjadi insiden, dan segera berikan kepada mereka
informasi yang jelas dan benar secara tepat
3) Pastikan, segera setelah kejadian, tim menunjukkan empati
kepada pasien dan keluarganya.
4) Membuat SPO tentang komunikasi dengan pasien dan
keluarganya tentang keselamatan pasien.
5) Mensosialisasikan kepada seluruh pelaksana tentang SPO dan
kebijakan informed consent dan komunikasi dengan pasien jika
terjadi insiden keselamatan pasien.
6) Menformasikan secara jelas dan benar kepada pasien dan
keluarganya tentang terjadinya suatu IKP.
7) Berkoordinasi dengan Unit / Tim Customer Service Rumah
Sakit untuk mengunjungi dan menunjukkan empati kepada
pasien dan keluarganya tentang terjadinya IKP tersebut.
6. Belajar dan Berbagi Pengalaman Tentang Keselamatan Pasien
Dorong staf anda untuk melakukan analisis akar masalah untuk
belajar bagaimana dan mengapa kejadian itu timbul.
Langkah penerapan:
a. Untuk Rumah Sakit :
1) Pastikan staf yang terkait telah terlatih untuk melakukan kajian
insiden secara tepat, yang dapat digunakan untuk
mengidentifikasi penyebab

Direktorat Bina Pelayanan Keperawatan & KM 29


Modul II
Keselamatan Pasien (Patient Safety)

2) Kembangkan kebijakan yang menjabarkan dengan jelas


kriteria pelaksanaan Analisis Akar Masalah (Root Cause
Analysis/RCA) atau Failure Modes and Effects Analysis (FMEA)
atau metoda analisis lain, yang harus mencakup semua insiden
yang telah terjadi dan minimum satu kali per tahun untuk proses
risiko tinggi.

b. Untuk Unit/Tim :
1) Diskusikan dalam tim anda pengalaman dari hasil analisis
insiden
2) Identifikasi unit atau bagian lain yang mungkin terkena
dampak di masa depan dan bagilah pengalaman tersebut
secara lebih luas.
3) Mendorong seluruh anggota Komite / Panitia / Tim Keselamatan
Pasien untuk melakukan analisis akar masalah, belajar
bagaimana dan mengapa insiden terjadi.
4) Pembahasan/diskusi dalam tim inti tentang laporan insiden yang
ada.
5) Berbagi informasi tentang keselamatan pasien dari berbagai
sumber, forum ilmiah dengan nara sumber dari Komite
Keselamatan Pasien Rumah Sakit ( KKP – RS ) PERSI.
6) Mengikuti seminar, workshop dan pelatihan-pelatihan tentang
keselamatan pasien.
7) Menyelenggarakan pelatihan internal tentang mutu dan
keselamatan pasien rumah sakit secara berkelanjutan.

7. Cegah Cedera Melalui Implementasi Sistem Keselamatan Pasien


Gunakan informasi yang ada tentang kejadian/masalah untuk
melakukan perubahan pada sistem pelayanan.
Langkah penerapan:
a. Untuk Rumah Sakit :
1) Gunakan informasi yang benar dan jelas yang diperoleh dari
sistem pelaporan, asesmen risiko, kajian insiden, dan audit serta

Direktorat Bina Pelayanan Keperawatan & KM 30


Modul II
Keselamatan Pasien (Patient Safety)

analisis, untuk menentukan solusi setempat


2) Solusi tersebut dapat mencakup penjabaran ulang sistem
(struktur dan proses), penyesuaian pelatihan staf dan/atau
kegiatan klinis, termasuk penggunaan instrumen yang menjamin
keselamatan pasien.
3) Lakukan asesmen risiko untuk setiap perubahan yang
direncanakan.
4) Sosialisasikan solusi yang dikembangkan
5) Beri umpan balik kepada staf tentang setiap tindakan yang
diambil atas insiden yang dilaporkan

b. Untuk Unit/Tim :
1) Libatkan tim anda dalam mengembangkan berbagai cara untuk
membuat asuhan pasien menjadi lebih baik dan lebih aman.
2) Telaah kembali perubahan-perubahan yang dibuat tim anda dan
pastikan pelaksanaannya.
3) Pastikan tim anda menerima umpan balik atas setiap tindak
lanjut tentang insiden yang dilaporkan.
4) Melakukan pengumpulan sistem pelaporan, asesmen risiko,
kajian insiden, dan audit serta analisis, untuk menentukan solusi
setempat
5) Solusi tersebut dapat mencakup penjabaran ulang sistem
(struktur dan proses), penyesuaian pelatihan staf dan/atau
kegiatan klinis, termasuk penggunaan instrumen yang menjamin
keselamatan pasien.
6) Lakukan asesmen risiko untuk setiap perubahan yang
direncanakan.
7) Sosialisasikan solusi yang dikembangkan
8) Beri umpan balik kepada staf tentang setiap tindakan yang
diambil atas insiden yang dilaporkan

Direktorat Bina Pelayanan Keperawatan & KM 31


Modul II
Keselamatan Pasien (Patient Safety)

G. Peran Kepemimpinan Keperawatan dalam Upaya Keselamatan Pasien


di Rumah Sakit :
Kepemimpinan adalah suatu proses pengaruh sosial dimana pemimpin
mengusahakan partisipasi sukarela dari para bawahan dalam suatu usaha
untuk mencapai tujuan organisasi (Kreitner dan Kinicki, 2005). Menurut
Richards & Eagle, 1986, kepemimpinan sebagai cara mengartikulasikan,
visi, mewujudkan nilai dan menciptakan lingkungan guna mencapai
sesuatu. Secara umum Kepemimpinan adalah “Kemampuan untuk
mempengaruhi, memotivasi dan membuat orang lain mampu memberikan
kontribusinya serta mengusahakan partisipasi sukarela dari para bawahan
dengan cara mengartikulasikan, visi, mewujudkan nilai dan menciptakan
lingkungan menuju pencapaian sasaran guna terwujudnya tujuan
organisasi”.

Pelayanan keperawatan merupakan bagian integral yang tidak dapat


dipisahkan dengan pelayanan kesehatan dalam suatu rumah sakit
mempunyai peran cukup penting dalam menentukan mutu pelayanan
kesehatan secara keseluruhan karena di rumah sakit jumlah perawat
merupakan jumlah yang terbanyak (Gillis, 1994; Azwar, 1996 ). Sebagian
besar pelayanan kesehatan di rumah sakit dilakukan oleh tenaga
keperawatan, oleh karena itu tidaklah mengherankan apabila citra suatu
rumah sakit dapat dinilai dari aktivitas dan kinerja pelayanan keperawatan.
Dibutuhkan seorang pimpinan dalam rangka meningkatkan peran peran
dalam meningkatkan keselamatan pasien:

1. Pimpinan mendorong dan menjamin implementasi program


keselamatan pasien secara terintegrasi dalam organisasi melalui
penerapan "Tujuh Langkah Menuju Keselamatan Pasien Rumah Sakit "
2. Pimpinan menjamin berlangsungnya program proaktif untuk identifikasi
risiko keselamatan pasien dan program menekan atau mengurangi
KTD.

Direktorat Bina Pelayanan Keperawatan & KM 32


Modul II
Keselamatan Pasien (Patient Safety)

3. Pimpinan mendorong dan menumbuhkan komunikasi dan koordinasi


antar unit dan individu berkaitan dengan pengambilan keputusan
tentang keselamatan pasien.
4. Pimpinan mengalokasikan sumber daya yang adekuat untuk mengukur,
mengkaji, dan meningkatkan kinerja rumah sakit serta meningkatkan
keselamatan pasien.
5. Pimpinan mengukur dan mengkaji efektifitas kontribusinya dalam
meningkatkan kinerja rumah sakit dan keselamatan pasien :
a. Terdapat tim antar disiplin untuk mengelola program keselamatan
pasien.
b. Tersedia program proaktif untuk identifikasi risiko keselamatan dan
program meminimalkan insiden, yang mencakup jenis-jenis Kejadian
yang memerlukan perhatian, mulai dari "Kejadian Nyaris Cedera" (
Near miss ) sampai dengan "Kejadian Tidak Diharapkan' ( Adverse
event ).
c. Tersedia mekanisme kerja untuk menjamin bahwa semua komponen
dari rumah sakit terintegrasi dan berpartisipasi dalam program
keselamatan pasien.
d. Tersedia prosedur "cepat-tanggap" terhadap insiden, termasuk
asuhan kepada pasien yang terkena musibah, membatasi risiko
pada orang lain dan penyampaian informasi yang benar dan jelas
untuk keperluan analisis.
e. Tersedia mekanisme pelaporan internal dan eksternal berkaitan
dengan insiden termasuk penyediaan informasi yang benar dan jelas
tentang Analisis Akar Masalah ( RCA ) "Kejadian Nyaris Cedera" (
Near miss ) dan "Kejadian Sentinel' pada saat program keselamatan
pasien mulai dilaksanakan.
f. Tersedia mekanisme untuk menangani berbagai jenis insiden,
misalnya menangani "Kejadian Sentinel" ( Sentinel Event ) atau
kegiatan proaktif untuk memperkecil risiko, termasuk mekanisme
untuk mendukung staf dalam kaitan dengan "Kejadian Sentinel".

Direktorat Bina Pelayanan Keperawatan & KM 33


Modul II
Keselamatan Pasien (Patient Safety)

g. Terdapat kolaborasi dan komunikasi terbuka secara sukarela antar


unit dan antar pengelola pelayanan di dalam rumah sakit dengan
pendekatan antar disiplin.
h. Tersedia sumber daya dan sistem informasi yang dibutuhkan dalam
kegiatan perbaikan kinerja rumah sakit dan perbaikan keselamatan
pasien, termasuk evaluasi berkala terhadap kecukupan sumber daya
tersebut.
i. Tersedia sasaran terukur, dan pengumpulan informasi menggunakan
kriteria objektif untuk mengevaluasi efektivitas perbaikan kinerja
rumah sakit dan keselamatan pasien, termasuk rencana tindak lanjut
dan implementasinya.

6. Pimpinan mengembangkan dan memotivasi seluruh tenaga


keperawatan dalam implementasi pelaporan insiden keselamatan
pasien, dengan prinsip utama bahwa :
a. Fungsi utama Pelaporan Insiden adalah untuk meningkatkan
Keselamatan Pasien melalui pembelajaran dari kegagalan /
kesalahan.
a. Pelaporan Insiden harus aman. Staf tidak boleh dihukum karena
melapor.
b. Pelaporan Insiden hanya akan bermanfaat kalau menghasilkan
respons yang konstruktif. Minimal memberi umpan balik tentang data
KTD dan analisisnya. Idealnya, juga menghasilkan rekomendasi utk
perubahan proses / SOP dan sistem.
c. Analisis yang baik dan proses pembelajaran yang berharga
memerlukan keahlian / keterampilan. Tim KPRS perlu menyebarkan
informasi, rekomendasi perubahan, pengembangan solusi.
7. Melakukan monitoring dan evaluasi secara berkala terhadap upaya
keselamatan pasien.

Direktorat Bina Pelayanan Keperawatan & KM 34


Modul II
Keselamatan Pasien (Patient Safety)

EVALUASI MANDIRI

1. Menurut anda apakah yang dimaksud dengan keselamatan pasien rumah


sakit ?
2. Apa yang anda ketahui tentang prinsip dalam implementasi keselamatan
pasien di rumah sakit ?
3. Dapatkah anda jelaskan sembilan solusi keselamatan pasien yang telah
dikeluarkan oleh WHO?
4. Menurut anda bagaimana cara implementasi IPSG (International Patient
Safety Goals) di rumah sakit ?
5. Jika anda adalah pimpinan/ manajer keperawatan (Kepala Bidang
Keperawat, Kasi Keperawatan ataupun Kepala Ruangan), apa yang anda
lakukan dalam rangka meningkatkan keselamatan pasien di RS ?
6. Menurut anda kegiatan apa sajakah yang dapat dilakukan dalam
mengimplementasikan keselamatan pasien di rumah sakit ?
7. Dokter DPJP memberikan instruksi via telepon untuk pasien Ny. B untuk
injeksi morfin 12,5 mg bolus, tetapi perawat tidak menulis instruksi di
formulir terintegrasi dan tidak melakukan TBAK. Dengan yakinnya perawat
memberikan morfin 12,5 mg pada Ny. A sehingga menyebabkan Ny. A tidur
dan tidak bangun-bangun, sedangkan Ny. B tetap merasakan nyeri hebat.
Dari kasus diatas :
a. Tergolong apakah insiden keselamatan pasien yang terjadi?
b. Menurut anda bagaimana penerapan sasaran keselamatan pasien yang
dilakukan perawat?
8. DPJP membuat resep anti mual untuk pasien kemotherapi (narfos), resep
dikirim farmasi kemudian petugas farmasi mengantar obat tersebut ke ruang
perawatan. Perawat melakukan identifikasi pasien (7 benar) ternyata obat
yang diantar petugas farmasi bukan narfos inj. tetapi transamin inj.. Perawat
tidak jadi memberikan obat tsb dan mengembalikan obat traansamin inj tsb
ke farmasi.
a. Tergolong apakah insiden keselamatan pasien yang terjadi?
b. Menurut anda bagaimana penerapan solusi keselamatan yang dilakukan
perawat?

Direktorat Bina Pelayanan Keperawatan & KM 35


Modul II
Keselamatan Pasien (Patient Safety)

REFERENSI

Centers for Disease Control and Prevention: CDC Releases New Hand-
Hygiene Guidelines. 2006.

Centers for Disease Control and Prevention: National Nosocomial Infections


Surveillance System (NNIS). 2007.
Dr. Ali S. Al-Qahtani, Dr. Farouk M. Messahel. 2013. Nurse’s Role in
implementing Principles of Quality dan Patient [Link]-1. Executive
Board of the Health Ministers’ Council for Cooperation Council States
Joint Commision International.2011. Standar akreditasi rumah sakit. Ed.4.
PERSI
Modul Pelaporan Insiden Keselamatan Pasien Rumah Sakit, Departemen
kesehatan RI, Tahun 2007.
Instrumen Akreditasi Rumah Sakit Versi Tahun 2012 Komisi Akreditasi
Rumah Sakit (KARS).
Permenkes Nomor 1691/Menkes/Per/VIII/2011 tentang Keselamatan Pasien.
Panduan Nasional Keselamatan Pasien Rumah Sakit (Patient safety),
Departemen Kesehatan RI, Tahun 2006.
Report on the Burden of Endemic Health Care-Associated Infection
Worldwide. 2011. Clean Care is Safer Care. World Health Organization
Save Lives, Clean Your Hands. A Guide to the Implementation of the WHO.
Multimodal Hand Hygiene Improvement Strategy. [Link] of the
World Health Organization
Undang-undang Nomor 44 tahun 2009 tentang rumah sakit.

Direktorat Bina Pelayanan Keperawatan & KM 36

Anda mungkin juga menyukai