LAPORAN PENDAHULUAN ASUHAN
KEPERAWATAN HIPOTENSI
OLEH
I GEDE PATRIA PRASTIKA
NIM. P07120215059
KELAS 3B DIV KEPERAWATAN
KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA
POLITEKNIK KESEHATAN DENPASAR
JURUSAN KEPERAWATAN
2018
A. KONSEP DASAR PENYAKIT
1. Definisi Hipotensi
Hipotensi adalah suatu keadaan di mana tekanan darah lebih rendah dari
normal, yaitu mencapai nilai rendah 90/60 mmHg. Antara gejala klinis yang bisa
dilihat akibat hipotensi adalah sering pusing, cepat lelah, penglihatan kurang jelas
apabila merubah posisi, dan berkeringat dingin. Tekanan darah rendah sering terjadi
pada waktu setelah sakit atau semasa penyembuhan.
Tekanan darah rendah yaitu catatan ukuran tekanan darah dibawah tekanan
darah normal (Tom Smith, 1991:6). Sedangkan menurut Leonarld Marvyn (1992:14)
tekanan darah rendah adalah baik selama darah dapat dipompakan atau terbawa
kesegala jaringan dalam tubuh.
Hipotensi atau tekanan darah rendah, terjadi jika terdapat ketidakseimbangan
antara kapasitas vaskuler darah dan volume darah atau jika jantung terlalu lemah
untuk menghasilkan tekanan darah yang dapat mendorong darah. (Sherwood, 2001).
Hipotensi merupakan suatu keadaan dimana tekanan darah rendah dari 90/60
mmHg sehingga menyebabkan keluhan. Namun jika tidak terjadi keluhan dapat
dikatagorikan kondisi yang normal. Sedangkan tekanan darah adalah tekanan yang
ditimbulkan pada dinding arteri. Tekanan puncak terjadi saat ventrikel berkontraksi
dan disebut tekanan sistolik. Tekanan diastolik adalah tekanan terendah yang terjadi
saat ventrikel beristirahat dan mengisi ruangannya. Tekanan darah biasanya
digambarkan sebagai rasio tekanan sistolik terhadap tekanan diastolik (Oxford, 2003).
Hipotensi adalah tekanan darah yang rendah sehingga tidak mencukupi untuk
perfusi dan oksigenasi jaringan adekuat. Hipotensi dapat primer atau sekunder (misal:
penurunan curah jantung, syok hipovolemik, penyakit Addison) atau postural
(ortostatik). => Kelenjar adrenal (insufisiensi adrenal), Syok. (Chris Brooker, 2005)
2. Penyebab / Faktor Predisposisi Hipotensi
Ada beberapa faktor yang menyebabkan terjadinya penurunan tekanan darah,
di antaranya adalah :
a. Perubahan posisi
Biasanya muncul saat anda berubah posisi secara tiba-tiba. Keadaan ini disebut
dengan hipotensi ortostatik. Seseorang dengan hipotensi ortostatik mengalami
penurunan tekanan darah sistolik sebanyak 15-30 mm Hg ketika berdiri dari posisi
duduk atau berbaring.
b. Berdiri terlalu lama
Biasanya terjadi saat seseorang berdiri terlalu lama, hingga aliran darah
berkumpul pada bagian bawah tubuh. Kondisi ini disebut dengan neurally
mediated hypotension
c. Dehidrasi
Dehidrasi terjadi akibat tubuh kekurangan cairan dan bisa disebabkan oleh kurang
minum, puasa atau diare.
a. Efek samping pengobatan
Ada beberapa obat yang bisa menurunkan tekanan darah, seperti obat antidepresi,
obat anti-hipertensi seperti alpha-blocker dan beta-blocker, obat penghambat
enzim pengubah angiotensin (ACE Inhibitor) hingga obat diuretik.
b. Anemia
Anemia merupakan kondisi di mana kandungan hemoglobin di dalam darah
rendah. Salah satu gejala anemia adalah tekanan darah rendah.
c. Kehamilan
Tekanan darah pada wanita hamil biasanya lebih rendah karena sistem peredaran
darahnya yang berkembang dengan cepat.
d. Ketidakseimbangan hormon
Penyakit seperti diabetes atau penyakit Addison menyebabkan gangguan produksi
hormon. Hal ini bisa berdampak pada keseimbangan kadar air dan mineral tubuh,
serta tekanan darah.
e. Penyakit saraf
Penyakit saraf seperti penyakit Parkinson dapat menyebabkan hipotensi ketika
menjangkiti sistem saraf yang mengontrol fungsi tubuh otonom seperti
mengendalikan tekanan darah.
f. Perdarahan hebat
Hilangnya darah dalam jumlah besar dalam tubuh akan menurunkan asupan darah
ke jaringan-jaringan di tubuh, sehingga tekanan darah tubuh akan menurun drastis.
Ini merupakan kondisi mengancam nyawa yang memerlukan penanganan medis
secepatnya.
g. Penyakit jantung
Penyakit kronis seperti penyakit jantung menyebabkan darah tidak bisa dipompa
dengan baik oleh jantung ke seluruh tubuh. Akibatnya cardiac output / curah
jantung menurun, sehingga tekanan darah pun menurun.
h. Infeksi darah (Sepsis)
Sepsis terjadi ketika infeksi yang terjadi dalam jaringan mulai memasuki aliran
darah. Akibatnya, tekanan darah akan menurun drastis. Kondisi ini mengancam
nyawa dan memerlukan penanganan medis secepatnya.
i. Reaksi alergi yang parah (anafilaksis)
Anafilaksis adalah reaksi alergi parah yang berpotensi mengancam nyawa.
Kondisi ini dapat menyebabkan rasa gatal yang sangat, sesak napas, dan tekanan
darah menurun drastis.
3. Pohon Masalah
Hipotensi
Cardiac output menurun
Suplai darah ke otak berkurang
Klien merasa pusing, Risiko
cedera
Sesak napas,
Mata berkunang-kunang,
Cepat lelah Intoleransi
aktivitas
Terjadi pingsan
Risiko ketidakefektifan
perfusi jaringan otak
4. Klasifikasi Hipotensi
a. Hipotensi Postural / Ortostatik
Hipotensi postural merupakan jenis hipotensi yang mendadak karena perubahan
posisi tubuh, biasanya pada saat sedang berdiri dari posisi duduk atau dari posisi
berbaring. Tekanan darah turun karena jantung tidak dapat memompa cukup darah
sehingga terjadi kekurangan oksigen di otak, menyebabkan timbulnya gejala rasa
pusing bahkan pinsan. Menurut (Chris Brooker, 2005). Hipotensi postural adalah
penurunan tekanan darah tiba-tiba saat mengubah posisi dengan cepat dari
berbaring atau duduk menjadi berdiri. Kondisi ini paling umum terjadi pada
lansia. Kondisi ini dapat disebabkan oleh mekanisme fisiologis yang terlambat,
yang normalnya mengompensasi perubahan postur tubuh. Hipotensi postural juga
dapat terjadi jika pasien sedang menjalani pengobatan menggunakan obat
antihipertensi, terutama jika diberikan dosis yang paling tepat. Perawat juga harus
menganjurkan pasien untuk menghindari perubahan posisi tiba-tiba. Jika pasien
berbaring atau duduk selama beberapa waktu, tenaga pelayanan kesehatan harus
mengantisipasi potensi penurunan tekanan darah tiba-tiba saat pasien berdiri, dan
memastikan bahwa pasien berdiri perlahan dan aman.
Gejala lain dari gangguan otonom yang sering menyertai hipotensi, diantaranya:
Keluar keringat dingin, perubahan besar pupil, gangguan gastrointestinal
(pencernaan), disfungsi kandung kemih dan poliuria nokturnal (sering kencing
waktu malam). (Van der Cammen, 1991).
b. Hipotensi Postprandial
Hipotensi postprandial merupakan jenis hipotensi yang mendadak setelah
mengkonsumsi makanan. Setelah makan, darah mengalir cepat kesaluran
pencernaan, dan untuk mengkompensasi penurunan mendadak dalam pembuluh,
laju detak jantung meningkat dan beberapa pembuluh darah menyempit.
Seseorang yang mengalami hipotensi postprandial harus makan makanan dalam
porsi yang sedikit supaya tidak memicu terjadinya penurunan tekanan darah
secara mendadak.
c. Hipotensi karena saraf (Neurally Mediated Hypotension)
Dalam kondisi normal, jika anda berdiri atau berjalan selama jangka waktu
tertentu, gaya gravitasi menarik darah ke ujung-ujung bagian bawah tubuh anda,
yang menyebabkan tekanan darah turun. Pada sebagian orang suplai darah tidak
dapat terpenuhi karena adanya masalah komunikasi pada sistem syaraf yang
menyampaikan perintah dari otak kepada jantung, sehingga jantung tidak segera
meningkatkan laju detaknya dan terjadilah ketidak-seimbangan sirkulasi darah dan
menyebabkan pusing bahkan pingsan.
d. Hipotensi Akut
Hipotensi yang munculnya tiba-tiba dengan faktor pencetus. Hipotensi jenis ini
merupakan hipotensi yang berbahaya di bandingkan jenis lainnya, karena di
sebabkan oleh menurunnya tekanan darah seseorang secara tiba-tiba. (Olvista,
2011)
5. Gejala Klinis Hipotensi
Terdapat beberapa manifestasi dari beberapa Hipotensi :
a. Jantung berdebar kencang atau tidak teratur
b. Pusing
c. Lemas
d. Mual
e. Kehilangan keseimbangan atau merasa goyah
f. Pandangan buram
g. Pucat dan badan dingin
h. Napas pendek atau cepat
i. Pingsan
j. Dehidrasi.
6. Pemeriksaan Diagnostik / Penunjang Hipotensi
Mengukur tekanan darah merupakan cara yang tepat dan mudah untuk
mendiagnosis hipotensi. Berikut ini adalah beberapa hal yang harus dilakukan
sebelum mengukur tekanan darah untuk mendapatkan hasil pengukuran tekanan darah
yang tepat.
Mengosongkan kandung kemih atau buang air kecil
Istirahat minimal 5 menit
Dilakukan sambil duduk dan tidak sambil bicara.
Selain mengukur tekanan darah, ada beberapa cara atau tes lain untuk
mendiagnosis penyebab hipotensi akibat kondisi atau penyakit tertentu, dan sekaligus
menentukan perawatan yang tepat, yaitu:
a. Elektrokardiogram (EKG). Tes ini bertujuan mendeteksi keabnormalan struktur
jantung, masalah suplai oksigen dan darah ke otot jantung, serta detak jantung
yang tidak teratur.
b. Ekokardiogram. Tes ini menggunakan gelombang suara untuk menghasilkan
gambar struktur jantung dan memeriksa fungsinya.
c. Tes latihan stres. Tes ini dilakukan dengan cara membuat jantung bekerja lebih
keras agar lebih mudah mendiagnosis tekanan darah. Bisa dilakukan dengan
berjalan di treadmill.
d. Tes darah. Tes darah bisa dilakukan untuk memeriksa kadar hormon dan jika
pasien mengalami anemia atau diabetes.
e. Valsalva Maneuver. Tes ini dilakukan dengan meminta pasien mengambil napas
panjang kemudian menutup hidung dan membuang napas melalui mulut, seperti
Anda meniup suatu balon yang sangat kaku. Tes ini dilakukan untuk memeriksa
kondisi sistem saraf autonomi pernapasan.
f. Tes kemiringan tegak lurus (tilt table test). Tes ini biasa dilakukan bagi pasien
hipotensi ortostatik untuk melihat perbedaan tekanan darah saat berbaring dan
berdiri.
7. Penatalaksanaan Medis Hipotensi
Hipotensi pada orang yang tidak menimbulkan masalah biasanya tidak
memerlukan perawatan. Namun jika hipotensi cukup mengganggu, maka akan
dilakukan pengobatan yang tergantung pada penyebabnya. Hipotensi kronik jarang
terdeteksi dari gejala. Hipotensi yang tak bergejala pada orang-orang sehat biasanya
tak memerlukan perawatan. Dalam mengatasi hipotensi berdasarkan penyebabnya
yaitu dengan mengurangi atau menghilangkan gejalanya.
a. Jika keluhan dirasakan klien saat keadaan diare terjadi, maka klien dianjurkan
untuk pemulihan kepada kebutuhan cairannya, yang mempengaruhi atau
mengurangi volume darah, mengakibatkan menurunnya tekanan darah.
b. Kecelakaan/luka yang menyebabkan perdarahan, akan mengakibatkan kurangnya
volume darah dan menurunkan aliran darah, untuk itu yang dibutuhkan oleh
penderita adalah transfusi darah sesuai yang dibutuhkan.
c. Adanya kelainan jantung bawaan seperti kelainan katup, maka penderita harus
menjalani operasi jantung sesuai indikasi dokter, ataupun menjalani pengobatan
yang intensif untuk tidak memperburuk keadaan penderitanya.
Cara lain untuk mengatasi hipotensi, yaitu:
a. Menambahkan elektrolit. Penambahan elektrolit untuk diet dapat meringankan
gejala dari hipotensi ringan.
b. Minum kopi. Dosis kafein di pagi hari dapat memberikan efek karena kafein dapat
memacu jantung untuk bekerja lebih cepat.
c. Pemberian posisi trendelenburg. Pada kasus hipotensi rendah, di mana pasien
masih merespon dengan meletakkan posisi kaki lebih tinggi dari pada punggung
(posisi trendelenburg) posisi itu akan meningkatkan aliran balik vena, sehingga
membuat banyak darah memenuhi organ-organ yang membutuhkan seperti
bangian dada dan kepala.
d. Klien yang sedang mengalami hipotensi, diharuskan banyak beristirahat, dan
membatasi aktivitas fisiknya selama keadaan ini.
e. Klien dengan hipotensi harus membiasakan diri untuk mempuyai pola makan
yang teratur dan mempunyai makanan pelengkap seperti susu untuk meningkatkan
stamina. Selain itu, meningkatkan asupan garam juga bisa mencegah hipotensi.
f. Jika diperlukan misalnya pada klien dengan anemia, maka klien harus
mengkonsumsi makanan yang banyak mengandung zat besi ataupun suplemen zat
besi untuk meningkatkan sel-sel darah merah darah yang menambah volume darah
sehingga dapat meningkatkan tekanan darah penderita.
g. Penderita hipotensi dianjurkan untuk rajin berolahraga ringan, misalnya joging,
untuk melatih kerja jantung secara teratur, dan melancarkan aliran darah.
h. Penderita hipotensi postural simtomatik dapat ditangani dengan mengatur posisi
tidur pasien dengan kepala lebih tinggi. Fludrokortison, suatu mineral okortikoid,
dapat juga berguna, tetapi banyak pasien tidak mempunyai respons yang baik
terhadap obat ini dan obat-obatan yang lain yang telah dicoba seperti indometasin.
(Lionel Ginsberg, 2005)
Ada beberapa hal yang bisa dilakukan untuk mengurangi risiko hipotensi,
yaitu membatasi konsumsi minuman keras dan minum air putih yang banyak. Bagi
Anda yang menyukai minuman berkafein, hindari minuman yang mengandung nutrisi
tersebut di malam hari.
Penderita hipotensi juga dianjurkan untuk menghindari berdiri untuk jangka
waktu lama. Terutama bagi penderita hipotensi ortosatik, ketika berdiri dari posisi
duduk atau berbaring, lakukan secara perlahan-lahan.
Pemberian obat-obatan (meningkatkan darah) hanya dilakukan apabila gejala
hipotensi yang dirasakan benar-benar mengganggu aktivitas keseharian, selain itu
dokter hanya akan memberikan vitamin (suport/placebo) serta beberapa saran yang
dapat dilakukan bagi penderita.
Dalam kasus Hipotensi yang benar-benar diperlukan pemberian obat, biasanya
ada beberapa jenis obat yang biasa dipakai seperti fludrocortisone, midodrine,
pyridostigmine, nonsteroidal anti-inflammatory drugs (NSAIDs), caffeine dan
erythropoietin.
8. Komplikasi Hipotensi
a. Pingsan : hipotensi yang menyebabkan tidak cukupnya darah yang mengalir ke
otak, sel-sel otak tidak menerima cukup oksigen dan nutrisi - nutrisi. Sehingga
mengakibatkan pening bahkan pingsan.
b. Anemia : hipotensi yang menyebabkan produksi sel darah merah yang minimal
atau produksi sel darah merah yang rendah sehingga mengakibatkan anemia.
c. Serangan jantung : hipotensi yang mengakibatkan kurangnya tekanan darah yang
tidak cukup untuk menyerahkan darah ke arteri-arteri koroner (arteri yang
menyuplai darah ke otot jantung) sehingga menyebabkan serangan jantung.
d. Gangguan ginjal : ketika darah yang tidak cukup dialirkan ke ginjal - ginjal, ginjal
– ginjal akan gagal untuk mengeliminasi pembuangan – pembuangan dari tubuh
yaitu urea, dan creatin, dan peningkatan pada tingkat - tingkat hasil eliminasi di
darah terjadi (contohnya : kenaikan dari blood urea nitrogen atau BUN, dan serum
keratin.
e. Shock : tekanan darah yang rendah memacu jantung untuk memompa darah lebih
banyak, kondisi tersebut yang mengancam nyawa dimana tekanan darah yang
gigih menyebabkan organ - organ seperti ginjal, hati, jantung, dan otak untuk
gagal secara cepat.
B. KONSEP DASAR ASUHAN KEPERAWATAN
1. Pengkajian Keperawatan
a. Data Demografi
Meliputi identitas klien yaitu nama, umur, pekerjaan, dll
b. Keluhan Utama
Gejala utama penyakit biasanya didapatkan keluhan pusing dan mudah lelah.
c. Riwayat Kesehatan
1) Riwayat Kesehatan Sekarang
Menggambarkan keluhan utama klien, kaji tentang proses perjalanan penyakit
sampai timbulnya keluhan, faktor apa saja yang memperberat dan
meringankan keluhan
2) Riwayat Kesehatan Dahulu
Tanyakan masalah kesehatan yang lalu yang relavan baik yang berkaitan
langsung dengan penyakit sekarang maupun yang tidak ada kaitannya. Kaji
tentang penyakit yang pernah dialami klien sebelumnya yang ada
hubungannya dengan penyakit keturunan dan kebiasaan atau gaya hidup,
misalnya merokok, minum alkohol, dan lain-lain.
3) Riwayat Kesehatan Keluarga
Kaji apakah ada anggota keluarga yang menderit penyakit yang sma dengan
klien atau adanya penyakit keturunan, bila ada cantumkan genogram.
d. Keadaan umum
1) Kesadaraan
2) TTV : Pulse, blood pressure, respirasi, dan temperature.
Denyut nadi arteri radialis hitung frekwensi, irama kekuatan dan
kesetaraannya selama 1 menit
Ukur tekanan darah. Perbedaan sistolik tangan kanan dan kiri sebasar 10
mmHg dianggap masih normal
Tekanan darah postural : TD diukur pada posisi berbaring dan berdiri.
Penurunan TD > 10 mmHg pada posisi berdiri adalah Abnormal
Hipotensi postural
e. Pemeriksaan Fisik
1) System Kardiovaskuler
Kaji adanya detak/denyut nadi teraba lemah, denyut jantung ileguler, TD <
90/60 mmHg
2) System Pernapasan
Kaji adanya napas pendek, batuk berdahak, sering menguap
3) System Integumen
Kaji adanya demam, wajah pucat, keringat dingin,
4) Sistem Perkemihan
5) Sistem Persyarafan
Kaji adanya keluhan klien sering pusing, bahkan mengalami pingsan yang
berulang,
6) System endokrin
7) System panca indra
Penglihatan terkadang dirasakan kurang jelas (kunang-kunang) terutama
sehabis duduk lama lalu berjalan.
f. Diet
Kaji adanya kebiasaan makan terutama makanan mengandung rendah karbohidrat,
rendah dan garam.
g. Data Penunjang
Dicatat semua prosedur diagnostic dan lab yang dijalani klien. Hasil pemeriksaan
dituliskan termasuk nilai rujukan. Tulis hanya tiga kali pemeriksaan terakhir
secara berturut-turut.
2. Diagnosa Keperawatan
a. Risiko letidakefekifan perfusi jaringan otak yang dibuktikan oleh serebrovaskular
b. Intoleransi aktivitas b.d ketidakseimbangan antara suplai dan kebutuhan oksigen
c. Risiko cedera b.d gangguan orientasi afektif
3. Intervensi
Tujuan dan Kriteria Hasil Intervensi
No Diagnosa Keperawatan
(NOC) (NIC)
Resiko ketidakefektifan Setelah dilakukan tindakan Manajemen Edema Serebral
perfusi jaringan otak keperawatan selama ... x ... jam □ Monitor adanya kebingungan, perubahan pikiran, keluhan
diharapkan tidak terjadi peningkatan pusing,pingsan
Faktor resiko : tekanan intracranial dengan kriteria □ Monitor status neurolgi dengan ketat dan bandingkan
□ Agen farmaseutikal hasil : dengan nilai normal
□ Aterosklerosis aortic NOC : □ Monitor tanda-tanda vital
□ Baru terjadi infark Perfusi Jaringan : Serebral □ Monitor karakteristik cairan serebrospinal : warna,
miokardium □ Tekanan darah sistolik dan kejernihan, konsistensi
□ Diseksi arteri diastolic normal □ Monitor TIK dan CPP
□ Embolisme □ Sakit kepala menurun atau hilang □ Monitor status pernapasan : frekwensi, irama, kedalaman
□ Endokarditis infektif □ MAPdalam batas normal pernapasan
□ Fibrilasi atrium □ Tidak gelisah □ Kurangi stimulus dalam lingkungan pasien
□ Hiperkolesterolemia □ Tidak mengalami muntah □ Berikan sedasi, sesuai kebutuhan
□ Hipertensi □ Tidak mengalami penurunan □ Catat perubahan pasien dalam respon terhadap stimulus
□ Kardiomiopati kesadaran □ Hindari fleksi leher, atau fleksi ekstrem pada lutut/panggul
dilatasi □ Tidak demam □ Posisikan tinggi kepala tempat tidur 30 derajat atau lebih
□ Katup prostetik □ Tidak mengalami agitasi □ Berikan agen paralisis, sesuai kebutuhan
mekanis □ Batasi cairan
□ Koagulasi □ Monitor nilai-nilai laboratorium : osmolalitas serum dan
intravascular diseminata urin, natrium, kalium
□ Koagulopati □ Lakukan latihan ROM pasif
(misalnya, anemia sel □ Monitor intake dan output
sabit ) □ Pertahankan suhu normal
□ Masa protrombin □ Berikan deuretik osmotic atau active loop
abnormal
□ Masa tromboplastin Monitor Tekanan Intrakranial (TIK)
parsial abnormal □ Berikan informasi kepada pasien dan keluarga/orang
□ Miksoma atrium penting lainnya
□ Neoplasma otak □ Rekam pembacaan tekanan TIK
□ Penyalahgunaan zat □ Monitor kualitas dan karakteristik gelombang TIK
□ Sekmen ventrikel kiri □ Monitor tekanan aliran darah otak
akinetik □ Monitor status neurologis
□ Sindrom sicksinus □ Monitor suhu dan jumlah WBC
□ Strenosis carotid □ Jaga posisi ruang koleksi CSF, seperti yang diperintahkan
□ Strenosis mitral □ Periksa pasien terkait ada tidaknya gejala kaku kuduk
□ Terapi trombolitik □ Petahankan sterilisasi system pemantauan
□ Tumor otak ( misal, □ Monitor tekanan selang untuk gelembung udara, puing –
gangguan puing, atau darah beku
serebrovaskular, penyakit □ Monitor intake dan output
neurologis, -`trauma , □ Berikan antibiotic
tumor ) □ Letakkan kepala dan leher pasien dalam posisi netral ,
hindari fleksi pinggang yang berlebihan.
□ Sesuaikan kepala tempat tidur untuk mengoptimalkan
perfusi serebral
□ Monitor efek rangasangan lingkungan pada TIK
□ Monitor jumlah nilai, dan karakteristik pengeluaran cairan
serebrospinal (CSF)
□ Berikan agen farmakologis untuk mempertahankan TIK
dalam jangkuan tertentu
□ Berutahu dokter untuk peningkatan TIK yang tidak
bereaksi sesuai peraturan perawat
Tujuan dan Kriteria Hasil
NO Diagnosa Keperawtan Intervensi (NIC)
(NOC)
Intoleran aktivitas Setelah dilakukan tindakan Terapi Aktivitas
keperawatan selama ... x ... jam Pertimbangkan kemampuan klien dalam berpartisipasi melalui
Batasan Karakteristik : diharapkan intoleran aktivitas aktivitas spesifik
Dispnea setelah pasien berkurang atau hilang Berkolaborasi dengan ahli terapis fisik, okupasi dan terapis
beraktivitas dengan kriteria hasil : rekreasional dalam perencanaan dan pemantauan program aktivitas,
Keletihan NOC jika memang diperlukan
Ketidaknyamanan setelah Toleransi terhadap aktivitas Bantu klien untuk memilih aktivitas dan pencapaian tujuan melalui
beraktivitas Frekuensi nadi ketika aktivitas yang konsisten dengan kemampuan fisik, fisiologis dan
Perubahan beraktivitas tidak terganggu sosial
elektrokardiogram (EKG) Frekuensi pernapasan ketika Bantu klien untuk mengidentifikasi aktivitas yang diinginkan
Respons frekuensi beraktivitas tidk terganggu Bantu klien untuk mengidentifikasi aktivitas yang bermakna
jantung abnormal Tekanan darah diastolik Instrusikan pasien dan keluarga untuk melaksanakan aktivitas yang
terhadap aktivitas ketika beraktivitas tidak diinginkan maupun yang telah diresepkan
Respons tekanan darah terganggu Fasilitasi aktivitas pengganti pada saat klien memiliki keterbatasan
abnormal terhadap Tekanan diastolik ketika waktu, energi, maupun pergerakan dengan cara berkonsultasi kepada
aktivitas beraktivitas tidak terganggu terapis fisik, okupasi dan terapis rekreasi
Kekuatan tubuh bagian atas Bantu dengan aktivitas fisik teratur
Faktor Berhubungan : tidak terganggu Ciptakan lingkungan yang aman untuk dapat melakukan pergerakan
Gaya hidup kurang gerak Kekuatan tubuh bagian otot secara berkala sesuai dengan indikasi
Imobilitas bawah tidak terganggu Terapi Latihan : Mobilisasi Sendi
Ketidakseimbangan Tentukan batasan pergerakan sendi dan efeknya terhadap fungsi sendi
antara suplai dan Energi Psikomotor Kolaborasikan dengan ahli terapi fisik dalam mengembangkan dan
kebutuhan oksigeen Menunjukkan tingkat energi menerapkan sebuah program latihan
Tirah baring yang stabil Monitor lokasi dan kecenderungan adanya nyeri dan
Menunjukkan kemampuan ketidaknyamanan selam pergerakan/aktivitas
untuk menyelesaikan tugas Bantu pasien mendapatkan posisi tubuh yang optimal untuk
sehari-hari pergerakan sendi pasif maupun aktif
Dukung latihan ROM aktif, sesuai jadwal yang teratur dan terencana
Lakukan latihan ROM pasif atau ROM dengan bantuan, sesuai
indikasi
Instruksikan pasien/keluarga cara melakukan latihan ROM pasif,
ROM dengan bantuan atau ROM aktif
Dukung pasien untuk melihat gerakan tubuh sebelum memulai latihan
Dukung pasien untuk duduk di tempat tidur, di samping tempat tidur
atau kursi, sesuai toleransi
Tentukan perkembangan terhadap pencapaian tujuan
Sediakan dukungan positif dalam melakukan latihan sendi
C. DAFTAR PUSTAKA
Araska, hera. 2010. Hipotensi Ortostatik. Jakarta: EGC.
Arumi , Sekar. 2011. Menstabilkan DARAH TINGGI dan DARAH RENDAH.
Yogyakarta: EGC.
Aspiani, Reny Yuli. 2014. Buku Ajar Asuhan Keperawatan Gerontik Aplikasi NANDA
NIC NOC, Jilid 1. Jakarta: Penerbit TIM.
Ayu, Komang. 2010. Asuhan Keperawatan Keluarga . Yogyakarta : Sagung Seto.
Balai Informasi Teknologi LIPI. 2009. Artikel terkait Masalah angan & Kesehatan. UPT
Balai Informasi Teknologi.
Ginsberg, Lionel. 2005. Stroke. Lecture Notes neurology. Edisi 8. Jakarta: Erlangga.
Herdman, [Link]. 2011. DIAGNOSIS KEPERAWATAN. Jakarta: Buku Kedokteran
EGC.
Nurarif, Amin Huda & Hardhi Kusuma. 2015. Aplikasi Asuhan Keperawatan
Berdasarkan Diagnosa Medis NANDA NIC NOC. Jakarta: Medication Publisher.
Sherwood Lauralee. 2001. Fisiologi Manusia dari Sel ke Sistem (Human Physiology:
From cells to systems). Edisi II. Jakarta: EGC.
Sumiyati, Lilis. 2011. Askep Hipotensi. Jakarta: EGC.
Sunjoyo, Raden. 2014. Farmakologi Hipotensi. Jakarta: EGC.
Oxford. 2003. Oxford Learner’s Pocket Dictionary (New Edition). Oxford University
Press.
Wilkinson. M, Judith. 2012. Buku Saku Diagnosis Keperawatan Edisi 9. Jakarta:
EGC.
Gianyar, ……………. 2018
Nama Pembimbing / CT Nama Mahasiswa
……………………………….…… ……………………………………
NIP. NIM.