BAB I
PENDAHULUAN
1.2 Latar Belakang Masalah
Gereja Methodist adalah suatu gereja Kristus (yang mengikuti ajaran
kristus) dimulai dari kesadaran teologis oleh seorang pendeta Inggris bernama
John Wesley, dari keluarga protestan dimana ayah dan ibunya adalah seorang
pendeta. Ajaran Methodist yang dimulai oleh Wesley adalah gereja yang lahir
karena kesadaran teologis, bukan berlatar belakang dari konflik seperti yang
terjadi dengan gereja Kristen lainnya.
John Wesley memulai ajarannya berawal dari pembenahan dirinya sendiri,
dimana hukum dan ajaran protestan diterima dan dilaksanakannya secara keras.
Praktek teologi ini dijalankan oleh Wesley sejak lulus dari bangku universitas
Oxford Inggris. Perkembangan teologi yang sudah tertanam dalam diri John
Wesley semakin berkembang didukung oleh kebaktian dan perjamuan yang sering
dilaksanakan oleh keluarganya dirumah Wesley sendiri.
Hasil yang diterima John Wesley dari pelaksanaan kebaktiaan dan acara
jamuan yang sering dilaksanakan di rumahnya, adalah sebuah pandangan tentang
keagamaan yang berbunyi “Bahwa rahmat Allah tidak didapatkan dengan
melaksanakan peraturan-peraturan, maupun hukum-hukum agama, atau
penyempurnaan diri sendiri tetapi turun kepada kita dengan kepercayaan terhadap
Kristus” 1. Dengan demikian manusia akan memperoleh hidup aman dan damai.
Filosofi teologi yang diterima oleh John Wesley semakin dikembangkan
dengan menggali ajaran teologi Kristen mula-mula, sehingga kesempurnaan dapat
Universitas Sumatera Utara
diperoleh oleh Wesley, dan sampai saat ini masih kekal dalam ajaran Methodist,
yaitu:
a. Bahwa anugerah Tuhan yang diberikan kepada seluruh Dunia, sanggup
memenuhi keseluruhan keperluan Manusia.
b. Bahwa Alkitab tidak mengenal keselamatan, selain keselamatan dari
dosa, dan kehidupan suci adalah kasih sayang serta kepercayaan
terhadap Allah. 2
Ajaran dan pandangan John Wesley tentang agama dituangkan dalam
bentuk metode-metode keagamaan dan pola hidup sehari-hari, sehingga diterima
oleh kelompok masyarakat lainnya. Jumlah pengikut dari ajaran wesley semakin
berkembang yang akhirya menjadi organisasi gereja bernama Methodist.
Gereja Methodist Indonesia adalah organisasi gereja yang berdiri sendiri
sama seperti organisasi gereja yang lainnya. Masing-masing organisasi gereja
mempunyai corak dan ciri yang berlainan yang berlatar belakang dari perbedaan
misi zending (organiasi penginjilan) dan kondisi lokal seperti misi zending Huria
Kristen Batak Protestan (HKBP), dengan konsep suku Batak Toba, sedangkan
Methodist disebarkan oleh misi zending Amerika Serikat dengan konsep
nasional. 3
Penulisan skripsi ini mengajukan pembahasan tentang Gereja Methodist
Indonesia yang disebarkan oleh John Russel misi Zending dari New York
Amerika Serikat. John Russel menilai bahwa pada babakan awal tahun 1900an
penyebaran kristen di Indonesia sangat minim, terlebih ajaran methodist sama
1
Benjamin Munthe, Training Dasar Rohani Kristen, Medan: GKII, 2003, hlm. 1.
2
Gereja Methodist Indonesia, Disiplin Gereja Methodist Indonesia 1973, Tebing Tinggi:
Depot Buku Methodist, [Link].2.
Universitas Sumatera Utara
sekali belum pernah disebarkan, karena itulah misi Zending Malaysia Annual
Conference (MAC) difokuskan ke daerah Hindia-Belanda yang sebelumnya aktif
dalam penginjilan di Malaysia. Misi Zending MAC mempunyai kemiripan dengan
misi zending lainnya dalam proses penginjilan. Selain mengembangkan Methodist
dari sudut teologia, mereka juga melakukan pelayanan dalam bentuk pembukaan
sekolah, yang bertujuan untuk menyeimbangkan antara kebutuhan rohani dan
kebutuhan pendidikan dalam kehidupan masyarakat.
Sebagai penginjilan mula-mula, John Russel memfokuskan kegiatannya
dalam bidang kerohanian (penyebaran ajaran Methodist) hal ini yang
melatarbelakangi ajaran Methodist dapat diterima dengan cepat di Hindia-
Belanda. Sebagai langkah pertama, Russel membagi wilayah Hindia Belanda
menjadi dua bagian besar pelayanan, yaitu daerah Jawa dan sekitarnya berpusat di
Singapura, dan pulau Sumatera berpusat di Penang. Pada tahun 1922 kedua
pelayanan Methodis ini sudah mampu menyebarkan agama Kristen kepada suku
Tionghoa, Sunda, Dayak, Batak Toba dan Simalungun. Mereka yang sudah
bergabung dengan misi Methodist ini dinamakan dengan Konferensi misi
(Mission Conference). Nama ini dipakai hingga tahun 1940. 4
Sejak tahun 1927, penginjilan Methodist kelompok I, yang berkonsentrasi
untuk wilayah Jawa dan sekitarnya diberhentikan dan dipindahkan kewilayah
Sumatera Utara.. Penghentian penginjilan di wilayah Jawa ini sendiri berlangsung
hingga waktu yang cukup lama yaitu hingga tahun 1964.
Di wilayah Sumatera Utara, khususnya Medan penginjilan yang dilakukan
oleh Methodist tergolong sukses dalam mendapatkan masyarakat yang menjadi
3
Richard Daulay, kekristenan Dan Kesuku Bangsaan. Yoyakarta: Taman Pustaka
Kristen, 1996. hlm. 4.
Universitas Sumatera Utara
pengikut ajaran Methodist. Kelompok pengikut Methodist dari usaha pelayanan
yang dilakukan oleh penginjilan Methodist dominan etnis Batak Toba dan
Tioanghoa yang sudah lama di Medan. Sedangkan dengan kelompok suku lainnya
yang jumlahnya minim adalah etnis Simalungun dan etnis Karo.
Kelompok etnis Batak Toba dan Tionghoa sangat berkembang pesat
menjadi pengikut Methodist. Banyak masyarakat Tionghoa akhirnya
meninggalkan kepercayaannya dan menjadi pengikut Methodist, demikian juga
etnis Batak Toba yang meninggalkan aliran kepercayaan yaitu Parmalim
(kepercayaan suku Batak Toba) dan menjadi pengikut gereja Methodist. Kedua
kelompok etnis ini masing-masing ikut bergabung dalam Methodist dan saling
mendekatkan dengan etnisitas masing-masing, yang akhirnya menimbulkan
sebuah persaingan yang tidak sehat, misalnya seperti penggunaan bahasa, pada
saat melaksanakan kebaktian. Bahasa yang dipakai dalam prosesi kebaktian
kelompok Batak adalah bahasa Batak Toba, demikian juga etnis Tionghoa yang
memakai bahasa Tionghoa dalam prosesi kebaktiannya. Akibat perbedaan corak
kebaktian antara Methodist Tianghoa dengan Methodist Batak Toba, akhirnya
menimbulkan Methodist di Sumatera Utara, Khususnya Medan terbagi menjadi
dua Distrik, yaitu Distrik Tionghoa dan distrik Batak Toba yang mana
pembagiannya bukan lagi berdasarkan kondisi geografis tetapi berdasarkan
etnisitas.
Kemerdekaan Indonesia yaitu Tanggal 17 Agustus 1945, ternyata
membawa perubahan besar terhadap Methodist di Indonesia yaitu gerakan
Methodis yang semakin lama semakin berorientasi dengan keadaan lokal, hingga
4
Gereja Methodist Indonesia, op. cit., hlm. 5.
Universitas Sumatera Utara
tahun 1964 nama terhadap pengikut Methodist yaitu Misi Methodist berubah
menjadi Gereja Methodist Indonesia (GMI). Proses perubahan ini dilalui dengan
gerakan-gerakan dan pemenuhan beberapa persyaratan kemethodisan.
Walaupun terlihat ada perbedaan yang jelas dalam tubuh methodist, tetapi
ini tidak jadi penghalang dalam hal pengembangan jemaat. Hal ini tidak terlepas
dari usaha masing-masing Distrik dalam meningkatkan jumlah jemaatnya. Disisi
lain Gereja Methodist Indonesia melakukan beberapa gerakan dalam membangun
jemaatnnya baik dalam bentuk kuantitas (pelayanan) maupun dari segi kualitas
melalui pembukaan departemen-departemen sosial dan departemen pendidikan.
Misi sosial yang dilakukan oleh Gereja Methodist Indonesia sangat beragam dan
sangat menyentuh aspek kehidupan manusia.
Sampai beberapa tahun terbentuknya Gereja Methodist Indonesia, tetapi
distrik dalam organisasi ini masih terbagi atas dua bagian. yaitu distrik Batak
Toba dan Tionghoa. Perkembangan jemaat Methodist terlihat pesat dari kelompok
suku yang ada di Sumatera Utara. Kelompok suku yang bertambah ini pada
dasarnya lebih banyak mengikuti distrik Batak Toba. Hal ini dipengaruhi oleh
bahasa dan budaya yang identik, seperti etnis Karo dan Simalungun. Etnis lokal
yang lebih dominan masuk kedalam kelompok Batak Toba, sehingga
perkembangan terlihat lebih cepat dipihak distrik Batak Toba.
Dalam bidang departemen yang dibangun oleh Methodist ternyata banyak
berguna bagi masyarakat, bukan hanya bagi jemaat Methodist saja. Departemen
yang dibangun oleh Methodist pada dasarnya tidak bersifat teologis tetapi bersifat
sekuler, misalnya sekolah yang dibangun oleh pihak Methodist yang bertujuan
untuk meningkatkan kualitas hidup manusia.
Universitas Sumatera Utara
Gereja Methodist Indonesia adalah gereja yang murni berdiri sendiri di
Medan, bukanlah hasil perpecahan dari gereja yang lainnya, akan tetapi Gereja
Methodist Indonesia juga merupakan salah satu anggota Persatuan Gereja
Indonesia, sama seperti gereja kristen yang lain.
Pada tahun 1983, perpecahan yang terjadi ditubuh Gereja Methodist
Indonesia sudah terselesaikan, dimana sejak tahun ini kedua distrik yang berseteru
bersatu menjadi satu distrik yang bersifat nasional, hal ini dipengaruhi oleh
semakin ragamnya etnis yang bergabung menjadi jemaat Gereja Methodist
Indonesia dan semakin besarnya jumlah etnis Batak Toba yang masuk menjadi
jemaat Gereja Methodist Indonesia. Dalam upaya pemersatuan ini tentu ada
gerakan dan kelompok yang sudah berjuang untuk hal ini. Penyatuan ini tentu
akan memberikan peningkatan terhadap perkembangan Gereja Methodist,
bagaimana perkembangan Methodist setelah kembali menjadi satu distrik?
Perjalanan Gereja Methodist Indonesia yang terbentuk di Medan dan
mengalami perkembangan yang pesat, selalu dilalui dengan proses sejarah yang
unik. Banyak usaha yang dilakukan oleh Gereja Methodist Indonesia untuk
menjaga eksistensinya, hal inilah yang menjadikan penulis tertarik dalam memilih
topik ini menjadi penelitian skripsi. Penulis juga tertarik mengetahui lebih lanjut
tentang Methodist. Topik yang akan diangkat dalam skripsi ini adalah Sejarah
Pembentukan Dan Perkembangan Gereja Methodist Indonesia di Medan 1964-
1983. penulisan skripsi ini akan dilangsungkan sebab bukti-bukti yang akan
digunakan untuk menjawab permasalahan yang akan diangkat dalam karya ini
masih dapat diperoleh.
Universitas Sumatera Utara
1.3 Rumusan Masalah
Topik permasalahan yang akan diangkat dalam tulisan ini adalah sejarah
pembentukan dan perkembangan Gereja Methodist Indonesia di Medan. Untuk
mempermudah klasifikasi permasalahan penulis membuat beberapa poin
pertanyaan yaitu:
1. Bagaimana proses terbentuknya Gereja Methodist Indonesia di Medan?
2. Bagaimana solusi dari permasalahan antara distrik Batak Toba dengan
distrik Tionghoa?
3. Bagaimana proses perkembangan Gereja Methodist Indonesia di Medan?
Batasan waktu yang diangkat dalam penelitian ini mengambil tahun 1964,
sebagai awal penelitian dan 1983 sebagai batas akhir penelitian. Tahun 1964
sebagai periode awal dalam penelitian ini dilatarbelakangi oleh tematis
pembentukan pengikut Methodist sebagai gereja lokal, yang dinamakan dengan
Gereja Methodist Indonesia. Tahun 1983 sebagai batasan akhir, berlatarbelakang
dari penyatuan dua distrik di tubuh Gereja Methodist Indonesia. Sejak tahun 1983
Gereja Methodist menjadi satu distrik dalam pengelolaannya.
1.4 Tujuan Dan Manfaat Penelitian
Setiap segi sejarah kehidupan manusia adalah hal yang sangat perlu
diketahui yang bermanfaat sebagai penelusuran identitas kita. Demikian halnya
dengan penelitian ini ditujukan untuk:
1. Mengetahui proses terbentuknya Gereja Methodist Indonesia di Medan.
2. Mengetahui bagaimana solusi dari permasalahan antara distrik Batak Toba
dengan distrik Tionghoa.
Universitas Sumatera Utara
3. Mengetahui proses perkembangan jemaat Gereja Methodist Indonesia di
Medan.
Manfaat dari penelitian ini diharapkan dapat:
1. menambah literatur tentang sejarah gereja, khususnya Gereja Methodist
Indonesia di Medan
2. Menambah literatur tentang sejarah sosial khususnya sejarah tentang
organisasi gereja.
1.5 Tinjauan Pustaka
Untuk membahas sejarah dan perkembangan gereja Methodist di Medan,
harus dikaji dari banyak segi kehidupan sosial sebagai cara menghindari
penulisan sejarah yang bersifat konfensional yang berpusat pada peran seorang
tokoh dalam peristiwa tertentu, misalnya hikayat raja-raja, panglima perang,
sementara peran dari aspek lain yang tergolong sebagai pendukung terhadap
peristiwa sejarah selalu dikesampingkan.
Seorang penulis sejarah harus dilengkapi dengan perlengkapan pendekatan
ilmu Bantu sosial lainnya seperti Sosiologi, Antropologi, Politikologi, Ekonomi
dan Psikologi. Untuk mengungkap peristiwa sejarah yang lebih mendalam. 5
Richard Daulay dalam bukunya yang berjudul “Kekristenan Dan Kesuku
Bangsaan: Sejarah Perjumpaan Methodisme Dengan Orang Batak Dan Orang
Tionghoa di Indonesia” menjelaskan: Untuk membantu pengkajian tentang
Gereja Methodist Indonesia, tidak terlepas dari misi Zending dan penginjilan-
penginjilan yang akhirnya membentuk organisasi gereja setelah masyarakat lokal
Universitas Sumatera Utara
banyak yang menerima penginjilan tersebut. Misi zending yang datang ke
Indonesia pada dasarnya barasal dari Eropa, kecuali misi Zending yang membawa
ajaran Methodist ke Indonesia, yang dibawa oleh misi Zending Amerika serikat.
Gambaran tentang kemethodisan di Indonesia dijelaskan pimpinan pusat Methodis
Gereja Methodist dalam buku yang berjudul: “Disiplin Gereja Methodist
Indonesia”, bahwa gereja Methodist adalah gereja yang pada dasarnya sama
dengan gereja lokal lainnya, dimana firman Tuhan diajarkan, dan sakramen-
sakramen dilaksanakan menurut semestinya. Gereja Methodist adalah gereja
Protestan yang tidak langsung dari hasil reformasi, melainkan mekar dari gereja
Inggris oleh John Wesley, dengan proses yang cukup panjang. Latar belakang dari
John Wesley adalah keluarga yang kristen Protestan Inggris, dimana ayah dan
ibunya adalah pendeta protestan. 6
Berkat penginjilan-penginjilan yang sangat gigih dari kelompok misi
zending Methodist, maka perkembangan dari sekte ini sangat pesat diberbagai
negara terutama negara-negara maju, seperti negara Inggris dan Amerika serikat,
sedangkan ke Indonesia ajaran Methodist disebarkan pada tahun 1905, yang
bentuknya adalah misi zending. Pertumbuhan jumlah jemaat Methodist sangat
cepat yang mengakibatkan terbentuknya gereja Methodist yang berorientasi
dengan suasana lokal. 7
Berita keselamatan menurut Methodist, tidak harus diberitakan oleh
seorang teologia ataupun seorang pendeta, tetapi lebih menekankan seseorang
yang terpanggil dan mengerti firman Tuhan. Mereka bisa saja memberitakan
5
Sartono Kartodirdjo, Beberapa Kecenderungan Dari Study Sejarah di Indonesia Dalm
Sejarah Indonesia Dalam Monograf, Yoyakarta: Jurusan Sejarah Dan Geografi Sosial IKIP Sanata
Dharma, 1980. hlm.9.
6
Gereja Methodis Indonesia, op. cit., hlm.1-2.
Universitas Sumatera Utara
Firman Tuhan. Latar belakang inilah yang menyebabkan ajaran Methodist
berkembang dengan pesat.
Penganut Methodist di Medan pada dasarnya lebih berkembang di dalam
dua suku, yaitu etnis Batak Toba dan etnis Tionghoa. Gagasan menuju
terbentuknya gereja lokal yaitu Gereja Methodist Indonesia dominan dipengaruhi
oleh kedua etnis tersebut. Latar belakang ini membuat kedua etnis membentuk
gereja Methodist Indonesia menjadi 2 distrik, masing-masing dengan orientasi
etnisitas (Batak dengan Tionghoa). Tetapi dua distrik yang dulunya terlihat
renggang akhirnya bersatu kembali tepatnya pada tahun 1983 yang semua itu
ditempuh dengan berbagai usaha. 8
Dari beberapa konsep dan buku yang dijelaskan di atas, penulis berharap
dapat memberikan bantuan terhadap penelitian ini.
1.6. Metode Penelitian
Penelitian ini bersifat deskriptif analitis, dimana penulis akan menguraikan
secara terperinci proses masuknya ajaran Methodist ke Medan, dan bagaimana
misonaris menyebarkan ajaran Methodist kepada masyarakat, sehingga pada
akhirnya melahirkan organisasi gereja yang bernuansa lokal dan berdiri sendiri
yang dinamakan dengan Gereja Methodist Indonesia.
Metode penelitian yang digunakan dalam merekonstruksi peristiwa, akan
menggunakan petunjuk-petunjuk penelitian Sejarah, yang prosesnya adalah
sebagai berikut:
7
Ibid., hlm.5.
8
Richard Daulay, op . cit., hlm. 256.
Universitas Sumatera Utara
1. Heuristik, yaitu proses pengumpulan sumber sebanyak-banyaknya
yang memberikan penjelasan tentang gerakan Methodist Indonesia
di Medan, melalui metode penelitian kepustakaan (Library
research) yaitu pengumpulan berbagai sumber tertulis seperti buku,
majalah, surat kabar, notulen, buletin, dan hasil laporan penelitian
sebelumnya yang dapat mendukung penelitian ini.
2 Kritik sumber, untuk memeriksa keabsahan data melalui:
a. Kritik intern, yang ditujukan untuk memperoleh dokumen yang
kredibel dengan cara menganalisis sejumlah sumber tertulis.
Menganalisis buku-buku, atau dokomen yang berkaitan dengan
Gereja Methodist Indonesia dengan metode membandingkan
dengan sumber yang lainnya.
b. Kritik ekstern, untuk memperoleh data yang otentik, dengan cara
menyesuaikan dengan jiwa Zaman.
3 Interpretasi untuk analisis dan panafsiran data dengan menggunakan
metode komperatif (perbandingan) dengan penelitian sebelumnya.
Metode ini akan dilakukan untuk memastikan hasil penelitian ini
dengan cara menyeragamkan dengan hasil penelitian yang dilakukan
sebelumnya.
4 Historiografi yaitu, menyusun fakta menjadi hasil penelitian yang
bentuknya adalah karya tulis sejarah yang desikriptif analisis. Dari
fakta fakta tentang Gereja Methodist Indonesia yang sudah diuji
dengan metode sejarah, akan ditulis berdasarkan kronologi waktu.
Universitas Sumatera Utara
BAB II
GAMBARAN UMUM PENELITIAN
2.1 Latar Belakang Historis Dan Perkembangan Kota Medan
Dari hasil penelaahan yang dilakukan oleh tim sejarah rekonstruksi kota
Medan, menghasilkan kesimpulan tentang latar belakang historis kota Medan
yaitu, bahwa kota Medan didirikan oleh guru Patimpus Sembiring yang berasal
dari etnis Karo. Setelah melakukan beberapa pertimbangan tentang berdirinya
kota Medan, akhirnya disimpulkan bahwa kota Medan berdiri tanggal 1 Juli 1590,
maka tanggal 1 Juli dijadikan sebagai hari ulang tahun kota Medan, 9 yang
dirayakan setiap tahunnya.
Keadaan Medan pertama kalinya adalah hanya sebuah perkampungan,
yang berfungsi sebagai tempat pemukiman beberapa orang manusia, dan semakin
lama jumlah penduduk yang menempati sekitar perkampungan dan pantai
semakin besar, sehingga Medan menjadi sebuah perkampungan yang dihuni oleh
beragam etnis.
Keadaan keagamaan masyarakat pada awal-awal berdirinya Medan masih
tergolong sebagai masyarakat yang sistem kepercayaannya masih menganut
kepercayaan kepada penguasa alam atau roh nenek moyang. Agama sama sekali
belum masuk kewilayah Medan. Hal ini membuktikan, bahwa agama yang ada di
Medan hingga sampai saat ini telah mengalami banyak proses, dari awal masuk
hingga berkembang seperti saat ini.
Semakin beragam dan banyaknya suku pendatang yang datang ke Medan
ternyata berakibat terhadap perkembangan kota. Medan segera menjadi sebuah
9
Pemerintah Kota Medan, Profil Kota, Medan: Pemko, 2004. hlm. 34.
Universitas Sumatera Utara