0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
247 tayangan17 halaman

Laporan Praktikum Metode CIPS dan DCVG

Laporan ini membahas dua metode pendeteksian kerusakan coating pada pipa, yaitu CIPS (Close Interval Potential Survey) dan DCVG (Direct Current Voltage Gradient). Metode CIPS digunakan untuk mengetahui integritas jalur pipa dan efektivitas proteksi katodik, sedangkan metode DCVG dapat mendeteksi lokasi dan besarnya kerusakan coating. Mahasiswa melakukan percobaan menggunakan simulator perpipaan untuk mempelajari kedua metode terse

Diunggah oleh

Indri Maharani
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
247 tayangan17 halaman

Laporan Praktikum Metode CIPS dan DCVG

Laporan ini membahas dua metode pendeteksian kerusakan coating pada pipa, yaitu CIPS (Close Interval Potential Survey) dan DCVG (Direct Current Voltage Gradient). Metode CIPS digunakan untuk mengetahui integritas jalur pipa dan efektivitas proteksi katodik, sedangkan metode DCVG dapat mendeteksi lokasi dan besarnya kerusakan coating. Mahasiswa melakukan percobaan menggunakan simulator perpipaan untuk mempelajari kedua metode terse

Diunggah oleh

Indri Maharani
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

LABORATORIUM TEKNIK PENGENDALIAN KOROSI

LAPORAN PRAKTIKUM CIPS ( Close Interval Potential Survey )


DAN DCVG ( Direct Current Voltage Gradient )
disusun untuk memenuhi salah satu tugas mata kuliah Praktikum Teknik
Pengendalian Korosi Semester IV Prodi D3 - Teknik Kimia

Dosen Pembimbing : Ir. Nurcahyo, MT

Oleh

Fatona Waluya (161411037)

Husna Immah (161411038)

Indra Maulana Arifin (161411039)

Indri Nurbaitie Maharani (161411040)

Kelompok 2, (Kelas 2B, D3 – Teknik Kimia)

JURUSAN TEKNIK KIMIA

POLITEKNIK NEGERI BANDUNG

2018
I. TUJUAN
Setelah melakukan percobaan, mahasiswa diharapkan mampu :
1. Mengetahui cara pendeteksian kerusakan coating pada pipa
menggunakan metode CIPS dan DCVG.
2. Melakukan uji karakteristik terhadap sistem alat ukur CIPS.
3. Mengaplikasikan sistem pengukuran untuk mendeteksi kerusakan
coating pada sistem perpipaan.

II. DASAR TEORI

Korosi tidak dapat dicegah, namun dapat dikendalikan seminimal


mungkin. Ada beberapa metode yang biasanya digunakan untuk
mengendalikan korosi, diantaranya adalah sebagai berikut:
1. Perancangan geometris alat atau benda kerja.
2. Pemilihan bahan atau material logam yang sesuai dengan lingkungan.
Pemilihan material haruslah dipertimbangkan. Jenis material yang
digunakan harus memiliki ketahanan korosi yang tinggi pada suatu
media tertentu yang sesuai dengan lingkungan tempat aplikasinya
Metode Pelapisan adalah suatu upaya mengendalikan korosi
dengan menerapkan suatu lapisan pada permukaan logam yang akan
dilindungi. Misalnya, dengan pengecatan atau penyepuhan logam. Zat
atau logam yang akan melapisi suatu logam harus bisa membentuk
lapisan oksida yang tahan terhadap karat (pasivasi) sehingga logam
yang dilindungi terlindung dari korosi.
Pasivasi adalah pembentukan lapisan film permukaan dari
oksida logam hasil oksidasi yang tahan terhadap korosi sehingga dapat
mencegah korosi lebih [Link] Katodik merupakan salah satu
cara untuk mencegah terjadinya korosi pada logam.
Prinsip kerjanya adalah dengan mengubah benda kerja menjadi
katoda. Proteksi dilakukan dengan mengalirkan elektron tambahan
kedalam material. Terdapat dua jenis proteksi katodik, yaitu
metode (arus paksa) dan (anoda korban).
Proteksi anodik yaitu dengan cara mempertebal lapisan pasif
dari suatu material dengancara memberikan potensial kearah anodik.
Inhibitor adalah zat kimia yang ditambahkan ke dalam suatu lingkungan
korosif dengan kadar sangat kecil (ukuran ppm) guna mengendalikan
korosi. Inhibitor korosidapat dikelompokkan berdasarkan mekanisme
pengendaliannya, yaitu inhibitor anodik, inhibitor katodik, inhibitor
campuran, dan inhibitor teradsorpsi.

Metode Pendeteksi Kerusakan coating

Pada penerapan di lapangan, kerusakan coating apat dideteksi


dengan dua metode yang umum digunakan, yaitu metode (DCVG) dan
Close InterruptedPotentialSurvey(CIPS).

1. Metode Direct Current Voltage Gradient


Metode DCVG ditemukan oleh seorang insinyur
telekomunikasi yang berasal dari Australia, bernama John Mulvany
pada awal 1980 (Wikipedia, 2013). Dikembangkan bersama dengan Dr.
John Leeds, seorang ahli korosi dari Inggris. Metode DCVG biasanya
hanya dikenal dikalangan profesional di bidang korosi. Dasarmetode
DCVG diatur dalam NACE International Testmethod TM-0109-2009.
Referensi dari kalangan inspeksi perpipaan diatur dalam API571
danAPI RP 574 (Wikipedia, 2013).
Survey DCVG dilakukan untuk mendeteksi adanya cacat
coating pada struktur pipa yang terpendam. Seringkali survey ini
digunakan juga untuk menentukan apakah suatu area bersifat anodic
atau katodik, tetapi tidak bisa digunakan untuk mengukur level dari CP
(Cathodic Protection). Metode ini cukup efektif untuk mendeteksi
cacat coating yang relatif kecil dan tersembunyi sekalipun.
Survey DCVG dilakukan dengan mode On/Off dari arus yang
keluar dari rectifier. On/Off dari arus rectifier diatur siklusnya melalui
current interrupter. Dengan begitu, potensial soil to soil bisa diukur
pada saat siklus On dan juga pada saat siklus Off. Istilah potensial
DCVG diartikan sebagai perbedaan/selisih antara potensial soil to soil
pada saat arus CP On dan potensial soil to soil pada saat arus CP Off.
Metode kerja dari DCVG adalah dengan memastikan sistem
perpipaan telah diproteksi dengan arus paksa (ICCP). Adanya
kerusakan coating akan menyebabkan terjadinya peningkatan arus
dalam jumlah yang besar di sekitar kerusakan coating. Ilustrasi dari
kerusakan coatingdapat dilihat pada gambar berikut

Gambar1. Ilustrasi arus masuk ke daerah coatingyang rusak


(Sumber:[Link])

Dengan menggunakan metode DCVG, tidak hanya posisi


kerusakan dari coatingyang dapat diketahui, akan tetapi besar
kerusakan atau derajat kerusakan coating. Apabila ada kerusakan
coating maka akan berdampak pada aliran arus listrik yang mengalir
dari tanah sekitar dan masuk menuju pipa. Aliran listrik ini akan
menyebabkan adanya gradient tegangan yang terjadi di tanah, yang
dapat diukur dengan menggunakan voltmeter. Dengan mengamati arah
dari gradien arus listrik tersebut, maka lokasi coatingyang rusak dapat
diidentifikasi. Dengan memasukkan data dari arah gradien tegangan
yang terukur di sekitar lokasi coating yang rusak, maka jenis dan
karakteristik kerusakan coating dapat diketahui.

2. Metode Close Interval Potential Survey


Close Interval Potential Survey (CIPS) bertujuan untuk
mengetahui integritas dari jalur pipa khususnya berkaitan dengan
efektifitas kerja dari Sistem Proteksi Katodik. Prinsip dari CIPS ini
adalah mengukur Potensial Pipa dalam kondisi Sistem Proteksi Katodik
berjalan, sehingga secara langsung akan dapat diketahui pada lokasi
mana saja dari jalur pipa yang tidak terlindungi oleh Sistem Proteksi
Katodik tersebut. Kriteria proteksinya sendiri sesuai dengan Standard
NACE RP 0169 – 2002 Recommended Practice for Control of External
Corrosion on Underground or Submerged Metallic Piping Systems.

Ada atau tidaknya kerusakan pada coatingdalam suatu system


perpipaan yang ditanam dibawah tanah dapat dideteksi. Salah satu cara
untuk mendeteksi kerusakan coating tersebut adalah dengan
menggunakan metode Close Interval Potential Survey (CIPS).

Metode CloseIntervalPotentialSurvey ditujukan untuk


mengetahui integritas dari jalur pipa khususnya berkaitan dengan
efektifitas kerja dari Sistem Proteksi Katodik. Prinsip dari CIPS ini
adalah mengukur Potensial Pipa dalam kondisi Sistem Proteksi Katodik
berjalan, sehingga secara langsung akan dapat diketahui pada lokasi
mana saja dari jalur pipa yang tidak terlindungi oleh Sistem Proteksi
Katodik tersebut (Mukhandis, 2008).

Pipa yang terproteksi dengan baik akan memenuhi kriteria


proteksi sesuai dengan Standard NACE RP 0169– 2002. Pengukuran
potensial rangkaian tertutup secara interval (CIPS) ini menggunakan
alat yang dilengkapi dengan Data logger/ Voltmeter dan juga
elektroda reference Cu/CuSO4 yang terkalibrasi. Peralatan ini
merupakan alat yang dirancang dan deprogram oleh para ahli korosi
terutama ahli proteksi katodik untuk pemeriksaan kondisi kerusakan
coating pada pipa baja dalam tanah (Nur Salam, 1999).
Gambar 3. AlatUkur CIPS (Sumber :Rawson,1999)

Gambar 4. Prinsip kerjametode CIPS (Sumber :Rawson,1999)

III. METODOLOGI PERCOBAAN


3.1. Alat dan Bahan
3.1.1. Alat yang digunakan :
1. Simulator perpipaan
2. Elektroda standar Cu/CuSO4 (1 pasang)
3. Voltmeter digital
4. Transformator
5. Rectifier
6. Kabel
7. Peralatan safety untuk personil (Helmet, Safety
Boot, Google dan Gloves)
8. Pengukur DCVG
3.1.2. Bahan yang digunakan :
1. CuSO4
2. Aquades
3. Air
3.2. Prosedur Kerja
3.2.1. CIPS
[Link]. Persiapan

Test Point, pastikan kabel pipa


terhubung dengan kabel anoda (kondisi
sistem proteksi katodik bekerja).

Rangkai Peralatan dengan langkah– langkah sebagai


berikut:Hubungkan Kabel Pipa/Anoda dengan kabel yang
terhubung dengan positif dari alat CIPS.

Setting Data sesuai dengan


User Manual dari alat CIPS

Masukkan default untuk pembacaan potensial


proteksi minimum sebesar -850 mV

Kalibrasi bacaan data (kedua data


menunjukkan nilai bacaan potensial yang
sama pada lokasi yang sama).

[Link]. Prosedur Pengambilan Data

Survey CIPS dilakukan tepat diatas


permukaan tanah dimana pipa terpendam.

Pengambilan data (data logging) dilakukan setiap


interval jarak titik pengukuran (meter) daripergerakan
Alat CIPS.

Pastikan rangkaian peralatan tidak


terputus selama pengambilan data.
3.2.2. DCVG
[Link]. Mengoperasikan Proteksi Arus Paksa

Menghubungkan Transformator dengan


sumber arus AC 220V

Menghubungkan Rectifier dengan


Transformator.

Mengatur Set Potensial Proteksi di Angka


4.5 Volt

Menyalakan Main Switcher ke Posisi 1

[Link]. Pemasangan Alat Ukur DCVG

Siapkan dua buah halfcell dan satu buah


multimeter.

Sambungkan kabel dari masing-masing


halfcell kepada multimeter.

[Link]. Mencari Nilia Overline (OL/RE) dan Titik


Kerusakan Coating Pipa

Telusuri daerah yang diduga terdapat kerusakan coating


pada pipa dengan melihat data pengukuran CIPS.

Tancapkan kedua buah halfcell diantara pipa sampai


menemukan nilai 0 mV di multimeter.

Titik kerusakan coating pipa terdapat


ditengah jarak halfcell.
[Link]. Mencari Nilai Remote Earth

Tancapkan satu halfcell pada


titik kerusakan pipa.

Tancapkan satu halfcell lainnya


tegak lurus dengan pipa.

Catat nilai yang terbaca oleh multimeter sampai


terjadi perubahan yang tidak signifikan.

IV. KESELAMATAN KERJA


1. Wajib menggunakan APD seperti jas lab, masker, sarung tangan,
google, helmet dan sepatu tertutup.
2. Pahami prosedur kerja
3. Pahami MSDS dari bahan yang disediakan.
V. DATA PENGAMATAN DAN PENGOLAHAN DATA
5.1. CIPS ( Close Interval Potential Survey )
Tabel 5.1 Beda potensial Minimun dan Maksimum Pada Tiap
Jarak Pengukuran .
Jarak Beda Potensial Minimum Beda Potensial Maksimum
(meter) (V/CSE) (V/CSE)

0 1,016 1,342

0,3 1,004 1,335

0,6 0,998 1,367

0,9 0,998 1,332

1,2 0,996 1,327

1,5 0,985 1,313

1,8 0,988 1,277

2,1 0,987 1,324

2,4 0,987 1,327

2,7 0,990 1,326

3 0,984 1,331

3,3 0,990 1,333

3,6 0,991 1,332

3,9 1,042 1,340

4,2 1,004 1,349

4,5 0,998 1,343


4,8 1,006 1,357

5,1 1,006 1,357

5,4 1,022 1,356

5,7 1,011 1,355

6 1,007 1,347

6,3 1,022 1,352

6,6 1,005 1,352

6,9 1,000 1,348

7,2 1,001 1,432

7,5 1,095 1,415

7,8 1,086 1,425

8,1 1,085 1,432

8,4 1,083 1,440

8,7 1,018 1,457

9 1,034 1,397

9,3 1,071 1,390

9,6 1,031 1,394

9,9 1,026 1,389

10,2 1,032 1,376

10,5 1,022 1,379

10,8 1,023 1,355


11,1 0,983 1,336

11,4 0,999 1,355

11,7 1,022 1,362

12,00 1,012 1,366

12,3 1,020 1,368

12,6 1,030 1,368

*Daerah yang diberi warna biru diprediksikan terjadi kebocoran coating pada pipa
dan pada daerah sekitar lubang tersebut dilakukan DCVG untuk mengetahui besar
kerusakan coating-nya.

5.2. DCVG ( Direct Current Voltage Gradient )


Tabel 5.2 Beda Potensial pada jarak dimana terjadi kebocoran.
Titik Potensial
Ke - (mV)

1 22,8

2 27,6

3 22,4

4 15,4

5 15,9

6 15,1

7 15,6

*Data diambil dari kelompok 7 karena keterbatasan waktu


pada saat praktikum dan praktikum susulan sehingga percobaan
DCVG tidak sempat dilakukan.
Coating defect (% IR)
a. P/ RE
𝑃 𝑑𝑥
(IR drop) = V1max - (V1 – V2)
𝑅𝐸 𝑥
1,8
= 1,277 - (0,988 – 1,277)
1,8

= 1,277 – (-0,289)
= 1,566 Volt

b. OL/ RE
OL/RE = Total V
= (22,8 + 27,6 + 22,4 + 15,4 + 15,9 + 15,1 + 15,6)
= 134,8 mV
= 0,1348 Volt

c. % IR
% IR = [Total mV / IR Drop] x 100%
𝑂𝐿/𝑅𝐸
%IR = 𝑥 100%
𝑃/𝑅𝐸
0,1348
= 𝑥 100%
1,566

= 8,61 %
Dengan:
V1 = Potensial terukur pada test box pertama (mV)
V2 = Potensial terukur pada test box kedua (mV)
x = Jarak test box atau panjang pipa dari test box pertama (m)
dx = Letak atau posisi kebocoran pipa (m)
VI. HASIL PENGAMATAN

Kurva CIPS ( Close Interval Potential Survey )


1.6
1.4
Beda Ptensial (V/CSE)

1.2
1
0.8
0.6
0.4
0.2
0
0 2 4 6 8 10 12 14
Jarak (Meter)

Min Max

Gambar 1. Grafik Beda Potensial Minimum dan Maksimum Pada Tiap Jarak Pengukuran

Kurva DCVG ( Direct Current Voltage Gradient )


30

25
Potensial (mV)

20

15

10

0
0 1 2 3 4 5 6 7 8
Titik

Gambar 2. Grafik Pengukuran DCVG Pada Titik Kebocoran Pipa


VII. PEMBAHASAN
Pada praktikum kali ini dilakukan praktikum kebocoran coating
dengan menggunakan metode CIPS ( Close Interval Potential Survey )
dan DCVG ( Direct Current Voltage Gradient ) dengan tujuan untuk
mengetahui cara pendeteksian kerusakan coating pada pipa
menggunakan metode CIPS dan DCVG, melakukan uji karakteristik
terhadap sistem alat ukur CIPS serta mengaplikasikan sistem pengukuran
untuk mendeteksi kerusakan coating pada sistem perpipaan. Kedua
metode tersebut dilakukan untuk mendeteksi posisi kebocoran /
kerusakan coating yang terdapat pada sistem perpipaan di dalam tanah
dan tingkat kerusakan yang terjadi pada pipa dalam suatu sistem
perpipaan agar dapat mengetahui apakah sistem perpipaan di dalam tanah
tersebut masih layak digunakan atau tidak.
CIPS ( Close Interval Potential Survey ) ini dilakukan untuk
mengetahui posisi kebocoran / kerusakan coating pipa dalam suatu
sistem perpipaan di dalam tanah. Dilakukan dengan mengukur beda
potensial maksimum dan minimumnya menggunakan elektrode CSE dan
voltmeter. Proses pengukuran dilakukan dengan jarak pengukuran yang
tidak terlalu jauh yaitu sekitar ± 30 cm, hal ini bertujuan agar perkiraan
posisi kerusakan coating pipa yang terukur tidak meleset terlalu jauh.
Hasil pengukuran menunjukkan pada jarak 1,8 meter dari test box awal
pipa mengalami kebocoran. Hal ini dapat ditunjukkan pada gambar 1
terdapat grafik yang menurun kemudian naik lagi, maka dapat
diindikasikan bahwa pada jarak 1,8 meter terdapat kebocoran/kerusakan
coating pada sistem perpipaan.
Metode kedua yaitu DCVG ( Direct Current Voltage Gradient )
dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui seberapa besar tingkat
kerusakannya. Pengukuran dilakukan degan jalur yang tegak lurus
terhadap jalur CIPS dengan interval jarak pengukuran yang lebih besar
dibandingkan dengan CIPS. Pengukuran DCVG bertujuan untuk
mengetahui hingga sejauh mana kebocoran pipa terdeteksi yang dapat
digunakan sebagai indikator kerusakan pipa. Semakin jauh jarak
pengukuran yang terbaca nilanya oleh voltmeter, maka mengindikasikan
semakin besar pula tingkat kerusakan yang dialami oleh pipa. Pada
pengukuran dengan metode DCVG terdapat kendala waktu yang
mengakibatkan tidak terlaksananya pengukuran DCVG sehingga data
DCVG diperoleh dari kelompok 7, untuk mengetahui seberapa besar
kerusakan yang terjadi pada sistem perpipaan.
Ukuran dari coating defect diekspresikan dalam hubungan IR
potensial drop dalam tanah dengan adanya aliran proteksi katodik dari
arus paksa. Besaran coating defect diekspresikan dalam %IR. Setelah
dilakukan perhitungan %IR yang didapat sebesar 8,61%. Dari hasil
perhitungan %IR maka dapat diketahui seberapa besar tingkat kerusakan
pada coating. Untuk dapat menentukan tingkat kerusakan coating
terdapat beberapa klasifikasi yang dapat dilihat dalam tabel berikut ini :

Klasifikasi Kerusakan %IR

Ringan 0-15

Sedang 15-35

Berat 35-70

Parah 70-100

Dari tabel diatas maka dapat diketahui tingkat kerusakan coating


pada pipa terdapat pada kategori ringan.
VIII. KESIMPULAN
Dari percobaan yang telah dilakukan dapat disimpulkan bahwa :
1. Telah diketahui cara untuk mendeteksi kebocoran / kerusakan
coating pada pipa dengan menggunakan metode CIPS dan DCVG.
2. Telah dilakukan uji karakteristik terhadap sistem alat ukur CIPS.
3. Telah diaplikasikan sistem pengukaran CIPS dan DCVG pada
sistem perpipaan di laboratorium teknik pengendalian korosi
jurusan teknik kimia politeknik negeri Bandung.
4. Tingkat kebocoran / kerusakan coating pada sistem perpipaan yang
terdapat di laboratorium teknik pengendalian korosi jurusan teknik
kimia politeknik negeri Bandung ini dikategorikan dalam kategori
ringan.

IX. DAFTAR PUSTAKA


Indarti R., dan Ngatin A. 2010. Buku Ajar Teknik Pengendalian Korosi.
Jurusan Teknik Kimia Politeknik Negeri Bandung.

Tonapa, Yunus, Agustinus Ngatin, Retno Indarti, Mentik Hulupi. 2008.


Buku Petunjuk Pelaksanaan Praktikum Teknik Pencegahan
Korosi. Jurusan Teknik Kimia. Politeknik Negeri Bandung.

R.L. Pawson: "Close Interval Potential Surveys - Planning, Execution,


Results", Materials Performance, February 1998, pp.16-21. (sumber
web : [Link]

Jones, D.A. Principles And Prevention of Corrosion-2nd Edition,


Prentice Hall, Singapore, 1997.

Anda mungkin juga menyukai