0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
6 tayangan25 halaman

Makna Pengetahuan dalam Kesehatan Ibu

Dokumen tersebut membahas tentang tinjauan pustaka mengenai konsep dasar pengetahuan dan MP-ASI. Pada bab ini dijelaskan pengertian pengetahuan, pengukuran pengetahuan, tingkat pengetahuan dalam domain kognitif, faktor yang mempengaruhi pengetahuan, perubahan pengetahuan, serta definisi MP-ASI.

Diunggah oleh

Noah Ole
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
6 tayangan25 halaman

Makna Pengetahuan dalam Kesehatan Ibu

Dokumen tersebut membahas tentang tinjauan pustaka mengenai konsep dasar pengetahuan dan MP-ASI. Pada bab ini dijelaskan pengertian pengetahuan, pengukuran pengetahuan, tingkat pengetahuan dalam domain kognitif, faktor yang mempengaruhi pengetahuan, perubahan pengetahuan, serta definisi MP-ASI.

Diunggah oleh

Noah Ole
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

BAB 2

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Kajian Teori

2.1.1 Konsep dasar Pengetahuan

[Link] Pengertian Pengetahuan

Pengetahuan merupakan hasil dari tahu, dan ini terjadi setelah orang

melakukan pengindraan terhadap suatu objek tertentu. Pengindraan terjadi melalui

panca indra manusia, yakni indra penglihatan, pendengaran, penciuman, rasa dan

raba. Sebagian besar pengetahuan manusia diperoleh melalui mata dan telinga

(Notoatmodjo, 2012: 138).

Pengetahuan adalah kesan di dalam pikiran manusia sebagai hasil

penggunaan panca indranya. Pengetahuan adalah segala apa yang diketahui

berdasarkan pengalaman yang didapatkan oleh setiap manusia (Mubarak, 2011:

81).

Tingkat pengetahuan ibu tentang kesehatan akan mempengaruhi sikap dan

perilaku ibu di bidang kesehatan. Tidak hanya sikap dan perilaku saja, masih ada

faktor-faktor yang lain. Pengetahuan juga akan turut menentukan baik buruknya

kondisi lingkungan dan pelayanan kesehatan. Ibu dengan tingkat pengetahuan

memadai lebih mudah dibawa dalam perilaku sehat, lebih mampu menciptakan

kondisi lingkungan sehat, serta mempu menjangkau pelayanan kesehatan.

[Link] Pengukuran Pengetahuan

Pengukuran pengetahuan dapat dilakukan dengan memberikan

seperangkat alat tes/kuisioner tentang objek pengetahuan yang mau diukur dari

subjek penelitian atau responden. Kedalaman pengetahuan yang ingin kita ketahui
atau kita ukur dapat kita sesuaikan. Selanjutnya dilakukan penelitian dimana

setiap jawaban benar dari masing-masing pertanyaan diberi nilai 1 dan jika salah

diberi nilai 0.

Penilaian dilakukan dengan cara membandingkan jumlah skor jawaban

dengan skor yang diharapkan (tertinggi) kemudian dikalikan 100% dan hasilnya

berupa persentase dengan rumusan yang digunakan sebagai berikut:

Rumus :
Sp
N= X100%
Sm

Keterangan:

N = Nilai pengetahuan

Sp = Skor yang didapat

Sm = Skor tertinggi maksimum

Selanjutnya persentase jawaban diintervensikan dalam kalimat

kualitatif dengan acuan sebagai berikut:

Baik : 76-100%

Cukup : 56-75%

Kurang : < 56%

[Link] Tingkat Pengetahuan Di Dalam Domain Kognitif

Menurut Notoatmodjo (2012: 138), pengetahuan yang tercakup dalam

domain kognitif mempunyai enam tingkatan yaitu:

1) Tahu (know)

Tahu diartikan sebagai mengingat suatu materi yang telah dipelajari

sebelumnya. Termasuk ke dalam pengetahuan tingkat ini adalah

mengingat kembali sesuatu yang spesifik dan seluruh bahan yang


dipelajari atau rangsangan yang telah diterima. Oleh sebab itu, tahu ini

merupakan tingkat pengetahuan yang paling rendah. Kata kerja untuk

mengukur bahwa orang tahu tentang apa yang dipelajari antara lain dapat

menyebutkan, menguraikan, mendefinisikan menyatakan dan sebagainya.

2) Memahami (comprehension)

Memahami diartikan sebagai suatu kemampuan untuk menjelaskan secara

benar tentang objek yang diketahui, dan dapat menginterprestasikan materi

tersebut secara benar. Orang yang telah paham terhadap objek atau materi

harus dapat menjelaskan, menyebutkan contoh, menyimpulkan,

meramalkan dan sebagainya terhadap objek yang telah dipelajarinya.

3) Aplikasi (aplication)

Aplikasi diartikan sebagai kemampuan untuk menggunakan materi yang

telah dipelajari pada situasi atau kondisi sebenarnya. Aplikasi di sini dapat

diartikan sebagai aplikasi atau penggunaan hukum-hukum, rumus, metode,

prinsip dan sebagainya dalam konteks atau situasi yang lain.

4) Analisis (analysis)

Analisis adalah suatu kemampuan untuk menjabarkan materi atau suatu

objek ke dalam komponen-komponen, tetapi masih di dalam satu struktur

organisasi, dan masih ada kaitannya satu sama lain. kemampuan analisis

ini dapat dilihat dari penggunaan kata kerja, seperti dapat menggambarkan,

membedakan, memisahkan, mengelompokkan dan sebagainya.

5) Sintesis (synthesis)

Sintesis menunjukkan kepada suatu kemampuan untuk meletakkan atau

menghubungkan bagian-bagian di dalam suatu bentuk keseluruhan yang


baru. Dengan kata lain sintesis adalah suatu kemampuan untuk menyusun

formulasi baru dari formulasi-formulasi yang ada. Misalnya dapat

menyusun, dapat merencanakan, dapat meringkaskan, dapat menyesuaikan

dan sebagainya terhadap suatu teori atau rumusan-rumusan yang telah ada.

6) Evaluasi (evaluation)

Evaluasi ini berkaitan dengan kemampuan untuk melakukan justifikasi

atau penilaian terhadap suatu materi atau objek. Penilaian-penilaian itu

didasarkan pada suatu kriteria yang ditentukan sendiri, atau menggunakan

kriteria-kriteria yang telah ada.

[Link] Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Pengetahuan

Pengukuran pengetahuan dapat dilakukan dengan wawancara atau angket

yang menanyakan tentang isi materi yang ingin diukur dari subjek penelitian atau

responden. Menurut (Mubarak, 2011: 83) terdapat tujuh faktor yang

mempengaruhi pengetahuan seseorang adalah sebagai berikut:

1) Pendidikan

Pendidikan berarti bimbingan yang diberikan seseorang kepada orang lain

agar dapat memahami sesuatu hal. Tidak dapat dipungkiri bahwa semakin

tinggi pendidikan seseorang, semakin mudah pula mereka menerima

informasi, dan pada akhirnya pengetahuan yang dimilikinya semakin

banyak. Sebaliknya, jika seseorang memiliki tingkat pendidikan yang

rendah, maka akan menghambat perkembangan sikap orang tersebut

terhadap penerimaan informasi dan nilai-nilai yang baru diperkenalkan.


2) Pekerjaan

Lingkungan pekerjaan dapat membuat seseorang memperoleh pengalaman

dan pengetahuan, baik secara langsung maupun tidak langsung.

3) Umur

Dengan bertambahnya umur seseorang akan mengalami perubahan aspek

fisik dan psikologis (mental). Secara garis besar, pertumbuhan fisik terdiri

atas empat kategori perubahan yaitu perubahan ukuran, perubahan

proporsi, hilangnya ciri-ciri lama, dan timbulnya ciri-ciri baru. Perubahan

ini terjadi karena pematangan fungsi organ. Pada aspek psikologis atau

mental, taraf berpikir seseorang menjadi semakin matang dan dewasa.

4) Minat

Minat sebagai suatu kecenderungan atau keinginan yang tinggi terhadap

sesuatu. Minat menjadikan seseorang untuk mencoba dan menekuni suatu

hal, sehingga seseorang memperoleh pengetahuan yang lebih mendalam.

5) Pengalaman

Pengalaman adalah suatu kejadian yang pernah dialami seseorang dalam

berinteraksi dengan lingkungannya. Orang cenderung berusaha melupakan

pengalaman yang kurang baik. Sebaliknya, jika pengalaman tersebut

menyenangkan, maka secara psikologis mampu menimbulkan kesan yang

sangat mendalam dan membekas dalam emosi kejiwaan seseorang.

Pengalaman baik ini akhirnya dapat membentuk sikap positif dalam

kehidupannya.
6) Kebudayaan Lingkungan Sekitar

Lingkungan sangat berpengaruh dalam pembentukan sikap pribadi dan

sikap seseorang. Kebudayaan lingkungan tepat kita hidup dan dibesarkan

mempunyai pengaruh besar terhadap pembentukan sikap kita. apabila

dalam suatu wilayah mempunyai sikap menjaga kebersihan lingkungan,

maka sangat mungkin masyarakat sekitarnya mempunyai sikap selalu

menjaga kebersihan lingkungan.

7) Informasi

Kemudahan untuk memperoleh suatu informasi dapat mempercepat

seseorang memperoleh pengetahuan yang baru.

[Link] Perubahan Pengetahuan

Sebelum seseorang mengadopsi perilaku (berperilaku baru) ia harus tahu

terlebih dahulu apa arti atau manfaat perilaku tersebut bagi dirinya dan

keluarganya. Orang akan melakukan pemberantasan sarang nyamuk (PSN)

apabila ia tahu apa tujuan dan manfaatnya bagi kesehatan atau keluarganya, dan

apa bahaya-bahayanya bila tidak melakukan PSN tersebut. Indikator-indikator

apa yang dapat digunakan untuk mengetahui tingkat pngetahuan atau kesadaran

terhadap kesehatan menurut Notoatmodjo (2012: 144), dapat dikelompokkan

menjadi:

1) Pengetahuan tentang sakit dan penyakit yang meliputi:

(1) Penyebab penyakit

(2) Gejala atau tanda-tanda penyakit

(3) Bagaimana cara pengobatan, atau ke mana menvari pengobatan

(4) Bagaimana cara penularannya


(5) Bagaimana cara pencegahannya termasuk imunisasi dan sebagainya.

2) Pengetahuan tentang cara pemeliharaan kesehatan dan cara hidup sehat,

meliputi:

(1) Jenis-jenis makanan yang bergizi

(2) Manfaat makanan yang bergizi bagi kesehatannya

(3) Pentingnya olahraga bagi kesehatan

(4) Penyakit-penyakit atau bahaya merokok, minum minuman keras, narkoba

dan sebagainya.

(5) Pentingnya istirahat cukup, relaksasi, rekreasi, dan sebagainya.

3) Pengetahuan tentang kesehatan lingkungan

(1) Manfaat air bersih

(2) Cara-cara pembuangan limbah yang sehat, termasuk pembuangan sampah.

(3) Manfaat pencahayaan dan penerangan rumah yang sehat

(4) Akibat polusi (polusi air, udara, dan tanah) bagi kesehatan.

2.1.2 Konsep Dasar MP-ASI


[Link] Definisi MP-ASI
Menurut Depkes RI (2000), yang dimaksud dengan Makanan Pendamping
ASI adalah makanan atau minuman yang mengandung zat gizi diberikan kepada
bayi/anak untuk memenuhi kebutuhan gizi yang diberikan mulai umur 4 bulan
sampai 24 bulan. MP-ASI adalah makanan yang diberikan kepada bayi setelah
usia 4-5 bulan berupa makanan padat dapat berupa pisang, tepung beras/serelia
dan makanan dalam bentuk formula yang diproduksi oleh industri.
Makanan pendamping ASI adalah makanan tambahan yang diberikan
kepada bayi setelah bayi berusia 6 bulan sampai bayi berusia 24 bulan. Jadi selain
makanan pendamping ASI, ASI-pun harus tetap diberikan kepada bayi, paling
tidak sampai usia 24 bulan, peranan makanan pendamping ASI sama sekali bukan
untuk menggantikan ASI melainkan hanya untuk melengkapi ASI jadi dalam hal
ini makanan pendamping ASI berbeda dengan makanan sapihan diberikan ketika
bayi tidak lagi mengkonsumsi ASI (Krisnatuti, 2008:14
Makanan pendamping ASI adalah makanan tambahan yang diberikan pada
bayi setelah usia 6 bulan. Jika makanan pendamping ASI diberikan terlalu dini
(sebelum usia 6 bulan) akan menurunkan konsumsi ASI dan bayi bisa mengalami
gangguan pencernaan. Namun sebaliknya jika makanan pendamping ASI
diberikan terlambat akan mengakibatkan bayi kurang gizi, bila terjadi dalam
waktu panjang (Hendras, 2010). Standar makanan pendamping ASI harus
memperhatikan angka kecukupan gizi (AKG) yang dianjurkan kelompok umur
dan tekstur makanan sesuai perkembangan usia bayi (Azrul, 2003).
MP-ASI adalah makanan atau minuman yang mengandung gizi diberikan
kepada bayi/anak untuk memenuhi kebutuhan gizinya. MP-ASI diberikan mulai
usia 4 bulan sampai 24 bulan. Semakin meningkat usia bayi/anak, kebutuhan akan
zat gizi semakin bertambah karena tumbuh kembang, sedangkan ASI yang
dihasilkan kurang memenuhi kebutuhan gizi. MP-ASI merupakan makanan
peralihan dari ASI ke makanan keluarga. Pengenalan dan pemberian MP-ASI
harus dilakukan secara bertahap baik bentuk maupun jumlahnya, sesuai dengan
kemampuan pencernaan bayi/anak. Pemberian MP-ASI yang cukup dalam hal
kualitas dan kuantitas penting untuk pertumbuhan fisik dan perkembangan
kecerdasan anak yang bertambah pesat pada periode ini.
Beberapa pengertian dan istilah lain menyebutkan bahwa makanan
pendamping ASI bisa disebu dengan makanan pelengkap, makanan tambahan,
makanan padat atau makanan sapihan (Weaning Food). Secara umum ada dua
jenis MP-ASI (Aminah, 2010) yaitu :
1. MP ASI pabrik yaitu MP ASI hasil pengolahan pabrik yang biasanya
sudah dikemas /instan, sehingga ibu tinggal menyajikan atau mengolah
sedikit untuk diberikan kepada bayi.
2. MP ASI lokal yaitu MP ASI buatan rumah tangga atau hasil olahan
posyandu, dibuat dari bahan-bahan yang sering ditemukan disekitar rumah
sehingga harganya terjangkau. Sering juga disebut MP ASI dapur ibu,
karena bahan-bahan yang akan dibuat makanan pendamping ASI di olah
sendiri.
[Link]. Tujuan pemberian MP-ASI
Pemberian makan pendamping ASI akan memberikan manfaat yang baik
untuk bayi, karena pemberian makanan pendamping ASI memiliki tujuan sebagai
berikut : (Djitowiyono, 2010:43-44 ).
1. Melengkapi zat gizi ASI yang sudah berkurang.
2. Mengembangkan kemampuan bayi untuk menerima bermacam- macam
makanan dengan berbagai rasa dan bentuk.
3. Mengembangkan kemampuan bayi untuk mengunyah dan menelan.
4. Mencoba adaptasi terhadap makanan yang mengandung kadar energi
tinggi
5. Menanamkan kebiasaan makan sejak kecil sehingga dapat menerima
hidangan sesuai dengan pola makanan orang dewasa/keluarga sehari-hari,
yaitu menu seimbang.
[Link] Syarat pemberian MP-ASI
1. Tepat Waktu – yaitu saat kebutuhan energy dan gizi bayi melebihi yang
didapat dari ASI.
2. Adekuat – MPASI harus dapat memenuhi dan mengandung cukup energy,
protein, dan mikronutrisi, terutama zat besi dan seng (zinc), vitamin, serta
mineral yang tidak terpenuhi oleh ASI
3. Aman – Dalam menyiapkan MPASI, dari pembuatan, penyimpanan dan
pemberiannya harus higenis atau terjaga kebersihannya
4. Tepat Cara Pemberian – MPASI diberikan sesuai respon rasa lapar dan
napsu makan bayi. Teksturm jumlah dan frekuensi MPASI diberikan
sesuai dengan tahap perkembangan bayi.
5. Mempunyai kepadatan zat gizi yang tinggi, yaitu volume kecil tetapi
jumlah zat gizi optimal,
6. Mutu biologis atau ketersediaan zat gizi tinggi, yaitu mudah dicerna dan
diabsorbsi,
7. Mempunyai mutu organoleptik baik sesuai dengan perkembangan sensorik
anak,
8. Mudah disiapkan.

[Link] Waktu Pemberian MP-ASI


Makanan pendamping ASI harus mulai diberikan ketika bayi tidak lagi
mendapat cukup energi dan nutrient dari ASI saja. Untuk kebanyakan bayi,
makanan tambahan mulai di berikan pada usia 6 bulan. Pada usia ini otot dan
saraf di dalam mulut bayi cukup berkembang untuk memamah. Sebelum usia 4
bulan, bayi akan mendorong makanan keluar dari mulutnya karena mereka belum
bisa mengendalikan gerakan lidahnya dengan baik (WHO, 2003).

1. MP-ASI Diberikan Pada Usia ≥ 6 Bulan


1) ASI adalah salah satu makanan dan minuman yang dibutuhkan oleh
bayi sampai berumur 6 bulan
2) Menunda makanan padat sampai bayi berumur 6 bulan dapat
menghindarkan dari berbagai risiko penyakit
3) Menunda pemberian makanan padat memberikan kesempatan pada
sistem pencernaan bayi untuk berkembang menjadi lebih matang
4) Menunda pemberian makanan padat memberikan kesempatan pada
bayi agar sistem yang dibutuhkan untuk mencerna makanan padat
dapat berkembang dengan baik
5) Menunda pemberian makanan padat mengurangi risiko alergi
makanan
6) Menunda pemberian makanan padat membantu melindungi bayi dari
anemia karena kekurangan zat besi
7) Menunda pemberian makanan padat membantu melindungi bayi dari
risiko terjadinya obesitas di masa datang
8) Menunda pemberian makanan padat membantu para ibu untuk
menjaga kesedian ASI
9) Menunda pemberian makanan padat membantu jarak pada kelahiran
bayi
10) Menunda pemberian makanan padat membuat pemberiannya
menjadi lebih mudah (Dian, 2006).
[Link] Jenis Makanan Pendamping Asi
Mulailah dengan 1 jenis rasa setiap mengenalkan jenis makanan baru.
Jangan mencampurkan beberapa jenis makanan sebelum diketahui pasti bahwa
bayi dapat mentoleransi masing-masing jenis makanan tersebut.
Umumnya bayi cenderung menyukai rasa manis, sebab itu jika ingin
memberikan sayuran, mulailah dengan rasa yang manis misalnya wortel atau ubi
manis. Jika bayi tidak menyukai sayuran, sebaiknya tetap konsisten diberikan
karena dalam beberapa kali pemberian, bayi akan mulai menyukainya.
Mulailah dengan tekstur yang halus kemudian lebih kasar. Perpindahan
refleks tergantung pada ketrampilan bayi. Refleks muntah (gag reflex) terjadi jika
bagian pertengahan lidah dirangsang mundur ke bagian belakang lidah setelah
usia 6 bulan, sehingga memungkinkan bayi mengkonsumsi tekstur makanan yang
lebih kasar.
1. Makanan Bayi Umur 6 – 9 Bulan
1) Pemberian ASI diteruskan
2) Pada umur 6 bulan keadaan alat cerna sudah semakin kuat oleh
karena itu, bayi mulai diperkenalkan dengan MP-ASI lumat 2 x
sehari. (cara membuat terlampir).
3) Untuk mempertinggi nilai gizi makanan, nasi tim bayi ditambah
sedikit demi sedikit dengan sumber zat lemak, yaitu santan atau
minyak kelapa/margarin. Bahan makanan ini dapat menambah
kalori makanan bayi, disamping memberikan rasa enak juga
mempertinggi penyerapan vit A dan zat gizi lain yang larut dalam
lemak.
4) Setiap kali makan, berikanlah MP-ASI bayi dengan takaran
paling sedikit sebagai berikut :
(1) Pada umur 6 bulan – beri 6 sendok makan
(2) Pada umur 7 bulan – beri 7 sendok makan
(3) Pada umur 8 bulan – beri 8 sendok makan
(4) Pada umur 9 bulan – beri 9 sendok makan
2. Makanan Bayi Umur 9 - 12 Bulan
1) Pada umur 10 bulan bayi mulai diperkenalkan dengan makanan
keluarga secara bertahap. Karena merupakan makanan peralihan ke
makanan keluarga, bentuk dan kepadatan nasi tim bayi harus diatur
secara berangsur, lambat laun mendekati bentuk dan kepadatan
makanan keluarga.
2) Berikan makanan selingan 1 kali sehari. Pilihlah makanan selingan
yang bernilai gizi tinggi, seperti bubur kacang ijo, buah, dll. usahakan
agar makanan selingan dibuat sendiri agar kebersihannya terjamin.
3) Bayi perlu diperkenalkan dengan beraneka ragam bahan makanan.
Campurkanlah ke dalam makanan lembik berbagai lauk pauk dan
sayuran secara berganti-ganti (terlampir). Pengenalan berbagai bahan
makanan sejak usia dini akan berpengaruh baik terhadap kebiasaan
makan yang sehat dikemudian hari.
Dengan syarat :
(1) Teruskan pemberian ASI
(2) Berikan makanan lunak 3 kali sehari dengan takaran yang cukup
(3) Berikan makanan selingan 1 kali sehari
(4) Perkenalkan bayi dengan beraneka ragam bahan makanan
3. Makanan Anak Umur 12 – 24 Bulan
1) Pemberian ASI diteruskan. Pada periode umur ini jumlah ASI sudah
berkurang, tetapi merupakan sumber zat gizi yang berkualitas tinggi.
2) Pemberian MP-ASI atau makanan keluarga sekurang-kurangnya 3 kali
sehari dengan porsi separuh makanan orang dewasa setiap kali makan.
Disamping itu tetap berikan makanan selingan 2 kali sehari.
3) Variasi makanan diperhatikan dengan menggunakan Padanan Bahan
Makanan. Misalnya nasi diganti dengan: mie, bihun, roti, kentang, dll.
Hati ayam diganti dengan: tahu, tempe, kacang ijo, telur, ikan. Bayam
diganti dengan: daun kangkung, wortel, tomat. Bubur susu diganti
dengan: bubur kacang ijo, bubur sumsum, biskuit, dll.
4) Menyapih anak harus bertahap, jangan dilakukan secara tiba-tiba.
Kurangi frekuensi pemberian ASI sedikit demi sedikit.
Dengan syarat :
(1) Teruskan pemberian ASI
(2) Berikan makanan keluarga 3 kali sehari
(3) Berikan makanan selingan 2 kali sehari
(4) Gunakan beraneka ragam bahan makanan setiap harinya.
2.1.3 Konsep Dasar Sikap
[Link] Pengertian Sikap

Definisi tradisional tentang sikap berisikan gambaran yang sedikit berbeda

mengenai sikap atau menekankan ke aspek yang sedikit berbeda. G.W. Allport

mengemukakan bahwa “sikap adalah keadaan mental dan saraf dari kesiapan,

yang diatur melalui pengalaman yang memberikan pengaruh dinamik atau terarah

terhadap respon individu pada semua objek dan situasi yang berkaitan dengannya.

Sikap digambarkan sebagai kesiapan untuk menanggapi dengan cara tertentu dan

menekankan implikasi perilakunya (David [Link], dkk, 2009: 137)

Sikap merupakan reaksi atau respon yang masih tertutup dari seseorang

terhadap suatu stimulus atau objek. Manifestasi sikap tidak dapat langsung dilihat

tetapi hanya dapat ditafsirkan terlebih dahulu dari perilaku tertutup. Sikap

merupakan kesiapan atau kesediaan untuk bertindak dan bukan merupakan

pelaksanaan motif tertentu. Sikap bukan suatu tindakan atau aktifitas, akan tetapi

merupakan predisposisi tindakan suatu perilaku (Natoadmojo, 2010: 52).

[Link] Komponen Pokok Sikap

Menurut Allport (dalam Notoadmodjo. 2010: 53) sikap itu terdiri atas 3

komponen pokok, yaitu:

1) Kepercayaan atau keyakinan ide, ide dan konsep terhadap objek. Artinya,

bagaimana keyakinan dan pendapat atau pemikiran seseorang terhadap

objek.
2) Kehidupan emosional atau evaluasi orang terhadap objek, artinya

bagaimana penilaian (terkandung dalam faktor emosi) orang tersebut

terhadap objek.

3) Kecenderungan untuk bertindak (tend to behave), artinya sikap adalah

komponen yang mendahului tindakan atau perilaku terbuka. Sikap adalah

ancang-ancang untuk bertindak atau berperilaku terbuka (tindakan).

Ketiga komponen tersebut secara bersama-sama membentuk sikap yang

utuh (total attitude). Dalam menentukan sikap yang utuh ini, penegtahuan,

pikiran, keyakinan, dan emosi memegang peranan penting.

Sikap terdiri dari 3 komponen yang saling menunjang yaitu:

1) Komponen Kognitif

Merupakan representasi apa yang dipercayai oleh individu pemilik sikap,

komponen kognitif berisi kepercayaan yang dimiliki individu mengenai

sesuatu.

2) Komponen Afektif

Merupakan perasaan yang menyangkut aspek emosional. Aspek emosional

inilah yang biasanya sebagai komponen sikap dan aspek yang paling

bertahan terhadap pengaruh-pengaruh yang mungkin dapat mengubah sikap

seseorang

3) Komponen Konatif

Merupakan aspek kecenderungan berperilaku tertentu sesuai sikap yang

dimiliki oleh seseorang. Aspek ini berisi tendensi atau kecenderungan untuk

bertindak atau bereaksi terhadap sesuatu dengan cara-cara tertentu.


[Link] Tingkatan Sikap

Seperti halnya pengetahuan, sikap juga mempunyai tingkatan berdasarkan

intensitasnya:

1) Menerima (receiving)

Menerima diartikan bahwa seseorang atau subjek mau menerima stimulus

yang diberikan (objek).

2) Menanggapi (responding)

Menanggapi disini diartikan memberikan jawaban atau tanggapan terhadap

terhadap pertanyaan atau objek yang di hadapkan.

3) Menghargai (valuing)

Menghargai diartikan subjek, atau seseorang memberikan nilai yang positif

terhadap objek atau stimulus, dalam arti membahasnya dengan orang lain

dan bahkan mengajak atau mempengaruhi atau menganjurkan orang lain

merespon.

4) Bertanggung Jawab (responsible)

Sikap paling tinggi tingkatannya adalah bertanggung jawab terhadap apa

yang diyakininya. Seseorang yang telah mengambil sikap tertentu

berdasarkan keyakinannya dia harus berani mengambil resiko bila ada orang

lain yang mencemooh atau adanya resiko lain.

[Link] Pengukuran Sikap

Pengukuran sikap menggunakan skala likert, skala ini digunakan untuk

mengukur sikap, pendapat, persepsi seseorang tentang gejala atau masalah yang

ada di masyarakat atau yang dialaminya (Hidayat, 2008: 90).


Variabel yang akan di ukur dijabarkan menjadi dimensi, dimensi

dijabarkan menjadi sub bab variabel kemudian sub variable dijabarkan lagi

menjadi indikator-indikator yang dapat di ukur. Akhirnya indikator-indikator yang

terukur dapat dijadikan titik tolak ukur membuat instrument yang berupa

pertanyaan atau pernyataan yang perlu dijawab oleh responden. Setiap jawaban

dihubungkan dengan bentuk pernyataan atau dukungan sikap yang diungkapkan

dengan kata-kata sebagai berikut:

Pernyataan positif Pernyataan negatif

Sangat Setuju (SS) : Nilai = 4 Sangat Setuju (SS) : Nilai = 1

Setuju (S) : Nilai = 3 Setuju (ST) : Nilai = 2

Tidak Setuju (TS) : Nilai = 2 Tidak Setuju (TS) : Nilai = 3

Sangat Tidak Setuju (STS) : Nilai = 1 Sangat Tidak Setuju (STS) : Nilai = 4

Pernyataan positif Pernyataan negatif

Sangat penting (SP) : Nilai = 4 Sangat Penting (SP) : Nilai = 1

Penting (P) : Nilai = 3 Penting (P) : Nilai = 2

Tidak Penting (TP) : Nilai = 2 Tidak Penting (TP) : Nilai = 3

Sangat Tidak Penting (STP) : Nilai = 1 Sangat Tidak Penting (STP): Nilai = 4

Pernyataan positif Pernyataan negatif

Sangat Puas (SP) : Nilai = 4 Sangat Puas (SP) : Nilai = 1

Puas (P) : Nilai = 3 Puas (P) : Nilai = 2

Tidak Puas (TP) : Nilai = 2 Tidak Puas (TP) : Nilai = 3

Sangat Tidak Puas (STP) : Nilai = 1 Sangat Tidak Puas (STP) : Nilai = 4
Cara interpretasi dapat berdasarkan presentase berikut ini

0% 25% 50% 75% 100%

STS TS S SS

Kategori : Angka 0-25 % : Sangat tidak setuju (sangat tidak baik)

Angka 26-50% : Tidak setuju (tidak baik)

Angka 51-75% : Setuju (baik)

Angka 76-100% : Sangat Setuju (sangat baik)

2.1.4 Konsep Dasar Stunting


[Link] Status Gizi
Status gizi merupakan keadaan yang diakibatkan oleh status keseimbangan
antara jumlah asupan zat gizi atau jumlah makanan (zat gizi) yang dikonsumsi
dengan jumlah zat gizi yang dibutuhkan oleh tubuh yang merupakan cerminan
dari ukuran terpenuhinya kebutuhan gizi yang secara parsial dapat diukur dengan
antropometri atau biokimia secara klinis (Depkes R.I, 2009a). Pemenuhan
kebutuhan ini telah dimulai dari awal perkembangan dan pertumbuhannya yaitu
dari sejak dalam kandungan.
Penentuan status gizi masing-masing kelompok umur tidaklah selalu sama.
Untuk penentuan status gizi balita, penentuan status gizinya diatur dalam
KEMENKES RI, NOMOR:1995/MENKES/SK/XII/2010 tentang standar gizi
balita. Standar tersebut mengatur tentang penentuan status gizi berdasarkan Berat
Badan menurut Umur (BB/U), Panjang Badan atau Tinggi Badan menurut Umur
(TB/U atau PB/U), Berat Badan menurut Panjang Badan atau Tinggi Badan
(BB/PB ATAU BB/TB), dan Indeks Masa Tubuh menurut Umur (IMT/U).
Masing-masing indikator tersebut memiliki pembagian kategori yang berbeda-
beda.
1. BB/U: indeks ini diperoleh dari perbandingan antara berat badan dengan
umur yang dapat digunakan untuk menilai kemungkinan anak dengan berat
badan kurang atau sangat kurang .
2. PB/U atau TB/U: indeks ini diperoleh dari perbandingan antara PB atau TB
dengan umur yang dapat digunakan untuk menggambarkan keadaan kurang
gizi kronis yaitu pendek.
3. BB/PB atau BB/TB: indeks ini diperoleh untuk merefleksikan BB
dibandingkan dengan pertumbuhan menurut PB atau TB yang dapat
digunakan untuk menilai kemungkinan anak dengan kategori kurus atau
sangat kurus yang merupakan masalah gizi akut.
4. IMT/U: indikator yang diperoleh dengan membandingkan antar IMT
dengan umur yang hasilnya cenderung menunjukkan hasil yang sama
dengan indeks BB/TB atau BB/PB.
Malnutrisi anak seperti kurus dan stunting, berhubungan dengan infeksi,
asupan gizi yang buruk, dan faktor lingkungan serta faktor sosiodemografi yang
kurang (Martin et all, 2006).
[Link] Stunting Pada Anak Balita
Balita Pendek (Stunting) adalah status gizi yang didasarkan pada indeks
PB/U atau TB/U dimana dalam standar antropometri penilaian status gizi anak,
hasil pengukuran tersebut berada pada ambang batas (Z-Score) <-2 SD sampai
dengan -3 SD (pendek/ stunted) dan <-3 SD (sangat pendek / severely stunted)
(Kemenkes R.I, 2012b). Stunting digunakan sebagai indikator malnutrisi kronik
yang menggambarkan riwayat kurang gizi anak dalam jangka waktu lama
sehingga kejadian ini menunjukkan bagaimana keadaan gizi sebelumnya
(Kartikawati, 2011).
Pada anak balita masalah stunting lebih banyak dibandingkan masalah
kurang gizi lainnya. Stunting yang telah tejadi bila tidak diimbangi dengan catch-
up growth (kejar tumbuh) mengakibatkan menurunnya pertumbuhan, masalah
stunting merupakan masalah kesehatan masyarakat yang berhubungan dengan
meningkatnya risiko kesakitan, kematian dan hambatan pada pertumbuhan baik
motorik maupun mental. Pada penelitian yang dilakukan oleh Kusharisupeni
menyatakan bahwa stunting dibentuk oleh growth faltering dan catcth up growth
yang tidak memadai yang mencerminkan ketidakmampuan untuk mencapai
pertumbuhan optimal, hal tersebut mengungkapkan bahwa kelompok balita yang
lahir dengan berat badan normal dapat mengalami stunting bila pemenuhan
kebutuhan selanjutnya tidak terpenuhi dengan baik (Kusharisupeni, 2011).
[Link] Faktor penyebab stunting
Banyak faktor yang menyebabkan terjadinya keadaan stunting pada anak.
Faktor-faktor tersebut dapat berasal dari diri anak itu sendiri maupun dari luar diri
anak tersebut. Faktor penyebab stunting ini dapat disebabkan oleh faktor
langsung maupun tidak langsung. Penyebab langsung dari kejadian stunting
adalah asupan gizi dan adanya penyakit infeksi sedangkan penyebab tidak
langsungnya adalah pola asuh, pelayanan kesehatan, ketersediaan pangan, faktor
budaya, ekonomi dan masih banyak lagi faktor lainnya (Bappenas R.I, 2013a).

1. Faktor Langsung
1) Asupan Gizi balita
Saat ini Indonesia mengahadapi masalah gizi ganda, permasalahan gizi
ganda tersebut adalah adanya masalah kurang gizi dilain pihak masalah
kegemukan atau gizi lebih telah meningkat. Keadaan gizi dibagi menjadi 3
berdasarkan pemenuhan asupannya yaitu:
1) Kelebihan gizi adalah suatu keadaan yang muncul akibat pemenuhan
asupan zat gizi yang lebih banyak dari kebutuhan seperti gizi lebih,
obesitas atau kegemukan
2) Gizi baik adalah suatu keadaan yang muncul akibat pemenuhan asupan
zat gizi yang sesuai dengan kebutuhan.
3) Kurang gizi adalah suatu keadaan yang muncul akibat pemenuhan asupan
zat gizi yang lebih sedikit dari kebutuhan seperti gizi kurang dan buruk,
pendek, kurus dan sangat kurus (Depkes R.I, 2009a).
Asupan gizi yang adekuat sangat diperlukan untuk pertumbuhan dan
perkembangan tubuh balita. Masa kritis ini merupakan masa saat balita akan
mengalami tumbuh kembang dan tumbuh kejar. Balita yang mengalami
kekurangan gizi sebelumnya masih dapat diperbaiki dengan asupan yang baik
sehingga dapat melakukan tumbuh kejar sesuai dengan perkembangannya. Namun
apabila intervensinya terlambat balita tidak akan dapat mengejar keterlambatan
pertumbuhannya yang disebut dengan gagal tumbuh. Begitu pula dengan balita
yang normal kemungkinan terjadi gangguan pertumbuhan bila asupan yang
diterima tidak mencukupi. Dalam penelitian yang menganalisis hasil Riskesdas
menyatakan bahwa konsumsi energi balita berpengaruh terhadap kejadian balita
pendek, selain itu pada level rumah tangga konsumsi energi rumah tangga di
bawah rata-rata merupakanpenyebab terjadinya anak balita pendek (Sihadi dan
Djaiman, 2011).
Dalam upaya penanganan masalah stunting ini, khusus untuk bayi dan
anak telah dikembangkan standar emas makanan bayi dalam pemenuhan
kebutuhan gizinya yaitu 1) Inisiasi Menyusu Dini (IMD) yang harus dilakukan
sesegera mungkin setelah melahirkan; 2) Memberikan ASI eksklusif sampai bayi
berusia 6 bulan tanpa pemberian makanan dan minuman tambahan lainnya; 3)
Pemberian makanan pendamping ASI yang berasal dari makanan keluarga,
diberikan tepat waktu mulai bayi berusia 6 bulan; dan 4) Pemberian ASI
diteruskan sampai anak berusia 2 tahun (Bappenas R.I, 2011).
Asupan gizi yang sesuai dengan kebutuhan akan membantu pertumbuhan
dan perkembangan anak. Sebaliknya asupan gizi yang kurang dapat menyebabkan
kekurangan gizi salah salah satunya dapat menyebabkan stunting.
2) Penyakit Infeksi
Penyakit infeksi merupakan salah satu faktor penyebab langsung stunting,
Kaitan antara penyakit infeksi dengan pemenuhan asupan gizi tidak dapat
dipisahkan. Adanya penyakit infeksi akan memperburuk keadaan bila terjadi
kekurangan asupan gizi. Anak balita dengan kurang gizi akan lebih mudah terkena
penyakit infeksi. Penyakit infeksi akan ikut menambah kebutuhan akan zat gizi
untuk membantu perlawanan terhadap penyakit ini sendiri. Pemenuhan zat gizi
yang sudah sesuai dengan kebutuhan namun penyakit infeksi yang diderita tidak
tertangani akan tidak dapat memperbaiki status kesehatan dan status gizi anak
balita. Untuk itu penanganan terhadap penyakit infeksi yang diderita sedini
mungkin akan membantu perbaikan gizi dengan diiimbangi pemenuhan asupan
yang sesuai dengan kebutuhan anak balita.
Penyakit infeksi yang sering diderita balita seperti cacingan, Infeksi
saluran pernafasan Atas (ISPA), diare dan infeksi lainnya sangat erat
hubungannya dengan status mutu pelayanan kesehatan dasar khususnya imunisasi,
kualitas lingkungan hidup dan perilaku sehat (Bappenas R.I, 2013). Ada beberapa
penelitian yang meneliti tentang hubungan penyakit infeksi dengan stunting yang
menyatakan bahwa diare merupakan salah satu faktor risiko kejadian stunting
pada anak usia dibawah 5 tahun (Taguri et all, 2007; Paudel et all, 2012).
2. Faktor Tidak Langsung
1) Ketersediaan Pangan
Akses pangan pada rumah tangga menurut Bappenas adalah kondisi
penguasaan sumberdaya (sosial, teknologi, finansial/keuangan, alam, dan
manusia) yang cukup untuk memperoleh dan/atau ditukarkan untuk memenuhi
kecukupan pangan, termasuk kecukupan pangan di rumah tangga. Masalah
ketersediaan ini tidak hanya terkait masalah daya beli namun juga pada
pendistribusian dan keberadaan pangan itu sendiri, sedangkan pola konsumsi
pangan merupakan susunan makanan yang biasa dimakan mencakup jenis dan
jumlah dan frekuensi dan jangka waktu tertentu. Aksesibilitas pangan yang
rendah berakibat pada kurangnya pemenuhan konsumsi yang beragam, bergizi,
seimbang dan nyaman di tingkat keluarga yang mempengaruhi pola konsumsi
pangan dalam keluarga sehingga berdampak pada semakin beratnya masalah
kurang gizi masyarakat (Bappenas R.I, 2011).
Ketersediaan pangan yang kurang dapat berakibat pada kurangnya
pemenuhan asupan nutrisi dalam keluarga itu sendiri. Rata-rata asupan kalori dan
protein anak balita di Indonesia masih di bawah Angka Kecukupan Gizi (AKG)
yang dapat mengakibatkan anak balita perempuan dan anak balita laki-laki
Indonesia mempunyai rata-rata tinggi badan masing-masing 6,7 cm dan 7,3 cm
lebih pendek dari pada standar rujukan WHO 2005 (Bappenas R.I, 2011). Oleh
karena itu penanganan masalah gizi ini tidak hanya melibatkan sektor kesehatan
saja namun juga melibatkan lintas sektor lainnya.
Ketersediaan pangan merupakan faktor penyebab kejadian stunting,
ketersediaan pangan di rumah tangga dipengaruhi oleh pendapatan keluarga,
pendapatan keluarga yang lebih rendah dan biaya yang digunakan untuk
pengeluaran pangan yang lebih rendah merupakan beberapa ciri rumah tangga
dengan anak pendek (Sihadi dan Djaiman, 2011). Penelitian di Semarang Timur
juga menyatakan bahwa pendapatan perkapita yang rendah merupakan faktor
risiko kejadian stunting (Nasikhah dan Margawati, 2012). Selain itu penelitian
yang dilakukan di Maluku Utara dan di Nepal menyatakan bahwa stunting
dipengaruhi oleh banyak faktor salah satunya adalah faktor sosial ekonomi yaitu
defisit pangan dalam keluarga (Ramli et all, 2009; Paudel et all, 2012).
2) Status Gizi Ibu saat Hamil
Status gizi ibu saat hamil dipengaruhi oleh banyak faktor, faktor tersebut
dapat terjadi sebelum kehamilan maupun selama kehamilan. Beberapa indikator
pengukuran seperti 1) kadar hemoglobin (Hb) yang menunjukkan gambaran kadar
Hb dalam darah untuk menentukan anemia atau tidak; 2) Lingkar Lengan Atas
(LILA) yaitu gambaran pemenuhan gizi masa lalu dari ibu untuk menentukan
KEK atau tidak; 3) hasil pengukuran berat badan untuk menentukan kenaikan
berat badan selama hamil yang dibandingkan dengan IMT ibu sebelum hamil
(Yongky dkk, 2009; Fikawati dkk, 2011).
(1) Pengukuran LILA
Pengukuran LILA dilakukan pada ibu hamil untuk mengetahui status KEK
ibu tersebut. KEK merupakan suatu keadaan yang menunjukkan kekurangan
energi dan protein dalam jangka waktu yang lama (Kemenkes R.I, 2013). Faktor
predisposisi yang menyebabkan KEK adalah asupan nutrisi yang kurang dan
adanya faktor medis seperti terdapatnya penyakit kronis. KEK pada ibu hamil
dapat berbahaya baik bagi ibu maupun bayi, risiko pada saat prsalinan dan
keadaan yang lemah dan cepat lelah saat hamil sering dialami oleh ibu yang
mengalami KEK (Direktorat Bina Gizi dan KIA, 2012).
Pada wanita hamil dan WUS digunakan ambang batas LILA <23,5 cm
dikategorikan risiko KEK (Kemenkes R.I, 2013). Pengukuran LILA ini dilakukan
dengan mengukur lengan atas ibu hamil tangan yang jarang digunakan dengan
menggunakan alat pengukur LILA.
Penelitian di Sulawesi Barat menyatakan bahwa faktor yang berhubungan
dengan kejadian KEK adalah pengetahuan, pola makan, makanan pantangan dan
status anemia (Rahmaniar dkk, 2013). Kekurangan energi secara kronis
menyebabkan cadangan zat gizi yang dibutuhkan oleh janin dalam kandungan
tidak adekuat sehingga dapat menyebabkan terjadinya gangguan baik
pertumbuhan maupun perkembangannya. Status KEK ini dapat memprediksi
hasil luaran nantinya, ibu yang mengalami KEK mengakibatkan masalah
kekurangan gizi pada bayi saat masih dalam kandungan sehingga melahirkan bayi
dengan panjang badan pendek (Najahah, 2013). Selain itu, ibu hamil dengan KEK
berisiko melahirkan bayi dengan berat badan lahir rendah (BBLR). Panjang badan
lahir rendah dan BBLR dapat menyebabkan stunting bila asupan gizi tidak
adekuat. Hubungan antara stunting dan KEK telah diteliti di Yogyakarta dengan
hasil penelitian tersebut menyatakan bahwa ibu hamil dengan riwayat KEK saat
hamil dapat meningkatkan risiko kejadian stunting pada anak balita usia 6-24
bulan (Sartono, 2013).

(2) Kadar Hemoglobin


Pemeriksaan darah dilakukan pada ibu hamil untuk mengetahui kadar Hb
ibu sehingga dapat diketahui status anemia yang dialami ibu saat hamil. Anemia
pada saat kehamilan merupakan suatu kondisi terjadinya kekurangan sel darah
merah atau hemoglobin (Hb) pada saat kehamilan. Ada banyak faktor predisposisi
dari anemia tersebut yaitu diet rendah zat besi, vitamin B12, dan asam folat,
adanya penyakit gastrointestinal, serta adanya penyakit kronis ataupun adanya
riwayat dari keluarga sendiri (Moegni dan Ocviyanti, 2013).
Ibu hamil dengan anemia sering dijumpai karena pada saat kehamilan
keperluan akan zat makanan bertambah dan terjadi perubahan-perubahan dalam
darah dan sumsum tulang (Wiknjosastro dkk, 2005). Nilai cut-off anemia ibu
hamil adalah bila hasil pemeriksaan Hb <11,0 g/dl (Kemenkes R.I, 2013).
Penyebab anemia pada ibu hamil adalah karena gangguan penyerapan pada
pencernaan, kurangnya asupan zat besi dan protein dari makanan, perdarahan akut
maupun kronis, meningkatnya kebutuhan zat besi, kekurangan asam folat dan
vitamin, menjalankan diet miskin zat besi dan pola makan yang kurang baik
ataupun karena kelainan pada sumsum tulang belakang.
Akibat anemia bagi janin adalah hambatan pada pertumbuhan janin, bayi
lahir prematur, bayi lahir dengan BBLR, serta lahir dengan cadangan zat besi
kurang sedangkan akibat dari anemia bagi ibu hamil dapat menimbulkan
komplikasi, gangguan pada saat persalinan dan dapat membahayakan kondisi ibu
seperti pingsan, bahkan sampai pada kematian (Direktorat Bina Gizi dan KIA,
2012). Kadar hemoglobin saat ibu hamil berhubungan dengan panjang bayi yang
nantinya akan dilahirkan, semakin tinggi kadar Hb semakin panjang ukuran bayi
yang akan dilahirkan (Ruchayati, 2012). Prematuritas, dan BBLR juga merupakan
faktor risiko kejadian stunting, sehingga secara tidak langsung anemia pada ibu
hamil dapat menyebabkan kejadian stunting pada balita.
(3) Kenaikan Berat Badan Ibu saat Hamil
Menurut Almatsier, Ibu hamil akan membutuhkan tambahan energi dari
pada ibu yang tidak hamil, penambahan tersebut dibedakan berdasarkan umur
kehamilannya yaitu: 1) Trimester I ibu hamil membutuhkan tambahan energi
150200 kal/hari; 2) Trimester II ibu hamil membutuhkan tambahan energi 250-
350 kal/hari; 3) Trimester III ibu hamil membutuhkan tambahan energi 400
kal/hari dan jumlah cairan yang dibutuhkan minimal 1500 ml/hari (Minarti dkk,
2013). Penambahan berat badan ibu hamil dihubungkan dengan IMT saat sebelum
ibu belum hamil. Apabila IMT ibu sebelum hamil dalam status kurang gizi maka
penambahan berat badan seharusnya lebih banyak dibandingkan dengan ibu yang
status gizinya normal atau status gizi lebih. Penambahan berat badan ibu selama
kehamilan berbeda pada masing–masing trimester. Pada trimester pertama berat
badan bertambah 1,5-2 Kg, trimester kedua 4-6 Kg dan trimester ketiga berat
badan bertambah 6-8 Kg. Total kenaikan berat badan ibu selama hamil sekitar 9-
12 Kg (Direktorat Bina Gizi dan KIA, 2012).
Pada penelitian yang dilakukan oleh Yongky tahun 2004 menyatakan bahwa
pertambahan berat badan saat hamil merupakan salah satu faktor yang
mempengaruhi status kelahiran bayi (BBLR) (Yongky dkk, 2009). Penambahan
berat badan saat hamil perlu dikontrol karena apabila berlebih dapat menyebabkan
obesitas pada bayi sebaliknya apabila kurang dapat menyebabkan bayi lahir
dengan berat badan rendah, prematur yang merupakan faktor risiko kejadian
stunting pada anak balita.
3) Berat Badan Lahir
Berat badan lahir sangat terkait dengan pertumbuhan dan perkembangan
jangka panjang anak balita, pada penelitian yang dilakukan oleh Anisa tahun 2012
menyimpulkan bahwa terdapat hubungan yang bermakna antara berat lahir dengan
kejadian stunting pada balita di Kelurahan Kalibaru (Anisa, 2012). Bayi yang
lahir dengan berat badan lahir rendah (BBLR) yaitu bayi yang lahir dengan berat
badan kurang dari 2500 gram, bayi dengan berat badan lahir rendah akan
mengalami hambatan pada pertumbuhan dan perkembangannya serta
kemungkinan terjadi kemunduran fungsi intelektualnya selain itu bayi lebih rentan
terkena infeksi dan terjadi hipotermi (Direktorat Bina Gizi dan KIA, 2012).
Banyak penelitian yang telah meneliti tentang hubungan antara BBLR dengan
kejadian stunting diantaranya yaitu penelitian di Klungkung dan di Yogyakarta
menyatakan hal yang sama bahwa ada hubungan antara berat badan lahir dengan
kejadian stunting (Susanti, 2014; Sartono, 2013). Selain itu, penelitian yang
dilakukan di Malawi juga menyatakan prediktor terkuat kejadian stunting adalah
BBLR (Milman et all, 2005).
4) Panjang Badan Lahir
Asupan gizi ibu yang kurang adekuat sebelum masa kehamilan
menyebabkan gangguan pertumbuhan pada janin sehingga dapat menyebabkan
bayi lahir dengan panjang badan lahir pendek. Bayi yang dilahirkan memiliki
panjang badan lahir normal bila panjang badan lahir bayi tersebut berada pada
panjang 48-52 cm (Kemenkes R.I, 2010).
Penentuan asupan yang baik sangat penting untuk mengejar panjang badan
yang seharusnya. Berat badan lahir, panjang badan lahir, usia kehamilan dan pola
asuh merupakan beberapa faktor yang mempengaruhi kejadian stunting. Panjang
badan lahir merupakan salah satu faktor risiko kejadian stunting pada balita
(Anugraheni dan Kartasurya, 2012; Meilyasari dan Isnawati, 2014). Menurut
Riskesdas tahun 2013 kategori panjang badan lahir dikelompokkan menjadi tiga,
yaitu <48 cm, 48-52 cm, dan >52 cm, panjang badan lahir pendek adalah bayi
yang lahir dengan panjang <48 cm (Kemenkes R.I, 2013). Panjang badan lahir
pendek dipengaruhi oleh pemenuhan nutrisi bayi tersebut saat masih dalam
kandungan.
2.2.

Anda mungkin juga menyukai