PEDOMAN
RUMAH SAKIT SAYANG
IBU DAN BAYI
RUMAH SAKIT IBU ANAK
SETYA BHAKTI
2017/2018
Pedoman RSSIB Setya Bhakti Page 1
KATA PENGANTAR
Dengan mengucapkan puji dan syukur kehadirat Tuhan yang Maha Esa
bahwa atas rahmat dan karunia-Nya Kami dapat menyelesaikan penyusunan
Pedoman Rumah Sakit Sayang Ibu dan Bayi (RSSIB) RSIA Setya Bhakti.
Seperti kita ketahui bersama bahwa Angka Kematian Ibu (AKI) dan Angka
Kematian Bayi (AKB) di Indonesia masih cukup tinggi. Berbagai inisiatif dan program
telah dijalankan Pemerintah melalui Kementrian Kesehatan dan sektor terkait lainnya
sebagai upaya memperbaiki kualitas hidup atau mengatasi masalah kesehatan ibu,
bayi, dan anak seperti RSSIB, Program Safe Motherhood, Making Pregnancy Safer
dan Mother & Baby Package Program, dan Rumah sakit PONEK.
Program RSSIB telah dilaksanakan sejak tahun 2001. Program ini
menekankan pada upaya peningkatan mutu pelayanan ibu dan bayi di rumah sakit
dengan melaksanakan 10 langkah perlindungan ibu dan bayi secara terpadu dan
paripurna.
Pedoman ini merupakan manifestasi komitmen RSIA Setya Bhakti dalam
mengimplementasikan program pelayanan serta perlindungan Ibu dan Bayi secara
terpadu dan paripurna. Pedoman ini diharapkan dapat dijadikan sebagai pegangan
dan acuan bagi RSIA Setya Bhakti untuk memberikan layanan kesehatan maternal
dan neonatal yang prima dan bermutu.
Kami menyadari pula bahwa masih banyak keterbatasan dan kendala serta
permasalahan yang perlu diantisipasi dalam upaya untuk mewujudkan perlindungan
ibu dan bayi secara terpadu paripurna di RSIA Setya Bhakti, oleh karena itu kami
mengharapkan saran perbaikan, sumbangan pemikiran, masukan, serta kritikan.
Kepada semua pihak yang membantu penyusunan pedoman ini kami ucapkan
terima kasih. Kami harapkan pedoman ini dapat bermanfaat.
Tim Pelaksana Program RSSIB
2017/2018
Pedoman RSSIB Setya Bhakti Page 2
KEPUTUSAN DIREKTUR
RUMAH SAKIT IBU DAN ANAK SETYA BHAKTI
TENTANG
PEMBENTUKAN TIM PELAKSANA PROGRAM
RUMAH SAKIT SAYANG IBU DAN BAYI
Nomor : 01 / [Link] / RSIASB / V / 2017
Menimbang : a. bahwa Rumah Sakit akan melaksanakan program Rumah Sakit
Sayang Ibu dan Bayi untuk mendukung program MDGS yaitu
menurunkan angka kematian ibu dan angka kematian bayi, oleh
karena itu perlu dibentuk Tim Pelaksana Program Rumah Sakit
Sayang Ibu dan Bayi.
b. bahwa sebagaimana dengan butir “a” perlu ditetapkan melalui
suatu surat keputusan direktur Rumah Sakit Ibu dan Anak Setya
Bhakti.
Mengingat : 1. UU No. 36 tahun 2009 tentang Kesehatan.
2. UU No. 44 tahun 2009 tentang Rumah Sakit.
3. Surat Keputusan Pengangkatan Direktur Rumah Sakit Ibu dan
Anak Setya Bhakti No. 1/[Link]/PTHB/XI/2013 tanggal 3 November
2013.
MEMUTUSKAN
Pertama : Tim Pelaksana Program Rumah Sakit Sayang Ibu dan Bayi Rumah
Sakit Ibu dan Anak Setya Bhakti dengan uraian tugasnya
sebagaimana terlampir dalam surat keputusan ini.
Kedua : Keputusan ini berlaku sejak tanggal ditetapkan dengan ketentuan
apabila terdapat kekeliruan akan diadakan perbaikan sebagaimana
mestinya.
Ditetapkan di : Depok
Pada tanggal : 15 Mei 2017
Rumah Sakit Ibu dan Anak Setya
Bhakti
dr. Martinasari Lubis, MARS
Direktur
Pedoman RSSIB Setya Bhakti Page 3
URAIAN TIM PELAKSANA PROGRAM RUMAH SAKIT SAYANG IBU DAN BAYI
RUMAH SAKIT IBU DAN ANAK SETYA BHAKTI
1. Pembina : Direktur RSIA Setya Bhakti
Uraian tugas :
- Memberi pengarahan kepada Tim Pelaksana Program RSSIB berkaitan dengan
kegiatan pelayanan untuk mendukung terlaksananya program RSSIB di RSIA
Setya Bhakti.
- Menjalankan kebijakan-kebijakan Kementrian Kesehatan yang berkaitan
dengan program RSSIB.
2. Ketua Tim Pelaksana Program : dr. Harmon Mawardi, SpA
3. Wakil Ketua Tim Pelaksana Program :
- dr. Enricko H.J Siregar, SpOG
- dr. Ichwan Zuanto
- dr. Marini Sarah
Uraian tugas :
- Menyusun program kegiatan RSSIB dan pengembangannya di RSIA Setya
Bhakti.
- Memastikan program RSSIB berjalan dengan baik di RSIA Setya Bhakti.
- Memimpin pertemuan rutin Tim RSSIB.
- Melakukan monitoring dan evaluasi terhadap pelaksanaan program RSSIB di
RSIA Setya Bhakti.
- Memberikan laporan pelaksanaan program RSSIB kepada direktur dan pihak-
pihak terkait.
4. Koordinator Pelaksana Ruang Bayi : Ns. Mulyani, [Link]
- Uraian tugas :
- Melaksanakan kegiatan pelayanan yang mendukung program RSSIB diruang
perawatan bayi.
- Melakukan sosialisasi dan edukasi program RSSIB kepada kelompok perawat
dan bidan diruang perawatan bayi serta orang tua keluarga bayi yang
dirawat.
- Mewakili kegiatan eksternal yang diadakan oleh pihak luar yang mendukung
program RSSIB.
Pedoman RSSIB Setya Bhakti Page 4
5. Koordinator Pelaksana Ruang Bersalin : Ida Fadhilah, [Link]
Uraian tugas :
- Melaksanakan kegiatan yang mendukung program RSSIB di ruang bersalin.
6. Koordinator Pelaksana Ruang Obsterti ( Nifas-Rawat Gabung) dan Ginekologi :
Yunita Ariyani, [Link]
Uraian tugas :
- Melaksanakan kegiatan yang mendukung program RSSIB di ruang Obsterti
dan Ginekologi.
7. Koordinator Pelaksana Ruang Poliklinik Anak, Tumbuh Kembang, dan KIA : Ns.
Mulyani, [Link]
Uraian tugas :
- Melaksanakan kegiatan yang mendukung program RSSIB di ruang Poliklinik
Anak, Tumbuh Kembang, dan KIA.
8. Koordinator Pelaksana Ruang Poliklinik Obsterti dan Ginekologi : Linjaringinsih,
[Link]
Uraian tugas :
- Melaksanakan kegiatan yang mendukung program RSSIB di ruang Poliklinik
Obsterti dan Ginekologi.
9. Koordinator Pelaksana Ruang Poliklinik Anak : Surani, [Link]
Uraian tugas :
- Melaksanakan kegiatan yang mendukung program RSSIB di ruang Poliklinik
Anak
10. Koordinator Pelaksana Ruang IGD : Ns. Kevin Alexander, [Link]
Uraian tugas :
- Melaksanakan kegiatan yang mendukung program RSSIB di ruang IGD.
Pedoman RSSIB Setya Bhakti Page 5
KEPUTUSAN DIREKTUR
RUMAH SAKIT IBU DAN ANAK SETYA BHAKTI
TENTANG
PENETAPAN PERAWAT DAN BIDAN PENANGGUNG JAWAB SETIAP SHIFT
JAGA
Nomor : 02 / [Link] / RSIASB / V / 2017
Menimbang : a. bahwa dalam upaya meningkatkan daya guna dan hasil guna
serta mutu pelayanan keperawatan dan kebidanan, diperlukan
adanya penanggung jawab setiap shift jaga di Rumah Sakit Ibu dan
Anak Setya Bhakti.
b. bahwa dalam upaya mencapai tujuan pada butir “a” diatas
dipandang perlu menetapkan uraian tugas bagian perawat atau
bidan penanggung jawab shift jaga melalui surat keputusan direktur.
Mengingat : 1. UU No. 36 tahun 2009 tentang Kesehatan.
2. Keputusan bersama Menteri Kesehatan RI No.
463/Menkes/VI/1993 tentang Berlakunya Standar Pelayanan Rumah
Sakit Dan Standar Pelayanan Medis.
3. Surat Keputusan Pengangkatan Direktur Rumah Sakit Ibu dan
Anak Setya Bhakti No. 1/[Link]/PTHB/XI/2013 tanggal 3 November
2013.
MEMUTUSKAN
Pertama : Uraian tugas perawat dan bidan penanggung jawab shift jaga di
Rumah Sakit Ibu dan Anak Setya Bhakti.
Kedua : Ketentuan – ketentuan sebagaimana yang dimaksud dalam point
pertama adalah sebagaimana ketentuan dalam lampiran yang tidak
terpisahkan dari surat keputusan ini.
Pedoman RSSIB Setya Bhakti Page 6
Ketiga : Keputusan ini berlaku sejak tanggal ditetapkan dengan ketentuan
apabila terdapat kekeliruan akan diadakan perbaikan sebagaimana
mestinya.
Ditetapkan di : Depok
Pada tanggal : 15 Mei 2017
Rumah Sakit Ibu dan Anak Setya
Bhakti
dr. Martinasari Lubis, MARS
Direktur
Pedoman RSSIB Setya Bhakti Page 7
KEPUTUSAN DIREKTUR
RUMAH SAKIT IBU DAN ANAK SETYA BHAKTI
TENTANG
PELAKSANAAN 10 (SEPULUH)LANGKAH MENUJU KEBERHASILAN
MENYUSUI DI RSIA SETYA BHAKTI
Nomor : 03 / [Link] / RSIASB / V / 2017
Menimbang : a. Rumah Sakit harus mendukung pemberian ASI Eksklusif dengan
berpedoman pada 10 langkah menuju keberhasilan menyusui.
b. bahwa 10 (sepuluh) langkah me3nuju keberhasilan menyusui
harus dipahami oleh semua petugas.
c. bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana dimaksud
dalam point a dan b perlu ditetapkan dengan keputusan Direktur
Rumah Sakit Ibu dan Anak Setya Bhakti.
Mengingat : 1. UU No. 44 tahun 2009 tentang Rumah Sakit.
2. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia No. 33 tentang ASI
Eksklusif.
3. Surat Keputusan Pengangkatan Direktur Rumah Sakit Ibu dan
Anak Setya Bhakti No. 1/[Link]/PTHB/XI/2013 tanggal 3 November
2013.
MEMUTUSKAN
Menetapkan :
Pertama : Pelaksanaan 10 (sepuluh) langkah keberhasilan menyusui di
Rumah Sakitr Ibu dan Anak Setya Bhakti.
Kedua : 10 (sepuluh) langkan menuju keberhasilan menyusui dilingkungan
RSIA Setya Bhakti meliputi :
a. Sarana pelayanan kesehatan mempunyai kebijakan penerapan
10langkah keberhasilan menyusui dan melarang promosi PASI.
b. Sarana pelayanan kesehatan melakukan pelatihan untuk staff
sendiri dan lainnya.
Pedoman RSSIB Setya Bhakti Page 8
c. Menyiapkan ibu hamil untuk mengetahui manfaat ASI dan
langkah keberhasilan menyusui memberi konseling apabila ibu
menderita infeksi HIV Positif.
d. Melakukan kontak dan menyusui dini bayi baru lahir (1/2 – 1 jam
setelah lahir).
e. Membantu ibu melakukan teknik menyusui yang benar (posisi
perlekatan tubuh bayi dan perlekatan mulut bayi pada
payudara).
f. Hanya memberikan ASI saja tanpa minuman pralaktil sejak bayi
lahir.
g. Melaksanakan rawat gabung ibu dan bayi.
h. Melaksanakan pemberian ASI sesering dan semau bayi.
i. Tidak memberi dot / kempeng.
j. Menindaklanjuti ibu dan bayi setelah pulang dari sarana
pelayanan kesehatan.
Ketiga : Pembinaan dan pengawasan 10 langkah menuju keberhasilan
menyusui dilakukan oleh Tim RSSIB RSIA Setya Bhakti.
Keempat : Keputusan ini berlaku sejak tanggal ditetapkan dengan ketentuan
apabila terdapat kekeliruan akan diadakan perbaikan sebagaimana
mestinya.
Ditetapkan di : Depok
Pada tanggal : 15 Mei 2017
Rumah Sakit Ibu dan Anak Setya
Bhakti
dr. Martinasari Lubis, MARS
Direktur
Pedoman RSSIB Setya Bhakti Page 9
KEPUTUSAN DIREKTUR
RUMAH SAKIT IBU DAN ANAK SETYA BHAKTI
TENTANG
TIM AUDIT MATERNAL PERINATAL RSIA SETYA BHAKTI
Nomor : 04 / [Link] / RSIASB / V / 2017
Menimbang : a. bahwa penyelenggaraan Gerakan Rumah Sakit Sayang Ibu dan
Bayi bagi RSIA Setya Bhakti perlu diikuti oleh upaya monitoring dan
evaluasi program.
b. bahwa penyelenggaraan kegiatan seperti pada butir “a” diatas
dilakukan dengan Audit Maternal Perinatal.
c. bahwa untuk keberhasilan penyelenggaraan kegiatan pada ayat
“a” dan “b” tersebut diperlukan Tim Audit Maternal Perinatal (Tim
AMP) RSIA Setya Bhakti yang ditetapkan berdasarkan Surat
Keputusan Direktur RSIA Setya Bhakti.
Mengingat : 1. UU RI No. 23 tahun 2004 tentang Perlindungan Anak.
2. UU RI No. 10 tahun 2004 tentang Pembentukan Peraturan
Perundang-undangan.
3. UU RI No. 29 tahun 2004 tentang Praktek Kedokteran.
4. UU RI No. 36 tahun 2009 tentang Kesehatan.
5. UU RI No. 44 tahun 2009 tentang Rumah Sakit.
6. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia No. 33 tahun 2012
tentang Pembenaan Air Susu Ibu Eksklusif.
7. Peraturan Menteri Dalam Negeri No. 6 tahun 2007 tentang
Petunjuk Teknis Penetapan Standar Pelayanan Minimal.
8. Keputusan Menteri Kesehatan No. 248/Menkes/SK/III/2004
tentang Buku Kesehatan Ibu dan Anak (KIA).
9. Keputusan Menteri Kesehatan No. 1051/Menkes/SK/IX/2008
tentang Pedoman Penyelenggaraan Pelayanan Obsterti Neonatal
Emergensi Komprehensif (PONEK) 24 jam di Rumah Sakit.
Pedoman RSSIB Setya Bhakti Page 10
10. Surat Keputusan Pengangkatan Direktur Rumah Sakit Ibu dan
Anak Setya Bhakti No. 1/[Link]/PTHB/XI/2013 tanggal 3
November 2013.
MEMUTUSKAN
Menetapkan :
Pertama : Membentuk Tim Audit Maternal Perinatal RSIA Setya Bhakti dengan
susunan keanggotan sebagaimana tercantum dalam lampiran
keputusan ini.
Kedua : Tim Audit Maternal Perinatal melaksanakan tugasnya masing-
masing sebagaimana tercantum dalam lampiran keputusan ini.
Ketiga : Keputusan ini berlaku sejak tanggal ditetapkan dengan ketentuan
apabila terdapat kekeliruan akan diadakan perbaikan sebagaimana
mestinya.
Ditetapkan di : Depok
Pada tanggal : 15 Mei 2017
Rumah Sakit Ibu dan Anak Setya
Bhakti
dr. Martinasari Lubis, MARS
Direktur
Pedoman RSSIB Setya Bhakti Page 11
SUSUNAN TIM AMP
RSIA SETYA BHAKTI
Pelindung : Direktur RSIA Setya Bhakti
Ketua : dr. Enricko H.J Siregar, [Link]
Wakil : dr. Harmon Mawardi, SpA
Sekretaris : dr. Ichwan Zuanto
Anggota :
Ida Fadhilah, [Link]
Surani, [Link]
Ns. Mulyani, [Link]
Zr. Yayuk Indarti
Zr. Arini
Pedoman RSSIB Setya Bhakti Page 12
KEPUTUSAN DIREKTUR
RUMAH SAKIT IBU DAN ANAK SETYA BHAKTI
TENTANG
TIM PELAYANAN OBSTERTI NEONATAL EMERGENSI KOMPREHENSIF
RSIA SETYA BHAKTI
Nomor : 05 / [Link] / RSIASB / V / 2017
Menimbang : a. bahwa untuk melaksanakan keputusan Menteri Kesehatan
Republik Indonesia No. 1051/Menkes/SK/XI/2008 tentang Pedoman
Penyelenggaraan Pelayanan Obsterti Neonatal Emergensi
Komprehensif (PONEK) 24 jam di Rumah Sakit.
b. bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana dimaksud
dalam point “a” perlu menetapkan keputusan Direktur Rumah Sakit
Ibu dan Anak Setya Bhakti.
Mengingat : 1. UU RI No. 44 tahun 2009 tentang Rumah Sakit.
2. Peraturan Menteri Kesehatan No. 1691 tahun 2011 tentang
Keselamatan Pasien Rumah Sakit.
3. UU RI No. 23 tahun 1992 tentang Kesehatan.
4. UU RI No. 36 tahun 2009 tentang Kesehatan.
5. Surat Keputusan Pengangkatan Direktur Rumah Sakit Ibu dan
Anak Setya Bhakti No. 1/[Link]/PTHB/XI/2013 tanggal 3
November 2013.
MEMUTUSKAN
Menetapkan :
Pertama : Menunjuk nama-nama yang terlampir pada lampiran surat
keputusan ini untuk ditetapkan sebagai Tim PONEK Rumah Sakit Ibu
dan Anak Setya Bhakti.
Kedua : Tugas Tim PONEK RSIA Setya Bhakti tercantum dalam lampiran
surat keputusan ini.
Pedoman RSSIB Setya Bhakti Page 13
Ketiga : Keputusan ini berlaku sejak tanggal ditetapkan dengan ketentuan
apabila terdapat kekeliruan akan diadakan perbaikan sebagaimana
mestinya.
Ditetapkan di : Depok
Pada tanggal : 15 Mei 2017
Rumah Sakit Ibu dan Anak Setya
Bhakti
dr. Martinasari Lubis, MARS
Direktur
Pedoman RSSIB Setya Bhakti Page 14
URAIAN TUGAS TIM PONEK
1. Ketua Tim PONEK (dr. Esa Manessa Resti SpOG)
- Melaksanakan pembinaan kualitas atau mutu profesi pelayanan.
- Melaksanakan koordinasi dengan kepala bidang keperawatan maupun kepala
instalasi terkait dalam membina kualitas profesi pelayanan.
- Mengendalikan dan mengevakuasi kualitas pelayanan profesi.
- Bertanggung jawab terhadap pelaksanaan program dan evaluasi.
- Bertanggung jawab terhadap pelaksanaan visi dan misi PONEK.
- Bertanggung jawab terhadap Direktur.
- Mendelegasikan tugas apabila berhalangan hadir.
- Memeriksa hasil kegiatan PONEK.
2. Wakil Ketua Tim PONEK (dr. Harmon Mawardi, SpA)
- Melaksanakan pembinaan kualitas atau mutu profesi pelayanan.
- Melaksanakan koordinasi dengan kepala bidang keperawatan maupun kepala
instalasi terkait dalam membina kualitas profesi pelayanan.
- Mengendalikan dan mengevakuasi kualitas pelayanan profesi.
- Bertanggung jawab terhadap pelaksanaan program dan evaluasi.
- Bertanggung jawab terhadap pelaksanaan visi dan misi PONEK.
- Bertanggung jawab terhadap Direktur.
- Mendelegasikan tugas apabila berhalangan hadir.
- Memeriksa hasil kegiatan PONEK.
3. Sekretaris Tim PONEK (dr. Marini Sarah)
- Membuat undnagan rapat dan membuat notulen.
- Mengelola administrasi surat-surat PONEK.
- Mencatat data-data yang berhubungan dengan PONEK.
- Melakukan tugas-tugas lain dari atasan.
4. Pelaksana atau anggota Tim PONEK ( Asna Siahaan, [Link] & Br. Sumari)
- Membuat perencanaan untuk pelayanan diruang bersalin dan pelayanan
nifas.
- Melakukan koordinasi dengan Tim.
- Melakukan pengawasan kegiatan.
Pedoman RSSIB Setya Bhakti Page 15
- Melakukan pengawasan terhadap SOP yang telah ditetapkan.
- Melakukan evaluasi kegiatan operasional dan mutu pelayanan termasuk
pencatatan dan pelaporan.
- Bertanggung jawab terhadap Ketua Tim PONEK.
- Bertanggung jawab terhadap kelancaran pelaksanaan program di masing-
masing unit kerjanya.
Pedoman RSSIB Setya Bhakti Page 16
KEPUTUSAN DIREKTUR
RUMAH SAKIT IBU DAN ANAK SETYA BHAKTI
TENTANG
PEMAKAIAN BUKU KIA
Nomor : 06 / [Link] / RSIASB / V / 2017
Menimbang : a. bahwa Rumah Sakit akan melaksanakan program Rumah Sakit
Sayang Ibu dan Bayi untuk mendukung program MDGS yaitu
menurunkan angka kematian ibu dan angka kematian bayi, oleh
karena itu perlu dibentuk Tim Pelaksana Program Rumah Sakit
Sayang Ibu dan Bayi.
b. bahwa sebagaimana dengan butir “a” perlu ditetapkan melalui
suatu surat keputusan direktur Rumah Sakit Ibu dan Anak Setya
Bhakti.
Mengingat : 1. UU No. 36 tahun 2009 tentang Kesehatan.
2. UU No. 44 tahun 2009 tentang Rumah Sakit.
3. Surat Keputusan Pengangkatan Direktur Rumah Sakit Ibu dan
Anak Setya Bhakti No. 1/[Link]/PTHB/XI/2013 tanggal 3 November
2013.
MEMUTUSKAN
Pertama : Sehubungan dengan pertimbangan diatas maka dipandang perlu
menetapkan pemberlakuan pemakaian buku KIA.
Kedua : Keputusan ini berlaku sejak tanggal ditetapkan dengan ketentuan
apabila terdapat kekeliruan akan diadakan perbaikan sebagaimana
mestinya.
Ditetapkan di : Depok
Pada tanggal : 15 Mei 2017
Rumah Sakit Ibu dan Anak Setya
Bhakti
dr. Martinasari Lubis, MARS
Direktur
Pedoman RSSIB Setya Bhakti Page 17
KEPUTUSAN DIREKTUR
RUMAH SAKIT IBU DAN ANAK SETYA BHAKTI
TENTANG
RAWAT GABUNG (IBU DAN BAYI SEHAT)
Nomor : 07 / [Link] / RSIASB / V / 2017
Menimbang : a. bahwa Rumah Sakit akan melaksanakan program Rumah Sakit
Sayang Ibu dan Bayi untuk mendukung program MDGS yaitu
menurunkan angka kematian ibu dan angka kematian bayi, oleh
karena itu perlu dibentuk Tim Pelaksana Program Rumah Sakit
Sayang Ibu dan Bayi.
b. bahwa sebagaimana dengan butir “a” perlu ditetapkan melalui
suatu surat keputusan direktur Rumah Sakit Ibu dan Anak Setya
Bhakti.
Mengingat : 1. UU No. 36 tahun 2009 tentang Kesehatan.
2. UU No. 44 tahun 2009 tentang Rumah Sakit.
3. Surat Keputusan Pengangkatan Direktur Rumah Sakit Ibu dan
Anak Setya Bhakti No. 1/[Link]/PTHB/XI/2013 tanggal 3 November
2013.
MEMUTUSKAN
Pertama : Sehubungan dengan pertimbangan diatas maka dipandang perlu
menetapkan pemberlakuan Rawat Gabung ( Ibu dan Bayi Sehat).
Kedua : Keputusan ini berlaku sejak tanggal ditetapkan dengan ketentuan
apabila terdapat kekeliruan akan diadakan perbaikan sebagaimana
mestinya.
Ditetapkan di : Depok
Pada tanggal : 15 Mei 2017
Rumah Sakit Ibu dan Anak Setya
Bhakti
dr. Martinasari Lubis, MARS
Direktur
Pedoman RSSIB Setya Bhakti Page 18
BAB I
PENDAHULUAN
I.a. Latar Belakang
Angka Kematian Ibu (AKI) dan Angka Kematian Bayi (AKB) merupakan salah
satu indikator pembangunan kesehatan dalam RPJMN 2015-2019 dan SDGs.
Menurut data SDKI, Angka Kematian Ibu sudah mengalami penurunan pada periode
tahun 1994-2012 yaitu pada tahun 1994 sebesar 390 per 100.000 kelahiran hidup,
tahun 1997 sebesar 334 per 100.000 kelahiran hidup, tahun 2002 sebesar 307 per
100.000 kelahiran hidup, tahun 2007 sebesar 228 per 100.000 kelahiran hidup
namun pada tahun 2012 , Angka Kematian Ibu meningkat kembali menjadi sebesar
359 per 100.000 kelahiran hidup.
Untuk AKB dapat dikatakan penurunan on the track (terus menurun) dan
pada SDKI 2012 menunjukan angka 32/1.000 KH (SDKI 2012). Dan pada tahun
2015, berdasarkan data SUPAS 2015 baik AKI maupun AKB menunjukan penurunan
(AKI 305/ 100.000 KH; AKB 22,23/ 1000 KH).
Gambar 1. Angka Kematian Ibu 1991 – 2012
Penyebab utama kematian ibu di Indonesia adalah perdarahan (30%),
eklampsia (25%), infeksi (12%), dan abortus (5%). Sedangkan penyebab utama
kematian bayi adalah BBLR (29%), asfiksia (27%), dan infeksi (20%).
Penelitian terbaru menyebutkan bahwa pemberian ASI yang terlambat juga
dapat meningkatkan risiko kematian bayi. Bila mengawali ASI lebih dari 60 menit
dalam 24 jam pertama maka akan meningkatkan risiko kematian bayi 1,5 kali.
Pedoman RSSIB Setya Bhakti Page 19
Gambar 2. Penyebab Kematian Ibu Tahun 2010 – 2013
Berdasarkan pada permasalahan tersebut pemerintah membentuk program
SDGs (Sustainable Development Goals) yang pada salah satu tujuannya adalah
Sistem Kesehatan Nasional dengan target pada 2030 mengurangi angka kematian
ibu hingga di bawah 70 per 100.000 kelahiran hidup, mengakhiri kematian bayi dan
balita yang dapat dicegah, mengurangi sepertiga kematian prematur akibat penyakit
tidak menular melalui pencegahan dan perawatan, serta mendorong kesehatan dan
kesejahteraan mental dan menjamin akses semesta kepada pelayanan kesehatan
seksual dan reproduksi, termasuk Keluarga Berencana (KB), informasi dan edukasi,
serta integrasi kesehatan reproduksi ke dalam strategi dan program nasional
(Kemenkes RI, 2105).
Upaya penurunan AKI dan AKB merupakan kegiatan yang saling terkait. Oleh
karena itu program Rumah Sakit Sayang Bayi tidak dapat dipisahkan dengan
Program Rumah Sakit Sayang Ibu, menjadi satu program yaitu Rumah Sakit Sayang
Ibu dan Bayi (RSSIB). Program RSSIB yang telah dicanangkan sejak tahun 2001,
sebagai bagian dari program Safe Motherhood didapatkan data laporan Dinkes 33
propinsi pada tahun 2006 bahwa hanya 149 RS yang melaksanakan program RSSIB
(11,53% dari 1292 RS). Dari jumlah tersebut 30% belum optimal pelaksanaannya.
Oleh karena itu, RSIA Setya Bhakti sebagai salah satu rumah sakit swasta di
Kota Depok yang mempunyai misi untuk menyelenggarakan layanan kesehatan ibu
dan anak secara profesional, bermutu, dan terjangkau oleh seluruh lapisan
masyarakat, berkomitmen untuk melaksanakan program RSSIB secara terpadu dan
paripurna berdasarkan pedoman pelaksanaan ini.
Pedoman RSSIB Setya Bhakti Page 20
I.b. Dasar Hukum
1. Undang-Undang RI Nomor 29 tahun 2004 tentang Praktik Kedokteran
2. Undang-Undang RI nomor 36 tahun 2009 tentang Kesehatan
3. Undang-Undang RI nomor 44 tahun 2009 tentang Rumah Sakit
4. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia no 33 tahun 2012 Tentang Pemberian
Air Susu Ibu Eksklusif
5. Keputusan Menteri Kesehatan RI nomor 1333/Menkes/Per/SK/XII/1999 tentang
Standar Pelayanan Rumah Sakit
6. Keputusan Menteri Kesehatan RI nomor 603/Menkes/SK/VII/2008 tentang
Pemberlakuan Pedoman Pelaksanaan Program Rumah Sakit Sayang Ibu dan Bayi
7. Keputusan Menteri Kesehatan RI Nomor 1051/Menkes/SK/XI/2008 tentang
Pedoman Pelayanan Obstetri Neonatal Emergensi Komprehensif
8. Surat Edaran Direktur Jenderal Pelayanan Medik nomor [Link].1465 tentang
Revitalisasi Rumah Sakit Sayang Ibu dan Bayi.
I.c. Tujuan Pedoman
a. Tujuan Umum
Sebagai acuan bagi pimpinan rumah sakit dan pengelola program pelayanan
kesehatan ibu dan bayi untuk menerapkan 10 langkah perlindungan ibu dan
bayi secara terpadu dan paripurna sebagai upaya penurunan jumlah
kesakitan dan kematian ibu dan bayi
b. Tujuan Khusus.
1. Melaksanakan perlindungan ibu dan bayi secara terpadu paripurna menuju
RSSIB yang sesuai dengan target SDGs.
2. Membuat pedoman pelaksanaan Rumah Sakit Sayang Ibu dan Bayi yang sesuai
dengan perkembangan ilmu, pengetahuan, dan teknologi mutakhir.
3. Menyelenggarakan layanan kesehatan ibu dan anak secara profesional, bermutu,
dan terjangkau oleh seluruh lapisan masyarakat.
4. Mengutamakan keselamatan pasien ibu dan bayi khususnya di atas segalanya.
Pedoman RSSIB Setya Bhakti Page 21
I.d. Pengertian
a. Angka Kematian Ibu (AKI) adalah jumlah kematian ibu akibat proses
kehamilan, persalinan dan pasca persalinan per 100.000 kelahiran hidup pada
masa tertentu.
b. Angka Kematian Bayi (AKB) adalah jumlah kematian bayi di bawah umur 1
tahun per 1000 kelahiran hidup dalam satu tahun.
c. Pelayanan antenatal (Antenatal care) adalah Pelayanan kesehatan yang
diberikan oleh tenaga profesional kepada ibu selama masa kehamilannya
sesuai dengan standar pelayanan antenatal.
d. Rumah Sakit PONEK 24 jam adalah Rumah sakit sayang ibu dan bayi yang
menyelenggarakan pelayanan kedaruratan maternal dan neonatal secara
komprehensif dan terintegrasi 24 jam. Hal ini harus dapat terukur melalui
Penilaian Kinerja Manajemen. Standard kinerja harus terpenuhi.
e. ASI Eksklusif adalah pemberian hanya air susu ibu saja tanpa makanan atau
minuman lain kepada bayi sejak lahir sampai berusia 6 bulan.
f. Inisiasi Menyusu Dini (IMD) adalah segera meletakkan bayi di dada ibunya,
kontak kulit dengan kulit (skin to skin contact) segera setelah lahir setidaknya
satu jam atau lebih sampai bayi menyusu sendiri.
g. Audit Maternal Perinatal (AMP) adalah suatu kegiatan untuk menelusuri sebab
kesakitan dan kematian ibu dan perinatal dengan maksud menegah kematian
dan kesakitan di masa yang akan datang.
h. Perawatan Metode Kanguru (PMK) adalah Perawatan untuk bayi baru lahir
yang menggunakan badan ibu (skin to skin contact) untuk menghangatkan
bayinya terutama untuk Bayi Berat Lahir Rendah (BBLR).
i. Bayi Berat Lahir Rendah (BBLR) adalah bayi dengan berat lahir kurang dari
2500 gram, yang ditimbang pada saat lahir sampai dengan 24 jam pertama
setelah lahir.
j. Kelompok pendukung ASI (KP ASI) adalah kelompok binaan RS untuk ibu
hamil dan ibu baru melahirkan dimana ibu bisa berkumpul bersama-sama
untuk saling memberi informasi dan saling membantu seputar masalah hamil
dan menyusui.
Pedoman RSSIB Setya Bhakti Page 22
BAB II
RUMAH SAKIT SAYANG IBU DAN BAYI
II.a. Definisi
Rumah Sakit Sayang Ibu dan Bayi (RSSIB) adalah rumah sakit pemerintah maupun
swasta, umum maupun khusus yang telah melaksanakan 10 langkah Menuju
Perlindungan Ibu dan bayi secara terpadu dan paripurna.
10 Langkah Perlindungan Ibu dan Bayi secara terpadu dan paripurna menuju RSSIB:
1. Ada kebijakan tertulis tentang manajemen yang mendukung pelyanan
kesehatan ibu dan bayi termasuk pemberian ASI eksklusif dan perawatan
metode kanguru (PMK) untuk bayi BBLR
2. Menyelenggarakan pelayanan antenatal termasuk konseling kesehatan
maternal dan neonatal
3. Menyelanggarakan persalinan bersih dan aman serta penangnan pada bayi
baru lahir dengan inisiasi menyusui dini dan kontak kulit ibu-bayi.
4. Menyelenggarakan pelayanan obstetrik dan neonatal emergensi komprehensif
(PONEK).
5. Menyelenggarakan pelayanan adekuat untuk nifas, rawat gabung termasuk
membantu ibu menyusui yang benar, dan pelayanan neonatus sakit.
6. Menyelenggarakan pelayanan rujukan dua arah dan membina jejaring rujukan
dua arah dan sarana kesehatan lain
7. Menyelenggarakan pelayanan imunisasi bayi dan tumbuh kembang
8. Menyelanggarakan pelayanan keluarga berencana termasuk pencegahan dan
penanganan kehamilan yang tidak diinginkan serta kesehatan reproduksi
lainnya.
9. Menyelenggarakan audit maternal dan perinatal rumah sakit secara periodik
dan tindak lanjut
10. Memberdayakan kelompok pendukung ASI dalam menindaklanjuti pemberian
ASI eksklusif dan PMK.
II.b. Tujuan Umum
Meningkatkan mutu pelayanan kesehatan ibu dan bayi secara terpadu dalam upaya
menurunkan Angka Kematian Ibu (AKI) dan Angka Kematian Bayi (AKB).
Pedoman RSSIB Setya Bhakti Page 23
II.c. Tujuan Khusus
1. Melaksanakan dan mengembangkan standar pelayanan perlindungan ibu dan
bayi secara terpadu dan paripurna
2. Meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan ibu dan bayi termasuk kepedulian
terhadap ibu dan bayi
3. Meningkatkan kesiapan rumah sakit dalam melaksanakan fungsi pelayanan
obstetric dan neonats termasuk pelayanan kegawatdaruratan
4. Meningkatkan fungsi rumah sakit sebagai pusat rujukan pelayanan kesehatan
ibu
5. Meningkatkan fungsi rumah sakit sebagai model dan membina teknis dalam
pelaksanaan IMD dan pemberian ASI eksklusif
6. Meningkatkan fungsi RS dalam Perawatan Metode Kanguru (PMK) pada BBLR
II.d. Ruang Lingkup
Sasaran dari Rumah Sakit Sayang Ibu dan Bayi (RSSIB):
1. Rumah sakit umum publik dan privat
2. Rumah sakit khusus yang menangani ibu dan anak (RS Bersalin dan RS Ibu
Anak) public dan privat.
II.e. Pelaksanaan
Langkah Pertama
Ada kebijaksanaan tertulis tentang manajemen yang mendukung pelayanan
kesehatan ibu dan bayi termasuk Inisiasi Menyusui Dini (IMD), Pemberian ASI
eksklusif dan indikasi yang tepat untuk pemberian susu formula serta Perawatan
Metode Kanguru (PMK) untuk Bayi Berat Badan Lahir Rendah (BBLR).
a. Direktur rumah sakit membuat kebijakan tertulis tentang :
1. Pelaksanaan program RSSIB dengan penerapan 10 langkah perlindungan
ibu dan bayi secara terpadu dan paripurna.
2. Penetapan Pokja/Komite di rumah sakit yang bertanggung jawab
terhadap pelaksanaan dan evaluasi program RSSIB.
3. Pemberian ASI termasuk IMD yang secara rutin dikomunikasikan kepada
petugas kesehatan.
Pedoman RSSIB Setya Bhakti Page 24
4. Pelaksanaan PMK bagi BBLR.
5. Ada pemberian keringanan/ pembebasan atas biaya perawatan/ tindakan/
rujukan kasus risiko tinggi dan kasus gawat darurat obstetrik dan
neonatal
6. Sistem rujukan pelayanan ibu dan bayi dengan sistem regionalisasi.
7. Kerjasama dengan kelompok pendukung ASI dan Posyandu di wilayahnya
tentang proses rujukan pasca persalinan dalam rangka monev ASI
eksklusif dan PMK
8. Semua kebijakan di atas harus dikomunikasikan kepada seluruh petugas
RS.
b. Direktur rumah sakit membuat SK tentang pemberian ASI dan penerapan
kode pemasaran PASI yang secara rutin dikomunikasikan kepada seluruh
petugas RS dan dipampangkan.
c. Direktur rumah sakit menanda tangani protap-protap pelaksanaan program
RSSIB terpadu yang telah dibuat oleh Pokja/komite dan cara / format
pelaporan, seperti :
1. Kegawatdarurat kebidanan
2. Kegawatdaruratan neonatal
3. Pelayanan antenatal
4. Persalinan bersih dan aman (APN) termasuk persalinan yang ditunggu
oleh suami
5. Perawatan bayi baru lahir (perinatologi) termasuk pemberian vitamin K1
injeksi (untuk bayi normal setelah IMD, bayi sakit setelah resusitasi) dan
salep/tetes mata
6. Perawatan nifas dan rawat gabung
7. Perawatan PMK untuk bayi BBLR dan prematur
8. Pencegahan infeksi nosokomial
9. Pelaksanaan 10 langkah keberhasilan menyusui (termasuk IMD,
membantu ibu dalam masalah pelekatan dan cara menyusui yang benar,
on demand, ASI Eksklusif)
10. Tindakan medis dan operasi sesar
11. Hygiene perineum
Pedoman RSSIB Setya Bhakti Page 25
12. Pengaturan jadwal dokter, perawat dan bidan sehingga pelayanan siap 24
jam
13. Pelayanan kebutuhan darah, obat dan cairan untuk pasien
14. Pelayanan penunjang laboratorium dan radiologi
15. Keluarga berencana
16. Imunisasi
17. Audit Maternal Perinatal
d. Adanya pertemuan berkala untuk melakukan evaluasi program RSSIB
RS dapat mengembangkan pelaksanaan program berupa :
a. Kebijakan yang kemungkinan belum tercakup tentang perlindungan ibu dan
bayi sesuai yang ideal
b. Pengembangan penelitian yang berdampak terhadap perlindungan kesehatan
ibu dan bayi
c. Publikasi dan dokumentasi hasil-hasil penelitian
d. Setiap RS mempunyai ruang dan klinik laktasi dengan konselor menyusui
yang berada di tempat pada waktu kerja dan di luar jam kerja dapat
dihubungi selama 24 jam
Langkah Kedua
Menyelenggarakan pelayanan antenatal termasuk konseling kesehatan maternal dan
neonatal, serta konseling pemberian ASI.
a. Adanya pelayanan antenatal sesuai standar pelayanan kebidanan pada ibu
hamil
b. Melakukan penapisan dan pengenalan dini kehamilan risiko tinggi dan
komplikasi kehamilan
c. Mengadakan kegiatan senam ibu hamil
d. Memberikan informasi kepada ibu hamil mengenai keuntungan pemberian
ASI, manajemen laktasi termasuk IMD dan rawat gabung, penyuluhan gizi
dan penyuluhan “perubahan pada ibu dan janin serta kebutuhan setiap
trimester kehamilan, persiapan persalinan, tanda-tanda bahaya”
e. Mempertimbangkan tindakan-tindakan yang dilakukan ibu berlatarbelakang
kepercayaan/agama dan tradisi/adat setempat
Pedoman RSSIB Setya Bhakti Page 26
f. Diterapkannya upaya pencegahan infeksi dalam pelayanan antenatal
g. Melibatkan suami saat pemeriksaan & penyuluhan konseling
h. Memberikan konseling kepada ibu hamil yang terinfeksi HIV
i. Semua petugas di bagian kebidanan dan anak dapat memberikan informasi
kepada ibu-ibu paska persalinan mengenai cara menyusui yang benar dan
pentingnya ASI.
RS dapat mengembangkan pelaksanaan program berupa:
a. Upayakan membuat sendiri bahan materi yang baik dan benar
b. Menggunakan multimedia secara bertahap (cetakan, kaset, video, film)
c. Upayakan membuat sound system di semua unit RS untuk penyuluhan masal
melalui PKMRS
d. Upayakan setiap pegawai RS mengetahui tentang RS Sayang ibu dan bayi
dan kita mengharapkan mereka sebagai “key person” di lingkungan dimana
mereka tinggal
Langkah Ketiga
Menyelenggarakan persalinan bersih dan aman serta penanganan pada bayi baru
lahir dengan Inisiasi Menyusui Dini dan kontak kulit ibu-bayi
a. Melakukan penapisan risiko persalinan dan pemantauan persalinan
b. Diterapkannya standar pelayanan kebidanan pada persalinan
c. Adanya fasilitas kamar bersalin sesuai standar
d. Adanya fasilitas pencegahan infeksi sesuai standar
e. Adanya fasilitas peralatan resusitasi dan perawatan bayi baru lahir
f. Adanya fasilitas kamar operasi sesuai standar
g. Inisiasi Menyusu Dini : skin to skin contact, biarkan bayi mencari puting ibu
dan biarkan di dada ibunya minimal 1 jam
h. Perawatan bayi baru lahir termasuk pemberian vitamin K1 injeksi &
tetes/salep mata (gentamisin/eritromisin) setelah selesai IMD
i. Adanya pelatihan berkala bagi dokter, bidan dan perawat (in house training)
dalam penanganan persalinan aman dan penanganan pada bayi baru lahir
j. Adanya pelatihan IMD neonatus
k. Adanya pelatihan Manajemen laktasi
Pedoman RSSIB Setya Bhakti Page 27
l. Penanggung jawab program perinatal risiko tinggi dan program RSSIB
berkoordinasi melalui pertemuan lintas sektor maupun lintas program secara
rutin
RS dapat mengembangkan pelaksanaan program berupa:
a. Menambah sarana dan sarana fisik untuk setiap rumah sakit harus
mempunyai dua buah OK dan VK dan peralatan 3 set.
b. Pengembangan unit perawatan neonatus risiko tinggi.
Langkah Keempat
Menyelenggarakan Pelayanan Obstetrik dan Neonatal Emergensi Komprehensif
(PONEK) selama 24 jam sesuai dengan standar minimal berdasarkan tipe RS
masing-masing. Ruang lingkup pelayanan PONEK di RS seharusnya dimulai dari garis
depan/ UGD dilanjutkan ke kamar operasi/ruang tindakan sampai ke ruang
perawatan. Secara singkat dapat dideskripsikan sebagai berikut :
a. Stabilisasi di UGD dan persiapan untuk pengobatan definitif
b. Penanganan kasus gawat darurat oleh tim PONEK RS di ruang tindakan.
c. Penanganan operatif cepat dan tepat melalui laparatomi dan sectio caesaria.
d. Perawatan intermediate dan intensif ibu dan bayi.
e. Pelayanan Asuhan Ante Natal Risiko Tinggi.
Syarat minimal pelayanan yang harus disediakan oleh RS PONEK adalah :
a. Mampu memberikan pelayanan kesehatan maternal fisiologis dan risiko tinggi
pada masa antenatal, intranatal, dan post natal.
b. Mampu memberikan pelayanan neonatal fisiologis dan risiko tinggi pada level
IIB (Asuhan Neonatal dengan Ketergantungan Tinggi).
Langkah Kelima
Menyelenggarakan pelayanan adekuat untuk nifas, rawat gabung termasuk
membantu ibu menyusui yang benar, termasuk mengajarkan ibu cara memerah ASI
bagi bayi yang tidak bisa menyusu langsung dari ibu dan tidak memberikan ASI
perah melalui botol serta pelayanan neonatus sakit.
a. Praktekkan rawat gabung ibu dan bayi bersama 24 jam sehari
b. Membantu ibu menyusui yang benar
Pedoman RSSIB Setya Bhakti Page 28
c. Melaksanakan pemberian ASI sesuai kebutuhan bayi atau sesering semau
bayi (tidak dijadwalkan)
d. Tetap mempertahankan laktasi walaupun harus terpisah dari bayinya dengan
mengajarkan ibu cara memerah ASI, menyimpan ASI perah dan memberikan
ASI seperti dengan cangkir, pipet, sonde lambung.
e. Tidak memberikan minuman dan makanan pada bayi baru lahir selain ASI
kecuali ada indikasi medis
f. Memberitahu ibu bagaimana cara menyusui yang benar dengan mengajarkan
posisi dan perlekatan yang baik
g. Adanya larangan promosi susu formula di RS dan lingkungannya
h. Melaksanakan Perawatan Metode Kangguru untuk bayi kurang bulan/BBLR
(KanggoroMother Care).
i. Adanya tata tertib/jam kunjungan ibu dan bayi
j. Adanya fasilitas ruang nifas sesuai standar
k. Melakukan perawatan nifas
l. Melakukan hygiene perineum
m. Pencegahan dan pemantauan infeksi nosokomial pada ibu dan bayi yang
dirawat gabung.
RS dapat mengembangan pelaksanaan program berupa :
a. Meningkatkan kualitas bahan dan alat peraga untuk demonstrasi
b. Pelaporan keberhasilan menyusui
c. Adanya pelayanan perinatal lanjutan (pelayanan follow up diluar rumah sakit
atau kunjungan rumah)
d. Pemberian susu formula hanya atas indikasi medis dan keadaan-keadaan
khusus
e. Persediaan susu formula hanya atas indikasi medis dan tidak diberikan gratis
f. Pengembangan penelitian tentang keberhasilan menyusui(ASI)
Langkah Keenam
Menyelenggarakan pelayanan rujukan dua arah dan membina jejaring rujukan
pelayanan ibu dan bayi dengan sarana lain.
RS dapat mengembangkan pelayanan program berupa :
Pedoman RSSIB Setya Bhakti Page 29
a. Membentuk keterpaduan dalam sistem rujukan di kabupaten/kota
b. Mengevaluasi pelaksanaan rujukan
c. Pengembangan penelitian tentang sistem rujukan
d. Dokumentasikan hasil-hasil evaluasi
Langkah Ketujuh
Menyelenggarakan pelayanan Imunisasi bayi dan tumbuh kembang
a. Menyelenggarakan konseling dan pelayanan imunisasi bayi di RS sesuai
dengan usia
b. Memantau tumbuh kembang bayi sejak lahir (stimulasi, deteksi dan intervensi
dini tumbuh kembang)
c. Memantau dan mengusahakan pemberian ASI eksklusif pada bayi
d. Penanganan penyakit bayi sesuai standar
RS dapat mengembangkan pelaksanaan program berupa :
a. Mengembangklan penelitian tentang imunisasi
b. Komunikasi dan dokumentasikan hasil-hasil penelitian
c. Mengembanhgkan klinik tumbuh kembang anak
Langkah Kedelapan
Menyelenggarakan pelayanan kesehatan Keluarga Berencana termasuk pencegahan
dan penanganan kehamilan yang tidak diinginkan serta kesehatan reproduksi lainnya
a. Menyelenggarakan konseling mengenai KB dan kontrasepsi termasuk Metode
Amenorhea Laktasi (LAM) untuk pasien dan suami sebelum meninggalkan RS.
b. Menyelenggarakan pelayanan KB paripurna termasuk kontrasepsi baik untuk
perempuan maupun pria.
c. Menyelenggarakan konseling mengenai kesehatan reproduksi termasuk
konseling
d. pranikah.
RS dapat mengembangan pelaksanaan program berupa :
a. Pengembangan penelitian tentang Keluarga Berencana
b. Pengembangan metode baru kontrasepsi pria
c. Publikasi dan dokumentasi hasil-hasil penelitian
Pedoman RSSIB Setya Bhakti Page 30
Langkah Kesembilan
Melaksanakan Audit Maternal dan Perinatal rumah sakit secara periodik dan tindak
lanjut
a. Komite medik agar dapat bertindak sebagai tim AMP yang mengadakan
pertemuan secara rutin yang berfungsi melaksnakan audit, tidak mencari
kesalahan tetapi membantu mencari solusi serta kehilangan hambatan medik
dan non medik
b. RS dapat ikut aktif dalam pelaksanaan AMP tingkat kabupaten/kota dalam
permasalahan kasus maternal dan perinatal
c. Menyelenggarakan program surveilance untuk pemantauan dan evaluasi
kasus maternal/perinatal
d. Melakukan intervensi dan tindak lanjut dalam menurunkan Angka Kematian
Ibu dan Angka Kematian Bayi
e. Menyebarluaskan laporan AMP dan tindak lanjutnya secara rutin.
RS dapat mengembangan pelaksanaan program berupa :
a. Mengembangkan Sistem Informasi Manajemen(SIM)/ Data Kesakitan/ Data
Kematian Ibu dan Bayi dapat diperoleh secara cepat dan mudah serta akurat
melalui komputerisasi
b. Pengembangan penelitian tentang rumah sakit yang mampu secara proaktif
melakukan AMP di Kabupaten/Kota
Langkah Kesepuluh
Memberdayakan kelompok pendukung ASI dalam menindaklanjuti pemberian ASI
eksklusif dan PMK
a. Adanya kelompok binaan rumah sakit sebagai pendukung ASI dan PMK,
dimana angota kelompok ini akan saling membantu dan mendukung
pemberian ASI eksklusif termasuk pelaksanaan PMK
b. Adanya fasilitas tempat penitipan anak dan bayi bagi pegawai RS dan
lingkungannya
c. Adanya ruang menyusui
d. Mendokumentasikan kegiatan kelompok pendukung ASI
RS dapat mengembangan pelaksanaan program berupa :
Pedoman RSSIB Setya Bhakti Page 31
a. Melatih anggota pendukung ASI yang diluar RS (Posyandu, ibu-ibu yang
pernah
b. melahirkan di RS) sehingga mampu berperan dalam kelompok pendukung ASI
c. Melakukan pemantauan dan evaluasi terhadap semua kelompok ASI yang
dibina dan
d. menjadi tanggung jawab RS
e. Mengupayakan adanya peningkatan jumlah kelompok pendukung ASI yang
dibina oleh RS berkoordinasi dengan dinas kesehatan Kabupaten/Kota
f. Mengupayakan merujuk ibu yang baru melahirkan setelah pulang ke rumah
kepadav
g. kelompok pendukung ASI terdekat dengan menggunakn formulir rujukan
h. Mendata jumlah kelompok pendukung ASI
i. Mendokumentasikan permasalahan dan pemecahan masalah kelompok
pendukung ASI
j. Adanya kelompok pendukung ibu-bayinya.
II.f. Sistem dan Prosedur Program RSSIB
RSSIB adalah program pelayanan kesehatan Ibu dan Bayi yang merupakan
koordinasi berbagai unit kerja (multi sektor) dan didukung berbagai kegiatan profesi
(multi disiplin dan multi profesi) untuk menyelenggarakan perlindungan Ibu dan Bayi
secara terpadu dan paripurna.
a. Pada pelayanan di rumah sakit diperlukan Sarana, Prasarana, UGD, Poliklinik
Kamar Bersalin, Ruang Nifas, Kamar operasi, Kamar rawat intensif
(HCU/ICU/NICU/PICU), unit-unit penunjang : Radiologi, Laboratorium,
Farmasi, Gizi, Ruang Rawat Inap, dan lain-lain.
b. Pelayanan di UGD adalah pelayanan pertama bagi kasus bagi kasus gawat
darurat obstetrik dan neonatal yang memerlukan organisasi yang baik (Tim
PONEK 24 jam), pembiayaan termasuk sumber pembiayaan termasuk sumber
pembiayaan, SDM yang baik dan terlatih, mengikuti perkembangan teknologi
pada pelayanan medis.
c. Poliklinik adalah pelayanan rawat jalan bagi ibu hamil dan menyusui. Di sini
tenaga kesehatan ([Link], Bidan, perawat dan lain-lain) dapat memberikan
Pedoman RSSIB Setya Bhakti Page 32
pelayanan dan konseling mengenai kesehatan kesehatan ibu dan bayi
termasuk KB, imunisasi, gizi dan tumbuh kembang. Tersedia juga pojok
laktasi untuk menyusui.
d. Tersedia juga ruang senam hamil dan nifas
e. Kamar bersalin adalah ruangan tempat ibu melakukan persalinan, dimana
selalu ada bidan jaga 24 jam, yang dilengkapi dengan peralatan (forseps,
vakum dan peralatan resusitasi bayi) dan depo obat-obatan gawat darurat
kebidanan.
f. Kamar operasi adalah ruangan tempat dilakukan operasi sesar, yang
dilengkapi dengan peralatan, obat-obatan dan unit transfusi darah.
g. Ruang nifas merupakan ruang perawatan paska persalinan yang meliputi
pengelolaan tentang menyusui, infeksi, perdarahan sisa plasenta dan
episiotomi. Disini juga baiknya tersedia ruangan dan aktivitas senam nifas.
h. Penunjung diagnostik dan penunjang dalam pengobatan merupakan
pendukung dalam pelaksanaan program Rumah Sakit Sayang Ibu dan Bayi
II.g. Mekanisme Rujukan
Tata Laksana Sistem Rujukan pada Fasyankes Tingkat Pertama
Proses rujukan dalam sistem rujukan di fasyankes tingkat dua terdiri atas
proses merujuk ke fasyankes tingkat dua ataupun fasyankes rujukan antara ke
puskesmas perawatan, RS Kelas D Pratama dan RS Kelas D, serta menerima rujukan
balik vertikal dari fasyankes tingkat dua. Proses di fasyankes tingkat pertama
tersebut dilaksanakan sebagai berikut :
1. Rujukan dari Fasyankes Tingkat Pertama ke Tingkat Dua
a. Proses merujuk pasien
1. Syarat merujuk pasien
Pasien yang akan dirujuk sudah diperiksa dan disimpulkan bahwa
kondisi pasien layak serta memenuhi syarat untuk dirujuk, tanda-tanda
vital berada dalam kondisi baik/stabi serta transportable. Sebelum
dirujuk perlu adanya informed concent dari keluarga berupa penjelasan
yang berkaitan dengan penyakit/masalah kesehatan pasien dan kondisi
pasien saat ini, tujuan dan pentingnya pasien harus dirujuk, kemana
Pedoman RSSIB Setya Bhakti Page 33
pasien akan dirujuk, akibat/risiko yang mungkin terjadi pada kondisi
kesehatan pasien ataupun keluarga/lingkungannya apabila rujukan
tidak dilakukan, dan keuntungan apabila dilakukan rujukan.
2. Prosedur standar merujuk pasien
a. Prosedur klinis :
1) Pada kasus non emergensi, maka proses rujukan mengikuti
prosedur rutin yang ditetapkan
2) Pada kondisi emergensi dan membutuhkan pertolongan
kedaruratan medik, petugas yang berwenang segera melakukan
pertolongan (prosedur life saving) untuk menstabilkan kondisi
pasien di fasyankes, sesuai Standar Prosedur Operasional (SPO).
3) Menghubungi kembali unit pelayanan di fasyankes tujuan rujukan,
untuk memastikan sekali lagi bahwa pasien dapat siterima di
fasyankes rujukan atau harus menunggu sementara ataupun
mencari fasyankes rujukan lainnya sebagai alternatif.
4) Untuk pasien gawat darurat, dalam perjalanan rujukan ke
fasyankes yang dituju, harus didamping provider yang kompeten
di bidangnya. Bagi pasien yangbukan gawat darurat, perjalan
rujukan tidak perlu didampingi petugas kesehatan.
5) Apabila tersedia perangkat Teknologi Komunikasi ( Radio Medik) /
Teknologi Informasi Komunikasi (Tele Medicine/e-health/u-health)
dalam suatu sistem rujukan, dapat dimanfaatkan untuk
kelancaran merujuk pasien.
b. Prosedur administratif rujukan :
1) Melengkapi catatan rekam medis pasien, setelah tindakan untuk
menstabilakn kondisi pasien pra-rujukan
2) Menyaipkan informed consent baik bagi pasien/keluarga yang
setuju dirujuk maupun yang menolak untuk dirujuk. Selanjutnya
informed concent yang telah ditanda tangani tersebut disimpan
dalam rekam medim pasien bersangkutan.
3) Apabila pasien/keluarga setuju untuk dirujuk, maka fasyankes
perujuk membuat surat rujukan pasien rangkap 2
Pedoman RSSIB Setya Bhakti Page 34
a. Lembar pertama dikirim ke fasyankes rujukan bersama pasien
b. Lembar kedua disimpan sebagai arsip, bersama rekam medik
pasien bersangkutan.
4) Mencatat identitas pasien pada buku register rujukan pasien
5) Administrasi pengiriman pasien sudah harus selesai sebelum
pasien dirujuk
6) Memastikan bahwa RS rujukan siap menerima pasien
c. Prosedur operasional merujuk pasien
1) Menyaipkan sarana transportasi rujukan
2) Setiba pasien di fasyankes rujukan, maka provider pendamping
rujukan secara formal akan mneyerahkan tanggung jawab
penanganan pasien pada provider berwenang di fasyankes
rujukan.
2. Tindak Lanjut Atas Rujukan Balik dari Fasyankes Tingkat Dua
a. Setiap pasien yang dirujuk ke fasyankes yang lebih mampu perlu dipantau
kemajuan/penanganannya di fasyankes tujuan rujukan, sehingga
fasyankes tingkat pertama mengetahui kondisi pasien yang dirujuk dan
berupaya untuk tahu kapan akan dirujuk balikj dari fasyankes tingkat dua,
dalam kondisi bagaimana, yang datanya dapat diperoleh dari fasyankes
rujukan.
b. Denga demikian fasyankes tingkat pertama siap menerima kembali rujukan
balik pasien yang dikirimkan sebelumnya. Fasyankes tingkat pertama
bersama fasyankes tingkat kedua memfasilitasi pasien dalam proses
rujukan balik pasien.
c. Memfasilitasi berfungsinya sistem rujukan secara timbal balik
berkesinambungan melalui pemantauan penyelenggaraan rujukan pasien
dan rujukan baliknya.
Tata Laksana Sistem Rujukan pada Fasyankes Tingkat Dua
1. Merujuk pasien ke fasyankes tingkat tiga yang lebih mampu
a. Sejak kedatangan pasien (non emergensi atau emergensi) baik yang
diperiksa di klinik/IGD ataupun pasien rujukan rawat jalan dan rawat inap,
Pedoman RSSIB Setya Bhakti Page 35
setelah dilakukan pengamatan (observasi) dan pemantauan serta
pertimbangan secara cermat, pasien perlu dirujuk ke fasyankes tingkat
ketiga yang lebih mampu.
Tujuan merujuk ke fasyankes tingkat tiga :
1) Mengalihkan pelayanan pasien ke fasyankes tingkat tiga, dan proses
rujukan akan mengikuti SPO yang berlaku disertai penjelasan tentang :
Kondisi penyakitnya saat ini dan diagnosis yang ditegakkan
Pemeriksaan yang sudah dan sedang dilaksanakan, serta hasilnya
Obat yang sudah diberikan dan tindakan yang sudah dilakukan
2) Merujuk pasien untuk pemeriksaan spesialis/sub-spesialis yang lebih
kompeten, dimana pasien masih tetap dirawat di fasyankes tingkat dua
dengan saran-saran dari spesialis/sub-spesialis
3) Melengkapi pemeriksaan penunjang medis yang tidak dapak dilakukan
dan pasien tetap ditangani di fasyankes tingkat dua
4) Hanya mengirimkan specimen laboratorium untuk diperiksa dan
diperoleh hasilnya, atau merujuk hasil foto rongent untuk ekpertisinya,
mengirim hasil pembacaan hasil EKG dan lainnya.
b. Kepada pasien atau keluarga perlu dijelaskan tentang penyakit pasien dan
kondisinya, perlunya pasien dirujuk ke fasyankes yang lebih mampu sesuai
kebutuhannya, antara lain perlu pemeriksaan penunjang medis sehingga
pasien, rancangan dan prosedur pengiriman pasien/rujukan, persiapan
keluarga untuk memenuhi persyaratn rujukan, dan lainnya sebagaimana
prosedur informed concent, keputusan akhir akan ditentukan oleh
pasien/keluarga.
2. Merujuk balik ke fasyankes tingkat pertama yang semula mengirim pasien
a. Pasien dapat dikeluarkan dari perawatan, setelah melaui prosedur klinis
dan menyelesaikan prosedur administratif
b. Menginformasikan kepada fasyankes perujuk semula di tingkat pertam,
bahwa pasien sudah memungkinkan untuk dikembalikan ke fasyankes
perujuk semula dengan beberapa catatan untuk tindak lanjut, yang akan
dituliskan dalam jawaban atas rujukan, dan hal ini harus masuk dalam SPO
dalam pelayanan pasien rujukan di fasyankes tingkat kedua.
Pedoman RSSIB Setya Bhakti Page 36
Fasyankes rujukan akan mempersiapkan proses rujukan balik pasien
beserta kelengkapannya berupa :
Kondisi pasien harus benar-benar sudah siap secara medik untuk dikirim
kembali
Pasien telah diberi penjelasan tentang kondisi kesehatannya saat ini,
obat-obatan yang harus digunakan, hal-hal yang boleh dan tidak boleh
dilakukan pasien, tindak lanjut pelayanan yang masih diperlukannya,
baik di tingkat fasyanke tingkat pertama ataupun untuk
konsultasi/rujukan ulangnya ke fasyankes rujukan, dan lainnya yang
perlu dijelaskan.
3. Tindak lanjut atas rujukan balik dari fasyankes tingkat tiga
a. Fasyankes tingakt dua seharusnya sudah menerima informasi tentang
rencana rujukan balik pasien dari fasyankes terujuk
b. Atas informasi yang didapat dari surat rujukan balik yang diserahkan
pasien/keluarga, fasyankes tingkat dua menyusun rencana tindak lanjut
pelayanan pasien berdasar saran-saran dalam surat jawaban rujukan balik
c. Dilakukannya pelayanan pasien rujukan balik sesuai rencana.
Tata Laksana Sistem Rujukan pada Fasyankes Tingkat TigaRumah
Rumah Sakit Kelas A (fasyankes tingkat tiga), RS Swasta setingkat dan
fasyankes perseorangan lainnya setingkat, yang menerima rujukan pasien harus
memberikan laporan informasi medis atau balasan rujukan, ketika pasien keluar dari
fasilitas pelayanan kesehatan yang menerima rujukan antara lain :
1. Secara umum proses penerimaan pasien maupun pengiriman rujukan balik
pasien dilaksanankan sama dengan di fasyankes tingkat dua. Yang berbeda
adalah tingkat kemampuan/kompetensi fasyankes dalam memberikan
pelayanan medik sub-spesialistik, termasuk kemampuan fasilitas penunjang
medik dan keperawatannya.
2. Selain sebagai tempat rujukan kasus yang memerlukan layanan sub-
spesialistik, fasyankes tingkat tiga juga menjadi tempat pendidikan bagi
tenaga-tenaga kesehatan, khususnya calon spesiali dan sub-spesialis
Pedoman RSSIB Setya Bhakti Page 37
PEDOMAN PELAKSANAAN RSSIB
SETYA BHAKTI
2017/2018
Pedoman RSSIB Setya Bhakti Page 38
BAB III
PANDUAN PELAYANAN ANTENATAL
III.a. DEFINISI
Pelayanan kesehatan pada ibu hamil tidak dapat dipisahkan dengan
pelayanan persalinan, pelayanan nifas dan pelayanan kesehatan bayi baru lahir.
Setiap kehamilan, dalam perkembangannya mempunyai risiko mengalami penyulit
atau komplikasi. Oleh karena itu, pelayanan antenatal harus dilakukan secara rutin,
sesuai standar dan terpadu untuk pelayanan antenatal yang berkualitas.
Pelayanan antenatal terpadu dan berkualitas secara keseluruhan meliputi hal-
hal sebagai berikut:
a. Memberikan pelayanan dan konseling kesehatan termasuk gizi agar
kehamilan berlangsung sehat;
b. Melakukan deteksi dini masalah, penyakit dan penyulit/komplikasi kehamilan
c. Menyiapkan persalinan yang bersih dan aman;
d. Merencanakan antisipasi dan persiapan dini untuk melakukan rujukan jika
terjadi penyulit/komplikasi.
e. Melakukan penatalaksanaan kasus serta rujukan cepat dan tepat waktu bila
diperlukan.
f. Melibatkan ibu dan keluarganya terutama suami dalam menjaga kesehatan
dan gizi ibu hamil, menyiapkan persalinan dan kesiagaan bila terjadi
penyulit/komplikasi.
III.b. DASAR HUKUM
1. Undang-Undang RI Nomor 29 tahun 2004 tentang Praktik Kedokteran
2. Undang-Undang RI nomor 36 tahun 2009 tentang Kesehatan
3. Undang-Undang RI nomor 44 tahun 2009 tentang Rumah Sakit
4. Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 97 Tahun 2014 tentang Pelayanan
Kesehatan Masa Sebelum Hamil, Masa Hamil, Persalinan, dan Masa Sesudah
Melahirkan, Penyelenggaraan Pelayanan Kontrasepsi Serta Pelayanan Kesehatan
Seksual
Pedoman RSSIB Setya Bhakti Page 39
III.c. RUANG LINGKUP
Pelayanan antenatal terpadu diberikan oleh tenaga kesehatan yang kompeten yaitu
dokter, bidan dan perawat terlatih, sesuai dengan ketentuan yang berlaku.
Pelayanan antenatal terpadu terdiri dari :
a) Anamnesa
Dalam memberikan pelayanan antenatal terpadu, ada beberapa hal yang perlu
diperhatikan ketika melakukan anamnesa, yaitu:
1. Menanyakan keluhan atau masalah yang dirasakan oleh ibu saat ini.
2. Menanyakan tanda-tanda penting yang terkait dengan masalah kehamilan dan
penyakit yang kemungkinan diderita ibu hamil:
o Muntah berlebihan
Rasa mual dan muntah bisa muncul pada kehamilan muda terutama pada pagi hari
namun kondisi ini biasanya hilang setelah kehamilan berumur 3 bulan. Keadaan ini
tidak perlu dikhawatirkan, kecuali kalau memang cukup berat, hingga tidak dapat
makan dan berat badan menurun terus.
o Pusing
Pusing biasa muncul pada kehamilan muda. Apabila pusing sampai mengganggu
aktivitas sehari-hari maka perlu diwaspadai.
o Sakit kepala
Sakit kepala yang hebat yang timbul pada ibu hamil mungkin dapat membahayakan
kesehatan ibu dan janin.
o Perdarahan
Perdarahan waktu hamil, walaupun hanya sedikit sudah merupakan tanda bahaya
sehingga ibu hamil harus waspada.
o Sakit perut hebat
Nyeri perut yang hebat dapat membahayakan kesehatan ibu dan janinnya.
o Demam
Demam tinggi lebih dari 2 hari atau keluarnya cairan berlebihan dari liang rahim dan
kadang-kadang berbau merupakan salah satu tanda bahaya pada kehamilan.
o Batuk lama
Batuk lama Lebih dari 2 minggu, perlu ada pemeriksaan lanjut. Dapat dicurigai ibu
menderita TBC.
Pedoman RSSIB Setya Bhakti Page 40
o Berdebar-debar
Jantung berdebar-debar pada ibu hamil merupakan salah satu masalah pada
kehamilan yang harus diwaspadai.
o Cepat lelah
Dalam dua atau tiga bulan pertama kehamilan, biasanya timbul rasa lelah,
mengantuk yang berlebihan dan pusing, yang biasanya terjadi pada sore hari.
Kemungkinan ibu menderta kurang darah.
o Sesak nafas atau sukar bernafas
Pada akhir bulan ke delapan ibu hamil sering merasa sedikit sesak bila bernafas
karena bayi menekan paru-paru ibu. Namun apabila hal ini terjadi berlebihan maka
perlu diwaspadai.
o Keputihan yang berbau
Keputihan yang berbau merupakan salah satu tanda bahaya pada ibu hamil.
o Gerakan janin
Gerakan bayi mulai dirasakan ibu pada kehamilan akhir bulan ke empat. Apabila
gerakan janin belum muncul pada usia kehamilan ini, gerakan yang semakin
berkurang atau tidak ada gerakan maka ibu hamil harus waspada.
o Perilaku berubah selama hamil, seperti gaduh gelisah, menarik diri, bicara sendiri,
tidak mandi, dsb.
Selama kehamilan, ibu bisa mengalami perubahan perilaku. Hal ini disebabkan
karena perubahan hormonal. Pada kondisi yang mengganggu kesehatan ibu dan
janinnya maka akan dikonsulkan ke psikiater.
o Riwayat kekerasan terhadap perempuan (KtP) selama kehamilan
Informasi mengenai kekerasan terhadap perempuan terutama ibu hamil seringkali
sulit untuk digali. Korban kekerasan tidak selalu mau berterus terang pada
kunjungan pertama, yang mungkin disebabkan oleh rasa takut atau belum mampu
mengemukakan masalahnya kepada orang lain, termasuk petugas kesehatan. Dalam
keadaan ini, petugas kesehatan diharapkan dapat mengenali korban dan
memberikan dukungan agar mau membuka diri.
3. Menanyakan status kunjungan (baru atau lama), riwayat kehamilan yang
sekarang, riwayat kehamilan dan persalinan sebelumnya dan riwayat penyakit yang
diderita ibu.
Pedoman RSSIB Setya Bhakti Page 41
4. Menanyakan status imunisasi Tetanus Toksoid.
5. Menanyakan jumlah tablet Fe yang dikonsumsi.
6. Menanyakan obat-obat yang dikonsumsi seperti: antihipertensi, diuretika, anti
vomitus, antipiretika, antibiotika, obat TB, dan sebagainya.
7. Di daerah endemis Malaria, tanyakan gejala Malaria dan riwayat pemakaian obat
Malaria.
8. Di daerah risiko tinggi IMS, tanyakan gejala IMS dan riwayat penyakit pada
pasangannya. Informasi ini penting untuk langkahlangkah penanggulangan penyakit
menular seksual.
9. Menanyakan pola makan ibu selama hamil yang meliputi jumlah, frekuensi dan
kualitas asupan makanan terkait dengan kandungan gizinya.
10. Menanyakan kesiapan menghadapi persalinan dan menyikapi kemungkinan
terjadinya komplikasi dalam kehamilan, antara lain:
o Siapa yang akan menolong persalinan?
Setiap ibu hamil harus bersalin ditolong tenaga kesehatan.
o Dimana akan bersalin?
Ibu hamil dapat bersalin di Poskesdes, Puskesmas atau di rumah sakit?
o Siapa yang mendampingi ibu saat bersalin?
Pada saat bersalin, ibu sebaiknya didampingi suami atau keluarga terdekat.
Masyarakat/organisasi masyarakat, kader, dukun dan bidan dilibatkan untuk
kesiapan dan kewaspadaan dalam menghadapi persalinan dan kegawatdaruratan
obstetri dan neonatal
o Siapa yang akan menjadi pendonor darah apabila terjadi pendarahan?
Suami, keluarga dan masyarakat menyiapkan calon donor darah yang sewaktu-
waktu dapat menyumbangkan darahnya untuk keselamatan ibu melahirkan.
o Transportasi apa yang akan digunakan jika suatu saat harus dirujuk?
Alat transportasi bisa berasal dari masyarakat sesuai dengan kesepakatan bersama
yang dapat dipergunakan untuk mengantar calon ibu bersalin ke tempat persalinan
termasuk tempat rujukan. Alat transportasi tersebut dapat berupa mobil, ojek,
becak, sepeda, tandu, perahu, dsb.
o Apakah sudah disiapkan biaya untuk persalinan?
Pedoman RSSIB Setya Bhakti Page 42
Suami diharapkan dapat menyiapkan dana untuk persalinan ibu kelak. Biaya
persalinan ini yang dapat dipergunakan untuk membantu pembiayaan mulai
antenatal, persalinan dan kegawatdaruratan.
Informasi anamnesa bisa diperoleh dari ibu sendiri, suami, keluarga, kader ataupun
sumber informasi lainnya yang dapat dipercaya.
Setiap ibu hamil, pada kunjungan pertama perlu diinformasikan bahwa pelayanan
antenatal selama kehamilan minimal 4 kali dan minimal 1 kali kunjungan diantar
suami.
b) Pemeriksaan
Pemeriksaan dalam pelayanan antenatal terpadu, meliputi berbagai jenis
pemeriksaan termasuk menilai keadaan umum (fisik) dan psikologis (kejiwaan) ibu
hamil.
Pemeriksaan laboratorium/penunjang dikerjakan sesuai tabel di atas.
Apabila di fasilitas tidak tersedia, maka tenaga kesehatan harus merujuk ibu hamil
ke fasilitas pelayanan kesehatan yang lebih tinggi.
c) Penanganan dan Tindak Lanjut kasus.
Berdasarkan hasil anamnesa, pemeriksaan fisik dan pemeriksaan laboratorium/
penunjang lainnya, dokter menegakkan diagnosa kerja atau diagnosa banding,
sedangkan bidan/perawat dapat mengenali keadaan normal dan keadaan
bermasalah/tidak normal pada ibu hamil.
Berikut ini adalah penanganan dan tindak lanjut kasus pada pelayanan antenatal
terpadu.
Pada setiap kunjungan antenatal, semua pelayanan yang meliputi anamnesa,
pemeriksaan dan penanganan yang diberikan serta rencana tindak-lanjutnya harus
diinformasikan kepada ibu hamil dan suaminya. Jelaskan tanda-tanda bahaya
dimana ibu hamil harus segera datang untuk mendapat pertolongan dari tenaga
kesehatan.
Apabila ditemukan kelainan atau keadaan tidak normal pada kunjungan antenatal,
informasikan rencana tindak lanjut termasuk perlunya rujukan untuk penanganan
kasus, pemeriksaan laboratorium/penunjang, USG, konsultasi atau perawatan, dan
juga jadwal kontrol berikutnya, apabila diharuskan datang lebih cepat.
Pedoman RSSIB Setya Bhakti Page 43
Ibu hamil yang mengalami kekerasan dalam rumah tangga adalah ibu hamil yang
mengalami segala bentuk tindak kekerasan yang berakibat, atau mungkin berakibat,
menyakiti secara fisik, seksual, mental atau penderitaan; termasuk ancaman dari
tindakan tersebut, pemaksaan atau perampasan semena-mena kebebasan, baik
yang terjadi di lingkungan masyarakat maupun dalam kehidupan pribadi.
Pusat Pelayanan Terpadu (PPT) terhadap korban kekerasan merupakan tempat
dilaksanakannya pelayanan kepada korban kekerasan baik di rumah sakit umum
pemerintah dan swasta termasuk rumah sakit POLRI secara komprehensif oleh
multidisipliner dibawah satu atap (one stop services).
d). Pencatatan hasil pemeriksaan antenatal terpadu.
Pencatatan hasil pemeriksaan merupakan bagian dari standar pelayanan antenatal
terpadu yang berkualitas. Setiap kali pemeriksaan, tenaga kesehatan wajib mencatat
hasilnya pada rekam medis, Kartu Ibu dan Buku KIA.
Pada saat ini pencatatan hasil pemeriksaan antenatal masih sangat lemah, sehingga
data-datanya tidak dapat dianalisa untuk peningkatan kualitas pelayanan antenatal.
Dengan menerapkan pencatatan sebagai bagian dari standar pelayanan, maka
kualitas pelayanan antenatal dapat ditingkatkan.
e). Komunikasi, informasi dan edukasi (KIE) yang efektif.
KIE yang efektif termasuk konseling merupakan bagian dari pelayanan antenatal
terpadu yang diberikan sejak kontak pertama untuk membantu ibu hamil dalam
mengatasi masalahnya.
III.d. PELAKSANAAN
Dalam melakukan pemeriksaan antenatal, tenaga kesehatan harus Memberikan
pelayanan yang berkualitas sesuai standar terdiri dari:
1) Timbang berat badan
Penimbangan berat badan pada setiap kali kunjungan antenatal dilakukan untuk
mendeteksi adanya gangguan pertumbuhan janin.
Penambahan berat badan yang kurang dari 9 kilogram selama kehamilan atau
kurang dari 1 kilogram setiap bulannya menunjukkan adanya gangguan
pertumbuhan janin.
2) Ukur lingkar lengan atas (LiLA).
Pedoman RSSIB Setya Bhakti Page 44
Pengukuran LiLA hanya dilakukan pada kontak pertama untuk skrining ibu hamil
berisiko kurang energi kronis (KEK). Kurang energi kronis disini maksudnya ibu hamil
yang mengalami kekurangan gizi dan telah berlangsung lama (beberapa
bulan/tahun) dimana LiLA kurang dari 23,5 cm. Ibu hamil dengan KEK akan dapat
melahirkan bayi berat lahir rendah (BBLR).
3) Ukur tekanan darah.
Pengukuran tekanan darah pada setiap kali kunjungan antenatal dilakukan untuk
mendeteksi adanya hipertensi (tekanan darah e” 140/90 mmHg) pada kehamilan
dan preeklampsia (hipertensi disertai edema wajah dan atau tungkai bawah; dan
atau proteinuria)
4) Ukur tinggi fundus uteri
Pengukuran tinggi fundus pada setiap kali kunjungan antenatal dilakukan untuk
mendeteksi pertumbuhan janin sesuai atau tidak dengan umur kehamilan. Jika tinggi
fundus tidak sesuai dengan umur kehamilan, kemungkinan ada gangguan
pertumbuhan janin.
Standar pengukuran menggunakan pita pengukur setelah kehamilan 24 minggu.
5) Hitung denyut jantung janin (DJJ)
Penilaian DJJ dilakukan pada akhir trimester I dan selanjutnya setiap kali kunjungan
antenatal. DJJ lambat kurang dari 120/menit atau DJJ cepat lebih dari 160/menit
menunjukkan adanya gawat janin.
6) Tentukan presentasi janin;
Menentukan presentasi janin dilakukan pada akhir trimester II dan selanjutnya
setiap kali kunjungan antenatal. Pemeriksaan ini dimaksudkan untuk mengetahui
letak janin. Jika, pada trimester III bagian bawah janin bukan kepala, atau kepala
janin belum masuk ke panggul berarti ada kelainan letak, panggul sempit atau ada
masalah lain.
7) Beri imunisasi Tetanus Toksoid (TT)
Untuk mencegah terjadinya tetanus neonatorum, ibu hamil harus mendapat
imunisasi TT. Pada saat kontak pertama, ibu hamil diskrining status imunisasi TT-
nya. Pemberian imunisasi TT pada ibu hamil, disesuai dengan status imunisasi ibu
saat ini.
8) Beri tablet tambah darah (tablet besi),
Pedoman RSSIB Setya Bhakti Page 45
Untuk mencegah anemia gizi besi, setiap ibu hamil harus mendapat tablet zat besi
minimal 90 tablet selama kehamilan diberikan sejak kontak pertama.
9) Periksa laboratorium (rutin dan khusus)
Pemeriksaan laboratorium dilakukan pada saat antenatal meliputi:
a. Pemeriksaan golongan darah,
Pemeriksaan golongan darah pada ibu hamil tidak hanya untuk mengetahui
jenis golongan darah ibu melainkan juga untuk mempersiapkan calon
pendonor darah yang sewaktu-waktu diperlukan apabila terjadi situasi
kegawatdaruratan.
b. Pemeriksaan kadar hemoglobin darah (Hb)
Pemeriksaan kadar hemoglobin darah ibu hamil dilakukan minimal sekali pada
trimester pertama dan sekali pada trimester ketiga. Pemeriksaan ini ditujukan
untuk mengetahui ibu hamil tersebut menderita anemia atau tidak selama
kehamilannya karena kondisi anemia dapat mempengaruhi proses tumbuh
kembang janin dalam kandungan.
c. Pemeriksaan protein dalam urin
Pemeriksaan protein dalam urin pada ibu hamil dilakukan pada trimester
kedua dan ketiga atas indikasi. Pemeriksaan ini ditujukan untuk mengetahui
adanya proteinuria pada ibu hamil. Proteinuria merupakan salah satu
indikator terjadinya preeklampsia pada ibu hamil.
d. Pemeriksaan kadar gula darah.
Ibu hamil yang dicurigai menderita Diabetes Melitus harus dilakukan
pemeriksaan gula darah selama kehamilannya minimal sekali pada trimester
pertama, sekali pada trimester kedua, dan sekali pada trimester ketiga
(terutama pada akhir trimester ketiga).
e. Pemeriksaan darah Malaria
Semua ibu hamil di daerah endemis Malaria dilakukan pemeriksaan darah
Malaria dalam rangka skrining pada kontak pertama. Ibu hamil di daerah non
endemis Malaria dilakukan pemeriksaan darah Malaria apabila ada indikasi.
f. Pemeriksaan tes Sifilis Pemeriksaan tes Sifilis dilakukan di daerah dengan
risiko tinggi dan ibu hamil yang diduga Sifilis. Pemeriksaaan Sifilis sebaiknya
dilakukan sedini mungkin pada kehamilan.
Pedoman RSSIB Setya Bhakti Page 46
g. Pemeriksaan HIV
Pemeriksaan HIV terutama untuk daerah dengan risiko tinggi kasus HIV dan
ibu hamil yang dicurigai menderita HIV. Ibu hamil setelah menjalani konseling
kemudian diberi kesempatan untuk menetapkan sendiri keputusannya untuk
menjalani tes HIV.
h. Pemeriksaan BTA
Pemeriksaan BTA dilakukan pada ibu hamil yang dicurigai menderita
Tuberkulosis sebagai pencegahan agar infeksi Tuberkulosis tidak
mempengaruhi kesehatan janin.
Selain pemeriksaaan tersebut diatas, apabila diperlukan dapat dilakukan
pemeriksaan penunjang lainnya di fasilitas rujukan.
10) Tatalaksana/penanganan Kasus
Berdasarkan hasil pemeriksaan antenatal di atas dan hasil pemeriksaan
laboratorium, setiap kelainan yang ditemukan pada ibu hamil harus ditangani sesuai
dengan standar dan kewenangan tenaga kesehatan. Kasus-kasus yang tidak dapat
ditangani dirujuk sesuai dengan sistem rujukan.
11) KIE Efektif
KIE efektif dilakukan pada setiap kunjungan antenatal yang meliputi:
a. Kesehatan ibu
Setiap ibu hamil dianjurkan untuk memeriksakan kehamilannya secara rutin
ke tenaga kesehatan dan menganjurkan ibu hamil agar beristirahat yang
cukup selama kehamilannya (sekitar 9-10 jam per hari) dan tidak bekerja
berat.
b. Perilaku hidup bersih dan sehat
Setiap ibu hamil dianjurkan untuk menjaga kebersihan badan selama
kehamilan misalnya mencuci tangan sebelum makan, mandi 2 kali sehari
dengan menggunakan sabun, menggosok gigi setelah sarapan dan sebelum
tidur serta melakukan olah raga ringan.
c. Peran suami/keluarga dalam kehamilan dan perencanaan persalinan
Setiap ibu hamil perlu mendapatkan dukungan dari keluarga terutama suami
dalam kehamilannya. Suami, keluarga atau masyarakat perlu menyiapkan
biaya persalinan, kebutuhan bayi, transportasi rujukan dan calon donor darah.
Pedoman RSSIB Setya Bhakti Page 47
Hal ini penting apabila terjadi komplikasi kehamilan, persalinan, dan nifas
agar segera dibawa ke fasilitas kesehatan.
d. Tanda bahaya pada kehamilan, persalinan dan nifas serta kesiapan
menghadapi komplikasi Setiap ibu hamil diperkenalkan mengenai tanda-tanda
bahaya baik selama kehamilan, persalinan, dan nifas misalnya perdarahan
pada hamil muda maupun hamil tua, keluar cairan berbau pada jalan lahir
saat nifas, dsb. Mengenal tanda-tanda bahaya ini penting agar ibu hamil
segera mencari pertolongan ke tenaga kesehtan kesehatan.
e. Asupan gizi seimbang
Selama hamil, ibu dianjurkan untuk mendapatkan asupan makanan yang
cukup dengan pola gizi yang seimbang karena hal ini penting untuk proses
tumbuh kembang janin dan derajat kesehatan ibu. Misalnya ibu hamil
disarankan minum tablet tambah darah secara rutin untuk mencegah anemia
pada kehamilannya.
f. Gejala penyakit menular dan tidak menular.
Setiap ibu hamil harus tahu mengenai gejala-gejala penyakit menular
(misalnya penyakit IMS,Tuberkulosis) dan penyakit tidak menular (misalnya
hipertensi) karena dapat mempengaruhi pada kesehatan ibu dan janinnya.
g. Penawaran untuk melakukan konseling dan testing HIV di daerah tertentu
(risiko tinggi).
Konseling HIV menjadi salah satu komponen standar dari pelayanan
kesehatan ibu dan anak. Ibu hamil diberikan penjelasan tentang risiko
penularan HIV dari ibu ke janinnya, dan kesempatan untuk menetapkan
sendiri keputusannya untuk menjalani tes HIV atau tidak. Apabila ibu hamil
tersebut HIV positif maka dicegah agar tidak terjadi penularan HIV dari ibu ke
janin, namun sebaliknya apabila ibu hamil tersebut HIV negatif maka
diberikan bimbingan untuk tetap HIV negatif selama kehamilannya, menyusui
dan seterusnya.
h. Inisiasi Menyusu Dini (IMD) dan pemberian ASI ekslusif
Setiap ibu hamil dianjurkan untuk memberikan ASI kepada bayinya segera
setelah bayi lahir karena ASI mengandung zat kekebalan tubuh yang penting
Pedoman RSSIB Setya Bhakti Page 48
untuk kesehatan bayi. Pemberian ASI dilanjutkan sampai bayi berusia 6
bulan.
i. KB paska persalinan
Ibu hamil diberikan pengarahan tentang pentingnya ikut KB setelah
persalinan untuk menjarangkan kehamilan dan agar ibu punya waktu
merawat kesehatan diri sendiri, anak, dan keluarga.
j. Imunisasi
Setiap ibu hamil harus mendapatkan imunisasi Tetanus Toksoid (TT) untuk
mencegah bayi mengalami tetanus neonatorum.
k. Peningkatan kesehatan intelegensia pada kehamilan (Brain booster)
Untuk dapat meningkatkan intelegensia bayi yang akan dilahirkan, ibu hamil
dianjurkan untuk memberikan stimulasi auditori dan pemenuhan nutrisi
pengungkit otak (brain booster) secara bersamaan pada periode kehamilan.
III.e. DOKUMENTASI
A. Pencatatan :
Pencatatan pelayanan antenatal terpadu menggunakan formulir yang sudah ada
yaitu :
1. Kartu Ibu atau rekam medis lainnya yang disimpan di fasilitas kesehatan
2. Register kohort ibu, merupakan kumpulan data-data dari kartu ibu.
3. Buku KIA (dipegang ibu).
4. Pencatatan dari program yang sudah ada (Catatan dari Imunisasi, dari Malaria,
gizi, KB, TB, dll)
Formulir harus diisi lengkap setiap kali selesai memberikan pelayanan. Dokumen ini
harus disimpan dan dijaga dengan baik karena akan digunakan pada kontak
berikutnya. Pada keadaan tertentu dokumen ini diperlukan untuk kegiatan audit
medik.
B. Pelaporan
Pelaporan pelayanan antenatal terpadu menggunakan formulir pelaporan yang
sudah ada.
Pedoman RSSIB Setya Bhakti Page 49
BAB IV
PEDOMAN PELAYANAN IMUNISASI
IV.a. DEFINISI
Imunisasi adalah suatu proses untuk meningkatkan sistem kekebalan tubuh
dengan cara memasukkan vaksin, yakni virus atau bakteri yang sudah dilemahkan,
dibunuh, atau bagian-bagian dari bakteri (virus) tersebut telah dimodifikasi.
Imunisasi adalah suatu proses memasukkan vaksin dalam tubuh seseorang melalui
metode oral atau injeksi oleh petugas medis
Vaksin adalah suatu produk biologis yang terbuat dari kuman, komponen
kuman atau racun kuman yang telah dilemahkan atau dimatikan dan berguna untuk
merangsang kekebalan tubuh seseorang.
Rantai vaksin adalah suatu prosedur yang digunakan untuk menjaga vaksin
pada suhu tertentu yang telah ditetapkan agar memiliki potensi yang baik mulai dari
pembuatan vaksin sampai pada saat pemberiannya (disuntikkan atau diteteskan)
kepada sasaran. Pelayanan
IV.b. DASAR HUKUM
1. Undang Undang Nomor 36 tahun 2009 tentang Kesehatan
2. Undang-Undang RI nomor 44 tahun 2009 tentang Rumah Sakit
3. Undang-Undang RI nomor 29 tahun 2004 tentang Praktek Kedokteran
4. Peraturan Menteri Kesehatan nomor 42 Tahun 2013 tentang Pedoman dan
Penyelenggaraan Imunisasi
IV.c. RUANG LINGKUP
Pelayanan Imunisasi RSIA Setya Bhakti meliputi :
A. Imunisasi BCG
Vaksin BCG adalah vaksin hidup yang berbentuk beku kering (berasal dari bakteri)
yang mengandung Mycobacterium bovis yang sudah dilemahkan.
Tujuan dari imunisasi BCG adalah untuk memberikan kekebalan aktif terhadap
penyakit Tuberculosa.
Cara pemberian dan dosis :
Pedoman RSSIB Setya Bhakti Page 50
a. Sebelum disuntikan vaksin BCG harus dilarutkan terlebih dahulu.
b. Dosis pemberian 0,05 ml sebanyak 1 kali.
c. Disuntikan secara Intrakutan didaerah lengan atas.
d. Vaksin yang sudah dilarutkan harus digunakan sebelum lewat 3 jam.
B. Imunisasi Pentavalen (DPT-HB-Hib)
Vaksin Pentavalen adalah vaksin gabungan dari vaksin DPT, HB ditambah Hib.
Tujuan dari Imunisasi Pentavalen adalah untuk memberikan kekebalan terhadap
beberapa risiko jenis penyakit, antara lain :
Vaksin DPT untuk mengurangi risiko penyakit Difteri, Pertusis (batuk rejan/batuk 100
hari) dan Tetanus.
Vaksin HB untuk mengurangi risiko penyakit Hepatitis B.
Vaksin Hib untuk mengurangi risiko penyakit seperti meningitis, arthritis dan
pneumoni.
Cara pemberian dan dosis :
a. Sebelum digunakan vaksin harus dikocok terlebih dahulu agar suspensi
menjadi homogen.
b. Disuntikkan secara Imtramuskuler dengan dosis pemberian 0,5 ml
sebanyak 3 dosis (3 kali pemberian)..
c. Dosis pertama diberikan pada umur 2 bulan, dosis selanjutnya diberikan
dengan interval paling cepat 4 minggu, dan lanjutan diberikan pada usia
18 bulan
d. Di unit pelayanan statis , vaksin DPT-HB-Hib yang telah dibuka hanya
boleh digunakan selama 4 minggu, dengan ketentuan :
1. Vaksin belum kadaluarsa.
2. Vaksin disimpan pada suhu 2˚C - 8˚C.
3. Tidak pernah terendam air.
4. Sterilitas terjaga.
5. VVM masih dalam kondisi A atau B.
Pedoman RSSIB Setya Bhakti Page 51
C. Imunisasi Polio (Oral Polio Vaccine : OPV)
Vaksin Oral Polio hidup adalah vaksin polio yang sudah dilemahkan.
Tujuan dari Imunisasi Polio adalah pemberian kekebalan terhadap Poliomyelitis.
Cara pemberian dan dosis :
a. Diberikan secara oral (melalui mulut), 1 dosis adalah 2 (dua) tetes
sebanyak 4 kali (dosis) pemberian dengan interval setiap dosis minimal 4
minggu.
b. Setiap membuka vial baru harus menggunakan penetes (dropper) yang
baru.
c. Di unit pelayanan statis, polio yang telah dibuka hanya boleh digunakan
selama 2 minggu, dengan ketentuan :
1. Vaksin belum kadaluarsa.
2. Vaksin disimpan dalam suhu +2˚C - +8˚C.
3. Tidak pernah terendam air.
4. Sterilitas terjaga.
5. VVM masih dalam kondisi A atau B.
D. Imunisasi Campak
Vaksin Campak adalah vaksin virus hidup yang sudah dilemahkan.
Tujuan dari imunisasi campak adalah pemberian kekebalan aktif terhadap penyakit
Campak.
Cara pemberian dan dosis :
a. Sebelum disuntikkan vaksin campak terlebih dahulu harus dilarutkan
dengan pelarut steril yang telah tersedia.
b. Dosis pemberian 0,5 ml.
c. Disuntikkan secara subkutan dalam pada lengan atas.
d. Diberikan pada usia bayi 9-11 bulan, lanjutan pada usia 24 bulan dan
ulangan (booster) pada usia 6-7 tahun (kelas 1 SD)
Pedoman RSSIB Setya Bhakti Page 52
E. Imunisasi TT
Vaksin jerap TT(Tetanus Toksoid) adalah vaksin yang mengandung toksoid tetanus
yang telah dimurnikan dan terabsorpsi ke dalam 3 mg/ml alumunium fosfat.
Thimerosal 0,1 mg/ml digunakan sebagai pengawet.
Tujuan Imunisasi TT adalah untuk pemberian kekebalan aktif terhadap tetanus /
mencegah tetanus pada bayi yang baru lahir denagan mengimunisasi WUS (Wanita
Usia Subur) atau ibu hamil juga untuk mencegah tetanus pada ibu bayi.
Cara pemberian dan dosis :
a. Sebelum digunakan vaksin harus dikocok terlebih dahulu agar suspense
menjadi homogen.
b. Untuk mencegah tetanus / tetanus neonatal terdiri dari 2 (dua) dosis
primer yang disuntikan secara intramuskuler atau subkutan dalam.
c. Dosis pemberian yang pertama 0,5 ml dengan interval 4 minggu untuk
pemberian yang kedua, dilanjutkan dengan dosis ketiga setelah 6 bulan
berikutnya.
d. Dosis keempat dan kelima diberikan dengan interval 1 tahun setelah
pemberian yang ketiga dan keempat.
e. Imunisasi TT dapat diberikan secara aman selama kehamilan bahkan pada
periode trimester pertama.
f. Di unit pelayanan statis vaksin TT yang telah dibuka hanya boleh
digunakan selama 4 minggu dengan ketentuan :
1. Vaksin belum kadaluarsa.
2. Vaksin disimpan dalam + 2˚ - +8˚C.
3. Tidak pernah terendam air.
4. Sterilisasi terjaga.
5. VVM masih kondidi A atau B.
F. Imunisasi DT
Vaksin jerap DT (Difteri dan tetanus) adalah vaksin yang mengandung toxoid difteri
dan tetanus yang telah dimurnikan.
Tujuan imunisasi DT adalah pemberian kekebalan simultan terhadap difteri dan
tetanus.
Pedoman RSSIB Setya Bhakti Page 53
Cara pemberian dan dosis :
a. Sebelum digunakan vaksin harus dikocok terlebih dahulu agar suspense
menjadi homogen.
b. Disuntikan secara intramuskuler atau subkutan dalam dengan dosis
pemberian 0,5 ml. Dianjurkan untuk anak dibawah 8 tahun.
c. Untuk anak usia 8 tahun atau lebih dianjurkan imunisasi dengan vaksin
Td.
d. Di unit pelayanan statis vaksin DT yang telah dibuka boleh digunakan
selama 4 minggu, dengan ketentuan :
1. Vaksin belum kadaluarsa.
2. Vaksin disimpan dalam suhu 2˚C - 8˚C.
3. Tidak pernah terendam air.
4. Sterilitas terjaga.
5. VVM masih dalam kondisi A atau B.
G. Imunisasi HB0 (Uniject)
Vaksin Hepatitis B adalah vaksin virus recombinan yang telah di maksivasikan dan
bersifat non-infections, berasal dari HBsAg yang dihasilkan dalam sel ragi (hansenula
polymorpha) menggunakan teknologi DNA recombinan.
Tujuan imunisasi hepatitis B PID adalah pemberian kekebalan aktif terhadap infeksi
yang disebabkan oleh virus hepatitis B.
Cara pemberian dan dosis :
a. Sebelum digunakan vaksin harus dikocok terlebih dahulu agar suspense
menjadi homogen.
b. Vaksin disuntikkan dengan dosis 1 (satu) buah HB PID, pemberian suntikan
secara intramuskuler, sebaiknya pada anterolateral paha.
c. Diberikan pada usia 0-7 hari.
d. Diunit Pelayanan statis vaksin dapat digunakan dengan ketentuan :
1. Vaksin belum kadaluarsa.
2. Vaksin disimpan dalam suhu 2˚C - 8˚C.
3. Tidak pernah terendam air.
4. Sterilitas terjaga.
Pedoman RSSIB Setya Bhakti Page 54
5. VVM masih dalam kondisi A atau B.
IV.d. PELAKSANAAN
Tatalaksana pelayanan imunisasi sesuai dengan kebutuhan pasien dan kondisi
logistik RSIA Setya Bhakti, yaitu :
A. Tatalaksana Imunisasi BCG
1. Memanggil orang tua/keluarga masuk ke klinik imunisasi.
2. Melakukan anamnesa dan mencatat di CM, buku KIA dan buku register
imunisasi.
3. Menyiapkan alat dan bahan.
4. Memberi tahu manfaat dan efek samping setelah penyuntikan imunisasi
BCG dan cara menanggulanginya.
5. Mencuci tangan dan memakai APD
6. Membersihkan lengan kanan atas bayi dengan kapas air DTT.
7. Melakukan penyuntikan dilengan kanan atas dengan cara intra cutan.
8. Melakukan desinfektan dengan kapas air DTT.
9. Mencuci tangan
10. Memberi tahu orang tua/keluarga bayinya sudah disuntik.
11. Memberi resep, mempersilakan orang tua/keluarga ke kasir dan
selanjutnya ke apotek untuk mendapatkan obat.
12. Memberi tahu kapan harus kembali imunisasi.
Prosedur / tatalaksana pelayanan imunisasi diatas dibuat SOP.
B. Tatalaksana Imunisasi DPT-HB-Hib
1. Memanggil orang tua/keluarga masuk ke klinik imunisasi.
2. Melakukan anamnesa dan mencatat di CM, buku KIA dan buku register
imunisasi.
3. Menyiapkan alat dan bahan.
4. Mencuci tangan dan memakai APD
5. Memberi tahu manfaat dan efek samping setelah penyuntikan imunisasi
DPT-HB-Hib dan cara menanggulanginya.
6. Membersihkan paha kiri atas bayi dengan kapas air DTT.
7. Melakukan penyuntikan di paha atas luar dengan cara intra muskuler.
Pedoman RSSIB Setya Bhakti Page 55
8. Melakukan desinfektan dengan kapas air DTT.
9. Mencuci tangan
10. Memberi tahu orang tua/keluarga bayinya sudah disuntik.
11. Memberi resep, mempersilakan orang tua/keluarga ke kasir dan
selanjutnya ke apotek untuk mendapatkan obat.
12. Memberi tahu kapan harus kembali imunisasi.
Prosedur / tatalaksana pelayanan imunisasi diatas dibuat SOP.
C. Tatalaksana Imunisasi POLIO
1. Memanggil orang tua/keluarga masuk ke klinik imunisasi.
2. Melakukan anamnesa dan mencatat di CM, buku KIA dan buku register
imunisasi.
3. Menyiapkan alat dan bahan.
4. Mencuci tangan dan memakai APD
5. Memberi tahu manfaat dan efek samping setelah penyuntikan imunisasi
Polio dan cara menanggulanginya.
6. Memberikan 2 tetes vaksin polio.
7. Mencuci tangan
8. Memberi tahu orang tua/keluarga bayinya sudah diberikan vaksin polio..
9. Memberi resep, mempersilakan orang tua/keluarga ke kasir dan
selanjutnya ke apotek untuk mendapatkan obat.
10. Memberi tahu kapan harus kembali imunisasi.
Prosedur / tatalaksana pelayanan imunisasi diatas dibuat SOP.
D. Tatalaksana Imunisasi CAMPAK
1. Memanggil orang tua/keluarga masuk ke klinik imunisasi.
2. Melakukan anamnesa dan mencatat di CM, buku KIA dan buku register
imunisasi.
3. Menyiapkan alat dan bahan.
4. Mencuci tangan dan memakai APD
5. Memberi tahu manfaat dan efek samping setelah penyuntikan imunisasi
campak dan cara menanggulanginya.
6. Membersihkan lengan kiri atas bayi dengan kapas air DTT.
7. Melakukan penyuntikan di lengan kiri atas dengan cara subcutan.
Pedoman RSSIB Setya Bhakti Page 56
8. Melakukan desinfektan dengan kapas air DTT.
9. Mencuci tangan
10. Memberi tahu orang tua/keluarga bayinya sudah disuntik.
11. Memberi resep, mempersilakan orang tua/keluarga ke kasir dan
selanjutnya ke apotek untuk mendapatkan obat.
12. Memberi tahu kapan harus kembali imunisasi.
Prosedur / tatalaksana pelayanan imunisasi diatas dibuat SOP
E. Tatalaksana Imunisasi TT
1. Memanggil pelanggan masuk ke klinik imunisasi.
2. Melakukan anamnesa dan mencatat di CM dan buku register imunisasi.
3. Menyiapkan alat dan bahan.
4. Mencuci tangan dan memakai APD
5. Memberi tahu manfaat dan efek samping setelah penyuntikan imunisasi
TT dan cara menanggulanginya.
6. Membersihkan lengan atas dengan kapas air DTT.
7. Melakukan penyuntikan di lengan kiri atas dengan cara intra muskuler.
8. Melakukan desinfektan dengan kapas air DTT.
9. Mencuci tangan
10. Memberi tahu pelanggan kalau sudah disuntik.
11. Memberi resep, mempersilakan pelanggan ke kasir dan selanjutnya ke
apotek untuk mendapatkan obat.
12. Memberi tahu kapan harus kembali imunisasi.
Prosedur / tatalaksana pelayanan imunisasi diatas dibuat SOP
F. Tatalaksana Imunisasi DT
1. Menyiapkan alat dan bahan.
2. Mencuci tangan dan memakai APD
3. Memberi tahu manfaat dan efek samping setelah penyuntikan imunisasi
DT dan cara menanggulanginya.
4. Membersihkan lengan atas dengan kapas air DTT.
5. Melakukan penyuntikan di lengan atas dengan cara subcutan dalam.
6. Melakukan desinfektan dengan kapas air DTT.
7. Mencuci tangan.
Pedoman RSSIB Setya Bhakti Page 57
Prosedur / tatalaksana pelayanan imunisasi diatas dibuat SOP
G. Tatalaksana Imunisasi HB0
1. Memberi tahu manfaat dan efek samping setelah penyuntikan imunisasi
HB0 dan cara menanggulanginya.
2. Menyiapkan alat dan bahan.
3. Melakukan pencatatan di buku KIA dan kohort bayi.
4. Mencuci tangan dan memakai APD
5. Membersihkan paha kiri atas bayi dengan kapas air DTT.
6. Melakukan penyuntikan dipaha kiri atas dengan cara intra muskuler.
7. Melakukan desinfektan dengan kapas air DTT.
8. Mencuci tangan
9. Memberi tahu orang tua/keluarga bayinya sudah disuntik.
10. Memberi tahu kapan harus kembali imunisasi.
Prosedur / tatalaksana pelayanan imunisasi diatas dibuat SOP
IV.e. DOKUMENTASI
Pencatatan dan pelaporan dalam manajemen imunisasi wajib memegang peranan
penting dan sangat menentukan. Selain menunjang pelayanan imunisasi juga
menjadi dasar untuk membuat keputusan dalam perencanaan, pelaksanaan maupun
evaluasi.
A. Pencatatan
a. Hasil Cakupan Imunisasi
1) Hasil kegiatan imunisasi di lapangan dicatat di buku kuning dan
merah) ditambah laporan dari puskesmas pembantu di rekap di buku
pencatatan imunisasi puskesmas (buku biru).
2) Hasil imunisasi anak sekolah di rekap di buku hasil imunisasi anak
sekolah.
3) Hasil kegiatan imunisasi di komponen statik dicatat untuk sementara
di buku bantu, pada akhir bulan direkap ke buku kuning atau merah
sesuai dengan desa asal sasaran.
4) Laporan hasil imunisasi di balai pengobatan swasta dicatat di buku
biru dari bulan yang sesuai.
Pedoman RSSIB Setya Bhakti Page 58
5) Setiap catatan dari buku biru ini dibuat rangkap dua. Lembar ke 2
dibawa ke kabupaten sewaktu mengambil vaksin/konsultasi.
6) Dalam menghitung persentase cakupan, yang dihitung hanya
pemberian imunisasi pada kelompok sasaran dan periode yang
dipakai adalah tahun anggaran mulai dari 1 Januari sampai dengan 31
Desember pada tahun tersebut.
b. Pencatatan Vaksin
Keluar masuknya vaksin terperinci menurut jumlah nomor batch dan
tanggal kadaluwarsa harus dicatat ke dalam kartu stok. Sisa atau stok
vaksin harus selalu dihitung pada setiap kali penerimaan dan pengeluaran
vaksin. Masing-masing jenis vaksin mempunyai kartu stok tersendiri.
Selain itu kondisi VVM sewaktu menerima dan mengeluarkan vaksin juga
perlu dicatat di SBBK (Surat Bukti Barang Keluar).
c. Pencatatan Suhu Lemari Es
Temperatur lemari es yang terbaca pada termometer yang diletakkan di
tempat yang seharusnya, harus dicatat dua kali sehari yaitu pagi waktu
datang dan sore sebelum pulang. Pencatatan harus dilakukan dengan
upaya perbaikan:
1) Bila suhu tercatat di bawah 2 C, harus mencurigai vaksin Hepatitis
B,DPT-HB, DT, TT, dan Td telah beku. Lakukan uji kocok, jangan
gunakan vaksin yang rusak dan buatlah catatan pada kartu stok
vaksin.
2) Bila suhu tercatat diatas 8 C, segera pindahkan vaksin ke cold box,
vaccine carrier atau termos yang berisi cukup cold pack (kotak dingin
beku). Bila perbaikan lemari es lebih dari 2 hari, vaksin harus
dititipkan di puskesmas terdekat atau kabupaten. Vaksin yang telah
kontak dengan suhu kamar lebih dari periode waktu tertentu, harus
dibuang setelah dicatat di kartu stok vaksin.
d. Pencatatan Logistik Imunisasi
Disamping vaksin, logistik imunisasi lain seperti cold chain harus dicatat
jumlah, keadaan, beserta nomor seri serta tahun (lemari es, mini freezer,
vaccine carrier, container ) harus dicatat ke dalam kolom keterangan.
Pedoman RSSIB Setya Bhakti Page 59
Untuk peralatan habis pakai seperti ADS, safety box dan spare part cukup
dicatat jumlah dan jenisnya.
B. Pelaporan
Hasil pencatatan imunisasi yang dilakukan oleh unit pelayanan imunisasi,
disampaikan kepada kepala bagian pembinaan program dan wakil direktur
pelayanan medik untuk dilaporkan secara berjenjang ke tingkat administrasi
dinas pemerintah sesuai waktu yang telah ditetapkan. Sebaliknya, umpan balik
laporan dikirimkan secara berjenjang dari tingkat atas ke tingkat lebih bawah.
Pedoman RSSIB Setya Bhakti Page 60
BAB V
PEDOMAN PELAYANAN KELUARGA BERENCANA
V.a. DEFINISI
Pelayanan KB merupakan salah satu strategi untuk mendukung percepatan
penurunan Angka Kematian Ibu melalui:
1. Mengatur waktu, jarak dan jumlah kehamilan
2. Mencegah atau memperkecil kemungkinan seorang perempuan hamil
mengalami komplikasi yang membahayakan jiwa atau janin selama
kehamilan, persalinan dan nifas.
3. Mencegah atau memperkecil terjadinya kematian pada seorang perempuan
yang mengalami komplikasi selama kehamilan, persalinan dan nifas.
` Peranan KB sangat diperlukan untuk mencegah kehamilan yang tidak
diinginkan, unsafe abortion dan komplikasi yang pada akhirnya dapat mencegah
kematian ibu. Selain itu, Keluarga Berencana merupakan hal yang sangat strategis
untuk mencegah kehamilan “Empat Terlalu” (terlalu muda, terlalu tua, terlalu sering
dan terlalu banyak).
Pelayanan Keluarga Berencana merupakan salah satu dari 5 Upaya Kesehatan
Masyarakat Esensial yaitu pelayanan promosi kesehatan; pelayanan kesehatan
lingkungan; pelayanan kesehatan ibu, anak, dan keluarga berencana;pelayanan gizi;
dan pelayanan pencegahan dan pengendalian penyakit. Begitu pula untuk di Rumah
Sakit, menurut Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 56 Tahun 2014 Tentang
Klasifikasi dan Perijinan Rumah Sakit, pelayanan KB merupakan pelayanan medik
umum yang harus ada di RS. Dapat disimpulkan, pelayanan KB merupakan:
1. Upaya kesehatan masyarakat esensial Puskesmas dan pelayanan medik
umum di Rumah Sakit
2. Upaya pengaturan kehamilan bagi pasangan usia subur untuk membentuk
generasi penerus yang sehat dan cerdas
3. Upaya pencegahan kehamilan yang tidak diinginkan
4. Memenuhi hak reproduksi klien.
Pedoman RSSIB Setya Bhakti Page 61
V.b. DASAR HUKUM
1. Undang-undang Republik Indonesia Nomor 36 Tahun 2009 tentang
Kesehatan.
2. Undang-undang Republik Indonesia Nomor 44 tahun 2009 tentang Rumah
Sakit
3. Undang-undang Republik Indonesia Nomor 52 Tahun 2009 tentang
Perkembangan Kependudukan dan Pembangunan Keluarga.
4. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 61 Tahun 2014 tentang
Kesehatan Reproduksi
5. Peraturan Kepala BKKBN 143/HK-010/B5/2009 tentang Pedoman Jaminan dan
Pelayanan Keluarga Berencana.
6. Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 290 Tahun 2008 tentang Persetujuan
Tindakan Kedokteran
V.c. RUANG LINGKUP
Ruang lingkup penyusunan Pedoman Manajemen Pelayanan KB meliputi:
Pengorganisasian, Perencanaan dan Advokasi, Pelaksanaan, Pemantauan dan
Evaluasi Pelayanan KB.
Pelayanan keberlanjutan (Continuum of Care) dalam pelayanan KB, meliputi
pendidikan kesehatan reproduksi pada remaja, konseling WUS/ calon pengantin,
konseling KB pada ibu hamil/ promosi KB pasca persalinan, pelayanan KB pasca
persalinan, dan pelayanan KB interval.
Sesuai dengan Rencana Aksi Nasional Pelayanan KB 2014-2015, salah satu
strateginya adalah peningkatan ketersediaan, keterjangkauan, dan kualitas
pelayanan KB melalui pelayanan Komunikasi, Informasi dan Edukasi (KIE) dan
konseling secara sistematis dengan salah satu program utama adalah memastikan
seluruh penduduk mampu menjangkau dan mendapatkan pelayanan KB.
Proses yang diberikan dalam KIE, salah satunya adalah konseling. Melalui
konseling pemberian pelayanan membantu klien memilih cara KB yang cocok dan
membantunya untuk terus menggunakan cara tersebut dengan benar. Konseling
adalah proses pertukaran informasi dan interaksi positif antara klien-petugas untuk
Pedoman RSSIB Setya Bhakti Page 62
membantu klien mengenali kebutuhannya, memilih solusi terbaik dan membuat
keputusan yang paling sesuai dengan kondisi yang sedang dihadapi.
Pelayanan konseling KB memegang peranan yang sangat penting, oleh
karena itu untuk meningkatkan keberhasilan konseling KB dapat digunakan media
KIE dengan menggunakan lembar balik Alat Bantu Pengambilan Keputusan (ABPK) -
KB. Konseling KB dapat dilaksanakan bagi wanita dan pasangan usia subur, ibu
hamil, ibu bersalin dan ibu nifas.
Pelayanan KB tersebut dilaksanakan secara berjenjang di FKRTL meliputi :
- pelayanan konseling;
- pelayanan kontrasepsi IUD dan implan
- Metode Operasi Wanita (MOW)
- Metode Operasi Pria (MOP).
V.d. PELAKSANAAN
Perencanaan pelayanan KB sebagai bagian integral dari pelayanan kesehatan
perlu diupayakan mulai dari tingkat fasilitas pelayanan tingkat pertama sampai
dengan tingkat lanjutan yang difokuskan pada analisis situasi dengan memanfaatkan
data/ informasi KB yang ada, baik data rutin maupun survei.
Perencanaan di Rumah Sakit pada dasarnya sama dengan Puskesmas.
Perbedaaannya bahwa Rumah Sakit tidak mempunyai data sasaran PUS karena RS
tidak mempunyai wilayah.
Untuk perencanaan kebutuhan alokon dan sarana prasarana, didasarkan pada
rata-rata tren penggunaan metode kontrasepsi dalam 3 bulan dengan
menambahkan perhitungan perkiraan peningkatan kunjungan, lead time, dst.
Setelah Rumah Sakit bersama PLKB/PPLKB menghitung kebutuhan alokon RS untuk
1 tahun kedepan pada triwulan pertama tahun berjalan, data tersebut diteruskan ke
SKPD KB Kab/kota setempat dan ditembuskan kepada Dinas Kesehatan Kab/kota.
Terkait dengan stok alokon di RS maka permintaan alokon ke SKPD KB
melalui PLKB/PPLKB untuk masing-masing metode kontrasepsi minimal 3 bulan dan
maksimal 6 bulan dan dikelola dengan sistem satu pintu untuk memfasilitasi alokon
di Poli Kebidanan/KB dan Kamar Bersalin.
Pedoman RSSIB Setya Bhakti Page 63
Rumah Sakit juga merencanakan dan mengusulkan kebutuhan dan
pengembangan SDM sesuai dengan kompetensinya yang diteruskan kepada Dinas
Kesehatan Kab/kota.
Pelayanan KB mendukung percepatan penurunan jumlah kematian ibu
dengan mencegah kehamilan 4 terlalu dan kehamilan yang tidak diinginkan.
Kehamilan yang tidak diinginkan (KTD) ini dapat terjadi pada; PUS dengan unmet
need, kegagalan dan Drop Out (DO) KB; kasus perkosaan dan remaja seks pra-
nikah. Terjadinya kehamilan pada keadaan tersebut sering berakhir dengan tindakan
aborsi yang tidak aman (unsafe abortion) yang dapat membahayakan nyawa ibu
yang merupakan salah satu penyebab masih tingginya jumlah kematian ibu.
Pelayanan Keluarga Berencana merupakan bagian dari pelayanan kesehatan
dasar dan rujukan sehingga pelaksanaannya harus terintegrasi dengan program
kesehatan secara keseluruhan terutama kesehatan reproduksi. Dalam
pelaksanaannya, pelayanan keluarga berencana mengacu pada standar pelayanan
dan kepuasan klien. Pelaksanaan pelayanan KB baik oleh pemerintah maupun
swasta harus sesuai standar pelayanan yang ditetapkan untuk menjamin pelayanan
yang berkualitas dengan memenuhi: pilihan metode kontrasepsi (cafetaria system);
informasi kepada klien; kompetensi petugas; interaksi antara petugas dan klien;
mekanisme yang menjamin kelanjutan pemakai KB; jejaring pelayanan yang
memadai (Judith Bruce, 1990).
1. Meningkatkan pengetahuan dan ketrampilan melalui pendidikan berkelanjutan,
pelatihan, magang yang dilaksanakan melalui kerjasama dengan pusat
pendidikan, pusat pelatihan dan organisasi profesi.
2. Menerapkan standar pelayanan KB yang telah ditetapkan, termasuk
melaksanakan pencegahan infeksi , pengayoman medis dan rujukan
3. Memberikan pelayanan KB yang berkualitas sesuai harapan dan kebutuhan klien
serta tanpa diskriminasi (status sosial, budaya, ekonomi, pendidikan dan
geografi)
4. Aktif dalam program jaga mutu, termasuk audit medik pelayanan KB.
5. Melakukan pencatatan dan pelaporan pelayanan KB
Pelayanan KB di RS dapat dilaksanakan di ruang poli kebidanan, poli PKBRS,
kamar bersalin dan kamar operasi. Untuk terlaksananya pelayanan KB yang optimal
Pedoman RSSIB Setya Bhakti Page 64
di RS perlu dipastikan ketersediaan sumber daya meliputi tenaga pelayanan KB,
sarana dan prasarana, alokon dan BHP. Untuk sarana dan prasarana, alokon dan
BHP dikelola RS secara umum seperti pengelolaan di Puskesmas. Bedanya di RS
pengelolaan alokon satu pintu untuk memfasilitasi Poli Kebidanan, PKBRS, Kamar
bersalin dan Kamar Operasi.
Bagan 1. Alur Pelayanan Pasien Kontrasepsi
V.e. DOKUMENTASI
Pencatatan dan pelaporan pelayanan KB di RS mengikuti Sistim Informasi
Rumah Sakit (SIRS) yang terdiri dari pencatatan dalam rekam medik, formulir RL 3,
formulir RL 4a, Formulir RL4b serta menggunakan format pencatatan dan pelaporan
pelayanan KB yang digunakan oleh Dinas Kesehatan Kabupaten/ Kota. Rumah Sakit
juga melaksanakan penyuluhan program KB sebagai salah satu pelaksanaan KIE di
PKBRS.
Pedoman RSSIB Setya Bhakti Page 65
BAB VI
PEDOMAN PELAYANAN PERAWATAN NEONATUS
VI.a. DEFINISI
Perinatal adalah jangka waktu dari masa konsepsi sampai 7 hari setelah lahir.
Sebagai batasan operasional, periode perinatal dimulai pada usia kehamilan 28
minggu hingga bayi baru lahir 0-7 hari. Sedangkan Neonatus adalah bayi baru lahir
berusia 0-28 hari.
Angka kematian bayi khususnya neonatus yang merupakan indikator status
kesehatan, saat ini di Indonesia masih sangat tinggi bila dibandingkan dengan
negara-negara ASEAN lain nya sehingga upaya meningkatkan kesehatan bayi baru
lahir perlu terus ditingkatkan.
Pelayanan neonatus dibedakan 3 tingkat yaitu:
1. Tingkat I asuhan neonatus normal
2. Tingkat II asuhan neonatus risiko rendah
3. Tingkat III asuhan neonatus dengan tingkat ketergantungan tinggi
VI.b. DASAR HUKUM
1. Undang-undang Nomor 23 tahun 2002 tentang perlindungan anak.
2. Undang-Undang RI nomor 36 tahun 2009 tentang Kesehatan
3. Undang-Undang RI nomor 44 tahun 2009 tentang Rumah Sakit
4. Undang-Undang RI nomor 29 tahun 2004 tentang Praktek Kedokteran
5. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia no 33 tahun 2012 Tentang
Pemberian Air Susu Ibu Eksklusif
6. Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia nomor
1333/Menkes/Per/SK/II/1988 tentang Standar pelayanan rumah sakit
7. Keputusan Menteri Kesehatan RI nomor 450/MENKES/SK/IV/2004 tentang
Pemberian Air Susu Ibu (ASI) secara eksklusif pada bayi di Indonesia
VI.c. RUANG LINGKUP
Pelayanan neonatus di RSIA Setya Bhakti memberikan pelayanan standar
yang sangat tinggi, yang mendukung peran rumah sakit lain yang telah digariskan
Pedoman RSSIB Setya Bhakti Page 66
misalnya kedokteran umum, kebidanan dan kedokteran pediatrik dan lain-lain.
Ruang lingkup yang diberikan di perawatan neonatus adalah sebagai berikut :
1. Asuhan neonatus normal.
2. Asuhan neonatus dengan ketergantungan tinggi.
3. Pemantauan fungsi vital tubuh dan penatalaksanakan terhadap komplikasi akibat
kurang berat badan lahir dan kelainan bawaan sebelum pindah ke fasilitas
asuhan intensif neonatus.
4. Memberikan bantuan psikologis pada keluarga pasien yang sangat bergantung
pada perawatan alat medis.
Kegiatan-kegiatan yang dilaksanakan di pelayanan neonatus RSIA Setya Bhakti
antara lain:
1. Pemasangan intravenous line.
2. Pemasangan OGT.
3. Pemasangan kateter urine.
4. Terapi oksigen.
5. Nebulizer.
6. Terapi sinar biru.
7. Intubasi.
8. Resusitasi jantung paru.
9. Pengelolaan obat-obatan inotropik.
10. Pengelolaan terapi nutrisi parenteral.
11. Pengelolaan terapi nutrisi enteral.
12. Perawatan tali pusat.
13. Perawatan metode kanguru
14. Pijat bayi
VI.d. PELAKSANAAN
Pelayanan Keperawatan Neonatus pada Tingkat I
Difokuskan pada asuhan keperawatan dasar :
1. Perawatan Neonatus Usia kehamilan > 35 minggu atau neonatus sakit sampai
dapat pindah ke fasilitas asuhan neonatal spesialistik.
Pedoman RSSIB Setya Bhakti Page 67
2. Stabilisasi Neonatus sakit sampai pindah ke fasilitas asuhan neonatal
spesialistik
3. Neonatus yang membutuhkan terapi sinar
4. Neonatus Normal, stabil, cukup bulan dengan berat lahir > 2,5 kg
5. Neonatus hampir cukup bulan (masa kehamilan 35 – 37 mgg), stabil secara
fisiologis, bayi dengan resiko rendah.
Pelayanan Keperawatan Neonatus pada Tingkat II
1. Bayi prematur dan atau sakit yang memerlukan resusitasi dan stabilisasi
sebelum dipindahkan ke fasilitas asuhan keperawatan intensif neonatus.
2. Bayi yang lahir dengan usia kehamilan > 32 minggu dan memiliki berat berat
badan lahir ≥ 1500 gr yang tidak mengalami Apnoe, Prematurisasi,
ketidakmampuan menerima asupan oral atau menderita sakit yang tidak
diantisipasi sebelumnya.
3. Bayi yang memerluka O2 napas, dengan pemantauan saturasi oksigen.
4. Bayi yang memerlukan pemasangan infus Perifer dan mungkin nutrisi
Perinatal untuk jangka waktu terbatas.
5. Bayi yang sedang dalam penyembuhan setelah perawatan intensif
Kriteria rawat inap untuk neonatus tingkat II
1. Bayi prenatur > 32 minggu.
2. Bayi dari ibu dengan penyakit diabetes.
3. Bayi yang lahir dari kehamilan beresiko tinggi atau persalinan dengan
komplikasi.
4. Berat badan rendah (BBLR) > 1,5 kg tanpa komplikasi.
5. Sepsis neonatorum.
6. Hyperbilirubinnemia yang memerlukan terapi sinar.
7. Hipotermia.
8. Kelainan bawaan ringan sampai sedang yang bukan keadaan gawat.
9. Gawat nafas yang tidak memerlukan ventilasi bantuan.
10. Penyulit atau komplikasi yang lain tanpa memerlukan perawatan intesif.
11. Infeksi lokal atau sistemik ringan-sedang.
Pedoman RSSIB Setya Bhakti Page 68
Kriteria discharge dari ruang rawat neonatal tingkat II
1. Pasien tidak lagi memerlukan pelayanan perawatan risiko tinggi.
2. Kondisi pasien yang menyebabkan dirawat di ruang risiko tinggi teratasi.
3. Pasien meninggal dunia.
4. Pasien memerlukan alat atau prosedur yang tidak tersedia di RSIA Setya
Bhakti.
5. Keluarga pasien menghendaki pasien dipindahkan untuk dirawat di
rumah sakit lain (atas permintaan sendiri).
Petugas
Rasio perawat – pasien 1:4 dalam shift dinas.
Dokter spesialis anak yang telah mengikuti pelatihan khusus untuk
neonatologi harus tersedia 24 jam per hari.
Ahli managemen laktasi untuk setiap tugas jaga.
Pelayanan Neonatus Risiko Tinggi Tingkat III
Batasan-batasan semua bayi yang baru lahir yang dalam keadaan kritis memerlukan
observasi ketat secara terus-menerus dari perawat dan dokter serta tindakan intensif
dan dukungan dengan fasilitas teknologi tinggi.
Kriteria masuk perawatan tingkat III (NICU).
a. Berat badan lahir amat sangat rendah (< 1000 gr).
b. Nilai APGAR 5/10 menit > 3.
c. Gangguan nafas berat :
RDS berat
MAS berat
Pneumonia berat
Sipsis berat
Hernia
d. Infeksi berat (sepsis berat dengan atau tanpa komplikasi NEC, DIC).
e. Meniginitis.
f. Kejang neonatus, HIE, Bilirubin Enchepalopthi, hipoglekimia, tetanus
neonatitrum.
Pedoman RSSIB Setya Bhakti Page 69
g. Kelainan bawaan ringan dengan gawat darurat:
Fistula trakheaesophagus
Atresia esophagus
Gastroskisis, ompalokel berat
TGA minimal
Meningoensefelokel dengan komplikasi menimal
h. Bayi baru lahir dengan komplikasi yang memerlukan ventilasi mekanik.
Petugas
Neonatologi (dokter yang mempunyai kompetensi di NICU).
Perawat terampil dan bidan terampil yang telah pelatihan NICU.
Hanya perawat dengan spesialisasi NICU yang dipekerjakan sebagai
stap.
Rasio perawat pasien adalah 1:2
Tahap Penerimaan Pasien
Sebelum pasien tiba di Ruang Neonatus maka dilakukan persiapan sebagai
berikut :
a. Menyiapkan tempat tidur (lncubator) setting lncubator agar lucubator
dalamnya hangat. Kelengkapan infuse, O2, Pulse Oximetri.
b. Mencatat data pasien.
c. Melakukan serah terima dengan petugas, apakah pasien rujukan yang berasal
dari pelayanan perinatal tingkat I atau pasien dari luar RSIA Setya Bhakti
(masuk melalui Poli anak/IGD)
Monitoring Pasien
Sejak pasien diterima di ruangan Neonatus, kelengkapan Saturasi Oksigen,
suhu dan pernapasan dipasang. Pencatatan tanda-tanda vital dilakukan setiap jam.
Jumlah cairan yang masuk dicatat setiap 3 jam. Obat-obatan yang diberikan secara
berlanjut dicatat penggunaanya setiap jam. Setiap pagi hari dicatat kondisi umum,
kondisi kebersihan tali pusar dan warna kulit pada pasien.
Pedoman RSSIB Setya Bhakti Page 70
Prosedur Medik
Beberapa prosedur medik yang dilakukan di ruang Neonatus RSIA Setya Bhakti
adalah sebagai berikut :
1. Pemasangan umbilical / catheter
Umbilical / catheter harus dengan Inferned consent tertulis dari keluarga
pasien. Pemasangan dilakukan oleh dokter yang terlatih,dilakukan dengan
cara yang steril. Fiksasi jahit pulse string menggunakan benang sutera. Luka
insersi ujung catheter vena umbilical harus diatas ulu hati atau tepat diatas
diafragma. Sedangkan ujung catheter arteri umbilical terletak diantara T6.T9
2. Pemasangan jalur intra vena perifer
Pemasangan jalur intra vena perifer harus dengan Informed consent tertulis
dari keluarga pasien. Pemasangan dilakukan oleh dokter yang terlatih dan
dapat didelegasikan pada perawat pelaksana. Pemasangan jalur intra vena
perifer diperlukan jika pemberian cairan dan dukungan nutrisi tidak mungkin
dilakukan melalui jalur gastrointestinal. Area pemasangan ini harus diamati
setiap jam untuk mengetahui tanda infiltrasi dan iritasi.
3. Pemberian terapi sinar
Pemberian terapi sinar untuk menurunkan kadar bilirubillin pada bayi. Yaitu
dengan menggunakan lampu biru dengan panjang gelombang 425-475 nm.
Bayi tidak diberi pakaian kecuali popok dan penutup mata. Pertahankan suhu
lingkungan netral, catat setiap hari, dan pantau keseimbangan cairan bayi
serta pantau kadar billirubin setiap 6 sampai 12 jam atau tiap 24 jam.
4. Balance cairan
Balance cairan dilakukan setiap 8 jam dan dapat dilakukan lebih kerap sesuai
dengan kebutuhan pasien. Perawat pelaksana melakukan pencatatan pada
seluruh cairan yang masuk meliputi jumlah lapus, diet minum, obat-obat
cairan dan seluruh cairan yang keluar meliputi produksi urin, feses,
muntahan, pendarahan, dan keringat pasien.
5. Rehab medik
Beberapa tindakan prosedur rehab medik dapat dilakukan oleh perawat
pelaksana posisi miring pada pasien. TW (terapi wicara atau merangsang
Pedoman RSSIB Setya Bhakti Page 71
reflek hisap dan menelan) dan pemberian terapi nebulizer sebagian diberikan
oleh perawat pelaksana.
6. Tranfusi tukar
Tranfusi tukar harus dengan Informed consent tertulis dari keluarga pasien.
Tranfusi tukar dilakukan oleh dokter yang terlatih dan dibantu 2 perawat
dilakukan dengan cara yang steril. Dilakukan pemeriksaan laboratorium dan
bayi dipuasakan 4 jam sebelum tindakan dilakukan bisa dengan dobel volum
atau single volum tergantung keadaan umum pasien
7. Pijat bayi
Pelaksanaan pijat bayi dilakukan oleh perawat yang sudah terlatih pijat bayi,
dalakukan pada bayi premature yang sudah stabil, bayi aterm dengan keluhan
malas minum.
Penggunaan Alat Medik
1. Syringe Pump
Digunakan dengan persetujuan dan instruksi dokter. Syringe Pump harus
dilakukan pengecekan terhadap validasi kalibrasi sebelum dipakai.
2. Infusion Pump
Digunakan dengan persetujuan dan instruksi dokter. Infusion Pump harus
dilakukan pengecekan terhadap validasi kalibrasi sebelum dipakai.
3. Suction
Suction digunakan oleh perawat selama perawat pasien dengan menjaga
sterilitas ujung suction. Untuk catheter suction dapat diberikan air mengalir
dan direndam dengan alkohol selama 5 menit lalu dimasukan ke dalam botol
tertutup yang sudah di steril. Siap dipakai kembali, catheter diganti setiap
hari.
4. Monitor
Digunakan dengan persetujuan dan instruksi dokter. Monitor untuk
mengetahui dan mengobservasi tanda-tanda vital dan saturasi oksigen pada
pasien. Monitor harus dilakukan pengecekan terhadap validasi kalibrasi
sebelum digunakan.
Pedoman RSSIB Setya Bhakti Page 72
Konsultasi
Konsultasi keluarga pasien dilakukan pertama kali selambat-lambatnya 48 jam
setelah dirawat di ruangan Neonatus. Konsultasi diarahkan terhadap beberapa
aspek yaitu penyebab dan kondisi pasien, Upaya dan prosedur medik yang telah
dilakukan terhadap pasien, serta kemungkinan keberhasilan upaya medis yang
dilakukan.
Indikasi dan Prosedur Pemeriksaan Laboratorium
Pemeriksaan laboratorium yang standar di RSIA Setya Bhakti dilakukan sesuai
dengan indikasi dokter. Pemeriksaan laboratorium dan radiologi yang mahal
harus dengan persetujuan keluarga. SPO terlampir.
Transfer Pasien
a. Pengiriman Ke kamar Operasi
Pasien yang dikirim ke kamar operasi adalah pasien dengan operasi Cito atau
elektif. Persiapan pasien dilakukan sesuai dengan jenis operasinya. Adapun
pelaksanaan persiapannya dan pengiriman pasien operasi hampir sama
dengan pasien rawat biasa.
b. Pengiriman Rujukan
Pasien dirujuk ke rumah sakit lain ada beberapa kriteria, yaitu :
1. Tidak adanya fasilitas sarana dan prasarana
2. Pasien dengan kondisi menurun sehingga memerlukan CPAP dan alat
Ventilator
3. Permintaan keluarga
c. Pengiriman ke Kamar Jenazah
Pasien Neonatus yang sudah dinyatakan meninggal oleh dokter dihadapan
keluarga akan dilakukan perawatan jenazah diruang Neonatus dan jenazah
tetap dalam ruang perawatan Neonatus ± 2jam.
Untuk pelayanan pemulasaran jenazah ditanyakan dulu kepada pihak
keluarga bersedia atau tidak,setelah dilakukan pemulasaran jenazah atau
tidak maka jenazah dibawa oleh keluarganya dengan menggunakan
Pedoman RSSIB Setya Bhakti Page 73
tranfortasi ambulance jenazah dari rumah sakit atau ambulance luar. Adapun
mengenai pelaksanaan pelayanan jenazah terdapat dalam SPO.
VI.e. DOKUMENTASI
1. Rekam Medis
Pelaksanaan rekam medis ruang Neonatus untuk tehnik pendokumentasian
ditulis melalui Kadek Neonatus yang terintegrasi untuk semua pelayanan
medis yang ada di neonatus, yaitu dari dokumentasi perkembangan pasien,
dokumentasi dokter, dokumentasi perawatan, dokumentasi therapy obat,
dokumentasi ASI, dokumentasi rehabilitas medik dan fisiatherapy,
dokumentasi radiologi yang mana pendokumentasian tersebut dicatat untuk
satu Kadek/hari/pasien. Untuk hasil hard copy dari laboraterium, radiologi,
copy resep dan form catatan mutu yang lain dikumpulkan dalam status
pasien. Bila pasien pulang izin dokter atau APS dan pasien dirujuk ke rumah
sakit lain maka catatan medis, lembar observasi disatukan kedalam status
pasien, setelah itu status pasien dilengkapi dan baru dikembalikan kebagian
rekam medik dalam waktu ≤ 48 jam. Untuk pelaksanaan rekam medik
Neonatus terdapat pada SPO.
2. Pencatatan dan Pelaporan Kegiatan Pelayanan
Pelaksanaan pencatatan dan pelaporan kegiatan pelayanan pada unit
Neonatus dilaksanakan dalam beberapa tahapan:
a. Pencatatan dilakukan setiap hari oleh penanggung jawab ruangan.
b. Rekapitulasi dilakukan setiap bulan oleh penanggung jawab ruangan.
c. Hasil rekapitulasi dilaporkan kepada kabag perawatan pada setiap awal
bulan.
3. Kepala Neonatus memberikan laporan tertulis mengenai kegiatan pelayanan
Neonatus kepada Kepala bidang keperawatan setiap bulan berikutnya. Bentuk
pelaporan kegiatan pelayanan terdapat paada SPO.
4. Evaluasi Hasil Perawatan Pasien
Pelaksanaan evaluasi hasil perawatan pasien dilaksanakan melalui tahapan:
Pedoman RSSIB Setya Bhakti Page 74
a. Penanggung jawab ruangan melakukan pencatatan (mobilitas pasien)
jumlah pasien, pasien pulang APS (pulang permintaan keluarga pasien)
dan dirujuk setiap hari.
b. Rekapitulasi dilakukan tiap bulan oleh penanggung jawab ruangan dan
dilaporkan kepada Kabid Yanwat.
c. Pada akhir tahun dilakukan rekapitulasi keseluruhan oleh Wadir
Yanmedwat
d. Wadir Yanmedwat melaporkan data mobilitas pasien dan dan hasil
evaluasi keperawatan kepada Direktur setiap awal tahun.
e. Bentuk evaluasi hasil perawatan pasien terdapat pada SPO.
Pedoman RSSIB Setya Bhakti Page 75
BAB VII
PEDOMAN PELAYANAN RAWAT GABUNG
VII.a. DEFINISI
Rawat gabung adalah membiarkan ibu dan bayinya bersama terus menerus.
Pada rawat gabung / rooming-in bayi diletakkan di box bayi yang berada di dekat
ranjang ibu sehingga mudah terjangkau. Ada satu istilah lain, bedding-in, yaitu bayi
dan ibu berada bersama-sama di ranjang ibu
Rawat Gabung selama di rumah-sakit merupakan perlakuan yang mutlak
dilakukan jika ingin sukses menyusui. Rawat gabung adalah kegiatan perawatan
yang membiarkan ibu dan bayinya bersama secara terus menerus selama dirumah
sakit.
Pelayanan yang ini berupa peletakan bayi pada box bayi yang berada di dekat
ranjang ibu sehingga mudah terjangkau. Ada satu istilah lain darirooming
in yakni, bedding in, yaitu bayi dan ibu berada bersama-sama diranjang ibu. Secara
teori rawat gabung dibedakan dalam dua dua jenis, yakni :
1. Rawat gabung penuh. Prosedur ini dilakukan jika ibu dan bayi bersama terus
menerus selama 24 jam sehari.
2. Rawat gabung parsial. Pelayanan ini dijalankan saat ibu dan bayi kadang
perlu dipisahkan untuk alasan tertentu.
VII.b. DASAR HUKUM
1. Undang – Undang Nomor 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan
2. Undang – undang nomor 44 Tahun 2009 tentang Rumah Sakit
3. Undang – undang Nomor 29 Tahun 2004 tentang Praktek Kedokteran
4. Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor
237/MENKES/SK/IV/1997 tentang Pemasaran Pengganti Air Susu Ibu
5. Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 1691 / MENKES /
PER /VIII/ 2011 Tentang Keselamatan Pasien rumah Sakit;
6. Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor
450/MENKES/SK/IV/2004 tentang Pemerian Air Susu Ibu (ASI) Secara
Eksklusif Pada Bayi Di Indonesia
Pedoman RSSIB Setya Bhakti Page 76
VII.c. TUJUAN DAN MANFAAT RAWAT GABUNG
Tujuan Rawat Gabung
1. Untuk menurunkan angka kesakitan dan kematian ibu dan bayi.
2. Memenuhi hak ibu dan bayi untuk selalu berada disamping ibu setiap saat.
3. Bayi segera memperoleh colostrum dan airr susu ibu.
4. Bayi memperoleh strimulasi mental dini untuk tumbuh kembang anak.
5. Bayi bisa memperoleh ASI setiap saat.
6. Ibu memperoleh dukungan dari suami dan keluarga dalam permberian ASI.
7. Ibu memperoleh pengalaman dalam merawat payudara dan cara menyusui yang
benar.
8. Ibu dan keluarga memperoleh pengalaman cara merawat bayu baru lahir.
9. ibu dapat mengamati dan menjaga bayinya setiap saat.
Manfaat Rawat Gabung
A. Mempercepat Mantapnya dan Terus Terlaksananya Proses Menyusui
Dengan rawat gabung ibu dapat memberi ASI sedini mungkin, juga lebih mudah
memberikan ASI. Adanya kontak terus menerus antara ibu dan bayinya
memungkinkan ibu segera mengenali tanda-tanda bayinya ingin minum
sehingga ibu/bayi dapat menyusui/menyusui on demand.
Ibu yang melakukan rawat gabung menghasilkan ASI yang lebih banyak, lebih
dini, menyusui lebih lama, dan lebih besar kemungkinannya menyusui eksklusif
dibandingkan ibu yang tidak melakukan rawat gabung.
B. Memungkinkan Proses Bonding
Rawat gabung akan meningkatkan ikatan batin antara ibu dan bayinya. Makin
banyak waktu ibu bersama bayinya, makin cepat mereka saling mengenal. Ibu
siap memberikan respon setiap saat. Rawat gabung juga dapat menurunkan
hormon stres pada ibu dan bayi. Bonding merupakan dasar secure attachment
bayi dikemudian hari.
Pembentukan pribadi dasar (basic trust) merupakan dasar pribadi kokoh yang
tangguh pada anak, adalah hasil dari secure attachment yang berjalan baik.
Bayi/anak percaya pada lingkungan, mereka akan tumbuh menjadi pribadi yang
penuh percaya diri.
Pedoman RSSIB Setya Bhakti Page 77
C. Peralatan Minimal
Jika dilakukan rooming in (bedding-in, bayi satu tempat tidur dengan ibu), akan
mengurangi pembelian boks bayi. Pada bedding-in, bimbingan posisi menyusui
dengan posisi ibu tidur sebaiknya dilakukan sejak di Rumah sakit yang masih
mengenalkan botol untuk memberikan minum bayi (walau isinya ASI perah)
akan mempersulit bayi melekatkan mulutnya pada payudara ibu.
D. Menurunkan Infeksi
Adanya kontak kulit dengan kulit antara bayi dan ibu memungkinkan bayi
terpapar pada bakteri-bakteri normal pada kulit ibu, yang dapat melindungi bayi
terhadap kuman-kuman berbahaya.
Kolostrum (ASI berwarna bening yang keluar di awal kelahiran dan jumlahnya
sangat sedikit) mengandung banyak antibodi, yang segera didapat bayi, juga
melindungi bayi terhadap penyakit. Dahulu, pelayanan kesehatan sering
mendorong bayi ke kamar bayi bila jam besuk tiba.
Kekhawatiran bayi tertular penyakit dari pengunjung merupakan alasan utama.
Ibu yang sakit flu cukup memakai masker saja. Menyusui di kala ibu sakit
memberikan paparan antibodi yang dihasilkan pada ibu yang sakit. Antibodi
terhadap penyakit tertentu tidak akan terjadi saat ibu sehat. Juga penekanan
kualitas kolostrum yang sangat baik.
E. Keuntungan Untuk Bayi
Bayi yang dirawat gabung akan lebih jarang menangis, lebih mudah
ditenangkan, lebih tidur. Mereka minum lebih banyak dan berat badan yang
lebih cepat naik. Ikterus lebih jarang terjadi. Bayi juga lebih hangat karena
berada dalam kontak terus menerus dengan kulit ibunya.
F. Melatih Ketrampilan Ibu Merawat Bayinya Sendiri
Tindakan perawatan bayi yang dilakukan di dekat ibunya akan membantu ibu
melatih keterampilan merawat bayinya sendiri, sehingga pada saat pulang ibu
sudah tidak canggung lagi merawat bayinya. Hal ini dapat meningkatkan rasa
percaya diri ibu.
Pedoman RSSIB Setya Bhakti Page 78
VII.d. RUANG LINGKUP
Persyaratan Rawat Gabung
Persyaratan dalam rawat gabung terdiri dari :
A. Kondisi Bayi
1) Semua bayi
2) Kecuali bayi beresiko dan mempunyai kelainan yang tidak memungkinkan
untuk menyusu pada ibu.
B. Ibu
1) Ibu dalam keadaan sehat jasmani dan rohani.
C. Ruangan Rawat Gabung
1) Untuk Bayi
a. Bayi ditempatkan dalam box tersendiri dekat dengan tempat tidur ibu.
b. Bila tidak terdapat tempat tidur bayi, diletakkan di tempat tidur
samping ibu (bedding - in).
c. Agar mengurangi bahaya bayi jatuh, sebaiknya diberi penghalang
(side guard)
d. Tersedianya pakaian bayi.
2) Untuk Ibu
a. Tempat tidur ibu, diusahakan rendah agar memudahkan ibu
naik/turun. (Bila perlu ada tangga injakan naik ke tempat tidur).
b. Tersedianya perlengkapan perawatan nifas.
3) Ruangan
a. Ruangan cukup hangat, sirkulasi udara cukup, suhu minimal 28°C.
b. Ruangan unit ibu/bayi yang masih memerlukan pengamatan khusus
harus dekat dengan ruang petugas (di rumah sakit).
4) Sarana
a. Lemari pakaian (ibu dan bayi).
b. Tempat mandi bayi dan perlengkapannya.
c. Tempat cuci tangan ibu (air mengalir).
d. Kamar mandi tersendiri bagi ibu.
e. Sarana penghubung (bel/intercom)
f. Tersedia poster, leaflet, buku-buku tentang manajemen laktasi.
Pedoman RSSIB Setya Bhakti Page 79
Kriteria Rawat Gabung
A. Ibu dan Bayi dalam Keadaan Sehat
1. Lahir spontan, baik presentasi kepala maupun bokong.
2. Bila lahir dengan tindakan, maka rawat gabung dilakukan setelah bayi
cukup sehat, refleks mengisap baik, tidak ada tanda infeksi dan
sebagainya.
3. Bayi yang lahir dengan sectio cesarea dengan anestesia umum, rawat
gabung dilakukan segera setelah ibu dan bayi sadar penuh (bayi tidak
ngantuk), misalnya 4-6 jam setelah operasi selesai. Bayi tetap
disusukan meskipun mungkin ibu masih mendapat infus.
4. Bayi tidak asfiksia setelah lima menit pertama (nilai Apgar minimal 7).
5. Umur kehamilan 37 minggu atau lebih.
6. Berat lahir 2000-2500 gram atau lebih.
7. Tidak terdapat tanda-tanda infeksi intrapartum.
B. Ibu dan Bayi dalam Kondisi Tidak Sehat
1. Bayi yang sangat prematur.
2. Bayi berat lahir kurang dari 2000-2500 gram.
3. Bayi dengan sepsis.
4. Bayi dengan gangguan napas.
5. Bayi dengan cacat bawaan berat, misalnya : hidrosefalus, meningokel,
anensefali, atresia ani, abio/palato/galactoschizis, omfalokel, dan
sebagainya).
6. Ibu dengan infeksi berat, misalnya KP terbuka, sepsis, dan sebagainya.
7. Kriteria-kriteria masih ditentukan juga oleh beberapa aspek
pertimbangan klinis, misalnya bayi dengan berat badan 2000-2500
gram meskipun keadaan lain-lainnya dalam batas normal, perawatan
gabungnya harus dengan pengawasan yang sangat ketat.
Pedoman RSSIB Setya Bhakti Page 80
VII.e. PELAKSANAAN RAWAT GABUNG
Untuk melaksanakan rawat gabung ibu dan bayi yang perlu dipersiapkan
adalah institusi pelayanan, ibu hamil, suami, dan atau keluarga, petugas, sarana dan
prasarana pelayanan.
A. Institusi Pelayanan
1. Perlu adanya kebijkan yang tertulis dari Rumah Sakit yang merupakan
komitmen dari unsur terkait untuk menunjang keberhasilan
pelaksanaan rawat gabung ibu dan bayi.
2. Rawat gabung ibu dan bayi merupakan salah satu kegiatan/program
untuk mendukung keberhasilan menyusui pada program sayang ibu
dan sayang bayi.
3. Program sayang ibu dan sayang bayi dengan memberikan hak ibu
antara lain : medapat pelayanan yang sesuai standar, dekat dengan
bayinya, bisa mencurahkan kasih sayang sesuai keinginan.
4. Hak bayi, antara lain : mendapatkan gizi terbaik untuk tumbuh dan
kembang. Gizi terbaik bagi bayi adalah Air Susu Ibu (ASI) yang tidak
dapat tergantikan oleh apapun, dan juga dapat setiap saat
mendapatkan ASI sesuai kebutuhan, mendapat kasih sayang dan
selalu dekat dengan ibunya.
B. Ibu Hamil, Suami dan atau Keluarga
1. Salah satu faktor keberhasilan menyusui adalah kesiapan calon ibu dan
dukungan dari keluarga. Sehingga sejak awal ibu hamil sudah
memahami pengertian rawat gabung.
2. Suami dan keluarga perlu juga mendapatkan informasi tentang rawat
gabung ibu dan bayi sejak masa kehamilan pada waktu pelayanan
Antenatal Care (ANC).
3. Informasi dapat diperoleh melalui sosialisasi tentang rawat gabung ibu
dan bayi minimal 2 kali pertama pada ANC (trisemester 1 dan 2),
dimulai secara kelompok, dilanjutkan dengan konseling kepada ibu,
suami dan keluarga.
Pedoman RSSIB Setya Bhakti Page 81
C. Petugas
a. Kesiapan petugas dalam melaksanakan rawat gabung ibu dan bayi
adalah sebagai berikut :
1. Memahami pentingnya rawat gabung untuk kesejahteraan ibu dan
bayi.
2. Mampu menilai persyaratan ibu dan bayi untuk dilakukan rawat
gabung.
3. Terampil dalam memberikan asuhan rawat gabung untuk
kesejahteraan ibu dan bayi.
4. Terampil melakukan asuhan pada ibu dan bayi yang lahir dengan
tindakan.
5. Mampu menolong ibu dalam memposisikan bayi dan perlekatan
yang baik.
6. Mampu menolong ibu dalam mengatasi kendala yang timbul dalam
menyusui bayinya, misalnya : puting ibu lecet, payudara bengkak,
dll.
7. Mampu menolong ibu memerah ASI, bila atas indikasi medis bayi
harus berpisah dari ibunya.
8. Memahami dan mampu melaksanakan laktasi yang benar.
9. Pelatihan petugas untuk menghindari hambatan dalam
pelaksanaan rawat gabung.
D. Sarana dan Prasarana Pelayanan Rawat Gabung
Untuk melaksanakan rawat gabung perlu adanya saran dan prasarana yang
mendukung, antara lain :
1) Ruang klinik kebidanan (ANC) dilengkapi dengan ruang konsultasi dan
pojok laktasi.
2) Kamar bersalin : ruang nifas dengan rawat gabung dengan ruang
penyuluhan dan bimbingan.
3) Ruang perinatologi, dilengkapi dengan ruang istirahat bagi ibu yang
bayinya dirawat.
4) Sarana dan prasarana yang tersedia harus memenuhi persyaratan
rawat gabung.
Pedoman RSSIB Setya Bhakti Page 82
5) Pelaksanaan rawat gabung hendaknya disiapkan semenjak perawatan
kehamilan (ANC).
6) Diawali dengan Inisiasi Menyusu Dini (IMD) pada masa persalinan di
kamar bersalin. Dilanjutkan rawat gabung di ruang perawatan, antara
lain :
7) Menyusui On Cue (melihat tanda-tanda bayi ingin menyusui).
8) Menyusui eksklusif.
9) Asuhan bayi baru lahir, antara lain :
a. Mencegah hypotermi.
b. Pemeriksaan klinis bayi.
c. Perawatan umum (merawat tali pusat, mengganti popok,
memandikan bayi, menjaga hygiene bayi).
d. Deteksi dini bayi baru lahir.
10) Asuhan ibu nifas, antara lain :
a. Puerperium.
b. Breast care, termasuk memerah dan menyimpan ASI.
c. Perdampingan menyusui, termasuk perlekatan dan posisi menyusui
yang benar, mengenali tanda bayi ingin menyusu, dan tanda bayi
telah puas dalam menyusu.
d. Mengenali hambatan nifas.
e. Asuhan ibu nifas pasca tindakan.
f. Membantu ibu bila ditemukan penyulit dalam menyusui (kelainan
puting, pembengkakan mamae, engorgement, dll).
g. Senam nifas.
h. Komunikasi Informasi Edukasi (KIE)
11) Keberhasilan dalam melaksanakan rawat gabung ibu dan bayi, untuk
mendukung keberhasilan menyusui, calon ibu perlu mendapatkan
informasi tentang :
a. Nutrisi ibu menyusui.
b. Pengetahuan tentang menyusui secara eksklusif.
c. Kerugian bila bayi tidak mendapatkan ASI.
d. Manajemen laktasi yang benar, termasuk kendala dalam menyusui
Pedoman RSSIB Setya Bhakti Page 83
bayi.
e. Mengenali tanda-tanda bahaya pada ibu dan bayi.
f. Perawatan payudara, cara memerah, menyimpan dan memberikan
ASI dengan sendok.
g. KB terutama Metode Amenorrhoe Laktasi (MAL).
VII.f. PROSEDUR RAWAT GABUNG
2. Cara Memandikan Bayi
1) Siapkan alat-alat.
2) Cuci tangan sebelum dan sesudah memandikan bayi.
3) Bayi diletakkan telentang di atas tempat tidur / meja dengan alas
perlak dan handuk.
4) Muka dan telinga dibersihkan dengan kain (waslap) basah kemudian
dikeringkan dengan handuk.
5) Seluruh tubuh bayi disabun dengan menggunakan waslap yang telah
diolesi sabun (leher, dada, perut, lipatan ketiak, kedua tangan /
lengan, kedua kaki / tungkai, bagian belakang bayi).
6) Bayi dibersihkan dengan menggunakan kain lap (waslap) basah dalam
ember mandi bayi.
7) Bayi diangkat dan dikeringkan dengan handuk.
8) Tali pusat ditutup dengan kain kasa yang telah direndam dalam alkohol
70%.
9) Dada, perut dan punggung diolesi minyak telon, tempat lipatan seperti
pangkal paha, ketiak dan leher diberi bedak supaya tidak mudah lecet,
dan diberi pakaian.
3. Cara Menyusui
1) Cuci tangan sebelum dan sesudah menyusui.
2) Ibu duduk atau berbaring santai.
3) Payudara dipijat / massage supaya lemas.
4) Tekan areola antara ibu jari dan telunjuk sehingga keluar beberapa
tetes ASI. Oleskan ASI tersebut pada putting susu dan areola
Pedoman RSSIB Setya Bhakti Page 84
sekitarnya sebelum menyusui.
5) Bayi diletakkan di pangkuan bila ibu duduk, dan di sebelah ibu bila ibu
tiduran.
6) Ibu harus memegang payudara dengan posisi ibu jari di atas dan
keempat jari lainnya di bagian bawah payudara.
7) Sebagian besar areola payudara harus berada di dalam mulut bayi.
8) Setiap payudara harus disusui sampai kosong, kurang lebih 10-15
menit.
9) Bayi menyusu pada dua payudara bergantian, setelah payudara
pertama terasa kosong.
10) Bila akan melepaskan mulut bayi dari putting susu, masukkan jari
kelingking antara mulut bayi dan payudara.
11) Sesudah selesai menyusui, oleskan ASI pada putting susu dan areola
sekitarnya serta biarkan kering oleh udara.
12) Bayi digendong di bahu ibu atau dipangku tengkurap agar dapat
bersendawa.
13) Periksa keadaan payudara, mungkin ada perlukaan / pecah-pecah atau
terbendung.
14) Bayi menyusu setiap kali membutuhkan, sebagian dengan posisi
berubah-ubah.
15) Pakailah bahan penyerap ASI di balik kutang, di luar waktu menyusui.
4. Cara Merawat Tali Pusat
1) Siapkan alat-alat.
2) Cuci tangan sebelum dan sesudah merawat tali pusat.
3) Tali pusat dibersihkan dengan kain kasa yang dibasahi alkohol 70%.
4) Setelah bersih, tali pusat dikompres alkohol / povidon iodine 10%
(betadine) lalu dibungkus dengan kain kasa steril kering.
5) Setelah tali pusat terlepas / puput, pusar tetap dikompres dengan
alkohol / povidon iodine 10% sampai kering.
Pedoman RSSIB Setya Bhakti Page 85
VII.g. DOKUMENTASI
Pencatatan merupakan bukti dari kualitas pelayanan / asuhan yang
diberikan kepada ibu dan bayi, hal-hal yang perlu ditulis/direkam pada pencatatan
dan pelaporan rawat gabung adalah :
1. Cakupan Rawat Gabung
A. Jumlah rawat gabung
1) Rawat gabung penuh
2) Rawat gabung parsial
B. Inisiasi menyusu dini
C. Menyusui On Cue
Pendokumentasian rawat gabung menggunakan formulir :
a. Formulir Follow Up Bayi
b. Informasi dan Persetujuan Inisiasi Menyusu Dini (IMD) dan Rawat Gabung
c. Formulir Rawat Gabung dan ASI Eksklusif
2. Jumlah Persalinan
A. Persalinan normal.
B. Persalinan dengan tindakan.
3. Jumlah Ibu dan Bayi yang Bermasalah dalam Menyusui.
4. Jumlah Rujukan (dirujuk atau menerima rujukan).
Pencatatan dan pelaporan menggunakan sistem dan format yang telah
ada, misalnya : mencatat asuhan yang diberikan oleh petugas kesehatan untuk
ibu dan bayi yaitu pada rekam medis dan RL 1 hal 2.
Alur pelaporan mengikuti sistem yang telah ada, misalnya : di rumah
sakit dari ruangan di koordinir oleh bagian pencatatan dan pelaporan RS.
Pencatatan dan pelaporan ini penting dilaksanakan, sebab catatan ini
merupakan data yang dapat dianalisis dan dapat digunakan sebagai bahan
informasi.
Pedoman RSSIB Setya Bhakti Page 86
BAB VIII
PANDUAN INISIASI MENYUSU DINI
VIII.a. DEFINISI
Inisiasi Menyusu Dini (IMD), adalah proses membiarkan bayi dengan
nalurinya sendiri dapat menyusu segera dalam satu jam pertama setelah lahir,
bersamaan dengan kontak kulit antara bayi dengan kulit ibu. Bayi dibiarkan
setidaknya selama satu jam di dada ibu, sampai dia menyusu sendiri. Karena
inisiatif untuk menyusu diserahkan pada bayi, maka istilah yang digunakan
adalah Inisiasi Menyusu Dini, bukan menyusui.
Istilah menyusui lebih tepat digunakan pada ibu yang melakukan
kegiatan memberi ASI. Inisiasi Menyusui Dini akan sangat membantu dalam
keberlangsungan pemberian ASI eksklusif (ASI saja) dan lama menyusui.
Dengan demikian, bayi akan terpenuhi kebutuhannya hingga usia 2 tahun, dan
mencegah anak kurang gizi.
Pemerintah Indonesia mendukung kebijakan WHO dan Unicef yang
merekomendasikan inisiasi menyusu dini sebagai tindakan penyelamatan
kehidupan, karena inisiasi menyusu dini dapat menyelamatkan 22 persen dari
bayi yang meninggal sebelum usia satu bulan.
VIII.b. AIR SUSU IBU (ASI) EKSKLUSIF
Air Susu Ibu (ASI) Eksklusif adalah makanan tunggal dan terbaik yang
memenuhi semua kebutuhan tumbuh kembang bayi sampai berusia 6 bulan.
ASI yang pertama keluar adalah kolostrum atau yang sering disebut ‘cairan
emas’ karena berwarna kekuningan, mengandung protein dan antibodi yang
tidak dapat diperoleh dari sumber lain termasuk susu formula.
ASI adalah makanan terbaik untuk bayi Anda. Susu hewan, susu formula
(bahkan yang harganya paling mahal), susu bubuk, teh, minuman yang
mengandung gula, air putih, pisang dan padi-padian tidak memiliki kandungan
sebaik ASI.
ASI adalah makanan yang bergizi dan berkalori tinggi, yang mudah
untuk dicerna. ASI memiliki kandungan yang membantu penyerapan nutrisi,
Pedoman RSSIB Setya Bhakti Page 87
membantu perkembangan dan pertumbuhanan, juga mengandung sel-sel darah
putih, anti-bodi, anti-peradangan dan zat-zat biologi aktif yang penting bagi
tubuh bayi dan melindungi bayi dari berbagai penyakit. Kandungan-kandungan
tersebut tidak terdapat dalam susu formula, selain itu asupan apapun selain ASI
sulit dicerna oleh bayi, sehingga justru akan membahayakan kesehatannya.
Pada bulan-bulan pertama, saat bayi berada pada kondisi yang sangat
rentan, pemberian makanan atau minuman lain selain ASI akan meningkatkan
resiko terjadinya diare, infeksi telinga, alergi, meningitis, leukemia, Sudden
Infant Death Syndrome/SIDS -sindrom kematian tiba-tiba pada bayi- penyakit
infeksi dan penyakit-penyakit lain yang biasa terjadi pada bayi.
ASI yang diproduksi ibu mempunyai komposisi yang sempurna untuk
bayinya. Tidak ada yang bisa membuat makanan yang sesempurna ini. Antibodi
yang terkandung dalam ASI dibuat khusus untuk virus dan bakteri yang
dihadapi ibu dan bayinya pada saat itu. Komposisi ASI berbeda-beda dari pagi
sampai malam hari, dari tegukan pertama sampai akhir setiap kali anak
menyusui berubah untuk memenuhi kebutuhan dan perkembangan bayi dengan
rasa yang dipengaruhi oleh makanan yang dikonsumsi ibu, sehinga setiap teguk
ASI berbeda dan sempurna untuk bayinya. Tidak ada produsen susu formula
yang bisa membuat makanan yang lebih sempurna untuk bayi dibandingkan
sang ibu.
Pedoman RSSIB Setya Bhakti Page 88
VIII.c. RUANG LINGKUP
INISIASI MENYUSU DINI (IMD)
Manfaat Inisiasi Menyusu Dini (IMD), antara lain :
1) Bayi tetap hangat karena langsung bersentuhan dengan kulit ibu (skin
to skin contact). Hal ini dapat menurunkan resiko kematian bayi akibat
hipotermia (kedinginan).
2) Ibu dan bayi merasa lebih tenang, sehingga membantu pernafasan
dan detak jantung bayi lebih stabil. Dengan demikian, bayi tidak rewel, sehingga
dapat menghemat energi.
3) Memberikan stimulasi dini naluriah dan memberikan kehangatan dan
cinta. Inisiasi Menyusui Dini akan menjalin ikatan psikis antara ibu dan
bayi.
4) Sentuhan dan hisapan bayi terhadap puting susu ibu dapat merangsang
pelepasan oksitosin yang berperan penting untuk kontraksi rahim
ibu sehingga mempermudah pengeluaran plasenta (ari-ari) dan
mengurangi perdarahan. Disamping itu dapat juga merangsang hormon
lain yang membuat ibu menjadi tenang, rileks, dan mencintai bayi, serta
lebih mampu menahan rasa sakit (karena hormon meningkatkan ambang
nyeri), dan timbul rasa sukacita / kebahagiaan.
5) Lebih lanjut akan merangsang drainase ASI, sehingga ASI matang (putih)
lebih cepat keluar dan produksinya meningkat.
6) Resiko bayi dari infeksi berkurang karena kuman (bakteri) baik dari ibu
mulai menjajah kulit dan usus bayi, dan mencegah kuman berbahaya.
7) Bayi mendapatkan kolostrum susu pertama, yakni cairan berharga tidak
ada tandingannya yang kaya akan antibodi dan zat penting lainnya yang
penting untuk daya tahan tubuh dan pertumbuhan usus bayi.
8) Bayi yang menjalani Inisiasi Menyusui Dini akan lebih berhasil menjalani
program ASI eksklusif dan mempertahankan menyusui setelah 6 bulan.
Waktu Dimana Bayi akan merangkak mencari puting susu ibunya.
1) Dalam 30 menit pertama :
Istirahat keadaan siaga, sekali-sekali melihat ibunya, menyesuaikan
dengan lingkungan.
Pedoman RSSIB Setya Bhakti Page 89
2) Antara 30 – 40 menit :
G. Mengeluarkan suara, memasukkan tangan ke mulut, gerakan
menghisap.
H. Mengeluarkan air liur.
I. Bergerak ke arah payudara (areola sebagai sasaran) dengan kaki
menekan perut ibu.
J. Menjilat-jilat kulit ibu. Sampai di ujung tulang dada, menghentak-
hentakan kepala ke dada ibu, menoleh ke kanan kiri, menyentuh
puting susu dengan tangannya.
K. Menemukan, menjilat, mengulum puting, membuka mulut lebar dan
melekat dengan baik.
Cara Melakukan Inisiasi Menyusu Dini (IMD)
Manfaat Kontak Kulit Bayi ke Kulit Ibu
1) Dada ibu menghangatkan bayi dengan tepat. Kulit ibu akan menyesuaikan
suhunya dengan kebutuhan bayi. Kehangatan saat menyusu menurunkan
risiko kematian karena hypothermia (kedinginan).
2) Ibu dan bayi merasa lebih tenang, sehingga membantu pernafasan dan
detak jantung bayi lebih stabil. Dengan demikian, bayi akan lebih jarang
rewel sehingga mengurangi pemakaian energi.
3) Bayi memperoleh bakteri tak berbahaya (bakteri baik) yang ada antinya di
ASI ibu. Bakteri baik ini akan membuat koloni di usus dan kulit bayi untuk
menyaingi bakteri yang lebih ganas dari lingkungan.
4) Bayi mendapatkan kolostrum (ASI pertama), cairan berharga yang kaya
akan antibodi (zat kekebalan tubuh) dan zat penting lainnya yang penting
untuk pertumbuhan usus. Usus bayi ketika dilahirkan masih sangat muda,
tidak siap untuk mengolah asupan makanan.
5) Antibodi dalam ASI penting demi ketahanan terhadap infeksi, sehingga
menjamin kelangsungan hidup sang bayi. Bayi memperoleh ASI (makanan
awal) yang tidak mengganggu pertumbuhan, fungsi usus, dan alergi.
Makanan lain selain ASI mengandung protein yang bukan protein manusia
(misalnya susu hewan), yang tidak dapat dicerna dengan baik oleh usus
bayi.
Pedoman RSSIB Setya Bhakti Page 90
6) Bayi yang diberikan mulai menyusu dini akan lebih berhasil menyusu ASI
eksklusif dan mempertahankan menyusu setelah 6 bulan. Sentuhan,
kuluman/emutan dan jilatan bayi pada puting ibu akan merangsang
keluarnya oksitosin yang penting karena : Menyebabkan rahim
berkontraksi membantu mengeluarkan plasenta dan mengurangi
perdarahan ibu.
7) Merangsang hormon lain yang membuat ibu menjadi tenang, rileks, dan
mencintai bayi, lebih kuat menahan sakit/nyeri (karena hormon
meningkatkan ambang nyeri), dan timbul rasa sukacita/bahagia.
8) Merangsang pengaliran ASI dari payudara, sehingga ASI matang (yang
berwarna putih) dapat lebih cepat keluar. karena hanya si bayi yang
tahu seberapa banyak dia harus membersihkan dada si ibu.
9) Setelah itu, si bayi akan mulai meremas-remas puting susu si ibu yang
bertujuan untuk merangsang supaya air susu si ibu segera berproduksi
dan bisa keluar. Lamanya kegiatan ini juga tergantung dari si bayi itu
10) Menyebabkan rahim berkontraksi membantu mengeluarkan plasenta dan
mengurangi perdarahan ibu.
11) Merangsang hormon lain yang membuat ibu menjadi tenang, rileks, dan
mencintai bayi, lebih kuat menahan sakit/nyeri (karena hormon
meningkatkan ambang nyeri), dan timbul rasa sukacita/bahagia.
12) Merangsang pengaliran ASI dari payudara, sehingga ASI matang (yang
berwarna putih) dapat lebih cepat keluar.
AIR SUSU IBU (ASI) EKSKLUSIF
Tujuan Pemberian ASI Eksklusif
Ada beberapa hal yang menjadi tujuan dan juga manfaat ASI eksklusif yang bisa
didapatkan baik itu untuk ibu menyusui maupun bagi sang bayi yaitu antara lain
adalah sebagai berikut :
1) Untuk Bayi antara lain mendapatkan faedah manfaat asi antara lain
adalah sang bayi dapat membantu memulai kehidupannya dengan
baik,mengandung antibodi, asi mengandung komposisi yang tepat,
mengurangi kejadian karies dentis, memberikan rasa aman dan nyaman
Pedoman RSSIB Setya Bhakti Page 91
pada bayi dan adanya ikatan antara ibu dan bayi, terhindar dari alergi, asi
meningkatkan kecerdasan bayi, membantu perkembangan rahang dan
merangsang pertumbuhan gigi karena gerakan mengisap mulut bayi pada
payudara sang ibu.
2) Untuk Sang Ibu menyusui akan mendapatkan manfaat dan faedahnya
antara lain adalah bisa sebagai kontrasepsi, meningkatkan aspek
kesehatan ibu, membantu dalam hal penurunan berat badan, aspek
psikologi yang akan memberikan dampak positif kepada para ibu yang
menyusui air susu ibu itu sendiri.
Manfaat ASI Eksklusif Yang Diberikan Pada Usia dan Tahap Kehidupan
Bayi
1) Jika menyusui hanya beberapa hari : Anak akan menerima
kolostrum yang berguna sebagai penyedia antibodi dan sumber makanan
tubuh barunya, menyusui membantu anak anda bekerjanya sistem
pencernaannya dengan lancar.
2) Menyusui bayi selama 4-6 minggu : Selain anak akan mendapat
pengalaman yang tidak dilupakan saat masa dia kecil, bayi yang
menkonsumsi ASI akan lebih rentan terhindar terkena penyakit dari pada
yang tidak menkonsumsinya.
3) Menyusui bayi selama 3-4 bulan : Sistem pencernaannya akan
sempurna dan dia akan jauh lebih mampu mentolerir zat asing dalam
susu bayi formula. tidak memberikan apapun selain ASI selama 4 bulan
pertama akan melindungi bayi terhadap alergi dan memberikan
perlindungan terhadap infeksi telinga selama satu tahun.
4) Menyusui bayi selama 6 bulan : Tanpa perlu menambah makanan
atau minuman lain anda akan memastikan kesehatan yang baik
sepanjang tahun pertama bayi anda hidup, ini akan menghindarkan
resiko anak dari infeksi telinga dan kanker dan mengurangi resiko kanker
payudara untuk anda sendiri.
5) Menyusui bayi selama 9 bulan : Manfaat untuk perkembangan otak
dan tubuh tercepat yang paling penting dalam hidupnya karena
mendapatkan asupan ASI yang cukup.
Pedoman RSSIB Setya Bhakti Page 92
6) Menyusui bayi selama 1-2 tahun : Anda dapat mengurangi biaya dan
efek samping dari menggunakan susu bayi formula. Tubuhnya satu tahun
mungkin akan mampu memakan makanan lebih bervariasi selain ASI.
Manfaat kesehatan karena menyusui selama setahun akan berguna
sepanjang hidupnya. Dia akan memiliki sistem kekebalan tubuh yang
kuat.
Bagaimana Mencapai ASI Eksklusif Menurut WHO dan UNICEF
Langkah-langkah berikut untuk memulai dan mencapai ASI eksklusif,
antara lain :
a. Menyusui dalam satu jam setelah kelahiran
b. Menyusui secara ekslusif: hanya ASI. Artinya, tidak ditambah makanan atau
minuman lain, bahkan air putih sekalipun.
c. Menyusui kapanpun bayi meminta (on-demand), sesering yang bayi mau, siang
dan malam.
d. Tidak menggunakan botol susu maupun empeng.
e. Mengeluarkan ASI dengan memompa atau memerah dengan tangan, disaat
tidak bersama anak.
f. Mengendalikan emosi dan pikiran agar tenang.
Jenis-jenis ASI
a. Kolostrum
Cairan kental berwarna kekuning-kuningan yang dihasilkan pada hari pertama
sampai hari ke-3. Kolustrum bisa dikatakan sebagai "imunisasi" pertama yang
diterima bayi karena banyak mengandung protein untuk daya tubuh yang berfungsi
sebagai pembunuh kuman dalam jumlah tinggi. Kadarnya 17 kali dibandingkan
dengan ASI matur.
b. Susu Transisi
Susu yang di produksi setelah kolostrum antara hari ke-4 sampai dengan hari
ke-10. Dalam susu transisi ini terdapat Immunoglobulin, protein dan laktosa dengan
konsentrasi yang lebih rendah dari kolostrum tetapi konsentrasi lemak dan jumlah
kalori lebih tinggi, vitamin larut lemak berkurang, vitamin larut air meningkat.
Bentuk atau warna susu lebih putih dari kolostrum.
Pedoman RSSIB Setya Bhakti Page 93
c. Susu Matur
Susu matur adalah susu yang keluar setelah hari ke-10. Berwarna putih
kental. Komposisi ASI yang keluar pada isapan-isapan pertama (foremilk)
mengandung lemak dan karbohidratnya lebih banyak dibandingkan hindmilk (ASI
yang keluar pada isapan-isapan terakhir), maka jangan terlalu cepat memindahkan
bayi untuk menyusu pada payudara yang lain, bila ASI pada payudara yang sedang
diisapnya belum habis.
Manfaat ASI Eksklusif
Untuk Bayi
1) ASI adalah makanan terbaik bagi bayi yang mudah dicerna dan diserap,
selalu bersih, segar dan aman.
2) ASI menyempurnakan pertumbuhan bayi sehingga menjadikan bayi sehat
dan cerdas.
3) ASI memberikan perlindungan terhadap berbagai penyakit terutama
infeksi.
4) Memperindah kulit dan gigi serta bentuk rahang.
5) ASI selalu tersedia dengan suhu yang tepat sehingga tidak akan
mengecewakan bayi karena harus menunggu atau suhu tidak tepat.
6) Bayi yang menyusu jarang mengalami diare, tidak akan mengalami
sembelit dan jarang terkena alergi.
7) Komposisi dan volume ASI cukup untuk pertumbuhan dan perkembangan
bayi sampai dengan 6 bulan.
8) Sistem pencernaan bayi sampai dengan 6 bulan belum sempurna untuk
mencerna makanan selain ASI. ASI sendiri mudah dicerna karena
mengandung enzim-enzim.
9) Tidak memberatkan fungsi ginjal bayi. Sistem ekskresi bayi baru lahir
sampai dengan usia 6 bulan belum sempurna, sehingga bila diberi
makanan dengan osmolaritas yang tinggi (seperti susu formula atau
buah-buahan) akan memberatkan fungsi ginjal.
10) Pemberian makanan atau minuman selain ASI sebelum 4-6 bulan secara
tidak langsung akan mengurangi produksi ASI oleh karena frekuensi bayi
untuk menyusu berkurang karena sudah kenyang.
Pedoman RSSIB Setya Bhakti Page 94
Untuk Ibu
1) Mengurangi perdarahan setelah melahirkan dan mempercepat involusi
uterus (pengecilan rahim seperti semula). Hal ini disebabkan karena pada
saat bayi lahir dan segera disusukan ke ibunya, maka rangsangan
hisapan bayi pada payudara akan diteruskan ke hipofisis pars posterior
yang akan mengeluarkan hormon progesterone.
2) Membantu mengembalikan tubuh seperti keadaan sebelum hamil.
Dengan menyusui, timbunan lemak pada tubuh ibu akan dipergunakan
untuk pembentukan ASI sehingga berat badan ibu akan lebih cepat
kembali keberat sebelum hamil.
3) Menjadikan hubungan ibu dan bayi semakin dekat.
4) Menunda kehamilan. Dengan menyusui secara eksklusif dapat menunda
haid dan kehamilan, sehingga dapat digunakan sebagi alat kontrasepsi
alamiah yang secara umum dikenal sebagai Metode Amenorea Laktasi
(MAL).
5) Mengurangi resiko kanker payudara dan ovarium. Cukup banyak
penelitian yang membuktikan bahwa ada korelasi antara infertilitas dan
tidak menyusui dengan peningkatan risiko terkena kanker, baik itu kanker
payudara ataupun kanker ovarium.
6) Pemulihan kesehatan ibu lebih cepat.
Pedoman RSSIB Setya Bhakti Page 95
VIII.d. TATA LAKSANA
1. INISIASI MENYUSU DINI (IMD)
Tata laksana Inisiasi Menyusu Dini (IMD) menurut WABA & UNICEF :
1) Dalam proses melahirkan, ibu disarankan untuk mengurangi/tidak
menggunakan obat kimiawi. Jika ibu menggunakan obat kimiawi terlalu
banyak, dikhawatirkan akan terbawa ASI ke bayi yang nantinya akan
menyusu dalam proses inisiasi menyusu dini.
2) Para petugas kesehatan yang membantu Ibu menjalani proses
melahirkan, akan melakukan kegiatan penanganan kelahiran seperti
biasanya. Begitu pula jika ibu harus menjalani operasi sectio cesaria.
3) Setelah lahir, bayi secepatnya dikeringkan seperlunya tanpa
menghilangkan vernix (kulit putih). Vernix (kulit putih) menyamankan
kulit bayi.
4) Bayi kemudian ditengkurapkan di dada atau perut ibu, dengan kulit
bayi melekat pada kulit ibu. Untuk mencegah bayi kedinginan, kepala
bayi dapat dipakaikan topi. Kemudian, jika perlu, bayi dan ibu
diselimuti.
5) Bayi yang ditengkurapkan di dada atau perut ibu, dibiarkan untuk
mencari sendiri puting susu ibunya (bayi tidak dipaksakan ke puting
susu). Pada dasarnya, bayi memiliki naluri yang kuat untuk mencari
puting susu ibunya.
6) Saat bayi dibiarkan untuk mencari puting susu ibunya, ibu perlu
didukung dan dibantu untuk mengenali perilaku bayi sebelum
menyusu. Posisi ibu yang berbaring mungkin tidak dapat mengamati
dengan jelas apa yang dilakukan oleh bayi.
7) Bayi dibiarkan tetap dalam posisi kulitnya bersentuhan dengan kulit ibu
sampai proses menyusu pertama selesai.
8) Setelah selesai menyusu awal, bayi baru dipisahkan untuk ditimbang,
diukur, dicap, diberi vitamin K dan tetes mata.
9) Ibu dan bayi tetap bersama dan dirawat gabung. Rawat gabung
memungkinkan ibu menyusui bayinya kapan saja si bayi
menginginkannya, karena kegiatan menyusu tidak boleh dijadwal.
Pedoman RSSIB Setya Bhakti Page 96
Rawat gabung juga akan meningkatkan ikatan batin antara ibu dengan
bayinya, bayi jadi jarang menangis karena selalu merasa dekat dengan
ibu, dan selain itu dapat memudahkan ibu untuk beristirahat dan
menyusui.
Cara Melakukan Inisiasi Menyusu Dini (IMD)
Proses inisiasi menyusui dini ternyata merupakan proses alami yang
seharusnya dilakukan setelah seorang ibu melahirkan bayinya.
1) Sesaat setelah lahiran sehabis ari-ari dipotong, bayi langsung diletakan
di dada si ibu tanpa membersihkan si bayi kecuali tangannya, kulit
ketemu kulit. Ternyata suhu badan ibu yang habis melahirkan 1 derajat
lebih tinggi. Namun jika si bayi itu kedinginan, otomatis suhu badan si
ibu jadi naik 2 derajat, dan jika si bayi kepanasan, suhu badan ibu akan
turun 1 derajat. Jadi Tuhan sudah mengatur bahwa si ibu yang akan
membawa si bayi beradaptasi dengan kehidupan barunya. Setelah
diletakkan di dada si ibu, biasanya si bayi hanya akan diam selama
20-30 menit, dan ternyata hal ini terjadi karena si bayi sedang
menetralisir keadaannya setelah trauma melahirkan.
2) Gerakan kedua yang terjadi yaitu setelah si bayi merasa lebih tenang,
maka secara otomatis kaki si bayi akan mulai bergerak-gerak seperti
hendak merangkak. Ternyata gerakan ini pun bukanlah
gerakan tanpa makna karena ternyata kaki si bayi itu pasti hanya
akan menginjak perut ibunya di atas rahim. Gerakan ini bertujuan untuk
menghentikan pendarahan si ibu. Lama dari proses ini tergantung dari
si bayi. Untuk gerakan ini, ternyata si dokter punya pengalaman.
Pernah ada dukun beranak melakukan melahirkan, dan ternyata si ibu
mengalami pendarahan hebat. Pada saat itu si dukun meletakkan
anaknya di dada si ibu, dan anak tersebut menggerak-gerakkan kakinya
memasage perut ibunya bahkan lebih dari satu jam, sampai pendarahan
si ibu berhenti.
3) Setelah melakukan gerakan di kakinya, si bayi akan melanjutkan
dengan mencium tangannya, ternyata bau tangan si bayi sama
dengan bau air ketuban. Dan ternyata wilayah sekitar puting si ibu
Pedoman RSSIB Setya Bhakti Page 97
itu juga memiliki bau yang sama, jadi dengan mencium bau tangannya,
si bayi membantu si bayi untuk mengarahkan kemana dia akan
bergerak. Dia akan mulai bergerak mendekati puting ibu denga ketika
sudah mendekati puting si ibu, si bayi itu akan menjilat dada si ibu.
Ternyata jilatan ini berfungsi untuk membersihkan dada si ibu dari
bakteri jahat dan begitu masuk ke tubuh si bayi akan diubah menjadi
bakteri yang baik dalam tubuhnya. Lamanya kegiatan ini juga
tergantung dari si bayi karena hanya si bayi yang tahu seberapa banyak
dia harus membersihkan dada si ibu.
4) Setelah itu, si bayi akan mulai meremas-remas puting susu si ibu yang
bertujuan untuk merangsang supaya air susu si ibu segera
berproduksi dan bisa keluar. Lamanya kegiatan ini juga tergantung dari
si bayi itu
5) Menyebabkan rahim berkontraksi membantu mengeluarkan plasenta
dan mengurangi perdarahan ibu.
6) Merangsang hormon lain yang membuat ibu menjadi tenang, rileks, dan
mencintai bayi, lebih kuat menahan sakit/nyeri (karena hormon
meningkatkan ambang nyeri), dan timbul rasa sukacita/bahagia.
7) Merangsang pengaliran ASI dari payudara, sehingga ASI matang (yang
berwarna putih) dapat lebih cepat keluar.
Cara Melakukan Inisiasi Menyusu Dini (IMD)
Langkah-langkah Menyusui, antara lain ;
1) Cuci tangan dengan benar terlebih dahulu menggunakan sabun dan air
bersih . Tangan ibu yang akan menyentuh bagian-bagian yang dihisap
oleh bayi (puting dan areola), sehingga untuk menghindari perpindahan
kuman dari tangan, maka sebaiknya ibu mencuci tangan dengan sabun
terlebih dahulu. Cara mencuci tangan: basahi kedua tangan dengan air
mengalir, gosok dengan sabun hingga ke sela jari dan kuku, bilaslah
dengan air mengalir hingga bersih, lalu keringkan dengan lap yang
bersih.
2) Keluarkan sedikit ASI dan oleskan pada puting dan areola sekitarnya.
Cara ini bermanfaat untuk menjaga wilayah areola dan puting tetap
Pedoman RSSIB Setya Bhakti Page 98
steril, karena ASI juga mampu berfungsi sebagai desinfektan (pencegah
infeksi dari kuman penyakit). Selain itu, dapat menjaga kelembaban
areola dan puting payudara.
3) Letakkan bayi menghadap perut ibu/payudara, mulai dari payudara
yang terakhir belum dikosongkan. Posisi bayi sebaiknya menghadap ibu,
dengan kepala bayi menghadap ke arah depan (ke arah payudara),
sehingga telinga dan tangannya berada pada satu garis lurus.
4) Payudara yang akan disusukan ke bayi haruslah payudara yang belum
dikosongkan, agar menjaga kelangsungan produksi ASI. Terutama jika
payudara terlalu besar, pegang payudara dengan ibu jari di atas dan jari
lainnya menopang bagian bawah payudara. Payudara yang terlalu besar
dapat mengakibatkan puting tidak menonjol keluar, karenanya perlu
dipegang sedemikian rupa agar bayi dapat dengan mudah melekat pada
areola.
5) Jika perlu, rangsang bayi untuk membuka mulut dengan menyentuhkan
jari ke sisi mulutnya. Bayi harus melekat pada areola payudara ibu, dan
bukan pada putingnya saja, karenanya mulut bayi harus terbuka lebar.
6) Dekatkan dengan cepat kepala bayi ke payudara ibu, dengan puting
dan areola dimasukkan ke mulut bayi. Ketika mulut bayi sudah terbuka
lebar, kepala bayi segera didekatkan pada payu-dara ibu sebelum bayi
kembali menutup mulutnya.
7) Setelah payudara yang dihisap bayi terasa kosong, lepaskan isapan bayi
dengan menekan dagunya ke bawah atau jari kelingking ibu
dimasukkan ke mulut bayi. Sebaiknya bayi menghisap hingga susu akhir
dari payudara ibu, baru kemudian dilepaskan. Tetapi dapat juga bayi
dibiarkan sampai melepaskan sendiri hisapannya dari payudara ibu. Jika
bayi hanya merasa haus, maka ia tidak lama menyusu, hanya meminum
susu awal saja lalu melepaskan hisapannya.
8) Ibu dapat merasakan ketika payudaranya sudah terasa benar-benar
kosong karena susu akhir yang lebih kental sudah dihisap bayi. Pada
saat inilah bayi dapat dilepaskan atau melepaskan hisapannya dari
payudara ibu.
Pedoman RSSIB Setya Bhakti Page 99
9) Susui berikutnya mulai dari payudara yang belum terkosongkan. Setelah
selesai dengan salah satu payudara, maka kegiatan menyusu berikutnya
dilakukan pada payudara yang belum dihisap bayi.
10) Keluarkan sedikit ASI dan oleskan pada puting dan areola sekitarnya,
kemudian biarkan kering dengan sendirinya (jangan dilap). Cara ini
dilakukan untuk menjaga kelembaban wilayah di sekitar areola dan
puting, sehingga tidak kering.
11) Sendawakan bayi. Bayi perlu disendawakan agar tidak memuntahkan
ASI yang sudah diminumnya. Caranya bisa dengan menepuk-nepuk
punggungnya secara perlahan, sambil digendong dengan bersandar
pada bahu ibu/ayah, atau menengkurapkannya di pangkuan.
2. AIR SUSU IBU (ASI) EKSKLUSIF
Tips Agar ASI Mudah Dikeluarkan
D. Memijat payudara mulai dari bagian atas dengan gerakan memutar dan
menekan lembut ke arah dada.
E. Menekan lembut daerah payudara dari bagian atas hingga sekitar
puting menggunakan jari dengan gerakan seperti menggelitik.
F. Mengguncang lembut payudara dengan arah memutar untuk
membantu keluarnya ASI.
Cara Mengetahui Bahwa Bayi Mendapat ASI Cukup
1) Periksalah pertambahan berat bayi
Selama 6 bulan pertama, bayi sebaiknya bertambah berat sedikitnya
500 gram setiap bulan, atau 125 gram setiap minggu. Perhatikan KMS
bayi jika ada, atau perhatikan catatan lain tentang berat badan bayi
sebelumnya. Jika tidak ada catatan berat badan, jadwalkan untuk
menimbangnya lagi dalam waktu satu minggu. Bila pertambahan
berat badan bayi cukup, maka ia mendapat ASI yang cukup. Sangat
sulit mengetahui apakah ASI yang diterima bayi cukup atau tidak jika tidak
ada catatan berat badannya.
2) Periksalah air seni bayi
Pedoman RSSIB Setya Bhakti Page 100
Bayi yang disusui secara eksklusif dan mendapat ASI yang cukup,
biasanya mengeluarkan air seni jernih sekurangnya 6-8 kali dalam 24
jam. Bayi yang tidak mendapat cukup ASI mengeluarkan asir seni
kurang dari 6 kali dalam 24 jam (bahkan seringkali kurang dari 4 kali
sehari).Tanda lainnya adalah air seninya berwarna pekat, berbau tajam,
dan berwarna kuning tua sampai jingga, khususnya bayi yang berusia
lebih dari 4 minggu.
ASI Kurang
Istilah ASI Kurang adalah istilah yang rancu, atau tidak cukup jelas,
yang dapat ditafsirkan menjadi 3 pengertian yang berbeda. Yang pertama,
Ibu merasa produksi ASInya kurang, ini berkaitan dengan perasaan si Ibu.
Yang kedua, dapat juga kategori ASI kurang dimaksudkan sebagai
produksi ASI Ibu memang benar-benar kurang, yang berarti produksi ASI
Ibu sudah terbukti memang hanya sedikit, sehingga tidak mencukupi
kebutuhan bayi. Sedangkan yang ketiga, jumlah ASI yang diterima
bayimemang kurang. Ini bisa terjadi seandainya perlekatan bayi pada saat
menyusu tidak tepat, atau karena sebab lainnya.
Pengertian yang pertama dan kedua bukanlah hal yang penting,
dibandingkan dengan yang ketiga. Meskipun produksi ASI ‘tidak banyak’,
namun jika yang diterima oleh bayi sudah cukup, maka jumlah produksi
ASI tidak menjadi masalah.
Tanda-tanda "Pasti" ASI Kurang
Ini adalah tanda-tanda yang meyakinkan bahwa jumlah ASI kurang yang
diterima bayi memang benar-benar kurang.
Berat badan bayi tidak naik. Jika pertambahan berat badan bayi
kurang dari 500 gram/bulan, atau setelah dua minggu beratnya
kurang dari berat lahirnya.
Bayi mengompol kurang dari 6 kali sehari, bau dan berwarna kuning
tua.
Tanda-tanda "Mungkin" ASI Kurang
Tanda-tanda berikut tidak berarti bahwa ASI-nya yang kurang, tetapi
bisa terjadi karena sebab lainnya.
Pedoman RSSIB Setya Bhakti Page 101
6) Bayi tidak puas setelah menyusu.
7) Bayi sering menyusu.
8) Bayi jarang buang air besar.
9) Bayi sering menangis.
10) Kotoran bayi keras, kering, atau kehijauan.
11) Tidak ada ASI yang keluar ketika diperah.
12) Selama kehamilan, payudara tidak membesar.
"Bukan" Tanda ASI Kurang
Kategori tanda-tanda berikut sama sekali bukan tanda bahwa ASI
kurang, melainkan tanda-tanda untuk peristiwa yang lain.
Bayi menghisap jari
Bayi menyusu sangat lama
Payudara lebih lunak dari sebelumnya
Bayi tidur lama setelah diberi susu botol
Bayi menolak menyusu
ASI tidak menetes keluar
Perut bayi tidak bundar setelah disusui
Payudara tidak langsung penuh setelah melahirkan
Tidak merasakan refleks pelepasan ASI
Setelah melahirkan, ASI tidak keluar
Petugas kesehatan mengatakan ASI tidak cukup
Dikatakan terlalu muda atau terlalu tua untuk menyusui
Orang lain meragukan kecukupan ASI
Dikatakan bayi terlalu kecil atau terlalu besar
ASI tampak encer
Tidak punya/kurang pengalaman menyusui sebelumnya
Cara Memerah ASI
Memerah ASI dengan Tangan
10) Cuci tangan dengan air dan sabun, lalu bersihkan puting susu dengan
memerah sedikit ASI, dan menoleskannya pada puting dan areola.
ASI mengandung zat anti bakteri yang akan membunuh kuman pada
payudara dan puting. Usahakan untuk rileks dan nyaman, karena
Pedoman RSSIB Setya Bhakti Page 102
kondisi psikologis ibu berpengaruh terhadap produksi ASI.
11) Topang payudara Ibu dengan sebelah tangan lalu urut dari bagian
atas payudara menuju puting. Urut menyeluruh, termasuk bagian
bawahnya. Lakukan dengan lembut.
12) Sekarang, tekan perlahan-lahan pada area di belakang areola (kulit
gelap yang mengitari puting) dengan ibu jari dan telunjuk.
13) Pencet kedua jari bersamaan, lalu tekan ke arah pucuk puting untuk
mengeluarkan ASI Ibu. Berhati-hatilah, ASI bisa memancar ke segala
arah.
14) Ulangi secara teratur sehingga ASI telah keluar semua.
15) Cara memerah yang benar akan mampu mengosongkan payudara
dan meningkatkan produksi ASI. Payudara kosong akan mengirim
sinyal ke otak agar memerintahkan tubuh untuk memproduksi air
susu. Dengan begitu, produksi susu akan lancar.
16) Letakkan cangkir bermulut lebar yang sudah disterilkan di bawah
payudara yang diperah.
17) Peras satu payudara selama 3-5 menit, kemudian beralih ke payudara
satunya. Demikian seterusnya bergantian sampau payudara terasa
kosong (20-30 menit).
18) Agar ASI tetap banyak, mulai memeras 6 jam pasca persalinan dan
anjurkan memeras setiap 2-3 jam.
Memerah ASI dengan Pompa Elektrik
Dengan pompa ASI, Ibu bisa memerah dengan lebih cepat dan
mudah dibanding menggunakan tangan.
Pilih pompa yang bentuknya sederhana , sehingga mudah digunakan
dan mudah dibersihkan.
Pastikan pompa sudah disterilkan sebelum dipakai.
Sesuaikan isapan pompa dengan kenyamanan anda (pegangannya
dan besar Pompa).
Kendurkan otot dan saluran ASI di payudara Ibu dengan menaruh
handuk hangat di atas payudara, pijat payudara dengan lembut.
Lamanya memompa ASI sangan bergantung pada pompa yang
Pedoman RSSIB Setya Bhakti Page 103
digunakan. Pemerahan ASI bisa perlu waktu 15 - 45 menit dan tidak
menyebabkan rasa sakit.
Cara Memperbanyak Produksi ASI
Ada beberapa hal yang bisa dilakukan oleh para ibu menyusui untuk melakukan cara
tips agar ASI banyak dan berlimpah yaitu dengan :
1) Menyusui sesering mungkin.
2) Motivasi yang kuat untuk menyusui bayi.
3) Pemeriksaan payudara untuk meningkatkan produksi ASI juga dapat
direncanakan dari jauh-jauh hari.
4) Penggunaan BH yang terlalu sempit akan mempengaruhi produksi ASI.
5) Segera sehabis melahirkan maka sang bayi langsung diperkenalkan
dengan payudara ibu atau lebih dikenal dengan istilah Inisiasi Menyusui
Dini (IMD).
6) Untuk mengatasi keterbatasan ASI perbanyaklah makan daun katuk,
bayam, daun turi (sayuran hijau lainnya) yang banyak mengandung zat
untuk memperbanyak produksi ASI.
Cara Memberi ASI
Ada beberapa cara pemberian ASI, yaitu :
1. Memberi ASI dengan Sendok dan Cup Feeding
Memberi minum dengan sendok atau cup feeding lebih
baik daripada dengan botol, karena tidak mempengaruhi proses
menghisap dan altnya cukup dibersihkan dengan air dan sabun serta
dikeringkan dengan lap bersih.
Untuk memberi minum, peluk bayi dengan lengan dan
bokong disangga oleh telapak tangan dalam posisi agak tegak.
Tuangkan ASI peras dalam mangkok / cangkir. Berikan dengan
sendok, tunggu sampai bayi selesai menelan, baru berikan lagi. Bila
jatah ASI tidak habis, berikan lebih banyak pada waktu minum
berikutnya. Jangan lupa mencatat jumlah masukan setiap kali dan
jumlah total selama 24 jam.
Pedoman RSSIB Setya Bhakti Page 104
Minum dengan cangkir / cup feeding mula-mula banyak
tumpah, tetapi selanjutnya bisa lebih cepat. Tempelkan cangkir / gelas
kecil be bibir bayi, jangan dituang. Bayi kecil akan menjilat dengan
lidahnya sedangkan bayi yang lebih besar mengisap pinggir cangkir.
Berikan terus sampai bayi berhenti menghisap. Bayi sangat kecil bisa
dimulai minum dengan pipet
Memberi ASI dengan Suplemeter
Ketika bayi kecil mulai timbul refleks hisapnya, tetapi
belum terlau kuat unutk menghisap jumlah volume ASI yang
diperlukan, atau karena ASI ibu masih kurang, maka bayi dilatih
menetek langsung sementara ASI perah atau formula diberikan dengan
alat suplemeter. Karena bayi akan frustasi bila ASI kurang deras,
apalagi bila pernah mengenal dot.
Teknik menggunakan suplemeter :
a. Siapkan tabung orogastrik ukuran F5 dan cangkir serta
plester.
b. Tuang ASI peras atau formula yang dibutuhkan dalam
cangkir.
c. Letakkan ujung pipa orogastrik yang berlubang didaerah
areola kemudian plester.
d. Masukkan ujung yang satunya ke dalam cangkir.
e. Atur kecepatan aliran dengan menaik turunkan cangkir
sehingga bayi selesai menghisap dalam waktu sekitar 30
menit.
f. Pipa orogastrik perlu disterilkan dengan direbus.
g. Setelah ASI bertambah / daya hidap makin kuat, kurangi
jumlah susu peras / formula dan biarkan bayi menetek
langsung lebih lama
2. Memberi ASI dengan Pipa Orogastrik dan Semprit
Biasanya dipakai pipa orogastrik F5 dan F8.
1) Ukur jarak dari mulut ke telinga sampai ke epigastrum kemudian beri
Pedoman RSSIB Setya Bhakti Page 105
tanda dengan pena.
2) Masukkan pipa perlahan melalui mulut sampai tanda pena kemudian
lekatkan pada pipa memakai plaster. Perhatikan jangan sampai
tersedak
3) Dengarkan dengan stetoskop diatas lambung. Semprotkan udara
melalui pipa dengan semprit 3cc. Bila terdengar bunyi udara dari
lambung, berarti pipa orogastrik sudah masuk dnegan baik.
4) Tuang ASI peras / formula sejumlah yang diperlukan dalam semprit,
sambungkan semprit dengan pipa, posisikan lebih tinggi dari bayi dan
biarkan susu mengalir turun.
5) Perhatikan kalau ada perubahan nafas atau bayi muntah.
6) Selesai minum, lepas semprit, tutup klep di ujung pipa orogastrik
7) Selama minum bayi dapat ngempeng pada payudara ibu atau ibu jari.
8) Ganti pipa setiap 72 jam (3 x 24 jam).
Pedoman RSSIB Setya Bhakti Page 106
VIII.e. DOKUMENTASI
Pencatatan merupakan bukti dari kualitas pelayanan / asuhan yang diberikan
kepada ibu dan bayi, hal-hal yang perlu ditulis/direkam pada pencatatan Inisiasi
Menyusu Dini (IMD) dan ASI Eksklusif adalah :
A. Pencatatan
Adapun beberapa formulir yang digunakan dalam pendokumentasian IMD dan
ASI Eksklusif :
1. Formulir Follow Up Bayi
2. Informasi dan Persetujuan Inisiasi Menyusu Dini (IMD) dan Rawat Gabung
3. Formulir Rawat Gabung dan ASI Eksklusif
B. Jumlah Persalinan
1. Persalinan Normal
2. Persalinan dengan tindakan
C. Status Kesehatan
1. Kondisi Ibu (Sehat / beresiko)
2. Kondisi Bayi (Sehat / beresiko)
1. INISIASI MENYUSU DINI (IMD)
Mitos atau Fakta Mengenai Inisiasi Menyusui Dini (IMD)
NO. MITOS FAKTA
Kecuali dalam situasi darurat, ibu yang baru
melahirkan mampu meneteki bayinya segera.
Setelah melahirkan, ibu terlalu lelah
1 Memeluk dan meneteki bayi dapat
untuk dapat meneteki
menghilangkan rasa sakit dan lelah ibu
setelah melahirkan
Kalau belum melihat sendiri, tentu Anda tidak
Bayi baru lahir tidak dapat menyusu akan percaya bahwa bayi mampu
2
sendiri. melakukannya. Bayi memiliki naluri kuat
mencari puting ibunya selama satu jam
Pedoman RSSIB Setya Bhakti Page 107
setelah lahir. Jika tidak segera menyusu,
naluri ini akan terganggu sehingga akan
muncul masalah dalam menyusu. Naluri bayi
ini baru akan muncul kembali kurang lebih
setelah 40 jam kemudian.
NO. MITOS FAKTA
Meskipun tidak terasa, kolostrum (ASI
pertama), akan keluar langsung setelah
kelahiran. Jumlahnya sedikit, tapi cukup
untuk kebutuhan bayi. Pada saat belum
ASI belum keluar pada hari-hari banyak ASI yang tersedia, posisi perlekatan
3
pertama setelah melahirkan. bayi harus sempurna sehingga bayi dapat
mengeluarkan dan minum ASI dari payudara
ibunya. Ketika perlekatan belum sempurna,
bayi tidak dapat minum ASI pertama yang
dihasilkan oleh ibunya.
Kolostrum adalah cairan yang kaya dengan
zat kekebalan tubuh dan zat penting lain
yang harus dimiliki bayi.
Tidak ada gunanya meneteki bayi sejak Dengan menetek segera setelah lahir, bayi
4
kelahirannya. akan mendapat manfaat kolostrum. Selain itu
bayi yang
menetek langsung akan merangsang ASI
cepat keluar.
Bayi bukan anak ayam. Kehangatan terbaik
bagi bayi diperoleh melalui kontak kulit bayi
Bayi harus dibungkus dan dihangat-kan
ke kulit ibu, karena kehangatan tubuh ibu
5 di bawah lampu selama dua jam
dapat menyesuaikan dengan kebutuhan bayi.
setelah lahir
Kontak kulit bayi ke kulit ibu, membuat ASI
semakin cepat keluar.
Pedoman RSSIB Setya Bhakti Page 108
ASI pertama memang sedikit, tapi cukup
untuk me-menuhi perut bayi yang hanya
ASI pertama/kolostrum sangat sedikit, dapat diisi sebanyak 4 sen-dok teh. Bayi
6
sehingga bayi lapar dan menangis. yang menangis belum tentu berarti lapar,
karena masih banyak penyebab lain yang
menyebabkan bayi menangis.
Bayi menangis bisa diakibatkan karena
merasa tidak nyaman, merasa tidak aman,
merasa sakit, dan sebagainya. Belum tentu
7 Bayi menangis, pasti karena lapar.
lapar. Itulah kenapa dalam satu jam
pertama, bayi sebaiknya diletakkan dekat
ibunya agar merasa aman dan tenang.
Jika bayi lapar, teteki lagi. Semakin sering
meneteki tidak akan membuat bayi lapar,
dan akan memperlancar produksi ASI.
Bayi menangis karena lapar perlu diberi
8 Makanan dan minuman selain ASI hanya
makanan atau minuman lain.
akan membahayakan kesehatan pencernaan
bayi, karena perut bayi belum siap untuk
menerima dan mengolahnya.
Warna kuning kolostrum adalah tanda-tanda
kan dungan protein dalam ASI, bukan berarti
Kolostrum/ASI pertama adalah susu kotor atau basi. Selain protein, kolostrum/ASI
9
basi/kotor pertama juga kaya dengan zat kekebalan
tubuh dan zat penting lain yang harus dimiliki
bayi baru lahir.
Pedoman RSSIB Setya Bhakti Page 109
NO. MITOS FAKTA
Kolostrum/ASI pertama (kekuningan/tidak
berwarna) adalah ASI yang paling penting
ASI yang penting hanyalah cairan yang untuk memberikan kekebalan kepada bayi.
10
berwarna putih. ASI yang berwarna putih, kaya akan lemak,
sangat penting untuk kebutuhan
pertumbuhan bayi sampai berusia 6 bulan.
Bayi baru lahir memang mudah kedinginan,
sehingga perlu dipeluk kontak kulit ke kulit,
diberi topi, lalu ibu bersama bayi diselimuti.
Bedong bayi terlalu ketat, akan membuatnya
Bayi kedinginan sehingga perlu
11 lebih kedinginan dapat meningkatkan resiko
dibedong
pneumonia serta infeksi saluran pernafasan
akut lainnya akibat paru-paru bayi tidak
dapat mengembang sempurna ketika ia
bernafas
Kurang tersedia tenaga kesehatan
Suami atau anggota keluarga ibu dapat
12 sehingga bayi tidak dapat dibiarkan
membantu Inisiasi Menyusu Dini.
menyusu sendiri.
Sementara sibuk, ibu dapat melaksanakan
Kamar bersalin atau kamar operasi
inisiasi meny-usu dini. Lagipula, proses IMD
13 sibuk sehingga bayi perlu segera
dapat dibantu oleh suami atau anggota
dipisah dari ibunya
keluarga ibu.
Bagi ibu yang melahirkan dengan cara
Ibu harus dijahit sehingga bayi perlu operasi caesar, meskipun sementara dijahit,
14
segera dipisah dari ibunya ibu tetap dapat melaksana-kan inisiasi
menyusu dini.
Bayi perlu diberi suntikan vitamin K dan Benar, tapi dapat ditunda selama 1 jam
15
tetes mata segera setelah lahir. hingga bayi selesai menyusu awal.
16 Bayi harus segera dibersihkan setelah Bidan akan membersihkan seperlunya.
Pedoman RSSIB Setya Bhakti Page 110
lahir. Memandikan bayi sebaiknya ditunda hingga 6
jam agar tidak membuat bayi kedinginan.
Bayi harus ditimbang dan diukur Ditunda 1 jam tidak akan mengubah berat
17
setelah lahir. dan tinggi bayi
Mungkin, tapi adalah tugas orang tua untuk
Tenaga kesehatan belum sependapat
membela hak sang bayi. Tenaga kesehatan
tentang pentingnya memberi
18 dapat diberi penjelasan, dan suami atau
kesempatan inisiasi menyusu dini pada
anggota keluarga dapat membujuk agar bayi
bayi yang lahir dengan operasi caesar.
dibiarkan untuk inisiasi menyusu dini.
Siapa yang mengharuskan duduk? Sambil ibu
Ibu belum bisa duduk/duduk miring
19 berbaring, bayi dapat menyusu pada saat
untuk memberikan ASI.
tengkurap di dada ibu
Posisi Gendong 1 Posisi Menyamping 1 Posisi Gendong 2
Posisi ibu menyusui tidak harus dengan duduk bersandar. Berikut
beberapa posisi yang dapat
dipilih dalam menyusui bayi
Posisi Miring arah Balik Posisi Menyamping 2
Pedoman RSSIB Setya Bhakti Page 111
2. AIR SUSU IBU (ASI) EKSKLUSIF
Mekanisme Produksi ASI
1) Hormon Prolaktin
Ketika bayi menyusu, payudara mengirimkan rangsangan ke
otak. Otak kemudian bereaksi mengeluarkan hormon Prolaktin yang
masuk ke dalam aliran darah menuju kembali ke payudara. Hormon
Prolaktinmerangsang sel-sel pembuat susu untuk bekerja,
memproduksi susu. Sel-sel pembuat susu sesungguhnya tidak
langsung bekerja ketika bayi menyusu. Sebagian besar hormon
Prolaktin berada dalam darah selama kurang lebih 30 menit, setelah
proses menyusui. Jadi setelah proses menyusu selesai, barulah
sebagian besar hormon Prolaktin sampai di payudara dan merangsang
sel-sel pembuat susu untuk bekerja.
Jadi, hormon Prolaktin bekerja untuk produksi susu berikutnya.
Susu yang disedot/dihisap bayi saat ini, sudah tersedia dalam
payudara, disaluran ASI. Sederhananya, mekanisme produksi susu
dalam payudara prinsipnya mirip dengan tanaman teh atau tanaman
kembang kertas. Jika kita memetik pucuk teh atau kembang kertas,
maka akan tumbuh dari bawah ketiak daun, dua buah cabang baru.
Jadi semakin sering dipetik, semakin banyak pucuk mudanya. Jika
tidak dipetik, tidak akan ada cabang baru.
Begitu pula dengan ASI, semakin sering disedot bayi, semakin
banyak ASI yang diproduksi. Se-makin jarang bayi menyusu, semakin
sedikit ASI yang diproduksi. Jika bayi berhenti menyusu, maka
payudara juga akan berhenti memproduksi ASI.
2) Hormon Oksitosin
Setelah menerima rangsangan dari payudara, otak juga
mengeluarkan hormon Oksitosinselain hormon Prolaktin. Hormon
Oksitosin diproduksi lebih cepat daripada Prolaktin. Hormon ini juga
masuk ke dalam aliran darah menuju payudara. Di payudara, hormon
Oksitosin ini merangsang sel-sel otot untuk berkontraksi.
Pedoman RSSIB Setya Bhakti Page 112
Kontraksi ini menyebabkan ASI hasil produksi sel-sel pembuat
susu terdorong mengalir melalui saluran ASI menuju puting. Kadang-
kadang, bahkan ASI mengalir hingga keluar payudara ketika bayi
sedang tidak menyusu. Proses mengalirnya ASI ini disebut sebagai
refleks pelepasan ASI.
Produksi Hormon Oksitosin bukan hanya dipengaruhi oleh
rangsangan dari payudara. Hormon oksitosin juga dipengaruhi oleh
pikiran dan perasaan ibu. Jadi ketika ibu mendengar suara bayi,
meskipun mungkin bukan bayinya, ASI dapat menetes keluar. Suara
tangis bayi, sentuhan bayi, atau ketika ibu berpikir akan menyusui
bayinya, atau bahkan ketika ibu memikirkan betapa sayangnya kepada
sang bayi, ASI dapat menetes keluar. Itulah kenapa hormon Oksitosin
ada yang menyebut dengan istilah Hormon Cinta.
Jika refleks pelepasan ASI ibu tidak bekerja dengan baik, maka
bayi akan mengalami kesulitan memperoleh ASI karena harus
mengandalkan hanya pada kekuatan sedotan menyusunya.
Akibatnya, bayi akan kelelahan dan memperoleh sedikit ASI.
Kadang-kadang hal ini membuatnya frustasi, dan kemudian menangis.
Peristiwa ini kelihatannya seperti seolah-olah payudara berhenti
memproduksi ASI, padahal tidak. Payudara tetap memproduksi ASI,
tetapi ASI tidak mengalir keluar. Jadi perkara refleks pelepasan ASI ini
sangat penting bagi bayi.
Cara Penyimpanan ASI Eksklusif (ASI Perah)
TEMPAT PENYIMPANAN SUHU ( ° C) LAMA PENYIMPANAN
4 Jam (Ruangan tanpa
Di Ruangan (ASI Segar) 19 °C - 26 °C AC)
6 Jam (Ruangan ber AC)
Di Ruangan (ASI beku yang
19 °C - 26 °C 4 Jam
dicairkan / ASI dingin)
Di Kulkas (ASI Segar) < 4 °C 2 - 3 Hari
Di Kulkas (ASI beku yang dicairkan) < 4 °C 24 Jam
Pedoman RSSIB Setya Bhakti Page 113
Di Freezer (1 pintu) 0 °C sampai - 18 °C 2 Minggu
Di Freezer (2 pintu) - 18 °C sampai - 20 °C 1 - 4 Bulan
Suhu stabil di - 20 °C atau
Di Deep Freezer 6 - 12 Bulan
kurang
HUBUNGAN INISIASI MENYUSU DINI (IMD) DENGAN ASI EKSKLUSIF
INISIASI MENYUSU DINI (IMD)
Mengeluarkan hormon oksitosin dan prolaktin
yang dapat memperlancar keluarnya ASI
Rawat Gabung Atur Jadwal
Memerah ASI ASI Eksklusif
Dukungan Keluarga
ASI EKSKLUSIF
Berpikir Positif
Pekerjaan
Menyusu Setelah
Operasi Caesar Pendidikan
Susui Kapanpun Bayi
Menginginkan
Pedoman RSSIB Setya Bhakti Page 114
BAB IX
PEDOMAN MANAJEMEN LAKTASI
IX.a. DEFINISI
Laktasi adalah bagian terpadu dari proses reproduksi yang memberikan
makanan bayi secara ideal dan alamiah serta merupakan dasar biologik dan
psikologik yang dibutuhkan untuk pertumbuhan. Air susu ibu (ASI) merupakan
makanan yang ideal bagi pertumbuhan neonatus (Nugroho, 2011).
Manajemen laktasi merupakan segala daya upaya yang dilakukan untuk
membantu ibu mencapai keberhasilan dalam menyusui bayinya. Usaha ini dilakukan
terhadap ibu dalam 3 tahap,yaitu pada masa kehamilan(antenatal), sewaktu ibu
dalam persalinan sampai keluar rumah sakit (perinatal), dan pada masa menyusui
selanjutnya sampai anak berumur 2 tahun(postnatal) (Perinasia, 2007).
IX.b. DASAR HUKUM
1. Undang – Undang Nomor 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan
2. Undang – undang nomor 44 Tahun 2009 tentang Rumah Sakit
3. Undang – undang Nomor 29 Tahun 2004 tentang Praktek Kedokteran
4. Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor
237/MENKES/SK/IV/1997 tentang Pemasaran Pengganti Air Susu Ibu
5. Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 1691 / MENKES /
PER /VIII/ 2011 Tentang Keselamatan Pasien rumah Sakit;
6. Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor
450/MENKES/SK/IV/2004 tentang Pemerian Air Susu Ibu (ASI) Secara
Eksklusif Pada Bayi Di Indonesia
IX.c. RUANG LINGKUP
1. Alergi ASI :cek makanan ibu : alergen.
2. Ibu sakit berat : Nefritis, Penyakit jantung berat, Hepatitis – B.
Persiapan ASI
A. Usaha Perawatan Periode perinatal
1. Pendidikan pasien dan keluarga
Pedoman RSSIB Setya Bhakti Page 115
2. Dukungan keluarga
3. Persiapan payudara dan puting susu (TRIM. II)
4. Pemeriksaan payudara & puting susu
5. Makanan bergizi
6. Menjaga kesehatan
B. Usaha pada periode nifas dini
1. Ibu & bayi harus siap menyusui
2. Bayi segera disusukan setelah lahir ( ½ jam )
3. Rawat gabung
4. Tehnik menyusui yg benar
5. Tidak memberi susu formula dan botol
6. Tidak memakai puting buatan
7. Susui dengan kedua payudara
8. Perawatan payudara
9. Ketenangan jiwa di jaga
10. Makanan bergizi lebih dari waktu hamil
11. Istirahat cukup
Persiapan Menyusui:
1) Penyuluhan keunggulan ASI, manfaat rawat gabung dan perawatan bayi,
gizi ibu Dukungan psikologis untuk ibu
2) Hygiene payudara dan puting susu
Kebersihan/hygiene payudara juga harus di perhatikan ,khususnya daerah
papila dan aerola pada saat mandi sebaiknya papila dan areola tidak di
[Link] menghindari keadan kering dan kaku akibat hilangnya lendir
pelumas yang dihasilkan kelenjar [Link] dan papila yang
kering akan memudahkan terjadinya lecet dan infeksi.
3). Membersihkan puting susu dengan air atau minyak, sehingga epitel yang
lepas tidak menumpuk.
4). Puting susu ditarik-tarik setiap mandi, sehingga menonjol untuk
memudahkan isapan bayi.
5). Bila puting susu belum menonjol dapat menggunakan pompa susu
Persiapan Psikologis
Pedoman RSSIB Setya Bhakti Page 116
1) Memberikan dorongan kepada ibu bahwa ibu mampu menyusui bayinya
2) Menyakinkan ibu manfaat ASI
3) Membantu ibu mengatasi keraguannya
4) Mengikutsertakan suami dan anggota keluarga lain
5) Memberi kesempatan ibu bertanya setiap ia membutuhkan
Pemeriksaan payudara
1. Inspeksi
1) Payudara : ukuran dan bentuk, kontur permukaan, warna kulit
2) Areola : ukuran dan bentuk, permukaan,warna
3) Puting susu : ukuran dan bentuk bermacam macam, permukaan tidak
beraturan, warna
2. Palpasi
1) Konsistensi
2) Massa : diraba dengan seksama sampai daerah ketiak
3) Puting susu : lentur/ tidak
cara :
1. Cubit areola disisi puting susu dengan ibu jari dan telunjuk, bila dapat ditarik
maka kelenturannya baik
2. Tarik perlahan puting membentuk ‘dot’, bila mudah ditarik berarti lentur, bila
putting masuk kedalam berarti terbenam
IX.d. PELAKSANAAN
1. Cuci tangan bersih dengan sabun.
2. Pastikan privasi klien terjaga.
3. Anjurkan klien untuk mengendong bayinya kemudian duduk bersandar
dengan kaki tertopang (tidak menggantung)
4. Anjurkan klien untuk membuka payudaranya
5. Atur posisi bayi.
a. Bayi diletakkan menghadap ke ibu dengan posisi sanggah seluruh tubuh
bayi.
b. Lengan ibu pada belakang bahu bayi, tidak pada dasar kepala, leher
tidak menengadah.
Pedoman RSSIB Setya Bhakti Page 117
c. Hadapkan bayi ke dada ibu, sehingga hidung bayi berhadapan dengan
puting susu, sedangkan telinga dan lengan bayi terletak pada satu garis
lurus.
d. Dekatkan badan bayi ke badan ibu (menempel).
e. Bayi dipegang dgn satu lengan, kepala bayi pada lengkung siku ibu dan
bokong bayi terletak pada lengan.
f. Satu tangan bayi diletakkan dibelakang badan ibu.
g. Perut bayi menempel badan ibu, kepala bayi menghadap payudara
(tidak hanya membelokkan kepala bayi)
h. Sebelum menyusui keluarkan sedikit ASI dan oleskan di areola dan
puting susu
6. Pegang payudara kanan dengan tangan kiri, dan sebaliknya. Ibu jari pada
ibu berada di atas puting, sedangkan keempat jari lain di bawah puting.
Jangan menjepit puting dengan jari telunjuk dan jari tengah, karena posisi
puting dalam mulut bayi yang tidak benar mengakibatkan ASI yang keluar
tidak lancar.
7. Beri rangsangan bayi untuk membuka mulut dengan cara menyentuhkan
puting susu pada pipi atau sudut mulut bayi.
8. Setelah mulut bayi terbuka lebar, cepat masukkan puting ke mulut bayi.
9. Usahakan areaola dapat masuk ke dalam mulut bayi.
10. Dagu bayi menempel payudara, hidung dekat dengan payudara, tetapi
lubang hidung jangan sampai tertutup payudara.
11. Setelah bayi mengisap, payudara tidak perlu dipegang atau disangga lagi
12. Pertahankan kontak mata selama proses menyusui
13. Setelah selesai pada satu payudara, lepaskan dengan menggunakan jari
kelingking ibu yang bersih, jari dimasukkan ke dalam sudut mulut bayi.
Cara lain adalah dengan menekan dagu bayi ke bawah atau menutup
lubang hidung bayi, jangan menarik puting untuk melepaskannya.
14. Susukan bayi sesuai dengan kebutuhannya (”on demand“). Biasanya
kebutuhan terpenuhi dengan menyusui tiap 2-3 jam sekali. Setiap kali
menyusui, lakukanlah pada kedua payudara kiri dan kanan secara
Pedoman RSSIB Setya Bhakti Page 118
bergantian, masing-masing sekitar 10 menit. Mulailah dengan payudara sisi
terakhir yang disusui sebelumnya
15. Sendawakan bayi dengan cara :
a. Menyandarkan bayi di pundak ibu lalu ditepuk – tepuk punggungnya
pelan – pelan.
b. Bayi ditengkurapkan di pangkuan ibu sambil digosok – gosok
punggungnya.
16. Setelah selesai menyusui, oleskan ASI lagi seperti awal menyusui tadi.
Biarkan kering oleh udara sebelum kembali memakai BH. Langkah ini
berguna untuk mencegah lecet.
Pedoman RSSIB Setya Bhakti Page 119