0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
74 tayangan23 halaman

Standar Pelayanan Minimal RSUD Bantaeng

Keputusan Bupati Bantaeng menetapkan Standar Pelayanan Minimal RSUD Prof. Dr. H.M. Anwar Makkatutu Kabupaten Bantaeng untuk meningkatkan mutu pelayanan kesehatan. Dokumen ini menjelaskan definisi istilah, jenis pelayanan yang diberikan rumah sakit, dan dimensi mutu pelayanan kesehatan sesuai standar WHO.

Diunggah oleh

AndiTenriBayang
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
74 tayangan23 halaman

Standar Pelayanan Minimal RSUD Bantaeng

Keputusan Bupati Bantaeng menetapkan Standar Pelayanan Minimal RSUD Prof. Dr. H.M. Anwar Makkatutu Kabupaten Bantaeng untuk meningkatkan mutu pelayanan kesehatan. Dokumen ini menjelaskan definisi istilah, jenis pelayanan yang diberikan rumah sakit, dan dimensi mutu pelayanan kesehatan sesuai standar WHO.

Diunggah oleh

AndiTenriBayang
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

BUPATI BANTAENG

KEPUTUSAN BUPATI BANTAENG


NOMOR TAHUN 2011

TENTANG

STANDAR PELAYANAN MINIMAL


RSUD PROF Dr.H.M. ANWAR MAKKATUTU KABUPATEN BANTAENG

DENGAN RAKHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

BUPATI BANTAENG

Menimbang : a. Bahwa dalam rangka upaya peningkatan mutu pelayanan kesehatan secara
optimal, maka dipandang perlu adanya penetapan standar pelayanan minimal
rumah sakit pada RSUDD [Link].H.M. Anwar Makkatutu Kabupaten Bantaeng;
b. Bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana dimaksud dalam huruf a, maka
Standar Pelayanan Minimal perlu ditetapkan dengan Keputusan Bupati
Bantaeng.

Mengingat : 1. Undang-undang Nomor 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan (Lembaran Negara


Republik Indonesia Tahun 2009 Nomor 144, Tambahan Lembaran Negara
Republik Indonesia Nomor 50635);
Undang-undang Nomor 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara (Lembaran
2. Negara Republik Indonesia Tahun 2003 Nomor 47, Tambahan Lembaran
Negara Republik Indonesia Nomor 4286);
3. Undang-undang Nomor 1 Tahun 2004 tentang Perbendaharaan Negara
(Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 5, Tambahan
Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3455);
4. Undang-undang Nomor 15 Tahun 2004 tentang Pemeriksaan Pengelolaan dan
Tanggung Jawab Keuangan Negara (Lembaran Negara Republik Indonesia
Tahun 2004 Nomor 66, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia
Nomor 4400);
5. Undang-undang Nomor 25 Tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan
Pembangunan Nasional (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004
Nomor 104, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4421);
6. Undang-undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah
(Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 125, Tambahan
Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4437) sebagaimana telah diubah
beberapa kali, terakhir dengan Undang-undang Nomor 12 Tahun 2008 tentang
Perubahan Kedua Atas Undang-undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang
Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2008
Nomor 59, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4844);
7. Undang-undang Nomor 44 Tahun 2009 tentang Rumah Sakit (Lembaran
Negara Republik Indonesia Tahun 2009 Nomor 153, Tambahan Lembaran
Negara Republik Indonesia Nomor 5072);
8. Peraturan Pemerintah Nomor 23 Tahun 2005 tentang Pengelolaan Keuangan
Badan Layanan Umum (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2005
Nomor 48, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4502);
9. Peraturan Pemerintah Nomor 58 Tahun 2005 tentang Pengelolaan Keuangan
Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2005 Nomor 140,
Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4578);
10. Peraturan Pemerintah Nomor 65 Tahun 2005 tentang Pedoman Penyusunan
dan Penerapan Standar Pelayanan Minimal;
11. Peraturan Pemerintah Nomor 8 Tahun 2006 Tentang Laporan Keuangan dan
Kinerja Instansi Pemerintah;
12. Peraturan Pemerintah Nomor 38 Tahun 2007 tentang Pembagian Urusan
Pemerintahan Antara Pemerintah, Pemerintahan Daerah Provinsi, dan
13, Pemerintahan Daerah Kabupaten/Kota (Lembaran Negara Republik Indonesia
Tahun 2007 Nomor 82, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia
Nomor 4737);
14. Keputusan Menteri Kesehatan Nomor 129 Tahun 2008 Tentang Standar
Pelayanan Minimal Rumah Sakit;
15. Peraturan Daerah Nomor 27 Tahun 2007 tentang Pembentukan Organisasi,
Kedudukan, Tugas dan Fungsi Lembaga Teknis Daerah Kabupaten Bantaeng
sebagaimana telah dengan Peraturan Daerah Nomor 3 Tahun 2009.
M

Memperhatikan Keputusan Menteri Kesehatan Nomor : 228/Menkes/SK?III/2002 Tentang


Pedoman Penyusunan Standar Pelayanan Minimal Rumah Sakit yang wajib
dilaksanakan daerah;

MEMUTUSKAN:

Menetapkan : STANDAR PELAYANAN MINIMAL RSUD [Link].H.M. ANWAR MAKKATUTU


KABUPATEN BANTAENG

BAB I

KETENTUAN UMUM

Pasal 1
Dalam Peraturan Daerah ini yang dimaksud dengan:
1. Daerah adalah Kabupaten Bantaeng;
2. Pemerintah Daerah adalah Pemerintah Kabupaten Bantaeng;
3. Bupati adalah Bupati Bantaeng;
4. Kantor Rumah Sakit Umum yang selanjutnya disebut dengan Rumah Sakit Umum adalah Kantor RSUDD Prof.
Dr.H.M. Anwar Makkatutu Bantaeng;
5. Direktur adalah Direktur Kantor RSUDD Prof. Dr.H.M. Anwar Makkatutu Bantaeng;
6. Pelayanan Kesehatan adalah Kegiatan-kegiatan yang dilakukan oleh Rumah sakit yang ditujukan kepada
Individu, Keluarga dan masyarakat melalui upaya promotif, preventif, kuratif dan Rehabilitatif serta
Peningkatan Derajat Kesehatan Lainnya;
7. Pelayanan Rumah Sakit adalah pelayanan yang diberikan oleh RSUDD. Prof. Dr. H.M. Anwar Makkatutu
kepada masyarakat yang meliputi pelayanan medik, pelayanan penunjang medik, pelayanan keperawatan,
dan pelayanan administrasi manajemen.
8. Jenis Pelayanan adalah jenis-jenis pelayanan yang diberikan oleh Rumah Sakit kepada masyarakat.
9. Pelayanan Konsultasi adalah Pelayanan yang diberikan dalam bentuk Konsultasi Medik dan konsultasi
lainnya;
10. Pelayanan Medik adalah Pelayanan yang dilaksanakan Tenaga Medis;
11. Pelayanan Penunjang Non Medik adalah Pelayanan yang dilaksanakan oleh selain Tenaga Medik dan
Keperawatan;
12. Pelayanan Penunjang Medik adalah Pelayanan yang dilaksanakan untuk mendukung penegakan diagnosis
dan Terapi;
13. Penunjang Diagnostik adalah Pelayanan untuk menunjang penegakan Diagnosis;
14. Visite Dokter adalah Kunjungan Dokter pada jam-jam tertentu untuk melaksanakan Pemeriksaan kepada
Pasien yang dirawat;
15. Standar Pelayanan Minimal, yang selanjutnya disingkat SPM, adalah ketentuan tentang jenis dan mutu
pelayanan dasar yang merupakan urusan wajib daerah yang berhak diperoleh setiap warga secara minimal
atau ketentuan tentang spesifikasi teknis tentang tolak ukur layanan minimal yang diberikan oleh Badan
Layanan Umum Daerah kepada masyarakat.
16. Mutu Pelayanan Kesehatan adalah kinerja yang menunjuk pada tingkat kesempurnaan pelayanan kesehatan,
yang disatu pihak dapat menimbulkan kepuasan pada setiap pasien sesuai dengan tingkat kepuasan rata-rata
penduduk, serta pihak lain, tata penyelenggaraannya sesuai dengan standar dan kode etik profesi yang telah
ditetapkan.
17. Badan Layanan Umum Daerah yang selanjutnya disingkat BLUD, adalah Satuan Kerja Kerja Perangkat
Daerah di lingkungan Pemerintah Daerah yang dibentuk untuk memberikan pelayanan kepada masyarakat
berupa
18. Dimensi Mutu adalah suatu pandangan dalam menentukan penilaian terhadap jenis dan mutu pelayanan
dilihat dari akses, efektifitas, efisiensi, keselamatan dan keamanan, kenyamanan, kesinambungan pelayanan,
kompetensi teknis dan hubungan antar manusia berdasar standard WHO.
19. Kinerja adalah proses yang dilakukan dan hasil yang dicapai oleh suatu organisasi dalam menyediakan
produk dalam bentuk jasa pelayanan atau barang kepada pelanggan.
20. Indikator Kinerja adalah variabel yang dapat digunakan untuk mengevaluasi keadaan atau status dan
memungkinkan dilakukan pengukuran terhadap perubahan yang terjadi dari waktu ke waktu atau tolak ukur
prestasi kuantitatif/kualitatif yang digunakan untuk mengukur terjadinya perubahan terhadap besaran target
atau standar yang telah ditetapkan sebelumnya.
21. Standar adalah nilai tertentu yang telah ditetapkan berkaitan dengan sesuatu yang harus dicapai.
22. Rawat jalan adalah Pelayanan kepada Pasien untuk observasi, diagnosis, pengobatan, rehabilitasi medik dan
pelayanan kesehatan lainnya tanpa tinggal di ruang rawat inap;
23. Pelayanan Rawat Jalan Tingkat I (Umum) adalah Pelayanan poliklinik yang diberikan oleh dokter umum,
dokter gigi, dan bidan;
24. Pelayanan Rawat Jalan Tingkat II (Spesialis) adalah Pelayanan Poliklinik yang diberikan oleh Dokter Spesialis;
25. Rawat Darurat adalah Pelayanan Kesehatan Tingkat Lanjutan yang harus diberikan yang harus diberikan
secepatnya untuk mencegah/menanggulangi resiko kematian atau cacat;
26. Rawat Inap adalah Pelayanan kepada Pasien untuk observasi, diagnosis, pengobatan, rehabilitasi medik dan
pelayanan kesehatan lainnya dengan menempati tempat tidur pada ruang perawatan;
27. Rawat Intensive adalah Pelayanan Kesehatan tingkat lanjut yang memerlukan pengawasan dan tindakan terus
menerus selama 24 (dua puluh empat) jam;
28. Tindakan Medik Operatif adalah tindakan pembedahan yang menggunakan pembiusan umum, pembiusan
lokal atau tanpa pembiusan;
29. Tindakan Medik Non Operatif adalah Tindakan tanpa pembedahan;
30. Keterapian Fisik adalah Pelayanan kesehatan yang ditujukan kepada individu dan atau kelompok untuk
mengembangkan, memelihara dan memulihkan gerak fungsi tubuh sepanjang rentang kehidupan.
31. Akomodasi adalah Penggunaan fasilitas rawat inap dengan atau tanpa makan di rumah sakit;
32. Bahan adalah Obat, bahan kimia, alat kesehatan bahan radiologi dan bahan lainnya untuk digunakan
langsung dalam rangka observasi, diagnosis, pengobatan, rehabilitasi medik dan pelayanan kesehatan
lainnya;
33. Pemularasaran/Perawatan Jenazah adalah Kegiatan yang meliputi perawatan jenazah yang dilakukan oleh
Rumah Sakit untuk kepentingan pelayanan kesehatan dan pemakaman serta untuk kepentingan proses
peradilan;
34. Pelayanan Medico-legal/Visum Et Repertum adalah Pelayanan Kesehatan yang berkaitan dengan
kepentingan Hukum;
35. Pelayanan Medik Gigi dan Mulut adalah Pelayanan yang meliputi upaya penyambungan dan pemulihan yang
selaras dengan upaya pencegahan penyakit gigi dan mulut serta peningkatan kesehatan gigi dan mulut pada
pasien di Rumah sakit;
36. Instalasi Farmasi Komponen A adalah Instalasi Farmasi Rumah Sakit yang mengelola Obat-obatan yang
berasal dari Pemerintah Daerah dan PT. Askes;
37. Instalasi Farmasi Komponen B adalah Instalasi Farmasi Rumah Sakit yang mengelola Obat-obatan yang
berasal dari Pedagang Besar Farmasi (PBF), Pedagang Obat (PO) dan Apotik;
38. Laboratorium adalah Instalasi Laboratorium yang memberikan pelayanan laboratorium klinik yang selanjutnya
disebut laboratorium RSUD Prof. Dr.H.M. Anwar Makkatutu Bantaeng;
39. Pola Pengelolaan Keuangan Badan Layanan Umum Daerah yang selanjutnya disingkat PPK-BLUD, adalah
pola keuangan yang memberikan fleksibilitas berupa keleluasaan untuk menerapkan praktek-praktek bisnis
yang sehat untuk meningkatkan pelayanan kepada masyarakat dalam rangka memajukan kesejahteraan
umum dan mencerdaskan kehidupan bangsa sebagai pengecualian dari ketentuan pengelolaan keuangan
daerah pada umumnya.
40. Penyidikan tindak pidana di bidang retribusi daerah adalah serangkaian tindakan yang dilakukan Penyidik
Pegawai Negeri Sipil yang selanjutnya disebut Penyidik, untuk mencari serta mengumpulkan bukti, yang
dengan bukti itu membuat jelas tindak pidana di bidang retribusi daerah yang terjadi serta menemukan
tersangkanya;
41. Badan adalah suatu bentuk badan usaha yang meliputi Persekutuan, Perkumpulan, Firma, Kongsi, Koperasi,
Yayasan atau Organisasi yang sejenis, Lembaga, Dana Pensiun, Bentuk Usaha tetap serta bentuk badan
usaha lainnya, Perseroan Terbatas, Perseroan Komanditer, Perseroan lainnya, Badan Usaha Milik Negara
atau Badan Usaha Milik Daerah dengan nama dan bentuk apapun;
42. Definisi Operasional adalah uraian yang dimaksudkan untuk menjelaskan pengertian dari indikator.
43. Frekuensi Pengumpulan Data adalah frekuensi pengambilan data dari sumber data untuk tiap indikator.
44. Periode Analisis adalah rentang waktu pelaksanaan kajian terhadap indikator kinerja yang dikumpulkan.
45. Pembilang (numerator) adalah besaran sebagai nilai pembilang dalam rumus indikator kinerja.
46. Penyebut (denominator) adalah besaran sebagai nilai pembagi dalam rumus indikator kinerja.
47. Target atau Nilai adalah ukuran mutu atau kinerja yang diharapkan bisa dicapai.
48. Sumber Data adalah sumber bahan nyata atau keterangan yang dapat dijadikan dasar kajian yang
berhubungan langsung dengan persoalan.
BAB II

NAMA, OBYEK DAN SUBYEK STANDAR PELAYANAN MINIMAL

Pasal 2
Dengan nama Standar Pelayanan Minimal di Rumah Sakit Umum Daerah.
Pasal 3
Obyek adalah Semua Pelayanan Kesehatan di Rumah Sakit Umum Daerah;
Pasal 4
Subyek Standar Pelayanan Minimal adalah Istalasi atau unsur Pelayanan Kesehatan dari Rumah Sakit Umum
Daerah.

BAB III

AZAS UMUM PELAKSANAAN

Pasal 5

(1) Pelaksanaan Pola Pengelolaan Keuangan BLUD harus dilakukan berpedoman pada Standar Pelayanan
Minimal.
(2) Pelaksanaan Standar Pelayanan Minimal sebagaimana dimaksud pada ayat (1) harus berdasarkan pada
peningkatan pelayanan kesehatan masyarakat.
(3) Implementasi Standar Pelayanan Minimal dilaksanakan berdasarkan prinsip-prinsip efisiensi, efektivitas,
transparansi, terbuka, berimbang, adil dan tidak diskriminatif dan akuntabel, serta diberlakukan praktek bisnis
yang sehat tanpa mengutamakan pengambilan keuntungan.

BAB IV

MAKSUD DAN TUJUAN

Pasal 6

Pelaksanaan Standar Pelayanan Minimal merupakan bagian dari upaya meningkatkan pelayanan kepada
masyarakat dalam kerangka peningkatan tata pemerintahan yang baik.

Pasal 7

(1) Standar Pelayanan Minimal dimaksudkan untuk pedoman bagi RSUD Prof. Dr. H.M. Anwar Makkatutu dalam
melaksanakan perencanaan, pelaksanaan, pengendalian, pengawasan dan pertanggungjawaban
penyelenggaraan pelayanan kesehatan.
(2) Standar Pelayanan Minimal bertujuan untuk meningkatkan dan menjamin mutu pelayanan kesehatan kepada
masyarakat.

BAB V

HAK DAN KEWAJIBAN

Pasal 8
(1) Setiap orang berhak atas Pelayanan Kesehatan yang baik di Rumah Sakit Umum Daerah;
(2) Setiap orang yang mendapat Pelayanan Kesehatan di Rumah Sakit Umum Daerah wajib mematuhi ketentuan
Peraturan Perundang-undangan yang berlaku dan Peraturan Tata Tertib Pasien/Pengunjung Rumah Sakit
Umum Daerah.

BAB VI

JENIS PELAYANAN, INDIKATOR, STANDAR (NILAI), BATAS WAKTU PENCAPAIAN DAN URAIAN
RENCANA STRATEGIS BISNIS DAN STANDAR PELAYANAN MINIMAL

Pasal 9

(1) RSUD Prof. Dr. H.M. Anwar Makkatutu mempunyai tugas melaksanakan pelayanan kesehatan dengan
mengutamakan upaya penyembuhan (kuratif), Pemulihan (rehabilitatif)
yang dilaksanakan secara terpadu dengan upaya pencegahan (preventif), peningkatan (promotif) serta upaya
rujukan.
(2) Jenis pelayanan untuk RSUD Prof. Dr. H.M. Anwar Makkatutu meliputi:
1. pelayanan Gawat Darurat.
2. pelayanan Rawat Jalan.
3. pelayanan Rawat Inap.
4. pelayanan Bedah.
5. pelayanan Persalinan
6. pelayanan Intensif.
7. pelayanan Radiologi.
8. pelayanan Laboratorium
9. pelayanan Rehabilitasi Medik.
10. pelayanan Farmasi.
11. pelayanan Gizi.
12. pelayanan Unit Transfusi Darah.
13. pelayanan Keluarga Miskin.
14. pelayanan Rekam Medis.
15. pelayanan administrasi Manajemen.
16. pelayanan Ambulans / Kereta Jenazah.
17. pelayanan Pemulasaraan Jenazah.
18. pelayanan Laundry.
19. pelayanan Pemeliharaan Sarana Rumah Sakit.

(3) Indikator, Standar (Nilai), Batas Waktu Pencapaian dan Uraian Standar Pelayanan Minimal sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 7 tercantum dalam Lampiran I Peraturan Daerah ini.
BAB VII

PELAKSANAAN

Pasal 10
Direktur RSUD Prof. Dr. H.M. Anwar Makkatutu dalam penyelenggaraan pelayanan yang berpedoman pada
Standar Pelayanan Minimal dapat dibantu oleh tenaga dengan kualifikasi dan kompetensi yang sesuai dengan
ketentuan dan peraturan perundang-undangan yang berlaku.

BAB VIII

PENERAPAN

Pasal 11

Setiap pelaksanaan pelayanan kesehatan, RSUD Prof. Dr. H.M. Anwar Makkatutu menyelenggarakan pelayanan
kesehatan berdasarkan Standar Pelayanan Minimal.

BAB IX

PEMBINAAN DAN PENGAWASAN

Bagian Kesatu

Pembinaan

Pasal 12

(1) Pembinaan RSUD Prof. Dr. H.M. Anwar Makkatutu yang menerapkan PPK-BLUD dilakukan oleh Bupati
melalui Sekretaris Daerah.
(2) Pembinaan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) berupa fasilitasi, pemberian orientasi umum, petunjuk
teknis, bimbingan teknis, sumber daya manusia baik Pegawai Negeri Sipil maupun Non Pegawai Negeri Sipil,
pendidikan dan latihan serta bantuan teknis lainnya.

Bagian Kedua
Pengawasan

Pasal 13

(1) Pengawasan dilakukan oleh satuan pengawas internal dan terhadap pelaksanaan urusan pemerintahan
daerah dilaksanakan oleh Inspektorat Kabupaten Bantaeng selaku Aparat Pengawas Intern Pemerintah sesuai
ketentuan dan peraturan perundang-undangan yang berlaku.
(2) Satuan pengawasan internal sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilaksanakan oleh internal auditor yang
berkedudukan langsung dibawah Direktur RSUD Prof. Dr. H.M. Anwar Makkatutu

Pasal 14

(1) Internal auditor sebagaimana dimaksud dalam Pasal 13 ayat (1) bersama-sama jajaran manajemen RSUD
Prof. Dr. H.M. Anwar Makkatutu yang menerapkan PPK-BLUD menciptakan dan meningkatkan pengendalian
internal.
(2) Fungsi pengendalian internal sebagaimana dimaksud pada ayat (1) membantu manajemen dalam hal
tercapainya prestasi kerja yang sesuai dengan Standar Pelayanan Minimal.

Pasal 15

(1) Pembinaan dan pengawasan terhadap RSUD Prof. Dr. H.M. Anwar Makkatutu yang menerapkan PPK-BLUD
selain dilakukan oleh pejabat pembina dan pengawas sebagaimana dimaksud dalam Pasal 12, Pasal 13, dan
Pasal 14 dilakukan juga oleh dewan pengawas sesuai dengan peraturan dan perundang-undangan yang
berlaku.
(2) Dewan pengawas sebagaimana dimaksud pada ayat (1) adalah organ yang bertugas melakukan pengawasan
terhadap pengelolaan Badan Layanan Umum Daerah.

Pasal 16
Anggaran pelaksanaan pembinaan dan pengawasan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 12, Pasal 13, Pasal 14
dan Pasal 15 dibebankan pada pendapatan operasional RSUD Prof. Dr. H.M. Anwar Makkatutu yang ditetapkan
melalui Rencana Strategis Bisnis yang dijabarkan dalam Rencana Bisnis dan Anggaran (RBA) RSUD Prof. Dr.
H.M. Anwar Makkatutu.

BAB X

KETENTUAN PENUTUP

Pasal 17

Hal-hal lain yang menyangkut teknis pelaksanaan operasional Standar Pelayanan Minimal yang belum diatur
dalam peraturan ini, akan diatur lebih lanjut dengan Peraturan Direktur RSUD Prof. Dr. H.M. Anwar Makkatutu.

Pasal 18

Peraturan Daerah ini mulai berlaku pada tanggal diundangkan.


Agar setiap orang dapat mengetahuinya, memerintahkan Pengundangan Peraturan Daerah ini, dengan
penempatannya dalam Lembaran Daerah Kabupaten Bantaeng

Ditetapkan di Bantaeng
Pada tanggal Desember 2011

BUPATI BANTAENG

[Link] ABDULLAH, [Link]


LAMPIRAN I KEPUTUSAN BUPATI BANTAENG
NOMOR : TAHUN 2011
TANGGAL: Desember 2011

STANDAR PELAYANAN MINIMAL


RSUD PROF. Dr.H.M. ANWAR MAKKATUTU KABUPATEN BANTAENG

A. Pendahuluan
Negara berkewajiban melayani setiap warga Negara dan penduduk untuk memenuhi hak dan
kebutuhan dasarnya dalam kerangka pelayanan kepada masyarakat sebagaimana yang diamanatkan dalam
Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. Di sisi lain, membangun kepercayaaan
masyarakat atas pelayanan publik yang dilakukan oleh penyelenggara pelayanan merupakan kegiatan yang
harus dilakukan seiring dengan harapan dan tuntutan seluruh warga Negara dan penduduk tentang
peningkatan pelayanan publik. Sebagai upaya untuk mempertegas hak dan kewajiban setiap warga Negara
dan penduduk serta terwujudnya tanggung jawab Negara dan institusi dalam penyelenggaraan pelayanan
publik, diperlukan norma hukum yang memberi pengaturan lebih jelas. Terkait dengan hal tersebut, diperlukan
standar pelayanan minimal sebagaimana yang diatur dalam Peraturan Pemerintah Nomor 65 Tahun 2005
tentang Pedoman Penyusunan dan Penerapan Standar Pelayanan Minimal, Peraturan Menteri Dalam Negeri
Nomor 6 Tahun 2007 tentang Petunjuk Teknis Penyusunan dan Penetapan Standar Pelayanan Minimal serta
Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 79 Tahun 2007 Tentang Pedoman Penyusunan Rencana
Pencapaian Standar Pelayanan Minimal.

B. PROFIL RSUD PROF. Dr. H.M. ANWAR MAKKATUTU

Rumah Sakit adalah suatu institusi yang merupakan suatu industri jasa pelayanan yang mempunyai
potensi besar untuk terus dikembangkan pada masa – masa yang akan datang, ini tentunya dengan tidak
menanggalkan fungsi sosial yang juga diembannya. Menghadapi era yang terus berubah Rumah Sakit
semakin dituntut untuk memberikan pelayanan jasa yang bermutu dan berorientasi pada kebutuhan
masyarakat.
RSUD [Link] Makkatutu Bantaeng didirikan pada tahun 1921 dan merupakan warisan
Pemerintah Belanda, sehingga sebagian bangunannya terutama pada ruang perawatan masih merupakan
bangunan yang berada di jantung kota Bantaeng terletak di sebelah selatan Propinsi Sulawesi Selatan dengan
posisi 5 derajat 21’23” – 5 derajat 32’26” Lintang Selatan dan 119 derajat 51’42” Bujur Timur dengan batas
wilayah :
1. Sebelah Utara : Kabupaten Gowa
2. Sebelah Timur : Kabupaten Bulukumba
3. Sebelah Selatan : Laut Flores
4. Sebelah Barat : Kabupaten Jeneponto
Sedangkan nama Rumah Sakit di ambil dari nama salah satu putra daerah Kabupaten Bantaeng
yang merupakan Guru Besar Pada Bagian Ilmu Kulit dan Kelamin Fakultas kedokteran Universitas
Hasanuddin.
Rumah Sakit Umum Daerah [Link] Makkatutu Bantaeng sebagai rumah sakit milik
pemerintah daerah dan merupakan satu-satunya pusat rujukan di [Link] dalam pemberian
pelayanannya senantiasa berupaya untuk memberikan yang terbaik untuk pelanggannya yang bukan hanya
melayani masyarakat Kabupaten Bantaeng saja akan tetapi juga melayani masyarakat tetangga seperti
[Link] dan [Link].
Sebagai pemberi pelayanan kesehatan yang terbesar di Tingkat Kabupaten maka RSUD
[Link] Makkatutu Bantaeng selain memberikan pelayanan dasar yang bersifat pokok seperti
Rawat Jalan, Rawat Inap, Gawat Darurat, Kebidanan/kandungan dan imunisasi juga memberikan pelayanan
penunjang seperti Radiologi, Ultrasonografi, Rehabilitasi Medis, Laboratorium, Unit Pelayanan Transfusi
Darah, serta Pelayanan Rujukan. Berdasarkan surat Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia nomor
1284/MENKES/SK/XII/2004 tanggal 17 Desember 2004 tentang Peningkatan Kelas RSUD [Link]
Makkatutu Bantaeng dari Tipe D menjadi Rumah Sakit Tipe C.
Adanya perubahan tuntutan masyarakat terhadap fungsi pelayanan umum yang diselenggarakan oleh
sektor publik telah mendorong setiap instansi pemerintah untuk meresponnya dalam rangka memberikan
pelayanan prima (Service Excellence). Layanan prima adalah proses penanganan penyedian barang atau jasa
public dengan standar mutu yang dapat di pertanggung jawabkan. Salah satu wujud kepedulian Rumah Sakit
terhadap mutu pelayanan yang di berikan kepada masyarakat terbukti dengan adanya Pengakuan berupa
sertifikasi Akreditasi oleh Komite Akreditasi Rumah Sakit (KARS) Kementerian Kesehatan Republik Indonesia
dengan Nomor sertifikat ; YM.01.10/III/3136/09 yang berlaku sejak 13 Agustus 2009 sampai dengan 2012.
Visi RSUD Prof. Dr. H.M. Anwar Makkatutu adalah ““ Terwujudnya RSUD [Link] Makkatutu
Primadona Selatan Selatan”.
“. Sedangkan misi dari RSUD. [Link].H.M. Anwar Makkatutu adalah :
1. Menciptakan Pelayanan Kesehatan Mandiri dan Proaktif
Di harapkan pihak Rumah Sakit mempunyai kemampuan memberikan pelayanan yang dijanjikan segera,
akurat dan memuaskan untuk membantu para pelanggan mendapatkan pelayanan yang tanggap.
2. Menciptakan Pelayanan Kesehatan berorientasi Kendali Mutu dan Kendali Biaya
Diharapkan pihak Rumah Sakit mempunyai kemampuan memberikan pelayanan yang berkualitas,
efesien, dan efektif sehingga pelanggan mendapatkan pelayanan yang berkualitas dengan efesien dalam
hal pembiayaan.
3. Menciptakan Masyarakat Yang Berperilaku Sehat Mandiri
Diharapkan pihak Rumah Sakit berperan dan mempunyai kemampuan memberikan pendidikan kepada
masyarakat untuk berperilaku hidup sehat mandiri.

C. TUJUAN BLUD RSUD PROF. Dr. H.M. ANWAR MAKKATUTU

Dalam mengemban visi dan misi RSUD Prof. Dr. H.M. Anwar Makkatutu dihadapkan pada tantangan
berat seperti pergeseran pola penyakit, demografi, epidemiologi, pemenuhan tuntutan masyarakat terhadap
mutu pelayanan kesehatan, kompetisi yang semakin ketat, melaksanakan fungsi sosial, menghadapi implikasi
globalisasi, ekskalasi biaya kesehatan serta sebagai rumah sakit pendidikan harus melaksanakan fungsi-
fungsi pendidikan, pelatihan, penelitian dan pengabdian masyarakat. Sementara di sisi lain rumah sakit
dihadapkan pada suatu keadaan keterbatasan, yaitu subsidi pemerintah yang terbatas, pengelolaan yang
masih diwarnai suasana "birokratis", rendahnya produktivitas, kurangnya komitmen dan integritas Sumber
Daya Manusia menyebabkan pelayanan yang diberikan tidak optimal. Kondisi seperti ini menimbulkan
pemikiran bahwa rumah sakit harus dapat lebih mandiri dalam pembiayaan operasional, sehingga dalam
pengelolaan rumah sakit diperlukan tata kelola keuangan yang fleksibel dan responsif yang dapat menjawab
permasalahan-permasalahan pengelolaan rumah sakit secara cepat dan tepat.
RSUD Prof. Dr. H.M. Anwar Makkatutu adalah rumah sakit milik Pemerintah Kabupaten Bantaeng,
merupakan satu-satunya rumah sakit rujukan di Kabupaten Bantaeng dengan jangkauan pelayanan yang
cukup luas serta dengan berbagai kemampuan dan tantangan sudah cukup layak untuk menerapkan Pola
Pengelolaan Keuangan Badan Layanan Umum Daerah (PPK-BLUD) agar dapat menerapkan praktek-praktek
bisnis yang sehat guna meningkatkan pelayanan kepada masyarakat di Kabupaten Bantaeng.
Penerapan BLUD akan membuat RSUD Prof. Dr. H.M. Anwar Makkatutu lebih responsif dan agresif
dalam menghadapi tuntutan masyarakat dan eskalasi perubahan yang begitu cepat dengan cara
melaksanakan prinsip-prinsip ekonomi yang efektif dan efisien namun tidak meninggalkan jati dirinya dalam
mengemban misi sosial dalam melayani masyarakat.

D. PENGERTIAN-PENGERTIAN
1. Daerah otonom, selanjutnya disebut daerah adalah kesatuan masyarakat hukum yang mempunyai batas-
batas wilayah yang berwenang mengatur dan mengurus urusan pemerintahan dan kepentingan
masyarakat setempat menurut prakarsa sendiri berdasarkan aspirasi masyarakat dalam sistem Negara
Kesatuan Republik Indonesia.
2. Pemerintahan daerah adalah penyelenggaraan urusan pemerintahan oleh pemerintah daerah dan DPRD
menurut asas otonomi dan tugas pembantuan dengan prinsip otonomi seluas-luasnya dalam sistem dan
prinsip Negara Kesatuan Republik Indonesia sebagaimana dimaksud dalam Undang-Undang Dasar
Negara Republik Indonesia Tahun 1945.
3. Pemerintah daerah adalah Gubernur, Bupati atau Walikota, dan perangkat daerah sebagai unsur
penyelenggara pemerintahan daerah.
4. Urusan Pemerintahan adalah fungsi-fungsi pemerintahan yang menjadi hak dan kewajiban setiap
tingkatan dan/atau susunan pemerintahan untuk mengatur dan mengurus fungsi-fungsi tersebut yang
menjadi kewenangannya dalam rangka melindungi, melayani, memberdayakan, dan mensejahterakan
masyarakat.
5. Urusan Wajib adalah urusan pemerintahan yang berkaitan dengan hak dan pelayanan dasar warga
negara yang penyelenggaraannya diwajibkan oleh peraturan perundang-undangan kepada Daerah untuk
perlindungan hak konstitusional, kepentingan nasional, kesejahteraan masyarakat, serta ketentraman dan
ketertiban umum dalam rangka menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia serta
pemenuhan komitmen nasional yang berhubungan dengan perjanjian dan konvensi internasional.
6. pelayanan Dasar adalah jenis pelayanan publik yang mendasar dan mutlak untuk memenuhi kebutuhan
masyarakat dalam kehidupan sosial, ekonomi, dan pemerintahan.
7. Standar Pelayanan Minimal yang selanjutnya disingkat SPM adalah ketentuan tentang jenis dan mutu
pelayanan dasar yang merupakan urusan wajib daerah yang berhak diperoleh setiap warga secara
minimal.
8. Indikator SPM adalah tolak ukur prestasi kuantitatif dan kualitatif yang digunakan untuk menggambarkan
besaran sasaran yang hendak dipenuhi dalam pencapaian suatu SPM tertentu, dapat berupa masukan,
proses, hasil dan/atau manfaat pelayanan dasar.
9. Kemampuan dan potensi daerah adalah kondisi keuangan Daerah dan sumber daya yang dimiliki daerah
untuk menyelenggarakan urusan wajib pemerintahan daerah dan dalam rangka pembelanjaan untuk
membiayai penerapan SPM.
10. Rencana Pencapaian SPM rumah sakit adalah target pencapaian SPM yang dituangkan dalam dokumen
perencanaan yang dijabarkan pada Renstra-SKPD, dan Renja-SKPD untuk digunakan sebagai dasar
perhitungan kebutuhan biaya dalam penyelenggaraan pelayanan dasar.
11. Analisis Kemampuan dan potensi adalah pengolahan terhadap data dan informasi menyangkut kapasitas
dan sumber daya yang dimiliki.
12. Program adalah penjabaran kebijakan SKPD dalam bentuk upaya yang berisi satu atau lebih kegiatan
dengan menggunakan sumber daya yang disediakan untuk mencapai hasil yang terukur sesuai dengan
misi SKPD.
13. Kegiatan adalah bagian dari program yang dilaksanakan oleh satu atau lebih unit kerja pada SKPD
sebagai bagian dari pencapaian sasaran terukur pada suatu program dan terdiri dari sekumpulan tindakan
pengerahan sumber daya baik yang berupa personal (sumber daya manusia), barang modal termasuk
peralatan dan teknologi, dana, atau kombinasi dari beberapa atau kesemua jenis sumber daya tersebut
sebagai masukan (input) untuk menghasilkan keluaran (output) dalam bentuk barang/jasa.

E. STANDAR PELAYANAN MINIMAL RUMAH SAKIT

Indikator pelayanan manajemen rumah sakit digunakan untuk menilai sampai sejauh mana manajemen
mampu menyediakan sumber daya untuk pelayanan medis, penunjang medis dan asuhan keperawatan. Adapun
standar pelayanan minimal per indicator manajemen RSUD Prof Dr.H.M. Anwar Makkatutu Bantaeng disajikan
sebagai berikut:

No Unit Pelayanan Indikator Standar Keterangan


1 1.1 Rawat Jalan Cakupan minimal penyediaan 100%

1.2 Rawat Inap kelangkapan peralatan pelayanan 100%

1.3 Penunjang Medis 100%

2 2.1 Rawat Jalan Cakupan minimal kelayakan 100%

2.2 Rawat Inap peralatan pelayanan 100%


2.3 Penunjang Medis 100%

3 3.1 Rawat Jalan Cakupan minimal ketersediaan 100%

3.2 Rawat Inap ruangan pelayanan 100%

3.3 Penunjang Medis 100%

4 4.1 Rawat Jalan Cakupan minimal ketersediaan 100%

4.2 Rawat Inap sistem informasi manajemen 100%

4.3 Penunjang Medis 100%

5 5.1 Keuangan Cakupan minimal ketersediaan 100%

5.2 Medical Record sistem informasi manajemen 100%

5.3 Farmasi 100%

5.4 Sarana/Aset 100%


5.5 Kepegawaian 100%

Indikator kinerja pelayanan medis digunakan untuk menilai sampai sejauh mana rumah sakit mampu menyediakan
dan melaksanakan secara minimal jenis, jumlah dan mutu pelayanan medis baik untuk tujuan diagnosa maupun
pengobatan serta sampai sejauh mana mutu tindakan medis yang dihasilkan.
Adapun standar pelayanan minimal per indikator untuk pelayanan medik disajikan sebagai berikut:

No Unit Pelayanan Indikator Standar Keterangan


1 1.1 Ruang OK Cakupan minimal jenis tindakan 100%

1.2 Poliklinik medis yang disediakan RS 100%

1.3 Rawat Darurat 100%

1.4 Rawat Inap 100%

2 2.1 Ruang OK Cakupan minimal jenis tindakan 100%

2.2 Poliklinik medis dengan memanfaatkan 100%


fasilitas rumah sakit
2.3 Rawat Darurat 100%

2.4 Rawat Inap 100%

Indikator kinerja pelayanan penunjang medis digunakan untuk menilai sejauh mana pelayanan penunjang medis
mampu menyediakan jenis, jumlah dan mutu layanan farmasi, radiology, laboratorium patologi klinik, rehabilitasi
medik, gizi, transfuse darah, rekam medik, IPSRS dan pemulasaran jenazah
Adapun standar pelayanan minimal per indikator untuk pelayanan penunjang disajikan sebagai berikut:

No Unit Pelayanan Indikator Standar Keterangan


1 1.1 Ruang OK Cakupan minimal jenis tindakan 100%

1.2 Poliklinik medis yang disediakan RS 100%

1.3 Rawat Darurat 100%

1.4 Rawat Inap 100%

1.5 Farmasi 100%

1.6 Rehab Medik 100%

Indikator pelayanan asuhan keperawatan digunakan untuk menilai sejauh mana pelayanan asuhan keperawatan
memenuhi jenis, jumlah dan mutu pelayanan minimal yang diharapkan. Adapun standar pelayanan minimal per
indicator untuk pelayanan asuhan keperawatan disajikan sebagai berikut:

No Unit Pelayanan Indikator Standar Keterangan


1 1.1 Rawat Jalan Cakupan minimal layanan asuhan 100%

1.2 Rawat Inap keperawatan yang disediakan 100%


Selain standar pelayanan minimal di atas, standar pelayanan minimal setiap jenis pelayanan dapat diuraikan
sebagai berikut:

NO. JENIS PELAYANAN INDIKATOR STANDAR


1. Gawat Darurat 1. Kemampuan menangani 1. 100 %
life saving anak dan
dewasa

2. Jam buka Pelayanan 2. 24 Jam


Gawat Darurat

3. Pemberi pelayanan gawat 3. 100 %


darurat yang bersertifikat yang
masih berlaku
BLS/PPGD/GELS/ALS

4. Ketersediaan tim 4. Satu tim


penanggulangan bencana

5. Waktu tanggap pelayanan 5. ≤ lima menit terlayani,


Dokter di Gawat Darurat setelah pasien dating

6. Kepuasan Pelanggan 6. ≥ 70 %

7. ≤ dua per seribu (pindah ke


7. Kematian pasien< 24
pelayanan rawat inap setelah 8
Jam
jam)
8. Khusus untuk RS Jiwa pasien
8. 100 %
dapat ditenangkan dalam
waktu ≤ 48 Jam
9. 100%
9. Tidak adanya pasien yang
diharuskan membayar uang
muka
2. Rawat jalan 1. Dokter pemberiPelayanan 1. 100 % Dokter Spesialis
di PoliklinikSpesialis

2. Ketersediaan Pelayanan 2.
a. Klinik Anak

b. Klimik Penyakit dalam

c. Klinik Kebidanan

d. Klinik Bedah

3. Ketersediaan Pelayanan di 3.
RS Jiwa a. Anak Remaja NAPZA

c. Gangguan Psikotik

d. Gangguan Neurotik

f. Mental Retardasi

g. Mental Organik

h. Usia Lanjut

4. Jam buka pelayanan 4. 08.00 s/d 13.00


Setiap hari kerja kecuali Jumat :
08.00 - 11.00

5. Waktu tunggu di rawat jalan 5. ≤ 60 menit

6. Kepuasan Pelanggan 6. ≥ 90 %

7. a. Penegakan diagnosis TB 7. a. ≥ 60 %
melalui pemeriksaan
mikroskop TB

b. Terlaksananya kegiatan b. ≤ 60 %
pencatatan dan pelaporan TB
di RS
NO JENIS PELAYANAN INDIKATOR STANDAR
.
3 Rawat Inap 1. Pemberi pelayanan di Rawat Inap 1. a. Dr. Spesialis
. b. Perawat minimal pendidikan D3

2. Dokter penanggung jawab pasien 2. 100 %


rawat inap

3. Ketersediaan Pelayanan 3. a. Anak


Rawat Inap b. Penyakit Dalam
c. Kebidanan
d. Bedah

4. Jam Visite Dokter Spesialis 4. 08.00 s/d 14.0 setiap


hari kerja

5. Kejadian infeksi pasca operasi


5. ≤ 1,5 %
6. Kejadian Infeksi
6. ≤ 1,5 %
Nosokomial

7. Tidak adanya kejadian pasien jatuh


7. 100 %
yang berakibat kecacatan / kematian

8. Kematian pasien > 48 jam 8. ≤ 0.24 %

9. Kejadian pulang paksa 9. ≤ 5 %

10. Kepuasan pelanggan 10. ≥ 90 %

11. Rawat Inap TB 11.


a. Penegakan diagnosis TB melalui a. ≥ 60 %
pemeriksaan mikroskopis TB
b. ≥ 60 %
b. Terlaksanana kegiatan
pencatatan dan pelaporan TB di
Rumah Sakit
12. NAPZA, Gangguan Psikotik,
12. Ketersediaan pelayanan rawat inap
Gangguan Nerotik, dan Gangguan
di rumah sakit yang memberikan
Mental Organik
pelayanan jiwa
13. 100 %
1 3. Tidak adanya kejadian kematian
pasien gangguan jiwa karena bunuh
diri
14. 100 %
[Link] re-admission pasien
gangguan jiwa dalam waktu ≤ 1
bulan

15. Lama hari perawatan 15. ≤ 6 minggu


Pasien gangguan jiwa
NO. JENIS PELAYANAN INDIKATOR STANDAR

4. Bedah Sentral (Bedah saja) 1. Waktu tunggu operasi 1. ≤ 2 hari


elektif

2. Kejadian Kematian di meja 2. ≤ 1 %


operasi

3. Tidak adanya kejadian operasi 3. 100 %


salah sisi

4. Tidak adanya kejadian opersi 4. 100 %


salah orang

5. Tidak adanya kejadian salah 5. 100 %


tindakan pada operasi

6. Tidak adanya kejadian


tertinggalnya benda asing/lain 6. 100 %
pada tubuh pasien setelah
operasi

7. Komplikasi anestesi karena 7. ≤ 6 %


overdosis, reaksi anestesi,
dan salah penempatan
anestesi endotracheal tube
5. Persalinan, perinatologi (kecuali 1. Kejadian kematian ibu 1. a. Perdarahan ≤ 1 %
rumah sakit khusus di luar rumah karena persalinan b. Pre-eklampsia ≤ 30 %
sakit ibu dan anak) dan KB c. Sepsis ≤ 0,2 %

2. Pemberi pelayanan 2. a. Dokter [Link]


persalinan normal b. Dokter umum terlatih (Asuhan
Persalinan Normal)
c. Bidan

3. Pemberi pelayanan persalinan 3. Tim PONEK yang terlatih


dengan penyulit

4. Pemberi pelayanan 4. a. Dokter [Link]


persalinan dengan b. Dokter Sp.A
tindakan operasi c. Dokter [Link]
5. Kemampuan menangani 5. 100 %
BBLR 1500 gr – 2500 gr

6. Pertolongan persalinan 6. ≤ 20 %
melalui seksio cesaria

7. Keluarga Berencana a. 7. 100 %


Presentase KB
(vasektomi & tubektomi)
yang dilakukan oleh
tenaga Kompeten
[Link], [Link].B,
[Link].U, [Link]
terlatih
b. Presentse peserta KB
mantap yang mendapat
konseling KB mantap
bidan terlatih

8. Kepuasan Pelanggan 8. ≥ 80 %

NO. JENIS PELAYANAN INDIKATOR STANDAR


6. Intensif 1. Rata rata pasien yang 1. ≤ 3 %
kembali ke perawatan intensif
dengan kasus yang sama < 72
jam

2. Pemberi pelayanan Unit 2. a. Dokter [Link] dan


Intensif dokter spesialis sesuai
dengan kasus yang
ditangani
b. 100 % Perawat minimal
D3 dengan sertifikat
Perawat mahir ICU /
setara (D4)
7. Radiologi 1. Waktu tunggu hasil 1. ≤ 3 jam
pelayanan thorax foto

2. pelaksana ekspertisi 2. Dokter [Link]

3. Kejadian kegagalan 3. Kerusakan foto ≤ 2 %


pelayanan Rontgen

4. Kepuasan pelanggan 4. ≥ 80 %
8. Lab. Patologi Klinik 1. Waktu tunggu hasil 1. ≤ 140 menit
pelayanan laboratorium. Kimia darah & darah rutin

2. Pelaksana ekspertisi 2. Dokter [Link]

3. Tidak adanya kesalahan 3. 100 %


pemberian hasil pemeriksa
laboratorium

4. Kepuasan pelanggan 4. ≥ 80 %

9. Rehabilitasi Medik 1. Kejadian Drop Out pasien 1. ≤ 50 %


terhadap pelayanan
Rehabilitasi Medik yang di
rencanakan

2. Tidak adanya kejadian 2. 100 %


kesalahan tindakan
rehabilitasi medik

3. Kepuasan Pelanggan 3. ≥ 80 %

10. Farmasi 1. waktu tunggu pelayanan a. 1. a. ≤ 30 menit


Obat Jadi b. ≤ 60 menit
b. Racikan

2. Tidak adanya Kejadian 2. 100 %


kesalahan pernberian obat

3. Kepuasan pelanggan 3. ≥ 80 %

4. Penulisan resep sesuai 4. 100 %


formularium

11. Gizi 1. Ketepatan waktu 1. ≥ 90 %


pemberian makanan
kepada pasien
2. Sisa makanan yang tidak 2. ≤ 20 %
termakan oleh pasien

3. Tidak adanya kejadian 3. 100 %


kesalahan pemberian diet
NO. JENIS PELAYANAN INDIKATOR STANDAR

12. Transfusi Darah 1. Kebutuhan darah bagi setiap 1. 100 % terpenuhi


pelayanan transfusi

2. Kejadian Reaksi transfusi 2. ≤ 0,01 %

13. Pelayanan GAKIN Pelayanan terhadap pasien 100 % terlayani


GAKIN yang datang ke RS
pada setiap unit pelayanan

14. Rekam Medik 1. Kelengkapan pengisian 1. 100 %


rekam medik 24 jam setelah
selesai pelayanan

2. Kelengkapan Informed 2. 100 %


Concent setelah
mendapatkan informasi
yang jelas

3. Waktu penyediaan 3. ≤ 10 menit


dokumen rekam medik
pelayanan rawat jalan
4. ≤ 15 menit
4. Waktu penyediaan
dokumen rekam medik
pelayanan rawat inap

15. Pengelolaan Limbah 1. Baku mutu limbah cair 1. a. BOD < 30 mg/l b.
COD < 80 mg/l c.
TSS < 30 mg/l d.
PH 6-9
2. Pengelolaan limbah padat 2. 100 %
infeksius sesuai dengan
aturan

20
16. Administrasi dan manajemen 1. Tindak lanjut penyelesaian 1. 100 %
hasil pertemuan direksi

2. Kelengkapan laporan 2. 100 %


akuntabilitas kinerja

3. Ketepatan waktu
pengusulan kenaikan 3. 100 %
pangkat

4. Ketepan Waktu
pengurusan gaji berkala 4. 100 %

5. Karyawan yang mendapat


pelatihan minimal 20 jam 5. ≥ 60 %
setahun

6. Cost recovery 6. ≥ 40 %
7. Ketepatan waktu 7. 100 %
penyusunan laporan
keuangan

8. Kecepatan waktu 8. ≤ 2 jam


pemberian informasi
tentang tagihan pasien
rawat inap
9. Ketepatan waktu 9. 100 %
pemberian imbalan
(insentif) sesuai
kesepakatan waktu

NO. JENIS PELAYANAN INDIKATOR STANDAR

17. Ambulance/Kereta Jenazah 1. Waktu pelayanan 1. 24 jam


ambulance/Kereta jenazah

2. Kecepatan memberikan 2. ≤ 230menit


pelayanan ambulance/Kereta
jenazah di rumah sakit

3. Response time pelayanan


ambulance oleh masyarakat 3. Sesuai ketentuan daerah
yang membutuhkan

18. Pemulasaraan Jenazah 1. Waktu tanggap (response ≤ 2 Jam


time) pelayanan
pemulasaraan jenazah

21
19. Pelayanan pemeliharaan 1. Kecepatan waktu ≤ 80 %
sarana rumah sakit menanggapi kerusakan
alat

2. Ketepatan waktu 100 %


pemeliharaan alat

3. Peralatan laboratorium dan 100 %


alat ukur yang digunakan
dalam pelayanan terkalibrasi
tepat waktu sesuai dengan
ketentuan kalibrasi

20. Pelayanan Laundry 1. Tidak adanya kejadian 100 %


linen yang hilang

2. Ketepatan waktu 100 %


penyediaan linen untuk
ruang rawat inap

21. Pencegahan dan 1. Ada anggota Tim PPI yang Anggota Tim PPI yang terlatih
pengendalian infeksi (PPI) terlatih 75 %

2. Tersedia APD di setiap 60 %


instalasi/ departemen

3. Kegiatan pencatatan dan 75 %


pelaporan infeksi nosokomial
/ HAI (Health Care
Associated Infection) di RS
(min 1 parameter)

BUPATI BANTAENG

[Link].H.M. NURDIN ABDULLAH, [Link]

22
23

Anda mungkin juga menyukai