Perawatan Keluarga untuk Lansia di Indonesia
Perawatan Keluarga untuk Lansia di Indonesia
PENDAHULUAN
Indonesia termasuk negara yang memasuki era penduduk berstruktur lanjut usia
(aging structured population) karena mempunyai jumlah penduduk dengan usia 60
tahun keatas sekitar 7,18%. Pulau yang mempunyai jumlah penduduk lansia
terbanyak (7%) adalah pulau Jawa dan Bali. Peningkatan jumlah penduduk lanjut
usia ini antara lain disebabkan karena tingkat sosial ekonomi masyarakat yang
meningkat, kemajuan di bidang pelayanan kesehatan dan tingkat pengetahuan
masyarakat yang meningkat (Effendi, 2009). Hasil Sensus Penduduk tahun 2010
menunjukkan bahwa jumlah penduduk lansia Indonesia adalah 18,57 juta jiwa,
meningkat sekitar 7,93% dari tahun 2000 yaitu sebanyak 14,44 juta jiwa.
Diperkirakan jumlah penduduk lansia di Indonesia akan terus bertambah sekitar
450.000 jiwa per tahun. Sehingga, pada tahun 2025 jumlah penduduk lansia di
Indonesia akan berjumlah sekitar 34,22 juta jiwa (BPS, 2010).
1
Masalah kesehatan lanjut usia tidak terjadi begitu saja, tetapi melalui proses
kemunduran yang panjang. Ketika kemunduran fisik dan mental terjadi secara
perlahan dan bertahap dan pada waktu kompensasi terhadap penurunan ini dapat
dilakukan, dikenal sebagai “senescene”, yaitu masa proses menjadi tua. Seseorang
akan menjadi semakin tua pada awal atau akhir usia enam puluhan, tergantung pada
laju kemunduran fisik dan mentalnya, dan juga tergantung pada masing-masing
individu yang bersangkutan. Penyebab fisik dari kemunduran ini merupakan suatu
perubahan pada sel-sel tubuh bukan karena penyakit khusus, tetapi karena proses
menua. Akibatnya terjadi penurunan pada peranan-peranan sosial dan timbulnya
gangguan dalam mencukupi kebutuhan hidupnya, sehingga dapat meningkatkan
ketergantungan yang memerlukan bantuan orang lain. Kemunduran juga bisa terjadi
oleh karena faktor psikologis. Sikap tidak senang terhadap diri sendiri, orang lain,
pekerjaan dan kehidupan pada umumnya dapat menuju ke keadaan seseorang yang
menjadi eksentrik, kurang perhatian dan terasing sosial sehingga penyesuaian
dirinya menjadi buruk, akibatnya orang menurun secara fisik dan mental sehingga
mengalami penurunan dalam melakukan aktivitasnya. Seseorang yang mengalami
ketegangan dan stres hidup akan mempengaruhi laju kemunduran tersebut.
Demikian juga, bahwa motivasi memainkan peranan penting dalam kemunduran.
Dengan adanya gangguan tersebut, menyebabkan lanjut usia menjadi tidak mandiri
dan membutuhkan orang lain untuk melakukan aktivitas hidup sehari-hari (Hurlock,
2000).
Perawatan yang dilakukan anak sendiri diduga memberikan rasa aman dan
nyaman karena mereka lebih toleran terhadap lansia dibandingkan kerabat atau
2
orang lain, sehingga kebutuhan fisik, psikis, sosial, ekonomi dan spiritual lansia bisa
terpenuhi dengan baik. Pada saat merawat lansia, akan sering timbul konflik pada
keluarga yang tinggal bersama atau dekat, sedangkan keluarga yang jauh dirindukan
tetapi tidak bisa sering berkunjung (Fatimah, 2010).
1.3 Tujuan
1.3.1 Tujuan Umum
Tujuan umum penulisan makalah ini adalah agar mahasiswa mengetahui,
mengerti, dapat menjelaskan kembali dan dapat menyusun asuhan keperawatan
pada keluarga dengan lansia.
1.3.2 Tujuan Khusus
Tujuan khusus penulisan makalah ini adalah agar mahasiswa mengetahui,
mengerti, dapat menjelaskan kembali serta dapat mengembangkan teori yang
sudah ada, mengenai hal-hal berikut ini:
1. Mengetahui dan memahami konsep dari lansia.
2. Mengetahui dan memahami tugas perkembangan keluarga dengan lansia.
3. Mengetahui dan memahami peran anggota keluarga terhadap lansia.
4. Mengetahui dan memahami pendekatan keluarga dalam perawatan lansia.
3
5. Mengetahui dan memahami tujuan asuhan keperawatan keluarga dengan
lansia.
6. Mengetahui dan memahami asuhan keperawatan pada keluarga dengan lansia.
7. Mengetahui dan memahami asuhan keperawatan kasus pada keluarga dengan
lansia.
1.4 Manfaat
Mahasiswa mampu memahami konsep tentang lansia serta mengetahui asuhan
keperawatan yang harus diterapkan pada keluarga dengan lansia secara
komprehensif
4
BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA
a. Pralansia (prasenilis)
Seseorang yang berusia antara 45-59 tahun
b. Lansia
Seseorang yang berusia 60 tahun atau lebih
c. Lansia resiko
Seseorang yang berusia 70 tahun atau lebih/seseorang yang berusia 60 tahun
atau lebih dengan masalah kesehatan
d. Lansia potensial
Lansia yang masih mampu melakukan pekerjaan dan/atau kegiatan yang dapat
menghasilkan barang/jasa
5
Lansia yang tidak berdaya mencari nafkah, sehingga hidupnya bergantung pada
bantuan orang lain.
2. Tipe mandiri
Mengganti kegiatan yang hilang dengan yang baru, selektif dalam mencari
pekerjaan, bergaul dengan teman, dan memenuhi undangan.
4. Tipe pasrah
Menerima dan menunggu nasib baik, mengikuti kegiatan agama, dan melakukan
pekerjaan apa saja.
5. Tipe bingung
Kaget, kehilangan kepribadian, mengasingkan diri, minder, menyesal, pasif, dan
acuh tak acuh.
6
c. Berkurangnya jumlah sel
2. Perubahan Makro, yang jelas terlihat seperti:
a. Mengecilnya mandibula
b. Menipisnya discus intervertebralis
c. Erosi permukaan sendi-sendi
d. Osteoporosis
e. Atropi otot
f. Emphysema Pulmonum
g. Presbyopi
h. Arterosklerosis
i. Manopause pada wanita
j. Demintia senilis
k. Kulit tidak elastis
3. Perubahan per sistem yang dialami oleh lansia:
1) Perubahan Sistem Pernapasan
a. Otot pernafasan kaku dan kehilangan kekuatan, shg volume paru
berkurang
b. Penurunan aktivitas silia
c. Alveoli melebar dan jumlahnya berkurang
d. Penurunan tekanan parsial oksigen (75 mmHg)
e. Darah yg tereduksi bertambah
f. Kemampuan batuk efektif berkurang
g. Mudah terkena pneumonia
2) Perubahan Sistem Persyarafan
a. Lambat dalam merespon
b. Perubahan pancaindera
c. Penglihatan
d. Pendengaran
e. Pengecapan
7
f. perabaan
g. Mengecilnya syaraf indera
h. Sering terjadi neuritis dan hilangnya sensasi
3) Perubahan Sistem Kardiovaskuler
a. Katub jantung menebal dan kaku
b. Kemampuan pompa menurun 1% stlh umur 20 th
c. Kehilangan elastisitas pembuluh darah
d. Kurangnya efektifitas pembuluh darah perifer untuk oksigenasi
e. Tekanan darah meningkat akibat meningkatnya resistensi pembuluh
darah perifer
4) Perubahan Sistem Genitourinari
a. Ginjal mengecil dan nefron atrofi
b. Blood flow ke ginjal menurun sampai 50%
c. Vesika urinaria, kapasitasnya menurun sampai 200 ml
d. Frekwensi BAK meningkat
e. Pembesaran prostat + 75% pd usia 65th
f. Atrovi vulva
g. Vagina, selaput menjadi kering, elastisitas jaringan menurun, sekresi
menjadi berkurang
h. Keasaman vagina lebih alkalis basa
i. Permukaan menjadi halus
5) Perubahan Sistem endokrin
a. Produksi hampir semua hormon menurun
b. Fungsi paratiroid dan sekresinya tidak berubah
c. Menurunnya aktivitas tiroid, sehingga BMR menurun
d. Defisiensi hormonal sering terjadi pada lansia
e. Pituitary, pertumbuhan hormon ada tetapi rendah dan hanya ada di
pembuluh darah dan produk : ACTH, TSH, FSH dan LH menurun.
f. Menurunnya Produksi aldosteron
8
6) Perubahan Sistem Pencernaan
a. Kehilangan gigi
b. Indera pengecapan menurun sampai 80%
c. Esofagus melebar
d. Rasa lapar menurun
e. Asam lambung menurun dan sering terjadi korosif
f. Peristaltik melemah, biasanya timbul konstipasi
g. Fungsi absorbsi melemah (terganggu)
h. Liver (hati), semakin mengecil dan menurunnya kemampuan
metabolisme karena blood flow menurun
7) Perubahan Sistem Muskuloskeletal
a. Tulang kehilangan densitas, sehingga mudah rapuh
b. Resiko terjadi fraktur
c. Kyphosis
d. Persendian besar dan menjadi kaku
e. Lansia wanita lebih resiko fraktur
f. Pinggang, lutut dan jari pergelangan tangan terbatas
g. Diskus intervertebralis menipis dan menjadi pendek
8) Perubahan Integumen
a. Kulit menjadi keriput dan kehilangan jaringan lemak
b. Kulit kering dan elastisitas menurun
c. Kelenjar keringat mulai tidak bekerja
d. Pigmentasi kulit berkurang, dan sering timbul bercak hitam akibat
menurunnya aliran darah
e. Penyembuhan luka berkurang
f. Kuku jari tangan dan kaki menjadi tebal dan rapuh
g. Pertumbuhan rambut berkurang, rambut mjd kelabu dan menipis
h. Pada wanita lebih dari 60 tahun rambut wajah kadang meningkat
i. Temperatur tubuh menurun
9
9) Perubahan Sistem reproduksi
a. Selaput lendir vagina menurun/kering
b. Ovarium dan uterus menciut
c. Payudara atrofi
d. Testis masih dapat berproduksi walaupun ada penurunan
e. Dorongan sex tetap sampai lebih dari 70 tahun asal sehat
f. Frekwensi sexual intercouse cenderung menurun, tetapi kapasitas untuk
melakukan dan menikmati berjalan terus.
g. Impotensi tersering kulit hitam : kulit putih : kulit berwarna ( 35% :
30% : 15% )
2.5 Masalah pada Lansia
Masalah-masalah kesehatan yang sering terjadi pada lansia akibat perubahan sistem
(Yusuf, Ah dkk, 2015), antara lain:
a. Lansia dengan masalah kesehatan pada sistem pernafasan, antara lain : Penyakit
Paru Obstruksi Kronik, Tuberkulosis, Influenza dan Pneumonia.
b. Lansia dengan masalah kesehatan pada sistem kardiovaskuler, antara lain :
Hipertensi, Penyakit Jantung Koroner, Cardiac Heart Failure.
c. Lansia dengan masalah kesehatan pada sistem neurologi, seperti Cerebro
Vaskuler Accident.
d. Lansia dengan masalah kesehatan pada sistem musculoskeletal, antara lain :
Faktur, Osteoarthritis, Rheumatoid Arthritis, Gout Artritis, Osteporosis.
e. Lansia dengan masalah kesehatan pada sistem endokrin, seperti DM.
f. Lansia dengan masalah kesehatan pada sistem sensori, antara lain : Katarak,
Glaukoma, Presbikusis.
g. Lansia dengan masalah kesehatan pada sistem pencernaan, antara lain :
Ginggivitis / Periodontis, Gastritis, Hemoroid, Konstipasi.
h. Lansia dengan masalah kesehatan pada sistem reproduksi dan perkemihan,
antara lain : Menoupause, BPH, Inkontinensia.
10
i. Lansia dengan masalah kesehatan pada sistem integumen, antara lain :
Dermatitis Seborik, Pruritus, Candidiasis, Herpes Zoster, Ulkus Ekstremitas
Bawah, Pressure Ulcers.
j. Lansia dengan masalah Kesehatan jiwa, seperti Demensia.
11
2. Memperbaiki gaya hidup dengan mengkombinasikan diet, aktifitas fisik, terapi
medis dan farmakologis.
12
3. Lanjut usia mempunyai potensi besar untuk menjadi dekubitus karena perubahan
kulit berkaitan dengan bertambahnya usia, antara lain:
1) Berkurangnya jaringan lemak subkutan
2) Berkurangnya jaringan kolagen dan elastisitas
3) Menurunnya efisiensi kolateral capital pada kulit sehingga kulit menjadi
lebih tipis dan rapuh
4) Adanya kecenderungan lansia imobilisasi sehingga potensi terjadinya
dekubitus.
a. Klien lanjut usia yang masih aktif, yang keadaan fisiknya masih mampu
bergerak tanpa bantuan orang lain sehingga untuk kebutuhannya sehari-hari
masih mampu melakukan sendiri.
b. Klien lanjut usia yang pasif atau yang tidak dapat bangun, yang keadaan
fisiknya mengalami kelumpuhan atau sakit.
2. Pendekatan psikis
13
Pada dasarnya klien lanjut usia membutuhkan rasa aman dan cinta kasih
sayang dari lingkungan, termasuk anggota keluarga yang memberikan
perawatan. Untuk itu keluarga harus selalu menciptakan suasana yang aman,
tidak gaduh, membiarkan mereka melakukan kegiatan dalam batas kemampuan
dan hobi yang dimilikinya.
Keluarga harus membangkitkan semangat dan kreasi klien lanjut usia
dalam memecahkan dan mengurangi rasa putus asa, rendah diri, rasa
keterbatasan sebagai akibat dari ketidakmampuan fisik, dan kelainan yang
[Link] itu perlu dilakukan karena perubahan psikologi terjadi karena
bersama dengan semakin lanjutnya usia. Perubahan-perubahan ini meliputi
gejala-gejala, seperti menurunnya daya ingat untuk peristiwa yang baru terjadi,
berkurangnya kegairahan atau keinginan, peningkatan kewaspadaan, perubahan
pola tidur dengan suatu kecenderungan untuk tiduran diwaktu siang, dan
pergeseran libido.
3. Pendekatan sosial
Mengadakan diskusi, tukar pikiran, dan bercerita merupakan salah satu
upaya keluarga dalam pendekatan sosial. Memberi kesempatan untuk berkumpul
bersama dengan sesama klien usia berarti menciptakan sosialisasi mereka. Jadi
pendekatan social ini merupakan suatu pegangan bagi keluarga bahwa orang
yang dihadapinya adalah makhluk sosial yang membutuhkan orang lain.
4. Pendekatan spiritual
Keluarga harus bisa memberikan ketenangan dan kepuasan batin dalam
hubungannya dengan Tuhan atau agama yang dianutnua dalam kedaan sakit atau
mendeteksi kematian.
14
2. Membantu mempertahankan serta membesarkan daya hidup atau semangat
hidup klien lanjut usia (life support)
3. Menolong dan merawat klien lanjut usia yang menderita penyakit atau
gangguan baik kronis maupun akut.
4. Merangsang para petugas kesehatan untuk dapat mengenal dan menegakkan
diagnosa yang tepat dan dini, bila mereka menjumpai kelainan tertentu
5. Mencari upaya semaksimal mungkin, agar para klien lanjut usia yang
menderita suatu penyakit, masih dapat mempertahankan kebebasan yang
maksimal tanpa perlu suatu pertolongan (memelihara kemandirian secara
maksimal).
15
BAB 3
3.1 Pengkajian
I. IDENTITAS UMUM KELUARGA
a. Identitas Kepala Keluarga
Nama : ……………….. Pendidikan : …………………
Umur : ……………….. Pekerjaan : …………………
Agama : ……………….. Alamat : …………………
Suku : ……………….. Nomor Telpon : …………………
b. Komposisi Keluarga
L/ Hub.
No Nama Umur Pekerjaan Pendidikan
P Klg
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.
10.
c. Genogram
d. Tipe Keluarga
a) Jenis tipe keluarga
b) Masalah yang terjadi dengang tipe tersebut
e. Suku Bangsa
16
a) Asal suku bangsa
b) Budaya yang berhubungan dengan kesehatan
f. Agama dan kepercayaan yang mempengaruhi kesehatan
g. Status Sosial Ekonomi Keluarga:
a) Anggota keluarga yang mencari nafkah
b) Penghasilan
c) Upaya lain
d) Harta benda yang dimiliki (perabot, transportasi, dll)
e) Kebutuhan yang dikeluarkan tiap bulan
f) Aktivitas Rekreasi Keluarga
17
III. PENGKAJIAN LINGKUNGAN
a. Karakteristik Rumah
a) Luas rumah:
b) Tipe rumah:
c) Kepemilikan:
d) Jumlah dan ratio kamar/ruangan:
e) Ventilasi/cendela:
f) Pemanfaatan ruangan:
g) Septic tank: ada/tidak, letak :
h) Sumber air minum:
i) Kamar mandi/WC:
j) Sampah: , limbah RT :
k) Kebersihan lingkungan:
b. Karakteristik Tetangga dan Komunitas RW
a) Kebiasaan:
b) Aturan/kesepakatan:
c) Budaya:
c. Mobilitas Geografis Keluarga:
d. Perkumpulan Keluarga dan Interaksi dengan Masyarakat :
e. Sistem Pendudukung Keluarga :
V. FUNGSI KELUARGA
18
a. Fungsi afektif
b. Fungsi sosialisasi
a) Kerukunan hidup dalam keluarga:
b) Interaksi dan hubungan dalam keluarga:
c) Anggota keluarga yang dominan dalam pengambilan
keputusan:
d) Kegiatan keluarga waktu senggang:
e) Partisipasi dalam kegiatan social:
c. Fungsi perawatan kesehatan
a) Pengetahuan dan persesi keluarga tentang
penyakit/masalah kesehatan keluarganya:
b) Kemampuan keluarga mengambil keputusan tindakan
kesehatan yang tepat:
c) Kemampuan keluarga merawat anggota keluarga yang
sakit:
d) Kemampuan keluarga memelihara lingkungan rumah
yang sehat:
e) Kemampuan keluarga menggunakan fasilitas kesehatan di
masyarakat :
d. Fungsi reproduksi
a) Perencanaan jumlah anak:
b) Akseptor: Ya, yang digunakan, lamanya
c) Akseptor: Belum , alasannya:
d) Keterangan lain:
e. Fungsi ekonomi
a) Upaya pemenuhan sandang pangan:
b) Pemanfaatan sumber di msyarakat:
19
[Link] keluarga terhadap stressor:
[Link] koping:
[Link] adaptasi disfungsional:
VII. KEADAAN GIZI KELUARGA
a. Pemenuhan gizi: pemenuhan diet
b. Upaya lain:
20
IX. HARAPAN KELUARGA
a. Terhadap masalah kesehatannya
b. Terhadap petugas kesehatan yang ada
PEMERIKSAAN FISIK
No
Pemeriksaan Bpk. Y Ibu. X An. A An. B
.
1. Kepala
2. TTV
3. BB, TB, PB
4. Mata
5. Hidung
6. Mulut
7. Leher
8. Dada
9. Perut
10. Tangan
11. Kaki
21
keluarga bapak A yang
DO : perubahan pola perilaku, berhubungan dengan
perubahan kemampuan ketidakmampuan keluarga
penyelesaia masalah, perubahan mengambil keputusan
respon yang biasanya terhadap mengenai tindakan kesehatan
stimulus, disorentasi, iritabilitas. yang tepat.
22
dirasakan
TOTAL
23
lansia yang mandi dan menggunakan
sakit 3. higien oral alternatif untuk
Kebersihan mandi dan hygiene
lingkungan oral.
adekuat
3. keluarga mampu
menyebutkan alat-
alat alternatif untuk
hygiene
Gangguan Setelah Setelah 1. 1. 1. Kaji linkungan
sensori dilakukan dilakukan Keluarga Keluarga terhadap
persepsi : kunjungan asuhan mampu tidak kemungkinan
penglihatan keluarga, keperawata memberik membent bahaya terhadap
pada Ibu S di keluarga n: an arahan ak-bentak keamanan
keluarga mampu 1. Lansia yang lansia
bapak A yang mengambil dapat sederhana 2. Ajarkan pada
berhubungan keputusan menerima 2. keluarga untuk :
dengan dengan metode 2. Keluarga -memberi arahan
ketidakmamp tepat alternatif Keluarga meletakk yang sederhana
uan keluarga untuk mampu an barang dalam satu waktu
mengambil menjalani memodifi yang - menarik perhatian
keputusan hidup kasi dibutuhk lansia melalui
mengenai dengan lingkunga an dan sentuhan
tindakan penurunan n menjauhk - hindari berteriak
kesehatan penglihatan an pada lansia
yang tepat barang- 3. kolaborasi
2. barang meningkatkan
Memanipul yang penglihatan lansia
asi berbahay yang masih tersisa.
lingkungan a
sekitar
24
pasien
untuk
manfaat
terapeutik
25
BAB 4
26
4.2 Pengkajian
I. IDENTITAS UMUM KELUARGA
a. Identitas Kepala Keluarga
Nama : Tn. C Pendidikan : SD
Umur : 36 tahun Pekerjaan : Sopir Taxi
Agama : Islam Alamat : RT 1 RW 2,
Dusun Ngluyup,
Desa Layu, Kec.
Seger Jawa
Timur
Suku : Jawa Nomor Telpon : 081334333332
b. Komposisi Keluarga
No. Nama L/P Umur Hub. Klg Pekerjaan Pendidikan
Ibu rumah
1. Ny. F P 80 Ibu RT SD
tangga
2. Tn. C L 36 Anak 3 Sopir SMA
c. Genogram
80
Keterangan :
Tn. C
: Laki-laki
: Perempuan
80 : Sakit
: meninggal
27
d. Tipe Keluarga
1. Jenis tipe keluarga: keluarga Ny. F merupakan keluarga kecil, karena
sekarang hanya ada Ny. F dengan anaknya yang terakhir dikarenakan anak –
anaknya sudah menikah dan keluar dari rumah. Terkadang Ny. F merasa
kesepaian karena anak terakhirnya bekerja dari pagi sampai malam.
2. Masalah yang terjadi dengan tipe tersebut: Ny. F menyatakan bahwa
keluarganya merupakan suku jawa dan tinggal di lingkungan orang-orang
yang bersuku jawa. Ny. F berkomunikasi dengan bahasa Jawa antara anggota
keluarga maupun kelurga [Link] dan kepercayaan yang
mempengaruhi kesehatan tidak ada.
e. Status Sosial Ekonomi Keluarga
Penghasilan keluarga ± Rp. 500.000 perbulan, yang diperoleh dari hasil nakanya
bekerja sebagai sopir Sedangkan Ny. F tidak menghasilkan uang karena hanya
bekerja sebagai ibu rumah tangga. Pengeluaran perbulan untuk keperluan makan
sekitar Rp. 300.000,- dan sisanya untuk keperluan lain –lain seperti membayar
listrik, kebutuhan sehari - hari.
f. Aktivitas Rekreasi Keluarga
Kegiatan yang dilakukan keluarga setiap hari hanya menonton TV, dan biasanya
Ny. F melihat TV sendirian karena anak – anaknya jarang menjenguknya.
28
Ny. F mengatakan tidak mempunyai penyakit keturunan. Ny. F mengatakan
beberapa minggu ini sering kebingngan ketika beraktifitas dan tidak pernah
bisa mengingat lagi.
Anak Ny. F (Tn. A) tidak memiliki masalah kesehatan.
Anak Ny. F (Tn. B) tidak memiliki masalah kesehatan.
Anak Ny. F (Tn. B) tidak memiliki masalah kesehatan.
d. Riwayat kesehatan keluarga sebelumnya
Ny. F tidak dapat mengingat masa lalunya dengan baik, namun Ny. F ingat
kalau suaminya dulu meninggal karena penyakit stroke saat berusia 60 tahun,
dari pihak suaminya saat ini hubungannya baik, walaupun jarang sekali
bertemu.
29
ruang keluarga terdapat bola lampu 15 watt, masing–masing kamar dan
dapur terdapat lampu pijar 10 watt.
3. Sumber air keluarga berasal dari sumur gali yang telah dipasang pompa
air, kualitas air tergantung musim, pada musim hujan warna air keruh
kekuning-kuningan, pada musin kemarau warna air agak bening, kadang-
kadang air agak berbau. Sumber air minum keluarga menggunakan air
sumur yang ditampung dan diendapkan dalam tong. Jarak septictank
dengan sumur ± 8 meter. Keluarga mengatakan membuang air limbah
keluarga langsung ke kolam dibelakang rumah dengan membuat saluran
yang menuju ke kolam penampungan.
4. Pembuangan sampah dilakukan penampungan dulu di ember sampah
kemudian di pindah dan di bakar di dalam lubang di samping rumah.
Sarana penerangan keluarga Ny. F menggunakan listrik semuanya.
R. tamu
30
c. Mobilitas Geografis Keluarga:
Keluarga Ny. F Keluarga jarang bepergian ke tempat-tempat yang jauh. Kegiatan
rutin Ny. F adalah pergi ke pasar untuk sekedar belanja sehari hari, pasar
tersebut tidak jauh dari rumahnya (sekitar 1 km), aktivitas lainnya menonton TV.
d. Perkumpulan Keluarga dan Interaksi dengan Masyarakat :
Keluarga Ny. F mengatakan setiap hari raya semua anak-anak Ny. F berkumpul
di rumah. Namun terkadang kalau tidak ada biaya hanya berkumpul Ny. F dan
anak ke 3 nya.
e. Sistem Pendudukung Keluarga :
Ny. F tidak memiliki keluarga yang berada di sekitar rumahnya sehingga jika
sakit biasanya tetangga Ny. F dibawa ke Puskesmas yang berjarak 5 meter dari
rumah.
31
Ny. F mengatakan ia terbiasa menanamkan pada anak-anaknya sikap hormat-
menghormati dan menyayangi antar keluarga dan dengan tetangga. Keluarga
Ny. F menganut agama Islam, dalam kehidupan keseharian menggunakan
keyakinan sesuai syariat islam. Keluarga Ny. F menganut norma atau adat
yang ada di lingkungan sekitar misalnya takziah atau menjenguk tetangga
yang sakit. Disamping itu keluarga menganut kebudayaan Jawa, norma yang
dianut juga kebudayaan jawa. Dalam kebiasaan keluarga Ny. F tidak ada yang
bertentangan dengan kesehatan.
V. FUNGSI KELUARGA
a. Fungsi Afektif
Keluarga Ny. F mengatakan berusaha memelihara keharmonisan antar anggota
keluarga, saling menyayangi, dan menghormati. Keluarga Ny. F memang rukun
namun kebutuhan ekonomi dan keperluan keluarga yang membuat keluarga
Ny. F jarang berkumpul.
b. Fungsi Sosialisasi
Ny. F mengatakan interaksi antar anggota keluarga dapat berjalan dengan baik.
keluarga Ny. F menganut kebudayaan jawa. Keluarga Ny. F berusaha untuk
tetap memenuhi aturan yang ada keluarga, misalnya saling menghormati dan
menghargai.
c. Fungsi Perawatan Kesehatan
Kemampuan merawat anggota keluarga yang sakit : Jika ada keluarga yang
sakit, hal pertama yang dilakukan adalah mengerokinnya dan jika sakitnya
berlarut segera dibawa ke Puskesmas terdekat.
d. Fungsi Kesehatan Keluarga
1. Kemampuan mengenal masalah kesehatan
Keluarga menganggap apa yang dialami Ny. F adalah hal yang biasa
dialami oleh orang tua, sehingga tidak ada usaha untuk mencari tahu
tentang penyakit Ny. F dan bagaimana mengenai kesehatannya.
2. Kemampuan mengambil keputusan mengenai tindakan kesehatan
32
Keluarga mengatakan kepikunan yang diderita oleh Ny. F merupakan sakit
yang biasa diderita oleh orang tua. Keluarga hanya mengingatkan Ny. F
untuk tidak pergi kemana-mana.
3. Kemampuan keluarga memelihara/ memodifikasi lingkungan rumah yang
sehat.
Keluarga mengatakan 2 hari sekali membersihakan rumahnya. Sistem
pembuangan limbah keluarga langsung ke saluran kolam di belakang
rumah, pembuangan sampah ditampung sementara di ember sampah
kemudian di bakar di lubang pembakaran setiap dua hari sekali.
4. Kemampuan menggunakan fasilitas kesehatan yang terdapat di lingkungan
setempat.
Keluarga Ny. F mengatakan jika ada keluarga yang sakit segera dibawa ke
Bidan, dan jika perlu rujukan dibawa ke Puskesmas terdekat. Ny. F
seringkali tidak mau dibawa ke pelayanan kesehatan kecuali benar-benar
dirasa parah.
e. Fungsi Reproduksi
Ny. F memiliki tiga orang anak yang 2 sudah menikah, dan 1 belum menikah.
Ny. F tidak menggunakan KB.
f. Fungsi Ekonomi
Keluarga Ny. F termasuk keluarga kurang mampu, hal ini dapat dilihat dari
penghasilan keluarga tiap bulannya sekitar Rp.500.000 /perbulan. Keluarga Ny.
F dapat memenuhi setiap kebutuhan pangannya dengan usaha yang keras dari
anak bungsunya.
33
Keluarga Tn. MS mengatakan hampir tidak pernah mengalami stres baik
itu stes jangka panjang ( > 6 bulan ).
b. Kemampuan Keluarga Berespon Terhadap Situasi/Stressor
Pemecahan masalah dalam keluarga Ny. F biasanya dengan cara musyawarah
antar anggota keluarga, karena keterbatasan Ny. F dalam aktifitas dan ingatan
semua masalah diselesaikan oleh anak bungsunya.
c. Strategi Adaptasi Disfungsional
Dalam menghadapi suatu permasalahan keluarga Ny. F biasanya
mengkonsentrasikan pada bagaimana cara pemecahan masalah tersebut.
Sehingga keluarga tidak terganggu dalam melakukan pekerjaan keseharian.
34
b. Tn A
Usia : 36 tahun
Jenis kelamin :L
Tekanan Darah : 120/80 mmHg
Berat Badan : 59 kg
Tinggi Badan : 163 cm
Nadi : 80 x/mnt
RR : 20x/mnt
Termometer : 36,3° C
Keadaan fisik tidak menunjukan adanya kelainan
35
2. 2 Mei 2017 DS : Keluarga mengatakan Ketidakefekifan pemeliharaan
lansia jarang mandi, tidak mau kesehatan dari keluarga pada
makan, sering mengompol, tidak Ny. F
mengganti pakaian.
DO : Ketidakmampuan
mengambil perlengkapan mandi,
ketidakmampuan mengancing
pakaian, ketidakmampuan
mengambil makanan dan
memasukkan ke mulut.
Diagnosa Keperawatan :
Defisit pengetahuan pada Tn. A
36
3. Potensial untuk dicegah
1. Mudah 3/3 x 1 Tn. A mau untuk diberi
2. Cukup 3 1 =1 edukasi tentang
3. Tidak Dapat 2 kesehatan ibunya.
1
4. Menonjolnya masalah
1. Masalah 2 Ny. F sudah terbiasa
dirasakan, dan 1 2/2 x 1 dengan aktifitas
perlu =1 sendiri,walaupun
penanganan terkadang tidak bisa
segera pulang. Namun Ny. F
2. Masalah 1 sudah membiasakan hal
dirasakan, tidak itu.
perlu ditangani
segera
3. Masalah tidak
dirasakan 0
TOTAL 4
37
3. Potensial untuk dicegah
1. Mudah 2/3 x 1 Ny. F selalu lupa setelah
2. Cukup 3 = 2/3 melakukan kegiatan apa.
1
3. Tidak Dapat 2 Dan harus diawasi ketika
1 melakukan aktifitas
sehari – hari.
4. Menonjolnya masalah
1. Masalah 2 Ny. F sudah terbiasa
dirasakan, dan 1 2/2 x 1 dengan aktifitas
perlu =1 sendiri,walaupun
penanganan terkadang tidak bisa
segera pulang. Namun Ny. F
2. Masalah 1 sudah membiasakan hal
dirasakan, tidak itu.
perlu ditangani
segera
3. Masalah tidak
dirasakan 0
TOTAL 3 2/3
38
INTERVENSI
ASUHAN KEPERAWATAN KELUARGA
39
sederhana
a. Tentukan budaya yang
ada yang dapat
mempengaruhi atau
mengurangi suatu
perilaku kesehatan.
4. Mampu memodifikasi
lingkungan
a. Identifikasi sumber
yang ada untuk
melaksanakan
program kesehatan.
b. Tentukan support
keluarga untuk
merubah perilaku
individu
5. Rujuk individu bila
masalah terus berlanjut
Ketidakefekif Setelah Setelah [Link] 1. Modifikasi perilaku (4360)
an dilakukan dilakuka a mampu Keluarga 1. Mampu mengenal masalah
pemeliharaan kunjuang n asuhan membant membant kesehatan
kesehatan dari an keperaw u u a) Identifikasi masalah
keluarga pada keluarga atan : memenuh memenuh perilaku dalam
Ny. F mampu 1. i i hygiene keluarga.
Domain 1 : memberi Lansia kebutuha Ny. F b) Identifikasi perilaku
Promosi kan memilik n hygiene minimal keluarga yang perlu
Kesehatan, bantuan i hygine Ny. F 2x sehari diubah.
Class 2 : perawata yang 2. 2. Mampu mengambil
Manajemen n kepada adekuat Keluarga keputusan yang tepat
Kesehatan lansia. 2. mengetah tentang masalah keluarga
Asupan ui alat a) Dampingi keluarga
40
nutrisi alternatif untuk identifikasi
lansia untuk keuntungan mengubah
adekuat mandi perilaku
3. dan b) Diskusikan dengan
Kebersi hygiene kelurga tentang
han oral modifikasi perilaku
lingkung 3. Mampu melakukan
an tindakan keperawatan
adekuat sederhana.
a) Ubah perilku mulai
dari hal yang paling
kecil.
4. Mampu memodifikasi
lingkungan
a) Tentukan motivasi
keluarga untuk
merubah perilaku
b) Dorong keluarga
untuk
mempertahankan
perilaku sehat
5. Mampu memanfaatkan
sarana pelayanan
kesehatan
41
BAB 5
PENUTUP
5.1 Kesimpulan
Menurut WHO lansia (elderly) yaitu antara usia 60-74 tahun, usia tua (old): 75-
90 tahun, dan usia sangat tua (very old) adalah usia lebih dari 90 tahun. Sedangkan
menurut DepKes RI ada 3, yaitu lansia presenilis : antara usia 45-59 tahun, lansia
yaitu usia 60 tahun ke atas, dan lansia beresiko yaitu usia lebih dari 70 tahun atau
lebih dari usia 60 tahun dengan masalah kesehatan. Masalah-masalah kesehatan
yang sering terjadi pada lansia akibat perubahan sistem, antara lain: 1) Lansia
dengan masalah kesehatan pada sistem pernafasan, antara lain : Penyakit Paru
Obstruksi Kronik, Tuberkulosis, Influenza dan Pneumonia, 2) Lansia dengan
masalah kesehatan pada sistem kardiovaskuler, antara lain : Hipertensi, Penyakit
Jantung Koroner, Cardiac Heart Failure, 3) Lansia dengan masalah kesehatan pada
sistem neurologi, seperti Cerebro Vaskuler Accident, 4) Lansia dengan masalah
kesehatan pada sistem musculoskeletal, antara lain : Faktur, Osteoarthritis,
Rheumatoid Arthritis, Gout Artritis, Osteporosis, 5) Lansia dengan masalah
kesehatan pada sistem endokrin, seperti DM, 6) Lansia dengan masalah kesehatan
pada sistem sensori, antara lain : Katarak, Glaukoma, Presbikusis, 7) Lansia dengan
masalah kesehatan pada sistem pencernaan, antara lain : Ginggivitis / Periodontis,
Gastritis, Hemoroid, Konstipasi, 8) Lansia dengan masalah kesehatan pada sistem
reproduksi dan perkemihan, antara lain : Menoupause, BPH, Inkontinensia, 9)
Lansia dengan masalah kesehatan pada sistem integumen, antara lain : Dermatitis
Seborik, Pruritus, Candidiasis, Herpes Zoster, Ulkus Ekstremitas Bawah, Pressure
Ulcers, 10) Lansia dengan masalah Kesehatan jiwa, seperti Demensia.
42
keluarga antar generasi, meneruskan untuk memahami eksistensi usia lanjut,
menemukan makna hidup. Selain itu, lansia sendiri harus dapat melakukan
perawatan dirinya sendiri, keluarga dan orang-orang disekitarnya pun perlu
memahami bagaimana melakukan perawatan yang tepat bagi lansia tersebut. Oleh
karena selama individu tersebut memiliki semangat untuk hidup serta melakukan
kegiatan-kegiatan, maka ia akan tetap produktif dan berbahagia meskipun usianya
telah lanjut.
5.2 Saran
Demikian jika ada keluarga yang masih memiliki lansia khususnya dengan
penyakit kronis sebaiknya diberi edukasi untuk meningkatkan kualitas hidup lansia.
Selain itu juga menjaga kedekatan dan keharmonisan keluarga besar.
43
DAFTAR PUSTAKA
Depkes RI. 2003. Klasifikasi Lansia. Jakarta: Dinas Kesehatan Republik Indonesia.
Diakses pada [Link]
%[Link];jsessionid=E284EA7867E5D904459AC2F4E3C0FEFA?sequence=5
tanggal 15 Mei 2017 pukul 21.07 WIB
Efendi, Ferry dan Makhfudli. 2013. Keperawatan Kesehatan Komunitas Teori dan
Praktik dalam keperawatan. Jakarta: Salemba Medika
Nanda Internasional. 2015. Diagnosis Keperawatan : Definisi dan Klasifikasi 2015-
2017. Jakarta : EGC
Nugroho. W. 2000. Keperawatan Gerontik. Edisi 2. Jakarta. EGC
Setianto. 2004. Pengaruh Aktifitas Sehari-hari Terhadap Keseimbangan Pada Lansia.
Jakarta: Unit Press.
Stanley, Mickey. 2006. Buku Ajar Keperawatan Gerontik. Alih Bahasa; Nety Juniarti,
Sari [Link]; Eny Meiliya, Monica Ester. Jakarta: EGC
Wilkinson, Judith M., Ahern, Nancy R.,. 2009. Buku Saku Diagnosis Keperawatan :
Diagnosis Nanda, Intervensi NIC, Kriteria Hasil NOC. Jakarta : EGC
Yusuf, Ah, dkk. 2015. Buku Ajar Keperawatan Kesehatan Jiwa. Jakarta: Salemba
Medika.
44