Nama : Rizqy Anita Tamma
NIM : D0116086
Nomor Ujian :
UTS SISTEM ADMINISTRASI NEGARA REPUBLIK INDONESIA
1. Jelaskan secara riil bagaimanakah maksud dari paradigma Administration by
Public yang secara empiris diterapkan dalam kehidupan bernegara pada saat ini,
dan bagaimana ciri-ciri yang menonjol dari Administrasi Negara/ Publik di
Indonesia ?
Maksud dari Paradigma Administration by Public (administrasi oleh negara) adalah
perubahan terhadap penyelenggaraan peran Administrasi Publik khususnya dengan
pendekatan yang digunakan dalam pembuatan dan pelaksanaan suatu aturan. Paradigma
ini lebih berorientasi pada pemberdayaan masyarakat, mengutamakan kemandirian dan
kemampuan masyayrakat sehingga masyarakat berpartisipasi aktif dalam memperhatikan
konteks lokal dan permasalahan yang ada di negara tersebut. Pemerintah berupaya
memfasilitasi masyarakat agar mampu mengatur hidupnya tanpa harus sepenuhnya
tergantung kepada pemerintah.
Secara riil, paradigma Administration by Public yaitu adanya Program Nasional
Pemberdayaan Masyarakat (PNPM) Mandiri dimana program tersebut bertujuan untuk
melakukan pemberdayaan masyarakat agar mampu mandiri dalam mengolah sumber
daya-sumber daya yang dimiliki masyarakat. Keikutsertaan masyarakat dalam
merumuskan/ merencanakan, pelaksanaan dan evaluasi dalam musrenbang (Musyawarah
Perencanaan Pembangunan). Membentuk beberapa Usaha Kecil Menengah agar melatih
kemandirian serta melakukan pemberdayaan masyarakat.
Adapun ciri-ciri dari Administrasi Negara/ Publik di Indonesia :
a. Kurang bersifat otonom
b. Mendapat pengaruh politik sangat kuat
c. Mendapat otoritas terbatas dan terlalu ditekan secara politis dari atasan
d. Kurang mendapat sentuhan pasar karena orientasinya non-profit, namun lebih
bersifat pelayanan.
e. Relatif bersifat monopolistis pada hal-hal tertentu
f. Memiliki orang-orang dengan tingkat kepuasan kerja & komitmen yang rendah
terhadap organisasi
g. Kegiatan administrasi negara selalu mendapat penilaian dari publik
h. Mendapat harapan dari publik untuk bertindak adil, responsif, tanggung jawab,
dan mengarah pada good governance
i. Bersifat hati-hati, maka konsekuensinya menjadi kaku dalam bertindak
j. Sulit menentukan insentif dalam performance kinerja yang ada
k. Memliki tujuan dan kriteria yang kompleks, kadang juga kurang jelas dan tak
mudah diukur
l. Memiliki orang yang berkarakteristik bercariatif dari berbagai disiplin ilmu
Dari beberapa ciri tersebut, menurut saya ada beberapa ciri yang menonjol dan
berpengaruh Administrasi Negara di Indonesia :
a. Relatif bersifat monopolistis pada hal-hal tertentu
Beberapa hal hanya dimiliki oleh administrsi Negara tidak dimiliki oleh swasta
b. Mendapat pengaruh politik sangat kuat dan mendapat otoritas terbatas dan terlalu
ditekan secara politis dari atasan.
Hal ini dikarenakan yang menjadi pembuat kebijakan dalam administrasi adalah
Legislatif. Dimana legislatif dipilih oleh rakyat berdasarkan pencalonan dari
partai-partai politik. Oleh karena itu, dalam membuat sebuah aturan, biasanya
legislatif akan memasukkan unsur politik dari partainya sehingga dalam
administrasi tersebut secara tidak langsung dipengaruhi politik yang berasal dari
legislatif itu.
c. Kurang mendapat sentuhan pasar karena orientasinya non-profit, namun lebih
bersifat pelayanan.
Hal ini jelas karena administrasi negara bertugas atau memiliki fungsi untuk
memberikan pelayanan kepada masyarakat atau yang disebut public service,
sehingga administrasi negara tidak bertujuan untuk mendapatkan laba.
d. Memiliki tujuan dan kriteria yang kompleks, kadang juga kurang jelas dan susah
diukur.
Hal ini mungkin disebabkan administrasi negara memiliki faktor-faktor yang
membuat administrasi negara menjadi kompleks, misalnya adalah tujuan, misi,
tupoksi dll. Tujuan menjadi kurang jelas apabila jangka waktu untuk pencapaian
tujuan terlalu panjang dan fungsi yang tidak jelas yang menyebabkan tujuan
menjadi susah diukur atau dipatok. Kegiatan AN di perhatikan dan diamati oleh
publik karena berhubungan dengan masyarakat(publik) bersifat pelayanan jadi
sulit diukur tingkat keberhasilannya karena berasal dari tingkat kepuasan publik
yang beraneka ragam.
e. Bersifat hati-hati sehingga terkesan kaku.
Karena birokrasi memiliki aturan-aturan yang harus dilakukan secara sistematis,
sehingga harus berdasarkan urutan-urutan atau alur yang teratur. Aturan-aturan
tersebut harus dipatuhi agar tujuan dapat dicapai.
f. Kegiatan administrasi negara selalu mendapat penilaian dri publik.
Hal ini karena pada dasarnya kegiatan administrasi negara adalah untuk
memberikan pelayanan kepada publik yang sedang dilakukan oleh pemerintah
dan masyarakat akan menilai hasilnya yang akan disampaikan atau tidak.
g. Memiliki karakter yang bervariatif dari berbagai disiplin ilmu.
Karena dalam mengatur negara dengan berbagai permasalahan yang ada
dimasyarakat, diperlukan para ahli berbagai ilmu untuk dapat menyelesaikan
masalah tersebut.
2. Jelaskan secara argumentatif, faktor-faktor dominan apa yang menyebabkan
kompleksitas Administrasi Negara/ Publik di Indonesia ?
Faktor-faktor yang mendominasi yang menyebabkan kompleksitas administrasi
Negara di Indonesia dalam materi kuliah Sistem Administrasi Negara Republik Indonesia
adalah :
a. Tujuan yang akan dicapai
Tujuan yang telah ditentukan untuk dicapai dari tahapan waktu dapat digolongkan
menjadi : tujuan yang tidak akan pernah tercapai, tujuan jangka panjang, tujuan
jangka sedang dan tujuan jangka pendek. Semakin jauh jangkauan waktu untuk
pencapaian tujuan, maka semakin abstrak dan bersifat kualitatifm sedangkan semakin
pendek jangkauan waktu akan semakin konkret dan lebih mudah untuk
dikuantifikasikan.
b. Misi yang harus diemban
Misi bangsa Indonesia ini telah tertuang dalam pembukaan UUD alinea ke 4 yaitu
Melindungi segenap bangsa & seluruh tumpah darah Indonesi, Meningkatkan
kesejahteraan umum, Mencerdaskan kehidupan bangsa dan Ikut melaksanakan
ketertiban dunia yang berdasarkan kepada kemerdekaan, perdamaian abadi &
keadilan social. Melihat misi tersebut betapa kompleksitasnya negara kita.
c. Tugas pokok yang harus diselenggarakan
Tugas pokok pemerintah kita menyelenggarakan tugas umum pemerintah dan
pembangunan. Dimana Tugas umum pemerintahan adalah tugas pengaturan &
pelayanan seperti perumusan kebijakan yang mengikat rakyat banyak, memelihara
ketertiban & keamanan, pemberian bimbingan, pembinaan, pemberian perizinan dan
pengawasan (ide negara hukum). Tugas pembangunan : dimulai dari
penelitian,perencanaan, penyusunan program, penentuan proyek pelaksanaan, sampai
pada pengawasan dan evaluasi hasil pembangunan
d. Perumusan dan pelaksanaan fungsi
Tugas pokok menjadi serangkaian fungsi, dari kementrian ke direktorat ke dirjen ke
kantor pelayanan. Fungsi suatu departemen/kementerian akan menjadi tugas pokok
bagi direktorat-direktorat jenderal dalam lingkungan departemen/kementerian yang
bersangkutan. Fungsi direktorat jenderal akan menjadi tugas pokok dari direktorat-
direktorat dalam lingkungan dirjen yang bersangkutan.
e. Struktur organisasi
Administrasi moderen ditandai ciri-ciri bahwa struktur organisasi yang diperlukan
untuk mewadahi tujuan, misi yang harus diemban, tugas pokok, dan fungsi, yang
tentunya besar & kompleks. Struktur organisasi di pemerintah merupakan struktur
yang kompleks
f. Administrasi kepegawaian
Tidak ada kegiatan administrasi yang berlangsung tanpa manusia, terlepas dari
lengkapnya fasilitas, besarnya biaya yang tersedia, moderennya perlengkapan, dan
majunya ilmu pengetahuan maupun teknologi yang canggih. Manusia memiliki
karakteristik yang berbeda ini menyebabkan manusia menjadi bagian yang kompleks.
g. Administrasi keuangan
Kompleksitas masalah dibidang administrasi keuangan pada dasarnya bertitik tolak
pada kelangkaan yang dihadapai oleh setiap organisasi dibidang keuangan.
h. Administrasi logistik
Kegiatan dalam administrasi menuntut berbagai macam logistik yang menunjang.
mulai dari logistik kegiatan operasional oleh tenaga manusia, sampai pada
penggunaan logistik yang sophisticated seperti komputer.
Administrasi Logistik mencakup kegiatan yang sangat luas, mulai dari perencanaan
kebutuhan, pengadaan, penyimpanan termasuk pergudangan, distribusi, pemakaian,
sampai pada penghapusan
i. Hubungan dan tata cara kerja.
Rule of the games yang harus ditaati dan disepakati oleh seluruh pemain dalam
organisasi. Diwujudkan dalam berbagai Peraturan perundang-undangan, yang
mengatur kehidupan berbangsa, bernegara, dan bermasyarakat antar Aparatur Negara
dan Warga Negaranya.
Dari beberapa faktor-faktor yang mendominasi yang menyebabkan kompleksitas
Administrasi Negara tersebut, menurut saya beberapa faktor utama yang sangat
mendominasi kekompleksan Administrasi Negara adalah :
a. Tugas pokok yang harus diselenggarakan
b. Administrasi kepegawaian
c. Hubungan dan tata cara kerja
Hal ini dikarenakan Indonesia merupakan negara yang luas dan memiliki jumlah
penduduk yang banyak. Maka dari itu tugas pokok yang harus diselenggarakan benar-
benar harus dijalankan semaksimal mungkin agar tujuan dapat dicapai. Administrasi
kepegawaian juga mendominan karena walaupun dilengkapi dengan fasilitas yang
canggih, biaya yang tersedia, modernnya perlengkapan dan majunya IPTEK, semua
tidak akan ada artinya tanpa adanya manusia yang menjalankan fungsi-fungsi
tersebut. Administrasi kepegawaian merupakan hal yang sangat menentukan
tercapainya sebuah tujuan. Apabila kinerja pegawai baik maka tugas-tugas yang
dilaksanakan juga pasti baik serta pelayanan yang dihasilkan untuk masyarakat akan
memuaskan. Dan juga baiknya hubungan dan tata kerja para pegawai, apabila semua
pegawai dapat mentaati peraturan-peraturan yang tersedia maka administrasi negara
di Indonesia akan berjalan dengan mulus dan akan mencapai tujuan yang telah
ditetapkan. Tidak dapat dipungkiri apabila pegawai-pegawai tidak melaksanakan
tugasnya dengan baik, tidak menyelenggarakan administrasi kepegwaian, dan tidak
mentaati tata cara kerja maka yang akan dihasilkan adalah semakin bertambahnya
kompelsitas administrasi negara yang seringkali ditandai dengan praktek-praktek
KKN.
3. Jelaskan menurut pendapat saudara, apa yang anda pahami tentanng Sistem
Administrasi Negara Republik Indonesia ?
Sistem Administrasi Negara Kesatuan Republik Indonesia (SANKRI), menurut
Salamoen Soeharyo & Nasri Efendi (2005:18) :
a. Dalam arti luas, SANKRI adalah sistem penyelenggaraan Negara Kesatuan
Republik Indonesia, yang merupakan sistem penyelenggaraan kehidupan negara
dan bangsa dalam segala aspeknya, dengan memanfaatkan dan mendayagunakan
segala kemampuan keseluruhan aparatur negara beserta seluruh rakyat di seluruh
wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia, serta segenap dana dan daya yang
tersedia secara nasional, demi tercapainya tujuan dan terlaksananya tugas
nasional/negara sebagaimana tersebut dalam UUD 45.
b. Dalam arti sempit, SANKRI adalah keseluruhan penyelenggaraan pemerintahan
(executive power), dengan memanfaatkan dan mendayagunakan kemampuan
pemerintah dan segenap aparatur pemerintah dari semua peringkat pemerintahan
beserta seluruh rakyat dari seluruh wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia,
dan dengan memanfaatkan pula segenap dana dan daya yang tersedia secara
nasional, demi tercapainya tujuan dan terlaksananya tugas nasional / negara
sebagaimana tersebut dalam UUD 45.
Maka dapat disimpulkan bahwa Sistem Administrasi Negara Republik Indonesia
adalah suatu sistem yang berinteraksi dengan berbagai faktor-faktor geografi fisik,
demografi, kekayaan alam, ideologi, politik, ekonomi, sosial, budaya dan hankam yang
dijalankan secara saling berkaitan satu sama lain untuk mencapai tujuan negara dan
melaksanakan tugas negara yang memuat fungsi-fungsi negara yang masing-masing
dilaksanakan oleh lembaga negara yang telah ditetapkan dalam UUD 1945
4. Jelaskan apa yang melatarbelakangi terjadinya Amandemen dan perbedaan
mendasar apa saja dari Sistem Ketatanegaraan Indonesia pada saat sebelum dan
sesudah Amandemen UUD 1945, dan bagaimanakah dampak dari amandemen itu
terhadap Sistem Ketatanegaeran di Indonesia?
Latar belakang terjadinya amandemen UUD 1945 adalah :
A. UUD 1945 membentuk struktur ketatanegaraan yang bertumpu pada kekuasaan
tertinggi di tangan MPR yang sepenuhnya melaksanakan kedaulatan rakyat. Hal ini
berakibat pada tidak terjadinya checksand balances pada institusi-institusi
ketatanegaraan.
B. UUD 1945 memberikan kekuasaan yang sangat besar kepada pemegang kekuasaan
eksekutif (presiden). Sistem yang dianut UUD 1945 adalah executive heavy yakni
kekuasaan dominan di tangan Presiden di lengkapi dengan berbagai hak
konstitusional yang lazim disebut hak prerogatif (antara lain: memberi grasi, amnesti,
abolosi, dan rehabilitasi) dan kekuasaan legislatif karena memiliki kekuasaan
membentuk undang-undang.
C. UUD 1945 mengandung pasal-pasal yang terlalu “luwes” dan”fleksibel” sehingga
dapat menimbulkan multi tafsir.
D. UUD 1945 terlalu banyak memberi kewenangan kepada kekuasaan Presiden untuk
mengatur hal-hal penting dengan Undang-Undang. Presiden juga memegang
kekuasaan legislatif sehingga presiden dapat merumuskan hal-hal penting sesuai
kehendaknya dalam undang-undang.
E. Rumusan UUD 1945 tentang semangat penyelenggaran negara belum cukup
didukung ketentuan konstitusi yang memuat aturab dasar tentang kehidupan yang
demokratis, supremasi hukum, pemberdayaan rakyat, penghormatan HAM dan
otonomi daerah. Hal ini membuka peluang bagi berkembangnya praktek
penyelenggaraan negara yang tidak sesuai dengan pembukan UUD 1945, antara lain :
Tidak adanya check and balances antar lembaga negara dan kekuasaan terpusat
pada presiden.
Infrastruktur yang dibentuk, antara lain partai politik dan organisasi masyarakat.
Pemilihan Umum diselenggarakan untuk memenuhi persyaratan demokrasi
formal karena seluruh proses tahapan pelaksanaannya dikuasi oleh pemerintah.
Kesejahteraan sosial berdasarkan pasal 33 UUD 1945 tidak tercapai, justru yang
berkembang adalah sistem monopoli dan oligopoli
Perbedaan Sistem Ketatanegaraan sebelum dan sesudah amandemen :
No Sebelum Amandemen Sesudah Amandemen
1 Cenderung menganut supremasi MPR Menganut supremasi konstitusi (UUD 1945
(sebagai lembaga tertinggi negara) berada pada kedudukan tertinggi dalam
negara)
2 MPR merupakan lembaga tertinggi MPR berkedudukan sebagai lembaga tinggi
negara sebagai pemegang dan pelaksana negara yang setara dengan lembaga tinggi
sepenuhnya kedaulatan rakyat lainnya, seperti lembaga Kepresidenan,
DPR, DPD, BPK, MA, dan MK. Atau
dengan kata lain kedudukan lembaga
tertinggi
3 Tidak dimungkinkan check and balances Adanya sistem checks and balances antar
antar cabang kekuasaan negara. cabang kekuasaan negara
4 Eksektutif memiliki kekuasaan sangat Antara lembaga eksekutif, legislatif, dan
besar dalam penyelenggara negara (jika yudikatif memiliki kekuasaan yang sama
diba ndingkan dengan lembaga legislatif dalam penyelenggaraan negara.
dan yudikatif)
5 Lembaga perwakilan terdiri dari MPR Lembaga perwakilan bertambah satu
dan DPR, dimana DPR merupakan menjadi MPR, DPR dan DPD dimana
political representative. kekuasaan DPR diperkuat menjadi lembaga
negara pemegang kekuasaan yang
membentuk undang-undang.
6 Presiden dan wakil presiden diangkat dan Presiden dan wakil presiden dipilih secara
diberhentikan oleh MPR, serta masa langsung oleh rakyat melalui pemilu, serta
jabatannya tidak memiliki batasan waktu. masa jabatannya memiliki batas waktu.
7 Kekuasaan Presiden tak terbatas. Kekuasaan presiden diatur dan dibatasi.
8 Belum ada lembaga DPD, MK dan KY. Dibentuk lembaga negara baru dalam
rumpun legislatif yaitu DPD, dan rumpun
yudikatif yaitu MK (sebagai lembaga yang
menyelesaikan kasus politik dan
ketatanegaraan secara hukum) dan KY.
Dampak dilakukannya amandemen terhadap Sistem Ketatanegaraan di Indonesia :
1. Pertama, MPR tidak lagi berkedudukan sebagai lembaga tertinggi negara dan pemegang
kedaulatan rakyat tertinggi. Penghapusan sistem lembaga tertinggi negara adalah upaya
logis untuk keluar dari perangkap design ketatanegaraan yang rancu dalam menciptakan
mekanisme check and balances di antara lembaga-lembaga negara. Selama ini, model
MPR sebagai “pemegang kedaulatan rakyat sepenuhnya” telah menjebak Indonesia dalam
pemikiran-pemikiran kenegaraan yang berkembang pasca-abad pertengahan untuk
membenarkan kekuasaan yang absolut. Model supremasi MPR lebih dekat kepada teori
Jean Bodin bahwa kedaulatan adalah kekuasaan tertinggi terhadap warga negara tanpa
ada pembatasan bersifat ‘tunggal’, ‘asli’, ‘abadi’, dan ‘tidak dapat dibagi-bagi’
2. Kedua, hapusnya sistem unikameral dengan supremasi MPR dan munculnya sistem
bikameral. Dalam sistem bikameral, masing-masing kamar mencerminkan jenis
keterwakilan yang berbeda yaitu DPR merupakan representasi penduduk sedangkan DPD
merupakan representasi wilayah (daerah). Perubahan ini terjadi menjadi sebuah
keniscayaan karena selama ini Utusan Daerah dalam MPR tidak ikut membuat keputusan
politik nasional dalam peringkat undang-undang. Menurut Ramlan Surbakti keterwakilan
daerah dalam MPR sangat tidak efektif dalam mewujudkan aspirasi dan kepentingan
daerah
3. Ketiga, perubahan proses pemilihan Presiden dan Wakil Presiden dari sistem perwakilan
menjadi sistem pemilihan langsung. Perubahan ini tidak terlepas pengalaman
“pahit” yang terjadi pada proses pengisian jabatan Presiden dan Wakil Presiden selama
Orde Baru dan pemilihan Presiden tahun 1999. Paling tidak ada empat alasan
mendasar (raison d’etre) pergantian ini.
Presiden dan Wakil Presiden yang terpilih melalui pemilihan langsung akan
mendapat mandat dan dukungan yang lebih riil rakyat sebagai wujud kontrak sosial
antara pemilih dengan tokoh yang dipilih. Kemauan orang-orang yang
memilih (volonte generale) akan menjadi pegangan bagi Presiden dan Wakil
Presiden dalam melaksanakan kekuasaannya.
Pemilihan langsung secara otomatis akan menghindari intrik-intrik politik dalam
proses pemilihan dengan sistem perwakilan. Intrik politik akan dengan mudah terjadi
dalam sistem multipartai. Apalagi kalau pemilihan umum tidak menghasilkan partai
pemenang mayoritas, maka tawar-tawar politik menjadi sesuatu yang tidak mungkin
dihindarkan. Sekadar contoh, kegagalan Megawati menjadi Presiden pada SU MPR
tahun 1999 memberikan “kesadaran baru” bahwa sistem perwakilan dalam pengisian
Presiden memberikan peluang yang sangat besar kepada kekuatan-kekuatan politik di
MPR untuk mengkhianati keinginan sebagian besar rakyat Indonesia. Kemenangan
PDI Perjuangan dalam pemilihan umum tahun 1999 dapat berarti bahwa sebagian
besar volonte generale sudah “mendaulat” Megawati untuk memimpin Indonesia.
Tetapi karena adanya pertimbangan-pertimbangan politik sesaat hasil pemilihan
Presiden pada tahun 1999 menjadi sebuah ironi politik dalam proses pertumbuhan
demokrasi di Indonesia.
Pemilihan langsung akan memberikan kesempatan yang luas kepada rakyat untuk
menentukan pilihan secara langsung tanpa mewakilkan kepada orang lain.
Kecenderungan dalam sistem perwakilan adalah terjadinya penyimpangan antara
aspirasi rakyat dengan wakilnya. Ini semakin diperparah oleh dominannya pengaruh
partai politik yang telah mengubah fungsi wakil rakyat menjadi wakil partai
politik (political party representation).
Pemilihan langsung dapat menciptakan perimbangan antara berbagai kekuatan dalam
penyelenggaraan negara terutama dalam menciptakan mekanisme checks and
balances antara Presiden dengan lembaga perwakilan karena sama-sama dipilih oleh
rakyat. Selama ini, yang terjadi dalam sistem ketatanegaraan Indonesia, MPR
menjadi sumber kekuasaan dalam negara karena adanya ketentuan bahwa lembaga
ini adalah pemegang kedaulatan rakyat. Kekuasaan inilah yang dibagi-bagikan secara
vertikal kepada lembaga-lembaga tinggi negara lain termasuk kepada
Presiden. Akibatnya, kelangsungan kedudukan Presiden sangat tergantung kepada
MPR.
4. Keempat, mekanisme impechment yang semakin jelas. Sebelum dilakukan
perubahan, dalam pasal-pasal UUD 1945 tidak secara eksplisit memuat ketentuan
mengenai impeachment. Instrumen untuk melakukan kontrol ini dapat dilihat dalam
Penjelasan Umum UUD 1945 yang menyatakan, “…Oleh karena itu DPR dapat
senantiasa mengawasi tindakan-tindakan presiden dan jika Dewan menganggap bahwa
presiden sungguh melanggar haluan negara yang telah ditetapkan oleh UUD atau oleh
MPR, maka Majelis itu dapat diundang untuk persidangan istimewa agar supaya bisa
minta pertanggungjawab kepada presiden”.
5. Kelima, hapusnya DPA sebagai salah satu lembaga tinggi negara. Sebelum dilakukan
Amandemen Keempat, kedudukan konstitusional DPA sebagai lembaga tinggi negara
dapat ditemui dalam Pasal 16 UUD 1945 yang menyatakan bahwa DPA berkewajiban
memberi jawab atas pertanyaan Presiden dan berhak mengajukan usul kepada
pemerintah. Dalam penjelasan Pasal 16 dinyatakan “Dewan ini ialah sebuah Council of
State yang berwajib memberi pertimbangan-pertimbangan kepada pemerintah. Ia hanya
sebuah badan penasehat belaka”.
6. Keenam, kekuasaan kehakiman tidak hanya dijalankan oleh Mahkamah Agung tetapi
juga oleh Mahkamah Konstitusi. Perubahan ini secara eksplisit dinyatakan dalam Pasal 24
ayat (2) UUD 1945 bahwa kekuasaan kehakiman dilakukan oleh sebuah Mahkamah
Agung dan oleh sebuah Mahkamah Konstitusi. Berdasarkan ketentuan Pasal 24 ayat (1)
Mahkamah Agung berwenang mengadili pada tingkat kasasi, menguji peraturan
perundang-undangan di bawah undang terhadap undang-undang dan kewenangan lainnya
yang diberikan oleh undang-undang.