0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
202 tayangan8 halaman

Prosedur dan Perawatan Kateterisasi Jantung

Kateterisasi jantung adalah prosedur medis untuk mendiagnosa dan mengobati kondisi jantung tertentu. Prosedur ini dilakukan untuk mendeteksi penyempitan atau sumbatan pembuluh darah jantung dan membantu dokter menentukan tindakan selanjutnya. Persiapan pasien dan prosedur kateterisasi dijelaskan secara singkat dalam dokumen ini.

Diunggah oleh

Widya Fathul
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
202 tayangan8 halaman

Prosedur dan Perawatan Kateterisasi Jantung

Kateterisasi jantung adalah prosedur medis untuk mendiagnosa dan mengobati kondisi jantung tertentu. Prosedur ini dilakukan untuk mendeteksi penyempitan atau sumbatan pembuluh darah jantung dan membantu dokter menentukan tindakan selanjutnya. Persiapan pasien dan prosedur kateterisasi dijelaskan secara singkat dalam dokumen ini.

Diunggah oleh

Widya Fathul
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

LAPORAN

KATETERISASI JANTUNG
DI RUMAH SAKIT UNIVERSITAS AIRLANGGA
TANGGAL 12 SEPTEMBER 2018

Oleh: Kelompok 17
Ani Rihlatun Ni’mah
Annisa Mufidah
Widya Fathul Jannah
Aprhodita Emawati G.
Arfa Zikriani
Astrid Anggreswari N.

PROGRAM PENDIDIKAN PROFESI NERS


FAKULTAS KEPERAWATAN
UNIVERSITAS AIRLANGGA
SURABAYA
2018
1. Definisi Kateterisasi Jantung
Menurut National Heart Lung and Blood Institute Disease and Conditions
Index (2009), kateterisasi jantung adalah prosedur medis yang digunakan untuk
mendiagnosa dan mengobati jantung pada kondisi tertentu. Kateterisasi Jantung &
Angiografi (Cath Lab) adalah suatu tindakan medis/prosedur diagnostik invasif
yang berfungsi untuk mendeteksi penyempitan atau sumbatan pembuluh darah
jantung/koroner. Melalui prosedur ini, dapat diketahui jenis tindakan yang sesuai
bagi pasien. Sehingga dokter dapat merekomendasikan tindak lanjut pengobatan
yang mana tergantung dari hasil angiografi. Tindakan termasuk pasang ring
jantung, intervensi dengan balon, atau tindakan operasi bypass.

2. Jenis Kateterisasi Jantung


Menurut Rokhaeni, Purnamasari & Rahayoe (2001) pemeriksaan kateterisasi
jantung terbagi atas:
a. Kateterisasi jantung kanan (untuk kelainan pada jantung kanan), misalnya
stenosis pulmonal.
b. Kateterisasi jantung kiri (untuk kelainan pada jantung kiri), misalnya penyakit
jantung koroner, koartasio aorta.
c. Kateterisasi jantung kanan dan kiri (untuk kelainan jantung kanan dan kiri),
misalnya Tetralogi Of Fallot, transposisi arteri besar.
Lebih lanjut Rokhaeni, Purnamasari & Rahayoe (2001) menyebutkan bahwa
pemeriksaan kateterisasi pada intinya terbagi atas 2 tindakan yaitu angiogram dan
penyadapan.
a. Angiogram/angiography
Yaitu memasukkan media/zat kontras ke dalam suatu rongga (ruang
jantung/pembuluh darah), untuk meyakinkan suatu anatomi/aliran darah,
kemudian merekam/mendokumentasikannya ke dalam film/CD/video
sebagai data.
b. Penyadapan
Yaitu tindakan menyadap/merekam/mendokumentasikan tekanan,
kandungan oksigen, sistem listrik jantung, tanpa menggunakan media
kontras.

3. Indikasi Kateterisasi Jantung


Indikasi dilakukan tindakan kateterisasi jantung pada pasien menurut Gray et
al, 2002 adalah sebagai berikut:
a. Memiliki gejala penyakit arteri koroner meskipun telah mendapat terapi
medis yang adekuat
b. Penentuan prognosis pada pasien dengan penyakit arteri koroner
c. Nyeri dada stabil dengan perubahan iskemik bermakna pada tes latihan
d. Pasien dengan nyeri dada tanpa etiologi yang jelas
e. Sindrom koroner tidak stabil (terutama dengan peningkatan Troponin T atau
I).
f. Pasca infark miokard nongelombang Q
g. Pasca infark miokard gelombang Q pada pasien risiko tinggi (ditentukan
dengan tes latihan atau pemindaian perfusi miokard).
h. Pasien dengan aritmia berlanjut atau berulang
i. Gejala berulang pasca coronary artery bypass Graft (CABG) atau percutaneus
coronary intervention (PCI)
j. Pasien yang menjalani pembedahan katup jantung
k. Pasien gagal jantung dengan etiologi yang tidak jelas
l. Menentukan penyebab nyeri dada pada kardiomiopati hipertropi

4. Kontraindikasi Kateterisasi Jantung


Umumnya tidak ada kontraindikasi mutlak untuk kateterisasi jantung.
Kontraindikasi relatif adalah:
1. Pasien dengan gangguan faktor pembekuan darah,
2. Pasien dengan gagal jantung yang berat,
3. Pasien dengan tekanan darah tinggi yang tidak terkontrol,
4. Hamil,
5. Infeksi aktif,
6. Gagal ginjal dan alergi kontras.
Namun semuanya kembali pada pertimbangan manfaat dan risiko yang harus
dihadapi.

5. Persiapan Pasien Sebelum Kateterisasi Jantung


a. Melakukan puasa atau tidak mengonsumsi makanan maupun minuman
apapun selama setidaknya 6 sebelum prosedur kateterisasi dilakukan
b. Menghentikan konsumsi obat-obatan seperti obat pengencer darah, karena
dapat meningkatkan risiko terjadinya perdarahan selama prosedur kateterisasi
c. Mempertahankan status mental pasien dalam keadaan baik dan kemampuan
untuk bekerja sama
d. Memberikan penjelasan prosedur dan informed concent kepada pasien

6. Pemeriksaan Sebelum Kateterisasi Jantung


a. Pemeriksaan EKG
b. Melakukan pemeriksaan laboratorium (pemeriksaan darah lengkap)
c. Melakukan pemeriksaan tanda-tanda vital (tekanan darah, nadi, suhu, RR,
SPO2)
d. Cek sirkulasi darah perifer dengan allen test
7. Hal yang Harus Diperhatikan dalam Kateterisasi Jantung
a. Beritahukan kepada dokter tentang obat-obatan ang sedang dikonsumsi
termasuk herbal, suplemen, ataupun obat-obatan yang diresepkan.
b. Beritahukan kepada dokter jika memiliki alergi terhadap iodine atau obat-
obatan lainnya karena pada prosedur akan dilakukan foto x-ray yang
mengandung iodine di dalamnya. Jika perlu, dokter akan memberikan obat
tambahan untuk mencegah munculnya reaksi alergi.
c. Beritahukan kepada dokter jika sedang hamil atau mengira akan hamil.
Kateterisasi jantung mungkin akan ditunda hingga setelah melahirkan.

8. Prosedur Pelaksanaan Kateterisasi Jantung


Idealnya perawat di ruang kateterisasi jantung telah mempunyai latar belakang
di ruang perawatan intensif/jantung dan mempunyai pengetahuan mengenai obat-
obat jantung, aritmia, prinsip-prinsip pemberian sedatif secara intravena, teknik
steril, anatomi dan fisiologi jantung, pacemaker, dan konsep-konsep manajemen
kateter pada kateterisasi jantung. Perawat selalu memonitor vital sign dan
perubahan hemodinamik pasien selama prosedur berlangsung. Perubahan status
emosional pasien, kesadaran pasien, respon vokal, dan ekspresi wajah penting
diperhatikan karena mencerminkan toleransi pasien tehadap prosedur yang
dilakukan. Perawat harus waspada terhadap adanya tanda-tanda yang
membahayakan pasien dengan memberikan intervensi yang tepat untuk mencegah
terjadi kondisi yang lebih serius seperti reaksi vasovagal dan spasme arteri
koronaria (Underhil et al; Smeltzer & Bare, 2008). Selama prosedur kateterisasi
jantung, perawat berperan dalam memonitoring hemodinamik pasien seperti
cardiac output, dan vital sign. Hal ini bertujuan untuk mengidentifikasi segera
adanya kondisi yang abnormal sehingga dapat mencegah terjadi komplikasi yang
tidak diharapkan (Underhill et al, 2005; Smelter & Bare, 2008).

9. Perawatan Pasca Kateterisasi Jantung


Perawatan setelah menjalani prosedur kateterisasi jantung bertujuan untuk
mengidentifikasi adanya iskemia atau infark pasca prosedur, mengidentifikasi efek
dari zat kontras, adanya edema dan perdarahan pada area puncture serta
mengidentifikasi adanya gangguan sirkulasi perifer. Semua tindakan ini diharapkan
dapat mengidentifikasi masalah yang dialami pasien sesegera mungkin, mencegah
terjadi infeksi serta mempercepat penyembuhan kondisi pasien. Oleh karena itu
perawatan pasien secara komprehensif diperlukan baik sebelum, selama dan setelah
prosedur kateterisasi jantung (Underhill, 2005; Huddak & Gallo, 2006).
Pasien yang menjalani percutaneus coronary intervention (PCI), biasanya di
rawat inap selama semalam di telemetry unit atau interventional cardiology unit,
karena akan dirawat dan diawasi oleh perawat yang punya keahlian dan telah
berpengalaman dalam perawatan pasien postprocedural serta mempunyai
pengetahuan tentang obat-obat jantung, interpretasi aritmia, ACLS skills, serta
manajemen area kateterisasi jantung. Adapun perawatan pasien setelah menjalani
prosedur kateterisasi jantung adalah sebagai berikut:
a. Mengkaji keluhan yang dirasakan pasien adanya nyeri dada memerlukan
tindakan segera karena hal tersebut dapat merupakan indikasi adanya
vasospasme atau penyumbatan secara tiba-tiba.
b. Monitor tanda-tanda vital 1 jam pertama selama 15 menit, 1 jam kedua selama
30 menit sampai keadaan umum baik
c. Monitor adanya perdarahan, hematoma dan bengkak disekitar area penusukan
d. Monitor adanya tanda-tanda dari efek samping zat kontras. Perawat perlu
mengenali tanda dan gejala hipersensitifitas terhadap zat kontras seperti:
adanya urtikaria, menggigil, mual, muntah, ansietas dan spasme laring.
e. Observasi volume cairan yang masuk dan keluar
f. Hidrasi yang baik dengan terapi intravena sangat penting pasca prosedur
kateterisasi jantung. Selain itu, pasien juga dianjurkan untuk minum yang
banyak, hal ini bertujuan untuk mengeliminasi zat kontras yang terdapat
dalam tubuh pasien.
g. Monitor adanya tanda infeksi. Melakukan observasi terhadap adanya
perubahan warna, suhu pada area sekitar puncture. Selalu mengganti balutan
dengan memperhatikan prinsip septik dan antiseptik.
h. Monitor tanda-tanda gangguan sirkulasi ke perifer

10. Komplikasi
a. Perdarahan
Komplikasi yang paling sering terjadi pada kateterisasi jantung dari arteri
femoral adalah perdarahan dan pembentukan hematoma lokal. Resiko ini
meningkat seiring dengan meningkatnya ukuran kateter yang dimasukkan ke
dalam arteri, jumlah antikoagulan, dan derajat obesitas pasien.
Komplikasi lainnya yang dapat terjadi adalah hematoma retroperitoneal,
pseudoaneurisma, pembentukan AVF, trombosis arteri sekunder akibat
diseksi intimal, dan emboli kolesterol maupun udara. Frekuensi dari
komplikasi tersebut meningkat pada prosedur beresiko tinggi, lansia dengan
penyakit kritis dengan penyakit ateromateous ekstensif, pasien yang
menerima terapi antikoagulan, antiplatelet dan fibrinolitik, serta pasien yang
menerima prosedur concomitant interventional procedures. Dibandingkan
kateterisasi melalui arteri femoral, kateterisasi melalui arteri brachial (yang
bukan radial) memiliki resiko komplikasi yang sedikit lebih tinggi.
b. Infeksi dan komplikasi lain yang lebih jarang terjadi
Infeksi menjadi resiko bagi pasien yang dilakukan insisi di area yang sama
dalam kurun waktu 1-5 hari. Gejala yang mungkin timbul adalah emboli
klesterol yang ditandai oleh nyeri abdomen atau nyeri kepala, blue toes,
insufisiensi renal, atau perdarahan paru.
c. Hematoma retroperitoneal dan pseudoaneurisma
Hematoma retroperitoneal dapat dicurigai terjadi pada pasien yang
mengalami hipotensi, takikardi, pucat, hematokrit yang turun dengan cepat
setelah kateterisasi, nyeri di abdomen bawah ataupun punggung bawah, atau
adanya perubahan neurologis di kaki yang ditusuk. Komplikasi ini
berhubungan dengan high femoral arterial puncture dan antikoagulasi penuh.
Pseudoaneurisma adalah komplikasi dari high femoral arterial puncture.
d. Laserasi pembuluh darah
Komplikasi ini disebabkan oleh adanya tusukan atau laserasi di arteri
femoral selama prosedur pemasangan kateter jantung. Komplikasi ini
merupakan komplikasi sekunder perdarahan yang ditandai dengan
hematoma, perdarahan retroperitoneal, pseudoaneurisma, arteriovenous
fistula.
e. Arteriovenous fistula
Tusukan antara arteri dan vena dapat mengakibatkan adanya fistula.
Komplikasi ini biasanya asimtomatik, atau ditandai dengan adanya
congestive heart failure, thrill yang terpalpasi, dan adanya bruit yang
terkonfirmasi dengan ultrasonografi.
f. Acute vessel closure/ thrombus
Komplikasi ini dapat disebabkan oleh trombus emboli dari pemasangan
kateter ataupun akibat pembedahan. Komplikasi ini biasanya ditandai dengan
gejala pada kaki berupa parestesia, nyeri, pucat, pulseless dan dingin.
g. Neural damage
Komplikasi ini dapat disebabkan oleh adanya injuri pada nervus femoral
selama prosedur kateterisasi, hematoma retroperitoneal dan pseudoaneurisma
yang berakibat pada penekanan pada plexus lumbar, dan hematoma femoral
yang mengakibatkan adanya kompresi pada nervus. Komplikasi ini ditandai
dengan nyeri, rasa geli pada area pangkal paha, mati rasa pada area yang
dikateter ataupun pada bagian bawah, kesulitan menggerakkan kaki,
kelemahan kaki, penurunan reflek tendon patella.
DAFTAR PUSTAKA

Gray, H. H., Dawkins, K. D., Simpson, I. A., & Morgan, J. M. (2002). Kardiologi,
Edisi 4. Jakarta: Erlangga medical series.
Kaushal, Rishi (2015). Care of The Patient Following Cardiac Catheterization.
Torrance: Providence Little Company of Mary Medical Center.
Kern, Morton J. 2013. Intervenstional Cardiac Catheterization Handbook Third
Edition. Philadelphia: Elsevier Saunders.
Mullins, Charles E. 2015. Cardiac Catheterization and Imaging (From Pediatrics
to Geriatrics) First Edition. Bangladesh: Jaypee Brothers Medical Publisher.
Pagana, K. D., & Pagana, T. J. (2005). Diagnostic testing and nursing implication:
A casestudy approach, 5 th Ed. St. Louis: Mosby.
Potter, P. A., & Perry, A. G. (2005). Buku ajar fundamental keperawatan: Konsep,
proses dan praktik, Edisi 4. Jakarta: EGC.
Rokhaeni, H., Purnamasari, E., & Rahayoe, A. U. (2001). Buku Ajar
Kardiovaskuler Pusat Jantung Nasional (National Cardiovasculer Center
Harapan Kita). Jakarta: Bidang Pendidikan dan Pelatihan Pusat Kesehatan
Jantung dan Pembuluh Darah Nasional “Harapan Kita”.
Smeltzer, S. C., & Bare, B. G. (2008). Text book medical-surgical nursing Brunner-
Suddarth, 8th Ed. Philadelphia: Mosby Company.
Underhill, Woods, Froelicher, & Halpenny. (2005). Cardiac nursing, 5 th Ed.
Lippincott William & Walkins.

Anda mungkin juga menyukai