0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
93 tayangan11 halaman

Sistem Penyelenggaraan Makanan Eropa

Dokumen tersebut membahas tentang perkembangan sistem penyelenggaraan makanan institusi di Eropa. Ia menjelaskan latar belakang dan sejarah perkembangan pelayanan makanan massal, serta klasifikasi berbagai jenis penyelenggaraan makanan institusi seperti industri, sosial, dan asrama beserta karakteristiknya.

Diunggah oleh

Dwi Saputro
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOC, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
93 tayangan11 halaman

Sistem Penyelenggaraan Makanan Eropa

Dokumen tersebut membahas tentang perkembangan sistem penyelenggaraan makanan institusi di Eropa. Ia menjelaskan latar belakang dan sejarah perkembangan pelayanan makanan massal, serta klasifikasi berbagai jenis penyelenggaraan makanan institusi seperti industri, sosial, dan asrama beserta karakteristiknya.

Diunggah oleh

Dwi Saputro
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOC, PDF, TXT atau baca online di Scribd

PERKEMBANGAN SISTEM PENYELENGGARAAN MAKANAN INSTITUSI DI EROPA

BAB I
PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG

Akhir-akhir ini pelayanan jasa kesehatan mengalami peningkatan dan kemajuan pesat
sesuai perkembangan zaman dan tuntutan masyarakat. Salah satu jasa pelayanan yang cukup
menonjol adalah jasa penyediaan makanan bagi masyarakat. Kegiatan jasa pelayanan ini sudah
berkembang sejak abad ke 19, tetapi jangkauan dan lingkupnya mulai berkembang pesat seiring
dengan kemajuan di berbagai bidang seperti iptek, pertanian, ekonomi, kesehatan dan sebagainya.
Kondisi ini, ditunjang pula dengan pergeseran pola pangan masyarakat sebagai akibat perubahan
gaya hidup mereka khususnya di negara-negara berkembang. Dewasa ini sebagian kelompok
masyarakat memenuhi kebutuhan makanannya di luar rumah, sehingga pelayanan makanan
massal merupakan tumpuan untuk memenuhi kebutuhan makanan mereka dan harus tersedia
segera (Anonim, 2011).
Manajemen adalah Suatu kegiatan pengelolaan yang diawali dengan proses perencanaan,
pengorganisasian, pelaksanaan dan pengawasan, yang mana keempat proses tersebut saling
mempunyai fungsi masing-masing untuk mencapai suatu tujuan organisasi.
Pangan adalah kebutuhan kebutuhan pokok manusia yang dibutuhkan setiap saat dan
memerlukan pengelolaan yang baik dan benar agar bermanfaat bagi tubuh. Menurut WHO, yang
dimaksud makanan adalah : “Food include all substances, whether in a natural state or in a
manufactured or prepared form, which are part of human diet.” Batasan makanan tersebut tidak
termasuk air, obat-obatan dan substansi-substansi yang diperlukan untuk tujuan pengobatan.
Penyelenggaraan makanan institusi adalah suatu rangkaian kegiatan mulai dari perencanaan menu
sampai dengan pendistribusian makanan kepada konsumen. Dalam hal ini termasuk pencatatan,
pelaporan, dan evaluasi dalam rangka pencapaian status kesehatan yang optimal melalui
pemberian diit yang tepat.
Penyelenggaraan makanan institusi merupakan suatu rangkaian kerja yang melibatkan
tenaga manusia, peralatan material, dan serta berbagai masukan lainnya. Selain itu di pengaruhi
oleh aspek-aspek tradisi sosial budaya masyarakat, kemajuan teknologi, dan pemenuhan nilai
biologis segolongan orang. Makanan merupakan salah satu kebutuhan utama manusia, baik
dilingkungan keluarga, maupun diluar lingkungan keluarga, salah satunya adalah penyelenggaraan
makanan di institusi (Mukrie, 1983 dalam Utari, 2009).
Tata laksana makanan adalah cara menata atau mengatur melaksanakan pembuatan
makanan sedemikian rupa, sehingga makanan menjadi kebutuhan yang sangat berarti untuk tubuh
manusia. Menu disusun, bahan makanan dipilih kemudian diolah dan disajikan. Itulah antara lain
kegiatan-kegiatan yang terdapat dalam tata laksana makanan (Maryati, 2000).
Di zaman dahulu tata laksana makanan tidak dikenal,manusia pada zaman itu memerlukan
makanan hanya untuk menghilangkan rasa lapar dan mempertahankan hidup. Karena itu
pengolahan dan penyajian makanan seperti sekarang tidak ada. Bahan makanan dimakan tanpa
diolah, kecuali bila perlu. Misalnya bahan makanan yang berasal dari hewani, dimakan setelah
dipanggang di atas bara (Maryati, 2000). Sesuai dengan kemajuan peradaban dan ilmu
pengetahuan, makanan kemudian dikenal sebagai kebutuhan mutlak, bukan saja untuk
menghilangkan rasa lapar dan kelangsungan hidup, tetapi juga untuk menjaga kesehatan dan
pertumbuhan badan yang pesat, baik jasmani maupun rohani. Karena itu bahan makanan
dibuat dan diatur sedemikian rupa, sehingga tidak saja dapat dicerna tetapi juga dapat
menimbulkan nafsu makan (Maryati, 2000).
Untuk maksud tersebut, kemudian mulai dilakukan penyusunan menu yang cocok untuk berbagai
keperluan, pemilihan bahan makanan yang tepat dan baik, cara pengolahan dengan berbagai
bumbu, kemudian cara penyajian hidangan yang menarik. Makin tinggi pengetahuan manusia,
makin banyak usaha yang dilakukan dalam tata laksana makanan agar makanan menjadi lebih
berguna untuk kepentingan tubuh (Maryati, 2000).
Keamanan pangan, masalah dan dampak penyimpangan mutu, serta kekuatan, kelemahan,
peluang dan ancaman dalam pengembangan sistem mutu industri pangan merupakan tanggung
jawab bersama antara pemerintah, industri dan konsumen, yang saat ini sudah harus memulai
mengantisipasinya dengan implementasi sistem mutu pangan. Karena di era pasar bebas ini
industri pangan Indonesia mau tidak mau sudah harus mampu bersaing dengan derasnya arus
masuk produk industri pangan negara lain yang telah mapan dalam sistem mutunya. Salah satu
sasaran pengembangan di bidang pangan adalah terjaminnya pangan yang dicirikan oleh
terbebasnya masyarakat dari jenis pangan yang berbahaya.

BAB II
PEMBAHASAN
A. Pengertian MSPMI
Penyelenggaraan berasal dari kata dasar “selengara” yang artinya “ menyelenggarakan,
mengurus, dan mengusahakan sesuatu, seperti: memelihara, merawat ”. (Ali, 1990:403). Jika
dikaitkan dengan makanan, maka penyelenggaraan makanan pada hakikatnya merupakan kegiatan
mengurus dan mengusahakan masalah makanan, atau proses pengolahan makanan pada satu jenis
kegiatan tertentu.
Menurut Moehyi (1992), penyelenggaraan makanan adalah suatu proses menyediakan
makanan dalam jumlah besar dengan alas an tertentu. Sedangkan Depkes (2003) menjelaskan
bahwa penyelenggaraan makanan adalah rangkaian kegiatan mulai dari perencanaan menu sampai
dengan pendistribusian makanan kepada konsumen dalam rangka pencapaiana status yang optimal
melalui pemberian makanan yang tepat dan termasuk kegiatan pencatatan, pelaporan, dan evaluasi
bertujuan untuk mencapai status kesehatan yang optimal melalui pemberian makan yang tepat
(Rahmawati, 2011).

B. Sejarah Dan Perkembangan Makanan Institusi


Penyelenggaraan makanan kelompok sudah dikenal sejak zaman dahulu kala. Dalam
pembuatan bangunan seperti kuil, candi, piramid atau benteng untuk melindungi negara dari
serangan musuh, sebagaimana halnya dengan Tembok Besar di Cina yang mempekerjakan
puluhan, ratusan bahkan mungkin ribuan orang, penyelenggaraan makanan bagi kelompok pekerja
bangunan ini sudah dilakukan di zaman itu. Demikian halnya pada waktu penyelenggaraan
berbagai upacara agama dan upacara adat, kegiatan penyelenggaraan makanan kelompok
merupakan kegiatan yang tidak di anggap remeh. Di Indonesia pada berbagi kegiatan upacara
seperti itu penyajian makanan merupakan suatu kegiatan pokok, baik sebagai ungkapan rasa
terima kasih kepada Maha Pencipta maupun sebagai ungkapan rasa hormat terhadap para tamu
yang hadir. Akan tetapi, penyelenggaraan makanan kelompok yang dilakukan pada masa itu belum
di kelola secara profesional dan jauh dari tujuan komersial. Penyelenggaraan pelayanan makanan
kelompok masih bersifat keramah tamahan (bospitality).

C. Klasifikasi Manajemen Pelayananan Makanan Institusi


Macam-macam pelayanan Gizi Institusi menurut klasifikasinya dibagi menjadi :
1. Pelayanan Gizi Institusi Industri (Tenaga Kerja)
Pelayanan gizi institusi industri atau tenaga kerja adalah suatu bentuk penyelenggaraan
makanan banyak yang sasarannya di pabrik, perusahaan atau perkantoran. Tujuannya adalah untuk
mencapai tingkat kesehatan dan stamina pekerja yang sebaik-baiknya, agar dapat diciptakan
suasana kerja yang memungkinkan tercapainya produktivitas kerja yang maksimal.
Yang termasuk golongan ini adalah pabrik, perusahaan, perkebunan, industri kecil diatas 100
karyawan, industri tekstil, perkantoran, bank dan sebagainya.
Karakteristiknya :
Standar makanan yang disediakan diperhitungkan sesuai dengan beban kerja dan lama pekerjaan
serta pertimbangan reaksi kerja. Dengan waktu kerja sekitar 8 jam tenaga kerja memerlukan
energi makanan yang mengandung 1/3 atau lebih makanan dari kebutuhan sehari.
Frekuensi makan berkisar 1-6 kali/hr dengan 1-3 kali makanan lengkap dan selebihnya makanan
selingan/minuman.
Waktu makan pada umumnya seperti waktu makan dirumah.
Pada saat pabrik tidak berproduksi, yaitu pada hari libur, maka pemberian makanan
ditiadakan/diganti bahan lain.
Diperlukan tenaga khusus yang mengelola makanan.
Jumlah yang harus dilayani harusnya etap, atau sedikit sekali perubahan.
Macam hidangan sederhana, tidak bnyak variasi dan sesuai dengan kemampuan perusahaan.
Pelayanan dapat dilakukan dengan berbagai cara, dan paling banyak dilakukan adalah anggunakan
tiket makanan yang bertanggal.
2. Pelayanan Gizi Institusi Sosial
Pelayanan Gizi Institusi Sosial adalah pelayanan gizi yang dilakukan oleh pemerintah atau
swasta yang berdasarkan azas sosial dan bantuan. Sedangkan makanan institusi sosial adalah
makanan yang dipersiapkan dan dikelola untuk masyarakat yang diasuhnya, tanpa
memperhitungkan keuntungan dari institusi tersebut.
Yang termasuk golongan ini adalah panti asuhan, panti jompo, panti tuna netra, tuna rungu,
dan lembaga sejeis lainnya yang menglola makanan institusi secara sosial.
Ciri-cirinya :
Pengelolaannya oleh atau mendapat bantuan dari Departemen Sosial atau badan-badan amal
lainnya.
Melayani sekelompok masyarakat dari usia 0 – 75 tahun, sehingga memerlukan kecukupan gizi
yang berbeda-beda.
Mempertimbangkan bentuk makanan, suka dan tidak suka anak asuh/klien menurut kondisi klien.
Harga makanan yang disajikan seyogyanya hargaya wajar, karena dana yang tersedia terbatas.
Kosumen mendapat makanan 2 – 3 kali sehari ditambah makanan selingan 1-2 kali sehari secara
kontinyu.
Macam konsumen yang dilayani, macam dan jumlahnya tetap.
Susunan hidangan sederhana dan variasi terbatas.

3. Pelayanan Gizi Institusi Asrama


Yang dimaksud dengan asrama diatas adalah tempat atau wadah yang diorganisir oleh
sekelompok masyarakat tertentu, yang mendapat pelayanan makanan secara kontinyu. Pelayanan
gizi yang dilakukan untuk memenuhi kebutuhan gizi masyarakat golongan tertentu yang tinggal di
asrama, seperti asrama pelajar, mahasiswa, ABRI, kursus dan sebagainya.
Ciri-cirinya :
Dikelola pemerintah ataupun peran serta masyarakat.
Standar gizi disesuaikan menurut kebutuhan golongan yang diasramakan serta disesuaikan dengan
sumber daya yang ada.
Melayani berbagai glongan umur ataupun sekelmpok usia tertentu.
Dapat bersifat komersial, memperhitungkan laba rugi Institusi, bila dipandang perlu dan terletak
diperdagangan/kota.
Frekuensi makan 2-3 kali, dengan atau tanpa makanan selingan.
Macam pelayanan makanan tergantung policy/peraturan asrama.
Tujuan penyediaan makanan lebih diarahkan untuk pencapaian status kesehatan penghuni.
4. Pelayanan Gizi Institusi Sekolah
Pelayanan gizi yang diperkirakan untuk memberikan makanan bagi anak sekolah, selama
berada disekolah, baik sekolah pemerintah ataupun swasta.
Fungsi Kantin makanan di sekolah :
Kantin harus memberikan pelayanan untuk makanan pagi, siang,dan sore.
Makanan yang disediakan harus bergizi.
Diarahkan untuk pendidikan dan perubahan perilaku anak terhadap makanan.
Lokasi atau ruang kantin disediakan sedemikian rupa agar anak-anak dapat mengembangkan
kreasinya dan mendiskusikan pelajarannya.
Makanan dipersiapkan dalam keadaan yang bersih dan seniter.
Menciptakan manajemen yang bauk sehingga dapat mencapai keseimbangan pembiayaan kantin
yang memadai.
5. Pelayanan Gizi Institusi Rumah Sakit
Pelayanan gizi yang diselenggarakan untuk memenuhi kebutuhan gizi dalam keadaan sakit
atau sehat selama mendapat perawatan. Termasuk klasifikasi ini adalah rumah sakit type A, B, C,
D, E, khusus, rumah sakit bersalin, balai pengobatan ataupun puskesmas perawatan.
Makanan untuk orang sakit mempunyai sifat khusus diantaranya :
Pengelola adalah pemilik rumah sakit, ataupun melalui badan atau bagian tertentu yang diserahi
tugas tersebut dengan tanggung jawab tetap berada pada pemilik.
Rumah sakit memiliki kelengkapan untuk sarana fisik, peralatan serta penunjang lain termasuk
sumber daya untuk pelaksanaannya.
Makanan yang disajikan adalah makanan penuh sehari 3 – 4 kali makan, dengan atau tanpa
selingan.
Standar makanan memuat standar makanan orang sakit sesuai dengan peraturan diet dan syarat
kesehatan yang disesuaikan dengan policy rumah sakit.
Konsumen dapat bervariasi dan jumlahnya tidak tetap dengan makanan yang juga berbeda dari
hari ke hari.
Harga makanan per porsi sesuai dengan ketetapan rumah sakit.
Frekuensi makan, waktu makan, macam pelayanan dan distribusi makanan disesuaikan menurut
peraturan rumah sakit yang berlaku.
Melayani kekhususan dari setiap individu terutama yag memerlukan makanan tertentu, dalam
jangkauan yang terbatas.
Dilakukan dengan batas tanggung jawab tenaga gizi ataupun tenaga terlatih dalam bidang gizi
dietetik.
Mekanisme penyelenggaraan
a. Perencanaan Anggaran Belanja :
Kegiatan penyusuanan biaya yang diperlukan untuk pengadaan bahan makanan bagi pasien yg
dilayani.
Tujuan : Tersedianya anggaran yg diperlukan utk pasien.
b. Perencanaan Menu :
Suatu kegiatan penyusunan menu yang diolah untuk memenuhi selera pasien dan kebutuhan zat
gizi yang memenuhi prinsip gizi seimbang.
Tujuan : Tersedianya siklus menu sesuai klasifikasi pelayanan yang ada di Rumah Sakit, misalnya
siklus menu 10 hari.
Prasyarat : Peraturan pemberian makanan rumah sakit ; standar porsi dan standar resep ; standar
bumbu.
c. Perhitungan Kebutuhan bahan makanan :
Kegiatan penyususnan yang diperlukan utk pengadaan bahan makanan
Tujuan : Tercapainya usulan anggaran dan kebutuhan bahan makanan utk pasien dlm 1 tahun
anggaran.
d. Pemesanan dan Pembelian bahan makanan :
Penyusunan dan permintaan bahan makanan berdasarkan menu dan rata-rata jumlah pasien yang
dilayani
Tujuan : Tersedianya daftar pesanan BM sesuai standar atau spesifikasi yg ditetapkan.
e. Penerimaan bahan makanan :
Kegiatan yg meliputi pemeriksaan/penelitian, pencatatan dan pelaporan ttg macam, kualitas dan
kuantitas BM yg diterima sesuai dgn pesanan serta spesifikasi yg telah ditetapkan.
Tujuan : tersdianya BM yg siap utk diolah.
f. Penyimpanan dan Penyaluran BM
Ø Penyimpanan : suatu tata cara menata, menyimpan, memelihara, keamanan bahan makanan
kering & basah baik kualitas maupun kuantitas di gudang bahan makanan kering dan basah serta
pencatatan dan pelaporannya.
Tujuan : tersedianya bahan makanan siap pakai dengan kualitas dan kuantitas yang tepat sesuai
perencanaan.
Ø Penyaluran : tata cara pendistribusian BM berdasarkan permintaan harian
Tujuan : tersedianya bahan makanan siap pakai dgn kualitas dan kuantitas yg tepat sesuai dgn
pemesanan.
g. Persiapan bahan makanan:
Serangkaian kegiatan dalam penanganan bahan makanan, yaitu meliputi berbagai proses seperti
membersihkan, memotong, mengupas, mengocok, merendam, dll.
Tujuan : mempersiapkan bahan makanan dan bumbu sebelum dilakukan proses pemasakan.
h. Pengolahan/Pemasakan bahan makanan :
Kegiatan mengubah bahan makanan mentah menjadi makanan yang siap dimakan, berkualitas dan
aman untuk dikonsumsi.
Tujuan :Mengurangi resiko kehilangan zat gizi makanan,meningkatkan nilai cerna, Meningkatkan
dan mempertahankan warna, rasa, keempukan dan penampilan., Bebas dari organisme dan zat
berbahaya.
2. Pendistribusian bahan makanan:
Serangkaian kegiatan penyaluran makanan sesuai jumlah porsi dan jenis makanan konsumen yg
dilayani
Tujuan : mendapatkan makanan sesuai diet dan ketentuan yg berlaku.

6. Pelayanan Gizi Institusi Komersial


Pelayanan gizi yang dipersiapkan untuk melayani kebutuhan masyarakat yang makan
diluar rumah, dengan mempertimbangkan aspek pelayanan, dan keutuhan konsumen.
Tanda-tandanya:
Pengelola adalah masyarakat umum ataupun kadang-kadang dibawah naungan pemerintah.
Manajemen pengelolaannya sudah jelas menurut kesepakatan pemiliknya.
Penyediaan makanan, macam dan frekuensinya tidak harus kontinyu.
Konsumen heterogen, dan menuntut tanggung jawab kesehatan yang lebih luas.
Makanan yang diasjikan, macam, dan variasinya tidak terikat oleh suatu peraturan termasuk mutu
gizinya.
Konsumen bebas memilih macam dan jumlah hidangannya dengan harga yang bervariasi.
Pelayanan makanan dapat self service/melayani makanan sendiri, dilayani dimeja, dilayani dengan
kereta makanan dan cara-cara lainnya yang telah ditetapkan pengelola atau pemilik Institusi
tersebut.
Dipersiapkan dengan standar sanitasi yang tinggi serta pelayanan yang maksimal menurut
kemapuan institusi tersebut.

7. Pelayanan Gizi Institusi Khusus


Bentuk atau macam pelayanan gizi bagi kelompok khusus ini adalah pelayanan gizi yang
diberikan bagi masyarakat di Pusat Latihan Olah Raga, asrama haji, penampungan transmigrasi,
kursus-kursus serta narapidana.
8. Pelayanan Gizi Untuk Kedaan Darurat
Dalam keadaan darurat, bila diperlukan diselenggarakan makanan missal untuk korban
bencana alam. Makanan matang dipersiapkan untuk jangka waktu yang relative singkat,
selanjutnya diteruskan pemberian makanan mentah hingga saat bencana diangga tidak
membahayakan lagi.
Karakteristiknya :
Standar makanan minimal mengandung 1500 – 1800 kalori sehari.
Menu sederhana, disesuaikan dengan bantuan pangan yang tersedia dan memperhitungkan
kecukupan gizi.
Frekuensi makan berkisar antara 2 – 3 kali sehari dengan atau tanpa makanan selingan.
Jumlah klien yang dilayani sering berubah karena pendekatannya dan mekanismenya belum
lancer.
Perlu tenaga yang cakap dan berpengalaman dalam mengelola makanan banyak.
Sistem tiket untuk pendistribusian makanan matang.

D. PERKEMBANGAN SPMI DI EROPA

1. PERKEMBANGAN SPM KOMERSIAL

Ø Penyelenggaran makanan kelompok secara lebih profesional baru dimulai pada pertengahan
abad ke-17 bersamaan dengan awal Revolusi Industri di Eropa. Saat itu dirasa perlu usaha untuk
meningkatkan produktivitas kerja para pekerja di berbagai industri. Salah satu upaya yang
dilakukan adalah memberikan makanan yang lebih baik sehingga diharapkan dapat meningkatkan
produktivitas pekerja. Robert Owen adalah salah satu tokoh industri di Eropa yang mempelopori
pemberian makanan bagi pekerja industri dengan pengelolaan yang baik, efektif dan efisien. Inilah
awal dari penyelenggaraan makanan industri (inflant food service). Karena berjasa
mengembangkan usaha penyelenggaraan makanan bagi para pekerja di berbagi pusat industri,
maka Robert Owen dianggap sebagai pelopor penyelenggaraan makanan institusi terutama di
pabrik-pabrik. Upaya nya itu kemudian menyebar bukan saja di daratan Eropa tetapi sampai juga
di Amerika Serikat. Penyelenggaraan makanan institusi mulai dikembangkan di berbagai industri
tekstil, bank dan sebagainya.
Penyelenggaraan makanan yang didasarkan atas kebutuhan karyawan akan zat gizi agar
memperoleh tingkat kesehatan yang optimal yang memungkinkan tercapainya produktivitas kerja
maksimal baru dilaksanakan pada awal abad ke -20. Secara kumulatif berbagai faktor telah
mendorog perkembagan penyelenggaraan makanan komersial, antara lain sebagi berikut :
ü Timbulnya kesadaran dan keyakinan para pengusaha industri bahwa pelayanan makanan di
institusi tempat karyawan bekerja akan meningkatkan produktivitas kerja karyawan. Dengan
berkembangnya berbagai jenis industri dan perusahaan yang mempekerjakan karyawan dalam
jumlah besar menjadikan usaha penyelenggaraan makanan komersial menjadi lebih berkembang.
ü Berbagai kemajuan sebagai hasil pembangunan telah membuka kesempatan bagi para wanita
untuk memperoleh pekerjaan di luar rumah. Terbatasnya waktu mereka di rumah tidak
memungkinkan mereka untuk menyipkan makanan di rumah.
ü Lokasi tempat bekerja yang jauh dari tempat pemukiman dan berbagai hambatan transportasi
tidak memungkinkan para karyawan pulang kerumah mereka untuk makan. Jasa pelayanan
makanan komersial merupakan satu-satunya pilihan untuk mengatasi maslah itu.
ü Pada masa lalu apabila sekarang ingin mengadakan perheletan, penyelenggaraan makanan
dilakukan secara bergotong-royong.
ü Berbeda dengan penyelenggaraan makanan komersial, penyelenggaraan makanan institusi non
komersial berkembang sangat lambat. Seperti telah dikemukakan terdahulu, berbagi keterbatasan
dalam penyelenggaraan makanan institusi non komersial merupakan penghambat bagi
berkembangnya pelayanan yang tidak terlatih, dan biaya yang terbatas menyebabkan
penyelenggaraan makanan institusi non komersial tidak mengalami kemajuan. Selain pengelolaan
juga banyak peralatan yang digunakan dalam penyelenggaraan makanan institusi non komersial
itu belum berubah. Hal ini yang menyebabkan penyelenggaraan makanan di berbagai institusi
selau terkesan kurang baik, seperti panti asuhan, lembaga pemasyarakatan, bahkan di asrama-
asrama pelajar.

Ø Penyelenggaraan Makanan di tempat hiburan dilakukan karena adanya wisatawan asing yang
berkunjung kesuatu negara, Seperti di Perancis misalnya dalam tahun 1976, Ada beberapa catatan
dari beberapa penelitian yang menyebutkan bahwa pengeluaran untuk makan dan minum
wisatawan banyak tergantung dari besar kecilnya nilai disposible income masing-masing keluarga
dalam masyarakat. Demikian pula halnya di Italia dalam priode yang sama melakukan
penyelenggaraan makanan di tempat hiburan.
Ø Hotel scribe paris managed by sofitel
Semua kamar 217 di hotel bintang-5 ini dirancang untuk memenuhi kebutuhan para tamu.
Terdapat ruangan bebas rokok, bar, fasilitas rapat , restoran. Hotel ini menyediakan fasilitas
bersantai dan rekreasi unggul. Terletak antara Opéra Garnier mewah dan terkenal Place Vendôme,
Hôtel Scribe Paris adalah sebuah hotel legendaris di jantung ibukota.
Ø Le Phenix Hotel (3 stars)
Le Phenix Hotel berjalan kaki 5 menit dari Old Lyon, dan 100 meter dari Stasiun Bus
Santo Paulus. Ini memiliki bar piano Sarapan dapat dilayani ke kamar tamu atau di ruang makan.
Ø Hotel Continental memiliki atmosfer yang hangat dan lokasi sentral di jantung kota Bordeaux.
Hotel ini menawarkan kamar-kamar yang nyaman, sarapan prasmanan gratis, Wi-Fi gratis,
minuman selamat datang, dan sebuah kotak makan siang. Hotel Continental bertempat di sebuah
bangunan abad ke-18 di jantung jalan semi-pejalan kaki di Bordeaux, dengan jajaran berbagai
butik dan kafe, serta dekat dengan Place des Grands Hommes.

Ø Les Quatre Temps


Ini mal yang menawarkan belanja ekspansif hebat di Paris barat. Banyak perusahaan ritel
menyediakan kepraktisan yang diinginkan, khususnya pakaian, dan banyak restoran yang
menyediakan makanan dengan kualitas yang baik dan harga yang terjangkau. Ini bukan di pusat
kota, tapi Les Temps Quatres, modern distrik La Défense, dan punya banyak mega-toko untuk
boot.

Ø Tempat Wisata kuliner


Kuliner Perancis memiliki cara memasak dan penyajian yang terdiri dari beberapa
kategori. Setiap dari tradisi masak ini mewakili budaya makan rakyatnya dan tiap-tiapnya
memiliki pendukung dan rumah makan spesialisnya masing-masing.
Jenis-jenis makanan kuliner di prancis :
· Cuisine bourgeoise("masakan klasik") adalah jenis kategori kuliner yang meliputi jenis
masakan-masakan klasik yang dahulunya merupakan jenis masakan daerah Jenis hidangan ini
terlihat penuh ragam dan menggunakan banyak saus krim.
· Haute cuisine atau Grande cuisine
adalah jenis masakan klasik yang disajikan dengan cara yang unik dan ekstrem. Ciri khasnya
adalah elegan, ramai, mewah, cenderung berat dikarenakan penggunaan krim yang
banyak. Tampilan hidangan pun diperhatikan dengan cermat, misalnya sayuran harus dipotong
dengan ukuran yang tepat dan seragam. Bahan-bahan yang dipergunakan merupakan yang
berkualitas terbaik. Masakan jenis ini dikenal dengan harganya yang mahal.
· Cuisine nouvelle
adalah jenis kuliner baru yang berkembang di tahun 1970-an sebagai reaksi
menentang sekolah memasak klasik. Masakan yang disajikan sederhana dan kurang ragam serta
tidak menganjurkan penggunaan saus krim yang terlalu banyak. Cara penyajiannya pun tidak
rumit serta lebih singkat. Bahan-bahan yang digunakan adalah khas regional dan musiman.
· Cuisine du terroir
adalah jenis masakan yang memfokuskan pada pengembangan sajian khas daerah. Ciri khas
masakan ini adalah agak bersifat kedaerahan. Bahan-bahan yang digunakan adalah produk-produk
khas lokal. Pada saat ini, Cuisine du terroir lebih banyak menarik minat warga Perancis sehingga
mengalami perkembangan yang pesat.

Orang Perancis menilai penting kegiatan makan dan menikmati masakan mereka dengan baik,
bukan dengan tergesa-gesa. Mereka juga menikmati santapan di luar rumah dan mengunjungi
banyak restoran, kafe dan bistro, dimana mereka dapat minum kopi, merokok, menyapa teman
atau membaca surat kabar. Terdapat berbagai tempat lain dimana warga Perancis bisa
bersosialisasi sambil menikmati makanan dan minuman, seperti:
1. Brasseries,adalah jenis tempat yang lebih besar yang menyediakan makan siang dan makan
malam.
2. Salons de thé,adalah kedai-kedai yang menyajikan teh, makanan ringan dan pâtisserie (kue-
kue).
Ø pada tahun 1804 pada belahan benua Eropa. Disana terdapat sesorang yang kiat
mengembangkan produk komersil berupa makanan kaleng ,dia adalah Nicholas Appert. Orang
yang pertama kali menemukan cara mengawetkan makanan di dalam kaleng atau istilahnya
dengan pengalengan. Usahanya dimulai pada tahun 1795 dan baru membuahkan hasil Sembilan
tahun kemudian pada tahun 1804.
Ø penyelenggaraan festival makanan halal yang tengah berlangsung di gedung Excel London, Ibu
Kota Inggris Raya, dan berlangsung mulai dari 27 hingga 29 September 2013.
Ø setelah Abad Pertengahan,di romawi dibangun rumah-rumah penginapan tidak hanya
menyediakan fasilitas penginapan, tetapi juga mulai melengkapinya dengan fasilitas pendukung
lainnya, semacam bar, salon, dan kedai makanan. Jumlah kamar pun mulai diperbanyak hingga
mencapai puluhan.
Cerita tersebut sungguh berbeda dengan arti kata restaurant yang berkembang pada akhir abad ke-
18. Di masa ini, resto diartikan sebagai ruang kecil di sebuah pondokan (tavern), tempat para
pelancong mengisi perut. Makanan yang disajikan merupakan hidangan sederhana dengan bahan
baku dari sekitar pondokan.
Terobosan konsep terjadi sekitar tahun 1782, ketika restoran yang terletak di Rue De Richelieu,
Paris, menulis daftar makanan dalam menu. Makanan kemudian disajikan dalam porsi personal
dan setiap tamu dilayani satu per satu. Menu yang dikeluarkan pun tidak sekaligus, melainkan
bertahap. Kini restoran berkembang menjadi dua jenis, yakni restoran kasual yang menyajikan
makanan sehari-hari untuk para pekerja yang tak sempat pulang ke rumah untuk makan. Dan, fine
dining yaitu restoran dengan tampilan eksklusif dan makanan yang disajikan lebih artistik
menggunakan peralatan makan mewah.

PERKEMBANGAN SPM NONKOMERSIAL

1. Di Yunani dan Romawi penataan pelayanan makanan bagi orang sakit baru dimulai pada
abad ke 19. Florence Nightingle mempelopori penyempurnaan penyelenggaran makanan bagi
orang sakit setelah dia melihat betapa buruknya pelayanan makanan bagi prajurit yang dirawat
dirumah sakit selama terjadi perang di Eropa.

2. Pada tahun 1687 di London Didirikan RS St. Bortolomew menetapkan macam dan jml bh
mkn utk kebutuhan RS.

3. Didirikan Rumah Sakit St. Bortolomew di London pada tahun 1687 yang telah menetapkan
macam-macam dan jumlah makanan untuk kebutuhan Rumah Sakit.

4. Italia menjalankan sistem pelayanan kesehatan umum semesta sejak tahun 1978. Meskipun
demikian, pelayanan kesehatan disediakan bagi semua warga negara dan penduduk oleh suatu
sistem campuran umum-swasta. Bagian umum adalah Servizio Sanitario Nazionale, yang dibentuk
di bawah Kementerian Kesehatan dan diserahkan untuk diurus oleh pemerintahan region. Belanja
pelayanan kesehatan di Italia melebihi 9,0% PDB nasional pada tahun 2008, sedikit di atas rata-
rata negara OECD, yakni 8,9%.Bagaimanapun, Italia menempati peringkat ke-2 terbaik di dunia
dalam hal sistem pelayanan kesehatan,dan menempati peringkat ke-3 dunia dalam hal kinerja
pelayanan [Link] mencapai angka harapan hidup tertinggi ke-12 di dunia pada tahun
2010.

5. Seorang ahli diet Florence Nightngale membuat organisasi perawatan dan dapur makan yang
sesuai untuk pasien di Inggris pada tahun 1854.
6. Diadakannnya program makan siang untuk anak sekolah sebelum PDI di Austria, Belgia,
Denmark, Irlandia, italia, Noregia dan Swedia.

7. Penyediaan makan untuk anak-anak di sekolah di Inggris yang memenuhi pemnyelenggaraan


makanan oleh Victor Hugo pada tahun 1865.

DAFTAR PUSTAKA
Mukrie, Nursiah A. 1990. Manajemen Pelayanan Gizi Institusi Dasar. Proyek
Pengembangan Pendidikan Tenaga Gizi Pusat dan Akademi Gizi Depkes Jakarta : Jakarta
Penyelenggaraan Makanan (PDF).[Link] Sumatera Utara
[Link]

Anda mungkin juga menyukai