0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
72 tayangan9 halaman

Grafik Inflow Performance Relationship

Dokumen tersebut membahas tentang Inflow Performance Relationship (IPR) dan Produktivity Indek (PI). IPR adalah grafik yang menggambarkan hubungan antara laju produksi dan tekanan dasar sumur, sedangkan PI menyatakan kemampuan produksi sumur pada kondisi tertentu. Dokumen ini juga menjelaskan berbagai metode untuk membuat grafik IPR, baik untuk aliran satu fasa maupun multifasa, serta faktor-faktor yang mempengaruhi bentuk

Diunggah oleh

Agung R. Pangestu
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
72 tayangan9 halaman

Grafik Inflow Performance Relationship

Dokumen tersebut membahas tentang Inflow Performance Relationship (IPR) dan Produktivity Indek (PI). IPR adalah grafik yang menggambarkan hubungan antara laju produksi dan tekanan dasar sumur, sedangkan PI menyatakan kemampuan produksi sumur pada kondisi tertentu. Dokumen ini juga menjelaskan berbagai metode untuk membuat grafik IPR, baik untuk aliran satu fasa maupun multifasa, serta faktor-faktor yang mempengaruhi bentuk

Diunggah oleh

Agung R. Pangestu
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Inflow Performance Relationship (IPR)


Menurut Sukarno, Ariadji dan Regina (2001), grafik Inflow Performance Relationship (IPR)
adalah grafik yang menggambarkan kemampuan suatu sumur untuk berproduksi, yang dinyatakan
dalam bentuk hubungan antara laju produksi (q) terhadap tekanan dasar sumur (𝑝𝑤𝑓 ).
Dalam persiapan grafik IPR terlebih dahulu harus diketahui produktivity indek (PI) sumur
tersebut, yang merupakan gambaran secara kwalitatif mengenai kemampuan suatu sumur untuk
berproduksi.

2.1.1 Aliran Dalam Media Berpori


Fluida yang mengalir dari formasi produktif ke dasar sumur, di pengaruhi oleh
beberapa faktor, yaitu :
a. Sifat- sifat fisik batuan formasi
b. Geometri sumur dan daerah pengurusan
c. Sifat-sifat fisik fluida formasi
d. Perbedaan tekanan antara formasi produktif dengan dasar sumur pada saat terjadi aliran.

Tentang aliaran fluida dalam media berpori telah dikemukakan oleh Darcy dalam
persamaan:

q 𝑘 𝑑𝑝
𝑉 = A = −𝛼 𝑑𝐿
................................................................................................ ( 1)

Persamaan tersebut berlaku untuk aliran horizontal, fluida satu fasa dan incompresible.
Persamaan ini selanjutnya dikembangkan untuk kondisi aliran dari formasi ke lubang
sumur, yang merupakan aliran radial, dimana dalam satuan lapangan persamaan tersebut
berbentuk :

0,007082 𝑘ℎ (𝑃𝑒−𝑃𝑤𝑓 )
𝑞= 𝑟𝑒 .................................................................................... ( 2)
𝛼0 𝐵0 ln( )
𝑟𝑤

Persyaratan yang harus di penuhi untuk pengunaan persamaan (2) adalah :

a. Fluida berfasa satu


b. Aliran mantap
c. Formasi homogen
d. Fluida incompressible
Dengan demikian jika variabel-variabel dan persamaan (2) tersebut diketahui,
maka laju produksi sumur dapat ditentukan.
2.1.2 Produktivity Indek (PI)
Menurut (Brown, K.E, 1997), produktivity indek (PI) adalah indek yang digunakan
untuk menyatakan kemampuan produksi dari suatu sumur pada kondisi tertentu. Secara
definisi PI adalah perbandingan antara laju produksi yang dihasilkan oleh suatu sumur
pada suatu harga tekanan alir dasar sumur pada keadaan statik (Ps) dan tekanan dasar
sumur pada saat terjadi aliran (Pwf), atau dapat dinyatakan dalam persamaan:
𝑞
𝑃𝐼 = 𝑃 𝑏𝑏𝑙/𝑑/𝑝𝑠𝑖 ...................................................................... ( 3)
𝑆 −𝑃𝑤𝑓

Dengan melakukan substitusi persamaan ( 2 ) kedalam persamaan (3) maka PI juga


dapat ditentukan berdasarkan sifat fisik batuan dan fluida reservoar, serta geometri
sumur, yaitu :

0,007082 𝑘 ℎ 𝑏𝑏𝑙
𝑃𝐼 = 𝑟𝑒 /𝑝𝑠𝑖 ..................................................................... ( 4)
𝛼0 𝐵0 ln( ) 𝑑
𝑟𝑤
0

Dengan catatan bahwa persamaan (4) tersebut dapat digunakan asalkan memenuhi
persyartan dari persamaan (3).

Persyartaan pada persamaan (3) tidak selalu dapat di penuhi, misalnya yang sering
di jumpai dalam praktek adalah adanya gas dalam aliran. Hal iini terjadi jika tekanan
reservoar berada di bawah tekanan bubble point minyak. Pada kondisi ini PI tidak dapat
ditentukan dengan persamaan (3) dan (4) dan harga PI untuk setiap harga Pwf tertentu
tidak sama dan selalu berubah. Sehubungan dengan perubahan tersebut, maka untuk
kondisi diatas, maka persamaan PI, dapat diperluas menjadi :

𝑑𝑞
𝑃𝐼 = 𝑑𝑃 ............................................................................................ ( 5)
𝑤𝑓

Persyaratan fasa untuk persamaan ( 3 ), dapat juga tidak terpenuhi jika dalam aliran
fluida tersebut terdapat air formasi. Tetapi dalam praktel, keadaan ini masih dapat di
anggap berfasa satu, sehinga persamaan (3) dapat lebih diperjelas dengan memasukkan
laju produksi aiir kedalam persamaan tersebut :

𝑞 𝑞
𝑃𝐼 = 𝑃 0+
−𝑃
𝑤
........................................................................................ ( 6)
𝑆 𝑤𝑓

Sesuai dengan persamaaan Darcy (persamaan 2 ), maka persamaan dapat


dinyatakan dalam bentuk :
0,007082 ℎ 𝑘0 𝑘𝑤
𝑃𝐼 = [
ln(𝑟𝑒 .𝑟𝑤 ) 𝛼0 𝐵0
+𝛼 ] ............................................................ ( 7)
𝑤 𝐵𝑤

Bentuk yang sering digunakan untuk mengukur produktivitas sumur adalah


Spesific Produktivity Indek (SPI) dengan ketebalan, yaitu :

𝑃𝐼
𝑆𝑃𝐼 = ............................................................................................... ( 8)

SPI ini sering digunakan untuk membandingkan produktivitas sumur- sumur yang
berada dalam suatu lapangan.

2.1.3. Grafik Inflow Performance Relationship

Produktivity indek (PI) yang diperoleh dari hasil test maupun dari perkiraan,
merupakan gambaran secara kuanlitatif tentang kemampuan suatu sumur untuk
berproduksi. Dalam kaitanya dengan perencanaan suatu sumur, maupun untuk
berproduksi maka harga PI tersebut dapat dinyatakan secara grafis, yang disebut grafik
Inflow Performance Relationship (IPR). Berdasarkan defenisi PI pada persamaan (3),
untuk suatu saat tertentu dimana Ps kontan dan PI juga konstan, maka variabelnya
adalah laju produksi (q) dan tekanan aliran dasar sumur (Pwf).

Persamaan (3) dapat di rubah menjadi :

𝑞
𝑃𝑤𝑓 = 𝑃𝑠− 𝑃𝐼
.............................................................................................. ( 9)

Berdasarkan asumsi diatas, maka bentuk persamaan (3) merupakan garis lurus,
seperti ditunjukan pada gambar 2.1.

Gambar 2.1 geafik IPR ideal (linear) ( Ahmad, Tarek, 2006 )

Titik A adalah merupakan harga pwf pada saat Q = 0 dan sesuai dengan
persamaan(3), pwf= ps. Sedangkan titik B adalah harga q pada saat pwf = 0 dan sesuai
dengan persamaan (3) : q =PI x ps, dan laju produksi ini merupakan batas laju produksi
maksimum, yang dapat disebut sebagai potensial sumur, dan merupakan batas laju
produksi maksimum yang diperbolehkan dari suatu sumur. Jika AOB adalah 𝜃, maka :

𝑜𝐵 𝑃𝑠 × 𝑃𝐼
tan 𝜃 = = = 𝑃𝐼 ........................................................................... (10 )
𝑜𝐴 𝑃𝑠

Dengan demikian harga PI menyatakan kemiringan dari garfik IPR bentuk garis
IPR yang linear tersebut dapat juga diturunkan dari persamaan aliran radial dan Darcy,
yaitu persamaan (2) dan (4) juga harus dipenuhi jika garis IPR merupakan garis linier.

Seperti telah dikemukakan sebelumnya, bahwa persyartan yang sulit untk dipenuhi
adalah persyaratan fluida yang mengalir satu fasa. Muskat menyatakan jika fluida yang
mengalir terdiri dari dua fasa (minyak dan gas ), maka bentuk grafik IPR akan
merupakan lengkungan, dan harga PI tidak lagi merupakan harga yang konstan, karena
kemiringan garis IPR akan berubah secara kontiyu, untuk setiap harga Pwf (Gambar
2.2). Dalam hal ini persamaan (3) tidak berlaku lagi, dan secara umum defenisi yang
tepat adalah persamaan (5).

Gambar 2.2 Grafik IPR Aktual (Tidak linear) (Ahmad, Tarek, 2006)

Pembuatan grafik IPR untuk aliran dua fasa pada mulanya dikembangkan oleh
weller, dimana weller menurunkan persamaan PI untuk solution gas drive reservoir ,
sebagai berikut :

𝑃𝑒 𝑘𝑟𝑜
𝑘ℎ (𝑟𝑒 2 −𝑟𝑤 2 ) ∫𝑃𝑤
𝛼𝑜𝐵𝑜
𝑃𝐼 = 𝑟 1 ...................................................... (11 )
141.294 𝑟𝑒 2 𝑙𝑛 𝑒 − (𝑟𝑒 2 −𝑟𝑤 2 )𝑃𝑒−𝑃𝑤
𝑟𝑤 2

Dalam menurunkan persamaan (2-11) tersebut, diterapkan beberapa asumsi,yaitu :


a. Bentuk reservoar adalah lingkaran dan terbatas (bounded reservoir) dan sumur berada
tepat ditengah lingkaran.
b. Media berpori uniform dan isotropis , dan harga sw konstan di setiap titik.
c. Pengaruh gradien tekanan diabaikan.
d. Kompresibilitas air dan batuan diabaikan.
e. Komposisi minyak dan gas konstan.
f. Tekanan pada fasa minyak dan gas sama.
g. Kondisi semi-steady state, dimana laju desaturasi minyak sama disetiap titik pada saat
tertentu.

2.1.4. Pembuatan Grafik IPR


Sesuai dengan defenisi, PI maka untuk membuat grafik IPR diperlukan data :
a. Laju Produksi
b. Tekanan alir dasar sumur
c. Tekanan statsi

Ketiga data tersebut diperoleh dari test produksi dan test tekanan yang dilakukan pada
sumur yang bersangkutan. Berdasarkan data ketiga tersebut dapat dibuat IPR sesuai dengan
kondisi aliran fluidanya, baik satu fasa maupun dua fasa (multifasa).

Selanjutnya dalam sub bab ini hanya akan dijelaskan tentang pembuatan grafik IPR
untuk aliran multifasa.

[Link]. Metode Pudjo Sukarno

Metode pembuatan grafik IPR dengan memperhitungkan kadar air ini


dikembangkan oleh Pudjo Sukarno dengan anggapan bahwa :

a. Faktor skin = 0
b. Gas, minyak dan air berada dalam satu lapisan dan mengalir bersama- sama
secara radial.

Untuk menyatakan kadar air dalam laju produksi total digunakan parameter water cut,
yaitu perbandingan laju produksi air dengan laju produksi cairan total. Parameter ini
merupakan parameter tambahan dalam persamaan grafik IPR yang dikembnagkan. Selain
itu, hasil simulasi menunjukan bahwa pada suatu saat tertentu, harga water cut berubah sesuai
dengan perubahan tekanan alir dasra sumur. Dengan demikian perubahan water cut sebagai
fungsi tekanan alir dasar sumur, perlu pula ditentukan.

Dalam pengembangan kinerja aliran tiga fasa dari formasi ke lubang sumur, telah
digunakan tujuh kelompok data hipotesis reservoir, yang mana untuk masing-masing
kelompok dilakukan perhitungan grafik IPR untuk lima harga water cut yang berbeda yaitu
: 20 %, 40%, 60%, 80% dan 90%, dari hasil perhitungan diperoleh 385 titik data, dan titik
data ini dikelompokan sesuai dengan harga water cut dibuat grafik IPR tak berdimensi, yaitu
plot antara Qo / qt max terhadap pwf / pr ( qt max adalah laju aliran cairan total maximum
dan kemudian dilakukan analisa regresi.

Berdasarkan analisa regresi yang diberikan oleh Pudjo Sukarno, maka persamaan yang
digunakan untuk pembuatan grafik IPR aliran tiga fasa adalah :

𝑞𝑜 208,365 𝑝𝑠𝑖𝑎 208,365 𝑝𝑠𝑖𝑎


= 𝐴0 + 𝐴1 ( )+ 𝐴2 ( ) .............................. (3-17)
𝑞𝑜𝑚𝑎𝑥 698,712 𝑝𝑠𝑖𝑎 698,712 𝑝𝑠𝑖𝑎

𝐴𝑛 (𝑛 = 0, 1, 𝑑𝑎𝑛 2) adalah konstanta persamaan yang harganya berbeda untuk water cut
yang berbeda. Hubungan antara konstanta tersebut dengan water cut ditentukan pula secara
analisa regresi dan diperoleh.

Harga 𝐶𝑛 (𝑛 = 0, 1 𝑑𝑎𝑛 2 ) untuk masing-masing harga 𝐴𝑛 dapat dilihat pada Tabel 3-1.

Tabel 3-1

Konstanta 𝐶𝑛 untuk setiap harga 𝐴𝑛

𝐴𝑛 𝐶0 𝐶! 𝐶2
𝐴0 0,970321 -0,115661 x 10−1 0,179050 x 10−4
𝐴1 -0,414360 0,392799 x 10−2 0,237075 x 10−5
𝐴2 -0,564870 0,762080 x 10−2 -0,202079 x 10−4

Besarnya water cut dalam memproduksikan minyak akan berubah sesuai dengan
perubahan tekanan alir dasar sumur pada suatu harga tekanan reservoir, maka perlu dibuat suatu
hubungan antara tekanan alir dasar sumur dengan water cut. Hubungan ini dinyatakan sebagai
Pwf/Ps terhadap water cut WC/(WC@Pwf≈ 𝑃𝑠), harga ini ditentukan dengan simulator
persamaan yang diperoleh dengan analisa regresi adalah :

𝑊𝐶 𝑝𝑤𝑓
(𝑊𝐶@ 𝑃𝑠−𝑃𝑤𝑓)
= (𝑃1 𝐸𝑋𝑃 (𝑃2 × 𝑝𝑠
)) ......................................................... (3-19)
Harga P1 dan P2 pada persamaan (3-6) tergantung dari harga water cutnya, dan dari hasil analisa
regresi adalah :

P1 = 1,606207 – 0,130447 ln (WC) .................................................................. (3-19)

P2 = -0.517792 + 0,110604 ln (WC) ................................................................ (3-21)

Potensi sumur yang diwujudkan dalam bentuk kurva IPR ini tergantung pada kondisi
reservoir dan jenis fluida yang diproduksikan pada sumur, perlu ditegaskan lagi bahwa
ketergantungan pada kondisi reservoir dalam hal ini adalah apakah tekanan reservoir berada diats
tekanan bubble point atau tidak. Sedangkan jenis fluida yang diproduksikan bisa minyak dengan
air, minyak dengan gas atau ketiga-tiganya.

Untuk aliran tiga fasa, yaitu gas, minyak dan air maka dalam pengembangan kelakuan
aliran tiga fasa dari formasi ke lubang sumur dapat mengunakan analisis regresi dari metode
metode Pudjo sukarno seperti yang telah dijelaskan sebelumnya. Prosedur pembuatan grafik IPR
untuk aliran tiga fasa dari metode pudjo sukarno adalah sebagi berikut :

a. Mempersipakan data sumur (pwf), Psi


- Tekanan alir dasar sumur (pwf), psi
- Tekanan statik (Ps), psi
- Laju produksi total (qf) bbl/hari
- Laju produksi minyak (qo) bbl/hari
- Water cut (WC), berdasarkan data Uji produuksi (%)
- Tekanan bubble point (Pb), psi
b. Menghitung WC @ Pwf = ps denga persamaan (3-19), dimana terlebih dahulu
menghitung harrga P1 dan P2 dengan persamaan (3-20) dan (3-21).
c. Menghitung konstanta 𝐴0, 𝐴1 𝑑𝑎𝑛 𝐴2 dengan persamaan (3-18) dimana Cn (n= 0, 1, dan
2) untuk masing- masing harga An ditunjukan dalam Tabel 3.1
d. Menghitung qt max dengan persamaan (3-17)
e. Menghitung hrag qo untuk berbagai harga pwf dengan mengunakan persamaan (3-17) :
𝑃𝑤𝑓
WC = (𝑊𝐶 ∗ @𝑃𝑤𝑓 ≈ 𝑃𝑠) (𝑃1 𝐸𝑋𝑃(𝑃2 × 𝑃𝑠
)................................ (3-22)

f. Menghitung WC @ Pwf dengan persamaan


g. Menghitung qw untuk berbagai harga Pwf, dengan menentuakan WC terlebih dahulu
untuk berbagai harga Pwf di hitung dengan persamaan :
𝑊𝐶 ∗
𝑞𝑤 = 𝑞𝑜 × (100−𝑊𝐶 ∗ ) ........................................................................ (3-23)

h. Membuat tabulasi 𝑞𝑜, 𝑞𝑤 𝑑𝑎𝑛 𝑞𝑡 untuk berbagai harga Pwf.


i. Membuat grafik IPR
[Link] Metoda Klins

M.A. klins dan Mw. Majcher melakukan pengujian terhadap beberapa


factor kritis yang mempengaruhi perhitungan kurva IPR seperti sifat fisik batuan
dan fluida reservoir, tekanan saturasi dan penurunan tahanan reservoir serta zona
damage sekitar sumur, untuk mendapatkan persamaan IPR yang lebih teliti,
dengan mengunakan persamaan gradien tekanan dari weller dan persamaan
material balance dari Muskat.

Karena Weller tidak memasukan harga skin kedalam persamaanya, untuk


penelitian Klins mengunakan persamaan skin effect dari Hawkin untuk suatu
lebar skin yang terbatas dan mencobanya dengan delapan harga skin 6,4,2,0,-1,-
2,-3 dan -4.

Pada tahun 1993 Klin and Majcher mengajukan persamaan inflow


performance relationship yang serupa dengan vogel dan dapat digunakan untuk
memperkirakan data IPR yang akan datang. Untuk memperbaiki persamaan
vogel, klin dan Clark menambahkan exponent baru pada persamaan vogel,
berikut adalah persamann yang digunakan oleh Klins dan Clark :

𝑄0 𝑃𝑤𝑓 𝑃𝑤𝑓 𝑑
= [1.0 − 0.295( ) − 0.705( ) ] ................................... (1)
𝑄0 𝑚𝑎𝑘𝑠 𝑃𝑟 𝑃𝑟

Dimana, 𝑄0𝑚𝑎𝑘𝑠 =laju produksi maksimum pada 𝑠 = 0

𝑃𝑟
𝑑 = (0.281 + 0.719 ) (1.235 + 0.001 𝑃𝑏 ) ..................................... (2)
𝑃𝑏

𝑗𝑖𝑘𝑎 𝑠𝑘𝑖𝑛 ≠ 0
𝑟
𝑄0 ln( 𝑒⁄𝑟𝑤 )−0.467 𝑃𝑤𝑓 𝑃𝑤𝑓 𝑑
=⌊ 𝑟 ⌋ [1.0 − 0.295( ) − 0.705( ) ]........ (3)
𝑄0 𝑚𝑎𝑘𝑠 ln( 𝑒⁄𝑟𝑤 −0,467+𝑠 𝑃𝑟 𝑃𝑟

Prosedur pembutan kurva IPR

1. Hitung harga d dengan persamaan 2


2. Hitung 𝑄0𝑚𝑎𝑘𝑠 berdasarkan data hasil uji tekanan dan produksi dengan
mengunakan persamaan 1
3. Hitung beberapa harga 𝑄0 pada berbagai harga 𝑃𝑊𝑓 = 0 dari 𝑃𝑊𝑓 = 𝑃𝑟

dengan persamaan 1, kemudian plot hubungan 𝑄0 terhadap 𝑃𝑊𝑓 tersebut


pada kertas kartesian.

Anda mungkin juga menyukai