0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
246 tayangan22 halaman

Cara Kerja Thermal Overload Relay

Makalah ini membahas tentang praktikum proteksi sistem tenaga menggunakan Thermal Overload Relay (TOR). TOR berfungsi untuk melindungi motor listrik dari beban berlebih dengan memutus arus jika melebihi batas yang disetel. Makalah ini menjelaskan prinsip kerja, bagian-bagian, dan karakteristik TOR serta sistem proteksi pengontrolan motor secara umum.
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOC, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
246 tayangan22 halaman

Cara Kerja Thermal Overload Relay

Makalah ini membahas tentang praktikum proteksi sistem tenaga menggunakan Thermal Overload Relay (TOR). TOR berfungsi untuk melindungi motor listrik dari beban berlebih dengan memutus arus jika melebihi batas yang disetel. Makalah ini menjelaskan prinsip kerja, bagian-bagian, dan karakteristik TOR serta sistem proteksi pengontrolan motor secara umum.
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOC, PDF, TXT atau baca online di Scribd

MAKALAH LAPORAN PRAKTIKUM

PROTEKSI SISTEM TENAGA


MODUL IV TOR (Thermal Overload Relay)

OLEH :

NAMA : Fajriatul Maulida


NIM : 2212172003
PROGRAM STUDI : S1 TTL - Reg Sore
WAKTU PRAKTIKUM : Kamis, 26 April 2018

JURUSAN TEKNIK ELEKTRO


FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS JENDERAL ACHMAD YANI
CIMAHI
2018
BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Instalasi motor listrik membutuhkan pengaman beban lebih dengan tujuan
menjaga dan melindungi motor listrik dari gangguan beban lebih supaya
motor listrik tidak mengalami kerusakan yang fatal. Rele pengaman arus
lebih merupakan pengamanan motor akibat adanya arus lebih/beban
lebih. Pengaman beban lebih atau over load yang digunakan pada
instalasi motor listrik adalah Thermal Over Load Relay (TOR/TOL). Jika
arus yang melalui penghantar yang menuju motor listrik melebihi
kapasitas atau setting TOR/TOL, maka TOR/TOL drop atau terputus
sehingga rangkaian yang menuju motor listrik terputus. Thermal Over
Load Relay (TOR/TOL) biasanya digandengkan dengan kontaktor,
dipasaran ada juga pengaman beban lebih yang terintegrasi pada Motor
Circuit Breaker. Relay ini biasanya dihubungkan pada kontaktor ke kontak
utama 2, 4, dan 6 sebelum dihubungkan ke beban (motor). Gunanya
untuk memberikan perlindungan terhadap motor dari kerusakan akibat
beban lebih. Arus yang terlalu besar pada beban atau motor listrik akan
mengalir pada belitan motor listrik dan dapat menyebabkan kerusakan
dan atau terbakarnya belitan motor listrik. Untuk menghindari terjadinya
panas yang berlebihan akibat beban lebih maka harus dipasang Thermal
Over Load Relay (TOR/TOL) pada suatu rangkaian. Beberapa penyebab
terjadinya beban lebih antara lain adalah: 1) Beban mekanik pada motor
listrik terlalu besar; 2) Arus start terlalu besar dan terlalu lama putaran
nominal tercapai atau motor listrik berhenti secara mendadak; 3) Terjadi
hubung singkat pada motor listrik (antara phasa dengan phasa atau
antara phasa dengan body; dan 4) Motor listrik bekerja hanya dengan 2
phasa atau terbukanya salah satu phasa dari motor listrik 3 phasa

1.2 Tujuan
Tujuan yang diharapkan dalam praktikum ini agar mahasiswa mampu:
1. Memahami dan mampu melakukan pengujian TOR
2. Menentukan karakteristik waktu tripping (lepas) Thermal Over Load
Relay.
3. Memahami prinsip kerja thermal overload dan pemasangannya
denganmenggunakan kontaktor

BAB II TEORI PENUNJANG

2.1 Teori Dasar


2.1.1 Pengertian Thermal Overload Relay
Over Load atau disebut dengan thermal relay atau thermal overload relay
(TOR) adalah komponen pada instalasi tenaga listrik yang berfungsi
sebagai pengaman instalasi terhadap beban lebih. Cara kerja overload
adalah dengan memanfaatkan pelat bimetal yang akan memutus jika
terjadi arus listrik melampui batas [Link] kerja ini hampir
sama dengan cara kerja pada MCB untuk mengamankan arus lebih yang
mengalir pada instalasi penerangan maupun tenaga (motor).
Gambar 2.1 Thermal Overload Relay

Thermal relay atau overload relay adalah peralatan switching yang peka
terhadap suhu dan akan membuka atau menutup kontaktor pada saat
suhu yang terjadi melebihi batas yang ditentukan atau peralatan kontrol
listrik yang berfungsi untuk memutuskan jaringan listrik jika terjadi beban
lebih. Motor listrik akan mengalami gangguan arus listrik yang berlebihan
diakibatkan oleh beberapa hal antara lain :

1. Tegangan input motor listrik kurang dari tagangan Nominalnya,


2. Cos phi motor listrik yang buruk,

3. Beban yang diangkat oleh motor listrik terlalu berat

Fungsi dari Overload relays adalah untuk proteksi motor listrik dari beban
lebih. Seperti halnya sekring (fuse) pengaman beban lebih ada yang
bekerja cepat dan ada yang lambat. Sebab waktu motor start arus dapat
mencapai 6 kali nominal, sehingga apabila digunakan pengaman yang
bekerja cepat, maka pengamannya akan putus setiap motor dijalankan.
Gambar 2.2 Simbol Overload

Gambar 2.3 Bentuk – bentuk overload

2.1.2 Prinsip Kerja Thermal Overload Relay

Prinsip kerja Thermal Over Load Relay (TOR/TOL) berdasarkan panas


(temperatur) yang ditimbulkan oleh arus yang mengalir melalui elemen-
elemen pemanas bimetal, yang mengakibatkan bimetal melengkung
selanjutnya akan menggerakan kontak-kontak mekanik pemutus
rangkaian listrik kontak 95 – 96 membuka dan kontak 97 – 98 menutup.

TOR dipasang secara seri dengan kontak utama kontaktor magnit. Pada
gambar bimetal dialiri arus utama. Jika terjadi arus lebih, maka bimetal
akan membengkok dan secara mekanis akan mendorong kontak bantu
Normally Close (NC) 95-96. Oleh karena dalam prakteknya kontak bantu
NC 95-96 disambung seri pada rangkaian koil kontaktor magnit, maka jika
NC lepas, koil kontaktor tidak ada arus, kontaktor magnit tidak aktif dan
memutuskan kontak utama. Nilai pengaman arus lebih ini bisa diset
dengan mengatur jarak pendorong kontak. Dalam prakteknya pada
permukaan rele pengaman arus lebih terdapat bidang kecil yang
berbentuk lingkaran, yang tengahnya bisa diputar dengan obeng minus.
Juga terdapat tombol tekan untuk mereset.
Prinsip kerja dari bimetal pada TOR ditunjukkan pada Gambar berikut ;

Gambar 2.4 Prinsip kerja bimetal

Jika terjadi beban lebih maka arus menjadi besar dan menyebabkan
penghantar panas. Panas pada penghantar melewati bimetal sehingga
bimetal melengkung dan selanjutnya aliran listrik yang menuju motor listrik
terputus dan motor listrik belitannya tidak sampai terbakar.

Gambar 2.5 Diagram Kontak pada TOR

Diagram penyambungan kontak-kontak pada TOR pada magnetic


contactor :

Gambar 2.6 Diagram penyambungan TOR pada magnetic contactor


Gambar 2.7 Cara mengatur TOR

Untuk mengatur besarnya arus maksimum yang dapat melewati TOR,


dapat diatur dengan memutar penentu arus dengan menggunakan obeng
sampai diperoleh harga yang diinginkan.

Gambar 2.8 TOR dalam keadaan bertegangan


Gambar 2.9 TOR dalam keadaan beban lebih

Gambar 2.10 Konstruksi TOR

Perlengkapan lain dari thermal beban lebih adalah reset mekanik yang
fungsinya untuk mengembalikan kedudukan kontak 95 – 96 pada posisi
semula (menghubung dalam keadaan normal) dan kontak 97 – 98
(membuka dalam keadaan normal). Setelah tombol reset ditekan maka
kontak 95 – 96 yang semula membuka akibat beban lebih akan kembali
menutup dan kontak 97 – 98 akan kembali membuka. Bagian lain dari
thermal beban lebih adalah pengatur batas arus.

2.2 TEORI TAMBAHAN

2.2.1 Bagian – Bagian Thermal Overload Relay

Beberapa bagian dari TOR adalah ;


Gambar 2.11 Bagian – bagian TOR

[Link] / kontak hubung

Berfungsi untuk mengubungkan arus / Kebel atau penghantar lain untuk


dirangkainsedmikian rupa sesuai keinginan perangkainya. Biasanya kotak
hubung dalam overload itu ada kontak hubung utama dan kontak hubung
bantu yang biasanya memiliki dua kontak yaitu NC dan NO Elemen
Elemen akan memproses beban lebih kedalam panas sehinga ketika bean
berlebih, maka elemen akan panas.

2. Elemen 2

Maksudnya elemen (alat, admin lupa lagi namanya) yang terhubung


langsung dengan elemen panas, sehingga ketika panas pada elemen
satu, maka elemen dua akan terpisah dari elemn satu dan akan merubah
Kotak hubung didepanya.

3. Penggerak

Penggerak disini maksudnya adalah alat untuk merubah NC jadi NO dan


NO jadi NC setelah elemen berproteksi.

4. Tombol reset
Ketika OVL terproteksi, maka sobat perlu merubah kemabali ke
pengaturan awal, atau possi semula dengan menekan tombol resest

5. Tombol uji coba

Ini bertujuan mentripkan atau meproteksikan OVL secara manual, hal ini
bertujuan untuk mencoba apakah rangkaian sudah berfungsi dengan
benar atau tidak.

6. Pengatur Ampere

Ini adalah alat pengatur seberapa sobat ingin agar OVL terproteksi,
biasanya diatur sedikit diatas beban Normal pada motor agar tidak
membahayakan Motor.

D. Karakeristik

 Terdapat konstruksi yang berhubungan langsung dengan terminal


kontaktor magnit.
 Full automatic function, Manual reset, dan memiliki pengaturan batas
arus yang dikehendaki untuk digunakan.

 Tombol trip dan tombol reset trip, dan semua sekerup terminal berada
di bagian depan.

 Indikator trip

 Mampu bekerja pada suhu -25 °C hingga +55 °C atau (-13 °F hingga
+131 °F)

E. Peralatan Proteksi

Peralatan proteksi untuk instalasi pengontrolan motor meliputi: a. Hubung


singkat b. Arus lebih c. Sambar Petir d. Tegangan lebih Dalam Tabel 6.1
akan diperlihatkan komponen-komponen peralatan proteksi instalasi
pengontrolan motor. Dimana selain sebagai alat proteksi juga berfungsi
sebagai saklar pemutus

F. Proteksi Beban Lebih

Memproteksi operasi motor terhadap gangguan dan kerusakan, pada


rangkaian kontrolnya diterapkan peralatan proteksi seperti dari Tabel 6.1
Keandalan kinerja proteksi akan sangat menentukan perlindungan motor
terhadap gangguan. Sebagai gambaran dipelihatkan pada Gambar 6.1,
suatu rangkaian pengontrolan motor dengan dua kecepatan dan dua arah
putar yang dilengkapi dengan alat-alat proteksi TOL dan MCB.

Tabel 2.1 Komponen Proteksi Kontrol Motor


Gambar 2.12 Sistem Proteksi Pengontrolan Motor

Dari Gambar 6.1, sistem proteksi pengontrolan motor mempunyai dua,


dimana masing-masing akan memproteksi arus yang berbeda, maka
batas penyetelan pemutusan arus tidak sama besar. Proteksi dari sumber
tegangan dengan sekering, baik untuk rangkaian daya maupun untuk
rangkaian kontrol. Fungsi sekering dapat diganti dengan Miniatur Circuit
Breaker (MCB), lihat Gambar 6.1. Keandalan Thermal Over Load (TOL)
sebagai alat proteksi adalah besaran arus proteksi dapat disetel mengacu
kepada arus nominal motor. Besaran arus TOL yang disetel adalah 110 -
120% dari arus nominal motor.

Sebagai contoh: suatu motor mempunyai arus nominal sebesar 9A, maka
batas pemutusan arus disetel; Penyetelan pemutusan arus TOL = 110% x
9A = 10A Untuk alat proteksi lainnya seperti MCB, batas pemutusan
arusnya tidak dapat disetel. Untuk menentukan nominal arus MCB
sebagai proteksi rangkaian adalah minimum 120% dari kuat arus
rangkaian yang diproteksi, misalnya beban motor. Kontaktor-kontaktor
magnet dari Gambar 6.1, selain sebagai sakelar, juga berfungsi sebagai
proteksi tegangan nol. Dimana bila ke kumparannya tidak bertegangan,
maka kontaktor akan memutus hubungan ke beban. Hal ini akan terjadi
apabila sistem kontrol tersambar petir. Koordinasi waktu tripping alat-alat
proteksi dari Gambar 6.1, harus tepat, dimana waktu pemutusan TOL
harus lebih singkat dari waktu pemutusan sekering, terutama saat terjadi
gangguan hubung singkat.

G. Cara merangkai overload dalam satu rangkain tenaga

Kita pasang terlebih dahulu terminal NC 1 3 dan 5 pada overload ke


terminal / kotak hubung 2 4 & 6 pada kontaktor, karena pada umumnya,
kontak hubung nomor 1 3 5 pada OVL itu meanjang karena memang
bertujuan untuk dikombinasikan dengan kontaktor magnet. Dan arus /
kabel lanjutannya ada pada terminal 2 4 6 pada OVL yang langsung
terhubung untuk menuju ke beban. Perhatikan kontak hubung bernomor
95 dan 96, nomor ini berposisi NC yaitu dalam posisi tertutup atau
terhubung sebelum terjadi gerakan atau sebelum OVL berproteksi, dan
akan menjadi NO, atau terbuka, ataupun terpustus bila proteksi dari OVL
bekerja. Bila di sesuaikan dengan prinsip kerjanya, kontak hubung NC 95
96 dipasang sebelum tombol stop dan sesudah MCB pada rangkaian
pengendali. Ini bertujuan untuk menghentikan pergerakan arus yang
mengalis pada koil kontaktor dan otomatis kontaktor magnet mati dan
akan memutus hubung arus listrik 3 fasa. Bisa juga dihubungkan pada
awal masuk arus netral, keuntungannya adalah mempermudah pekerjaan
dan menghemat bahan. Tapi ada juga kelemahan cara ini,yaitu bila tidak
hati-hati maka akan sangat rawan kosleting listrik. Kedua cara diatas
sama sama untuk menghentikan kerja kontaktor magnet, jadi masih
banyak cara agar kontaktor magnet mati dengan proteksi OVL bekerja.
Karena tujuan awal diciptakannya OvL adalah untuk mengamankan
Beban dari arus lebih. Di bawah ini adalah contoh pemasangan OVL
dalam bentuk rangkaian pengawatan :
Gambar 2.13 Pemasangan OVL dalam bentuk rangkaian pengawatan

Dalam rangkaian diatas, dijelaskan bahwa bila tombol start ditekan maka
kontaktor akan hidup dan motor akan berputar, namun bila motor beban
motor berlebih, maka arus, penghantar(yaitu kabel) akan panas, dan
akan meproteksikan OVL sehingga OVL akan merubah kotak hubung NC
ke NO dan Kotak hubung NO ke NC. Itu bearti motor akan berhenti karena
arus terputus (kontaktor mati) dan akan menghidupkan LED warna kuning
yang berarti itu adalah bukti bahwa rangkaian Trip.

Over Load atau disebut dengan thermal relay atau thermal overload relay
(TOR) adalah komponen pada instalasi tenaga listrik yang berfungsi
sebagai pengaman instalasi terhadap beban lebih. Cara kerja overload
adalah dengan memanfaatkan pelat bimetal yang akan memutus jika
terjadi arus listrik melampui batas [Link] kerja ini hampir
sama dengan cara kerja pada MCB untuk mengamankan arus lebih yang
mengalir pada instalasi penerangan maupun tenaga ( motor ). Instalasi
motor listrik membutuhkan pengaman beban lebih dengan tujuan menjaga
dan melindungi motor listrik dari gangguan beban lebih supaya motor
listrik tidak mengalami kerusakan yang fatal. Rele pengaman arus lebih
merupakan pengamanan motor akibat adanya arus lebih/beban lebih.
Pengaman beban lebih atau over load yang digunakan pada instalasi
motor listrik adalah Thermal Over Load Relay (TOR/TOL)

BAB III PROSEDUR PERCOBAAN

1.1 Alat dan Bahan


1.2 Prosedur Eksperimen
1. Buatlah rangkaian seperti pada gambar diagram di bawah ini.
Reset Over CurrentRelay diatur pada kedudukan minimal (1 A)

Gambar 3.1 Rangkaian Pengawatan TOR

2. “ON”kan switch power supplay


3. AC, koil kontaktor bekerja dan akan menarik kontak-ontaknya.c.
4. “ON”kan switc power supplay PS, atur tegangan supplay AT
sehingga di dapat nilai
5. arus yang dikehendaki, setelah itu switch dibuka dan thermal over
load relaydiinginkan [Link] diketahuibesarnya arus
yang melalui rangkaian (berapa kali nominal),
6. kemudian “ON”kan switch power supplay PS dan catat dalam tabel
berapa detik
7. lamanya Thermal Over Load Relay akan Trip F (off).[Link]
langkah kerja no.3 dan 4 untuk nilai-nilai arus yang diminta(sesuai
tabel).Untuk mendapatkan karakteristik dingin maka antara setiap
kali percobaan ThermalOver Load Relay harus didinginkan terlebih
[Link] mendapatkan karakteristik panas Thermal Over
Load Relay, atur teganganpower supplay AT sehingga arusnya
dilaksanakan dengan arus nominal selama 10menit, kemudian
dilaksanakan seperti langkah kerja no.3 dan 4 untuk nilai-nilai
arusyang diminta di dalam tabel, tanpa pendinginan
[Link] selesai percobaan, kembalikan alat ke tempat
semula.
8. Catat hasil eksperimen

BAB IV ANALISIS

1.1 Hasil Praktikum


1.2 Analisis Data
Pada tabel evaluasi [Link] menentukan karakteristik thermal over load
pada keadaan dingin. Dalam percobaan tersebut thermal over load dialiri
arus sebesar 1,2xIn dimana besarIn (arus nominal) adalah 1,6A atau
menjadi 1,92 A dari [Link] overload trip dalamwaktu 9 menit dan
keadaan sesudahnya yaitu dialiri arus sebesar1,5xIn dan keadaan
overloadtrip dalam waktu 1 menit 10 detik hingga sampai arus 6,0 xIn
overload mengalami trip.

Dan pada tabel evaluasi 2,dengan menetukan karakteristik overload


dalam keadaanpanas, dimana overload yang digunakan adalah overload
yang sama atau 1 overload saja,berbeda dengan menentukan overload
dalam keadaan dingin yang menggunakan lebih darisatu [Link]
tabel 2. Overload dialiri arus sebesar 1,2 In atau menjadi 1,92 A overload
mengalami trip dengan waktu 4 menit dan sesudahnya overload dialiri
arus sebesar 1,5x In(In=1,6A0 menjadi 2,4 A overload mengalami trip
dalam waktu 23 [Link] tersebut menunjukkan overload pada keadaan
panas atau dalam keadaan dingin tidak memerlukan waktu yang lama
untuk trip dikarenakan prinsip kerja termis overload relay ialah
mengkonversikan arus yang mengalir menjadi panas yang dapat
mempengaruhi bimetal.

Thermal Over load relay yang berdasarkan pemutus bimetal akan bekerja
sesuai dengan arus yang mengalir, semakin tinggi kenaikan temperatur
yang menyebabkan terjadinya pembengkokan , maka akan terjadi
pemutusan arus, sehingga motor akan berhenti. Jenis pemutus bimetal
ada jenis satu phasa dan ada jenis tiga phasa, tiap phasa terdiri atas
bimetal yang terpisah tetapi saling terhubung, berguna untuk memutuskan
semua phasa apabila terjadi kelebihan beban. Pemutus bimetal satu
phasa biasa digunakan untuk pengaman beban lebih pada motor berdaya
kecil. Kontruksi Over load relay apabila resistance wire dilewati arus lebih
besar dari nominalnya, maka bimetal trip, bagian bawah akan melengkung
ke kiri dan membawa slide ke kiri, gesekan ini akan membawa lengan
kontak pada bagian bawah tertarik ke kiri dankontak akan lepas. Selama
bimetal trip itu masih panas, maka dibagian bawah akan tetapterbawa ke
kiri, sehingga kontak – kontaknya belum dapat dikembalikan ke kondisi
semulawalaupun reset buttonnya ditekan, apabila bimetal sudah dingin
barulah kontaknya dapatkembali lurus dan kontaknya baru dapat di
hubungkan kembali dengan menekan reset button

BAB V PENUTUP

5.1 Kesimpulan
1. Apabila faktor pengali semakin besar, maka semakin cepat pulawaktu
tripping yangdibutuhkan.
2. Apabila semakin besar faktor pengali maka semakin besar pula
perbedaan tripping padakeadaan dingin dan panas.
3. Thermal relay atau overload relay adalah peralatan switching yang
peka terhadap suhudan akan membuka atau menutup kontaktor pada
saat suhu yang terjadi melebihi batasyang ditentukan atau peralatan
kontrol listrik yang berfungsi untuk memutuskan jaringanlistrik jika
terjadi beban lebih

5.2 Saran
Agar perlatan praktikum dapat dipelihara dengan baik sehingga, tidak
mempengaruhi hasil perhitungan & pengukuran.

Daftar Pustaka
[1] Amin, M Mustaghfirin. 2014. Instalasi Motor Listrik Semester 3.
Jakarta: Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia.
[2] Muslim, Supari dan Joko. 2009. Teknik Perencanaan dan Pemasangan
Instalasi Listrik. Surabaya: Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah
Kejuruan, Direktorat Jenderal Manajemen Pendidikan Dasar dan
Menengah, dan Departemen Pendidikan Nasional.
[3] Siswoyo. 2008. Teknik Listrik Industri Jilid 2 Untuk SMK. Jakarta:
Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Kejuruan, Direktorat
Jenderal Manajemen Pendidikan Dasar dan Menengah, dan
Departemen Pendidikan Nasional.
[4] Sumaryono, Marsudi. Petunjuk Keselamatan Kerja. Jakarta: Departemen
Pendidikan dan Kebudayaan, 1998

Anda mungkin juga menyukai