0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
503 tayangan24 halaman

Terapi Bermain Uno Stacko untuk Anak

Proposal terapi bermain menggunakan permainan Uno Stacko dan puzzle menyusun kata untuk anak usia pra sekolah di rumah sakit dengan tujuan mengurangi stres akibat hospitalisasi, menstimulasi perkembangan kognitif, motorik dan sosial anak. Terapi akan dilaksanakan selama 30 menit dengan metode bermain secara berkelompok dan didampingi fasilitator.

Diunggah oleh

rhesearochmatillah
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOC, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
503 tayangan24 halaman

Terapi Bermain Uno Stacko untuk Anak

Proposal terapi bermain menggunakan permainan Uno Stacko dan puzzle menyusun kata untuk anak usia pra sekolah di rumah sakit dengan tujuan mengurangi stres akibat hospitalisasi, menstimulasi perkembangan kognitif, motorik dan sosial anak. Terapi akan dilaksanakan selama 30 menit dengan metode bermain secara berkelompok dan didampingi fasilitator.

Diunggah oleh

rhesearochmatillah
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOC, PDF, TXT atau baca online di Scribd

PROPOSAL TERAPI BERMAIN PERMAINAN UNO STACKO

DAN PUZZLE MENYUSUN KATA


DI RUANG ANAK BONA 1 RSUD Dr. SOETOMO SURABAYA

Disusun oleh :

1. R. Hesea Rochmatillah 1317231430451


2. Tri Retno Widyaningrum 1317231430452
3. Galih Adhi Wicaksono 1317231430453
4. Galuh Rachmawati GP 1317231430454
5. Silvi Lusiana Suwandi 1317231430455
6. Getrudis Fransisca Diaz 1317231430456

Program Studi Program Profesi Ners


Fakultas Keperawatan Universitas Airlangga
Surabaya
2018

1
PROPOSAL
TERAPI BERMAIN PADA ANAK USIA PRA SEKOLAH
DI RUANG BONA LANTAI 1
RSUD DR SOETOMO SURABAYA

1. LATAR BELAKANG

Masuk rumah sakit merupakan peristiwa yang sering menimbulkan


pengalaman traumatik, khususnya pada pasien anak yaitu ketakutan dan
ketegangan atau stress hospitalisasi. Stress ini disebabkan oleh berbagai faktor
diantaranya perpisahan dengan orang tua, kehilangan control, dan akibat dari
tindakan invasif yang menimbulkan rasa nyeri. Akibatnya akan menimbulkan
berbagai aksi seperti menolak makan, menangis, teriak, memukul, menyepak,
tidak kooperatif atau menolak tindakan keperawatan yang diberikan.

Bermain adalah salah satu aspek penting dari kehidupan anak dan salah
satu alat paling penting untuk menatalaksanakan stres karena hospitalisasi
menimbulkan krisis dalam kehidupan anak, dan karena situasi tersebut sering
disertai stress berlebihan, maka anak-anak perlu bermain untuk mengeluarkan rasa
takut dan cemas yang mereka alami sebagai alat koping dalam menghadapi stress.
Bermain sangat penting bagi mental, emosional dan kesejahteraan anak seperti
kebutuhan perkembangan dan kebutuhan bermain tidak juga terhenti pada saat
anak sakit atau anak di rumah sakit (Wong, 2009)

Bermain pada anak dapat meningkatkan kecerdasan dalam berfikir dan


mengembangkan imajinasi serta melatih daya motorik halus dan kasar pada anak.
Pada anak pra sekolah umumnya perkembangan motorik kasar dan
motorik halusnya sudah baik (Soetjiningsih, 1995). Pada tahap ini mereka
berminat untuk mendapatkan pengetahuan dan mulai mengalami peningkatan
kompetensi. Dengan mengerti tentang dunia anak terutama usia anak pra sekolah,
maka dengan ini kami bermaksud untuk melaksanakan program terapi bermain
karena dengan bermain membuat anak menjadi lebih rileks.

2
Dengan bermain anak dapat menstimulasi pertumbuhan otot-ototnya,
kognitifnya dan juga emosinya karena mereka bermain dengan seluruh emosinya,
perasaannya dan pikirannya. Elemen pokok dalam bermain adalah kesenangan
dimana dengan kesenangan ini mereka mengenal segala sesuatu yang ada
disekitarnya sehingga anak yang mendapat kesempatan cukup untuk bermain juga
akan mendapatkan kesempatan yang cukup untuk mengenal sekitarnya sehingga
ia akan menjadi orang dewasa yang lebih mudah berteman, kreatif dan cerdas, bila
dibandingkan dengan mereka yang masa kecilnya kurang mendapat kesempatan
bermain
Terapi bermain yang akan dilaksanakan yaitu bermain menyusun kata.
Alasan memilih terapi bermain menyusun kata adalah untuk mengembangkan
motorik halus, keterampilan kognitif dan kemampuan berbahasa. Kata merupakan
salah satu bentuk permainan yang membutuhkan ketelitian, melatih untuk
memusatkan pikiran, karena kita harus berkonstrasi ketika meyusun kepingan-
kepingan kata tersebut hingga menjadi sebuah gambar yang utuh dan lengkap.
Sehingga kata merupakan jenis permainan yang memiliki nilai-nilai edukatif.

2. TUJUAN
2.1 Tujuan Instruksional Umum
Setelah mengikuti terapi uno stacko dan bermain menyusun kata
diharapkan dapat mengurangi dampak stress hospitalisasi pada anak
2.2 Tujuan Instruksional Khusus
Dengan mengikuti terapi bermain menyusun kata, diharapkan dapat:
1) Melatih kemampuan kognitif anak.
2) Melatih kemampuan motorik halus anak.
3) Melatih kemampuan sosial personal anak.
4) Melatih kemampuan berbahasa anak.

3. SASARAN
1) Anak usia prasekolah (4-11 tahun)
2) Anak yang dirawat di ruang Bona 1

3
3) Tidak mempunyai keterbatasan (fisik atau akibat terapi lain) yang dapat
menghalangi proses terapi bermain.
4) Kooperatif dan mampu mengikuti proses kegiatan sampai selesai.
5) Anak yang mau berpartisipasi dalam terapi bermain menyusun kata.
6) Anak dengan kondisi TTV yang stabil
7) Orang tua yang mengijinkan anaknya untuk mengikuti kegiatan terapi
bermain

4. JADWAL PELAKSANAAN

1) Hari / Tanggal : Kamis, 28 Juni 2018


2) Waktu : 10.00 WIB
3) Tempat : Ruang Inap Anak Bona 1 RSUD Dr Soetomo Surabaya

5. MEDIA
1) Kata
2) Karpet
3) Permainan Uno Stacko

6. METODE
Puzzle Menyunsun Kata
1) Anak diberi penjelasan tentang prosedur pelaksanaan terapi bermain yang
meliputi waktu kegiatan, cara membuat, serta hal-hal lain yang terkait
dengan program terapi bermain.
2) Diawal permainan, anak diperkenalkan dengan kata, lalu diberikan
penjelasan mengenai cara bermain kata.
3) Setelah itu dengan panduan leader, anak diminta untuk mengamati terlebih
dahulu gambar yang ada di dalam kata, memencar kepingan kata,
menyusun kembali kepingan kata sesuai gambar semula dengan benar.
4) Fasilitator mendampingi dan mengarahkan anak selama bermain kata
berlangsung.
5) Ibu dapat berperan sebagai fasilitator, tetapi tidak boleh ikut terlibat dalam
kegiatan membentuk mainan.

4
6) Setelah waktu yang ditentukan untuk terapi bermain habis, anak
dipersilahkan untuk berhenti, dan diberikan pujian atas keterlibatan anak
selama terapi bermain berlangsung.
7) Observer melakukan pengamatan dan memberikan evaluasi terhadap
perilaku anak dan proses jalannya terapi bermain.
8) Setelah anak selesai menyusun kata, anak diharapkan untuk bercerita
tentang gambar yang ada di dalam kata sesuai dengan imajinasi anak.
9) Pada akhir kegiatan diberikan pengumuman hasil bangun terbaik dan
memberikan bangun tersebut sebagai reward.
10) Kemudian fasilitator mengembalikan hasil karya mereka dan memberikan
pujian kepada semua peserta sebagai reward.

Permainan Uno Stacko


1) Anak diberi penjelasan tentang prosedur pelaksanaan terapi bermain yang
meliputi waktu kegiatan, cara membuat, serta hal-hal lain yang terkait
dengan program terapi bermain.
2) Kemudian dicontohkan, yang pertama dengan bergantian sesuai arah
jarum jam untuk mengambil balok 1 dan kemudian di letakkan diatas, dan
begitu seterusnya
3) Pemain yang kedua mengikuti sesuai dengan simbol pada balok yang telah
diambil oleh pemain sebelumnya
4) Permainan berjalan terus sampai tumpukan balok mulai goyang dan jatuh.

7. KEGIATAN PERMAINAN
No. Waktu Kegiatan Respon Anak
1. H-1 Persiapan :
kegiatan 1. Menyiapkan ruangan
2. Mengundang anak dan Ruangan, alat, anak
H-1 keluarga dan keluarga siap
kegiatan 3. Menyiapkan alat-alat
4. Menyiapkan anak dan
10 menit
membagi kelompok

2 Pembukaan :
1. Mengucapkan salam
dan memperkenalkan 1) Mendengarkan

5
diri kontrak
2. Menyampaikan 2) Mendengarkan
tujuan dan maksud tujuan dari
dari kegiatan penyuluhan
3. Menjelaskan kontrak 3) Mendengarkan
waktu dan kontrak.
mekanisme kegiatan 4) Mendengarkan
bermain. instruksi
4. Menjelaskan cara
bermain menyusun
kata.
3. 30 Menit Pelaksanaan :
1. Mengajak anak bermain Bermain bersama
menyusun kata. dengan antusias.
2. Fasilitator
mendampingi anak dan
memberikan motivasi
kepada anak.
3. Menanyakan kepada
anak apakah sudah
selesai dalam
menyusun kata.
4. Memberitahu anak
bahwa waktu yang
diberikan telah selesai.
5. Memberikan pujian
terhadap anak yang
mampu menyusun
sampai selesai.
4. 10 Menit Evaluasi :
1. Melakukan review Anak mendengarkan
pengalaman bermain dan merespon
menyusun kata dengan menjawab
2. Mengidentifiasi kesan dan
kejadian yang berkesan pengalamannya
selama bermain selama bermain ular
3. Menganalisis kesan tangga
yang didapat oleh anak
4. Menyimpulkan
kegiatan acara

6
Penanggung
No. Waktu Kegiatan peserta
Jawab

1. 3 menit Pembukaan:
Membuka kegiatan dengan mengucapkan
1. salam
2. Memperkenalkan diri
Galuh
3. Menjelaskan tujuan dari kegiatan
4. Menyebutkan materi yang akan diberikan
5. Mengontrak waktu kepada responden

2. 25 menit Pelaksanaan:
Melakukan permainan uno stacko sesuai
dengan Galuh
standar operasional prosedur (SOP)

3. 2 menit Terminasi:
1. Mengucapkan terima kasih Galuh
2. Mengakhiri dengan salam

8. PENGORGANISASIAN
Pembimbing Pendidikan : Ibu Ilya Krisnana, S. Kep., Ns., [Link]
Pembimbing Klinik : Ibu Endah, S. Kep., Ns
Leader : Galih Adhi Wicaksono
Co Leader : Silvi Lusiana S
Tri Retno W
R. Hesea Rochmatillah
Getrudis Fransisca Diaz
Observer & Notulen : Galuh Rachmawati
9. JOB DESCRIPTION
1) Leader
Bertanggung jawab terhadap terlaksananya terapi bermain, yaitu membuka
dan menutup kegiatan ini.
2) Co Leader

7
Menjelaskan pelaksanaan dan mendemonstrasikan aturan dan cara bermain
dalam terapi bermain.
3) Fasilitator
- Memfasilitasi anak untuk bermain.
- Membimbing anak bermain.
- Memperhatikan respon anak saat bermain.
- Mengajak anak untuk bersosialisasi dengan temannya.
4) Observer
- Mengawasi jalannya permainan.
- Mencatat proses permainan disesuaikan dengan rencana.
- Mencatat situasi penghambat dan pendukung proses bermain.
- Menyusun laporan dan menilai hasil permainan dibantu dengan Leader
dan fasilitator.

10. SETTING TEMPAT


Terapi bermain ini dilakukan di Ruang Hematologi Bona Lantai 1 dengan
setting tempat sebagai berikut :

11. KRITERIA EVALUASI


1. Evaluasi struktur
1) Kesiapan media dan tempat
2) Penyelenggaraan penyuluhan dilakukan di Ruang Bona lantai 1 RSUD Dr.
Soetomo Surabaya

8
3) Pengorganisasian penyelenggaraan penyuluhan dilakukan sebelum terapi
bermain dilaksanakan.
2. Evaluasi proses
1) Leader dapat memimpin jalannya permainan, dilakukan dengan tertib dan
teratur
2) Co. Leader dapat membantu tugas Leader dengan baik
3) Fasilitator dapat memfasilitasi dan memotivasi anak dalam permainan
4) 100 % anak dapat mengikuti permainan secara aktif dari awal sampai akhir
3. Evaluasi Hasil
1) Peserta memahami permainan yang telah dimainkan.
2) Anak telah belajar memecahkan masalah melalui eksplorasi alat
mainannya
3) Anak dapat mengembangkan hubungan social, komunikasi dan belajar
untuk sabar dan saling menghargai.
4) Anak merasa terlepas dari ketegangan dan stress selama hospitalisasi, anak
dapat mengalihkan rasa sakitnya pada permainannya(distraksi dan
relaksasi)
5) Anak dapat berintraksi dengan anak lain dan perawat.
6) Jumlah peserta 10-15 orang.

9
LAMPIRAN MATERI KONSEP BERMAIN

2.1 Pengertian Bermain


Bermain adalah dunia anak-anak sebagai bahasa yang paling universal,
meskipun tidak pernah dimasukkan sebagai salah satu dari ribuan bahasa yang ada
di dunia. Melalui bermain, anak-anak dapat mengekspresikan apapun yang
mereka inginkan. Menurut Groos (Schaefer et al, 1991) bermain dipandang
sebagai ekspresi insting untuk berlatih peran di masa mendatang yang penting
untuk bertahan hidup (Nuryanti, 2007).
Bermain adalah cerminan kemampuan fisik, intelektual, emosional dan
sosial dan bermain merupakan media yang baik untuk belajar karena dengan
bermain, anak akan berkata-kata, belajar memnyesuaikan diri dengan lingkungan,
melakukan apa yang dapat dilakukan, dan mengenal waktu, jarak, serta suara
(Wong, 2000).

2.2 Fungsi Bermain


1. Membantu Perkembangan Sensorik dan Motorik
Fungsi bermain pada anak ini adalah dapat dilakukan dengan melakukan
rangsangan pada sensorik dan motorik melalui rangsangan ini aktifitas anak dapat
mengeksplorasikan alam sekitarnya sebagai contoh bayi dapat dilakukan
rangsangan taktil,audio dan visual melalui rangsangan ini perkembangan sensorik
dan motorik akan meningkat. Hal tersebut dapat dicontohkan sejak lahir anak
yang telah dikenalkan atau dirangsang visualnya maka anak di kemudian hari
kemampuan visualnya akan lebih menonjol seperti lebih cepat mengenal sesuatu
yang baru dilihatnya. Demikian juga pendengaran, apabila sejak bayi dikenalkan
atau dirangsang melalui suara-suara maka daya pendengaran di kemudian hari
anak lebih cepat berkembang.
2. Membantu Perkembangan Kognitif
Perkembangan kognitif dapat dirangsang melalui permainan. Hal ini dapat
terlihat pada saat anak bermain, maka anak akan mencoba melakukan komunikasi
dengan bahasa anak, mampu memahami obyek permainan seperti dunia tempat
tinggal, mampu membedakan khayalan dan kenyataan, mampu belajar warna,
memahami bentuk ukuran dan berbagai manfaat benda yang digunakan dalam

10
permainan,sehingga fungsi bermain pada model demikian akan meningkatkan
perkembangan kognitif selanjutnya.
3. Meningkatkan Sosialisasi Anak
Proses sosialisasi dapat terjadi melalui permainan, sebagai contoh dimana
pada usia bayi anak akan merasakan kesenangan terhadap kehadiran orang lain
dan merasakan ada teman yang dunianya sama, pada usia toddler anak sudah
mencoba bermain dengan sesamanya dan ini sudah mulai proses sosialisasi satu
dengan yang lain, kemudian bermain peran seperti bermain-main berpura-pura
menjadi seorang guru, jadi seorang anak, menjadi seorang bapak, menjadi seorang
ibu dan lain-lain, kemudian pada usia prasekolah sudah mulai menyadari akan
keberadaan teman sebaya sehingga harapan anak mampu melakukan sosialisasi
dengan teman dan orang.
4. Meningkatkan Kreatifitas
Bermain juga dapat berfungsi dalam peningkatan kreatifitas, dimana anak
mulai belajar menciptakan sesuatu dari permainan yang ada dan mampu
memodifikasi objek yang akan digunakan dalam permainan sehingga anak akan
lebih kreatif melalui model permainan ini, seperti bermain bongkar pasang mobil-
mobilan.
5. Meningkatkan Kesadaran Diri
Bermain pada anak akan memberikan kemampuan pada anak untuk
ekplorasi tubuh dan merasakan dirinya sadar dengan orang lain yang merupakan
bagian dari individu yang saling berhubungan, anak mau belajar mengatur
perilaku, membandingkan dengan perilaku orang lain.
6. Mempunyai Nilai Terapeutik
Bermain dapat menjadikan diri anak lebih senang dan nyaman sehingga
adanya stres dan ketegangan dapat dihindarkan, mengingat bermain dapat
menghibur diri anak terhadap dunianya.
7. Mempunyai Nilai Moral Pada Anak
Bermain juga dapat memberikan nilai moral tersendiri kepada anak, hal ini
dapat dijumpai anak sudah mampu belajar benar atau salah dari budaya di rumah,
di sekolah dan ketika berinteraksi dengan temannya, dan juga ada beberapa

11
permainan yang memiliki aturan-aturan yang harus dilakukan tidak boleh
dilanggar.

2.3 Tujuan Bermain


Melalui fungsi yang terurai diatas, pada prinsipnya bermain mempunyai
tujuan sebagai berikut :
1. Untuk melanjutkan pertumbuhan dan perkembangan yang normal pada saat
sakit anak mengalami gangguan dalam pertumbuhan dan perkembangannya.
Walaupun demikian, selama anak dirawat di rumah sakit, kegiatan stimulasi
pertumbuhan dan perkembangan masih harus tetap dilanjutkan untuk menjaga
kesinambungannya.
2. Mengekspresikan perasaan, keinginan, dan fantasi serta ide-idenya.
3. Mengembangkan kreativitas dan kemampuannya memecahkan masalah.
4. Dapat beradaptasi secara efektif terhadap stress karena sakit dan dirawat
dirumah sakit.

2.4 Manfaat Bermain


Bermain merupakan aktivitas penting pada masa anak-anak. Berikut ini
adalah bererapa manfaat bermain pada anak-anak :
1) Perkembangan aspek fisik. Anggota tubuh mendapat kesempatan untuk
digerakkan, anak dapat menyalurkan tenaga (energi) yang berlebihan,
sehingga ia tidak merasa gelisah.
2) Perkembangan aspek motorik kasar dan halus.
3) Perkembangan aspek sosial. Ia akan belajar tentang sistem nilai, kebiasaan-
kebiasaan dan standar moral yang dianut oleh masyarakat.
4) Perkembangan aspek emosi atau kepribadian. Anak mendapat kesempatan
untuk melepaskan ketegangan yang dialami, perasaan tertekan dan
menyalurkan dorongan-dorongan yang muncul dalam dirinya.
5) Perkembangan aspek kognisi. Anak belajar konsep dasar, mengembangkan
daya cipta, memahami kata-kata yang diucapkan oleh teman-temannya.
6) Mengasah ketajaman penginderaan, menjadikan anak kreatif, kritis dan bukan
anak yang acuh tak acuh terhadap kejadian disekelilingnya.

12
7) Sebagai media terapi, selama bermain perilaku anak-anak akan tampil bebas
dan bermain adalah sesuatu yang secara alamiah sudah dimiliki oleh seorang
anak.
8) Sebagai media intervensi, untuk melatih kemampuan-kemampuan tertentu dan
sering digunakan untuk melatih konsentrasi pada tugas tertentu, melatih
konsep dasar.

2.5 Macam - Macam Bermain


1. Bermain aktif
Pada permainan ini anak berperan secara aktif, kesenangan diperoleh dari apa
yang diperbuat oleh mereka sendiri. Bermain aktif meliputi :
a. Bermain mengamati/menyelidiki (Exploratory Play)
Perhatian pertama anak pada alat bermain adalah memeriksa alat permainan
tersebut, memperhatikan, mengocok-ocok apakah ada bunyi, mencium,
meraba, menekan dan kadang-kadang berusaha membongkar.
b. Bermain konstruksi (Construction Play)
Pada anak umur 3 tahun dapat menyusun balok-balok menjadi rumah-rumahan.
c. Bermain drama (Dramatic Play)
Misalnya adalah bermain sandiwara boneka, main rumah-rumahan dengan
teman-temannya.
d. Bermain fisik
Misalnya bermain bola, bermain tali dan lain-lain.
2. Bermain pasif
Pada permainan ini anak bermain pasif antara lain dengan melihat dan
mendengar. Permainan ini cocok apabila anak sudah lelah bernmain aktif dan
membutuhkan sesuatu untuk mengatasi kebosanan dan keletihannya.
Dalam kegiatan bermain kadang tidak dapat dicapai keseimbangan dalam
bermain, yaitu apabila terdapat hal-hal seperti dibawah ini :
a. Kesehatan anak menurun.
b. Tidak ada variasi dari alat permainan.
c. Tidak ada kesempatan belajar dari alat permainannya.
d. Tidak mempunyai teman bermain.

13
2.6 Prinsip dalam Aktivitas Bermain
Menurut Soetjiningsih (1995), agar anak-anak dapat bermain dengan
maksimal, maka diperlukan hal-hal seperti:
a. Ekstra energi, untuk bermain diperlukan energi ekstra. Anak-anak yang sakit
kecil kemungkinan untuk melakukan permainan.
b. Waktu, anak harus mempunyai waktu yang cukup untuk bermain sehingga
stimulus yang diberikan dapat optimal.
c. Alat permainan, untuk bermain alat permainan harus disesuaikan dengan usia
dan tahap perkembangan anak serta memiliki unsur edukatif bagi anak.
d. Ruang untuk bermain, bermain dapat dilakukan di mana saja, di ruang tamu,
halaman, bahkan di tempat tidur.
e. Pengetahuan cara bermain, dengan mengetahui cara bermain maka anak akan
lebih terarah dan pengetahuan anak akan lebih berkembang dalam menggunakan
alat permainan tersebut.
f. Teman bermain, teman bermain diperlukan untuk mengembangkan sosialisasi
anak dan membantu anak dalam menghadapi perbedaan. Bila permainan
dilakukan bersama dengan orangtua, maka hubungan orangtua dan anak menjadi
lebih akrab.

2.7 Faktor yang Mempengaruhi Aktivitas Bermain


Menurut Supartini (2004), ada beberapa faktor yang mempengaruhi anak
dalam bermain yaitu:
a. Tahap perkembangan anak, aktivitas bermain yang tepat dilakukan anak yaitu
harus sesuai dengan tahapan pertumbuhan dan perkembangan anak, karena pada
dasarnya permainan adalah alat stimulasi pertumbuhan dan perkembangan anak.
b. Status kesehatan anak, untuk melakukan aktivitas bermain diperlukan energi
bukan berarti anak tidak perlu bermain pada saat anak sedang sakit.
c. Jenis kelamin anak, semua alat permainan dapat digunakan oleh anak laki-laki
atau anak perempuan untuk mengembangkan daya pikir, imajinasi, kreativitas dan
kemampuan sosial anak. Akan tetapi, permainan adalah salah satu alat untuk
membantu anak mengenal identitas diri.
d. Lingkungan yang mendukung, dapat menstimulasi imajinasi anak dan
kreativitas anak dalam bermain.

14
e. Alat dan jenis permainan yang cocok, harus sesuai dengan tahap tumbuh
kembang anak.

2.8 Konsep Puzzel


Puzzel berasal dari bahasa Inggris yang berarti teka-teki atau bongkar
pasang, media kata merupakan media sederhana yang dimainkan dengan bongkar
pasang. Berdasarkan pengertian tentang media puzzel, maka dapat disimpulkan
bahwa media kata merupakan alat permainan edukatif yang dapat merangsang
kemampuan matematika anak, yang dimainkan dengan cara membongkar pasang
kepingan kata berdasarkan pasangannya.
Ada beberapa jenis kata, antara lain:
a. Puzzel konstruksi
Puzzel rakitan (construction kata) merupakan kumpulan potongan-
potongan yang terpisah, yang dapat digabungkan kembali menjadi beberapa
model. Mainan rakitan yang paling umum adalah blok-blok kayu sederhana
berwarna-warni. Mainan rakitan ini sesuai untuk anak yang suka bekerja dengan
tangan, suka memecahkan kata, dan suka berimajinasi.
b. Puzzel batang (stick)
Puzzel batang merupakan permainan teka-teki matematika sederhana
namun memerlukan pemikiran kritis dan penalaran yang baik untuk
menyelesaikannya. Kata batang ada yang dimainkan dengan cara membuat bentuk
sesuai yang kita inginkan ataupun menyusun gambar yang terdapat pada batang
kata.
c. Puzzel lantai
Puzzel lantai terbuat dari bahan sponge (karet/busa) sehingga baik untuk
alas bermain anak dibandingkan harus bermain di atas keramik. Kata lantai
memiliki desain yang sangat menarik dan tersedia banyak pilihan warna yang
cemerlang. Juga dapat merangsang kreativitas dan melatih kemampuan berpikir
anak. Kata lantai sangat mudah dibersihkan dan tahan lama.
d. Puzzel angka
Mainan ini bermanfaat untuk mengenalkan angka. Selain itu anak dapat
melatih kemampuan berpikir logisnya dengan menyusun angka sesuai urutannya.

15
Selain itu, kata angka bermanfaat untuk melatih koordinasi mata dengan tangan,
melatih motorik halus serta menstimulasi kerja otak.
e. Puzzel transportasi
Transportasi merupakan permainan bongkar pasang yang memiliki gambar
berbagai macam kendaraan darat, laut dan udara. Fungsinya selain untuk melatih
motorik anak, juga untuk stimulasi otak kanan dan otak kiri. Anak akan lebih
mengetahui macam-macam kendaraan.
f. Puzzel logika
Puzzel logika merupakan kata gambar yang dapat mengembangkan
keterampilan serta anak akan berlatih untuk memecahkan masalah. Kata ini
dimainkan dengan cara menyusun kepingan kata hingga membentuk suatu gambar
yang utuh.
g. Puzzel geometri
Puzzel geometri merupakan kata yang dapat mengembangkan
keterampilan mengenali bentuk geometri (segitiga, lingkaran, persegi dan lain-
lain), selain itu anak akan dilatih untuk mencocokkan kepingan kata geometri
sesuai dengan papan katanya.
h. Puzzel Penjumlahan dan Pengurangan
Kata penjumlahan dan pengurangan merupakan kata yang dapat
mengembangkan kemampuan logika matematika anak. Dengan kata penjumlahan
dan pengurangan anak memasangkan kepingan kata sesuai dengan gambar
pasangannya.

Fungsi Puzzel
Permainan kata berfungsi untuk:
a. Melatih konsentrasi, ketelitian dan kesabaran
b. Melatih koordinasi mata dan tangan. Anak belajar mencocokkan keping-keping
kata dan menyusunnya menjadi satu gambar.
c. Memperkuat daya ingat
d. Mengenalkan anak pada konsep hubungan
e. Dengan memilih gambar/bentuk, dapat melatih anak untuk berfikir matematis
(menggunakan otak kiri).

16
Definisi permainan uno stacko
Uno stacko adalah Permainan menyusun balok-balok
membentuk menara dengan mengambi balok dari bagian bawah
atau tengah menara dan meletakkannya di puncak menara secara
bergantian tanpa boleh merobohkan menara atau menjatuhkan
balok lain (Wikipedia 2017).

2.4.3 Cara bermain uno stacko


Cara bermain uno stacko (Wikipedia 2017) :
1. Siapkan menara uno stacko yang ada. Permainan ini untuk 2-10
pemain.
2. Pemain pertama mengambil sebuah balok dari bagian bawah
atau tengah menara dan meletakkannya di bagian atas
menara. Pemain berikutnya harus mengambil balok dengan
warna yang sama dengan nomor apa saja atau balok dengan
angka yang sama dengan warna apa saja.
3. Apabila balok dengan tanda 'reserve' dipindahkan maka arah
permainan dibalik. Sedangkan balok tanda 'draw two'
mengharuskan pemain memindahkan 2 balok langsung ke
atas menara. Balok dengan tanda 'skip' berarti pemain
tersebut dilewati oleh pemain berikutnya. Dan ketika balok
warna ungu diambil maka pemain tersebut harus
menyebutkan warna balok apa yang harus diambil pemain
berikutnya.
4. Permainan berakhir apabila menara roboh dan pemain yang
menyebabkan robohnya menaralah yang kalah.

2.4.4 Manfaat bermain uno stacko


Beberapa manfaat bermain uno Stacko antara lain (Fathani
2015):
1. Meningkatkan keterampilan kognitif

17
Kognitif keterampilan kognitif (cognitive skill) berkaitan
dengan kemampuan untuk belajar dan memecahkan masalah.
Dengan bermain uno stacko para pemain akan mencoba
memecahkan masalah yaitu menyusun balok secara teratur
dan rapi.
2. Meningkatkan keterampilan motorik
Motorik halus keterampilan motorik halus (fine motor skill)
berkaitan dengan kemampuan menggunakan otot-otot
kecilnya khususnya tangan dan jari-jari tangan. Supaya balok
dapat tersusun membentuk bangunan maka bagian-bagian
balok harus disusun secara hati-hati.
3. Meningkatkan keterampilan sosial.
Keterampilan sosial berkaitan dengan kemampuan
berinteraksi dengan orang lain. Uno stacko dapat dimainkan
secara perorangan. Namun uno stacko dapat pula dimainkan
secara kelompok. Permainan yang dilakukan oleh secara
kelompok akan meningkatkan interaksi sosial antara
pemainnya. Dalam kelompok, anggota akan saling
menghargai, saling membantu dan berdiskusi satu sama lain.
4. Melatih kesabaran
Bermain uno stacko membutuhkan ketekunan, kesabaran dan
memerlukan waktu untuk berpikir dalam menyelesaikan
tantangan.
5. Meningkatkan konsentrasi
Bermain uno stacko membutuhkan konsentrasi ketika akan
memindahkan balok uno stacko keatas, karena jika tidak hati-
hati akan menyebabkan tumpukan uno stacko tersebut roboh
dan permainan selesai.

18
DAFTAR PUSTAKA

Soetjiningsih, 1995, Tumbuh Kembang Anak, Jakarta : EGC


Wong, Donna L. 2003. Pedoman Klinis Keperawatan Pediatrik, Edisi 4. Jakarta :
EGC.
Depkes (2013) Profil Kesehatan Indonesia. Jakarta: Departemen Kesehatan
Republik Indonesia.
Dinkes Surabaya (2015) Profil Kesehatan tahun 2015. Surabaya.
Kozier et al. (2015) Fundamental Of Nursing Concept, Process, and Practice. 8th
Edition. New Jersey: Prearson Prentice Hall.

19
Lembar Observasi Pelaksanaan Terapi Bermain

NO Aspek yang Dinilai Ya Tidak


I Struktur Terapi Bermain
1. Persiapan media terapi bermain
1. Kotak Kata
2. Tikar
2 Kelengkapan jumlah mahasiswa:
a. Leader (1)
b. Co-leader (1)
c. Fasilitator (3)
d. Observer (1)
II Proses Terapi Bermain
1. Pembukaan, Leader :
a. Membuka acara terapi bermain dengan mengucapkan
salam
b. Memperkenalkan diri dan meminta peserta
menyebutkan nama
c. Menjelaskan kontrak waktu
d. Menjelaskan permainan apa yang akan dilakukan dan
tujuan terapi bermain
e. Memberikan contoh kepada peserta cara bermain
kata
f. Memimpin jalannya permainan dari awal sampai
akhir
2. Pelaksanaan
Co-leader :
a. Membantu Leader menjelaskan cara bermain kepada
peserta
b. Membantu Leader memberikan contoh kepada
peserta cara bermain kata
c. Memberikan kesempatan pada peserta untuk ikut
memulai permainan
d. Mengatur waktu permainan
Fasilitator :
a. Mengarahkan peserta untuk bermain
b. Memotivasi peserta dalam menyelesaikan permainan
c. Membantu leader dalam mengkondisikan peserta agar
fokus pada jalannya permainan
Pelaksanaan terapi berlangsung tepat waktu

3. Evaluasi : observer
a. Memberikan Check list pada lembar evaluasi
kemajuan peserta
b. Memberikan penilaian kemampuan anak berdasarkan
kriteria di lembar evaluasi kemajuan.
4. Terminasi :
20
a. Memberikan reward kepada peserta terbaik oleh
leader, dan fasilitator
b. Memberikan trik penyelesaian tugas dalam
permainan kata
c. Leader mengucapkan terima kasih
III Hasil Terapi Bermain
1. Peserta Terapi Bermain :
a. Peserta terapi bermain antusias mengikuti kegiatan
terapi bermain
b. Peserta mengikuti terapi bermain sampai dengan
selesai.
c. Anak mampu menyelesaikan setidaknya menyusun
semua kepingan pada tahap sulit, dan mampu
menyusun setidak separo kepingan ringan dan sedang
dalam waktu yang telah ditentukan

21
Lembar Evaluasi Kemajuan

Kategori kemampuan anak Penilaian An... An... An... An... An... An... An... An...
Kognitif
- Anak mampu mengerti dan menjelaskan pesan
yang terkandung dalam permainan
- Anak mampu menyelesaikan tugas dalam
permainan dalam berbagai tahapan: Total
a) Tahap ringan Kriteria
b) Tahap sedang
c) Tahap sulit
Sosial
- Anak mau memperkenalkan diri di depan teman
sepermainan
- Anak mampu berkomunikasi baik dengan teman Total
sepermainan Kriteria
- Anak dapat berkomunikasi baik dengan perawat

Afektif
- Anak dapat mematuhi peraturan permainan

Total
Kriteria
Jumlah akhir
Keterangan skor: Kriteria tiap kategori:
0 : Tidak dapat melakukan Baik : jumlah skor 17-24
1 : Dapat melakukan dengan bantuan Cukup : jumlah skor 9-16
2 : Dapat melakukan dengan motivasi Kurang : jumlah skor 0-8
3 : Melakukan dengan mandiri

22
23
24

Anda mungkin juga menyukai