GROUTING
Umum
Grouting adalah suatu proses, dimana suatu cairan campuran antara semen dan air
diinjeksikan dengan tekanan kedalam rongga, pori, rekahan dan retakan batuan yang
selanjutnya cairan tersebut dalam waktu tertentu akan menjadi padat secara fisika
maupun kimiawi.
Grouting pondasi adalah proses grouting bubur semen atau bubur grouting yang
terdiri dari campuran semen plus aditif dan lempung yang dimasukkan kedalam batuan
pondasi bawah permukaan melaui lubang bor untuk menyumbat atau mengisi kekar,
retakan, rekahan atau lubang - lubang bawah tanah (goa) atau void.
Berdasarkan pengalaman cara perbaikan pondasi bawah permukaan pada pondasi
batuan yang paling cocok untuk sekarang ini adalah dengan
cara grouting / grouting semen (grouting).
Tata cara pelaksanaan grouting semen pada batuan busur semen (PC) atau Portland
Cement Grouting telah dibakukan di dalam SNI 03 - 2393 - 1991.
Aplikasi Grouting Di Bendungan
Grouting semen sekarang ini sering digunakan untuk memperbaiki kondisi batuan
pondasi dari bendungan atau pondasi bangunan pelimpah.
Hal-hal yang perlu diperhatikan pada perbaikan pondasi ini, antara lain :
1) Pondasi batuan sesuai dengan kondisi geologinya, baik dari jenis batuan penyusun
maupun struktur bawah permukaan sangat variatif dari satu lokasi ke lokasi lain.
2) Perlu mencermati penampang geologi dan penampang permeabilitas melintang dan
memanjang tapak bendungan untuk mempersiapkan pekerjaan pondasi bawah
Permukaan
3) Metode grouting (grouting) dinilai cocok untuk memperbaiki pondasi bawah
permukaan yang lebih dalam 10 m hingga 100 m tanpa melakukan penggalian dan
cukup dengan pengeboran dari permukaan pondasi.
4) Adapun tujuan utama perbaikan pondasi dengan grouting (grouting) adalah :
(a) Mengurangi intensitas aliran filtrasi (kebocoran-kebocoran) dari waduk yang
mengalir keluar melalui rekahan yang terdapat pada pondasi bendungan.
(b) Mengurangi gaya ke atas (uplift) pada dasar calon bendungan yang disebabkan
oleh tekanan air tanah yang terdapat dalam lapisan pondasi.
(c) Meningkatkan daya dukung batuan yang membentuk lapisan Pondasi calon
bendungan.
Adapun cara perbaikan Pondasi bawah permukaan yang paling cocok adalah dengan
cara grouting / grouting semen (grouting)
Campuran Grouting (Bahan Grout)
Bahan grouting yang digunakan dalam pekerjaan grouting dapat berupa material
suspense dan atau kimiawi. Material suspensi yang umum dipakai adalah semen dan
bila perlu dipakai bahan tambahan berupa bentonit atau bahan sejenis. Air sebagai
bahan cairan yang dipakai sebagai pencampur semen, harus bebas dari kandungan
lumpur, bahan organik dan unsur lain yang dapat mengakibatkan penurunan kwalitas
campuran. Sedangkan bahan semen yang digunakan adalah Portland Cement (PC),
tipe I yang tidak mengandung bahan lain dan memenuhi syarat yang ditentukan dalam
SII - 3 - 1981.
Perbandingan bahan grout untuk cement milk, ditentukan berdasarkan tujuan
dari grouting tersebut dan kondisi batuan yang juga akan berubah menurut besarnya
penyerapan grouting.
Perbandingan campuran semen yang sering dipakai untuk pekerjaan grouting ini
adalah C : W = 1 : 10 sampai 1 : 1. Untuk retakan yang relatif besar dipakai C : B = 1 :
0,5, dan bahkan kadang - kadang dipakai mortar (campuran semen dan pasir).
Pada umumnya proporsi campuran dimulai dari C : W = 1 : 10 atau 1 : 8.
Apabila groutingmemperlihatkan penyerapan grout yang lebih besar dari 30 liter per
menit dan berlangsung selama 20 menit maka campuran dikentalkan secara berangsur.
Namun sebaliknya apabila tekanan ijneksi naik tiba - tiba atau jumlah volume grout
masuk turun sangat banyak maka campuran diubah menjadi lebih encer.
Peralatan Grouting
Peralatan dasar yang diperlukan untuk melaksanakan grouting pondasi adalah :
- Mesin bor : Dipakai untuk pembuatan lubang grout, dengan diameter antara 46 mm
(AX) sampai 76 mm (NX). Mesin bor yang dipakai untuk
keperluan grouting sebaiknya jenis bor putar (rotary type drill)
- Peralatan grouting : Meliputi 'packer', stang grouting, 'by pass', manometer, kran
pengatur Tekanan, pipa pemasukan dan pengembali serta
pengukur debit.
- Grout mixer dan : Untuk mencampur bahan grout sesuai dengan agitator
perbandingan yang ditentukan, kemudian di alirkan kedalam
'agitator' sebagai tempat grout siap untuk diambil oleh pompa.
- Pompa grout : Untuk memompakan grout yang tersimpan di 'agitator' ke lubang grout
melalui
unit peralatan grouting. Pompa grout yang baik adalah yang memiliki debit
dan tekanan konstan. Karena itu umumnya dipakai pompa jenis 'duplex
double acting type'.
Peralatan grouting
Tekanan Grouting
Faktor yang penting pada saat dilakukan grouting adalah tekanan grouting dan
pencampuran grout.
Tekanan grouting yang tinggi akan membuat lebih mudahnya grout untuk menyebar
mengisi celah retakan, kekar dan pori batuan secara efektif, namun sebaliknya hal ini
akan dapat merusak batuan dasarnya. Oleh karena itu diperlukan pemilihan besar
tekanan dengan hati-hati. Disamping itu perlu diketahui bahwa bila grout yang
digroutingkan memiliki campuran yang kental, maka diperlukan tekanan grouting yang
lebih tinggi dari pada campuran yang encer.
Jelaslah bahwa tekanan maksimum grouting ditentukan berdasarkan percobaan-
percobaan dengan mengingat kestabilan batuan pondasi, kekentalan grout, dan
kedalaman daerah yang akan digrouting.
Meskipun demikian US. Development Authority telah memberikan batasan yang aman
untuk tekanan maksimum dan dapat dipakai sebagai petunjuk, yaitu : Pada kedalaman
batuan dasar = d meter, tekanan grouting P(kg/cm2) adalah sebanding dengan 0,23xd.
Perbandingan campuran grout untuk 'cement milk', ditentukan berdasarkan tujuan
dari grouting dan kondisi batuan dan juga akan berubah menurut besarnya
penyerapan grouting.
Perbandingan campuran semen yang sering dipakai untuk pekerjaan grouting ini
adalah C : W = 1 : 10 sampai 1 : 1. Untuk retakan yang relatif besar dipakai C/W = 1 :
0,5 dan bahkan kadang-kadang dipakai mortar (campuran semen pasir).
Pada umumnya proporsi campuran mula dimulai dari C/W = 1 : 10 atau 1 : 8.
Apabila groutingmemperlihatkan penyerapan grout yang lebih besar dari 30 liter/menit
dan berlangsung selama 20 menit maka campuran dikentalkan secara berangsur.
Namun sebaliknya apabila tekanan grouting naik tiba-tiba atau jumlah volume grout
yang masuk turun sangat banyak, maka campuran dirubah menjadi lebih encer.
Grouting dapat dinyatakan selesai apabila carnpuran grout relatif tidak dapat masuk
lagi. Ada beberapa patokan terhadap selesainya grouting yaitu :
(Standard selesainya grouting menurut USBR)
1) Pada tekanan grouting sebesar 3,5 kg/cm2, jumlah grout yang digroutingkan harus
lebih rendah dari 28 liter dalam waktu 20 menit.
2) Untuk tekanan grouting antara 3,5 – 7,0 kg/cm2, jumlah grout yang digroutingkan
harus lebih rendah dari 20 liter dalam waktu 5 menit.
3) Untuk tekanan grouting antara 7,0 - 14,0 kg/cm2, maka jumlah grout yang
digroutingkan harus lebih rendah dari 28 liter dalam waktu 10 menit.
4) Untuk tekanan grouting yang lebih besar dari 14 kg/cm2, maka jumlah grout yang
digroutingkan harus lebih rendah dari 28 liter dalam waktu 5 menit.
Pada pekerjaan grouting ini tekanan yang digunakan sangat menentukan
kapan grouting dinyatakan selesai, peralatan pencampuran diatur sesuai
kecepatan grouting.
Percobaan Permeabilitas (Lugeon Test)
Permeabilitas batuan pondasi merupakan faktor yang sangat penting untuk diketahui
secara terperinci dalam merencanakan pekerjaan grouting. Adapun daerah cakupan
dari percobaan permeabilitas pada suatu rencana bendungan untuk kepentingan ini
adalah sampai pada kedalaman setengah dari ketinggian bendungan yang
direncanakan (gambar 2). Bahkan bila kondisi geologinya kurang baik, maka
kedalaman penelitiannya adalah setinggi rencana bendungannya.
Daerah cakupan percobaan Lugeon
Menentukan permeabilitas dengan cara percobaan lugeon adalah dengan
menggroutingkan air bertekanan kedalam lubang bor. Percobaan lugeon ini lebih umum
disebut 'packer test'.
Uji kelulusan air jenis ini yang dilakukan pada batuan yang dapat menahan tekanan
packer disebut “packer test”.
Pada batuan keras dengan sedikit rekah/rongga, dipakai tekan dan maksimum sebesar
0,21 kglcm2 setiap kemajuan 1 m. Pada batuan keras dengan banyak rekah/rogga, di
pakai tekanan maksimum 0,11 kg/cm 2(lebih besar sedikit dari tekanan air, yaitu 1 m =
0,1 kg / cm² , agar struktur batuan tidak / jebol).
Setiap tahap pengujian dilakukan lima kali pengamatan dengan variasi tekanan yang
bebeda, yaitu 33% P maksimum, 66% P maksimum, 100% P maksimum, 66% P
maksimum dan 33% P maksimum.
Uji coba permeability dengan menggunakan packer
Satuan „k‟ (koefisien permeabilitas) adalah satuan panjang per waktu, umumnya dalam
cm/detik. Ada kalanya kelulusan air yang diperoleh dengan cara packer test ini, diminta
dalam satuan lugeon.
Satuan „k‟ (koefisien permeabilitas) adalah satuan panjang per waktu, umumnya dalam
cm/detik. Ada kalanya kelulusan air yang diperoleh dengan cara packer test ini, diminta
dalam satuan lugeon. Rumus yang dipakai adalah :
Definisi 1 lugeon adalah banyaknya air yang masuk dalam massa batuan dalam liter/
menit/ meter pada tekanan 10 kg/ cm².
Harga „k‟ dalam cm/ detik lebih menonjolkan hubungan antara kecepatan aliran dan
gradient hidrolis. Harga kelulusan air dalam lugeon lebih menonjolkan banyaknya air
yang masuk dalam massa batuan pada tekanan tertentu. Berdasarkan persebandingan
1 lugeon sama dengan 10-5 cm/ detik.
Panjang lubang bor yang diuji L sebaiknya maksimum 3 meter, kecuali
untuk grouting test biasanya L sama dengan 5 meter.
Satuan permeabilitas yang umumnya dipakai untuk kepentingan
perencanaan grouting adalah satuan lugeon (Lu), yaitu merupakan jumlah pemasukan
air dalam liter per menit untuk tiap meter kedalaman bor, pada tekanan 10 kg/cm2.
Apabila dalam pelaksanaan percobaan lugeon tidak dapat memberikan tekanan yang
tinggi (10 kg/cm2) oleh karena keadaan batuan yang tidak mengijinkan atau
pertimbangan teknis lainnya, maka harga lugeon didapat dengan melakukan konversi
kesebandingan dengan tekanan grouting. Dengan demikian harga lugeon dapat di-
peroleh dari rumus :
Bila harga lugeon
tiap 'stage' (pada umumnya panjang tiap 'stage, adalah 5 meter) dari
lubang-lubang bor penyalidikan telah diperoleh, maka dapat dibuat peta penampang
permeabilitas sepanjang rencana bendungan, seperti pada contoh gambar di bawah.
Contoh penampang Permeabilitas
Dengan demikian dari hasil percobaan lugeon tersebut dapat diperoleh gambaran
kondisi permeabilitas, yang nantinya dipakai sebagai data penting dalam
perencanaan grouting, yaitu :
– Luas daerah cakupan grouting menjadi jelas.
– Persentase lapisan yang lulus air dibeberapa daerah menjadi lebih kelihatan.
– Elevasi batuan dasar dapat ditentukan dengan tepat sebagai batuan pondasi
berdasarkan pertimbangan dari angka permeabilitasnya.
Percobaan Grouting (Grouting Test)
Percobaan grouting ini biasanya diperlukan sebelum grouting yang sebenarnya
dilaksanakan, untuk dapat menentukan pola dan jarak lubang paling efektif,
tekanan grouting, cara pelaksanaan, perkiraan jumlah bahan campuran dan
mengetahui efektifitas hasil grouting.
Harga lugeon yang akan dicapai dalam perbaikan pondasi dengan grouting adalah 1 - 2
lugeon untuk bendungan beton, dan 2 - 5 lugeon pada bendungan urugan.
Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam uji grouting ini adalah :
1. Pola grouting yang biasa digunakan dalam percobaan adalah gambar seperti di
bawah.
2. Pelaksanaan percobaaan grouting semen sama seperti pada butir 5.5.6.
3. Setelah percobaaan gouting diselesaikan, dibuat lobang pemeriksaan (Cek) untuk
mengambil contoh inti yang diikuti percobaan kelulusan air pada lobang tersebut.
Beberapa pola grouting yang umum dilaksanakan
Dengan memperoleh harga lugeon dan jumlah semen yang digroutingkan untuk tiap
lubang grout, didapatkan tingkat perbaikan permeabilitas batuan dasar sesuai dengan
jarak antara lubangnya. Disamping itu campuran bahan grout efektif dapat ditentukan
berdasarkan percobaan dengan melihat harga lugeon, kondisi retakan, pori batuan
terhadap kekentalan campuran.
Suatu hal yang sangat penting adalah menentukan tekanan maksimum grouting yang
tidak sampai pada batas rusaknya batuan pondasi. Dari hasil grouting test yang
diperoleh kemudian dipakai sebagai dasar dalam melengkapi rencana detail
pekerjaan grouting.
Urutan Kerja Grouting
Secara umum urutan kerja grouting pondasi yang dilakukan adalah sbb :
Tata cara pelaksanaan grouting semen pada batuan dengan menggunakan bubur semen (PC)
atau Portland Cement Grouting telah dibakukan di dalam SNI 03-2393-1991.
Tahapan Pelaksanaan Grouting
Pada pelaksanaannya grouting dapat dibagi menjadi 4 macam tahapan grouting yaitu :
1) Grouting tahap tunggal (single stage grouting)
Tahapan ini digunakan untuk grouting dangkal (< 10 m) dan berbatuan baik seperti
dalam groutingkonsolidasi dan grouting selimut.
Pelaksanaan dilakukan satu kali grouting setelah pemboran dari kedalaman rencana selesai.
2) Grouting naik (ascending grouting, upstage grouting)
Lubang grouting dibor langsung sampai kedaiaman rencana, kemudian dipasang packer
tunggal dari bawah ke atas. Apabila batuan (retak-retak/crack) dapat dipakai packer ganda.
Cara ini diterapkan terutama pada batuan kompak dan tidak runtuh, pelaksanaan lebih cepat
namun boros material grouting.
Proses dan Tahapan Grouting Naik
3) Grouting turun (step grouting, descending grouting)
Pengeboran dilakukan secara bertahap (step by step) dengan interval 3 m - 5 m tergantung
kondisi batuan.
Metode ini digunakan untuk mengatasi kondisi batuan yang urug dan dilakukan secara bertahap
dalam pemasangan packer untuk mencegah runtuh batuan diatasnya.
Tahapan pelaksanaan : Bor - cuci - test air - langkah I - bor ulang - langkah II - cuci - test -
langkah III, dan seterusnya.
Prosedur dan tahapan grouting turun
4) Grouting ganda (multiple grouting)
Pelaksanaan grouting ganda diterapkan pada kondisi batuan yang banyak mengandung
rekahan dan kekar serta bocoran yang berlebihan. Grouting dilakukan dengan membuat lubang
pengeboran diameter besar (Ф 66 – 76 mm.) kemudian digrout dengan yang kental (1 : 1 ~ 1 :
0,5) untuk menutup retakan. Selanjutnya dibor lagi dengan diameter lebih kecil (Ф 56 ~ Ф 46
mm) kemudian diisi dengan campuran encer atau berbahan dasar kimia.
Khusus untuk pelaksanaan grouting pada batuan yang mudah runtuh sehingga tidak
memungkinkan untuk membuat panjang stage yang diinginkan dan pemasangan packer pada
batuan, maka dipakai cara “sleeve pipe method”.
Grouting menggunakan “ Sleeve Pipes”
Untuk mengefektifkan hasil grouting pada bagian atas atau langkah 1 perlu mempertimbangkan
hal-hal sebagai berikut :
1) Lakukan pekerjaan grouting tirai sebelum galian mencapai elevasi dari garis galian dengan
sisa galian penutup setebal 1 m untuk pemasangan packer.
2) Buat landasan (grout cap) dari beton kurus sepanjang jalur grouting tirai dengan lebar sesuai
jarak baris titik grouting, selebar 3 m dan tebal 0,5 m hingga 1,0 m. Penggalian alur untuk
landasan perlu dilakukan secara manual dengan bantuan pick hammer agar tidak merusak
batuan di sekitarnya.
3) Memasang pipa ekstra (grout pipe) sepanjang 0,5 m hingga 1.0 m terutama untuk
lubang groutingdengan inklinasi menyudut dan berarah azimut tertentu.
4) Pada pelaksanaan grouting konsolidasi biasanya dilaksanakan setelah lapisan pembetonan
mencapai ketebalan 0,5 m - 1,0 m untuk penempatan packer pada langkah I.
Pada pelaksanaan grouting tirai perlu dibuat urutan kerja dari titik ke titik dimulai dari
pembagian blok sesuai penampang galian pondasi. Kemudian setiap blok perlu dimulai dengan
pilot hole, primary hole, secondary hole, tertiary hole seterusnya.
Pemindahan antar titik dilakukan dengan memperhatikan :
1) Pola melompat I titik atau split spacing
2) Pola gigi belalang antar 2 langkah grouting yang berdekatan
3) Pola menyilang (ziz-zag) pada titik antar bans grouting (grout row)
Pemeriksaan Hasil Grouting
1) Pemeriksaan hasil grouting dilakukan dengan membuat check hole pada titik yang dipilih dan
biasanya di bor miring agar mewakili zona grouting.
2) Pengambilan contoh inti (core sampling) untuk melihat secara visual efektivitas
penetrasi groutingdan dapat diperiksa dengan membubuhkan phenolptalein 0.1 n. Warna
merah muda adalah tanda penetrasi semen.
3) Pengujian permeabilitas setelah grouting dengan water pressure test atau lugeon test.
Tekanan diatur seperti uji permeabilitas secara naik dan turun, yaitu bervariasi 1-3-5-7-10-7-5-
3-1 kg/cm2, tergantung kondisi batuan.
4) Setelah selesai check hole diisi dengan campuran bahan grouting yang kental 1:1 atau 1:0.5
hingga jenuh.
Perbaikan atau perkuatan pondasi bendungan dengan cara grouting berdasarkan maksud dan
manfaatnya dapat dikelompokan menjadi :
1) Grouting Tirai (Curtain Grouting)
Berfungsi membuat [Link] kedap air yang dapat menahan rembesan yang besar dengan
memperpanjang filtrasi sehingga berfungsi pula mengurangi uplift dan kemungkinan piping.
Menurut kaidah hidrolik, rumus umum pola grouting untuk bendungan dengan ketinggian (H)
adalah :
2) Grouting Konsolidasi (Consolidation Grouting)
Berfungsi merekondisi struktur batuan pondasi yang mengalami kerusakan waktu digali, baik
dengan alat besar ataupun dengan peledakan. Meningkatkan kekuatan geser batuan yang
jelek, hancur dan berkekar. Kedalaman bervariasi dari 5 m hingga 10 m dan spasi dari 5 m
hingga 2,5 m dalam sistim grid.
3) Grouting Selimut (Blanket Grouting)
Berfungsi menahan rembesan air pada lapisan permukaan pondasi yang melalui retakan-
retakan, umumnya berdampingan dengan grouting tirai pada dasar zona inti kedap air,
kedalaman umumnya 5 m dan jarak 2,5 m- 5 m.
4) Grouting Pengisian (Filling Grouting)
Berfungsi mengisi rongga (cavities), rongga antara lining beton dan batuan pada terowong yang
dikenal sebagai backfill grouting.
5) Grouting Sambungan (Contact Grouting, Joint Grouting)
Berfungsi mengisi sambungan antara beton lama dan baru, mengisi rongga susutan beton dan
rongga susutan antara steel liner dan beton.
5.7. Aplikasi Grouting Pada Terowongan
Berbeda dengan grouting pada sumbu bendungan dan lainnya, pada
pelaksanaan grouting untuk terowongan ini dapat dilakukan baik dari dalam terowongan
maupun dari atas permukaan.