0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
246 tayangan16 halaman

Dasar Teori Pencahayaan dan Fluks Cahaya

Dokumen tersebut membahas tentang dasar-dasar teori pencahayaan, mulai dari sifat gelombang cahaya, pandangan silau, satuan-satuan teknik pencahayaan seperti steradian dan intensitas cahaya, hingga perancangan sistem pencahayaan buatan dan metode perhitungannya. Dokumen ini memberikan panduan dasar untuk memahami konsep-konsep kunci dalam teknik pencahayaan.

Diunggah oleh

Rai Rifaldi
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
246 tayangan16 halaman

Dasar Teori Pencahayaan dan Fluks Cahaya

Dokumen tersebut membahas tentang dasar-dasar teori pencahayaan, mulai dari sifat gelombang cahaya, pandangan silau, satuan-satuan teknik pencahayaan seperti steradian dan intensitas cahaya, hingga perancangan sistem pencahayaan buatan dan metode perhitungannya. Dokumen ini memberikan panduan dasar untuk memahami konsep-konsep kunci dalam teknik pencahayaan.

Diunggah oleh

Rai Rifaldi
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

DASAR TEORI PENCAHAYAAN

1. Sifat Gelombang Cahaya


Sumber cahaya memancarkan energi dalam bentuk gelombang yang merupakan bagian dari kelompok gelombang
elektromagnetik. Gambar 2.38 menunjukkan sumber cahaya alam dari matahari yang terdiri dari cahaya tidak
tampak dan cahaya tampak.

Dari hasil percobaan Isaac Newton, cahaya putih dari matahari dapat diuraikan dengan prisma kaca dan terdiri
dari campuran spektrum dari semua cahaya pelangi.

Pada gambar 2.39 dapat dilihat bahwa sinar-sinar cahaya yang meninggalkan prisma dibelokkan dari warna merah
hingga ungu. Warna cahaya ditentukan oleh panjang gelombangnya. Kecepatan rambat V gelombang
elektromagnetik di ruang bebas = 3.105 km/det. Jika frekuensi energinya = f dan panjang gelombangnya (lambda),
maka berlaku :

Panjang gelombang tampak berukuran antara 380mU sampai dengan 780mU seperti pada tabel berikut ini.
Gambar 2.40 menunjukkan gambar grafik energi – panjang gelombang sebuah lampu pijar 500W.

Selain memiliki warna tertentu, setiap panjang gelombang yang memberi kesamaan intensitas tertentu, dari
gambar 2.41 terlihat bahwa mata manusia paling peka terhadap cahaya dengan lamda = 555mU yang berwarna
kuning – hijau.

2. Pandangan Silau
Kalau posisi mata kita seperti gambar diatas, dapat kita rasakan bahwa kita merasakan pandangan yang
menyilaukan karena mata kita mendapatkan :

 Cahaya langsung dari lampu listrik, dan


 Cahaya tidak langsung / pantulan cahaya dari gambar yang kita lihat.

Dengan kondisi ini kita tidak dapat melihat sasaran objek gambar dengan nyaman. Pandangan silau dapat
didefinisikan sebagai terang yang berlebihan pada mata kita karena cahaya langsung atau cahaya pantulan maupun
keduanya. Supaya mata kita bisa melihat sasaran objek dengan nyaman / jelas, maka diatur sedemikian rupa agar
cahaya jatuh pada sasaran objek dan bukan pada mata kita. Untuk memahami pandangan silau mempunyai
gerakan penglihatan, kita perlu mempelajari sedikit tentang bekerjanya mata manusia (gambar di bawah).

Selaput pelangi bekerja sebagai tirai / penutup untuk mengendalikan banyaknya cahaya yang masuk ke mata.
Seperti kita lihat, bahwa cahaya adalah suatu bentuk energi radiasi yang lewat melalui lensa menuju lapisan saraf
peka yang disebut retina di bagian belakang mata. Kemudian disampaikan oleh saraf optik ke otak yang
menyebabkan perasaan cahaya. Melihat secara langsung pada sebuah sumber cahaya, menghasilkan suatu kesan
yang kuat pada retina. Untuk mencegah kerusakan pada bagian mata yang sensitif ini, secara otomatis pelangi
berkontraksi. Kondisi ini mengurangi intensitas bayangan yang diterima. Dengan menutupnya selaput pelangi ini
akan menurunkan banyaknya cahaya yang diterima. Jadi adanya cahaya terang yang kuat pada posisi yang salah,
benar-benar akan membuat penglihatan tidak nyaman, dan juga akan menimbulkan efek kelelahan pada mata.
Untuk mencegah terjadinya pandangan silau diperlukan teknik pemasangan sumber cahaya maupun armaturnya
dengan tepat.

3. Satuan-satuan Teknik Pencahayaan


Steradian
Radian adalah sudut pada titik tengah lingkaran antara dua jari-jari dimana kedua ujung busurnya jaraknya sama
dengan jari-jari tersebut (misal R = 1m). oleh karena keliling lingkaran = 2.22/7.R, maka :

Sedangkan steradian adalah sudut ruang pada titik tengah bola antara jari-jari terhadap batas luar permukaan bola
sebesar kuadrat jari-jarinya.

Karena luas permukaan bola = 4.22/7.R.R, maka di sekitar titik tengah bola terdapat 4.22/7 sudut ruang yang
masing-masing = 1 steradian. Jumlah steradian suatu sudut ruang dinyatakan dengan lambang omega.

4. Intensitas Cahaya (Luminous Intensity)


Menurut sejarah, sumber cahaya buatan adalah lilin (candela). Candela dengan singkatan Cd ini merupakan satuan
Intensitas Cahaya (I) dari sebuah sumber yang memancarkan energi cahaya ke segala arah.
5. Fluks Cahaya (Luminous Flux)
Adalah jumlah cahaya yang dipancarkan oleh sumber cahaya. Lambang fluks cahaya adalah F atau Ø dan
satuannya dalam lumen (lm). Satu lumen adalah fluks cahaya yang dipancarkan dalam 1 steradian dari sebuah
sumber cahaya 1 cd pada pemukaan bola dengan jari-jari R = 1m.

Jika fluks cahaya dikaitkan dengan daya listrik maka : Satu watt cahaya dengan panjang gelombang 555mU sama
nilainya dengan 680 lumen. Jadi dengan Lamda = 555mU, maka 1 watt cahaya = 680 lumen.

6. Luminasi (Luminance)
Adalah suatu ukuran terangnya suatu benda baik pada sumber cahaya maupun pada suatu permukaan. Luminasi
yang terlalu besar akan menyilaukan mata (contoh lampu pijar tanpa amatur). Luminasi suatu sumber cahaya dan
suatu permukaan yang memantulkan cahayanya adalah intensitasnya dibagi dengan luas semua permukaan.
Sedangkan luas semua permukaan adalah luas proyeksi sumber cahaya pada suatu bidang rata yang tegak lurus
pada arah pandang, jadi bukan permukaan seluruhnya.
7. Iluminasi (Iluminance)
Iluminasi sering di sebut juga intensitas penerangan atau kekuatan penerangan atau dalam BSN di sebut Tingkat
Pencahayaan pada suatu bidang adalah fluks cahaya yang menyinari permukaan suatu bidang. Lambang iluminasi
adalah E dengan satuan lux (lx).

8. Efikasi
Adalah rentang angka perbandingan antara fluks cahaya (lumen) dengan daya listrik suatu sumber cahaya (watt),
dalam satuan lumen/watt. Efikasi juga disebut fluks cahaya spesifik. Tabel berikut ini menunjukkan efikasi dari
macam-macam lampu. Efikasi ini biasanya didapat pada data katalog dari suatu produk lampu.
9. Hukum Penerangan
Satuan-satuan penting yang digunakan dalam teknik penerangan antara lain :

 Sudut ruang W Steradian (Sr)


 Intensitas cahaya I Candela (cd)
 Fluks cahaya F(Ø) lumen (Lm)
 Luminasi L (cd/m2)
 Iluminasi E Lux (lx)

10. Hukum Kwadrat Terbalik


Pada umumnya bidang yang diterangi bukan permukaan bola, tetapi bidang datar.

Cahaya dari sumber 1 cd yang menyinari bidang x (seluas 1 m2) yang berjarak 1 m akan mengiluminasi 1 lux.
Jika kemudian jarak tersebut dikalikan dua (ke bidang Z), maka iluminasi 1 lux tadi akan menyinari bidang seluas
4 m2. Jadi iluminasi dari suatu permukaan akan mengikuti hukum kebalikan kwadrat yaitu :
11. Penyebaran Cahaya
Penyebaran Cahaya dari suatu cahaya bergantung pada konstruksi sumber cahaya itu sendiri dan armature yang
digunakan. Sebagian besar cahaya yang direspon mata tidak langsung di sumber cahaya, tetapi setelah dipantulkan
atau melalui benda yang tembus cahaya. Untuk penerangan, secara garis besar penyebaran cahaya ada 3 macam
yaitu penyebaran langsung, tidak langsung atau campuran.
a. Penerangan Langsung
b. Penerangan Tidak Langsung
c. Penerangan Campuran
Jika kita berada dalam suatu ruang yang ada sumber cahaya dari sebuah lampu, maka ada dua sumber cahaya,
yaitu sumber cahaya primer yang berasal dari lampu tersebut dan sumber cahaya sekunder yang merupakan
pantulan dari fiting lampu tersebut. Dari dinding-dinding di sekitar ruangan, gambar 2.51 (a) menujukkan empat
jenis kemungkinan pemantulan yang dapat terjadi dari lapisan penutup armatur yang berbeda. Sedangkan gambar
2.51 (b) menunjuk-I kan berbagai macam armatur.

12. Perancangan Penerangan Buatan


Bila penerangan alami tidak dapat memenuhi persyaratan bagi penerangan ruang (dalam bangunan), maka
penerangan buatan sangat diperlukan, hal ini disebabkan oleh :

 Ruangan yang luas


 Lubang cahaya yang tidak efektif
 Cuaca diluar mendung / hujan
 Waktu malam hari, dan sebagainya

Perancangan penerangan buatan sebaiknya dilakukan sejak awal perancangan bangunan, untuk itu perlu
diperhatikan :

 Apakah penerangan buatan digunakan tersendiri atau sebagai penunjang/pelengkap penerangan alami.
 Berapa intensitas penerangan yang diperlukan.
 Distribusi dan variasi fluks cahaya yang diperlukan
 Arah cahaya yang diperlukan
 Warna-warna cahaya yang digunakan dalam gedung dan efek warna yang diinginkan
 Derajat kesilauan brightness dari keseluruhan lingkungan visual

Intensitas penerangan yang direkomendasikan tidak boleh kurang dari intensitas penerangan dalam tabel 2.11
yang diukur pada bidang kerja.

Secara rinci intensitas penerangan yang direkomendasikan untuk berbagai jenis bangunan / peruntukan dapat
dilihat pada tabel 2.12.
Ada 3 tipe sistem penerangan buatan, yaitu :

 Sistem penerangan merata; Memberikan intensitas penerangan yang seragam pada seluruh ruangan,
penggunaannya pada ruang-ruang yang tidak memerlukan tempat untuk mengerjakan pekerjaan visual
khusus.
 Sistem penerangan terarah; Cahaya diarahkan kejurusan tertentu dalam ruangan, digunakan untuk
menerangi suatu objek tertentu agar kelihatan menonjol, misal pada penggung atau pada ruangan untuk
pameran. Pada sistem ini dapat menggunakan lampu dan reflektor yang diarahkan atau ”spotlight”
dengan reflektor bersudut lebar.
 Sistem penerangan setempat; Cahaya dikonsentrasikan pada tempat mengerjakan pekerjaan visual
khusus. Sistem ini digunakan untuk :

- pekerjaan visual yang presisi


- pengamatan bentuk / susunan benda dari arah tertentu.
- melengkapi penerangan umum yang mungkin terhalang.
- membantu menambah daya lihat.
- menunjang pekerjaan visual yang mungkin pada awalnya tidak terencana pada suatu ruangan.
Perancangan penerangan buatan secara kuantitas dapat dilakukan perhitungan dengan 2 metode yaitu :
a. Metode titik demi titik (point by point method)
b. Metode lumen.

13. Metode Titik Demi Titik


Metode ini hanya berlaku untuk cahaya langsung, tidak memperhitungkan cahaya pantulan, dan sumber cahaya
dianggap satu titik, serta mempunyai syarat sebagai
berikut :
a) Dimensi sumber cahaya dibanding dengan jarak sumber cahaya ke bidang kerja tidak boleh lebih besar dari 1
dibanding 5.

b) Berdasarkan diagram pola intensitas cahaya. Panjang jari-jari dari 0 ke suatu titik dari grafik menyatakan
intensitas cahaya. kearah itu dalam suatu candela. Setiap gambar biasanya dilengkapi dengan data yang
menunjukan nilai dalam lumen / cd. (misal 500 lumen / cd ; 1000 lumen / cd ; 2000 lumen /cd dan seterusnya).
Diagram penyebaran intensitas cahaya ini ada yang berbentuk simetris dan tidak simetris. Untuk yang simetris
biasanya hanya digambarkan setengahnya saja. Diagram yang menunjukan karakteristik-karakteristik lampu dan
armatur ini, dapat diperoleh pada buku katalog dari pabrik yang memproduksinya.

Intensitas cahaya sebuah lampu sebanding dengan fluks cahaya lain, nilai-nilai yang diberikan dalam diagram
masih harus dikalikan dengan jumlah lumen lampu tersebut. Dalam gambar diatas intensitas cahayanya = 1000
lumen, jika pada armaturnya diberi lampu 1.500 lumen, maka pada sudut 60o intensitas cahayanya :
1.500/1.000 x 140 cd = 210 cd.
c) Hanya ada satu sumber cahaya yang akan diperhitungkan pada saat itu.
d) Bidang kerja yang diberi penerangan harus berdimensi kecil.
e) Daerah yang sumber cahaya dan bidang kerjanya bebas dari permukaan yang memantulkan cahaya (refleksi
cahaya tidak diperhitungkan).
Untuk setiap titik yang berjarak sama dari sumber cahaya (dengan arah cahaya pada sudut normal), maka besar
intensitas penerangannya akan selalu sama dan membentuk diagram melingkar. Jika ada dua titik lampu dengan
jarak sama ke suatu target, maka total intensitas penerangannya sekitar dua kalinya.

14. Metode Lumen


Metode lumen adalah menghitung intensitas penerangan rata-rata pada bidang kerja. Fluks cahaya diukur pada
bidang kerja, yang secara umum mempunyai tinggi antara 75 – 90 cm diatas lantai. Besarnya intensitas penerangan
(E) bergantung dari jumlah fluks cahaya dari luas bidang kerja yang dinyatakan dalam lux (lx).
Keterangan :
E : Intensitas penerangan (lux)
F : Fluks cahaya (luman)
A : Luas bidang kerja (m2)

E=F/A

Tidak semua cahaya dari lampu mencapai bidang kerja, karena ada yang di pantulkan (faktor refleksi = r), dan
diserap (faktor absorpsi = a) oleh dinding, plafon dan lantai. Faktor refleksi dinding (rw) dan faktor refleksi plafon
(rp) merupakan bagian cahaya yang dipantulkan oleh dinding dan langit-langit / plafon yang kemudian mencapai
bidang kerja. Faktor refleksi bidang kerja (rm) ditentukan oleh refleksi lantai dan refleksi dinding antara bidang
kerja dan lantai secara umum, nilai rm = 0,10 (jika rm tidak diketahui, maka diambil nilai rm 0,10)
Faktor refleksi dinding / langit-langit untuk warna :
- Warna Putih = 0,80
- Warna sangat muda = 0.70
- Warna muda = 0,50
- Warna sedang = 0.30
- Warna gelap = 0,10
INSTALASI PENERANGAN
Satuan-satuan penting yang digunakan dalam teknik penerangan:
1. Intensitas cahaya adalah jumlah energy yang radisasi yang dipancarkan sebagai cahaya ke suatu
jurusan tertentu satauannya candela (cd)
Rumusnya :

I = ----- cd

Dimana:
I = intensitas cahaya (cd)
 = flux cahaya (lm)
 = streradian suatu sudut ruang
Suatu sumber cahaya yang berbentuk bola, luas permukaannya sama dengan 4r2, maka disekitar titik
tengah bola dapat diletakan 4 sudut ruang (4 bagian ruang) yang masing-masing sama dengan satu
streradian. Jumlah streradian suatu sudut ruang dinyatakan dengan lambing  (omega).

2. Flux cahaya adalah jumlah cahaya yang diapncarkan oleh suatu sumber cahaya setiap detik, satuannya
lumen (lm)
Dari rumus :

I = ----- cd

Didapat :
 =  . I lm, jika  = 4 ,maka
 = 4 . I lm, jika I = 1, maka
 = 4 lm
3. Intensitas penerangan adalah flux cahaya yang jatuh pada bidang setiap m 2 satuannya adalah lux
(lx) dan lambangnya E
1 lux = 1 lumen per m2
Jika suatu bidang yang luasnya A m2, diterangi dengan  lumen, maka besarnya intensitas
penerangan rata-rata di bidang tersebut sama dengan :

E rata-rata = ------ lux
A
Apabila luas bidang 10 m2 diterangi dengan 1000 lumen, maka didapat :
 1000
E rata-rata = ------ = ------ = 100 lux
A 10

Intensitas penerangan di suatu bidang karena suatu sumber cahaya dengan intensitas I, berkurang
dengan kuadrat dari jarak antara sumber cahaya dan bidang itu (hukum kuadrat).
Rumus:
I
Ep = ------ lux
r2
dimana:
Ep = intensitas penerangan di suatu titik P dari bidang yang diterangi, dinyatakan
dalam satuan lux
I = intensitas sumber cahaya dalam satuan candela
r = jarak dari sumber cahaya ke titik P, dinyatakan dalam meter

4. Luminasi adalah suatu ukuran untuk terang suatu benda. Luminasi yang terlalu besar akan menyilaukan
mata, seperti lampu pijar tanpa armatur (tempat merefleksikan cahaya).
Luminasi L suatu sumber cahaya atau suatu permukaan yang memantulkan cahaya ialah intensitas
cahayanya dibagi dengan luas semu permukaan.
Rumus:
I
L = ------ cd/cm2
AS
dimana:
L = luminasi dalam satuan cd/cm2
I = intensitas sumber cahaya dalam satuan candela
AS = luas permukaan semu cm2
Kalau luminasinya kecil dapat menggunakan satuan cd/m 2
1 cd/cm2 = 10.000 cd/m2

5. Flux cahaya spesifik adalah flux cahaya setiap watt (lumen/watt)

6. 1 Watt cahaya adalah sama dengan energy 1 W dengan panjang gelombang 555 mµ. 1 Watt cahaya
sama dengan 680 lumen

Latihan soal:
1. Suatu ruangan ukuran 8 m x 16 m diterangi dengan flux cahaya 48.000 lumen.
Berapakah intensitas penerangannya:
Jawab :

E rata-rata = ------ lux
A
2. Sebuah lampu pijar digantung 2 m di atas meja dengan intensitas cahayanya ke bawah sama dengan
480 cd. Tentukanlah intensitas penerangan di permukaan meja, tegak lurus di bawah lampu ?
Jawab :
I
Ep = ------ lux
r2
3. Sebuah reflector cermin ditempatkan 2,5 m di atas suatu meja panjang. Sumbu berkas cahayanya
diarahkan tegak lurus ke bawah. Di permukaan meja panjang tepat di bawahnya reflector, intensitas
penerangannya 540 lux. Kemudian titik cahayanya dinaikan menjadi 3 m di natas meja panjang.
Berapakah sekarang intensitas penerangannya di permukaan meja tepat di bawah reflector?

Jawab:
I
Ep = ------ I = Ep . r2 = 540 . 2,52 = 3375 cd
r 2

Jika titik cahayanya dinaikan menjadi 3 m, maka :

I 3375
Ep = ------ = ------- = 375 lux
r2 32
4. Sebuah lampu dari 200 watt memberi 3000 lumen. Berapakah flux cahaya spesifiknya dan berapa watt
cahaya diberikan oleh lampu tersebut?
Jawab :
3.000
Flux cahaya spesifik = -------- = 15 lumen/watt
200
1 Watt cahaya = 680 lumen, jadi
3.000
Watt cahaya lampu tersebut = ---------- = 4.41 watt cahaya
680

5. Di titik tengah sebuah bola dengan jari-jari 30 cm ditempatkan sebuah sumber cahaya 150 watt. Jumlah
flux cahayanya 2000 lumen dan merata ke semua jurusan.
Tentukanlah :
a. Intensitas penerangan di permukaan bola
b. Flux cahaya spesifiknya
c. Intensitas cahayanya
Jawab :
 2000 2000
I = ----- = -------- = ------ = 159,2 cd
 4 4. 3,14
I 159,2 159,2
Ep = ------ = ------------ = ------- = 1768,8 lux
r2 0,32 0,09

2000
Flux cahaya spesifik = -------- = 13,33 lumen/watt
150

Anda mungkin juga menyukai