Analisis Karburator Racing PWK 24
Analisis Karburator Racing PWK 24
PROPOSAL SKRIPSI
UNTUK MEMENUHI TUGAS MATAKULIAH
Metodologi Penelitian
Yang diampu oleh Prof. Dr. H. Amat Mukhadis, [Link].
Oleh:
Noor Fauzi
(160513609629)
PENDAHULUAN
Di era globalisasi ini sarana transportasi merupakan sarana yang sangat dibutuhkan oleh
masyarakat. Seiring dengan perkembangan zaman sarana transportasi selalu meningkat tajam
dari tahun ke tahun baik dilihat dari segi teknologi maupun ekonomi. Kebutuhan masyarakat
terhadap sarana transportasi yang semakin meningkat diimbangi dengan munculnya berbagai
macam produk-produk baru dari pabrikan otomotif di luar negeri. Dimana kendaraan-kendaraan
dalam berkendara.
bakar bensin sangat pesat sekali. Produsen mobil bensin telah membuat dan meningkatkan
kinerja engine bensin terutama merubah sistem pengapian yang memiliki efisiensi jauh lebih
besar dari sebelumnya dan lebih memudahkan dalam perawatan”. Menurut BOGOR,
teknologi saat ini, segala upaya untuk meningkatkan performa mesin melalui modifikasi di
sistem pembakaran merupakan solusi yang terus-menerus dilakukan di dunia otomotif saat ini.
Upaya yang dilakukan dalam perbaikan sistem pembakaran adalah dengan cara mengatur ulang
Dewasa ini banyak sekali bermunculan produk-produk aftermarket yang belum diketahui
kualitasnya dan tidak ada standar resmi pembuatannya. Munculnya produk-produk aftermarket
ini juga diimbangi dengan banyak beredarnya iklan-iklan yang menyebutkan bahwa jika
menggunakan produk-produk ini maka performa mesin sepeda motor akan meningkat secara
maksimal. Pernyataan di atas membuat banyak dari sebagian masyarakat terpengaruh untuk
Di dunia otomotif untuk meningkatkan performa mesin yang masih system konvensional
atau yang sering disebut dengan system pembakaran karburator bisa didapatkan dengan
memaksimalkan pembakaran yang terjadi di ruang bakar. Hal ini bisa dilakukan dengan
memaksimalkan kinerja dari karburator guna memperbesar campuran bahan bakar guna
memperbesar daya yang diperoleh setelah pembakaran. Pembakaran yang sempurna akan
menyebabkan kinerja motor menjadi meningkat. Penggunaan bahan bakar yang mempunyai nilai
oktan yang lebih tinggi juga bisa mempengaruhi daya yang dihasilkan oleh mesin pula.
Berikut komponen-komponen sistem bahan bakar yang telah dikembangkan, antara lain
karburator performance tinggi, karburator standar skep lingkaran dan karbuarator racing skep
lingkaran dan persegi panjang. Semua komponen sistem bahan bakar tersebut berfungsi untuk
memaksimalkan pembakaran yang terjadi di ruang bakar agar campuran udara dan bahan bakar
Oleh karena itu peneliti tertarik untuk menggunakan karburator racing dengan merk
kawahara pwk 24 sebagai piranti yang bertugas untuk memperkuat pencampuran bahan bakar
dan udara yang masuk keruang bakar sehingga daya yang dihasilkan menjadi optimal. Dengan
mengetahui seberapa besar taraf signifikansi perbedaan daya yang dihasilkan antara motor yang
menggunakan koil standar dengan yang menggunakan karburator racing, maka akan dapat
disimpulkan dampak positif dan negatif dari penggunaan antara karburator standar dan
karburator racing tersebut. Atas dasar hal tersebut peneliti akan melakukan penelitian dengan
judul “Analisis Penggunaan Karburator Racing terhadap Daya pada Sepeda Motor”.
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian latar belakang di atas, maka rumusan masalah dalam penelitian ini
1. Bagaimana daya yang dihasilkan sebuah sepeda motor yang menggunakan karburator
standar?
2. Bagaimana daya yang dihasilkan sebuah sepeda motor yang menggunakan karburator racing
3. Apakah ada perbedaan daya yang dihasilkan antara sepeda motor yang menggunakan
karburator standar dengan yang menggunakan karburator racing pwk kawahara 24?
C. Tujuan Penelitian
Sesuai dengan latar belakang dan rumusan masalah yang dikemukakan di atas, maka
1. Mengetahui daya yang dihasilkan sebuah sepeda motor yang menggunakan karburator
standar.
2. Mengetahui daya yang dihasilkan sebuah sepeda motor yang menggunakan karburator
3. Menemukan adanya perbedaan daya yang dihasilkan antara sepeda motor yang
kawahara 24.
D. Kegunaan Penelitian
1. Kegunaan Teoritis
Penelitian ini diharapkan dapat digunakan untuk menambah kajian ilmu bidang teoritis
berupa kajian mengenai daya yang dihasilkan sepeda motor setelah menggunakan karburator
racing.
2. Kegunaan Praktis
Penelitian ini diharapkan menjadi salah satu rujukan bagi jurusan Teknik Mesin untuk
b. Bagi Peneliti/Pengembang
Penelitian ini diharapkan menjadi rujukan dalam bidang otomotif khususnya perlakuan
pada ruang bakar untuk penyempurnaan pembakaran agar daya yang dihasilkan
meningkat. Serta menjadi rujukan bagi penelitian selanjutnya yang berkaitan dengan
E. Batasan Penelitian
Guna memberikan lingkup penelitian yang jelas, maka berikut ini merupakan batasan-
1. Penelitian dilakukan pada sepeda motor dengan menggunakan alat engine dyno.
a. Sepeda motor bebek 4 tak Yamaha Vega R tahun 2005 110 cc dalam keadaan paling
mendekati standar.
c. Jenis bahan bakar yang digunakan adalah pertalite dari SPBU terdekat.
G. Definisi Operasional
1. Analisis adalah sebuah proses menguraikan dan penelahaan antar bagian dalam suatu
masalah guna mendapatkan pemahaman yang benar atas penyelesaian permasalahan tersebut
secara menyeluruh.
2. Karburator standar adalah komponen sistem bahan bakar yang bertugas untuk meningkatkan
campuran bahan bakar dan udara yang masuk kedalam ruang bakar. Dengan perbandiang
3. Karburator racing/aftermarket adalah komponen system bahan bakar yang venturi dan
ukuranya lebih besar dari karburator standar. Dapat menghasilkan daya lebih dengan
4. Daya adalah tenaga/kerja yang dihasilkan oleh sebuah motor per satuan waktu. Daya
memiliki satuan horsepower (Hp) dan dapat diukur dengan menggunakan engine dyno.
BAB II
KAJIAN PUSTAKA
A. Motor Bensin
Motor bensin merupakan salah satu dari tipe motor pembakaran dalam (internal
combustion engine), dimana pembakaran terjadi di dalam motor bakar itu sendiri dan energi
panas yang dihasilkan diubah menjadi energi mekanik. Menurut Suyanto (1989:20) motor bensin
adalah jenis motor pembakaran dalam yang saat ini banyak digunakan sebagai sumber tenaga
dari alat transportasi darat, baik itu motor bensin 4 tak maupun 2 tak. Tenaga yang dihasilkan
oleh motor bensin didapatkan dari pembakaran yang terjadi di ruang bakar, dimana bahan bakar
dan udara yang dikompresikan dibatasi oleh dinding silinder sehingga tekanan di dalam ruang
bakar meningkat dan tekanan inilah yang kemudian diubah menjadi tenaga untuk menggerakkan
sebuah motor. Pembakaran campuran udara dan bahan bakar yang terjadi di ruang bakar dibantu
Menurut Soenarta dan Furuhama (1995:6) gas pembakaran dari campuran bahan bakar
dan udara akan mendorong torak menuju ke bawah dan memutar poros engkol sehingga
menghasilkan daya dengan melalui proses konversi energi. Alur dari pembakaran yang terjadi di
ruang bakar sehingga menghasilkan daya putar dapat dilihat pada gambar :
Pembakaran campuran
bahan bakar dan udara Gerak lurus torak
[Link]
+sistem+pembakaran+dalam,online_chips
Prinsip kerja dari motor bensin dapat diuraikan sebagai berikut: campuran udara dan
bahan bakar dihisap ke dalam silinder melalui gerakan piston dari atas ke bawah, kemudian
campuran udara dan bahan bakar tersebut dimampatkan oleh piston yang bergerak naik ke atas.
Saat campuran bahan bakar dan udara terbakar dengan adanya percikan bunga api dari busi,
maka akan menghasilkan tekanan gas pembakaran yang sangat besar di dalam silinder. Dimana
tekanan gas pembakaran ini mendorong piston menuju ke bawah. Gerakan naik turun piston di
dalam silinder diubah oleh gerak putar dari poros engkol melalui batang piston. Sehingga gerak
putar dari poros engkol dapat menghasilkan tenaga untuk menggerakkan sebuah kendaraan.
Kemudian campuran bahan bakar dan udara yang telah terbakar (gas sisa pembakaran) harus
dikeluarkan dari dalam silinder melalui gerakan dari piston, dan hal ini berlangsung secara
periodik.
Menurut Suyatno (2010:23) kerja periodik yang terjadi di dalam silinder dimulai dari
pemasukan campuran bahan bakar dan udara, kompresi, pembakaran dan pengeluaran gas sisa
pembakaran dari dalam silinder disebut dengan siklus mesin. Untuk lebih memahami prinsip
kerja dari motor bensin dapat dilihat pada gambar 2.2 di halaman 11:
Gambar 2.2 Prinsip Kerja Motor Bensin
(Sumber: Suyatno, 2010:23)
Posisi tertinggi yang bisa dicapai oleh piston di dalam silinder disebut Titik Mati Atas
(TMA) dan posisi terendah yang bisa dicapai oleh piston disebut Titik Mati Bawah (TMB),
sedangkan jarak bergeraknya piston antara TMA dan TMB disebut dengan langkah piston
(Toyota, 2010:92).
Gede (2010:17) berdasarkan siklus kerjanya motor bensin terbagi menjadi 2 jenis yakni
motor bensin 4 tak (4 langkah) dan motor bensin 2 tak (2 langkah). Motor bensin 4 tak adalah
motor bensin yang tiap siklusnya memerlukan empat kali langkah piston, dua putaran poros
engkol untuk menghasilkan satu kali usaha. Sedangkan motor bensin 2 tak adalah motor bensin
yang tiap siklusnya memerlukan dua kali langkah piston, satu putaran poros engkol untuk
Motor bensin 4 tak memerlukan empat langkah piston untuk menghasilkan satu kali
usaha dalam tiap siklusnya. Prinsip kerja motor bensin 4 tak terdiri dari empat langkah piston
yakni: langkah hisap, langkah kompresi, langkah usaha, dan langkah buang.
Menurut Suyanto (1989:21-24), Daryanto (1991:1), Soenarta dan Furuhama (1995:7-8),
Toyota (2010:93) dan Suyatno (2011:13) serta beberapa para ahli menjabarkan langkah-langkah
a. Langkah Hisap
Dalam langkah ini katup hisap terbuka dan piston bergerak dari titik mati atas (TMA)
menuju ke titik mati bawah (TMB), dimana hal ini menyebabkan kevakuman di dalam silinder.
Dari kevakuman tersebut mengakibatkan campuran bahan bakar dan udara terhisap masuk ke
dalam silinder.
b. Langkah Kompresi
Dalam langkah ini katup hisap dan katup buang tertutup rapat dan piston bergerak dari
TMB menuju TMA. Dengan bergeraknya piston menuju TMA maka campuran bahan bakar dan
udara yang telah terhisap tadi dikompresikan, sehingga terjadi peningkatan tekanan dan
temperatur yang menyebabkan campuran mudah terbakar. Pada saat ini poros engkol telah
berputar 360˚ sehingga posisi piston telah kembali pada posisi TMA.
Gambar 2.4 Langkah Kompresi
(Sumber: Suyatno, 2011:13)
c. Langkah Usaha
Dalam langkah ini posisi katup hisap dan katup buang masih tertutup rapat. Pada saat
langkah kompresi sesaat sebelum piston mencapai TMA busi memercikkan bunga api dan
membakar campuran bahan bakar dan udara yang telah dikompresikan. Dengan terjadinya
pembakaran ini tekanan gas pembakaran yang tinggi mendorong piston ke bawah sehingga
terjadi langkah usaha dimana mesin dapat menghasilkan tenaga untuk menggerakkan sebuah
kendaraan.
d. Langkah Buang
Dalam langkah ini katup buang terbuka dan piston bergerak dari TMB menuju ke TMA
untuk mendorong gas sisa pembakaran keluar dari dalam silinder. Dengan berakhirnya langkah
buang maka piston kembali pada posisi TMA, sehingga secara keseluruhan piston telah bergerak
empat langkah dan poros engkol sudah berputar 720˚ untuk menyelesaikan satu siklus kerja.
Setelah langkah buang berakhir maka siklus kerja akan dilanjutkan lagi dengan memulai langkah
hisap, dimana hal ini akan berlangsung secara periodik selama motor dihidupkan.
digunakan siklus udara sebagai siklus ideal. Pada siklus udara menggunakan keadaan yang sama
seperti pada keadaan siklus yang sebenarnya. Siklus udara volume konstan (siklus otto) dapat
digambarkan dengan diagram Pv seperti terlihat pada gambar 2.7 di halaman 15.
Arismunandar (2005:14) berikut keterangan mengenai proses siklus pada gambar 2.7
adalah sebagai berikut: 1) fluida kerja dianggap sebagai gas ideal dengan kalor spesifik yang
konstan, 2) langkah hisap (0-1) merupakan proses tekanan-konstan, 3) langkah kompresi (1-2)
adalah proses isentropik, 4) proses pembakaran volume-konstan (2-3) dianggap sebagai proses
pemasukan kalor pada volume-konstan, 5) langkah kerja/usaha (3-4) adalah proses isentropik, 6)
proses pembuangan (4-1) dianggap sebagai proses pengeluaran kalor pada volume-konstan, 7)
langkah buang (1-0) adalah proses tekanan-konstan, 8) siklus dianggap ‘tertutup’ yang artinya
siklus ini berlangsung dengan fluida kerja yang sama atau gas yang berada di dalam silinder pada
titik 1 dapat dikeluarkan dari dalam silinder pada waktu langkah buang, tetapi pada langkah
Pembakaran yang terjadi dalam sebuah motor bakar akan menentukan besarnya tenaga
yang dihasilkan oleh motor tersebut (Suyanto, 1989:248). Tenaga yang dihasilkan oleh motor
merupakan hasil dari pembakaran yang terjadi di dalam silinder. Pembakaran pada motor bensin
terjadi dengan diawali dari terhisapnya campuran bahan bakar dan udara ke dalam silinder yang
kemudian dinyalakan dengan percikan bunga api dari busi, dimana proses ini terjadi pada saat
akhir langkah kompresi. Pembakaran yang terjadi pada motor bensin merupakan reaksi kimia
antara unsur CH atau hidrocarbon yang terkandung di dalam bahan bakar dengan oksigen.
Bahan bakar yang akan dibakar diambil hidrokarbon dengan rumus kimia C8H18 dan hasil
pembakaran yang dihasilkan berupa CO2 dan H2O, dimana tiap 100% udara yang masuk
terkandung 20-30% N2 dan 70-80% O2. Menurut Suyanto (1989:250-251) persamaan kimia dari
Dimana pembakaran yang terjadi akan diiringi dengan peningkatan suhu pembakaran
yang berkisar antara 2100˚K sampai 2500˚K dalam ruang bakar (Arends dan Berenschot,
1980:60). Sehingga hasil reaksi kimia yang terjadi akan diubah menjadi tenaga mekanis untuk
menghasilkan daya pada sebuah motor bensin. Soenarta dan Furuhama (1995:8) menyatakan
“dalam proses pembakaran maka tiap macam bahan bakar selalu membutuhkan sejumlah udara
tertentu agar bahan bakar tadi dapat dibakar secara sempurna”. Perbandingan campuran bahan
bakar dan udara yang tepat ketika dalam proses pembakaran merupakan hal yang mutlak
dibutuhkan untuk mendapatkan pembakaran yang sempurna di dalam ruang bakar. Secara teoritis
campuran bahan bakar dan udara yang tepat agar dihasilkan pembakaran yang sempurna adalah
14,8-15:1. Dimana 14,8-15 adalah jumlah berat udara dalam campuran tersebut, sedangkan satu
merupakan kandungan berat bahan bakarnya. Jika jumlah berat udara dalam campuran lebih
banyak dari angka di atas, misalnya perbandingan campuran udara dan bahan bakar adalah 18:1
maka disebut dengan campuran kurus. Sedangkan apabila jumlah berat udara lebih kecil dari
angka perbandingan di atas, misalnya 12:1 maka disebut dengan campuran gemuk. Dimana baik
campuran kurus maupun campuran gemuk tidak bisa menghasilkan pembakaran yang sempurna
dalam ruang bakar. Agar lebih jelas dampak perbandingan campuran bahan bakar dan udara
terhadap prestasi motor dapat dilihat pada gambar 2.8 di bawah ini:
Gambar 2.8 Dampak Perbandingan Campuran terhadap Prestasi Motor
(Sumber: Soenarta dan Furuhama, 1995:22)
a. Proses Pembakaran
Proses pembakaran adalah proses secara fisik yang terjadi di dalam silinder selama
tahap yang harus dilalui, yaitu: penyalaan, pembakaran eksplosif, tekanan pembakaran
maksimum, dan akhir pembakaran. Tahap awal proses pembakaran dimulai saat busi
memercikkan bunga api di dalam silinder yang berisi campuran bahan bakar dan udara yang
Pada gambar 2.9 titik satu menunjukkan saat busi memercikkan bunga api masih belum
tampak adanya kenaikan tekanan di dalam silinder tepat 23˚ sebelum TMA. Disamping itu
pembakaran juga belum terjadi di titik ini. Saat busi memercikkan bunga api ada jeda waktu
sesaat sebelum dimulainya pembakaran yang ditunjukkan pada titik satu sampai titik dua. Jeda
waktu tersebut dinamakan ignition delay atau keterlambatan pembakaran. Ignition delay terjadi
karena diperlukannya waktu agar campuran bahan bakar dan udara bereaksi terhadap percikan
bunga api dari busi. Setelah itu baru pembakaran dimulai dan dilanjutkan dengan penyebaran api
Gambar 2.9 Pembakaran dan Perubahan Tekanan di dalam Silinder Motor Bensin (Sumber:
Suyanto, 1989:253)
Terjadi peningkatan tekanan secara drastis di dalam silinder tepat setelah bahan bakar
mulai terbakar, yaitu setelah titik dua. Menurut Suyanto (1989:256) tekanan tertinggi dicapai saat
torak berada pada 10,4˚ setelah TMA yakni 348 psi. Tekanan maksimum pada titik tiga akan
mendorong piston ke bawah sehingga poros engkol bisa berputar dan menghasilkan daya.
Pembakaran ini akan tetap berlangsung hingga titik empat yakni titik dimana pembakaran
berakhir.
Sistem penyaluran bahan bakar dengan sendiri diterapkan pada sepeda motor yang masih
menggunakan karburator (sistem bahan bakar konvensional). Pada sistem ini tidak diperlukan
pompa bahan bakar dan penempatan tangki bahan bakar biasanya lebih tinggi dari karburator.
Sedangkan sistem penyaluran bahan bakar dengan tekanan terdapat pada sepeda motor yang
menggunakan sistem bahan bakar injeksi atau EFI (electronic fuel injection). Dalam sistem ini,
peran karburator yang terdapat pada sistem bahan bakar konvensional diganti oleh injektor yang
proses kerjanya dikontrol oleh unit pengontrol elektronik atau dikenal ECU (electronic control
Pada paparan diatas adalah perbandingancampuran pada mesin ataupun komponen keseluruhan
B. Sistem Pembakaran
Daryanto (2004:37) Untuk menjalankan pembakaran, mesin perlu tiga komponen yakni
bahan bakar, udara dan api. Api akan disuplai oleh busi sementara bahan bakar dan udara harus
disuplai secara bersama atau tercampur. Karburator merupakan komponen untuk mencampur
Pembakaran dapat sempurna jika udara dan bahan bakar dalam perbandingan yang ideal atau
campuran yang mudah terbakar dengan nyala api dan semua oksigen dan bahan bakar terbakar
tampa sisa. Dengan demikian komponen dan kualitas komponen yang aada dapat menentukan
performa yang akan dihasilkan setelah pembakaran terjadi. Maka dari itulah perlu diketahui
a. Tangki bensin
Tangki bensin berfungsi untuk menyimpan persediaan bensin sebelum disalurkan ke dalam
sistem bahan bakar. Perhatikan bagian-bagian tangki bensin pada gambar di bawah ini.
Di bagian luar tangki terdapat lubang masuk untuk pengisian bensin dan pipa-pipa penyaluaran
bensin ke dan dari karburator. Adapun bagian dalam tangki terdapat: dinding pemisah (separator)
yang berfungsi sebagai goncangan bensin saat kendaraan berhenti mendadak atau berjalan
dijalan yang kasar. pengukur isi bensin (fuel sender gauge) untuk mengetahui jumlah isi bensin
didalam tangki.
Saringan bensin berfungsi menyaring kotoran yang terkandung dalam bensin sebelum diisap
oleh pompa bensin dan disalurkan ke karburator. Saringan bensin yang sudah penuh dengan
kotoran tidak dapat diperbaiki, tetapi harus diganti dalam satuan unit. Saringan bensin yang
terutama pada saat mesin kecepatan tinggi atau pada saat beban yang sangat besar.
c. Charcoal canister
Pada beberapa model mesin bensin, sistem bahan bakar dilengkapi dengan charcoal canister
yang berfungsi menampung sementara gas HC (hidrokarbon), yang berbahaya, yang biasa
dihasilkan dari dalam tangki bensin. Gas HC ini tidak boleh dikeluarkan ke udara luar. Charcoal
canister manampung sementara gas HC yang berbahaya itu dan memisahkannya dari uap bensin.
Pada saat mesin hidup, gas tersebut di alirkan keruang bakar melalui karburator kemudian
dibakar.
d. Pompa bensin
Pompa bensin berfungsi mengisap bensin dari tangki dan menyalurkannya ke karburator.
Pompa bensin yang digunakan pada mobil ada dua macam, yaitu pompa bensin mekanik dan
pompa bensin elekrik. Pada pompa bensin mekanik, terdapat membran yang berfungsi mengisap
dan menekan bensin. Membran digerakkan oleh tuas penggerak, sedangkan tuas pengerak sendiri
e. Saringan udara
Saringan udara berfungsi menyaring udara yang akan masuk ke karburator. Perhatikan
Bensin dan udara yang sudah dicampur pada karburator, disalurakan ke dalam silinder
melalui manifold masuk (intake manifold). Adapun gas sisa pembakaran dikeluarkan ke pipa
Pipa gas buang berfungsi menyalurkan gas bekas pembakaran dari manifold keluar.
Sementara itu knalpot berfungsi meredam suara agar pipa gas buang tidak mengeluarkan suara.
h. Karburator
Udara dan bensin dicampur di dalam karburator, sehingga menghasilkan campuran yang
sesuai dengan kondisi kerja mesin. Gambar dibawah memperlihatkan konstruksi dasar sebuah
karburator model turun. Karburator model arus turun ini paling banyak dipakai pada kendaraan
mobil. Bentuk dasar karburator terdiri atas ruang pencampur dan ruang pelampung. Pada ruang
pencampur terdapat venturi, nosel, dan katup gas, sedangkan pada ruang pelampung terdapat
katup jarum dan pelampung. Prinsip kerja dari karburator ini ialah sebagai berikut: Ketika piston
sedang langkah isap dan katup gas dibuka, udara masuk di saluran atas ke dalam silinder melalui
venturi. Di daerah venturi, udara menjadi bertekanan lebih rendah dibandingkan di ruang
pelampung. Akibatnnya perbedaan tekanan ini, maka bensin dari ruang pelampung akan
mengalir ke venturi melalui nosel, kemudian bensin dan udara bercampur hingga berbentuk
kabut. Di dalam Karburator terdapat beberapa sistem, yaitu sistem pelampung, sistem stasioner
dan kecepatan rendah, sistem kecepatan tinggi primer, sistem kecepatan tinggi sekunder, sistem
daya besar, sistem percepatan, sistem cuk, katup termostat, dan katup solenoid.
karburator itu sendiri dan didalamnya masih terdapat bagian-bagian yang berukuran kecil tetapi
Proses pembakaran pada mesin merupakan proses oksidasi cepat bahan bakar disertai dengan
produksi panas, atau energi dan cahaya. Ada tiga faktor pembakaran yaitu temperatur, Oxigen
(udara), dan bahan bakar. Tanpa tiga faktor ini maka pembakaran tidak akan sempurna. Syarat
terjadinya proses pembakaran pada mesin yang baik pada suatu motor adalah :
Sebagai ilustrasi dari proses pembakaran pada mesin yang menghasilkan tenaga dalam mesin
adalah, jika bahan bakar yang ada di dalam panci diberi api, bahan bakar tersebut akan terbakar,
tetapi tidak meledak tapi jika bahan bakar itu terbakar di dalam tabung yang tertutup gas
pembakaran ia akan berekspansi dan menekan tutup tabung, maka ia disini menghasilkan tenaga.
Proses pembakaran pada mesin memerlukan waktu untuk kelangsungannya, dan oleh karena itu
Karburator racing merupakan bagian terpenting dari sepeda motor yang mampu menopang
kinerja dan tenaga maupun daya. Hampir semua sepeda motor menggunakan karburator karena
umumnya sepeda motor menggunakan bensin sebagai bahan bakar. Karena itu karburator yang
baik harus mampu membuat gas yang sempurna dan sesuai dengan kebutuhan mesin. untuk
pencampuran gas, menurut teoritis adalah 1:15 artinya 1 gram bensin di campur dengan 15 gram
udara. Apabila perbandingan campurannya lebih dari 1:15 misal 1:18 dikatakan campuran
miskin 1:12 di katakan campuran kaya. Dengan karburatoe venture ini yang berukuran yaitu 24
mm.
[Link]
dilengkapi-power-jet?page=all
Konstruksi dan prinsip dasar kerja karburator yang pada umumnya di gunakan pada sepeda
motor telihat seperti pada gambar dibawah . Karburator seperti ini sering juga disebut karburator
amal type yang mempunyai katup gas atau Throttle Valve yang berbentuk piston atau skep . Pada
prinsip kerjanya karburator mirip dengan semprotan nyamuk yang bertugas mengubah cairan
atau bahan bakar menjadi berbentuk kabut dengan mengandalkan kevakuman ketika piston
[Link]
Karena kevakuman ini udara mengalir kedalam silinder melalui karburator . Banyaknya udara
yang masuk diatur oleh besar kecilnya bukaan skep atau throttle valve yang dikendalikan oleh
tarikan kabel gas . Semakin membuka maka semakin banyak udara yang masuk . Udara yang
masuk bergerak lebih cepat ketika melalui venturi atau bagian lubang sempit pada lubang utama
[ main bore ] karburator . Udara yng bergerak ini bertekanan sangat rendah [ vakum ] sehingga
butiran bensin terpaksa keluar dari mulut [ nozzle ] mengarah menuju silinder. Jika dilihat
sekilah kontruksinya hamper sama dengan karburator stndar, tetapi yang membedakan adalah
ukuran dan banyaknya komsumsi bahan bakar yang membuat karburator ini banyak diburu untuk
Kawahara PWK Carburator Racing Motor Universal [24 mm] adalah karbu racing berbentuk
kotak dengan venturi 24 mm yang dapat digunakan untuk semua motor 4 tak maupun 2 tak.
Karbu ini telah dilengkapi dengan pilot jet, main jet, super jet serta selang bensin. Karbu
kawahara sangat cocok untuk menambah performa motor, dan karburator kawahara sangat
mudah di setting di semua motor. Maka dari itu banyak yang menggunakan karburator ini karena
Sedangkan kelemahannya yaitu, dari segi harga kaburator ini lebih mahal dari standarnya
dan untuk asumsi bahan bakar lebih boros. Tetapi dari berbagai mekanik sekarang sudah diakali
atau disetting sedemikian rupa sehingga antara karburator standard an karburator racing asusmsi
bahan bakarnya dimiripkan. Tetapi kembali lagi kekapasitas mesin masing-masing sepeda motor
24
Perbedaan karburator standar dan karburator racing akan dibagi menjadi 2 bagian, yaitu
dilihat dari konstruksi dan campuran yang dihasilkan. Dilihat dari konstruksi karburator
sebenarnya hampir tidak ada perbedaan bila hanya dilihat dari bentuk fisiknya, tetapi jika dilihat
dari dalam maka akan tampak bahwa ukuran dan lebar lubang hisapan udara dan ruang
pemcampuran pada karburator racing mempunyai ukuran yang lebih besar sehingga dapat
memacu daya yang lebih besar. Sedangkan perbedaan kedua karena ukuran yang sudah
dipaparkan diatas sehingga mempengaruhi campuran bahan bakar dan udara didalam ruang
bakar, semisal pada karburator standar memiliki perbandingan yaitu 10 : 1 maka pada karburator
racing mempunyai perbandiangan lebih besar yaitu 13 : 1. Kurang lebih seperti penjelasan diatas
D. Putaran Mesin
Putaran mesin merupakan hasil perubahan gerakan translasi batang piston akibat
terjadinya proses pembakaran dalam ruang bakar, dimana kemudian diubah menjadi gerak putar
oleh poros engkol (Sundoro, 2013:45). Semakin besar frekuensi pembakaran yang terjadi maka
akan semakin tinggi putaran mesin yang dihasilkan. Putaran mesin dapat diukur dengan
menggunakan alat tachometer dalam satuan rpm (revolution per minutes). Putaran mesin juga
𝑁 . 450000
n= (Arismunandar, 2005:25)
𝑃𝑒 . 𝑉𝐿 . 𝑧 . 𝑎
Keterangan:
n = putaran mesin (rpm)
N = daya motor (PS)
Pe = tekanan efektif rata-rata (kg/cm2)
VL = volume langkah piston (cm3)
z = jumlah silinder
a = jumlah siklus per putaran = 0,5 untuk motor 4 langkah
Terdapat tiga klasifikasi putaran mesin, yaitu putaran rendah (idle), putaran menengah,
Putaran mesin yang terjadi antara 800-1500 rpm termasuk dalam putaran rendah (idle).
Menurut Soenarta dan Furuhama (1995:22) perbandingan campuran bahan bakar dan udara pada
putaran rendah adalah 12:1, dimana posisi katup gas masih dalam keadaan tertutup.
2. Putaran Menengah
Soenarta dan Furuhama (1995:22) mengatakan ketika putaran menengah posisi katup gas
terbuka ± ½ - ¾, dimana perbandingan campuran bahan bakar dan udara adalah 14-15:1. Putaran
3. Putaran Tinggi
Putaran tinggi adalah putaran mesin yang terjadi antara 4000-6000 rpm, dimana pada
putaran ini posisi katup gas terbuka ± ¾ hingga terbuka penuh. Soenarta dan Furuhama
(1995:23) mengatakan pada putaran tinggi perbandingan campuran bahan bakar dan udara
adalah 16-18:1.
E. Daya
Daya dapat disebut juga sebagai power dari motor bakar. Daya dihasilkan ketika gerakan
piston akibat pembakaran yang terjadi di dalam ruang bakar menggerakkan poros engkol,
sehingga momen putar terjadi pada poros engkol guna menghasilkan daya pada motor (Agus dan
Fuhaid, 2009:58). Gede (2010:20) menyatakan “daya merupakan kerja atau energi yang
dihasilkan oleh mesin per satuan waktu mesin itu beroperasi”. Daya dapat diukur dengan
menggunakan alat engine dyno. Daya output ini dinyatakan dalam satuan Hp (US horsepower),
atau PS (metric horsepower), atau Kw (kilowatt) dimana 1 PS = 0,986 Hp = 0,736 Kw dan tiap 1
Hp = 0,746 Kw.
Untuk menghitung besarnya daya maka harus diketahui tekanan rata-rata dalam silinder
selama langkah usaha. Arends dan Berenschot (1980:18) menyatakan besarnya tekanan rata-rata
motor bensin 4 tak adalah 6-9 MPa, sedangkan pada motor diesel 4 tak adalah 5-8 MPa. Daya
yang dihitung dengan didasarkan pada tekanan rata-rata dalam silinder disebut dengan daya
indikator.
Tekanan rata-rata dinyatakan dengan lambang satuan P. Untuk menghitung gaya yang
terjadi pada piston maka tekanan rata-rata harus dikalikan dengan luas piston (Pi x A). Gaya
dinyatakan dalam newton sedangkan tekanan dinyatakan dalam pascal dan luas dinyatakan
dalam m2. Perlu diingat bahwa daya ditentukan dalam N.m/s (J/s = Watt) maka gaya tersebut
harus dikalikan dengan panjang langkah piston dalam meter dan frekuensi putarnya. Dengan
Pada motor 4 tak untuk menghasilkan satu kali langkah usaha membutuhkan dua kali
putaran poros engkol, maka rumus untuk motor 4 tak adalah sebagai berikut:
𝑝𝑖 . 𝐴 . 𝑠 . 𝑛
Pi = (Arends dan Berenschot, 1980:18)
2
Sedangkan pada motor 2 tak setiap satu kali langkah usaha membutuhkan satu kali
𝑝𝑖 . 𝐴 . 𝑠 . 𝑛
Pi = (Arends dan Berenschot, 1980:18)
1
Keterangan:
Pi = daya indikator dalam watt
pi = tekanan rata-rata indikator dalam pascal (N/m2)
A = luas piston dalam m2
s = langkah piston dalam m
n = frekuensi putar dalam hertz (Hz)
Daya efektif adalah daya untuk roda penerus. Dengan demikian untuk mendapatkan daya
Tekanan rata-rata motor 2 tak adalah kira-kira 0,7 kali dari motor 4 tak. Pada tekanan
silinder dan frekuensi putar yang sama maka tenaga motor 2 tak adalah 0,7 x 2 = 1,4 lebih besar
dari tenaga yang dihasilkan oleh motor 4 tak. Jika jumlah silinder dinyatakan dengan z, maka
𝑝𝑒 . 𝐴 . 𝑠 . 𝑛
Motor 4 tak: Pe = . z (watt) (Arends dan Berenschot, 1980:19)
2
mengukur momen putar dan tachometer untuk mengukur kecepatan putar poros engkol atau
putaran mesin.
𝜋. 𝑛 1 𝑇. 𝑛
Ne = . 𝑇. = (Hp) (Arismunandar, 2005:32)
30 75 716,2
Keterangan:
Ne = daya efektif (Hp)
T = torsi (kg.m)
n = putaran mesin (rpm)
Daya
Pembakaran yang terjadi di ruang bakar menentukan besarnya tenaga yang dihasilkan
motor (Suyanto, 1989:248). Sehingga performa/tenaga yang dihasilkan motor akan meningkat.
Ditopamg dengan adanya karburator racing sehingga dimana kinerja akan naik karena campuran
bahan bakar dan udara yang bertambah. Maka dari itu secara otomatis daya yang dihasilkan
semakin tinggi dengan catatan settingan sesuai atau mumpuni untuk kapasitas mesin masing-
masing pabrikan.
BAB III
METODE PENELITIAN
A. Rancangan Penelitian
(sintaks) penelitian secara eksplisit dan sistematis-sistematik serta dapat direplikasi, baik oleh
peneliti sendiri maupun peneliti lain. Penggunakan rancangan penelitian eksperimental lebih
bertujuan untuk mengungkapkan dan menguji signifikansi hubungan atau perbedaan dari
fenomena sebab-akibat. Secara sederhana rancangan penelitian ini dapat dilihat pada table bawah
ini:
Keterangan:
X1 = Penggunaan karburator standar
X2 = Penggunaan karburator racing
Y1 = Hasil pengukuran dengan penggunaan karburator standar
Y2 = Hasil pengukuran dengan penggunaan karburator racing
Dalam penelitian ini pengambilan data dilakukan untuk mengungkapkan data pada daya
yang dihasilkan sebagai akibat dari penggunaan koil standar dan koil racing pada putaran mesin
1500 rpm, 1750 rpm, 2000 rpm, 2250 rpm, 2500 rpm, 2750 rpm, 3000 rpm, 3250 rpm, 3500 rpm,
3750 rpm, 4000 rpm, 4250 rpm, dan 4500 rpm. Pada penelitian ini dilakukan pengambilan data
sebanyak 3 kali pada setiap putaran mesin. Variabel penelitian yang digunakan adalah:
1. Variabel Bebas
2. Variabel Terikat
a. Sepeda motor bebek 4 tak Yamaha Vega R tahun 2005 110 cc dalam keadaan paling
mendekati standar.
c. Jenis bahan bakar yang digunakan adalah pertalite dari SPBU terdekat.
Untuk mengetahui besarnya daya yang dihasilkan antara motor yang menggunakan
karburator standar dengan yang menggunakan karburator racing pada setiap putaran mesin,
maka penghitungan reratanya dilakukan dengan menggunakan metode statistik deskriptif sebagai
berikut:
∑𝑌
Mean (Y) = (Sudjana, 1996:69)
𝑛
Keterangan:
∑ Y= Jumlah data dari hasil perlakuan
n = Jumlah perlakuan
Tempat :
Waktu :
C. Langkah-langkah Penelitian
Pelaksanaan penelitian uji daya pada sepeda motor dilakukan dengan langkah-langkah
sebagai berikut:
1. Studi literatur dilakukan untuk mendapatkan informasi, data, dan teori yang berkaitan
dengan obyek penelitian misalkan tentang prinsip kerja motor bensin 4 tak, cara kerja sistem
pembakaran, proses pembakaran pada motor bensin 4 tak, pengaruh penggunaan karburator
2. Melakukan tune-up pada obyek penelitian agar didapatkan kondisi mesin yang paling
mendekati standar.
3. Menghidupkan mesin pada putaran idle selama ± 5 menit agar mesin mencapai suhu kerja
Data-data hasil pengujian penggunaan karburator racing terhadap daya pada sepeda motor
Daya (Hp)
Putaran mesin Pengujian
Koil Standar Koil Racing
1
2
1500 rpm
3
Rata-rata
1
2
1750 rpm
3
Rata-rata
1
2
2000 rpm
3
Rata-rata
1
2
2250 rpm
3
Rata-rata
2500 rpm 1
2
3
Rata-rata
1
2
2750 rpm
3
Rata-rata
1
2
3000 rpm
3
Rata-rata
1
2
3250 rpm
3
Rata-rata
1
2
3500 rpm
3
Rata-rata
1
2
3750 rpm
3
Rata-rata
1
2
4000 rpm
3
Rata-rata
1
2
4250 rpm
3
Rata-rata
1
2
4500 rpm
3
Rata-rata
5. Melakukan pembahasan hasil uji dan evaluasi perbandingan terhadap data hasil pengujian
penggunaan karburator racing terhadap daya yang dihasilkan pada sepeda motor.
Untuk lebih memahami langkah-langkah penelitian dapat dilihat pada diagram alir
Studi Literatur
Analisa Data
Pembahasan
Kesimpulan
Selesai
1. Spesifikasi Mesin
Spesifikasi mesin sepeda motor Yamaha Vega R 110 cc dapat dilihat pada tabel 3.3 di
bawah ini:
2. Bahan Pengujian
Bahan untuk pengujian dalam penelitian ini adalah karburator racing dengan merk
kawahara pwk 24 yang terbuat dari bahan allumunium dengan kualitas tinggi.
3. Alat Pengujian
a. Engine dyno
Alat yang digunakan untuk mengukur daya pada sepeda motor dalam satuan Hp
(horsepower).
b. Tachometer
Alat yang digunakan untuk mengukur putaran mesin dalam satuan rpm (revolution per
minutes).
Digunakan untuk melakukan tune-up pada sepeda motor agar didapatkan kondisi mesin
d. Kipas Angin
Digunakan untuk mendinginkan mesin sebagai pengganti hembusan angin dan menjaga suhu
kerja mesin.
4. Pelaksanaan Pengujian
a. Persiapan
Pada tahap persiapan dilakukan proses tune-up pada sepeda motor agar kondisi mesin
paling mendekati kondisi standar. Proses tune-up meliputi: pembersihan filter udara,
pembersihan dan penyetelan karburator, penggantian busi, penyetelan celah katup hisap dan
buang sesuai dengan standar pabrik, dan pengantian oli mesin. Selanjutnya mempersiapkan
osiloskop dan engine dyno untuk pengambilan data daya yang dihasilkan.
b. Urutan Pengujian
1) Memasang karburator standar pada obyek penelitian yaitu sepeda motor Yamaha Vega R
110cc.
4) Mesin dimatikan dan diistirahatkan selama ± 30 menit, setelah itu melepas koil standar dan
6) Melakukan urutan langkah pengujian seperti sebelumnya dan melakukan pengambilan data.
Pengujian daya
1) Memasang koil standar pada obyek penelitian yaitu sepeda motor Yamaha Vega R 110cc.
2) Menghidupkan mesin pada putaran idle selama ± 5 menit agar mesin bisa mencapai suhu
kerja.
3) Setelah mesin mencapai suhu kerja maka sepeda motor diletakkan pada alat ukur daya yakni
engine dyno.
4) Engine dyno diatur dengan menyetel jarak rpm terlebih dahulu. Engine dyno disetel pada
jarak antara 1000 rpm sampai dengan 5000 rpm. Penyetelan ini dimaksudkan agar engine
dyno membaca daya yang dihasilkan pada putaran mesin 1000 rpm sampai dengan 5000
rpm.
rpm, 2250 rpm, 2500 rpm, 2750 rpm, 3000 rpm, 3250 rpm, 3500 rpm, 3750 rpm, 4000 rpm,
7) Mesin dimatikan dan diistirahatkan selama ± 30 menit, setelah itu melepas karburator
9) Melakukan urutan langkah pengujian seperti sebelumnya dan melakukan pengambilan data.
E. Analisis Data
Analisis data digunakan untuk menghitung dan mengolah data hasil penelitian.
Berdasarkan permasalahan yang telah dijabarkan dalam hipotesis penelitian maka teknik analisis
data yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode statistik menggunakan uji Independent
Sample T Test. Independent Sample T Test akan menentukan apakah hipotesis penelitian tersebut
diterima atau ditolak. Persyaratan uji Independent Sample T Test adalah data yang dianalisis
harus terlebih dahulu dilakukan uji normalitas dan uji homogenitas. Uji normalitas dilakukan
untuk mengetahui apakah variabel yang diteliti berdistribusi normal atau tidak. Dalam penelitian
ini, peneliti menggunakan pengujian Kolmogrov Smirnov Test karena dalam penelitian terdapat
dua spesifikasi yaitu daya motor yang menggunakan karburator standard an daya motor yang
dilakukan untuk melihat adanya perbedaan varian dari masing-masing data atau tidak. Dengan
kata lain jika tidak ada perbedaan varian berarti data dinyatakan homogen tetapi jika ada
signifikan antara penggunaan karburator racing dan karburator standar pada sepeda motor
Yamaha Vega R 110cc terhadap daya yang dihasilkan dengan menggunakan metode
Independent Sample T Test dengan taraf signifikan 0,05 dan menggunakan program SPSS 17 for
Windows.
DAFTAR RUJUKAN
[Link]