0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
110 tayangan12 halaman

Syarat dan Harga Imunisasi MR

Vaksinasi MR penting untuk mencegah penyakit campak dan rubella serta mencegah komplikasi pada ibu hamil dan bayi. Penyuluhan ini menjelaskan tentang pengertian campak dan rubella, vaksin MR, manfaat dan cara pemberian vaksin MR secara lengkap dan mudah dipahami untuk orangtua.

Diunggah oleh

Anjun Anjun
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOC, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
110 tayangan12 halaman

Syarat dan Harga Imunisasi MR

Vaksinasi MR penting untuk mencegah penyakit campak dan rubella serta mencegah komplikasi pada ibu hamil dan bayi. Penyuluhan ini menjelaskan tentang pengertian campak dan rubella, vaksin MR, manfaat dan cara pemberian vaksin MR secara lengkap dan mudah dipahami untuk orangtua.

Diunggah oleh

Anjun Anjun
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOC, PDF, TXT atau baca online di Scribd

SATUAN ACARA PENYULUHAN

IMUNISASI MR
POSYANDU BUMIAYU
Disusun Untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Promosi Kesehatan

Dosen pembimbing : Reni Wahyu T, [Link]., [Link]

Kelompok 1:
1. Siti Ulil Hikmah (1502450038)
2. Anggun Puji Lestari (1602450001)
3. Isna Fauziyah (1602450005)
4. Anita Dwiyanti Safira (1602450006)
5. Nurlikha Mardika Sari (1602450007)
6. Rina Maulidina (1602450032)

POLITEKNIK KESEHATAN KEMENKES MALANG


JURUSAN KEBIDANAN
SARJANA TERAPAN KEBIDANAN MALANG
TAHUN 2018
SATUAN ACARA PENYULUHAN (SAP)

1. IDENTITAS SAP
Pokok Bahasan : Imunisasi
Sub Pokok Bahasan : Imunisasi MR
Sasaran : Usia 9 bulan sampai dengan <15 tahun tanpa
melihat status imunisasi dan riwayat penyakit
campak atau rubella sebelumnya
Target : Usia 9 bulan sampai dengan <15 tahun tanpa
melihat status imunisasi dan riwayat penyakit
campak atau rubella sebelumnya di wilayah
Bumiayu, Kota Malang
Hari / Tanggal : Minggu, 23 September 2018
Waktu : 08.00 – 12.00 WIB
Tempat : Posyandu Bumiayu

2. IDENTIFIKASI MASALAH
Orangtua yang terang-terangan menolak anaknya divaksin lantaran
menganggap tindakan tersebut bertentangan dengan keyakinan agama mereka
menganggap vaksin MR mengandung zat yang diharamkan agama.

3. TUJUAN INSTRUKSIONAL UMUM (TIU)


Setelah mengikuti kegiatan penyuluhan diharapkan para orangtua dapat
mengetahui pentingnya vaksin MR pada anak mereka.

4. TUJUAN INSTRUKSIONAL KHUSUS (TIK)


Setelah mengikuti kegiatan penyuluhan diharapkan orang tua dapat
menjelaskan kembali :
1. Pengertian campak dan rubella
2. Pengertian vaksin MR
3. Manfaat vaksin MR
4. Cara pemberian vaksin MR
5. Syarat pemberian vaksin MR
6. Pro kontra vaksin MR
5. MATERI
Terlampir (lampiran 1)

6. METODE
1. Ceramah
2. Tanya jawab

7. MEDIA
1. Materi SAP
2. Leaflet

8. KEGIATAN PENYULUHAN
No Waktu Kegiatan Penyuluhan Kegiatan Peserta
1 5 menit Pembukaan : 1. Menjawab
1. Memberi salam salam
2. Perkenalan 2. Mendengar
3. Menjelaskan tujuan kan dan
penyuluhan memperhatikan

2 40 Pelaksanaan : Menyimak dan


menit Memberikan materi penyuluhan mendengarkan
secara berurutan dan teratur.
Materi :
1. Pengertian
campak dan rubella
2. Pengertian vaksin
MR
3. Manfaat vaksin
MR
4. Cara pemberian
vaksin MR
5. Syarat pemberian
vaksin MR
6. Pro kontra vaksin
MR
3 12 Evaluasi : 1. Tanya Jawab
menit Meminta peserta untuk menjelaskan 2. Evaluasi
kembali ulang :
1. Pengertian
campak dan rubella
2. Pengertian vaksin
MR
3. Manfaat vaksin
MR
4. Cara pemberian
vaksin MR
5. Syarat pemberian
vaksin MR
6. Pro kontra vaksin
MR
4 3 menit Penutup : Menjawab salam
Mengucapkan terima kasih dan
mengucapkan salam

9. SETTING TEMPAT
Posyandu Bumiayu

DENAH TEMPAT

AUDIEN AUDIEN
LEMBAR PENGESAHAN

Makalah ini telah diperiksa dan disetujui oleh :

Mengetahui
Pembimbing Institusi

(Reni Wahyu T, [Link]., [Link])


NIP. 19770901 200212 2 001
LAMPIRAN

Lampiran 1
MATERI PENYULUHAN
1. Pengertian Campak dan Rubella
Penyakit campak dan rubela tak asing lagi di telinga masyarakat,
khususnya di Indonesia. Namun, awam lebih mengenal campak
dibandingkan rubela. Padahal, kedua penyakit tersebut timbul akibat virus
yang sama-sama bisa ditularkan melalui saluran napas.
Mengutip laman Klik Dokter, Sabtu (26/8/2017), measles atau
campak adalah penyakit akibat infeksi virus yang mudah ditularkan melalui
batuk dan bersin. Simtom penyakit ini berupa batuk pilek disertai ruam
kemerahan di kulit.
Meski terkesan ringan, campak bisa berbahaya karena kerap
menyebabkan komplikasi berat di berbagai organ, seperti infeksi telinga
tengah, diare, dan radang otak. Setidaknya 1 dari 20 anak yang sakit campak
akan mengalami peradangan paru (pneumonia).
Sedangkan rubela, atau juga dikenal dengan campak Jerman,
merupakan penyakit akibat virus yang kerap menyerang anak. Simtom
infeksi rubela terbilang ringan, yakni berupa ruam merah dan demam ringan
yang tak mengganggu aktivitas.
“Bila infeksi rubela ini menyerang wanita yang sedang
merencanakan kehamilan atau sedang hamil, dapat menyebabkan kematian
atau kecacatan saat lahir (Congenital Rubella Syndrome). Angka kejadian
bayi cacat akibat rubela di Indonesia termasuk salah satu yang tertinggi di
dunia,” jelas dr Resthie Rachmanta Putri, [Link], seperti dikutip dari laman
Klik Dokter.
Ibu hamil yang terpapar virus rubela pada trimester pertama atau
awal kehamilan dapat mengalami keguguran atau kecacatan pada bayi yang
dilahirkan. Sindroma Rubella Kongenital di antaranya meliputi kelainan
pada jantung dan mata, ketulian, dan keterlambatan perkembangan.
Simtom atau gejala infeksi rubela cenderung tidak terlalu signifikan,
ringan, dan sulit dikenali. Umumnya individu yang terinfeksi mengalami
demam ringan, nyeri tenggorokan, sakit kepala, sesak napas dan pilek, mata
merah, serta ruam merah yang dimulai dari wajah lalu menyebar ke lengan
serta kaki dengan cepat.
Gejala tersebut biasanya muncul dalam rentang dua atau tiga minggu
setelah terpapar virus dan bertahan selama dua hingga tiga hari.
Mengutip laman Health Line, penularan virus rubela sangat mudah
dan cepat. Individu bisa terpapar virus rubela jika menyentuh mulut, hidung,
mata, bekas lendir atau cairan dari orang yang terinfeksi rubella. Selain itu,
virus rubela juga bisa menyebar lewat berbagi makanan atau minuman
dengan seseorang yang terinfeksi virus tersebut.
Tidak ada pengobatan untuk penyakit MR. Namun, kabar baiknya,
penyakit ini dapat dicegah dengan imunisasi MR.

2. Pengertian Vaksin MR
Vaksin Measles Rubella (MR) adalah vaksin hidup yang
dilemahkan (live attenuated), berupa serbuk kering dengan pelarut.
Kemasan vaksin adalah 10 dosis per vial. Setiap dosis vaksin MR
mengandung 1000 CCID50 virus campak dan 1000 CCID50 virus rubella.

3. Manfaat Pmeberian Vaksin MR


Imunisasi MR dilakukan pemerintah sekarang untuk melindungi anak
dari penyakit kelainan bawaan, seperti gangguan pendengaran, gangguan
penglihatan, kelainan jantung dan retardasi mental yang disebabkan adanya
infeksi rubella pada saat kehamilan.
4. Syarat Pemberian Vaksin MR
Vaksin MR diberikan secara subkutan dengan dosis 0,5 ml. Vaksin
hanya boleh dilarutkan dengan pelarut yang disediakan dari produsen yang
sama. Vaksin yang telah dilarutkan harus segera digunakan paling lambat
selama 6 jam setelah dilarutkan. Pemberian imunisasi ditunda pada keadaan
demam, batuk pilek dan diare.

5. Cara Pemberian Vaksin MR


Berikan imunisasi MR untuk anak usia 9 bulan sampai dengan <15
tahun tanpa melihat status imunisasi dan riwayat penyakit campak atau
rubella sebelumnya. Berikut adalah langkah-langkah dalam melakukan
penyuntikan vaksin MR:
1. Imunisasi dilakukan dengan menggunakan alat suntik
sekali pakai (Autodisable Syringe/ADS) 0,5 ml. Penggunaan alat suntik
tersebut dimaksudkan untuk menghindari pemakaian berulang jarum
sehingga dapat mencegah penularan penyakit HIV/AIDS, Hepatitis B
dan C.
2. Pengambilan vaksin yang telah dilarutkan dilakukan
dengan cara memasukkan jarum ke dalam vial vaksin dan pastikan
ujung jarum selalu berada di bawah permukaan larutan vaksin sehingga
tidak ada udara yang masuk ke dalam spuit.
3. Tarik torak perlahan-lahan agar larutan vaksin masuk
ke dalam spuit dan keluarkan udara yang tersisa dengan cara mengetuk
alat suntik dan mendorong torak sampai pada skala 0,5 cc, kemudian
cabut jarum dari vial.
4. Bersihkan kulit tempat pemberian suntikan dengan
kapas kering sekali pakai atau kapas yang dibasahi dengan air matang,
tunggu hingga kering. Apabila lengan anak tampak kotor diminta untuk
dibersihkan terlebih dahulu.
5. Penyuntikan dilakukan pada otot deltoid di lengan kiri
atas.
6. Dosis pemberian adalah 0,5 ml diberikan secara
subkutan (sudut kemiringan penyuntikan 45o).
7. Setelah vaksin disuntikkan, jarum ditarik keluar,
kemudian ambil kapas kering baru lalu ditekan pada bekas suntikan,
jika ada perdarahan kapas tetap ditekan pada lokasi suntikan hingga
darah berhenti.

6. Pro-Kontra Vaksin MR

Meski begitu, kampanye imunisasi MR tidak kebal terhadap reaksi


negatif dari masyarakat. Informasi simpang siur serta opini individu
antivaksin yang bertebaran di media sosial membuat sebagian kalangan
masyarakat ragu-ragu, bahkan enggan untuk memvaksin anak mereka.
Kabar seorang siswi di Demak yang kemudian menjadi sulit berjalan
usai mendapat vaksinasi MR dan menjadi viral di media sosial juga turut
mewarnai keraguan ortu untuk mengizinkan anak mereka divaksin. Meski
kemudian hasil pemeriksaan lanjutan belum dapat membuktikan bahwa
kondisi sulit berjalan gadis tersebut terkait dengan vaksinasi MR yang
didapatnya.
Ada pula orangtua yang terang-terangan menolak anaknya divaksin
lantaran menganggap tindakan tersebut bertentangan dengan keyakinan
agama seperti yang terjadi di Provinsi Jawa Tengah. Orangtua dari 300 anak
lebih di Kabupaten Sukoharjo, Karanganyar, dan Temanggung menolak
imunisasi. Hal itu dipastikan oleh Kepala Dinas Kesehatan (Kadinkes)
Provinsi Jawa Tengah, dr Yulianto Prabowo.
“Ada pemahaman dari tokoh agama yang menyatakan bahwa vaksin
MR tidak boleh,” ujar dr Yulianto. “Memang tidak semua warga di desa itu
menolak. Yang menolak hanya sebagian warga desa,” lanjutnya. Yulianto
mengungkapkan rupanya para orangtua itu menganggap vaksin MR
mengandung zat yang diharamkan agama.
Hal serupa pun terjadi di Banyumas, tepatnya di wilayah kaki Gunung
Slamet. Sebuah sekolah yang bernaung di bawah sebuah yayasan keagamaan
sempat menolak imunisasi MR. Namun, Kadinkes Kabupaten Banyumas,
Sudiyanto, segera menugaskan tim guna melakukan pendekatan pada camat,
kepala desa, tokoh masyarakat, serta tokoh agama setempat.
Belakangan, diketahui penolakan tersebut lantaran ada kekhawatiran
dampak pasca vaksinasi berupa kelumpuhan seperti yang terjadi di Demak.
Untungnya tim yang ditugaskan Sudiyanto berhasil menerangkan bahwa
vaksin MR aman dan kejadian yang dikhawatirkan itu hanya bersifat
kebetulan, serta tidak terbukti disebabkan oleh pemberian imunisasi MR.
Ratusan siswa di sekolah tersebut pun kemudian bersedia divaksin.
Kabar mengenai siswi yang sulit berjalan usai imunisasi MR di Demak
pun turut dicermati Ketua Komisi Nasional Perlindungan Anak, Arist
Merdeka Sirait. Meski secara umum mendukung program imunisasi karena
anak memiliki hak asasi untuk hidup sehat, Arist meminta Kementerian
Kesehatan RI untuk mengevaluasi atau jika perlu menghentikan sementara
program tersebut.
"Dihentikan sementara dulu programnya. Ini kan ada dampak yang
perlu dilihat dulu kebenarannya, benar tidak anak tersebut lumpuh karena
vaksin MR. Ketika sudah diketahui kebenarannya, baru lanjutkan lagi,"
ujarnya ketika dihubungi [Link].

Anda mungkin juga menyukai