0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
12 tayangan16 halaman

Dampak Lingkungan Sampah dan TOSS

Ringkasan dokumen tersebut adalah: Sampah merupakan masalah lingkungan yang serius yang dapat diatasi dengan mengubahnya menjadi sumber energi melalui pembangkit listrik tenaga sampah. Dokumen ini menjelaskan bagaimana sampah dapat diolah menjadi energi listrik dan manfaat serta dampak pembangunan pembangkit listrik tenaga sampah.
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
12 tayangan16 halaman

Dampak Lingkungan Sampah dan TOSS

Ringkasan dokumen tersebut adalah: Sampah merupakan masalah lingkungan yang serius yang dapat diatasi dengan mengubahnya menjadi sumber energi melalui pembangkit listrik tenaga sampah. Dokumen ini menjelaskan bagaimana sampah dapat diolah menjadi energi listrik dan manfaat serta dampak pembangunan pembangkit listrik tenaga sampah.
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

ANALISIS DAMPAK LINGKUNGAN MENGENAI SAMPAH DENGAN

METODE TEMPAT OLAH SAMPAH SETEMPAT (TOSS) DALAM


KONSEP LISTRIK KERAKYATAN STT-PLN

MAKALAH ANALISA DAMPAK LINGKUNGAN

DISUSUN OLEH :
PUTRI ENDAH RAHMAWATI
201511249

SEKOLAH TINGGI TEKNIK – PLN


JAKARTA
2018
KATA PENGANTAR

Dengan menyebut nama Allah SWT yang Maha Pengasih lagi Maha Panyayang, Kami
panjatkan puja dan puji syukur atas kehadirat-Nya, yang telah melimpahkan rahmat,
hidayah, dan inayah-Nya kepada kami, sehingga kami dapat menyelesaikan paper ini.

Paper ini telah kami susun dengan maksimal dan mendapatkan bantuan dari berbagai
pihak sehingga dapat memperlancar pembuatan paper ini. Untuk itu kami
menyampaikan terima kasih kepada semua pihak yang telah berkontribusi dalam
pembuatan paper ini.

Terlepas dari semua itu, kami menyadari sepenuhnya bahwa masih ada kekurangan
baik dari segi susunan kalimat maupun tata bahasanya. Oleh karena itu dengan tangan
terbuka kami menerima segala saran dan kritik agar kami dapat memperbaiki paper ini.
Akhir kata kami mengucapkan terima kasih.

Jakarta, 23 Mei 2018

Penyusun

1
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR ................................................................................................... 1
DAFTAR ISI................................................................................................................ 2
BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang ................................................................................................. 3
1.2 Tujuan ..............................................................................................................4
1.3 Rumusan Masalah............................................................................................4
1.4 Manfaat.............................................................................................................4

BAB II LANDASAN TEORI


2.1 Sampah Sebagai Sumber Masalah .................................................................. 5
2.2 Penanggulangan Sampah ................................................................................ 5
2.3 Pengelolaan Sampah ...................................................................................... 6

BAB III ANALISIS


3.1 Listrik Kerakyatan ............................................................................................. 7
3.2 Temuan Ilmiah Listrik Kerakyatan .................................................................... 7
3.3 Metode Biodigister .......................................................................................... 8
3.4 Piyeumisasi ...................................................................................................... 9
3.5 Alat Alat yang Digunakan .............................................................................. 10
3.6 Kelebihan Dan Kekurangan Listrik Kerakyatan ............................................. 11
3.7 Mitigasi ......................................................................................................... 12
3.4 Metode Ad Hoc ............................................................................................. 13

BAB IV SIMPULAN
4.1 Simpulan ........................................................................................................ 15

2
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Seiring dengan perkembangan teknologi yang pesat hal ini juga berbanding lurus
kebutuhan akan energi yang besar pula. Ditambah lagi dengan semakin maju suatu
bangsa maka semakin besar pula kebutuhan akan energi terutama untuk kebutuhan
industri. Cepat atau lambat minyak bumi sebagai penghasil sumber energi saat ini
akan habis maka dari itu disamping kita menghemat penggunaan energi dari
sumber daya alam yang tidak dapat diperbaharui, kita juga harus mencari sumber
alternatif energi baru untuk memenuhi kebutuhan energi yang tidak dapat dibendung
lagi. Sehingga penulis ingin membuat makalah tentang salah satu energi
terbarukan yaitu dengan sampah, yang dikelola sebagai Pembangkit Listrik Tenaga
Sampah atau biasa kita sebut dengan PLTsa.
Sampah merupakan material sisa yang tidak diinginkan setelah berakhirnya
suatu proses. Sampah didefinisikan oleh manusia menurut keterpakainya.
Dalam proses alam sebenarnya tidak ada, yang ada hanyalah produk–produk yang
dihasilkan setelah dan selama proses alam tersebut berlangsung. Akan tetapi
karena dalam kehidupan manusia didefinisikan konsep likngkungan maka sampah
dapat dibagi menurut jenis. Sampah dapat membawa dampak yang buruk pada
kondisi kesehatan manusia, bila sampah di bakar yang akan menimbulakan polusi
yang cukup berarti bagi lingkungan [Link] informasi yang saya dapat
sampah yang dibakar dapat melepaskan karbon dioksoda (C02) dan zat-zat
barbahaya yang lainnya seperti dioksin yang menyebabkan kanker dan gangguan
pernafasan, seperti sesak [Link] hanya sekedar sampah yang menimbun akan
menyebabkan bau busuk, dan akan beresiko banjir. Sudah jelas bukan tidak hanya
mencemarkan lingkungan secara tidak langsung, membakar sampah juga tidak baik
untuk kesehatan manusia. Walau pun merugikan, sampah bisa bermanfaat dalam
kehidupan sehari-hari bahkan sampah dapat mempunyai nilai ekonomi yang tinggi.
Dengan sumber daya yang mudah didapat karena sampah adalah barang yang
dibuang tiap harinya bahkan orang rela membayar uang sampah untuk membuang
sampah agar tidak mengotori rumah dan lingkungannya sehingga menjadikan

3
sampah sebagai salah satu bahan yang ideal untuk diolah menjadi energi
terbarukan.
1.2 Tujuan
 Menjelaskan sampah merupakan solusi tepat sebagai penghasil sumber
energi baru
 Menjelaskan mekanisme proses sampah menjadi sumber energi berupa
listrik di PLTSa
 Mengetahui manfaat dan dampak dari pembangunan PLTSa

1.3 Rumusan Masalah

Penulis telah menyusun beberapa yang akan dibahas dalam makalah ini antara lain

 Apakah Sampah merupakan solusi tepat menghadapi krisis energi yang terjadi?
 Bagaimana Mekanisme proses menjadikan sampah menjadi energi listrik di
PLTsa?
 Apa manfaat dan dampak dari Pembangunan PLTsa?

1.4 Manfaat

 Mengatasi masalah kebutuhan krisis energi yang terjadi dengan bahan yang
paling dekat dengan kita yaitu sampah
 Mengurangi dampak sampah yang sudah sangat meresahkan
 Mengurangi volume sampah dalam waktu yang relatif pendek

4
BAB II
LANDASAN TEORI

2.1 SAMPAH SEBAGAI SUMBER MASALAH


Pola Pengelolaan Sampah sampai saat ini masih menganut paradigma lama
dimana sampah masih dianggap sebagai sesuatu yang tak berguna, tak bernilai
ekonomis dan sangat menjijikkan. Masyarakat sebagai sumber sampah tak pernah
menyadari bahwa tanggung jawab pengelolaan sampah yang dihasilkan menjadi
tanggung jawab dirinya sendiri.
Apabila sampah – sampah yang luar biasa ini mulai menjadi masalah bagi
manusia, barulah manusia menyadari ketidak perduliannya selama ini terhadap sampah
dan mulai menimbulkan kepanikan dan menghantui di mana – mana tanpa tahu apa
yang harus dilakukan untuk mengatasinya.
Sampah merupakan konsekuensi dari adanya aktifitas manusia, karena setiap
aktifitas manusia pasti menghasilkan buangan atau sampah. Jumlah atau volume
sampah sebanding dengan tingkat konsumsi kita terhadap barang/material yang kita
gunakan sehari-hari. Sehari setiap warga kota menghasilkan rata-rata 900 gram
sampah, dengan komposisi, 70% sampah organik dan 30% sampah anorganik.
Peningkatan jumlah penduduk dan gaya hidup sangat berpengaruh pada volume
sampah.
Sampah yang dihasilkan oleh (manusia) pengguna barang, dengan kata lain
adalah sampah-sampah yang di buang ke tempat sampah walaupun masih jauh lebih
kecil dibandingkan sampah-sampah yang dihasilkan dari proses pertambangan dan
industri, tetapi merupakan sampah yang selalu menjadi bahan pemikiran bagi manusia.

2.2 PENANGGULANGAN SAMPAH


Prinsip-prinsip yang juga bisa diterapkan dalam keseharian dalam menanggulangi
sampah misalnya dengan menerapkan Prinsip 4R (WALHI, 2004) yaitu:
 Reduce (Mengurangi), sebisa mungkin lakukan minimalisasi barang atau material
yang kita pergunakan. Semakin banyak kita menggunakan material, semakin
banyak sampah yang dihasilkan.
 Reuse (Memakai kembali), sebisa mungkin pilihlah barang-barang yang bisa dipakai
kembali. Hindari pemakaian barang-barang yang disposable (sekali pakai, buang).
Hal ini dapat memperpanjang waktu pemakaian barang sebelum ia menjadi
sampah.
 Recycle (Mendaur ulang), sebisa mungkin, barang-barang yg sudah tidak berguna
lagi, bisa didaur ulang. Tidak semua barang bisa didaur ulang, namun saat ini sudah

5
banyak industri non-formal dan industri rumah tangga yang memanfaatkan sampah
menjadi barang lain.
 Replace ( Mengganti), teliti barang yang kita pakai sehari-hari. Gantilah barang
barang yang hanya bisa dipakai sekali dengan barang yang lebih tahan lama. Juga
telitilah agar kita hanya memakai barang-barang yang lebih ramah lingkungan.
Misalnya, ganti kantong keresek kita dengan keranjang bila berbelanja, dan jangan
pergunakan styrofoam karena kedua bahan ini tidak bisa didegradasi secara alami.
Daripada mengasumsikan bahwa masyarakat akan menghasilkan jumlah sampah
yang terus meningkat, minimisasi sampah harus dijadikan prioritas utama.
2.3 PENGOLAHAN SAMPAH
Pada umumnya, sebagian besar sampah yang dihasilkan di Indonesia
merupakan sampah basah, yaitu mencakup 60-70% dari total volume sampah. Selama
ini pengelolaan persampahan, terutama di perkotaan, tidak berjalan dengan efisien dan
efektif karena pengelolaan sampah bersifat terpusat, di buang ke sistem pembuangan
limbah yang tercampur.
Seharusnya sebelum sampah dibuang dilakukan pengelompokkan sampah
berdasarkan jenis dan wujudnya sehingga mudah untuk didaurulang dan/atau
dimanfaatkan (sampah basah, sampah kering yang dipilah-pilah lagi menjadi botol
gelas dan plastik, kaleng aluminium, dan kertas). Untuk tiap bahan disediakan bak
sampah tersendiri, ada bak sampah plastik, bak gelas, bak logam, dan bak untuk
kertas. Pemilahan sampah itu dimulai dari tingkat RT (Rumah tangga), pasar dan
aparteme. Bila kesulitan dalam memilih sampah tersebut minimal sampah dipisahkan
antara sampah basah (mudah membusuk) dan sampah kering (plastik,kaleng dan lain-
lain)
Pemerintah sendiri menyediakan mobil-mobil pengumpul sampah yang sudah
terpilah sesuai dengan pengelompokkannya. Pemerintah bertanggung jawab
mengorganisasi pengumpulan sampah itu untuk diserahkan ke pabrik pendaur ulang.
Sisa sampahnya bisa diolah dengan cara penumpukan (dibiarkan membusuk),
pengkomposan (dibuat pupuk), pembakaran. Dari ketiga cara pengelolaan sampah
basah yang biasa dilakukan dibutuhkan TPA (Tempat Pembuangan Akhir) yang cukup
luas. Selain itu efek yang kurang baikpun sering terjadi seperti pencemaran lingkungan,
sumber bibit penyakit ataupun terjadinya longsor.

6
BAB III
ANALISIS
3.1 Listrik Kerakyatan
Listrik Kerakyatan adalah suatu gagasan berupa perubahan pola pikir dalam
mengelola ketenagalistrikan saat ini dengan menghimpun dan memanfaatkan berbagai
teknologi sederhana dan murah yang cocok untuk dikelola oleh masyarakat awam.
Bahan bakar utama dari Listrik Kerakyatan ini adalah Sampah perkotaan dan energi
yang berasal dari Bio Massa. Tentunya hal ini sangat relevan dengan kondisi Indonesia
yang darurat penanggulangan sampah perkotaan serta krisis energi listrik, terutama di
daerah pedesaan serta daerah terpencil. Hasil penelitian dan uji coba yang dilakukan
oleh STT PLN telah berhasil menanggulangi sampah sebanyak 1 ton per hari (organik
dan/atau non organik), dikonversi menjadi briket sampah sebagai bahan bakar
pembangkit listrik gas sampah melalui proses gasifikasi
Terkait briket sampah ini, penelitian yang dilakukan oleh STT PLN di Laboraturium
Pengujian Pusat Penelitian dan Pengembangan teknologi Mineral dan Batu Bara
(TekMIRA) Kementerian ESDM pada 24 Juni 2015 membuktikan bahwa kadar kalori
briket sampah ini berkisar antara 2500 kkal (kalori rendah), 4.445 kkal (kalori sedang),
dan 6.730 kkal (kalori tinggi). Dalam hal ini, briket sampah ini mampu menjadi energi
baru dan mampu menggantikan energi batu bara. Namun untuk dapat
diimplementasikan dalam skala nasional, dibutuhkan penelitian lanjutan dengan ruang
lingkup yang lebih luas, baik dari sisi teknik dan non teknik.

3.2 Temuan Ilmiah Listrik Kerakyatan


banyak negara di dunia yang mulai mengembangkan jenis ET lainnya seperti energi
matahari, angin, dan biomasa termasuk sampah. Salah satu jenis ET yang
berkembang adalah penggunaan ET biomasa (BM) yang berasal dari limbah dan
sampah yang ternyata bisa dikonversi menjadi energi panas atau listrik melalu suatu
proses alami sederhana dengan memanfaatkan bakteri pembusuk. Pemusnahan
sampah yang saat ini sering dilakukan oleh banyak negara besar adalah dengan
melakukan insenerasi yang memerlukan energi sangat besar (listrik dan bahan bakar
fosil) dan tidak ramah lingkungan. Cara lainnya yang sangat sederhana, hemat biaya,
dan ramah lingkungan untuk mengonversi sampah organik menjadi energi adalah

7
melalui proses termal-kimiawi yang telah diteliti mampu memiliki efisiensi hingga 90
persen dan beremisi rendah. Proses terlal-kimiawi ini mampu mengativasi organisma-
mikro karena bakteri mampu menurunkan kadar air serta memperpendek rantai karbon
dan serat. Secara alami, bakteri mampu mengubah bahan organik menjadi bahan
energi panas sehingga menghasilkan gas sampah. Gagasan untuk membuang sampah
ke kawat listrik terinspirasi oleh berbagai upaya untuk mengelola sampah yang telah
dilakukan oleh berbagai kelompok masyarakat seperti inisiatif bank sampah,
pengolahan biji plastik, pembuatan kompos, dan yang paling menarik untuk
dikembangkan menjadi energi listrik adalah berbagai inisiatif kelompok masyarakat
dalam mengolah sampah organic menjadi gas sampah yang sudah banyak berhasil
untuk digunakan memasak dan tinggal selangkah lagi untuk bisa menjadi listrik.
Pembangkit listrik tenaga sampah bisa dibangun dimana saja dan bisa
memberdayakan tenaga kerja setempat. Pembangkit listrik tenaga sampah dapat
memberikan solusi atas masalah pembuangan sampah dan mengurangi transportasi
sampah ke lokasi tempat pembuangan akhir (TPA). Secara teknis, sudah banyak
kelompok masyarakat yang berinisiatif untuk mengelola sampah termasuk gerakan
bank sampah yang dimulai dengan memisahkan sampah organik. Pemanfaatannya pun
beragam, mulai dari pupuk kompos, kerajinan tangan, biji plastik, sampai gas untuk
masak. Secara regulasi juga PLTSampah sudah didukung dengan adanya Feed in
Tarif tetapi baru dimanfaatkan oleh pemodal besar karena perizinan dan prosedurnya
sangat rumit dan berjenjang sampai ke tingkat menteri. Untuk itu prosedur IPP
kerakyatan yang menggunakan PLTSa perlu disederhanakan dan didelegasikan
kepada unit PLN di tingkat cabang sehingga memudahkan pembuatan kontrak jual beli
dengan PLN.

3.3 Metode Biodigester


Metode Biodigester adalah proses pengolahan sampah dengan memanfaatkan
ruangan kedap udara untuk membuat bakteri-bakteri baik yang mampu mengubah
dampak negatif sampah menjadi positif. Sayangnya Metode ini hanya mampu bereaksi
pada sampah-sampah organik. Mengingat volume Sampah yang sangat besar dan
hampir tidak dapat terbendung, maka terpikirkan suatu ide untuk kemudian berhasil diuji
coba bernama “Peuyeumisasi”. Berbanding terbalik dengan metode Biodigester,
metode Peuyeumisasi diilhami dari proses alam yang dikombinasikan dengan proses
kimia-biologi agar tercipta formuliasi yang tepat dan bermanfaat. Dalam proses

8
Peuyeumisasi, seluruh sampah, baik organik dan non organik, di satukan dalam suatu
wadah bambu untuk kemudian ditutup terpal. Dalam hal ini, ada sirkulasi udara dan
penutupan sampah dengan terpal tersebut ditambahkan dengan suatu blower agar
mampu menjaga stabilitas suhu wadah pada 60 derajat celcius. Dalam waktu 10 hari
(instalasi), maka akan terpisahkan sampah organik dan non organik.

3.4 Piyeumisasi
Persentase Sampah Non Organik jauh lebih besar daripada Sampah Organik.
Dalam hal ini, sampah organik telah berhasil diuji dan diimplementasikan oleh banyak
pihak. Namun, pada pelaksanaannya, harus terjadi pemilahan antara Sampah Organik
dan Sampah Non Organik (yang tidak memiliki nilai ekonomi) baik pada TPS dan TPA.
Selain itu, Penumpukan dan pembusukan sampah mengganggu pandangan (estetika)
dan menyebabkan terjadnya polusi udara (aroma yang tidak sedap). Bahkan,
tumpukan sampah menjadi sarang berbagai binatang yang merupakan vektor penyakit
dan sumber berbagai organisma patogen. Sehingga akan terjadi kontaminasi bahan
beracun dan berbahaya (B3) ke lingkungan sekltar, sehingga terjadi degradasi kualitas
lingkungan hidup. Selanjutnya muncul ide tentang “Bagaimana jika seluruh sampah
tidak dipilah (organik dan non-organik)”. Akhirnya dikembangkanlah inovasi metode
“Peuyeumisasi” yang merupakan proses alami menggunakan keramba bambu yang
mampu mengkonversi sampah organik dan non- organik menjadi bahan bakar padat.
Peuyeumisasi dalam pemrosesan sampah adalah proses pemeraman secara
mikrobiologi, bukan kimiawi, yang bertujuan mempecepat terjadinya
peluruhan/penguraian (degradasi) sampah padat. Metode ilmiah yang mampu
memproses sampah organik dan non organik pada box bambu dengan memanfaatkan
bakteri anaerob sehingga sampah tersebut dapat menghasilkan suatu produk bricket
sampah yang memiliki kadar kalori 2500 - 4000 kkal. Metode ini ditemukan dan
dikembangkan oleh Sonny Djatnika Sundadjaya, pakar Listrik Kerakyatan dari Institut
Teknologi Bandung angkatan 1974. Dalam metode ini, selain menghasilkan briket,
Gas yang dihasilkan adalah gas yang ramah lingkungan. Secara kimiawi, gas sampah
adalah CO2 + CH4. Untuk itu perlu dilakukan briketisasi dan dilakukan gasifikasi
sehingga menghasilkan CO + H2.

9
3.5 Alat alat yang Digunakan

Gb. 1Mesin Putar sampah rumah tangga Gb. 2 Bak Biodigester

Gb. 3 Kompor Gas Metan Gb. 4 Bak Air Lindih

Gb. 5 Mesin Putar Gb. 6 Mesin Pencacah

10
Gb. 7 Piyeumisasi Gb. 8 Mesin Pencetak

Gb. bentuk pelet

2.6 Kelebihan dan Kekurangan Listrik kerakyatan


Kelebihan Listrik Kerakyatan antara lain:
• Membantu Program Listrik 35.000 MW, LK membantu melistriki daerah yang
terisolir termasuk pulau-pulau terluar Indonesia serta mengatasi KRISIS listrik
yang masih melanda Jawa dan luar Jawa.
• Murah, Cepat, Ramah Lingkungan, Merakyat, LK mampu menjadi solusi sampah
perkotaan yang selama ini menjadi kendala, khususnya di kota-kota besar
Indonesia. Selain itu, LK mampu dibangun di sekitar komunitas masyarakat
termasuk pasar, sekolah, kantor, mal, dan hotel.
• IPP Mini dan Memberdayakan Pengusaha Lokal skala UMKM, LK mampu
memberdayakan pengusaha kecil di setiap daerah untuk menjadi pengusaha

11
listrik swasta secara gotong royong dan membuka lapangan kerja di bidang
ketenagalistrikan.

Kekurangan Listrik Kerakyatan antara lain :


• Tidak bisa didirikan pada sembarang tempat karena membutuhkan kapasitas
sampah yang mencukupi untuk menghasilkan energi listrik.
• Membutuhkan digester dan genset yang banyak.
• Belum dilakukan penyesuaian tarif karena masih bersifat penelitian sehingga
sampai saat ini masih mengalami defisit.
• Membuka persaingan pengepul yang sudah bekerjasama pada daerah sampah
tersebut.
• Apabila gas methana tidak dapat dikelola dengan baik akan merusak
atmosphere.
• Masih memiliki kadar emisi gas buang

2.7 Mitigasi
Pengertian Mitigasi dan Penjelasannya, Menurut UU Nomor 24 Tahun 2007,
mengatakan bahwa pengertian mitigasi dapat didefinisikan. Pengertian mitigasi adalah
serangkaian upaya untuk mengurangi resiko bencana, baik melalui pembangunan fisik
maupun penyadaran dan peningkatan kemampuan menghadapi ancaman bencana.
Berdasarkan siklus waktunya, penanganan bencana terdiri atas 4 tahapan sebagai
berikut
Tahap-Tahap Penanganan Bencana

 Mitigasi merupakan tahap awal penanggulangan bencana alam untuk


mengurangi dan memperkecil dampak bencana. Mitigasi adalah kegiatan
sebelum bencana terjadi. Contoh kegiatannya antara lain membuat peta wilayah
rawan bencana, pembuatan bangunan tahan gempa, penanaman pohon bakau,
penghijauan hutan, serta memberikan penyuluhan dan meningkatkan kesadaran
masyarakat yang tinggal di wilayah rawan gempa

 Kesiapsiagaan merupakan perencanaan terhadap cara merespons kejadian


bencana. Perencanaan dibuat berdasarkan bencana yang pernah terjadi dan
bencana lain yang mungkin akan terjadi. Tujuannya adalah untuk meminimalkan
korban jiwa dan kerusakan sarana-sarana pelayanan umum yang meliputi upaya
mengurangi tingkat risiko, pengelolaan sumber-sumber daya masyarakat, serta
pelatihan warga di wilayah rawan bencana.

 Respons merupakan upaya meminimalkan bahaya yang diakibatkan bencana.


Tahap ini berlangsung sesaat setelah terjadi bencana. Rencana
penanggulangan bencana dilaksanakan dengan fokus pada upaya pertolongan
korban bencana dan antisipasi kerusakan yang terjadi akibat bencana.

12
 Pemulihan merupakan upaya mengembalikan kondisi masyarakat seperti
semula. Pada tahap ini, fokus diarahkan pada penyediaan tempat tinggal
sementara bagi korban serta membangun kembali saran dan prasarana yang
rusak. Selain itu, dilakukan evaluasi terhadap langkah penanggulangan bencana
yang dilakukan.

2.8 Metode Ad Hoc

Metode ad hoc merupakan metode yang sangat sederhana dan tidak


menunjukkan keistimewaan disamping tidak mempunyai acuan tertentu sehingga hasil
yang diperoleh tidak konsisten antara satu penelitian dengan penelitian lainnya. Diberi
kebebasan kepada setiap anggota tim dalam menggunakna keahliannya. Meskipun
relatif murah dari segi biaya yang harus dikeluarkan, komponen yang digunakan dalam
metode ini tidak detail dan singkat, sehingga kurang adanya keterpaduan antar disiplin
ilmu yang terlibat didalamnya.
Dampak (+)
Lingkungan

Dampak (-)

Kegunaan

Tak dapat
Tidak ada

Masalah
Dampak

Panjang
dampak

kembali

Pendek
Jangka

Jangka

Untung

Rugi
Ekonomi

Kesejahteraan

Masyarakat

Kualitas Udara
Kesehatan
Lapangan
Kerja
Kualitas air

Air Bumi
Sifat Tanah
Wilayah Lahan

Alasan :
 Ekonomi : Memberi Dampak Positif, sebab akan mendapatkan keuntungan.
Karena bahan yang kita gunakan adalah sampah. Tidak mengeluarkan biaya .

13
dan sampah terus bermunculan tiap hari. Dan kita kelola menjadi sebuah briket
dan bahkan menghasilkan listrik yang berguna menguntungkan bagi orang lain.
 Kesejahteraan Masyarakat : Memberi dampak Positif sebab Masyarakat
berharap bebas sampah dari lingkungan. Dan dengan adanya kerja sama dari
pihak masyarakat dan LK, sampah tersebut bisa diberikan ke LK dan lingkungan
bebas dari sampah
 Kualitas Udara : Memberi dampak Positif dan juga dampak negatif, sebab
sampah menimbulkan bau yang tidak sedap. Jika dibersihkan memang bau
tersebut hilang, namun dengan berjangka pendek. Dan bau sampah akan timbul
lagi jika sampah tidak segera di olah.
 Kesehatan : sama seperti Kualitas Udara, sampah bukan hanya menimbulkan
bau yang tidak sedap, namun juga menimbulkan penyakit. Jika dibersihkan,
sampah tersebut akan memberi dampak positif bagi masyarakat. Namun jika
dibiarkan bergitu saja sampah tersebut akan memberi dampak negatif bagi
masyarakat.
 Lapangan Kerja : memberi dampak positif, karena disini membutuhkan orang
orang yang berpatisipasi atau membantu untuk menanggulangi sampah tersebut.
 Kuaitas air : memberi dampak positif dan negatif. Banyak di sekolan atau sungai
terdapat sampah. Jika dibersihkan maka akan mendapat dampak positif dan
kualitas air bersih. Namun jika sampah tidak segera dibersihkan di area selokan
atau sungai, maka akan berdampak negatif dan kualitas air memburuk
 Air bumi : tidak berdampak, karena air akan terus ada
 Sifat Tanah : sama seperti Iar bumi, tidak berdampak. Karena sifat tanah kekal.
 Wilayah Lahan : bermasalah, karena setiap saya lewat bawah, masih dapat
tercium bau yang tidak sedap.

14
BAB IV
SIMPULAN

4.1 Simpulan
Dengan adanya listrik kerakyatan PLTSa ini kita bisa memanfaatkan sisa-sisa
makanan atau dedaunan yg berjatuhan di jalanan agar bias di manfaatkan
menjadi energy listrik yang bisa menjadi energy terbarukan menggantikan enargi
batubara yang lambat laun akan habis dan tidak bisa di gunakan sebagai
pembangkit listrik alternatif .
Jika kita bisa memanfaatkan sampah dengan benar maka akan di dapat hasil
yang bisa bermanfaat bagi kita sendiri maupun orang lain. Jangan membuang
sampah sembarangan. Buanglah sampah pada tempatnya agar bisa di olah
kembali.

15

Anda mungkin juga menyukai