0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
50 tayangan6 halaman

Penerapan Rekayasa Nilai dalam Konstruksi

Teks tersebut membahas value engineering (rekayasa nilai) yang merupakan cara untuk mengoptimalkan biaya proyek konstruksi dengan menganalisis fungsi elemen-elemennya. Proses rekayasa nilai meliputi pengumpulan informasi, analisis fungsi, kreativitas, pengembangan alternatif, dan pengambilan keputusan untuk memilih alternatif dengan biaya terendah tanpa mengurangi kinerja. Tujuannya adalah mengurangi biaya 10-30% dari total

Diunggah oleh

ernezto john jr
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
50 tayangan6 halaman

Penerapan Rekayasa Nilai dalam Konstruksi

Teks tersebut membahas value engineering (rekayasa nilai) yang merupakan cara untuk mengoptimalkan biaya proyek konstruksi dengan menganalisis fungsi elemen-elemennya. Proses rekayasa nilai meliputi pengumpulan informasi, analisis fungsi, kreativitas, pengembangan alternatif, dan pengambilan keputusan untuk memilih alternatif dengan biaya terendah tanpa mengurangi kinerja. Tujuannya adalah mengurangi biaya 10-30% dari total

Diunggah oleh

ernezto john jr
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

Value Engineering (Rekayasa Nilai)

Rabu, 22 Oktober 2014

Definisi mengenai value Engineering (Rekayasa Nilai) pada initinya adalah suatu
cara analisa untuk mengoptimalkan efisiensi biaya (Efficiency Cost) yang semula
mungkin berpotensi menimbulkan pembesaran biaya akibat biaya yang tidak perlu pada
suatu anggaran pekerjaan dan setelah dilakukan suatu proses rekayasa nilai
menghasilkan suatu nilai efisiensi biaya dengan syarat tetap berpatokan pada prinsip
tidak menghilangkan aspek kinerja/perform,ketahanan/durability, keandalan/reability,
mutu, fungsi, manfaat, estetika dan aspek lainnya yang dianggap penting dari suatu
elemen pekerjaan yang ditentukan dalam analisis Value Engineering/VE. Suatu proses
rekayasa nilai pada umumnya memerlukan suatu inovasi dan kreatifitas dalam proses
mereduksi suatu elemen biaya yang memiliki potensi pembesaran biaya, proses inovasi
tersebut dapat diperoleh dari pengatahuan dasar (Basic Knowladge), pengalaman
(Experiences) maupun informasi.

Dalam tulisan ini saya lebih memfokuskan kegunaan metode Value


Engineering dalam penerapannya pada proyek konstruksi khususnya pada awal
kegiatan konstruksi. Dalam melakukan suatu proses rekayasa nilai sebaiknya dilakukan
pada tahap perencanaan (Planning) agar kita dapat mengatahui secara dini elemen-
elemen biaya yang dapat kita optimalkan. Hal ini dilakukan karena jika kita melakukan
suatu analisis value engineering pada saat proses konstruksi berlangsung tentunya akan
menyita waktu pekerjaan, biaya konsultasi tambahan, sehingga banyak kehilangan
(Loss) yang terjadi jika dilakukan pada phase pelaksanaan/ konstruksi. Pengertian
tersebut dapat diilustrasikan pada gambar di bawah ini. Ada beberapa alasan mengapa
konsep value engineering (VE) dirasa perlu dan penting untuk diterapkan dalam suatu
proyek konstruksi antara lain:
 Keterbatasan Anggaran Proyek, masalah keterbatasan anggaran dalam
proyek menjadi unsur yang dapat berisiko terhadap kelangsungan pelaksanaan suatu
proyek konstruksi dikarenakan biaya merupakan unsur yang penting untuk
mengwujudkan suatu proyek. Dengan kendala keterbatasan biaya yang sering
ditemukan dalam proyek maka konsep VE dapat menjadi salah satu solusi yang efektif
dan efisien untuk diterapkan sehingga dapat berpotensi dalam mereduksi biaya yang
tidak perlu (Safe Potential).
 Harga Sumber Daya Proyek Yang Terus Meningkat, hal ini yang
dimaksudkan yaitu sumber daya berupa material, peralatan/machine, gaji pekerja (man
power) dan metode kerja yang realitanya cenderung mengalami peningkatan dari tahun
ke tahun. Melihat permasalahan ini maka penerapan konsep VE dapat menjadi suatu
pilihan dalam memecahkan permasalahan tersebut.
 Tingkat Inflasi dan Suku Bunga Yang Terus Meningkat, hal ini juga
dapat menjadi suatu hambatan dalam melaksanakan suatu proyek konstruksi
dikarenakan tingkat inflasi yang terus meningkat dapat berpotensi dalam meningkatkan
anggaran suatu proyek dari tahun ke tahun baik untuk proyek swasta maupun
pemerintah yang tentunya juga berbanding lurus terhadap peningkatan nilai suku
bunga.
 Teknologi Yang Mengalami Kemajuan, dengan perkembangan kemajuan
teknologi baik dari aspek teknologi material, metode kerja, mesin, peralatan dsb, maka
hal ini dapat menjadi sumber peluang munculnya inovasi dan kreatifitas bagi para VE
team dalam mengwujudkan penerapan suatu konsep value engineering (VE) pada
proyek-proyek konstruksi.
Suatu analisis rekayasa nilai yang dalam hal ini difokuskan pada proyek
konstruksi dari beberapa sumber referensi dapat mereduksi biaya sekitar (10-30%) dari
biaya total jika dilakukan dengan baik. Sebagai contoh dalam proyek sebuah jembatan
beton Prestrees Concrete ada beberapa item pekerjaan yang jika kita lakukan suatu
rekayasa nilai dapat menghemat biaya pelaksanaan, misalnya untuk item pekerjaan
gelagar (Girder) jika dalam hal ini kita lakukan suatu inovasi dalam pelaksanaannya
dengan metode tertentu kita dapat melakukan reduksi biaya, tentunya hal ini
memerlukan suatu inovasi dan kreatifitas dalam mengaplikasikannya dan tetap pada
prinsip tidak menghilangkan kinerja/perform, ketahanan/durability,
keandalan/reability, mutu, fungsi, manfaat, estetika dan aspek lainnya yang dianggap
penting dari pekerjaan tersebut. Adapun tahapan-tahapan yang secara umum digunakan
dalam suatu analisis rekayasa nilai antara lain :

 Tahap Pengumpulan Informasi, pada tahap ini para estimator VE harus


mengumpulkan data-data baik data primer berupa wawancara langsung dengan pihak
terkait misalnya kontraktor, owner, konsultan, dan data sekunder berupa RAB,
BOQ, master schedule dan referensi lainnya. Pengumpulan data dalam hal ini
diperlukan untuk mengetahui pendapat dan masukan dari pihak-pihak yang
berkepentingan dalam proyek serta dapat mengetahui karakteristik suatu proyek mulai
dari item pekerjaan, harga satuan, volume pekerjaan, metode kerja, jenis peralatan dan
material yang akan digunakan serta durasi waktu proyek.
 Tahap Analisis Fungsi (Function Analysis), Pada tahap ini dilakukan
suatu analisis fungsi dengan mengidentifikasi elemen-elemen pekerjaan yang berpotensi
memiliki tingkat biaya yang tinggi dengan melakukan breakdown cost terlebih dahulu
dimana mengacu pada hukum Pareto. Hukum Pareto berbunyi 20 % dari total item
pekerjaan mewakili/terletak pada 80% dari total suatu anggaran proyek, dengan kata
lain akan dilakukan proses seleksi item pekerjaan yang memiliki potensi biaya terbesar
dalam suatu proyek. Kemudian setelah item pekerjaaan yang berpotensi VE telah
diperoleh maka tahap selanjutnya dilakukan suatu proses analisis fungsi dengan
menggunakan persamaan ratio Cost/ Worth (C/W) dimana menganalisis antara biaya
elemen dengan biaya fungsi elemen tersebut.
Index Function Analysis = Cost/ Worth……….……(1)

Dimana Cost merupakan biaya total dari suatu item pekerjaan dan worth merupakan
bentuk biaya yang hanya memiliki nilai fungsi terhadap item pekerjaan tersebut. Dalam
tahap analisis fungsi jika nilai index diperoleh > (1- 1.5) maka pada umumnya dari
beberapa referensi item pekerjaan tersebut memiliki potensi dilakukan rekayasa VE. Ada
pula model analisis fungsi lain yang biasa digunakan yaitu dengan menggunakan
metode Function Analysis System Technique (FAST) yaitu dengan mengidentifikasi
fungsi primer dan sekuder dalam analisisnya.
 Tahap Kreatifitas dan Inovasi, pada tahap ini tim VE diharapkan
menggunakan inovasi dan kreatifitas dalam mengolah elemen biaya yang berpotensi
menimbulkan kehilangan biaya (Loss Cost) dengan tetap mengacuh pada prinsip tidak
mengurangi kinerja, keandalan, ketahanan, mutu, manfaat, fungsi dan estetika pada
suatu elemen pekerjaan yang dipilih dalam penerapan rekayasa konsep VE, dimana pada
tahap inilah biasanya yang paling sulit dalam implementasinya. Pada tahap ini akan
melahirkan beberapa alternatif dan inovasi yang telah ditentukan yang kemudian dapat
dijadikan pertimbangan dalam pengambilan suatu keputusan. Proses kreatifitas dan
inovasi dalam tahap ini dapat diperoleh dari ilmu pengetahuan dasar (basic knowledge),
pengalaman/experiences, informasi-informasi terbaru dsb. Jika beberapa alternatif dari
proses inovasi telah ditentukan maka dapat dilakukan suatu studi wawancara
dan sharing pendapat dengan pihak-pihak yang paham/ahli terhadap alternatif yang
akan diajukan untuk analisis lanjutan pada konsep VE.
 Tahap Pengembangan/Development, pada tahap ini dilakukan analisis
lanjutan setelah terpilihnya suatu alternatif dalam proses rekayasa nilai pada elemen
biaya yang akan direduksi. Tahap ini dilakukan dengan analisis Life Cicle Cost (LCC)
yang berdasarkan pada analisis prediksi nilai uang terhadap waktu (Value Time of
Money) yang berdasarkan pada estimasi suku bunga (Rate of Interest) dan durasi umur
rencana, dengan tujuan untuk mengetahui manfaat jangka panjang dari beberapa
alternatif inovasi yang telah ditentukan baik dari aspek prediksi biaya awal (Initial
Cost), biaya perbaikan (Replacement/Repair Cost), biaya pemeliharaan dan
operasional (Maintanance and Operational) serta prediksi biaya sisah (Salvage Cost),
kemudian dilakukan analisis kumulatif terhadap biaya-biaya serta manfaat/benefityang
mungkin diperoleh selama umur dari alternatif yang akan dipilih. Alternatif-alternatif
tersebut kemudian dikumulatifkan secara keseluruhan dan selanjutnya dipertimbangkan
jika memiliki potensi biaya yang terendah. Namun hal ini idak hanya dilihat dari aspek
biaya saja melainkan harus dikaji secara komprehensif dari beberapa aspek penting
lainnya.
Life Cycle Cost (LCC) =
( - Initial Cost + Benefit/Revenue - Repair Cost – Replacement Cost –
Maintanance/Operational Cost + Salvage ) ………(2)

 Tahap Analisis Keputusan, Pada tahap ini dilakukan suatu proses analisis
pengambilan keputusan dengan tujuan untuk merangkumkan seluruh laporan kesimpulan dari
alternatif yang telah dianalisis yang berfungsi dalam pengambilan suatu keputusan oleh pihak
yang akan berwenang membuat keputusan (Decision Maker). Dalam tahap ini pula ada
beberapa variabel kriteria yang dianalisis dalam menentukan tingkat rangking (peringkat) dari
alternatif-alternatif yang telah ditentukan. Pada tahap analisis pengambilan keputusan
dilakukan dengan menggunakan metode-metode analisis pengambilan keputusan yang baku
sehingga output dari hasil analisis dapat berupa urutan yang merangkumkan tingkat skor
nilai /rangking dari masing-masing alternatif VE yang dianalisis. Adapun parameter aspek
kriteria yang umum digunakan dalam pemilihan suatu keputusan dalam psoses VE antara lain
:
1. Aspek Kinerja (Performance)
2. Aspek Ketahanan (Durability)
3. Aspek Keandalan (Reability)
4. Aspek Biaya (Life Cycle Cost-LCC)
5. Aspek Mutu (Quality)
6. Aspek Waktu Pelaksanaan (Scheduled)
7. Aspek Pelaksanaan (Construction Workability)
8. Aspek Estetika (Estetic)
9. Aspek Lingkungan (Enviroment)
10. Aspek Legalitas (Legal)

 Tahap Rekomendasi, Tahap ini merupakan tahap penyajian dari hasil analisis
pengambilan keputusan secara keseluruhan yang kemudian diserahkan kepada pihak-
pihak yang berotoritas dalam pengambilan keputusan dari alternatif VE tersebut.
 Tahap Pengambilan Keputusan, Tahap ini merupakan tahap suatu
pengambilan keputusan dari rekomendasi yang dipaparkan dilihat dari kepentingan
semua pihak dalam memutuskan alternatif VE yang ideal pada pelaksanaan proyek
tersebut tanpa merugikan pihak-pihak penyelenggara konstruksi.
 Tahap Implementasi, Tahap ini merupakan tahap eksekusi dari alternatif VE
yang telah diputuskan oleh pihak-pihak yang berkepentingan untuk selanjutnya
dilaksanakan di lapangan beserta proses pengontrolan secara aktual untuk
mengevaluasi kinerja dari penerapan VE pada tahap konstruksi.

Hasil suatu analisis dalam aplikasi konsep VE dapat memberikan beberapa


kemungkinan nilai yang dapat dihasilkan yaitu suatu item pekerjaan yang menghasilkan
biaya yang rendah dengan kualitas yang jauh lebih baik dari yang distandarkan (diharapkan),
biaya rendah dengan kualitas yang sama dengankriteria yang distandarkan, biaya rendah
dengan kualitas yang lebih rendah dari yang distandarkan,biaya tinggi dengan kualitas lebih
baik dari yang distandarkan, biaya tinggi dengan kualitas yang sama dengan kriteria yang
distandarkan dan yang paling dihindari yaitu biaya tinggi dengan kualitas yang jauh lebih
rendah dari desain yang distandarkan.

Dalam realita di lapangan suatu proses rekayasa nilai dalam pelaksanaannya sering
terbentur oleh pihak-pihak yang terlibat di dalamnya, misalnya jika konsultan
perencana atau arsitek telah membuat suatu perencanaan teknis dan kemudian disisi
lain pihak Value Engineer ingin mengubah desain tersebut dengan tujuan mereduksi
biaya konstruksi, maka hal demikian dapat memicuh timbulnya konflik internal dan
presepsi dalam suatu organisasi. Hal tersebut tidak perlu terjadi jika sebelumnya
dilakukan koordinasi antara semua pihak baik owner, konsultan, kontraktor dan tim VE
agar komunikasi yang terjadi tidak merugikan salah satu pihak, dalam hal ini
perlu/pendekatan komunikasi, pemahaman dan koordinasi dalam melakukan suatu
konsep Value Engineering.

Manfaat Penerapan Konsep Value Engineering Pada Sektor Konstruksi


Dalam penerapan VE khusunya pada industri konstruksi manfaat secara umum yang
dapat diberikan yaitu:
1. Dapat mencegah dan mereduksi timbulnya potensi biaya yang tidak perlu
(Loss Cost) pada item pekerjaan konstruksi.
2. Dapat mencegah terjadinya pemebengkakan biaya pada akhir pelaksanaan
proyek konstruksi.
3. Dapat menciptakan peningkatan budaya, daya inovasi dan kreatifitas bagi para
insinyur penyelenggara konstruksi baik dari lembaga konsultan, kontraktor maupun
pihak pemilik proyek/owner.
4. Dapat melahirkan para pakar-pakar Value Engineers Specialist sebagai suatu
cabang ilmu keteknikan yang berorientasi kepada kinerja tim dari beberapa disiplin
bidang keinsinyuran.
5. Dapat menjadi suatu pembelajaran bagi pihak penyelenggara konstruksi
bahwa proses perencanaan dan perancangan suatu proyek konstruksi harus dilakukan
secara matang dan optimal dalam hal ini konsep penerapan VE dapat dilakukan
pada tahap ini dikarenakan tingkat kompleksitas yang tinggi jika proses VE
dilakukan pada tahap pelaksanaan konsruksi.

Dalam realita di lapangan suatu proses rekayasa nilai dalam pelaksanaannya sering
terbentur oleh pihak-pihak yang terlibat di dalamnya, misalnya jika konsultan
perencana atau arsitek telah membuat suatu perencanaan teknis dan kemudian disisi
lain pihak value engineer ingin mengubah desain tersebut dengan tujuan mereduksi
biaya konstruksi atau pertimbangan lain, maka secara umum hal demikian dapat
menyebabkan timbulnya konflik internal dan perbedaan presepsi dalam suatu organisasi
proyek. Hal tersebut tidak perlu terjadi jika sebelumnya dilakukan koordinasi antara
semua pihak baik owner/pemilik, konsultan, kontraktor dan tim VE sendiri agar tidak
merugikan sesama pihak, dalam hal ini perlu pendekatan komunikasi serta pemahaman
dalam penerapan proses value engineering.

Metode value engineering jika dipahami oleh semua pihak penyelenggara konstruksi
sangat berguna dalam mengoptimalisasikan biaya konstruksi. Memang value
engineering di Indonesia belum banyak yang mengetahui khususnya dalam kegiatan
konstruksi, tetapi harapan saya kiranya ke depan aplikasi value engineering bukan
menjadi ancaman oleh pihak pemilik, konsultan dan kontraktor tetapi lebih untuk
manfaat bersama, kiranya semua pihak dalam penyelenggaraan konstruksi lebih paham
pentingnya aplikasi value engineering di kemudian hari. Terima Kasih.
Oleh : James Thoengsal, S.T., M.T., IPP.

Anda mungkin juga menyukai