0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
46 tayangan13 halaman

Profil dan Layanan RSUD Margono Soekarjo

Dokumen tersebut membahas tentang profil Rumah Sakit Umum Daerah Prof. Dr. Margono Soekarjo Purwokerto. Rumah sakit ini berlokasi di Purwokerto dan memberikan pelayanan kesehatan kepada masyarakat di Jawa Tengah bagian barat selatan. Dokumen ini menjelaskan sejarah, visi, misi, layanan utama, dan protokol pengelolaan limbah di instalasi radiologi rumah sakit tersebut.

Diunggah oleh

AtoIlham
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOC, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
46 tayangan13 halaman

Profil dan Layanan RSUD Margono Soekarjo

Dokumen tersebut membahas tentang profil Rumah Sakit Umum Daerah Prof. Dr. Margono Soekarjo Purwokerto. Rumah sakit ini berlokasi di Purwokerto dan memberikan pelayanan kesehatan kepada masyarakat di Jawa Tengah bagian barat selatan. Dokumen ini menjelaskan sejarah, visi, misi, layanan utama, dan protokol pengelolaan limbah di instalasi radiologi rumah sakit tersebut.

Diunggah oleh

AtoIlham
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOC, PDF, TXT atau baca online di Scribd

BAB III

PEMBAHASAN

3.1. Profil Rumah Sakit Umum Daerah Prof. Dr. Margono Soekarjo Purwokerto

3.1.1. Sejarah Rumah Sakit Umum Daerah Prof. Dr. Margono Soekarjo Purwokerto

Rumah Sakit Daerah Prof Dr Margono Soekarjo Purwokerto RSUD kelas

B Pendidikan yang merupakan milik Pemerintah Provinsi Jawa Tengah yang

berada di kota Purwokerto dengan jangkauan pelayanan untuk masyarakat di

wilayah Jawa Tengah bagian barat-selatan. Mengacu Peraturan Gubernur Nomor

059/76 Tahun 2008 maka mulai 1 Januari 2009 menerapkan Pola Pengelolaan

Keuangan Badan Layanan Umum Daerah (PPK – BLUD).

Badan Layanan Umum Daerah adalah Satuan Kerja Perangkat Daerah di

lingkungan pemerintah daerah yang dibentuk untuk memberikan pelayanan

kepada masyarakat berupa penyediaan barang dan/ atau jasa yang dijual tanpa

mengutamakan mencari keuntungan, dan dalam melakukan kegiatannya

didasarkan pada prinsip efisiensi dan produktivitasTujuan utamanya adalah

meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan kepada masyarakat untuk

mewujudkan penyelenggaraan tugas-tugas Pemerintah Daerah Provinsi Jawa

Tengah dalam mewujudkan kesejahteraan umum melalui peningkatan derajat

kesehatan masyarakat.
Mengacu pada sejarahnya RSUD Prof. Dr. Margono Soekarjo kotanya

mana? pada awalnya merupakan Rumah Sakit Umum tipe C milik Pemerintah

Daerah Tingkat I Jawa Tengah. RSU Purwokerto merupakan peninggalan

Pemerintah Belanda yang didirikan pada tahun 1917 dan dikenal sebagai RS

Zending yang digunakan sebagai tempat pelayanan kesehatan bagi orang Belanda

dan Misionaris yang berada di Purwokerto. Pasca kemerdekaan RS Zending

akhirnya menjadi miliki pemerintah Indonesia dan tetap digunakan sebagai

tempat pelayanan kesehatan bagi masyarakat Banyumas yang kemudian disebut

RSU Purwokerto.

Pada tahun 1987, karena perkembangan pelayanan kesehatan yang

meningkat dan tuntutan pelayanan kesehatan masyarakat maka RSU Purwokerto

meningkat menjadi Klas B non Pendidikan melalui SK Menkes RI nomor

41/Menkes/SK/1/1987 tanggal 21 Januari 1987 dan SK Gubernur Kepala Daerah

Tingkat Propinsi Jawa Tengah nomor 061.1/091/1988 tanggal 05 Mei 1988.

Kemudian pada tahun 1990 atas prakarsa Gubernur Jawa Tengah RSU

Purwokerto dikembangkan dan direlokasi menjadi RS yang lebih representatif

dan diberi nama RSUD Prof. Dr. Margono Soekarjo di Jl. Gumbreg Purwokerto

melalui SK Gubernur Kepala Daerah Tingkat I Propinsi Jawa Tengah nomor

445/32/1990 tanggal 18 April 1990.

Pemberian nama tersebut merupakan penghargaan terhadap seorang

Dokter Ahli Bedah Pertama di Indonesia yang kebetulan berasal dari Purwokerto.

Kemudian pada perkembangan selanjutnya yaitu tahun 2000 RSUD Prof. Dr.
Margono Soekarjo ditetapkan menjadi RS Klas B Pendidikan oleh Menteri

Kesehatan & Kesejahteraan Sosial Republik Indonesia melalui SK nomor

239/Menkes-Kesos/SK/III/2001. Mengikuti penetapan Klas B Pendidikan maka

diterbitkan Peraturan Daerah nomor 06 tahun 2006 dan Peraturan Gubernur

nomor 34 tahun 2006 tentang penjabaran tugas pokok dan fungsi serta tata kerja

RSUD [Link]. Margono Soekarjo.

Pada Tahun 2007 Pemerintah Pusat telah menerbitkan PP 41 Tahun 2007

tentang Organisasi Perangkat Daerah sebagai pedoman penetapan SOTK

kepanjangan apa? Perangkat Daerah maka telah ditetapkan pula Peraturan Daerah

No 8 Tahun 2008 tentang SOTK RSUD & RSJ Provinsi Jawa Tengah dengan

susunan Direktur dibantu oleh tiga Wakil Direktur dan 9 Kepala Bagian/Bidang

serta 21 subbagian/seksi. Peraturan Daerah tersebut telah di jabarkan pula dalam

Peraturan Gubernur tahun 94 tahun 2008.

RSUD [Link] Soekarjo (RSMS) sebagai BLUD beroperasi

sebagai perangkat kerja pemerintah daerah untuk tujuan pemberian layanan

umum secara efektif & efisien sejalan dengan praktek bisnis yang sehat, yang

pengelolaanya dilakukan berdasarkan kewenangan yang didelegasikan oleh

kepala daerah. BLUD merupakan bagian dari perangkat pemerintah daerah

dengan status hukum tidak terpisah dari pemerintah daerah. Dalam pencapaian

tujuan tersebut maka RSMS meliliki Visi Prima Dalam Pelayanan Sub

Spesialistik dan Pendidikan Profesi dengan Misi sebagai berikut yaitu:


menyelenggarakan pelayanan kesehatan rujukan sub spesialistik,

menyelenggarakan pendidikan, penelitian dan pengabdian masyarakat di bidang

kesehatan, mengembangkan kualitas sumber daya manusia melalui peningkatan

profesionalisme dan kesejahteraan, mengembangkan sarana dan prasarana yang

unggul, tepat dan aman, mengembangkan sistem manajemen yang handal,

transparan, akuntabel, efektif dan efisien.

Sesuai Rencana Strategi tahun 2013-2018 RSMS mengembangkan

pelayanan unggulan yang terdiri dari Pelayanan Jantung, Pelayanan Onkologi

Terpadu, Pelayanan Urologi, Pelayanan Maternal dan Perinatal serta Private

Wing. Pelayanan unggulan dikembangkan agar dalam pencapaian Visi dan Misi

dapat dilakukan secara bertahap, fokus dan terukur. Sumber Daya Manusia RSMS

sejumlah 1706 yang terdiri dairi tenaga PNS 790 pegawai dan Non PNS (Tenaga

Kontrak BLUD) sejumlah 916 pegawai. Tenaga Dokter 90 dokter, Tenaga

Kesehatan Lain dan Tenaga Administrasi 1619 orang. Kapasitas Tempat Tidur

RSMS adalah 731 dengan komposisi Klas III (325), Klas II (96), Klas I (127),

Utama (24),VIP (89), HCU (18), ICU (16), ICCU (8) NICU (28).

3.1.2. Visi, Misi, Motto Rumah Sakit Umum Daerah Prof. Dr. Margono Soekarjo

Purwokerto

Rumah Sakit Umum Daerah Prof. Dr. Margono Soekarjo Purwokerto memiliki

visi, misi, motto sebagai berikut :

a. Visi
“Prima Dalam Pelayanan Sub Spesialistik & Pendidikan Profesi”

b. Misi

1) Menyelenggarakan pelayanan kesehatan rujukan sub spesialistik;


2) Menyelenggarakan pendiidkan, penelitian dan pengabdian masyarakat di

bidang kesehatan;
3) Mengembangkan kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) melalui

peningkatan profesionalisme dan kesejahteraan;


4) Mengembangkan sarana dan prasarana yang unggul,tepat dan aman;
5) Mengembangkan system manajemen yang handal, transparan, akuntabel,

efektif & efisien.

c. Motto

“ Melayani Dengan Sepenuh Hati “ dicek apa sudah benar?

3.1.3. Layanan di Rumah Sakit Umum Daerah Prof. Dr. Margono Soekarjo

Purwokerto

1. Layanan Unggulan di Rumah Sakit Umum Daerah Prof. Dr. Margono

Soekarjo Purwokerto adalah sebagai berikut:

a. Pelayanan Jantung

b. Pelayanan Urologi

c. Pelayanan Onkologi Terpadu

d. Pelayanan Maternal Perinatal

e. Pelayanan Private Wing

2. 6 Sasaran Keselamatan Pasien di Rumah Sakit Umum Daerah Prof. Dr.

Margono Soekarjo Purwokerto adalah sebagai berikut:


a. Ketepatan Identifikasi Pasien
b. Peningkatan Komunikasi yang Efektif
c. Peningkatan Keamanan Obat yang Perlu Diwaspadai
d. Kepastian Tepat Lokasi, Tepat Prosedur, Tepat Pasien Operasi
e. Pengurangan Infeksi Terkait Pelayanan Kesehatan
f. Mengurangi Resiko Pasien Jatuh

3.1.4. Struktur organisasi

3.2. Profil Instalasi Radiologi Diagnostik Rumah Sakit Umum Daerah Prof. Dr.

Margono Soekarjo Purwokerto

Instalasi radiologi diagnostik Rumah Sakit Umum Daerah Prof. Dr. Margono

Soekarjo Purwokerto merupakan unit kerja pelayanan penunjang medis. Seluruh

kegiatan pelayanan penunjang medis pada instalasi radiologi diagnostik dilaksanakan

sesuai dengan permintaan dokter pengirim dan ditandatangani pasien atau keluarga

pasien yang bersangkutan apabila pemeriksaan menggunakan media kontras.

Instalasi radiologi diagnostik merupakan suatu bagian atau tempat yang terdiri

dari ruangan untuk melakukan aktivitas pemeriksaan dengan menggunakan sinar–x.


Apabila di ruang pemeriksaan diadakan pemeriksaan maka daerah tersebut mengandung

efek radiasi yang ditimbulkan oleh sinar–x.

3.3. PROTAP PENGELOAAN LIMBAH DI INSTALASI RADIOLOGI RSUD Prof. Dr.

MARGONO SOEKARJOPURWOKERTO .

3.3.1. Pengelolaan Limbah Padat

Pengelolaan Limbah Padat Infeksius adalah penanganan limbah padat infeksius mulai

dari pemilahan, penampungan, pengangkutan dan pemusnahan dengan incinerator.

Prosedur pengelolaan Limbah Padat, yaitu :

1. Limbah padat RSMS dipisahkan menjadi Limbah padat medis dan limbah domestik.

2. Dalam hal pengeleolaan, limbah domestik bekerja sama dengan Badan Lingkungan

Hidup Kabupaten Banyumas untuk pembuangan sampah umum ke TPA.

3. Untuk limbah domestik dilingkungan RSMS tidak boleh dibakar.

4. Limbah medis ditempatkan dalam suatu wadah dalam kantong plastik warna kuning

dengan diberi symbol tulisan “INFEKSIUS” selanjutnya dibakar dengan alat

incinerator.

5. Limbah medis benda tajam alat suntik ditempatkan dalam wadah jiligen dengan

diberi simbol tulisan tempat penampungan alat suntik bekas dan dimasukan kedalam

kantong plastik warna kuning selanjutnya dibakar dengan alat incinerator.


1.3.2. Pengangkutan Limbah Padat

Proses pengangkutan limbah padat dibawa dengan gerobag yaitu berupa sampah

yang berasal dari hasil kegiatan rumah tangga dan perawatan pasien. Pengangkutan

sampah bertujuan untuk mencegah terjadinya infeksi nosocomial. Prosedur pengangkutan

Limbah Padat, yaitu:

a. Siapkan alat angkut gerobag

b. Siapkan alat pelindung diri (APD) yang terdiri dari: sarung tangan, masker, tutup

kepala dan sepatu boot.

c. Gerobag dibawa ketempat penghasil limbah padat mulai IRJA, IGD, IRNA, LAB,

HD, RADIOLOGI, ICU/ICCU, IBS, VK, ICPH/CSSD, Instalasi GIZI, IPS, IPJ, IPL

dan Gedung Administrasi sampai ketempat penampungan ( sampah umum ke TPS,

sampah medis ke Incinerator untuk kemudian dibakar ).

d. Limbah padat diambil beserta kantong plastik dan kemudian dimasukan kedalam

gerobak.

e. Setiap selesai pengambilan limbah padat, wadah dilapisis kembali dengan kantong

baru.

f. Dengan ketentuan :

1) Kantong Plastik wama hitam untuk sampah umum.

2) Kantong plastik wamn kuning untuk sampah medis.

3) Kantong plastik warna ungu untuk sampah sitostatika

g. Tempatkan kembali wadah sampah ketempat semula dan ditutup.


1.3.3. Pengelolaan Limbah Cair

Limbah cair adalah bahan buangan cairan dan tinja yang berasal dari kamar

mandi, WC, westafel, pencucian linen, pencucian alat bedah, alat makan, tempat

memandikan jenazah dan dapur rumah sakit. Pengelolaan limbah cair adalah aktifitas

yang dilakukan untuk memastikan proses pengolahan air limbah sesuai standar, dan air

limbah yang dibuang ke saluran irigasi memenuhi syarat Baku Mutu Limbah Cair ( Kep.

Men. LH No.58/ Men LH/12/ 1995 ) dan Perda Prop Jateng No. 10 tahun 2004. Prosedur

pengelolaan limbah cair, yaitu:

a. Limbah cair yang berasal dari air hujan dialirkan ke saluran air hujan,

b. Limbah cair yang berasal dari : roentgen, laboratorium, IRJ, diolah secara aerobik

dengan septik tank.

1.3.4. Penanganan Jarum Suntik

Jarum suntik adalah alat yang digunakan untuk memasukan obat kedalam tubuh pasien

dengan cara suntikan. Prosedur penanganan jarum suntik yaitu dengan :

a. Pisahkan jarum suntik dengan sampah medis yang lain. b. Masukan

dalam jerigen tempat jarum suntik.

b. Masukan dalam incinerator untuk dimusnahkan.


1.4. PELAKSANAAN PEMBUANGAN LIMBAH DI INSTALASI RADIOLOGI RSUD Prof.

Dr. MARGONO SOEKARJO PURWOKERTO

Proses pengelolaan limbah di Instalasi Radiologi memiliki perlakuan tersendiri untuk jenis limbah

yang berbeda. Ada dua jenis limbah di Instalasi Radiologi, yaitu :

1. Limbah Padat

Limbah Medis Padat Limbah medis padat di radiologi contohnya : Glass Spuit, KIem, spuit,

Needle, Wing Needle, Hand Scoon, Kapas, Botol Media Kontras, Plester, Masker, Botol

Infus, Ampul Media Kontras, Wadah NaCl, CT Multipack, kateter, Gelas, Sendok, Mangkuk,

dll.

Pembuangan limbah medis padat ini, dibuang kedalam suatu ember/tong sampah yang

dialasi plastik warna kuning. Di ruang pemeriksaan tersedia 3 tempat sampah, yaitu:

 Satu tempat sampah dengan dilapisi plastik warna hitam untuk sampah non

medis,

 Satu tempat sampah dengan dilapisi plastik warna kuning untuk sampah medis

selain jarum suntik (needle), dan

 Satu ember dengan penutup dan terdapat lubang kecil ditengahnya untuk

pembuangan jarum suntik.

Penempatan tempat sampah untuk limbah padat medis yaitu di ruang pemeriksaan 1 & 3

(untuk pemeriksaan interventional), ruang pemeriksaan 2, ruang pemeriksaan 4 (untuk

pemeriksaan USG), ruang processing film dan persiapan pemeriksaan interventional), dan

ruang pemeriksaan 6 (untuk pemeriksaan CT Scan).


3.a 3.b 3.c

3.d 3.e 3.f

Gambar 3. Tempat sampah medis di Instalasi Radiologi, (a) Ruang Pemeriksaan 1, (b) Ruang

Pemeriksaan 2, (c) Ruang Prosesing dan persiapan tindakan intervensional, (d) Ruang Pemeriksaan 3, (e)

Ruang Pemeriksaan 4 USG, (f) Ruang Pemeriksaan 6 CT SCAN

Jenis limbah padat medis di radiologi terdapat limbah yang perlu untuk dimanfaatkan

kembali misalnya HSG set, Klem, Glass Spuit dikarenakan ketidakefektifan dan tidak eiisien

jika digunakan untuk satu kali pemeriksaan, untuk jenis limbah ini sebelum digunakan

kembali harus melalui sterilisasi baik sterilisasi dengan panas maupun dengan bahan kimia
Berdasarkan pengamatan penulis, untuk penggunaan kembali set pemeriksaan

intervensional telah sesuai dengan Peraturan Mentri Kesehatan Nomor 1204 tahun 2004

yaitu dengan dilakukan sterilisasi. Namun untuk Kleni, Spuit ukuran 50 cc, gelas, sendok,

bengkok yang digunakan untuk tidak sekali pakai, proses pembersihannya masih dengan

pencucian air mengalir saja, tanpa melalui sterilisasi terlebih dahulu.

Padahal, menurut Peraturan Mentri Kesehatan Nomor 1204 tahun 2004 menyebutkan

untuk bahan atau alat yang meliputi pisau bedah (scalpel), jarum hipodermik, spuit

(syringes), botol gelas, dan kontainer dapat dimanfaatkan kembali setelah melalui sterilisasi

sesuai Tabel l terlebih dahulu.

Pada jenis limbah medis yang habis sekali pakai misalnya spuit, jarum suntik, hand

schoon, ampul, plabottle, kapas, dll di Instalasi Radiologi RSUD Prof. Dr. Margono Soekarjo

dibuang kewadah limbah sampah medis plastik kuning, namun masih ada sampah non medis

padat yang masuk kedalam tempat sampah ini. Hal ini tidak dapat menimbulkan masalah

yang besar, mengingat pengolahan untuk limbah medis diperlakukan khusus.

Petugas cleaning service juga menuturkan ketika membersihkan ruangan, terkadang

melihat jarum suntik dilantai. Jarum suntik sangatlah berbahaya mengingat jenis limbah ini

merupakan limbah yang tajam dan membawa darah pasien secara langsung. Penulis juga

mengamati adanya pembuangan jarum suntik yang langsung dibuang dengan spuit kedalam

tempat pembuangan jarum suntik tanpa dilepas terlebih dahulu. Hal ini tidak sesuai dengan

Peraturan Mentri Kesehatan Nomor 1204 tahun 2004, yang menerangkan bahwa “Jarum dan

syringes harus dipisahkan sehingga tidak dapat digunakan kembali”.

2. Limbah Padat Non-Medis


Limbah padat non medis contohnya limbah padat yang dihasilkan dari kegiatan di rumah

sakit di luar medis yang berasal dari dapur, perkantoran, taman, dan halaman. Di setiap

ruangan radiologi RSUD Prof. Dr. Margono Soekarjo terdapat tempat limbah padat non

medis.

Namun dalam pelaksanaanya berdasarkan observasi penulis, penulis menemukan adanya

limbah padat medis yang terbuang ke dalam tempat limbah padat non-medis, begitu juga

yang diakui oleh petugas cleaning service Instalasi radiologi menuturkan bahwa pada saat

membersihkan tempat sampah, petugas sering menemukan limbah padat medis di dalam

tempat limbah padat non-medis, hal ini sangat membahayakan petugas cleaning service itu

sendiri dan bahkan lingkungan, karena pada akhirnya limbah non-medis ini akan dibuang ke

tempat penampungan sampah umum yang diperlakukan seperti sampah biasa.

3. Limbah Cair

Limbah cair di Instalasi Radiologi contohnya adalah Media Kontras, seperti Iopamiro,

sisa Barium Sulfat (BaSo4), NaCl, penyedap rasa, dll. Pembuangan limbah ini dibuang ke

saluran irigasi, dibuang dengan air yang mengalir, hal ini sudah sesuai dengan PROTAP

prosedur Pembuangan limbah cair di Instalasi Radiologi.

Anda mungkin juga menyukai