Rencana Kerja dan Syarat SPAM Sampang
Rencana Kerja dan Syarat SPAM Sampang
Laporan RKS ini adalah bagian dari pelaporan Dokumen Pengadaan Barang dan
Jasa yang diantaranya terdiri dari Dokumen Spesifikasi Teknis dan Dokumen
Rencana Anggaran Biaya Pekerjaan Perencanaan Pengembangan SPAM
Kabupaten Sampang.
Laporan ini berisi gambaran umum pekerjaan, metode pelaksanaan
pekerjaan, persyaratan teknis pekerjaan serta tata cara pengukuran dan
pembayaran item pekerjaan rencana pekerjaan SPAM Kabupaten Sampang.
Laporan ini dapat diselesaikan atas kerja sama dari semua pihak yang
terkait. Demi kesempurnaan laporan ini, maka kritik dan saran yang membangun
sangat diharapkan. Terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu atas
tersusunnya Laporan ini.
Sampang, 2018
Tim Penyusun
Rencana Kerja Dan Syarat Pengembangan SPAM 2
SPESIFIKASI UMUM
Pasal 1
LINGKUP PEKERJAAN
Pasal 2
MEMULAI KERJA
Pasal 3 :
MOBILISASI
Pasal 4
PAPAN NAMA PROYEK
Kontraktor / Pemborong harus memasang Papan Nama Proyek sesuai dengan ketentuan yang
berlaku atas biaya Kontraktor / Pemborong.
Rencana Kerja Dan Syarat Pengembangan SPAM 4
Pasal 5
KUASA KONTRAKTOR DI LAPANGAN
Pasal 6
RENCANA KERJA
Pasal 7
DIREKSI KEET, LOS KERJA DAN GUDANG BAHAN, PAGAR PROYEK
3. Kontraktor / Pemborong berkewajiban menjaga keamanan dan kebersihan los Pemborong, los
Pengawas beserta inventarisnya.
4. Pagar Pengaman Proyek.
Untuk keamanan lapangan kerja, bila dianggap perlu Direksi / Pemilik dapat memerintahkan
kepada Kontraktor / Pemborong untuk memagari sekelilingnya sehingga aman. Biaya untuk
keperluan ini akan dimasukan didalam penawaran Pemborong . Tinggi Pagar Proyek
minimum 1,80 m dari permukaan tanah dengan bahan dari seng gelombang BJLS 32 dicat,
kolom setempat / tiang pagar dari kayu Dolken / kayu Borneo ukuran 5/7, memenuhi
persyaratan kekuatan dan atau sesuai dengan peraturan Pemerintah Daerah setempat.
5. Kantor Pemborong, gudang bahan, los-los kerja dan los lainnya yang dibuat dan dibiayai oleh
Kontraktor / Pemborong, setelah selesai pelaksanaan pembangunan / pekerjaan tersebut, harus
segera dibongkar/dibersihkan oleh Kontraktor / Pemborong, dan bahan-bahan bekasnya
menjadi milik Kontraktor / Pemborong.
6. Direksi Keet dan Pagar pengaman proyek (butir 7.1. dan 7.4.) yang dibuat oleh Kontraktor /
Pemborong, setelah selesai pelaksanaan pembangunan / pekerjaan tersebut akan ditentukan
pemanfaatannya oleh Proyek, namun apabila dianggap perlu Direksi dapat memerintahkan
kepada Kontraktor / Pemborong untuk segera membongkarnya dan membersihkannya, dan
bahan-bahan bekasnya diserahkan kepada Proyek.
Pasal 8
KEBERSIHAN DAN KESELAMATAN KERJA
Pasal 9
TENAGA DAN SARANA KERJA
Kontraktor / Pemborong harus menyediakan tenaga kerja yang ahli, bahan-bahan, peralatan berikut
alat bantu lainnya untuk melaksanakan bagian-bagian pekerjaan serta mengadakan pengamanan,
pengawasan dan pemeliharaan terhadap bahan-bahan, alat-alat kerja maupun hasil pekerjaan
Rencana Kerja Dan Syarat Pengembangan SPAM 6
selama masa pelaksanaan berlangsung sehingga seluruh pekerjaan selesai dengan sempurna sampai
dengan diserah-terimakannya pekerjaan tersebut kepada Pemberi Tugas.
1. TENAGA KERJA / TENAGA AHLI
Tenaga Kerja dan Tenaga Ahli yang memadai dan berpengalaman dengan jenis dan volume
pekerjaan yang akan dilaksanakan.
2. PERALATAN BEKERJA
Menyediakan alat-alat bantu seperti mesin las, alat bor, alat-alat pengangkat dan pengangkut serta
peralatan-peralatan lain yang benar-benar diperlukan dalam pelaksanaan pekerjaan ini.
3. BAHAN-BAHAN BANGUNAN
Menyediakan bahan-bahan bangunan dalam jumlah yang cukup untuk setiap jenis pekerjaan
yang akan dilaksanakan serta tepat pada waktunya.
Pasal 10 :
PERSYARATAN PELAKSANAAN.
Untuk menghindari klaim dari ‘User’ / Proyek dikemudian hari, maka Kontraktor / Pemborong
harus betul-betul memperhatikan pelaksanaan pekerjaan struktur dengan memperhitungkan
“ukuran jadi (finished)” sesuai persyaratan ukuran pada gambar kerja dan penjelasan RKS.
Kontraktor / Pemborong wajib melaksanakan semua pekerjaan dengan mengikuti petunjuk dan
syarat pekerjaan, peraturan persyaratan pemakaian bahan bangunan yang dipergunakan sesuai
dengan Rencana Kerja dan Syarat-Syarat Teknis dan atau petunjuk yang diberikan oleh Konsultan
Pengawas. Untuk menjamin mutu dan kelancaran pekerjaan, pemborong harus menyediakan :
1. Penanggung jawab lapangan yang terampil dan ahli dibidangnya selama pelaksanaan
pekerjaan dan selama masa pemeliharaan guna memenuhi kewajiban menurut kontrak.
2. Buku komunikasi untuk kunjungan tamu-tamu yang ada hubungannya dengan proyek.
3. Buku Tamu untuk kunjungan tamu-tamu yang tidak ada hubungannya dengan proyek.
4. Mencatat semua petunjuk-petunjuk, keputusan-keputusan dan detail dari pekerjaan.
5. Alat-alat yang senantiasa tersedia di proyek adalah :
a. 1 (satu) kamera.
b. 1 (satu) alat ukur schuifmat.
c. 2 (dua) alat ukur optik ( theodolit & waterpass).
d. 1 (satu) unit komputer dan printer.
e. 1 (satu) alat ukur panjang 5 m & 50 m.
f. 1 (satu) mistar waterpass panjang 120 cm.
Rencana Kerja Dan Syarat Pengembangan SPAM 7
Pasal 11 :
LAPORAN HARIAN, MINGGUAN DAN BULANAN
1. Pelaksana lapangan setiap hari harus membuat Laporan Harian mengenai segala hal yang
berhubungan dengan pelaksanaan pembangunan / pekerjaan, baik bersifat teknis maupun
administratif.
2. Dalam pembuatan laporan tersebut, pihak Kontraktor / Pemborong harus memberikan
data-data yang diperlukan menurut data dan keadaan sebenarnya.
3. Laporan Mingguan dan Laporan Bulanan secara rutin dibuat oleh Kontraktor dan dikoreksi
oleh Pengawas Lapangan dari Konsultan Pengawas.
4. Laporan-laporan tersebut di atas setiap minggu dan bulannya, harus diserahkan kepada
Pemimpin Proyek untuk bahan monitoring.
Pasal 12 :
PENJELASAN RKS DAN GAMBAR
1. Bila gambar yang menyangkut spesifikasi teknis tidak sesuai dengan Rencana Kerja dan
Syarat-syarat (RKS), maka yang mengikat / berlaku adalah RKS.
2. Harus juga disadari bahwa revisi-revisi pada alignemen, lokasi seksi (bagian) dan detail
gambar mungkin akan dilakukan didalam waktu pelaksanaan kerja. Kontraktor /
Pemborong harus melaksanakan pekerjaan sesuai dengan maksud gambar dan
spesifikasinya, dan tidak boleh mencari keuntungan dari kesalahan atau kelalaian dalam
gambar atau dari ketidak-sesuaian antara gambar dan spesifikasinya. Setiap deviasi dari
karakter yang tidak dijelaskan dalam gambar dan spesifikasi atau gambar kerja yang
mungkin diperlukan oleh keadaan darurat konstruksi atau lain-lainnya, akan ditentukan
oleh Konsultan Pengawas dan disahkan secara tertulis.
3. Konsultan Pengawas akan memberikan instruksi berkenaan dengan penafsiran yang
semestinya untuk memenuhi ketentuan gambar dan spesifikasinya. Permukaan-permukaan
pekerjaan yang sudah selesai harus sesuai dengan garis, lapisan bagian dan ukuran yang
tercantum dalam gambar, kecuali bila ada ketentuan lain dari Konsultan Pengawas.
4. Ukuran
a. Pada dasarnya semua ukuran yang tertera dalam Gambar Kerja dan Gambar Pelengkap
meliputi :
As – as
Luar – luar
Dalam – dalam
Luar - dalam.
b. Ukuran - ukuran yang digunakan disini semuanya dinyatakan dalam Meter untuk
pekerjaan pemasangan pipa, Centi meter ( cm ) untuk pekerjaan Arsitektur dan Sipil,
dan ukuran Milimeter ( mm ) untuk pekerjaan Baja dan Mekanikal / Elektrikal.
c. Khusus ukuran-ukuran dalam Gambar Kerja Arsitektur, pada dasarnya adalah ukuran
jadi seperti dalam keadaan jadi / selesai ( “finished”).
d. Bila ada keraguan mengenai ukuran, Kontraktor / Pemborong wajib melaporkan secara
tertulis kepada Konsultan Pengawas yang selanjutnya akan memberikan keputusan
ukuran mana yang akan dipakai dan dijadikan pegangan.
e. Bila ukuran sudah tertera dalam gambar atau dapat dihitung, maka pengukuran skala
tidak boleh dipergunakan kecuali bila sudah disetujui oleh Konsultan Pengawas. Setiap
Rencana Kerja Dan Syarat Pengembangan SPAM 8
deviasi dari gambar karena kondisi lapangan yang tak terduga akan ditentukan oleh
Konsultan Pengawas dan disahkan secara tertulis. Kontraktor / Pemborong tidak
dibenarkan merubah atau mengganti ukuran- ukuran yang tercantum di dalam Gambar
Pelaksanaan tanpa sepengetahuan Konsultan Pengawas / Direksi, dan segala akibat
yang terjadi adalah tanggung jawab Kontraktor / Pemborong baik dari segi biaya
maupun waktu.
5. Perbedaan Gambar.
a. Bila suatu gambar tidak cocok dengan gambar yang lain dalam satu disiplin kerja,
maka gambar yang mempunyai skala yang lebih besar yang mengikat (berlaku).
b. Bila ada perbedaan antara gambar kerja Arsitektur dengan Sipil / Struktur, maka
Kontraktor / Pemborong wajib melaporkannya kepada Konsultan Pengawas yang akan
memutuskannya setelah berkonsultasi dengan Konsultan Perencana.
c. Mengingat setiap kesalahan maupun ketidak-telitian di dalam pelaksanaan satu bagian
pekerjaan akan selalu mempengaruhi bagian pekerjaan lainnya, maka didalam hal
terdapat ketidak-jelasan, kesimpang-siuran, perbedaan-perbedaan dan ataupun ketidak-
sesuaian dan keragu-raguan diantara setiap Gambar Kerja, Kontraktor / Pemborong
diwajibkan melaporkan kepada Konsultan Pengawas secara tertulis dan selanjutnya
diadakan pertemuan dengan Konsultan Pengawas / Direksi dan Konsultan Perencana,
untuk mendapat keputusan gambar mana yang akan dijadikan pegangan.
d. Ketentuan tersebut di atas tidak dapat dijadikan alasan oleh Kontraktor / Pemborong
untuk memperpanjang / meng-“klaim” biaya maupun waktu pelaksanaan.
6. Shop Drawing
a. Shop drawing merupakan gambar detail pelaksanaan di lapangan yang harus dibuat
oleh Kontraktor / Pemborong berdasarkan gambar Dokumen Kontrak yang telah
disesuaikan dengan keadaan lapangan.
b. Kontraktor / Pemborong wajib membuat shop drawing untuk detail khusus yang belum
tercakup lengkap dalam Gambar Kerja / Dokumen Kontrak maupun yang diminta oleh
Konsultan Pengawas.
c. Dalam shop drawing ini harus jelas dicantumkan dan digambarkan semua data yang
diperlukan termasuk pengajuan contoh dari semua bahan, keterangan produk, cara
pemasangan dan atau spesifikasi/persyaratan khusus sesuai dengan spesifikasi pabrik
yang belum tercakup secara lengkap di dalam Gambar Kerja / Dokumen Kontrak
maupun di dalam Buku ini.
d. Kontraktor / Pemborong wajib mengajukan shop drawing tersebut kepada Konsultan
Pengawas untuk mendapat persetujuan tertulis dari Konsultan Pengawas / Direksi.
d. Semua gambar yang dipersiapkan oleh Kontraktor / Pemborong dan diajukan kepada
Konsultan Pengawas untuk diminta persetujuannya harus sesuai dengan format standar
dari proyek.
5. Perubahan, Penambahan, Pengurangan Pekerjaan dan Pembuatan As Built Drawing
a. Tata cara pelaksanaan dan penilaian perubahan, penambahan dan pengurangan
pekerjaan disesuaikan dengan Dokumen Kontrak.
b. Setelah pekerjaan selesai dan diserah-terimakan, Kontraktor / Pemborong
berkewajiban membuat gambar-gambar yang memuat seluruh perubahan, dan sesuai
dengan kenyataan yang telah dikerjakan / dibangun oleh Kontraktor / Pemborong ( As
Built Drawing ).
c. Biaya untuk penggambaran “As Built Drawing”, sepenuhnya menjadi tanggungan
Kontraktor / Pemborong.
Rencana Kerja Dan Syarat Pengembangan SPAM 9
Pasal 13 :
TANGGUNG JAWAB KONTRAKTOR / PEMBORONG
Pasal 14 :
KETENTUAN DAN SYARAT BAHAN - BAHAN
1. Sepanjang tidak ada ketetapan lain dalam Rencana Kerja dan Syarat-syarat (RKS) ini
maupun dalam Berita Acara Penjelasan Pekerjaan, bahan-bahan yang akan dipergunakan
maupun syarat-syarat pelaksanaan harus memenuhi syarat-syarat yang tercantum dalam
A.V. 1941 dan Persyaratan Umum Bahan Bangunan Indonesia (PUBI Tahun 1982),
Standar Industri Indonesia (SII) untuk bahan termaksud, serta ketentuan-ketentuan dan
syarat bahan-bahan lainnya yang berlaku di Indonesia. Seluruh barang material yang
dibutuhkan dalam menyelesaikan pekerjaan, seperti material, peralatan dan alat lainnya,
harus dalam kondisi baru dan dengan kualitas terbaik untuk tujuan yang dimaksudkan.
2. Merk Pembuatan Bahan / Material & Komponen Jadi.
a. Kecuali bila ditentukan lain dalam Dokumen Kontrak, semua merk pembuatan atau
merk dagang dalam Rencana Kerja dan Syarat-syarat Teknis ini dimaksudkan sebagai
dasar perbandingan kualitas / setara dan tidak diartikan sebagai sesuatu yang mengikat.
Setiap keterangan mengenai peralatan, material barang atau proses, dalam bentuk
nama dagang, buatan atau nomor katalog harus dianggap sebagai penentu standar atau
kualitas dan tidak boleh ditafsirkan sebagai upaya membatasi persaingan, dan
Kontraktor / Pemborong harus dengan sendirinya menggunakan peralatan, material,
barang atau proses, yang atas penilaian Konsultan Pengawas dan Konsultan Perencana,
Rencana Kerja Dan Syarat Pengembangan SPAM 10
sesuai dengan keterangan itu. Seluruh material paten itu harus dipergunakan sesuai
dengan instruksi pabrik yang membuatnya.
b. Bahan / material dan komponen jadi yang dipasang / dipakai, harus sesuai dengan yang
tercantum dalam Gambar Kerja dan RKS, memenuhi standar spesifikasi bahan
tersebut, mengikuti peraturan persyaratan bahan bangunan yang berlaku.
c. Apabila dianggap perlu, Konsultan Pengawas berhak untuk menunjuk tenaga ahli yang
diajukan / ditunjuk oleh pabrik dan atau supplier yang bersangkutan tersebut sebagai
Pelaksana. Dalam hal ini, Kontraktor / Pemborong tidak berhak mengajukan klaim
sebagai pekerjaan tambah.
d. Disyaratkan dalam satu merk pembuatan atau merk dagang hanya diperkenankan
untuk setiap jenis bahan yang boleh dipakai dalam pekerjaan ini.
e. Penggunaan bahan produk lain yang setaraf dengan apa yang dipersyaratkan harus
disertai test dari Laboratorium lokal / dalam negeri baik kualitas, ketahan serta
kekuatannya dan harus disetujui oleh Konsultan Pengawas secara tertulis dan diketahui
oleh Konsultan Perencana. Apabila diperlukan biaya untuk test laboratorium, maka
biaya tersebut harus ditanggung oleh Kontraktor / Pemborong tanpa dapat mengajukan
sebagai biaya pekerjaan tambah.
3. Kontraktor / Pemborong terlebih dahulu harus memberikan contoh-contoh semua
bahan-bahan yang diperlukan untuk bangunan tersebut kepada Konsultan Pengawas /
Direksi dan Konsultan Perencana untuk mendapatkan persetujuan secara tertulis sebelum
semua bahan-bahan tersebut didatangkan / dipakai. Contoh bahan tersebut yang harus
diserahkan kepada Konsultan Pengawas / Direksi dan Konsultan Perencana adalah
sebanyak 4 (empat) buah dari satu bahan yang ditentukan untuk menetapkan “standard of
appearance” dan disimpan di ruang Direksi. Paling lambat waktu penyerahan contoh bahan
adalah 2 (dua) minggu sebelum jadwal pelaksanaan.
4. Keputusan bahan, jenis, warna, tekstur dan produk yang dipilih, akan diinformasikan
kepada Kontraktor / Pemborong selama tidak lebih dari 7 (tujuh) hari kalender setelah
penyerahan contoh bahan tersebut.
5. Penyimpanan Material
a. Penyimpanan dan pemeliharaan bahan harus sesuai persyaratan pabrik yang
bersangkutan dan atau sesuai dengan spesifikasi bahan tersebut.
b. Penempatan bahan-bahan material diatur dengan pertimbangan yang matang agar tidak
mengganggu kelancaran pekerjaan serta sirkulasi / akses pekerja. Bahan material
disusun dengan metoda yang baik dengan cara FIFO (firstin first out), sehingga tidak
ada bahan material yang tersimpan terlalu lama dalam gudang / stock material.
c. Material harus disimpan sedemikian rupa untuk menjaga kualitas dan kesesuaian untuk
pekerjaan. Material harus diletakkan di atas permukaan yang bersih, keras dan bila
diminta harus ditutupi. Material harus disimpan sedemikian rupa agar memudahkan
pemeriksaan. Benda-benda milik pribadi tidak boleh dipergunakan untuk penyimpanan
tanpa ijin tertulis dari pemiliknya.
d. Tempat penyimpanan barang harus dibersihkan (clearing) dan diratakan (levelling)
menurut petunjuk Konsultan Pengawas.
e. Bagian tengah tempat penyimpanan barang harus ditinggikan dan miring kesamping sesuai
dengan ketentuan, sehingga memberikan drainase / pemasukan dari kandungan air / cairan
yang berlebihan. Material harus disusun sedemikian rupa sehingga tidak menyebabkan
pemisahan bahan (segregation), agar timbunan tidak berbentuk kerucut, dan menjaga
gradasi serta mengatur kadar air. Penyimpanan agregat kasar harus ditimbun dan diangkat /
dibongkar lapis demi lapis dengan tebal lapisan tidak lebih dari 1 (satu) meter. Tinggi
tempat penyimpanan tidak lebih dari 5 (lima) meter.
Rencana Kerja Dan Syarat Pengembangan SPAM 11
Pasal 15 :
PEMERIKSAAN BAHAN-BAHAN
1. Bahan-bahan yang didatangkan / dipakai harus sesuai dengan contoh-contoh yang telah
disetujui Konsultan Pengawas seperti yang diatur dalam Pasal 14 di atas.
2. bahan-bahan yang tidak memenuhi syarat-syarat atau kualitas jelek yang dinyatakan afkir /
ditolak oleh Konsultan Pengawas, harus segera dikeluarkan dari lokasi bangunan / proyek
selambat-lambatnya dalam tempo 3 x 24 jam dan tidak boleh dipergunakan.
Apabila sesudah bahan-bahan tersebut dinyatakan ditolak oleh Konsultan Pengawas /
Konsultan Perencana dan ternyata masih dipergunakan oleh Pelaksana, maka Konsultan
Pengawas / Konsultan Perencana berhak memerintahkan pembongkaran kembali kepada
Kontraktor / Pemborong, yang mana segala kerugian yang diakibatkan oleh pembongkaran
tersebut menjadi tanggungan Kontraktor / Pemborong sepenuhnya. Disamping itu pihak
Kontraktor / Pemborong tetap dikenakan denda sebesar 1 o/oo (satu per mil) dari harga
borongan.
4. Jika terdapat perselisihan dalam pelaksanaan tentang pemeriksaan kualitas dari bahan-
bahan tersebut, maka Kontraktor / Pemborong harus menguji dan memeriksakannya ke
laboratorium Balai Penelitian Bahan pemerintah untuk diuji dan hasil pengujian tersebut
disampaikan secara tertulis kepada Konsultan Pengawas / Direksi / Konsultan Perencana.
Segala biaya pemeriksaan ditanggung oleh Kontraktor / Pemborong.
5. Sebelum ada kepastian dari laboratorium di atas tentang baik atau tidaknya kualitas dari
bahan-bahan tersebut, Pelaksana tidak diperkenankan melanjutkan pekerjaan-pekerjaan
yang menggunakan bahan-bahan tersebut di atas.
6. Bila diminta oleh Konsultan Pengawas, Kontraktor / Pemborong harus memberikan
penjelasan lengkap tertulis mengenai tempat asal diperolehnya material dan tempat
pekerjaan yang akan dilaksanakan.
Pasal 16 :
SUPPLIER DAN SUB KONTRAKTOR
1. Jika Kontraktor / Pemborong menunjuk Supplier dan atau Kontraktor bawahan (Sub
Kontraktor) didalam hal pengadaan material dan pemasangannya, maka Kontraktor/
Pemborong “wajib” memberi-tahukan terlebih dahulu kepada Konsultan Pengawas /
Direksi untuk mendapatkan persetujuan.
2. Kontraktor / Pemborong wajib mengadakan koordinasi pelaksanaan dengan Sub
Kontraktor dan Supplier bahan atas petunjuk Konsultan Pengawas.
3. Supplier wajib hadir mendampingi Konsultan Pengawas di lapangan untuk pekerjaan
khusus dimana pelaksanaan dan pemasangan bahan tersebut perlu persyaratan khusus
sesuai instruksi pabrik.
Pasal 17 :
PEMBERSIHAN TEMPAT KERJA
ini. Pekerjaan ini mencakup pula perlindungan/penjagaan tumbuhan dan benda-benda yang
ditentukan harus tetap berada di tempatnya dari kerusakan atau cacat.
2. Konsultan Pengawas akan menetapkan batas-batas pekerjaan, dan menentukan semua
pohon, semak, tumbuhan dan benda-benda lain yang harus tetap berada di tempatnya.
Kontraktor / Pemborong harus menjaga semua jenis benda yang telah ditentukan harus
tetap di tempatnya.
3. Segala obyek yang ada di muka tanah dan semua pohon, tonggak, kayu lapuk, tunggul,
akar, serpihan, tumbuhan lainnya, sampah dan rintangan-rintangan lainnya yang muncul,
yang tidak diperuntukan berada disana; harus dibersihkan dan atau dibongkar serta dibuang
bila perlu. Pada daerah galian, segala tunggul dan akar harus dibuang dari daerah galian
sampai kedalaman sekurang-kurangnya 50 cm. di bawah elevasi lubang galian sesuai
Gambar Kerja. Lubang-lubang akibat pembongkaran harus di-urug dengan material yang
memadai dan dipadatkan sampai 90 % dari kepadatan kering maksimum sesuai AASHTO
T 99.
Pasal 11 :
LAPORAN HARIAN, MINGGUAN DAN BULANAN
1. Pelaksana lapangan setiap hari harus membuat Laporan Harian mengenai segala hal yang
berhubungan dengan pelaksanaan pembangunan / pekerjaan, baik bersifat teknis maupun
administratif.
2. Dalam pembuatan laporan tersebut, pihak Kontraktor / Pemborong harus memberikan
data-data yang diperlukan menurut data dan keadaan sebenarnya.
3. Laporan Mingguan dan Laporan Bulanan secara rutin dibuat oleh Kontraktor dan dikoreksi
oleh Pengawas Lapangan dari Konsultan Pengawas.
4. Laporan-laporan tersebut di atas setiap minggu dan bulannya, harus diserahkan kepada
Pemimpin Proyek untuk bahan monitoring.
Pasal 12 :
PENJELASAN RKS DAN GAMBAR
1. Bila gambar yang menyangkut spesifikasi teknis tidak sesuai dengan Rencana Kerja dan
Syarat-syarat (RKS), maka yang mengikat / berlaku adalah RKS.
2. Harus juga disadari bahwa revisi-revisi pada alignemen, lokasi seksi (bagian) dan detail
gambar mungkin akan dilakukan didalam waktu pelaksanaan kerja. Kontraktor /
Pemborong harus melaksanakan pekerjaan sesuai dengan maksud gambar dan
spesifikasinya, dan tidak boleh mencari keuntungan dari kesalahan atau kelalaian dalam
gambar atau dari ketidak-sesuaian antara gambar dan spesifikasinya. Setiap deviasi dari
karakter yang tidak dijelaskan dalam gambar dan spesifikasi atau gambar kerja yang
mungkin diperlukan oleh keadaan darurat konstruksi atau lain-lainnya, akan ditentukan
oleh Konsultan Pengawas dan disahkan secara tertulis.
3. Konsultan Pengawas akan memberikan instruksi berkenaan dengan penafsiran yang
semestinya untuk memenuhi ketentuan gambar dan spesifikasinya. Permukaan-permukaan
pekerjaan yang sudah selesai harus sesuai dengan garis, lapisan bagian dan ukuran yang
tercantum dalam gambar, kecuali bila ada ketentuan lain dari Konsultan Pengawas.
Rencana Kerja Dan Syarat Pengembangan SPAM 13
4. Ukuran
a. Pada dasarnya semua ukuran yang tertera dalam Gambar Kerja dan Gambar Pelengkap
meliputi :
As – as
Luar – luar
Dalam – dalam
Luar - dalam.
b. Ukuran - ukuran yang digunakan disini semuanya dinyatakan dalam Meter untuk
pekerjaan pemasangan pipa, Centi meter ( cm ) untuk pekerjaan Arsitektur dan Sipil,
dan ukuran Milimeter ( mm ) untuk pekerjaan Baja dan Mekanikal / Elektrikal.
c. Khusus ukuran-ukuran dalam Gambar Kerja Arsitektur, pada dasarnya adalah ukuran
jadi seperti dalam keadaan jadi / selesai ( “finished”).
f. Bila ada keraguan mengenai ukuran, Kontraktor / Pemborong wajib melaporkan secara
tertulis kepada Konsultan Pengawas yang selanjutnya akan memberikan keputusan
ukuran mana yang akan dipakai dan dijadikan pegangan.
g. Bila ukuran sudah tertera dalam gambar atau dapat dihitung, maka pengukuran skala
tidak boleh dipergunakan kecuali bila sudah disetujui oleh Konsultan Pengawas. Setiap
deviasi dari gambar karena kondisi lapangan yang tak terduga akan ditentukan oleh
Konsultan Pengawas dan disahkan secara tertulis. Kontraktor / Pemborong tidak
dibenarkan merubah atau mengganti ukuran- ukuran yang tercantum di dalam Gambar
Pelaksanaan tanpa sepengetahuan Konsultan Pengawas / Direksi, dan segala akibat
yang terjadi adalah tanggung jawab Kontraktor / Pemborong baik dari segi biaya
maupun waktu.
5. Perbedaan Gambar.
a. Bila suatu gambar tidak cocok dengan gambar yang lain dalam satu disiplin kerja,
maka gambar yang mempunyai skala yang lebih besar yang mengikat (berlaku).
b. Bila ada perbedaan antara gambar kerja Arsitektur dengan Sipil / Struktur, maka
Kontraktor / Pemborong wajib melaporkannya kepada Konsultan Pengawas yang akan
memutuskannya setelah berkonsultasi dengan Konsultan Perencana.
c. Mengingat setiap kesalahan maupun ketidak-telitian di dalam pelaksanaan satu bagian
pekerjaan akan selalu mempengaruhi bagian pekerjaan lainnya, maka didalam hal
terdapat ketidak-jelasan, kesimpang-siuran, perbedaan-perbedaan dan ataupun ketidak-
sesuaian dan keragu-raguan diantara setiap Gambar Kerja, Kontraktor / Pemborong
diwajibkan melaporkan kepada Konsultan Pengawas secara tertulis dan selanjutnya
diadakan pertemuan dengan Konsultan Pengawas / Direksi dan Konsultan Perencana,
untuk mendapat keputusan gambar mana yang akan dijadikan pegangan.
d. Ketentuan tersebut di atas tidak dapat dijadikan alasan oleh Kontraktor / Pemborong
untuk memperpanjang / meng-“klaim” biaya maupun waktu pelaksanaan.
6. Shop Drawing
a. Shop drawing merupakan gambar detail pelaksanaan di lapangan yang harus dibuat
oleh Kontraktor / Pemborong berdasarkan gambar Dokumen Kontrak yang telah
disesuaikan dengan keadaan lapangan.
b. Kontraktor / Pemborong wajib membuat shop drawing untuk detail khusus yang belum
tercakup lengkap dalam Gambar Kerja / Dokumen Kontrak maupun yang diminta oleh
Konsultan Pengawas.
c. Dalam shop drawing ini harus jelas dicantumkan dan digambarkan semua data yang
diperlukan termasuk pengajuan contoh dari semua bahan, keterangan produk, cara
Rencana Kerja Dan Syarat Pengembangan SPAM 14
Pasal 13 :
TANGGUNG JAWAB KONTRAKTOR / PEMBORONG
Pasal 14 :
KETENTUAN DAN SYARAT BAHAN - BAHAN
1. Sepanjang tidak ada ketetapan lain dalam Rencana Kerja dan Syarat-syarat (RKS) ini
maupun dalam Berita Acara Penjelasan Pekerjaan, bahan-bahan yang akan dipergunakan
maupun syarat-syarat pelaksanaan harus memenuhi syarat-syarat yang tercantum dalam
A.V. 1941 dan Persyaratan Umum Bahan Bangunan Indonesia (PUBI Tahun 1982),
Standar Industri Indonesia (SII) untuk bahan termaksud, serta ketentuan-ketentuan dan
syarat bahan-bahan lainnya yang berlaku di Indonesia. Seluruh barang material yang
dibutuhkan dalam menyelesaikan pekerjaan, seperti material, peralatan dan alat lainnya,
harus dalam kondisi baru dan dengan kualitas terbaik untuk tujuan yang dimaksudkan.
2. Merk Pembuatan Bahan / Material & Komponen Jadi.
a. Kecuali bila ditentukan lain dalam Dokumen Kontrak, semua merk pembuatan atau
merk dagang dalam Rencana Kerja dan Syarat-syarat Teknis ini dimaksudkan sebagai
dasar perbandingan kualitas / setara dan tidak diartikan sebagai sesuatu yang mengikat.
Setiap keterangan mengenai peralatan, material barang atau proses, dalam bentuk
nama dagang, buatan atau nomor katalog harus dianggap sebagai penentu standar atau
kualitas dan tidak boleh ditafsirkan sebagai upaya membatasi persaingan, dan
Kontraktor / Pemborong harus dengan sendirinya menggunakan peralatan, material,
barang atau proses, yang atas penilaian Konsultan Pengawas dan Konsultan Perencana,
sesuai dengan keterangan itu. Seluruh material paten itu harus dipergunakan sesuai
dengan instruksi pabrik yang membuatnya.
b. Bahan / material dan komponen jadi yang dipasang / dipakai, harus sesuai dengan yang
tercantum dalam Gambar Kerja dan RKS, memenuhi standar spesifikasi bahan
tersebut, mengikuti peraturan persyaratan bahan bangunan yang berlaku.
c. Apabila dianggap perlu, Konsultan Pengawas berhak untuk menunjuk tenaga ahli yang
diajukan / ditunjuk oleh pabrik dan atau supplier yang bersangkutan tersebut sebagai
Pelaksana. Dalam hal ini, Kontraktor / Pemborong tidak berhak mengajukan klaim
sebagai pekerjaan tambah.
d. Disyaratkan dalam satu merk pembuatan atau merk dagang hanya diperkenankan
untuk setiap jenis bahan yang boleh dipakai dalam pekerjaan ini.
e. Penggunaan bahan produk lain yang setaraf dengan apa yang dipersyaratkan harus
disertai test dari Laboratorium lokal / dalam negeri baik kualitas, ketahan serta
kekuatannya dan harus disetujui oleh Konsultan Pengawas secara tertulis dan diketahui
oleh Konsultan Perencana. Apabila diperlukan biaya untuk test laboratorium, maka
biaya tersebut harus ditanggung oleh Kontraktor / Pemborong tanpa dapat mengajukan
sebagai biaya pekerjaan tambah.
3. Kontraktor / Pemborong terlebih dahulu harus memberikan contoh-contoh semua
bahan-bahan yang diperlukan untuk bangunan tersebut kepada Konsultan Pengawas /
Direksi dan Konsultan Perencana untuk mendapatkan persetujuan secara tertulis sebelum
semua bahan-bahan tersebut didatangkan / dipakai. Contoh bahan tersebut yang harus
diserahkan kepada Konsultan Pengawas / Direksi dan Konsultan Perencana adalah
sebanyak 4 (empat) buah dari satu bahan yang ditentukan untuk menetapkan “standard of
appearance” dan disimpan di ruang Direksi. Paling lambat waktu penyerahan contoh bahan
adalah 2 (dua) minggu sebelum jadwal pelaksanaan.
4. Keputusan bahan, jenis, warna, tekstur dan produk yang dipilih, akan diinformasikan
kepada Kontraktor / Pemborong selama tidak lebih dari 7 (tujuh) hari kalender setelah
penyerahan contoh bahan tersebut.
Rencana Kerja Dan Syarat Pengembangan SPAM 16
5. Penyimpanan Material
a. Penyimpanan dan pemeliharaan bahan harus sesuai persyaratan pabrik yang
bersangkutan dan atau sesuai dengan spesifikasi bahan tersebut.
b. Penempatan bahan-bahan material diatur dengan pertimbangan yang matang agar tidak
mengganggu kelancaran pekerjaan serta sirkulasi / akses pekerja. Bahan material
disusun dengan metoda yang baik dengan cara FIFO (firstin first out), sehingga tidak
ada bahan material yang tersimpan terlalu lama dalam gudang / stock material.
c. Material harus disimpan sedemikian rupa untuk menjaga kualitas dan kesesuaian untuk
pekerjaan. Material harus diletakkan di atas permukaan yang bersih, keras dan bila
diminta harus ditutupi. Material harus disimpan sedemikian rupa agar memudahkan
pemeriksaan. Benda-benda milik pribadi tidak boleh dipergunakan untuk penyimpanan
tanpa ijin tertulis dari pemiliknya.
d. Tempat penyimpanan barang harus dibersihkan (clearing) dan diratakan (levelling)
menurut petunjuk Konsultan Pengawas.
e. Bagian tengah tempat penyimpanan barang harus ditinggikan dan miring kesamping
sesuai dengan ketentuan, sehingga memberikan drainase / pemasukan dari kandungan
air / cairan yang berlebihan. Material harus disusun sedemikian rupa sehingga tidak
menyebabkan pemisahan bahan (segregation), agar timbunan tidak berbentuk kerucut,
dan menjaga gradasi serta mengatur kadar air. Penyimpanan agregat kasar harus
ditimbun dan diangkat / dibongkar lapis demi lapis dengan tebal lapisan tidak lebih
dari 1 (satu) meter. Tinggi tempat penyimpanan tidak lebih dari 5 (lima) meter.
Pasal 15 :
PEMERIKSAAN BAHAN-BAHAN
1. Bahan-bahan yang didatangkan / dipakai harus sesuai dengan contoh-contoh yang telah
disetujui Konsultan Pengawas seperti yang diatur dalam Pasal 14 di atas.
2. bahan-bahan yang tidak memenuhi syarat-syarat atau kualitas jelek yang dinyatakan afkir /
ditolak oleh Konsultan Pengawas, harus segera dikeluarkan dari lokasi bangunan / proyek
selambat-lambatnya dalam tempo 3 x 24 jam dan tidak boleh dipergunakan.
Apabila sesudah bahan-bahan tersebut dinyatakan ditolak oleh Konsultan Pengawas /
Konsultan Perencana dan ternyata masih dipergunakan oleh Pelaksana, maka Konsultan
Pengawas / Konsultan Perencana berhak memerintahkan pembongkaran kembali kepada
Kontraktor / Pemborong, yang mana segala kerugian yang diakibatkan oleh pembongkaran
tersebut menjadi tanggungan Kontraktor / Pemborong sepenuhnya. Disamping itu pihak
Kontraktor / Pemborong tetap dikenakan denda sebesar 1 o/oo (satu per mil) dari harga
borongan.
7. Jika terdapat perselisihan dalam pelaksanaan tentang pemeriksaan kualitas dari bahan-
bahan tersebut, maka Kontraktor / Pemborong harus menguji dan memeriksakannya ke
laboratorium Balai Penelitian Bahan pemerintah untuk diuji dan hasil pengujian tersebut
disampaikan secara tertulis kepada Konsultan Pengawas / Direksi / Konsultan Perencana.
Segala biaya pemeriksaan ditanggung oleh Kontraktor / Pemborong.
8. Sebelum ada kepastian dari laboratorium di atas tentang baik atau tidaknya kualitas dari
bahan-bahan tersebut, Pelaksana tidak diperkenankan melanjutkan pekerjaan-pekerjaan
yang menggunakan bahan-bahan tersebut di atas.
9. Bila diminta oleh Konsultan Pengawas, Kontraktor / Pemborong harus memberikan
penjelasan lengkap tertulis mengenai tempat asal diperolehnya material dan tempat
pekerjaan yang akan dilaksanakan.
Rencana Kerja Dan Syarat Pengembangan SPAM 17
Pasal 16 :
SUPPLIER DAN SUB KONTRAKTOR
4. Jika Kontraktor / Pemborong menunjuk Supplier dan atau Kontraktor bawahan (Sub
Kontraktor) didalam hal pengadaan material dan pemasangannya, maka Kontraktor/
Pemborong “wajib” memberi-tahukan terlebih dahulu kepada Konsultan Pengawas /
Direksi untuk mendapatkan persetujuan.
5. Kontraktor / Pemborong wajib mengadakan koordinasi pelaksanaan dengan Sub
Kontraktor dan Supplier bahan atas petunjuk Konsultan Pengawas.
6. Supplier wajib hadir mendampingi Konsultan Pengawas di lapangan untuk pekerjaan
khusus dimana pelaksanaan dan pemasangan bahan tersebut perlu persyaratan khusus
sesuai instruksi pabrik.
Pasal 17 :
PEMBERSIHAN TEMPAT KERJA
Pasal 18 :
PEMERIKSAAN HASIL PEKERJAAN
2. Kemajuan Pekerjaan
2.1. Seluruh bahan, peralatan konstruksi dan tenaga kerja yang harus disediakan oleh
Kontraktor / Pemborong demikian pula metode / cara pelaksanaan pekerjaan harus
diselenggarakan sedemikian rupa, sehingga diterima oleh Konsultan Pengawas.
2.2. Apabila laju kemajuan pekerjaan atau bagian pekerjaan pada suatu waktu menurut
penilaian Konsultan Pengawas telah terlambat, untuk menjamin penyelesaian pada waktu
yang telah ditentukan atau pada waktu yang diperpanjang, maka Konsultan Pengawas
harus memberikan petunjuk secara tertulis langkah-langkah yang perlu diambil guna
melancarkan laju pekerjaan sehingga pekerjaan dapat diselesaikan pada waktu yang telah
ditentukan.
3. Perintah Untuk Pelaksanaan
Bila Kontraktor / Pemborong atau petugas lapangannya tidak berada di tempat kerja
dimana Konsultan Pengawas bermaksud untu memberikan petunjuk atau perintah, maka
petunjuk atau perintah itu harus dipatuhi dan dilaksanakan oleh semua petugas pelaksana
atau petugas yang ditunjuk oleh Kontraktor / Pemborong untuk menangani pekerjaan itu.
4. Toleransi
Seluruh pekerjaan yang dilaksanakan dalam Kontrak ini harus dikerjakan sesuai dengan
toleransi yang diberikan dalam spesifikasi dan toleransi lainnya yang ditetapkan pada
bagian lainnya.
Rencana Kerja Dan Syarat Pengembangan SPAM 19
SPESIFIKASI TEKNIS
I. PEKERJAAN PERSIAPAN
Pasal 1
Mobilisasi dan Demobilisasi
1. Umum
Yang dimaksud dengan mobilisasi adalah pengangkutan peralatan dan personil sesuai yang
tercantum dalam kontrak, dari tempat aslinya ke lokasi pekerjaan di mana akan digunakan.
Sedangkan yang dimaksud dengan demobilisasi adalah pengangkutan kembali, peralatan dan
personil dari lapangan pekerjaan ke tempat semula.
2. Pelaksanaan
2.1. Penyedia jasa harus menyediakan peralatan dan personal sesuai kebutuhan kontrak yang
diperlukan untuk meyelesaikan pekerjaan.
2.2. Sebelum mobilisasi dilaksanakan, maka penyedia jasa harus segera melaporkan kepada
direksi untuk mendapatkan persetujuan, dan bila dipandang perlu, direksi dapat meminta
tambahan peralatan, maupun personal atas tanggungan penyedia jasa.
2.3. Penyedia jasa harus membuat schedule mobilisasi peralatan dan personal yang dilengkapi
dengan keterangan akan jenis, kuantitas, kapasitas yang akan didatangkan.
2.4. Penyedia jasa harus membuat pemberitahuan tertulis kepada direksi perihal kedatangan
maupun pengangkutan kembali peralatan dan personal.
2.5. Penyedia jasa harus meminta persetujuan direksi atas setiap perubahan jadwal peralatan
dan penyediaan personal.
2.6. Semua peralatan yang telah berada di lokasi pekerjaan, bila sudah tidak diperlukan, dapat
dipindahkan dari areal pekerjaan dengan seijin direksi.
Pasal 2
Survey, Pengukuran dan Uitset
1. Umum
Survey pengukuran adalah suatu pekerjaan dengan menggunakan alat ukur untuk mendapatkan
data topografi dan kondisi lapangan eksisting pada lokasi pekerjaan yang telah ditentukan dan
merupakan data pendukung perhitungan MC-0 dan MC-100 yang meliputi pengukuran trase
Rencana Kerja Dan Syarat Pengembangan SPAM 21
Jalur perpipaan dan rencana tapak bangunan. Sedangkan Uitset adalah suatu pekerjaan
pengukuran dengan makna meletakkan patok-patok profil seluruh/ bangunan sebelum
pelaksanaan suatu pekerjaan konstruksi
2. Pelaksanaan
2.1. Penyedia jasa harus menyerahkan data pengukuran dan perhitungan tentang letak, posisi,
dimensi, dan lain-lain untuk semua item pekerjaan sebelum pelaksanaan pekerjaan
dimulai kepada direksi.
2.2. Penyedia jasa harus membuat titik-titik referensi/bench mark (BM) sementara untuk
kepentingan penyedia jasa sendiri dalam melaksanakan pekerjaan, tetapi setiap titik
referensi BM sementara harus mendapatkan persetujuan dari [Link] titik
referensi/BM sementara harus berpangkal pada titik referensi BM yang ditetapkan
direksi di lapangan.
2.3. Penyedia jasa harus bertanggung jawab penuh atas kebenaran titik referensi/BM di
lapangan.
2.4. Penyedia jasa harus menyediakan peralatan ukur, termasuk pekerja, patok-patok, serta
peralatan lainnya yang diperlukan untuk pengukuran/setting out. Penyedia jasa harus
menggunakan alat ukur yang mempunyai tingkat ketelitian yang tinggi dengan
menunjukkan surat kalibrasi yang masih berlaku untuk pengukuran/setting out dan
mengontrol pekerjaan.
2.5. Penyedia jasa harus segera mengirim semua data survai serta hasil perhitungan dan
gambar-gambar dan pengukuran MC-0 dan MC-100 kepada direksi secepatnya, dengan
rincian sebagai berikut :
2.5.1. Data ukur, 1 (satu) asli dan 2 (dua) rekaman.
2.5.2. Gambar dengan ukuran A3 sebanyak 1 (satu) asli dan 3 (tiga) rekaman, atau sesuai
yang ditetapkan oleh Direksi Pekerjaan.
2.2.2. Perkampungan/barak staf Penyedia jasa dan pemondokan buruh harus dilengkapi
dengan semua pelayanan yang perlu seperti saluran pembuang, penerangan,
jalan, gang tempat parkir, pemagaran, kesehatan, ruang masak, pencegahan
kebakaran dan peralatan pencegahan api sesuai dengan batas yang ditentukan
dalam kontrak.
2.2.3. Penyedia jasa supaya juga melengkapi keperluan air bersih dan penerangan yang
cukup untuk, perkampungan stafnya, pemondokan buruh, bengkel dan tempat
lainnya di daerah kerja.
2. Pelaksanaan
2.1 Selama masa pekerjaan, Penyedia Jasa harus senantiasa memelihara kebersihan lokasi
pekerjaan, setiap saat sampah-sampah pekerjaan selalu diangkut dan dikumpulkan di
suatu tempat yang telah ditentukan.
2.2 Penyedia Jasa berkewajiban menyediakan air minum yang bersih, sehat dan cukup di
tempat pekerjaan untuk para pekerja dan personil yang terlibat dalam proyek.
2.3 Penyedia Jasa berkewajiban menyediakan kotak PPPK di tempat pekerjaan.
2.4 Penyedia Jasa harus menyediakan alat pelindung diri (APD) untuk semua personil dan
tenaga kerja yang berhubungan dengan pekerjaan yang sedang dikerjakan.
2.5 Ketika pekerjaan sedang berlangsung, semua personil dan tenaga kerja yang
berhubungan dengan pekerjaan tersebut harus selalu mengenakan alat pelindung diri.
2.6 Penyedia Jasa harus menyediakan rambu-rambu, safety line, papan pemberitahuan yang
harus dipasang di jalur-jalur yang akan dilakukan pekerjaan,
Rencana Kerja Dan Syarat Pengembangan SPAM 23
2.7 Papan pemberitahuan harus ditulis dengan tulisan yang jelas dan mudah dibaca oleh
semua pengguna jalan, sehingga pengguna jalan bisa memperhatikan dan meminimalisir
terjadinya kecelakaan.
2.8 Semua galian tanah yang terbuka, harus bisa ditutup sebelum semua pekerja bubar pada
hari itu, sehingga tidak ada lubang yang masih menganga dan tidak ada orang yang
bekerja. Jika terpaksa masih meninggalkan lubang karena sesuatu alasan yang bisa
dipertanggungjawabkan, maka sekitar lubang itu harus dipasang safety line dan rambu-
rambu yang tetap mudah terlihat pada malam hari, sehingga tidak menimbulkan
kecelakaan.
2.9 Dari permulaan hingga penyelesaian pekerjaan dan selama masa pemeliharaan Penyedia
Jasa bertanggung jawab atas keselamatan dan keamanan pekerja, bahan dan peralatan
teknis serta konstruksi yang diserahkan Pemberi Tugas. Dalam hal terjadinya kerusakan-
kerusakan, maka Penyedia Jasa harus bertanggung jawab untuk memperbaikinya.
2.10 Apabila terjadi kecelakaan, Penyedia Jasa selekas mungkin memberitahukan kepada
Konsultan Pengawas dan mengambil tindakan yang perlu untuk keselamatan korban
kecelakaan itu.
2.11 Selama pembangunan berlangsung, Penyedia Jasa wajib menyediakan tabung alat
pemadam kebakaran (Fire Extinguisher) lengkap dan siap pakai, dengan jumlah
sekurang-kurangnya 4 (empat) buah tabung. Masing-masing tabung berkapasitas 12 kg.
2.12 Seluruh tenaga kerja diikutsertakan dalam program ASTEK.
1.2. Kantor dan fasilitasnya harus ditempatkan sesuai dengan lokasi umum dan denah
lapangan, penempatannya harus diusahakan sedekat mungkin dengan daerah kerja (site)
dan telah mendapat persetujuan dari Direksi Pekerjaan.
1.3. Bangunan yang dibuat harus mempunyai kekuatan struktural yang baik, tahan cuaca, dan
elevasi lantai yang lebih tinggi dari tanah di sekitarnya.
1.4. Bangunan untuk penyimpanan bahan harus diberi bahan pelindung yang cocok sehingga
bahan-bahan yang disimpan tidak akan mengalami kerusakan.
1.5. Kantor lapangan dan gudang sementara harus didirikan di atas fondasi yang mantap dan
dilengkapi dengan penghubung untuk pelayanan utilitas.
1.6. Bahan, peralatan dan perlengkapan yang digunakan untuk bangunan dapat menggunakan
yang baru, atau yang bekas, tetapi dengan syarat harus dapat berfungsi, cocok dengan
maksud pemakaiannya sesuai dengan persetujuan Direksi Pekerjaan.
1.7. Lahan untuk kantor lapangan dan semacamnya harus layak untuk ditempati bangunan,
bebas dari genangan air, diberi pagar keliling, dan minimum dilengkapi dengan jalan
masuk berkerikil serta tempat parkir.
1.8. Penyedia Jasa harus menyediakan alat pemadam kebakaran dan kebutuhan P3K yang
memadai di seluruh barak, kantor, gudang, dan bengkel.
2. Pelaksanaan
2.1. Direksi Keet dan Kantor Penyedia Jasa
Untuk menunjang pelaksanaan pekerjaan jalan, Penyedia Jasa harus menyediakan kantor
dan fasilitas penunjang yang menenuhi ketentuan sebagai berikut :
2.1.1. Penyedia Jasa harus menyediakan akomodasi dan fasilitas kantor yang cocok dan
memenuhi kebutuhan proyek.
2.1.2. Ukuran kantor dan fasilitasnya sesuai untuk kebutuhan umum Penyedia Jasa dan
harus menyediakan ruangan yang digunakan untuk rapat kemajuan pekerjaan.
2.1.3. Penyedia jasa harus memiliki alat komunikasi yang dapat berkomunikasi dengan
jelas dan dapat diandalkan antara kantor pemilik, kantor Tim Konsultan
Supervisi Lapangan dan titik terjauh di lapangan.
2.1.4. Tempat penyimpanan gambar dan arsip untuk dokumentasi proyek ditempatkan di
dalam atau dekat dengan ruang rapat.
Rencana Kerja Dan Syarat Pengembangan SPAM 25
2. Pengadaan
2.1. Produk yang dipesan adalah benar-benar baru (tidak bekas).
2.2. Ukuran nominal disesuaikan dengan Daftar Kuantitas dan Harga.
2.3. Pada setiap pipa harus jelas kelihatan merk dan kelas pipa dan tahun pembuatan.
2.4. Ketebalan pipa harus sesuai dengan yang dipesan.
2.5. Semua jenis diameter pipa yang dipesan harus dilakukan pengujian terlebih dahulu
sebelum dikirim ke lokasi proyek.
2.6. Pengujian quality assurance sesuai dengan persyaratan yang umum berlaku harus cukup
mewakili unit yang disuplai sesuai kontrak. Direksi Pekerjaan harus diijinkan untuk
mengunjungi tempat pembuatan untuk menyaksikan test/pengujian tersebut.
2. Pelaksanaan
2.1. Penggalian tanah boleh menggunakan peralatan manual seperti cangkul dan semcamnya,
dan boleh menggunakan alat berat seperti excavator.
2.2. Ukuran galian seperti yang ditunjukkan dalam gambar.
2.3. Kedalaman galian untuk perpipaan bisa kurang dari yang ditentukan dalam gambar, jika
ada alasan teknis yang bisa dipertanggungjawabkan dan diijinkan oleh konsultan
pengawas dan atau direksi.
2.4. Selama pelaksanaan pekerjaan galian, Penyedia Jasa harus menjaga stabilitas lereng,
struktur, penyokong (shoring) dan pengaku (bracing), jika tidak dilaksanakan dapat
menjadi tidak stabil atau rusak oleh pekerjaan galian tersebut
2.5. Dalam setiap saat, apabila pekerja atau orang lain berada dalam lokasi
galian yang membahayakan keselamatan, maka Penyedia Jasa harus menempatkan
seorang pengawas keamanan di lokasi kerja yang tugasnya hanya memantau
keamanan dan kemajuan. Sepanjang waktu penggalian, peralatan galian cadangan
(yang belum dipakai) serta perlengkapan P3K harus tersedia pada tempat kerja galian.
Rencana Kerja Dan Syarat Pengembangan SPAM 27
2.6. Semua galian terbuka harus diberi rambu peringatan dan penghalang (barikade) yang
cukup untuk mencegah pekerja atau orang lain terjatuh ke dalamnya, dan setiap galian
terbuka pada lokasi jalur lalu lintas maupun lokasi bahu jalan harus diberi rambu
tambahan pada malam hari berupa drum (atau yang sejenis) yang dicat putih beserta
lampu merah atau kuning guna menjamin keselamatan para pengguna jalan, sesuai
dengan yang diperintahkan Direksi Teknis.
2.7. Pada setiap tahap penggalian terbuka, permukaan galian harus tetap dalam kondisi yang
mulus (sound), untuk mencegah gangguan operasi dan perendaman akibat hujan.
2.8. Galian yang memotong jalan harus dilakukan dengan tata Pelaksanaan sedemikian rupa
sehingga jalan tetap terbuka untuk lalu lintas pada setiap saat.
2.9. Apabila lalu lintas pada jalan terganggu karena pelaksanaan atau operasi-operasi
pekerjaan lainnya, Penyedia Jasa harus mendapatkan persetujuan terlebih dahulu atas
jadwal gangguan tersebut dari pihak yang berwenang dan juga dari Direksi Pekerjaan.
2.10. Setiap galian perkerasan harus ditutup kembali dengan bahan yang lebih baik/kuat dari
aslinya pada hari yang sama sehingga dapat dibuka untuk lalu lintas, kecuali
diperintahkan lain oleh Direksi Pekerjaan
3. Pengukuran dan Pembayaran
3.1. Pembayaran dilakukan jika pipa sudah terpasang sempurna dan lolos uji tekan pipa dalam
jaringan.
3.2. Volume galian disesuaikan dengan back up perhitungan volume galian yang dilakukan
penyedia jasa dan telah disetujui oleh konsultan pengawas.
3.3. Satuan pembayaran adalah Meter Kubik (M3)
2. Pelaksanaan
2.1. Jika pipa sudah dipasang, tanah bekas galian ditimbunkan kembali dan dipadatkan.
2.2. Pemadatan tanah bekas galian pipa menggunakan compactor atau stamper.
2.3. Urugan tanah pada lapisan permukaan tanah harus dirapikan agar tidak membahayakan
pengguna jalan.
2.4. Kotoran-kotoran tanah galian yang tercecer di jalan beraspal akibat penggalian harus
segera dibersihkan agar tidak membahayakan pengguna jalan.
2.5. Urugan kembali tidak boleh langsung dijatuhkan di atas setiap struktur atau pipa.
3. Pengukuran dan Pembayaran
3.1. Pembayaran sesuai dengan volume urugan.
3.2. Volume urugan sesuai dengan realisasi di lapangan dan sesuai dengan panjang pipa yang
terpasang.
3.3. Satuan pembayaran adalah Meter Kubik (M3).
1.3.7. Hal-hal yang tidak dijelaskan dalam spesifikasi ini, mengacu pada standar ataupun
pedoman (code) berikut ini :
a. Codes of Japanese Waterworks Steel Pipes Manufactures' Association
(WSP)
b. Codes of Welding Engineering Standard (WES), Japa
1.3.8. Penyedia jasa harus menyediakan juru las yang berpengalaman.
1.3.9. Batang las harus sesuai persyaratan yang ditentukan dalam JIS Z 3211 dan 3212
atau yang memiliki kuat tarik yang setara atau lebih baik dari logam dasar bahan
pipa.
1.3.10. Mesin las, harus mesin pengelasan busur nyala (Arc Welding Machine) dengan
arus AC atau pengelasan busur nyala DC, sebagaimana yang ditentukan dalam
JIS C 9301 atau pada standar yang telah diterima oleh Direksi.
2. Pelaksanaan
2.1. Pemotongan pipa besi harus dikerjakan dengan mesin pemotong yang sesuai menghasilkan
potongan yang halus pada sudut yang benar atau sudut yang diminta terhadap sumbu
pipa.
2.2. Tindakan pencegahan harus dilakukan untuk mencegah benda asing masuk ke dalam pipa
pada saat pipa diletakkan pada jalur.
2.3. Selama berlangsungnya peletakan, tidak boleh ada kotoran, perkakas, kain, ataupun benda-
benda lainnya ditempatkan dalam pipa
2.4. Penyambungan pipa GI bisa menggunakan socket atau dengan pengelasan.
2.5. Sebelum pengerjaan pengelasan, permukaan alur harus dibersihkan dari debu, tanah dan
karat dengan menyikat dan mengasah (grinding).
2.6. Bila pipa akan dipotong di lapangan, lapisan pelindung dalam maupun lapisan pelindung
luar pada kedua ujung pipa, harus dikupas minimum 10 cm, kemudian ujung pipa dibuat
alur sebagaimana yang ditentukan.
2.7. Kualitas pengelasan dan kecepatan harus dijaga selama pekerjaan pengelasan, harus terus
menerus (berlanjut) dari bagian dasar ke bagian atas pinggiran pipa.
2.8. Bila pengelasan dilakukan di lapangan, Penyedia jasa harus memperhatikan keadaan cuaca
seperti hujan, temperatur, kelembaban dan angin. Pekerjaan tidak boleh dilakukan dalam
kondisi cuaca seperti yang telah disebutkan tanpa perlindungan atau persetujuan dari
Direksi.
2.9. Permukaan basil pengelasan harus seragam tanpa ada sempalan yang berlebihan, tumpang
tindih dan ketidakrataan.
Pasal 11
Pekerjaan Pemasangan Pipa HDPE (High Density Polyethelene)
1. Umum
1.1. Singkatan HDPE adalah High Density Polyethylene.
1.2. Pipa HDPE dipasang pada jalur-jalur pipa yang sudah direncanakan dan sudah sesuai
dengan hasil survey dan pengukuran awal sebelum pemasangan dilakukan.
1.3. Cara pemasangan pipa dan penggunaan peralatan harus sesuai dan memahami petunjuk
dari pabrik atau mengikuti pengarahan direksi.
1.4. Pipa harus diperiksa dengan seksama dari kerusakan pada saat pemasangannya. Bahan
yang rusak yang ditemukan sebelum, selama atau sesudah pemasangan pada kedudukan
akhir, pipa harus diperiksa secara seksama dari retakan dan kerusakan.
1.5. Penyedia jasa harus menyediakan tenaga juru sambung pipa HDPE yang berpengalaman
dalam jumlah yang cukup dan peralatan sambung pipa HDPE dalam jumlah yang cukup
sehingga terjadi keseimbangan hasil pekerjaan antara panjang galian dan pipa yang
terpasang. Dengan demikian dalam satu hari seluruh galian pipa bisa diisi dengan
pasangan pipa yang sudah tersambung sempurna dan bisa menghindari adanya galian
terbuka yang belum ada pasangan pipanya.
2. Pelaksanaan
2.1. Setiap tindakan pencegahan harus diambil untuk mencegah benda asing masuk kedalam
pipa saat ditempatkan pada jalur pemasangannya. Selama pemasangan, tidak boleh ada
sampah, perkakas, kain, atau benda lainnya yang diletakkan/ditinggalkan kedalam pipa.
2.2. Penyambungan pipa HDPE ini bisa menggunakan salah satu cara dari beberapa cara
penyambungan :
2.2.1. Metode Butt Fusion Joint
Teknik Penyambungan Pipa HDPE ini menggunakan Mesin Butt Fusion atau
Welding Machine HDPE Pipe. Di kedua sisi pipa di ratakan dan dibersihkan
yang kemudian di panaskan sampai ukuran derajat tertentu dan kemudian
disambungkan menggunakan mesin butt fusion tersebut
2.2.2. Metode Electrofusion Joint
Metode Penyambungan Pipa HDPE ini menggunakan Sambungan HDPE
Electrofusion atau Fitting HDPE Electrofusion yang bisa di aliri Listrik dan
membuat Fitting di pipa tersebut panas dan bisa menyatu dengan pipa tersebut
dengan baik karena panas yang ditimbulkan dari sambungan electrofusion
tersebut.
2.2.3. Metode Compression Fitting HDPE
Cara Penyambungan Pipa HDPE atau Metode Penyambungan Pipa HDPE ini
memakai Sambungan Pipa HDPE atau HDPE Compression Fitting dan tinggal
disambungkan dan tanpa perlu menggunakan lem pipa.
2.2.4. Metode Flange to Flange Connection
Metode Penyambungan Pipa HDPE seperti tersebut di atas bisa di kombinasikan
dengan Teknik Jointing Sistem Menggunakan Backing Ring dan Dimantling
Join juga Rubber Gusket dan dijadikan suatu sistem sambungan atau HDPE
Jointing System ini biasa disebut dengan Flange to Flange Connection. Flange to
Flange Jointing System ini biasa dilakukan karena Pipa yang akan disambung
jenisnya berbeda jadi diperlukan sambungan yang cocok pada Metode
Penyambungan Pipa HPDE tersebut. Baut dan mur yang akan dipakai untuk
flange dan sambungan mekanikal harus dari baja yang digalvanis.
Rencana Kerja Dan Syarat Pengembangan SPAM 31
2.3. Pipa harus dimantapkan ditempatnya dengan bahan urugan yang dipadatkan merata,
kecuali pada bagian bellnya. Tindakan pencegahan harus diambil untuk mencegah tanah
atau kotoran lainnya masuk ke dalam sambungan.
2.4. Pada saat tidak dilakukan pekerjaan penyambungan, ujung terbuka pipa harus ditutup
dengan cara yang memadai yang disetujui oleh Direksi.
Khususnya pada musim hujan, Penyedia jasa harus melakukan tindakan untuk mencegah air
hujan/atau sampah dan benda lainnya yang tidak perlu masuk ke pipa yang telah
dipasang, dan jangan sampai pipa tersebut terapung.
2.6. Pipa yang sudah tersambung harus diturunkan kedalam galian satu persatu dengan
menggunakan derek, tali/tambang, atau dengan perkakas atau peralatan lainnya yang
sesuai, sedemikian rupa untuk mencegah kerusakan pada bahan tersebut maupun lapisan
pelindung luar dan dalamnya.
2.7. Bahan tersebut dengan alasan apapun tidak boleh dijatuhkan atau dilemparkan kedalam
galian.
2. Pelaksanaan
2.1. Air yang sudah tersedia dimasukkan ke dalam jaringan pipa dengan dipompa atau dengan
sistem gravitasi jika memungkinkan.
2.2. Pastikan bahwa semua kotoran yang tertinggal di dalam pipa keluar semua, sehingga air
yang keluar benar-benar bersih dari semua kotoran.
semua pekerja, bahan, perkakas, dan biaya lainnya yang diperlukan untuk menyelesaikan
pekerjaan.
2. Pelaksanaan
2.1. Pengetesan pipa dilakukan untuk panjang maksimal 600 meter.
2.2. Air yang sudah tersedia dimasukkan ke dalam jaringan pipa dengan perlahan-lahan agar
semua udara dalam pipa bisa keluar.
2.3. Setelah pipa penuh dan dipastikan semua udara sudah keluar, jaringan pipa mulai diberi
tekanan.
2.4. Tekanan maksimal diberikan sebesar 1,5 kali tekanan kerja dan tidak boleh lebih besar dari
1,25 tekanan maksimal yang diperbolehkan untuk pipa (design pressure), atau tidak
boleh melebihi dari tekanan yang diijinkan untuk valve.
2.5. Tekanan maksimal diberikan pada jaringan pipa selama 2 jam dan tidak boleh ada
penurunan tekanan.
material bekas dan sudah tergalvanis dengan merata dan baik. Ketebalan gasket
minimal 3 mm dan terbuat dari karet sintetis.
1.6.11. Petunjuk pengoperasian valve harus disertakan seperti maksimum force pada
handwheel, engkol (crank), T-bar dan perlengkapan lain sehingga tidak
menimbulkan kesulitan pada operator. Penyedia Jasa Pengadaan harus
menyertakan besarnya maksimum torque yang dibutuhkan untuk setiap valve
yang dikirim.
1.6.12. Coating seluruh permukaan logam seperti badan valve, flange, surface box dan
lain-lain yang terkontak dengan air bersih atau tanah harus dilapisi dengan non
toxic coalter epoxy, enamel, bitumen atau bahan lain yang sama dan disetujui
oleh Direktur Pengawas.
1.6.13. Permukaan harus bersih, kering, dan bebas dari kotoran sebelum digunakan.
Coating dengan cara penyemprotan harus dilakukan di pabrik. Ketebalan
minimum coating setelah kering ± 400 microns (16 mils). Material yang
berkontak dengan air harus dari jenis non toxic,sedangkan bahan yang dapat
larut tidak boleh digunakan.
1.6.14. Petunjuk operasi (operating manual) harus disediakan sebanyak 6 (enam) set
untuk setiap jenis valve dan perlengkapannya dan dalam Bahasa Indonesia.
1.6.15. Penyedia Jasa Pengadaan harus menyertakan sertifikat dari pabrik yang
menerangkan bahwa setiap valve telah memenuhi persyaratan yang diminta
dalam spesifikasi ini.
harus terbuat dari asbes atau bahan lain yang sesuai dan disetujui Pengguna
Barang. Packing dari hemp atau jute (rami) tidak boleh digunakan. 0-ring
stemseal dapat digunakan atas sudah tergalvanis dengan merata dan baik.
Ketebalan gasket minimal 3 mm dan terbuat dari karet sintetis.
1.6.11. Petunjuk pengoperasian valve harus disertakan seperti maksimum force pada
handwheel, engkol (crank), T-bar dan perlengkapan lain sehingga tidak
menimbulkan kesulitan pada operator. Penyedia Jasa Pengadaan harus
menyertakan besarnya maksimum torque yang dibutuhkan untuk setiap valve
yang dikirim.
1.6.12. Coating seluruh permukaan logam seperti badan valve, flange, surface box dan
lain-lain yang terkontak dengan air bersih atau tanah harus dilapisi dengan non
toxic coalter epoxy, enamel, bitumen atau bahan lain yang sama dan disetujui
oleh Direktur Pengawas.
1.6.13. Permukaan harus bersih, kering, dan bebas dari kotoran sebelum digunakan.
Coating dengan cara penyemprotan harus dilakukan di pabrik. Ketebalan
minimum coating setelah kering ± 400 microns (16 mils). Material yang
berkontak dengan air harus dari jenis non toxic,sedangkan bahan yang dapat
larut tidak boleh digunakan.
1.6.14. Petunjuk operasi (operating manual) harus disediakan sebanyak 6 (enam) set
untuk setiap jenis valve dan perlengkapannya dan dalam Bahasa Indonesia.
1.6.15. Penyedia Jasa Pengadaan harus menyertakan sertifikat dari pabrik yang
menerangkan bahwa setiap valve telah memenuhi persyaratan yang diminta
dalam spesifikasi ini.
e. 1.7.9. Stuffing box harus terbuat dari bahan yang sama dengan badan
valve seperti telah dispesifikasikan di atas dan harus dalam posisi terbuka.
Tinggi dari stuffing box tidak boleh kurang dari diameter valve. Packing
pada stuffing box harus terbuat dari asbes atau bahan lain yang sesuai dan
disetujui Pengguna Barang. Packing dari hemp atau jute (rami) tidak boleh
digunakan. 0-ring stemseal dapat digunakan atas Mekanisme operasional
untuk pengoperasian valve secara manual harus dapat mengunci sendiri
sehingga tangga aliran air atau vibrasi tidak mengakibatkan piringan
berpindah dari tempatnya semula.
f. Setiap valve didesain untuk tekanan melintang pada piringan (bila tertutup
rapat) sama dengan rate tekanan pada pipa.
g. Seluruh valve harus mengikuti spesifikasi ini dan harus dapat membuka atau
menutup bila tidak dioperasikan dalam periode yang lama.
h. Badan valve dan flange terbuat dari cast iron dan mengikuti "Specification
for Grey Iron Casting for Valves, Flanges and Pipe Fittings kelas B" (ASTM
Designation A 126) atau ductile iron (ASTM 536). Flange harus mengikuti
standar JIS-8 2213.
i. Dudukan valve harus dapat menjaga valve pada posisi yang seharusnya.
j. Tipe air valve harus sesuai dengan spesifikasi pada Tabel di bawah ini yang
tergantung pada ukuran pipa yang dipasang.
1.9.2. Bagian atasnya tertutup dengan flange buta (blank-flange) yang dapat dibuka
sewaktu-waktu bila diperlukan.
1.9.3. Pada bagian luar badan check valve harus terdapat cap (tercetak) yang dapat
menunjukkan merk atau dari pabrik mana yang membuatnya, besarnya diameter,
tekanan kerja, dan arah aliran air.
1.9.4. Badan tutup atas dan cakram dari badan check valve terbuat dari besi tuang.
1.9.5. Kedudukan untuk cakram terbuat dari Neophrene Synthetic Rubber yang
berkualitas baik.
1.9.6. Tekanan kerja dari check valve mampu menahan 10 kg/cm2.
1.9.7. Check valve harus didesain sedemikian rupa sehingga piringan, dudukan,
dudukan cincin dan bagian-bagian dalam lainnya yang mungkin perlu untuk
perbaikan harus mudah diambil, mudah dipindahkan dan mudah diganti tanpa
menggunakan peralatan khusus atau harus memindahkan valve dari jalurnya.
1.9.8. Valve harus cocok untuk pengoperasian dalam posisi horisontal atau vertikal
dengan aliran ke atas dan ketika terbuka penuh valve harus mempunyai daerah
aliran bersih (a net-flow area) tidak kurang dari luas diameter nominal pipa dan
ujung flange.
1.10. Gate Valve Perunggu (Bronze)
1.10.1. Gate valve perunggu harus didesain dan dibuat sesuai dengan JIS B 2011 atau
ketentuan lain yang disetujui. Tekanan kerja besarya 0,98 Mpa (10 kg/cm2).
Valve harus dilengkapi dengan roda pemutar dan ujung berulir (sekrup).
1.10.2. Valve dengan ukuran 80 mm atau lebih kecil mempunyai badan yang terbuat dari
perunggu, skrup bonnet (topi sekrup), memiliki solid wedge (baji), skrup dalam
dan tangkai pengungkit.
1.10.3. Badan valve harus merupakan cetakan perunggu yang mengacu pada JIS H 5111,
kelas 6 atau cetakan perunggu dengan daya rentang tidak kurang dari 196
N/mm2 (20 kg/m2). Piringan yang terbuat dari cetakan perunggu mengacu pada
spesifikasi di atas atau dari kuningan yang mengacu pada AS H 3250, kelas C
3711 atau dari tembaga yang mempunyai daya rentang tidak kurang dari 314
N/mm2 (32 kg/m2). Stem/tangkai harus terbuat dari tembaga sesuai spesifikasi
di atas.
1.11. Pressure Reducing Valve (PRV)
1.11.1. Main Body dan bonnet terbuat dari Ductile Iron (ASTM A 536).
1.11.2. Stem, Seat Ring terbuat dari stainless steel AISI 316 (khusus untuk seat ring
garansi seumur hidup).
1.11.3. Fastener terbuat dari Stainless steel AISI 18-8.
1.11.4. Bonnet di rancang memakai separated stem cap (tutup yang bisa dipisahkan dari
bonnet) untuk memudahkan perawatan.
1.11.5. Pengecatan dilakukan dengan epoxy bonded baik untuk lapisan dalam maupun
lapisan luar dengan mengacu pada standard NSF 61 untuk air siap minum.
1.11.6. Untuk Flange memakai standard PN16.
1.11.7. Set Tekanan outlet pada kisaran 20 ~ 200 psi (1.37 bar ~ 13.7 bar).
1.11.8. Isolation Valve, Pilot, Strainer menggunakan material Bronze/stainless steel;
Fitting menggunakan material Brass; Tubing Pilot menggunakan cooper
(tembaga).
1.11.9. Terdapat centerline guide agar stem tetap lurus dan memudahkan saat
perawatan.
Rencana Kerja Dan Syarat Pengembangan SPAM 38
1.11.10. Auto flushing pilot agar tidak terdapat kotoran yang menyumbat pilot (inlet dan
outlet pilot membentuk sudut 90° ).
1.12. Surge Anticipating Relief Valve
Material ini difungsikan untuk mengantisipasi water hammer atau hantaman balik sistem
pipa transmisi untuk di rilis energi dari water hammer tersebut ke saluran pembuang.
material ini dipasang di well head atau sesuai yang tercantum dalam gambar kerja.
Material Body : Ductile Iron (ASTM A 536)
Model body : Globe valve dengan T-Pattern
Pelapisan / Cat : Epoxy bagian dalam maupun luar dan punya sertifikat air
minum
Material Stem & Baut pengencang & Seat Ring : Stainless Steel
Sistem Operasi : Melepaskan tekanan balik (water hammer) yang terjadi
akibat Pompa Mati (Power failure)
Tidak memakai electrical power
Adanya Stem Cap / penutup chamber kecil di valve untuk memudahkan maintenance
Kelengkapan : Adanya Strainer kecil untuk filter air yg masuk ke Pilot
System
Garansi Valve : 3 Tahun
Garansi Seat Ring : Seumur Hidup
Semua Garansi adalah dari Pabrik Resmi dengan nomor seri
Connection : Flange PN 25
2. Pelaksanaan
2.1. Harga pemasangan sudah termasuk dalam harga aksesoris yang ditawarkan oleh penyedia
jasa.
2.2. Semua aksesoris yang dibutuhkan harus dipasang bersamaan dengan pekerjaan
pemasangan pipa. Hal ini untuk memudahkan pemasangan aksesoris dan menghindari
lubang-lubang galian yang terbuka karena pemasangan aksesoris yang terlambat.
2.3. Semua aksesoris dimasukkan ke dalam galian dengan hati-hati agar tidak terjadi kerusakan
pada aksesoris tersebut.
2.4. Apabila terpaksa harus melakukan sambungan aksesoris di dalam galian, penyedia jasa
harus membuat galian dengan lebar yang cukup untuk tenaga kerja bergerak dan
meletakkan mesin penyambung di dalam galian.